Anda di halaman 1dari 7

ORAL MUCOCELE: 2 LAPORAN KASUS DAN TINJAUAN LITERATUR

Abstrak

Mucocele merupakan istilah klinis yang menggambarkan pembengkakan yang disebabkan oleh
akumulasi saliva pada daerah trauma atau saluran kelenjar saliva minor yang tersumbat. Pada
dasarnya kista semu dapat diklasifikasikan sebagai tipe ekstravasasi dan retensi. Mucocele dapat
terjadi pada populasi secara umum, tetapi paling banyak pada pasien muda (20-30 tahun). Secara
klinis terdiri dari pembengkakan kista yang lembut, kebiruan dan transparan yang normalnya dapat
sembuh secara spontan. Lokasi paling umum terjadinya mucocele ekstravasasi ialah bibir bawah.
Meskipun diagnosa mucocele menantang sehingga tindakan perawatan yang tepat harus
diambil saat mendiagnosa. Perawatan sering melibatkan pengangkatan secara bedah, namun juga
dapat dirawat dengan marsupialisasi mikro, injeksi steroid dan laser CO2. Di sini kami akan
mendiskusikan dua laporan kasus dari mucocele yang dirawat secara bedah dan tinjauan literatur.

Kata kunci:

Mucocele, kista semu, kelenjar saliva, fenomena ekstravasasi mukus dan retensi.

PENDAHULUAN

Mucocele adalah lesi umum dari mukosa oral yang dihasilkan akibat perubahan kelenjar saliva
minor karena akumulasi mukus (Ata-Ali dkk., 2010). Mucocele merupakan istilah klinis yang
menunjukkan fenomena ekstravasasi mukus. Mucocele merupakan lesi umum pada mukosa oral
akibat perubahan kelenjar saliva minor karena akumulasi mukus yang menyebabkan
pembengkakan yang berbatas (Thorakkal Shamim, 2009). Tampakan klinisnya adalah fluktuasi,
kebiruan, pembengkakan sub mukosa yang tidak lembut dengan lapisan atas mukosa yang normal.
Mucocele dapat terjadi sebagai fenomena eksravasasi dan retensi. Ekstravasasi mucocele
dihasilkan akibat terputusnya saluran kelenjar saliva dan sebagai akibat dari tumpahnya mucin ke
dalam jaringan lunak sekitar kelenjar (Gambar 1). Mucocele retensi terjadi karena penurunan atau
tidak adanya sekresi kelenjar yang dihasilkan akibat blokade saluran kelenjar saliva. Secara klinis,
tidak ada perbedaan antara tipe ekstravasasi dan retensi. Jika mucocele berada di dasar mulut, hal
itu digambarkan sebagai Perut kodok dan disebut sebagai ranula (Marathe dkk., 2014).

Mucocele dapat terjadi pada semua usia dan paling umum berlokasi di mukosa labial bawah,
mukosa labial atas, mukosa bukal dan palatum. Beberapa prosedur terapeutik telah dideskripsikan
dalam literatur untuk mucocele seperti eksisi bedah dengan skalpel, ablasi dengan karbon dioksida
(CO2) dan laser erbium-doped yttrium aluminium garnet (Er:YAG), marsupialisasi, dan
cryosurgery (Prasanna Kumar Rao dkk., 2013).

Laporan Kasus

Laporan Kasus 1

Seorang pasien laki-laki berusia 22 tahun (Gambar 1) dilaporkan datang ke bagian Penyakit Mulut
dan Radiologi dengan keluhan utama adanya pembengkakan pada bibir sebelah kiri bawah dari
18-20 hari yang lalu (Gambar 2). Pasien terlihat baik sebelum 18-20 hari yang lalu, saat ia pertama
kali memperhatikan adanya bengkak pada bibir sebelah kiri bawah yang berbentuk bulat, yang
disadarinya secara berangsur-angsur ; sekarang ukurannya bertambah dan sedikit terasa nyeri.
Pasien juga memiliki riwayat mengigit bibir sejak 1-2 tahun lalu, pembengkakannya terisolir dan
tak bertangkai, kira-kira 1.5 0.5 cm berbentuk lonjong, memiliki tepi yang difus, lapisan atas
mukosa tampak normal. Konsistensi pembengkakan lunak, adanya redusibilitas dan tidak lembut
saat dipalpasi. Tampak karies pada gigi 16, 36 & 48, stain yang menyeluruh, adanya kalkulus,
adanya perdarahan saat probing, tampak gingiva yang lunak dan edematus. Berdasarkan riwayat
dan pemeriksaan klinis, mucocele yang melibatkan mukosa labial kiri bawah ditegakkan sebagai
diagnosa sementara dengan diagnosa banding ialah ranula, lipoma, tumor kelenjar saliva-
karsinoma mukoepidermoid, neurofibroma, nodular fibrous hyperplasia. Pasien dianjurkan
melakukan pemeriksaan hematological (hematogram lengkap, waktu perdarahan, waktu
pembekuan darah) dan semua nilainya dalam batas yang normal. Biopsi eksisional dilakukan dan
penemuan histopatologikal memperlihatkan adanya kavitas kistik yang dikelilingi oleh kapsul
jaringan ikat. Lumen kavitas kistik dikelilingi oleh kapsul jaringan ikat padat yang diatur dengan
fibroblas berbentuk stellata dan sel-sel inflamasi didominasi oleh limfosit dan histiosit. Banyak
pembuluh darah kecil juga terlihat jelas dalam kapsul. Banyak juga mukus kelenjar saliva yang
telihat (Gambar 4). Berdasarkan biopsi eksisional, diagnosa akhir dari kista ekstravasasi mukus
yang melibatkan mukosa labial kiri pun ditegakkan. Berdasarkan semua penemuan klinis dengan
laporan histopatologikal, diagnosa akhir Mucocele ekstravasasi pada mukosa labial kiri bawah
ditegakkan. Pasien diperiksa setelah 1 minggu, setelah operasi dan dipanggil kembali setelah
periode 1 bulan dimana tidak terlihat rekurensi dan saat ini pasien dalam periode follow-up biasa
(Gambar 5).

Gambar 1a. Menunjukkan Mucocele

Laporan Kasus 2

Seorang laki-laki berusia 32 tahun (Gambar 6) dilaporkan datang ke bagian Penyakit Mulut dan
Radiologi, Kampus Kedokteran Gigi dan Pusat Penelitian Teertahnker Mahaveer, Moradabad
dengan keluhan utama ada sesuatu yang tumbuh pada bibir sebelah dalam kiri bawah sejak 1 bulan
yang lalu (Gambar 7). Pasien juga memberikan riwayat telah melakukan pengangkatan secara
bedah pada sesuatu yang bertumbuh ini pada dokter gigi di PGIDS, Rohtak 2 tahun yang lalu,
tetapi hal itu terjadi kembali. Pasien juga memiliki riwayat menggigit bibir pada tempat yang sama
sejak 3 tahun lalu. Pada pemeriksaan, tampak pertumbuhan difus yang terisolasi pada bibir kiri
sebelah dalam dari mukosa labial kira-kira 1x1 cm, lapisan mukosa di atasnya tampak keratotik
dan mukosa sekitar tampak normal. Konsistensi dari sesuatu yang bertumbuh ini lunak dan tegas
serta tidak lembut saat dipalpasi. Berdasarkan riwayat dan pemeriksaan klinis Mucocele yang
melibatka mukosa labial kiri bawah ditegakkan sebagai diagnosa sementara dengan diagnosa
banding ialah ranula, lipoma, tumor kelenjar saliva- karsinoma mukoepidermoid, neurofibroma,
nodular fibrous hyperplasia. Pasien dianjurkan melakukan pemeriksaan hematological
(hematogram lengkap, waktu perdarahan, waktu pembekuan darah) dan semua nilainya dalam
batas yang normal. Pemeriksaan lebih lanjut seperti diaskopi ditemukan hasilnya negative
(Gambar 8). Oleh karena lesi vasskular asal dikesampingkan; maka dari itu, dianjurkan dan
dilakukan biopsi eksisional (Gambar 9). Biopsi eksisional pada lesi dilakukan dengan
menempatkan insisi secara vertikal; oleh karena itu lapisan mukosa di atasnya dipisah dan
kemudian dasar lesi diangkat supaya mengurangi kemungkian terjadinya rekuren, dan kemudian
dilakukan penjahitan dan penemuan histopatologikal menunjukkan kavitas kistik dikelilingi oleh
kapsul jaringan ikat. Lumen kavitas kistik dikelilingi oleh kapsul jaringan ikat padat yang diatur
dengan fibrobras berbentuk stellata dan sel-sel inflamasi didominasi oleh limfosit dan histiosit. .
Banyak juga mukus kelenjar saliva yang telihat. Berdasarkan penemuan saat biopsi eksisional,
diagnosa akhir berupa kista ekstravasasi mukus yang melibatkan mukosa labial kiri ditegakkan.
Pemanggilan kembali dan checkup reguler untuk melihat kemungkinan rekuren dari lesi telah
dilakukan.

Gambar 1. Profil wajah Gambar 2. Menunjukkan Gambar 3. Menunjukkan


mucocele eksisi pada mucocele
Gambar 4. Foto Gambar 5. Gambar post- Gambar 6. Profil wajah
histopatologikal mucocele operatively setelah 14 hari

Gambar 7. Mucocele Gambar 8. Tes diaskopi Gambar 9. Eksisi pada lesi

DISKUSI

Rodrigo Alexandre Valerio dkk. (2013) melaporkan beberapa kasus mucocele dan fibroma
traumatik, dan menyimpulkan bahwa mucocele lebih umum didapati pada anak dan dewasa muda,
dan ldaerah yang paling sering terjadi adalah bagian dalam bawah bibir. Fibroma, di sisi lain,
merupakan tumor jinak dari jaringan ikat fibrous yang dapat dipertimbangkan sebagai hiperplasia
jaringan ikat reaksioner dalam merespon trauma dan iritasi. Biasanya konsistensinya tampak
keras, merupakan nodular dan asimptomatik, dengan warna mukosa yang sama, dasar berbentuk
sessile, permukaan lembut, bertempat di mukosa bukal sepanjang garis oklusi, tongue dan mukosa
bibir. Perawatan konvensional untuk kedua lesi ini adalah eksisi bedah konservatif. Tingkat
rekurensi fibroma rendah dan tinggi pada oral mucocele. Laporan ini menyajikan sebuah rangkaian
kasus dari mucocele dan fibroma dirawat dengan eksisi bedah atau enukleasi dan follow-up rutin
secara respektif di klinik gigi dan mendiskusikan gambaran ted untuk membedakan lesi ini dari
yang lainnya.

Mukus

Indra Z. Musthapa (2004) melaporkan kasus dengan diagnosa mucocele pada bibir atas kiri, sebuah
lokasi yang tidak biasa untuk lesi ini. Mucocele dengan ukuran sama yang disertai durasi
pembengkakan yang lama adalah langka. Karena ada kemungkinan bahwa lesi pada lokasi ini
mungkin menjadi tumor, eksisi dibenarkan untuk diagnosa yang pasti. Ketika mungkin, hal itu
bermanfaat untuk mengidentifikasi dan mengangkat kelenjar yang berkaitan dengan lesi untuk
mengurangi tingkat rekurensi. Jika didiagnosa tumor jinak atau ganas, kemudian dirujuk ke
spesialis yang tepat merupakan suatu tindakan yang tepat, sebagai bedah lanjutan (untuk
menghasilkan tepi yang jelas), diseksi leher radikal, ataupun terapi radiasi atau kemoterapi dapat
pula diindikasikan. Pada kasus mucocele saat ini terlihat pada mukosa labial kiri dimana
merupakan lokasi yang umum terjadi. Denis Tostes, Alberto Consolaro dan Fransisco Jose
Guimaraes Freitas (!993) melakukan sebuah studi klinis dan mikroskopik pada 122 kasus yang
didiagnosa mucocele di bagian Penyakit Mulut, Sekolah Kedokteran Gigi Sao Paulo. Pada kasus
ini, secara mikroskopi ditemukan bahwa mukus kista ekstravasasi paling umum ditemukan
(92.45%); namun mukus kista retensi juga teramati (7.54%). Sel inflamasi terutama leukosit
polimorfonuklear dan makrofag juga ditemukan pada bagian dalam mukus. Kelenjar saliva minor
menunjukkan degenerasi dan metaplasia. Pada laporan kasus saat ini kedua kasus merupakan tipe
kista ektravasasi mukus (mucocele) yang melibatkan mukosa labial kiri bawah.

Bhavna Gupta dkk. (2007) melaporkan dua laporan kasus mucocele yang melibatkan mukosa
labial kanan bawah dan mukosa labial tengah. Pada laporan kasus saat ini, 2 kasus dilaporkan
melibatkan mukosa labial kiri bawah.

Nitin Singh, Pratik Chandra dan Sugandha Agarwal (2014) melaporkan sebuah kasus
mucocele yang melibatkan mukosa labial kanan bawah yang dirawat secara bedah mirip dengan
laporan kasus saat ini.
Swati Marathe dkk. (2014) melaporkan sebuah kasus yang jarang pada oral mucocele yang saat
ini lokasinya jarang pada rongga mulut seperti pada vertibulum bukal bawah, yang bagi keilmuan
kami merupakan kasus kedua yang dilaporkan dalam tinjauan sampai saat ini.

B N Rangeeth, Joyson Moses dan Kishore Kumar Reddy (2010) melaporkan sebuah kasus
pembengkakan yang multipel pada mukosa labial bawah yang didiagnosa secara klinis maupun
histopatologikal sebagai mucocele dan fibroma.

Kamal Sagar1, Cheena Singh, Ritika Arora (2016) melaporkan sebuah kasus mucocele pada
labial kiri bawah yang dieksisi dengan laser dioda.

Kesimpulan
Mucocele merupakan salah satu lesi jinak pada jaringan lunak yang paling umum ditemukan dalam
rongga mulut. Prevalensi paling banyak ialah pada laki-laki di bawah usia 20 sampai 30 tahun
yang timbul karena trauma dari menggigit bibir atau pipi. Modalitas perawatan yang utama adalah
bedah meskipun dapat dirawat dengan laser dioda, cryotherapy. Tingkat rekurensi pada lesi ini
sedikit.