Anda di halaman 1dari 17

PROGRAM KERJA

PANITIA PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI


RSIA KARUNIA KASIH

TAHUN 2016

A. PENDAHULUAN
Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi sangat penting untuk
dilaksanakan baik di rumah sakit maupun fasilitas pelayanan kesehatan
lainnya. Hal ini tidak hanya penting sebagai tolak ukur mutu pelayanan
kesehatan, juga untuk melindungi pasien, petugas rumah sakit, pengunjung,
dan keluarga pasien dari risiko tertularnya infeksi karena dirawat, bertugas,
atau berkunjung ke rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.

Di samping Rumah Sakit merupakan sarana pelayanan kesehatan yang saat ini
semakin berkembang seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
tekhnologi, di lain pihak Rumah Sakit dihadapkan tantangan yang makin
besar. Rumah Sakit dituntut agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang
bermutu, akuntabel, dan transparan kepada masyarakat, khususnya bagi
jaminan keselamatan pasien ( patient safety ).

B. LATAR BELAKANG
Berdasarkan data dari Australian Commission on Safety & Quality in
Healthcare, 2009, kejadian HAIs pertahun adalah 200.000 kejadian dengan
7000 angka kematian yang memakan biaya lebih dari 2 juta $ Australia,
dimana 50% dari kejadian tersebut dapat dicegah. Sedangkan data dari
Umscheid et al. Infect Control Hospital Epidemiology 2011;32:101-14, USA
terdapat 1,7 juta kejadian HAIs, dengan 99.000 angka kematian yang
menghabiskan biaya sekitar 10-25 juta US$, dimana sekitar 55%-70% dari
kejadian tersebut dapat dicegah.
Program pengendalian infeksi ini dilaksanakan secara multidisiplin yang
tergabung dalam komite pengendalian Infeksi rumah sakit yaitu terdiri dari
dokter spesialis penyakit dalam, dokter umum, perawat pengendali infeksi
(ICN), seluruh supervisor dari hampir semua unit yang berperan sebagai
infection prevention control link nurse (IPCLN) seperti laboratorium, UGD,
perawatan, farmasi, clening service & semua bangsal perawatan. Komite
pengendalian infeksi ini mengadakan rapat koordinasi setiap 3 bulan guna
meningkatkan pelayanan baik kepada pelanggan, keluarga dan petugas
khususnya dalam pencegahan dan pengendalian infeksi.

C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mengurangi terjadinya infeksi dalam upaya peningkatan mutu pelayanan
RSIA Karunia Kasih meliputi kualitas pelayanan manajemen risiko dan
keselamatan kerja.
2. Tujuan Khusus
a. Surveilans
0 Pelaksanaan surveilans 100%
0 Insiden phlebitis 20 ; ISK 10 ; IDO 1.5%
b. Angka kepatuhan APD > 80%
c. Angka kepatuhan cuci tangan 100%
d. Pelaksanaan ICRA 100% minimal satu kali dalam satu tahun
e. Sterilisasi dan Single Use Reuse
0 Indikator tape eksternal 100% berubah menjadi hitam
0 Uji visual 100% layak pakai
0 Uji swab peralatan 100% bebas kuman
0 Peralatan single use reuse 100% bersih dan bebas kuman
f. Pembuangan limbah benar 100%
g. Penanganan Linen
0 Linen bersih 100%
0 Kehilangan linen 0%
h. Pelaksaan Kesehatan Karyawan
0 Vaksinasi Hepatitis B pada petugas di area high risk yang berjumlah
25 orang (UGD, VK, OK) tercapai 100% pada bulan Agustus
0 Kejadian tertusuk jarum maksimal 6 kali dalam setahun
0 Medical check up 100% tercakupi pada seluruh karyawan setiap
satu tahun sekali
i. Pemeriksaan Sanitasi Lingkungan
0 Pemeriksaan baku mutu air bersih dari ruangan-ruangan yang dipilih
dilakukan setiap 6 bulan sekali dengan target 100% bebas colliform
0 Pemeriksaan udara lingkungan, dilakukan setiap ada renovasi dan
6 bulan sekali dengan cakupan 100%
0 Pemeriksaan alat makan dan makanan jadi setiap 6 bulan sekali
dengan hasil swab 0 CFU
j. Pendidikan dan Latihan PPI
0 Seluruh karyawan baru 100% tersosialisasi mengenai PPI
0 Pelatihan PPI dasar bagi karyawan cakupan 100%
0 Pelatihan materi PPI pada staf dilakukan minimal satu kali dalam 2
bulan

D. RENCANA KEGIATAN
Program utama yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Kegiatan surveilans
2. Pemantauan ketepatan penggunaan APD
3. Pelaksanaan kebersihan tangan bagi seluruh petugas
4. Membuat ICRA
5. Sanitasi lingkungan (pengelolaan limbah, linen, makanan, kamar mayat)
6. Monitoring sterilisasi dan peralatan single use reuse

E. RINCIAN PELAKSANAAN KEGIATAN


1. Kegiatan Surveilans
a. Latar Belakang
- HAIs merupakan infeksi yang terjadi atau didapat di rumah sakit baik
pada pasien selama perawatan ataupun sudah pulang dari masa
perawatan. Infeksi HAIs dapat menyebabkan angka kesakitan yang
tinggi, lama perawatan meningkat, hingga angka kematian.
0 Surveilans yang dilakukan di RSIA Karunia Kasih mencakup tiga
infeksi HAIs yaitu phlebitis, infeksi saluran kemih, dan infeksi
daerah operasi.
b. Tujuan
0 Melakukan pemantauan angka infeksi HAIs di RSIA Karunia Kasih
0 Mendapatkan data dasar infeksi HAIs di RSIA Karunia Kasih
0 Menurunkan angka infeksi HAIs di RSIA Karunia Kasih
c. Rencana Kegiatan
Cara pelaksanaan kegiatan :
Monitoring harian dilakukan berupa pendataan semua pasien yang
berada di ruangan yang terpasang alat invasif (infus dan kateter) dan
pasien post operasi, serta kejadian HAIs. Monitoring harian
dilakukan oleh IPCLN masing-masing ruangan yang selanjutnya
akan dilaporkan kepada IPCN.
Audit dilakukan setiap satu bulan sekali untuk menginvestigasi akar
masalah dari kejadian HAIs
Membuat laporan bulanan berdasarkan monitoring harian
Jika terdapat kejadian infeksi HAIs selama perawatan, maka petugas
kesehatan membuat laporan kejadian, kemudian dilaporkan pada
IPCN. IPCN akan melakukan investigasi ke ruangan tersebut dan
berkoordinasi dengan dokter penanggung jawab.
Membuat laporan 3 bulanan yang berisi tentang analisa kejadian
HAIs di RSIA Karunia Kasih, tren yang terjadi, serta rekomendasi
yang diajukan dalam rangka menurunkan angka kejadian HAIs
tersebut.
d. Target Pencapaian
Surveilance target :
0 Angka Phlebitis : 20 per mil
0 Angka ISK : 10 per mil
0 Angka IDO : 1.5%
Pelaksanaan surveilans 100%
2. Melakukan pemantauan ketepatan pemakaian Alat Pelindung Diri
(APD)
a. Latar Belakang
0 Penggunaan Alat Pelindung Diri merupakan salah satu pilar dari 6
program PPI yang sangat penting untuk mengurangi angka infeksi
0 Monitoring ketepatan pemakaian APD di unit masing-masing
sangatlah diperlukan agar tidak terjadi kesalahan dan
ketidakwaspadaan yang menyebabkan terjadinya infeksi
b. Tujuan
0 Melakukan sosialisasi mengenai pentingnya APD dan penggunaan
APD pada tindakan-tindakan tertentu di unit terkait
0 Melakukan pengawasan terhadap kepatuhan karyawan RSIA
Karunia Kasih dalam mengenakan APD
0 Menurunkan angka infeksi yang diakibatkan karena ketidakpatuhan
pemakaian APD
c. Rencana Kegiatan
Cara pelaksanaan kegiatan :
Melakukan sosialisi penggunaan APD bagi seluruh petugas RSIA
Karunia Kasih
Melakukan penetapan area penggunaan APD sesuai dengan
fungsinya di unit masing-masing
Menyediakan tempat penyimpanan APD di unit-unit dengan risiko
tinggi yang memiliki banyak tindakan seperti OK, VK, IGD, dan
poli kebidanan
Melakukan monitoring penggunaan APD setiap harinya
Melakukan audit penggunaan APD setiap 2 bulan sekali
Melakukan evaluasi, rekomendasi, dan tindak lanjut dari hasil
monitoring dan audit
d. Target pencapaian
Seluruh petugas di RSIA Karunia Kasih memiliki angka kepatuhan
penggunaan APD yang baik yaitu > 80%
3. Pelaksanaan program kebersihan tangan untuk semua karyawan
a. Latar Belakang
0 Kebersihan tangan merupakan salah satu dari 11 kewaspadaan standar
yang harus betul-betul dipahami dan diaplikasikan secara benar oleh
semua petugas di RSIA Karunia Kasih, karena kebersihan tangan
merupakan salah satu faktor penting dalam kejadian HAIs
0 Kebersihan tangan di RSIA Karunia Kasih mengacu pada WHO
terdiri dari 2 jenis yaitu handrub (menggunakan cairan pembersih
tangan yang mengandung khlorheksidin 2%) dan handwash
(menggunakan air mengalir dan sabun cuci tangan) dan juga terdiri
dari 5 momen dan 6 langkah mencuci tangan.
b. Tujuan
0 Terciptanya kesadaran seluruh petugas di RSIA Karunia Kasih
terhadap pentingnya melakukan kebersihan tangan
0 Petugas memahami betul 5 momen dan 6 langkah cuci tangan versi
WHO
0 Mengurangi atau meniadakan kejadian HAIs yang disebabkan oleh
ketidakpatuhan petugas dalam melakukan kebersihan tangan
c. Rencana kegiatan
Cara pelaksanaan kegiatan :
Melakukan edukasi dan sosialisasi 5 momen dan 6 langkah cuci
tangan WHO kepada seluruh karyawan baik petugas medis maupun
non-medis secara berkala setiap 3 bulan sekali
Menyediakan sarana prasarana kebersihan tangan di titik-titik
strategis diantaranya cairan handrub berbasis klorheksidin 2%,
wastafel, sabun antiseptik, panduan cuci tangan WHO di setiap titik
sarana cuci tangan, petunjuk pengingat berupa leaflet dan banner
Melakukan penetapan momen cuci tangan berdasarkan area
Melakukan monitoring kebersihan tangan setiap harinya di seluruh
unit
Melakukan audit kebersihan tangan setiap 2 bulan sekali
0 Melakukan evaluasi, rekomendasi, dan tindak lanjut dari hasil
monitoring dan audit
d. Target pencapaian
Seluruh petugas di RSIA Karunia Kasih memiliki angka kepatuhan
cuci tangan 100%

4. Membuat ICRA
a. Latar Belakang
- ICRA merupakan bagian dari proses perencanaan PPI yang
merupakan langkah awal untuk mengembangkan rencana dengan
baik
- Komite PPIRS melakukan ICRA yang dilaksanakan setiap tahunnya
atau kurang dari itu bila dibutuhkan
- ICRA yang dilakukan adalah ICRA klinis dan konstruksi
b. Tujuan
- Meningkatkan keselamatan pasien RSIA Karunia Kasih
- Meningkatkan keselamatan staf
- Meningkatkan efisiensi
- Mengidentifikasi issue kebutuhan training staf
- Mengembangkan hipotesa untuk mengantisipasi potensial resiko
- Justifikasi kebutuhan untuk mengimplementasi kegiatan PPI baru
atau meneruskan kegiatan yang sedang berjalan
- Menghindari potensial KTD
c. Rencana Kegiatan
Cara pelaksanaan kegiatan :
0 Melakukan identifikasi risiko berdasarkan data laporan insiden,
complain, dan surveilans
0 Melakukan analisis risiko dengan matriks grading resiko, mencari
root cause analysis
0 Mengevaluasi risiko
0 Melakukan pengelolaan risiko
d. Target Pencapaian
Pelaksanaan ICRA 100% minimal sekali dalam satu tahun

5. Monitoring Sterilisasi dan Peralatan Re Use - Single Use di RSIA


Karunia Kasih
a. Latar Belakang
0 Sterilisasi merupakan salah satu pilar dalam program PPI yang
berperan besar dalam angka HAIs khususnya angka IDO (infeksi
daerah operasi) dan pada tindakan-tindakan medis lainnya
0 Monitoring proses sterilisasi sangat penting agar dapat terkontrol
proses sterilisasi dari awal sampai akhir dan terjamin kualitas
peralatan medisnya
0 Pelayanan sterilisasi di RSIA Karunia Kasih telah tersentralisasi di
Unit Sterilisasi. Kegiatannya mencakup perencanaan pengadaan,
pencucian alat kotor, desinfeksi alat, pengemasan, pemberian label,
proses sterilisasi, dan penyimpanan
0 Peralatan Re Use Single Use adalah peralatan-peralatan yang
harusnya digunakan single use namun dapat di re use sesuai
dengan kebijakan rumah sakit atas dasar-dasar tertentu seperti
harganya mahal dan barang yang sulit didapatkan
0 Di RSIA Karunia Kasih, terdapat beberapa peralatan single use
yang di re use yang pengelolaanya dilakukan oleh petugas Unit
Sterilisasi di bawah pengawasan tim PPI RSIA Karunia Kasih
b. Tujuan
0 Mengadakan pengawasan dan kontrol mutu terhadap hasil sterilisasi
0 Menjamin tidak adanya penularan infeksi dari peralatan medis
yang keluar dari unit sterilisasi
0 Memonitor penggunaan alat single use yang di re use agar
penggunaannya sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan
c. Rencana kegiatan
Cara pelaksanaan kegiatan :
0 Monitoring harian mencakup keberhasilan proses sterilisasi
berdasarkan indikator tape internal dan eksternal, uji visual,
pemakaian desinfektan
0 Audit dilaksanakan setiap sebulan sekali
0 Pemeriksaan kuman pada alat yang telah dilakukan sterilisasi,
lantai, dinding, dan alat sterilisasi dilakukan setiap 6 bulan sekali.
0 Monitor penggunaan alat medis single use re use berdasarkan
tape jumlah pemakaian dan melakukan swab alat setelah selesai
pemakaian sesuai dengan ketentuan alat masing-masing
d. Target pencapaian
0 Indikator tape eksternal pada peralatan medis yang sudah menjalani
proses sterilisasi 100% berubah warna menjadi kehitaman
0 Uji visual menunjukkan 100% alat medis yang telah disterilisasi
layak pakai
0 Uji swab kuman menunjukkan seluruh peralatan dan linen yang
telah disterilisasi 100% bebas kuman
0 Peralatan single use reuse 100% bebas kuman

6. Pengelolaan limbah
a. Latar belakang
- Limbah merupakan hasil samping dari pelayanan rumah sakit yang
dapat menjadi sumber infeksi utama baik bagi pasien, penunggu,
maupun petugas kesehatan.
- Limbah di RSIA Karunia Kasih terbagi menjadi limbah cair
(infeksius dan non infeksius), limbah padat (infeksius, non
infeksius, dan benda tajam), serta limbah B3. Limbah infeksius
dibuang ke tempat sampah dengan plastik kuning sementara
limbah non-infeksius ke tempat sampah dengan plastik hitam
- Limbah cair infeksius akan dialirkan ke IPAL, limbah padat non
infeksius akan diangkut oleh Dinas Kebersihan, sementara limbah
padat infeksius dan benda tajam dikelola oleh pihak ketiga.
b. Tujuan
0 Mengadakan pengawasan terhadap pengelolaan limbah di RSIA
Karunia Kasih baik di unit pelayanan pasien seperti ruang rawat
inap, rawat jalan, IGD, OK, dan VK; penunjang medic seperti
laboratorium dan gizi; sampai ke pengelolaan limbah oleh pihak
ketiga
0 Menjamin semua petugas kesehatan di RSIA Karunia Kasih
memahami tentang macam-macam limbah, pemilahan limbah,
serta akibat dari pengelolaan limbah yang tidak baik
0 Mencegah penularan infeksi yang diakibatkan limbah yang tidak
dikelola sebagaimana harusnya
c. Rencana kegiatan
Cara pelaksanaan kegiatan :
Menyediakan 3 jenis tempat penampungan sampah, yaitu plastic
hitam untuk limbah non infeksius, plastic kuning untuk limbah
infeksius, dan safety box untuk limbah benda tajam
Monitoring harian pembuangan limbah oleh unit kesehatan
lingkungan
Melakukan audit pengelolaan limbah 1x setiap bulan
Melakukan edukasi mengenai pemilahan limbah kepada petugas
kesehatan RSIA Karunia Kasih
Melakukan audit ke pihak ketiga yang melakukan pengelolaan
limbah infeksius dan benda tajam minimal 1x setiap tahun
d. Target pencapaian
Pembuangan limbah dengan benar tercapai 100%

7. Pengelolaan linen
a. Latar Belakang
0 Linen merupakan salah satu bagian penting dalam alur pelayanan
pasien. Ketersediaan linen yang terstandar, baik dari jumlah,
kebersihan, kesterilan, dan kecantikan merupakan hal yang harus
dipenuhi oleh Rumah Sakit sebagai salah satu peningkatan mutu
pelayanan.
0 Pelayanan linen di RSIA Karunia Kasih melibatkan pihak ketiga
untuk pencuciannya. Sementara itu di Rumah Sakit sendiri
dilakukan penyimpanan dan distribusi yang sudah terpusat di Unit
Linen.
b. Tujuan
0 Mencegah penularan infeksi dari pasien ke petugas linen, tenaga
kesehatan, maupun pihak ketiga, dan sebaliknya
0 Meningkatkan mutu pelayanan unit linen
c. Rencana kegiatan
Cara pelaksanaan kegiatan :
Monitoring harian pemisahan linen infeksius dan non-infeksius
beserta beratnya
Ketepatan penggunaan APD petugas linen dan pihak ketiga
Monitoring ke pihak ketiga sebanyak minimal 1x setahun
d. Target pencapaian
Linen bersih 100%
Kehilangan linen 0%

8. Pemeriksaan Khusus Karyawan RSIA Karunia Kasih dan Vaksinasi


Hepatitis B
a. Latar belakang
0 Rumah sakit sebagai tempat pelayanan bukan hanya menjamin
kesejahteraan pasien namun juga harus menjamin kesejahteraan
karyawannya, khususnya dalam hal pencegahan infeksi
0 Rumah sakit dibagi menjadi area yang beresiko tinggi seperti unit
perawatan, OK, IGD; area beresiko sedang, dan area beresiko
rendah seperti kantor manajemen.
0 Untuk area beresiko tinggi, kesehatan karyawan harus lebih
diperhatikan karena mencakup tingginya risiko penyebaran infeksi
yang didapat oleh petugas
b. Tujuan
0 Bekerja sama dengan K3RS dalam menjamin kesehatan karyawan
RS terjaga selama bertugas menjalankan pelayanan di RSIA
Karunia Kasih
0 Mencegah penyebaran infeksi dari pasien ke petugas RSIA
Karunia Kasih
0 Menghindari kesakitan karyawan RS yang didapat selama bertugas
c. Rencana kegiatan
Cara pelaksanaan kegiatan :
Pemeriksaan berkala (general check up) setiap 1 tahun sekali yang
disesuaikan dengan kondisi RS dan diprioritaskan untuk karyawan
yang bertugas di area risiko tinggi seperti petugas unit perawatan,
OK, IGD, gizi, sanitasi, laboratorium, dan dokter
Pemberian vaksinasi Hepatitis B yang dilakukan secara bertahap dan
diprioritaskan pada karyawan yang bekerja di area risiko tinggi
terlebih dahulu
Pelaporan pajanan dan insiden kecelakaan kerja (tertusuk jarum) Bila
ada staf yang terkena jarum bekas pakai maka harus dilakukan: Bila
kena benda tajam, maka bilas luka tersebut dibawah air mengalir dan
gunakan antiseptic, dan bila terkena cairan tubuh pasien ke daerah
mukosa seperti mata, hidung dan mulut, maka bilas daerah tersebut
dibawah air mengalir , ambil sample darah staf yang terpapar dan
pasien, buat laporan kejadian , lapor ke IPCN dan K3.
Pengobatan dan atau konseling. Bila setelah bekerja hasil check up
menunjukkan adanya hasil positif untuk penyakit menular, maka
karyawan dikonsultasikan dengan dokter konsulen terkait, untuk
selanjutnya diterapi dan dievaluasi kelayakan bekerjanya
d. Target pencapaian
Medical check up bagi seluruh karyawan tercakupi 100% dilakukan
setiap tahun
Vaksinasi Hepatitis B pada semua petugas yang beresiko tercapai
100% dalam waktu 1 tahun
0 Kejadian tertusuk jarum maksimal 6 kali dalam setahun

9. Pemeriksaan Sanitasi Lingkungan


a. Latar Belakang
- Sanitasi lingkungan merupakan faktor penting dalam pencegahan dan
pengendalian infeksi
- Pemeriksaan sanitasi lingkungan harus rutin dilakukan agar dapat
menghindari penyebaran infeksi yang diakibatkan oleh lingkungan
yang tercemar mikroorganisme
b. Tujuan
- Menghindari penyebaran infeksi yang diakibatkan oleh pencemaran
lingkungan
c. Rencana Kegiatan
- Pemeriksaan baku mutu air bersih dari ruangan-ruangan yang dipilih,
dilakukan setiap 6 bulan sekali
- Pemeriksaan udara lingkungan, dilakukan setiap ada renovasi dan 6
bulan sekali
- Pemeriksaan alat makan dan makanan jadi, setiap 6 bulan sekali
d. Target Pencapaian
- Pemeriksaan baku mutu air bersih dari ruangan-ruangan yang dipilih
dilakukan setiap 6 bulan sekali dengan target 100% bebas coliform -
Pemeriksaan udara lingkungan, dilakukan setiap ada renovasi dan 6
bulan sekali dengan cakupan 100%
- Pemeriksaan alat makan dan makanan jadi setiap 6 bulan sekali
dengan hasil swab 0 CFU

10. Pendidikan dan Pelatihan PPI


a. Latar Belakang
0 Penyebaran infeksi sangat potensial terjadi di rumah sakit, yaitu
pada petugas, pasien, keluarga pasien, maupun pengunjung
0 Hal ini salah satunya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan
mengenai pencegahan dan pengendalian infeksi oleh semua lapisan
yang ada di rumah sakit
0 Program diklat sebagai penunjang utama dari pencegahan dan
pengendalian infeksi di RSIA Karunia Kasih, berperan penting
untuk meningkatkan kemampuan kognitif maupun motoric bagi staf,
serta mengedukasi pasien, keluarga, serta pengunjung mengenai
pentingnya PPI.
b. Tujuan
0 Meningkatkan pengetahuan semua staf di rumah sakit dalam
melakukan prosedur tindakan yang sesuai dengan prinsip
pengendalian infeksi
0 Meningkatkan pengetahuan pasien, keluarga, dan pengunjung
mengenai pencegahan dan pengendalian infeksi
c. Rencana Kegiatan
0 Pelatihan PPI dasar
0 Pelatihan hand hygiene
0 Sosialisasi etika batuk, penggunaan APD, praktik menyuntik yang
aman
0 Sosialisasi alur tertusuk jarum dan pajanan cairan tubuh
0 Sosialisasi penanganan linen dan limbah
0 Sosialisai hand hygiene dan etika batuk bagi pasien, keluarga, dan
pengunjung
0 Pelatihan terkait bundle HAIs (okasional)
0 Pre test dan post test terkait materi PPI
0 Orientasi karyawan baru
d. Target Pencapaian
0 Seluruh karyawan baru 100% tersosialisasi mengenai PPI
0 Pelatihan PPI dasar bagi karyawan cakupan 100%
0 Pelatihan materi PPI pada staf dilakukan minimal satu kali dalam 2
bulan
F. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN & PELAPORAN
1. Evaluasi pelaksanaan seluruh kegiatan dan pelaporannya dilakukan
sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan
2. Setiap bulan mengadakan rapat Tim PPIRS untuk evaluasi kegiatan
3. Setiap tahun ketua komite PPIRS membuat laporan pelaksanaan
kegiatan PPIRS ke Direktur RS.

G. PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN


1. Pencatatan, pelaporan dan evaluasi seluruh kegiatan dilakukan dengan
jadwal yang ada.
2. Setiap malam Penanggung Jawab shift mengisi formulir laporan jumlah
tindakan harian dan staff wajib melaporkan bila ada kejadian infeksi
nosokomial dengan mengisi formulir pemberitahuan kejadian infeksi
3. Setiap karyawan Rumah Sakit ibu dan anak RSIA Karunia Kasih wajib
melapor bila terjadi tertusuk jarum bekas pakai
4. Melakukan evaluasi dan tindak lanjut terhadap rekomendasi dari hasil
audit sebelumnya.
5. Evaluasi program Tim PPIRS dilaksanakan setiap akhir tahun anggaran.
Pembiayaan Pelaksanaan Program Pencegahan Pengendalian Infeksi
Rumah Sakit ini sepenuhnya menggunakan anggaran Rumah Sakit.

Bekasi, 20 Februari 2016

IPCO IPCN

dr. Firdha Malisa Sarah Safitri, AMK

Mengetahui,

Direktur RSIA Karunia Kasih


dr. Surya Witantra Giri, Sp. Ak