Anda di halaman 1dari 18

KEBUTUHAN MIKRONUTRIEN BAGI LANSIA

Makalah

Dosen: Ibu Narila Mutia Nasir

Oleh:

Ernes Sophia Rahmenia 11141010000062

Mustika Arumbinang 11141010000073

Nurizka Fauziah 11141010000020

Sofy Dwi Sefrani 11141010000059

PEMINATAN GIZI MASYARAKAT

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1439 H/2017 M
KEBUTUHAN MIKRONUTRIEN BAGI LANSIA

A. Vitamins
1. The Vitamin A and Carotenoid Family
Vitamin A merupakan karotenoid yang akan diubah menjadi retinol.
Karotenoid merupakan pigmen alami dengan warna kuning, orange, merah yang
terkandung di dalam wortel atau sayuran berdaun hijau. Manusia tidak dapat
mensintesis karotenoid di dalam tubuh, sehingga karotenoid diperoleh melalui asupan
makanan. Beta karoten dan likopen merupakan salah satu jenis karotenoid. Namun,
hanya betakatoren dapat diubah menjadi vitamin A (Morley et al, 2007).
Berdasarkan AKG Indonesia tahun 2013, kebutuhan vitamin A untuk lansia
sebesar 600 mcg/hari pada laki-laki dan 500 mcg/hari pada perempuan. Sedangkan
berdasarkan buku Modern Nutrition in Health & Disease kebutuhan vitamin A untuk
lansia usia 60-69 tahun sebesar 650 mcg/hari untuk laki-laki dan 651 mcg/hari untuk
perempuan (Ross et al, 2014). Provitamin A hanya dapat diperoleh dari sumber
pangan hewani seperti daging, ikan, kuning telur dan susu yang telah di fortifikasi
(Morley et al, 2007).
Kekurangan vitamin A bisa disebabkan oleh berbagai macam hal. Seperti,
kurangnya asupan makanan yang mengandung vitamin A, absorbsi lemak yang
terganggu atau menurunnya bioavailibitas tubuh pada proses penyerapan,
penyimpanan atau transportasi vitamin A. Sedangkan kelebihan vitamin A dapat
menyebabkan hilangnya sejumlah rambut dan mengeringnya membran mukus serta
kulit (Mahan et al, 2017). Selain itu, kebihan vitamin A menurut beberapa studi juga
berasosiasi positif terhadap tulang yang mudah fraktur (Ross et al, 2014).

2. Vitamin C
Vitamin C atau asam askorbat merupakan vitamin larut air yang berfungsi
sebagai antioksidan. Vitamin C dapat dilihat dengan mengukur kandungan asam
askorbat di dalam darah (Mahan, 2017). Manusia tidak dapat mensintesis vitamin C di
dalam tubuh sehingga untuk memenuhinya harus diperoleh melalui asupan makanan
(Morley et al, 2007).
Menurut AKG Indonesia tahun 2013, kebutuhan vitamin C untuk lansia
sebesar 90 mg/hari pada laki-laki dan 75 mg/hari pada perempuan. Vitamin C dapat
diperoleh melalui sumber pangan seperti buah jeruk, stroberi, melon, tomat, brokoli
sayuran berdaun dan pepper (Morley et al, 2007).
Kekurangan vitamin C jarang terjadi terkecuali terjadi pembatasan asupan
makanan oleh kita sendiri. Kekurangan vitamin C dapat diketahui melalui beberapa
gejala diantaranya gusi berdarah, gigi yang mudah hilang dan penyembuhan luka
yang buruk. Sedangkan kelebihan vitamin C dapat dikarenakan konsumsi yang
melebihi 2 g/hari dalam jangka waktu berkepanjangan (Mahan et al, 2017). Konsumsi
vitamin C secara berlebihan dapat menyebabkan diare, mual dan kram perut. Dan
pada individu dengan kondisi hemachromatosis, kelebihan vitamin C dapat
menyebabkan simpanan zat besi yang terlalu tinggi sehingga dapat merusak jaringan
tubuh (National Institutes of Health, 2016).

3. Vitamin D
Vitamin D merupakan vitamin yang dapat diperoleh dari sumber pangan
hewani dalam bentuk provitamin cholecalciferol. Untuk dapat dirubah menjadi bentuk
yang aktif, maka provitamin D harus terlebih dahulu di metabolisme di ginjal agar
dapat berubah bentuk menjadi calcitriol. Vitamin D juga dapat disintesis di dalam
tubuh manusia melalui eksposur sinar matahari yang memadai. Dengan paparan sinar
matahari 7-dehydrocholesterol akan menjadi previtamin D3 yang akan di
metabolisme di hati menjadi 25-hydroxyvitamin D3 yang merupakan bentuk utama
dari vitamin D (Morley et al, 2007). AKG Indonesia tahun 2013 merekomendasikan
vitamin D yang dibutuhkan oleh lansia sebesar 20 mcg/hari baik pada laki-laki
maupun perempuan. Vitamin D dapat diperoleh melalui susu yang difortifikasi, ikan
laut serta minyak ikan (Morley et al, 2007).
Kekurangan vitamin D dapat terjadi dikarenakan asupan vitamin D dan
paparan sinar matahari yang tidak adekuat serta adanya malabsorpsi di tubuh. Selain
itu, kekurangan vitamin D dapat disebabkan oleh malabsorpsi kalsium di dalam tubuh.
Malabsorpsi kalsium dapat terjadi pada pasien dengan kondisi gagal ginjal kronis.
Sedangkan kelebihan vitamin D jarang terjadi terkecuali pada individu yang
mengokonsumsi vitamin D secara berlebih (megadoses). Efek dari berlebihannya
vitamin D dapat mengakibatkan hiperkalsemia, hiperfosfatemia, hipercalciuria dan
dapat menekan kadar hormon paratiroid (Mahan et al, 2017).
4. Vitamin E
Vitamin E merupakan bentuk alami dari tocopherol dan tocotrienols (alpha,
beta, gamma dan delta) yang keduanya merupakan antioksidan. Gamma tocopherol
merupakan vitamin E yang banyak terdapat pada asupan manusia sedangkan alpha
tocopherol banyak ditemui di dalam suplemen (Morsey et al, 2007). Vitamin E
merupakan vitamin larut lemak yang dapat meningkatkan fungsi sistem imun. Hal ini
dikarenakan vitamin E mengandung antioksidan yang dapat melindung sel dari
kerusakan oleh radikal bebas (Dietitiens of Canada).
AKG Indonesia tahun 2013 merekomendasikan vitamin E yang dibutuhkan
oleh lansia sebesar 15 mg/hari baik pada laki-laki maupun perempuan. Sedangkan
rekomendasi vitamin E pada usia 60-69 tahun menurut buku Modern Nutrition in
Health & Disease sebesar 7,6 mg/hari pada laki-laki dan 6,5 mg/hari pada perempuan
(Ross et al, 2014).
Sumber vitamin E dapat diperoleh dari makanan yang mengandung lemak
seperti margarin, minyak sayur, kacang, biji-bijian, alpukat, bayam dan gandum
(Dietitiens of Canada).
Kekurangan vitamin E jarang terjadi terkecuali pada kondisi tertentu seperi
malabsorpsi lemak, cycstic fibrosis, penyakit liver kronik, abetalipoproteinemia, dan
short bowel syndrome (Morley et al, 2007). Gejala utama dari kekurangan vitamin E
diantaranya adalah anemia hemolitik ringan dan efek neurologis. Kelebihan vitamin E
juga diketahui jarang terjadi namun, asupan yang melebihi 1000 mg/hari dapat
menyebabkan perdarahan terlebih pada individu yang mengonsumsi obat
antikoagulasi (Mahan et al, 2017).

5. Thiamine (B1)
Vitamin B1 merupakan vitamin larut air yang merupakan bagian dari vitamin
B complex. Vitamin B1 mempunyai fungsi penting untuk energi metabolisme energi
dan dibutuhkan untuk menjaga fungsi dari sistem saraf dan otot (Vitamin in Motion).
Vitamin B1 atau thiamin berdasarkan AKG Indonesia tahun 2013
direkomendasikan untuk lansia sebesar 1 mg/hari untuk laki-laki dan 0,8 mg/hari
untuk perempuan. Vitamin B1 dapat diperoleh melalui sumber pangan hewani seperti
ikan tuna, gandum, sayuran berdaun, kentang, kacang polong dan kacang.
Kekurangan vitamin B1 dapat menyebabkan penyakit yang disebut dengan
beri-beri dengan gejala anemia, paralisis, muscular atrophy dan spasem otot pada
bagian kaki. Sedangkan efek neurologis kekurangan vitamin B1 berupa wernickes
encephelophaty yang menyebabkan terganggunya koordinasi tubuh dan korsakoffs
psychosis yang menyebabkan short term memory. Sedangkan pada bagian mulut akan
meningkatkan sensitifitas gigi, gusi serta celah bibir. Kekurangan vitamin B1 jarang
terjadi tapi serin terjadi pada pecandu alkohol karena alkohol menanggu penyerapan
vitamin B1 di dalam usus (Morley et al, 2007).

6. Riboflavin (B2)
Riboflavin merupakan komponen penting dari dua koenzim yang terlibat
dalam reaksi reduksi oksidasi yang terjadi di dalam jalur metabolisme penghasil
energi, termasuk rantai transpor elektron. Koenzim ini, flavin mononukleotida (FMN)
dan flavin adenin dinukleotida (FAD), terlibat dalam metabolisme karbohidrat, asam
lemak, dan asam amino untuk energi. Kecukupan vitamin B2 untuk lansia berusia 65-
80 tahun berjenis kelamin laki-laki berdasarkan AKG 2013 adalah 1,1 mg, dan untuk
yang berusia lebih dari 80 tahun adalah 0,9 mg. Sedangkan untuk lansia dengan umur
65 keatas berjenis kelamin wanita kebutuhan vitamin B2nya sebesar 0,9 mg.
Sumber Bahan Pangan Vitamin B: susu, telur, daging, ikan, sayuran berdaun
hijau, buah, padi-padian. Kekurangan vitamin B2 dapat menyebabkan dermatitis
seboroik, angular cheilosis (peradangan pada sudut bibir), dan glossitis (peradangan
pada lidah). Sedangkan untuk efek kelebihan, tidak ada laporan efek samping dari
mengkonsumsi dalam jumlah tinggi riboflavin baik dari makanan atau suplemen.
Dengan demikian, IOM belum mampu menetapkan UL untuk riboflavin.

7. Niacin (B3)
Niacin atau yang dikenal sebagai asam nikotinik dan nikotinamida dibutuhan
oleh tubuh untuk memetabolisme makanan yang masuk dan menjaga kesehatan kulit,
saraf dan saluran pencernaan. Kecukupan vitamin B3 untuk lansia berusia 65-80
tahun berjenis kelamin laki-laki berdasarkan AKG 2013 adalah 10 mg, dan untuk
yang berusia lebih dari 80 tahun adalah 8 mg. Sedangkan untuk wanita yang beusia
65-80 tahun kecukupannya sebesar 9mg, dan untuk yang berusia lebih dari 80 tahun
sebesar 8mg.
Sumber Bahan Pangan Vitamin B: daging sapi, ikan, unggas, sereal yang siap
dimakan. Niacin dapat menyebabkan gejala keracunan ketika diambil dalam suplemen.
Gejalanya adalah pembilasan, yang didefinisikan sebagai pembakaran, kesemutan,
dan sensasi gatal disertai dengan flush memerah terutama pada wajah, lengan, dan
dada. Kerusakan hati, intoleransi glukosa, penglihatan kabur, dan edema dari mata
dapat dilihat dengan dosis niacin yang sangat besar yang diambil alih jangka waktu
yang lama. UL untuk niacin adalah 35 mg/hari. Sedangkan kekurangan dari niasin
dapat menyebabkan pellagra. Gejala dari pellagra yaitu diare, dermatitis, dan
demensia, pipi dan lidah menjadi merah, dan dapat menyebabkan kematian.

8. Pyridoxine (B6)
Piridoksin atau yang dikenal sebagai piridoksal fosfat dan piridoksinamine,
dibutuhkan oleh utubuh untuk memecah karbohidrat, protein, dan lemak, dan
dibutuhan untuk memproduksi sel darah merah. Kecukupan vitamin B6 untuk lansia
berusia 65 tahun keatas berjenis kelamin laki-laki berdasarkan AKG 2013 adalah 1,7
mg. Sedangkan untuk lansia berjenis kelamin wanita yang berumur lebih dari 65
tahun kecukupannya sebesar 1,5 mg.
Sumber Bahan Pangan Vitamin B: daging sapi, ikan (terutama tuna), unggas,
hati, kacang, pisang, kismis. Tidak ada efek samping terkait asupan vitamin B6
berlebihan. Kekurangan piridoksin jarang terjadi kecuali pada pecandu alkohol karena
piridoksin terkandung di dalam banyak makanan. Kekurangan piridoksin dapat
menyebakan dermatitis (peradangan pada kulit), glossitis (luka di sudut bibir),
neuropati perifer, ketidakseimbangan, kebingungan, dan insomnia.

9. Folate (B9)
Asam folat atau yang dikenal dengan folasin dan asam pteroylglutamic,
berinteraksi dengan vitamin B12 untuk mensintesis DNA dan hemoglobin.
Kecukupan vitamin B9 untuk lansia berusia 65 tahun keatas berjenis kelamin laki-laki
berdasarkan AKG 2013 adalah 400 mcg. Sedangkan untuk lansia yang berumur 65
tahun keatas dan berjenis kelamin wanita kecukupannya juga sebesar 400 mcg.
Sumber Bahan Pangan Vitamin B: hati, sayuran berdaun hijau gelap, kacang
dan kedelai kering, kuning telur, brokoli, jus jeruk, kacang, almond, padi-padian.
Kekurangan asam folat dapat menyebabkan anemia, pertumbuhan yang terhambat,
dan glossitis. Kekurangan vitamin B9 jarang terjadi karena asam folat teradapat secara
natural di makanan. Kekurangan Vitamin B9 biasanya terjadi pada pecandu alkohol
atau seseorang yang mengalami tropical sprue di usus halus.
10. Cyancobalimine (B12)
Vitamin B12 dibutuhkan untuk memproses karbohidrat, protein, dan lemak,
mensintesis hemoglobin, dan menjaga kesehatan saraf. Vitamin B12 juga berperan
sebagai koenzim dalam sintesis dan perbaikan DNA. Kecukupan vitamin B12 untuk
lansia berusia 65 tahun keatas berjenis kelamin laki-laki dan wanita berdasarkan AKG
2013 adalah 2,4 mcg.
Sumber bahan pangan untuk Vitamin B12: ikan, hati sapi, telur, daging sapi.
Vitamin B hanya ditemukan di makanan bersumber binatang, juga ditemukan dalam
makanan yang dibentuk oleh bakteri. Kelebihan Vitamin B12 dapat menyebabkan
efek samping seperti sakit kepala, gatal, pembengkakan, terasa gugup, dan mengalami
kecemasan. Malabsorpsi kobalamin di dalam makanan disebabkan karena atrophy
gastritis, pada lansia, malabsopsi kobalamin disebabkan karena menggunakan
antasida, operasi dan perbaikan lambung, pertubuhan bakteri usus yang berlebih,
menggunakan metformin, pecandu alkohol kronis. Kekurangan vitamin B12 juga
biasanya terlihat pada vegetarian yang tidak meminum suplemen. Kekurangan
vitamin B12 dapat menyebabkan pernicious anemia.

11. Pantothenic Acid (B5) and Biotin (B7)


Asam pantotenat dibutuhkan untuk memecah karbohidrat, lipid, beberapa
asam amino, dan sintesis koenzim A. Diproduksi oleh bakteri usus. Asam Pantotenat
ditemukan dalam jumlah besar daging dan sereal. Kelebihan asam pantotenat dapat
menyebabkan diare. Berdasarkan AKG 2013 kebutuhan asam pantotenat pada lansia
usia 50-64 tahun pada laki-laki dan perempuan adalah 5.0 mg.
Biotin berfungis sebagai koenzim dalam reaksi karboksilasi. Biotin diproduksi
oleh bakteri usus. Defisiensi biotin dapat menyebabkan eczematous dermatitis. Hal ini
sering ditemukan pada individu yang makan putih telur dalam jumlah banyak.
Dimana putih telur mengandung avidin yang akan mengikat biotin. Sumber makanan
yang banyak ditemukan pada hati sapi, kuning telur, kacang-kacangan, jamur, dan
lain-lain. Berdasarkan AKG 2013 kebutuhan biotin pada lansia usia 50-64 tahun pada
laki-laki dan perempuan adalah 30 mcg.
B. Minerals
1. Iron
Besi merupakan bagian dari banyak protein dan enzim yang diperlukan untuk
sintesis hemoglobin. Besi terdiri dalam dua bentuk: heme dan nonheme. Heme
ditemukan pada makanan hewani, seperti daging merah, ikan, dan unggas. Besi
nonheme ditemukan pada makanan nabati seperti kacang dan buncis. Besi nonheme
adalah bentuk yang ditambahkan pada makanan yang diperkaya zat besi dan diberi zat
besi. Besi heme diserap lebih baik daripada besi nonheme, tapi kebanyakan zat besi
dalam makanan adalah zat besi nonheme. Penyerapan besi heme berkisar antara 15
sampai 35% dan tidak terpengaruh secara signifikan oleh diet. Hanya 2 sampai 20%
zat besi nonheme dalam makanan nabati seperti beras, jagung, kacang hitam, kedelai,
dan gandum yang diserap. Organisasi Kesehatan Dunia menganggap kekurangan zat
besi sebagai kelainan gizi nomor satu di dunia. Sebanyak 80% populasi dunia
kekurangan zat besi, sementara 30% mungkin memiliki anemia defisiensi besi.
Anemia defisiensi besi dapat dikaitkan dengan asupan zat besi rendah, penyerapan zat
besi yang tidak adekuat, atau kehilangan darah yang berlebihan.
Besi tambahan tersedia dalam dua bentuk: Ferrous dan ferric. Garam besi
ferrous (ferrous fumarate, ferrous sulfate, dan ferrous gluconate) merupakan bentuk
suplemen besi yang terserap dengan baik. Kelebihan jumlah zat besi bisa berakibat
toksisitas dan bahkan kematian. Dimulai dengan setengah dosis yang dianjurkan dan
secara bertahap meningkat hingga dosis penuh akan membantu meminimalkan efek
samping ini. Konsumsi suplemen dalam dosis terbagi dan dengan makanan juga dapat
membantu membatasi gejala ini. Berdasarkan AKG 2013 kebutuhan fosfor pada
lansia usia 50-64 tahun pada laki-laki 13 mg dan perempuan adalah 12 mg.

2. Calcium
Kalsium adalah komponen utama jaringan mineral dan dibutuhkan untuk
pertumbuhan dan perkembangan tulang dan gigi. Pada pria dan wanita berusia 65
tahun ke atas, asupan kalsium kurang dari 600 mg / hari sering terjadi. Penyerapan
kalsium usus seringkali berkurang karena efek defisiensi estrogen pada wanita dan
pengurangan pada produksi 1,25-dihidroksi vitamin D ginjal. Kekurangan kalsium
karena asupan kalsium yang rendah dan penyerapan yang berkurang dapat
menyebabkan keroposnya tulang sering terjadi pada lansia. Insufisiensi vitamin D
umum terjadi di kalangan lansia dan penghuni fasilitas perawatan jangka panjang, dan
berkontribusi terhadap rendahnya penyerapan kalsium. Asupan kalsium pada wanita
menopause,sebanyak 1500 mg / hari, dapat mengurangi tingkat keropos tulang
kerangka, seperti leher femoralis.
Metabolisme vitamin D meningkatkan penyerapan kalsium. 1,25-Dihydroxy
vitamin D, metabolit utama, merangsang transportasi kalsium aktif di usus halus dan
usus besar. Kekurangan 1,25-dihidroksi vitamin D, yang disebabkan oleh vitamin D
makanan yang tidak adekuat, paparan sinar matahari yang tidak memadai, penurunan
aktivasi vitamin D, atau resistensi yang didapat terhadap vitamin D, menyebabkan
penyerapan kalsium berkurang. Dengan tidak adanya 1,25-dihidroksi vitamin D,
kurang dari 10% kalsium makanan dapat diserap. Kekurangan vitamin D dikaitkan
dengan peningkatan risiko patah tulang. Pasien lansia berisiko mengalami kekurangan
vitamin D karena asupan vitamin D yang tidak mencukupi dari makanan mereka,
merusak sintesis ginjal sebesar 1,25-dihidroksi vitamin D, dan paparan sinar matahari
yang tidak memadai, yang biasanya merupakan stimulus utama untuk sintesis vitamin
D endogen. Suplementasi asupan vitamin D untuk memberi 600-800 IU / hari telah
terbukti dapat memperbaiki keseimbangan kalsium dan mengurangi risiko patah
tulang pada individu-individu ini. Sumber vitamin D, selain suplemen, termasuk sinar
matahari, produk susu cair yang diperkaya vitamin D, minyak ikan cod, dan ikan
berlemak. Kalsium dan vitamin D tidak perlu disatukan agar efektif. Dosis berlebihan
vitamin D dapat menimbulkan risiko seperti hypercalciuria dan hypercalcemia dan
harus dihindari. Oleh karena itu, pada wanita dan pria berusia di atas 65, asupan
kalsium 1500 mg / hari tampaknya bijaksana.
Imobilisasi telah terbukti menghasilkan penurunan massa tulang yang cepat.
Dalam keadaan ini, tingkat keropos terkait dengan peningkatan reasorpsi tulang
disertai penurunan pembentukan tulang. Produk susu adalah sumber utama kalsium
dalam makanan (misalnya sekitar 250 sampai 300 mg / 8 oz susu). Individu dengan
intoleransi laktosa sering membatasi atau menyingkirkan makanan olahan susu,
namun asupan kalsium yang cukup dapat dicapai melalui makanan padat susu rendah
laktosa atau melalui susu yang mengandung kekurangan laktosa. Vegan yang secara
sukarela membatasi asupan produk susu mereka bisa mendapatkan kalsium makanan
melalui sumber lain. Sumber kalsium makanan lain yang baik termasuk beberapa
sayuran hijau (misalnya, brokoli, kangkung, lobak hijau, kubis Cina), tahu kalsium,
beberapa kacang polong, ikan kaleng, biji-bijian, kacang-kacangan, dan produk
makanan tertentu yang diperkaya. Roti dan sereal, sementara kalsium yang relatif
rendah, berkontribusi secara signifikan terhadap asupan kalsium karena frekuensi
konsumsi mereka. Berdasarkan AKG 2013 kebutuhan fosfor pada lansia usia 50-lebih
dari 80 tahun tahun pada laki-laki 13 mg dan perempuan adalah 1000 mg.

3. Phosphorus
Fosfor merupakan mineral yang penting dalam proses mineralisasi tulang.
Sekitar 85% fosfor di tubuh orang dewasa ada di dalam tulang. Sumber fosfor,
terutama dalam bentuk fosfat, didistribusikan secara luas dalam persediaan makanan,
dan asupan fosfor dari makanan normal biasanya cukup. Susu dan produk susu sangat
kaya akan sumber fosfor, mengandung sekitar 1000 mg fosfor per liter susu.
Kekurangan fosfor terjadi terutama pada sindrom malabsorpsi, pecandu
alkohol dan pasien kritis, ketoasidosis diabetes, dan penyakit yang mengakibatkan
hilangnya tubular ginjal dari fosfor. Sindrom pengulangan dapat menyebabkan
hypophosphatemia, yang mungkin mengancam nyawa. Hipofosfatemia dapat
menyebabkan anoreksia, gangguan pertumbuhan, osteomalacia, demineralisasi rangka,
atrofi otot proksimal dan kelemahan, aritmia jantung, insufisiensi pernafasan,
peningkatan disfungsi eritrosit dan limfosit, kerentanan terhadap rakhitis menular,
gangguan sistem saraf, dan bahkan kematian. Suplemen yang mengandung fosfor
dikontraindikasikan pada hyperphosphatemia dan pada fungsi ginjal yang mengalami
gangguan berat (kurang dari 30% normal).
Diare cenderung terjadi pada individu yang kekurangan fosfor daripada orang
dengan status fosfor normal. Mual, muntah, dan sakit perut juga bisa terjadi.
Penggunaan dosis tinggi dari garam fosfat anorganik berkepanjangan dapat
menyebabkan hipokalsemia bahkan pada individu sehat dengan fungsi ginjal normal.
Antasida yang mengandung aluminium menurunkan penyerapan fosfat dan dapat
digunakan dalam pengobatan hyperphosphatemia. Asupan garam seng dan fosfat
bersamaan (natrium fosfat, kalium fosfat, kalsium fosfat) dapat menurunkan
penyerapan seng. Berdasarkan AKG 2013 kebutuhan fosfor pada lansia usia 50-64
tahun pada laki-laki dan perempuan adalah 700 mg. Berdasarkan AKG 2013
kebutuhan fosfor pada lansia usia 50-lebih dari 80 tahun pada laki-laki 13 mg dan
perempuan adalah 12 mg.
4. Sodium and Potassium
Sodium adalah elektrolit primer yang mengatur tingkat cairan ekstraselular
dan status hidrasi, ekuilibrium osmotik, keseimbangan asam basa, dan regulasi
volume plasma, saraf impuls, dan kontraksi otot. Konsumsi sodium secara berlebihan
secara teratur sering dikaitkan dengan hipertensi, edema, dan juga menyebabkan
osteoporosis karena sodium dapat meningkatkan kehilangan kalsium melalui urin.
Individu yang mengalami hipertensi membatasi asupan sodium hingga kurang dari
2400 mg setiap hari (bersamaan dengan mengonsumsi makanan rendah lemak yang
kaya akan buah, sayuran, biji-bijian, dan makanan olahan susu rendah lemak) untuk
manajemen tekanan darah. Berdasarkan AKG 2013 kebutuhan sodium pada lansia
usia 50-64 tahun pada laki-laki dan perempuan adalah 1300 mg.
Kalium memainkan peran kunci dalam kontraksi otot jantung, skeletal, dan
polos, dan fungsi ginjal. Sumber makanan potasium terbaik adalah makanan segar
yang belum diproses, termasuk daging, ikan, sayuran (terutama kentang), buah-
buahan (terutama alpukat, aprikot kering, dan pisang), jus jeruk (seperti jus jeruk),
produk susu, dan biji-bijian. Kebutuhan potassium paling banyak dapat dipenuhi
dengan mengonsumsi makanan yang bervariasi dengan asupan susu, daging, sereal,
sayuran, dan buah yang cukup. Kadar potassium dapat ditingkatkan dengan sejumlah
obat, termasuk obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID, seperti ibuprofen, piroxicam,
dan sulindac), penghambat enzim angiotensinin converting (seperti kaptopril,
enalapril, dan lisinopril, terutama bersamaan dengan NSAID), diuretik hemat kalium
(seperti spironolakton, triamterene, atau amilorida), atau pengganti garam, bersama
dengan penghambat ACE, heparin, siklosporin, trimetoprim, dan beta-blocker (seperti
metoprolol dan propranolol). Kadar kalium dapat dikurangi dengan obat lain,
termasuk diuretik thiazide (seperti hidroklorotiazida), diuretik loop (seperti furosemid
dan bumetanide), kortikosteroid, amfoterisin B, antasida, insulin, teofilin, dan obat
pencahar. Berdasarkan AKG 2013 kebutuhan potassium pada lansia usia 50-64 tahun
pada laki-laki dan perempuan adalah 4700 mg.

5. Magnesium
Magnesium merupakan mineral keempat yang paling banyak ada di dalam
tubuh. Sekitar 50% magnesium total di temukan di tulang dan setengahnya ditemukan
secara dominan berada di dalam sel-sel jaringan tubuh dan organ tubuh. Hanya 1%
magnesium ditemukan berada di dalam serum.
Magnesium terlibat dalam lebih dari 300 reaksi biokimia dalam tubuh,
termasuk fungsi otot dan saraf, ritme jantung, fungsi kekebalan tubuh, dan
pembentukan tulang. Magnesium juga membantu mengatur kadar gula darah, tekanan
darah dan metabolisme energi dan sintesis protein.
Magnesium dapat ditemukan pada sumber makanan seperti sayuran hijau
seperti bayam, kacang polong (kacang-kacangan dan kacang polong), kacang-
kacangan dan biji-bijian, gandum, dan biji bijian yang tidak diolah. Magnesium yang
terdapat pada biji-bijian umumnya lebih rendah dibanding magnesium yang terdapat
pada sumber lain. Air minum dapat menjadi sumber magnesium, tapi jumlahnya
bervariasi sesuai dengan jenis air. Tubuh akan menyerap sekitar sepertiga sampai satu
setengah magnesium yang di dapat dari diet. Beberapa hal yang dapat mengganggu
penyerapan magnesium adalah gangguan gastrointestinal seperti penyakit Crohn,
muntah kronis atau diare berlebihan juga dapat menurunkan magnesium dalam tubuh.
Efek kelebihan magnesium dalam urin dapat menyebabkan penyakit ginjal.
Hal tersebut terjadi akibat efek samping dari obat seperti penderita diabetes yang
kurang terkontrol, dan penyalahgunaan alcohol. Tanda awal dari defisiensi
magnesium adalah kehilangan nafsu makan, mual, muntah, kelelahan dan merasa
lemah. Apabila defisiensi itu dibiarkan akan berdampak pada hypocalcemia,
hypokalemia, mati rasa, kesemutan, kontraksi otot dan kram, kejang, perubahan
kepribadian, dan irama jantung yang tidak normal serta kejang koroner.
Magnesium dapat mempengaruhi aktivitas pelepasan insulin. Hal ini dapat
dilihat dari penderita diabetes tipe 2 dimana tingkat magnesium dalam darah rendah
(hypomagnesemia). Kondisi ini dapat memperburuk resistensi insulin. Individu yang
mengalami resistensi insulin tidak dapat menggunakan insulin secara efisien, hal
tersebut menyebabkan jumlah insulin yang dibutuhkan lebih banyak untuk meenjaga
gula darah dalam keadaan normal. Ginjal mungkin akan kehilangan kemampuannya
dalam mempertahankan magnesium selama periode hiperglikemia berat (meningkat
secara signifikan dalam gula darah). Meningkatnya magnesium dalam urin bisa
mengakibatkan penurunan kadar magnesium dalam darah. Pada lansia, koreksi
penipisan magnesium bisa memperbaiki respons dan tindakan insulin.
Beberapa studi klinis telah meneliti manfaat potensial suplemen magnesium
pada kontrol metabolik diabetes tipe 2. Beberapa penelitian mengatakan terdapat
peningkatan magnesium dalam darah dan membuat metabolisme menjadi lebih baik.
Namun, tidak ada ditemukan secara signifikan suplementasi magnesium dapat
memperbaiki control glukosa darah.
Kebutuhan magnesium untuk lansia laki laki sebesar 350 mg sedangkan
untuk lansia wanita 320 mg.

6. Zinc
Zinc adalah mineral bermuatan posiif yang sangat kecil, berukuran 1,5-2,5 g.
Zinc terlibat dalam aktivitas sekitar 100 enzim, dalam sistem kekebalan tubuh, dan
dalam sintesis DNA, dan mempertahankan rasa dan aroma. Zinc juga berperan dalam
menyeimbangkan gula darah, menstabilkan tingkat metabolisme.
Zinc dapat ditemukan pada sumber makanan berupa daging merah dan
unggas. Tiram mengandung lebih banyak Zinc per porsi dari pada makanan pada
sumber lainnya kacang-kacangan, kacang-kacangan, makanan laut tertentu, utuh biji-
bijian, sereal sarapan pagi, dan produk susu. Penyerapan seng lebih besar dari sumber
protein hewani daripada protein tanaman. Daging unggas yang memiliki warna gelap
mengandung zinc lebih banyak dibandingkan dengan daging unggas yang memiliki
warna putih. Menurut penelitian Phytates konsumsi roti, sereal, kacang polong dan
produk lainnya dapat menurunkan penyerapan zinc. Namun tidak ada satu tes
laboratorium yang secara khusus yang dapat mengukur status gizi zinc.
Faktor yang dapat menyebabkan defisiensi zinc adalah asupan kalori,
mengkonsumsi alcohol, penyakit gastrointestinal, malabsorpsi (seperti sariawan,
penyakit Crohns, dan sindrom pemendekan usus), serta diare kronis.
Kebutuhan zinc untuk lansia laki laki sebesar 13 mg dan untuk lansia
perempuan sebesar 10 mg. Kelebihan konsumsi zinc berhubungan dengan rendahnya
status tembaga, perubahan fungsi besi, kekebalan berkurang, serta berkurangnya
tingkat lipoprotein dari densitas tinggi. Sedangkan, kurang konsumsi zinc dapat
menyebabkan melemahnya indera pengecap dan penciuman, berkurangnya nafsu
makan, terhambatnya pertumbuhan, dan mudah terkena infeksi.

7. Copper
Tembaga diperlukan dalam pembentukan hemoglobin, elastin, dan kolagen.
Tembaga adalah diperlukan untuk pembuatan neurotransmiter noradrenalin dan juga
untuk pigmentasi rambut. Tembaga tersedia dari berbagai makanan, seperti utuh biji-
bijian, hati, tetes tebu, dan kacang-kacangan. Pada beberapa pipa air di rumah dan
peralatan masak terdapat tembaga. Hal tersebut dapat meningkatkan konsumsi
tembaga. Konsumsi tembaga tidak begitu dibutuhkan, karena kelebihan konsumsi
tembaga dapat disimpan di dalam tubuh.
Kebutuhan tembaga untuk lansia laki laki sebesar 900 mcg dan untuk lansia
perempuan sebesar 900 mcg. Defisiensi tembaga dikaitkan dengan defisiensi besi dan
kelebihan zinc. Defisiensi tembaga juga dikaitkan dengan anemia, dan kemungkinan
peningkatan infeksi, osteoporosis, disfungsi kelenjar tiroid, penyakit jantung dan
fungsi sistem saraf yang abnormal. Pada tingkat toksik tembaga dapat menyebabkan
diare, muntah, kerusakan hati dan perubahan pada warna kulit dan rambut. Sementara
efek ringannya adalah kelelahan, mudah tersinggung, depresi, kehilangan konsentrasi
dan ketidakmampuan belajar.

8. Chromium
Kromium menstimulasi sintesis asam lemak dan kolesterol, merupakan
aktivator beberapa enzim, dan juga dianggap penting dalam metabolisme insulin.
Beberapa penelitian mengatakan kromium dapat membentuk a kompleks dengan
insulin yang dapat meningkatkan aktivitas insulin.
Sumber makanan kromium meliputi daging sapi, hati, telur, ayam, tiram,
gandum kuman, paprika hijau, apel, pisang, dan bayam. Sumber kromium terbaik
adalah ragi bir, tapi banyak orang tidak menggunakannya karena menyebabkan
distensi perut (perasaan kembung) dan mual. Lada hitam, mentega, dan tetes tebu juga
bagus sumber kromium, tapi biasanya dikonsumsi hanya dalam jumlah kecil.
Kebutuhan kromium untuk lansia laki laki sebesar 30 mcg dan kebutuhan
kromium untuk lansia wanita sebesar 25 mcg.

9. Selenium
Selenoprotein memiliki sifat antioksidan yang membantu mencegah
kerusakan sel Radikal bebas. Radikal bebas dapat berkontribusi pada perkembangan
penyakit kronis seperti kanker dan penyakit jantung. Selenoprotein lainnya membantu
mengatur fungsi tiroid dan berperan dalam sistem kekebalan tubuh.
Kebutuhan selenium untuk lansia laki laki sebesar 30 mcg dan kebutuhan
selenium untuk lansia perempuan sebesar 30 mcg. Defisiensi selenium dikaitkan
dengan masalah gastrointestinal parah, seperti penyakit Crohn, atau dengan operasi
pengangkatan pada bagian perut.
C. Contoh Menu Lansia
1. Menu 1

Waktu Menu Jumlah


(g)
Sarapan Nasi tim bayam 150
Telur dadar 55
Tahu goreng 50
Jeruk manis 50
Selingan Susu skim tak berlemak cair 100
Biskuit 50
Makan siang Nasi putih 150
Sayur katuk 100
Ikan goreng 50
Tempe bacem 50
Semangka 100
Selingan Jus alpukat susu 150
Makan malam Nasi putih 150
Sayur sop daging cincang wortel 100
Pepes tahu 50
Pepaya 100

==================================================================
HASIL PERHITUNGAN
==================================================================
Zat Gizi hasil analisis rekomendasi persentase
nilai nilai/hari pemenuhan
________________________________________________________________________
energy 1520,7 kcal 1550,0 kcal 98 %
Vit. C 132,0 mg 75,0 mg 176 %
potassium 1759,0 mg 4700,0 mg 37,4 %
Vit. A 898,2 g 500,0 g 179 %
tot. fol.acid 220,0 g 400,0 g 55 %
sodium 695,7 mg 1200,0 mg 58 %
calcium 515,5 mg 1000,0 mg 52 %
iron 11,4 mg 12,0 mg 95 %
Vit. D 5,1 g 20,0 g 25,5 %
Vit. E (eq.) 4,6 mg 15,0 mg 30 %
Vit. K 0,0 g 55,0 g 0%
Vit. B1 0,6 mg 0,8 mg 75 %
Vit. B2 0,9 mg 0,9 mg 100 %
niacineequiv. 0,0 mg 9,0 mg 0%
pantoth. acid 4,4 mg 5,0 mg 88 %
biotine 0,0 g 30,0 g 0%
Vit. B6 1,0 mg 1,5 mg 67 %
Vit. B12 2,6 g 2,4 g 108 %
phosphorus 765,0 mg 700,0 mg 109 %
magnesium 282,5 mg 320,0 mg 88 %
2. Menu 2

Jam makan Menu Jumlah (g)


Bubur ayam 150
Sarapan Telur dadar 240
Jus alpukat susu 55
Bubur kacang hijau 100
Selingan pagi
Jeruk manis 90
Nasi putih 100
Tumis kangkung 30
Makan siang Pepes tahu 50
Ikan mas pepes 40
Jus melon 200
Semangka 90
Selingan siang Pepaya 50
Susu sapi 200
Nasi putih 100
Perkedel jagung 35
Makan malam Daging ayam goreng 40
Sayur bayem 35
Tempe bacem 50
3. Menu 3

==================================================================
HASIL PERHITUNGAN DIET/
==================================================================
Nama Makanan Jumlah energy carbohydr.
___________________________________________________________________________

Sarapan
nasi putih 150 g 195.0 kcal 42.9 g
tempe oreg/sayur tempe/sambal tempe 50 g 50.0 kcal 4.3 g
bening bayam belu 50 g 3.9 kcal 0.6 g
jagung kuning segar 50 g 54.0 kcal 12.6 g

Meal analysis: energy 302.9 kcal (20 %), carbohydrate 60.4 g (27 %)

Snack
susu skim / tak berlemak cair 25 g 8.7 kcal 1.2 g
gula pasir 10 g 38.7 kcal 10.0 g

Meal analysis: energy 47.4 kcal (3 %), carbohydrate 11.2 g (5 %)

Makan Siang
nasi putih 180 g 234.0 kcal 51.5 g
ikan mas pepes 50 g 40.5 kcal 0.0 g
pepes tahu 100 g 76.0 kcal 1.9 g
sayur asem 100 g 49.0 kcal 5.7 g
pisang ambon 100 g 92.0 kcal 23.4 g

Meal analysis: energy 491.6 kcal (33 %), carbohydrate 82.5 g (37 %)

Snack
jus tomat 200 g 44.0 kcal 10.6 g

Meal analysis: energy 44.0 kcal (3 %), carbohydrate 10.6 g (5 %)

Makan Malam
nasi putih 100 g 130.0 kcal 28.6 g
semur daging ayam belu 50 g 229.4 kcal 0.0 g
tempe bacem 50 g 118.5 kcal 8.8 g
sayur sop 100 g 104.0 kcal 10.5 g
pepaya 100 g 39.0 kcal 9.8 g

Meal analysis: energy 620.9 kcal (41 %), carbohydrate 57.7 g (26 %)
==================================================================
HASIL PERHITUNGAN
==================================================================
Zat Gizi hasil analisis rekomendasi persentase
nilai nilai/hari pemenuhan
___________________________________________________________________________
energy 1506.8 kcal 1550 kcal 97,2 %
protein 49.0 g(13%) 56.0 g(12 %) 87 %
fat 52.2 g(29%) 43.0 g(< 30 %) 121 %
carbohydr. 222.4 g(58%) 252.0 g(> 55 %) 88 %
water 0.0 g 2250.0 g 0%
dietary fiber 15.4 g 22.0 g 70 %
Vit. A 944.3 g 500.0 g 188 %
Vit. C 112.8 mg 75.0 mg 150 %
Vit. D 3.5 g 20.0 g 17.5 %
Vit. E 0.0 mg - -
Vit. K 0.0 g 55.0 g 0%
Vit. B1 0.7 mg 0.8 mg 87.5 %
Vit. B2 0.7 mg 0.9 mg 77.8 %
pantoth. acid 4.0 mg 5.0 mg 80 %
niacine 9.1 mg 9 101%
biotine 0.0 g 30.0 g 0%
Vit. B12 0.7 g 3.0 g 23 %
copper 1.2 mg 3.0 mg 40 %
sodium 122.1 mg 1200.0 mg 10 %
Vit. B6 1.4 mg 1.5 mg 93.3 %
phosphorus 773.0 mg 700.0 mg 110 %
magnesium 358.1 mg 320.0 mg 111 %
calcium 348.3 mg 1000.0 mg 35 %
iron 12.7 mg 12.0 mg 105.8 %
potassium 2078.9 mg 4700.0 mg 44.2 %
zinc 6.1 mg 10.0 mg 61 %

D. Daftar Pustaka
Morley et, al. 2007. Geriatric Nutrition. CRC Press
Mahan et, al. 2017. Krauses Food and The Nutrition Care Process 14 th Edition. Elsevier
Ross et, al. 2004. Modern Nutrition in Health & Disease eleventh edition.
National Institutes of Health. 2016. Vitamin C Fact Sheet for Consumers.
Dietitiens of Canada. 2016. Food Source Vitamin E.
Vitamins in Motion. Vitamin B1 B Vitamins: Establishing Healthy Growth.