Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Nanoteknologi sangat bermanfaat dalam produk-produk yang dihasilkan farmasi karena
obat-obat yang dihasilkan memiliki ukuran molekul dengan skala nanometer sehingga dapat
mempercepat proses absorbsi obat. Oleh karena itu, efek terapi yang terdapat dalam obat dapat
diserap secara maksimal.
Pengobatan konvensional seperti dengan suntik dan obat-obatan umumnya diberikan
kepada seorang pasien. Namun, metode ini memiliki kelemahan, karena dosis obat yang
diberikan tidak semuanya terserap, yang kemungkinan dalam jangka waktu tertentu dapat
menjadi racun apabila tidak dibuang oleh tubuh. Selain itu, belum tentu obat yang diberikan
langsung mengobati tepat pada bagian tubuh yang sakit. Inilah yang menyebabkan seorang
pasien butuh waktu dalam proses penyembuhannya.
Dalam pengobatan kanker, tindakan yang dilakukan biasanya dengan operasi atau terapi
dengan radiasi dan bahan kimia. Selain biaya yang dibutuhkan besar, pengobatan ini tidak dapat
mematikan kanker ke sumber sel yang terinfeksi. Resiko terpaparnya sel yang sehat dengan
radiasi menjadi kemungkinan yang tidak dapat terelakkan.
Saat ini, penelitian dalam pengobatan yang efektif sedang marak dilakukan yaitu sistem
pengobatan yang langsung menghantar obat tepat ke sasaran atau disebut drug delivery. Dengan
nanoteknologi, sistem deliveri obat memungkinkan untuk mengurangi jumlah obat, sehingga
efek samping obat dapat dikurangi dan mengurangi dosis obat dengan cara pengantaran obat
tepat sasaran ke sel yang membutuhkan perawatan.
Selama beberapa tahun terakhir ini,upaya dalam membuat suatu produk dari bahan
sintesis kimia mulai digantikan oleh bahan atau komponen yang bersumber dari alam. Terlebih
lagi, sumber yang memiliki kekayaaan polimer alami, seperti gelatin, kolagen, alginat, pati, kitin
dan selulosa. Hal ini sangat menarik karena dapat menurunkan ketergantungan manusia terhadap
pembuatan produk yang bersumber dari bahan bakar fosil, sehingga dapat meningkatkan dampak
yang positif terhadap lingkungan
1.2. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:

1. Apa yang dimaksud dengan Tuberkulosis Paru (TB Paru) ?

2. Bagaimana epidemiologi Tuberkulosis Paru (TB Paru) ?

3. Apa saja etiologi Tuberkulosis Paru (TB Paru) ?

4. Bagaimana penularan dari Tuberkulosis Paru (TB Paru) ?

5. Bagaimana patofisiologi dari Tuberkulosis Paru (TB Paru) ?

6. Apa saja klasifikasi dari Tuberkulosis Paru (TB Paru) ?

7. Bagaimana manifestasi klinis dari Tuberkulosis Paru (TB Paru) ?

8. Bagaimana diagnosis dari Tuberkulosis Paru (TB Paru)?

9. Bagaimana penatalaksanaan/terapi dari Tuberkulosis Paru (TB Paru) ?

1.1.Tujuan Penulisan

Adapaun tujuan dan manfaat dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Agar mahasiswa/mahasiswi dapat mengetahui dan memahami definisi dari

Tuberkulosis Paru (TB Paru).

2. Agar mahasiswa/mahasiswi dapat mengetahui dan memahami epidemiologi

Tuberkulosis Paru (TB Paru).

3. Agar mahasiswa/mahasiswi dapat mengetahui dan memahami etiologi Tuberkulosis

Paru (TB Paru).

4. Agar mahasiswa/mahasiswi dapat mengetahui dan memahami penularan dari

Tuberkulosis Paru (TB Paru).

5. Agar mahasiswa/mahasiswi dapat mengetahui dan memahami patofisiologi dari

Tuberkulosis Paru (TB Paru).


6. Agar mahasiswa/mahasiswi dapat mengetahui dan memahami klasifikasi dari

Tuberkulosis Paru (TB Paru).

7. Agar mahasiswa/mahasiswi dapat mengetahui dan memahami manifestasi klinis dari

Tuberkulosis Paru (TB Paru).

8. Agar mahasiswa/mahasiswi dapat mengetahui dan memahami diagnosis dari

Tuberkulosis Paru (TB Paru).

9. Agar mahasiswa/mahasiswi dapat mengetahui dan memahami penatalaksanaan/terapi

dari Tuberkulosis Paru (TB Paru).


BAB II

ISI

2.1.Definisi Nanopartikel

Nanopartikel adalah partikel dalam ukuran nanometer yaitu sekitar 1-100 nm (Hosokawa
et al. 2007). Nanopartikel merupakan ilmu dan rekayasa dalam menciptakan material, struktur
fungsional, maupun piranti alam skala nanometer.Ditinjau dari jumlah dimensi yang terletak
dalam rentang nanometer, material nano diklasifikasikan menjadi beberapa kategori(Gambar
2.1.), yaitu: material nano berdimensi nol (nanoparticle) seperti oksida logam, semikonduktor
,dan fullerenes; material nano berdimensi satu (nanowire, nanotubes, nanorods); material nano
berdimensi dua (thin films); dan material nano berdimensi tiga seperti Nanokomposit,
nanograined, mikroporous, mesoporous, interkalasi, organik-anorganik hybrids. (Pokropivny,V.
et al, 2007).

Nanopartikel menjadi kajian yang sangat menarik, karena material yang berada dalam
ukuran nano biasanya memiliki partikel dengan sifat kimia atau fisika yang lebih unggul dari
material yang berukuran besar (bulk).(C. R. Vestal et al. 2004; Cao, Guozhong, 2004). Dua hal
utama yang membuat nanopartikel berbeda dengan material sejenis dalam ukuran besar (bulk)
yaitu:
1. Karena ukurannya yang kecil, nanopartikel memiliki nilai perbandingan antara luas
permukaan dan volume yang lebih besar jika dibandingkan dengan partikel sejenis dalam
ukuran besar. Ini membuat nanopartikel bersifat lebih reaktif. Reaktivitas material
ditentukan oleh atom-atom di permukaan, karena hanya atom-atom tersebut yang
bersentuhan langsung dengan material lain;

2. Ketika ukuran partikel menuju orde nanometer, maka hukum fisika yang berlaku lebih
didominasi oleh hukum- hukum fisika kuantum.(Abdullah M., et al, 2008)

Sifat-sifat yang berubah pada nanopartikel biasanya berkaitan dengan fenomena-


fenomena berikut ini. Pertama adalah fenomena kuantum sebagai akibat keterbatasan ruang
gerak elektron dan pembawa muatan lainnya dalam partikel. Fenomena ini berimbas pada
beberapa sifat material seperti perubahan warna yang dipancarkan, transparansi, kekuatan
mekanik, konduktivitas listrik, dan magnetisasi. Kedua adalah perubahan rasio jumlah atom yang
menempati permukaan terhadap jumlah total atom. Fenomena ini berimbas pada perubahan titik
didih, titik beku, dan reaktivitas kimia. Perubahan-perubahan tersebut diharapkan dapat menjadi
keunggulan nanopartikel dibandingkan dengan partikel sejenis dalam keadaan bulk. Para peneliti
juga percaya bahwa kita dapat mengontrol perubahan-perubahan tersebut ke arah yang
diinginkan. (Abdullah M.,et al, 2008)

Selain nanopartikel juga dikembangkan material nanostruktur, yaitu material yang


tersusun oleh beberapa material nanopartikel. Untuk menghasilkan material nanostruktur maka
partikel-partikel penyusunnya harus diproteksi sehingga apabila partikel-partikel tersebut
digabung menjadi material yang berukuran besar maka sifat individualnya dipertahankan. Sifat
material nanostruktur sangat bergantung pada :

(a) ukuran maupun distribusi ukuran

(b) komponen kimiawi unsur-unsur penyusun material tersebut

(c) keberadaan interface (grain boundary), dan

(d) interaksi antar grain penyusun material nanostruktur.


Quantum dot adalah material berukuran kurang dari 100 nanometer yang mengurung
elektron secara 3-dimensi, baik arah x, y dan z. Hal ini dimungkinkan karena diameter dari
quantum dot tersebut sebanding dengan panjang gelombang dari elektron. Bahkan, disebut
bahwa quantum dot ini merupakan atom buatan (artificial atom). Nanowire adalah material
berukuran nanometer yang dapat mengurung elektron secara 2-dimensi dan bebas bergerak di
dimensi yang ketiga, yaitu ke depan atau ke belakang. (Astuti, 2007)

2.1 Keunggulan Sifat Material Berorde Nano

Material berukuran nanometer memiliki sejumlah sifat kimia dan fisika yang lebih
unggul dari material berukuran besar (bulk). Disamping itu material berukuran nanometer
memiliki sifat yang kaya karena menghasilkan sifat yang tidak dimiliki oleh material ukuran
besar. Sejumlah sifat tersebut dapat diubahubah dengan melalui pengontrolan ukuran material,
pengaturan komposisi kimiawi, modifikasi permukaan dan pengontrolan interaksi antar partikel.
Material nanopartikel adalah material-material buatan manusia yang berskala nano, yaitu lebih
kecil dari 100nm, termasuk didalamnya nanodot, quantum dot, nanowire dan carbon nanotube
(Abdullah M., et al, 2008). Berikut merupakan beberapa keunggulan sifat material berorde nano
secara umum :

1. Sifat elektrik
Pengaruh size reduction pada sifat elektrik nanopartikel dapat meningkatkan
konduktivitas nanometals, membangkitkan konduktivitas nanodielektrik, dan
meningkatkan induktansi dielektrik untuk ferroelectrics.
Nanomaterial dapat mempunyai energi lebih besar dari pada material ukuran biasa
karena memiliki surface area yang besar. Energy band secara bertahap berubah
terhadap orbital molekul.Umumnya Resistivitas elektrik mengalami kenaikan dengan
berkurangnya ukuran partikel.Contoh aplikasi : energi densitas yang tinggi dari
baterai, nanokristalin merupakan material yang bagus untuk lapisan pemisah pada
baterai karena dia dapat menyimpan energi yang lebih banyak. Baterai logam nikel-
hidrida terbuat dari nanokristalin nikel dan logam hidrida yang membutuhkan sedikit
recharging dan memiliki masa hidup yang lama.(Pokropivny,V. et al. 2007)
2. Sifat optik
Sistem nanokristalin memiliki sifat optikal yang menarik, yang mana berbeda
dengan sifat kristal konvensional. Pengaruh size reduction pada sifat optik
nanopartikel dapat meningkatkan penyerapan (absorbansi) dalam range ultraviolet
(blue shift), Osilasi penyerapan optik, dan meningkatkan nilai band gap. Kunci
peyumbang faktor masuknya quantum tertutup dari pembawa elektrikal pada
nanopartikel, energi yang efisien dan memungkinkan terjadinya pertukaran karena
jaraknya dalam skala nano serta memiliki sistem dengan interface yang tinggi.
Dengan perkembangan teknologi dari material mendukung perkembangan sifat
nanofotonik.
Dengan sifat optik linear dan non linear material nano dapat dibuat dengan
mengontrol dimensi kristal dan surface kimia, teknologi pembuatan menjadi faktor
kunci untuk mengaplikasikan.Contoh aplikasi : pada optoelektronik., electrochromik
untuk liquid crystal display (LCD).(Pokropivny,V. et al. 2007)

3. Sifat magnetik
Kekuatan magnetik adalah ukuran tingkat kemagnetan. Pengaruh penurunan
ukuran butiran patikel (Size reduction) dan kenaikan spesifik surface area per satuan
volume partikel pada sifat magnetik ini dapat meningkatkan atau menurunkan
koersivitas magnet, menurunkan temperatur Curie, memiliki sifat paramagnetik atau
feromagnetik, membangkitkan temperatur maksimal magnetoresistance, dan
meningkatkan permeability magnetik pada sifat ferromagnetik.
Contoh aplikasi : magnet nanokristalin yttrium-samarium-cobalt memiliki sifat
magnet yang luar biasa dengan luas permukaan yang besar. Aplikasinya pada mesin
kapal, instrumen ultra sensitiv dan magnetic resonance imaging (MRI) pada alat
diagnostik.(Pokropivny,V. et al. 2007)

4. Sifat mekanik
Pengaruh penurunan ukuran butiran patikel (Size reduction) dari partikel pada
sifat mekanik dapatmeningkatkan kekerasan (hardness), kekuatan (strength),
daktilitas (fracture ductility), dan ketahanan aus (wear resistance). Nanomaterial
memiliki kekerasan dan tahan gores yang lebih besar bila dibandingkan dengan
material dengan ukuran biasa.
Contoh aplikasi : automobil dengan efisiensi greater fuel. Nanomaterial
diterapkan pada automobil sejak diketahui sifat kuat, keras dan sangat tahan terhadap
erosi, diharapkan dapat diterapkan pada busi.(Pokropivny,V. et al. 2007)

2.2. Perkembangan Nanopartikel

Di Indonesia, perkembangan nano teknologimasih dalam tahap rintisan karena


keterbatasan dana dan fasilitaseksperimen. Dengan kendala yang demikian membuat kita
harusbekerja keras memanfaatkan potensi yang ada di tanah air. Dalam periode tahun 2010
sampai 2020 akan tejadi percepatan luar biasa dalam penerapan nanoteknologi di dunia industri
dan menandakan bahwa sekarang ini dunia sedang mengarah pada revolusi nanoteknologi.
Negara-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia, Kanada dan negara-negara Eropa,
serta beberapa negara Asia, seperti Singapura, Cina, dan Korea tengah giat-giatnya
mengembangkan suatu cabang baru teknologi yang populer disebut nanoteknologi.

Nanoteknologi akan mempengaruhi industri baja, pelapisan dekorasi, industri polimer,


industri kemasan, peralatan olahraga, tekstil, keramik, industri farmasi dan kedokteran,
transportasi, industri air, elektronika dan kecantikan. Penguasaan nanoteknologi akan
memungkinkan berbagai penemuan baru yang bukan sekadar memberikan nilai tambah terhadap
suatu produk, bahkan menciptakan nilai bagi suatu produk. Salah satu nanomaterial yang sangat
menarik untuk dikembangkan saat ini adalah nanopartikel magnetik.

Nanopartikel saat ini banyak digunakan pada beragam produk komersial mulai dari
katalis, media cat dan cairan magnetik, hingga kosmetik dan tabir surya. Suatu review terbaru
dari peneliti di Swedia dan Spanyol mendeskripsikan hasil kerja terkini untuk optimasi sintesis,
dispersi, dan fungsionalisasi permukaan titania (titanium dioksida), seng oksida, dan seria
(serium oksida) tiga nanopartikel utama yang digunakan pada fotokatalis, penghalau sinar UV
(ultraviolet), dan tabir surya. Review mereka dipublikasikan pada 26 April 2013 di jurnal
Science and Technology of Advanced Materials. (Gifhari, A.S. 2013).
Penemuan baru dalam bidang nanoteknologi muncul hampir dalam tiap minggu untuk
aplikasi-aplikasi baru dalam berbagai bidang, seperti bidang elektronik (pengembangan piranti
(device) ukuran nanometer), energi (pembuatan sel surya yang lebih efisien),
kimia(pengembangan katalis yang lebih efisien, baterai yang kualitasnya lebih baik), kedokteran
(pengembangan peralatan baru pendeksi sel-sel kanker berdasarkan pada interaksi antarsel
kanker dengan partikel berukuran nanometer), kesehatan (pengembangan obat-obat dengan
ukuran bulir (grain) beberapa nanometer sehingga dapat melarut dalam cepat dalam tubuh dan
bereaksi lebih cepat, serta pengembangan obat pintar (smart) yang bisa mencari sel-sel tumor
dalam tubuh dan langsung mematikan sel tersebut tanpa mengganggu sel-sel normal),
lingkungan (penggunaan partikel skala nanometer untuk menghancurkan polutan organik di air
dan udara), dan sebagainya.(Nanoworldindonesia, 2013)

2.3. Metode Sintesis Nanopartikel

Nanopartikel dapat terjadi secara alamiah ataupun melalui proses sintesis oleh manusia.
Sintesis nanopartikel bermakna pembuatan nanopartikel dengan ukuran yang kurang dari 100 nm
dan sekaligus mengubah sifat atau fungsinya.Dalam sintesis nanopartikel terdapat beberapa
faktor yang mempengaruhinya yaitu konsentrasi reaktan, molekul pelapis (capping agent),
temperatur dan pengadukan.

Sintesis nanopartikel dapat dilakukan dalam fasa padat, cair, maupun gas. Proses sintesis
pun dapat berlangsung secara fisika atau kimia. Proses sintesis secara fisika tidak melibatkan
reaksi kimia. Yang terjadi hanya pemecahan material besar menjadi material berukuran
nanometer, atau penggabungan material berukuran sangat kecil, seperti kluster, menjadi partikel
berukuran nanometer tanpa mengubah sifat bahan. Proses sintesis secara kimia melibatkan reaksi
kimia dari sejumlah material awal sehingga dihasilkan material lain yang berukuran nanometer
(Abdullahet al. 2008).

Secara umum, sintesis nanopartikel akan masuk dalam dua kelompok besar. Cara
pertama adalah memecah partikel berukuran besar menjadi partikel berukuran nanometer.
Pendekatan ini kadang disebut pendekatan top-down. Pendekatan kedua adalah memulai dari
atom-atom atau molekul-molekul yang membentuk partikel berukuran nanometer yang
dikehendaki. Pendekatan ini disebut bottom-up. (Abdullah, M. 2008). Kedua kelompok besar
dalam mensintesis nanopartikel telihat pada gambar 2.2.

Pembentukan nanopartikel dengan keteraturan yang tinggi dapat menghasilkan pola yang
lebih seragam dan ukuran yang yang seragam pula.Kebanyakan penelitian telah mampu
menghasilkan nanopartikel yang lebih bagus dengan menggunakan metoda-metoda yang umum
digunakan, seperti: kopresipitasi, sol-gel, mikroemulsi, hidrotermal/solvoterma, menggunakan
Nanopartikel Buttom up (digabung) Top down (dipecah) cetakan (templated synthesis), sintesis
biomimetik, metoda cairan superkritis, dan sintesis cairan ionik.

2.4. Karakterisasi Nanopartikel

2.4.1. X-Ray Diffractometry(XRD)

Difraksi sinar-X digunakan untuk mengidentifikasi struktur kristal suatu padatan dengan
membandingkan nilai jarak d (bidang kristal) dan intensitas puncak difraksi dengan data standar.
Pengujian ini merupakan aplikasi langsung dari pemakaian sinar X untuk menentukan jarak
antara kristal dan jarak antara atom dalam kristal.
Gambar 2.6. menunjukkan suatu berkas sinar X dengan panjang gelombang , jatuh pada
sudut pada sekumpulan bidang atom berjarak d. Sinar yang dipantulkan dengan sudut hanya
dapat terlihat jika berkas dari setiap bidang yang berdekatan saling menguatkan. Oleh sebab itu,
jarak tambahan satu berkas dihamburkan dari setiap bidang yang berdekatan, dan menempuh
jarak sesuaidengan perbedan kisi yaitu sama dengan panjang gelombang n . Sebagai contoh,
berkas kedua yang ditunjukkan gambar 2.7. harus menempuh jarak lebih jauh dari berkas
pertama sebanyak PO + OQ. Syarat pemantulan dan saling menguatkan dinyatakan oleh :

n = PO + OQ = 2ON sin = 2d sin

Persamaan (1.1) disebut dengan hukum Bragg dan harga sudut kritis untukmemenuhi
hukum tersebut dikenal dengan sudut Bragg. Prinsip dasar dari XRD adalah hamburan elektron
yang mengenai permukaan kristal. Bila sinar dilewatkan ke permukaan kristal, sebagian sinar
tersebut akan terhamburkan dan sebagian lagi akan diteruskan ke lapisan berikutnya. Sinar yang
dihamburkan akan berinterferensi secara konstruktif (menguatkan) dan destruktif (melemahkan).
Hamburan sinar yang berinterferensi inilah yang digunakan untuk analisis.

Difraksi sinar-X hanya akan terjadi pada sudut tertentu sehingga suatu zat akan
mempunyai pola difraksi tertentu. Pengukuran kristalinitas relatif dapat dilakukan dengan
membandingkan jumlah tinggi puncak pada sudut-sudut tertentu dengan jumlah tinggi puncak
pada sampel standar. Di dalam kisi kristal, tempat kedudukan sederetan ion atau atom disebut
bidang kristal. Bidang kristal ini berfungsi sebagai cermin untuk merefleksikan sinarX yang
datang. Posisi dan arah dari bidang kristal ini disebut Indeks Miller.

Setiap kristal memiliki bidang kristal dengan posisi dan arah yang khas, sehingga jika
disinari dengan sinar-X pada analisis XRD akan memberikan difraktogram yang khas pula. Dari
data XRD yang diperoleh, dilakukan identifikasi puncak-puncak grafik XRD dengan cara
mencocokkan puncak yang ada pada grafik tersebut dengan database ICDD. Setelah itu,
dilakukan refinement pada data XRD dengan menggunakan metode Analisis Rietveld yang
terdapat pada program RIETAN.

Melalui refinement tersebut, fase beserta sruktur, space group, dan parameter kisi yang
ada pada sampel yang diketahui. Melalui grafik XRD, grain size dari sampel juga dapat
diperkirakan. Grain size dihitung dengan menggunakan persamaan Scherrer, yaitu :

S = grain size

= panjang gelombang berkas sinar X

B = FWHM (full width half maximum).

= besar sudut dari puncak dengan intensitas tinggi.


2.4.2 SEM (Scanning Electron Microscope) -EDX

SEM (Scaning Electron Microscope) merupakan mikroskop elektron yang didesain untuk
menggambarkan bentuk permukaan dari material yang dianalisis menggunakan berkas electron.
Adapun fungsi utama dari SEM antara lain dapat digunakan untuk mengetahui informasi-
informasi mengenai topografi (ciri-ciri permukaan), Morfologi (bentuk dan ukuran dari partikel
penyusun objek ), dan Informasi kristalografi objek.Pada intrument SEM terintegrasi sebuah
detektor Energy Dispersive X-ray (EDX) yang memungkinkan dilakukannya mikroanalisis
secara kualitatif dan semi kuantitatif untuk menentukan komposisi unsur-unsur dari suatu objek
material.

Prinsip kerja SEM yaitu bermula dari electron beam yang dihasilkan oleh sebuah filamen
pada electron gun. Pada umumnya electron gun yang digunakan adalah tungsten hairpin gun
dengan filamen berupa lilitan tungsten yang berfungsi sebagai katoda. Tegangan diberikan
kepada lilitan yang mengakibatkan terjadinya pemanasan. Anoda kemudian akan membentuk
gaya yang dapat menarik elektron melaju menuju ke anoda.

Elektron berinteraksi dengan sampel komposisi molekul. Energi dari elektron menuju ke
sampel secara langsung dalam proporsi jenis interaksi elektron yang dihasilkan dari sampel.
Serangkaian energi elektron terukur dapat dihasilkan yang dianalisis oleh sebuah mikroprosesor
yang canggih yang menciptakan gambar tiga dimensi atau spektrum elemen yang unik yang ada
dalam sampel dianalisis. Ini adalah rangkaian elektron yang dibelokkan oleh tumbukan dengan
elektron yang dihamburkan oleh sampel(Gambar 2.8). (Zhou W., et al, 2006; )
Untuk mengenali jenis atom dipermukaan yang mengandung multi atom para peneliti
lebih banyak mengunakan teknik EDS (Energy Dispersive Spectroscopy). Sebagian besar alat
SEM dilengkapi dengan kemampuan ini, namun tidak semua SEM punya fitur ini. EDS
dihasilkan dari Sinar X karakteristik, yaitu dengan menembakkan sinar X pada posisi yang ingin
kita ketahui komposisinya. Maka setelah ditembakkan pada posisi yang diinginkan maka akan
muncul puncak puncak tertentu yang mewakili suatu unsur yang terkandung. Dengan EDS
dapatjuga dilakukan elemental mapping (pemetaan elemen) dengan memberikan warna berbeda
beda dari masing masing elemen di permukaan bahan. EDS bisa digunakan untuk
menganalisa secara kunatitatif dari persentase masing masing elemen.

2.4.4. Konduktivitas Listrik

Konduktivitas listrik (S/cm) berhubungan dengan resistivitas ( cm) sesuai dalam persamaan
2.2: = 1 (2.2) Peningkatan konduktivitas listrik disebabkan oleh eksitasi dari penambahan
pengisian bebas yang diangkut oleh cahaya energi tinggi pada semikonduktor dan isolator.
Material alami maupun buatan yang terdapat di alam dapat diklasifisikan menjadi tiga yaitu
konduktor, isolator dan semikonduktor. Nilai dari konduktivitas listrik ketiga material tersebut
berbeda. Material semikonduktor mempunyai nilai konduktivitas antara selang dari (10-8 10 3
) S/cm.(Sze, S.M., 2007.)
Resistansi suatu material bergantung pada panjang, luas penampang lintang, tipe material
dan temperature. Pada material ohmik resistansinya tidak bergantung pada arus dan hubungan
empiris ini disebut dengan hukum Ohm yang dinyatakan sesuai dalam persamaan

V = IR; R = konstan Untuk material nonohmik, arus tidak sebanding dengan tegangan.
Resistansinya bergantung pada arus, didefinisikan sesuai dalam persamaan :

Kurva hubungan arus dan tegangan pada material Ohmik adalah linear sedangkan material
nonohmik kurva hubungannya tidak linear. Resistansi suatu kawat penghantar sebanding dengan
panjang kawat dan berbanding terbalik dengan luas penampang lintang sesuai dalam persamaan

Dimana disebut resistivitas material penghantar. Satuan resistivitasadalah ohm meter (m).
Kebalikan dari resistivitas disebut konduktivitas ().Adapun nilai konduktivitas suatu material
bergantung dari sifat material tersebut. Konduktivitas listrik adalah kemampuan suatu bahan
untuk menghantarkan arus listrik. Persamaan berikut merupakan hubungan konduktivitas listrik
dan resistansi sesuai dalam persamaan
Nilai konduktivitas pada suatu material dapat diukur dengan mengunakan probe empat titik (four
point probe), yaitu suatu jajaran empat probe diletakkan di atas material yang diukur
konduktivitasnya. Kemudian sumber tegangan dipasang pada dua probe terluar untuk
menghasilkan arus diantara probe dalam, dengan demikian pada probe bagian dalam akan timbul
tegangan. (Keithley, 2005). Hasil yang telah didapat dianalisa berdasarkan hukum ohm.

2.4.5. Spektofotometer Ultra Violet-Visible (UV-Vis)

Karakterisasi dengan Spektofotometer Ultra Violet-Visible (UV-Vis) dilakukan untuk


membantu penentuan sifat optik seperti besarnya energi gap.Spektroskopi adalah teknik yang
digunakan untuk mengeksitasi elektron valensi dalam atom seperti celah pita (band) dari atom
atau molekul. (M.M. Grady, 2006) Spektofotometer ini merupakan gabungan antara
spektrofotometri UV dan Visible.
Menggunakan dua buah sumber cahaya berbeda, sumber cahaya UV dan sumber cahaya
Visible. Spektrofotometer UV-Vis mempunyai rentang pengukuran pada panjang gelombang
200-800 nm (Gambar).Gugusan atom yang mengabsorpsi radiasi UV-Vis adalah gugus
kromofor. Ketika suatu molekul sederhana dikenakan radiasi elektromagnetik, molekul tersebut
akan mengabsorbsi radiasi elektromagnetik yang energinya sesuai. Pada molekul terjadi transisi
elektronik dan absorbsi tersebut menghasilkan garis spectrum.

Spektrofotometer Ultraviolet-Visible (UV-Vis) digunakan untuk menentukan lebar celah


pita energi dalam semikonduktor.Lebar celah pita energi semikonduktor menentukan sejumlah
sifat fisis semikonduktor tersebut.Beberapa besaran yang bergantung pada lebar celah pita energi
adalah mobilitas pembawa muatan dalam semikonduktor, kerapatan pembawa muatan, spektrum
absorpsi, dan spektrum luminisensi. Ketika digunakan untuk membuat divais mikroelektronik,
lebar celah pita energi menentukan tegangan cut off persambungan semikonduktor, arus yang
mengalir dalam devais, kebergantunganarus pada suhu, dan sebagainya.
Dasar pemikiran metode penggunaan UV-Vis sederhana. Jika material disinari dengan
gelombang elektromagnetik maka foton akan diserap oleh elektron dalam material. Setelah
menyerap foton, elektron akan berusaha meloncat ke tingkat energi yang lebih tinggi. Jika
elektron yang menyerap foton mula-mula berada pada puncak pita valensi maka tingkat energi
terdekat yang dapat diloncati electron adalah dasar pita konduksi. Jarak ke dua tingkat energi
tersebut sama dengan lebar celah pita energi.

Jika energi foton yang diberikan kurang dari lebar celah pita energi maka elektron tidak
sanggup meloncat ke pita valensi.Elektron tetap berada pada pita valensi.Dalam keadaan ini
dikatakan elektron tidak menyerap foton.Radiasi yang diberikan pada material diteruskan
melewati material (transmisi). Elektron baru akan meloncat ke pita konduksi hanya jika energi
foton yang diberikan lebih besar daripada lebar celah pita energi. Elektron menyerap energi foton
tersebut.Dalam hal ini dikatakan terjadi absorpsi gelombang oleh material.Ketika kita
mengubahubah frekuensi gelombang elektromagnetik yang dijatuhkan ke material maka energi
gelombang dimana mulai terjadi penyerapan oleh material bersesuaian dengan lebar celah pita
energi material.Lebar celah pita energi semikonduktor umumnya lebih dari 1 eV.Energi sebesar
ini bersesuaian dengan panjang gelombang dari cahaya tampak ke ultraviolet. (Abdullah M.,et al,
2008).
Pengukuran dengan UV-Vis spektrofotometer dilakukan pada nilaiabsorbansi.Absorbansi
dengan simbol A dari larutan merupakan logaritma dari (1/T atau logaritma lo/l).Absorbsi
meliputi transisi dari tingkat dasar ke tingkat yang lebih tinggi, yakni tingkat tereksitasi. Dengan
menelaah frekuensi bahan yang tereksitasi maka dapatdiidentifikasi dan dianalisis karakteristik
dari sebuah bahan. Pada bahan semikonduktor, kemampuan dalam menyerap radiasiatau energi
disebut sebagai absorbansi dimana masing-masing bahan semikonduktor memilki nilai
absorbansi dengan rentang panjang gelombang yang berbedabeda.Absorbansi yang diukur
instrument Uv-Vis sesuai dengan hukum LambertBerr :

= . .

Dengan : A = Absorbansi (unit absorbansi / a.u.)

= Absorpivitas molar (M-1 cm-1 )

b = tebal larutan (cm)

C = konsentrasilarutan (M)
Dimana : = koefisien absorbsi

b = tebal sampel (cm)

I0 = intensitas cahaya yang menuju sampel (W/m2 )

I = intensitas cahaya yang keluar dari sampel (W/m2 )

Transmitansi didefinisikan sebagai rasio antara intensitas cahaya yang ditransmisikan


dengan intensitas cahaya yang menuju sampel.

hubungan antara absorbansi dan transmitansi sebagai berikut :

Penentuan nilai energi gap (celah energi) semikonduktor dapat dilakukan dengan
membuat ekstrapolasi pada daerah linier dari grafik hubungan antara (h)2 sebagai absis
(sumbu y)terhadap hsebagai ordinat (sumbu x)berdasarkan persamaan :
dengan : C = konstanta

n = bilangan yang bergantung sifat transisi

= koefisien absorbansi

h = energi Foton (eV)

Kemudian dalam penentuan nilai energi foton semikonduktor dihitung berdasarkan


persamaan :

dengan : h = tetapan Planck (6,63 x 10-34 J.s atau 4.14 1015eV)

c = kecepatan cahaya (3 x 108 m/s)

= panjang gelombang (m)

Dengan melakukan ekstrapolasi bagian linier kurva (h)2 terhadap h memotong absis,
diperoleh nilai energi yang dinamakan celah energi (Eg). Ekstrapolasi dilakukan pada daerah
kurva yang meningkat tajam, dimana daerah tersebut menyatakan terjadinya transisi langsung.
(Sze, S.M., 2007.)

2.4.6. FTIR(Fourier Transform Infra Red)

FTIR (Fourier Transform Infra Red)merupakanmetode analisis material dengan


menggunakan spektroskopi sinar infra merah.FTIR ini adalah teknik yang digunakan untuk
mendapatkan spektrum inframerah dari absorbansi dan transmitansi dari sampel padat, cair
maupun gas. Karakterisasi dengan menggunakan FTIR bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis
vibrasi antar atom. FTIR juga digunakan untuk menganalisa senyawa organik dan anorganik
serta analisa kualitatif dan analisa kuantitatif dengan melihat kekuatan absorpsi senyawa pada
panjang gelombang tertentu. (Thermo Nicolet Corp, 2001)

Sinar infra merah memiliki rentang panjang gelombang dari 2.5 m sampai 25 m.
Adapun frekuensi sinar infra red memiliki rentang dari 400 cm- 1 sampai 4000 cm-1 . FTIR
merupakan salah satu pengujian tidak merusak.Dalam spektroskopi sinar infra merah, radiasi
sinar infra merah ditembakkan ke arah sebuah molekul.Sebagian radiasi sinar infra merah
tersebut diserap (diadsorpsi) oleh molekul dansebagian lagi diteruskan (ditransmisikan) melalui
molekul tersebut yangmenghasilkan sebuah spektrum.

Hasil spektrum tersebut mewakili nilai adsorpsidan transmisi dari molekul. Seperti sidik
jari manusia, tidak ada molekul yangmemiliki nilai spektrum atau vibrasi yang sama. Hal itu
menyebabkanspektroskopi infra merah sangat bermanfaat untuk menganalisis dari
molekul.Instrumen FTIR memiliki 5 komponen, yaitu Sumber sinar infra merah, Interferometer,
Sampel, Detektor, dan komputer.Alat uji FTIR ditunjukkan seperti pada Gambar

Pengujian FTIR memiliki 3 fungsi, yaitu (i) untuk mengidentifikasimaterial yang belum
diketahui, (ii) untuk menentukan kualitas atau konsistensisampel, dan (iii) untuk menentukan
intensitas suatu komponen dalam sebuahcampuran.

FTIR merupakan pengujian kuantitatif untuk sebuah sampel.Ukuranpuncak (peak) data


FTIR menggambarkan jumlah atau intensitas senyawa yangterdapat didalam sampel.

FTIR menghasilkan data berupa grafik intensitas danfrekuensi.Intensitas menunjukkan


tingkatan jumlah senyawa sedangkan frekuensimenunjukkan jenis senyawa yang terdapat dalam
sebuah sampel. Gambar 2.18menunjukkan hasil proses pengujian instrumental FTIR. (Thermo
Nicolet Corp, 2001)

2.5 Aplikasi Nanoteknologi Bahan Alam

Kitosan merupakan hasil derivat dari kitin, yang didapatkan dalam invertebrata seperti
Crustacea sp dan kutikula serangga, beberapa jamur, alga hijau dan ragi. Kitosan merupakan
biopolimer yang unik dan memiliki sifat yang luar biasa, baik dalam hal biodegradasi dan
biokompabilitas. Sifat yang luar biasa dalam kitosan dapat dikarenakan adanya amina primer
yang cukup panjang. Selain itu, kitosan memiliki fungsi hidrofobik nonionik maupun kationik
hidrofilik. Kitosan didegradasi dalam tubuh dengan reaksi antara kitonase dan lisozim.

Keunggulan yang dimiliki kitosan ini menjadi salah satu faktor yang menarik untuk
diaplikasikan dalam bidang biomedis dan farmasi . Kitosan memiliki potensi untuk
dikembangkan sebagai bahan aktif atau eksipien dalam bidang farmasi.

Sebagai bahan aktif, kitosan dapat dimanfaatkan dalam pembuatan sediaan farmasi yang
bertujuan untuk mencegah atau mengobati suatu penyakit, karena diketahui kitosan memiliki
sifat antibakteri .Selain itu, kitosan dapat dimanfaatkan untuk membantu dalam sistem
penghantaran obat dan dapat mengendalikan laju pelepasan obat, sehingga kerja obat dapat lebih
maksimal.
SEDIAAN NANOPARTIKEL

Sediaan nanopartikel merupakan hasil dari pembaharuan dalam bidang bioteknologi.


Sediaan nanopartikel akan membantu meningkatkan efektivitas kerja obat, terutama yang
diberikan secara oral. Pemberian obat secara oral memiliki tingkat bioavailabilitas yang rendah
karena stabilitas obat yang mudah sekali terpengaruh oleh keadaan pH, enzim dan degradasi
mikroba. Oleh karena itu, pembentukan polimer nanopartikel dibutuhkan untuk meningkatkan
bioavaibilitas obat, terutama dalam melindungi obat dari degradasi dalam saluran pencernaan.
Selain itu, sediaan nanopartikel dapat mengontrol pelepasan obat dan dapat bekerja spesifik
terhadap target obat

Penghantar obat Anti-Alzheimer Alzheimer merupakan penyakit yang berdasarkan


adanya gangguan pada fungsi syaraf. Tacrine merupakan obat dalam membantu penyakit
Alzheimer dengan menghambat asetilkolinesterase.

Tacrine juga mampu menghambat kanal ion kalium, sehingga dapat memperpanjang
durasi aksi yang kemudian meningkatkan pelepasan astilkolin dari saraf kolinergik. Sediaan
nanopartikel tacrine-kitosan dibuat dengan cara emulsifikasi spontan.
Emulsifikasi spontan merupakan proses pembuatan emulsi tanpa adanya suplai energi
dari luar ketika dua cairan saling bercampur dengan tegangan permukaan yang rendah.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Wilson et al, 2010, dibuktikan bahwa pelepasan
obat dengan pemberian nanopartikel tacrine-kitosan lebih lambat dibandingkan dengan
pemberian takrine saja. Selain itu, penambahan polysorbate 80 pada nanopartikel tacrine-kitosan
dapat juga mengurangi pelepasan obat.

Sehingga, nanopartikel tacrine-kitosan yang ditambahkan polysorbate 80 memiliki


potensi dalam pengobatan Alzheimer dengan memperpanjang durasi kerja obat tacrine dan
meningkatkan biavaibilitas obat di otak

Penghantar obat mata

Cyclosporine A (CsA) merupakan obat tetes mata yang cukup banyak digunakan. CsA
tidak dapat diformulasikan bersama dengan air karena bersifat hidrofobik sehingga memiliki
kelarutan yang kurang dalam air . Kelemahan utama dari sediaan tetes mata yaitu. pelepasan obat
yang cepat dan jumlah yang diterima oleh mata tidak sesuai dosis karena adanya drainase dan
omset air mata yang tinggi .

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Basaran, 2013, CsA dapat diformulasikan ke
dalam nanopartikel kitosan kationik dengan metode pengeringan semprot. Metode ini
berdasarkan prinsip pengeringan partikel dengan menggunakan uap panas . Dalam pembuatan
nanopartikel ini, dilakukan variasi kitosan berdasarkan berat molekul. Pengujian ini dilakukan
terhadap domba secara in vivo. Setelah diberi perlakuan selama 72 jam, maka dilakukan uji
profil CsA dalam sampel.

Hasil akhir menunjukkan bahwa perlakuan sampel dengan nanopartikel kitosan-CsA


masih mengandung obat CsA dalam kornea dan permukaan konjungtiva sampel, hal ini
mengindikasikan adanya peningkatan penetrasi dan durasi kerja CsA yang lebih panjang.
Penghantar obat AntiTuberkulosis (TB)

Tuberkulosis merupakan penyakit dimana terdapat bakteri basil yaitu Mycobacterium


tuberculosis di dalam paru. Penyebaran penyakit ini biasanya melalui udara. Obat anti-
tuberkulosis yang sudah beredar saat ini memiliki kelemahan, seperti harga yang mahal, durasi
pengobatan yang lama dan efek samping yang menyertainya .

Beberapa tahun terakhir ini telah diupayakan pembuatan obat anti-tuberkulosis berupa
sediaan nanopartikel sehingga obat akan langsung menuju paru-paru melalui rute pulmonary .
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Garg, 2015, kitosan digunakan sebgai pembawa obat anti-
tuberkulosis (rifampisin dan isoniazid). Pemilihan kitosan dikarenakan, kitosan memilki
biodegradasi dan biocompatible yang baik, juga merupakan polimer kationik yang tidak toksik
dimana mukoadesifnya serta permeabilitas membrannya pun baik .

Proses formulasi nanopatikel obat anti-tuberkulosis dengan kitosan dibuat menggunakan


teknik gelasi ionik. Prinsip dari teknik ini berdasarkan adanya interaksi elektrostatik antara grup
amina kitosan dan grup muatan negatif tripolifosfat (TPP). Larutan TPP ditambahkan ke dalam
larutan kitosan yang mengandung isoniazid dan rifampisin dengan konsentrasi yang berbeda.
Setelah nanopatikel obat anti-tuberkulosis dengan kitosan terbentuk, dibuat sediaan inhalasinya
dengan metode pengeringan semprot dengan menambahkan mannitol (1% m/v) dan leucin
(0.25% m/v). Pengujian dilakuakn secara in vivo terhadap mencit betina. Hasil dari penelitian ini
menunjukkan bahwa formulasi nanopatikel obat antituberkulosis dengan kitosan tidak toksik dan
aktivitasnya lebih tinggi dalam mereduksi Mycobacterium tuberculosis dibandingkan obat anti-
tuberkulosis tanpa kitosan.

Sehingga dipastikan bahwa nanopartikel kitosan merupakan penghantar obat anti-


tuberkulosis yang baik untuk pengobatan tuberkulosis karena membuat obat kerjanya spesifik
pada jarigan paru-paru.

Penghantar Insulin

Penelitian yang dilakukan oleh Hecq, 2015, membandingkan antara nanopartikel kitosan-
insulin dengan nanopartikel derivat kitosan-insulin. Formulasi pembuatan nanopartikel ini
menggunakan prinsip interaksi elektrostatik antara TPP yang bermuatan negatif dengan kitosan
yang merupakan polimer bermuatan positif. Dengan adanya penambahan kitosan pada insulin,
sediaan nanopartikel memiliki stabilitas yang tinggi dalam sistem penghantaran obat karena,
insulin menjadi lebih stabil dalam menghadapi perubahan pH yang terjadi pada saluran
pencernaan dan meningkatkan mukoadesif.

Setelah dibandingkan antara nanopartikel kitosaninsulin dengan nanopartikel derivat


kitosan-insulin, nanopartikel derivat kitosan-insulin memiliki efektivitas yang lebih tinggi. Hal
ini bisa dikarenakan kelarutan derivat kitosan lebih tinggi karena adanya gugus amonium
kuartener. Formulasi yang paling baik, ditunjukkan dari formulasi dengaan konsentrasi derivat
kitosan sebesar 33%. Formulasi ini menunjukkan nilai Z-average 142 10 nm, zeta potensial 29
1mV, efikasi enkapsulasi 52 3% dan pelepasan insulin terjadi selama 210 menit.