Anda di halaman 1dari 7

Laporan Praktikum Hari/Tanggal : Rabu/ 4 Desember 2017

Toksikologi Veteriner Waktu : 11.30 14.00 WIB


PJP : Drh. Huda S. Darusman, M.Si. PhD.

IDENTIFIKASI LOGAM BERAT


Kelompok 4
Aldilah Yafitz B04140140
Felix Kurniadi B04140143
Nadira Syahmifariza B04140144
Nida Dwi Putri B04140146
Anastasya Carnelia Y. B04140147
Husnul Khotimah B04140148

DEPARTEMEN ANATOMI FISIOLOGI DAN FARMAKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2017
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Manusia maupun hewan mempunyai peluang terpapar logam dari berat dari
lingkungan. Dalam lingkungan yang kadar logam beratnya tinggi, kontaminasi dalam air dan
makanan dapat menyebabkan keracunan logam berat (Lu 2006). Logam berat merupakan
suatu senyawa yang dapat menimbulkan efek toksik jika masuk ke dalam tubuh. Logam berat
juga dapat ditemukan sebagai limbah industri maupun hasil gas buang kendaraan bermotor.
Logam berat dibagi menjadi dua jenis, yaitu logam berat esensial dan non-esensial. Logam
berat esensial merupakan logam berat yang keberadaannya dalam jumlah tertentu dibutuhkan
oleh organisme hidup, sedangkan jika berlebihan dapat menimbulkan efek toksik. Contoh
logam esensial adalah Zn, Cu, Mn, dan lain-lain. Logam non-esensial merupakan logam yang
bersifat racun karena keberadaannya di dalam tubuh masih belum diketahui manfaatnya.
Contoh logam non- essensial adalah Hg, Cr, Cd, dan lain-lain (Yudo 2006).
Identifikasi logam berat merupakan suatu cara yang dilakukan untuk mengetahui
kandungan logam berat pada suatu tempat, makanan, minuman, dan lain sebagainnya baik
secara in-vitro maupun in-vivo. Reinschs test merupakan suatu metode yang dilakukan untuk
mengidentifikasi logam berat untuk logam-logam tertentu seperti Hg, Ag, As, dan Bi secara
kualitatif yaitu dengan melihat adanya endapan yang menempel pada logam tembaga (Cu)
dengan warna tertentu. Pemberian antidota yang tepat dapat menanggulangi terjadinya
keracunan jika logam berat sudah masuk ke dalam tubuh dan menimbulkan efek toksik
(Elkins 1997).
Tujuan
Tujuan dari praktikum kali ini adalah, untuk mengidentifikasi logam berat dengan
menggunakan Reinschs test.

TINJAUAN PUSTAKA
Logam Merkuri (Hg)
Merkuri (Hg) adalah jenis logam berat yang berbentuk cair pada temperatur kamar,
berwarna putih keperakan, memiliki sifat konduktor listrik yang cukup baik, tetapi sifat
konduktor panasnya kurang baik. Merkuri membeku pada temperatur -38.9oC dan mendidih
pada temperatur 357oC. Sifat penting merkuri lainnya adalah kemampuannya untuk
melarutkan logam lain dan membentuk paduan logam (alloy) yang dikenal sebagai amalgam.
Ketika amalgam merkuri emas dipanaskan, merkuri dapat menguap meninggalkan logam
emas dan campurannya (Wurdiyanto 2007). Merkuri tidak berbau dengan berat molekul
200.59, sifatnya tidak larut dalam air, alkohol, eter, dan asam hidroklorida. Sedangkan
merkuri dapat larut dalam asam nitrat, asam sulfirik panas, dan lipid. Merkuri (Hg) dapat
berada dalam berbagai senyawa. Merkuri sering berasosiasi dengan endapan logam sulfida
lainnya seperti, Au, Ag, Sb, As, Cu, Pb, dan Zn. Garam merkuri sering digunakan dalam krim
pemutih dan krim antiseptik. Merkuri anorganik (logam dan garam merkuri) terdapat di udara
dari deposit mineral dan area industri. Merkuri yang ada di air dan tanah terutama berasal dari
deposit alam, buangan limbah, dan aktivitas volkanik (Soemirat et al. 2007). Merkuri baik
logam maupun metil merkuri biasanya masuk kedalam tubuh lewat pencernaan. Pada
keracunan merkuri tingkat awal, pasien merasa mulutnya kebal sehingga tidak peka terhadap
rasa dan suhu, hidung tidak peka bau, mudah lelah, dan sering sakit kepala. Jika terjadi
akumulasi yang lebih akan berakibat pada degenerasi sel-sel saraf di otak kecil menguasai
koordinasi saraf, gangguan pada luas pandang, degenerasi pada selaput saraf, dan bagian dari
otak kecil (Edward 2008).
Logam Perak (Ag)
Larutan logam perak umumnya terdapat dalam perak nitrat. Senyawa ini umumnya
tidak berwarna dan tidak berbau. Perak nitrat dapat dibuat dengan cara melarutkan perak
mentah dengan asam nitrat, namun perak merupakan logam yang reaktif yang sukar larut
dalam asam yang memiliki konsentrasi rendah. Oleh karena itu, diperlukan oksidator untuk
mengoksidasi perak menjadi ion-ion perak. Logam perak sendiri mempunyai sifat yang
mengkilap, termasuk kedalam logam mulia karena tidak mengalami proses korosif namun
perak bisa mengalami proses oksidasi. Perak merupakan logam transisi lunak, putih,
mengkilap, memiliki konduktivitas listrik dan panas paling tinggi diantara logam lainnya
serta terdapat di mineral dan dalam bentuk bebas. Logam berat umumnya telah lama
digunakan dalam dunia medis sebagai antibakteri. Efek toksisitas perak adalah agyria, efek
neurologik, penurunan berat badan, dan kematian (Alexander 2009).
Logam Arsen (As)
Arsen adalah salah satu logam toksik yang sering diklasifikasikan sebagai logam yang
sebenarnya lebih bersifat non-logam. Tidak seperti logam lain yang membentuk kation, arsen
di alam berbentuk anion (Cotton and Wilkinson 2009). Pada umumnya arsen tidak berbau,
tetapi beberapa senyawa dapat mengeluarkan bau. Racun arsen mudah larut dalam air
khususnya dalam air panas, bentuk organik arsen tampaknya memiliki toksisitas yang lebih
rendah daripada bentuk anorganik. Sebagian besar melaporkan keracunan arsenik tidak
disebabkan oleh unsur arsenik, tapi oleh salah satu senyawa arsen terutama arsenik trioksida
yang sekitar 500 kali lebih beracun daripada arsenik murni. Gejala antara lain, sakit di daerah
perut, produksi air liur berlebihan, muntah, rasa haus, dan kekakuan di tenggorokan, suara
serak dan kesulitan berbicara, kejang-kejang, dan kram. Mekanisme masuknya arsen dalam
tubuh melalui oral. Arsen yang tertelan secara cepat akan diserap lambung dan usus halus
kemudian masuk ke peredaran darah (Darmono 2006)
Logam Bismut (Bi)
Bismut adalah logam berwarna putih, kristal, logam rapuh dengan semburat merah
mudah. Bismut stabil pada suhu normal, bersifat diamagnetik, dan memiliki nilai terendah
sebagai konduktivitas panas. Di alam bismut terdapat dalam kerak bumi, dimana bismut dan
senyawa-senyawanya diketahui sebagai bahan yang kurang beracun dibandingkan dengan
logam berat lainnya seperti timbal ataupun merkuri. Meskipun tidak bersifat toksik, bismut
dapat bertahan dalam ginjal dari penderita yang diobati dengan bismut. Keracunan bismut
dapat membahayakan ginjal, hati, dan kandung kemih. Kegagalan ginjal akut dapat terjadi
sesudah mengkonsumsi bismut sodium triglikolamat secara peroral. Gejala keracunannya
meliputi berkurangnya nafsu makan, lemah, reumatik, sakit, diare, panas, napas berbau
busuk, dan dermatitis (Sembel 2015).
Tembaga (Cu) dan Reinschs Test
Tembaga merupakan salah satu logam yang paling ringan dan paling aktif. Tembaga
adalah logam merah mudah, yang lunak, mudah ditempa, dan liat.unsurnya relatif tidak
reaktif sehingga tahan terhadap korosi. Senyawa tembaga mengkatalis sederetan reaksi yang
sangat beragam, heterogen, homogen, dalam fase uap, dalam pelarut organic, dan dalam
larutan akua (Cotton and Wilkinson 2009). Identifikasi kimia secara sederhana dapat
dilakukan dengan Reinsch test. Reinsch test merupakan suatu cara untuk memancing logam-
logam dari campuran dengan menggunakan logam Cu untuk memancing logam As dan Hg
atau menggunakan logam Fe untuk memancing logam Cu. Prinsip dasar uji adalah terikatnya
logam berat pada tembaga. Reaksi positif didapatkan bila endapan yang menempel pada
permukaan kepingan tembaga dan terbentuk reaksi dengan warna tertentu (Elkins 1997).

METODOLOGI PRAKTIKUM
Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah keping-keping tembaga,
larutan logam yang akan dianalisa yaitu garam Hg, Ag, As, dan Bi, HNO3 pekat, HCL encer,
tabung reaksi, rak tabung reaksi, penjepit tabung reaksi, penangas air, dan alat pemanas.
Prosedur Kerja
Empat buah tabung reaksi disiapkan, masing-masing diisi dengan salah satu larutan
logam yang akan diperiksa (Hg, Ag, Bi, dan As). Pada tiap tabung ditambah HCL encer.
Keping-keping tembaga dibersihkan dengan merendamnya dalam HNO3 pekat sampai
permukaannya bersih dan mengkilat. Keping-keping tembaga yang telah bersih dimasukkan
ke dalam empat tabung reaksi tadi, kemudian tabung-tabung reaksi dimasukkan ke dalam
penangas air dan ditunggu selama 10 15 menit. Perubahan diamati.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Tabel 1 Hasil pengamatan identifikasi logam berat.
Perlakuan Hasil Gambar
Hg Menjadi berwarna abu-abu
mengkilat

Ag Terdapat endapan putih

As Menjadi berwarna hitam


Bi Menjadi berwarna keunguan

Pada percobaan kali ini, yaitu identifikasi racun logam berat dengan melakukan
identifikasi kimia sederhana. Percobaan ini dilakukan dengan Reinschs test yang merupakan
analisa kualitatif untuk logam-logam seperti Hg, Ag, As, dan Bi. Prinsip utama dari uji ini
adalah adanya logam berat dalam bentuk ion akan terikat pada platan tembaga (Cu), sehingga
platan tembaga terlapisi logam yang ada dalam suatu larutan. Cu (tembaga) yang digunakan
tidak ikut bereaksi dalam perubahan yang terjadi, tembaga hanya bertindak sebagai pengikat
yang akan menunjukkan hasil endapan yang terbentuk. Sebelumnya pencelupan logam Cu
terhadap HNO3 bertujuan untuk membersihkan plat logam Cu (Darmono 2006).
Perubahan yang terjadi pada plat tembaga berbeda-beda pada tiap-tiap tabung, yaitu
pada plat tembaga dalam tabung 1 (Hg++HCl 10%) terbentuk lapisan berwarna abu-abu
mengkilat 2HgCl2(aq)+2Cu2+(s 2CuCl(aq)+2Hg2+(s); tabung 2 (Ag++HCl 10%) terdapat
endapan putih, AgCl2(aq)+Cu2+(s) 2CuCl(aq+Ag+(s). Endapan yang terjadi merupakan reaksi
antara larutan AgNO3 dengan HCl. Menurut Mulyono (2005), kation golongan I (timbal,
merkuri, raksa, perak) akan membentuk endapan bila direaksikan dengan asam klorida encer.
Reaksi dapat dikurangi dengan suhu yang tinggi. Reaksi yang terjadi adalah
AgNO3(aq)+HCl(aq) AgCl(s)+HNO3(aq); tabung 3 (As++HCl 10%) terbentuk lapisan berwarna
hitam 3AsCl2(aq)+3Cu2+ 6CuCl(aq)+As3+(s). Ketika dipanaskan, arsen akan cepat teroksidasi
menjadi oksida arsen yang menghasilkan bau seperti bau bawang putih. Arsen berwarna abu-
abu kehitaman. Arsen membentuk As4S3, As4S4, As2S3 dan As2S5. As2S3, dan As2S5 akan
mengendap dari larutan asam hidroklorida; tabung 4 (Bi++HCl 10%) terbentuk lapisan
berwarna keunguan 2BiCl2(aq)+2Cu2+(s) 4CuCl(aq)+Bi2+(s). Perubahan yang terjadi pada
keempat plat tembaga menunjukkan adanya reaksi antara tembaga (Cu) logam berat yang
diuji yang bereaksi dengan tembaga sebagai endapan (deposit layer) yang melapisi plat
tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa larutan yang digunakan positif mengandung logam
berat yang diuji. Reaksi yang ditimbulkan dari pemasukan plat tembaga pada larutan logam
dibantu dengan menggunakan asam kuat berupa HCl encer 10% dan juga pemanasan. HCl
encer 10% dan pemanasan berfungsi sebagai katalisator yang mempercepat reaksi antara
tembaga dan larutan logam pada suasana asam (Darmono 2006; Sumardjo 2006).
SIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa logam tembaga
(Cu) dapat digunakan untuk mengidentifikasi racun logam berat, yaitu merkuri (Hg), perak
(Ag), arsen (As), dan bismuth (Bi) yang dibuktikan dengan adanya perubahan warna pada
permukaan kepingan tembaga dan terbentuknya endapan. Penambahan HCl encer 10% pada
percobaan ini berfungsi sebagai katalisator dan reaksi yang terjadi pada suasana asam.

DAFTAR PUSTAKA
Alexander JW. 2009. History od the medical use of silver. Surg Infect. 10(3): 289-292.
Cotton, Wilkinson. 2009. Kimia Anorganik. Jakarta (ID): UI Press.
Darmono. 2006. Lingkungan Hidup dan Pencemaran Hubungannya dengan Toksikologi
Senyawa Logam. Jakarta (ID): UI Press.
Edward. 2008. Pengamatan kadar merkuri di perairan Teluk Kao (Halmahera) dan Perairan
Anggai (Pulau Obi) Maluku Utara. Makara Sains. 12(2).
Elkins HB. 1997. The Chemistry of Industrial Toxicology. New York (USA): John Wiley B.
Sous Inc.
Lu Frank C. 2006. Toksikologi Dasar: Asas, Organ Sasaran, dan Penilaian Risiko. Jakarta
(ID): UI Press.
Mulyono HAM. 2005. Membuat Reagen Kimia di Laboratorium. Jakarta (ID): Bumi Aksara.
Sembel DT. 2015. Toksikologi Lingkungan. Yogyakarta (ID): Penerbit Andi.
Soemirat J et al. 2007. Toksikologi Lingkungan. Yogyakarta (ID): Gadjah Mada University
Press.
Sumardjo D. 2006. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran dan
Program Strata I Fakultas Bioeksakta. Jakarta (ID): Penerbit EGC.
Wurdiyanto G. 2007. Merkuri, bahayanya dan pengukurannya. Buletin Alara. 9(1).
Yudo S. 2006. Kondisi pencemaran logam berat di perairan sungai dki jakarta. JAI. 2(1): 1-
15.