Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS MATERIAL

UJI TARIK
Asisten : Mira Setiana
Tanggal Praktikum : 14 Desember 2016

Oleh :
Nama : Lita Prastika
NIM : 145090301111019
Kelas Praktikum : C

LABORATURIUM MATERIAL
JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Semakin berkembang teknologi saat ini, maka kebutuhan dibidang
teknologi juga semakin berkembang. Dimana seiring berkembangnya
teknologi, dibutuhkan bahan-bahan dengan suatu karakteristik yang
dibtuhkan. Dengan adanya hal tersebut, maka dibutuhkan suatu pengujian
pada bahan. Salah satu uji bahan adalah uji mekanik yang terdiri dari uji tarik,
uji tekan, dan uji geser. Pengujian uji tarik digunakan untuk mengukur
ketahanan suatu material terhadap gaya statis yang diberikan secara lambat.
Sifat mekanis material yang dapat diketahui setelah proses pengujian ini
seperti kekuatan tarik, keuletan dan ketangguhan. Pengujian tarik sangat
dibutuhkan untuk menentukan desain suatu produk karena menghasilkan data
kekuatan material.
Pengujian tarik banyak dilakukan untuk melengkapi informasi rancangan
dasar kekuatan suatu bahan dan sebagai data pendukung bagi spesifikasi
bahan. Karena dengan pengujian tarik dapat diukur ketahanan suatu material
terhadap gaya statis yang diberikan secara perlahan. Pengujian tarik ini
merupakan salah satu pengujian yang penting untuk dilakukan, karena dengan
pengujian ini dapat memberikan berbagai informasi mengenai sifat-sifat
bahan. Dengan uji tarik, maka dapat diketahui sifat-sifat mekanik suatu
material, khususnya kertas dan plastik yang digunakan dalam praktikum ini.
Kertas terbentuk dari pengolahan kayu menjadi bubur kertas (pulp) ditambah
dengan pepagan segar, sampah kertas, kain, kayu, dan jerami. Sifat kertas, di
antaranya permukaannya halus, mudah menyerap air dan mudah
terbakar. Beberapa contoh kertas yang sering kita gunakan di antaranya
kertas HVS, manila, karton, dan kertas minyak. Plastik adalah polimer rantai-
panjang dari atom yang mengikat satu samalain. Rantai ini membentuk
banyak unit molekul berulang, atau "monomer". Sifat dai plastik adalah
lentur, mudah terbakar, isolator panas dan listrik, tidak tembus air, mudah
dibentuk, dan ringan. Sifat-sifat yang dapat diketahui dari uji tarik diantaranya
adalah kekuatan tarik, kuat luluh dari material, keuletan dari material,
modulus elastic dari material, kelentingan dari suatau material, dan
ketangguhan.
1.2.Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui sifat sifat mekanik bahan
berdasarkan pada kurva regangan-tegangan bahan dan menagnalisa patahan pada
bahan. Selain itu tujuan dari praktikum ini adalah agar praktikan dapat
mengetahui proses karakterisasi bahan dengan melakukan uji mekanik bahan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Untuk mengetahui sifat-sifat suatu bahan, tentu kita harus mengadakan


pengujian terhadap bahan tersebut. Ada empat jenis uji coba yang
biasadilakukan, yaitu uji tarik (tensile test), uji tekan (compression test), uji torsi
(torsion test), dan uji geser (shear test). Dalam tulisan ini kita aka membahas
entang uji tarik dan sifat-sifat mekanik logam yang didapatkan dari interpretasi
hasil uji tarik. (callister. 2004)
Pada uji tarik, kedua ujung benda uji dijepit, salah satu ujung dihubungkan
dengan perangkat pengukur-bebam dari mesin uji dan ujung lainnya
dihubungkan keperangkat peregangan. Regangan diterapkan melalui kepala
silang yang digerakkan motor dan elongasi benda uji ditunjukkan dengan
pergerakan relatif daro benda uji. Beban yang diperlukan untuk menghasilkan
regangan disebut ditentukan dari defleksi elasts suatu balok atau proving ring,
yang diukur dengan enggunkan metode hidrolik,optik atau elektromekanik
(Smallman, 1999).
Dalam kaitannya dengan uji tarik ada suatu istilah yang disebut elastisitas
yaitu sifat kecendurungan suatu bahan untuk kembali pada bentuk aslinya,
dirumuskan

=

Semakin kecil luasnya, maka akan menerima tegangan yang lebih besar.
Satuan untuk regangan dalam Standard Internasional adalah Pascal. Regangan
merupakan perubahan bentuk yang dialami sebuah benda jika dua buah gaya
yang berlawanan arahnya (menjauhi pusat benda) diberikan pada ujung-ujung
benda, dinyatakans ebagai perbandingan antara selisih panjang (l) terhadap
panjang awal (lo), dan diberikan oleh persamaan:


=

Karena regangan merupakan perbandingan antara Selisih panjang terhadap
panjang awal, maka regangan tidak memiliki satuan.
Selama gaya F yang bekerja pada benda elastis tidak melebihi
bataselastisitasnya, maka rasio antara tegangan () dengan regangan () adalah
konstan. Bilangan tersebut dinamakan modulus elastis atau modulus Young (E).
Jadi, modulus elastis atau modulus Young adalahrasio antara tegangan dengan
regangan yang dialami oleh suatu benda. Secara matematis ditulis seperti
berikut.


= = =

(Bueche dan Eugene, 2006).

Ada 2 jenis material berdasarkan konsep regangan dan reganganya. Yang


pertama ada Brittle, dan yang kedua adalah Ductile. Pada material Brittle,
deformasi plastisnya terjadi sangat cepat sehingga hampir tidak terlihat deformasi
plastisnya, sedangkan pada Ductile deformasinya sangat terlihat dengan jelas
sehingga proses-proses seperti Necking akan terlihat dengan jelas pula. Salah satu
contoh material Brittle adalah Besi, dan Kaca. Sedangkan untuk Ductile, contoh
materialnya adalah plastik. ( Callister, 2012).
Teori plastisitas telah menjadi salah satu bidang mekanika yang paling
berkembang, dan suatu kemajuan untuk mengembangkan suatu teori dalam
rekayasa yang penting. Analisis regangan plastis diperlukan dalam menangaini
proses pembentukan logam. Teori plastisitas ini didasari atas uji tarik, dimana uji
tarik ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dari suatu bahan (Oka, 2013).
Kekuatan tarik tidak langsung diukur dengan memuat spesimen pada
tingkat regangan konstan sampai gagal dengan membelah sepanjang sumbu
diametral. tegangan tarik horizotal di tengah benda uji, dihitung menggunakan
persamaan 1, regangan tarik dihitung menggunakan persamaan 2
2
= = (1)

dimana
d = diameter spesimen
P = beban yang diterapkan, dan
t = ketebalan benda yang diuji
2(1+3)
= = = ((+)) (2)

Gambar 2.1 Skematik dari uji tarik secara tidak langsung


(Mathew,2002).
Spesimen tarik. Pertimbangkan spesimen tarik khas ditunjukkan pada
gambar 1. Sisi kanan dan kiri diperbesar untuk mencengkeram. Bagian penting
dari spesimen adalah bagian gage, yang luas penampang dari bagian pengukur
berkurang relatif terhadap sisa spesimen sehingga deformasi dan kegagalan akan
dilokalisasi di wilayah ini.

Gabar 2.2 Spesimen uji tarik


(Davis,2004).
Gambar 2.3 Kurva tegangan perpanjangan utuk (a) besi tidak murni (b)
tembaga (c) transisi ulet-getas pada baja sedang.
Bertambahnya tegangan mulai dari luluh awal hingga TS (kuat tarik
maksimum) menunjukkan bahwa benda uji engalmai pergeseran akibat
deformasi (terjadi pengerasan kerja). Pada peregangan melampaui TS,
pergeseran kerja masih berlanjut, tapi lajunya terlampau kecil untuk
mengimbangi reduksi luas penampang benda uji. Deformasi berubah mejadi titik
stabil, sehingga daerah tertentu, pada panjang ukur benda uji mengalami
regangan melebihi daerah lain. Tetapi ergeseran yang terjadi tidka memadai
untuk meningkatkan tegangan sedemikian sehingga deformasi dapat berlanjut
didaerah ini dan melebihi tegangan untuk menimbulkan regangan ditempat lain.
Kurva tegangan regangan sesungguhnya seringkali digambarkan untuk
memperlihatkan perilkau pengerasan-kerja dan peregangan paa regangan yang
bear. Tegangan sesungguhnya, sama dengan bebas P dibagi luas benda uji A
pada tahap regangan tetrtentu (Smallman, 1991).
BAB III
METODOLOGI

3.1.Alat dan Bahan


Bahan yang digunakan dalam percobaan uji tarik ini adalah sebagai
berikut, dua buah kertas, tiga buah plastik fotocopy, dan tiga buah kantong
plastik. Kemudian alat yang digunakan adalah alat pengukur ketebalan bahan
dan seperangkat alat uji tarik (Tensile Strenght ZP Recorder 50N Imada, serta
komputer.
3.2.Tata Laksana

Langkah awal dalam percobaan uji tarik ini dimulai dengan dibuat sampel
dengan bentuk dan ukuran sebagai berikut:

Gambar 3.2.1. Ukuran dan bentuk sampel


Kemudian sampel diukur ketebalanya di 3 titik berbeda, yakni leher 1, titik
tengah, dan leher 2 yang dapat dilihat pada gambar 3.2.2.

Gambar 3.2.2. Uji keteblan di 3 titik.


Setelah diukur ketebalannya, sampel tersebut dipasang pada penjepit alat uji
tarik. Keadaan sampel harus terjepit kuat dan dalam posisi tegak dan tidak
boleh bengkok. Setelah sampel terpasang dengan benar,diukur terlebih dahulu
batas awal sampel, kemudian alat uji tarik dihidupkan. Pada alat uji tarik
ditekan tombol zero bersamaan dengan software pencatat data, timer serta
roda penggerak. Roda penggerak bagian penarik alat uji tarik diputar dengan
kecepatan atau gaya yang kira-kira konstan sampai sampel mengalami putus.
Jarak yang ditempuh penarik mulai awal hingga sampel putus kemudian
diukur. Ketika sampel sudah putus, pengukuran dihentikan. Data yang
terekam software selanjutnya disimpan. Perlakuan ini dilakukan untuk semua
sampel yang ada.

3.3 Gambar Percobaan

Gambar 3.3.1 Alat pengukur ketebalan bahan

Gambar 3.3.2 Alat uji tarik


Gambar 3.3.3 Patahan ditiap sampel
BAB IV
ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Percobaan


KETEBALAN BATAS
NAMA BATAS WAKTU GAYA
LEHER LEHER AWAL
SAMPEL TENGAH AKHIR(CM) (S) (N)
1 2 (CM)
Kertas 1 94,3 92,4 97,1 6,15 6,8 4,28 1,35
Kertas 2 85,6 87,8 89,7 7 7,15 7,67 1,49
Plastik 5,8 5,1 5,9 7,7 9,3 15,35 0,13
Fotocopy
1
Plastik 5,6 5,7 5,9 7,6 9,5 20,53 0,14
Fotocopy
2
Plastik 58 5,9 6,1 7,25 8,75 13,78 0,39
Fotocopy
3
Plastik 1 9,6 10,2 9,3 7 8,2 11,2 0,16
Plastik 2 9,7 9,8 9,8 6,8 7,9 10,31 0,10
Plastik 3 9,9 9,7 9,7 7 8,15 11,2 0,23

4.2 Perhitungan
Perhitungan : Kertas
283,8
1 = = 94,6 = 94,6 106
3
263,1
2 = = 87,7 = 87,7 106
3
1 = 1 0,5 = 94,6 0,5 =
47,3 104 2 = 47,3 1010 2
2 = 2 0,5 = 87,7 0,5
= 43,85 104 2 = 43,85 1010 2
0,65
1 = = 6,15 = 0,10569

0,15
2 = = = 0,02142857
7,0
0,12711857
= = = 0,063559285
2
| |
= = 0,0298
2
0,0298
= 100% = 100% = 46,86 %
0,0636
1 1,35
1 = = = 285,4122622 106 2
47,3104
2 1,49
2 = = = 339,795 106 2
43,85 104
625,207
= = = 312,604 106 2
2

| |
= = 19,227 106 2
2
19,227
= 100% = 100% = 61,51 %
312,604
285,4123
1 = 1 = 0,10569 = 2700,466459 106 2
1
2 339,795
2 = = = 15857,10106 106 2
2 0,02142857
18557,56752
= = = 9278,783758 106 2
2
| |
= = 4651,573 106 2
2
4651,573
= 100% = 100% = 50,131 %
9278,783758

Perhitungan : Plastik
16,8
1 = = 5,6 = 5,6 106
3
17,2
2 = = 5,73 = 5,73106
3
17,8
3 = = 5,93 = 5,93106
3
= 1 0,5 = 5,6 0,5 = 2,8 104 2 =
2,8 1010 2
2 = 2 0,5 = 5,73 0,5
= 2,865 104 2 = 2,8651010 2
3 = 3 0,5 = 5,93 0,5 = 2,965 104 2
= 2,9651010 2
1,6
1 = = 7,7 = 0,207792

1.9
2 = = = 0,25
7,6
1,5
3 = = = 0,172414
7,25
0.630206
= = = 0,2100687
3
| |
= = 0,018311
2
0,018311
= 100% = 100% = 8,7167 %
0,2100687
0,13
1 = 1 = 2,8 104 = 464,2868 106 2
2 0,14
2 = = = 488,6562 106 2
2,865 104
3 0,39
3 = = = 1315,3457 106 2
2,965 104
2268,2887
= = = 756,0962 106 2
3

| |
= 2
= 228,3848805 106 2

228,3848805
= 100% = 100% = 30,21 %
756,0962
464,2868
1 = 1 = 0,207792 = 2234,3825 106 2
1
2 488,6562
2 = = = 1954,62483 106 2
2 0,25
3 1315,3457
3 = = = 7628,9959 106 2
3 0,172414
11818,0032
= = = 3939,3344 106 2
3
| |
= = 1507,7306 106 2
2
1507,7306
= 100% = 100% = 38,274 %
3939,3344

Perhitungan: plastik fotocopy

29
1 = = 9,6 = 9,6 106
3
29,3
2 = = 9,76 = 9,76106
3
29,3
3 = = 9,76 = 9,76 106
3
1 = 1 0,5 = 9,6 0,5 = 4,8 1010 2
2 = 2 0,5 = 9,76 0,5 = 4,88 1010 2
3 = 3 0,5 = 9,76 0,5 = 4,88 1010 2
1,2
1 = = = 0,1714285
7
1,1
2 = = = 0,161765
6,8
1,5
3 = = = 0,21429
7
0,5474835
= = = 0,1824945
3
| |
= = 0,013179
2
0,013179
= 100% = 100% = 7,22 %
0,1824945
0,16
1 = 1 = 4,8 104 = 333,333 106 2
2 0,1
2 = = 4
= 204,918 106 2
4,88 10
3 0,23
3 = = = 471,3115 106 2
4,88 104
1009,5625
= = = 336,5208 106 2
3

| |
= = 62,803 106 2
2
62,803
= 100% = 100% = 18,66 %
336,5208
333,333
1 = 1 = 0,1714285 = 1912,574 106 2
1
2 204,918
2 = = = 1266,7635 106 2
2 0,161765
3 471,3115
3 = = = 2199,4097 106 2
3 0,21429
5378,7472
= = = 1792,9157 106 2
3
| |
= = 225,189 106 2
2
225,189
= 100% = 100% = 12,56 %

1792,9157

4.3. Grafik
4.3.1. Kertas 1
4.3.2. Kertas 2
4.3.3. Kantong Plastik 1

4.3.4. Kantong Plastik 2


4.3.5. Kantong Plastik 3

4.3.6. Plastik Fotocopy 1


4.3.7. Plastik Fotocopy 2

4.3.8. Pastik Fotocopy 3


4.4. Analisa Hasil

Industri manufaktur merupakan industri yang memproduksi beberapa


peralatan yang berkaitan dengan logam contohnya industri mobil maupun
sparepart sepeda motor. Setiap industri yang mengunakan logam sebagai
salah satu bahan dasar produksi harus memperhitungkan beberapa sifat dan
jenis logam. Dalam proses produksi jenis logam dan sifat logam sangat
berpengaruh terhadap jenis produk apa yang akan dihasilkan dan kegunaan
produk yang dihasilkan sehingga produk yang dihasilkan dapat memenuhi
target pemakaian yang efektif dan efisien. Uji tarik yang merupakan salah
satu dari beberapa jenis pengujian logam. Uji tarik pada industri manufaktur
digunakan untuk mengetahui kekuatan tarik dari sebuah logam jadi ketika
dalam perencanaan produksi sebuah benda dapat diperkirakan berapa faktor
keamanan yang dicapai untuk sebuah logam. Jadi setiap produk yang dibuat
kekuatan tariknya berbeda beda sesuai dengan kebutuhan pemakaian. Pada
industri karet (rubber), pengujian uji tarik juga dilakukan untuk uji material
yang berbahan karet, uji tarik pada karet (rubber) dapat dilakukan dengan
menggunakan alat uji karet (rubber testing equipment). Terdapat beberapa
macam dan jenis dari alat uji karet (rubber testing equipment) dalam
pengujian karet menggunakan tensile strength tester yang merupakan tool
atau alat yang di gunakan untuk mengukur pengujian agar mengetahui sifat-
sifat suatu material seperti kelenturan (elongation), kekuatan, bending, dll.
Dengan menarik suatu material kita akan segera mengetahui bagaimana
material tersebut bereaksi terhadap tenaga tarikan dan mengetahui sejauh
mana material itu bertambah panjang. Alat eksperimen untuk uji tarik ini
harus memiliki cengkeraman (grip) yang kuat dan kekakuan yang tinggi
(highly stiff). Pabrik industri ban merupakan salah satu industri rubber yang
menggunakan tensile strength tester, mereka menggunakan salah satu rubber
testing equipment ini untuk menguji pemuluran elongation pada material.

Grafik yang didapatkan antar kertas, kantong plastik, dan plastik


fotocopy berbeda. Hal tersebut dikarenakan ketiganya memiliki sifat dan
karakteristik yang berbeda. Dimana dari ketiganya itu, dapat diketahui bahwa
kantong plastiklah yang memiliki elastistas yang paling tinggi daari
percobaan ini. Sedangkan kertas memiliki elastisitas yang rendah. Percobaan
uji tarik pada kertas dilakukan sebanyak dua kali. Dan dari keduanya juga
didapatkan data dan grafik yang berbeda. Hal tersebut dapat dikarena adanya
kesalahan praktikan dalam membuat ukuran dan bentuk sampel yang kurang
presisi. Selain itu juga dapat diakibatkan karena adanya kesalahan praktikan
dalam melakukan pengambilan data. Sehingga akan mempengaruhi hasil
yang didapatkan. Pada pengujian terhadap tiga kantong plastik dan tiga buah
plastik fotocopy juga didapatkan data dan grafik yang berbeda disetiap
pengurunnya. Hal tersebut juga dapat diakibatkan karena adanya kesalahan
praktikan dalam melkukan pengambilan data serta kelasahan dalam membuat
ukuran dan bentuk sampel yang kurang presisi.

Batas poporsionalitas (Proporsionality Limit) idefinisikan sebagai daerah


diman tegangan dan regangan mempunyai hubungan proposionalitas satu
dengan yang lainnya. Setiap penabahan tegangan akan diikuti dengan
penambahan rgangan secara proporsional dalam hubungan linier.

= .E

Pada kurva tegangan-tegangan pada gambar 1 diatas, titik P merupakan


batas proposionalitas.
Batas elastic didefinisikan sebagai daerah dimana bahan akan kembali
panjang semula bila tegangan luar dihilangkan. Daerah proposionalitas
merupakan bagian dari batas elastic. Bila beban terun diberikan maka batas
elastik pada akhirnya akan terlampaui sehingga bahan tidak kembali seperti
ukuran semua. Batas elastic merupakan titik dimana tegangan yang diberikan
akan menyebabkan terjadinya deformasi plastis untuk pertama kalinya.
Kebanyakan material teknik mempunyai batas elastic yang hampir berhimpit
dengan batas proposionalitasnya
Titik Luluh (Yield Point) dan Kekuatan Luluh (Yield Strength)
didefinisikan sebagai batas dimana sebuah material akan terus mengalami
deformasi tanpa adanya penambahan beban. Tegangan (stress) yang
mengakibatkan bahan menunjukkan mekanisme luluh ini disebut tengan luluh
(Vield stress).

Gambar 4.1. Kurva tegangan rengangan titik Y merupakan titik luluh

Gejala luluh umumnya hanya ditunjukkan oleh logam-logam ulet dengan


srtuktur kristas BCC da FCC yang membentuk interstitial solid solution dari
atom-atom karbon, boron, hydrogen dan oksien. Interaksi antar dislokasi dan
atom-atom tersebut menyebabkan baja ulet seperti mild steel menunjukkan
titik luluh bawah (lewer yield point) dan titik luluh atas (upper yield point).
Baja berkekuatan tinggi dan besi tulangan yang getas pada umumnya
tidak memperlihatkan batas luluh yang jelas. Untuk menentukan kekuatan
luluh material seperti ini maka digunakan suatu metode offset. Dengan
metode ini kekuatan luluh ditentukan sebaai tegangan dimana bahan
memperlihatkan batas penyimpangan / deviasi tertentu proporsionalitas
tegangan dan tegangan. Pada gambar 1.2 garis offset OX ditarik parallel
dengan OP, sehingga perpotongan XW dna kurva tenganan regangan
memberikan titik Y sebagai kekuatan luluh. Umumnya garis offset OX
diambil 0,1 0,2 % dari regangan total dimulai dari O.
Gambar 4.2. Kurva tegangan regangan bahan getas

Kekuatan luluh atau tiitk luluh merupakan suatu gambaran kemampuan


bahan menahan deformasi permanen bila dignakan dalam penggunaan
struktural yang melibatkan pembebanan mekanik seperti tarik, tekan, bending
atau puntir. Di sisi lain, batas luluh ini harus dicaai ataupun dilewati bila
bahan dipakai dalam proses manufaktur produk-prosuk logam seperti rolling,
drawing, stretching dan sebagainya. Dapat diambul kesimpulan bahwa titik
luluh adalah suatu tingkatan tegangan yang tidak boleh dilewati dalam
pengunaan strunktural (in service) dan harus dilewati dalam proses
manufaktur logam (foring process)
Kekuatan tarik maksimum didefinisikan sebagai tegangan maksimum
yang dapat ditanggung oleh material sebelum terjadinya perpatahan
(fracture). Nilai kekuatan tarik maksimum tarik dapat ditentukan dari beban
maksimum luas penampang seperti berikut:
UTS = Fmaks / Ao
Kekuatan putus ditentukan dengan membagi beban pada saat benda uji
putir (Fbreaking) dengan tuas penampang awal (Ao), untuk bahan yang bersifat
ulet pada saat beban maksimum terlampaui M dan bahan tersebut
terdeformasi hingga titik putus B maka terjadi mekanisme penciutan
(necking) sebagai akibat adanya suatu deformasi yang terlekolalisasi.
Pada bahan ulet, kekuatan putus lebih kecil dari kekuatan maksimum dan
pada bahan getas kekuatan putus sama dengan kekuatan maksimumnya.
Keuletan didefinisikan sebagai sifat yang menggambarkan kemampuan logam
menahan deformasi hingga tejadinya perpatahan. Pengujian tarik memberikan
dua metode pengukuran keuletan bahan yaitu :
Persentase perpanjangan (Elongation):

(%) =[Lf L0 / L0] x 100 %

Dimana:
Lf = panjang akhir benda uji
Lo= panjang awal benda uji
Persentase reduksi penampang (Area Reduction):

R(%) =[Af A0 / A0] x 100 %

Dimana:
Af = luas penampang akhir
Ao= luas penampang awal

Gambar 4.3. Kurva deformasi pada uji tarik


Modulus Young didefinisikan sebagai ukuran kekakuan suatu material,
semakin harga modulus ini semakin kecil regangan elastic yang terjadi, atau
semakin kaku. Modulus kekakuan dihitung gradien dari batas proporsional
kurva tegangan-regangan: Makin besar modulus elastisitas maka makin kecil
regangan elastik yang dihasilkan akibat pemberian tegangan
= .E

Modulus elastisitas ditentukan oleh gaya ikatan antar atom. Karena gaya
ini tidak dapat diubah tanpa terjadinya suatu perubahan sifatt yang sangat
mendasar pada material maka modulus elastisitas merupakan suatu sifat dari
material yang tidak mudah diubah.
Modulus keelentingan didefinisikan sebagai kemampuan material untuk
menyerap energi dari luar tanpa terjadinya kerusakan. Nilai modulus
merupakan luas segitiga area elastis kurva tegangan-regangan (daerah abu-
abu)

Gambar 4.4. Modulus resllience

Modulus Ketangguhan didefinisikan sebagai kemampuan material dalam


mengabsorbsi energi hingga terjadinva perpatahan. Secara kuantitatif dapat
ditentukan dari luas area keseluruhan dibawah kurva tegangan-regangan hasil
pengujian tarik.
Gambar 4.5. Toughness

Kurva tegangan-regangan rekayasa didasarkan atas dimensi awal (luas


area dan panjang) dari benda uji,sementara untuk mendapatkan kurva
tegangan-regangan seungguhnya diperlukan luas area dan panjang aktual
pada saat pembebanan setiap saat terukur.
Sampel hasil pengujian tarik dapat menunjukkan beberapa tampilan
perpatahan seperti ditunjukkan oleh Gambar di bawah ini :

Gambar 4.6. Mekanisme perpatahan

Pengamatan kedua tampilan perpatahan ulet dan getas dapat dilakukan


baik dengan mata telanjang maupun dengan bantuan stereoscan macroscope.
Pengamatan lebih detildimungkinkan dengan penggunaan SEM (Scanning
Electron Microscope). Perpatahan ulet umumnya lebih disukai karena bahan
ulet umumnya lebih tangguh dan memberikan peringatan lebih dahulu
sebelum terjadinya kerusakan.
Gambar 4.7. Perpatahan Ulet

Tampilan foto SEM dari perpatahan ulet diberikan oleh gambar berikut:

Gambar 4.8. Perpatahan Ductle


Perpatahan getas memiliki ciri-ciri mempunyai ciri-ciri yangberbeda
dengan perpatahan ulet. Pada perpatahan getas tidakada atau sedikit sekali
terjadi deformasi plastis pada material. Perpatahan jenis ini merambat
sepanjang bidang- bidangkristalin membelah atom- atom material. Pada
material yanglunak dengan butir kasar akan ditemukan pola chevrons atau
fanlike pattern yang berkembang keluar dari daerah kegagalan.Material keras
dengan butir halus tidak dapat dibedakan sedangkan pada material amorphous
memiliki permukaan patahan yang bercahaya dan mulus.
Gambar 4.9. Patahan brittle
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Setelah dilakukan percobaan ini, dapat diketahui bahwa uji tarik


diperlukan untuk mengetahui sifat-sifat mekanik suatu material. Sehingga
dapat melengkapi informasi dasar kekuatan suatu bahan sebagai
pendukung bagi spesifikasi bahan, yang nantinya dapat digunakan untuk
berbagai aplikasi. Selain itu, dari ketiga bahan yang digunakan, yakni
kertas, kantong plastik, dan plastik fotocopy, dapat dikeathui bahwa
kantong plastiklah yang memiliki elastisitas yang tinggi. Sedangkan kertas
memiliki elastisitas yang rendah.

5.2 Saran
Praktikan diharapkan lebih teliti dan tepat dalam membuat sampel,
sehingga ukuran dan bentuknya dapat pesisi sesuai dengan yang disaranka.
Selain itu juga diperlukan ketelitian dan ketepatan dalam melkukan
pengambilan data, sehingga dapat dihasilkan data dengan kesalah yang relatif
rendah.
DAFTAR PUSTAKA

Bueche, Frederick J & Eugene Hecht. 2006. Fisika Universitas.Jakarta:


Erlangga.
Callister, William D. 1994.Material Science and Engineering.USA: John
Willey & Sons.
Davis,J.R.2004.Tensile Testing Second Edition.Ohio:ASM International.
Matthew,W.W.2002.Simple Performance Test for Superpave Mix Design.
Washington:National Academy Press.
Oka, Muhammad. 2013. Konsep Dasar Tegangan dan Regangan .
Jakarta:Yudhistira.
Smallman . R. E., 1999. Modern Physical Metallurgy. Reed Educational
andProfessional Publishing Ltd. Tottenham Court Road, London,
England