Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH ILMU BEDAH UMUM

MANAJEMEN PENANGANAN LUKA PROJECTILE

Oleh

Iva Pandu Kusuma 145130100111037


Luica L Allo Layuk 145130100111042
Gabriela Hendra F 145130100111043
Risalia Elite Dityasari 145130101111067
Gaviota Rahasti S 145130107111022

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas rahmat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah dari Nya-lah
akhirnya tim penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Manajemen Penanganan
Luka Projectile dalam rangka memenuhi tugas dari dosen Ilmu Bedah Umum FKH UB.
Setelah melalui beberapa proses pembuatan, pengeditan, dan pencetakan, syukur
Alhamdulillah saat ini makalah telah dikerjakan dengan sukses dan lancar.
Sesuai dengan tugas yang telah diberikan oleh dosen pembimbing, maka makalah ini
berisikan segala materi tentang Manajemen Penanganan Luka Projectile mulai dari tujuan,
pengertian, penerapan dari sub-bab yang dibahas di dalam makalah ini. Pada dasarnya, makalah
ini memang khusus diperuntukkan oleh mahasiswa Kedokteran Hewan yang sedang ataupun
telah melakukan studi kuliahnya.
Demikian sekilas tentang penulis, kami pun juga tak lepas dari berbagai kesalahan yang
telah dilakukan selama pembuatan makalah ini. Apabila selama penyampian makalah ini masih
terdapat kesalahan, penulis memohon maaf sebesar-besarnya. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi para pembaca dan dapat menjadi salah satu referensi dalam pengambilan info
Kedokteran Hewan.

Malang, 1 Mei 2017

Tim Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. Keadaan ini dapat
disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan
listrik, atau gigitan hewan. Seekor hewan yang menderita luka akan merasakan adanya
ketidaksempurnaan yang pada akhirnya cenderung untuk mengalami gangguan fisik dan
emosional. Proses yang kemudian terjadi pada jaringan yang rusak ini ialah penyembuhan luka
yang dapat dibagi dalam tiga fase yaitu fase inflamasi, proliferasi, dan penyudahan yang
merupakan perupaan kembali (remodeling) jaringan.
Setiap kejadian luka, mekanisme tubuh akan mengupayakan mengembalikan
komponen-komponen jaringan yang rusak tersebut dengan membentuk struktur baru dan
fungsional sama dengan keadaan sebelumnya. Proses penyembuhan tidak hanya terbatas pada
proses regenerasi yang bersifat lokal, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor endogen
(seperti: umur, nutrisi, imunologi, pemakaian obat-obatan, kondisi metabolik).
Gejala yang tampak di lapang berupa robeknya sebagian kulit, pengerasan daerah
sekitar kulit dan kadang berbau busuk dan eksudat di daerah vulnus menjadi mukopurulen jika
telah berlangsung lama. Eksudat di daerah vulnus yang telah mukopurulen merupakan indikasi
telah terjadi infeksi sekunder dari bakteri lingkungan yang menghasilkan nanah, misalnya
Streptococcus dan Stahpylococcus. Gejala-gejala yang muncul jika tidak segera ditangani
dapat memicu terjadinya miasis.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apakah yang dimaksud dengan luka projectile ?
1.2.2 Bagaimana klasifikasi luka projectile ?
1.2.3 Bagaimanakah mekanisme projectile injuries ?
1.2.4 Bagaimanakah manajemen penanganan luka projectile ?

1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui yang dimaksud dengan luka projectile.
1.3.2 Mengetahui klasifikasi luka projectile.
1.3.3 Mengetahui mekanisme projectile injuries.
1.3.4 Mengetahui manajemen penanganan luka projectile.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Projectile Injuries


Luka tembak adalah luka yang disebabkan oleh penetrasi anak peluru atau persentuhan
peluru dengan tubuh. Termasuk dalam luka tembak adalah luka penetrasi ataupun perforasi.
Luka penetrasi terjadi bila anak peluru memasuki suatu objek dan tidak keluar lagi, sedangkan
pada luka perforasi anak peluru menembus objek secara keseluruhan. Luka dalam luka tembak
dapat berupa keduanya, baik luka penetrasi maupun luka perforasi. Peluru yang ditembakkan
kekepala dapat menembus kulit dan tengkorak sebelum akhirnya bersarang didalam otak. Hal
ini menimbulkan luka penetrasi pada kepala dan luka perforasi pada tengkorak dan otak.

2.2 Klasifikasi Projectile Injuries


Luka tembak secara umum dibagi dua:
1. Luka Tembak Masuk
Pada saat senjata api melepaskan tembakan anak peluru dan mengenai
sasaran yaitu tubuh korban, maka pada tubuh korban tersebut akan didapatkan perubahan
yang diakibatkan oleh berbagai unsur atau komponen yang keluar dari laras senjata api
tersebut. Luka yang terjadi saat anak peluru bersentuhan dengan tubuh korban
dinamakan Luka Tembak Masuk (LTM).

Tipikal luka tembak masuk biasanya dalam bentuk yang berentetan dengan abrasi
tepi yang melingkar di sekeliling defek yang dihasilkan oleh peluru. Abrasi tepi tersebut
berupa goresan atau lecet pada kulit yang disebabkan oleh peluru ketika menekan masuk
ke dalam tubuh. Abrasi tepi dapat bersifat konsentris ataupun eksentris. Ketika
ujung peluru melakukan penetrasi ke dalam kulit, maka hal tersebut akan menghasilkan
abrasi tepi yang konsentris, yaitu goresan pada kulit berbentuk cincin dengan ketebalan
yang sama, oleh karena peluru masuk secara tegak lurus terhadap kulit.
Gambar 2. Tipikal Luka Tembak Masuk

Ketika ujung peluru melakukan penetrasi pada kulit dengan membentuk


sudut, maka hal ini akan menghasilkan abrasi tepi yang eksentris, yaitu bentuk
cincin yang lebih tebal pada satu area. Area yang tebal dari abrasi tepi yang eksentris
mengindikasikan arah datangnya peluru. Sebagai tambahan, semakin tebal abrasi tepi,
semakin kecil sudut peluru pada saat mengenai kulit. Luka masuk yang tidak khas
berbentuk ireguler dan mungkin memiliki sobekan pada tepi luka. Jenis luka masuk
seperti ini biasanya terjadi ketika peluru kehilangan putaran oleh karena menembak di
dalam laras senjata. Bahkan dalam perjalanannya dengan terpilin, peluru bergerak
secara terhuyung ketika menabrak kulit sehingga sering memberikan gambaran
bentuk D pada luka. Luka masuk yang tidak khas dapat disebabkan oleh senjata yang tidak
berfungsi baik atau oleh karena amunisi yang rusak, tetapi lebih sering dihasilkan
dari peluru jenis Ricochets atau peluru yang mengenai benda lain terlebih dulu, seperti
jendela yang bergerak otomatis, sebelum mengena tubuh. Kecepatan peluru
teredam setelah mengena media perantara, hal ini yang menyebabkan terbentuknya
abrasi tepi yang tidak khas pada luka tembak masuk, ketika peluru mengena kulit. Jenis
lain dari luka masuk yang tidak khas terjadi ketika mulut senjata api mengalami kontak
langsung dengan kulit di atas permukaan tulang, seperti pada tulang tengkorak atau
sternum. Ketika senjata ditembakkan, maka hal ini akan menghentikan gas secara langsung
dari mulut senjata ke dalam luka di sekitar peluru. Gas akan mengalami penetrasi ke dalam
jaringan subkutan, dimana gas tersebut meluas sehingga menyebabkan kulit di sekitar luka
tembak masuk menjadi meregang dan robek. Luka robek atau laserasi menyebar
dari bagian tengah dengan memberikan defek berbentuk stellata atau penampakan seperti
bintang.
2. Luka Tembak Keluar

Peluru yang berhasil melewati tubuh akan keluar dan menghasilkan luka tembak
keluar. Biasanya karakteristik luka berbeda dengan luka tembak masuk. Bentuknya
tidak sirkular melainkan bervariasi dari seperti celah (slitlike), seperti bintang, iregular,
atau berjarak (gaping). Bentuk luka tembak keluar tidak dapat di prediksi. Latar
belakang variasi bentuknya adalah sebagai berikut:

a. Anak peluru terpental dari dalam tubuh sehingga keluar dari tempatnya masuk

b. Anak peluru mengalami perubahan bentuk selama melewati tubuh sehingga memberi
bentuk iregular saat keluar.

c. Anak peluru hancur di dalam tubuh, sehingga keluar tidak dalam 1 kesatuan melainkan
dalam potongan-potongan kecil. Jika memiliki jaket, maka jaket dapat terpisah komplit
atau sebagian.

d. Anak peluru yang mengenai tulang atau tulang rawan, dapat membuat fragmen
tulang tersebut ikut terlontar keluar bersama anak peluru.

e. Anak peluru yang melewati kulit yang tidak ditopang oleh struktur anatomi apapun akan
membuat kulit tersebut koyak, hal ini sedikit berhubungan dengan bentuk anak peluru yang
menyebabkannya.

Luka tembak keluar akan meghasilkan gambaran acak atau tdak teratur,
tergantung pada struktur anatominya serta tulang dan , khasnya bergerigi, laserasi yang
tidak teratur dengan sisi luar yang membuka dan kemungkinan fraktur komunitf. Luka
tembak pada dada dan perut selalu sulit keluar karena adanya hambatan yang cukup besar.
Tidak adanya penahan pada kulit akan menyebabkan anak peluru mengoyak kulit pada
saat keluar. Dalam beberapa keadaan dimana kulit memiliki penahan, maka bentuk luka
tembak sirkular atau mendekati mendekati sirkular yang disekelilingnya dibatasi oleh
abrasi.
Identifikasi Luka Tembak Masuk

Hal terpenting dalam identifikasi Luka Tembak Masuk adalah menentukan jarak
tembakan. Maka berdasarkan jarak tembakan, luka tembak masuk diklasifikasikan
menjadi 3 yaitu:

a. Luka tembak masuk jarak sangat dekat/kontak

Pada umumnya luka tembak masuk kontak adalah merupakan perbuatan bunuh
diri. Terjadi bila moncong laras senjata api ditekankan pada kulit dan ditembakkan.
Sasarannya adalah daerah temporal, dahi sampai occiput, dalam mulut, telinga,
wajah dibawah dagu dengan arah yang menuju otak. Luka pada kulit tidak bulat, tetapi
berbentuk bintang dan sering ditemukan cetakan/jejas ujung laras daun mata pejera.
Terjadinya luka berbentuk bintang disebabkan karena ujung laras ditempelkan keras pada
kulit, maka seluruh gas masuk kedalam dan akan keluar melalui lubang anak peluru. Pada
tepinya terdapat gelang kontusi dan apabila ada rambut akan hangus. Disamping ada
gelang kontusi tepi luka menunjukkan tanda luka terdapat sisa-sisa mesiu, klim tattoo
minimal atau tidak ada.

Apabila senjata dipegang erat menekan kulit, sisa mesiu terdapat dalam
jaringan subkutan dan dalam saluran tembakan. Apabila ada tulang dibawah kulit,
penghitaman karena mesiu sering dapat ditemukan pada permukaan kulit tebal, maka
tepi luka akan berbentuk bintang atau robek-robek karena gas-gas yang masuk terhalang
tulang, berbalik keluar. Seringkali tepi luka berwarna merah muda karena
terbentuknya carboxyhemoglobin akibat gas CO yang masuk. Pada kontak erat dapat
terjadi cetakan dari moncong laras.

Gambar 3. Stellate
shape
b. Luka tembak masuk jarak dekat

Pada umumnya luka tembak masuk jarak dekat ini disebabkan oleh peristiwa
pembunuhan.

Gambar 4. Gambaran klim Tattoo Luka Tembak Masuk

Terjadi pada jarak tembakan mulai jarak dari kontak longgar hingga jarak
kurang dari 60 cm, mempunyai ciri-ciri yang khas yang disebabkan karena efek dari asap,
nyala api dan klim tattoo. Efek dari nyala api terjadi pada tembakan kurang dari 15 cm,
sedangkan noda akibat asap sering masih terlihat pada tembakan sampai 30 cm. Tatto yang
disebabkan mesiu yang tidak terbakar dapat terlihat sekitar luka tembak masuk pada
tembakan kurang dari 60 cm. Kadang-kadang ditemukan juga serpihan metal akibat
gesekan peluru dengan laras pada luka tembak masuk jarak dekat. Pada tepi luka terdapat
contusio ring(gelang kontusi) selebar 1-1.5 cm.

c. Luka tembak masuk jarak jauh

Tidak ada bubuk mesiu maupun gas yang bisa terbawa hingga jarak jauh. Hanya
anak peluru yang dapat terlontar memebihi beberapa kaki. Sehingga luka yang ada
disebabkan oleh anak peluru saja. Terdapat beberapa karakteristik luka yang dapat dinilai.
Umumnya luka berbentuk sirkular atau mendekati sirkular. Tepi luka compang-camping.
Jika anak peluru berjalan dengan gaya non-perpendikular maka tepi compang-
camping tersebut akan melebar pada salah satu sisi. Pemeriksaan ini berguna
untuk menentukan arah anak peluru. Pada luka tembak masuk jarak jauh memberi
arti yang besar terhadap pengusutan perkara. Hal ini karena luka jenis ini menyingkirkan
kemungkinan penembakan terhadap diri sendiri, baik sengaja atau tidak. Terdapat 4
pengecualian, yaitu jika senjata telah diatur sedemikian rupa sehingga dapat di
tembakkan sendiri oleh korban dari jarak jauh, kesalahan hasil pemeriksaan karena
bentuk luka tembak tempel yang mirip luka tembak jarak jauh, kesulitan interpretasi
karena adanya pakaian yang menghalangi jelaga atau bubuk mesiu mencapai kulit dan
jelaga atau bubuk mesiu telah tersingkir/dibersihkan. Hal tersebut terjadi bila tidak ada
pengetahuan pemeriksa dan dapat berakibat serius terhadap arah penyelidikan.

Gambar 5. Luka tembak masuk jarak jauh. Contusio ring ireguler

Pada luka tembak masuk jarak jauh ini, yang mengenai sasaran hanyalah anak
peluru saja. Sedangkan partikel lainnya tidak didapatkan. Pada luka tembak jarak jauh ini
hanya ditemukan luka bersih dengan contusio ring. Pada arah tembakan tegak lurus
permukaan sasaran (tangensial) bentuk contusio ringnya konsentris, bundar. Sedangkan
pada tembakan miring bentuk contusio ringnya oval. Luka tembak pada jaringan lunak
sukar dibedakan antara inshoot dan outshoot, oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksaan
mikroskopis, untuk mencari adanya pigmen mesiu, jelaga, minyak senjata atau
adanya serat pakaian yang ikut masuk kedalam luka.

2.3 Mekanisme Projectile Injuries


Kulit terdiri dari lapisan epidermis, dermis dan subkutis. Jika dilihat dari elastisitasnya,
epidermis kurang elastis bila dibandingkan dengan dermis. Bila sebutir peluru menembus
tubuh, maka cacat pada epidermis lebih luas dari pada dermis. Diameter luka pada epidermis
kurang lebih sama dengan diameter anak peluru, sedangkan diameter luka pada dermis
lebih kecil. Keadaan tersebut dikenal sebagai kelim memar (contusio ring).

Contusio ring ini didapatkan pada luka tembak masuk dan luasnya tergantung
pada arah peluru pada kulit. Peluru yang masuk tegak lurus, maka contusio ringnya akan besar,
sedangkan peluru yang masuknya miring, contusio ringnya akan lebih lebar dibagian dimana
peluru membentuk mulut yang terkecil pada kulit. Peluru juga mengandung lemak pembersih
senjata. Lemak ini juga akan memberi gambaran pada luka tembak berupa kelim lemak yang
berupa pita hitam, tetapi kelim lemak ini tidak selalu terdapat misalnya pada senjata yang
jarang dibersihkan. Pada waktu senjata ditembakkan, maka yang keluar dari laras senjata api
adalah:

1. Api

2. Mesiu yang sama sekali terbakar (jelaga, soot)

3. Mesiu yang hanya sebagian saja yang terbakar

4. Mesiu yang tidak terbakar

5. Kotoran minyak senjata, karatan dan lain sebagainya

6. Anak pelurunya sendiri

Gambar 1. Mekanisme Luka Tembak

Anak peluru yang ditembakkan akan menyebabkan terjadinya luka yaitu luka tembak
masuk dan luka tembak keluar dengan membentuk saluran luka di antara keduanya. Sisa
mesiu yang tidak terbakar menyebabkan terjadinya penyebaran tatto disekitar luka masuk.
Pada jarak tembak sangat dekat dengan sasaran, api dapat menimbulkan luka bakar. Asap akan
meninggalkan jelaga di sekitar luka masuk. Gas hanya menimbulkan akibat apabila mulut laras
kontak menempel dengan jaringan tubuh. Bila luka tembak kontak dekat ke permukaan tulang,
maka gas akan memantul kembali keluar dan membuat luka masuk menjadi luas,
sering pecah seperti bentuk bintang (stellate). Bila jaringan ditempat luka masuk hanya jaringan
lunak, efek yang ditimbulkan gas tidak sehebat yang dekat ke tulang.
BAB III
PEMBAHASAN

Penetrating Cranial Injury Due to Gunshot in a Dog: a Case Report


Seekor anjing Coonhound jantan, berumur 10 bulan dibawa ke Pusat Kesehatan Hewan
karena mengalami pendarahan ocular akibat tembakan pistol. Keadaan anjing terlihat normal,
namun terjai pendarahan yang hebat pada mata bagian kanannya. Beberapa tes kesehatan
seperti pemeriksaan fisik, neurologi, pemeriksaan laboratorium dan radiografi telah dilakukan.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya luka lain pada bagian belakang yang memiliki
karakteristik seperti luka tembakan. Pada pemeriksaan radiografi, terlihat bentukan radiopaque
pada bagian kepala dan bagian belakang.

Sebagai premedikasi sebelum dilakukan operasi, diberikan atropine sulfate 0,02 mg/kg,
s. c, cefotaxime sodium 30 mg.kg, i. v. dan tramadol hydrochloride 4 mg/kg, i. v.
Methylprednisolone sodium succinate 30 mg/kg, i. v. digunakan untuk mencegah complikasi
dari traumatik edema cerebral dan sugical manipulation-induced cerebral edema, dan untuk
mengurangi deskonstruksi jaringan saraf dan ischemia sebelum operasi. Anastesi diinduksi
dengan thiopental sodium 10 mg/kg, i. v. dan dimaintenance dengan isoflurane 1-1,5 %.
Selama anastesi, diberikan hyperventilasi, dan kepala berada dalam kondisi lebih tinggi untuk
mencegah terjadinya kenaikan intracranial pressure (ICP).
Dikuakkan cranium dengan mengincisi kulit dan musculus temporalis sejauh 2 cm ke
kiri dari median line. Dibuat 4 lubang yang berbentuk persegi di daerah luka. Kemudian
keempat lubang dihubungkan dengan dengan oscillating saw. Peluru dicari lokasinya dengan
bantuan fluoroscopy selama operasi, dikeluarkan menggunakan hemostatic forceps setelah
durotomy.
Setelah operasi, diberikan dexamethasone 0,3 mg/kg, s. c., bid dengan pengurangan
dosis setengah setiap hari selama tiga hari untuk mencegah terjadinya kenaikan ICP akibat
cerebral edema. Diberikan cefotaxime sodium 30 mg/kg, i. v. tid untuk mencegah infeksi akibat
penetrasi peluru dan tramadol hydrochloride 4 mg/kg, i. v. tid untuk meringankan rasa sakit
pasca operasi selama tujuh hari. Pasien dirawat jalan dengan diberi resep antibiotik dan
analgesik selama tujuh hari pasca operasi. Tidak terjadi komplikasi selama satu tahun setelah
operasi selain terjadinya kebutaan pada mata kanan.
(Park, 2010)
BAB IV
PENUTUP

Luka tembak adalah luka yang disebabkan oleh penetrasi anak peluru atau persentuhan
peluru dengan tubuh. Termasuk dalam luka tembak adalah luka penetrasi ataupun perforasi.
Luka tembak secara umum dibagi menjadi dua, yaitu luka tembak dalam dan luka tembak
keluar. Bila sebutir peluru menembus tubuh, maka cacat pada epidermis lebih luas dari pada
dermis. Diameter luka pada epidermis kurang lebih sama dengan diameter anak peluru,
sedangkan diameter luka pada dermis lebih kecil. Keadaan tersebut dikenal sebagai
kelim memar (contusio ring). Anak peluru yang ditembakkan akan menyebabkan terjadinya
luka yaitu luka tembak masuk dan luka tembak keluar dengan membentuk saluran luka di
antara keduanya. Sisa mesiu yang tidak terbakar menyebabkan terjadinya penyebaran
tatto disekitar luka masuk. Penanganan kasus di lapangan biasanya harus dilakukan operasi dan
terapi lanjutan untuk mendukung proses kesembuhan.
DAFTAR PUSTAKA

Dudley HAF, Eckersley JRT, Paterson-Brown S, Pedoman Tindakan Medik dan Bedah, EGC
Jakarta 2000.
Kaplan NE, Hentz VR, Emergency Management of Skin and Soft Tissue Wounds, An
Illustrated Guide, Little Brown, Boston, USA, 1992.
Park, S., Park, J., Kim, J. H., et al. 2010. Penetrating Cranial Injury due to Gunshot in a Dog:
a Case Report. Vererinarni Medicina, 55, 2010 (5): 253-257.
Zachary CB, Basic Cutaneous Surgery, A Primer in Technique, Churchill Livingstone, London
GB, 1990.