Anda di halaman 1dari 2

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Tujuan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Karakteristik salmonella dalam nurfitriani

Salmonella adalah salah satu penyebab utama foodbourne disease diseluruh dunia.

Salmonella sp. adalah bakteri batang lurus, gram negatif, tidak berspora, bergerak dengan flagel peritrik,
berukuran 2-4 m x 0.5-0,8 m. Salmonella sp. tumbuh cepat dalam media yang sederhana (Jawetz,
dkk, 2005), hampir tidak pernah memfermentasi laktosa dan sukrosa, membentuk asam dan kadang gas
dari glukosa dan manosa, biasanya memporoduksi hidrogen sulfide atau H2S, pada biakan agar
koloninya besar bergaris tengah 2-8milimeter, bulat agak cembung, jernih, smooth, pada media BAP
tidak menyebabkan hemolisis, pada media Mac Concey koloni Salmonella sp. Tidak memfermentasi
laktosa (NLF), konsistensinya smooth (WHO, 2003)

Salmonella pullorum menyebabkan penyakit diare putih yang terjadi pada unggas. Penyakit ini bersifat
sistemik akut pada ayam muda. Penyakit pullorum ini dapat menyebar secara vertikal yaitu unggas yang
terinfeksi melalui transovarial dan secara horizontal yaitu unggas terinfeksi oleh unggas lain. Tanda klinis
yang terlihat, biasanya pada anak ayam muda berumur 3 minggu yaitu terlihat berak putih dan kematian
pada anak ayam tidak lama setelah menetas. Untuk mengendalikan penyebaran penyakit pullorum
dapat dilakukan dengan cara menghilangkan unggas yang terinfeksi. Salmonella sp. memerlukan kondisi
seperti suhu, pH dan kelembaban yang sesuai untuk hidup dan berkembangbiak. Salmonella dapat
tumbuh antara suhu 6.7-45 C, sedangkan suhu optimum untuk berkembangbiak adalah 37 C

(Frazier dan Westhood 1978). Menurut Christie dan Christie (1977) Salmonella sp. berhenti
berkembangbiak pada suhu 5 C, sedangkan pada suhu 55 C masih dapat hidup selama 1 jam dan pada
suhu 60 C selama 15-20 menit, kecuali Salmonella senftenberg dapat bertahan hidup sampai suhu 71.1
C. Frazier (1978) menyatakan bahwa Salmonella sp. dalam daging ayam tidak berkembang biak pada
suhu 6.7-7.8 C, sedangkan pada masakan salad, daging babi, dan dalam custard (campuran susu,
telur, dan gula yang dimasak) Salmonella sp. masih dapat berkembang biak pada suhu di atas 10 C.
Habitat utama Salmonella sp. pada tubuh penderita adalah di dalam saluran pencernaan. Selain dari
pada itu Salmonella sp. juga dapat ditemukan pada bagian tubuh lainnya dari penderita, seperti kelenjar
limfe, limpa, hati, empedu, jantung, paru-paru, urat daging, sumsum tulang, dan periosteum. Salmonella
sp. yang menyerang alat reproduksi pada kuda dapat menyebabkan abortus khususnya pada unggas
akan menginfeksi ovarium dan ova-nya. Menurut Hariyadi (2005), Salmonella sp. merupakan bakteri
indikator keamanan pangan, artinya karena semua serotipe Salmonella sp. yang diketahui di dunia ini
bersifat patogen, sehingga adanya bakteri ini dalam pangan dianggap membahayakan kesehatan.
Salmonella sp. menyebabkan penyakit yang biasa disebut dengan salmonellosis. Salmonellosis bersifat
zoonosis artinya penyakit ini dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Salmonella sp. menular ke
manusia melalui bahan pangan yang berasal dari hewan ternak yang terinfeksi oleh bakteri tersebut
(Tarmudji 2008).

2.2 metode pengujian salmonella

2.3 karakteristik media yang digunakan

2.4 contoh bahan pangan yang mengandung salmonella

Salmonella sp merupakan bakteri pathogen yang berbahay bagi kesehatan manusia yang dapat
menyebabkan salmonellosis. Salmonellosis bersifat zoonosis artinya penyakit ini dapat ditularkan dari
hewan ke manusia (Arifah,2010). Salmonella banyak ditemukan pada hewan ternak, karena menurut
Aftab(,2012 ) produk pangan asal hewan dipertimbangkan menjadi sumber utama pada infeksi
salmonella pada manusia. Pakan yang terkontaminasi salmonella menjadi sumber paling umum pada
infeksi hewan. Kontaminasi pakan sering disebabkan oleh serovar salmonella yang berhubungan dengan
kesehatan masyarakat, peralatan pakan, khususnya daging dan tepung tulang seharusnya
diselidiki/investigasi akan kehadiran dari salmonella.

BAB 3. METODOLOGI PRAKTIKUM

BAB 4. HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN

4.1 Hasil Pengamatan

4.2 Hasil Perhitungan

BAB 5. PEMBAHASAN

BAB 6. PENUTUP

6.1 Kesimpulan

6.2 Penutup

DAFTAR PUSTAKA (Minimal 5 non blog, (jurnal atau buku))

Parry CM, Hien TT, Dougan G White NJ, Farrar JJ. Typhoid fever. N Eng J Med. 2002;347: 1770-80.

DOKUMENTASI
Nurfitriani, C. 2012. Pencemaran Salmonella sp. Dalam daging ayam beku yang dilalulintaskan melalui
pelabuhan penyeberangan merak. Jurnal Peneltian. Institut Pertanian Bogor. 4(2):14-18