Anda di halaman 1dari 15

During the Palaeozoic and Mesozoic, continental terranes separated from Gondwanaland and were

accreted to Asia by the opening and closing of the Palaeotethys and Mesotethys Oceans (e.g. Audley-
Charles, 1988; Audley-Charles et al., 1988; Sengo r and Natal'in, 1996). Metcalfe (1998) interprets all
the East and SE Asian continental terranes to have originated on the margin of Gondwanaland, and
probably within the Indian and northern Australian margins. By the Mesozoic, a region composed of
fragments derived from Gondwana formed a Sundaland core, surrounded by subduction zones. By the
beginning of the Cenozoic the western and northwestern edges of the Australian continent were
passive margins, although the eastern margin was a more complex extended region, with marginal
basins which were still in the process of opening. Rifting and spreading had produced Mesozoic
oceanic crust around Australia.

Terran : area atau wilayah yang dibatasi dengan batas dengan stratigrafi khas, struktur, dan sejarah
geologi.

Ketika Palaeozoic dan Mesozoic, terrane benua terpisah dari Gondwanaland dan membentuk Asia
melalui pembukaan dan penutupan dari Samudra Palaeotethys dan Mesotethys.

Metcalfe (1998) menafsirkan bahwa semua terrane benua Asia Timur dan Asia Tenggara berasal dari
bagian tepi Gondwanaland, dan mungkin di dalam batas India dan utara Australia.

Pada saat Mesozoic, sebuah wilayah yang terdiri dari fragmen yang berasal dari Gondwana membentuk
inti Sundaland, yang dikelilingi oleh zona subduksi.

Pada awal Cenozoik tepi barat dan barat laut benua Australia merupakan batas yang pasif, meskipun
batas timur benua Australia merupakan daerah yang lebih kompleks, dengan cekungan marjinal yang
masih dalam proses pembukaan.

Adanya proses peretakan dan penyebaran telah menghasilkan kerak samudra Mesozoic di sekitar
Australia.

In contrast to Australia, the SE and Asian margins were active margins for most of the Mesozoic. Subduction
meant that the Asian margins were complex. Island arcs at the margins may have been underlain by
continental and oceanic crust, and there were probably many small ocean basins behind the arcs and above the
subduction zones. The widespread ophiolites formed mainly in subduction-related settings, such as backarc
basins and forearcs. By the begin- ning of the Cenozoic SE Asia was a composite mosaic of continental crust,
island arc material and oceanic crust.
Two major fragments separated from Gondwana (Veevers, 2000) in the Cretaceous and moved
northwards as parts of different plates: India and Australia. India collided with the Asian continent
about 50 million years ago, although it continued to move northwards.

Ophiolite : batuan beku yang sebagian besar terdiri dari serpentin, diyakini terbentuk dari letusan
dibawah laut bahan kerak samudra dan lapisan atas.

Berbeda dengan Australia, batas Asia dan Asia Tenggara merupakan batas aktif. Subduksi menunjukkan
bahwa batas margin Asia itu rumit.
Busur pulau pada bagian batas mungkin didasari oleh kerak benua dan samudra, dan mungkin ada
banyak cekungan laut kecil di belakang busur dan di atas zona subduksi.

Ophiolit luas terbentuk terutama pada pengaturan subduksi, seperti cekungan backarc dan forearc.

Pada awal Cenozoic, Asia Tenggara merupakan adalah mosaik dari gabungan kerak benua, busur pulau
dan kerak samudra.

India dan Australia merupakan dua fragmen utama yang terpisah dari Gondwana pada saat Cretaceous
dan bergerak ke utara sebagai bagian dari lempeng yang berbeda.

India bertabrakan dengan benua Asia sekitar 50 juta tahun yang lalu, dan terus bergerak ke utara.

Australia terpisah dari Gondwana, meninggalkan Antartika pada waktu yang hampir bersamaan dengan
India, namun bergerak sedikit ke utara.

Pergerakan Australia ke bagian utara menyebabkan tabrakan antar-benua dan terjadi motion strike-slip
pada zona tumbukan.

Tumbukan Australia dengan batas Asia dimulai lebih lambat dari pada India, namun berlanjut sampai
sekarang.

Pada 55 Ma, Australia dan India berada pada lempeng yang piring terpisah, dan disana terdapat pusat
penyebaran antara Australia dan India.

Pusat penyebaran tersebut harus melewati utara dan mungkin menjadi subduksi di suatu tempat di
sepanjang Palung Sunda-Jawa, namun posisinya tidak pasti.

Hal tersebut tidak meluas ke Pasifik timur dari Sulawesi sejak wilayah Pasifik barat diduduki oleh
lempeng mikro, yang pastinya telah terbentuk pada Late Cretaceous atau Early Cenozoic, dan yang
terkonvergensi di batas Australia.
At about 43 Ma Kula-Pacific spreading ceased in the north Pacific, and at about the same time spreading in
the Indian Ocean at the India-Australia Plate boundary ceased. From this time India moved more slowly
northward (Rowley, 1996). At 40 Ma (Fig. 17) there was north-direc- ted subduction all along the SE Asian
margin from Burma through Sumatra, Java, North Sulawesi, the East Philippines as far east as the Halmahera Arc.
In the Pacific region the West Philippine-Celebes Sea basin became wider, and the anomalies of the
West Philippine Sea show a relatively simple pattern of opening (although recent work suggests some
complexities; A. Deschamps, pers. comm., 2000). After the Philippine Sea Plate ceased its early large
rotation, there was an almost continuous arc stretching from North Borneo, through Luzon into the Izu-
Bonin-Marianas. The proto- South China Sea continued to become smaller as a result of south-directed
subduction beneath Borneo and Luzon.

Sekitar 43 Ma, penyebaran Kula-Pasifik berhenti di Pasifik utara, dan pada saat yang bersamaan
penyebaran samudra hindia pada batas lempeng India-Australia berhenti.

Sejak saat itu, pergerakan India ke utara menjadi lebih lambat.

Pada 40 Ma, terjadi subduksi yang diarahkan ke utara sepanjang batas Asia Tenggara dari Burma melalui
Sumatra, Jawa, Sulawesi Utara, Filipina Timur sampai ke timur dari Arc Halmahera.

Di wilayah Pasifik, basin Filipina Barat-Laut Celebes menjadi lebih luas, dan anomali Laut Barat Filipina
menunjukkan pola pembukaan yang relatif sederhana.

Setelah lempeng laut Filipina menghentikan rotasi awal yang besar, ada busur yang hampir terus-
menerus membentang dari Kalimantan Utara, melalui Luzon ke Izu-Bonin-Mariana.

Laut proto-China Selatan menjadi semakin lebih kecil sebagai hasil dari subduksi yang diarahkan ke
selatan di bawah Kalimantan dan Luzon.

East of New Guinea subduction was towards the Austra- lian margin. In the SW Pacific the Melanesian
Arc had rifted from the Australian margin, and the arc system extending from New Britain through
New Ireland, the Solomons, Fiji and a proto-Kermadec-Tonga Arc system had separated from the
Australian margin, with marginal basin formation at a spreading centre, which was to produce the
Solomon Sea.

Subduksi Timur dari New Guinea mengarah ke batas Australia.

Di Barat Daya Pasifik, busur Melanesia telah terpisah dari batas Australia, dan sistem busur yang
membentang dari New Britain melalui New Ireland, Solomon, Fiji dan sistem Arc proto-Kermadec-Tonga
juga telah terpisah dari batas Australia, dengan pembentukan basin marjinal pada pusat persebaran,
yang menghasilkan Laut Solomon.
At 35 Ma the situation was similar to that of 40 Ma. The Caroline Basin and Solomon Sea were wider.
The West Philippine Sea Basin was almost fully open. Collision at the end of the Eocene between
India and Burma at the western edge of Indochina is suggested by mid Eocene ophiolite
emplacement, deformation of accreted sediments in the Indo-Burman Ranges, and termi- nation of arc
igneous activity (Mitchell, 1993). This implies an eastward extension of Greater India (as shown on
the reconstructions) although the size of this area may be over- estimated if there was significant
shortening in the Burma Block. As noted above, using the maximum possible area for Greater India
would cause collision in Burma slightly earlier at 40 Ma, instead of 35 Ma.

Pada 35 Ma, situasi yang terjadi sama dengan 40 Ma.

Basin Caroline dan Laut Salomo menjadi lebih lebar serta basin Laut Filipina Barat juga hampir terbuka
lebar.

Tabrakan pada akhir Eosen antara India dan Burma di ujung barat Indocina disebabkan oleh
penempatan ophiolit mid-Eocene, deformasi sedimen yang terkumpul di Pegunungan Indo-Burman, dan
penghentian aktivitas busur vulkanik.

Ini menyiratkan perpanjangan India ke arah timur (seperti yang ditunjukkan pada rekonstruksi)
meskipun ukuran area ini mungkin terlalu tinggi jika ada pemendekan yang signifikan di Blok Burma.
Seperti disebutkan di atas, dengan menggunakan area seluas mungkin Greater India akan menyebabkan
tabrakan di Burma sedikit lebih awal pada 40 Ma, bukan 35 Ma.

By 30 Ma extrusion of Indochina was well underway, the South China Sea was opening, there was
already oceanic crust in the northern part of the South China Sea, and the spreading centre
presumably extended to the east, although how far is very uncertain.

At about 30 Ma the eastern end of the South Caroline Arc would have come into contact with the
western end of the Melanesian Arc. Both arcs were rotating rapidly clockwise. The result of this
incomplete arc-arc collision, or contact, would have been to slow the rate of spreading in the Caro-
line Sea back-arc basin. The Solomon Sea spreading centre must have been continually subducting
during this period, rather in the manner that the present-day Woodlark Basin is subducting at its
eastern edge beneath the Solomon islands.

Sekitar 30 Ma, ujung timur dari South Caroline Arc akan bersentuhan dengan ujung barat Arc Melanesia,
kedua busur itu berputar dengan cepat searah jarum jam.

Hasil dari tabrakan busur-busur yang tidak lengkap ini, akan memperlambat laju penyebaran pada
backarc basin Laut Caroline.

Pusat penyebaran laut Salomon terus menerus mengalami subduksi selama periode ini, sebaliknya saat
ini basin Woodlark mengalami subduksi di ujung timurnya di bawah pulau Solomon.
This plate reorganisation event may have been the manifestation of events deep within the Earth or at
plate bound- aries outside the region, but within the Asia-Pacific region there are some obvious
candidates for possible causes. There was the collision between the East Philippines- Halmahera-
South Caroline Arc with the northern New Guinea margin at about 25 Ma, which caused a change in
the nature of plate boundaries at the southern edge of the Philippine Sea Plate. Northward
subduction of the northern Australian oceanic crust ceased, and a major left-lateral strike-slip
boundary developed through northern New Guinea from this time.

Reorganisasi dari lempeng tersebut mungkin merupakan manifestasi kejadian di dalam bumi atau batas
lempeng di luar wilayah, namun di wilayah Asia Pasifik ada beberapa kemungkinan penyebab
reorganisasi tersebut :

Ada benturan antara Filipina Timur-Halmahera-South Caroline Arc dengan marjin New Guinea utara
sekitar 25 Ma, yang menyebabkan perubahan sifat batas lempeng di tepi selatan Pelat Laut Filipina.
Subduksi ke arah utara dari kerak samudra Australia bagian utara berhenti dan batas utama left-lateral
strike-slip dikembangkan melalui utara New Guinea dari masa ini.

At the southern edge of the proto-South China Sea, subduction continued beneath the Luzon-Sulu-Sabah
Arc. The proto-South China Sea was by this stage significantly reduced in size due to subduction, and due to the
widening of the South China Sea north of Palawan. Major uplift in Borneo began at about this time, in part
because of the initial underthrusting of the Borneo margin by extended continen- tal crust of the South China Sea,
and in part because of the counter-clockwise rotation of southern Sundaland caused by the Australian impact in
east Indonesia. The absence of significant deformation between Borneo and East Sulawesi implies that at this
time the whole region was rotating, and stresses were transmitted through the Makassar Straits to the
free boundary at the subduction zone north of Borneo.
The Indochina Block was still moving southeast in response to India-Asia convergence. Within Sundaland and
within Indochina the timing of events is not particularly clear, largely because most of the basins that are preserved
contain continental sediments which are relatively poorly dated
Di tepi selatan proto-Laut Cina Selatan, subduksi berlanjut di bawah Busur Luzon-Sulu-Sabah.

Proto-Laut China Selatan pada tahap ini berkurang secara signifikan karena subduksi dan pelebaran Laut
Cina Selatan di utara Palawan.

Uplift utama di Borneo dimulai sekitar saat ini, sebagian karena inisiasi kekuatan dibawah lempeng lain
dari batas Borneo oleh perluasan kerak di Laut China Selatan, dan sebagian karena rotasi berlawanan
arah jarum jam pada Sundaland selatan yang disebabkan oleh dampak Australia di Indonesia timur.

Tidak adanya deformasi yang signifikan antara Borneo dan Sulawesi Timur menyiratkan bahwa pada saat
ini seluruh wilayah berputar, dan tekanan ditransmisikan melalui Selat Makassar ke
batas bebas di zona subduksi di sebelah utara Kalimantan.

Blok Indochina masih bergerak ke arah tenggara sebagai respons terhadap konvergensi India-Asia.

Di dalam Sundaland dan di Indocina, waktu kejadian tidak terlalu jelas, terutama karena sebagian besar
basin yang diawetkan mengandung sedimen kontinental yang relatif buruk.
Within the Philippine Sea Plate the Parece Vela and Shikoku Basins had widened considerably, and shortly
after 20 Ma there was a jump of the spreading centre to the east within both basins, possibly in response
to the requirement of the spreading system to move as the plate rotated. At the western margin of the
Philippine Sea Plate the configuration is very complex and probably oversimpli- fied. Luzon is inferred to have
rotated significantly during the Early Miocene, based on palaeomagnetic data, and this presumably required
complex plate boundaries around Luzon, possibly involving subduction on both sides and links to strike-
slip faults at the eastern edge of the Philippines.

Pada lempeng Laut Filipina, Basin Parece Vela dan Shikoku telah melebar jauh, dan tak lama setelah 20 Ma
terjadi lonjakan pusat penyebaran ke timur di dalam kedua basin tersebut.
Hal ini mungkin sebagai tanggapan terhadap persyaratan dari sistem penyebaran untuk bergerak sebagai
lempeng yang diputar.
Di marjin barat dari lempeng Laut Filipina memiliki konfigurasi yang sangat kompleks dan mungkin terlalu
disederhanakan.
Luzon disimpulkan telah diputar secara signifikan selama Miosen Awal, berdasarkan data palaeomagnetik, dan
batas lempeng kompleks yang mungkin diperlukan ini di sekitar Luzon, mungkin melibatkan subduksi di kedua
sisi dan memiliki kaitan dengan kesalahan subduksi di tepi timur Filipina.
To the north of Palawan the South China Sea was still spreading, but had reached almost its maximum
extent. As in the present Woodlark Basin, very young crust was being subducted eastwards at the Manila
Trench beneath Luzon and the Luzon Arc. To the south of Palawan, there was still an extensive area of proto-
South China Sea remaining. Continued southward subduction of this ocean crust resulted in the splitting of the
Sulu-Cagayan Arc and opening of the Sulu Sea backarc basin from the early Miocene. North of Borneo the
proto-South China Sea was almost completely closed, and continental crust of the extended South China
margin was being thrust beneath Borneo, resulting in cessation of subduction at the north Borneo boundary.
This was followed by uplift of the former accre- tionary complex and forearc basins, and a change to shallow
marginal marine sedimentation in Sabah, supplied by rivers feeding northeast to the rifting Sulu Sea.

Di sebelah utara Palawan, Laut Cina Selatan masih menyebar, namun sudah mencapai batas maksimal.
Seperti di basin Woodlark sekarang, kerak yang sangat muda tersubduksi ke arah timur di Palung Manila di
bawah Luzon dan Luzon Arc.
Di sebelah selatan Palawan, masih ada wilayah luas proto-Laut Cina Selatan yang tersisa.
Subduksi lanjut kearah selatan dari kerak laut ini mengakibatkan pemisahan Arc Sulu-Cagayan dan pembukaan
basin backarc Laut Sulu dari Miosen awal.
Kalimantan Utara, proto-Laut Cina Selatan hampir sepenuhnya tertutup, dan kerak benua dari batas selatan
China yang diperluas didorong di bawah Kalimantan, mengakibatkan penghentian subduksi di batas utara
Kalimantan.
Hal ini diikuti dengan uplift dari pembentukan akresi kompleks dan basin forearc, serta merubah perubahan
pada sedimentasi dangkal marine marjinal di Sabah., dipasok oleh sungai-sungai yang makan di timur laut ke
Laut Sulu yang rimbun.

By 15 Ma the Ontong Java Plateau was fully coupled to the Melanesian Arc system in the Solomon Islands,
and subduction ceased at the North Solomon Trench, although there may have been minor local subduction
either to the south or north, and probably strike-slip faulting. The Solo- mon Sea was rapidly diminishing in size,
due to subduction along its southern edge beneath the Papuan Peninsula and eastern New Guinea, forming the
Maramuni Arc, and possi- bly by local northward subduction beneath the South Caro- line Arc system, although
this sector was essentially a strike-slip zone.
Pada 15 Ma, Dataran Tinggi Ontong Jawa bergabung sepenuhnya ke sistem Arc Melanesia di Kepulauan
Solomon, dan subduksi berhenti di Palung Salji Utara, meskipun mungkin ada subduksi lokal kecil di selatan atau
utara dan mungkin strike-slip fault.
Laut Solomon dengan cepat mengalami penurunan ukuran, karena subduksi di sepanjang tepian selatannya di
bawah Semenanjung Papua dan New Guinea bagian timur, membentuk Arc Maramuni, dan mungkin oleh subduksi
ke utara di bawah sistem South Caroline Arc, walaupun sektor ini pada dasarnya adalah zona strike-slip.
Within the Philippine Sea Plate spreading had ceased in the Shikoku and Parece Vela basins. Slow spreading
was initiated in the Ayu Trough at the southern edge of the Philippine Sea Plate, with possible minor
subduction to the north as a result of Philippine Sea-Caroline Plate relative motion about a pole in the region
of Palau. At the western edge of the plate there was probably very complicated strike-slip motion and linked
minor subduction within the Philippines, shown schematically on the reconstructions, based on the distribution of
isotopic ages and volcanic activity.
Penyebaran lempeng laut Filipina Philippine telah berhenti di basin Shikoku dan Parece Vela.
Penyebaran yang lamban dimulai di Palung Ayu di tepi selatan lempeng laut Filipina, dengan kemungkinan
subduksi kecil di utara akibat gerakan relatif lempeng Filipina-Caroline di wilayah Palau.
Di tepi barat dari lempeng kemungkinan ada gerakan strike-slip yang sangat rumit dan subduksi kecil yang
terkait di dalam Filipina, yang ditunjukkan secara skematis pada rekonstruksi, berdasarkan distribusi usia isotop
dan aktivitas vulkanik.

The Cagayan Arc system had collided with the Palawan margin causing termination of spreading in the Sulu
Sea.
Sistem Cagayan Arc telah bertabrakan dengan margin Palawan yang menyebabkan penghentian penyebaran di
Laut Sulu.

Further to the north in the Asian margin, extension within the Japan Sea region had led to ocean crust
formation by about 20 Ma. By about 15 Ma the Japan Sea was almost fully opened, with a large area of
extended continental crust, and with some oceanic crust at the eastern end of the Japan Sea, north of the
Japanese islands. The South China Sea had also ceased spreading completely and the Indochina Block is
inferred to have been broadly in its present position. There have been only small dextral move- ments on the
Red River Fault since the Miocene.
Selanjutnya ke utara di margin Asia, perpanjangan di wilayah Laut Jepang telah menyebabkan pembentukan
lempeng samudra sekitar 20 Ma.
Pada 15 Ma, Laut Jepang hampir sepenuhnya terbuka, dengan daerah kerak benua yang luas dan dengan
beberapa kerak samudra di ujung timur Laut Jepang sebelah utara pulau-pulau Jepang.
Laut Cina Selatan juga telah berhenti menyebar sepenuhnya dan Blok Indocina disimpulkan secara luas berada
pada posisi sekarang. Hanya ada gerakan dextral kecil di Red River Fault sejak Miosen.

At the southern and eastern margins of Sundaland there was erosion, and possibly minor collisional events
within the still extended Bird's Head microcontinent. The Buton- Tukang Besi Block is shown as detached
from the Bird's Head between 17 and 15 Ma, and fully linked to SE Sulawesi by 11 Ma, although this
probably oversimplifies a sequence of thrusting and strike-slip events.
Di tepi selatan dan timur Sundaland terjadi erosi dan kemungkinan terjadi tumbukan kecil pada mikrokontinen
Bird's Head yang masih meluas.
Blok Buton-Tukang Besi ditampilkan terpisah dari Bird's Head antara 17 dan 15 Ma, dan terhubung
sepenuhnya dengan Sulawesi Tenggara pada 11 Ma. meskipun ini mungkin menyederhanakan urutan kejadian
penyodoran dan pemogokan.
Coupling of the Ontong Java Plateau to the Melanesian Arc in the Solomons ultimately led to initiation of a
new subduction zone on the north and east sides of the Solomon Sea. By 10 Ma the older southwest-directed
subduction, indicated by extensive magmatic activity in eastern New Guinea, was linked by a transform fault
crossing the Solomon Sea to the earliest east-dipping subduction, which produced the New Hebrides Arc. The
Solomon Sea was then rapidly reduced in size by subduction on both its eastern and western sides. Development
of the New Hebrides Arc led to a complex history of rotation and formation of new ocean crust in the North Fiji
Basin. There were several ridge jumps, a very large rotation of the Fiji Islands, and rifting at the northern end of
the Kermadec-Tonga Arc leading ultimately to spreading in the Lau Basin.

Penyatuan dari Ontong Java Plateau ke Arc Melanesia di Solomon menyebabkan inisiasi pembentukan zona
subduksi baru di sisi utara dan timur Laut Solomon.
Pada 10 Ma, subduksi yang diarahkan ke barat daya yang ditunjukkan oleh adanya aktivitas magmatik yang
ekstensif di New Guinea timur yang berkaitan dengan kesalahan transformasi melintasi Laut Solomon sampai
subduksi yang paling awal ke timur, yang menghasilkan New Hebrides Arc.
Laut Solomon kemudian mengalami penurunan ukuran akibat subduksi di kedua sisi timur dan baratnya.
Perkembangan New Hebrides Arc menyebabkan sejarah rotasi dan pembentukan kerak samudra yang
kompleks di basin Fiji Utara.
Ada beberapa ridge jump, rotasi Kepulauan Fiji yang sangat besar, dan peretakan ujung utara Arc Kermadec-
Tonga yang pada akhirnya menyebar di basin Lau.

The changing balance of forces on the Solomons Sea Plate then caused spreading to initiate at or close to the
former transform, leading to spreading in the Woodlark Basin. The Woodlark Basin is now rifting west- wards
into the Papuan Peninsula, but is being subducted at about the same rate at the New Britain-San Cristobal
Trench, south of the Solomons. The oldest ocean crust remaining in the Woodlark Basin formed at about 6
Ma, but its wedge shape suggests older Woodlark crust has already been subducted. The known rate of
westward propagation suggests ocean spreading could have begun as early as 10 Ma.

The Philippine Sea Plate had been moving northwards as it rotated clockwise, and this required strike-slip motion,
and possibly minor subduction at the eastern side of Luzon, between about 15 and about 10 Ma. South of
Luzon south-dipping subduction of the Sulu Sea was terminated by collision between Luzon and the Visayan
Islands, causing Luzon again to become partially coupled to the Philip- pine Sea Plate from 10 Ma. After
collision in the Visayans, subduction at the Sulu Arc flipped. Initiation of northward subduction along the
northern Celebes Sea margin beneath the Sulu Arc and Sabah formed the young Dent-Semporna- Sulu Arc which
ceased activity in the last one or two million years.

Perubahan keseimbangan kekuatan di lempeng Laut Solomon menyebabkan penyebaran untuk menginisiasi
transformasi yang menyebabkan terjadinya penyebaran pada basin Woodlark.
Basin Woodlark sekarang bergerak ke barat menuju Semenanjung Papua, namun mengalami subduksi pada
tingkat yang sama di Palung New Britain-San Cristobal, di selatan Pulau Solomon.
Kerak samudra tertua yang tersisa di basin Woodlark terbentuk sekitar 6 Ma, namun bentuk baji menunjukkan
kerak Woodlark yang lebih tua telah ditenggelamkan.
Laju propagasi ke arah barat diketahui menunjukkan bahwa penyebaran samudra dimulai sejak 10 Ma.
Lempeng Laut Filipina telah bergerak ke utara dan diputar searah jarum jam, hal ini memerlukan gerakan strike-
slip dan mungkin terjadi subduksi kecil di sisi timur Luzon, sekitar 15 dan 10 Ma.
Bagian selatan dari Luzon mengalami south-dipping subduction dari Laut Sulu diakhiri oleh tumbukan antara
Luzon dan Kepulauan Visayan, yang menyebabkan Luzon kembali terhubung sebagian ke lempeng Laut Filipina
pada 10 Ma.
Setelah tabrakan di Visayans, subduksi di Arc Sulu membalik.
Inisiasi subduksi ke utara di sepanjang marjin Laut Celebes utara di bawah Arc Sulu dan Sabah membentuk Arc
young Dent-Semporna-Sulu Arc yang mana aktivitasnya berhenti dalam satu atau dua juta tahun terakhir.
Di tepi barat Sundaland, kopling Blok Burma ke India telah mengakibatkan pembukaan Cekungan Mergui, dan
awal penyebaran di ujung utara sistem Sesar Sumatra di Laut Andaman; oleh 10 Ma sebuah pusat penyebaran
telah didirikan di dasar laut ini.
Peristiwa paling dramatis terjadi di ujung timur Palung Jawa dan mulai sekitar saat ini. Meskipun lempeng India
telah ditundukkan pada tingkat yang relatif terus menerus di sepanjang parit Sunda-Jawa, rotasi berlawanan arah
jarum jam Kalimantan antara 25 dan 10 Ma menyebabkan penurunan aktivitas vulkanik yang signifikan dari
Jawa, Bali, Lombok dan Sumbawa, seperti hasil dari engsel engsel subduksi

The Solomon Sea had almost completely closed and subduction probably ceased along its southern edge,
leaving the Trobriand Trough as a relict trench. Subduction was now primarily at the northern side of the
Solomon Sea beneath the New Britain Arc, which was converging on the eastern New Guinea margin. This
resulted in the inverted U-shaped slab preserved in mantle beneath eastern New Guinea. The subducting
Solomon Sea slab was also the cause of Woodlark Basin spreading. The Woodlark Basin is notable for the
rapid propagation of the spreading centre towards the west, ripping open the Papuan Peninsula and forming core
complexes in advance of the propagating tip. However, the subduction system which produced the Woodlark
spreading centre is also subducting the Woodlark Basin.

Lautan Salomo hampir tertutup seluruhnya dan subduksi mungkin berhenti di sepanjang tepi selatannya,
meninggalkan Palung Trobriand.
Subduksi sekarang terjadi terutama berada di sisi utara Laut Solomon di bawah New Britain Arc, yang bertemu di
ujung timur New Guinea.
Hal ini menghasilkan lempeng berbentuk U terbalik yang dipelihara pada mantel di bawah New Guinea timur.
Subduksi lempeng laut Salomon menyebabkan penyebaran basin Woodlark.
Basin Woodlark terkenal dengan pesatnya penyebaran dari pusat penyebaran ke arah barat, membuka
Semenanjung Papua dan membentuk kompleks inti sebelum ujung penyebaran.
Namun, sistem subduksi yang menghasilkan pusat penyebaran Woodlark juga mensubduksi basin Woodlark.

The conjunction of the plume and the sinistral fault zone may have promoted the rapid spreading in the Bismarck
Sea, which began at about 5 Ma in a tectonic setting which resembles a large pull-apart. In New Guinea the major
terranes are shown schematically close to their present-day positions, requiring rotation and minor translation
within what became a transpressional left- lateral fault zone from about 5 Ma.

Konjungsi dari plume dan zona sinistral fault mungkin telah mendorong penyebaran cepat di Laut Bismarck,
yang dimulai pada sekitar 5 Ma.
Di New Guinea terrane besar ditunjukkan secara skematis dekat dengan posisinya pada saat ini, yang
memerlukan rotasi dan tranlasi minor di dalam zona patahan lateral transpressional dari sekitar 5 Ma.

At about 3 Ma the arc came into collision with the Australian margin in the region of Timor. As a result spreading
ceased in the South Banda Sea and the volcanic arc of the Banda Arc became coupled to the Australian margin in
the Outer Banda Arc region around Timor.
At the eastern edge of the Philippine Sea Plate rifting followed by spreading began in the Mariana Trough. At the
southern edge of the Philippine Sea Plate spreading was probably continuing at a very low rate in the Ayu
Trough, continuing to reflect the small difference in the plate motion between the Caroline Sea and Philippine Sea
Plates. At about 5 Ma the Philippine Sea-Eurasia pole of rotation moved to its present position north of the plate,
at about the latitude of Japan. This produced rapid eastward subduction of the South China Sea beneath the Luzon
Arc south of Taiwan, and led to collision in Taiwan. New subduction was initiated in the opposite direction
beneath the Philippines at the Philippine Trench.

Pada 3 Ma, busur bertabrakan dengan batas Australia di wilayah Timor yang menyebabkan penyebaran berhenti
di Laut Banda Selatan dan busur vulkanik dari Arc Banda bergabung dengan margin Australia pada wilayah luar
Arc Banda di sekitar Timor.
Di tepi timur dari peretakan lempeng laut Filipina diikuti dengan penyebaran dimulai di Palung Mariana.
Di tepi selatan dari penyebaran lempeng Laut Filipina mungkin berlanjut pada tingkat yang sangat rendah di
Palung Ayu, hal ini mencerminkan perbedaan kecil dalam gerakan lempeng antara Laut Caroline dan Lempeng
Laut Filipina.
Pada kira-kira 5 Ma, rotasi kutub Laut-Eurasia Filipina bergerak ke posisi sekarang yaitu di utara lempeng sekitar
garis lintang Jepang.
Hal ini menghasilkan subduksi ke arah timur Laut Cina Selatan yang cepat di bawah Luzon Arc di selatan Taiwan
dan menyebabkan tabrakan di Taiwan.
Subduksi baru dimulai dengan arah yang berlawanan di bawah Palung Filipina.

Reconstruction at 55 Ma. This preceded the major collision between India and Asia. The possible extent of
Greater India and the Eurasian margin north of India are shown schematically. Ophiolites representing the
forearcs of intra-oceanic island arcs were emplaced on the north Australian continental margin from about this
time, although emplacement is generally poorly dated. A spreading centre between the Pacific and North New
Guinea Plates is inferred for reasons discussed in the text. In the north Pacific there was a spreading centre
between the Pacific and the Kula plates. The reconstruction at this stage is not kinematically consistent in the
Pacific because of the limited evidence available. There must have been several microplates between the
Australian and Pacific plates, as today, most of which were subsequently eliminated by subduction.

Terjadi sebelum peritiwa tumbukan antara India dan Asia.


Ophiolit menggambarkan forearcs dari busur pulau intra-samudra ditempatkan di batas benua Australia utara.
Terdapat pusat penyebaran antara lempeng Pasifik dan Nugini Utara.
Di Pasifik utara terdapat pusat penyebaran antara Pasifik dan lempeng Kula.
Rekonstruksi pada tahap ini tidak konsisten secara kinematis di Pasifik karena terbatasnya bukti yang ada.
Terdapat beberapa lempeng mikro antara lempeng Australia dan Pasifik, yang sebagian besar hilang karena
subduksi.

India-Asia collision began. Extension was underway within Sundaland, in east Borneo, the east Java Sea, and
Sumatra. Subduction was initiated at the present east margin of the Philippine Sea Plate, accompanied by
voluminous boninite magmatism causing rapid growth of the Izu-Bonin-Mariana Arc. As for 55 Ma this
reconstruction is not kinematically consistent in the Pacific region. However, it is important to note that there
could have been no connection between spreading centres of the Indian and Pacific Oceans. The limited evidence
indicates there must have been several microplates between the Australian and Pacific Plates which represent
marginal basins formed during the Mesozoic. The Philippine Sea Plate rotated rapidly at this time.

Tabrakan antara India-Asia dimulai.


Perpanjangan berlangsung di Sundaland, Kalimantan Timur, bagian timur dari Laut Jawa dan Sumatra.
Subduksi dimulai pada margin timur dari Lempeng Laut Filipina, disertai letusan batuan vulkanik boninitik yang
menyebabkan pertumbuhan pesat dari Arc Izu-Bonin-Mariana.
Bukti terbatas menunjukkan bahwa terdapat beberapa lempeng mikro antara lempeng Australia dan Pasifik yang
mewakili basin marjinal yang terbentuk selama Mesozoik.
Lempeng Laut Filipinadiputar dengan cepat saat ini.

This was a period of major plate reorganisation. Continent-island arc collision emplaced ophiolites in New Caledonia and
there was a subduction polarity change along the east Australian margin. Subduction of the Pacific Plate began accompanied by
long-term and rapid hinge roll- back, initiating the Melanesian Arc. Rotation of the Philippine Sea Plate ceased at about this time
and there was a connection between spreading centres of the West Philippine Sea Basin and the Celebes Sea. The proto-South
China Sea began to subduct beneath the north Borneo-Luzon margin. The Sunda-Java Trench system extended well into the
Pacific via the East Philippines and Halmahera Arcs, with northward subduction of the Indian and Australian plates.
Extension continued in the East Java Sea and Sumatra.

periode utama pada reorganisasi lempeng


busur Benua-pulau bertabrakan.
Peletakan ophiolites di Kaledonia Baru dan terjadi perubahan polaritas subduksi di sepanjang margin Australia
timur.
Subduksi lempeng Pasifik mulai diiringi gulungan belakang engsel jangka panjang dan cepat, memulai Arc
Melanesia. Rotasi lempeng laut Filipina berhenti sekitar saat ini dan ada kaitan antara penyebaran pusat-pusat
Cekungan Laut Filipina Barat dan Laut Sulawesi. Laut proto-China Selatan mulai menangkup di bawah batas
Kalimantan-Luzon utara. Sistem Palung Sunda-Jawa berkembang dengan baik ke Pasifik melalui Filipina Timur
dan Halmahera Arcs, dengan subduksi utara lempeng India dan Australia. Perpanjangan dilanjutkan di Laut Jawa
Timur dan Sumatera.
Reconstruction at 40 Ma. Spreading had ceased at the Indian-Australian ridge and India and Australia were parts of a single plate. Spreading had
also ceased at the Kula-Pacific ridge. An oceanic spreading centre linked the north Makassar Strait, the Celebes Sea and the West Philippine
Basin. Slab pull forces due to subduction of the proto-South China Sea caused extension of the South China continental margin. There was
significant along-arc extension at the Palau-Kyushu ridge and the Izu-Bonin-Mariana Arc at the eastern Philippine Sea Plate margin due to
opening of the West Philippine Basin. The Solomon Sea was the first of the marginal basins to form behind the Melanesian island arc around
eastern Australasia.

Rekonstruksi di 40 Ma. Penyebaran telah berhenti di ridge India-Australia dan India dan Australia adalah bagian
dari sebuah piring tunggal. Penyebaran juga berhenti di punggung Kula-Pasifik.
Pusat penyebaran samudera menghubungkan Selat Makassar utara, Laut Sulawesi dan Basin Filipina Barat.
Kekuatan slab-pull karena subduksi proto-Laut Cina Selatan menyebabkan perpanjangan dari margin benua
China Selatan.
Terjadi perpanjangan busur yang signifikan di punggungan Palau-Kyushu dan Arc Izu-Bonin-Mariana di margin
Lempeng Laut Filipina bagian timur yang disebabkan oleh pembukaan dari Basin Filipina Barat.
Laut Solomon merupakan Basin marjinal pertaman yang terbentuk di balik busur pulau Melanesia di sekitar
Australasia timur.

Within the Asian mainland there was sinistral movement on strike-slip faults. There was extension in the Gulf of
Thailand as far south as the Malay and Penyu Basins. Slab pull due to southward subduction of the proto-South
China Sea caused extension of the South China-Indochina continental margin preceding formation of the South
China Sea. The West Philippine Basin had reached its maximum size and opening was almost complete. Hinge
rollback at the eastern margin of the Philippine Sea Plate separated the South Caroline Arc and formed the
Caroline Sea. Multiple arcs extended from Sundaland into the west Pacific, linking the Sunda Arc, the East
Philippines-Halmahera Arc, and the South Caroline Arc. The Solomon Sea became wider, and opening extended
south to form the South Fiji Basin.

Di daratan Asia terjadi gerakan sinistral strike-slip faults.


Terjadi perpanjangan di Teluk Thailand ke Selatan membentuk Basin Malay dan Penyu.
Slab-pull karena subduksi ke arah selatan proto-Laut Cina Selatan menyebabkan perpanjangan batas benua China
Selatan-Indocina sebelum pembentukan Laut Cina Selatan.
Basin Filipina Barat telah mencapai ukuran maksimum dan pembukaannya hampir selesai.
Hinge rollback di margin timur Lempeng Laut Filipina memisahkan Selat Caroline Selatan dan membentuk Laut
Caroline.
Beberapa busur diperpanjang dari Sundaland ke arah barat Pasifik, menghubungkan Arc Sunda, Arc Filipina
Timur-Halmahera, dan South Caroline Arc.
Laut Solomon menjadi lebih luas, dan membuka ke arah selatan untuk membentuk Basin Fiji Selatan.

The East Philippines-Halmahera-South Caroline Arc collided with the Australian Plate at the north New Guinea margin and the Ontong
Java Plateau began to collide with the Melanesian Arc. These two events caused major reorganisation of plate boundaries. Extrusion of the
Indochina Block was accompanied by reversal of sense of motion on the Wang Chao-Three Pagodas Faults. Spreading continued in the
South China Sea. Spreading in the Caroline Basin had ceased. Renewed hinge rollback at the eastern margin of the Philippine Sea Plate caused
extension and oceanic spreading in the Parece Vela Basin. Spreading in the Solomon Sea and the South Fiji Basins ceased.

Filipina Timur-Halmahera-South Caroline Arc bertabrakan dengan Pelat Australia di marinir utara New Guinea
dan Dataran Tinggi Ontong Jawa mulai bertabrakan dengan Arc Melanesia. Kedua peristiwa ini menyebabkan
reorganisasi utama batas lempeng. Ekstrusi Blok Indocina disertai dengan pembalikan rasa gerak pada Kesalahan
Wang Chao-Three Pagoda. Penyebaran terus berlanjut di Laut Cina Selatan. Penyebaran di Cekungan Caroline
telah berhenti. Kemunduran terbalik yang baru di ujung timur Plate Sea Filipina menyebabkan perpanjangan dan
penyebaran samudera di Parames Vela Basin. Penyebaran di Laut Solomon dan Cekungan Fiji Selatan berhenti.
Reconstruction at 25 Ma. The East Philippines-Halmahera-South Caroline Arc collided with the Australian Plate at the north New Guinea
margin and the Ontong Java Plateau began to collide with the Melanesian Arc. These two events caused major reorganisation of plate
boundaries. Extrusion of the Indochina Block was accompanied by reversal of sense of motion on the Wang Chao-Three Pagodas Faults.
Spreading continued in the South China Sea. Spreading in the Caroline Basin had ceased. Renewed hinge rollback at the eastern margin of the
Philippine Sea Plate caused extension and oceanic spreading in the Parece Vela Basin. Spreading in the Solomon Sea and the South Fiji
Basins ceased.

Rekonstruksi di 25 Ma. Filipina Timur-Halmahera-South Caroline Arc bertabrakan dengan lempeng Australia di
margin utara New Guinea dan Dataran Tinggi Ontong Jawa mulai bertabrakan dengan Arc Melanesia.
Kedua peristiwa ini menyebabkan reorganisasi utama batas lempeng.
Ekstrusi Blok Indocina disertai dengan pembalikan gerak pada Wang Chao-Three Pagodas Faults.
Penyebaran terus berlanjut di Laut Cina Selatan.
Penyebaran di Basin Caroline telah berhenti.
Hinge rollback di ujung timur Plate Sea Filipina menyebabkan perpanjangan dan penyebaran samudera di
Parames Vela Basin.
Penyebaran di Laut Solomon dan Cekungan Fiji Selatan berhenti.

The plate reorganisation event of 25 Ma effectively joined the arc systems from the Solomons to the Philippines, which moved around the
Pacific in a clockwise direction. The Philippine Sea-Caroline Plates rotated clockwise. Hinge rollback at the eastern margin of the
Philippine Sea Plate was accompanied by spreading in the Parece Vela and Shikoku marginal basins. At the southwest edge of plate the
rotation caused westward subduction of the Molucca Sea beneath North Sulawesi. The north Australian margin was a major left-lateral strike-slip
system. Movement on splays of the Sorong Fault system led to the collision of Australian continental fragments in East Sulawesi. Australia-SE
Asia convergence caused counter-clockwise rotation of Borneo and related Sundaland fragments. At the north Borneo margin subduction
of thinned continental crust resulted in significant crustal thickening beneath Borneo, major uplift and crustal melting resulting in the
igneous activity of the gold belt. Further northeast a remnant of the proto-South China Sea remained. Extension in the Sea of Japan had led to
ocean crust formation.

Peristiwa reorganisasi lempeng pada 25 Ma secara efektif menggabungnkan sistem busur Solomon ke Filipina,
yang bergerak di sekitar Pasifik secara searah jarum jam.
Laut Filipina-Lempeng Caroline diputar searah jarum jam.
Hinge rollback di margin timur Pelat Laut Filipina disertai dengan penyebaran di basin marginal Parece Vela dan
Shikoku.
Di tepi barat daya lempeng, rotasi menyebabkan subduksi ke arah barat Laut Maluku di bawah Sulawesi Utara.
Margin utara Australia adalah sistem left-lateral strike-slip utama.
Gerakan melebar dari sistem Sorong Fault menyebabkan tabrakan fragmen benua Australia di Sulawesi Timur.
Konvergensi Australia-Asia Tenggara menyebabkan terjadinya putaran berlawanan arah jarum jam dari
Kalimantan dan fragmen-fragmen Sundaland.
Di utara Kalimantan, margin subduksi dari kerak benua tipis meneyabkan penebalan kerak yang signifikan di
bawah Borneo, Uplift utama dan peleburan kerak bumi yang mengakibatkan aktivitas vulkanik dari sabuk emas.
Selanjutnya bagian timur laut dari sisa-sisa proto-Laut Cina Selatan tetap ada.
Perpanjangan di Laut Jepang telah menyebabkan terbentuknya kerak samudra

The Cagayan Ridge collided with Palawan, eliminating the proto-South China Sea. The Sulu Sea opened as a
backarc basin behind the Cagayan Ridge during this interval of subduction. The arc-continent collision ended
spreading in the South China Sea. Continued movement on splays of the Sorong Fault system led to further
collisional events in SE Sulawesi. Continued rotation of the Philippine Sea Plate resulted in collision in Mindoro
and probable locking of splays of the Sorong Fault induced eastward subduction of the Molucca Sea.. Small
motion differences between the Philippine Sea and Caroline plates led to slow spreading in the Ayu Trough. The
New Guinea terranes, formed in the South Caroline Arc, docked in New Guinea but continued to move in a wide
left-lateral strike-slip zone. Subduction of the Solomon Sea began at the eastern New Guinea margin to form the
Maramuni Arc. There was opening of the Loyalty Basin and movement of Three Kings Rise. It is possible that
this subduction system was the Australian- Pacific margin at this time.

Cagayan Ridge bertabrakan dengan Palawan menyebabkan hilangnya proto-Laut China Selatan.
Laut Sulu terbuka sebagai basin backarc di belakang Cagayan Ridge selama interval subduksi ini.
Tabrakan antar-benua berakhir menyebar di Laut Cina Selatan.
Gerakan lanjutan pada sistem Sorong Fault menyebabkan terjadinya peristiwa tabrakan di Sulawesi Tenggara.
Rotasi lanjut Lempeng Laut Filipina mengakibatkan tabrakan di Mindoro dan kemungkinan penguncian dari
Sorong Fault menginduksi subduksi ke arah timur dari Laut Maluku.
Perbedaan gerakan kecil antara Laut Filipina dan Lempeng Caroline menyebabkan pelambatan penyebaran di
Palung Ayu.
Terrane dari New Guinea yang terbentuk di South Caroline Arc, berlabuh di New Guinea namun terus bergerak
di zona left-lateral strike-slip.
Subduksi Laut Solomon dimulai di margin timur New Guinea untuk membentuk Arc Maramuni.

Collision events at the Eurasian continental margin in the Philippines, and subsequently between the Luzon Arc and Taiwan, were accompanied
by intra-plate deformation, important strike-slip faulting and complex development of opposed subduction zones. Counter-clockwise
rotation of Borneo was complete. Subduction on north side of Celebes Sea led to development of Dent-Semporna Arc in Sabah. Jurassic
oceanic lithosphere off NW Australia began to subduct. This induced extension in the overriding plate, initially in Sulawesi. Motion of the
Sumatran forearc slivers linked to oceanic spreading in the Andaman Sea. To the east of New Guinea the Solomon Sea was being eliminated by
subduction on both sides, after subduction began on its east side. The two subduction systems were linked by a transform fault. The New
Hebrides Arc initiated and the North Fiji Basin developed as a result of the rotation of the arc.

Peristiwa tumbukan pada margin benua Eurasia di Filipina, dan kemudian antara Luzon Arc dan Taiwan, disertai
dengan deformasi intraplate, strike-slip faulting yang penting dan pengembangan kompleks zona subduksi yang
berlawanan.
Rotasi berlawanan arah jarum jam Kalimantan telah selesai.
Subduksi di sisi utara Laut Sulawesi menyebabkan perkembangan dari Dent-Semporna Arc di Sabah.
Litosfer oceanic jurasik dari Barat Laut Australia mulai mengalami subduksi.
Hal ini menginduksi perpanjangan pada lempeng utama, yang dimulai di Sulawesi.
Pergerakan dari irisan forearc sumatra terkait dengan penyebaran samudra di Laut Andaman.
Di sebelah timur New Guinea, Lautan Salomo hilang akibat subduksi di kedua sisi, setelah subduksi dimulai di sisi
timurnya.
Dua sistem subduksi dihubungkan oleh transform fault.
New Hebrides Arc terbentuk dan Basin Fiji Selatan dikembangkan sebagai hasil rotasi dari busur.

At about this time there was a major change in plate motions. The Philippine Sea Plate-Eurasia Euler pole moved to its present position. This
led to an increased rate of subduction at the Manila Trench, followed by collision of the Luzon Arc and the China continental margin in Taiwan.
Subduction began on the east side of the Philippines at the Philippine Trench. Hinge retreat at the New Hebrides Trench was accompanied by
the rotation of Fiji. Subduction of the Solomon Sea extended northwards from the New Hebrides Trench to the New Britain Trench. The slab
pull forces caused spreading to begin at the former transform fault in the Solomon Sea, leading to formation of ocean crust in the Woodlark Basin.
Bismarck Sea opening began. Australia-Pacific convergence began in New Guinea causing final accretion of arc terranes and significant uplift.
Hinge rollback at the western end of New Guinea induced ocean floor spreading in the Banda Sea.

Pada 5 Ma, terjadi perubahan besar dalam pergerakan lempeng.


Lempang Laut Filipina-Kutub Eurasia Euler bergerak ke posisi yang sekarang.
Hal ini menyebabkan meningkatnya tingkat subduksi di Palung Manila, diikuti oleh tumbukan Luzon Arc dan
margin benua China di Taiwan.
Subduksi dimulai di sisi timur Filipina di Palung Filipina.
Hinge retreat di New Hebrides Trench disertai dengan rotasi Fiji.
Subduksi Laut Solomon meluas ke utara dari Palung New Hebrides ke New Britain.
Gaya slab-pull menyebabkan penyebaran dimulai pada former transform fault di Laut Solomon, yang
menyebabkan terbentuknya kerak samudra di Basin Woodlark.
Pembukaan Laut Bismarck dimulai.
Konvergensi Australia-Pasifik dimulai di New Guinea yang menyebabkan akresi akhir dari terran busur dan uplift
yang signifikan.
Hinge rollback di ujung barat dari New Guinea menginduksi penyebaran lantai samudra di Laut Banda.

Ada tiga periode penting dalam pembangunan daerah: sekitar 45, 25 dan 5 Ma. Pada saat-saat seperti ini, batas
lempeng dan gerakan berubah, mungkin karena tabrakan besar. Reorganisasi lempeng 45 Ma mungkin terkait
dengan tumbukan India-Asia, walaupun beberapa peristiwa intra-Pasifik penting, seperti magmatisme bonafid
Eosen yang besar, nampaknya lebih tua dan memerlukan penyebab lain. Indentasi Asia oleh India mengubah benua
Asia, namun ada sedikit indikasi bahwa India telah menjadi pendorong tektonik di sebagian besar Asia Tenggara.
Reorganisasi batas plat Cenozoic yang paling penting adalah sekitar 25 Ma. Margin pasif New Guinea bertabrakan
dengan sistem Filipina Selatan-Halmahera-South Caroline Arc. Margin Australia, di wilayah Kepala Burung, juga
mulai bertabrakan dengan margin SE Asia di Sulawesi. Ontong Java Plateau bertabrakan dengan Arc Melanesia.
Tabrakan ini menyebabkan perubahan besar dalam karakter batas lempeng antara sekitar 25 dan 20 Ma. Sejak 25
Ma, peristiwa tektonik di timur Eurasia digerakkan oleh gerak lempeng Pasifik. Selanjutnya, barat, pergerakan
Australia ke utara menyebabkan rotasi blok dan pertambahan fragmen mikro benua ke Asia Tenggara. Gerakan
dan batas lempeng berubah lagi pada sekitar 5 Ma, karena alasan yang tidak pasti, kemungkinan akibat perubahan
gerak lempeng Pasifik, tabrakan antar benua di Taiwan, atau perubahan batas lainnya di batas Pasifik, misalnya di
Filipina.
Daerah di barat dan timur New Guinea, Laut Banda dan Cekungan Woodlark, menggambarkan kecepatan
perubahan, interaksi konvergensi dan perluasan yang tak terduga, dan pentingnya subduksi sebagai mesin
perubahan. Subduksi telah menjadi mekanisme penggerak utama untuk perubahan tektonik, meskipun
manifestasinya beragam. Mereka termasuk fenomena yang berhubungan dengan tabrakan, pembagian konvergensi
miring, dan efek dari rol gulung dan gaya tarik lempeng subduksi. Magmatisme tidak selalu dikaitkan dengan
subduksi, bergantung pada pergerakan engsel subduksi, dan mungkin ada perpanjangan penting dari pelat atas
yang tegak lurus dan sejajar dengan panjang zona subduksi. Kesalahan pemogokan secara mencolok sangat penting
dalam pengaturan konvergen Pasifik-Australia-Eurasia, namun muncul dalam beberapa model tektonik. Cacat
pemogokan jangka panjang dapat menjelaskan beberapa kompleksitas area seperti New Guinea, termasuk
magmatisme dan ketidakhadirannya, dan data kronologis kronologis menunjukkan pendinginan yang sangat muda
dan cepat pada sabuk pengaman dan sabuk lipat.
Reconstruction at 45 Ma. This was a period of major plate reorganisation. Continent-island arc collision emplaced ophiolites in New
Caledonia and there was a subduction polarity change along the east Australian margin. Subduction of the Pacific Plate began accompanied by
long-term and rapid hinge roll- back, initiating the Melanesian Arc. Rotation of the Philippine Sea Plate ceased at about this time and there was
a connection between spreading centres of the West Philippine Sea Basin and the Celebes Sea. The proto-South China Sea began to subduct
beneath the north Borneo-Luzon margin. The Sunda-Java Trench system extended well into the Pacific via the East Philippines and
Halmahera Arcs, with northward subduction of the Indian and Australian plates. Extension continued in the East Java Sea and Sumatra.

Periode utama reorganisasi lempeng tektonik


Tabrakan busur pulau-benua menempatkan ophiolite di Kaledonia Baru dan terjadi perubahan polaritas subduksi
di sepanjang batas Australia timur.
Subduksi lempeng Pasifik dimulai dan diiringi dengan hinge rollback cepat dan lama, menginisiasi Arc
Melanesia.
Rotasi dari lempeng laut Filipina berhenti sekitar saat ini dan berkaitan dengan pusat penyebaran dari Basin Laut
Filipina Barat dan Laut Sulawesi.
Laut proto-China Selatan mulai mengalami subduksi di bawah batas Kalimantan-Luzon utara.
Sistem Palung Sunda-Jawa berkembang dengan baik ke Pasifik melalui Filipina Timur dan Halmahera Arcs,
dengan subduksi ke arah utara lempeng India dan Australia.
Perpanjangan dilanjutkan di Laut Jawa Timur dan Sumatera.