Anda di halaman 1dari 13

ANALISIS SEMANTIS-SEMIOTIS NAMA GUNUNGAN

PADA UPACARA SEKATEN TAHUN DAL


DI KARATON KASULTANAN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT
Dosen Pembimbing: Dr. Hendrokumoro, M.Hum.

Muflihana Dwi Faiqoh


17/419269/PSA/08231
noona_flo@outlook.com

Program Studi S2 Ilmu Linguistik


Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada

Pendahuluan
Slogan kota Yogyakarta Jogja Istimewa merepresentasikan kota Yogyakarta
yang istimewa. Istimewa baik dari segi pendidikan, pariwisata, teknologi, maupun
tradisi. Keisitimewaan ini tidak terlepas dari masyarakat pendukungnya, masyarakat
Daerah Istimewa Yogyakarta, beserta segala hal yang berhubungan dengan
kehidupan masyarakat.
Kebudayaan yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta tidak bisa lepas dari
sejarah masa lalu, yaitu merupakan lanjutan dari Kasultanan Ngayogyakarta.
Sebagaimana disebutkan oleh Kutoyo, Sebelum kemerdekaan, bentuk pemerintahan
daerah Yogyakarta adalah kerajaan. Daerah ini terbagi menjadi Kasultanan
Yogyakarta dan Paku Alaman yang masing-masing diperintah oleh Sultan Hamengku
Buwono IX dan Paku Alam VII.1 Oleh karena itu, kebudayaan dari peradaban
Mataram Kuno, Mataram Islam, dan peradaban sisa-sisa kolonialisme masih sangat
besar pengaruhnya. Bahkan, kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta berakar dari
peradaban tersebut.
Kehidupan masyarakat Yogyakarta saat ini masih menjalani akar
kebudayaannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Koentjaraningrat yang menyatakan
bahwa kebudayaan Jawa yang hidup di Yogyakarta dan Solo merupakan peradaban

1
Sutrisno Kutoyo, Sejarah Daerah: Daerah Istimewa Yogyakarta, (Direktorat Jenderal
Kebudayaan), 1997, hlm. 332

1
orang Jawa yang berakar di keraton.2 Hal ini diperkuat dengan pendapat Soepanto
yang menyatakan bahwa pertumbuhan kota Yogyakarta kompleks Karaton
Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan inti wilayah kotamadya
Yogyakarta. Wilayah keraton ini disebut juga dengan istilah Jeron Beteng, yang
berarti di dalam benteng.3 Peradaban ini ditandai dengan kesusasteraan yang sudah
ada sejak abad XVI, kesenian, dan suatu kehidupan keagamaan yang sinkretistik,
campuran dari unsur-unsur agama Hindu, Buddha, dan Islam.4
Kehidupan keagamaan keraton dapat ditunjukkan dari segi upacara dan ritual.
Salah satu upacara yang diselenggarakan oleh keraton Yogyakarta adalah upacara
keagamaan untuk memperingati hari besar Islam, yang dikenal dengan Sekaten.
Sekaten dilaksanakan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Saw.5
Subjek dalam penelitian ini adalah gunungan Sekaten tahun Dal. Dalam
upacara Sekaten, gunungan dikeluarkan pada puncak upacara yang digunakan sebagai
Sedekah Dalem atau Hajad Dalem. Gunungan yang dikeluarkan berjumlah 5
gunungan dengan jenis yang berbeda. Masing-masing nama gunungan tersebut adalah
gunungan Kakung, gunungan Putri, gunungan Dharat, gunungan Gepak, dan
gunungan Pawuhan. Namun, jika bertepatan dengan tahun Dal, harus ditambahkan
satu jenis gunungan lain yaitu gunungan Brama atau gunungan Kutug.6
Gunungan-gunungan tersebut dihias dengan berbagai macam hiasan dari jenis
makanan yang berlainan. Pemilihan subjek ini berdasarkan pada realita kehidupan
masyarakat Yogyakarta saat ini yang belum menyadari fungsi dari Hajad Dalem
sebenarnya. Selain itu, masyarakat masih minim pemahamannya akan pesan dan
makna yang terkandung di balik semua gunungan Sekaten. Keenam jenis gunungan
ini mengandung tanda-tanda yang bermakna bagi masyarakat Jawa sebagai
pendukung kebudayaan tersebut. Begitu juga berbagai jenis makanan yang menghiasi
gunungan-gunungan tersebut. Jadi, bukan sekadar sebagai sedekah dari raja, namun
bisa lebih dari itu.
Alasan lain yang mendasari pemilihan objek penelitian ini adalah karena
upacara Sekaten tahun Dal hanya diselenggarakan setiap delapan tahun sekali.

2
Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, (Jakarta: Balai Pustaka), 1994, cetakan II, hlm. 25
3
Soepanto, Suratmin, dan Bambang Sularto, Upacara Tradisional Sekaten Daerah Istimewa
Yogyakarta, (DepDikBud), 1992, hlm. 23-24
4
Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, (Jakarta: Balai Pustaka), 1994, cetakan II, hlm. 25
5
Wawancara dengan Bp. R.T. Suwito Dipuro, tgl 11 November 2017
6
Yuwono Sri Suwito dll, Nilai Budaya dan Filosofi Upacara Sekaten di Yogyakarta,
(Yogyakarta: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan), 2010, hlm. 39

2
Sebagaimana dijelaskan Radjiman, tahun Dal merupakan perhitungan tahun Jawa
yang meliputi regulasi waktu 8 tahunan (satu windu), yaitu tahun Alip, Ehe, Je, Dal,
Be, Wawu, Jimawal, dan Jimakir.7 Sementara tahun 2017 merupakan tahun Dal.
Selain itu, penyelenggaraan upacara Sekaten tahun Dal juga dilatarbelakangi karena
hari lahir Nabi Muhammad Saw. bertepatan dengan tahun Dal (menurut penanggalan
Jawa).8
Beberapa penelitian mengenai gunungan (tumpeng) yang ditemukan di
antaranya penelitian Avi Meilawati (2009) yang berjudul Analisis Nama Tumpeng
Sesaji dalam Upacara Ruwatan Murwakala: Analisis Semantis-Semiotis mengkaji
medan makna, komponen makna, makna leksikal, dan hubungan semiotik makna
tumpeng sesaji.9 Penelitian Fanny Owela Widjaja (2015) yang berjudul Persepsi
Masyarakat terhadap Nasi Tumpeng pada Tradisi Tumpengan di Kota Semarang
meneliti persepsi masyarakat terhadap alasan penggunaan, kelengkapan, dan praktik
secara umum pada tradisi tumpengan,10 penelitian Miranti Aprida Santika (2016)
yang berjudul Penggunaan Nasi Tumpeng pada Acara, Variasi, Lauk-Pauk, serta
Transfer Budaya oleh Masyarakat di Kota Semarang. Hasil penelitiannya
menunjukkan bahwa masyarakat kurang memahami hubungan antara jenis nasi
tumpeng, jenis-jenis acara, dan variasi penggunaan lauk pauk. Sementara peran
keluarga sebagai media transfer budaya mengenai penggunaan dan pembuatan nasi
tumpeng sangat tinggi.11
Pada umumnya, penelitian yang telah dilakukan memiliki persamaan dengan
penelitian ini. Namun, semuanya memiliki fokus masing-masing. Penelitian
sebelumnya berfokus pada komponen makna, makna leksikal, dan hubungan semiotik
dengan menggunakan teori Saussure. Penelitian kedua mengkaji tentang perbedaan
persepsi masyarakat mengenai makna dalam penggunaan variasi dan kreativitas
berbagai jenis nasi tumpeng. Penelitian lainnya berfokus pada identifikasi kepedulian

7
Radjiman, Konsep Petangan Jawa, (Surakarta: Pustaka Cakra), 2000, hlm. 97
8
Yuwono Sri Suwito dll, Nilai Budaya dan Filosofi Upacara Sekaten di Yogyakarta,
(Yogyakarta: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan), 2010, hlm. 95
9
Avi Meilawati, Analisis Nama Tumpeng Sesaji dalam Upacara Ruwatan Murwakala:
Analisis Semantis-Semiotis, Tesis (Yogyakarta: Program Studi S2 Linguistik Universitas Gadjah
Mada, 2009)
10
Fanny Owela Widjaja, Persepsi Masyarakat terhadap Nasi Tumpeng pada Tradisi
Tumpengan di Kota Semarang, Skripsi (Semarang: Program Studi Teknologi Pangan Universitas
Katolik Soegijapranata, 2015)
11
Miranti Aprida Santika, Penggunaan Nasi Tumpeng pada Acara, Variasi, Lauk-Pauk, serta
Transfer Budaya oleh Masyarakat di Kota Semarang, Skripsi, (Semarang: Program Studi Teknologi
Pangan Universitas Katolik Soegijapranata, 2016)

3
masyarakat dalam memperhatikan akar budaya jenis nasi tumpeng dan
penggunaannya, serta kemampuan kultural masyarakat dalam membuat sendiri nasi
tumpeng atau mendapatkannya dari penyedia jasa pembuatan nasi tumpeng.
Sementara itu, penelitian ini menekankan pada makna nama-nama gunungan Sekaten
tahun Dal dengan menggunakan pendekatan teori medan makna, pencarian makna
leksikal, dan teori semiotik Signifikasi Dua Tahap Roland Barthes.

Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, agar tidak
terjadi pembahasan yang terlalu luas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana medan makna gunungan pada upacara Sekaten tahun Dal di
Karaton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat?
2. Bagaimana makna leksikal yang membentuk nama gunungan pada upacara
Sekaten tahun Dal di Karaton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat?
3. Bagaimana hubungan semiotik makna yang terkandung dalam nama
gunungan pada upacara Sekaten tahun Dal di Karaton Kasultanan
Ngayogyakarta Hadiningrat?

Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah:
1. Mendeskripsikan medan makna gunungan pada upacara Sekaten tahun Dal
di Karaton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
2. Mendeskripsikan makna leksikal yang membentuk nama gunungan pada
upacara Sekaten tahun Dal di Karaton Kasultanan Ngayogyakarta
Hadiningrat.
3. Mendeskripsikan hubungan semiotik makna yang terkandung dalam nama
gunungan pada upacara Sekaten tahun Dal di Karaton Kasultanan
Ngayogyakarta Hadiningrat.

Kerangka Dasar Teori


Kebudayaan
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya
manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia

4
dengan belajar.12 Sejalan dengan pendapat tersebut, Van Peursen menyatakan bahwa
dewasa ini kebudayaan diartikan sebagai manifestasi kehidupan setiap orang dan
setiap kelompok orang-orang. Lebih lanjut, Van Peursen menambahkan bahwa
kebudayaan meliputi segala perbuatan manusia, misalnya cara manusia menghayati
kematian dan membuat upacara-upacara untuk menyambut peristiwa itu.13
Sistem religi, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan,
bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian, serta sistem teknologi dan peralatan
adalah unsur-unsur universal kebudayaan yang juga merupakan isi kebudayaan.14
Salah satu unsur kebudayaan, sistem religi, mempunyai wujud kebudayaan sebagai
sistem keyakinan dan gagasan-gagasan tentang Tuhan, dewa-dewa, roh-roh, neraka,
surga, serta wujud kebudayaan yang berupa upacara-upacara, baik yang bersifat
musiman atau kadangkala.15
Dalam pengertian kebudayaan, tercakup juga tradisi. Tradisi adalah pewarisan
atau penerusan norma-norma, adat istiadat, kaidah-kaidah, harta-harta. Tradisi bukan
suatu hal yang tidak dapat dirubah. Sebaliknya, tradisi diperpadukan dengan aneka
ragam perbuatan manusia.

Semantik
Istilah teknis dari studi tentang makna adalah Semantik.16 Semantik sebagai
ilmu, mempelajari kemaknaan di dalam bahasa sebagaimana apa adanya dan
membatasi masalah yang dikajinya hanya pada persoalan yang terdapat di dalam
ruang lingkup jangkauan pengalaman manusia.17 Mengenai makna, Wahab
mengemukakan bahwa ada hubungan antara kata dan benda. Sebuah kata digunakan
jika mengacu pada benda dan tindakan.18 Hal ini sesuai dengan konsep tentang
hubungan antara konsep, lambang, dan acuan yang dikenal dengan segitiga semiotik
yang diperkenalkan oleh Ogden dan Richards (dikutip oleh Pateda). Lambang adalah

12
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: Aksara Baru), 1985, Cetakan V,
hlm. 180
13
Cornelis Anthonie van Peursen, Strategi Kebudayaan, (Yogyakarta: Kanisius), 2000, hlm.
10-11
14
Koentjaraningrat, Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan, (Jakarta: Gramedia),
2004, hlm. 2
15
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: Aksara Baru), 1985, Cetakan V,
hlm. 204
16
Mansoer Pateda, Semantik Leksikal (Edisi Kedua), (Jakarta: Rineka Cipta), 2001, cetakan I,
hlm. 2
17
Ibid, hlm.15
18
Abdul Wahab, Teori Semantik, (Surabaya: Airlangga University Press), 1995, hlm. 9

5
unsur linguistik berupa kata atau kalimat. Acuan adalah objek, dalam hal ini benda,
tindakan, atau peristiwa, sedangkan konsep adalah makna. 19
Sementara itu, Verhaar membagi semantik menjadi semantik gramatikal dan
semantik leksikal. Verhaar berkata,

... perbedaan antara leksikon dan gramatika menyebabkan bahwa dalam semantik
itu, kita bedakan pula antara semantik leksikal dan semantik gramatikal...20

Semantik leksikal membahas makna pada tingkat morfologi. Makna yang dikaji
adalah makna kata, sebagaimana kata merupakan satuan semantik.21 Sebagaimana
semantik dibedakan menjadi semantik leksikal dan semantik gramatikal, Verhaar juga
membagi makna menjadi makna gramatikal dan makna leksikal.22 Mengenai
semantik leksikal, kamus adalah salah satu contohnya karena menguraikan makna
tiap kata.23 Dengan kata lain, kamus digunakan untuk mengkaji makna leksikal suatu
kata.
Makna yang menjadi kajian penelitian ini adalah makna leksikal. Makna
leksikal oleh Kridalaksana disebut juga makna semantik atau makna eksternal.
Makna leksikal adalah makna unsur-unsur bahasa sebagai lambang benda, peristiwa,
dan lain-lain. Selain itu, makna leksikal merupakan makna yang lepas dari
penggunaannya atau konteksnya.24 Lebih lanjut, Wijana menjelaskan bahwa makna
leksikal merupakan makna satuan-satuan kebahasaan yang dapat diidentifikasikan
tanpa satuan itu bergabung dengan satuan lain.25 Makna leksikal nama-nama
gunungan Sekaten diambil dari kamus Baoesastra Djawa karya W.J.S.
Poerwadarminta. Sebagai contoh, gunungan kakung. Secara leksikal, kakung berasal
dari bahasa Jawa yang berarti laki-laki. laki-laki merupakan makna leksikal
sebagaimana terdapat dalam entri kamus Baoesastra Djawa.

19
Mansoer Pateda, Semantik Leksikal (Edisi Kedua), (Jakarta: Rineka Cipta), 2001, cetakan I,
hlm. 56
20
J.W.M. Verhaar, Pengantar Linguistik, (Yogyakara: Gadjah Mada University Press), 1983,
hlm. 9
21
Mansoer Pateda, Semantik Leksikal (Edisi Kedua), (Jakarta: Rineka Cipta), 2001, cetakan I,
hlm. 35
22
J.W.M. Verhaar, Pengantar Linguistik, (Yogyakara: Gadjah Mada University Press), 1983,
hlm. 124
23
Ibid, hlm. 9
24
Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik, (Jakarta: Gramedia), 2009, Edisi IV cetakan II,
hlm 149
25
I Dewa Putu Wijana, Pengantar Semantik Bahasa Indonesia, (Yogyakarta: Program Studi
S2 Linguistik FIB UGM dan Pustaka Belajar), 2015, cetakan II, hlm. 28

6
Semiotik
Teori semiotik atau teori tentang tanda, dikembangkan oleh C.S. Peirce dan
Ferdinand de Saussure.26 Chandler mengutip pendapat Eco bahwa semiotik mengkaji
semua tanda, tidak hanya tanda yang dikenal sehari-hari, tetapi semua hal yang
merepresentasikan sesuatu.27 Menurut Saussure, tanda adalah kombinasi dari konsep
(petanda) dan gambaran akustik (penanda), bukan benda dan nama, 28 sebagaimana
kutipan diagram dari Kridalaksana,29

Konsep = Signifie = Penanda = sign


Citra akustik Signifiant Petanda Tanda bahasa

Salah satu jenis semiotik yang berkembang dewasa ini adalah semiotik kultural,
yaitu semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang berlaku dalam kebudayaan
masyarakat tertentu. Budaya yang terdapat dalam masyarakat menggunakan tanda-
tanda tertentu yang membedakannya dengan masyarakat lain.30 Hal ini sejalan
dengan pendapat Preminger yang dikutip oleh Sobur bahwa Semiotik adalah ilmu
tentang tanda-tanda yang menganggap bahwa fenomena sosial/masyarakat dan
kebudayaan merupakan tanda-tanda. Semiotik mempelajari sistem-sistem, aturan-
aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai
arti.31
Hakikat sistem tanda yang digali dalam semiotik kemudian menimbulkan
perhatian kepada makna tambahan (connotative) dan arti penunjukan (denotative).32
Kedua makna ini, dikenal dengan Signifikasi Dua Tahap, dikenalkan oleh Roland
Barthes. Signifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara signifier dan signified

26
Mansoer Pateda, Semantik Leksikal (Edisi Kedua), (Jakarta: Rineka Cipta), 2001, cetakan I,
hlm. 44
27
Daniel Chandler, Semiotics: The Basics, (New York: Routledge), Edisi Kedua, 2007, hlm. 2
28
Ferdinand de Saussure, Pengantar Linguistik Umum, (Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press), 1993, cetakan II, hlm. 147
29
Harimurti Kridalaksana, Mongin-Ferdinand de Saussure (1857-1913): Peletak Dasar
Strukturalisme dan Linguistik Modern, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia), 2005, hlm.26
30
Mansoer Pateda, Semantik Leksikal (Edisi Kedua), (Jakarta: Rineka Cipta), 2001, cetakan I,
hlm. 30
31
Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis
Semiotik, dan Analisis Framing, (Bandung: Remaja Rosdakarya), 2012, cetakan VI, hlm. 96
32
Ibid, hlm. 127

7
di dalam sebuah tanda, dan referentnya dalam realitas eksternal. Tahap ini disebut
makna denotasi, yaitu makna yang paling nyata dari sebuah tanda. Sementara itu,
konotasi adalah istilah untuk menyebut tahap kedua, yaitu mendeskripsikan interaksi
yang terjadi ketika tanda bertemu dengan emosi pembaca dan nilai-nilai
kebudayaannya. Signifikasi Dua Tahap dapat digambarkan sebagai berikut:33

first order second order

reality signs culture

form connotation
denotation signifier
signified
content

myth

Sumber: John Fiske, Introduction to Communication Studies, 1990, hlm. 88


Lebih jelas, Sobur meringkas makna denotasi sebagai apa yang digambarkan
tanda terhadap sebuah objek; sedangkan konotasi adalah bagaimana
menggambarkannya.34 Sebagaimana Berger yang menyatakan bahwa makna denotasi
bersifat langsung dan dapat disebut sebagai gambaran dari suatu petanda. Sedangkan
makna konotasi sedikit berbeda dan dihubungkan dengan kebudayaan yang tersirat di
dalam pembungkusnya, tentang makna yang terkandung di dalamnya.35
Demikianlah masyarakat Yogyakarta, menggunakan tanda-tanda tertentu yang
membedakannya dengan budaya daerah lain di Indonesia dan dunia. Misalnya pada
upacara Sekaten, yang diselenggarakan selama 7 hari, pada puncak upacara
dikeluarkan beberapa gunungan, salah satunya adalah gunungan jaler/kakung. Makna
denotasi gunungan kakung adalah representasi dari kepribadian raja. Sementara
makna konotasinya dihubungkan dengan kebudayaan Jawa, dalam hal ini kebudayaan
dari peradaban keraton.

33
John Fiske, Introduction to Communication Studies, (London: Routledge), 1990, Edisi
Kedua, hlm. 85-88
34
Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis
Semiotik, dan Analisis Framing, (Bandung: Remaja Rosdakarya), cetakan VI, 2012, hlm. 128
35
Arthur Asa Berger, Pengantar Semiotika: Tanda-tanda dalam Kebudayaan Kontemporer,
(Yogyakarta: Tiara Wacana), 2010, hlm. 65

8
Hubungan Semantik dan Semiotik
Sebagaimana telah diketahui, pengertian semantik adalah studi ilmiah tentang
makna. Makna yang dimaksud adalah makna kata atau kalimat. Kata adalah tanda.
Hal ini sejalan dengan pendapat Berger yang mengatakan, Di antara semua jenis
tanda, yang terpenting adalah kata-kata... Kata-kata dipakai sebagai tanda dari suatu
konsep atau ide.36 Oleh karena tanda mempunyai makna dan makna merupakan
objek semantik, hubungan antara semantik dan semiotik sangatlah erat.
Hubungan tersebut juga didasarkan pada pendapat Morris dalam bukunya yang
berjudul Signs, Language, and Behavior (1946) yang dikutip oleh Pateda, yang
menyatakan bahwa salah satu cara menjelaskan makna yang menjadi objek semantik
adalah dengan menggunakan tanda dan apa yang ditandai. Lebih lanjut, Pateda
memberikan contoh seseorang yang mencoba mencegah seorang sopir untuk tidak
melanjutkan perjalanan sebab ada tanah longsor. Kata-kata orang yang mencegah
sopir disebut tanda, sedangkan kondisi tanah longsor disebut yang dtandai.37

Medan Makna dan Komponen makna


Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, benda, fenomena, maupun peristiwa
merupakan tanda. Setiap tanda mempunyai makna. Namun, meskipun demikian,
kadang-kadang makna dari tanda-tanda tersebut terdapat hubungan: hubungan
makna. Misalnya kata-kata membawa, memikul, menjinjing, menggendong. Keempat
kata tersebut sama-sama mengandung makna sebuah aktivitas memindahkan sesuatu.
Jika dianalisis satu persatu, akan didapati beberapa jangkauan makna. Misal kata
membawa mempunyai makna (i) aktivitas; (ii) dilakukan manusia; (iii) menggunakan
tangan, bahu, atau kepala; (iv) ada benda yang menjadi sasaran kegiatan. Jangkauan
makna itu disebut oleh Pateda sebagai medan makna. Fitur medan makna dapat
dilihat dari segi (i) bentuk /ukuran; (ii) tingkat-tingkat dalam hierarki; (iii)
keanggotaan kata; (iv) kebermacaman kata; dan (v) lingkungan kata. 38
Sementara itu, analisis komponen makna dilakukan untuk mengetahui makna
inti dan makna pelengkap, serta hubungan-hubungan makna yang ada di dalam kata-
kata. Medan makna, sebagaimana di atas merupakan jalinan makna dari beberapa

36
Arthur Asa Berger, Pengantar Semiotika: Tanda-tanda dalam Kebudayaan Kontemporer,
(Yogyakarta: Tiara Wacana), 2010, hlm. 1
37
Mansoer Pateda, Semantik Leksikal (Edisi Kedua), (Jakarta: Rineka Cipta), 2001, cetakan I,
hlm. 15
38
Ibid, hlm. 255

9
kata yang saling berhubungan. Pateda menjelaskan bahwa kata-kata, ada yang
berdekatan makna, ada yang berjauhan, ada yang mirip, ada yang sama, bahkan ada
yang bertentangan. Untuk mengetahui seberapa jauh kedekatan, kemiripan,
kesamaan, dan ketidaksamaan makna, perlu diketahui dengan analisis komponen
maknanya. Analisis komponen makna dapat dilakukan terhadap kata-kata dengan
menguraikannya sampai komponen makna yang sekecil-kecilnya.39

Metode Penelitian
Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di lingkungan Karaton Kasultanan Ngayogyakarta
Hadiningrat yang berada di pusat kota Jogja, tepatnya di jalan Rotowijayan Blok
No.1, kelurahan Panembahan. Karaton Yogyakarta merupakan tempat
diselenggarakan upacara Sekaten. Penelitian dilakukan pada saat pelaksanaan upacara
Sekaten tahun Dal, yaitu pada 23 November s.d 2 Desember 2017.

Penentuan Informan
Teknik penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan konsep
Spradley. Secara umum, konsep Spradley menjelaskan bahwa seorang informan harus
paham terhadap budaya yang dibutuhkan. Penentuan informan dilakukan
menggunakan teknik snowballing, yaitu berdasarkan informasi dari informan
sebelumnya untuk mendapatkan informan berikutnya sampai mendapatkan data
jenuh (tidak terdapat informasi baru lagi).40 Berdasar dari konsep tersebut, informan
yang dipilih adalah beberapa abdi dalem dan tour guide Karaton Kasultanan
Ngayogyakarta Hadiningrat yang mengetahui seluk beluk gunungan Sekaten. Dengan
teknik snowballing, jumlah informan tidak terbatas dan karakteristik informan tidak
ditentukan, melainkan didasarkan pada rekomendasi informan sebelumnya.

Teknik Penyediaan Data


Pada tahap penyediaan data, digunakan metode simak dengan teknik dasar
sadap serta teknik lanjutan simak libat cakap, rekam, dan teknik catat. Metode simak

39
Mansoer Pateda, Semantik Leksikal (Edisi Kedua), (Jakarta: Rineka Cipta), 2001, cetakan I,
hlm. 260-261
40
James P. Spradley, Metode Etnografi, (Yogyakarta: Tiara Wacana), 1987, hlm. 61

10
dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa.41 Data diperoleh dari wawancara,
transkrip catatan lapangan melalui pengamatan, dan kepustakaan.
Teknik sadap secara otomatis dilakukan ketika wawancara berlangsung, yaitu
dengan menyadap pembicaraan informan. Wawancara dilakukan dengan
menggunakan pedoman atau daftar pertanyaan yang disiapkan sebelumnya. Dalam
hal ini, diterapkan juga teknik lanjutan simak libat cakap, yaitu dengan ikut
berpartisipasi dalam pembicaraan. Dengan kata lain, peneliti terlibat langsung dalam
dialog. Penyediaan data lainnya adalah dengan pengamatan atau observasi langsung
di lapangan untuk memperoleh data kondisi fisik upacara Sekaten. Peneliti terlibat
langsung dalam prosesi upacara, melihat dari dekat dan mengamati setiap detil
upacara sambil melakukan perekaman dan pencatatan pada kartu-kartu data yang
telah disiapkan. Untuk melengkapi data tersebut, juga dilakukan studi pustaka antara
lain buku-buku sebagai acuan yang relevan dengan masalah yang diteliti. Data yang
terkumpul kemudian dipelajari dan diklasifikasi. Setelah itu, data dianalisis dalam
bentuk uraian atau deskriptif.

Teknik Analisis Data


Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang berupa deskripsi mendalam
terhadap nama-nama gunungan pada Sekaten tahun Dal di keraton Yogyakarta.
Dalam kaitan ini diterapkan konsep medan makna. Selain menggunakan teori medan
makna, data dicari makna leksikal masing-masing leksem nama gunungan melalui
kamus. Selanjutnya, dilakukan pencarian hubungan makna antar nama gunungan.
Analisis semiotik dilakukan dengan menghubungkan makna simbolis menggunakan
teori semiotika Signifikasi Dua Tahap Roland Barthes.

Teknik Penyajian Hasil Analisis Data


Tahap penyajian hasil analisis data merupakan tahap akhir setelah selesai
menganalisis data yang diperoleh. Pada tahap ini, data ditampilkan dalam bentuk
laporan tertulis mengenai hal yang sudah dihasilkan dari kerja analisisnya.42
Penyajian hasil analisis di dalam penelitian ini menggunakan metode penyajian
informal. Penyajian informal adalah penyajian analisis dengan menggunakan kata-

41
Sudaryanto, Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa, (Yogyakarta: Duta Wacana
University Press), 1993, hlm.133
42
Ibid, hlm. 7

11
kata biasa walaupun dengan terminologi yang bersifat teknis.43 Hasil penelitian ini
disajikan dengan mendeskripsikan medan makna, komponen makna, makna leksikal,
serta hubungan semiotis makna yang terkandung pada nama-nama gunungan di
upacara Sekaten tahun Dal yang diselenggarakan di Karaton Kasultanan
Ngayogyakarta Hadiningrat.

DAFTAR PUSTAKA
Berger, Arthur Asa. 2010. Pengantar Semiotika: Tanda-tanda dalam Kebudayaan
Kontemporer. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Chandler, Daniel. 2007. Semiotics: The Basics. Edisi Kedua. New York: Routledge.
Fiske, John. 1990. Introduction to Communication Studies. Edisi Kedua. London:
Routledge.
Koentjaraningrat. 1985. Pengantar Ilmu Antropologi. Cetakan V. Jakarta: Aksara
Baru.
______________. 1994. Kebudayaan Jawa. Cetakan II. Jakarta: Balai Pustaka.
______________. 2004. Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Jakarta:
Gramedia.

Kridalaksana, Harimurti. 2005 Mongin-Ferdinand de Saussure (1857-1913): Peletak


Dasar Strukturalisme dan Linguistik Modern. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
___________________. 2009. Kamus Linguistik. Edisi IV cetakan II. Jakarta:
Gramedia.
Kutoyo, Sutrisno. 1997. Sejarah Daerah: Daerah Istimewa Yogyakarta. Direktorat
Jenderal Kebudayaan.
Meilawati, Avi. 2009. Analisis Nama Tumpeng Sesaji dalam Upacara Ruwatan
Murwakala: Analisis Semantis-Semiotis. Yogyakarta: Universitas Gadjah
Mada.
Pateda, Mansoer. 2001. Semantik Leksikal (Edisi Kedua). Jakarta: Rineka Cipta.
van Peursen, Cornelis Anthonie. 2000. Strategi Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.

43
Sudaryanto, Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa, (Yogyakarta: Duta Wacana
University Press), 1993, hlm.145

12
Radjiman. 2000. Konsep Petangan Jawa. Surakarta: Pustaka Cakra.
Santika, Miranti Aprida. 2016. Penggunaan Nasi Tumpeng pada Acara, Variasi,
Lauk-Pauk, serta Transfer Budaya oleh Masyarakat di Kota Semarang.
Skripsi. Semarang: Universitas Katolik Soegijapranata.
De Saussure, Ferdinand. 1993. Pengantar Linguistik Umum. Cetakan II. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Soepanto, Suratmin, dan Bambang Sularto. 1992. Upacara Tradisional Sekaten
Daerah Istimewa Yogyakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Spradley, James P. 1987. Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta
Wacana University Press.
Suwito, Yuwono Sri dll. 2010. Nilai Budaya dan Filosofi Upacara Sekaten di
Yogyakarta. Yogyakarta: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.
Wahab, Abdul. 1995. Teori Semantik. Surabaya: Airlangga University Press.
Widjaja, Fanny Owela. 2015. Persepsi Masyarakat terhadap Nasi Tumpeng pada
Tradisi Tumpengan di Kota Semarang. Skripsi. Semarang: Universitas
Katolik Soegijapranata.
Wijana, I Dewa Putu. 2015. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Cetakan
II.Yogyakarta: Program Studi S2 Linguistik FIB UGM dan Pustaka Belajar.

13