Anda di halaman 1dari 29

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Konseling merupakan aspek yang sangat penting dalam pelayanan
Keluarga Berencana, melakukan konseling berarti petugas membantu klien
dalam memilih dalam memutuskan jenis kontrasepsi yang akan digunakan
sesuai dengan pilihannya dan dapat membuat klien merasa lebih puas.
Konseling yang baik juga akan membantu klien dalam menggunakan
kontrasepsinya lebih lama dan meningkatkan keberhasilan Keluarga
Berencana. Konseling juga akan mempengaruhi interaksi antara petugas dan
klien karena dapat meningkatkan hubungan dan kepercayaan yang sudah ada
(Saifuddin, 2010).
Konseling adalah proses yang berjalan dan menyatu dengan aspek
pelayanan Keluarga Berencana dan bukan hanya informasi yang diberikan dan
dibicarakan pada satu kesempatan yakni pada saat pemberian pelayanan.
Teknik konseling yang baik dan infromasi yang baik, harus di terapkan dan
dibicarakan secara interaktif sepanjang kunjungan klien dengan cara yang
sesuai dengan budaya yang ada. Selanjutnya dengan informasi yang lengkap
dan cukup akan memberikan keleluasaan kepada klien dalam memutuskan
untuk memilih kontrasepsi (Informed Choice) yang kan digunakannya
(Saifuddin, 2010).
KB (Keluarga Berencana) adalah istilah yang mungkin sudah lama kita
kenal. Keluarga Berencana artinya suatu usaha untuk menjarangkan atau
merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi
(Mochtar, 2011).
Menurut WHO (World Health Organisation) Keluarga Berencana
adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk
mendapatkan objektif-objektif tertentu, untuk menghindari kelahiran yang
tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan, mengatur
interval di antara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran dalam
2

hubungan dengan umur suami isteri, menentukan jumlah anak dalam keluarga
(Hartanto, 2010).
Pada 2012, AKI mencapai 359 per 100 ribu penduduk atau meningkat
sekitar 57 persen bila dibandingkan dengan kondisi pada 2007, yang hanya
sebesar 228 per 100 ribu penduduk. AKI merupakan indikator yang
menunjukkan banyaknya kematian perempuan pada saat hamil atau selama 42
hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama dan tempat persalinan
yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, dan bukan karena
sebab-sebab lain, per 100.000 kelahiran hidup (BKKBN, 2011).
Komponen dalam pelayanan KB yang dapat diberikan adalah KIE
(Komunikasi, Informasi, dan Edukasi), konseling, pelayanan kontrasepsi (PK),
pelayanan infertilitas, pendidikan seks, konsultasi pra-perkawinan dan
konsultasi perkawinan, konsultasi genetik, tes keganasan, adopsi (Hartanto,
2010).
Secara pendekatan sosio ekonomi pengontrolan kelahiran penting
untuk meningkatkan kualitas hidup dan memberi efek yang positif terhadap
kebahagian keluarga juga lingkungan sekitar (Cunningham, 2005).

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mendeskripsikan pelaksanaan asuhan kebidanan pada Akseptor
Kontrasepsi Metode Pil Kombinasi dengan menggunakan pola pikir ilmiah
melalui pendekatan manajemen kebidanan menurut Varney.

2. Tujuan Khusus
a. Menjelaskan konsep dasar teori Akseptor Kontrasepsi Metode Pil
Kombinasi.
b. Menjelaskan konsep dasar manajemen asuhan kebidanan pada
Akseptor Kontrasepsi Metode Pil Kombinasi berdasarkan 7 langkah
Varney.
3

c. Melaksanakan asuhan kebidanan pada Akseptor Kontrasepsi Metode


Pil Kombinasi dengan pendekatan Varney, yang terdiri dari :
1) Melakukan pengkajian
2) Menginterpretasikan data dasar
3) Mengidentifikasi diagnosis / masalah potensial
4) Mengidentifikasi kebutuhan tindakan segera
5) Mengembangkan rencana intervensi
6) Melakukan tindakan sesuai dengan rencana intervensi
7) Melakukan evaluasi atas tindakan yang telah dilakukan
8) Mendokumentasikan pelaksanaan asuhan kebidanan pada Akseptor
Kontrasepsi Metode Pil Kombinasi dalam bentuk catatan SOAP.
4

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Teori


1. Pengertian
a. Pengertian KB
Keluarga Berencana menurut World Health Organization (WHO)
Expert Commite (1970) dalam Suratun dkk tahun 2008 adalah suatu
tindakan yang membantu individu atau pasangan suami untuk:
1) Mendapatkan objektif-objektif tertentu.
2) Menghindari kehamilan yang tidak diinginkan.
3) Mendapatkan kelahiran yang memang sangat diinginkan.
4) Mengatur interval diantara kehamilan.
5) Mengontrol waktu kelahiran dalam hubungan dengan suami istri.
6) Menentukan jumlah anak dalam keluarga.
Keluarga Berencana menurut UU No. 10 Tahun 1992 tentang
perkembangan kependudukan dan pembangunan Keluarga Sejahtera
adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat
melalui Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran,
pembinaan ketabahan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga
kecil, bahagia dan sejahtera (Arum dan Sujiyatini, 2009).

b. Pengertian Kontrasepsi
Kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti mencegah atau
melawan, sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur (sel
wanita) yang matang dan sel sperma (sel pria) yang mengakibatkan
kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah menghindari/mencegah
terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang
matang dengan sel sperma tersebut (Prawiroharjo, 2009).
5

Kontrasepsi ialah usaha-usaha untuk mencegah terjadinya


kehamilan. Usaha-usaha itu dapat bersifat sementara, dapat juga
bersifat permanen. Syarat-syarat kontrasepsi yang ideal antara lain :
1) Dapat dipercaya.
2) Tidak menimbulkan efek yang mengganggu kesehatan.
3) Daya kerjanya dapat diatur menurut kebutuhan.
4) Tidak menimbulkan gangguan sewaktu melakukan koitus.
5) Tidak memerlukan motivasi terus-menerus.
6) Mudah pelaksanaannya.
7) Murah harganya sehingga dapat dijangkau oleh seluruh lapisan
masyarakat.
8) Dapat diterima penggunaannya oleh pasangan yang bersangkutan.

Kontrasepsi adalah upaya mencegah kehamilan yang bersifat


sementara atau menetap, yang dapat dilakukan tanpa menggunakan
alat, secara mekanis, menggunakan alat/obat, atau dengan operasi
(Wiknjosastro, 2008).

Metode kontrasepsi dapat digunakan oleh pasangan usia subur


secara rasional berdasarkan fase-fase kebutuhan seperti :
1) Masa menunda kehamilan.
2) Masa mengatur atau menjarangkan kehamilan.
3) Masa mengkhiri kesuburan atau tidak hamil lagi (Hartanto, 2010).

c. Pengertian Akseptor KB
Akseptor KB adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang salah
seorang dari padanya menggunakan salah satu cara atau alat
kontrasepsi dengan tujuan untuk pencegahan kehamilan baik melalui
program maupun non program Sedangkan menurut kamus besar
bahasa Indonesia (2001) dalam Setiawan dan Saryono tahun 2010
akseptor adalah orang yang menerima serta mengikuti dan
melaksanakan program keluarga berencana.
6

d. Jenis-jenis Akseptor KB
Menurut Handayani (2010) jenis akseptor KB sebagai berikut :
1) Akseptor KB baru
Akseptor KB baru adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang
pertama kali menggunakan kontrasepsi setelah mengalami
kehamilan yang berakhir dengan keguguran atau kelahiran.
2) Akseptor KB lama
Akseptor KB lama adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang
melakukan kunjungan ulang termasuk pasangan usia subur yang
menggunakan alat kontrasepsi kemudian pindah atau ganti ke cara
atau alat yang lain atau mereka yang pindah klinik baik
menggunakan cara yang sama atau cara (alat) yang berbeda.
3) Akseptor KB aktif
Peserta KB aktif adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang
pada saat ini masih menggunakan salah satu cara atau alat
kontrasepsi.
4) Akseptor KB aktif kembali
Perserta KB aktif kembali adalah Pasangan Usia Subur (PUS)
yang telah berhenti menggunakan selam tiga blan atau lebih yang
tidak diselingi oleh suatu kehamilan dan kembali menggunakan
alat kontrasepsi baik dengan cara yang sama maupun berganti cara
setelah berhenti atau istirahat paling kurang tiga bulan berturut-
turut dan bukan karena hamil.

2. Tujuan Keluarga Berencana


Tujuan keluarga berencana di Indonesia adalah :
a. Tujuan umum
Meningkatkan kesejahteraan ibu, anak dalam rangka mewujudkan
NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera) yang menjadi
dasar terwujudnya masyarakat yang sejahtera dengan mengendalikan
7

kelahiran sekaligus menjamin terkendalinya pertambahan penduduk


(Hartanto, 2010).
Menurut Hartanto (2010) untuk mencapai tujuan tersebut, maka
diambil kebijaksanaan dengan mengkategorikan menjadi 3 fase, yaitu :
1) Fase menunda/mencegah kehamilan
Fase menunda kehamilan bagi PUS dengan usia istri kurang
dari 20 tahun. Prioritas penggunaan kontrasepsi pil oral.
Penggunaan kondom kurang tepat karena pada pasangan muda
frekuensi bersenggama masih tinggi sehingga mempunyai angka
kegagalan yang tinggi. Ciri-ciri kontrasepsi yang diperlukan ialah
yang memiliki reversibilitas dan efektifitas yang tinggi.
2) Fase menjarangkan kehamilan
Periode usia istri antara 20-35 tahun, merupakan periode
yang baik untuk melahirkan, dengan jumlah anak 2 orang dan jarak
antara 2-4 tahun. Alasan menjarangkan kelahiran karena usia ibu
merupakan usia yang terbaik untuk mengandung dan melahirkan.
Ciri-ciri kontrasepsi yang diperlukan ialah reversibilitas efektivitas
yang cukup tinggi, dapat dipakai 2-4 tahun (sesuai dengan jarak
kehamilan anak yang direncanakan, tidak menghambat ASI.
3) Fase menghentikan/mengakhiri kehamilan
Periode usia istri diatas 35 tahun, sebaiknya mengakhiri
kesuburan setelah memiliki 2 orang anak. Ciri-ciri kontrasepsi
yang diperlukan ialah efektivitas yang sangat tinggi, dapat dipakai
untuk jangka panjang, dan tidak menambah kelainan yang sudah
ada.

b. Tujuan khusus
Adapun tujuan khusus dari dibentuknya program Keluarga
Berencana, yaitu :
1) Meningkatkan jumlah penduduk untuk menggunakan alat
kontrasepsi.
8

2) Menurunnya jumlah angka kelahiran bayi.


3) Meningkatnya kesehatan keluarga berencana dengan cara
penjarangan kelahiran (Hartanto, 2010).

3. Syarat-syarat kontrasepsi
Menurut Proverawati (2010) dan Wiknjosastro (2006) ada beberapa
syarat-syarat dari kontrasepsi, yaitu :
a. Aman pemakaiannya dan dipercaya.
b. Tidak ada efek samping yang merugikan.
c. Lama kerjanya dapat diatur menurut keinginan.
d. Tidak mengganggu hubungan persetubuhan.
e. Tidak memerlukan bantuan medis atau control yang ketat selama
pemakaiannya.
f. Cara pemakaiannya sederhana.
g. Harga murah dan dapat dijangkau oleh masyarakat.
h. Dapat diterima oleh pasangan suami istri.

4. Faktor- faktor yang berperan dalam pemilihan kontrasepsi

Pasangan dan motivasi : umur, gaya hidup, frekuensi senggama,


jumlah keluarga yang diinginkan, dan pengalaman dengan metode
kontrasepsi yang lalu.

a. Kesehatan : status kesehatan, riwayat haid, riwayat keluarga,


pemeriksaan fisik dan panggul.
b. Metode kontrasepsi : efektivitas, efek samping, dan biaya.
(Proverawati, 2010)
9

5. Pil Kombinasi
Mekanisme kerja pil kombinasi merupakan kombinasi dari kerja
estrogen dan kerja progestin. Menurut Varney (2008), saat ini ada tiga
jenis pil kombinasi, yaitu :
a. Monofasik : Jumlah dan tipe estrogen dan progestin yang dimakan
sama setiap hari selama 20 atau 21 hari, diikuti dengan
tidak meminum obat hormonal selama tujuh hari.

b. Bifasik : Dosis dan jenis estrogen yang digunakan tetap konstan


dan jenis progestin tetap sama, tetapi kadar progestin
berubah antara minggu pertama dan minggu kedua
pada siklus pil 21 hari, yang diikuti dengan tidak
meminum obat hormonal selama tujuh hari.

c. Trifasik : Jenis estrogen tetap sama, tetapi kadarnya tetap


konstan atau data berubah sesuai kadar progestin;
jenis progestin tetap sama, tetapi memiliki tiga kadar
yang berbeda selama siklus pil 21 hari, yang diikuti
dengan tidak meminum obat hormonal selama tujuh
hari.

6. Keuntungan dan Kerugian Pil Kombinasi


Menurut Saifuddin (2010), ada beberapa keuntungan dan kerugian
yang dapat terjadi selama penggunaan pil kombinasi, yaitu :
a. Keuntungan
1) Memiliki efektivitas yang tinggi (hampir menyerupai efektivitas
tubektomi), bila digunakan setiap hari (1 kehamilan per 1000
perempuan dalam tahun pertama penggunaan).
2) Resiko terhadap kesehatan sangat kecil.
3) Tidak menganggu hubungan seksual.
4) Siklus haid menjadi teratur, banyaknya darah haid berkurang
(mencegah anemia), serta tidak nyeri saat haid.
10

5) Dapat digunakan jangka panjang selama perempuan masih ingin


menggunakannya untuk mencegah kehamilan.
6) Dapat digunakan sejak usia remaja hingga menopause.
7) Mudah dihentikan setiap saat.
8) Kesuburan segera kembali setalah penggunaan pil dihentikan.
9) Dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat.
10) Membantu mencegah kehamilan ektopik, kanker ovarium, kanker
endometrium, kista ovarium, penyakit radang panggul, kelainan
jinak pada payudara, dismenorea atau acne.

b. Kerugian
1) Mahal dan membosankan karena harus menggunakannya setiap
hari.
2) Mual, terutama pada 3 bulan pertama.
3) Perdarahan bercak atau perdarahan sela, terutama 3 bulan pertama.
4) Pusing.
5) Nyeri payudara.
6) Berat badan naik sedikit, tetapi pada perempuan tertentu kenaikan
berat badan justru memilikidampak positif.
7) Berhenti haid (amenorea), jarang pada pil kombinasi.
8) Tidak boleh diberikan pada perempuan menyusui (mengurangi
ASI).
9) Pada sebagian kecil perempuan dapat menimbulkan depresi, dan
perubahan suasana hati, sehingga keinginan untuk melakukan
hubungan seks berkurang.
10) Dapat meningkatkan tekanan darah dan retensi cairan, sehingga
resiko stroke dan gangguan pembekuan darah pada vena dalam
sedikit meningkat. Pada perempuan usia >35 tahun dan merokok
perlu hati-hati.
11) Tidak mencegah IMS (Infeksi Menular Seksual), HBV,
HIV/AIDS.
11

7. Mekanisme Kerja Kontrasepsi Pil Kombinasi


Menurut Saifuddin (2010), mekanisme kerja metode kontrasepsi
jenis pil kombinasi ini dengan cara :
a. Menekan ovulasi.
b. Mencegah implantasi.
c. Lendir serviks mengental sehingga sulit dilalui oleh seperma.
d. Pergerakan tuba terganggu sehingga transportasi telur dengan
sendirinya akan terganggu pula.

8. Indikasi dan Kontra Indikasi


Ada beberapa indikasi dan kontraindikasi untuk klien yang ingin
menggunakan kontrasepsi jenis pil kombinasi, yaitu :
a. Indikasi
Menurut Saifuddin (2010), pada prinsipnya hampir semua ibu
boleh menggunakan pil kombinasi, seperti :
1) Usia reproduksi.
2) Telah memiliki anak ataupun yang belum memiliki anak.
3) Gemuk atau kurus.
4) Menginginkan metode kontrasepsi dengan efektivitas tinggi.
5) Setelah melahirkan dan tidak menyusui.
6) Setelah melahirkan 6 bulan yang tidak memberikan ASI eksklusif,
sedangkan semua cara kontrasepsi yang dianjurkan tidak cocok
bagi ibu tersebut.
7) Pasca keguguran.
8) Anemia karena haid berlebihan.
9) Nyeri haid hebat.
10) Siklus haid tidak teratur.
11) Riwayat kehamilan ektopik.
12) Kelainan payudara jinak.
13) Kencing manis tanpa komplikasi pada ginjal, pembuluh darah,
mata dan saraf.
12

14) Penyakit tiroid, penyakit radang panggul, Endometriosis, atau


tumor ovarium jinak.

b. Kontra indikasi
Menurut Varney (2008), ada beberapa kontra indikasi mutlak dan
kontraindikasi relatif bagi calon pengguna kontrasepsi pil kombinasi
sebagai berikut :
1) Kontra indikasi mutlak :
a) Kehamilan (diketahui atau dicurigai).
b) Tromboflebitis (sedang terjadi atau riwayat kesehatan).
c) Gangguan tromboemboli (sedang terjadi atau riwayat
kesehatan).
d) Cedera serebrovaskular, otak, penyakit pembuluh darah otak,
atau penyakit arteri koroner (saat ini atau di masa lalu).
e) Kerusakan hati, kerusakan fungsi hati, atau hepatitis akut.
f) Tumor maligna atau benigna (saat ini atau di masa lalu).
g) Ikterik kolestatik pada saat kehamilan atau ikterik yang
berkaitan dengan penggunaan pil kontrasepsi.
h) Hiperlipidemia tipe II (Hiperkolesterolemia).
i) Neoplasia bergantung esktrogen (diketahui atau dicurigai).
j) Pendarahan genetalia abnormal yang tidak terdiagnosis.
k) Karsinoma payudara (diketahui atau dicurigai).
l) Karsinoma endometrium (diketahui atau dicurigai).
m) Sakit kepala migren klasik (disertai gejala awal)/ migren berat
disertai keluhan neurologis.
n) Wanita perokok di atas usia 35 tahun.
o) Diabetes mellitus.
p) Mutasi faktor V Laiden atau riwayat banyak anggota dalam
keluarga yang menderita tromboemboli vena multipel yang
tidak dapat dijelaskan pada usia belia.
13

2) Kontra indikasi relative :


a) Hipertensi; tekanan darah lebih dari 140/90.
b) Asma.
c) Penyakit jantung (saat ini atau di masa lalu).
d) Penyakit ginjal (saat ini atau di masa lalu).
e) Penyakit kandung empedu.
f) Kolitis ulseratif.
g) Penyakit sel sabit atau hemoglobin C sel sabit.
h) Lupus eritematosus.
i) Depresi (saat ini atau di masa lalu, terutama bila memburuk
pada masa sebelum menstruasi atau setelah melahirkan).
j) Pembedahan elektif yang membutuhkan tindakan imobilisasi
jangka panjang.
k) Varises.

9. Efek Samping dan Resiko Komplikasi


Penggunaan kontrasepsi hormonal oral memiliki banyak sekali
efek samping, menurut Varney (2008), kontrasepsi pil kombinasi harus
dihentikan bila terdapat beberapa gejala atau efek samping berikut.
a. Nyeri kepala yang berat, menetap, awitannya tiba-tiba, atau
kualitasnya berbeda dari yang biasanya dialami oleh wanita tersebut.
b. Gangguan penglihatan :
1) Penglihatan kabur.
2) Seakan ada sinar yang menyilaukan.
3) Diplopia.
4) Scintillating scotomata
5) Periode kebutaan sementara
c. Nyeri hebat pada dada yang tidak dapat dijelaskan atau sesak napas.
d. Nyeri hebat pada abdomen yang tidak dapat dijelaskan.
e. Nyeri hebat pada tulang kering dan paha.
f. Baal atau paralisis sementara pada suatu bagian pada wajah atau tubuh
14

g. Merancau.
h. Hemoptisis.
i. Peningkatan tekanan darah yang mencolok.
j. Jika klien mengalami penyakit yang menjadi kontraindikasi dari
penggunaan pi kombinasi.

10. Rencana Penatalaksanaan


Menurut Varney (2008), ada beberapa penatalaksanaan yang
diberikan pada wanita yang menggunakan pil kombinasi, yaitu :
a. Memberitahukan kepada wanita tingkat keefektifan dan efek samping
serta komplikasi potensial penggunaan pil dan memintanya
menandatangani surat persetujuan (informed consent).
b. Melakukan pengkajian riwayat kesehatan secara umum, pemeriksaan
fisik dan pelvik, serta tes laboratorium.
c. Melakukan penapisan untuk mengetahui apakah ada penyimpangan
dari nilai normal dan kontraindikasi terhadap penggunaan pil.
d. Memilih dan memulai penggunaan pil.
e. Memberi wanita petunjuk tentang penggunaan kontrasepsi pil
kombinasi.
f. Membuat jadwal dan mengatur kunjungan ulang.
g. Mengatur kemungkinan efek samping dan komplikasi yang mungkin
muncul berkaitan dengan penggunaan pil.

11. Petunjuk Bagi Wanita yang Menggunakan Kontrasepsi Pil Kombinasi


Menurut Varney (2008), ada beberapa petunjuk yang harus
diberikan seorang bidan kepada klien yang meggunakan pil kombinasi,
yaitu :
a. Simpan pil di tempat yang aman, jauh dari jangkauan anak-anak dan
hewan, tetapi juga merupakan tempat mudah terlihat sehingga anda
selalu ingat untuk minum pil setiap hari.
15

b. Upayakan meminum pil serutin mungkin. Meminum pil kurang lebih


pada waktu yang sama setiap hari bukan saja membantu menjadi suatu
rutinitas, tetapi juga memastikan kadar hormon kontrasepsi di dalam
tubuh anda selalu konsisten.
c. Sangatlah penting meminum pil tepat seperti petunjuk yang telah
diberikan pada anda bila ingin mencegah kehamilan.
1) Jika anda lupa meminum satu pil selama siklus tiga minggu
pertama, kemungkinan anda tidak akan langsung menjadi hamil,
tetapi anda sebaiknya menggunakan metode kontrasepsi penunjang
(misalnya kondom atau spermisida) selama tujuh hari berikutnya.
Minumlah pil yang terlupa begitu anda ingat dan minum pil
berikutnya pada waktu rutin (hal ini dapat berarti anda meminum
dua pil sekaligus).
2) Apabila anda lupa minum pil dua kali selama dua minggu pirtama
siklus pil anda, anda mungkin masih terlindungi atau mungkin juga
tidak lagi terlindungi dari kehamilan. Minumlah kedua pil tersebut
pada hari anda mengingatnya dan minum dua pil berikutnya pada
keesokan harinya. Tindakan ini akan mengejar ketinggalan pada
siklus pil anda. Selain itu, gunakan spermisida dan kondom setiap
kali anda melakukan hubungan seksual selama tujuh hari
beriutnya.
3) Apabila anda lupa minum dua pil Selma mingggu ke tiga siklus pil
anda atau bila anda lupa meminum tiga pil selama periode tiga
minggu siklus pil anda, kemungkinan besar anda akan mengalami
perdarahan atau menjadi hamil. Gunakan spermisida dan kondom
selama tujuh hari berikutnya. Buanglah pil anda dan mulailah
dengan paket pil baru. Apabila anda memiliki jenis pil yang mulai
diminum pada hari Minggu, lanjutkan minum pil aktif setiap hari
dalam paket pil lama anda sampai hari Minggu, kemudian mulailah
paket pil baru.
16

d. Pastikan memenuhi perjanjian kunjungan ulang sehingga anda tidak


akan kehabisan pil dan anda dapat menjalani pemeriksaan secara
sermat guna mendeteksi setiap kemungkinan efek samping.
e. Buatlah perjanjian baru dengan segera bila anda mengalami gejala di
bawah ini. Jangan menunggu sampai efek samping berikut hilang
dengan sendirinya karena semua efek samping ini adalah tanda bahaya:
1) Nyeri kepala hebat.
2) Gangguan penglihatan (penglihatan kabur, seakan ada sinar yang
menyilaukan, bintik hitam di depan mata, buta sementara).
3) Nyeri dada hebat dan sesak napas.
4) Nyeri hebat pada abdomen.
5) Nyeri hebat pada tulang kering dan paha.
6) Baal atau paralisis sementara pada suatu bagian tubuh anda.
7) Merancau.
8) Batuk yang mengeluarkan sputum yang berdarah.
9) Depresi berat.
10) Apabila selama dua periode, anda tidak mengalami menstruasi atau
berpikir bahwa anda hamil.
f. Jika anda ingin menghentikan meminum pil kombinasi karena tidak
menyukai kontrasepsi pil sebagai metode pengontrol kehamilan,
pastikan anda menghubungi bidan.
g. Jika anda memutuskan untuk berhenti menggunakan pil karena ingin
hamil, berhentilah pada akhir siklus pil dan gunakan spermisida atau
kondom untuk metode pengontrolan kehamilan selama tiga bulan
setelah menghentikan pil. Tunggulah sampai tiga siklus menstruasi
sebelum melakukan upaya unntuk hamil.
17

B. Konsep Dasar Manajemen Asuhan Kebidanan Ibu Dengan Kontrasepsi


Pil Kombinasi

I. PENGKAJIAN

A. DATA SUBYEKTIF

1. Identitas
Nama :
Umur : usia PUS (20-55 tahun) (Prawirohadjo, 2009).
Agama :

Suku/ Bangsa :
Pendidikan : Tingkat pendidikan dapat mendukung atau
mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang,
dan taraf pendidikan yang rendah selalu
bergandengan dengan informasi dan pengetahuan
yang terbatas, makin tinggat tinggi pendidikan
semakin tinggi pula pemahaman seseorang
terhadap informasi yang didapat dan
pengetahuan pun akan semakin tinggi. Hal ini
juga berkaitan dengan pengambilan keputusan
(Sisdiknas, 2007).

Pekerjaan :
Alamat :

2. Keluhan utama :
Menurut Mulyani (2013), ada beberapa keluhan utama yang
diutarakan oleh klien, yaitu :
a. Mual terutama pada 3 bulan pertama penggunaan.
b. Pusing.
c. Nyeri pada payudara.
18

d. Berat badan sedikit naik atau turun.


e. Keinginan untuk berhubungan seks berkurang.
f. Meningkatkan tekanan darah.

3. Riwayat Kesehatan Klien :


a. Riwayat Kesehatan yang lalu
Penyakit/ Kelainan Reproduksi :
1) Hamil atau dicurigai hamil tidak diperbolehkan
menggunakan pil kombinasi (Varney, 2008).
2) Perdarahan genitalia abnormal yang tidak terdiagnosis tidak
diperbolehkan menggunakan pil kombinasi (Varney, 2008).
3) Penyakit radang panggul, endometriosis, atau tumor
ovarium jinak boleh menggunakan pil kombinasi
(Saifuddin, 2010).
4) Riwayat kehamilan ektopik boleh menggunakan pil
kombinasi (Saifuddin, 2010).
Penyakit Kardiovaskuler :
Gangguan tromboemboli, penyakit arteri koroner,
atau mutasi faktor V Laiden atau riwayat banyak anggota
dalam keluarga yang menderita tromboemboli vena
multipel yang tidak dapat dijelaskan pada usia belia,
penyakit jantung, stroke, atau tekanan darah lebih dari
180/110 mmHg tidak boleh menggunakan pil kombinasi.
(Varney, 2008; Sulistyawati, 2014).
Penyakit Darah :
Penyakit sel sabit atau hemoglobin C sel sabit tidak
diperbolehkan menggunakan kontrasepsi pil kombinasi.
Sedangkan penderita talasemia dan anemia defisiensi Fe
diperbolehkan menggunakan kontrasepsi pil kombinasi
(Kemenkes RI, 2013).
19

Penyakit Paru-paru :
Riwayat Emboli paru tidak diperbolehkan
menggunakan pil kombinasi (Kemenkes RI, 2013).
Penyakit Endokrin :
1) Diabetes mellitus > 20 tahun tidak boleh menggunakan
metode pil kombinasi (Saifuddin, 2010).
2) Penyakit tiroid boleh menggunakan pil kombinasi
(Saifuddin, 2010).
Penyakit Saraf :
Sakit kepala migren klasik (disertai gejala awal)/
migren berat disertai keluhan neurologis, atau Epilepsi
tidak diperbolehkan menggunakan pil kombinasi (Varney,
2008).
Penyakit Sistem imunologi :
Resiko tinggi HIV maupun terinfeksi HIV dan
AIDS dapat menggunakan metode pil kombinasi
(Kemenkes RI, 2013).
Penyakit Infeksi :
Riwayat IMS dapat menggunakan metode suntikan
kombinasi (Kemenkes RI, 2013).
Penyakit Pernapasan :
Riwayat tuberkulosis atau sedang menderita
tuberkulosis (kecuali yang sedang menggunakan rifampisin)
boleh menggunakan pil kombinasi (Saifuddin, 2010).
Penyakit Kanker :
Riwayat kanker payudara atau dicurigai kanker
payudara tidak boleh menggunakan pil kombinasi (Saifuddin,
2010).
20

Penyakit dalam :
Riwayat atau sedang menderita penyakit hati akut
(hepatitis) tidak boleh menggunakan pil kombinasi (Saifuddin,
2010).

b. Riwayat Kesehatan sekarang:


Berisi riwayat perjalanan penyakit mulai klien
merasakan keluhan sampai dengan pengkajian saat ini
(sebelum diberikan asuhan).

4. Riwayat Kesehatan Keluarga :


Penyakit tertentu dapat terjadi secara genetik atau berkaitan
dengan keluarga atau etnisitas, dan beberapa diantaranya berkaitan
dengan lingkungan fisik atau sosial tempat keluarga tersebut
tinggal. Mengkaji riwayat penyakit menurun (asma, hipertensi,
DM, hemofilia, kanker payudara) menular (hepatitis, TBC,
HIV/AIDS) menahun (jantung, asma) (Fraser & Cooper, 2009).
Apabila ada riwayat mutasi atau riwayat banyak anggota
dalam keluarga yang menderita trombeomboli vena multipel yang
tidak dapat dijelaskan pada usia belia tidak dapat menggunakan
kontrasepsi pil (Varney, 2008).

5. Riwayat Menstruasi
Riwayat menstruasi yang dikaji adalah siklus, lama haid,
banyaknya, warna, nyeri haid, keluhan waktu haid, dan amenore.
Menurut Saifuddin (2010), ada beberapa keluhan mengenai
menstruasi pda klien pengguna pil kombinasi, yaitu :
a. Wanita dengan nyeri haid dan haid teratur, dapat
menggunakan pil kombinasi.
21

b. Jika menggunakan metode pil kombinasi dapat menggalami


gangguan menstruasi seperti perubahan pola haid, perdarahan
bercak/ spotting, atau tidak haid sama sekali.
c. Ibu yang mengalami anemia karena haid berlebihan boleh
menggunakan pil kombinasi.

6. Riwayat Obstetri
Kehamilan Persalinan Anak Nifas
N Abno La
U Pen Pen BB/ Pen
o Suami Anak Jns Pnlg Tmpt JK H M rmali kta
K y y PB y
tas si

Menurut Saifuddin (2010), ada beberapa riwayat obstetri


yang dapat dan tidak dapat menggunakan metode kontrasepsi
suntikan kombinasi, yaitu :
a. Nulipara dan yang telah memiliki anak, bahkan sudah
memiliki banyak anak, tetapi belum menghendaki tubektomi,
atau setelah mengalami abortus boleh menggunakan
kontrasepsi pil kombinasi.
b. Pasca persalinan dan tidak menyusui ASI eksklusif, sedangkan
semua cara kontrasepsi yang dianjurkan tidak cocok bagi ibu
tersebut, maka dapat menggunakan kontrasepsi pil kombinasi.
c. Riwayat kehamilan ektopik diperbolehkan menggunakan
kontrasepsi pil kombinasi.
d. Ibu hamil atau dicurigai hamil tidak boleh menggunakan pil
kombinasi.

7. Riwayat Kontrasepsi
Penggunaan kontrasepsi pil kombinasi dapat diberikan pada
pasien setelah menggunakan metode keluarga berencana alamiah,
22

sebagai kontrasepsi darurat, atau ingin mengganti kontrasepsi


injeksi dengan pil kombinasi (Saifuddin 2010).

8. Pola Fungsional Kesehatan


Pola Keterangan
Pada beberapa wanita yang menggunakan pil kombinasi
Nutrisi (yang mengandung progestin) dapat meningkatkan nafsu
makan (Mulyani, 2013).
Untuk mengetahui pola BAB dan BAK berapa kali sehari,
bagaimana warna dan konsistensinya. Pada akseptor pil
Eliminasi
kombinasi, secara normal tidak mempengaruhi pola
eliminasi sehari-hari (Saifuddin, 2010).
Keterbatasan dari pemakaian pil kombinasi yaitu mual
Istirahat terutama pada tiga bulan pertama dan pusing dapat
mempengaruhi istirahat (Sulistyawati, 2014).
Aktivitas sedikit terganggu karena pengaruh pusing dari
Aktivitas
pemakaian pil kombinasi (Sulistyawati, 2014).
Perdarahan bercak atau perdarahan sela pada tiga bulan
Personal
pertama, maka personal hygiene lebih dijaga dengan
Hygiene
sering mengganti celana dalam (Sulistyawati, 2014).
Wanita perokok yang berusia di atas usia 35 tahun tidak
boleh menggunakan pil karena merokok dapat
Kebiasaan
meningkatkan resiko terjadinya penyakit kardiovaskuler
terutama tromboemboli vena (Sulistyawati, 2014).
Pada sebagian kecil wanita dapat menimbulkan depresi
dan perubahan suasana hati sehingga keinginan untuk
Seksualitas berhubungan seks berkurang (Mulyani, 2013).
Pada penggunaan pil kombinasi tidak mengganggu
hubungan suami istri (Saifuddin, 2010).
23

9. Riwayat Psikososiokultural Spiritual


Masih kuat kepercayaan di kalangan masyarakat muslim
bahwa setiap mahluk yang diciptakan Tuhan pasti diberi rezeki
untuk itu tidak khawatir memiliki jumlah anak yang banyak
(Prawirohardjo, 2009).

B. DATA OBYEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
Kesadaran :
Tanda Vital :
a. Tekanan darah tinggi > 180/110 mmHg atau diastolik > 90
mmHg atau sistolik > 160 mmHg tidak boleh menggunakan
alat kontrasepsi pil kombinasi (Sulistyawati, 2014).
b. Nyeri dada hebat, batuk, napas pendek, Nadi > 100x/menit
merupakan keadaan yang perlu mendapatkan perhatian dimana
memungkinkan masalah yang mungkin terjadi seperti serangan
jantung atau bekuan darah di dalam paru yang merupakan
kontraindikasi penggunaan pil kombinasi (Saifuddin, 2010).

Antropometri :
Berat badan sekarang :
Efek samping pemakaian suntikan kombinasi, berat
badan sedikit meningkat (Saifuddin, 2010).
Hormon estrogen menyebabkan retensi cairan dan
garam yang bisa memicu pertambahan berat badan sedangkan
progesteron bisa meningkatkan nafsu makan (Varney, 2008).
24

2. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
a. Kepala : Tampak bersih, tidak tampak ketombe, rambut
tampak kuat, distribusi rambut tampak merata dan tekstur
rambut tampak lembut (Priharjo, 2009).
Migrain dan gejala neurologik lokal (Epilepsi/riwayat Epilepsi)
tidak boleh menggunakan pil kombinasi (Sulistyawati, 2014).
b. Wajah : Wajah tampak pucat atau sianosis merupakan
salah satu tanda kemungkinan adanya penyakit jantung yang
merupakan kontraindikasi dari kontrasepsi pil kombinasi
(Saifuddin, 2010).
c. Mata : Sklera berwarna kuning menandakan
kemungkinan indikasi adanya/penyakit hati. Kerusakan hati
atau hepatitis akut tidak dapat menggunakan KB pil kombinasi.
Kehilangan penglihatan atau kabur menandakan stroke,
hipertensi atau masalah vascular tidak boleh menggunakan pil
kombinasi (Sulistyawati, 2014).
Konjungtiva yang tampak pucat merupakan salah satu tanda
anemia dan peserta dengan anemia bulan sabit tidak boleh
menggunakan pil kombinasi (Saifuddin, 2010).
d. Hidung : Tampak bersih, tidak ada pengeluaran, tidak
tampak polip, tidak tampak peradangan (Tambunan dkk, 2011).
e. Mulut : Tampak simetris, bibir tampak lembab, tidak
tampak caries dentis, tidak tampak stomatitis, geraham tampak
lengkap, lidah tampak bersih, tidak tampak pembesaran tonsil
(Tambunan dkk, 2011; Uliyah dkk, 2008).
f. Telinga : Tampak bersih, tidak ada pengeluaran/sekret
(Tambunan dkk, 2011; Uliyah dkk, 2008).
g. Leher : Tidak tampak pembesaran vena jugularis, tidak
tampak pembesaran kelenjar tiroid, dan kelenjar getah bening
(Priharjo, 2009; Tambunan dkk, 2011).
25

h. Dada : Nyeri dada hebat atau napas pendek merupakkan


tanda bahaya pada penggunaan pil kombinasi. Kemungkinan
adanya bekuan darah di paru atau serangan jantung (Saifuddin,
2010).
i. Payudara : Penderita keganasan pada payudara, kanker
payudara atau dicurigai kanker payudara tidak diperbolehkan
menggunakan kontrasepsi pil kombinasi (Saifuddin, 2010).
j. Abdomen : Nyeri abdomen hebat menandakan penyakit
kandung empedu atau penyakit hati yang merupakan
kontraindikasi penggunaan pil kombinasi (Saifuddin, 2010).
k. Genitalia : Perdarahan pervaginam yang belum jelas
penyebabnya tidak boleh menggunakan kontrasepsi pil
kombinasi (Saifuddin, 2010).
l. Ekstremitas : Varises vena boleh menggunakan pil kombinasi,
sedangkan rasa sakit dan kaki bengkak menandakan indikasi
resiko tinggi penggumpalan darah pada tungkai perlu
diwaspadai (Saifuddin, 2010).

Palpasi
a. Kepala : Tidak teraba oedema/massa (Priharjo, 2009).
b. Mata : Tidak teraba oedema (Priharjo, 2009).
c. Hidung : Tidak teraba polip (Priharjo, 2009).
d. Leher : Tidak teraba pembesaran vena jugularis, kelenjar
tiroid dan kelejar getah bening (Priharjo, 2009).
Penyakit tiroid dapat menggunakan pil kombinasi
(Sulistyawati, 2014).
e. Dada : nyeri dada hebat atau napas pendek merupakkan
tanda bahaya pada penggunaan pil kombinasi. Kemungkinan
adanya bekuan darah di paru atau serangan jantung tidak boleh
menggunakan pil kombinasi (Saifuddin, 2010).
26

f. Payudara : Terabanya benjolan yang dapat menandakan


adanya kemungkinan akseptor menderita tumor jinak atau
kanker payudara tidak boleh menggunakan metode pil
kombinasi (Saifuddin, 2010).
g. Abdomen : Jika teraba pembesaran pada abdomen karena
adanya pembengkakan hati hal tersebut mungkin indikasi
adanya penyakit hati yang merupakan kontraindikasi
penggunaan kontrasepsi pil kombinasi. Hamil atau diduga
hamil tidak boleh menggunakan pil kombinasi (Saifuddin,
2010).
h. Genetalia : Tidak teraba pembesaran kelenjar bartholini, vulva
dan vagina tidak teraba oedem (Sulistyawati, 2014).
Karsinoma endometrium tidak dapat menggunakan pil
kombinasi (Sulistyawati, 2014).
i. Ekstremitas: Kaki bengkak menandakan indikasi resiko tinggi
penggumpalan darah pada tungkai pada penggunaan pil
kombinasi (Saifuddin, 2010).

Auskultasi
a. Jika peserta KB memiliki keluhan atau riwayat sesak napas,
kemungkinan peserta mempunyai penyakit jantung yang serius
yang merupakan kontraindikasi penggunaan kontrasepsi pil
kombinasi (Saifuddin, 2010).
b. Asma dan penyakit jantung perlu diwaspadai untuk
menggunakan pil kombinasi (Sulistyawati, 2014).

Perkusi
a. Refleks ekstremitas atas: refleks bisep (+), refleks trisep (+).
b. Refleks ekstremitas bawah : patella (+), capillary refill kembali
dalam waktu < 2 detik, homan sign (-).
(Saifuddin, 2010)
27

3. Pemeriksaan Penunjang :
a. Pemeriksaan Laboraturium :
1) Hb: Anemia bulan sabit tidak diperbolehkan menggunakan
pil kombinasi (Varney, 2008).
Anemia defisiensi Fe boleh menggunakan pil kombinasi
(Kemenkes RI, 2013).
2) PP test: Jika hasil positif tidak diperbolehkan menggunakan
metode pil kombinasi (Saifuddin, 2010).

II. INTERPRETASI DATA DASAR


Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga
dapat merumuskan diagnosis dan masalah yang spesifik
Diagnosis : Papah usia . dengan Akseptor Kontrasepsi Pil
Kombinasi
Masalah :
Menurut Mulyani (2013), ada beberapa masalah yang dapat
ditimbulkan dari penggunaan metode kontrasepsi pil kombinasi, yaitu :
c. Mual terutama pada 3 bulan pertama penggunaan
d. Pusing
e. Nyeri pada payudara
f. Berat badan sedikit naik atau turun
g. Keinginan untuk berhubungan seks berkurang
h. Meningkatkan tekanan darah.

III. IDENTIFIKASI DIAGNOSIS/MASALAH POTENSIAL


Diagnosis potensial : Tidak ada
Masalah potensial : Tidak ada
28

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN TINDAKAN SEGERA


Kebutuhan tindakan segera : Tidak ada

V. INTERVENSI
1. Menjelaskan jenis-jenis dari metode kontrasepsi menggunakan ABPK
(Alat Bantu Pengambil Keputusan).
Rasional : ABPK adalah lembar balik yang dapat membantu petugas
melakukan konseling sesuai standar dengan adanya tanda pengingat
mengenai keterampilan konseling yang perlu dlakukan dan informasi
yang perlu diberikan yang disesuaikan dengan kebutuhan klien
(Saifuddin, 2010).
2. Melakukan penapisan awal sebelum memberikan kontrasepsi pil
kombinasi.
Rasional : penapisan dilakukan untuk mengetahui kontraindikasi dari
pemberian metode kontrasepsi suntikan (Varney, 2008).
3. Berikan Informed Choice kepada klien terhadap pemilihan metode
kontrasepsi yang diinginkan.
Rasional : Klien diberikan Informed Choice agar klien memilih
kontrasepsi yang diinginkan berdasarkan pengetahuan yang cukup
setelah mendapatkan informasi yang lengkap melalui KIP/K
(Saifuddin, 2010).
4. Jelaskan tentang metode kontrasepsi yang dipilih klien dengan
lengkap.
Rasional : Klien dijelaskan mengenai mekanisme kerja pil kombinasi
yang merupakan kombinasi dari kerja estrogen dan kerja progestin,
jenis pil kombinasi ada monofasik, bifasik dan trifasik, indikasi dan
kontra indikasi serta efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan
kontrasepsi pil kombinasi, yaitu Amenorea, mual, pusing, muntah,
perdarahan/perdarahan bercak (spotting) dan penambahan berat badan
(Varney, 2008; Saifuddin, 2010).
29

5. Berikan Informed Consent kepada klien.


Rasional : Klien diberikan Informed Consent untuk persetujuan akan
dilakukannya tindakan medis terhadap klien tersebut (Saifuddin,
2010).
6. Menjelaskan cara mengonsumsi pil kombinasi.
Rasional : Upayakan meminum pil serutin mungkin. Meminum pil
kurang lebih pada waktu yang sama setiap hari bukan saja membantu
menjadi suatu rutinitas, tetapi juga memastikan kadar hormon
kontrasepsi di dalam tubuh agar selalu konsisten. Jika klien lupa
minum 1 pil, minumlah pil yang terlupa begitu ingat dan minum pil
berikutnya pada waktu rutin (hal ini dapat berarti klien meminum dua
pil sekaligus) (Varney, 2008).
7. Jelaskan tentang kunjungan ulang.
Rasional : klien dijadwalkan untuk kunjungan ulang pertama setelah
menyelesaikan dua atau tiga siklus pil secara lengkap. Jika tidak
didapatkan masalah pada kunjungan pertama maka sarankan klien
untuk melakukan kunjungan lagi enam bulan kemudian. Selanjutnya,
diikuti kunjungan rutin tahunan dengan menyertakan pemeriksaan
Pap Smear (Varney, 2008).

VI. IMPLEMENTASI
Pelaksanaan dilakukan dengan efisien dan aman sesuai dengan rencana
asuhan yang telah disusun. Pelaksanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh
bidan atau sebagian dikerjakan oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya.

VII. EVALUASI
Evaluasi merupakan penilaian tentang keberhasilan dan keefektifan
asuhan kebidanan yang telah dilakukan. Evaluasi didokumentasikan dalam
bentuk SOAP.