Anda di halaman 1dari 10

Laporan Praktikum ke-8 Hari, tanggal : Senin, 13 November 2017

Kesehatan Hewan Ternak Waktu : 13.00 17.00 WIB


Dosen : Prof. Dr. drh. I Wayan T. Wibawan, MS
Drh. Henny E. Anggraeni, MSc
Drh. Heryudianto Vibowo
Asisten : Catwarendah Maya Pradipta, AMd

FASILITAS PETERNAKAN AYAM PETELUR


DAN BIOSECURITY

Kelompok 2 Praktikum 2

Ananda Sarah N.A. J3P115011


Nanda Finisa J3P115022
Ramadhani F. J3P115026
Farisna Juliani J3P115028
Ridho Rizki Kurniawan J3P115041

PROGRAM KEAHLIAN PARAMEDIK VETERINER


PROGRAM DIPLOMA IPB
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2017
PENDAHULUAN

Ayam merupakan salah satu hewan unggas yang dapat dipelihara dan
dimanfaatkan hasil produksinya. Hasi produksi yang dapat dimanfaatkan antara lain
daging, telur dan bulunya. Ayam menjadi bahan makanan yang paling banyak
digunakan oleh manusia. Selain karena rasanya yang lezat, daging ayam juga
mengandung banyak gizi yang bermanfaat untuk manusia. Ayam juga menjadi
pilihan karena mudah ditemukan. Banyak peternak menjadikan ayam sebagai hwan
ternak, karena dapat menghasilkan keuntungan yang menjanjikan. Meski begitu,
ayam merupakan hewan yang rentan terhadap penyakit. Terutama pada ayam
pedaging yang biasanya diternakkan dalam satu kandang yang berisi ratusan
bahkan ribuan ayam. Dengan kondisi seperti ini, bukan tidak mungkin penyebaran
penyakit sangat mudah terjadi. Oleh sebab itu, peternak harus menerapkan
pengendalian dan pencegahan penyakit dengan meningkatkan biosekuriti di dalam
lingkungan peternakan.
Biosekuriti adalah salah satu upaya yang dilakukan untuk mencegah masuk
dan keluarnya penyakit ke luar dan/atau ke dalam peternakan. Biosekuriti di dalam
peternakan meliputi biosekuriti konseptual, biosekuriti struktural dan biosekuriti
operasional. Ketiga macam biosekuriti ini harus berjalan secara bersamaan untuk
menghasilkan hasil yang optimal. Salah satu bentuk aplikasi biosekuriti adalah
desain peternakan yang meliputi lokasi, tipe peternakan, jenis hewan ternak serta
fasilitas yang diperlukan dalam sebuah peternakan. Tujuan dari praktikum kali ini
adalah untuk membuat desain sebuah peternakan ayam yang baik serta
menguraikan fasilitas-fasilitas yang terdapat dalam sebuah peternakan unggas.

METODE KERJA
Lokasi dan Waktu

Praktikum dilaksanakan di Kampus IPB Gunung Gede, GG Kandang.


Praktikum berlangsung sejak pukul 13.00 WIB sampai 17.00 WIB. Selama
praktikum, praktikan dibimbing oleh tim dosen mata kuliah Kesehatan Hewan
Ternak beserta asisten praktikum.

Alat dan Bahan

Pembuatan denah peternakan ayam pada praktikum dibutuhkan beberapa


alat dan bahan. Alat yang dibutuhkan antara lain tali rapia, batu, dan ranting pohon.
Bahan yang dipergunakan untuk membuat denah peternakan yaitu daun dan
pelepah pisang.

Metode

Langkah pertama yaitu sketsa peternakan dibuat terlebih dahulu lalu, alat
dan bahan dipersiapkan. Setelah itu, dibuatlah persegi panjang seperti sketsa
sebagai batas luar area peternakan. Kemudian dibagi menjadi tiga bagian besar
menjadi zona merah (area kotor), zona kuning (area transisi), dan zona hijau (area
bersih). Terakhir setiap zona dibagi lagi menjadi beberapa bagian seperti yang telah
digambar pada sketsa.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Peternakan ayam pada umumnya memiliki biosekuriti yang berfungsi


sebagai pintu utama tindakan pencegahan terjadinya suatu penyakit. Maka dari itu
peternakan ayam harus memiliki denah yang baik agar system biosekuriti dalam
suatu peternakan berjalan dengan baik. Sebelum membuat denah peternakan ayam,
terlebih dahulu masuk ke kandang ayam layer untuk mengetahui peralatan yang
terdapat pada suatu kandang ayam. Pada kandang ayam layer tersebut, usia ayam
sekitar lima minggu dengan bobot tubuh rata-rata yang dimiliki sekitar 373 gr.
Pemberian pakan berkisar 112 gr/ pemberian. Peralatan yang terdapat pada kandang
ayam layer dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Peralatan Kandang Ayam Layer
No. Nama dan Gambar Fungsi
1. Feeder Tray Sebagai tempat pakan yang di letakkan
di lantai kandang.
2. Hanging Feeder Tempat pakan yang di letakkan
menggantung
3. Lampu Lampu pada kandang berfungsi untuk
menghangatkan lingkungan sekitar
kandang dan tubuh ayam
4. Chick Guard Berfungsi untuk membantu agar panas
brooding tetap terfokus dan DOC tidak
menyebar keseluruh ruang kandang
5. Tempat minum Menyimpan air minum yang di letakkan
menggantung di kandang ayam
6. Litter (alas kandang) Berfungsi untuk menampung dan
menyerap air dan feses ayam,
meminimalkan terjadinya lepuh dada
dan kaki, serta menjaga kehangatan
kandang brooder
7. Tirai luar Berupa terpal yang berfungsi untuk
meminimalisasi angina yang masuk dan
juga percikan air yang masuk saat hujan
turun
8. Paranet Paranet berfungsi sebagai sekat antar
kandang
9. Chicken Feeder Tempat pakan ayam
10. Terminal Sebagai sumber listrik untuk
menyalakan lampu dan juga timbangan
digital
11. Tempat penyimpanan peralatan Berfungsi untuk menyimpan peralatan
kandang seperti persediaan pakan,
tempat pakan dan minum
12. Timbangan Berfungsi untuk menimbang bobot
tubuh ayam
13. Termometer Untuk memeriksa kestabilan suhu
tubuh ayam
14. Atap Melindungi kandang dari angin, hujan
dan terik matahari

Ayam dan timbangan Tempat penyimpanan Pakan ayam


peralatan dan temapat
pakan

Desinfektan Fasilitas di dalam kandang ayam


DENAH PETERNAKAN AYAM
Keterangan:
1. Gerbang
2. Tempat Parkir
3. Kantor
4. Mess Pegawai
5. Dipping/ Spraying
6. Gudang Peralatan
7. Gudang Sekam
8. Gudang Pakan
9. Gudang Penyimpanan Telur
10. Kamar Mandi, Ruang Ganti
11. Ruang pakan kecil
12. Kandang
Menurut Winkel (1997) biosekuritas merupakan suatu sistem untuk
mencegah penyakit baik klinis maupun subklinis, yang berarti sistem untuk
mengoptimalkan produksi unggas secara keseluruhan, dan merupakan bagian untuk
mensejahterakan hewan (animal welfare). Menurut Shulaw dan Bowman (2001),
biosekuriti adalah semua praktek-praktek manajemen yang diberlakukan untuk
menghilangkan organisme penyebab penyakit ayam dan zoonosis yang masuk dan
keluar peternakan.
Tujuan utama dari penerapan biosekuriti yaitu, (1) pemberian penyakit, (2)
kesempatan kerja agen berhubungan dengan induk semang, (3) buatlah tingkat
kontaminasi lingkungan oleh agen penyakit seminimal mungkin (Zainuddin dan
Wibawan, 2007). Penerapan biosekuriti pada seluruh sektor peternakan, baik di
industri perunggasan atau peternakan lainnya akan mengurangi risiko penyebaran
mikroorganisme penyebab penyakit yang terasing sektor tersebut. Meski
biosekuriti bukan satu - satunya upaya pencegahan terhadap serangan penyakit,
namun biosekuriti merupakan garis pertahanan pertama terhadap penyakit
(Cardona, 2005).
Biosekuriti mempunyai tiga komponen yaikni biosekuriti konseptual,
biosekuriti structural dan biosekuriti operasional. Biosekuriti konseptual
merupakan biosekuriti tingkat pertama dan menjadi basis dari seluruh program
pencegahan penyakit, meliputi pemilihan lokasi kandang, pemisahan umur unggas,
control kepadatan dan kontak dengan unggas liar, serta penetapan lokasi khusus
untuk gudang pakan atau tempat mencampur pakan.
Biosekuriti struktural, merupakan biosekuriti tingkat kedua, meliputi hal-hal
yang berhubungan dengan tataletak peternakan (farm), pernbuatan pagar yang-
benar, pembuatan saluran pembuangan, penyediaan peralatan dekontaminasi,
instalasi penyimpanan pakan, ruang ganti pakaian dan peralatan kandang.
Sedangkan biosekuriti operasional adalah biosekuriti tingkat ketiga, terdiri
dari prosedur manajemen untuk mencegah kejadian dan penyebaran infeksi dalam
suatu farm. Biosekuriti ini harus ditinjau secara berkala dengan melibatkan seluruh
karyawan, berbekal status kekebalan terhadap penyakit. Biosekuriti operasional
terdiri atas tiga hat pokok, yakni (a) pengaturan traffic control, (b) pengaturan dalam
farm dan, (c) desinfeksi yang dipakai untuk semprot kandang maupun deeping
seperti golongan fenol (alkohol, lisol dan lainnya); formalin; kaporit; detergen,
iodine dan vaksinasi. (Dwicipto, 2010). Menurut Jeffrey (1997), menerapkan
biosekuriti pada peternakan petelur dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu (1)
isolat, (2) pengendalian lalu lintas, dan (3) sanitasi.

Isolasi
Isolasi mengandung pengertian penempatan atau penataan hewan di
lingkungan yang terkendali. Pengandangan atau pemagaran kandang akan menjaga
dan menjaga unggas serta menjaga masuknya hewan lain ke dalam kandang. Isolasi
ini diterapkan juga dengan memisahkan ayam menurut kelompok umur.
Selanjutnya, penerapan manajemen all-in / all-out pada peternakan besar
mempraktekan depopulasi secara berkesinambungan, dan memberi kesempatan
pelaksanaan pembersihan dan disinfeksi seluruh kandang dan peralatan untukendus
siklus penyakit (Jeffrey 1997).

Pengendalian lalu lintas


Pengendalian lalu lintas ini diterapkan terhadap lalu lintas ke peternakan
dan lalu lintas di dalam peternakan. Pengendalian lalu lintas ini diterapkan pada
manusia, peralatan, barang, dan bahan. Pengendalian ini merupakan fasilitas
penyediaan air minum dan penyemprotan pada pintu masuk untuk kendaraan,
penyemprotan desinfektan terhadap peralatan dan kandang, sopir, penjual, dan
petugas lainnya dengan ganti pakaian ganti dengan yang khusus. Pemerikasaan
kesehatan hewan yang datang dan adanya Surat Keterangan Kesehatan Hewan
(SKKH). (Jeffrey 1997).

Sanitasi
Sanitasi ini mencakup praktek disinfeksi bahan, manusia, dan peralatan
yang masuk ke peternakan, dan kebersihan pegawai di peternakan (Jeffrey 1997).
Sanitasi mencakup pembersihan dan disinfeksi secara teratur terhadap bahan -
bahan dan peralatan yang masuk ke peternakan. Pengertian disinfeksi adalah upaya
yang dilakukan untuk media media dari mikroorganisme secara fisik atau kimia,
antara lain seperti membersihkan disinfektan, alkohol, NaOH, dan lain-lain
(Anonim, 2000).

Desinfektan
Menurut Gernat (2004), disinfeksi adalah hal yang sangat penting menjaga
biosekuriti di daerah peternakan. Disinfeksi pada peternakan ditunjang adanya
fasilitas disinfektan, seperti kolam celup dan penyemprotan . Kolam mencelupkan
digunakan untuk merendam sepatu bot atau roda yang akan masuk ke peternakan.
Tempat penyemprotan yang digunakan untuk mendisinfeksi tubuh dari orang yang
akan masuk ke wilayah peternakan.
Semua peralatan yang berasal dari luar peternakan yang diinginkan
dienalasikan dalam ruangan yang tertutup sempurna selama dua hari. Dalam
ruangan ini, benda-benda itu difumigasi. Setelah dilakukan fumigasi, kemudian
diuji terhadap kontaminan oleh seorang staf ahli (EF, 2003). Penggunaan
disinfektan harus memperhatikan kandungan disinfektan tersebut sehingga
disinfektan tidak bisa dipakai dan sesuai dengan syarat disinfektan yang baik, yaitu
aman, efektif dan efisien (Smith, 2001).
Biosekuriti konseptual merupakan biosekuriti tingkat pertama dan menjadi
basis dari seluruh program pencegahan penyakit, meliputi pemilihan lokasi
kandang, pemisahan umur unggas, kontrol kepadatan dan kontak dengan unggas
liar, serta penetapan lokasi khusus untuk gudang pakan atau tempat mencampur
pakan. Biosekuriti struktural, merupakan biosekuriti tingkat kedua, meliputi hal-
hal yang berhubungan dengan tata letak peternakan (farm), pernbuatan pagar yang
benar, pembuatan saluran pembuangan, penyediaan peralatan dekontaminasi,
instalasi penyimpanan pakan, ruang ganti pakaian dan peralatan kandang.
Biosekuriti operasional adalah biosekuriti tingkat ketiga, terdiri dari prosedur
manajemen untuk mencegah kejadian dan penyebaran infeksi dalam suatu farm.
Biosekuriti ini harus ditinjau secara berkala dengan melibatkan seluruh karyawan,
berbekal status kekebalan unggas terhadap penyakit. Biosekuriti operasional terdiri
atas tiga hal pokok, yakni :
- pengaturan traffic control,
- pengaturan dalam farm dan,
- desinfeksi yang dipakai untuk semprot kandang maupun deeping seperti
golongan fenol (alkohol, lisol dan lainnya); formalin; kaporit; detergen,
iodine dan vaksinasi.
Salah satu jenis biosekuriti yang penting untuk diterapkan dalam lokasi
peternakan yaitu tata letak kandang (layout kandang). Layout kandang yang salah
akan berakibat fatal pada usaha peternakan yang dijalankan. Layout kandang yang
salah dapat menyebabkan ternak yang dipelihara dapat mudah terserang penyakit
dan mengakibatkan kematian. Dengan banyaknya ternak yang mati maka usaha
peternakan akan mengalami kerugian. Bagian dalam biosekuriti perkandangan
diantaranya adalah:
Biosecurity pada peternakan dibagi menjadi tiga area yaitu area kotor, area
transisi dan area bersih. Area kotor merupakan area yang dianggap paling kotor,
area ini dapat dimasuki oleh orang banyak orang. Area transisi merupakan area
peralihan dari area kotor ke area bersih. Area bersih merupakan area yang dianggap
bebas dari agen penyakit, orang yang masuk ke area ini sangat dibatasi dan harus
melalui beberapa tahap pembersihan. Yang termasuk ke dalam area kotor yaitu pos
penjaga, mess karyawan, tempat parkir, dan kantor administrasi. Yang termasuk
daerah transisi yaitu Gudang penyimpanan peralatan, Gudang pakan, Gudang alas
kandang, dan Gudang penyimpanan telur. Sedangkan untuk daerah bersih
merupakan daerah kandang.

1. Pintu Gerbang
Pintu gerbang pada peternakan ayam dalam keadaan tertutup dan tidak
semua orang dapat keluar masuk area peternakan. Namun, terdapat
kekurangan yaitu tidak adanya instalasi desinfeksi pertama yang sebaiknya
ada digerbang utama. Instalasi desinfeksi hanya penyemprotan kendaraan
pada area kantor. Sebaiknya di pintu gerbang terutama pada peternakan
unggas dipasang atau dibangun peralatan untuk proses desinfeksi sebagai
berikut:

Peralatan Sprayer dan Bak Celup (Dipping) Ban Kendaraan.


Peralatan sprayer dan bak celup dibuat sedemikian rupa sehingga setiap
kendaraan yang masuk ke kawasan peternakan dapat disterilkan dari segala
arah. Peralatan ini bisa dioperasikan baik secara otomatis maupun manual.
Kendaraan yang telah diizinkan masuk ke dalam suatu kawasan diwajibkan
untuk disemprot dan melalui bak dengan air yang telah diberi disinfektan.
Cara lain yang bisa dilakukan di pintu gerbang adalah cara pengasapan
(fogging) dengan disinfektan menggunakan alat jet fogger

2. Pos Satpam
Pos satpam pada peternakan broiler letaknya kurang tepat karena berada
di sebelah dalam sedangkan pada peternakan sapi potong tidak terdapat pos
satpam. Pos satpam sebaiknya dileakkan tidak jauh dari gerbang agar keluar
masuk kendaraa dan orang dapat mudah diawasi.

3. Tempat Parkir dan Ruang Tamu


Tempat parkir pada peternakan broiler telah cukup memadai namun
pada peternakan sapi potong tidak disediakan area parkir. Kendaraan dapat
masuk ke kandang sapi dan dapat mengkontaminasi penyakit kekandang atau
membawa penyakit dari kandang. Ruang tamu pada peternakan broiler dan
sapi potong tidak disediakan. Tamu yang datang langsung dapat masuk
kekantor, hal ini kurang baik dan seharusnya disediakan ruangan khusus
untuk tamu.

4. Gudang Pakan dan Peralatan


Gudang peralatan harus berada di area dekat dengan kandang untuk
mempermudah tata laksana pada peternakan

5. Drainase dan pengolahan limbah


Pengolahan limbah harus berada jauh dari area perkandangan agar area
perkandangan tetap bersih dan terhindar dari agen penyakit yang disebabkan
dari limbah

SIMPULAN

Dari hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa jenis peternakan yang dibuat
yaitu menggunakan konsep close house dan diperuntukkan bagi ayam petelur.
Secara umum fasilitas yang harus terdapat dalam peternakan adalah kandang,
kamar mandi untuk desinfeksi, penyimpanan telur, pengolahan limbah. Peternakan
harus menerapkan biosecurity yang tepat untuk mencegah keuar dan masuknya
penyakit.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2000. Katalog Produk .Jakarta: Agro makmur Sentosa.


Dwicipto. 2010. Manajemen Kesehatan dan Kesejahteraan Ternak. Fakultas
Peternakan Universitas Padjadjaran. Bandung,
[EF] Euribrid Farm. 2003. Persyaratan Biosecurity untuk Peternakan Unggas .
Boxmeer: Euribrid.
Gernat A. 2000. Manual lapangan biosekuritas peternakan unggas. Perpanjangan
Koperasi AG (651). [terhubung berkala] http: //www.ncsu.edu.html [17
november 2017].
Jeffrey JS. 1997. Biosecurity untuk unggas ternak. Lembar fakta unggas 1 (26).
[terhubung berkala] http: //www.vmtrc.ucdavis.edu.html [16 novembber
2017].
Zainuddin, D. dan Wibawan, WT 2007. Biosekuriti dan Manajemen Penanganan
Penyakit Ayam Lokal.
http://www.peternakan.litbang.deptan.go.id/attachments/biosekuriti_ayam
lokal.pdf [16 november 2017].