Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

TEORI JARINGAN SOSIAL DAN


DUKUNGAN SOSIAL, ASPEK SOSIAL
DALAM KESEHATAN REPRODUKSI DAN
KELUARGA
[Document subtitle]

OLEH :
FATMA MELANI (P1807216003)
SRI HERTATI ENDANG (P1807216004)
PROGRAM PASCASARJANA
KONSENTRASI KESEHATAN REPRODUKSI
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2017
0
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Alaikum Wr.Wb

Pertama-tama kami mengucapkan Puji Syukur kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat, bimbingan, dan pertolongan-Nya sehingga Makalah yang berjudul
teori jaringan sosial dan dukungan sosial, aspek sosial dalam kesehatan reproduksi dan
keluarga ini dapat terselesaikan dengan baik.

Salawat dan salam kepada panutan kebenaran,Nabi Muhammad SAW yang


membimbing hamba-hambanya menuju kehadirat Sang Pencipta dalam naungan cahaya suci.
Dalam penyusunan makalah ini,tidak sedikit hambatan dan rintangan yang dihadapi
oleh penulis. Mulai dari penyusunan kata-katanya hingga sampai pada referensi yang menjadi
acuan oleh penulis, namun dengan bantuan, bimbingan, dorongan, dan petunjuk dari berbagai
pihak, akhirnya semua hambatan dan rintangan tersebut dapat teratasi dengan baik.
Akhirnya, dengan menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan,
kepada para pengguna dan pendidik, penulis selalu mengharapkan kritik dan saran untuk
penyempurnaan makalah ini.

1
DAFTAR ISI
Hal

Halaman Judul................................................................................................................ 1
Kata Pengantar................................................................................................................ 1
Daftar isi.............................................................................................................................. 2

BAB I PENDAHULUAN................................................................................................... 3

1.1 Latar Belakang Masalah................................................................................................ 3

1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................................... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................................... 4

2.1 TeoriI Jaringan sosial dan Dukungan Sosial.................................................................. 4

2.2 Aspek sosial................................................................................................................... 7

2.3 Kesehatan Reproduksi dan Keluarga............................................................................. 10

2.4 Masalah Aspek Sosial dalam Kesehatan Reproduksi Dan Keluarga............................. 15

BAB III PENUTUP............................................................................................................. 19

3.1 Kesimpulan.................................................................................................................... 19

3.2 Saran.............................................................................................................................. 19

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................... 20

LAMPIRAN JURNAL........................................................................................................ 21

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Aspek sosial dan budaya sangat mempengaruhi pola kehidupan manusia. Di
eraglobalisasi sekarang ini dengan berbagai perubahan yang begitu ekstrem menuntut
semuamanusia harus memperhatikan aspek sosial budaya.
Salah satu masalah yang kini banyak merebak di kalangan masyarakat adalah
kematian ataupun kesakitan pada ibu dan anak yangsesungguhnya tidak terlepas dari
faktor-faktor sosial budaya dan lingkungan di dalammasyarakat dimana mereka berada.
Disadari atau tidak, faktor-faktor kepercayaan dan pengetahuan budaya seperti konsepsi-
konsepsi mengenai berbagai pantangan, hubungan sebab- akibat antara makanan dan
kondisisehat-sakit, kebiasaan dan ketidaktahuan, seringkali membawa dampak baik
positif maupun negatif terhadap kesehatan ibu dan anak
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang ingin di capai dalam penulisan makalah ini, adalah :
- Teori Jaringan Sosial dan Dukungan Sosial
- Kesehatan Reproduksi dan Keluarga
- Aspek Sosial dalam Kesehatan Reproduksi dan Keluarga

BAB II
3
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Jaringan sosial dan Dukungan Sosial


Istilah integrasi sosial telah digunakan untuk merujuk pada adanya ikatan sosial.
Istilah jaringan sosial mengacu pada jaringan hubungan sosial yang mengelilingi
individu. Ketentuan dukungan sosial merupakan salah satu fungsi penting hubungan
sosial. Jaringan sosial adalah keterkaitan antara orang-orang yang mungkin (atau
mungkin tidak) memberikan dukungan sosial dan yang dapat melayani fungsi selain
memberikan dukungan.

Dukungan sosial telah didefinisikan dan diukur dengan berbagai cara. Menurut
Home (1981), dukungan sosial adalah konten fungsional hubungan yang dapat
dikategorikan ke dalam empat jenis perilaku pendukung yang mendukung:

Dukungan emosional melibatkan penyediaan empati, cinta, kepercayaan, dan


perhatian

Dukungan instrumental melibatkan penyediaan bantuan dan layanan yang nyata yang
secara langsung membantu seseorang yang membutuhkan.

Dukungan informasi melibatkan penyediaan saran, , dan informasi yang dapat


digunakan seseorang untuk mengatasi masalah

Dukungan penilaian melibatkan penyediaan informasi yang berguna untuk tujuan


evaluasi diri, dengan kata lain, umpan balik yang konstruktif, penegasan dan
perbandingan sosial.

Konsep Defiinisi
Jaringan sosial Jaringan hubungan sosial yang berpusat
pada orang
Karakteristik jaringan sosial yang dipilih:
timbal balik Sejauh mana sumber daya dan dukungan
diberikan dan diterima dalam suatu hubungan
Intensitas Sejauh mana hubungan sosial menawarkan
kedekatan emosional
Kerumitan Sejauh mana hubungan sosial
menyelamatkan banyak fungsi

4
Kepadatan Sejauh mana anggota jaringan mengetahui
dan berinteraksi satu sama lain
Homogenitas Luasnya anggota jaringan yang demografis
serupa
Dispersi geografis Luasnya anggota jaringan yang tinggal
berdekatan dengan focal person
Dukungan sosial Bantuan dan bantuan ditukar melalui
hubungan sosial dan transaksi
interpersonal
Jenis dukungan sosial:
Bantuan emosional Ungkapan empati, cinta, kepercayaan, dan
kepedulian
Dukungan instrumental Bantuan dan layanan yang nyata
Dukungan informasi Nasihat. Saran, dan informasi
Dukungan penilaian Informasi yang berguna untuk evaluasi diri

MODEL KONSEPTUAL HUBUNGAN JARINGAN SOSIAL DAN DUKUNGAN SOSIAL


TERHADAP KESEHATAN

Mekanisme yang di lalui jejaring sosial dan dukungan sosial mungkin memiliki
dampak positif terhadap kesehatan fisik, mental, dan sosial yang dirangkum dalam Gambar
9.1. Model tersebut menggambarkan jejaring sosial dan dukungan sosial sebagai titik awal
pemrakarsa arus sebab akibat menuju hasil kesehatan. Sebenarnya, banyak hubungan yang
ada pada gambar 9.1 mengandung pengaruh timbal balik; Misalnya, status kesehatan akan
mempengaruhi sejauh mana seseorang mampu mempertahankan dan memobilisasi jaringan
Jaringan sosial dan dukungan sosial
sosial.

Stresor

Mengatasi sumber daya individu Perilaku kesehatan


- Kemampuan sifat factor resiko
memecahkan masalah sifat kesehatan
Akses ke kontak dan preventive
informasi baru sifat penyakit

Perceived control

Sumber daya organisasi dan


masyarakat 5
Kesehatan fisik, mental, dan Pemberdayaan
sosial masyarakat
Kompetensi
masyarakat
JARINGAN SOSIAL DAN INTERVENSI DUKUNGAN SOSIAL

Jenis intervensi Contoh kegiatan intervensi Referensi yang dipilih


Meningkatkan hubungan Pelatihan anggota jaringan Heaney, 1991
jaringan sosial yang ada dalam keterampilan untuk
Sandler and others 1992
memberikan dukungan
Pelatihan individu fokus Wing and Jeffery, 1999
dalam memobilisasi dan
mempertahankan jaringan
sosial
Pendekatan sistem
(misalnya, konseling
perkawinan dan terapi
keluarga)
Mengembangkan jejaring Membuat hubungan dengan Heller and others, 1991
sosial baru mentor
Helgeson and gottlieb, 2000
Mengembangkan sistem
Chelsler and Chesney, 1995
persahabatan

Mengkoordinasikan
kelompok swadaya

6
Meningkatkan jaringan Identifikasi pembantu alami Eng and hatch, 1991
melalui penggunaan tenaga di masyarakat
Earp and others, 1997
alami asli
Analisis jaringan sosial
alami yang ada

Pelatihan pembantu alam


dalam topik kesehatan dan
strategi pemecahan masalah
masyarakat
Meningkatkan jaringan Identifikasi jaringan yang Minkler, 2001
melalui pengembangan tumpang tindih di dalam
Boutilier, cleverly, and
kapasitas masyarakat dan masyarakat
labonte, 2000
pemecahan masalah
Pemeriksaan karakteristik
jaringan sosial anggota
kelompok sasaran yang
dipilih

Fasilitasi identifikasi
masalah masyarakat yang
sedang berlangsung dan
pemecahan masalah

2.2 Aspek Sosial


A. Definisi
Pengertian Sosial adalah Kata sosial berasal dari bahasa latin yaitu socius
yang berarti segala sesuatu yang lahir, tumbuh, dan berkembang dalam kehidupan
bersama (Salim, 2002). Sudarno (dalam Salim, 2002) menekankan pengertian sosial
pada strukturnya, yaitu suatu tatanan dari hubungan-hubungan sosial dalam
masyarakat yang menempatkan pihak-pihak tertentu (individu, keluarga, kelompok,
kelas) didalam posisi-posisi sosial tertentu berdasarkan suatu sistem nilai dan norma
yang berlaku pada suatu masyarakat pada waktu tertentu.
Cakupan sosial menurut Sudarno ada dua yaitu interaksi sosial dan hubungan
sosial. Interaksi sosial didefenisikan sebagai interaksi lembaga sosial, individu, dalam
tata hubungan yang dikendalikan oleh kepentingan tertentu (Salim, 2002), sedangkan
7
Soerjono Soekanto mendefenisikan interaksi sebagai hubungan timbal balik antara
individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan antara kelompok dengan
kelompok (Ibrahim, 2003). Hubungan sosial merupakan hubungan antara lembaga,
individu yang bersifat umum yang memiliki dasar kegiatan kemasyarakatan
(Soedarno dalam Salim, 2002).
B. Perubahan Sosial Budaya
Dalam teori HL blum tentang status ksehatan,maka dijelaskan tentang
beberapa faktor yang mempengaruhi status kesehatan, antara lain:
1. Lingkungan yang terdiri dari lingkungan fisik, sosial
budaya,ekonomi,prilaku,keturunan,dan pelayanan kesehatan.
2. Blum juga menjelaskan,bahwa lingkungan sosial budaya tersebut tidak saja
mempengaruhi status kesehatan,tetapi juga mempengaruhi perilaku kesehatan.
Sebagaimana kita ketahui bahwa masyarakat Indonesia terdiri dari banyak suku
bangsa yang mempunyai latar budaya yang beraneka ragam.lingkungan budaya
tersebut sangat mepegaruhi tingkah laku manusia yang memiliki budaya
tersebut,sehingga dengan beranekaragam budaya,menimbulkan variasi dalam perilaku
manusia dalam segala hal, termasuk dalam perilaku kesehatan.
Dengan masalah tersebut,maka petugas kesehatan yang memberikan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat dangan latar budaya yang beraneka ragam, perlu sekali
mengetahui budaya dan masyarakat yang dilayaninya,agar pelayanan kesehatan yang
diberikan kepada masyarakat akan memberikan hasil yang optimal,yaitu
meningkatkan kesehatan masyarakat.
C. Aspek Sosial yang Mempengaruhi Kesehatan
Determinan Sosial yang mempengaruhi Kesehatan :
Pendapatan dan ekonomi : kesempatan kerja, akses pendidikan
Lingkungan sosial dan status sosial : jaringan yang mendukung, paparan terhadap
diskriminasi
Lingkungan fisik
Budaya dan faktor masyarakat : kesehatan diri dan praktik seksual, gender, ras,
tekanan dan perilaku masyarakat, biologi, genetik
Pelayanan kesehatan : akses yang setara dalam aspek pengobatan dan pencegahan
melalui pendekatan gender dan sosial budaya, pelayanan yang mendukung akses
tersebut

8
Menurut H. Ray Elling (1970) dan G.M Foster (1973) aspek sosial yang akan
mempengaruhi perilaku masyarakat dalam bidang kesehatan diantaranya adalah :
A. Pengaruh self Concept terhadap perilaku
Self Concept ditentukan oleh tingkatan kepuasan yang dirasakan oleh diri
sendiri terutama bagaimana cara individu itu dapat merefleksikan kepuasannya
kepada orang lain. Apabila orang lain merasakan kepuasan yang kita berikan
direspon sebagai hal yang positif maka orang lain akan merasakan kepuasan yang
yang sama. Tetapi sebaliknya apabila kepuasan yang kita berikan direspon negatif
oleh masyarakat maka dalam jangka waktu lama masyarakat akan merasa tidak
puas. Kondisi semacam ini kita harus melakukan promosi bagai mana tingkat
kepuasan yang kita terima akan direspon positip bagi orang lain . Misal : apabila
kita merasa puas dengan sistem kartu gosok pendaftaran, sedangkan orang lain
merasa lebih repot, maka Rumah Sakit harus melakukan upaya penjelasan sistem
tersebut justru akan lebih memudahkan. Self Contact adalah hal yang penting
dalam upaya kesehatan, karena akan mempengaruhi perilaku masyarakat
B. Pengaruh Image kelompok terhadap perilaku kesehatan
Image perorangan akan sangat dipengaruhi oleh image kelompok.
Sebagai Contoh: seorang guru apabila sakit akan berobat ke dokter, sedangkan
bapak petani apabila sakit pergi ke dukun, maka akan berpengaruh pada keluarga
petani juga akan berobat ke dukun, walaupun sekolah menganjurkan ke
Puskesmas,
Image masyarakat bahwa patah tulang harus disembuhkan pada dukun
sangkal putung maka apabila ada keluarga kita patah tulang akan dibawa ke
sangkal putung bukan ke dokter orthopedi
C. Pengaruh Indentifikasi Individu dalam kelompok terhadap perilaku kesehatan
Beberapa indentitas sosial yang mempengaruhi status kesehatan
diantaranya :
1. Umur
2. Jenis kelamin,
3. Pekerjaan,
4. Sosial ekonomi
Dalam segi epidemiologi faktor individu sangat berpengaruh dalam status
kesehatan disamping, lingkungan dan agent.Indentifikasi tersebut akan
mempengaruhi dalam pembentukan kelompok sosial dan cara aktifitasnya,
9
dimana kelompok sosial kemudian membentuk budaya/ perilaku kelompok.
Contoh : Perilaku anak muda yang merokok dimulai dari individu dalam
kelompok, Kelompok kerja dengan debu akan merangsang orang lain pakai
masker dll. Perilaku kelompok suatu desa lebih senang BAB disungai ternyata
ketika mereka BAB di sungai terbiasa terjadi transaksi pekerjaan, perjodohan dll,
sehingga walaupun dibuatkan tempat BAB yang baik mereka tetap akan kembali
disungai
Jika dilihat dari aspek umur, maka ada perbedaan golongan penyakit
berdasarkan golongan umur, misalnya dikalangan balita banyak yang menderita
penyakit infeksi, sedangkanpada golongan dewasa atau usia lanjut lebih banyak
menderita penyakit kronis. Demikian juga dengan aspek golongan menurut jenis
kelamin, dikalangan wanita lebih banyak menderit kanker payudara,sedangkan
pada pria,lebih banyak menderita kanker prosat. Begitu juga dengan jenis
pekerjaan, dikalangan petani lebih banyak menderita penyakit cacingan, karena
aktifiasnya banyak dilakukan disawah, sedangkan pada buruh tekstil lebih banyak
menderita penyakit salura pernafasan karena banyak terpapar debu. Keadaan
sosial ekonomi juga mempengaruhi pada pola penyakit,bahkan juga berpengaruh
pada kematian, misalnya angka kematian lebih tinggi pada golongan yang status
ekonominya rendah dibandingkan dengan status ekonominya tinggi. Demikian
juga obesitas lenih ditemukan pada kalangan masyarakat dengan status ekonoinya
tinggi.

2.3 Kesehatan Reproduksi dan Keluarga


A. Definisi
Menurut BKKBN, (2001), defenisi kesehatan reproduksi adalah kesehatan
secara fisik, mental, dan kesejahteraan sosial secara utuh pada semua hal yang
berhubungan dengan sistem dan fungsi serta proses reproduksi dan bukan hanya
kondisi yang bebas dari penyakit dan kecacatan.
Menurut WHO kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sejahtera fisik,
mental dan sosial yang utuh bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam
segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi dan prosesnya.
Menurut Depkes RI, 2000 kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sehat
secara menyeluruh mencakup fisik, mental dan kehidupan sosial yang berkaitan
dengan alat, fungsi serta proses reproduksi yang pemikiran kesehatan reproduksi
10
bukannya kondisi yang bebas dari penyakit melainkan bagaimana seseorang dapat
memiliki kehidupan seksual yang aman dan memuaskan sebelum dan sesudah
menikah..
Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan
adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan
meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota
keluarga (Duvall dan Logan, 1986).
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga
karena adanya hubungan darah, perkawinan, atau adopsi. Mereka saling berinteraksi
satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta
mempertahankan suatu budaya (Bailon dan Maglaya,1978 ).
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala
keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah
satu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Departemen Kesehatan RI, 1988).

B. Ruang Lingkup

Menurut Depkes RI (2001) ruang lingkup kesehatan reproduksi sebenarnya


sangat luas, sesuai dengan definisi yang tertera di atas, karena mencakup keseluruhan
kehidupan manusia sejak lahir hingga mati. Dalam uraian tentang ruang lingkup
kesehatan reproduksi yang lebih rinci digunakan pendekatan siklus hidup (life-
cycle approach), sehingga diperoleh komponen pelayanan yang nyata dan dapat
dilaksanakan. Secara lebih luas, ruang lingkup kespro meliputi :

1. Kesehatan ibu dan bayi baru lahir


2. Keluarga Berencana

3. Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi Saluran Reproduksi ( ISR ), trmasuk


PMS-HIV / AIDS

4. Pencegahan dan penangulangan komplikasi aborsi

5. Kesehatan Reproduksi Remaja

6. Pencegahan dan Penanganan Infertilitas

7. Kanker pada Usia Lanjut dan Osteoporosis

11
8. Berbagi aspek Kesehatan Reproduksi lain misalnya kanker serviks, mutilasi
genetalia, fistula dll.

Pendekatan yang diterapkan dalam menguraikan ruang lingkup kesehatan


reproduksi adalah pendekatan siklus hidup, yang berarti memperhatikan kekhususan
kebutuhan penanganan sistem reproduksi pada setiap fase kehidupan, serta
kesinambungan antar-fase kehidupan tersebut. Dengan demikian, masalah kesehatan
reproduksi pada setiap fase kehidupan dapat diperkirakan, yang bila tak ditangani
dengan baik maka hal ini dapat berakibat buruk pada masa kehidupan selanjutnya

1. ibu hamil dan konsepsi


2. bayi dan anak
3. remaja
4. usia subur
5. usia lanjut

C. Hak Reprosuksi

Hak reproduksi perorangan adalah hak yang dimiliki oleh setiap orang, baik
laki-laki maupun perempuan (tanpa memandang perbedaan kelas sosial, suku, umur,
agama, dll) untuk memutuskan secara bebas dan bertanggung jawab (kepada diri,
keluarga, dan masyarakat) mengenai jumlah anak, jarak antar anak, serta penentuan
waktu kelahiran anak dan akan melahirkan. Hak reproduksi ini didasarkan pada
pengakuan akan hak-hak asasi manusia yang diakui di dunia internasional (Depkes RI,
2002).

Menurut Depkes RI (2002) hak kesehatan reproduksi dapat dijabarkan secara


praktis, antara lain :

1. Setiap orang berhak memperoleh standar pelayanan kesehatan reproduksi yang


terbaik. Ini berarti penyedia pelayanan harus memberikan pelayanan kesehatan
reproduksi yang berkualitas dengan memperhatikan kebutuhan klien, sehingga
menjamin keselamatan dan keamanan klien.
2. Setiap orang, perempuan, dan laki-laki (sebagai pasangan atau sebagai
individu) berhak memperoleh informasi selengkap-lengkapnya tentang

12
seksualitas, reproduksi dan manfaat serta efek samping obat-obatan, alat dan
tindakan medis yang digunakan untuk pelayanan dan/atau mengatasi masalah
kesehtan reproduksi.

3. Setiap orang memiliki hak untuk memperoleh pelayanan KB yang aman,


efektif, terjangkau, dapat diterima, sesuai dengan pilihan, tanpa paksaan dan
tak melawan hukum.

4. Setiap perempuan berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang


dibutuhkannya, yang memungkinkannya sehat dan selamat dalam menjalani
kehamilan dan persalinan, serta memperoleh bayi yang sehat.

5. Setiap anggota pasangan suami-isteri berhak memilki hubungan yang didasari


penghargaan

6. Terhadap pasangan masing-masing dan dilakukan dalam situasi dan kondisi


yang diinginkan bersama tanpa unsure pemaksaan, ancaman, dan kekerasan.

7. Setiap remaja, lelaki maupun perempuan, berhak memperoleh informasi yang


tepat dan benar tentang reproduksi, sehingga dapat berperilaku sehat dalam
menjalani kehidupan seksual yang bertanggungjawab

8. Setiap laki-laki dan perempuan berhak mendapat informasi dengan mudah,


lengkap, dan akurat mengenai penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS

Menurut ICPD (1994) hak-hak reproduksi antara lain :

1. Hak mendapat informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi.


2. Hak mendapat pelayanan dan perlindungan kesehatan reproduksi

3. Hak kebebasan berpikir tentang pelayanan kesehatan reproduksi

4. Hak untuk dilindungi dari kematian karena kehamilan

5. Hak untuk menentukan jumlah dan jarak kelahiran anak

6. Hak atas kebebasan dan keamanan berkaitan dengan kehidupan reproduksinya

7. Hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk termasuk


perlindungan dari perkosaan, kekerasan, penyiksaan, dan pelecehan seksual

13
8. Hak mendapatkan manfaat kemajuan, ilmu pengetahuan yang berkaitan
dengan kesehatan reproduksi

9. Hak atas kerahasiaan pribadi berkaitan dengan pilihan atas pelayanan dan
kehidupan reproduksinya

10. Hak untuk membangun dan merencanakan keluarga

11. Hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi dalam kehidupan berkeluarga
dan kehidupan reproduksi

12. Hak atas kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam politik yang berkaitan
dengan kesehatan reproduksi

Menurut Piagam IPPF/PKBI Tentang Hak-hak reproduksi dan Seksual adalah:

1. Hak untuk hidup


2. Hak mendapatkan kebebasan dan keamanan

3. Hak atas kesetaraan dan terbebas dari segala bentuk diskriminasi

4. Hak privasi

5. Hak kebebasan berpikir

6. Hak atas informasi dan edukasi

7. Hak memilih untuk menikah atau tidak serta untuk membentuk dan
merencanakan sebuah keluarga

8. Hak untuk memutuskan apakah ingin dan kapan punya anak

9. Hak atas pelayanan dan proteksi kesehatan

10. Hak untuk menikmati kemajuan ilmu pengetahuan

11. Hak atas kebebasan berserikat dan berpartisipasi dalam arena politik

12. Hak untuk terbebas dari kesakitan dan kesalahan pengobatan

D. Bagaimana Hak Reproduksi dapat Terjamin?

14
1. Pemerintah, lembaga donor dan masyarakat harus mengambil langkah-langkah
yang tepat untuk menjamin semua pasangan dan individu yang menginginkan
pelayanan kesehatan reproduksi dan kesehatan seksualnya terpenuhi;

2. Hukum-hukum dan kebijakan-kebijakan harus dibuat dan dijalankan untuk


mencegah diskriminasi, pemaksaan dan kekerasan yang berhubungan dengan
sekualitas dan masalah reproduksi; dan

3. Perempuan dan laki-laki harus bekerja sama untuk mengetahui haknya, mendorong
agar pemerintah dapat melindungi hak-hak ini serta membangun dukungan atas
hak-hak tersebut melalui pendidikan dan advokasi.

4. Konsep-konsep kesehatan reproduksi dan uraian hak-hak perempuan ini diambil


dari hasil kerja International Womens Health Advocates Worldwide.

5. Pelayanan kesehatan reproduksi diperlukan untuk memenuhi kebutuhan perempuan


sebagaimana mereka inginkan, serta mengetahui bahwa kebutuhan-kebutuhan ini
sangat beragam dan saling terkait satu dengan yang lain.

Hak Reproduksi maupun akses untuk mendapatkan Pelayanan Kesehatan


Reproduksi adalah penting, sehingga perempuan dapat:

1. Mempunyai pengalaman dalam kehidupan seksual yang sehat, terbebas dari


penyakit, kekerasan, ketidakmampuan, ketakutan, kesakitan, atau kematian yang
berhubungan dengan reproduksi dan seksualitas
2. Mengatur kehamilannya secara aman dan efektif sesuai dengan keinginannya,
menghentikan kehamilan yang tidak diinginkan, dan menjaga kehamilan sampai
waktu persalinan

Mendorong dan membesarkan anak-anak yang sehat seperti juga ketika mereka
menginginkan kesehatan bagi dirinya sendiri.

2.4 Masalah Sosial dalam Kesehatan Reproduksi dan Keluarga


1. Masalah kematian Ibu dan Anak
Permasalahan utama yang saat ini masih dihadapi berkaitan dengan kesehatan
ibu di Indonesia adalah masih tingginya angka kematian ibu yang berhubungan
dengan persalinan. Menghadapi masalah ini maka pada bulan Mei 1988 dicanangkan

15
program Safe Motherhood yang mempunyai prioritas pada peningkatan pelayanan
kesehatan wanita terutama paada masa kehamilan, persalinan dan pasca persalinan.
Angka Kematian lbu (AKl) merupakan indikator pembangunan kesehatan dan
indikator pemenuhan hak reproduksi perempuan serta kualitas pemanfaatan kesehatan
secara umum. Salah satu penyebab tingginya angka kematian ibu di Indonesia adalah
keterbatasan pengetahuan masyarakat tentang perawatan kehamilan dan adanya
pengaruh budaya yang telah diwariskan leluhur secara turun-temurun. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Wa Ode Puji Lestari 2016 di wilayah pesisir
Kecamatan Abeli (studi kasus) Kota Kendari dalam perawatan kehamilan ibu hamil
rutin memeriksakan kehamilan di puskesmas, masih ada kepercayaan berpantang
makanan dan anjuran makanan dan masih adanya peran dukun bayi dimanfaatkan
untuk mengurut perut terutama dalam acara yang berkaitan dengan perawatan
kehamilan.
2. Kekerasan dalam Rumah Tangga
Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) telah menjadi tren kehidupan
masyarakat sejak dahulu sampai sekarang. KDRT terjadi pada seluruh lapisan
masyarakat, kelas bawah dan paling. Bawah (lower and lower-lower class), kelas
menengah (middle class) dan kelas atas (high class).
Hasil survei Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak tahun 2006 oleh BPS
dan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan menyebutkan bahwa sebanyak
51,1 persen pelaku KDRT adalah suami, 11,7 persen orang tua/mertua, anak/cucu,
dan famili); 19,6 persen tetangga, 2,5 persen atasan/majikan, 2,9 persen rekan kerja,
0,2 persen guru, dan 8,0 persen pelaku lainnya (sumber BPS, 2000: 24)
3. Narkoba dan seks Bebas Pada Remaja
Penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Studi Cintadan Kemanusiaan
(LSCK) yang melibatkan respondensebanyak 1.660 mahasiswa dari berbagai
perguruan tinggi di Yogyakarta mendapatka hasil bahwa 97,5% dari responden
mengaku telah melakukan perilaku seksualpranikah (Administrator, 2011) Penelitian
lainnya oleh LSM Sahara Indonesia terhadap 1000 orang mahasiswa dikota Bandung
pada tahun 2002 menemukan bahwa 44,8%mahasiswi remaja kota Bandung sudah
pernah melakukan hubungan intim. (Masunah. 2012)
Faktor penyebab seks bebas yang dialami remaja dapat dikategorikan menjadi
dua yaitu:

16
1. Faktor Internal. Faktor internal atau lebih lazimnya dari dalam diri seseorang
remaja itu. Keinginan untuk dimengerti lebih dari orang lain bisa menjadi
penyebab remaja melakukan tindakan penyimpangan, sikap yang terlalu
merendahkan diri sendiri atau selalu meninggikan diri sendiri, jika terlalu
merendahkan diri sendiri orang remaja lebih mencari jalan pintas untuk
menyelesaikan sesuatu dia beranggapan jika saya tidak begini saya bisa dianggap
orang lain tidak gaul, tidak mengikuti perkembangan zaman.
2. Faktor Eksternal. Faktor Eksternal / faktor dari luar pribadi seseorang remaja.
Faktor paling terbesar memberi terjadinya prilaku menyimpang seseorang remaja
yaitu lingkungan dan sahabat. Seseorang sahabat yang sering berkumpul bersama
dalam satu geng, otomatis dia akan tertular oleh sikap dan sifat kawannya
tersebut. Kasih sayang dan perhatian orang tua tidak sepenuhnya tercurahkan,
membuat seorang anak tidak betah berada di dalam rumah tersebut, mereka lebih
senang untuk berada di luar bersama kawan-kawannya. Apalagi keluarga yang
kurang harmonis dan kurangnya komunikasi dengan orang tua dapat
menyebabkan seorang anak melakukan penyimpangan sosial serta seks bebas
yang melanggar nilai-nilai dan norma sosial. Apabila ayah dan ibu mereka yang
memiliki kesibukan di luar rumah akan membuat anak-anak remaja semakin
menjadi-jadi, sehingga mereka merasa tidak diperdulikan lagi.

Selain faktor internal dan eksternal di atas, ada juga faktor lain yang secara umum
dapat menyebabkan terjadinya seks bebas yaitu:
Pergaaulan. Kita tahu pergaulan punya pengaruh besar terhadap perilaku kita.
Maka jika seseorang mempunyai lingkungan pergaulan dari kalangan teman-
teman yang suka melakukan seks bebas, maka dia juga bisa terpengaruh dan
akhirnya ikut melakukan seks bebas.
Pengaruh materi pornografi (film, video, internet dsb). Jika seseorang berulang
kali mengakses materi pornografi, maka ini bisa mendorong terjadinya perilaku
seks bebas.
Pengaruh obat/narkoba dan alkohol. Seseorang yang bebas dari pengaruh
narkoba dan alkohol bisa berfikir jernih dan ini mencegah dia melakukan
perilaku berisiko. Dalam keadaan dipengaruhi oleh narkoba dan alkohol, maka

17
pemikiran jernih bisa menurun dan ini bisa mendorong terjadinya perilaku seks
bebas.
Jadi kombinasi dari sejumlah faktor diataslah yang merupakan penyebab seks
bebas dan bukan kondom. Jadi untuk mereka yang khawatir bahwa kondom akan
mendorong seks bebas, marilah merenungkan kembali hal ini dengan jernih dan
bijaksana. Adalah sangat kecil kemungkinannya bahwa hanya gara-gara tahu tentang
kondom atau menerima pembagian kondom gratis maka seseorang mendadak lalu jadi
berani jajan seks atau melakukan hubungan seks berisiko.

18
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Mekanisme yang di lalui jejaring sosial dan dukungan sosial memiliki dampak positif
terhadap kesehatan fisik, mental, dan sosial serta memiliki hubungan timbal balik satu
dengan yang lainnya.
2. Aspek sosial memiliki pengaruh yang besar dalam masalah kesehatan reproduksi dan
keluarga

3.2 Saran
Uraian sebelumnya telah memperlihatkan bahwa dalam upaya meningkatkan derajat
kesehatan reproduksi dan keluarga melalui program-program pembangunan kesehatan perlu
memperhatikan aspek-aspek sosial-budaya masyarakat. Menempatkan petugas kesehatan dan
membangun fasilitas kesehatan semata tidaklah cukup untuk mengatasi masalah-masalah
kesehatan reproduksi di suatu daerah. Seperti diketahui ternyata perilaku-perilaku kesehatan
di masyarakat baik yang menguntungkan atau merugikan kesehatan banyak sekali
dipengaruhi oleh faktor sosial budaya.

19
DAFTAR PUSTAKA

Buku The2nd Adolescent Health National Symposia: Current Challenges in Management.

Buku Keluaran dari BKKBN (Bahan Buku Saku Sosialisasi KB Pria)

Notoatmodjo, S. (1993). Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Perilaku Kesehatan.


Yogyakarta: Andi Offset.

Muzaham, F. (1995). Memperkenalkan Sosiologi Kesehatan. Jakarta: UI Press.

Bobak, I. M., Lowderwilk, D. L. L., Jensen, M. D. (2005). Buku Ajar Keperawatan


Maternitas (terjemahan, edisi 4). Jakarta: EGC

Friedman, M. M (1992). Keperawatan keluarga: Teori dan Praktik, edisi ketiga. Jakarta:
EGC.

Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan .Pencegahan dan Penanganan


Kekerasan dalam Rumah Tangga, , Jakarta Utara, pada 4 Juli 2012 di Rawa Badak, Jakarta
Utara.

Masunah, Juju. 2012. Profil Pendidikan, Kesehatan, dan Sosial Remaja Kota Bandung :
Masalah dan Alternatif Solusinya. http://www.bkkbn.go.id/litbang/pusdu/Hasil a Kota
Bandung Masalah dan Alternatifnya.pdf. Bandung :LPPM Universitas Pendidikan Indonesia.
(15 September 2017)

Kuntjoro, Z. S. (2002). Dukungan pada Lansia. Dibuka pada tanggal 2 Desember 2006, dari
http://www.e-psikologi.com/usia/160802.htm

Salim, A. (2002). Perubahan Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana

20

Anda mungkin juga menyukai