Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN
TUBERKULOSIS PARU

DISUSUN OLEH :

1. NELY MARLINA (1680200008)

DOSEN PENGAMPUH :

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
BENGKULU
2017

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini
sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan. Tak lupa pula, penulis kirimkan
salam dan salawat kepada junjungan kita semua, Rasulullah Muhammad SAW,
keluarga, dan seluruh sahabatnya.
Makalah ini membahas tentang Tuberkulosis Paru. Banyak pihak yang
telah membantu dalam proses penyelesaian makalah ini. Oleh karena itu, penulis
ucapkan banyak terimakasih. Kami menyadari, bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, olehnya itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari para
pembaca sekalian.
Besar harapan kami, dengan hadirnya makalah ini dapat memberikan
sumbangsih yang berarti demi kemajuan ilmu pengetahuan bangsa.

Bengkulu, Desember 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i


KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ...................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ........................................................................ 2

BAB II KONSEP DASAR TEORI


A. Pengertian Tuberkulosis Paru
.....................................................................................................
.....................................................................................................
3
B. Anatomi Fisiologi
.....................................................................................................
.....................................................................................................
3
C. Etiologi
.....................................................................................................
.....................................................................................................
4
D. Klasifikasi
.....................................................................................................
.....................................................................................................
5
E. Patofisiologi
.....................................................................................................
.....................................................................................................
8
F. Manifestasi Klinis
.....................................................................................................
.....................................................................................................
10
G. Pemeriksaan Diagnostik
.....................................................................................................
.....................................................................................................
11

3
H. Penatalaksanaan Medis
.....................................................................................................
.....................................................................................................
12
I. Komplikasi
.....................................................................................................
.....................................................................................................
15

BAB III PEMBAHASAN KASUS


A. Pengkajian .................................................................................. 16
B. Pemeriksaan Fisik ....................................................................... 17
C. Pemeriksaan Penunjang .............................................................. 18
D. Diagnosa Keperawatan ............................................................... 18
E. Analisa Data dan Diagnosa Keperawatan ................................... 19
F. Intervensi ..................................................................................... 19
G. Implementasi .............................................................................. 23
H. Evaluasi ...................................................................................... 23

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ................................................................................. 24
B. Saran ........................................................................................... 24

DAFTAR PUSTAKA

4
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tuberculosis (TB) merupakan penyakit infeksi bakteri menahun yang
disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis, suatu basil tahan asam yang
ditularkan melalui udara.Penyakit ini ditandai dengan pembentukan
granuloma pada jaringan yang terinfeksi.Komplikasi. Penyakit TB paru bila
tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan komplikasi seperti: pleuritis,
efusi pleura, empiema, laryngitis dan TB usus.
Penderita tuberkulosis di kawasan Asia terus bertambah.Sejauh ini, Asia
termasuk kawasan dengan penyebaran tuberkulosis (TB) tertinggi di
dunia.Setiap 30 detik, ada satu pasien di Asia meninggal dunia akibat penyakit
ini. Sebelas dari 22 negara dengan angka kasus TB tertinggi berada di Asia, di
antaranya Banglades, China, India, Indonesia, dan Pakistan. Empat dari lima
penderita TB di Asia termasuk kelompok usia produktif (Kompas, 2007). Di
Indonesia, angka kematian akibat TB mencapai 140.000 orang per tahun atau
8 persen dari korban meninggal di seluruh dunia. Setiap tahun, terdapat lebih
dari 500.000 kasus baru TB, dan 75 persen penderita termasuk kelompok usia
produktif. Jumlah penderita TB di Indonesia merupakan ketiga terbesar di
dunia setelah India dan China.
Mengingat akan bahaya TB paru dan pentingnya memberikan pelayanan
pada masyarakat, terutama untuk mendeteksi dini, memberikan terapi yang
tepat serta pencegahan dan penanganan maka dalam makalah ini akan di bahas
segala teori tentang TB paru dan hubungannya dengan kesehatan untuk
kelangsungan hidup sehat. Selain itu, dalam makalah ini juga akan dibahas
peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap klien
penderita TB paru.

1
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar Belakang di atas Rumusan Masalah yang dapat
dirumuskan pada penulisan makalah ini adalah :
1. Apa Pengertian dari Tuberkulosis Paru ?
2. Bagaimana Anatomi Fisiologi dari Tuberkulosis Paru ?
3. Apa Etiologi dari Tuberkulosis Paru ?
4. Apa saja manifestasi klinis dari Tuberkulosis Paru?
5. Bagaimana Pemeriksaan diagnostik dari Tuberkulosis Paru ?
6. Bagaimankah penatalaksanaan medis Tuberkulosis Paru ?
7. Apa saja komplikasi Tuberkulosis Paru ?
8. Bagaimnakah Asuhan Keperawatan pada pasien Tuberkulosis
Paru ?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan pada makalah ini adalah :
1. Untuk Mengetahui Apa Pengertian dari Tuberkulosis Paru
2. Untuk Mengetahui Bagaimana Anatomi Fisiologi dari Tuberkulosis
Paru
3. Untuk Mengetahui Apa Etiologi dari Tuberkulosis Paru
4. Untuk Mengetahui Apa saja manifestasi klinis dari Tuberkulosis
Paru
5. Untuk Mengetahui Bagaimana Pemeriksaan diagnostik dari
Tuberkulosis Paru
6. Untuk Mengetahui Bagaimankah penatalaksanaan medis
Tuberkulosis Paru
7. Untuk Mengetahui Apa saja komplikasi Tuberkulosis Paru
8. Untuk Mengetahui Bagaimnakah Asuhan Keperawatan pada pasien
Tuberkulosis Paru

BAB II
KONSEP DASAR TEORI

2
A. Pengertian Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh
Mycobacterium tubeculosis. Kuman batang tanhan asam ini dapat merupakan
organisme patogen maupun saprofit. Ada beberapa mikrobakteria patogen ,
tetapi hanya strain bovin dan human yang patogenik terhadap manusia. Basil
tuberkel ini berukuran 0,3 x 2 sampai 4 m, ukuran ini lebih kecil dari satu sel
darah merah.

B. Anatomi Fisiologi
Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara
dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandung
Mycobakterium tuberkulosis dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2
jam. Orang dapat terifeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran
pernapasan. Setelah Mycobacterium tuberkulosis masuk ke dalam saluran
pernapasan, masuk ke alveoli, tempat dimana mereka berkumpul dan mulai
memperbanyak diri. Basil juga secara sistemik melalui sistem limfe dan aliran
darah ke bagian tubuh lainnya (ginjal, tulang, korteks serebri), dan area paru-
paru lainnya (lobus atas).
Sistem imun tubuh berespons dengan melakukan reaksi inflamasi.
Fagosit (neutrofil dan makrofag) menelan banyak bakteri; limfosit melisis
(menghancurkan) basil dan jaringan normal. Reaksi jaringan ini
mengakibatkan penumpukan eksudat dalam alveoli, menyebabkan
bronkopneumonia. lnfeksi awal biasanya terjadi 2 sampai 10 minggu setelah
pemajanan.
Massa jaringan baru, yang disebut granulomas, yang merupakan
gumpalan basil yang masih hidup dan yang sudah mati, dikelilingi oleh
makrofag yang membentuk dinding protektif. Granulomas diubah menjadi
massa jaringan fibrosa. Bagian sentral dari massa fibrosa ini disebut tuberkel
Ghon. Bahan (bakteri dan makrofag) menjadi nekrotik, membentuk massa
seperti keju. Massa ini dapat mengalami kalsifikasi, membentuk skar
kolagenosa. Bakteri menjadi dorman, tanpa perkembangan penyakit aktif.

3
Setelah pemajanan dan infeksi awal, individu dapat mengalami penyakit
aktif karena gangguan atau respons yang inadekuat dari respons sistem imun.
Penyakit aktif dapat juga terjadi dengan infeksi ulang dan aktivasi bakteri
dorman. Dalam kasus ini, tuberkel Ghon memecah, melepaskan bahan seperti
keju ke dalam bronki. Bakteri kemudian menjadi tersebar di udara,
mengakibatkan penyebaran penyakit lebih jauh. Tuberkel yang memecah
menyembuh, membentuk jaringan parut. Paru yang terinfeksi menjadi lebih
membengkak, mengakibatkan terjadinya bronkopneumonia lebih lanjut,
pembentukan tuberkel dan selanjutnya.
Kecuali proses tersebut dapat dihentikan, penyebarannya dengan lambat
mengarah ke bawah ke hilum paru-paru dan kemudian meluas ke lobus yang
berdekatan. Proses mungkin berkepanjangan dan ditandai oleh remisi lama
ketika penyakit dihentikan, hanya supaya diikuti dengan periode aktivitas
yang diperbaharui. Hanya sekitar 10% individu yang awalnya terinfeksi
mengalami penyakit aktif (Brunner dan Suddarth, 2002)

C. Etiologi
Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil
mikrobakterium tuberkulosis tipe humanus, sejenis kuman yang berbentuk
batang dengan ukuran panjang 1-4/mm dan tebal 0,3-0,6/mm. Sebagian besar
kuman terdiri atas asam lemak (lipid). Lipid inilah yang membuat kuman lebih
tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik.
Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin
(dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es). Hal ini terjadi karena kuman
berada dalam sifat dormant. Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit
kembali dan menjadikan tuberkulosis aktif kembali. Sifat lain kuman adalah
aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang
tinggi kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan bagian apikal paru-paru
lebih tinggi dari pada bagian lainnya, sehingga bagian apikal ini merupakan
tempat predileksi penyakit tuberkulosis.
Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi penting saluran
pernapasan. Basil mikrobakterium tersebut masuk kedalam jaringan paru

4
melalui saluran napas (droplet infection) sampai alveoli, maka terjadilah
infeksi primer (ghon) selanjutnya menyebar kekelenjar getah bening setempat
dan terbentuklah primer kompleks (ranke). keduanya dinamakan tuberkulosis
primer, yang dalam perjalanannya sebagian besar akan mengalami
penyembuhan. Tuberkulosis paru primer, peradangan terjadi sebelum tubuh
mempunyai kekebalan spesifik terhadap basil mikobakterium. Tuberkulosis
yang kebanyakan didapatkan pad usia 1-3 tahun. Sedangkan yang disebut
tuberkulosis post primer (reinfection) adalah peradangan jaringan paru oleh
karena terjadi penularan ulang yang mana di dalam tubuh terbentuk kekebalan
spesifik terhadap basil tersebut.

D. Klasifikasi
Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien tuberculosis
memerlukan suatu
definisi kasus yang meliputi empat hal , yaitu:
1. Lokasi atau organ tubuh yang sakit: paru atau ekstra
paru;
2. Bakteriologi (hasil pemeriksaan dahak secara
mikroskopis): BTA positif atau BTA negatif;
3. Tingkat keparahan penyakit: ringan atau berat.
4. Riwayat pengobatan TB sebelumnya: baru atau sudah
pernah diobati
Manfaat dan tujuan menentukan klasifikasi dan tipe adalah:
1. Menentukan paduan pengobatan yang sesuai
2. Registrasi kasus secara benar
3. Menentukan prioritas pengobatan TB BTA positif
4. Analisis kohort hasil pengobatan
Beberapa istilah dalam definisi kasus:
1. Kasus TB : Pasien TB yang telah dibuktikan secara
mikroskopis atau didiagnosis
oleh dokter.
2. Kasus TB pasti (definitif) : pasien dengan biakan positif
untuk Mycobacterium
tuberculosis atau tidak ada fasilitas biakan, sekurang-kurangnya

5
2 dari 3
spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.
Kesesuaian paduan dan dosis pengobatan dengan kategori
diagnostik sangat
diperlukan untuk:
1. Menghindari terapi yang tidak adekuat (undertreatment)
sehingga mencegah
timbulnya resistensi
2. Menghindari pengobatan yang tidak perlu (overtreatment)
sehingga meningkatkan pemakaian sumber-daya lebih biaya
efektif (cost-effective)
3. Mengurangi efek samping
1. Klasifikasi berdasarkan ORGAN tubuh yang terkena:
a. Tuberkulosis paru
Adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim)
paru. tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada
hilus.
b. Tuberkulosis ekstra paru
Adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain
selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung
(pericardium), kelenjar limfe, tulang, persendian, kulit, usus,
ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.
2. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan DAHAK
mikroskopis
a. Tuberkulosis paru BTA positif
1) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS
hasilnya BTA positif.
2) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto
toraks dada
menunjukkan gambaran tuberkulosis.
3) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan
biakan kuman TB positif.
4) 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif
setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan
sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada
perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
b. Tuberkulosis paru BTA negative

6
Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA
positif. Kriteria
diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi:
1) Minimal 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA
negative
2) Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran
tuberculosis
3) Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika
non OAT.
4) Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk
diberi pengobatan
3. Klasifikasi berdasarkan tingkat kePARAHan
penyakit.
a. TB paru BTA negatif foto toraks positif
dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya, yaitu
bentuk berat dan ringan. Bentuk berat bila gambaran foto
toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas
(misalnya proses far advanced), dan atau keadaan umum
pasien buruk.
b. TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat
keparahan penyakitnya, yaitu:
1) TB ekstra paru ringan, misalnya: TB kelenjar limfe,
pleuritis eksudativa
unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan
kelenjar adrenal.
2) TB ekstra-paru berat, misalnya: meningitis, milier,
perikarditis peritonitis, pleuritis eksudativa bilateral, TB
tulang belakang, TB usus, TB saluran kemih dan alat
kelamin.
4. Klasifikasi berdasarkan RIWAYAT pengobatan
sebelumnya
Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya
dibagi menjadi beberapa tipe pasien, yaitu:
a. Kasus Baru
Adalah pasien yang BELUM PERNAH diobati dengan OAT
atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4
minggu).
b. Kasus Kambuh (Relaps)

7
Adalah pasien TB yang sebelumnya pernah mendapat
pengobatan
tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan
lengkap,
didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur).
c. Kasus Putus Berobat (Default/Drop Out/DO)
Adalah pasien TB yang telah berobat dan putus berobat
2 bulan atau lebih dengan BTA positif.
d. Kasus Gagal (Failure)
Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap
positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau
lebih selama pengobatan.
e. Kasus Pindahan (Transfer In)
Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki
register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya.

f. Kasus lain
Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan
diatas. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik, yaitu
pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah
selesai pengobatan ulangan.

E. Patofisiologi
Penularan TB Paru terjadi karena kuman mycobacterium tuberculosis.
dibatukkan atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara.
Partikel infeksi ini dapat hidup dalam udara bebas selama kurang lebih 1-2
jam, tergantung pada tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang buruk dan
kelembaban. Suasana lembab dan gelap kuman dapat tahan berhari hari
sampai berbulanbulan. Bila partikel ini terhisap oleh orang sehat maka ia
akan menempel pada jalan nafas atau paruparu.
Partikel dapat masuk ke dalam alveolar, bila ukuran vartikel kurang dari
5 mikrometer. Kuman akan dihadapi terlebih dulu oleh neutropil, kemudian
baru oleh makrofag. Kebanyakan partikel ini akan dibersihkan oleh makrofag
keluar dari cabang trakea bronkhial bersama gerakan sillia dengan sekretnya.
Bila kuman menetap di jaringan paru maka ia akan tumbuh dan berkembang

8
biak dalam sitoplasma makrofag. Di sini ia dapat terbawa masuk ke organ
tubuh lainnya.
Kuman yang bersarang ke jaringan paru akan berbentuk sarang
tuberkulosis pneumonia kecil dan disebut sarang primer atau efek primer atau
sarang ghon (fokus). Sarang primer ini dapat terjadi pada semua jaringan paru,
bila menjalar sampai ke pleura maka terjadi efusi pleura. Kuman dapat juga
masuk ke dalam saluran gastrointestinal, jaringan limfe, orofaring, dan kulit.
Kemudian bakteri masuk ke dalam vena dan menjalar keseluruh organ, seperti
paru, otak, ginjal, tulang. Bila masuk ke dalam arteri pulmonalis maka terjadi
penjalaran keseluruh bagian paru dan menjadi TB milier.
Sarang primer akan timbul peradangan getah bening menuju hilus
(limfangitis lokal), dan diikuti pembesaran getah bening hilus (limfangitis
regional). Sarang primer limfangitis lokal serta regional menghasilkan
komplek primer (range). Proses sarang paru ini memakan waktu 38 minggu.
Berikut ini menjelaskan skema tentang perjalanan penyakit TB Paru hingga
terbentuknya tuberkel ghon.

9
10
F. Manifestasi Klinis
Gambaran klinik TB paru dapat dibagi menjadi 2 golongan, gejala
respiratorik dan gejala sistemik:
1. Gejala respiratorik, meliputi:
a. Batuk
Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang
paling sering dikeluhkan. Mula-mula bersifat non produktif kemudian
berdahak bahkan bercampur darah bila sudah ada kerusakan jaringan.
b. Batuk darah
Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi, mungkin tampak
berupa garis atau bercak-bercak darak, gumpalan darah atau darah segar
dalam jumlah sangat banyak. Batuk darak terjadi karena pecahnya
pembuluh darah. Berat ringannya batuk darah tergantung dari besar
kecilnya pembuluh darah yang pecah.
c. Sesak napas
Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas
atau karena ada hal-hal yang menyertai seperti efusi pleura,
pneumothorax, anemia dan lain-lain.
d. Nyeri dada
Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan.
Gejala ini timbul apabila sistem persarafan di pleura terkena.
2. Gejala sistemik, meliputi:
a. Demam
Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore
dan malam hari mirip demam influenza, hilang timbul dan makin lama
makin panjang serangannya sedang masa bebas serangan makin
pendek.
b. Gejala sistemik lain
Gejala sistemik lain ialah keringat malam, anoreksia, penurunan
berat badan serta malaise.
Timbulnya gejala biasanya gradual dalam beberapa minggu-
bulan, akan tetapi penampilan akut dengan batuk, panas, sesak napas
walaupun jarang dapat juga timbul menyerupai gejala pneumonia.
Gejala klinis Haemoptoe:

11
Kita harus memastikan bahwa perdarahan dari nasofaring dengan
cara membedakan ciri-ciri sebagai berikut :
1) Batuk darah
a. Darah dibatukkan dengan rasa panas di tenggorokan
b. Darah berbuih bercampur udara
c. Darah segar berwarna merah muda
d. Darah bersifat alkalis
e. Anemia kadang-kadang terjadi
f. Benzidin test negative
2) Muntah darah
a. Darah dimuntahkan dengan rasa mual
b. Darah bercampur sisa makanan
c. Darah berwarna hitam karena bercampur asam lambung
d. Darah bersifat asam
e. Anemia seriang terjadi
f. Benzidin test positif
3) Epistaksis
a. Darah menetes dari hidung
b. Batuk pelan kadang keluar
c. Darah berwarna merah segar
d. Darah bersifat alkalis
e. Anemia jarang terjadi

G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan darah tepi pada umumnya akan memperlihatkan adanya :
a. Anemia, terutama bila penyakit berjalan menahun
b. Leukositosis ringan dengan predominasi limfosit
c. Laju Endap Darah (LED) meningkat terutama pada fase akut,
tetapi pada umumnya nilai-nilai tersebut normal pada tahap
penyembuhan
2. Pemeriksaan radiologi
a. Bayangan lesi radiologik yang terletak di lapangan atas paru
b. Bayangan yang berawan atau berbecak
c. Adanya kavitas tunggal atau ganda
d. Adanya kalsifikasi
e. Kelainan bilateral, terutama bila terdapat di lapangan atas paru
f. Bayangan yang menetap atau relatif setelah beberapa minggu
3. Pemeriksaan bakteriologik (sputum)
Ditemukan kuman mikobakterium tuberkulosis dari dahak penderita,
memastikan diagnosis TB paru pada pemeriksaan dahak.
4. Uji tuberculin

12
Sangat penting bagi diagnosis tersebut pada anak. Hal positif pada
orang dewasa kurang bernilai.

H. Penatalaksanaan Medis
1. Jenis dan Dosis Obat Anti Tuberkulosis (OAT)
a. Isoniazid (H)
Dikenal dengan INH, bersifat bakterisid, dapat membunuh 90 %
populasi kuman dalam beberapa hari pertama pengobatan. Sangat
efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolik aktif yaitu kuman
yang sedang berkembang. Dosis harian 5 mg/kg berat badan, sedangkan
untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 10
mg/kg berat badan.
b. Rifampisin (R)
Bersifat bakterisid, membunuh kuman semi dormant yang tidak
dapat dibunuh oleh isoniasid. Dosis 10 mg/kg berat badan. Dosis sama
untuk pengobatan harian maupun intermiten 3 kali seminggu.

c. Pirazinamid (Z)
Bersifat bakterisid, membunuh kuman yang berada dalam sel
dengan suasana asam. Dosis harian 25 mg/kg berat badan, sedangkan
untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 35
mg/kg berat badan.
d. Streptomisin (S)
Bersifat bakterisid, dosis 15 mg/kg berat badan, sedangkan untuk
pengobatan intermiten 3 kali seminggu digunakan dosis yang sama.
e. Etambutol (E)
Bersifat menghambat pertumbuhan bakteri (bakteriostatik). Dosis
harian 15 mg/kg berat badan, sedangkan untuk intermiten 3 kali
seminggu diberikan dengan 30 mg/kg berat badan.
2. Tahap Pengobatan
Pengobatan Tuberculosis diberikan dalam 2 tahap yaitu:
a. Tahap Intensif
Penderita mendapat obat setiap hari. Pengawasan berat/ketat
untuk mencegah terjadinya kekebalan terhadap semua Obat Anti
Tuberculosis (OAT).
b. Tahap Lanjutan

13
Penderita mendapat jenis obat lebih sedikit dalam jangka waktu
yang lebih lama. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman
persistem (dormant) sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.
3. Kategori Pemberian Obat Anti Tuberculosis
a. Kategori 1 (211RZE/4113R3)
Tahap intensif terdiri dari isoniasid (H), Rifampisin (R),
Pirazinamid (Z) dan Etambutol(E). Obat-obatan tersebut diberikan
setiap hari selama 2 bulan (2 HRZE), kemudian teruskan dengan tahap
lanjutan yang terdiri dari Isoniasid (H) dan Rifampisin (R), diberikan
tiga kali dalam seminggu selama 4 bulan (4H3R3). Obat ini diberikan
untuk :

1) Penderita baru TBC paru BTA positif


2) Penderita TBC paru BTA negatif, rontgen positif.
3) Penderita TBC ekstra paru berat.
b. Kategori 2 (2HRZES/HRZE/5H3RE3)
Tahap intensif diberikan selama 3 (tiga) bulan, yang terdiri dari 2
bulan dengan isoniasid (H), Rifampisn, Pirazinamid (Z), Etambutol (E)
setiap hari. Setelah itu diteruskan dengan tahap lanjutan selama 5 bulan
dengan Isoniasid (H),Rifampisin (R), Etambutol (E) yang diberikan 3
kali dalam seminggu.
Perlu diperhatikan bahwa suntikan streptomisin diberikan setelah
penderita selesai menelan obat. Obat ini diberikan untuk penderita
kambuh, penderita gagal, penderita dengan pengobatan setelah lalai
c. Kategori 3 (2HRZ/4H3R3)
Tahap intensif terdiri dari Isoniasid (H), Rifampisin (R),
Pirazinamid (Z) diberikan setiap hari selama 2 bulan (2HRZ)
diteruskan dengan tahap lanjutan terdiri dari Isoniasid (H), Rifampisin
(R) selama 4 bulan diberikan 3 kali seminggu (4H3R3). Obat ini
diberikan untuk :
1) Penderita baru BTA negatif dan roentgen positif sakit
ringan
2) Penderita ekstra paru ringan, yaitu TBC kelenjar limfe
(limfadenitis), pleuritis aksudativa unilateral, TBC kulit, TBC
tulang (kecuali tulang belakang) sendi dan kelenjar adrenal.
d. OAT Sisipan (HRZE)

14
Bila pada akhir tahap intensif pengobatan penderita baru BTA
positif dengan kategori 1 atau penderita BTA positif pengobatan ulang
dengan kategori 2, hasil pemeriksaan dahak masih BTA positif,
diberikan obat sisipan Isoniasid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z),
Etambutol (E) setiap hari selama 1 bulan.

I. KOMPLIKASI
Menurut Depkes RI (2002), merupakan komplikasi yang dapat terjadi
pada penderita tuberculosis paru stadium lanjut yaitu :
1. Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang
dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau karena
tersumbatnya jalan napas.
2. Atelektasis (paru mengembang kurang sempurna) atau kolaps dari
lobus akibat retraksi bronchial.
3. Bronkiektasis (pelebaran broncus setempat) dan fibrosis
(pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
4. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian,
dan ginjal.

15
BAB III
PEMBAHASAN KASUS

A. Pengkajian
1. Identitas klien
Nama : Tn. A
Umur : 22 Tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Nomor MR :-
Diagnosa Medis : TB Paru dan Hemaptoe
2. Riwayat kesehatan
a. Alasan masuk rumah sakit
Klien masuk ke RS dengan keluhan batuk berdarah kira-kira 5
hari sebelum masuk RS.
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien mengeluh sesak nafas dengan RR 30x/i, sekret kental dan
bercampur darah, tidak nafsu makan, TD 110/6 mmhg, suhu 38o c,
nadi 90x/i lemah.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
3. Pola aktivitas dan istirahat
a. Sehat
b. Sakit : Klien mengeluh sesak nafas, istirahat terganggu.
4. Pola nutrisi
a. Sehat
b. Sakit : Tidak nafsu makan, penurunan BB 3 kg selama di
rawat.
5. Pola respirasi : Batuk berdarah, sekret kental, RR 30x/i
6. Rasa nyaman/nyeri
Berhati-hati pada daerah yang sakit
Perilaku distraksi
Tampak gelisah
7. Interaksi Sosial : Perasaan isolasi/penolakan karena penyakit
menular

B. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umum
Kesadaran : compos mentis, GCS = 15 ( V = 5, M = 6, E = 4)
Tanda-tanda Vital
Tekanan darah : 110/60 mmhg

16
Nadi : 90x/i
Suhu : 38 oc
Pernapasan : 30x/i
2. Pemeriksaan thorak
a. Paru-paru
Inspeksi : Pernapasan cepat dan dangkal, peningkatan kerja otot-
otot pernapasan, dan retraksi iga
Palpasi : Fremitus taktil sama kiri dan kanan, terdapat nyeri tekan
Perkusi : Bunyi redup
Auskultasi: Ronchi, waktu inspirasi dalam yang diikuti dengan
ekspirasi dalam.
b. Jantung
Kapilari : Berapa detik (normal < 3 detik)
Inspeksi : Tidak terlihat ictus cordis pada RIC V midklavikula sinistra.
Palpasi : Teraba detak iktus kordis pada RIC V midklavikula sinistra
Perkusi : Pekak pada batas jantung
Batas atas : RIC II midklavikula sinistra
Batas bawah : RIC V midklavikula sinistra
Batas kiri : Linea axila anterior
Batas kanan : 1 jari midklavikula dextra
Auskultasi : Reguler, tidak terdapat bunyi
tambahan.
c. Sistem gastro intestinal
Anoreksia
Penurunan berat badan
d. Sistem integument
Kulit kering, kehilangan otot/hilang lemak subkutan.
e. Ekstremitas atas dan bawah
Inspeksi : Terpasang IVFD di ektremitas atas dektra

C. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
HB : 15,6 gr%
Leukosit : 13.200/mm
Trombosit : 314.000/mm
Sputum BTA (+)
2. Radiologi : Foto thorak didapatkan infiltrat pada paru
3. Terapi yang di berikan
Cairan IVFD D5% : NACL 0,9% 2:1 Drip Adona 8 Jam/kolf
Injeksi VIT K,VIT C , KALNEK 3x1 amp
Injeksi Cefotaxime 2x1 gr
Obat Oral
- INH 1x1

17
- Rifampicin 1x450 mg
- Ethambutol 1x100 mg
- PzA 1x100 mg
- B6 1x1

D. Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d Peningkatan produksi secret
kental bercampur darah
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake nutrisi
tidak adekuat
3. Resiko tinggi penyebaran infeksi b/d Daya tahan tubuh menurun.
4. Peningkatan suhu tubuh b/d Pelepasan mediator kimia
5. Gangguan pola tidur b/d nyeri dada
E. Analisa Data dan Diagnosa Keperawatan
Masalah Diagnosa
No Data penunjang
keperawatan keperawatan
1 Do : Bersihan jalan bersihan jalan
- Sputum kental dan bercampur darah nafas tak efektif napas tak efektif
- Pernafasan 30x/menit b.d penumpukan
- Bunyi nafas tak normal (stridor, ronki) sekret kental
Ds : bercampur darah,
- Klien mengeluh sesak nafas
- kelelahan dan kelemahan
- Batuk berulang
2 Do : Perubahan Perubahan nutrisi
- Kulit kering nutrisi kurang kurang dari
- BB turun 3 kg selama dirawat dari kebutuhan kebutuhan tubuh
Ds : tubuh b.d anoreksia.
- Kehilangan nafsu makan
- Keletihan dan kelemahan
3 Do : Resiko tinggi Daya tahan tubuh
- Klien kelihatan lemah infeksi dan menurun
- Suhu 38 oc penyebaran
- Leukosit : 13200/ mm2 infeksi
Ds :

18
- Keletihan dan kelemahan
- Nafsu makan menurun

F. Intervensi
Diagnosa 1 : Bersihan jalan napas tak efektif b.d penumpukan sekret kental
bercampur darah
Tujuan : Bersihan jalan napas efektif.
Kriteria hasil :
Mempertahankan jalan napas klien
Mengeluarkan sekret tanpa bantuan
Menunjukkan perilaku untuk mempertahankan bersihan jalan
napas
Berpartisipasi dalam program pengobatan.
Intervensi Rasional
Mandiri
1. Kaji fungsi pernapasan, bunyi 1. Penurunan bunyi napas dapat
napas, kecepatan, irama dan menunjukkan atelektasis. Ronki,
kedalaman. mengi menunjukkan akumulasi
sekret/ketidaknyamanan untuk
membersihkan jalan napas
Membantu kenyamanan dalam upaya
2. Catat kemampuan untuk
bernapas.
mengeluarkan mukosa/batuk
2. Pengeluaran sulit bila sekret
efektif; catat karakter, jumlah
sangat tebal. Sputum berdarah kental
sputum, adanya hemoptisis.
atau berdarah cerah diakibatkan oleh
kerusakan (kavitasi) paru atau luka
3. Berikan klien posisi semi
bronkial dan dapat memerlukan
atau fowler tinggi. Bantu klien
evaluasi/ intervensi lanjut.
untuk batuk dan latihan napas 3. Meningkatkan ekspansi paru,
dalam. ventilasi maksimal membuka area
atelektasis dan peningkatan gerakan
4. Bersihkan sekret dari mulut
sekret agar mudah dikeluarkan.
dan trakea, penghisapan sesuai
4. Mencegah obstruksi/aspirasi.
keperluan.
Penghisapan dapat diperlukan bila

19
pasien tak mampu mengeluarkan
Kolaborasi sekret.
5. Lembabkan udara / oksigen
inspirasi 5. Mencegah pengeringan membran
6. Berikan obat-obat yang dapat
mukosa; membantu dalam
meningkatkan efektifnya jalan
pengenceran sekret
napas 6. Bronkodilator, antikolinergik, dan
anti peradangan.

Diagnosa 2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia.


Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi.
Kriteria hasil :
Menunjukkan peningkatan berat badan
Melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkankan dan/atau
mempertahankan berat yang tepat.
Intervensi Rasional
Mandiri
1. Berguna dalam mendefinisikan derajat
1. Catat status nutrisi klien pada saat
atau luasnya masalah dan pilihan
penerimaan, catat turgor kulit, berat
intervensi yang tepat.
badan dan derajat kekurangan berat
badan, integritas mukosa oral,
kemampuan atau ketidakmampuan
menelan, adanya tonus usus, riwayat
mual/muntah atau diare
2. Pastikan pola diet biasa klien, yang 2. Membantu dalam mengidentifikasi
disukai/tidak disukai. kebutuhan / kekuatan khusus.
3. Monitor intake dan output secara 3. Berguna dalam mengukur keefektifan
periodik dan berat badan secara nutrisi dan dukungan cairan.
periodik.
4. Dapat mempengaruhi pilihan diet dan
4. Selidiki anoreksia, mual, dan muntah
mengidentifikasi area pemecahan
dan catat kemungkinan hubungan
masalah untuk meningkatkan pemasukan
dengan obat kemudian awasi
/ penggunaan nutrien.
frekuensi, volume, konsistensi feses.
5. Menurunkan rasa tak enak karena sisa

20
5. Berikan perawatan mulut sebelum dan sputum atau obat untuk pengobatan
sesudah tindakan pernapasan. respirasi yang merangsang muntah.
6. Memaksimalkan masukan nutrisi tanpa
6. Dorong makan sedikit dan sering
kelemahan yang tak perlu/kebutuhan
dengan makanan tinggi protein dan
energi dari makan makanan yang banyak
karbohidrat.
dan menurunkan iritasi gaster.
7. Membantu menghemat energi khusus
7. Anjurkan bedrest
saat demam terjadi peningkatan
metabolik

Kolaborasi 8. Memberikan bantuan dalam perencanaan


8. Rujuk ke ahli gizi untuk menentukan diet dengan nutrisi adekuat untuk
komposisi diet. kebutuhan metabolik dan diet
9. Membantu menurunkan insiden mual
dan muntah karena efek samping obat
9. Konsul dengan tim medis untuk jadwal
pengobatan 1-2 jam sebelum/setelah 10. Nilai rendah menunjukkan malnutrisi
makan. dan menunjukkan kebutuhan intervensi /
10. Awasi pemeriksaan laboratorium,
perubahan program terapi.
contoh BUN, protein serum dan 11. Demam meningkatkan kebutuhan
albumin. metabolik dan juga konsumsi kalori.
11. Berikan antipiretik tepat

Diagnosa 3 : Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi b/d Daya tahan
tubuh menurun,
Tujuan : Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko
penyebaran infeksi.
Kriteria hasil :
Menunjukan teknik/ melakukan perubahan pola hidup untuk
meingkatkan lingkungan yang sehat
Jaringan yang rusak dapat beransur membaik
Intervensi Rasional
Mandiri
1. Review patologi penyakit fase 1. Membantu pasien agar mau

21
aktif/tidak aktif, penyebaran infeksi mengerti dan menerima terapi yang
melalui bronkus pada jaringan sekitarnya diberikan untuk mencegah komplikasi
atau aliran darah atau sistem limfe dan
resiko infeksi melalui batuk, bersin,
meludah, tertawa., ciuman atau menyanyi
2. Identifikasi orang-orang yang beresiko
2. Orang-orang yang beresiko perlu
terkena infeksi seperti anggota keluarga,
program terapi obat untuk mencegah
teman, orang dalam satu perkumpulan.
penyebaran infeksi
3. Anjurkan pasien menutup mulut dan
3. Kebiasaan ini untuk mencegah
membuang dahak di tempat penampungan
terjadinya penularan infeksi
yang tertutup jika batuk
4. Gunakan masker setiap melakukan 4. Mengurangi resiko penyebaran
tindakan infeksi
5. Monitor temperatur 5. Febris merupakan indikasi
terjadinya infeksi
6. Identifikasi individu yang berisiko
6. Pengetahuan tentang faktor-faktor
tinggi untuk terinfeksi ulang Tuberkulosis
ini membantu pasien mengubah gaya
paru, seperti: alkoholisme, malnutrisi,
hidup dan menghindari/mengurangi
operasi bypass intestinal, menggunakan
keadaan yang lebih buruk.
obat penekan imun/ kortikosteroid,
adanya diabetes melitus, kanker.
7. Periode menular dapat terjadi
7. Tekankan untuk tidak menghentikan
hanya 2-3 hari setelah permulaan
terapi yang dijalani.
kemoterapi jika sudah terjadi kavitas,
resiko, penyebaran infeksi dapat
berlanjut sampai 3 bulan.

Kolaborasi 8. INH adalah obat pilihan bagi


8. Pemberian terapi INH, etambutol, penyakit Tuberkulosis primer
Rifampisin. dikombinasikan dengan obat-obat
lainnya. Pengobatan jangka pendek
INH dan Rifampisin selama 9 bulan
dan Etambutol untuk 2 bulan
pertama.
9. Obat-obat sekunder diberikan jika

22
9. Pemberian terapi Pyrazinamid obat-obat primer sudah resisten.
(PZA)/Aldinamide, para-amino salisik
10. Untuk mengawasi keefektifan
(PAS), sikloserin, streptomisin.
obat dan efeknya serta respon pasien
10. Monitor sputum BTA
terhadap terapi

G. Implementasi
Merupakan penerapan dari rencana tindakan yang telah disusun dengan
prioritas msalah dan kegiatan ini dilakukan oleh perawat untuk membantu
memenuhi kebutuhan klien dan mencapai tujuan yang diharapkan.

H. Evaluasi
Merupakan tahap akhir dari proses keperawatan untuk menentukan hasil
yang diharapkan dari tindakan yng telah dilakukan dan sejauh mana masalah
klien teratasi. Perawat jaga melakukan pengkajian ulang untuk menentukan
tindakan selanjutnya bila tujuan tidak tercapai.

23
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Tuberculosis merupakan penyakit infeksi bakteri menahun pada paru
yang disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis, yaitu bakteri tahan asam
yang ditularkan melalui udara yang ditandai dengan pembentukan granuloma
pada jaringan yang terinfeksi.
TB paru disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis yang merupakan
batang aerobic tahan asam yang tumbuh lambat dan sensitif terhadap panas
dan sinar UV. Bakteri yang jarang sebagai penyebab, tetapi pernah terjadi
adalah M. Bovis dan M. Avium

B. Saran
Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan sekali kritik yang membangun bagi
makalah ini, agar penulis dapat berbuat lebih baik lagi di kemudian hari.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan
pembaca pada umumnya.

24
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. (1996). Buku ajar keperawatan medikal bedah. Edisi 6.
Jakarta : EGC.

Manurung, Santa, DKK. 2008. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem


Pernafasan Akibat Infeksi. Jakarta : CV. Trans Info Media.

Marylin E. Doengoes. (2000). Rencana asuhan keperawatan. Edisi 3. Jakarta :


EGC.

Soedarsono (2000). Tuberkulosis Paru-Aspek Klinis, Diagnosis dan Terapi, Lab.


Ilmu Penyakit Paru FK Unai Rasional. Surabaya : RSUD Dr. Soetomo.

Soemantri, I. (2012). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan


Sistem Pernapasan. Jakarta : Salemba Medika.

Soeparman & Waspadji (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : BP FKUI

Anda mungkin juga menyukai