Anda di halaman 1dari 15

ACARA V

PEMBUATAN EDIBLE FILM

A. TUJUAN
Tujuan dari praktikum acara V Pembuatan Edible Film adalah sebagai
berikut :
1. Mempelajari proses pembuatan edible film dengan penambahan oleoresin
dan minyak atsiri kayu manis.
2. Mengetahui karakteristik fisik edible film meliputi warna, aroma, ketebalan
dan tekstur atau keliatan.

B. TINJAUAN PUSTAKA
Edible film adalah lapisan tipis yang dibuat dari bahan yang dapat dimakan,
dibentuk di atas komponen makanan (dilapiskan pada permukaan bahan yang
dikemas) yang berfungsi sebagai penghambat transfer massa (misalnya
kelembaban, oksigen, lemak dan zat terlarut) dan atau sebagai carrier bahan
makanan atau aditif dan atau untuk meningkatkan penanganan makanan. Bahan
baku utama pembuatan edible film adalah hidrokoloid, lipida dan komposit.
Selain itu edible film memberikan perlindungan yang unik dengan mengurangi
transmisi uap air, aroma, dan lemak dari bahan pangan yang dikemas, hal
tersebut merupakan karakteristik edible film yang tidak didapatkan pada
kemasan konvensional (Utami dkk, 2013).
Edible film merupakan suatu lapisan tipis dari bahan yang dapat dimakan
(edible), yang dibentuk pada pangan sebagai pelapis atau diletakkan pada atau
diantara komponen-komponen pangan dan bertujuan untuk menghambat migrasi
uap air, oksigen, karbondioksida, aroma, dan lipida membawa bahan tambahan
pangan (misalnya antioksidan, antimikrobia, flavor) dan atau memperbaiki
integritas mekanisme atau penanganan karakteristik pangan. Edible film
biasanya digunakan untuk membungkus beberapa jenis buah agar buah-buahan
lebih tahan lama, terutama untuk buah buahan yang mudah busuk atau mudah
berubah warna, seperti buah nanas karena dalam keadaan segar buah nanas tidak
tahan lama, hanya tahan 7 hari pada kondisi kamar (suhu 28-30 C). Edible
film menggunakan bahan dasar polisakarida, terutama yang terdapat pada buah
dan sayuran. Dalam proses pembuatan edible film terdapat beberapa faktor yang
dapat mempengaruhinya, yaitu suhu, konsentrasi karagenan, jenis serta
konsentrasi plasticizer, penambahan aditif, waktu ekstraksi karagenan, dan pH
ketika proses ekstraksi karagenan berlangsung (Pawignya dkk, 2015).
Hidrokoloid yang digunakan dalam pembuatan edible film adalah protein
atau polisakarida. Protein dapat diturunkan dari jagung, kedelai, gandum, gluten,
kasein, kolagen, gelatin, zein jagung, protein susu dan ikan. Lemak yang umum
digunakan adalah lilin alami (lilin lebah, lilin carnauba, parrafin lilin), asil
gliserol,asam lemak (asam oleat dan asam laurat), dan emulsifier. Sedangkan
komposit adalah bahan berdasarkan campuran hidrokoloid dan lipid
(Astuti dkk, 2014).
Fungsi dan penampilan edible film bergantung pada sifat mekaniknya yang
ditentukan oleh komposisi bahan di samping proses pembuatan dan metode
aplikasinya. Bahan polimer penyusun edible film dibagi menjadi tiga kategori
yaitu hidrokoloid, lemak, dan komposit keduanya. Salah satu bahan edible film
dari golongan hidrokoloid adalah polisakarida yang memiliki beberapa
kelebihan, di antaranya selektif terhadap oksigen dan karbondioksida,
penampilan tidak berminyak, dan kandungan kalorinya rendah. Di antara jenis
polisakarida, pati merupakan bahan baku yang potensial untuk pembuatan edible
film dengan karakteristik fisik yang mirip dengan plastik, tidak berwarna, tidak
berbau, dan tidak berasa (Yulianti dkk, 2012).
Lapisan tipis polisakarida (karagenan) memberikan perlindungan efektif
terhadap pencoklatan permukaan dan oksidasi lemak serta oksidasi komponen
makanan lainnya. Lapisan tipis polisakarida selain mencegah hilangnya
kelembaban juga kurang permeabel terhadap oksigen, karena penurunan
permeabilitas oksigen yang ada dapat menjaga makanan agar tahan lebih lama.
Gliserol merupakan plasticizer yang ditambahkan dalam pembuatan edible
coating sehingga dapat menghasilkan edible yang fleksibel dan halus.
Konsentrasi karagenan dan gliserol berpengaruh terhadap karakteristik edible
film. Semakin tinggi konsentrasi karagenan dan gliserol yang digunakan maka
ketebalan edible film yang dihasilkan juga semakin tinggi. Konsentrasi pelapis
yang digunakan harus diperhatikan karena jika terlalu kental akan menyulitkan
didalam penggunaanya serta dapat menyebabkan terjadi respirasi anaerobik
yang akan menyebabkan kerusakan (Huse dkk, 2016).
Prinsip pembuatan edible film yaitu gelatinisasi molekul. Proses
pembentukan film adalah suatu fenomena pembentukan gel akibat perlakuan
suhu, sehingga terjadi pembentukan matriks atau jaringan. Pada prinsipnya
pembentukan gel hidrokoloid terjadi karena adanya pembentukan jaringan tiga
dimensi oleh molekul primer yang terentang pada seluruh volume gel yang
terbentuk dengan memerangkap sejumlah air di dalamnya. Kekuatan edible film
terkait dengan struktur kimia polimer, terdapatnya bahan aditif dan kondisi
lingkungannya selama berlangsungnya pembentukan edible film
(Murni dkk, 2013).
Penggunaan bahan tunggal pada edible film seperti pati masih menyisakan
beberapa kekurangan diantaranya adalah sifat rapuh dan kaku. Oleh karena itu
perlu ditambahkan bahan tambahan yaitu plasticizer. Plasticizer merupakan
salah satu bahan tambahan dalam pembuatan edible film yang berfungsi untuk
menambah sifat elastisitas. Salah satu jenis plasticizer yang banyak digunakan
selama ini adalah gliserol. Gliserol cukup efektif digunakan untuk meningkatkan
sifat plastis film karena memiliki berat molekul yang kecil (Huri dkk, 2014).
Gliserol adalah senyawa golongan alkohol polihidrat dengan 3 buah gugus
hidroksil dalam satu molekul (alkohol trivalent). Rumus kimia gliserol adalah
C3H8O, dengan nama kimia 1,2,3 propanatriol. Berat molekul gliserol adalah
92,1; massa jenis 1,23 g/cm2 dan titik didihnya 209C. Gliserol memiliki sifat
mudah larut dalam air, meningkatkan viskositas larutan, mengikat air, dan
menurunkan Aw. Gliserol dapat meningkatkan sorpsi molekul polar seperti air.
Peran gliserol sebagai plasticizer dan konsentrasinya meningkatkan fleksibilitas
film. Gliserol efektif digunakan sebagai plasticizer pada film hidrofilik, seperti
pektin, pati, gelatin, dan modifikasi pati, maupun pembuatan edible film berbasis
protein (Estiningtyas dkk, 2010).
Gliserol adalah alkohol terhidrik. Nama lain gliserol adalah gliserin atau
1,2,3-propanetriol atau CH2OHCHOHCH2OH. Gliserol tidak berwarna, tidak
berbau, rasanya manis, bentuknya liquid sirup, meleleh pada suhu 17,8 0C,
mendidih pada suhu 2900C dan larut dalam air dan etanol. Sifat gliserol
higroskopis, seperti menyerap air dari udara, sifat ini yang membuat gliserol
digunakan pelembab pada kosmetik. Gliserol terdapat dalam bentuk ester
(gliserida) pada semua hewan, lemak nabati dan minyak. Gliserol termasuk jenis
plasticizer yang bersifat hidrofilik, menambah sifat polar dan mudah larut dalam
air (Ningsih, 2015).
Gliserol sebagai plasticizer dapat memberikan sifat elastis pada film yang
jumlah komposisinya bervariasi sehingga dapat memberikan efek yang berbeda.
Film berbahan pati saja memberikan kekuatan tarik yang rendah dibandingkan
film yang mengandung gliserol. Penambahan plasticizer berupa gliserol pada
edible akan meningkatkan plastisitas, kekuatan tarik dan kemuluran edible. Hal
ini dikarenakan gliserol meningkatkan gaya intermolekuler antar rantai pati yang
digunakan sebagai bahan dasar edible (Triwarsita dkk, 2013).
Penambahan gliserol sebagai pemlastis akan mengurangi kerapatan dan
gaya antar molekul substrat (pati) dengan gliserol, sehingga lapisan tipis yang
terbentuk lebih fleksibel dan halus. Penambahan giserol yang berlebih akan
menyebabkan lapisan tipis menjadi lunak dan lengket sehingga sukar diangkat
dari cetakan karena gliserol lebih bersifat mengikat air dan melunakan
permukaan. Sebaliknya kekurangan gliserol akan menyebabkan lapisan tipis
menjadi kasar dan rapuh (Indriyati dkk, 2006).
Sampel yang diberi perlakuan edible coating baik dengan penambahan
gliserol ataupun tidak, memiliki nilai kadar air lebih besar. Hal ini dikarenakan
gliserol yang ditambahkan dalam edible coating dapat meningkatkan
permeabilitas uap air. Gliserol bersifat higroskopis yang artinya mampu
menyerap molekul air dari lingkungan. Sehingga semakin tinggi konsentrasi
gliserol semakin besar pula nilai kadar airnya. Ini sesuai dengan penelitian yang
menyatakan bahwa penambahan gliserol pada pembuatan edible film juga
meningkatkan permeabilitas uap air hal ini karena gliserol sebagai plasticizer
akan mengurangi ikatan hidrogen dan jarak intermolekuler (Sari dkk, 2013).
Jenis plasticizer yang biasanya ditambahkan antara lain adalah gliserin,
trietilen glikol, gliserol, asam lemak, dan monogliserin yang diasetilasi.
Penambahan gliserol membuat film lebih mudah dicetak karena gliserol
berfungsi sebagai plasticizer. Selain dapat mengurangi kerapuhan, plasticizer
mampu meningkatkan fleksibilitas dan ketahanan film, terutama jika disimpan
pada suhu rendah. Gliserol efektif sebagai plasticizer karena mampu mengurangi
ikatan hidrogen internal pada ikatan intermolekul sehingga melunakkan struktur
film, meningkatkan mobilitas rantai biopolimer, dan memperbaiki sifat mekanik
film. Gliserol bersifat humektan dan aksi plasticizing gliserol berasal dari
kemampuannya dalam menahan air pada edible coating. Penambahan gliserol
dalam pembuatan edible film akan meningkatkan fleksibilitas dan terhadap
kehalusan permukaan film. Hal ini karena selain sebagai plasticizer, gliserol juga
membantu kelarutan pati sehingga terbentuk ikatan hidrogen antara gugus OH
pati dan gugus OH dari gliserol, yang meningkatkan sifat mekanik.
Bertambahnya jumlah gliserol dalam campuran pati-air mengurangi nilai
tegangan dan perpanjangan (elongation). Kandungan gliserol yang rendah juga
mengurangi kuat tarik edible film (Winarti dkk, 2012).
Oleoresin merupakan campuran resin dan minyak atsiri yang diperoleh dari
ekstraksi dengan menggunakan pelarut organik. Jahe mengandung resin yang
cukup tinggi sehingga dapat dibuat sebagai oleoresin. Keuntungan dari oleoresin
adalah lebih higienis dan mempunyai kekuatan lebih dibandingkan dengan
bahan asalnya (Armando, 2009).
Edible film didefinisikan sebagai lapisan tipis bahan yang dapat dikonsumsi
dan memberikan penghalang untuk kelembaban, oksigen dan gerakan zat terlarut
untuk makanan. Materi yang dapat menjadi lapisan makanan lengkap atau dapat
dibuang sebagai lapisan kontinyu antara komponen makanan. Edible film dapat
dibentuk sebagai pelapis makanan dan memiliki potensi sebagai penghalang
aroma gas (Bourtoom, 2008).
Edible film dan coating telah menerima banyak perhatian dalam beberapa
tahun terakhir karena dapat memberikan keuntungan, termasuk digunakan
sebagai bahan kemasan, edible film lebih sintetis. Ini juga dapat memberikan
kontribusi pengurangan pencemaran lingkungan. Dengan fungsi sebagai
hambatan, edible film tersebut dan pelapis feasibly dapat mengurangi
kompleksitas dan dengan demikian meningkatkan daur ulang kemasan bahan,
dibandingkan dengan bahan kemasan yang ramah lingkungan non-tradisional,
dan mungkin dapat menggantikan film polimer sintetik seperti (Dhanapal et al.,
2012).
Edible film dapat dibedakan dari lapisan dengan metode pembuatan dan
aplikasi untuk produk makanan. Ketebalan edible film biasanya antara 50 sampai
250 m dan dapat digunakan untuk membungkus produk atau membuat kantong
dan tas. Beberapa edible film dapat dikombinasikan dari lembaran laminasi.
Edible film juga didefinisikan sebagai lapisan tipis bahan yang dapat dimakan,
tetapi ini biasanya diterapkan sebagai cairan dari berbagai viskositas ke
permukaan luar produk dengan penyemprotan, mencelupkan, menyikat atau
metode lain yang sesuai (Pascall and Shin, 2013).
Sifat fisik edible film meliputi sifat mekanik dan penghambatan. Sifat
mekanik menunjukkan kemampuan edible film untuk mempertahankan
keutuhan selama proses pengolahan, pengkapalan, dan penanganan. Sedangkan
sifat penghambatan menunjukkan kemampuan edible film untuk melindungi
produk yang dikemas. Sifat fisik tersebut antara lain ketebalan, kekuatan
renggang putus, pemanjangan, kelarutan, laju transmisi uap air (Handajani,
2010).
Edible film mempunyai ketebalan 0,1613-0,1828 mm. Peningkatan
konsentrasi glukomanan menyebabkan kenaikan jumlah total padatan terlarut
dalam film. Hal tersebut menyebabkan ketebalan edible film semakin meningkat
dengan semakin besarnya konsentrasi glukomanan yang ditambahkan.
Perbedaan ketebalan antara berbagai jenis film tersebut disebabkan komposisi
formula film yang berbeda (Nugroho, 2013).
Kemungkinan edible film sebagai agen pembawa bahan tambahan seperti
antimikroba yang dapat meningkatkan masa simpan produk dan mengurangi
risiko pertumbuhan bakteri patogen pada permukaan makanan juga semakin
berkembang. Edible film biasanya dibentuk dengan bahan dasar protein,
polisakarida, dan lemak yang sangat berpotensi untuk meningkatkan kualitas
pangan dan mengurangi penggunaan bahan pengemas. Formulasi film biasanya
terdiri atas 3 komponen besar yaitu polimer dengan berat molekul tinggi,
plasticizer dan pelarut. Edible film berpotensi untuk mengontrol perpindahan
massa sehingga dapat mempertahankan kualitas makanan dan memperpanjang
masa simpan makanan. Edible film mempertahankan kualitas makanan dengan
cara menahan perpindahan aroma, gas dan air (Awwaly, 2010).
Fungsi dari edible film sebagai penghambat perpindahan uap air,
menghambat pertukaran gas, mencegah kehilangan aroma, mencegah
perpindahan lemak, meningkatkan karakteristik fisik, dan sebagai pembawa zat
aditif. Edible film yang terbuat dari lipida dan juga film dua lapis (biloyer)
ataupun campuran yang terbuat dari lipida dan protein atau polisakarida pada
umumya baik digunakan sebagai penghambat perpindahan uap air dibandingkan
dengan edible film yang terbuat dari protein dan polisakarida dikarenakan lebih
bersifat hidrofobik. Polisakarida sebagai bahan dasar edible film dapat
dimanfaatkan untuk mengatur udara sekitarnya dan memberikan ketebalan atau
kekentalan pada larutan edible Jilm. Pemanfaatan dari senyawa yang berantai
panjang ini sangat penting karena tersedia dalam jumlah yang banyak, harganya
murah, dan bersifat nontoksi (Jaya, 2010).
Pembuatan edible film kadang juga diberi bahan tambahan seperti minyak
atsiri dan oleoresin. Minyak atsiri daun jeruk berasal dari daun jeruk purut.
Tanaman jeruk purut berpohon rendah, tinggi antara 2-12 meter. Letak daun
berpencaran dan silih berganti. Daun berbentuk bulat telur, ujungnya tumpul,
dan bertangkai satu. Warna daun hijau kekuningan, baunya beraroma sedap
(Sarwono, 1993).
Tanaman kayu manis (Cinnamomum burmanii L) merupakan penghasil
kulit kayu untuk bahan baku rempah. Tanaman kayu manis dapat diolah menjadi
bermacam-macam produk seperti dalam bentuk bubuk, minyak atsiri atau
oleoresin. Kulit kayu manis dalam bentuk asli seperti potongan atau bubuk
digunakan untuk bermacam-macam bumbu masakan daging dan ikan, dan
sebagai campuran dalam minuman (teh, kopi, dan kakao). Oleoresin dari kayu
manis sama dengan bubuknya, umumnya digunakan dalam industri makanan,
pemberi rasa dan aroma dalam industri makanan, minuman, farmasi, rokok dan
kosmetika. Minyak atsiri atau oleoresin dari kayumanis mengandung beberapa
senyawa kimia seperti sinamat aldehid, eugenol, methyl ketene, furfural,
benzaldehyde, nonyl aldehyde, hydrocinnamic aldehyde, cuminaldehyde, dan
coumarin (Anonim, 2006). Kayu manis berbau wangi dan berasa manis sehingga
dapat dijadikan bahan pembuat sirup dan rasa pedas sebagai penghangat tubuh.
Kayu dari batang kayu manis dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti
bahan bangunan, meubelair, dan kayu bakar (Ferry, 2013).

C. METODOLOGI
1. Alat
a. Cabinet Dryer
b. Gelas Beker 250 ml
c. Gelas ukur
d. Hot Plate
e. Jangka Sorong
f. Magnetic Stirer
g. Nampan Plastik
h. Neraca Analitik
i. Pipet ukur
j. Plastik
k. Propipet
l. Thermometer
2. Bahan
a. Aquadest 150 ml
b. Gliserol 2 ml
c. Oleoresin dan minyak atsiri kayu manis (0%; 0,25%; 0,5%; 0,75%, 1,00%)
d. Tepung Tapioka 5 gram
3. Cara Kerja
5 gram pati tapioka

100 ml aquades Pelarutan

Pengadukan mengunakan hot plate dan magnetic


stirer

Pemanasan mencapai suhu 68C sampai larutan


tergelatinisasi dipertahankan selama 15 menit

Penambahan dan pemanasan pada suhu 60C


2 ml gliserol selama 30 menit

Pendinginan hingga mencapai suhu 30C

Konsentrasi Minyak
Pemasukkan kedalam larutan setelah proses
Atisi/Oleoresin dan 0,25
pendinginan dan pengadukan
ml tween 80

Penuangan larutan keatas nampan plastik

Pengeringan selama 5 jam dengan suhu 75C

Pengujian karakteristik fisik meliputi warna,


aroma, ketebalan dan tekstur/keliatan.

Gambar 5.1 Diagram Alir Pembuatan Edible Film


1. Edible film adalah lapisan tipis yang dibuat dari bahan yang dapat dimakan,
dibentuk di atas komponen makanan (dilapiskan pada permukaan bahan
yang dikemas) yang berfungsi sebagai penghambat transfer massa
(misalnya kelembaban, oksigen, lemak dan zat terlarut) dan atau sebagai
carrier bahan makanan atau aditif dan atau untuk meningkatkan
penanganan makanan. Bahan baku utama pembuatan edible film adalah
hidrokoloid, lipida dan komposit. Selain itu edible film memberikan
perlindungan yang unik dengan mengurangi transmisi uap air, aroma, dan
lemak dari bahan pangan yang dikemas, hal tersebut merupakan
karakteristik edible film yang tidak didapatkan pada kemasan konvensional
(Utami dkk, 2013).
2. Menurut Awwaly (2010), edible film biasanya dibentuk dengan bahan dasar
protein, polisakarida, dan lemak yang sangat berpotensi untuk
meningkatkan kualitas pangan dan mengurangi penggunaan bahan
pengemas. Formulasi film biasanya terdiri atas 3 komponen besar yaitu
polimer dengan berat molekul tinggi, plasticizer dan pelarut. Edible film
berpotensi untuk mengontrol perpindahan massa sehingga dapat
mempertahankan kualitas makanan dan memperpanjang masa simpan
makanan. Edible film mempertahankan kualitas makanan dengan cara
menahan perpindahan aroma, gas dan air.
Hidrokoloid yang digunakan dalam pembuatan edible film adalah protein
atau polisakarida. Protein dapat diturunkan dari jagung, kedelai, gandum,
gluten, kasein, kolagen, gelatin, zein jagung, protein susu dan ikan. Lemak
yang umum digunakan adalah lilin alami (lilin lebah, lilin carnauba,
parrafin lilin), asil gliserol,asam lemak (asam oleat dan asam laurat), dan
emulsifier. Sedangkan komposit adalah bahan berdasarkan campuran
hidrokoloid dan lipid (Astuti dan Erprihana, 2014).
3. Salah satu bahan edible film dari golongan hidrokoloid adalah polisakarida.
Polisakarida memiliki beberapa kelebihan, di antaranya selektif terhadap
oksigen dan karbondioksida, penampilan tidak berminyak, dan kandungan
kalorinya rendah. Di antara jenis polisakarida, pati merupakan bahan baku
yang potensial untuk pembuatan edible film dengan karakteristik fisik yang
mirip dengan plastik, tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa
(Yulianti dan Ginting, 2012). Penggunaan bahan tunggal pada edible film
seperti pati masih menyisakan beberapa kekurangan diantaranya adalah
sifat rapuh dan kaku. Oleh karena itu perlu ditambahkan bahan tambahan
yaitu plasticizer. Plasticizer merupakan salah satu bahan tambahan dalam
pembuatan edible film yang berfungsi untuk menambah sifat elastisitas.
Salah satu jenis plasticizer yang banyak digunakan selama ini adalah
gliserol. Gliserol cukup efektif digunakan untuk meningkatkan sifat plastis
film karena memiliki berat molekul yang kecil (Huri dan Nisa, 2014).
4. Pembentukan edible film dari pati, pada prinsipnya merupakan gelatinisasi
molekul pati. Proses pembentukan film adalah suatu fenomena pembentukan
gel akibat perlakuan suhu, sehingga terjadi pembentukan matriks atau
jaringan (Khusnul dkk, 2006).
5. Dalam proses pembuatan edible film terdapat beberapa faktor yang dapat
mempengaruhinya, yaitu suhu, konsentrasi karagenan (polisakarida), jenis
serta konsentrasi plasticizer, penambahan aditif, waktu ekstraksi karagenan,
dan pH ketika proses ekstraksi karagenan berlangsung. (Pawignya dkk,
2015). Menurut Handajani (2010), Faktor yang dapat mempengaruhi
pembuatan edible film adalah konsentrasi padatan terlarut dalam larutan
film. Makin tinggi konsentrasi padatan terlarut makin tinggi ketebalan film
yang dihasilkan. Hal tersebut disebabkan karena jumlah polimer penyusun
film yang mengakibatkan peningkatan ketebalan film. Pemanjangan
didefinisikan sebagai prosentase perubahan panjang film pada saat film
ditarik sampai putus. Kekuatan regang putus merupakan tarikan maksimum
yang dapat dicapai sampai film dapat tetap bertahan sebelum film putus atau
robek. Pengukuran kekuatan regang putus berguna untuk mengetahui
besarnya gaya yang dicapai untuk mencapai tarikan maksimum pada setiap
satuan luas area film untuk merenggang atau memanjang.
6. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, proses pembuatan edible film
yaitu mula-mula memasukkan aquadest sebanyak 100 ml dan 50 gram
tepung tapioka ke dalam g elas beker 250 ml. Lalu memasukkan kapsul
magnetic stirrer ke dalam gelas beker dan menutup gelas beker dengan
menggunakan alumunium foil serta memasang thermometer sebagai
penanda suhu. Kemudian dipanaskan pada hot plate dengan kecepatan
putaran 250 rpm hingga suhunya mencapai 700C, sehingga campuran
tepung tapiokan dan aquadest tergelatinisasi. Setelah itu, menambahkan 1,5
ml gliserol ke dalam gelas beker dan dipanaskan kembali pada suhu 600C
selama 30 menit. Kemudian memasukkan oleoresin simplisia atau bubuk
jahe dengan kadar tertentu yaitu 0%; 0,25%; 0,5%; 0,75% dan 1,00%.
Setelah itu, campuran yang telah tergelatinisasi tersebut dituangkan pada
loyang plastik dan didiamkan sebentar hingga memadat, lalu dikeringkan
menggunakan cabinet dryer pada suhu 750C selama 5 jam. Setelah kering,
edible film dikeluarkan dari Loyang plastic dan diamati warna, aroma,
tekstur dan ketebalannya dengan menggunakan jangka sorong.
7. Mm
8. Mm
9. Edible film dari pati tapioka termasuk ke dalam kelompok hidrokoloid, yang
bersifat higroskopis. Umumnya film dari hidrokoloid mempunyai struktur
mekanis yang cukup bagus, namun kurang bagus terhadap penghambatan uap
air. Pada kondisi kandungan uap air yang tinggi, film akan menyerap uap air dari
lingkungannya. Kelebihan Edible film dari tapioka memiliki sifat mekanik yang
hampir sama dengan plastik dan kenampakannya trasparan. Tepung tapioka
meskipun dibuat dari bahan (singkong) dengan kandungan unsur gizi yang
rendah, namun masih memiliki unsur gizi.
Kekurangan
kekurangannya yaitu bungkus dari karbohidrat kurang bagus digunakan untuk
mengatur migrasi uap air dan bungkus protein biasanya sangat dipengaruhi
oleh perubahan pH.
10.
A. Tapioka merupakan salah satu bentuk olahan berbahan baku singkong, Tepung
tapioka mempunyai banyak kegunaan, antara lain sebagai bahan pembantu dalam
berbagai industri. Komposisi zat gizi tepung tapioka lebih baik bila dibandingkan
dengan tepung jagung, kentang, dan gandum atau terigu, tapioka juga dapat
digunakan sebagai bahan bantu pewarna putih (Utami dkk, 2013).
B. Gliserol merupakan plasticizer yang ditambahkan dalam pembuatan
edible coating sehingga dapat menghasilkan edible yang fleksibel dan halus.
Konsentrasi karagenan dan gliserol berpengaruh terhadap karakteristik edible
film. Semakin tinggi konsentrasi karagenan dan gliserol yang digunakan maka
ketebalan edible film yang dihasilkan juga semakin tinggi. Konsentrasi pelapis
yang digunakan harus diperhatikan karena jika terlalu kental akan menyulitkan
didalam penggunaanya serta dapat menyebabkan terjadi respirasi anaerobik
yang akan menyebabkan kerusakan (Huse dkk, 2016).
c. Tween 80 adalah ester asam lemak polioksietilen sorbitan, dengan nama kimia
polioksietilen 20 sorbitan monooleat. Rumus molekulnya adalah C64H124O26.

Pada suhu 25C, Tween 80 berwujud cair, berwarna kekuningan dan berminyak,
memiliki aroma yang khas, dan berasa pahit. Larut dalam air dan etanol, tidak
larut dalam minyak mineral. Kegunaan Tween 80 antara lain sebagai: zat
pembasah, emulgator, dan peningkat kelarutan (Rowe, 2009). Selain fungsi,
fungsi tersebut, Tween 80 juga berfungsi sebagai peningkat penetrasi (Akhtar, et
al., 2011).
d. Oleoresin kayu manis adalah hasil ekstraksi menggunakan pelarut etanol yang berwarna
merah
kecoklatan, kental, dan beraroma tajam khas kayu manis (Jayanudin,

e. Minyak kayu manis mengandung minyak atsiri dengan rendemen antara 0.3
hingga 1%. Rendemen tergantung dari kelas kayumanis yang akan disuling.
Kayumanis merupakan salah satu minyak atsiri yang memiliki berat jenis lebih
berat dari pada air, sehingga minyak yang dihasilkan terdapat dibawah air.
minyak berwarna kuning hingga merah kecoklatan.

11. Komponen utama yang terkandung dalam minyak kayu manis adalah eugenol,
eceteugenol dan aldehida. Selain itu masih ada kandungan lain yang menentukan aroma
specifik dari kayu manis. Kandungan terbesar dalam minyak kayu manis adalah eugenol,
yaitu sekitar 80-90 %. Sebagian besar komponen aromatik minyak kayu manis larut dalam
air. ()Kandungan oleoresin kayu manis antara lain minyak
atsiri, aroma khas dan bahan kimia organik yang
memberikan rasa pedas. Dengan kandungannya tersebut
maka penggunaan oleoresin menjadi lebih baik dibanding
produk aslinya seperti kulit ataupun bubuk.
Penambahan minyak atsiri kayu manis
dalam jumlah yang banyak akan meningkatkan
jumlah total padatan sehingga ketebalan film Meningkat (Pramadita, 2010).