Anda di halaman 1dari 4

Tugas Matakuliah Konflik dan Perdamaian dlm Ilmu Hubungan Internasional

Humanitarian Intervention: Analisis Studi Komparasi Konflik Kamboja 79 dan Konflik Darfur,
Sudan 03
Masykur Rahim (E13115010)
Departemen Ilmu Hubungan Internasional

Definisi dari Konsep Humanitarian Intervention atau Intervensi kemanusiaan (dalam


tulisan ini disingkat HI) telah banyak dikupas oleh para ilmuwan/akademisi ilmu hubungan
internasional. Beberapa di antaranya yakni dari Jennifer M. Weish, Amneus dan masih banyak
penstudi HI lainnya. Sehingga berdasarkan hasil surfing penulis (saya) terhadap definisi-definisi
yang telah disajikan oleh para ilmuwan HI tersebut, penulis kemudian telah sampai pada satu
definisi tersendiri untuk menjelaskan konsep HI secara umum (dalam arti sempit) dan juga
komprehensif (dalam arti luas), bahwa intervensi kemanusiaan merupakan suatu mekanisme
upaya yang dilakukan oleh organisasi internasional, kelompok-kelompok negara, atau pun satu
negara tertentu untuk mengatasi dan mengakhiri bentuk pelanggaran hak asasi manusia atau
kejahatan kemanusiaan (genosida, pembersihan etnis, dan kejahatan perang) yang terjadi pada
masyarakat di negara yang sedang berkonflik, baik dalam bentuk resolusi non-militer, atau pun
resolusi militer, dan biasanya tidak dan tanpa melalui izin dari negara yang berkonflik tersebut.

Terdapat 4 prinsip utama yang menjadi afirmasi dan syarat intervensi kemanusiaan dapat
dilakukan oleh suatu negara/organisasi internasional terhadap negara yang berkonflik, yaitu
legitimasi, last resort, proportional means, dan reasonable prospect. Untuk menggambarkan
bagaimana mekanisme keempat prinsip tersebut terkonsepkan dalam praktek intervensi
kemanusiaan, maka dalam tulisan ini, akan dipaparkan 2 buah konflik dunia yang telah terjadi
beberapa tahun silam, yakni konflik kamboja (1979) dan konflik Saudara di Sudan (2003),
sebagai studi komparasi untuk melihat kedudukan 4 prinsip intervensi kemanusiaan pada kedua
kasus tersebut.

Konflik Kamboja (1979) dibawah Rezim Khmer Merah oleh Pol Pot

Sejatinya, konflik Kamboja ini berawal dari tumbangnya Rezim Lon Nol pada 17 April
1975 dan tampuk kekuasaannya digantikan oleh Pol Pot di bawah rezim baru yaitu Rezim
Khmer Merah. Penduduk Kamboja menyangka bahwa jatuhnya rezim Lon Nol merupakan
harapan baru bagi Kamboja untuk mencapai kedaiman setelah terjebak dalam perang Saudara
sejak 1967. Namun pada kenyataannya, rezim Pol Pot dengan kebijakannya justru menambah
panjang penderitaan rakyat. Kebijakan yang diberlakukan Kamboja pada saat itu yakni
relokasi paksa, dimana anggota keluarga harus dipisahkan dari satu sama lain antara orang
tua dan anaknya lalu kemudian dikirim secara terpisah ke berbagai pedesaan untuk diperas
tenaganya sampai meninggal dunia dikarenakan lelah dan sakit. Tidak hanya itu,
pemerintahan Pol Pot juga mengusung konsep Marxisme-Leninisme, yang mana dengan
konsep tersebut ia melakukan sebuah percobaan radikal untuk menciptakan utopia agrarian
dengan menyatakan konsep Year Zero. Ringkasnya, Konsep Year Zero merupakan
kebijakan yang dijalankan oleh negara komunis Kamboja untuk melakukan revolusi
destruktif yang mengakibatkan terjadinya pembunuhan secara massal dalam suatu periode.

Ada sekitar 2 juta penduduk atau 20 % rakyat Kamboja tewas akibat kebijakan utopis
Pol Pot. Melihat kebijakan Pol Pot yang dianggap melewati batas toleransi, memaksa
Vietnam untuk kemudian melakukan invasi terhadap pemerintahan Pol Pot guna
menyelamatkan rakyat Kamboja. Sehingga Vietnam akhirnya secara resmi berhasil
mengambil alih tampuk pemerintahan di Kamboja dan mendirikan Peoples Republic of
Kampuchea (PRK) yang dipimpin oleh Heng Samrin.

Tidak hanya itu, tindakan keji Khmer Merah terhadap Rakyat Kamboja juga mendapat
kecaman keras dari masyarakat internasional karena menganggap kejahatan kemanusiaan
yang dilakukan Rezim Khmer Merah merupakan bentuk pelanggaran HAM. Namun,
keberhasilan Heng Samrin dalam menjatuhkan rezim Pol Pot juga tidak diakui oleh
masyarakat Internasional dan justru menapat kecaman dari dunia internasional. Masyarakat
internasional menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh Heng Samrin merupakan tindakan
Ilegal. Sehingga olehnya itu Vietnam mendeklarasikan pembelaan bahwa tindakan okupasi
yang dilakukan Vietnam yakni semata-mata demi pembebasan rakyat Kamboja dari rezim
Pol Pot yang terlampau sadis dan keji

Sampai disini, untuk menginjeksikan prinsip intervensi kemanusiaan yang dipakai


Vietnam dalam keterlibatannya yang dinilai paling sinergis adalah berdasar pada tinjauan
aspek yang kedua, yakni last Resort, dimana opsi ini diambil ketika resolusi-resolusi non-
militer yang telah diupayakan ternyata tidak berhasil dalam memberantas masalah kejahatan
kemanusiaan terhadap rakyat di kawasan internal kamboja, sehingga Vietnam atas dasar
kemanusiaan pula yang melihat situasi korban yang begitu memprihatinkan kemudian segera
melangsungkan invasi militer akhirnya berhasil menumbangkan Rezim Khmer Merah, meski
pun tidak melaui izin dari Negara konflik, terlebih dari dunia Internasional.

Konflik Saudara di Sudan (Sudan Selatan dan Darfur - 2003)

Konflik saudara di Sudan yang identik dengan pelanggaran HAM atau kejahatan
kemanusiaan sudah berlangsung lama sejak tahun 1955 (dengan konflik horizontal antara
Sudan Utara dan Sudan Selatan) hingga tahun 2006 dengan dikeluarkannya resolusi dari DK-
PBB yang kemudian ini menjadi kabar pencerahan bagi rakyat Sudan karena kelarnya aksi
kejahatan-kejahatan tersebut. dalam rentang waktu yang panjang itu tentunya tidak lepas dari
berbagai kompleksitas atas konfrontasi-konfrontasi yang muncul dari berbagai pihak-pihak
negara tertentu secara berangsur-angsur. Namun yang ingin ditekankan disini dimana momen
itu menjadi awal keterlibatan PBB dalam melakukan intervensi kemanusiaan adalah berada
pada tahun 2003, yang oleh PBB mulai gencar dalam mengulurkan bantuan dikarenakan
krisis kemanusiaan yang terjadi pada penduduk sipil yang semakin menjadi-jadi oleh
tindakan Janjaweed yang dituduh membantu pemberontak. Sebagai akibatnya lebih dari
50.000 penduduk sipil tewas dan 1,6 juta penduduk mengungsi dan sekitar 70.000 di
antaranya meninggal di tempat pengungsian akibat kekurangan gizi dan wabah penyakit.
Sehingga melihat sikon yang memprihatinkan tersebut, maka keluarlah Resolusi DK-PBB
No. 1547 tanggal pada tanggal 11 Juni tahun 2004, yang memerintahkan agar Pemerintah
Sudan dan para pemberontak harus melaksanakan perjanjian Gencatan Senjata yang sudah
dirintis oleh Chad dan UA sebelumnya.

Dalam operasi perdamaian antara Sudan dan Darfur, selain PBB, Uni Afrika dan Presiden
Chad juga banyak membantu di dalamnya. Adapun Uni Afrika berhasil mengeluarkan bukti
tertulis berupa perjanjian Darfur Peace Agreement (DPA) pada tanggal 9 Mei 2006 yang
berisi mengenai pemenuhan hak atas masyarakat Darfur, pemberian kewenangan oleh Darfur
untuk mengelola wilayah sendiri, serta rekonstruksi wilayah Darfur yang akan dilakukan
sesegera mungkin.

Sampai disini pula, sudah dapat dideteksi, bahwa bentuk upaya intervensi kemanusiaan
yang dilakukan dalam mengakhiri bentuk kejahatan kemanusiaan yang terus berlangsung
seputar Darfur dan Sudan, yaitu dengan melalui konsep legitimasi oleh PBB dan Uni Afrika,
yang mana hal tersebut dituangkan melalui Resolusi dari DK-PBB (Oleh PBB) dan
Perjanjian Darfur (oleh Uni Afrika). Upaya-upaya tersebut yakni merupakan suatu
mekanisme upaya untuk menghentikan tindakan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan
dengan cara non-militer, yakni atas dasar adanya konsep legitimasi tersebut, dimana negara
(melalui perjanjian yang telah disepakati bersama sebelumnya), berhak untuk mematuhi
peraturan-peraturan serta kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh PBB dan organisasi
internasional sejenisnya yang mana organisasi PBB ini juga tidak lain dibuat atas dasar
mewujudkan perdamaian dunia.

KESIMPULAN

Setelah membahas kedua konflik di atas, akhirnya membawa kita untuk sedikit
menyimpulkan bahwa bentuk intervensi yang dilakukan oleh masing-masing rezim pada
kedua kasus di atas berbeda satu sama lain, di mana pada konflik Kamboja, upaya pihak yang
melakukan intervensi kemanusiaan lebih memilih untuk melakukan intervensi secara militer
melihat kondisi dan situasi yang memprihatinkan pada saat itu dimana jumlah korban yang
tewas akibat kebijkaan yang sadis oleh rezim pemerintahan sendiri, dan tidak adanya resolusi
yang dikeluarkan PBB, sehingga memaksa Vietnam (sebagai negara yang memiliki sangkut
paut) untuk memilih keputusan dengan model intervensi militer tersebut. dan apa yang
dilakukan oleh Vietnam melalui Heng Samrin akhirnya berhasil meruntuhkan Rezim Khmer
Merah.

Kemudian Pada konflik Perang Saudara di Sudan, terlihat jelas bahwa intervensi yang
dilakukan oleh PBB dan Uni Afrika merupakan intervensi dalam bentuk non-militer yang
dikeluarkan dalam bentuk resolusi dan perjanjian yang telah melalui proses legitimasi
sebelumnya oleh negara-negara yang terlibat dalam penyepakatan tersebut. dan Alhasil,
kebijakan dari PBB dan Uni Afrika ini juga berhasil membawa dampak signifikan terhadap
penyelesaian konflik di Sudan yang berujung perdamaian.