Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bernapas adalah hal yang harus terus menerus dilakukan oleh makhluk hidup baik
tumbuhan, manusia maupun hewan agar dapat melanjutkan hidup. Pernapasan adalah
pertukaran gas yang dibutuhkan untuk metabolisme dalam tubuh. Alat pernapasan pada
setiap makhluk hidup pun berbeda tergantung habitat yang ditempati makhluk hidup.
Seperti halnya pada hewan yang memiliki berbagai macam saluran pernapasan seperti
paru-paru yang dimiliki mamalia, reptilian, amphibi. Anelidan dan ampibhia memiliki
kulit yang juga berfungsi sebagai tempat pertukaran gas. Ikan mengambil oksigen dari air
dengan menggunakan sistem insang. Meskipun demikian terdapat kelebihan dan
kekurangan pada setiap mekanisme pernapasan yang dimiliki oleh makhluk hidup.
Pada hewan vertebrata dan invertebarata memiliki saluran pernapasan yang
berbeda. Adanya keaneragaman yang terjadi pada hewan dan dengan seiring
pengembangan ilmu pengetahuan maka sangat pentinglah bagi kita umtuk mempelajari
dan membahas tentang sistem pernapasan atau respirasi pada hewan.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa pengertian sistem respirasi ?
1.2.2 Apa fungsi sistem respirasi ?
1.2.3 Bagaimanakah proses transpor oksigen saat respirasi ?
1.2.4 Bagaimanakah proses transpor karbondioksida saat respirasi ?
1.2.5 Bagaimanakah mekanisme pengaturan respirasi ?
1.2.6 Bagaimanakah sistem respirasi pada hewan vertebrata ?
1.2.7 Bagaimanakah sistem respirasi pada hewan invertebrata ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui pengertian sistem pernapasan
1.3.2 Mengetahui fungsi sistem pernapasan
1.3.3 Mengetahui proses transport oksigen saat respirasi
1.3.4 Mengetahui transport karbindioksida saat respirasi
1.3.5 Mengetahui mekanisme pengaturan respirasi

1
1.3.6 Mengetahui sistem respirasi pada hewan vertebrata
1.3.7 Mengetahui sistem respirasi pada hewan invertebrata

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sistem Respirasi
Pernapasan (Respirasi) adalah peristiwa menghirup udara dari luar
yang,mengandung (oksigen) serta menghembuskan udara yang banyak mengandung
karbondioksida sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh. Pertukaran gas O2 dan CO2
dalam tubuh makhluk hidup disebut pernapasan atau respirasi. O2 dapat keluar masuk
jaringan melalui difusi. Pada dasarnya metabolisme yang normal dalam sel-sel makhluk
hidup memerlukan oksigen dan karbondioksida. Pada hewan vertebrata terlalu besar
untuk dapat terjadinya interaksi secara langsung antara masing-masing sel tubuh dengan
lingkungan luar tubuhnya. Untuk itu organ-organ tertentu yang bergabung dalam sistem
pernapasan dikhususkan untuk melakukan pertukaran gas-gas pernapasan bagi keperluan
seluruh tubuhnya.
Ada dua tahap pernapasan, tahap pertama oksigen masuk ke dalam dan
pengeluaran karbondioksida ke luar tubuh melalui organ-organ pernapasan disebut
respirasi eksternal, dan pengangkutan gas-gas pernapasan dari organ-organ pernapasan ke
jaringam tubuh atau sebaliknya dilakukan oleh sistem sirkulasi. Tahap kedua adalah
pertukaran O2 dari cairan tubuh (darah) dengan CO2 dari sel-sel dalam jaringan, disebut
respirasi internal.
Difusi gas-gas pernapasan antara lingkungan dengan pembuluh darah yang
terdapat di bawah pembuluh respiratoris dapat terjadi jika permukaan tempat terjadinya
pertukaran gas harus cukup luas dan tipis, selalu basah dan permeabel terbadap gas-gas
pernapasan, dan terdapat perbedaan konsentrasi gas-gas pernapasan antara medium dan
di luar darah.
2.2 Fungsi Sistem Respirasi
Sistem respirasi memiliki fungsi utama untuk memasok oksigen ke dalam tubuh
serta membuang CO2 dari dalam tubuh.
2.3 Transpor Oksigen
Transpor oksigen dalam darah terjadi dengan dua cara, yaitu dengan cara
sederhana (terlarut dalam plasma darah ) atau dengan cara diikat oleh pigmen respirasi,
yaitu senyawa khusus yang dapat mengikat dan melepas oksigen secara bolak-balik.

3
Beberapa hewan invertebrata sederhana mentranspor oksigen dengan cara melarutkannya
dalam darah. Sebenarnya, cara semacam itu tidak efektif, namun masih dapat memenuhi
kebutuhan tersebut karena invertebrata sederhana umumnya memiliki tingkat
metabolisme yang tendah.
Hewan yang memiliki tingkat perkembangan labih tinggi biasanya mempunyai
aktifitas metabolisme yang lebih tinggi biasanya mempunyai aktifitas metabolisme yang
lebih tinggi dan ukuran tubuh lebuh besar. Mereka memerlukan oksigen dalam jumlah
yang lebih besar pula. Oleh karena itu, hewan tingkat tinggi memerlukan cara
pengangkutan oksigen yang lebih efektif, yakni dengan bantuan pigmen respirasi.
Pigmen respirasi merupakan protein dalam darah (dalam sel darah atau plasma)
yangg memiliki afinitas/ daya gabung tinggi terhadap oksigen. Pigmen respirasi sangat
diperlukan oleh darah / cairan tubuh untuk meningkatkan kapasitas pengangkutan
oksigen. Ada beberapa macam pigmen respirasi yang dapat ditemukan pada berbagai
hewan.
Keberadaan pigmen respirasi dalam darah/ cairan tubuh benar-benar dapat
meningkatkan kapasitas pengangkutan oksigen secara bermakna. Sebagai contoh,
keberadaan pigmen hemoglobin dalam darah mamalia dapat meningkatkan kapasitas
pengangkutan O2 oleh darah sebesar 20 kali lipat sehingga setiap 100 ml darah dapat
membawa 20 ml oksigen. Tanpa hemoglobin, darah hanya dapat mengangkut oksigen
sebanyak 1 ml per 100 ml darah.

Warna pigmen
Nama Jenis
lokasi Tak Contoh hewan
pigmen logam teroksigenasi
teroksigenasi
Ketam, udang laut,
Tak
hemosianin Cu++ plasma biru siput (gastropoda),
berwarna
cephalopoda
Cacing, polikhaeta
klorokruorin Fe++ plasma hijau hijau (pada ke-4
familinya)
hemeritin Fe++ Plasma merah Kuning Sipunkulid,

4
dan sel pucat brakhiopoda,
darah beberapa annelida
Plasma Beberapa cacing
darah pipih, beberapa
hemoglobin Fe++ merah keunguan
dan sel moluska, hampir
darah semua vertebrata
Pada daerah yang memiliki tekanan/konsentrasi oksigen tinggi seperti pada
permukaan alveoli paru-paru, Hb akan sangat mudah untuk berikatan dengan oksigen dan
membentuk oksihemoglobin.
Sementara pada daerah yang memiliki tekanan oksigen rendah atau pH rendah,
oksihemoglobin sangat mudah terurai dan membebaskan oksigen. Oksigen akan
berikatan dengan hemin (Fe++) dengan ikatan yang longgar/lemah, yang akan
menghasilkan HbO2 ataupun proses kenalikannya, (lihat gambar 2, bagaimana
hemoglobin mengikat oksigen). Untuk selanjutnya oksigen di antar oleh darah ke seluruh
sel-sel tubuh untuk kelangsungan metabolisme tubuh.
2.4 Transpor Karbondioksida
Aktivitas metabolisme sel akan menghasilkan zat sisa, antara lain CO2 dan air (air
metabolik). Keberadaan air metabolik didalam tubuh tidak menimbulkan masalah yang
rumit karena masih dapat dimanfaatkan oleh sel tubuh. Namun, keberadaan CO2 dapat
meninbulkan gangguan fisiologis yang penting, sebab itu CO2 yang terbentuk harus
segara diangkut dan dikeluarkan dari tubuh.
Darah mengangkut CO2 dalam berbagai bentuk, yaitu sebagai senyawa karbamino
(ikatan antara CO2 dan Hb), CO2 terlarut dalam plasma darah, sebagai asam
karbonat/H2CO3 (hasil reaksi antara CO2 dengan air), ion bikarbonat (HCO3-), dan
senyawa bikarbonat (NaHCO3, KHCO3).
Pengangkutan CO2 dalam bentuk senyawa bikarbonat merupakan cara untuk
mempertahankan keseimbangan pH (mekanisme buffering), mempertahankan
keseimbangan pH merupakan tugas tambahan bagi sistem respirasi, diluar tugas
utamanya untuk mentranspor oksigen dan karbondioksida.
Sistem respirasi juga memiliki fungsi lain yaitu menjaga keseimbangan elektrik
dalam darah, yaitu dengan mekanisme HCO3-/Cl- transporter atau chloride shift atau

5
pertukaran HCO3-/Cl-, mekanisme mengatur perpindahan ion Cl- ke arah tertentu (ke
dalam atau luar sel) sebagai imbangan bagi kepindahan ion HCO3- .
2.5 Pengaturan Respirasi
Pengaturan respirasi dapat berlangsung secara kimiawi maupun secara sarafi.
Pada dasarnya pengaturan tersebut dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan kadar
oksigen dan karbondioksida di dalam darah.
Pada saat kadar karbondioksida meningkat, kemoreseptor di medula (pusat
respirasi) terangsang. Hal ini akan menyebabkan impuls saraf dijalankan sepanjang
serabut eferen ke organ efektor (otot dada, jantung, dan pembuluh darah). Impuls yang
sampai pada organ efektor terebut menimbulkan proses kompleks yang menyebabkan
peningkatan laju ventilasi dan pelepasan karbondioksida. Impuls yang sampai ke jantung
dan pembuluh darah pada jaringan yang mengalami penimbunan karbondioksida akan
mendorong timbulnya respon yang mempermudah pelepasan karbondioksida dari tubuh,
sekaligus meningkatkan pemasukan oksigen ke dalam tubuh.
Pangaturan respirasi secara sarafi dilakukan oleh sekelompok sel saraf pada pons
varoli dan medula oblongata. Pada pons bagian atas terdapat pneumotaxic centre yaitu
pusat pernapasan yang berfungsi mengatur kerja pusat saraf yang lebih rendah yang
terdapat pada medula oblongata. Pusat saraf yang lebih rendah tersebut ialah pusat
inspiratori dan pusat ekspiratori yang mengendalikan inspirasi dan ekspirasi pada hewan.
Selain ketiga pusat tersebut, pengaturan respirasi juga dilakukan oleh stretch receptor
(reserptor regangan) dan saraf vagus, yang membawa membawa rangsangan dari organ
saraf ke pusat ekspiratori. Stretch receptor yaitu reseptor yang terdapat pada bronkus dan
jaringan paru-paru, berfungsi untuk memantau keadaan paru-paru. Reseptor ini
terangsang pada saat paru-paru meregang maksimal (saat inspirasi).
2.6 Sistem Respirasi pada Hewan Vertebrata
2.6.1 Sistem Respirasi pada Pisces (Ikan)
Ikan bernapas pada insang yang terdapat di sisi kanan dan kiri kepala
(kecuali ikan Dipnoi yang bernapas dengan paru-paru). Selain berfungsi sebagai
alat pernapasan, insang juga berfungsi sebagai alat ekskresi dan transportasi
garam-garam. Oksigen dalam air akan berdifusi ke dalam sel-sel insang. Darah di
dalam pembuluh darah pada insang mengikat oksigen dan membawanya beredar

6
ke seluruh jaringan tubuh, darah akan melepaskan dan mengikat karbondioksida
serta membawanya ke insang. Dari insang, karbondioksida keluar dari tubuh ke
air secara difusi.
Insang (branchia) tersusun atas bagian-bagian berikut ini:
1. Organ Respirasi
a. Tutup insang (operculum). Hanya terdapat pada ikan bertulang sejati,
sedangkan pada ikan bertulang rawan, tidak terdapat tutup insang.
Operculum berfungsi melindungi bagian kepala dan mengatur
mekanisme aliran air sewaktu bernapas,
b. Membrane brankiostega (selaput tipis di tepi operculum), berfungsi
sebagai katup pada waktu air masuk ke dalam rongga mulut,
c. Lengkung insang (arkus brankialis), sebagai tempat melekatnya tulang
tapis insang dan daun insang, mempunyai banyak saluran-saluran darah
dan saluran syaraf
d. Tulang tapis insang, berfungsi dalam sistem pencernaan untuk mencegah
keluarnya organisme makanan melalui celah insang
e. Daun insang, berfungsi dalam sistem pernapasan dan peredaran darah,
tempat terjadinya pertukaran gas O2 dengan CO2
f. Lembaran (filamen) insang (holobran kialis) berwarna kemerahan
g. Saringan insang (tapis insang) berfungsi untuk menjaga agar tidak ada
benda asing yang masuk ke dalam rongga insang.
Insang berbentuk lembaran-lembaran tipis berwarna merah muda dan
selalu lembab. Bagian terluar dari insang berhubungan dengan air, sedangkan
bagian dalam berhubungan erat dengan kapiler-kapiler darah. Tiap lembaran
insang terdiri dari sepasang filamen, dan tiap filamen mengandung banyak
lapisan tipis (lamela). Pada filamen terdapat pembuluh darah yang memiliki
banyak kapiler sehingga memungkinkan O2 berdifusi masuk dan CO2
berdifusi keluar. Insang pada ikan bertulang sejati ditutupi oleh tutup insang
yang disebut operculum, sedangkan insang pada ikan bertulang rawan tidak
ditutupi oleh operculum.

7
Insang tidak saja berfungsi sebagai alat pernapasan tetapi dapat pula
berfungsi sebagai alat ekskresi garam-garam, penyaring makanan, alat
pertukaran ion, dan osmoregulator. Beberapa jenis ikan mempunyai labirin
yang merupakan perluasan ke atas dari insang dan membentuk lipatan-lipatan
sehingga merupakan rongga-rongga tidak teratur. Labirin ini berfungsi
menyimpan cadangan O2 sehingga ikan tahan pada kondisi yang kekurangan
O2. Contoh ikan yang mempunyai labirin adalah ikan gabus dan ikan lele.
Untuk menyimpan cadangan O2, selain dengan labirin, ikan mempunyai
gelembung renang yang terletak di dekat punggung.
2. Mekanisme Pernapasan pada Pisces (Ikan)
a. Mekanisme pernapasan pada ikan bertulang sejati
Salah satu contoh ikan bertulang sejati yaitu ikan mas. Insang ikan
mas tersimpan dalam rongga insang yang terlindung oleh tutup insang
(operkulum). Insang ikan mas terdiri dari lengkung insang yang tersusun
atas tulang rawan berwarna putih, rigi-rigi insang yang berfungsi untuk
menyaring air pernapasan yang melalui insang, dan filamen atau lembaran
insang. Filamen insang tersusun atas jaringan lunak, berbentuk sisir dan
berwarna merah muda karena mempunyai banyak pembuluh kapiler darah
dan merupakan cabang dari arteri insang. Di tempat inilah pertukaran gas
CO2 dan O2 berlangsung.

8
Gas O2 diambil dari gas O2 yang larut dalam air melalui insang
secara difusi. Dari insang, O2 diangkut darah melalui pembuluh darah ke
seluruh jaringan tubuh. Dari jaringan tubuh, gas CO2 diangkut darah
menuju jantung. Dari jantung menuju insang untuk melakukan pertukaran
gas. Proses ini terjadi secara terus-menerus dan berulang-ulang.
Mekanisme pernapasan ikan bertulang sejati dilakukan melalui
mekanisme inspirasi dan ekspirasi.
1) Fase inspirasi
Gerakan tutup insang ke samping dan selaput tutup insang tetap
menempel pada tubuh mengakibatkan rongga mulut bertambah besar,
sebaliknya celah belakang insang tertutup. Akibatnya, tekanan udara
dalam rongga mulut lebih kecil daripada tekanan udara luar. Celah
mulut membuka sehingga terjadi aliran air ke dalam rongga mulut.
Perhatikan gambar di samping.

2) Fase ekspirasi
Setelah air masuk ke dalam rongga mulut, celah mulut menutup.
Insang kembali ke kedudukan semula diikuti membukanya celah
insang. Air dalam mulut mengalir melalui celah-celah insang dan
menyentuh lembaran-lembaran insang. Pada tempat ini terjadi
pertukaran udara pernapasan. Darah melepaskan CO2 ke dalam air dan
mengikat O2 dari air.

9
Pada fase inspirasi, O2 dan air masuk ke dalam insang, kemudian O2
diikat oleh kapiler darah untuk dibawa ke jaringan-jaringan yang
membutuhkan. Sebaliknya pada fase ekspirasi, CO2 yang dibawa oleh
darah dari jaringan akan bermuara ke insang, dan dari insang
diekskresikan keluar tubuh.
b. Mekanisme pernapasan pada ikan bertulang rawan
Insang ikan bertulang rawan tidak mempunyai tutup insang
(operkulum) misalnya pada ikan hiu. Masuk dan keluarnya udara dari
rongga mulut, disebabkan oleh perubahan tekanan pada rongga mulut
yang ditimbulkan oleh perubahan volume rongga mulut akibat gerakan
naik turun rongga mulut. Bila dasar mulut bergerak ke bawah, volume
rongga mulut bertambah, sehingga tekanannya lebih kecil dari tekanan air
di sekitarnya. Akibatnya, air mengalir ke rongga mulut melalui celah
mulut yang pada akhirnya terjadilah proses inspirasi. Bila dasar mulut
bergerak ke atas, volume rongga mulut mengecil, tekanannya naik, celah
mulut tertutup, sehingga air mengalir ke luar melalui celah insang dan
terjadilah proses ekspirasi CO2. Pada saat inilah terjadi pertukaran gas O2
dan CO2.
c. Mekanisme pernapasan pada ikan paru-paru
Pernapasan ikan paru-paru menyerupai pernapasan pada Amphibia.
Selain mempunyai insang, ikan paru paru mempunyai satu atau sepasang
gelembung udara seperti paru-paru yang dapat digunakan untuk membantu

10
pernapasan, yaitu pulmosis. Pulmosis banyak dikelilingi pembuluh darah
dan dihubungkan dengan kerongkongan oleh duktus pneumatikus. Saluran
ini merupakan jalan masuk dan keluarnya udara dari mulut ke gelembung
dan sebaliknya, sekaligus memungkinkan terjadinya difusi udara ke kapiler
darah.
Ikan paru-paru hidup di rawa-rawa dan di sungai. Ikan ini mampu
bertahan hidup walaupun airnya kering dan insangnya tidak berfungsi,
karena ia bernapas menggunakan gelembung udara. Ada tiga jenis ikan
paru-paru di dunia, yaitu ikan paru-paru afrika, ikan paru paru amerika
selatan, dan ikan paru - paru queensland (Australia).
Pada beberapa jenis ikan, seperti ikan lele, gabus, gurami, dan
betok memiliki alat bantu pernapasan yang disebut labirin. Labirin
merupakan perluasan ke atas dalam rongga insang, dan membentuk
lipatan-lipatan sehingga merupakan rongga-rongga tidak teratur. Rongga
labirin berfungsi menyimpan udara (O2), sehingga ikan-ikan tersebut dapat
bertahan hidup pada perairan yang kandungan oksigennya rendah. Selain
dengan labirin, udara (O2) juga disimpan di gelembung renang yang
terletak di dekat punggung.

2.6.2 Sistem Respirasi pada Amphibi (Katak)


Pada katak, oksigen berdifusi lewat selaput rongga mulut, kulit, dan paru-
paru. Kecuali pada fase berudu bernapas dengan insang karena hidupnya di air.
Selaput rongga mulut dapat berfungsi sebagai alat pernapasan karma tipis dan
banyak terdapat kapiler yang bermuara di tempat itu. Pada saat terjadi gerakan
rongga mulut dan faring, Iubang hidung terbuka dan glotis tertutup sehingga
udara berada di rongga mulut dan berdifusi masuk melalui selaput rongga mulut
yang tipis. Selain bernapas dengan selaput rongga mulut, katak bernapas pula

11
dengan kulit, ini dimungkinkan karma kulitnya selalu dalam keadaan basah dan
mengandung banyak kapiler sehingga gas pernapasan mudah berdifusi. Oksigen
yang masuk lewat kulit akan melewati vena kulit (vena kutanea) kemudian
dibawa ke jantung untuk diedarkan ke seluruh tubuh. Sebaliknya karbon dioksida
dari jaringan akan di bawa ke jantung, dari jantung dipompa ke kulit dan paru-
paru lewat arteri kulit pare-paru (arteri pulmo kutanea). Dengan demikian
pertukaran oksigen dan karbon dioksida dapat terjadi di kulit.
Selain bernapas dengan selaput rongga mulut dan kulit, katak bernapas
juga dengan paru-paru walaupun paru-parunya belum sebaik paru-paru mamalia.
Katak mempunyai sepasang paru-paru yang berbentuk gelembung tempat
bermuaranya kapiler darah. Permukaan paru-paru diperbesar oleh adanya bentuk-
bentuk seperti kantung sehingga gas pernapasan dapat berdifusi. Paru-paru
dengan rongga mulut dihubungkan oleh bronkus yang pendek.
Dalam paru-paru terjadi mekanisme inspirasi dan ekspirasi yang keduanya
terjadi saat mulut tertutup.

1. Fase inspirasi
Fase inspirasi adalah saat udara (kaya oksigen) yang masuk lewat selaput
rongga mulut dan kulit berdifusi pada gelembung-gelembung di paru-paru.
Mekanisme inspirasi adalah sebagai berikut. Otot Sternohioideus
berkonstraksi sehingga rongga mulut membesar, akibatnya oksigen masuk
melalui koane. Setelah itu koane menutup dan otot rahang bawah dan otot

12
geniohioideus berko ntraksi sehingga rongga mulut mengecil. Mengecilnya
rongga mulut mendorong oksigen masuk ke paru-paru lewat celah-celah.
Dalam paru-paru terjadi pertukaran gas, oksigen diikat oleh darah yang
berada dalam kapiler dinding paru-paru dan sebaliknya, karbon dioksida
dilepaskan ke lingkungan.
2. Fase ekspirasi
Fase ekspirasi adalah sebagai berikut. Otot-otot perut dan sternohioideus
berkontraksi sehingga udara dalam paru-paru tertekan keluar dan masuk ke
dalam rongga mulut. Celah tekak menutup dan sebaliknya koane membuka.
Bersamaan dengan itu, otot rahang bawah berkontraksi yang juga diikuti
dengan berkontraksinya geniohioideus sehingga rongga mulut mengecil.
Dengan mengecilnya rongga mulut maka udara yang kaya karbondioksida
keluar.
2.6.3 Sistem Respirasi pada Reptilia
Pada umumnya hewan kelas Reptilia bernapas dengan paru-paru. Selain
dengan paru-paru, kura-kura dan penyu pengambilan oksigen dibantu oleh lapisan
kulit tipis dengan banyak kapiler darah yang ada di sekitar kloaka. Kloaka
merupakan muara bersama saluran reproduksi, saluran ginjal, dan saluran
pencernaan makanan.
Pada reptilia pada umumnya udara luar masuk melalui lubang hidung, lalu
trakea, bronkus, dan akhirnya ke paru-paru. Lubang hidung terdapat di ujung
kepala atau moncong. Keluar masuknya udara dari dan ke dalam paru-paru terjadi
karena ada kontraksi otot pada tulang rusuk. Paru-paru tersusun atas gelembung
gelembung berisi kapiler darah.
Pertukaran gas terjadi di kapiler darah . pertukaran gas terjadi di kapiler
ini, oksigen diambil dan karondioksida bersama uap air dikeluarkan. Pada
beberapa jenis reptilia yang hidup di air, lubang hidungnya dapat ditutup oleh
klep, misalnya pada buaya. Selain itu pada buaya, saat menyelam, lubang batang
tenggorokannya dapat ditutup oleh lipatan kulit, sehingga air tidak masuk ke
dalam paru-paru pada pangkal tenggorokan. Cicak dan tokek terdapat pita suara.

13
Paru-paru reptilia berada dalam rongga dada dan dilindungi oleh tulang
rusuk. Paru-paru reptilia lebih sederhana, hanya dengan beberapa lipatan dinding
yang berfungsi memperbesar permukaan pertukaran gas. Pada reptilia pertukaran
gas tidak efektif.
Pada kadal, kura-kura, dan buaya paru-paru lebih kompleks, dengan
beberapa belahan yang membuat paru parunya bertekstur seperti spon. Paru-
paru pada beberapa jenis kadal misalnya bunglon Afrika mempunyai pundi
pundi hawa cadangan yang memungkinkan hewan tersebut melayang di udara.

2.6.4 Sistem Respirasi pada Aves (Burung)


Burung adalah hewan berdarah panas, sama seperti mamalia, sehingga
suhu pada tubuh burung bersifat stabil. Karena burung memiliki reseptor pada
bagian otak yang dapat mengatur suhu tubuh sehingga burung dapat melakukan
aktivitas pada suhu lingkungan yang berbeda.
Burung menggunakan paru-paru dan pundi hawa (pundi-pundi udara)
sebagai alat pernapasannya. Burung memiliki dua lubang hidung yaitu lubang
hidung luar terletak pada bagian pangkal paruh bagian atas dan lubang hidung
dalam terletak pada langit-langit rongga mulut.
Alat pernapasan pada burung adalah paru-paru. Ukuran paru-paru relativ
kecil dibandingkan ukuran tubuh burung. Paru-paru burung terbentuk oleh
bronkus primer, bronkus sekunder, dan pembuluh bronkiolus. Bronkus primer
berhubungan dengan mesobronkus. Mesobronkus merupakan bronkiolus terbesar.
Mesobronkus bercabang menjadi dua set bronkus sekunder arterior dan posterior
yang disebut ventrobronkus dan dorsobronkus dihubungkan oleh parobronkus.
Paru-paru burung memiliki 1000 buah parabronkus yang bergaris tengah 0,5
mm. Paru-paru burung memiliki perluasan yang disebut kantong udara yang

14
mengisi daerah selangka dada atas, dada bawah, daerah perut, daerah tulang
humerus dan daerah leher.
1. Organ Respirasi
Berturut-turut dari luar ke dalam. Susunan alat pernapasan burung adalah
sebagai berikut:
1) Dua pasang lubang hidung yang terdapat pada pangkal paruh sebelah atas
dan pada langit-langit rongga mulut.
2) Celah tekak yang terdapat pada dasar hulu kerongkongan atau faring yang
menghubungkan rongga mulut dengan trakea.
3) Trakea, berupa pipa dengan penebalan tulang rawan berbentuk cincin yang
tersusun di sepanjang trakea.
4) Siring (alat suara), terletak di bagian bawah trakea. Dalam siring terdapat
otot sternotrakealis yang menghubungkan tulang dada dan trakea, serta
berfungsi untuk menimbulkan suara. Selain itu terdapat juga otot
siringialis yang menghubungkan siring dengan dinding trakea sebelah
dalam. Dalam rongga siring terdapat selaput yang mudah bergetar. Getaran
selaput suara tergantung besar kecilnya ruangan siring yang diatur oleh
otot sternotrakealis dan otot siringalis.
5) Sepasang paru-paru berwarna merah muda yang terdapat dalam rongga
dada. Bagian ini meliputi bronkus kanan dan bronkus kiri yang merupakan
cabang bagian akhir dari trakea. Dalam bronkus pada pangkal trakea,
terdapat sirink (siring), yang pada bagian dalamnya terdapat lipatan-lipatan
berupa selaput yang dapat bergetar dan dapat menimbulkan suara. Bronkus
bercabang lagi menjadi mesobronkus, yang merupakan bronkus sekunder,
dan dapat dibedakan menjadi ventrobronkus (bagian ventral) dan
dorsobronkus (bagian dorsal). Ventrobronkus dihubungkan dengan
dorsobronkus oleh banyak parabronkus (100 atau lebih). Parabronkus
berupa tabung kecil. Di parabronkus bermuara banyak kapiler, sehingga
memungkinkan udara berdifusi.
6) Pundi-pundi hawa atau kantung udara (saccus pneumaticus) yang
menyebar sampai ke perut, leher, dan sayap. Kantung-kantung udara ini

15
terdapat pada pangkal leher (saccus cervicalis), rongga dada (saccus
thoracalis anterior dan posterior), antara tulang selangka atau korakoid
(saccus interclavicularis), ketiak (saccus axillaris), dan di antara lipatan
usus atau rongga perut (saccus abdominalis). Kantung udara berhubungan
dengan paru-paru, berselaput tipis, tetapi tidak terjadi difusi udara
pernapasan. Adanya kantung udara mengakibatkan, pernapasan pada
burung menjadi efisien. Kantung udara memiliki beberapa fungsi berikut.
1) Membantu pernapasan, terutama pada waktu terbang, karena
menyimpan oksigen cadangan.
2) Membantu mempertahankan suhu badan dengan mencegah hilangnya
panas badan secara berlebihan.
3) Membantu memperkeras suara dengan memperbesar ruang siring.
4) Mengatur berat jenis (meringankan) tubuh pada saat burung terbang.

2. Mekanisme Pernapasan pada Aves


a. Pernapasan saat burung tidak terbang
1) Fase inspirasi
Tulang rusuk bergerak ke depan volume rongga dada membesar
tekanan mengecil udara akan masuk melalui saluran pernapasan.
Saat inilah sebagian oksigen masuk ke paru-paru, dan okseigen
berdifusi ke dalam darah kapiler, dan sebagian udara dilanjutkan
masuk ke dalam kantong-kantong udara.

16
2) Fase ekspirasi
Tulang rusuk kembali ke posisi semula rongga dada mengecil
tekanan membesar, pada saat ini udara dalam alveolus dan udara dalam
pundi-pundi udara bersama-sama keluar melalui paru-paru. Pada saat
melewati alveolus oksigen diidikat oleh darah kapiler alveolus, dan
darah nelepas CO2. Dengan demikian , pertukaran gas CO2 dan O2
dapat berlangsung saat inspirasi dan ekspirasi.

b. Pernapasan burung saat terbang


Pundi hawa sangat berperan penting ketika burung mulai terbang,
dikarenakan burung yang terbang tidak dapat menggerakkan tulang
rusuknya, sehingga pundi hawalah yang dipergunakan oleh burung untuk
bernapas. Inspirasi dan ekspirasinya dilakukan secara bergantian oleh
pundi-pundi hawa.
1) Inspirasi
Pada saat sayap diangkat, pundi hawa antar tulang korakoid terjepit,
sehingga pundi hawa ketiak mengembang, akibatnya udara masuk ke
pundi hawa ketiak melewati paru-paru terjadilah inspirasi. Saat
melewati paru-paru akan terjadi pertukaran gas O2 dan CO2.
2) Ekspirasi
Sebaliknya saat sayap diturunkan, pundi hawa ketiak terjepit,
sedangkan pundi hawa antar tulang korakoid mengembang, sehingga

17
udara mengalir ke luar dari pundi hawa melewati paru-paru sehingga
terjadilah ekspirasi. Saat melewati paru-paru akan terjadi pertukaran
gas O2 dan CO2. Dengan cara inilah inspirasi dan ekspirasi udara
dalam paru-paru burung saat terbang. Jadi pertukaran gas pada burung
saat terbang juga berlangsung saat inspirasi dan ekspirasi.
2.6.5 Sistem Respirasi pada Mamalia
Hewan yang menyusui anaknya disebut mamalia. Mamalia ada yang hidup
di darat dan ada yang hidup di air. Mamalia yang hidup di darat mempunyai alat
pernafasan mirip dengan manusia, yaitu hidung, pangkal tenggorok, batang
tenggorok, dan paru-paru. Mamalia yang hidup di air juga bernapas dengan paru-
paru, tetapi pada hidungnya dilengkapi katup. Katup itu akan menutup pada saat
menyelam dan akan terbuka pada saat muncul dipermukaan air. Pada saat muncul
di permukaan, air mamalia yang hidup di air mengambil oksigen serta
mengeluarkan karbondioksida dan uap air. Contoh mamalia yang hidup di air
adalah paus, lumba-lumba dan duyung.
1. Organ Respirasi

a. Hidung
Struktur berongga yang disebut dengan rongga hidung (cavum nasalis).
Memiliki rambut pendek dan tebal untuk menyaring udara dan
menangkap kotoran yang masuk bersama udara. Bagian dalam hidung
mengandung membrane mukosa. Permukaan membrane mukosa akan
menghasilkan lender yang berfungsi melembabkan dan menghangatkan
udara yang masuk ke paru-paru.

18
b. Faring
Tempat persimpangan antara saluran pernapasan pada bagian depan
(anterior) dan saluran pencernaan pada bagian belakang (posterior). Pada
percabangan tersebut terdapat epiglotis yang menjaga agar makanan tidak
masuk ke saluran pernapasan.
c. Laring
Laring atau tekak (jakun) terdapat di bagian belakang (posterior) faring.
Organ ini terdiri atas 9 susunan tulang rawan (kartilago) yang berbentuk
kotak.
d. Trakea
Trakea merupakan saluran udara ke paru-paru. Mendorong keluar debu-
debu dan bakteri dengan gerakan silia-silia di trakea.
e. Bronkus
Ujung trakea bercaband dua, ke kanan dan ke kiri. Setiap percabngannya
disebut bronkus.
f. Paru-paru
1) Bronkiolus, yaitu percabangan dari bronkus.
2) Alveolus, yaitu ujung dari bronkiolus yang berupa gelembung halus.
Setiap alveolus diselubungi pembuluh darah kapiler. Pada bagian
inilah terjadi pertukaran gas antara oksigen dengan karbondioksida
secara difusi.

19
2. Mekanisme Pernapasan
a. Pernapasan dada
1) Fase inspirasi
Otot antar tulang rusuk (muskulus intercostalis eksternal)
berkontraksi --> tulang rusuk terangkat (posisi datar) --> Paru-paru
mengembang --> tekanan udara dalam paru-paru menjadi lebih
kecil dibandingkan tekanan udara luar --> udara luar masuk ke
paru-paru.
2) Fase ekspirasi
Otot antar tulang rusuk relaksasi --> tulang rusuk menurun -->
paru-paru menyusut --> tekanan udara dalam paru-paru lebih besar
dibandingkan dengan tekanan udara luar --> udara keluar dari
paru-paru.
b. Pernapasan perut
1) Fase inspirasi
Sekat rongga dada (diafraghma) berkontraksi --> posisi dari
melengkung menjadi mendatar --> paru-paru mengembang -->
tekanan udara dalam paru-paru lebih kecil dibandingkan tekanan
udara luar --> udara masuk.
2) Fase ekspirasi
otot diafraghma relaksasi --> posisi dari mendatar kembali
melengkung --> paru-paru mengempis --> tekanan udara di paru-
paru lebih besar dibandingkan tekanan udara luar --> udara keluar
dari paru-paru.
2.7 Sistem Respirasi pada Invertebrata
2.7.1 Respirasi pada Protozoa
Respirasi dengan cara aerob atau anaerob. Pada respirasi aerob terjadi
oksidasi dengan O2 yang masuk dalam tubuh dengan cara difusi dan osmosis
melalui seluruh permukaan tubuh, sedang pada anaerob terjadi pembongkaran zat
yang kompleks menjadi zat yang sederhana dengan menggunakan enzim-enzim
tanpa memerlukan oksigen. Hasil kedua peristiwa itu akan sama yakni dihasilkan

20
energi dan zat sisa-sisa yang akan ditampung dalam vakuola kontraktil sebagai zat
ekskresi.
2.7.2 Respirasi pada Porifera
Sebetulnya spons tidak mempunyai alat atau organ pernafasan khusus,
kendati demikian mereka dalam hal respirasi bersifat aerobik. Dalam hal ini yang
bertugas menangkap/mendifusikan oksigen yang terlarut di dalam air medianya
bila di jajaran luar adalah sel-sel epidermis (sel-sel pinakosit), sedangkan pada
jajaran dalam yang bertugas adalah sel-sel leher (khoanosit) selanjutnya oksigen
yang telah berdifusi ke dalam kedua jenis sel tersebut diedarkan ke seluruh tubuh
oleh amoebosit. Berhubung hewan spons bersifat sesil artinya tidak mengadakan
perpindahan tempat sedangkan hidupnya sepenuhnya tergantung akan kaya
tidaknnya kandungan material (oksigen, partikel makanan) dari air yang
merupakan medianya, maka ketika Porifera masih dalam fase larva yang sanggup
mengadakan pergerakan yaitu berenang-renang mengembara kian kemari dengan
bulu-bulu getarnya, ia akan memilih tempat yang strategis dalam arti yang kaya
akan kandungan material yang dibutuhkan untuk kepentingan hidup.
2.7.3 Respirasi pada Coelenterata
Hewan Hydra pertukaran gas pada hydra terjadi secara langsung pada
permukaan tubuhnya. Hal ini karena Hydra tidak mempunyai organ khusus untuk
pernafasan, pembuangan hasil ekskresi, dan juga tidak mempunyai darah serta
sistem peredaran darah. Semua organ-organ itu bagi Hydra tidak diperlukan,
sebab tubuhnya tersusun atas deretan sel-sel yang sebagian besar masih bebas
bersentuhan langsung dengan air yang ada di sekitarnya. Di samping itu dinding
tubuh Hydra merupakan dinding yang tipis, oleh sebab itu pertukaran gas oksigen
dan karbondioksida maupun zat-zat sampah dari bahan nitrogen tidak menjadi
persoalan bagi tubuh Hydra.
Pertukaran zat tersebut berlangsung secara langsung dengan dunia luar
secara difusi dan osmosis melalui membran dari masing-masing sel. Dengan
perkataan lain proses pernafasan maupun pembuangan sisa metabolisme
dilakukan secara mandiri oleh masing-masing sel yang bersangkutan.

21
Hewan Scypozoa seperti halnya hydra, ubur-ubur ini tidak mempunyai
alat respirasi maupun ekskresi yang khusus. Kedua proses tersebut dilakukan
secara langsung melalui seluruh permukaan tubuhnya. Dalam hal ini sistem
saluran air dan sistem saluran gastrovaskular sangat membantu dalam
memperlancar proses respirasi maupun ekskresi. Gas-gas O2 yang terlarut di
dalam air akan masuk secara difusi masuk kedalam lapisan epidermis maupun
gastrodermis tubuh ubur-ubur. Sebaliknya gas-gas O2 yang dihasilkan dari proses
respirasi akan dikeluarkan dari tubuhnya secara difusi. Demikian halnya dengan
zat-zat sampah, terutama yang berupa zat-zat nitrogen sebagai sisa-sisa
metabolisme, akan dibuang secara langsung oleh sel-sel epidermis maupun
gastrodermis ke lingkungan luar tubuh.
Hewan Anthozoa seperti halnya Coelenterata yang lain, tidak mempunyai
alat khusus untuk pernafasan maupun pembuangan hasil ekskresi. Dalam hal ini
pernafasan baik pemasukan oksigen yang terlarut di dalam air laut, maupun
pengeluaran gas karbondioksida berlangsung secara difusi-osmosis secara
langsung melalui semua permukaan tubuhnya. Yang dimaksud dengan permukaan
tubuh ialah baik permukaan epidermis maupun permukaan gastrodermis yang
menghadap kearah liang atau rongga gastrovaskuler. Dalam hal ini, aliran air
yang timbul di dalam saluran gastrovaskuler disebabkan oleh gerak sapu dari
rambut-rambut getar yang berjajar-jajar di bagian dinding stomodeum maupun
dinding gastrovaskular (coelenteron). Gerak rambut getar yang ada pada dinding
gastrovaskular menimbulkan aliran air ke luar. Kedua mekanisme ini sangat
membantu dalam hal pertukaran gas maupun sisa-sisa metabolisme lainnya.
2.7.4 Respirasi pada Platyhelminthes
Cacing pipih belum memiliki alat pernafasan khusus. Pengambilan
oksigen bagi anggota yang hidup bebas dilakukan secara difusi melalui
permukaan tubuh. Sementara anggota yang hidup sebagai endoparasit bernafas
secara anaerob, artinya respirasi berlangsung tanpa oksigen. Hal ini terjadi karena
cacing endoparasit hidup pada lingkungan yang kekurangan oksigen.
2.7.5 Respirasi pada Nemathelminthes

22
Cacing Ascaris tidak mempunyai alat respirasi. Respirasi dilakukan secara
anaerob. Energi diperoleh dengan cara mengubah glikogen menjadi CO2 dan
asam lemak yang diekskresikan melalui kutikula. Namun sebenarnya Ascaris
dapat mengkonsumsi oksigen kalau di lingkungannya tersedia. Jika oksigen
tersedia, gas itu diambil oleh hemoglobin yang ada di dalam dinding tubuh dan
cairan pseudosoel.
2.7.6 Respirasi pada Anelida
Salah satu contoh dari filum anelida yaitu cacing tanah. Cacing tanah
melakukan pernapasan melalu permukaan kuli. Karena pada permukaan kulit
cacing tanah terdapat banyak sekali pembuluh darah dan menghasilkan lendir.
Kondisi kulit yang selalu lembab inilah yang membuat proses penyerapaan
oksigen berlangsung dengan lebih baik atau dalam kata lain proses bernapas.
Oksigen yang di serap oleh kulit kemudian akan diikat langsung oleh
hemoglobin yang terdapat dalam darah cacing tanah itu sendiri baru kemudian di
edarkan ke seluruh tubuhnya. Sementara gas haisl respirasi yakni karbondioksida
juga di keluarkan kembali melalui permukaan kulit. Karena poses pernapasan
cacing tanah di lakuka melalui permukaan kulitnya (integument), maka dari itu
proses pernapasan pada cacing tanah di sebut juga dengan respirasi integumenter.
Pernapasan dengan permukaan kulit juga merupakan suatu proses adaptasi
penyesuaian dengan lingkungan yang merupakan habitat bagi cacing tanah.
Mengunakan kulit lebih efektif dari pada sisterm pernapasan khusus.
2.7.7 Respirasi pada Moluska
Sebagian besar Mollusca organ respirasinya adalah insang. Insang
diadaptasikan untuk pertukaran gas oksigen dan kabondioksida dalam air melalui
permukaan insang yang luas dan berbentuk membran yang tipis. Pada Mollusca,
insang disebut juga ktinidium (Yunani : kteis; sebuah sisir). Ktenidia terdiri atas
sebuah filamen (= lamela) yang ditutupi silia. Gerakan silia menyebabkan air
melintasi permukaan filamen, oksigen berdifusi melintasi membran menuju ke
darah, dan karbondioksida berdifusi keluar. Pada beberapa Mollusca seperti remis
dan bivalvia lain, silia pada insang juga berperan menyaring partikel makanan,
kemudian mengirimnya ke mulut dalam bentuk benang lendir. Setelah insang

23
aliran air biasanya menuju anus dan saluran keluar ginjal sambil membawa bahan
yang akan dibuang. Pada beberapa Mollusca, air masuk melalui incurent siphon
dan keluar melalui excurent siphon. Sebelum mencapai insang aliran air yang
masuk dideteksi oleh organ sensorik (osphradium) yang dapat berfungsi
mendeteksi endapan lumpur, makanan atau predator.
2.7.8 Respirasi pada Serangga
Sistem pernafasan pada serangga mengenal dua sistem, yaitu sistem
terbuka dan sistem tertutup. Digunakan alat atau organ yang disebut spirakulum
(spiracle), juga tabung-tabung trakhea dan trakheola. Tekanan total dari udara
sebenarnya merupakan jumlah tekanan gas N2, O2, CO2 dan gas-gas lain. O2
sendiri masuk ke dalam jaringan dengan satu proses tunggal yaitu adanya tekanan
udara dalam jaringan. Tekanan O2 dengan demikian harus lebih besar daripada
tekanan udara dalam jaringan, sebaliknya tekanan CO2 dalam jaringan harus lebih
besar dibanding yang ada di udara.
Pada umumnya serangga akuatik kecil luas permukaan tubuhnya lebih
besar daripada volumenya, sehingga diffusi O2 dapat berjalan dengan baik
berhubung luas permukaan yang cukup untuk akomodasi aliran O2 dari luar
tubuh.
Sebaliknya pada serangga yang ukurannya lebih besar, harus dibantu
dengan menggunakan kantung udara (air-sacs), yang mengumpulkan udara
dengan mekanisme kontraksi, yang harus didukung oleh suatu sistem
pemanfaatan energi. Contohnya pada beberapa jenis belalang yang mampu hidup
di dalam air.
Sistem respirasi terbuka banyak digunakan oleh serangga-serangga darat
dan beberapa jenis serangga air, sedang sistem tertutup digunakan oleh serangga
air, yang tidak menggunakan spirakulum, antara lain untuk mencegah supaya
jangan terjadi evapotranspirasi.
Pada kepik air (Belastomatidae) digunakan apa yang disebut insang fisis
atau physical gill digunakan untuk mengumpulkan gelembung, dan jaringan
mengambil O2 dari dalam gelembung-gelembung udara yang disimpan. Jika
tekanan parsial O2 menurun, tekanan udara di dalam air menjadi lebih besar, akan

24
ada gerakan udara dari dalam air ke dalam tubuh serangga, sehingga terkumpullah
gelembung-gelembung udara. Apabila di dalam gelembung udara yang disaring
tersebut sudah terkandung terlalu banyak N2, maka serangga akan muncul ke
permukaan dan membuka mulut.
Sebaliknya terdapat juga serangga yang mampu tinggal lama di dalam air
dengan bantuan suatu organ yang disebut plastron, suatu filamen udara. Dengan
alat ini maka CO2 yang terbentuk dibuang, dan O2 yang terlarut diambil
langsung. Bangunan ini sering juga disebut sebagai insang fisis khusus (special
physical gill). Karenanya serangga mampu bertahan di dalam air dalam jangka
waktu yang lebih lama. Serangga air juga ada yang memanfaatkan insang trakheal
(tracheal gill).
2.7.9 Sistem Respirasi pada Echinodermata
Organ respirasi pada Asterias adalah insang, atau papula dan kaki tabung.
Papula merupakan organ respirasi utama. Mereka adalah sederhana, kontraktil,
transparan, hasil pertumbuhan dari dinding tubuh pada permukaan aboral
mempunyai ephithelium bersilia pada permukaan sebelah luar dan sebelah
dalamnya. Itu merupakan derivat atau perubahan lanjut dari coelom dan sisa
lumennya berhubungan langsung dengan coelom. Pertukaran O2 dan CO2 terjadi
di antara air laut dan cairan tubuh dari insang-insangnya. Silia pada epithelium
mempunyai peranan vital dalam menggerakkan cairan coelom dan dalam
menciptakan air untuk pernapasan keluar masuk di dalam air laut. Di samping
dindingnya tipis, kaya akan percabangan dan bagia-bagian tubuh lembab, juga
bertindak sebagai organ-organ respirasi.

25
BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pernapasan (Respirasi) adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang
mengandung (oksigen) serta menghembuskan udara yang banyak mengandung
karbondioksida sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh. Sistem respirasi memiliki
fungsi utama untuk memasok oksigen ke dalam tubuh serta membuang CO2 dari
dalam tubuh.
3.2 Saran
Saya menyadari bahwa makalah yang saya susun masih jauh dari sempurna,
demi kemajuan untuk pembuatan makalah selanjutnya mohon kritik dan sarannya.

26