Anda di halaman 1dari 6

MUSEUM PURBAKALA SANGIRAN

A) Wilayah Sangiran Museum Sangiran


Sangiran adalah sebuah situs arkeologi di Jawa, Indonesia.Sangiran memiliki area sekitar 48
km. Secara fisiografis sangiran terletak pada zona Central Depression, yaitu berupa dataran
rendah yang terletak antara gunung api aktif, Merapi dan Merbabu di sebelah barat serta
Lawu di sebelah timur.

Secara administratif Sangiran terletak di Kabupaten Sragen (meliputi 3 Kecamatan yaitu


Kecamatan Kalijambe, Gemolong dan Plupuh serta Kecamatan Gondangrejo) dan kabupaten
Karanganyar, Jawa Tengah.Sangiran terletak di desa Krikilan, Kec. Kalijambe ( + 40 km dari
Sragen atau + 17 km dari Solo) situs ini menyimpan puluhan ribu fosil dari jaan pleistocen ( +
2 juta tahun lalu).

Situs Sangiran merupakan daerah perbukitan yang mencakup kawasan seluas 32 km


dengan bentangan arah dari utara ke selatan kurang lebih 8 km dan dari barat ke timur
kurang lebih 4 km. Daerah ini meliputi 12 kelurahan di 4 kecamatan, yaitu kecamatan
kalijember, gemolong, plupuh, dan godangrejo. Daerah sangiran memiliki sebuah sungai
yang membelah daerah tersebut menjadi dua yaitu kali cemara yang bermuara di
bengawan solo.

Fosil-fosil purba ini merupakan 65 % fosil hominid purba di Indonesia dan 50% di seluruh
dunia. Hingga saat ini telah ditemukan lebih dari 13.685 fosil 2.931 fosil ada di Museum,
sisanya disimpan di gudang penyimpanan. Pada tahun 1977 Sangiran ditetapkan oleh
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia sebagai cagar budaya, berdasarkan Surat
Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.070/0/1977, tanggal 5 Maret 1977.
Selanjutnya keputusan itu dikuatkan oleh Komite World Heritage UNESCO pada
peringatannya yang ke-20 di Merida, Mexico yang menetapkan kawasan Sangiran sebagai
kawasan World Heritage (warisan dunia) No. 593.

B) Sejarah Situs Sangira


Sejarah Museum Sangiran bermula dari kegiatan penelitian yang dilakukan oleh Von
Koeningswald sekitar tahun 1930-an. Di dalam kegiatannya Von Koeningswald dibantu oleh
Toto Marsono, Kepala Desa Krikilan pada masa itu.Setiap hari Toto Marsono atas perintah
Von Koeningswald mengerahkan penduduk Sangiran untuk mencari balung buto (Bahasa
Jawa = tulang raksasa).Demikian penduduk Sangiran mengistilahkan temuan tulang-tulang
berukuran besar yang telah membatu yang berserakan di sekitar ladang mereka.Balung buto
tersebut adalah fosil yaitu sisa-sisa organisme atau jasad hidup purba yang terawetkan di
dalam bumi.
Fosil-fosil tersebut kemudian dikumpulkan di Pendopo Kelurahan Krikilan untuk bahan
penelitian Von Koeningswald, maupun para ahli lainnya.Fosil-fosil yang dianggap penting
dibawa oleh masing-masing peneliti ke laboratorium mereka, sedang sisanya dibiarkan
menumpuk di Pendopo Kelurahan Krikilan.

Setelah Von Koeningswald tidak aktif lagi melaksanakan penelitian di Sangiran, kegiatan
mengumpulkan fosil masih diteruskan oleh Toto Marsono sehingga jumlah fosil di Pendopo
Kelurahan semakin melimpah.Dari Pendopo Kelurahan Krikilan inilah lahir cikal-bakal
Museum Sangiran.

Untuk menampung koleksi fosil yang semakin hari semakin bertambah maka pada tahun
1974 Gubernur Jawa Tengah melalui Bupati Sragen membangun museum kecil di Desa
Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Saragen di atas tanah seluas 1000 m. Museum
tersebut diberi nama Museum Pestosen. Seluruh koleksi di Pendopo Kelurahan Krikilan
kemudian dipindahkan ke Museum tersebut.Saat ini sisa bangunan museum tersebut telah
dirombak dan dialihfungsikan menjadi Balai Desa Krikilan.

Sementara di Kawasan Cagar Budaya Sangiran sisi selatan pada tahun 1977 dibangun juga
sebuah museum di Desa Dayu, Kecamatan Godangrejo, Kabupaten Karanganyar. Museum
ini difungsikan sebagai basecamp sekaligus tempat untuk menampung hasil penelitian
lapangan di wilayah Cagar Budaya Sangiran sisi selatan.Saat ini museum tersebut sudah
dibongkar dan bangunannya dipindahkan dan dijadikan Pendopo Desa Dayu.

Tahun 1983 pemerintah pusat membangun museum baru yang lebih besar di Desa
Ngampon, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.Kompleks Museum ini
didirikan di atas tanah seluas 16.675 m. Bnagunannya antara lain terdiri dari Ruang
Pameran, Ruang Pertemuan/ Seminar, Ruang Kantor/ Administrasi, Ruang Perpustakaan,
Ruang Storage, Ruang Laboratorium, Ruang Istirahat/ Ruang Tinggal Peneliti, Ruang Garasi,
dan Kamar Mandi. Selanjutnya koleksi yang ada di Museum Plestosen Krikilan dan Koleksi di
Museum Dayu dipindahkan ke museum yang baru ini.Museum ini selain berfungsi untuk
memamerkan fosil temuan dari kawasan Sangiran juga berfungsi untuk mengkonservasi
temuan yang ada dan sebagai pusat perlindungan dan pelestarian kawasan Sangiran.

Tahun 1998 Dinas Praiwisata Propinsi Jawa Tengah melengkaspi Kompleks Museum
Sangiran dendan Bnagunan Audio Visual di sisi timur museum.Dan tahun 2004 Bupati
Sragen mengubah interior Ruang Knator dan Ruang Pertemuan menjadi Ruang Pameran
Tambahan.

Tahun 2003 Pemerintah pusat merencanakan membuat museum yang lebih representative
menggantikan museum yang ada secara bertahap.Awal tahun 2004 ini telah selesai didirikan
bangunan perkantoran tiga lantai yang terdiri dari ruang basemen untuk gudang, lantai I
untuk Laboratorium, dan lantai II untuk perkantoran. Program selanjutnya adalah membuat
ruang audio visual, ruang transit untuk penerimaan pengunjung, ruang pameran bawah
tanah, ruang pertemuan, perpustakaan, taman purbakala, dan lain-lain.

C) Proses Terbentuknya Sangiran


Pada awalnya sangiran merupakan lautan dangkal.Pada saat itu keadaan bumi masih belum
stabil seperti sekarang, di beberapa bagian bumi seringkali mendapatkan pergerakan di
dalam perut bumi yang disebabkan adanya dorongan tekanan endogen.Sangiran juga
mengalami hal serupa, karena adanya dorongan tenaga endogen (dari dalam bumi) terjadi
pengankatan dan pelipatan pada permukaan laut sangiran. Akibat dn pelipatan permukaan
maka terbentuklah daratan-daratan yang mengisolasi sebagaian lautan tersebut sehingga
menjadi danau dan rawa-rawa.

Saat terjadinya masa glacial (pembekuan), permukaan air laut menyusut, itu disebabkan
karena adanya pembekuan es di kutub utara maka muncullah daratan di permukaan bumi.
Danau dan rawa sangiran yang terbentuk dari lautan dangkal juga menjadi daratan kering.

Proses pembentukan situs sangiran erat kaitannya dengan aktivitas gunung lawu tua. Kubah
sangiran diperkirakan terbentuk akibat gaya kompresi dari runtuhan gunung Lawu tua, gaya
endogen berupa pengakatan dan pelipatan tanah serta gaya gravitasi bumi. Gaya kompresi
yang sama juga menyebabkan terbentuknya kubah-kubah lain seperti: Kubah Gemolong,
Kubah Gamping, Kubah Bringinan, Kubah Gesingan, dan Kubah Munggur.

Tenaga endogen yang terjadi berulang-berulang mengakibatkan permukan tanah di sangiran


naik akibatnya adanya dorongan di dalam dan membentuk bukit.Kemudian karena aktivitas
gunung lawu membuat tanah perbukitan longsor dan membentuk kubah, tanah di sekitar
sungai cemarapun ikut longsor.Akibat dari hal tersebut, terbentuklah lapisan tanah yang
berbeda dari lapisan tanah permukaan.Lapisan tanah yang terbentuk adalah lapisan dari
jaman purbakala dimana hsil dari terbentuknya tanah sangiran membuat para ahli
purbakala dan masyarakat sekitar menemukan bukti-bukti kehidupan masa
prasejarah.Higga kini lapisan tanah (stratigrafi) yang dapat ditemukan dan diteliti terdapat 4
lapis.

Situs sangiran merupakan daerah perbukitan yang terbentuk dari fragmen-fragmen batu
gamping foraminifera dan batu pasir yang tercampur dengan Lumpur saat masa halosen.
Juga yang endapan alivial yang terdiri dari campuran lempung, pasir, kerikil, dan krakal
dengan ketebalan kurang lebih 2 meter yang dapat terlihat di sungai cemara. Sungai cemara
yang mengalir didaerah sangiran merupakan sungai anteseden yang menyayat kubah
sangiran.Hal ini menyebabkan struktur kubah dan stratifigrafi tanah daerah sangiran dapat
dipelajari dengan baik.
Tersingkapnya tanah di tepi sungai cemara menunjukan aktivitas erosi dan sedimentasi yang
intensif pada masa sekarang. Proses erosi tersebut mengakibatkan munculnya fosil-fosil
binatang maupun manusia purba di permukaan tanah sehingga sering ditemukan fosil-fosil
setelah turun hujan.

Akibat dari dorongan tenaga endogen pada awalnya, aktivitas erosi dan sedimentasi yang
tinggi maka menyebabkan pengangkatan dan pelipatan tanah sangiran, sehingga lapisan
tanah sangiran terbagi dari 4 lapisan (dari lapisan teratas) yaitu Formasi Notopuro, Formasi
Kabuh, Formasi Pucangan dan Formasi Kalibeng.

D) Formasi Lapisan Sangiran

Berdasarkan studi pustaka yang telah dilakukan, formasi penyusun daerah sangiran
merupakan urutan dari pengendapan syn-orogenic danpost-orogenic (proses pengendapan
bahan rombakan yang terjadi pada dan setelah terangkatnya perbukitan Kendeng yang
berada disebelah utara Sangiran), kecuali formasi tertua.

Urutan formasi yang menyusun daerah Sangiran adalah Formasi Kalibeng, Pucangan, Kabuh
dan Notopuro.

1. Formasi Kalibeng

Formasi ini terletak di dukuh Ngampon, desa Krikilan, Kecamatan Klaijambe dan Kabupaten
Sragen. Umur formasi ini adalah Pliosen (2 juta -1,8 juta tahun yang lalu). Persebaran
Dormasi Kalibeng ditemukan disekitar Kubah Sangiran, dan membentuk perbukitan yang
landai. Ketebalan formasi ini mencapai 126,5 m. satuan litologinya berupa lempung abu-abu
kebiruan setebal 107 m, pasir lanau setebal 4,2 6,9 m, batu gamping balanus setebal 0 -
10,1M.

Pada formasi ini banyak ditemukan fosil-fosil Foraminifera dan Moluska laut. Antara lain
ditemukan : arca (anadara), arcitectonica, lopha (alectryonia), Conus, Mirex, Chlamis,
Pecten, Prunum, Turicula, renella spinoca, anomia, arcopsis, linopsis, dan turitella acoyana.
Fosil-fosil tersebut merupakan ciri dari lingkungan pengendapan laut dangkal.

2. Formasi Pucangan

Formasi Pucangan ini terdiri dari dua satuan litologi yaitu satuan breksi laharik dan satuan
napal bercampur batu lempung. Ketebalan formasi ini mencapai 157,5 m. sedang umur
formasi ini adalah plestosen bawah ( 1,8juta-900ribu).

Satuan breksi laharik, terbentuk akibat pengendapan banjir lahar hujan yang diselingi
pengendapan sungai normal dilingkungan air payau. Ketebalan satuan ini berkisar antara
0,7-46 m. satruan ini termasuk Formasi Pucangan Bawah, berumur Plestosen Bawah.
Kandungan fosil pada lapisan ini sangat jarang.Namun diantaranya ditemukan sedikit fosil
moluska laut jenis anadara, korbicula, dan murex.

Satuan napal dan batu lempung, termasuk Formasi Pucangan Atas, yang berumur plestosen
bawah. Satuan ini berwarna abu-abu muda sampai tua, yang bila lapuk berwarna hitam.
Ketebalan lapisan ini mencapai 113,5 m. pada satuan ini ditemukan tiga horizon moluska
laut yang bercampur dengan gigi ikan hiu, yang menandakan bahwa pada masa itu pernah
terjadi transgresi laut, meskipun mungkin kejadiannya sangat singkat.

Moluska laut yang lain ditemukan berasosiasi dengan kayu, belerang, peat, bulus dan buaya
yang menunjukkan lingkungan payau-payau tepi laut. Selain horizon moluska laut,
ditemukan juga lapisan tanah Diatome yang berwarna putih kecoklatan, dengan
penyebaran yang cukup lama.

3. Formasi Kabuh

Formasi ini terletak di dukuh Ngampon, desa Krikilan, Kecamatan Klaijambe dan Kabupaten
Sragen. Umur formasi ini adalah Plestosen atas sampai plestosen tengah (900ribu-200ribu
tahun yang lalu).

Formasi kabuh mempunyai ketebalan 5,8 58,6 M. lapisan ini mempunyai kandungan
litologi berupa lempung lanau , pasir, besi dan kerikil. Satuan litologi tersebut ditemukan
berselang- seling dengan lapisan konglomerat dan batu lempung vulkanik (tuf).Dibawah
lapisan ini ditemukan lapisan batu pasir, konglomerat calcareous dengan ketebalan lebih
dari 2M yang merupakan ciri lingkungan transisi antara lautan dan daratan.

Lapisan tuf yang terkandung dalam formasi kabuh dibedakan atas lapisan tuf bawah, tuf
tengah, dan tuf atas. Lapisan tuf bawah terletak pada formasi kabuh dengan ketebalan 4,2
20 M, lapisan tuf tengah terdapat pada formasi kabuh dengan ketebalan 5,8 20M, dan
lapisan tuf atas pada formasi kabuh atas dengan ketebalan 3,4-16M.

Kandungan fosil formasi kabuh meliputi hewan vertebrata dan moluska air payau. Fosil
vertebrata yang ditemukan antara lain : bovidae, babi, buaya, bulus, banteng, gajah dan
rusa. Sedang fosil moluska air payau yang ditemukan meliputi astartea, melania, dan
corbicula.Selain itu ditemukan pula fosil cetakan daun.

4. Formasi Notopuro ( mad volcano)

Formasi notopuro terletak secara tidak selaras diatas formasi kabuh dengan ketebalan
sekitar 47 M. satuan litologinya berupa : kerikil, pasir, lanau, lempung, air tawar, lahar
pumisan dan tuf. Lapisan lahaar yang terkandung dalam lapisan ini, berdasarkan letaknya
dibagi 3 yaitu : lapisan lahar atas, lapisan lahar teratas dan lapisan pumiceatas. Berdasarkan
adanya lapisan lahar tersebut, formasi notopuro dibedakan menjadi 3 : formasi notopro
bawah, formasi notopuro tengah dan formasi notopuro atas.

Lapisan notopuro bawah dimulai lapisan lahar atas sampai lapisan lahar teratas, dengan
ketebalan antara 3,2- 2,89 M. Kandungan litologinya berupa pasir tufan dengan kerikil
fluvial, lanau, lempung, fragmen kerikil andesit dan formasi tuf andesit.

Formasi notopuro tengah mulai muncul pada lapisan lahar atas sampai lapisan lahar teratas,
dengan ketebalan maksimum 20M.formasi ini mengandung pasir bercampur kerikil dan
lanau tufan, kecuali pada lapisan lahar yang terletak didasar. Pada formasi ini tidak
ditemukan fosil mammalian sama sekali.

Formasi notopuro atas dimulai dari lapisan pumiceatas secara tidak selaras terletak diatas
formasi notopuro tengah dan bawah, ketebalan formasi ini mencapai 25 M dan tersebar di
daerah sangiran sebelah utara dan daerah sangiran sebelah timur. Kandungan litologinya
berupa tuf dan bola-bola pumisan.