Anda di halaman 1dari 10

TUGAS AGAMA

KATOLIK

OLEH:

Maria Pratiwi Natalia Utami : 221308286

UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SURABAYA


ANGKATAN TAHUN 2013
A. Sejarah Maria

Maria adalah seorang perawan yang tinggal di


Nazaret, daerah Galilea. Yoakim dan Anna adalah
nama ayah dan ibunya. Sebagai seorang Yahudi
Maria sangat mengharapkan kedatangan sang
Mesias, yaitu Juruselamat dunia. Maria bertempat
tinggal di Nazareth di Galilea, kemungkinan
bersama dengan kedua orang tuanya, dan
sementara itu telah dipertunangkan dengan Yusuf
dari Keluarga Daud. Para Apologis Kristen
kadang-kadang menduga bahwa Maria,
sebagaimana Yusuf, juga adalah seorang
keturunan Raja Daud. Selama masa pertunangan
mereka Malaikat Gabriel mewartakan kepadanya
bahwa dia akan menjadi ibu dari Mesias yang
dijanjikan itu dengan cara mengandungnya melalui Roh Kudus.
Ketika Yusuf diberitahukan mengenai kehamilan Maria dalam sebuah mimpi oleh "seorang
malaikat Tuhan", dia terkejut; namun malaikat itu berpesan agar Yusuf tidak gentar dan
mengambil Maria sebagai isterinya. Yusuf mematuhinya dengan secara resmi melengkapi ritus
pernikahan itu.
Sedikit yang diketahui mengenai riwayat hidup Maria dari Perjanjian Baru. Dia adalah
kerabat dari Elizabet, istri dari imam Zakaria anggota golongan imam Abia. Karena malaikat
telah memberitahukan Maria bahwa Elizabet, yang sebelumnya mandul, kini secara ajaib telah
mengandung, Maria lalu segera mengunjungi kerabatnya itu, yang tinggal bersama suaminya
Zakaria di sebuah kota Yudea "di daerah perbukitan" (kemungkinan di Yuttah, bersebelahan
dengan Maon, sekitar 160 km dari Nazareth). Begitu Maria tiba dan menyalami Elizabet,
Elizabet dengan segera menyatakan Maria sebagai "ibu dari Tuhannya", dan atas pernyataan itu
Maria menyanyikan sebuah kidung ungkapan syukur, yang umum dikenal sebagai Magnificat.
Tiga bulan sesudahnya, tampaknya segera setelah kelahiran Yohanes Pembaptis, Maria pulang
ke rumahnya. Ketika kehamilan Maria sendiri makin membesar, tiba sebuah dekrit dari kaisar
Romawi Augustus yang menitahkan agar Yusuf dan sanak keluarganya pergi ke Betlehem,
sekitar 80 atau 90 mil (kurang lebih 130 km) dari Nazareth, untuk mengikuti sensus. Ketika
mereka berada di Betlehem, Maria melahirkan putera sulungnya; namun karena tidak ada tempat
bagi mereka di penginapan (tempat bernaung yang disediakan bagi orang-orang asing) dia harus
menggunakan sebuah palungan, atau tempat makan hewan, sebagai buaian bayi.

Sesudah delapan hari, anak itu disunat dan dinamai Yesus, menurut instruksi yang diberikan
oleh "malaikat Tuhan" kepada Yusuf setelah Maria menerima anunsiasi, karena nama ini
menunjukkan bahwa "dia [akan] menyelamatkan umatnya dari dosa-dosa mereka". Setelah bayi
Yesus berusia 40 hari, maka upacara-upacara tradisional tersebut dilanjutkan dengan penyerahan
Yesus kepada Tuhan di Bait Allah di Yerusalem sesuai dengan aturan hukum bagi anak-anak
sulung.
Hal ini kemudian diikuti oleh kunjungan orang-orang majus dari Timur, pengungsian Yusuf
beserta Maria dan Yesus ke Mesir, kembalinya mereka dari sana setelah mangkatnya Raja
Herodes Agung sekitar tahun 2 atau 1 Sebelum Masehi, dan menetap di Nazaret. Maria
tampaknya menetap di Nazaret selama kira-kira tiga puluh tahunan tanpa peristiwa-peristiwa
istimewa. Dia terlibat dalam satu-satunya peristiwa di awal kedewasaan Yesus yang tercatat
dalam Perjanjian Baru: pada usia dua belas tahun, Yesus terpisah dari orang tuanya dalam
perjalanan pulang mereka dari perayaan Paskah Yahudi di Yerusalem lalu ditemukan di tengah
para guru di Bait Allah. Kemungkinan besar antara peristiwa tersebut sampai dengan permulaan
tampilnya Yesus ke depan umum, Maria menjadi janda, karena Yusuf tidak disebut-sebut lagi.
Maria hadir ketika Yesus mengerjakan mujizat pertamaNya di hadapan umum pada pesta
pernikahan di Kana dengan mengubah air menjadi anggur berkat perantaraan Maria. Selanjutnya
dalam beberapa peristiwa Maria hadir bersama "saudara-saudara" (Yakobus, Yusuf, Simon dan
Yudas) serta "saudari-saudari" Yesus yang tidak disebutkan nama-namanya. Maria juga
dilukiskan hadir pada peristiwa penyaliban Yesus, berdiri di dekat "murid yang dikasihi Yesus"
bersama saudarinya Maria Klopas (kemungkinan besar Maria Klopas adalah orang yang sama
dengan Maria ibu Yakobus muda dan Yusuf yang
disebutkan dalam Matius 27:55, bdk. Markus 15:40, serta
Maria Magdalena. Pada daftar itu Matius 27:55
menambahkan "ibu anak-anak Zebedeus", yang diduga
bernama Salome yang disebut-sebut dalam Markus 15:40,
serta wanita-wanita lain yang telah mengikuti Yesus dari
Galilea dan melayaniNya (disebutkan dalam Injil Matius
dan Markus). Maria, menggendong jenazah puteranya,
meskipun tidak tertulis dalam injil, merupakan motif yang
umum dalam seni, yang disebut "piet" atau "kesalehan".

Menurut Kisah Para Rasul, sesudah kenaikan Yesus ke surga, kurang-lebih 120 jiwa
berkumpul di Kamar Atas pada peristiwa terpilihnya Matias untuk mengisi posisi Rasul yang
ditinggalkan Yudas Iskariot, di mana Maria adalah satu-satunya orang yang disebutkan namanya
selain ke-12 rasul serta para kandidat. Sejak peristiwa ini, namanya menghilang dari Alkitab,
meskipun beberapa golongan Kristiani yang meyakini bahwa Maria sekali lagi digambarkan
sebagai Wanita surgawi dalam Wahyu 12:1.
Kematiannya tidak tercatat dalam Alkitab.

B. Tulisan-Tulisan dan Tradisi-Tradisi Umat Kristen Selanjutnya


Menurut Injil Yakobus, yang, meskipun bukanlah bagian dari Kitab Perjanjian Baru, berisi
materi biografis mengenai Maria yang dianggap "dapat dipercaya" oleh beberapa kalangan
Kristiani Ortodoks dan Katolik, Maria adalah puteri dari Yoakim dan Ana. Sebelum
mengandung janin Maria, Ana mandul, dan kedua orang tua Maria sudah berusia lanjut ketika
dia dikandung. Mereka membawa Maria untuk tinggal di Bait Allah di Yerusalem ketika
umurnya baru tiga tahun, sangat mirip dengan peristiwa Hana membawa Samuel untuk tinggal di
Tabernakel, sebagaimana yang tercatat dalam Kitab Perjanjian Lama (Tanakh, Alkitab Ibrani).

Menurut tradisi Katolik Romawi dan Ortodoks Timur, antara tiga sampai lima belas tahun
sesudah kenaikan Kristus, di Yerusalem atau Efesus, Maria meninggal dunia; disaksikan para
rasul Kristus. Selanjutnya, ketika para rasul membuka makamnya, ternyata kosong, sehingga
mereka menyimpulkan bahwa dia telah diangkat secara badaniah ke Surga.

Dalam kehidupan Geraja Katolik, Bunda Maria merupakan sosok pribadi yang mempunyai
tempat sungguh istimewa. Gereja Katolik sangat menghormatinya, sehingga dapat kita lihat,
begitu kuat Devosi terhadap Bunda Maria. Penghormatan ini dilakukan oleh Gereja Katolik
dengan berbagai macam cara dan Devosi. Gereja Katolik memberikan bulan khusus, yaitu Mei
dan Oktober untuk menghormati Bunda Maria. Pada bulan Mei dan Oktober, Gereja Katolik
mengajak umatnya untuk berdoa Rosario, baik secara pribadi maupun berkelompok (baik di
lingkungan/stasi, dsb) ataupun lewat ziarah-ziarah ke gua Maria. Dalam kehidupan Liturgi
Gereja Katolik, menempatkan beberapa pesta yang berkaitan dengan bunda Maria. Hal tersebut
menunjukan bahwa Bunda Maria sungguh mempunyai tempat yang istimewa di dalam Gereja
katolik.

C. Gelar Bunda Allah


Dalam perjalanan hidupnya Bunda Maria mempunyai relasi yang sangat mesra dengan
Putranya Yesus Kristus, sejak ada dalam kandungan serta sampai wafat-Nya, karena ia telah
dipilih oleh Allah menjadi Bunda Allah. Lewat kedekatan relasi inilah yang menjadikan Gereja
katolik mempunyai keyakinan bahwa Maria sungguh-sungguh istimewa, baik dihadirat Allah
maupun manusia. Lewat perjalanan sejarah Gereja dalam bimbingan Roh Kudus, lewat berbagai
konsili Nicea, Konsili Efesus, konsili Kalcedon menetapkan bahwa Yesus sebagai Anak Allah,
yang memang sungguh-sungguh Allah oleh karena sehakikat dengan Bapa, menjadi daging,
menjadi manusia begitu rupa, sehingga Ia adalah Allah dan manusia (secara serentak), namun
tetap satu. Karena Yesus adalah benar-benar Allah, maka ibu Yesus menjadi ibu Allah. Istilah
"Mater Dei" (bahasa latin) yang artinya Bunda Allah, mulai disebut pada abad ke IV.
Gelar Maria sebagai Bunda Allah datang dari Analogi yang lebih kurang sebagai berikut:
Yesus Kristus adalah Allah. sedangkan Yesus adalah anak Maria maka St. Maria disebut layak
untuk disebut BUNDA ALLAH. Gelar Bunda Allah tidak dimaksudkan bahwa Maria melahirkan
Allah tetapi dimaksudkan bahwa Maria melahirkan Yesus yang adalah Allah.
Dalam kitab suci, Elisabet mengatakan "Siapakah aku ini sampai ibu Tuhan-ku datang
mengunjungi aku" (Lukas 1:43). Elisabet mengucapkan kata-kata itu ketika ia penuh dengan Roh
Kudus (Lukas 1:41)

D. Keistimewaan Maria
Bukan saja karena kewanitaannya Maria istimewa dan pantas di puji, lebih dari pada itu,
Maria yang telah dipilih Allah menjadi wahana kehadiranNya yang menyelamatkan di tengah
umat manusia dan dimuliakan dengan diangkat ke surga. Tentu saja dalam kepenuhan dirinya
sebagai wanita, Maria menjawab panggilan istimewa itu. Jadi Maria merupakan teladan atau
model kita semua sebagai orang beriman, Maria yang diangkat ke surga dengan badan dan jiwa
merupakan idealisme umat Allah. Tentu saja idealisme hanya diperlukan selama umat Allah
menempuh eksistensi keduniaannya, yakni berziarah. Di dalam Maria umat Allah menemukan
tanda yang paling cocok untuk menopang aspirasinya mengenai kehidupan surgawi. Maria
sebagai citra umat Allah, awal penyempurnaan umat Allah di masa depan dan tanda pengharapan
yang pasti bagi umat Allah. Melalui penegasan ini diakui sepenuhnya bahwa Yesus Kristus
sendiri telah menggenapi janjiNya perihal eschaton di dalam diri Maria, Artinya:
Pertama, Kerajaan Allah sudah ditetapkan dalam dan melalui peristiwa Yesus Kristus.
Dalam batasan ini Kerajaan Allah merupakan realitas yang sungguh ada. Kesaksian Kitab
Suci menandaskan bahwa dengan peristiwa Yesus Kristus sudah terwujudlah eskatologi.
Kedua, Kerajaan Allah terwujud sepenuhnya dalam waktu yang akan datang. Kerajaan Allah
tidak pernah sepenuhnya sekarang, dalam sejarah bangsa manusia.
Ketiga, berkat kehidupan, kematian, kebangkitan dan permuliaan Yesus Kristus Kerajaan
Allah sudah dipastikan. Oleh karena itu para beriman "memiliki kesempatan" untuk
menantikan serta mengharapkan aktualisasi keselamatan paripurna dalam rangka sejarah
duniawi ini. (Rm.8:23), atau memperoleh jaminan bakal terwujudnya keselamatan melalui
Roh Kristus sendiri (2Kor 1:22;5:5; Ef 1:14).
Keyakinan ini menguatkan pengharapan kaum beriman. Keselamatan yang mencakup
seluruh situasi dan yang sekarang diharapkan tidak hanya terjadi dalam waktu yang akan datang
tetapi juga disini dan saat ini. Jadi berbicara tentang dogma Maria Diangkat Ke Surga, berarti
menegaskan peranan Maria. Maria menikmati keselamatan paripurna sekaligus mengafirmasikan
bahwa keselamatan ilahi itu meliputi seluruh eksistensi (tubuh dan jiwa) Maria (bdk.Rm
8:23;Flp.3:21 ;Kej. 1:3-31). Dan dengan demikian dinyatakan: keselamatan definitif mencakup
eksistensi manusia seluruhnya. Maka apa yang terungkap dalam dogma tentang Maria itu ialah
pusat pengharapan kristiani, yakni janji akan penebusan tubuh dan jiwa. Oleh karena itu
penyelamatan Maria bukan sekedar cerita mistis seperti halnya dalam pewayangan atau legenda
rakyat yang sakral. Keselamatan itu benar-benar tertuju pada pribadi tertentu yang pernah hidup
di dunia ini "Pengalaman " khas pribadi Maria ini de facto mempengaruhi hidup orang beriman
dalam menantikan dengan rindu keselamatan paripurna yang masih akan datang. Maria adalah
tanda harapan yang hidup di tengah Umat Allah untuk menggambarkan keselamatan paripurna.
Jadi, ajaran tentang pemuliaan Maria itu menegaskan kembali peran Maria dalam rangka Gereja,
yaitu bahwa kini, didunia ini (sampai hari Tuhan, 2 Ptr 3:10) Maria menjadi citra awal
penyempurnaan Gereja di masa depan. Sekaligus Maria menjadi tanda harapan yang pasti dan
hiburan bagi gereja yang berziarah. Dengan memahami peran ganda Maria sebagai citra awal
penyempurnaan Gereja di masa depan dan tanda harapan yang pasti bagi Gereja, umat beriman
mempunyai gambaran tentang keselamatan kekal yang bakal dinikmati.
Penyelamatan itu hanya terjadi dalam kuasa Kristus Tuhan berpolakan keselamatan Maria
yang meliputi semua tingkatan eksistensinya biologis dan spiritual. Berkat dogma mengenai
Maria diangkat ke surga dengan tubuh dan jiwanya kepercayaan dan harapan umat beriman akan
kebangkitan badan dan kehidupan kekal semakin diperkokoh dan dihidupkan. Karena penetapan
itu menilai positif kehidupan manusia dalam kerangka dunia ini, sekaligus meneguhkan dan
merumuskan keyakinan bahwa hal-hal eskatologis seyogyanya dimengerti secara historis dalam
dan mulai di dunia ini. Di dunia ini Gereja berziarah. Satu-satunya tujuan akhir ziarah Gereja
ialah Allah yang maha baik, yang telah menjanjikan dan melaksanakan keselamatan.
Keselamatan yang dijanjikan-Nya itulah yang telah dinikmati para kudus, khususnya Maria
bermakna sebagai tanda real sukacita dan harapan Gereja. Pasalnya, nasib mereka itulah nasib
yang akan dialami Gereja yang kini berziarah di dunia. Ini semua dimungkinkan berkat Allah
yang menyatakan diriNya secara penuh dalam Anak Maria, Yesus Kristus yang telah mati dan
dibangkitkan demi kemuliaan Bapa serta kehidupan saudara-saudari-Nya dalam Gereja yang
mendunia.
E. Hari-hari Resmi
Sudah berabad-abad lamanya Gereja menghormati Bunda Maria. Keyakinan bahwa Maria ini
sudah mulia dan berbahagia selamanya di surga de facto telah mendorong anggota Gereja untuk
berlari ke bawah perlindungannya serta memohon bantuan darinya terhadap segala marabahaya
yang mengancam hidupnya. Devosi Maria ini dapat berupa "Cultus Privatus" (Rosario, Ziarah,
Novena, dll). Namun dalam liturgi resmi Gereja sepanjang tahun dirayakan pesta pesta atau
peringatan-peringatan yang berkenaan dengan Bunda Maria. Ini yang disebut "Cultus Publicus",
dengan konsekwensi seluruh Gereja terlibat. Menurut kalenderium liturgi sekurang-kurangnya
ada 18 (delapan belas) perayaan (sepanjang tahun) yang berhubungan dengan Bunda Maria:
Tujuh (7) perayaan kelas satu (solemnitas), yaitu:
1 Januari : Santa Maria Bunda Allah;
6 Januari : Penampakan Tuhan ;
19 Maret : St. Yusuf (suami Maria);
25 Maret : Kabar Sukacita;
15 Agustus : Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga;
8 Desember : Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa;
25 Desember : Kelahiran Yesus.
Lima (5) perayaan kelas dua (festum), yaitu:
2 Febuari : Yesus dipersembahkan Dalam Kenisah;
31 Mei : Maria Mengunjungi Elizabet;
22 Agustus : Santa Perawan Maria, Ratu;
8 September : Kelahiran Santa Perawan Maria;
30 Desember : Keluarga Kudus
Enam (6) perayaan kelas tiga (memoria), yaitu:
11 Februari : Santa Perawan Maria di Lourdes;
16 Juli : Santa Perawan Maria di Gunung Karmel;
26 Juli : Yoakim dan Anna (orang tua Maria);
15 September : Santa Perawan Maria Berdukacita;
7 Oktober : Rosario Santa Perawan Maria;
21 November : Santa Perawan Maria Dipersembahkan Dalam Bait Allah
Doa yang indah bagi Bunda Maria dalam tradisi Katolik adalah doa Salam Maria. Bagian
pertama dari doa tersebut berkembang dalam abad pertengahan ketika Maria, Bunda Yesus,
menjadi perhatian umat Kristiani sebagai saksi terbesar atas hidup, wafat serta kebangkitan
Kristus. Bagian awal doa merupakan salam Malaikat Gabriel di Nazaret, menurut Injil Lukas:
Salam Maria,
penuh rahmat,
Tuhan sertamu,
Dengan perkataan tersebut, malaikat Tuhan menyatakan belas kasih Ilahi. Tuhan akan menyertai
Maria. Maria akan melahirkan Yesus Kristus ke dunia.
Bagian selanjutnya, adalah salam yang disampaikan kepada Maria oleh Elisabet, sepupunya,
seperti ditulis dalam Injil St. Lukas:
terpujilah engkau di antara wanita,
dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.
Dan akhirnya, pada abad ke-15, bagian doa selanjutnya ditambahkan:
Santa Maria, bunda Allah,
doakanlah kami yang berdosa ini
sekarang dan waktu kami mati.

Bagian doa tersebut memohon kepada Maria, yang penuh rahmat serta dekat dengan Putra-
nya, untuk mendoakan kita orang berdosa, sekarang dan saat ajal menjelang. Bersama dengan
murid kepada siapa Yesus mempercayakan ibunda-Nya di Kalvari dengan mengatakan Inilah
ibumu!, kita mengakui Bunda Maria sebagai bunda kita. Bunda Maria akan senantiasa
mendekatkan kita pada Kristus. Sejak dari permulaan Bunda Maria mengenal-Nya; ia menjadi
saksi atas hidup, wafat dan kebangkitan Kristus; tidakkah Bunda Maria akan membantu kita
untuk lebih mengenal Putra-nya dan misteri hidup-Nya? Kita mengandalkan belas kasih Bunda
Maria kepada kita seperti yang ia lakukan bagi pasangan pengantin di Kana, di Galilea. Kita
mempercayakan segala kebutuhan kita kepada Bunda Maria.
F. Komentar Penutup
Bunda Maria senantiasa menjadi teladan iman dan pelindung orang-orang Kristen yang
percaya. Ketika Malaikat Gabriel datang kepadanya, ia percaya akan warta yang disampaikan
malaikat dan tetap teguh pada imannya tanpa ragu sedikit pun meski harus melewati pencobaan
gelap Kalvari. Bunda Maria mendampingi kita, yang adalah saudara dan saudari Putra-nya,
sepanjang ziarah kita di dunia yang penuh dengan kesulitan dan mara bahaya.
Sebagai umat katolik, kita sering mendapat pekerjaan dimana di sekitar kita mayoritas non
katolik/kristen. Mungkin beberapa pekerjaan tersebut ada tugas yang tidak mudah ataupun yang
tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Bahkan ada penugasan-penugasan yang sepertinya
dalam hati kita mau nya kita tolak entah karena kita tidak suka, tugas itu terlalu berat atau pun
alasan lainnya. Dalam situasi ini kita mungkin bisa mencontoh pengalaman Bunda Maria, yaitu
melihat tugas itu dalam kacamata seluruh sejarah keselamatan Allah bagi manusia. Artinya
setiap manusia menjadi rekan kerja Allah dalam mewujudkan keselamatan bagi dirinya dan
sesamanya. Mungkin mendengar hal itu kita menjadi minder dan kecil hati dengan bertanya:
Siapakah diri kita, kok bisa menyelamatkan seluruh dunia?
Dalam hal ini kita perlu ingat, Kerajaan Allah justru bermula dari hal-hal kecil dan sederhana
yang hampir tidak diperhatikan dan diperhitungkan orang lain. Lagi-lagi Maria bisa menjadi
contoh bagi diri kita untuk berani mengatakan:
TERJADILAH PADAKU MENURUT KEHENDAKMU.