Anda di halaman 1dari 22

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA TUTORIAL KLINIK

FAKULTAS KEDOKTERAN 28 Februari 2017


UNIV. AL-KHAIRAAT PALU

TUTORIAL KLINIK

Disusun Oleh:

Fathina Suciati 121677714135


Dianita Asyraf Suaib 121677714140
Fathurrahman 121677714148
Mei Andani Listiani 111677714130

Pembimbing:
dr. Dewi Suriany A, Sp.KJ

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIAN KEDOKTERAN JIWA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ALKHAIRAAT
PALU
2017
IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. U
Umur : 68 tahun
Jenis Kelamin : laki-laki
Alamat : Jl. Suharso No.4, Toli-toli
Agama : Islam
Suku : Toli-toli, Bugis
Status Perkawinan : menikah
Pendidikan terakhir : SMP
Tanggal Pemeriksaan : 27 Februari 2017
Tempat Pemeriksaan : Poliklinik Jiwa Undata

LAPORAN PSIKIATRI
Riwayat psikiatri diperoleh dari autoanamnesis pada tanggal 27 Februari 2017

I. RIWAYAT PENYAKIT
A. Keluhan utama
Ketakutan

B. Riwayat gangguan sekarang


Keluhan dan gejala :
Seorang laki-laki berinisial Tn. U berusia 68 tahun datang ke Poli Jiwa
RSUD Undata dengan keluhan merasa ketakutan bila mendengar suara
rintik hujan, kursi yang didorong, dan suara teriakan orang. Keluhan ini
disertai dengan tidak bisa tidur (rata-rata tidur hanya 1 jam dalam sehari),
gemetar, pusing, kaget-kaget, jantung berdebar-debar, sakit di dada, rasa
sesak napas, jika gejala ini muncul pikiran jadi tidak karuan. Keluhan ini
dirasakan sejak bulan januari 2016 dan pasien mengaku pernah datang
berobat di poli jiwa RSUD Undata pada bulan Mei 2016, keluhan yang
dirasakan sembuh saat minum obat dokter. 3 bulan kemudian saat obat
habis, pasien kembali mengalami keluhan tersebut sampai sekarang.
Pasien mengaku mendapat SK sebagai ketua RW dan sering mendapat
keluhan dari masyarakat, disitu pasien mulai merasa marah. Pasien juga
merasa cepat tersinggung dengan perkataan orang lain. Jika pasien merasa
tersinggung, kemudian marah maka keluhan yang dirasakan akan muncul
kembali. Jika ia mulai marah, pasien mulai duduk dengan tenang dan
menenangkan pikirannya. Terkadang pasien berselisih paham dengan
keluarga namun dapat diselesaikan dengan cepat.
Hendaya / disfungsi :
Hendaya sosial (-)
Hendaya pekerjaan (-)
Hendaya dalam penggunaan waktu senggang (-)
Faktor stressor psikososial :
Stressor pada pasien ini adalah masalah pekerjaan. Pasien bekerja sebagai
ketua RW dan sering mendapat keluhan dari masyarakat. Pasien mulai
terbebani dengan pekerjaannya dan mulai sering marah.
Hubungan gangguan sekarang dengan riwayat penyakit psikis
sebelumnya.
Tidak ada.

C. Riwayat gangguan sebelumnya


Riwayat penyakit terdahulu: kejang (disangkal), riwayat trauma kapitis
(disangkal), riwayat penyakit infeksi (disangkal)
Riwayat penggunaan zat psikoaktif:
NAPZA
Merokok (+)
Alkohol (-)
Obat-obatan lainnya (-)
Riwayat gangguan psikiatri sebelumnya:
Pasien sudah pernah berobat di RSUD Undata pada tanggal 4 Mei 2016
dengan keluhan yang sama. Dan pasien mengaku tidak meminum
obatnya selama 5 bulan setelah obatnya habis.
D. Riwayat kehidupan pribadi :
Riwayat Prenatal dan Perinatal :
Pasien lahir pada tanggal 03 April 1949 di rumah ditolong oleh dukun
dengan keadaaan normal dan cukup bulan. Tidak ada gangguan ataupun
penyakit yang diderita ibunya saat mengandung hingga melahirkan. Pasien
lahir tanpa penyulit apapun dalam persalinan.
Riwayat Masa Kanak-kanak Awal (1-3 tahun) :
Pertumbuhan dan perkembangan baik, sesuai dengan anak seusianya.
Pasien dirawat dan dibesarkan oleh kedua orangtuanya dan mendapatkan
kasih sayang dari orang tuanya.
Riwayat Masa Kanak-kanak Pertengahan (4-11 tahun) :
Pasien dirawat oleh ayah dan ibunya. Pasien menjalani sekolah SD sesuai
dengan teman-teman sebayanya dan tidak pernah berrkelahi.
Riwayat Masa Kanak-Kanak Akhir /Pubertas/Remaja (12-18
tahun)
Pasien melanjutkan Sekolah Menengah Pertama di toil-toli. Pasien
mengaku bergaul dengan teman sebayanya tanpa memilih-milih teman.
Namun setelah tamat SMP pasien tidak melanjutkan ke SMA karena
masalah biaya.

Riwayat Masa Dewasa


o Riwayat pekerjaan :
Pasien bekerja sebagai ketua RW
o Riwayat hubungan dan perkawinan :
Pasien telah menikah dan memiliki 5 orang anak perempuan yang telah
menikah. 4 orang anaknya tinggal bersama suaminya.
o Riwayat militer :
Tidak ada
o Aktivitas sosial :
Pasien mengaku memiliki hubungan sosial yang baik terhadap teman dan
tetangga diwilayah tempat tinggalnya.
E. Riwayat Kehidupan Keluarga
Pasien merupakan anak bungsu dari 3 bersaudara dari perkawinan pertama
ayah dan ibunya. Ayahnya menikah 3 kali dan mempunyai dua anak dari
istri kedua dan ketiganya. Pada tahun 1996 ayahnya meniggal dunia dan
ibunya menikah lagi sebanyak 3 kali. Namun pada tahun 2013 ibunya
meninggal dunia. Saat ini pasien sudah menikah dan memiliki 5 orang
anak perempuan yang saat ini sudah berumah tangga.

F. Situasi hidup sekarang


Saat ini pasien tinggal dirumahnya sendiri bersama istri, anak, menantu,
dan cucunya.

G. Persepsi pasien tentang diri dan kehidupannya


Pasien berharap dapat mengabdi kepada masyarakat.

II. STATUS MENTAL


A. Deskripsi Umum
Penampilan : Tampak seorang pria memakai jaket berwarna hitam, dan
mengenakan celana panjang berwarna hitam.. Postur tinggi badan
pasien sekitar 170 cm, dengan perawakan tinggi dan kurus. Perawatan
diri baik dan tampak wajah sesuai usia.
Kesadaran : Compos Mentis
Perilaku dan aktivitas psikomotor : Tampak tenang
Pembicaraan : Spontan, intonasi (baik), kelancaran (baik)
Sikap terhadap pemeriksa : Kooperatif

B. Keadaan Afektif, Perasaan, dan Empati:


a. Mood : disforik
b. Afek : appropriate
c. Keserasian : serasi
d. Empati : tidak dapat diraba-rasakan
C. Fungsi Intelektual (kognitif)
1) Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan : sesuai dengan
tingkat pendidikan
2) Daya konsentrasi : Baik
3) Orientasi :
a. Waktu : Baik
b. Tempat : Baik
c. Orang : Baik
4) Daya ingat:
a. Segera : Baik
b. Jangka pendek : Baik
c. Jangka panjang : Baik
5) Pikiran abstrak : Baik
6) Bakat kreatif : Main musik
7) Kemampuan menolong diri sendiri : Baik

D. Gangguan Persepsi
1) Halusinasi : Tidak ada
2) Ilusi : Tidak ada
3) Depersonalisasi : Tidak ada
4) Derealisasi : Tidak ada

E. Proses Berpikir
1) Arus pikiran:
a. Produktivitas : Cukup
b. Kontiniuitas : Relevan
c. Hendaya berbahasa : Tidak ada

2) Isi pikiran :
a. Preokupasi : Tidak ada
b. Gangguan isi pikiran : Tidak ada
F. Pengendalian Impuls : Baik

G. Daya Nilai
1) Norma sosial : Baik
2) Uji daya nilai : Baik
3) Penilaian realitas : Baik

H. Tilikan (insight) : Derajat 6 (Pasien menyadari sepenuhnya tentang


situasi dirinya disertai motivasi untuk mencapai perbaikan).

I. Taraf dapat dipercaya : Dapat dipercaya

III. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LEBIH LANJUT


a. Status internus
T : 140/80 mmHg N : 100 x/menit P : 20 x/menit S : 36,5C
Kongjungtiva tidak anemis , sclera tidak icterus, jantung dan paru dalam
batas normal, fungsi motorik dan sensorik ke empat ekstremitas dalam
batas normal.

b. Pemeriksaan Fisik
GCS E4M6V5, pupil bundar isokor, ukuran 3 mm, reflex cahaya +/+, reflex
cahaya tidak langsung +/+, Pemeriksaan kaku kuduk : (-), reflex fisiologis
(+), reflex patologis (-). fungsi kortikal luhur dalam batas normal.
TUTORIAL

A. SKENARIO
Seorang laki-laki berinisial Tn. U usia 68 tahun datang ke Poli Jiwa
RSUD Undata dengan keluhan merasa ketakutan bila mendengar suara rintik
hujan, kursi yang didorong, dan suara teriakan orang. Pasien merasa cepat
marah dan tersinggung dengan perkataan orang lain. Keluhan ini disertai
dengan tidak bisa tidur (rata-rata tidur hanya 1 jam dalam sehari), gemetar,
pusing, kaget-kaget, jantung berdebar-debar, sakit di dada, rasa sesak napas.
Keluhan ini dirasakan sejak bulan januari 2016 dan pasien mengaku pernah
datang berobat di poli jiwa RSUD Undata pada bulan Mei 2016, keluhan yang
dirasakan sembuh saat minum obat dokter. Namun saat ini pasien sudah
berhenti minum obat.

B. KATA KUNCI
1. laki-laki usia 68 tahun
2. Ketakutan bila mendengar suara rintik hujan, kursi yang didorong, dan
suara teriakan orang.
3. Tidak bisa tidur
4. Keinginan kabur dari rumah
5. Gemetar, pusing, kaget-kaget, jantung berdebar-debar, sakit di dada, rasa
sesak napas.
6. Mudah marah dan tersinggung.
7. Gejala ini sudah dirasakan 2 bulan yll.
8. Riwayat putus obat.
9. Riwayat berobat di poliklinik Jiwa RSUD Undata 1 kali.

C. PERTANYAAN
1.Bagaimana mekanisme keluhan diatas?
2. Tentukan diagnosis diferensial pada kasus ini?
3.Bagaimana kriteria diagnostik menurut DSM IV pada kasus di atas ?
4.Bagaimana diagnosis multiaksial pada pasien ini?
5.Bagaimana prognosis pada pasien ini?
6.Bagaimana rencana terapi pada pasien ini?
7.Bagaimana hubungan antara diagnosis dengan peningkatan tekanan darah?
8.Bagaimana ciri kepribadian pada pasien?

D. JAWABAN

1.Mekanisme keluhan diatas?


Stressor pada pasien ini adalah masalah pekerjaan. Pasien bekerja sebagai
ketua RW dan sering mendapat keluhan dari masyarakat. Pasien mulai
terbebani dengan pekerjaannya dan mulai sering marah.

Mekanisme Stress
Respon umum / general adaptation syndrome dikendalikan oleh
hipotalamus, hipotalamus menerima masukan mengenai stresor fisik dan
psikologis dari hampir semua daerah di otak dan dari banyak reseptor di
seluruh tubuh. Sebagai respon hipotalamus secara langsung
a. Stresor Tubuh
Respon spesifik yang khas untuk jenis stressor. Respon umum /
menyeluruh, non spesifik apapun jenis stresornya mengaktifkan sistem saraf
simpatis. Mengeluarkan CRH untuk merangsang sekresi ACTH dan kortisol,
dan memicu pengeluaran Vasopresin. Stimulasi simpatis pada gilirannya
menyebabkan sekresi epinephrine, dimana keduanya memiliki efek sekresi
terhadap insulin dan glucagon oleh pancreas. Selain itu vasokonstriksi arteriole
di ginjal oleh katekolamin secara tidak langsung memicu sekresi rennin
dengan menurunkan aliran darah (konsumsi oksigen menurun) ke ginjal.
Renin kemudian mengaktifkan mekanisme rennin-angiotensinaldosteron.
Dengan cara ini, selama stres, hipotalamus mengintegrasikan berbagai respon
baik dari sistem saraf simpatis maupun sistem endokrin.
Reaksi normal pada seseorang yang sehat pada keadaan darurat, yang
mengancam jiwanya, akan merangsang pengeluaran hormon adrenalin,yang
menyebabkan meningkatnya denyut nadi, pernapasan, memperbaiki tonus otot
dan rangsangan kesadaran yang kesemuanya akan meningkatkan kewaspadaan
dan siap akan kecemasan dan antisipasi yang akan di hadapi, untuk kembali
pada keadaan yang normal setelah suatu krisis yang dihadapinya. Walaupun
kondisi ini akan dilanjutkan dengan keadaan stress yang siap akan terjadinya
suatu kerusakan pada tubuh. Selanjutnya apabila suatu krisis terjadi dengan
suatu kasus sangat ekstrem maka dapat menimbulkan suatu kepanikan yang
dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan atau cidera.
Stress adalah suatu psycho physiological phenomenon, ini adalah
kombinasi antara maksud pikiran dan gerak tubuh. Olahraga sangat dekat
dengan terjadinya stress. Secara fisiologis, tubuh dapat menunjukkan 3 tahap
(fase) ketika menghadapi stress yaitu:
Respon tubuh terhadap perubahan tersebut yang disebut GAS terdiri dari 3
fase
1) Waspada, (alarm reaction/reaksi peringatan)
Respons Fight or flight (respons tahap awal) Tubuh kita bila bereaksi
terhadap
stress, stress akan mengaktifkan sistem syaraf simpatis dan sistem hormon
tubuh kita seperti kotekolamin, epinefrin, norepinefrine, glukokortikoid,
kortisol dan kortison.Sistem hipotalamus-pituitary-adrenal (HPA) merupakan
bagian penting dalam sistem neuroendokrin yang berhubungan dengan
terjadinya stress, hormon adrenal berasal dari medula adrenal sedangkan
kortikostreroid dihasilkan oleh korteks adrenal. Hipotalamus merangsang
hipofisis, kemudian hipofisis akan merangsang saraf simpatis yang
mempersarafi:
a) Medula adrenal yang akan melepaskan norepinefrin dan epinefrin;
b) Mata menyebabkan dilatasi pupil;
c) Kelenjar air mata dengan peningkatan sekresi;
d) Sistem pernafasan dengan dilatasi bronkiolus, dan peningkatan pernafasan;
e) Sistem Kardiovaskular (jantung) dengan peningkatan kekuatan kontraksi
jantung, peningkatan frekwensi denyut jantung, tekanan darah yang
meningkat;
f) Sistem Gastrointestinal (lambung dan usus), motilitas lambung dan usus
yang
berkurang, kotraksi sfingter yang menurun;
g) Hati, peningkatan pemecahan cadangan karbohidrat dalam bentuk
glikogen (glikogenolisis) dan peningkatan kerja glukoneogenesis,
penurunan sintesa
glikogen. Sehingga gula darah akan meningkat di dalam darah;
h) Sistem Kemih terjadi peningkatan motilitas ureter, kontraksi otot kandung
kemih, relaksasi sfingter;
i) Kelenjar keringat, peningkatan sekresi;
j) Sel lemak, terjadi pemecahan cadangan lemak (lipolisis);

2) The Stage of resistance (Reaksi pertahanan)


Reaksi terhadap stressor sudah melampaui batas kemampuan tubuh, timbul
gejala psikis dan somatik. Individu berusaha mencoba berbagai macam
mekanisme penanggulangan psikologis dan pemecahan masalah serta
mengatur strategi untuk mengatur stresor, tubuh akan berusaha mengimbangi
proses fisiologi yang terjadi pada fase waspada, sedapat mungkin bisa
kembali normal, bila proses fisiologis ini telah teratasi maka gejala stress akan
turun, bila stresor tidak terkendali karena proses adaptasi tubuh akan melemah
dan individu akan tidak akan sembuh.

3) Tahap kelelahan
Pada fase ini gejala akan terlihat jelas. Karena terjadi perpanjangan tahap
awal stress yang telah terbiasa, energi penyesuaian sudah terkuras, individu
tidak dapat lagi mengambil dari berbagai sumber untuk penyesuaian,
timbullah gejala penyesuaian seperti sakit kepala, gangguan mental,
penyakit arteri koroner, hipertensi, dispepsia (keluhan pada gastrointestinal),
depresi, ansietas, frigiditas, impotensia.
Bila terjadi stress, kecemasan, kegelisahan, maka tubuh akan bereaksi
secara otomatis berupa perangsangan hormon dan neurotransmiter, untuk
menahan stresor, sehingga penting untuk mempertahankan kondisi mental dan
fisik mahluk hidup. Dalam hal ini stress akan merangsang pusat hormonal di
otak yang bernama hipotalamus.
Fungsi Hipotalamus disini adalah: mengatur keseimbangan air, suhu
tubuh, pertumbuhan tubuh, rasa lapar, mengontrol marah, nafsu, rasa takut,
integrasi respons syaraf simpatis, mempertahankan homeostasis. Bila saraf
simpatis terangsang maka, denyut nadi dan jantung akan meningkat, aliran
darah ke jantung, otak, dan ototpun meningkat, sehingga tekanan darah pun
akan ikut terpengaruhi, pemecahan gula di hati meningkat sehingga gula darah
ikut meningkat di darah. Kortisol yang dikeluarkan oleh korteks adrenal
karena perangsangan hipotalamus, menyebabkan rangsangan susunan syaraf
pusat otak.Tubuh waspada dan menjadi sulit tidur (insomnia). Kortisol
merangsang sekresi asam lambung yang dapat merusak mukosa lambung.
Menurunkan daya tahan tubuh.

b. Catekolamin
Respon saraf utama terhadap rangsangan stres adalah pengkatifan
menyeluruh system saraf simpatis. Hipotalamus akan menolong untuk
mempersiapkan tubuh untuk fight to fight akibat rangsangan stres. Hal ini
menyebabkan :
1) peningkatan tekanan arteri
2) Peningkatan aliran darah untuk mengaktifkan otot-otot, bersamaan
dengan penurunan aliran darah ke organ-organ yang tidak diperlukan
untuk aktivitas motorik yang cepat.
3) peningkatan kecepatan metabolisme sel di seluruh tubuh.
4) peningkatan konsentrasi glukosa darah.
5) peningkatan proses glikolisis di hati dan otot
6) peningkatan kekuatan otot
7) peningkatan aktivitas mental
8) peningkatan kecepatan
9) koagulasi darah.

Adanya stressor gagal melakukan adaptasi terhadap stressor terjadi


perubahan keadaan fungsional berbagai neurotransmitter dan sistem pemberi
sinyal intraneuronal terjadinya perubahan pada pengaturan sistem
adrenegik regulasi dari reseptor adrenergik beta norepinefrin
bersama dengan serotonin sinyal di kirim ke korteks serebri, sistem
limbik (amigdala dan hipokampus), batang otak dan medulla
spinalis respon rasa takut yang berlebih cemas dan gelisah.

Adanya stessor (penyakit yang dialami) ketegangan


pikiran mempengaruhi sistem saraf pusat terjadi perubahan keadaan
fungsional berbagai neurotransmiter dan sistem pemberi signal
intraneuronal terjadi ketidakseimbangan pelepasan norepinefrin dan
serotonin penurunan aktivitas norepinefrin dan serotonin gangguan
tidur insomnia

Kecemasan berlebihan dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan pasien.


Ketegangan motorik bermanifestasi sebagai bergetar, kelelahan, dan sakit
kepala. Hiperaktivitas autonom timbul dalam bentuk pernafasan yang pendek,
berkeringat, palpitase, dan disertai gangguan pencernaan. Terdapat juga
kewaspadaan kognitif dalam bentuk iritabilitas
a. Teori Psikoanalisa
Psikoanalisa diperkenalkan oleh Freud Menyatakan bahwa ego manusia
tidak selamanya sanggup menghadapi stimulus dari luar dan dari dalam
dirinya.
b. Teori perilaku kognitif
Suatu respon terhadap rangsangan tertentu yang datang dari lingkungan
hidupnya. Seseorang yang menderita ansietas cenderung membesar-
besarkan derajat bahaya dan menggangap bahaya tsb dapat mengancam
fisik dan kejiwaan.
c. Teori Eksistensialisme
Menyataan bahwa ansietas adalah suatu gangguan kecemasan yang
menyeluruh dan tidak terdapat serta tidak di dapatkan stimulus spesifik bagi
terbentuknya ansietas.
d. Teori Biologi
Menerangkan terjadinya ansietas dan kaitan antara fungsi mental dan sistem
neurotransmitter di dalam otak.
e. Sistem saraf otonom :
Stimulasi system saraf otonom menimbulkan gejala tertentu:
Kardiovaskular (takikardi), muscular (sakit kepala), gastrointestinal(diare),
dan pernapasan (takipneu).
f. Neurotransmitter : Tiga neurotransmitter utama yang terkait dengan
ansietas yaitu :
Norepinefrin : Badan sel system noradrenergic terutama terletak pada
locus ceruleus di pons pars rostralis dan badan sel ini menjulurkan
aksonnya ke korteks cerebri, system limbic, batang otak serta medulla
spinalis. Stimulus locus ceruleus menghasilkan respon rasa takut
Serotonin: Ditemukannya banyak reseptor serotonin telah mencetuskan
pencarian peran serotonin dalam gangguan cemas. Berbagai stress
dapat menimbulkan peningkatan 5-hydroxytryptamine pada prefrontal
korteks, nukleus accumbens, amygdala, dan hipotalamus lateral.
Penelitian tersebut juga dilakukan berdasarkan penggunaan obat-
obatan serotonergik seperti clomipramine pada gangguan obsesif
kompulsif. Efektivitas pada penggunaan obat buspirone juga
menunjukkan kemungkinan relasi antara serotonin dan rasa cemas. Sel-
sel tubuh yang memiliki reseptor serotonergik ditemukan dominan
pada raphe nuclei pada rostral brainstem dan menuju pada korteks
serebri, sistem limbik, dan hipotalamus.
GABA: Peran GABA pada gangguan kecemasan sebagai contoh
penggunaan golongan benzodiazepin, yang meningkatkan aktivitas
GABA pada jenis reseptor GABA A (GABAA), dalam pengobatan
beberapa jenis gangguan kecemasan. Meskipun potensinya rendah,
benzodiazepin adalah obat yang paling efektif untuk mengatasi gejala
dari gangguan kecemasan umum, potensi tinggi obat obat golongan
benzodiazepin. Sebuah antagonis benzodiazepin, flumazenil
(Romazicon), menyebabkan serangan panik sering berat pada pasien
dengan gangguan panik. Gangguan kecemasan memiliki fungsi
abnormal dari reseptor GABAA, meskipun hubungan ini belum
terbukti secara langsung.

2.Diagnosis Differential
Gangguan Campuran Ansietas Depresif
Gangguan Cemas Menyeluruh
Gangguan Panik
Gangguan Somatisasi

3. Bagaimana kriteria diagnostik menurut DSM IV pada kasus di atas ?


Menurut DSM-IV-TR, gangguan campuran ansietas depresif
memiliki kriteria diagnosis sebagai berikut
A. Mood disforik yang berulang atau menetap dan bertahan sedikitnya 1
bulan
B. Mood disforik disertai empat (atau lebih) gejala berikut selama
sedikitnya 1 bulan :
1. kKesulitan berkonsentrasi atau pikiran kosong
2. Gangguan tidur (sulit untuk jatuh tertidur atau tetap tidur atau gelisahm
tidur tidak puas)
3. Lelah atau energi rendah
4. Iritabilitas
5. Khawatir
6. Mudah nangis
7. Hipervigilance
8. Antisipasi hal terburuk
9. Tidak ada harapan (pesimis yang menetap akan masa depan)
10. Harga diri yang rendah atau rasa tidak berharga
C. Gejala menimbulkan penderitaan yang secara klinis bermakna atau
hendaya dalam area fungsi sosial, pekerjaan atau area fungsi penting
lain.
D. Gejala tidak disebabkan efek fisiologis langsung suatu zat (cth.
Penyalahguanaan obat atau pengobatan) atau keadaan medis umum
Semua hal berikut ini :
1. Kriteria tidak pernah memenuhi gangguan depresif berat, gangguan
distimik; gangguan panik, atau gangguan ansietas menyeluruh
2. Kriteria saat ini tidak memenuhi gangguan mood atau ansietas lain
(termasuk gangguan ansietas atau gangguan mood, dalam remisi
parsial)
E. Gejala tidak lebih mungkin disebabkan gangguan jiwa lain.
Menurut DSM-IV-TR, gangguan somatisasi memiliki kriteria
diagnosis sebagai berikut
A. Riwayat banyak keluhan fisik dimulai sebelum usia 30 tahun yang
terjadi selama suatu periode beberapa tahun dan menyebabkan pencarian
terapi atau hendaya fungsi sosial, pekerjaan, atau area fungsi penting lain
yang signifikan.
B. Masing-masing kriteria berikut ini harus dipenuhi, dengan setiap gejala
terjadi pada waktu kapanpun selama perjalanan gangguan:
1) Empat gejala nyeri : riwayat nyeri yang berkaitan dengan sedikitnya
empat tempat atau fungsi yang bebrbeda (contoh kepala, abdomen,
punggung, sendi, ekstremitas, dada, rectum, selama menstruasi, selama
hubungan seksual, selama berkemih)
2) Gejala gastrointestinal : riwayat sedikitnya dua gejala gastrointestinal
selain nyeri (contoh: mual, muntah selain selama hamil, diare, kembung,
atau intoleransi terhadap beberapa makanan yang berbeda).
3) Satu gejala seksual: riwayat sedikitnya satu gejala seksual atau
reproduksi selain nyeri (contoh: ketidakpedulian terhadap seks, disfungsi
ereksi atau ejakulasi, menstruasi tidak teratur, perdarahan menstruasi
berlebihan, muntah sepanjang hamil)
4) Satu gejala pseudoneurologis : riwayat sedikitnya satu gejala atau defisit
yang mengesankan keadaan neurologis tidak terbatas pada nyeri (gejala
konversi seperti gangguan koordinasi atau keseimbangan, paralisis atau
kelemahan local, kesulitan menelan atau benjolan ditenggorok, afonia,
retensi urin, halusinasi, hilangnya sensasi raba atau nyeri, penglihatan
ganda, buta, tuli, kejang, gejala disosiatif seperti amnesia, atau hilang
kesadaran selain pingsan).
C. Baik satu atau dua :
1) Setelah penelitian yang sesuai, setiap gejala kriteria B tidak dapat
dijelaskan secara utuh dengan keadaan medis umum yang diketahui atau
efek langsung suatu zat (contoh penyalahgunaan obat, pengobatan)
2) Jika terdapat keadaan medis umum, keluhan fisik, atau hendaya sosial
atau pekerjaan yang diakibatkan jauh melebihi yang diperkirakan dari
anamnesis, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium.
D. Gejala dihasilkan tanpa disengaja atau dibuat-buat (seperti pada
gangguan buatan atau malingering).
Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV (
DSM-IV-TR) Kriteria Diagnosis cemas menyeluruh adalah sebagai
berikut
a. Kecemasan dan kekhawatiran berlebihan (harapan yang
mengkhawatirkan), terjadi lebih banyak dibandingkan tidak selama
paling kurang 6 bulan, tentang sejumlah peristiwa atau aktivitas (seperti
pekerjaab atau prestasi sekolah).
b. Orang kesulitan untuk mengendalikan kekhawatiran.
c. Kecemasan dan kekhawatiran adalah dihubungkan dengan tiga (atau
lebih) dari enam gejala berikut (dengan paling kurang beberapa gejala
terjadi lebih banyak dibandingkan tidak selama 6 bulan terakhir).
Catatan : Hanya satu gejala yang diperlukan pada anak-anak.
Catatan : Hanya satu gejala yang diperlukan pada anak-anak :
1. Gelisah atau perasaan tegang atau cemas
2. Merasa mudah lelah
3. Sulit berkonsentrasi atau pikiran menjadi kosong
4. Iritabilitas
5. Ketegangan otot
6. Gangguan tidur (kesulitan untuk memulai atau tetap tertidur, atau tidur
yang gelisah dan tidak memuaskan)
d. Fokus kecemasan dan kekhawatiran adalah tidak dibatasi pada gambaran
utama gangguan Aksis I, misalnya, kecemasan atau ketakutan adalah
bukan suatu Serangan Panik (seperti pada Gangguan Panik), merasa
malu di depan umum(seperti pada Fobia Sosial), terkontaminasi (seperti
pada Gangguan Obsesif Kompulsif), merasa jauh dari rumah atau
kerabat dekat (seperti pada Gangguan Cemas Perpisan), pertambahan
berat badan (seperti pada Anoreksia Nervosa), menderita berbagai
keluhan fisik (seperti pada Gangguan Somatisasi), atau menderita
penyakit serius (seperti pada Hipokondriasis), serta kecemasan dan
kekhawatiran tidak terjadi secara eksklusif selama Gangguan Stres
Pascatrauma.
e. Kecemasan, kekhawatiran, atau gejala fisik menyebabkan penderitaan
yang bermakna secara klinis atau gangguan pada fungsi sosial,
pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
f. Gangguan tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari zat
(misalnya, penyalahgunaan zat, pengobatan) atau suatu kondisi medis
umum (misalnya hipertiroidisme) dan tidak terjadi secara eksklusif
selama suatu Gangguan Mood, Ganguan Psikotik, atau Gangguan
Perkembangan Pervasif.
Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV
( DSM-IV-TR) Kriteria serangan pabnik
Suatu periode tertentu adanya rasa takut atau tidak nyaman, di mana
empat (atau lebih) gejala berikut ini terjadi secara tiba-tiba dan
mencapai puncaknya dalam 10 menit:
1) Jantung berdebar-debar (palpitasi)
2) Berkeringat
3) Gemetar atau bergoncang
4) Rasa sesak nafas atau tertelan
5) Perasaan tercekik
6) Nyeri dada atau perasaan tidak nyaman
7) Mual atau gangguan perut
8) Pusing, bergoyang, melayang, pingsan
9) Derealisasi atau depersonalisasi
10) Takut kehilangan kendali atau menjadi gila
11) Rasa takut mati
12) Parestesia
13) Menggigil atau perasaan panas.

4. Diagnosis Multiaksial
Aksis I:
- Pada autoanamnesis didapatkan pasien ini takut, tidak bisa tidur,
pusing, gemetar, sakit dada, jantung berdebar-debar, dan rasa sesak
nafas. Hal ini menimbulkan distress dan disability sehingga dikatakan
gangguan jiwa.
- Dari pemeriksaan status mental tidak didapatkan hendaya dalam
menilai realita yaitu halusinasi dan waham sehingga pasien ini
dikatakan gangguan jiwa non-psikotik.
- Pada pemeriksaan status internus dan neurologis tidak ditemukan
kelainan yang mengindikasikan gangguan medis umum yang
menimbulkan gangguan otak, sehingga penyebab organic dapat
disingkirkan dan pasien ini didiagnosis sebagai gangguan non-
organik.
- Pada pasien ini ditemukan adanya mood disforik, susah tidur,
iritabilitas, khawatir, mudah nangis, lelah sejak 7 bulan yang lalu.
Maka berdasarkan DSM IV kasus ini dapat digolongkan dalam
gangguan campuran ansietas depresif
Aksis II :
Pada masa kanak-kanak dan remaja pasien tumbuh dan berkembang
dengan baik sebagaimana anak-anak seumurannya dan dapat bersosialisasi.
Tidak terdapat gangguan kepribadian dan ciri retardasi mental. Maka pada axis
II tidak ada diagnosis.
Aksis III :
Pada anamnesis, pemeriksaan fisik dan neurologis pada pasien ini tidak
ditemukan kelainan. Maka pada axis II tidak ada diagnosis.
Aksis IV :
Saat wawancara, pasien mengungkapkan bahwa memiliki masalah dengan
pekerjaannya, yakni pasien merasa bahwa ketika dia menjabat sebagai ketua
RW dia banyak mendapat keluhan dari masyarakat, disitu pasien mulai merasa
marah. Selain itu, pasien juga merasa cepat tersinggung dengan perkataan
orang lain. Maka diagnosis axis IV pada pasien ini adalah terdapatnya masalah
dalam pekerjaan.
Axis V :
GAF Scale 70-61 beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan
dalam fungsi, secara umum masih baik.
5. Prognosis
Dubia ad bonam

Faktor Pendukung Faktor Penghambat


- Genetik tidak ada - Genetik ada
- Onset akut - Onset kronik
- Usia tua - Usia muda
- Faktor pencetus jelas - Faktor pencetus tidak jelas
- Riwayat premorbid social dan - Riwayat premorbid buruk
pekerjaan baik - Pernah sakit seperti ini
- Belum Pernah sakit seperti ini - Tidak menikah
- Menikah - Suportif lingkungan tidak ada
- Suportif lingkungan ada - Status ekonomi kurang
- Status ekonomi cukup - Ketidakpatuhan minum obat
- Kepatuhan minum obat

6. RencanaTerapi
Farmakoterapi
benzodiasepine (Alprazolam)
Alprazolam adalah obat antianxietas yang merupakan golongan
benzodiasepim. Benzodiasepim merupakan obat pilihan pertama yang dimulai
dengan dosis terendah dan ditingkatkan sampai mencapai respon terapi.
Penggunaan sediaan dengan waktu paruh menengah dan dosis terbagi dapat
mencegah terjadinya efek yang tidak diinginkan. Lama pengobatan rata-rata
sampai 6 minggu dan dilanjutkan dengan tapering off selama 1-2 minggu.
Psikoterapi
1) Terapi kognitif-perilaku
Pendekatan kognitif mengajak pasien secara langsung mengenali distorsi
kognitif dan pendekatan perilaku, mengenali gejala somatic secara
langsung. Teknik utama yang di gunakan pada pendekatan behavioral
adalah relaksasi dan biofeedback.
2) Terapi suportif
Pasien diberikan reassurance dan kenyamanan, menggali potensi-potensi
yang ada dan belum tampak, didukung egonya, agar lebih bisa beradaptasi
optimal dalam fungsi sosial dan pekerjaannya.
3) Psikoterapi berorientasi tilikan
Terapi ini mengajak pasien untuk mencapai penyinkapan konflik bawah
sadar, menilik egostrength, relasi obyek, serta keutuhan self pasien. Dari
pemahaman akan komponen-komponen tersebut, kita sebagai terapi dapat
memperkirakan sejauh mana pasien dapat diubah untuk menjadi lebih
matur; bila tidak tercapai, minimal kita memfasilitasi agar pasien dapat
beradaptasi dalam fungsi sosial dan pekerjaannya.

7.Bagaimana hubungan antara diagnosis dengan peningkatan tekanan darah?


Respon saraf utama terhadap rangsangan stres adalah pengaktifan sistem
saraf simpatis generalisata. Peningkatan curah jantung dan ventilasi serta
pengalihan aliran darah dari bagian yang aktivitasnya ditekan dan mengalami
vasokonstriksi. Vasokonstriksi meningkat menyebabkan peningkatan
resistensi perifer total yang mengakibatkan peningkatan tekanan darah.
Stimulasi simpatis pada jantung mengakibatkan terjadinya peningkatan
kecepatan jantung sehingga terjadi peningkatan curah jantung yang
mengakibatkan tekanan darah meningkat. Stimulasi simpatis pada vena
menyebabkan peningkatan vasokonstriksi terjadi peningkatan aliran balik vena
Kemudian terjadi peningkatan isi sekuncup menyebabkan peningkatan curah
jantung yang mengakibatkan tekanan darah meningkat.

8.Bagaimana ciri kepribadian pada pasien?


Pasien sebelumnya adalah orang yang ramah, senang bergaul dan memiliki
banyak teman. Pasien juga senang bekerja.