Anda di halaman 1dari 19

PENGUKURAN EFEKTIVITAS ORGANISASI

Sebagaimana organisasi pada umumnya, organisasi pemerintahan perlu diukur sejauh


mana efektivitasnya mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Pengukuran
efektivitas organisasi pemerintahan sangat penting karena melalui pengukuran diperoleh
informasi mengenai kesuksesan dan kegagalan pemerintah dalam mengemban tugas dan
fungsinya. Selanjutnya, kesuksesan dan kegagalan itu harus dipertanggungjawabkan oleh
pemerintah. Pengukuran efektivitas organisasi pemerintahan merupakan juga instrumen
pengawasan dan pengendalian. Oleh karena itu, maka perlu dipahami bagaimana mengukur
efektivitas organisasi dan bagaimana model pertanggung jawaban organisasi pemerintah
terhadap publik. Untuk memberikan pemahaman mengenai hal tersebut, maka akan dibahas
secara khusus dua hal pokok yaitu teknik pengukuran efektivitas organisasi pemerintahan dan
sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah.

2.1 Teknik Pengukuran Efektivitas Organisasi Pemerintah

Tujuan ataupun sasaran organisasi merupakan langkah pertama dalam pembahasan


mengenai efektivitas organisasi. Sasaran didefinisikan sebagai keadaan yang ingin dicapai
oleh suatu organisasi. Efektivitas organisasi dapat dinyatakan sebagai tingkat keberhasilan
organisasi dalam usaha untuk mencapai tujuan atau sasaran. Dapat dikatakan juga bahwa
efektivitas ini merupakan suatu konsep yang luas, mencakup berbagai faktor di dalam
maupun di luar organisasi.
Efisiensi organisasi merupakan sebuah konsep yang bersifat lebih terbatas dan
menyangkut proses internal yang terjadi dalam organisasi. Efisiensi menunjukkan banyaknya
input atau sumber yang diperlukan oleh organisasi untuk menghasilkan satu satuan output.
Sehingga efisiensi dapat diukur sebagai rasio input terhadap output. Organisasi dapat
dikatakan efisien jika organisasi tersebut mampu menghasilkan satu satuan output dengan
menggunakan sumber yang jumlahnya sedikit dari yang digunakan oleh organisasi lainnya.
Di beberapa organisasi, efektivitas dan efisiensi bisa saja tidak berhubungan sama
sekali. Suatu organisasi bisa sangat efisien tetapi tidak mampu mencapai tujuan yang
dikehendakinya, misalnya karena organisasinya itu memilih untuk membuat produk yang
tidak laku di pasaran. Sebaliknya, suatu organisasi bisa mempunyai efektivitas yang tinggi,
misalnya mampu mencapai sasarannya tetapi tidak efisien.

1
Efektivitas merupakan suatu konsep yang sangat penting dalam teori organisasi
karena mampu memberikan gambaran mengenai keberhasilan organisasi dalam mencapai
sasarannya, tetapi pengukuran efektivitas organisasi bukanlah suatu hal yang sederhana.
Organisasi besar memiliki banyak bagian yang sifatnya saling berbeda. Bagian-bagian ini
memiliki sasarannya sendiri yang satu sama lainnya berbeda sehingga menimbulkan kesulitan
dalam melakukan pengukuran efektivitas.
2.1.1 Pendekatan Sumber
Pendekatan sumber ini mengukur efektivitas melalui keberhasilan organisasi dalam
mendapatkan berbagai macam sumber yang dibutuhkannya. Pendekatan ini didasarkan pada
teori mengenai keterbukaan sistem organisasi terhadap lingkungannya. Organisasi
mempunyai hubungan yang merata dengan lingkungannya karena dari lingkungannya
diperoleh sumber-sumber yang merupakan input bagi organisasi, dan output yang dihasilkan
juga disampaikan organisasi kepada lingkungannya. Sementara itu, sumber yang terdapat
pada lingkungan sering sekali bersifat langka dan bernilai tinggi (mahal). Dengan demikian,
efektivitas organisasi dapat dinyatakan sebagai tingkat keberhasilan organisasi dalam
memanfaatkan lingkungannya untuk memperoleh berbagai jenis sumber yang bersifat langka
maupun yang nilainya tinggi.
Secara lebih luas, pendekatan sumber mempergunakan beberapa dimensi berikut
untuk mengukur efektivitas organisasi:
a. Kemampuan organisasi untuk memanfaatkan lingkungan untuk memperoleh berbagai
jenis sumber yang bersifat langka dan nilainya tinggi.
b. Kemampuan para pengambil keputusan dalam organisasi untuk menginterpretasikan sifat-
sifat lingkungan secara tepat.
c. Kemampuan organisasi untuk menghasilkan output tertentu dengan menggunakan
sumber-sumber yang berhasil diperoleh.
d. Kemampuan organisasi dalam memelihara kegiatan operasionalnya sehari-hari.
e. Kemampuan organisasi untuk bereaksi dan menyesuaikan diri terhadap perubahan
lingkungan.
Pengukuran efektivitas dengan pendekatan sumber ini mampu memberikan alat ukur
yang sama untuk mengukur efektivitas berbagai organisasi yang jenisnya berbeda, yang tidak
dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan sasaran. Kemampuan untuk mendapatkan
jenis sumber yang sama-sama dibutuhkan merupakan alat untuk membandingkan efektivitas
walaupun organisasi memiliki sasaran yang berlainan satu sama lain.
Kriteria pertama dari efektivitas suatu organisasi adalah kemampuannya untuk tetap
hidup (survival). Organisasi yang sanggup tetap hidup dianggap lebih efektif daripada
organisasi yang tidak dapat bertahan. Selain itu, tingkatan efektivitas berikutnya dapat diukur

2
dengan nilai (rupiah) dari sumber-sumber langka yang berhasil diperoleh organisasi dari
lingkungannya. Dengan demikian oraganisasi satu dengan organisasi lain dapat dibandingkan
dengan kriteria yang sama meskipun sasarannya berbeda.
2.1.2 Pendekatan Proses
Pendekatan ini menganggap efektivitas sebagai efisiensi dan kondisi (kesehatan) dari
organisasi internal. Pada organisasi yang efektif proses internal berjalan dengan lancar,
karyawan bekerja dengan gembira serta kepuasan kerja yang tinggi, kegiatan masing-masing
bagian terkoordinasi secara baik dengan produktivitas yang tinggi. Pendekatan proses ini
tidak memperhatikan lingkungan organisasi, dan memusatkan perhatian terhadap kegiatan-
kegiatan yang telah dilakukan terhadap sumber-sumber yang dimiliki oleh organisasi, yang
menggambarkan tingkat efisiensi serta kesehatan organisasi.
Pendekatan ini umumnya digunakan oleh penganut pendekatan neo klasik (human
relation) dalam organisasi yang terutama meneliti hubungan antara efektivitas dengan sumber
daya manusia yang dimiliki oleh organisasi.
Komponen-komponen yang dapat menunjukkan efektivitas organisasi, ditunjukkan
pada daftar berikut ini:
a. Perhatian atasan terhadap karyawan.
b. Semangat, kerja sama dan loyalitas kelompok kerja.
c. Saling percaya dan komunikasi antara karyawan dengan pimpinan.
d. Desentralisasi dalam pengambilan keputusan.
e. Adanya komunikasi vertikal dan horizontal yang lancar dalam organisasi.
f. Adanya usaha dari setiap individu maupun keseluruhan organisasi untuk mencapai tujuan
yang telah direncanakan.
g. Adanya sistem imbalan yang merangsang pimpinan untuk mengusahakan terciptanya
kelompok-kelompok kerja yang efektif dan performansi serta pengembangan karyawan.
h. Organisasi dan bagian-bagian bekerja sama secara baik dan konflik yang terjadi selalu
diselesaikan dengan acuan kepentingan organisasi.
Setiap komponen tersebut diteliti dengan mengadakan wawancara terhadap anggota
organisasi.

Cara lain dalam pengukuran efektivitas dengan pendekatan proses ini adalah melalui
pengukuran terhadap efisiensi ekonomis dari organisasi. Evan mengembangkan metode
pengukuran efektivitas secara kuantitatif. Ia menyarankan pengukuran efektivitas organisasi
dilakukan terhadap input sumber, transformasi sumber menjadi output, dan output yang
diberikan terhadap konsumen yang terdapat diluar organisasi.
Pendekatan ini relevan untuk dikategorikan sebagai pendekatan proses karena Evan
mengembangkan sejumlah rasio-rasio yang mengukur efisiensi internal organisasi. Langkah
pertama yang ia lakukan adalah menghitung besarnya ongkos untuk mengadakan input (I),

3
ongkos transformasi (T), serta nilai output (O). Ketiga variabel tesebut dapat dikombinasikan
untuk mengukur berbagai aspek dari performansi organisasi. Cara yang paling sering
digunakan untuk melakukan pengukuran efisiensi adalah dengan menggunakan rasio O/I.
Rasio lainnya, seperti T/O menunjukkan besarnya kegiatan transformasi yang diperlukan
untuk menghasilkan sejumlah tertentu output. Dengan demikian tampak bahwa pengukuran
terhadap input, transformasi serta output, memberikan kesempatan untuk melakukan
perhitungan terhadap berbagai aspek dari efisiensi organisasi.
2.1.3 Pendekatan Hasil
Pendekatan hasil atau sasaran (goal approach) dalam pengukuran efektivitas
memusatkan perhatian terhadap aspek output, yaitu dengan mengukur keberhasilan organisasi
dalam mencapai tingkatan output yang direncanakan. Pendekatan sumber (system resource
approach) mencoba mengukur efektivitas dari sisi input, yaitu dengan mengukur
keberhasilan organisasi dalam mendapatkan sumber-sumber yang dibutuhkan untuk
mencapai performansi yang baik. Pendekatan proses (process approach) melihat kegiatan
internal organisasi, dan mengukur efektivitas melalui berbagai indikator internal seperti
efisiensi ataupun iklim organisasi.
Pendekatan sasaran dalam pengukuran efektivitas dimulai dengan identifikasi sasaran
organisasi dan mengukur tingkat keberhasilan organisasi dalam mencapai sasaran tersebut.
Dengan demikian, pendekatan ini mencoba mengukur sejauh mana organisasi berhasil
merealisasikan sasaran yang hendak dicapainya.
Sasaran yang sebenarnya (operative goal) adalah sasaran yang penting diperhatikan
dalam pengukuran efektivitas dengan pendekatan hasil. Pengukuran efektivitas dengan
menggunakan sasaran yang sebenarnya akan memberikan hasil yang lebih realistis daripada
pengukuran efektivitas berdasarkan sasaran resmi (official goal), dengan memperhatikan
permasalahan yang ditimbulkan oleh beberapa hal berikut ini.

a. Adanya macam-macam output (multiple outcomes)


Adanya bermacam-macam output yang dihasilkan menyebabkan pengukuran efektivitas
organisasi dengan pendekatan sasaran menjadi sulit dilakukan. Pengukuran juga semakin
sulit jika ada sasaran organisasi yang saling bertentangan dengan sasaran lainnya.
Efektivitas yang tinggi pada suatu sasaran sering kali disertai dengan efektivitas yang
rendah pada sasaran lainnya. Selain itu, masalah juga muncul karena bagian-bagian
organisasi mungkin mempunyai sasarannya sendiri, yang bisa berbeda dengan sasaran
organisasi secara keseluruhan. Kerena itu, pengukuran efektivitas bermacam-macam
sasaran secara simultan. Dengan demikian yang diperoleh dari pengukuran efektivitas

4
adalah profil (bentuk) dari efektivitas organisasi, yang menunjukan ukuran efektivitas
organisasi pada setiap sasaran yang dimilikinya.
b. Adanya subjektivitas dalam penilaian
Pengukuran efektivitas organisasi dengan menggunakan pendekatan sasaran sering kali
mengalami hambatan karena sulitnya mengidentifikasi sasaran organisasi yang
sebenarnya, dan juga karena kesulitan dalam pengukuran keberhasilan organisasi dalam
mencapai sasarannya.
Untuk organisasi usaha, hal ini lebih mudah dilakukan karena tujuan perusahaan, sasaran
yang dikehendaki, dan ukuran-ukuran keberhasilan perusahaan. Tetapi, pada beberapa
jenis organisasi, terutama yang tidak mengejar keuntungan, sasaran lebih sulit
diidentifikasi sehingga juga akan membawa kesulitan dalam melakukan pengukuran
efektivitas organisasi. Hal ini dapat terjadi karena sasaran organisasi yang secara resmi
tertulis berbeda dengan sasaran sebenarnya dalam pengelolaan organisasi.
Oleh karena itu, kita perlu masuk ke dalam organisasi untuk mempelajari sasaran
organisasi yang sebenarnya. Dan karena sasaran yang dipilih sangat tergantung pada nilai-
nilai yang dianut oleh pimpinan, sumber informasi yang terbaik untuk mengetahui sasaran
organisasi adalah para pimpinan organisasi, akan tetapi, informasi yang diperoleh dari para
pimpinan ini sering kali dipengaruhi oleh subjektivitas para pimpinan tersebut. Untuk
sasaran yang dinyatakan dalam bentuk kuantitatif unsur subjektif itu tidak berpengaruh,
tetapi untuk sasaran-sasaran yang harus dideskripsikan secara kualitatif, informasi yang
diperoleh akan sangat bergantung pada persepsi para pimpinan tersebut mengenai sasaran
organisasi. Dengan demikian, subjektivitas para pimpinan akan berpengaruh terhadap
informasi yang mereka berikan mengenai sasaran organisasi.

c. Pengaruh kontekstual
Lingkungan dan keseluruhan elemen-elemen kontekstual berpengaruh terhadap
performansi organisasi. Pengaruh kontekstual ini dapat memberikan kesempatan untuk
berprestasi dengan baik bagi organisasi ataupun sebaliknya. Oleh karena itu, perbedaan
karakteristik faktor-faktor kontekstual ini perlu diperhatikan apabila kita bermaksud
mengatur efektivitas beberapa organisasi yang terdapat pada lingkungan yang berbeda.
Perbedaan itu terlihat, misalnya, pada elemen-elemen tertentu dari lingkungan, seperti
mutu tenaga kerja, kemudahan dalam mendapatkan sumber-sumber yang diperlukan,
peraturan pemerintah, dan sebagainya.
2.1.4 Pendekatan Campuran
Ketiga pendekatan yang telah djelaskan memiliki kelemahan tersendiri. Oleh karena
itu, salah satu cara yang digunakan untuk mengukur efektivitas organisasi adalah dengan
5
menggunakan ketiga jenis pendekatan tersebut bersamaan, terutama jika informasi yang
diperlukan seluruhnya tersedia. Pendekatan gabungan ini akan mencakup pengukuran pada
sisi input, efisiensi proses transformasi dan keberhasilan dalam mencapai sasaran output.
Diharapkan pengukuran yang dilakukan dapat memberikan gambaran mengenai seluruh
dimensi dari efektivitas organisasi.
Karena kelemahan dari masing-masing pendekatan tersebut akhirnya muncul
pendekatan yang bersifat lebih integratif dalam pengukuran efektivitas organisasi.
Pendekatan ini berangkat dari kenyataan bahwa organisasi melakukan bermacam-macam
kegiatan, dan juga mempunyai beberapa jenis output. Oleh sebab itu, tidak mungkin
pengukuran efektivitas organisasi dilakukan hanya dengan menggunakan kriteria tunggal.
a. Pendekatan Constituency
Pendekatan ini memusatkan perhatian pada constituency organisasi, yaitu berbagai
kelompok di dalam maupun di luar organisasi, seperti karyawan, pemegang saham,
leveransir bahan dan peralatan serta pemilik. Pendekatan ini mengukur efektivitas
organisasi melalui tingkat kepuasan setiap elemen contituency terhadap organisasi. Setiap
elemen dari constituency akan mempunyai kriteria yang berbeda dalam mengukur
efektivitas organisasi karena masing-masing mempunyai kepentingan yang berbeda dari
perfomansi organisasi. Kelebihan dari pendekatan constituency ini adalah kemampuan
untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai efektivitas organisasi, melalui
pandangannya terhadap keseluruhan faktor-faktor baik di dalam maupun di luar organisasi.
Pendekatan ini sangat populer, banyak digunakan karena merupakan pendekatan yang
memandang efektivitas organisasi sebagai satu konsep yang kompleks dengan
menggunakan satu jenis kriteria mengenai pandangan organisasi tentang urutan
kepentingan setiap elemen constituency bagi organisasi dan cara organisasi memandang
lingkungan.
b. Pendekatan bidang sasaran (goal domains)
Pendekatan bidang kegiatan ini didasarkan pada kenyataan bahwa organisasi mempunyai
banyak bidang kegiatan yang juga bisa diartikan bahwa organisasi mempunyai lebih dari
satu bidang sasaran. Pendekatan ini mengukur perfomansi organisasi pada setiap bidang
sasaran, dengan memperhitungkan juga prioritas dari setiap bidang sasaran tersebut bagi
organisasi. Adapun pendekatan bidang sasaran ini dapat mengukur efisiensi internal dan
eksternal organisasi serta efektivitas internal dan eksternal organisasi berikut.
1) Efisiensi Internal
Efektivitas organisasi dalam menggunakan berbagai macam sumber yang dimilikinya.
Ukuran yang digunakan adalah perbandingan nilai output terhadap nilai input.

6
Memusatkan perhatian pada efisiensi kegiatan yang dilakukan di dalam organisasi,
sehingga sangat memperhatikan besarnya nilai input, transformasi, maupun output.
2) Efisiensi Eksternal
Kemampuan organisasi dalam mendapatkan segala jenis sumber yang diperlukannya.
Memusatkan perhatian terhadap kemampuan organisasi dalam membina hubungan baik
dengan elemen-elemen lingkungannya.
3) Efektivitas Internal
Besarnya perolehan pekerja yang bekerja dalam suatu organisasi, sehingga bidang
sasaran ini bisa dianggap identik dengan pengukuran efektivitas organisasi menurut
pendekatan proses. Ukuran yang digunakan umumnya berhubungan dengan kepuasan
dan motivasi karyawan seperti iklim kerja, hubungan interpersonal.
4) Efektivitas Eksternal
Kemampuan organisasi untuk memberikan rasa puas kepada setiap elemen
constituency, sehingga bidang sasaran ini identik dengan pengukuran efektivitas
organisasi melalui pendekatan constituency.
c. Kerangka Ketergantungan (Contingency)
Dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianut dan juga preferensi para pimpinan organisasi.
Karakteristik organisasi juga berpengaruh terhadap bidang sasaran yang akan dipilih oleh
organisasi. Gabungan dari kejelasan output dan pengetahuan tentang proses transformasi
akan berpengaruh terhadap bidang sasaran yang akan dipilih oleh suatu organisasi. Pilihan
tesebut meliputi:
1) Jika output diketahui secara lengkap, organisasi akan memilih bidang sasaran yang
menyangkut efiensi, yang merupakan situasi yang paling mudah untuk mengukur
efektivitas organisasi.
2) Jika output cukup jelas, tetapi proses transformasi tidak dimengerti secara lengkap,
kriteria efektivitas yang biasanya digunakan adalah keberhasilan dalam mencapai
sasaran output.
3) Jika output tidak jelas, proses transformasi dimengerti secara lengkap, pengukuran
efektivitas biasanya dilakukan dengan kriteria yang menyangkut proses internal.
Pimpinan akan sangat memperhatikan proses internal organisasi. Urutan kriteria yang
disukai oleh para pimpinan organisasi adalah kriteria efisiensi, kriteria output, kriteria proses
internal, dan kriteria sosial.
2.2 AKIP (Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah)
AKIP (Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah) didasarkan pada TAP MPR RI No.
XI/MPR/1998, kemudian disusul dengan UU No. 28 Tahun 1999, Instruksi Presiden No. 7
Tahun 1999, dan Keputusan Kepala LAN No. 589/IX/6/Y/99 tentang Pedoman Penyusunan
Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, serta Keputusan Kepala LAN No.

7
239/IX/6/8/2003 tentang Perbaikan Pedoman Pelaporan Akuntabilitas Kinerja yang
merupakan payung kebijakan untuk membangun sistem akuntabilitas di Indonesia.
LAKIP atau Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah adalah media
akuntabilitas yang dapat dipakai oleh instansi pemerintah untuk melaksanakan kewajiban
untuk menjawab kepada pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder). Media akuntabilitas
yang dibuat secara periodik memuat informasi yang dibutuhkan oleh pihak yang memberi
amanah atau pihak yang memberikan delegasi wewenang. Melalui media inilah secara formal
dapat dilakukan pertanggungjawaban dan bahan untuk menjawab berbagai permasalahan
yang diminta oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk menentukan fokus perbaikan
kinerja yang berkesinambungan.
2.2.1 Fungsi LAKIP
LAKIP dapat berfungsi sebagai :
a. Suatu media hubungan kerja organisasi yang berisi data dan informasi,
b. Wujud tertulis pertanggungjawaban suatu instansi kepada pemberi wewenang dan mandat,
c. Media akuntabilitas setiap instansi pemerintah, merupakan bentuk perwujudan kewajiban
menjawab yang disampaikan kepada atasannya/pemberi wewenang, yang akhirnya
bermuara kepada Presiden untuk selanjutnya menjadi pertanggungjawaban kepada
masyarakat (public accountability),
d. Media informasi, tentang sejauh mana penerapan prinsip-prinsip good governance
termasuk penerapan fungsi-fungsi manajemen secara benar di instansi yang bersangkutan.
Salah satu fungsi manajemen adalah pelaporan, yang dapat dijadikan alat untuk evaluasi
diri sendiri guna menentukan fokus perbaikan kinerja berkesinambungan yang harus
dilakukan.
2.2.2 Tujuan dan Manfaat LAKIP
Tujuan penyusunan dan penyampaian LAKIP adalah untuk mewujudkan akuntabilitas
instansi pemerintah kepada pihak-pihak yang memberi mandat/amanah. Dengan demikian,
LAKIP merupakan sarana bagi instansi pemerintah untuk mengkomunikasikan dan menjawab
tentang apa yang sudah dicapai dan bagaimana proses pencapainnya berkaitan dengan
mandat yang yang diterima instansi pemerintah tersebut.
Selain itu, penyampaian LAKIP kepada pihak yang berhak (secara hierarki) juga bertujuan
untuk memenuhi antara lain :
a. Pertanggungjawaban dari unit yang lebih rendah ke unit yang lebih tinggi, atau
pertanggungjawaban dari bawahan kepada atasan. LAKIP ini lebih menonjolkan
akuntabilitas manajerialnya,
8
b. Pengambilan keputusan dan pelaksanaan perubahan-perubahan ke arah perbaikan, dalam
mencapai penghematan, efisiensi, dan efektivitas pelaksaaan tugas pokok dan fungsi,
serta ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, dalam rangka
pelaksanaan misi instansi, dan
c. Perbaikan dalam perencanaan, khususnya perencanaan jangka menengah dan jangka
pendek.
LAKIP yang disampaikan oleh instansi pemerintah antara lain bermanfaat untuk :
a. Meningkatkan akuntabilitas. Kredibilitas instansi di mata instansi yang lebih tinggi dan
akhirnya meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap instansi,
b. Umpan balik untuk peningkatan kinerja instansi pemerintah, antara lain melalui perbaikan
penerapan fungsi-fungsi manajemen secara benar, mulai dari perencanaan kinerja hingga
kepada evaluasi kinerja, serta pengembangan nilai-nilai akuntabilitas di lingkungn instansi
tersebut,
c. Mengetahui dan menilai keberhasilan atau kegagalan dalam melaksanakan tugas dan
tanggung jawab instansi,
d. Mendorong instansi pemerintah untuk menyelenggarakan tugas umum pemerintahan dan
pembangunan secara baik, sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,
kebijakan ynag transparan dan dapat dipertanggungjwabkan kepada masyarakat, dan
e. Menjadikan instansi pemerintah yang akuntabel, sehingga dapat beroperasi secara efisien,
efektif, dan responsif terhadap aspirasi masyarakat dan lingkungannya.
2.2.3 Unsur-unsur yang Dinilai dalam LAKIP
Hal yang paling utama untuk diinformasikan dalam LAKIP adalah yang mencakup
pencapaian kinerja instansi pemerintah. Informasi pencapaian kinerja yang harus
diungkapkan bukan hanya berupa tabel atau formulir Pencapaian Kinerja Kegiatan (PKK)
dan formulir Pengukuran Pencapaian Sasaran (PPS) saja. Yang lebih harus diutamakan adalah
penyampaian informasi mengenai pencapaian kinerja tahun berjalan yang merupakan
perbandingan antara realisasi dengan rencana tahunan tersebut. Selanjutnya perlu pula
disampaikan mengenai kecenderungan pencapaian kinerja selama beberapa tahun terakhir.
1. Pengungkapan Lingkungan Strategik
Merupakan gambaran singkat dan latar belakang keberadaan instansi. Dalam gambaran
organisasi ini hendaknya disajikan secara singkat hal-hal yang bersifat penting, strategis
dan unik walaupun singkat, tetapi pembaca laporan dapat mengerti perkembangan terbaru
akan posisi, peran, dan tanggung jawab instansi. Laporan ini lebih ditujukan untuk pihak
eksternal.

9
Laporan kinerja instansi pemerintah diharapkan dapat memenuhi tujuan tercapainya
kepemerintahan yang baik (good government). Dalam LAKIP diharapkan setiap instansi
pemerintah dapat mengungkap:
a. Kebijakan dan strategi yang diterapkan dalam menjalankan misinya;
b. Kinerja instansi dengan menjelaskan berbagai hasil dan hambatan mencapai hasil; dan
c. Menetapkan strategi pemecahan masalah yang dijumpai untuk digunakan di masa yang
akan datang.
2. Pengungkapan Rencana Strategik
Perencanaan strategik merupakan alat untuk menyelaraskan visi dan misinya dengan
kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dihadapi dalam upaya peningkatan
akuntabilitas kinerja. Oleh karena itu, dalam LAKIP harus terdapat keterkaitan antar
komponen dalam perencanaan strategik. Komponen-komponen dalam perencanaan
strategik adalah:
a. Visi : untuk organisasi instansi induk dapat menguraikan visi yang menjadi penentu
arah tujuan organisasi, perumusan visi penting karena perubahan lingkungan
organisasi yang cepat;
b. Misi : misi unit organisasi umumnya berhubungan dengan
1) Tugas pokok dan fungsi;
2) Visi organisasi;
3) Penjabaran dari Program Nasional (Rencana Nasional); dan
4) Penjabaran dari tugas yang diberikan Undang-Undang.
c. Tujuan : tujuan lazimnya ditetapkan berdasarkan misi yang diemban satuan kerja
bersangkutan. Tujuan menggambarkan apa yang harus dicapai dalam jangka
menengah dan jangka panjang dalam gambaran secara umum;
d. Sasaran : sasaran merupakan rincian dari tujuan yang hendak dicapai dan lebih
menggambarkan pencapaian dalam jangka pendek dan jangka menengah.
Dicantumkan pula indikator sasaran dan target masing-masing sasaran; dan
e. Cara mencapai tujuan dan sasaran : strategi dalam mencapai sasaran dan tujuan ini
diwujudkan dalam berbagai kebijakan yang dikomunikasikan kepada pihak-pihak
terkait.
3. Pengungkapan Rencana Kinerja
Rencana kinerja merupakan proses penjabaran dari tujuan dan sasaran dalam rencana
strategik yang ingin dicapai pada tahun bersangkutan. Uraian dari rencana kerja ini
berupa indikator kinerja sasaran, program kegiatan serta rencana pencapaiannya.
Diperlihatkan pula target kinerja serta ketersediaan anggaran untuk setiap program dan
kegiatan.
4. Pengungkapan Akuntabilitas Kinerja
Pada bagian ini diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan kinerja organisasi instansi,
termasuk menguraikan hasil yang telah dicapai, berbagai kendala dan masalah yang
dihadapi. Dalam pengungkapan hasil dari berbagai bidang, hanya perlu disampaikan
10
bidang tugas pokok dan unit utama saja, sedangkan pendukungnya tidak perlu
ditonjolkan.
Akuntabilitas kinerja yang perlu diungkapkan dalam LAKIP meliputi:
a. Indikator kinerja yang dipakai beserta penjelasannya, penjelasan yang dimaksud adalah:
1) Indikator kinerja yang dipakai;
2) Cara perhitungan dan cara perolehan data;
3) Pengembangan indikator kinerja (jika ada);
4) Penetapan indikator antara dan penetapan kriterianya; dan
5) Penetapan target pencapaian masing-masing indikator kinerja pencapaian.
b. Pengukuran kinerja instansi pemerintah, dilakukan beberapa cara pengukuran di
antaranya:
1) Perbandingan dengan tingkat kinerja yang direncanakan;
2) Perbandingan dengan tingkat kinerja tahun lalu;
3) Perbandingan dengan sasaran yang ingin dicapai dalam satu periode jangka menengah;
dan
4) Perbandingan dengan unit organisasi/instansi sejenis.
c. Evaluasi kinerja
Evaluasi dapat dilakukan dengan jalan melakukan analisis-analisis yang berkaitan dengan
pencapaian kinerja tahun berjalan. Untuk itu perlu dilakukan:
1) Perhitungan-perhitungan dalam rangka menilai keberhasilan pelaksanaan tugas secara
keseluruhan;
2) Pemberian peringkat (rating), untuk penilaian terhadap organisasi/unit kerja yang ada;
dan
3) Perbandingan pencapaian antara rencana tingkat pencapaian (target) dengan
realisasinya.
Agar penyampaian uraiannya dapat lebih jelas, evaluasi kinerja dapat dilakukan melalui dua
tahap, yaitu:
1. Evaluasi kinerja kegiatan
Pada tahap ini evaluasi dilakukan dengan menggunakan ukuran rata-rata pencapaian
indikator kinerja dari setiap kegiatan. Tahapan ini diperlukan untuk memberikan
penjelasan lebih lanjut tentang hal-hal yang mendukung keberhasilan dan kegagalan
pelaksanaan suatu kegiatan.
2. Evaluasi kinerja sasaran
Keberhasilan pelaksanaan kegiatan pada dasarnya menjadi kunci keberhasilan pencapaian
sasaran yaang telah ditetapkan. Oleh karena itu, dengan didasarkan pada evaluasi kinerja
kegiatan, dilakukan evaluasi kinerja sasaran yang telah ditetapkan. Oleh karena itu,
dengan didasarkan pada evaluasi kinerja kegiatan, dilakukan evaluasi kinerja sasaran,
untuk menjelaskan sejauh mana target sasaran yang telah ditetapkan dapat dicapai beserta
hal-hal yang menjadi pendukung atau ditetapkan dapat dicapai beserta hal-hal yang

11
menjadi pendukung atau ditetapkan dapat dicapai beserta hal-hal yang menjadi
pendukung ataupun penghambat pencapaian suatu sasaran yang telah ditetapkan.
Evaluasi ini juga diharapkan dapat memberikan jawaban atas:
1. Sebab-sebab tidak tercapainya target/sasaran jangka pendek, yang berupa hambatan-
hambatan dan kendala-kendala yang tidak mungkin diperhitungkan dalam perencanaan.
2. Pertanggungjawaban penggunaan sumber-sumber daya yang dimiliki oleh organisasi/unit
kerja, antara lain:
a. Penggunaan sumber daya manusia (kekuatan pegawai),
b. Penggunaan sarana dan prasarana yang dimiliki,
c. Kewenangan yang diberikan oleh kebijakan,
d. Penggunaan sarana dan prasarana yang dimiliki,
e. Kewenangan yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan kepada unit
organisasi/instansi yang bersangkutan,
f. Data dan informasi yang dikuasai.
3. Efisiensi, efektivitas, dan kehematan penggunaan sumber daya.
Untuk tujuan pengukuran efektivitas dan efisiensi hendaknya digunakan indikator-
indikator yang berhubungan dengan hasil (output dan outcome), dan indikator-indikator
efisiensi dengan melakukan perbandingan dengan standarnya. Sedangkan indikator
kehematan (keekonomisan) dan indicator input akan lebih bermanfaat jika dikaitkan
dengan indikator keadilan (equity) penggunaan sumber daya yang sangat terbatas.
Evaluasi ini pada akhirnya dapat digunakan untuk mengetahui hal-hal berikut:
1. Kecenderungan pola kinerja.
2. Tindakan-tindakan yang diperlukan untuk perbaikan, misalnya perbaikan-perbaikan
perencanaan dan perumusan sasaran-sasaran di masa datang yang diperlukan.
3. Posisi unit kerja yang bersangkuan dibandingkan dengan organisasi lain sejenis.
Penyajian analisis dan evaluasi hendaknya tidak diletakkan terlalu jauh dari
pengukurannya atau dari tabel-tabel yang memuat perbandingan-perbandingan kinerja nyata
(realisasi) dengan kinerja yang direncanakan, kinerja instansi lain, standar, kinerja tahun lalu,
dan sasaran yang ingin dicapai. Jadi, setiap selesai penyajian pengukuran baik dalam bentuk
tabel maupun grafik, langsung dilakukan analisis data dan diberi interpretasi seperlunya. Hal
ini akan memudahkan pembaca laporan untuk mengerti permasalahan yang ada. Namun,
apabila akan dilakukan analisis dan evaluasi secara menyeluruh maka penyajiannya dapat di
tempatkan pada sub judul (sub heading) tersendiri.
d. Penyajian data dan akuntabilitas kinerja
Performance Base Management Special Interest Group (2011) menyebutkan bahwa
informasi yang terkandung dalam suatu laporan akan memberikan manfaat besar apabila
memenuhi kriteria sebagai berikut:

12
1. Sebelum menyajikan informasi kinerja, instansi pemerintah perlu memahami
beberapa key areas, yakni:
a. Siapa audience instansi pemerintah?
b. Untuk apa informasi disajikan? Apakah untuk mendukung pengambilan keputusan
dan tindakan-tindakan tertentu atau hanya memantau kinerja?
c. Apa yang menjadi basic message yang akan dikomunikasikan? (where we are, how
we are doing, dan lain-lain).
d. Bentuk pengungkapan bagaimanakah yang diperlukan? (laporan, brosur, dan lain-
lain).
e. Apa yang menjadi sifat data dan asumsi-asumsi yang mendasar?
2. Ingat pepatah mengatakan bahwa a picture worth thousand words. Artinya dalam
penulisan laporan penggunaan tabel, grafik, dan gambar sangat bermanfaat dan dapat
membantu mempercepat pemahaman pembaca. Akan tetapi, gambar, grafik dan tabel
perlu disertai dengan narasi. Untuk itu perku diperhatikan hal-hal berikut:
a. Jelaskan nilai yang tertera dan apa artinya bagi instansi.
b. Hubungkan dengan kinerja historis.
c. Hubungkan dengan tujuan.
d. Jelaskan peningkatan dan penurunan kinerja yang signifikan.
e. Grafik agar dibuat sebesar mungkin dan hindarkan footnotes, axist titles, atau
legends.
f. Hindarkan membuat serial yang terlalu banyak dari suatu grafik.
g. Kelompokkan data (bar) yang menurut penyaji merupakan suatu kesatuan.
h. Hindarkan tiga dimensi grafik dan tambahan shadow atau yang sejenis dengan itu
tidak menambahkan arti apa-apa, yang mungkin akan membuat pusing membaca.
i. Penggunaan warna yang baik juga akan mempermudah pembaca laporan yang
anda sajikan.
3. Usahakan untuk menyajikan laporan dengan menggunakan action-oriented report dari
pada sekedar traditional report. Action-oriented report merupakan serial laporan
pendek (15 sampai dengan 20 halaman). Penggunaan laporan biasanya tidak banyak
bermanfaat bagi pembaca laporan (biasanya lampiran tidak menjadi perhatian
pembaca). Oleh karena itu, apabila diperlukan lampiran harus dibuat singkat, jelas,
dan mudah dibaca.
Bentuk penyajian informasi dalam bentuk akuntabilitas kinerja hendaknya juga
mempertimbangkan segi-segi efektivitas penyampaian informasi. Terdapat beberapa teknik
penyajian informasi dalam suatu laporan kinerja, yaitu:
1. Penyajian data kinerja secara naratif. Penyajian data dengan model naratif ini dianggap
paling netral, kecuali dalam hal-hal tertentu sekelompok data harus disajikan dalam bentuk
tabel atau grafis. Penyajian secara naratif cocok digunakan untuk menyajikan interpretasi
dari suatu informasi atau menarik kesimpulan dari berbagai data yang ada.

13
2. Penyajian data kinerja dalam bentuk tabel. Penyajian dalam data bentuk tabel ini
merupakan suatu ringkasan dari jumlah data, dari beberapa variabel untuk memudahkan
analisis.
Penyajian data dalam bentuk tabel akan sangat bermanfaat apabila terdapat kondisi-kondisi
sebagai berikut:
a. Rincian angka-angka mendominasi laporan dan sedikit komentar naratif atau penjelasan-
penjelasan yang diperlukan.
b. Rincian data perlu pengelompokan.
c. Setiap kelompok perlu label/tanda.
d. Total atau jumlah-jumlah harus disajikan atau perlu perbandingan antar komponen.
Dalam penyajian data kinerja sering dipakai untuk tabel, yaitu membandingkan antara
kinerja nyata dengan target tujuan kinerja, juga membandingkan pencapaian kinerja nyata
tahun ini dengan tahun sebelumnya atau dengan standarnya. Dengan demikian, untuk tujuan
pengukuran, yang paling efektif adalah penyajian dengan bentuk tabel sehingga dapat
dibandingkan data kinerja untuk pengukuran tingkat keberhasilan.
3. Penyajian data dalam bentuk grafik, yaitu angka-angka yang disajikan dalam bentuk
tertentu, yang dapat bermanfaat untuk mengetahui sebab akibat terjadinya suatu keadaan,
dan juga menunjukan arah kecenderungan suatu perkembangan.
Terdapat beberapa jenis grafik yang dapat dipergunakan untuk penyajian data kinerja:
a. Grafik garis, suatu diagram yang berfungsi untuk menunjukkan kecenderungan yang
terjadi dengan jalan menggambarkan data selama jangka waktu tertentu.
b. Grafik lingkaran, suatu grafik yang dapat digunakan untuk menggambarkan
perbandingan persentase hubungan serangkai data/variabel.
c. Grafik balok, grafik yang menggambarkan kumpulan data yang dibagi ke dalam
beberapa kelompok yang sama besarnya. Sedangkan tingginya menunjukkan jumlah.
Bagian ini dapat memberikan gambaran penyebaran/standar deviasi suatu proses.
Penyajian dalam bentuk grafis akan efektif untuk tujuan berikut:
a. Mendeteksi pola data.
b. Mendeteksi kecenderungan dan perubahannya.
c. Mengidentifikasi hubungan kinerja diantara berbagai elemen.
d. Penyajian informasi yang cukup rinci dan banyak.
Hal yang terakhir ini juga mendukung kenyataan sehari-hari bahwa data dalam
bentuk grafis terutama grafik yang sederhana seperti grafik balok maupun grafik garis, sangat
berguna untuk tujuan pemantauan kegiatan sehari-hari karena mudah diingat. Penyajian yang
demikian lebih mudah diingat oleh para manajer dibanding rincian besaran angka absolutnya.
Sebaliknya penyajian dalam bentuk grafis mempunyai kelemahan-kelemahan sebagai berikut:
a. Tidak dapat menunjukkan angka absolut.
b. Tidak dapat menunjukan angaka-angka yang kecil.
c. Tidak dapat menunjukan perubahan absolut dalam nilai numerik yang disajikan dalam
kecenderungan.

14
Dalam penyusunan LAKIP perlu dipilih metode-metode penyajian yang cocok.
Tidak ada satu bentuk penyajian yang paling unggul secara keseluruhan. Oleh karena itu,
penyusunan LAKIP diharapkan dapat menentukan bentuk penyajian yang mana yang cocok
untuk menyampaikan suatu informasi tertentu.
e. Penyajian data akuntabilitas keuangan
Pada penyajian informasi keuangan hendaknya diungkapkan jumlah dan rincian sumber
dana, serta jumlah dan rincian pengeluarannya.
Lazimnya penyajian informasi keuangan instansi pemerintah dimulai dengan rincian
sumber dana, baik yang berasal dari APBN maupun yang secara langsung memang
diperbolehkan peraturan perundangan yang berlaku. Penerimaan dana ini dapat dirinci
untuk setiap program dan/atau kegiatan. Jika rinciannya cukup banyak, dapat disajikan
pada lampiran.
Penyampaian informasi keuangan dari sisi pengeluaran atau penggunaan dana, dapat di
mulai dengan pengeluaran untuk setiap kegiatan/proyek sampai total penggunaan dana
untuk satu program. Secara rinci realisasi dana untuk pencapaian suatu tujuan dapat
digambarkan per kegiatan.
f. Kesimpulan hasil evaluasi secara menyeluruh
Sedangkan evaluasi menyeluruh dapat dilakukan per kelompok besar kegiatan atau per
program atau per bidang tugas. Agar pola evaluasi kinerja lebih mudah dipahami oleh
pembaca laporan, perlu dibuat semacam diagram atau tabel yang menunjukan hubungan
aktivitas-aktivitas yang kecil atau proyek-proyek ke rancangan aktivitas yang besar atau
program-program. Aktivitas penunjang atau program-program penunjang hendaknya
memasukkan program atau aktivitas yang ditunjang/didukung.
Perhitungan, pembobotan dan pencarian nilai akhir dapat dilakukan sesuai dengan
pedoman penyusunan pelaporan akuntabilitas kinerja pemerintah.
g. Strategi pemecahan masalah
Bagian ini menjelaskan tindakan pemecahan masalah-masalah di masa akan datang dan
strategi-strategi dalam rangka peningkatan kinerja. Strategi pemecahan masalah ini
penting untuk diungkapkan berdasarkan analisis dan evaluasi kinerja pelaksanaan
kegiatan/program yang mengidentifikasikan hambatan-hambatan, kendala-kendala, dan
keterbatasan yang dijumpai. Pengungkapan itu akan memberikan pertanggungjawaban
yang lengkap mengenai langkah-langkah ke depan dengan memanfaatkan umpan balik
informasi yang disajikan dalam laporan ini maupun langkah-langkah dan kebijakan
inovatif yang diprediksi dapat mengatasi permasalahan.
2.2.4 Tahap-Tahap Penyusunan AKIP

15
Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) adalah instrumen yang
digunakan instansi pemerintah dalam memenuhi kewajiban untuk mempertanggungjawabkan
keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan misi organisasi. SAKIP terdiri dari komponen-
komponen yang merupakan satu kesatuan yakni perencanaan strategis, perencanaan kinerja,
pengukuran dan evaluasi kinerja serta pelaporan kinerja.
1. Penyusunan Perencanaan Strategik
Rencana strategik yang disusun oleh instansi pemerintah harus mencakup :
1. Pernyataan visi dan misi;
2. Perumusan tujuan dan sasaran beserta indikator kinerja; dan
3. Uraian tentang cara mencapai tujuan dan sasaran yang dijabarkan ke dalam kebijakan
dan program.
Untuk memudahkan penyusunan perencanaan strategik digunakan alat bantu antara lain
berupa formulir Rencana Strategik (RS). Formulir ini memperlihatkan keterkaitan visi,
misi, tujuan, sasaran serta kebijakan dan program.
Dokumen rencana kinerja digunakan sebagai dasar bagi penyusunan dan pengajuan
anggaran kinerja (performance based-budgeting) serta sebagai dasar bagi kesepakatan
kinerja.
Dokumen rencana kinerja antara lain berisikan informasi mengenai :
1. Sasaran, indikator kinerja dan target yang akan dicapai pada periode bersangkutan.
2. Program yang akan dilaksanakan.
3. Kegiatan, indikator kinerja dan target yang diharapkan dalam suatu kegiatan.
2. Pengukuran dan Evaluasi Kinerja
Pengukuran dan evaluasi kinerja merupakan suatu alat manajemen untuk meningkatkan
kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas. Pengukuran kinerja merupakan jembatan
antara perencanaan strategis dengan pelaporan akuntabilitas. Suatu instansi pemerintah dapat
dikatakan berhasil jika terdapat bukti-bukti/indikator-indikator pencapaian mengarah pada
pencapaian misi.
Dalam pengukuran kinerja dicakup hal-hal sebagai berikut :
1. Kinerja kegiatan yang merupakan tingkat pencapaian target dari masing-masing kelompok
indikator kinerja kegiatan.
2. Tingkat pencapaian sasaran instansi pemerintah yang merupakan tingkat pencapaian target
dari masing-masing indikator sasaran telah ditetapkan sebagaimana dituangkan dalam
dokumen Rencana Kinerja.
Setelah tahap pengukuran kinerja dilalui, tahap berikutnya adalah tahap evaluasi
kinerja. Evaluasi kinerja ini bertujuan untuk mengetahui pencapaian realisasi, kemajuan dan

16
kendala yang dijumpai dalam rangka pencapaian misi agar dapat dinilai dan dipelajari guna
perbaikan pelaksanaan program di masa mendatang. Dalam evaluasi kinerja dilakukan pula
analisis efektivitas dan analisis efisiensi. Analisis efisiensi dilakukan dengan cara melakukan
perbandingan antara output dengan input. Dengan melakukan analisis efisiensi maka akan
dapat digambarkan tingkat efisiensi yang dilakukan oleh instansi pemerintah, sedangkan
analisis efektivitas dapat digambarkan dengan tingkat kesesuaian antara tujuan dengan hasil,
manfaat/dampak.
Untuk memperkaya analisis kinerja maka perlu juga dilakukan perbandingan-
perbandingan antara :
a. Kinerja nyata dengan kinerja yang direncanakan.
b. Kinerja nyata dengan kinerja tahun-tahun sebelumnya.
c. Kinerja suatu instansi dengan kinerja instansi lain yang unggul di bidangnya ataupun
dengan kinerja sektor swasta.
d. Kinerja nyata dengan kinerja di negara-negara lain atau dengan standar internasional.
Suatu laporan akuntabilitas kinerja tidak hanya berisi tingkat keberhasilan/kegagalan
yang dicerminkan oleh evaluasi indikator-indikator kinerja sebagaimana yang ditunjukkan
oleh pengukuran dan penilaian kinerja, tetapi juga harus memuat data dan informasi relevan
bagi pembuat keputusan agar dapat menginterpretasikan keberhasilan/kegagalan tersebut
secara lebih luas dan mendalam. Oleh karena itu, dari kesimpulan evaluasi perlu dibuat suatu
analisis tentang pencapaian akuntabilitas kinerja instansi secara keseluruhan.
3. Pelaporan
Laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah harus disampaikan oleh instansi-
instansi pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota. Penyusunan
laporan harus disusun secara jujur, objektif dan transparan. Serta memperhatikan prinsip-
prinsip berikut :
a. Prinsip pertanggungjawaban sehingga harus cukup jelas hal-hal yang dikendalikan
maupun yang tidak dikendalikan oleh pihak yang melaporkan harus dapat dimengerti
pembaca laporan.
b. Prinsip pengecualian, yang dilaporkan hal penting dan terdepan bagi pengambilan
keputusan dan pertanggungjawaban instansi yang bersangkutan seperti keberhasilan dan
kegagalan, perbedaan realisasi dan target.
c. Prinsip perbandingan, laporan dapat memberikan gambaran keadaan masa yang
dilaporkan dibandingkan dengan periode-periode lain atau unit/instansi lain.
d. Prinsip akuntabilitas, sejalan dengan prinsip pertanggungjawaban dan prinsip
pengecualian diatas maka prinsip ini mensyaratkan bahwa yang terutama dilaporkan
adalah hal-hal yang dominan yang membuat sukses atau gagalnya pelaksanaan rencana.
17
e. Prinsip manfaat, diharapkan manfaat laporan harus lebih besar dari biayanya.
Agar LAKIP dapat lebih berguna sebagai uman balik bagi pihak-pihak yang
berkepentingan, maka bentuk dan isinya diseragamkan tanpa mengabaikan keunikan masing-
masing instansi pemerintah. Penyeragaman ini dapat mengurangi perbedaan cara penyajian
yang cenderung menjauhkan pemenuhan persyaratan minimal suatu informasi yang
seharusnya dimuat dalam LAKIP. Penyeragaman ini juga dimaksudkan untuk pelaporan yang
bersifat rutin sehingga perbandingan atau evaluasi dapat dilakukan secara memadai.
Isi LAKIP adalah uraian pertanggungjawaban pelaksanaan tugas dan fungsi dalam
rangka pencapaian visi dan misi serta penjabarannya yang menjadi perhatian utama instansi
pemerintah sebagaimana diuraikan dalam bagian terdahulu. Dalam LAKIP juga terdapat
pertanggungjawaban mengenai :
a. Aspek keuangan;
b. Aspek SDM;
c. Aspek saran dan prasarana; dan
d. Metode kerja, pengendalian manajemen dan kebijakan lain.

Agar pengungkapan akuntabilitas aspek-aspek pendukung pelaksanaan tupoksi tidak


tumpang tindih dengan pengungkapan akuntabilitas kinerja maka harus diperhatikan hal-hal
berikut :

a. Uraian pertanggungjawaban keuangan dititikberatkan kepada perolehan dan penggunaan


dana baik dana yang berasal dari alokasi APBN maupun dana dari PNBP.
b. Uraian pertanggungjawaban SDM dititikberatkan pada penggunaan dan pembinaan dalam
hubungannya dengan peningkatan kinerja yang berorientasi pada hasil atau manfaat dan
peningkatan kualitas pada masyarakat.
c. Uraian mengenai pertangggungjawaban penggunaan sarana dan prasarana dititikberatkan
pada pengelolaan, pemeliharaan, pemanfaatan, dan pengembangan.
d. Uraian mengenai metode kerja, pengendalian manajemen dan kebijakan lainnya
difokuskan pada manfaat atau dampak dari suatu kebijakan yang merupakan cerminan
akuntabilitas kebijakan (policy accountibility).
2.3 Kesimpulan
Efisiensi organisasi merupakan sebuah konsep yang bersifat lebih terbatas dan
menyangkut proses internal yang terjadi dalam suatu organisasi. Efisiensi menunjukkan
banyaknya input atau sumber yang diperlukan oleh organisasi untuk menghasilkan satuan-
satuan output.
Efektivitas merupakan suatu konsep yang sangat penting dalam teori organisasi, karena
mampu memberikan gambaran mengenai keberhasilan organisasi dalam mencapai
sasarannya. Tetapi pengukuran efektivitas organisasi bukanlah suatu hal yang sederhana.

18
Banyak organisasi yang berukuran sangat besar dengan banyak bagian yang sifatnya saling
berbeda. Bagian-bagian ini mempunyai sasarannya sendiri yang satu sama lain berbeda,
sehingga menimbulkan kesulitan dalam melakukan pengukuran efektivitas.
Pada beberapa organisasi, efektivitas dan efisiensi bisa saja tidak berhubungan sama
sekali. Suatu organisasi bisa sangat efisien tetapi tidak mampu mencapai sasaran atau pun
tujuan yang dikehendaki. Sebaliknya suatu organisasi bisa memiliki efektivitas yang tinggi
tetapi tidak efisien.
Penerapan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah telah diatur dalam berbagai
peraturan perundang-undangan, antara lain TAP MPR RI No. XI/MPR/1998, kemudian
disusul dengan UU No. 28 Tahun 1999, Instruksi Presiden No. 7 Tahun 1999 dan Keputusan
Kepala LAN No. 589/IX/6/8/2003 tentang Perbaikan Pedoman Pelaporan Akuntabilitas
Kinerja Instansi Pemerintah. Semua peraturan perundang-undangan tersebut adalah payung
kebijakan untuk membangun sistem akuntabilitas di Indonesia.
Akuntabilitas diperlukan karena adanya kekuasaan yang berupa amanah yang diberikan
kepada orang atau pihak tertentu untuk menjalankan tugasnya dalam rangka mencapai tujuan
tertentu dengan memanfaatkan sumber daya yang ada. Setelah amanah dijalankan, harus ada
laporan atas tugas yang telah dipercayakan dengan mengungkapkan segala sesuatu yang
dilakukan, dilihat, dirasakan baik yang mencerminkan keberhasilan maupun kegagalan.

19