Anda di halaman 1dari 11

Laporan Praktikum Fisiologi Manusia

PERCOBAAN DARAH I

Wahyu Wulan
Widyanningsih

173112620120093

Universitas Nasional Jakarta

Fakultas Biologi

Jurusan Biologi Medik

Desember 2017

A. TUJUAN PERCOBAAN

1. Dapat menghitung jumlah sel darah merah (eritrosit)


2. Dapat menghitung jumlah sel darah putih (leukosit)
3. Dapat menentukan kadar hemoglobin (Hb)
4. Dapat menentukan golongan darah
B. DASAR TEORI

1. Darah

Darah adalah kendaraan atau medium untuk transportasi massal jarak jauh berbagai
bahan antara sel dan lingkungan eksternal atau antara sel-sel itu sendiri. Transportasi
semacam itu penting untuk memelihara homeostatis. Darah berperan dalam homeostatis
berfungsi sebagai medium untuk membawa berbagai bahan ke dan dari sel, menyangga
perubahan pH, mengangkut kelebihan panas ke permukaan tubuh untuk di keluarkan,
berperan penting dalam sistem perubahan tubuh, dan memperkecil kehilangan darah
apabila terjadi kerusakan pada pembuluh darah. Darah membentuk sekitar 8% berat
tubuh total dan memiliki volume rata-rata 5 liter pada wanita dan 5,5 liter pada pria.
Darah manusia berwarna merah, antara merah terang apabila mengandung banyak
oksigen sampai merah tua, apabila kekurangan oksigen. Warna merah pada darah
disebabkan oleh hemoglobin, protein pernapasan (respiratory protein) yang mengandung
besi dalam bentuk heme, yang merupakan tempat terikatnya molekul-molekul oksigen.
Karena darah sangat penting, harus terdapat mekanisme yang dapat memperkecil
kehilangan darah apabila terjadi kerusakan pembuluh darah. Tanpa darah, manusia tidak
dapat melawan infeksi atau kuman penyakit dan bahan-bahan sisa yang dihasilkan tubuh
tidak dapat dibuang (Lestari, 2008).

2. Komponen Penyusun Darah

Terdapat dua jenis pembuluh darah, yang mengalirkan darah ke seluruh tubuh, yaitu
arteri dan vena. Arteri adalah pembuluh yang membawa darah, yang mengandung oksigen
dari jantung dan paru-paru menuju ke seluruh tubuh. Sedangkan vena adalah pembuluh
yang membawa darah mengalir kembali ke jantung dan paru-paru. Darah yang mengalir
melalui kedua pembuluh tersebut terdiri atas tiga jenis sel darah, yaitu sel darah merah
(eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit) yang terendam dalam
cairan kompleks (Lestari, 2008).

a. Hitung Sel Darah Merah (Eritrosit)

Sel darah merah pada dasarnya adalah suatu kantung yang mengangkut O2 dan CO2
(dalam tingkat yang lebih rendah) di dalam darah. Sel darah merah tidak memiliki
nukleus, organel, atau ribosom, tetapi dipenuhi oleh hemoglobin, yaitu molekul yang
mengandung besi yang dapat berikatan dengan O2 secara longgar dan reversibel.
Karena O2 sukar larut dalam darah, hemoglobin merupakan pengangkut satu-satunya
O2 dalam darah. Hemoglobin juga berperan dalam transportasi CO 2 dan sebagai
penyangga darah dengan berikatan secara reversibel dengan CO 2 dan H+ (Lestari,
2008).

Dalam setiap 1 mm3 darah terdapat sekitar 5 juta eritrosit atau sekitar 99%, oleh karena itu setiap
pada sediaan darah yang paling banyak menonjol adalah sel-sel tersebut. Dalam keadaan
normal,eritrosit manusia berbentuk bikonkaf dengan diameter sekitar 7 -8 mikrometer, tebal 2.6
mikrometer dan tebaltengah 0.8 mikrometer dan tanpa memiliki inti. (Widayati, 2010).

Nilai normal dewasa wanita 4.0 - 5.0 juta sel/mm3, pria 4.5 - 5.5 juta sel/mm3. Sedangkan Nilai
normal bayi 3.8 - 6.1 juta sel/mm3, anak 3.6 - 4.8 juta sel/mm3. Peningkatan jumlah eritrosit ditemukan
pada dehidrasi berat, diare, luka bakar, perdarahan berat, setelah beraktivitas berat, polisitemia, anemia
sickle cell. Penurunan jumlah eritrosit ditemukan pada berbagai jenis anemia, kehamilan, penurunan
fungsi sumsum tulang, malaria, mieloma multipel, lupus, dan konsumsi obat (Arsyilini, dkk. 2012).

Pengenceran dalam pipet eritrosit ialah 200 kali. Luas tiap bidang kecil 1/400 mm2, tinggi kamar
hitung 1/10, sedangkan eritrosit dihitung dalam 5 x 16 bidang kecil=80 bidang kecil, yang jumlah
luasnya 1/5 mm2. Faktor untuk mendapatkan jumlah eritrosit per ul darah menjadi 5 x 10 x 200 =
10.000. (Gandasoebrata, 2010).

b. Hitung Sel Darah Putih (Leukosit)

Sel darah putih (leukosit) adalah unit-unit pertahanan tubuh. Sel ini menyerang
benda asing yang masuk, menghancurkan sel abnormal yang muncul di tubuh, dan
membersihkan debris sel. Terdapat lima jenis sel darah putih, yang masing- masing
memiliki tugas berbeda, yaitu :

1) Neutrofil, spesialis fagositik yang penting untuk memakan bakteri dan debris.

2) Eosinofil, yang mengkhususkan diri menyerang cacing parasitik dan berperan


penting dalam reaksi alergi.

3) Basofil, yang mengeluarkan dua zat kimia : histamine, yang juga penting dalam
respon alergi, dan heparin, yang membantu membersihkan partikel lemak dari
darah.

4) Monosit, yang setelah keluar dari pembuluh, kemudian berdiam di jaringan dan
membesar untuk menjadi fagosit jarigan yang dikenal sebagai makrofag.
5) Limfosit, yang membentuk pertahanan tubuh terhadap invasi bakteri, virus, dan sasaran
lain yang telah diprogramkan untuknya. Perangkat pertahanan yang dimiliki limfosit,
antara lain adalah antibodi dan renspon imun seluler.

Sel darah putih terdapat di dalam darah, hanya sewaktu transit dari tempat produksi dan
penyimpanan di sumsum tulang (dan juga organ-organ limfoit untuk limfosit) dan tempat kerjanya di
jaringan. Setiap saat, sebagaian besar sel darah putih berada di luar darah di jaringan untuk tugas patroli
atau bertempur. Semua sel darah putih memiliki rentang usia, yang terbatas dan harus diganti melalui
diferensiasi dan proliferasi sel-sel prekursor. Jumlah total dan persentase setiap jenis sel darah putih yang
diproduksi, bergantung pada kebutuhan pertahanan sesaat tubuh.

Leukosit normal orang dewasa berjumlah sekitar 4.000 10.000/mm3. Pada bayi baru lahir sekitar
9.000 30.000/mm3 & pada bayi /anak sekitar 9.000 12.000 /mm 3. Leukosit berumur sekitar 12 hari.
Leukosit keluar dari pembuluh kapiler apabila ditemukan antigen. Proses keluarnya leukosit disebut
dengan diapedesis. Leukosit yang berperan melawan penyakit yang masuk dalam tubuh disebut antibodi.
(Pearce, 2009).

Darah diencerkan dalam pipet leukosit, kemudian dimasukkan ke dalam kamar hitung. Jumlah
leukosit dihitung dalam volume tertentu, dengan mengenakan faktor konversi jumlah leukosit per ul
darah dapat diperhitungkan. Larutan pengencer itu ialah Larutan Turk yang mempunyai susunan sebagai
berikut : larutan gentian violet 1% dalam air 1 ml, aquades ad 100 ml dan saringlah sebelum dipakai.
Pengenceran yang terjadi dalam pipet ialah 20 kali. Jumlah semua sel yang dihitung dalam keempat
bidang itu dibagi 4 menunjukkan jumlah leukosit dalam 0,1 ul. Kalikan angka itu dengan 10 (untuk
tinggi) dan 20 (untuk pengenceran) untuk mendapat jumlah leukosit dalam 1 ul darah. Singkatnya:
jumlah sel yang dihitung kali 50 = jumlah leukosit pel ul darah. (Gandasoebrata, 2010).

c. Hitung Kadar Hemoglobin

Hemoglobin ialah protein pigmen yang memberi warna merah pada darah. Setiap
hemoglobin kaya akan zat besi. Hemoglobin memiliki afinitas (daya gabung) terhadap
oksigen, dengan oksigen itu membentuk oksihemoglobin di dalam sel darah merah.
Melalui fungsi ini maka oksigen dibawa dari paru-paru ke jaringan-jaringan.
Oksihemoglobin beredar ke seluruh jaringan tubuh apabila kadar oksigen dalam tubuh
lebih rendah dari pada dalam paru-paru maka oksihemoglobin dibebaskan dan oksigen
digunakan dalam metabolisme sel. Hemoglobin juga penting dalam pengangkutan
karbondioksida dari jaringan ke paru-paru. Selain itu hemoglobin berperan dalam
menjaga keseimbangan asam dan basa (penyanggah asam dan basa). (Pearce, 2009)
Pemeriksaan hemoglobin dengan cara sahli memiliki prinsip hemoglobin diubah
menjadi hematin asam, kemudian warna yang terjadi dibandingkan secara visual
dengan standard dalam alat hemoglobinometer. Nilai normal dewasa pria 13.5-18.0
gram/dL, wanita 12-16 gram/dL, wanita hamil 10-15 gram/dL. Nilai normal anak 11-
16 gram/dL, batita 9-15 gram/dL, bayi 10-17 gram/dL, neonatus 14-27 gram/dL. Hb
rendah (<10 gram/dL) biasanya dikaitkan dengan anemia defisiensi besi
(Gandasoebrata, 2010).

Sebab lainnya dari rendahnya Hb antara lain pendarahan berat, hemolisis,


leukemia leukemik, lupus eritematosus sistemik, dan diet vegetarian ketat (vegan).
Dari obat-obatan: obat antikanker, asam asetilsalisilat, rifampisin, primakuin, dan
sulfonamid. Ambang bahaya adalah Hb < 5 gram/dL. Hb tinggi (>18 gram/dL)
berkaitan dengan luka bakar, gagal jantung, COPD (bronkitis kronik dengan cor
pulmonale), dehidrasi / diare, eritrositosis, polisitemia vera, dan pada penduduk
pegunungan tinggi yang normal. Dari obat-obatan: metildopa dan gentamisin. Menurut
Frandson (1992) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin pada
makhluk hidup adalah jenis kelamin dimana pria jumlah hemoglobinnya lebih besar
dari wanita, dimana jumlah sel darah merah pada pria lebih banyak yakni sekitar
5.440.000/mm dibanding dengan jumlah sel darah merah pada wanita yakni
4.800.00/mm, faktor kedua adalah spesies, jumlah sel darah merah, ketinggian
tempat dimana untuk menjaga keseimbangan tubuh dan kadar Hemoglobin stabil,
maka sum-sum memproduksi sel darah merah lebih banyak dibandingkan dengan
orang tinggal di dataran rendah, dan kondisi kesehatan individu dimana jumlah
hemoglobin biasanya dibawah atau30 atau sekitar 5 gr per ml darah. Selain
dipengaruhi oleh diferensiasi zat besi gizi tekanan kurang baik, kekurangan asam folat,
vitamin C yang kurang, kekurangan vitamin B12 dan hemolisa sel darah merah dapat
menyebabkan anemia. (Arsyilini, dkk. 2012).

C. ALAT, BAHAN DAN CARA KERJA


1. Alat
a. Hemoglobinometer sahli terdiri dari :
- Pipet Hb sahli 20 ul
- Pipet tetes
- Batang pengaduk
- Botol HCl
- Tabung sahli
- Standard warna
b. Hemositometer terdiri dari :
- Bilik hitung Improved Neubauer
- Kaca penutup (deck glass)
- Pipet thoma (pengencer eritrosit) dengan skala 0,5 101
- Pipet leuko (pengencer leukosit) dengan skala 0,5 11
c. Mikroskop
d. Alat penghitung (counter)
e. Alat pengambil darah : lanset / jarum suntik
f. Cawan kecil / gelas arloji untuk tempat larutan pengencer dan tissue

2. Bahan
a. Darah vena atau perifer
b. HCl 0,1 N
c. Larutan Hayem (untuk eritrosit)
d. Larutan Turk (untuk leukosit)
e. Alkohol 70% dan aquades

3. Cara Kerja
a. Menghitung jumlah sel darah merah (eritrosit)
Prinsip : Dalam larutan Hayem bentuk sel darah merah akan stabil, sedangkan
protein plasma akan mengalami denaturasi.
- Hisap darah vena / perifer sampai tanda 0,5 dan hapus kelebihan darah di ujung
pipet dengan tisu
- Hisap larutan Hayem hingga mencapai tanda 101 dan jangan sampai ada
gelembung udara
- Tutup ujung pipet dengan ujung jari lalu lepaskan karet penghisap, kocok selama
15-30 detik dan diamkan pada suhu kamar
- Buang semua cairan di batang kapiler (3-4 tetes) dan cepat sentuhkan ujung pipet
ke kamar hitung dengan menyinggung pinggir kaca penutup dengan sudut 30 0.
Biarkan kamar hitung terisi cairan dengan daya kapilaritas
- Biarkan kamar hitung 2-3 menit supaya eritrosit mengendap
- Periksa dengan mikroskop dan gunakan lensa obyektif dengan pembesaran 40x,
focus diarahkakn ke garis-garis bagi dalam bidang besar yang tengah
- Hitunglah eritrosit di 5 bidang sedang yang masing-masing tersusun atas 16 bidang
kecil, dari kiri atas ke kanan, ke bawah lalu ke kiri, ke bawah lalu ke kiri dan
seterusnya. Untuk sel-sel pada garis, yang dihitung adalah pada garis kiri dan atas.

Perhitungan :
Jumlah Eritrosit = 5R x F x P
Keterangan :
5R : jumlah sel darah merah pada 5 kotak R
F : faktor bilik hitung
P : faktor pengenceran pipet
b. Menghitung jumlah sel darah putih (leukosit)
Prinsip : sel darah putih menyerap warna biru violet, sedangkan sel darah merah
dilisiskan oleh asam cuka 2% yang terkandung dalam reagen Turk, membentuk
asam hematin. Kemudian sel yang tersisa (sel darah putih) dihitung dengan
menggunakan bilik hitung.
- Hisap darah vena / perifer sampai tanda 0,5 dan hapus kelebihan darah di ujung
pipet dengan tisu
- Hisap larutan Turk hingga mencapai tanda 11 dan jangan sampai ada gelembung
udara
- Tutup ujung pipet dengan ujung jari lalu lepaskan karet penghisap, kocok selama
15-30 detik dan diamkan pada suhu kamar
- Buang semua cairan di batang kapiler (3-4 tetes) dan cepat sentuhkan ujung pipet
ke kamar hitung dengan menyinggung pinggir kaca penutup dengan sudut 30 0.
Biarkan kamar hitung terisi cairan dengan daya kapilaritas
- Biarkan kamar hitung 2-3 menit supaya leukosit mengendap
- Periksa dengan mikroskop dan gunakan lensa obyektif dengan pembesaran 10x dan
40x
- Hitunglah leukosit di empat bidang besar dari kiri atas ke kanan, ke bawah lalu ke
kiri, ke bawah lalu ke kiri dan seterusnya. Untuk sel-sel pada garis, yang dihitung
adalah pada garis kiri dan atas
Perhitungan :
Jumlah Leukosit = 4W x F x P
Keterangan :
4W : jumlah sel darah putih pada 4 kotak W
F : faktor bilik hitung
P : faktor pengenceran pipet

c. Menghitung kadar Hemoglobin (Hb) cara Sahli


Prinsip : perubahan Hb dengan HCl 0.1 N menjadi hematin asam yang berwarna
tengguli. Campuran diencerkan dengan akuades sampai warna sebanding dengan
warna standar pada tabung sahli.
- Masukkan HCl 0,1 N ke dalam tabung Sahli sampai angka 2
- Siapkan darah perifer dan hisap dengan pipet sahli sampai angka 20, kemudian
masukkan ke dalam larutan HCl 0,1 N pada tabung sahli, bilas pipet sahli 2-3 kali
hingga pipet bersih dari darah
- Kocok tabung sampai homogen dan berdirikan tabung tersebut pada standard
warna di tengah tabung sahli
- Perlahan-lahan encerkan isi tabung dengan aquades sampai warnanya sama dengan
warna standard pada tabung sahli
- Hasil dibaca dengan melihat batas meniskus cairan
- Skala pada tabung sahli menunjukkan kadar Hb dengan g/dl
D. HASIL PERCOBAAN
Nama OP : Arif Rahmawan
1. Hasil hitung jumlah sel darah putih
Perhitungan : 50 x W butir
= 50 x 84
= 4.200 /ul
Kesimpulan : jumlah sel darah putih normal.
Nilai normal : (/) 4.000 10.000 /ul
2. Hasil hitung jumlah sel darah merah
Perhitungan : 473 x 200 x 50
= 473 x 10.000
= 4,73 . 106/ul
Kesimpulan : jumlah sel darah merah normal.
Nilai normal : () 4,5 5,5 juta /ul
: () 4 5 juta /ul
3. Hasil hitung kadar Hb
Cara Sahli : 15,2 g/dl
Kesimpulan : kadar Hb normal
Nilai normal : () 14 18 g/dl
: () 12 16 g/dl

E. PEMBAHASAN
Darah merupakan unit fungsional seluler pada manusia yang berperan untuk
membantu proses fisiologis. Darah terdiri dari dua komponen, yaitu plasma darah dan
sel-sel darah. Fungsi utama darah adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-
sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut
zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang
bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit. (Pearce, 2009)

Pada praktikum ini yang akan dilakukan adalah menghitung jumlah sel darah
merah (eritrosit), menghitung jumlah sel darah putih (leukosit), menentukan kadar
hemoglobin (Hb).

Hasil praktikum atau percobaan dari OP Arif Rahmawan, didapatkan bahwa hitung
jumlah sel darah merah (eritrosit) adalah 4,73 x106/ul. Yang berarti masih dalam batas
normal, karena nilai normal dari eritosit : pada laki-laki = 4,5 5,5 juta /ul dan
perempuan = 4 5 juta /ul. Menurut (Arsyilini, dkk. 2012) peningkatan jumlah
eritrosit dapat ditemukan pada dehidrasi berat, diare, luka bakar, perdarahan berat,
setelah beraktivitas berat, polisitemia, anemiasickle cell. Penurunan jumlah eritrosit
dapat ditemukan pada berbagai jenis anemia, kehamilan, penurunan fungsi sumsum
tulang, malaria, mieloma multipel, lupus, konsumsi obat (kloramfenikol, parasetamol,
metildopa, tetrasiklin, INH, asam mefenamat).

Hasil hitung jumlah sel darah putih (leukosit) adalah 4.200 /ul. Yang berarti masih
dalam batas normal, karena nilai normal dari leukosit : (/) 4.000 10.000 /ul.
Menurut (Arsyilini, dkk. 2012) segala macam infeksi menyebabkan leukosit naik
(leukositosis) dapat berupa infeksi bakteri, virus, parasit, dan sebagainya. Leukosit
rendah disebut juga(leukopenia) dapat disebabkan oleh agranulositosis, anemia aplastik,
AIDS, infeksi atau sepsis hebat, infeksi virus (misalnya dengue), keracunan kimiawi, dan
postkemoterapi. Penyebab dari segi obat antara lain antiepilepsi, sulfonamid, kina,
kloramfenikol, diuretik, arsenik (terapi leishmaniasis), dan beberapa antibiotik lainnya.

Hasil kadar hemoglobin (Hb) adalah 15,2 g/dl. Yang berarti masih dalam batas
normal, karena nilai normal dari kadar hemoglobin (Hb): pada laki-laki = 14 18 g/dl
dan perempuan = 12 16 g/dl. Menurut (Arsyilini, dkk. 2012) Hb rendah (<10
gram/dL) biasanya dikaitkan dengan anemia defisiensi besi. Sebab lainnya dari
rendahnya Hb antara lain pendarahan berat, hemolisis, leukemia leukemik, lupus
eritematosus sistemik, dan diet vegetarian ketat (vegan). Dari obat-obatan: obat
antikanker, asam asetilsalisilat, rifampisin, primakuin, dan sulfonamid. Ambang bahaya
adalah Hb < 5 gram/dL. Hb tinggi (>18 gram/dL) berkaitan dengan luka bakar, gagal
jantung, COPD (bronkitis kronik dengan cor pulmonale), dehidrasi / diare, eritrositosis,
polisitemia vera, dan pada penduduk pegunungan tinggi yang normal. Dari obat-obatan:
metildopa dan gentamisin.

F. KESIMPULAN DAN SARAN


1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum atau percobaan dari OP Hermawan wicaksono, didapatkan
bahwa :
- Hitung jumlah sel darah merah (eritrosit) adalah 4,73 x106/ul yang berarti tergolong
normal.
- Hitung jumlah sel darah putih (leukosit) adalah 4.200 /ul yang berarti tergolong
normal.
- Hasil kadar hemoglobin (Hb) adalah 15,2 g/dl yang berarti tergolong normal.
2. Saran
- Untuk pemeriksaan jumlah eritrosit dan leukosit, sebaiknya saat melakukan
pengenceran dengan pipet thoma (pengencer eritrosit) dan pipet leuco (pengencer
leukosit) praktikan harus memperhatikan batas darah dan larutan pengencer yang
masuk pada masing-masing pipet dengan teliti supaya didapatkan hasil pengenceran
yang tepat.
- Untuk pemeriksaan hemoglobin (Hb), sebaiknya praktikan membersihkan atau
mengelap darah yang ada diluar pipet sahli dengan tisu supaya hasil yang diperoleh
tepat dan akurat.

G. DAFTAR PUSTAKA
1. Arsyilini, Ainin. dkk. 2012. Laporan Praktikum Fisiologi II. Dapat dilihat pada:
https://www. academia.edu/8790144/LAPORAN_PRAKTIKUM_FISIOLOGI_II . Diakses
tanggal 26/11/2016

2. Diah Aryulina, dkk. 2007. Biologi 2. Jakarta: Esis

3. Gandasoebrata, R. 2010. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta: Dian Rakyat


4. Harris, H. 1994. Dasar - dasar Genetika Biokemis Manusia. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press
5. Lestari, Dwi R. 2008. Pengenalan Penyakit Darah. FT UI. Jakarta

6. Priadi, Arif. 2009. Biologi. Jakarta: Tirta

7. Pearce, Evelyn C. 2009. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia

8. Suryo. 1997. Genetika Manusia Cetakan Kesembilan. Yogyakarta: Gadjah Mada


University Press
9. Sudjadi, Bagod. 2007. Biologi 1. Jakarta: Erlangga

10. Widayati, Opik. 2010. Sediaan Apus Darah. Fakultas matematika dan ilmu
pengetahuan alam universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka: Jakarta