Anda di halaman 1dari 6

TUGAS Budaya Anti Korupsi

Kasus E-KTP

Dosen Pembimbing :

Doni Semapta, S. H

Disusun Oleh :
Kelompok 1
1. Anang TriLaksono 6. Nadila Elza Ananda
2. Andhini Putri Rejeki Putri
7. Ridha Pratiwi
3. Andi Yunita Purnama
8. Rody Pratama
4. Fiska Yunima 9. Silvi Mardatilah
Ningsih 10. Susan Melati Sukma
11. Weni Rahayu
5. Lara Larantika

Prodi DII Keperawatan

STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

TAHUN AJARAN 2017/2018


Kasus Korupsi E-KTP

Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) kembali menetapkan Ketua DPR RI Setya


Novanto sebagai tersangka.

Ketua Umum Partai Golkar itu kembali dijerat dalam kasus korupsi proyek
pengadaan Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (e-KTP).

Novanto sebelumnya lolos dari status tersangka dalam penetapan sebelumnya,


setelah memenangi gugatan praperadilan terhadap KPK.

Pengumuman penetapan Novanto sebagai tersangka itu disampaikan Wakil Ketua


KPK Saut Situmorang, dalam jumpa pers di gedung KPK, Kuningan, Jakarta,
Jumat (10/11/2017).

"Setelah proses penyelidikan dan terdapat bukti permulaan yang cukup dan
melakukan gelar perkara akhir Oktober 2017, KPK menerbitkan surat perintah
penyidikan pada 31 Oktober 2017 atas nama tersangka SN, anggota DPR RI,"
kata Saut.

Dalam kasus ini, Novanto disangkakan melanggar Pasal 2 Ayat 1 Subsider Pasal 3
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor
20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1
ke-1 KUHP.

Dalam penetapan tersangka sebelumnya, KPK menduga Novanto terlibat dalam


korupsi proyek pengadaan e-KTP.
Novanto diduga menguntungkan diri atau orang lain atau korporasi. Novanto juga
diduga menyalahgunakan kewenangan dan jabatan.

Novanto diduga ikut mengakibatkan kerugian negara Rp 2,3 triliun dari nilai
proyek Rp 5,9 triliun.

Mantan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) Bambang Widjojanto


menilai korupsi saat ini semakin dahsyat. Tidak hanya sebatas korupsi pengadaan
proyek, namun lebih jauh menyentuh hingga ke transaksi sebelum pengadaan
tersebut dilakukan.

Bambang pun menyinggung soal kasus korupsi proyek e-KTP yang saat ini
tengah diusut KPK. Dalam kasus tersebut, kata dia, tak hanya besar korupsinya
namun juga serangan baliknya terhadap KPK.

"Kasus e-KTP bukan sekadar korupsi ada pengadaan barang/jasa yang mau
diungkap, tapi serangan balik dari orang-orang yang mau dibongkar. Ini jauh lebih
dahsyat, jauh lebih seronok," ujar Bambang dalam sebuah acara diskusi di
Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (10/11/2017).

Ia menambahkan, KPK saat ini diserang dari tiga posisi, yakni lembaganya
dihancurkan dan kredibilitasnya dijatuhkan; kebijakan mengatasi "kejahatan luar
biasa"-nya ingin dijadikan kejahatan biasa oleh sejumlah pihak; serta orang-orang
yang menjadi ikon dihabisi.

Untuk poin ketiga, Bambang mencontohkan kasus yang menimpa penyidik KPK
Novel Baswedan.
Analisa Kasus

Program e-KTP dilatar belakangi oleh sistem pembuatan KTP


konvensional/nasional di Indonesia yang memungkinkan seseorang dapat
memiliki lebih dari satu KTP. Hal ini disebabkan karena belum adanya basis data
terpadu yang menghimpun data penduduk dari seluruh Indonesia. Fakta tersebut
memberi peluang penduduk yang ingin berbuat curang dalam hal-hal tertentu
dengan menggandakan KTP-nya.

Oleh karena itu, didorong oleh pelaksanaan pemerintah elektronik (e-


Government) serta untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan kepada
masyarakat. Kementrian Dalam Negeri Republik Indonesia menerapkan suatu
sistem informasi kependudukan yang berbasiskan teknologi yaitu Kartu Tanda
Penduduk elektronik atau e-KTP.

Kasus KTP elektronik alias e-KTP sudah lama bergulir. Kasus ini diduga
merugikan negara lebih dari Rp2 triliun. Bahkan, KPK (Komisi Pemberantasan
Korupsi) menilai, kasus korupsi ini adalah kasus paling serius. Dua tersangka dari
Kementerian Dalam Negeri sudah ditetapkan sebagai tersangka. Konsorsium PT
PNRI memenangkan tender dengan penawaran harga Rp5,8 triliun. Padahal, para
pesaingnya mengajukan penawaran lebih rendah, antara Rp4,7 triliun - Rp4,9
triliun. KPK juga memeriksa banyak pihak. Termasuk para anggota Komisi II
DPR, periode 2009 - 2014.

KPK baru mengumumkan total kerugian negara dalam kasus ini pada
2016, yakni sebesar Rp 2,3 triliun. Dari angka tersebut, sebanyak Rp 250 miliar
dikembalikan kepada negara oleh 5 korporasi, 1 konsorsium, dan 14 orang. Nilai
kerugian negara dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
Angkanya pun sangat fantastis yang lebih dari Rp 2 triliun.

Selaku pejabat pembuat komitmen (PPK), Sugiharto diduga melakukan


perbuatan melawan hukum dan atau penyalahgunaan wewenang yang
mengakibatkan kerugian negara terkait pengadaan proyek tersebut. Nilai proyek
tersebut mencapai Rp6 triliun dan saat itu diperkirakan kerugian negara sebesar
Rp1,12 triliun.

A. Kronologi/Ilustrasi Kasus
Sejak Undang-undang nomor 23 tahun 2006 tentang Administrasi
Penduduk disahkan, data penduduk harusnya sudah dibangun. Kementerian
Dalam Negeri bertanggung jawab atas administrasi kependudukan ini.
Lelang e-KTP ini dimulai pada 2011. Akhirnya, pada Juni 2011, Kementerian
Dalam Negeri mengumumkan Konsorsium PT. PNRI sebagai
pemenang dengan harga Rp5,9 triliun. Mereka menang setelah mengalahkan
PT. Astra Graphia yang menawarkan harga Rp6 triliun. Tapi banyak pihak
menilai janggal munculnya pemenang.
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyatakan ada
persekongkolan dalam tender penerapan KTP Berbasis NIK Nasional (e-KTP)
Tahun 2011-2012. Pelakunya, menurut KPPU adalah Panitia Tender,
Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI), dan PT Astra Graphia
Tbk. Persengkokolan juga dijalin dengan panitia lelang.
KPK mulai menelusuri dugaan korupsi pada 22 April 2014. Komisi
menetapkan S, mantan Direktur Pengelola Informasi Administrasi
Kependudukan Ditjen Dukcapil Kemendagri sebagai tersangka. Dua setengah
tahun jadi tersangka, S baru ditahan pertengahan Oktober lalu.
Belakangan, KPK menetapkan IR yang juga pernah menjabat sebagai
Direktur Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil sebagai tersangka. Wakil
Ketua KPK, Basaria Panjaitan meyakini, kasus dugaan korupsi e-KTP tidak
hanya dilakukan oleh dua tersangka itu. Untuk mengusut kasus ini, tim
penyidik KPK telah memeriksa 110 orang yang dianggap mengetahui proses
proyek e-KTP. Banyak tokoh sudah diperiksa. Di antaranya mantan Menteri
Dalam Negeri Gamawan Fauzi dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
Bahkan, Ketua DPR Setya Novanto juga bakal diperiksa.Wakil Ketua KPK
lainnya, Laode M Syarief menyatakan, kasus e-KTP merupakan salah satu
kasus yang menjadi fokus KPK saat ini.
B. Dampak
Dari segi ekonomi sendiri, korupsi akan berdampak banyak perekonomian
negara kita. Yang paling utama pembangunan terhadap sector-sektor publik
menjadi tersendat. Dana APBN maupun APBD dari pemerintah yang hampir
semua dialokasikan untuk kepentingan rakyat seperti fasilitas-fasilitas publik
hampir tidak terlihat realisasinya, kalaupun ada realisasinya tentunya tidak
sebanding dengan biaya anggaran yang diajukan.. Contoh kecilnya saja, jalan
- jalan yang rusak dan tidak pernah diperbaiki akan mengakibatkan susahnya
masyarakat dalam melaksanakan mobilitas mereka termasuk juga dalam
melakukan kegiatan ekonomi mereka. Jadi akibat dari korupsi ini tidak hanya
mengganggu perekonomian dalam skala makro saja, tetapi juga mengganggu
secara mikro dengan terhambatnya suplai barang dan jasa sebagai salah satu
contohnya.
Hal ini akan menambah tingkat kemiskinan, pengangguran dan juga
kesenjangan sosial karena dana pemerintah yang harusnya untuk rakyat justru
masuk ke kantong para pejabat dan orang-orang yang tidak bertanggung jawab
lainnya. Kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak optimal ini akan
menurunkan kualitas pelayanan pemerintah di berbagai bidang. Menurunnya
kualitas pelayanan pemerintah akan mengurangi kepercayaan masyarakat
terhadap pemerintah. Kepercayaan masyarakat yang semakin berkurang
kepada para pejabat negara.
Korupsi mengurangi pendapatan dari sektor publik dan meningkatkan
pembelanjaan pemerintah untuk sektor publik. Korupsi mengurangi
kemampuan pemerintah untuk melakukan perbaikan dalam bentuk peraturan
dan kontrol akibat kegagalan pasar (market failure). Korupsi juga
menghambat pendapatan pajak. Kasus mega korupsi e-KTP, pembuatan ktp di
seluruh Indonesia jadi terhambat bahkan sampe berbulan-bulan e-KTP belom
selesai. Pada tahun 2017 ini yang sedang dilaksanakan pilkada serentak,
banyak warga yang kehilangan hak suara memilih pemimpin daerah karena
tidak adanya e-KTP.