Anda di halaman 1dari 83

NASKAH AKADEMIK

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA MALANG

TENTANG

PAJAK RUMAH KOST

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada hakekatnya manusia merupakan makhluk sosial, yang mana dalam

memenuhi kebutuhannya mereka akan membutuhkan satu sama lain. Kebutuhan

manusia itu sendiri sangat beragam, salah satunya tempat tinggal atau rumah.

Kota Malang yang diidentikkan sebagai kota pelajar tentu banyak pendatang yang

barasal dari berbagai daerah. Dengan banyaknya pendatang tersebut masyarakat

memanfaatkan peluang dengan membuka usaha rumah kos-kosan.


Membuka usaha rumah kost adalah peluang bisnis yang sangat

menjanjikan. Selain penghasilan yang terus mengalir setiap bulannya, sebagai

usaha jangka panjang, yakni pemilik rumah kost dapat menikmati keuntungan dari

terus naiknya nilai tanah. Dengan menekuni usaha ini pemilik rumah kost akan

mendapatkan untung yang berlipat. Tetapi dari berbagai keuntungan adanya

rumah kost tak terlepas dari permasalahan dari berbagai aspek di dalam kehidupan

masyarakat maupun dari kalangan pemerintahan.


Disini peran Pemerintah Kota Malang sangatlah dibutuhkan mengingat

kewajiban Pemerintah maupun Pemerintah Daerah dalam memberikan pelayanan

publik termasuk pula berkaitan dengan permukiman yang sehat dan aman bagi

masyarakat. Hal ini diatur dalam Pasal 28H Ayat (1) UUDNRI 1945 yang

1
berbunyi setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal

dan mendapat lingkungan hidup yang baik dan baik dan sehat serta berhak

memperoleh pelayanan kesehatan. Sehingga, berdasarkan Pasal 28H Ayat (1)

UUDNRI 1945 tersebut akan membawa konsekuensi hukum bahwa Pemerintah

termasuk Pemerintah Daerah merupakan pihak yang bertanggung jawab di bidang

penyelenggaraan perumahan atau permukiman dalam rangka pengelolaan rumah

kos secara terpadu. Saat ini banyak rumah kos yang tidak memenuhi syarat

permukiman yang sehat dan berwawasan lingkungan.


Tidak hanya syarat permukiman sehat yang belum tepenuhi, muncul pula

permasalahan kompleks yaitu terkait dengan sektor pajak. Berdasarkan

permasalahan tersebut pemerintah kota Malang memiliki kewajiban untuk

mengatur perihal rumah kost baik dari segi pemberian standart pendirian,

kelayakan dan pengaturan pajak rumah kost tersebut.


Dalam menyelesaikan permasalahan tersebut Kota Malang dapat

menjalankan wewenangnya dalam mengatur dan mengurus sendiri urusan

pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat. Hal ini berkaitan dengan

asas otonomi daerah sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 18 Ayat (2)

UUDNRI 1945, bahwa pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota

mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan

tugas pembantuan. Selain itu dalam Pasal 18 ayat (5) UUDNRI 1945 dijelaskan

Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan

pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan Pemerintah

Pusat.
Urusan Pemerintahan terdiri atas urusan pemerintahan absolut, urusan

pemerintahan konkuren, dan urusan pemerintahan umum. Urusan pemerintahan

absolut adalah Urusan Pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan

2
Pemerintah Pusat. Sedangkan Urusan pemerintahan konkuren adalah Urusan

Pemerintahan yang dibagi antara Pemerintah Pusat dan Daerah provinsi dan

Daerah kabupaten/kota. Urusan pemerintahan umum yaitu Urusan Pemerintahan

yang menjadi kewenangan Presiden sebagai kepala pemerintahan.


Dalam hal urusan Pemerintah Daerah maka akan berkaitan dengan urusan

pemerintahan konkuren, dimana urusan pemerintahan konkuren yang diserahkan

ke Daerah akan menjadi dasar pelaksanaan Otonomi Daerah (Pasal 9 UU

Pemerintahan Daerah).
Dalam menyelenggarakan otonomi daerah dan tugas pembantuan tersebut,

daerah (kota Malang) perlu membentuk suatu Peraturan Daerah (Pasal 236 Ayat

(1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah).

Selanjutnya dalam Pasal 236 Ayat (3) dan (4) UU Pemerintahan Daerah memuat

materi muatan: a. penyelenggaraan Otonomi Daerah dan Tugas Pembantuan; dan

b. penjabaran lebih lanjut ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih

tinggi. Selain materi muatan tersebut dapat juga memuat materi muatan lokal

sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.


Dengan banyaknya jumlah rumah kos di kota Malang maka bertambah

pula jumlah pendapatan daerah. Dengan begitu maka diaturlah pajak dan retribusi

daerah. Pengadaan pajak dan retribusi daerah yang baru perlu dipertimbangkan

agar tidak menimbulkan permasalahan dalam masyarakat. Penciptaan suatu jenis

pajak dan retribusi selain harus mempertimbangkan kriteria-kriteria perpajakan

dan retribusi yang berlaku juga harus memperhatikan ketepatan suatu jenis pajak

dan retribusi sebagai pajak dan retribusi daerah, sebab pajak dan retribusi daerah

yang baik akan meningkatkan pelayanan kepada publik yang juga akan

meningkatkan perekonomian suatu daerah.


Kewenangan pengaturan Pajak diatur dalam Pasal 2 Undang-Undang No

3
28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (selajutnya disebut UU

PDRD). Dalam Pasal tersebut mengatur bahwa:


(1) Jenis Pajak provinsi terdiri atas:
a. Pajak Kendaraan Bermotor;
b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor;
c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;
d. Pajak Air Permukaan; dan
e. Pajak Rokok.

(2) Jenis Pajak kabupaten/kota terdiri atas:

a. Pajak Hotel;

b. Pajak Restoran;

c. Pajak Hiburan;

d. Pajak Reklame;

e. Pajak Penerangan Jalan;

f. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan;

g. Pajak Parkir;

h. Pajak Air Tanah;

i. Pajak Sarang Burung Walet;

j. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan; dan

k. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

(3) Daerah dilarang memungut pajak selain jenis Pajak sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).

(4) Jenis Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat

tidak dipungut apabila potensinya kurang memadai dan/atau

disesuaikan dengan kebijakan Daerah yang ditetapkan dengan

Peraturan Daerah.

(5) Khusus untuk Daerah yang setingkat dengan daerah provinsi, tetapi

4
tidak terbagi dalam daerah kabupaten/kota otonom, seperti Daerah

Khusus Ibukota Jakarta, jenis Pajak yang dapat dipungut merupakan

gabungan dari Pajak untuk daerah provinsi dan Pajak untuk daerah

kabupaten/kota.

Dari hasil pembagian jenis pajak tersebut daerah dalam tingkat kabupaten/

kota hanya boleh memungut pajak yang tertuang dalam pasal tersebut dan

dilarang untuk memungut hasil pajak dari yang telah di atur.1

Dimana dibutuhkan sebuah pengaturan tentang penarikan pajak dan

retribusi untuk memberikan kepastian hukum yang diperlukan untuk menjaga

hak-hak setiap warga negara Indonesia. Pengaturan disetiap daerah disesuaikan

dengan keadaan dan kebutuhan dari masyarakatnya. Salah satunya adalah Kota

Malang yang belum memiliki Peraturan daerah mengenai Pajak Hotel yang

mengara lebih spesifik mengatur mengenai pajak rumah kost. Dimana Kost adalah

sebuah jasa yang menawarkan sebuah kamar atau tempat untuk ditinggali dengan

sejumlah pembayaran tertentu untuk setiap periode tertentu (umumnya

pembayaran per bulan atau tergantung kesepakatan para pihak).

Meskipun dalam ayat (2) UU PDRD tersebut tidak membahas tentang

rumah kos, namun rumah kos dengan jumlah kamar lebih dari 10 (sepuluh) dapat

dijadikan objek pajak hotel dimana rumah kos tersebut wajib pula membayar

pajak sama halnya dengan hotel (lihat Pasal 4 ayat (3) huruf d Peraturan Daerah

Kota Malang Nomor 2 Tahun 2015 tentang Pajak Daerah).

Sehingga berdasarkan uraian di atas perlu dibentuk Peraturan Daerah

tentang Pajak Rumah Kos.

1
Pasal 2Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah

5
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan dengan uraian latar belakang diatas, bahwa dengan semakin

banyaknya masyarakat yang memanfaatkan rumahnya untuk membuka usaha

rumah kost di kota Malang, maka di perlukannya suatu Peraturan Daerah Kota

Malang untuk mengatur mengenai pajak rumah kos serta mengatur pembukaan

usaha rumah kost itu sendiri. Maka dari itu diperlukannya inventarisasi isu yang

strategis sebagai sasaran dari yang harus menjadi target fungsional dari peraturan

daerah itu sendiri. Berikut ini merupakan isu strategis dan mendasar berkaitan

dengan Rencana Peraturan Daerah Kota Malang mengenai pajak rumah kos.
1. Apakah permasalahan yang di hadapi dalam kehidupan berbangsa, bernegara

dan bermasyarakat serta cara-cara mengatasi permasalahan hukum yang di

hadapi sebagai landasan pembentukan Rancangan Peraturan Daerah Kota

Malang mengenai Pajak Rumah Kos?


2. Mengapa diperlukan Rancangan Peraturan Daerah Kota Malang tentang

Pajak Rumah Kos?


3. Apakah yang menjadi landasan filosofis, sosiologis, yuridis dalam

pembentukan Rancangan Peraturan Daerah Kota Malang tentang Pajak

Rumah Kos?
4. Apakah sasaran yang akan di wujudkan, ruang lingkup pengaturan, jangkauan

dan arah pengaturan dalam Rancangan Peraturan Daerah Kota Malang

tentang Pajak Rumah Kos?

C. Tujuan Dan Kegunaan

Sesuai dengan ruang lingkup identifikasi masalah yang dikemukakan di atas,

tujuan penyusunan Naskah Akademik dirumuskan sebagai berikut:

6
1. Merumuskan permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan berbangsa,

bernegara, dan bermasyarakat serta cara-cara mengatasi permasalahan hukum

yang di hadapi sebagai landasan pembentukan Rancangan Peraturan Daerah

Kota Malang mengenai Pajak Rumah Kos.

2. Merumuskan permasalahan hukum yang dihadapi sebagai alasan

pembentukan Rancangan Peraturan Daerah Kota Malang mengenai Pajak

Rumah Kos.

3. Merumuskan pertimbangan atau landasan filosofis, sosiologis, yuridis

pembentukan Rancangan Peraturan Daerah Kota Malang mengenai Pajak

Rumah Kos.

4. Merumuskan sasaran yang akan diwujudkan, ruang lingkup pengaturan,

jangkauan, dan arah pengaturan dalam Rancangan Peraturan Daerah Kota

Malang mengenai Pajak Rumah Kos.

Sementara itu, kegunaan penyusunan Naskah Akademik adalah sebagai

acuan atau referensi penyusunan dan pembahasan Rancangan Undang-Undang

atau Rancangan Peraturan DaerahKota Malang mengenai Pajak Rumah Kos.

D. Metode

Penyusunan Naskah Akademik pada dasarnya merupakan suatu kegiatan

penelitian sehingga digunakan metode penyusunan Naskah Akademik yang

berbasiskan metode penelitian hukum atau penelitian lain.

1. Metode Penulisan
Metode penelitian yang dipilih dalam penyelesaian Naskah Akademik

Rancangan Peraturan Daerah Kota Malang tentang Pajak Rumah Kost di

Kota Malang, menggunakan metode yuridis normatif dan yuridis empiris.

7
Kedua metode ini digunakan karena dianggap perlunya kedua metode ini

agar Rancangan Peraturan Daerah Kota Malang ini dapat dilaksanakan

dengan baik saat berlakunya Rancangan Peraturan Daerah Kota Malang ini.
a. Yuridis normatif
Metode yuridis normatif dilakukan dengan cara studi pustaka yang

menelaah terutama data sekunder berupa Peraturan Perundang-

undangan, Putusan Pengadilan, Perjanjian, Kontrak, atau Dokumen

Hukum lainnya.
b. Yuridis empiris
Metode penelitian ini diawali dengan penelitian normatif atau

berkaitan dengan Peraturan Perundang-undangan yang dilanjutkan

dengan observasi yang mendalam serta penyebar luasan kuesioner

untuk mendapatkan data faktor non hukum yang terkait dan yang

berpengaruh terhadap Peraturan Perundang-undangan yang diteliti.

2. Pengumpulan Bahan Hukum

a. Yuridis Normatif
Pengumpulan data hukum pada metode yuridis normatif

merupakan pengumpulan data melalui berbagai Peraturan perundang

Undangan, putusan pengadilan, perjanjian, kontrak, dan dokumen

hukum lainnya. Pengumpulan bahan hukum perihal terkait dengan

Rancangan Peraturan Daerah Kota Malang mengenai Rumah Kost di

Kota Malang meliputi Undang-Undang Dasar Negara Republik

Indonesia 1945, Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang

Pemerintahan Daerah, Undang-Undang No. 28 tahun 2009 tentang

Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.


b. Yuridis Empiris

8
Pengumpulan data hukum pada metode yuridis empiris pada

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Malang ini akan

menggunakan pengumpulan data dengan cara Kuesioner, observasi

dan wawancara. Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang

dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau

pernyataan kepada orang lain yang dijadikan responden untuk

dijawabnya.
Pada tahap Kuesioner, terdapat 10 pertanyaan yang ditujukan

kepada pemilik rumah kost, 10 pertanyaan yang ditujukan kepada

pengguna rumah kost dan 10 pertanyaan yang ditujukan kepada

masyarakat lingkungan sekitar rumah kost dimana kuesioner ini

memakai bentuk kuesioner tertutup. Yang disebar ke 5 daerah rumah

kost di kota Malang :


a. Rumah Kost di Kertosentono
b. Rumah Kost di Bendungan Sigura-gura
c. Rumah Kost di Kalpataru
d. Rumah Kost di MT Haryono
e. Rumah Kost di Merjosari

Dan 10 Pertanyaan dalam bentuk kuesioner tertutup tersebut ada pada

lampiran 1.

Sedangkan Observasi adalah teknik pengumpulan data yang

dilakukan secara sistematis, langsung, dan tidak langsung yang

dilakukan melalui pengamatan dan pencatatan gejala-gejala yang

diselidiki. Observasi dilakukan dengan cara penelitian lebih mendalam

mengenai lokasi rumah kost, rumah kost yang akan dilakukan observasi

terdiri dari 10 rumah kost yang berada di daerah Kota Malang.

Dimana penelitian ini terdiri dari alamat, waktu (hari, tanggal,

9
jam), obyek, hasil, dan penanggung jawab. Cara ini dianggap penting

agar dapat menyesuaikan atas implementasi dan permasalahan yang

ada yang menjadi dasar pertimbangan Rancangan Peraturan Daerah

untuk menganggulangi permasalahan tersebut. Daftar observasi ada

dalam lampiran 2.

Selain itu bahan hukum lainnya tim peroleh melalui wawancara

langsung kepada beberapa Instansi Pemerintah Kota Malang yaitu

Dinas Pendapatan Daerah Kota Malang, dan Dinas Perumahan Kota

Malang, untuk mendapatkan informasi yang teperinci tentang

bagaimana pengelolaan pajak daerah Kota Malang terkait pembentukan

Naskah Akademik Peraturan Daerah Kota Malang tentang Rumah Kost.

Daftar pertanyaan wawancara ada dalam lampiran 3.

3. Pengelolaan Bahan Hukum

a. Yuridis Normatif
Pengelolaan data dalam metode yuridis normatif yaitu dengan

cara menelaah pasal-pasal dari sebuah produk hukum Bahan hukum

yang telah diperoleh baik melalui pengumpulan bahan hukum

selanjutnya diedit, untuk memeriksa apakah bahan hukum tersebut

layak atau valid untuk dilanjutkan kemudian serta untuk menjamin

apakah bahan hukum tersebut sudah dapat dipertanggungjawabkan

sesuai dengan kenyataan, untuk selanjutnya dianalisis untuk

memperoleh suatu kesimpulan. Analisis bahan hukum dilakukan

dengan menggunakan metode deskriptif-analitis, yaitu suatu metode

10
penulisan yang menggunakan bahan hukum atau fakta yang ada dengan

menggambarkan setiap aspeknya sebagaimana adanya.


b. Yuridis Empiris
Pengelolaan data dalam metode yuridis empiris ini akan

dilakukan dengan cara kuesioner, observasi dan wawancara di beberapa

daerah tertentu.
Pada tahap Kuesioner, pengelolaan data di lakukan dengan

melalui metode tabulasi dimana jawaban-jawaban yang serupa

dikelompokan dengan cara yang teliti dan teratur, kemudian dihitung

dan dijumlah berapa banyak peristiwa/item yang termasuk dalam satu

kategori. Sehingga terbetuk tabel yang lengkap dengan judul dan

kolom-kolom beserta keterangan di dalam bentuk prosentase mengenai

kesetujuan dan ketidak setujuan masyarakat atas dibentuknya Peraturan

Daerah Kota Malang tentang Pajak Rumah Kost.


Pada tahap Observasi, pengelolaan bahan hukum yang diperoleh

melalui metode observasi adalah dengan cara editing dimana tim

mengoreksi atau melakukan pengamatan yang dapat dilakukan ditempat

penelitian. Yang perlu diamati adalah bagaimana kondisi rumah kost

yang di teliti, jumlah kamar yang ada, kondisi lingkungan, dan fasilitas

yang ada di rumah kost tersebut.


Tahap Wawancara di lakukan dengan pengolahan data melalui

metode tabulasi atau metode kodifikasi berdasarkan hasil wawancara

yang diperoleh. Dimana dengan dilakukannya wawancara diharapkan

bahan hukum yang diperoleh tentang hal-hal yang berhubungan dengan

pemungutan pajak kost di Kota Malang lebih detail dan terperinci.

11
BAB II
KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIK EMPIRIS

A. Kajian Teoritis

Pembukaan UUD 1945 dengan tegas menetapkan tujuan kehidupan

bernegara yang berdasarkan hukum, hal ini berarti bahwa ada supremasi hukum

atau tidak ada kekuasaan lain yang lebih tinggi selain hukum. Berdasarkan UUD

1945 tersebut upaya mewujudkan kehidupan bernegara yang sesuai dengan

amanat UUD tersebut maka hukum menjadi pengarah, perekayasa, dan perancang

bagaimana bentuk masyarakat hukum untuk mencapai keadilan.

Berkaitan dengan hal tersebut maka diperlukan pembentukan peraturan

perundang-undangan. Peraturan tersebut harus disesuaikan dengan perkembangan

masyarakat serta tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang

lebih tinggi. Peraturan tersebut diatur oleh pejabat publik sesuai dengan

wewenangnya. Terdapat beberapa teori antara lain sebagai berikut:

1. Teori Law as a tool of social engineering (Roscoe Pound)

Law as a tool of sosial engineering (hukum sebagai alat untuk

memperbaharui atau merekayasa masyarakat) yang berarti hukum sebagai

alat pembaharuan dalam masyarakat. Teori ini dikemukakan oleh Roscoe

Pound. Teori ini mengharapkan agar hukum berperan sebagai alat

12
perubahan nilai-nilai sosial dalam masyarakat. Law as a tool of social

engineering dapat pula diartikan sebagai sarana yang ditujukan untuk

mengubah perilaku warga masyarakat, sesuai dengan tujuan-tujuan yang

telah ditetapkan sebelumnya.2

Disesuaikan dengan situasi dan kondisi di Indonesia, konsepsi law

as a tool of social engineering itu dikembangkan oleh Mochtar

Kusumaatmadja. Menurut Mochtar hukum merupakan sarana

pembaharuan masyarakat, yang didasarkan atas anggapan bahwa adanya

keteraturan atau ketertiban dalam usaha pembangunan atau pembaharuan

merupakan kondisi yang diinginkan atau bahkan dipandang mutlak

diperlukan3.

Untuk dapat memenuhi peran hukum sebagai alat pembaharuan

dalam masyarakat Rescoe Pound lalu membuat penggolongan atas

kepentingan-kepentingan yang harus dilindungi oleh hukum itu sendiri,

yaitu sebagai berikut :

a. Kepentingan Umum (Public Interest)

1. Kepentingan Negara sebagai badan hukum

2. Kepentingan Negara sebagai penjaga kepentingan masyarakat.

b. Kepentingan Masyarakat (Social Interest)

1. Kepentingan kedamaian dan ketertiban

2. Perlindungan lembaga-lembaga social

3. Pencegahan kemerosotan akhlak

2
Soerjono Soekanto, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, Rajawali Pers, Jakarta , 2009,
hlm.15
3
Mochtar Kusumaatmadja, Hukum Masyarakat dan Pembinaan Hukum Nasional, Bina
Cipta, Bandung , 1995, hlm.23

13
4. Pencegahan pelenggaran hak

5. Kesejahteraan social

c. Kepentingan Pribadi (Private Interest)

d. Kepentingan Keluarga

2. Teori Stufenbau (Hans Kelsen)

Teori Stufenbau menyatakan bahwa hukum itu bersifat hierarkis yang

artinya hukum itu tidak boleh bertentangan dengan ketentuan yang lebih

tinggi. Menurut Kelsen norma hukum yang paling dasar (grundnorm)

bentuknya tidak kongkrit (abstrak). Norma hukum paling dasar abstrak

adalah Pancasila. Ketentuan yang lebih rendah merupakan kongkretisasi

dari ketentuan yang lebih tinggi. Menurut sosiologi hukum Grundnorm

adalah dasar atau basis sosial dari hukum itu yang merupakan salah satu

objek pembahasan di dalam sosiologi hukum4.

Kaitan teori ini dalam kegiatan standar pembangunan perumahan ialah

peraturan daerah mengenai pembangunan perumahan ini harus

berlandaskan Pancasila, khususnya sila ke-5 yaitu Keadilan Sosial Bagi

Seluruh Rakyat Indonesia serta sila ke-2 Kemanusiaan yang Adil dan

Beradab, di mana pengaturan mengenai perumahan rakyat harus

mengakomodir hak dan kepentingan seluruh masyarakat kota Malang agar

mendapatkan hunian yang sesuai dengan standar kelayakan dan kesehatan.

Berkaitan dengan hal tersebut maka sudah selayaknya terdapat standarisasi

4
H.Zainuddin Ali, Sosiologi Hukum, Sinar Grafika, Cetakan Kedelapan, Jakarta, 2014,
Hlm.2

14
yang dilakukan oleh pemerintah terhadap kelayakan suatu perumahan,

yang dalam hal ini difokuskan terhadap hunian rumah kost.

3. Teori Pemungutan Pajak

a. Teori Asuransi

Teori ini menyatakan bahwa pembayaran suatu pajak dianggap

sebagai premi asuransi yang harus dibayar masyarakat, karena dalam

pemungutan ini merupakan tugas Negara untuk untuk melindungi

orang dan segala kepentingannya, keselamatan serta keamanan jiwa

juga harta bendanya5. Dalam hal ini Negara diposisikan sebagai

penanggung dan pembayar pajak diposisikan sebagai tertanggung.

Dalamperjanjian asuransi hubungan antara prestasi dan kontrapestasi

terjadi secara langsung.

b. Teori Kepentingan

Bahwa negara berhak memungut pajak karena Negara telah

melindungi kepentingan rakyat, makin besar kepentingan penduduk

kepada suatu negara, maka makin besar pula pajak yang harus

dibayarnya kepada negara6.

c. Teori Bakti

Mengajarkan bahwa penduduk adalah bagian dari suatu negara,

karena itu penduduk terikat pada negara dan wajib membayar pajak

kepada negara dala arti berbakti pada negara.7 Teori ini berdasarkan
5
Tunggul Anshari Setia Negara, Pengantar Hukum Pajak, Bayumedia Publishing,
Malang, 2008, hlm.35
6
Ibid., hlm. 35-36.
7
Ibid., hlm.36

15
atas paham organische staatsleer. Orang-orang tidaklah berdiri

sendiri, dengan tidak adanya persekutuan, tidaklah akan ada individu.

Oleh karena persekutuan itu (yang menjelma jadi negara), berhak atas

satu dan lain. Sejak berabad-abad hak ini telah diakui, dan orang-

orang selalu menganggapnya sebagai kewajiban individu untuk

membuktikan sumbangsihnya terhadap negara dalam bentuk

pembayaran pajak tersebut.

d. Teori Daya Pikul

Teori ini menganut paham dasar keadilan pemungutan pajak

pemerintah terletak pada jasa-jasa yang diberikan oleh Negara kepada

rakyatnya, yaitu perlindungan atas jiwa dan harta benda rakyat. Untuk

itu diperlukan biaya yang harus dipikul oleh segenap orang yang

menikmati perlindungan itu, yaitu dalam bentuk pajak8.

e. Teori Daya Beli

Menurut teori ini, fungsi pemungutan pajak jika dipandang sebagai

gejala dalam masyarakat, dapat disamakan dengan mengambil daya

beli dalam rumah tangga dalam masyarakat untuk rumah tangga

negara, dan kemudian menyalurkannya kembali kemasyarakat dengan

maksud untuk memelihara hidup masyarakat dan untuk membawanya

ke arah tertentu. Teori ini mengajarkan, bahwa penyelenggaraan

kepentingan masyarakat inilah yang dapat dianggap sebagai dasar

keadilan dalam pemungutan pajak, bukan untuk kepentingan individu

8
Ibid, hlm. 37.

16
juga bukan kepentingan negara, melainkan kepentingan masyarakat

yang meliputi keduanya9.

4. Teori Otonomi daerah

Terkait dengan teori teori yang disebutkan diatas bahwa Pajak

Rumah Kost merupakan kewenangan yang diberikan oleh pemerintah

pusat kepada pemerintah daerah dimana pemerintah daerah berwenang

mengatur dan mengurus urusan rumah tangganya sendiri yang dalam hal

ini adalah daerah otonom. Daerah otonom adalah kesatuan masyarakat

hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur

dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat

menurut prakarsa sendiri, berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem

Negara Kesatuan Republik Indonesia.10

Dalam Sistem penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia

berdasarkan pendekatan kesisteman meliputi sistem pemerintahan pusat

atau disebut pemerintah dan sistem pemerintah daerah. Praktik

penyelenggaraan pemerintahan dalam hubungan antar pemerintahan

dikenal dengan konsep sentralisasi dan desentralisasi. Sentralisasi berarti

pemerintahan secara terpusat, sehingga segala peraturan yang ada

bersumber dari pemerintah pusat. Sentralisasi disamakan artinya dengan

konsentrasi.

9
Ibid., hlm. 36-37.
10
H. Siswanto Sunarno, Hukum Pemerintahan Daerah di Indonesia, Sinar Grafika,
Jakarta, Cetakan Ke-5, 2014, hlm.6

17
Sentralisasi sebagai satu sistim dalam organisasi

pemerintahan mempunyai beberapa kebaikan diantaranya :

1. Sentralisasi menjadi landasan kesatuan kebijaksanaan lembaga

atau masyarakat.

2. Sentralisasi dapat mencegah keinginan memisahkan diri dari Negara

dan dapat meningkatkan rasa persatuan.

3. Sentralisasi meningkatkan rasa persamaan dalam perundang-

undangan, pemerintahan dan pengadilan sepanjang mengenai

kepentingan seluruh wilayah dan bersifat serupa.

4. Terdapat hasrat lebih mengutamakan kepentingan umum dari pada

kepentingan daerah, golongan atau perorangan ; masalah biaya untuk

keperluan umum menjadi beban merata dari seluruh pihak.

5. Tenaga yang lemah dapat dihimpun menjadi suatu kekuatan

yang besar Dengan demikian dapat menyelenggarakan sesuatu yang

besardan berarti di bidang materil, idiil maupun moril.

6. Sentralisasi meningkatkan dayaguna dan hasilguna

dalam penyelenggaraan pemerintahan meskipun hal tersebut belum

merupakan suatu kepastian.

Sedangkan desentralisasi berarti penyerahan wewenang dari

pemerintah pusat kepada daerah otonom untuk menjalankan urusan-

urusan pemerintahan dalam system NKRI11. Secara teoritis berbagai

11
M. Bakri dkk., Pengantar Hukum Indonesia Pembidangan Dan Asas-Asas Hukum Jilid
2, UB Press, Malang, 2013, hlm.59.

18
penafsiran diberikan terhadap desentraliasi. Misalnya Rondinelli

merumuskan desentralisasi sebagai penyerahan tanggung jawab untuk

perencanaan, manajemen, penggalian dana, alokasinya dari pemerintah

pusat kepada unit-unit pemerintah yang ada didaerah. Karena itulah

Rondinelli memberikan empat jenis desentralisasi yaitu: deconcentration,

delegation, devolution dan privatization.

Desentralisasi sebagai suatu sistem dalam organisasi pemerintahan

menurut J. In het Veld mempunyai kebaikan :

1. Desentralisasi memberi penilaian yang lebih tepat terhadap daerah

dan penduduk yang beraneka ragam.


2. Desentralisasi meringankan beban pemerintah, karena pemerintah

pusat tidak mungkin mengenal seluruh dan segala kepentingan dan

kebutuhan setempat dan tidak mungkin pula mengetahui bagaimana

memenuhi kebutuhan tersebut sebaik-baiknya. Daerahlah

yang mengetahui sedalam-dalamnya kebutuhan daerah dan

bagaimana memenuhinya.
3. Masyarakat setempat dapat kesempatan ikut serta dalam

penyelenggaraan pemerintahan dan ikut serta dalam penyelenggaraan

pemerintahan.
4. Meningkatkan turut sertanya masyarakat setempat dalam

melakukan control terhadap segala tindakan dan tingkah

laku pemerintah. Ini dapat menghindarkan pemborosan,

dan dalam hal tertentu desentralisasi dapat meningkatkan daya guna

dan hasil guna.

Dalam kepustakaan dikenal dua macam desentralisasi:

19
1. Desentralisasi jabatan, yaitu pemencaran kekuasaan dari atasan kepada

bawahan sehubungan dengan kepagawaian atau jabatan dengan

maksud untuk meningkatkan kelancaran kerja. Oleh karena itu

desentralisasi semacam ini disebut juga dekonsentrasi. Jika

demikian maka apa yang disebut dekonsentrasi adalah tidak lain dari

pada salah satu jenis desentralisasi; dekonsentrasi adalah pasti

desentralisasi tetapi desentralisasi tidak selalu berarti dekonsentrasi.

2. Desentralisasi kenegaraan, yaitu penyerahan kekuasaan untuk

mengatur daerah dalam lingkungannya sebagai usaha untuk

mewujudkan asas demokrasi dalam pemerintahan Negara. Dalam

desentralisasi ini rakyat secara langsung mempunyai kesempatan

untuk turut serta dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerahnya.

Agar suatu peraturan perundang-undangan dapat diberlakukan, peraturan

perundang-undangan tersebut harus memenuhi persyaratan kekuatan berlaku. Ada

tiga macam kekuatan berlaku antara lain sebagai berikut:

A. Kelakuan atau hal berlakunya secara yuridis, yang mengenai hal ini dapat

dijumpai anggapan-anggapan sebagai berikut:

1. Hans Kelsen menyatakan bahwa kaedah hukum mempunyai kelakuan

yuridis, apabila penentuannya berdasarkan kaedah yang lebih tinggi

tingkatnya;

2. W. Zevenbergen menyatakan, bahwa suatu kaedah hukum mempunyai

kelakuan yuridis, jikalau kaedah tersebut, op de vereischte wrijze is

tot stant gekomen (Terjemahannya: ...terbentuk menurut cara yang

20
telah ditetapkan);

3. J.H.A Logemann mengatakan bahwa secara yuridis kaedah hukum

mengikat, apabila menunjukkan hubungan keharusan antara suatu

kondisi dan akibatnya.

B. Kelakuan sosiologi atau hal berlakunya secara sosiologis, yang

intinyaadalah efektivitas kaedah hukum di dalam kehidupan bersama.

Mengenai hal ini dikenal dua teori:

1. Teori Kekuasaan (Machttheorie; The Power Theory) yang pada

pokoknya menyatakan bahwa kaedah hukum mempunyai kelakuan

sosiologis, apabila dipaksakan berlakunya oleh penguasa, diterima

ataupun tidak oleh warga-warga masyarakat;

2. Teori Pengakuan (Anerkennungstheorie, The Recognition

Theory ) yang berpokok pangkal pada pendapat, bahwa kelakuan

kaedah hukum didasarkan pada penerimaan atau pengakuan oleh

mereka kepada siapa kaedah hukum tadi tertuju.

C. Kelakuan filosofis atau hal berlakunya secara filosofis. Artinya adalah,

bahwa kaedah hukum tersebut sesuai dengan cita-cita hukum (Rechtsidee)

sebagai nilai positif yang tertinggi (Uberpositieven Wert), misalnya,

Pancasila, Masyarakat Adil dan Makmur, dan seterusnya.12

Menurut Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto dalam pembentukan

peraturan perundangan-undangan harus mem-perhatikan asas-asas peraturan

perundang-undangan antara lain:

1. Undang-Undang tidak dapat berlaku surut


12
Soerjono Soekanto & Purnadi Purbacaraka, Perihal Kaidah-Kaidah Hukum, PT. Citra
Aditya Bakti, Bandung, 1993, hlm.60.

21
2. Undang-Undang tidak dapat diganggu gugat;

3. Undang-Undang yang dibuat oleh penguasa lebih tinggi mempunyai

kedudukan yang tinggi pula (Lex superiori derogat legi inferiori);

4. Undang-Undang yang bersifat khusus akan mengesampingkan atau

melumpuhkan undang-undang yang bersifat umum (Lex specialis

derogat legi generalis);

5. Undang-Undang yang baru mengalahkan atau melumpuhkan undang-

undang yang lama (Lex posteriori derogat legi priori);

6. Undang-Undang merupakan sarana maksimal bagi kesejahteraan

spiritual masyarakat maupun individu, melalui pembaharuan atau

pelestarian.13

B. Kajian terhadap asas dan prinsip

Penyelenggaraan pembangunan rumah kos dilakukan secara optimal

sebagai satu kesatuan sistem yang pelaksanaanya dapat dilakukan dengan

memanfaatkan berbagai pendekatan yang efektif dan implementasinya dapat

disesuaikan dengan kondisi lokal baik aspek budaya, sosial, yang ada di kota

Malang. Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Malang tentang

Pajak Rumah Kos bertujuan agar terciptanya kawasan rumah kos yang layak huni

dengan tidak melanggar aspek dasar yakni terkait dalam hal keadilan, ketertiban,

kepastian hukum, kebangsaan, selain berpedoman kepada aspek dasar dalam

penyusuna Naskah akademik ini berpedoman pada asas :

1. Asas domisili (Tempat Tinggal)

13
Ellydar Chaidir & Sudi Fahmu, Hukum Perbandingan Konstitusi, Total Media,
Yogyakarta, 2010, hlm.76.

22
Dalam asas ini pemungutan pajak berdasarkan pada domisili atau tempat

tinggal Wajib Pajak dalam suatu negara. Negara di mana Wajib Pajak

bertempat tinggal berhak memungut pajak terhadap Wajib Pajak tanpa

melihat dari mana pendapatan atau penghasilan tersebut diperoleh, baik

dari dalam negeri maupun dari luar negeri dan tanpa melihat

kebangsaan/kewarganegaraan Wajib Pajak tersebut.

2. Asas Sumber

Dalam asas ini pemungutan pajak didasarkan pada sumber

pendapatan/penghasilan dalam suatu negara. Menurut asas ini, negara yang

menjadi sumber pendapatan/penghasilan tersebut berhak memungut pajak

tanpa memperhatikan domisili dan kewarganegaraan Wajib Pajak.

3. Asas Kebangsaan

Dalam asas kebangsaan (nationaliteit) ini, pemungutan pajak didasarkan

pada kebangsaan atau kewarganegraan dari Wajib Pajak, tanpa melihat dari

mana sumber pendapatan/penghasilan tersebut maupun di negara mana

tempat tinggal (domisili) dari wajib pajak yang bersangkutan.

Selain berpedoman kepada ketiga asas yang telah dijabarkan diatas,

pembentukan rancangan peraturan daerah mengenai pajak rumah kos harus sesuai

dengan asas yang tercantum dalam Undang-undang No.12 Tahun 2011 tentang

Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan Yakni :

a. Asas Kejelasan Tujuan adalah bahwa setiap pembentukan Peraturan

Perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak

dicapai, dimana tujuan dari pembentukan Naskah Akademik Rancangan

23
Peraturan Daerah Kota Malang tentang Pajak Rumah Kost di Kota Malang

adalah memberikan kejelasan tentang bagaimana mekanisme pemungutan

yang baik dan untuk membantu peningkatan Anggaran Pendapatan

Daerah.

b. Asas dapat dilaksanakan bahwa setiap pembentukan peraturan

perundang-undangan harus memperhitungkan efektifitas peraturan

perundang-undangan tersebut, baik secara filosofii, yuridis maupun

sosiologis.

1. Aspek filosofi berkaitan dengan nilai-nilai etika dan moral yang

berlaku di masyarakat yang tinggal di sekitar daerah kost-kostan.

2. Aspek yuridis terkait dengan landasan hukum berkaitan kewenangan

membentuk peraturan daerah kota Malang tentang pemungutan pajak

rumah kost.

3. Aspek sosiologis, terkait kesesuaian peraturan daerah dengan

kenyataan hidup masyarakat yang ada di kota Malang terutama di

daerah yang banyak terdapat rumah kost.

c. Asas kedayagunaan dan kehasilgunaan bahwa setiap Peraturan

Perundang-undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan

bermanfaat dalm mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan

bernegara. Peraturan Daerah Kota Malang tentang Pajak Rumah Kos

dibuat karena sangat dibutuhkan untuk menertibkan masyarakat dalam

membayar pajak, khususnya Pajak Rumah Kost yang selama ini belum

diatur secara jelas. Dengan adanya Peraturan Daerah Kota Malang tentang

pajak Rumah Kost diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah

24
Pendapatan Asli Daerah yang dapat meningkatkan perekonomian dan

kesejahteraan masyarakat terutama masyarakat Kota Malang.

d. Asas Kejelasan rumusan menjelaskan bahwa setiap Peraturan Perundang-

Undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan Peraturan

Perundang-Undangan, sistematika, pilihan kata atau istilah, serta bahasa

hukum yang jelas dan mudah dimengerti sehingga tidak menimbulkan

berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya. Peraturan Daerah

Kota Malang tentang Rumah Kost dibuat agar terjadinya kejelasan

peraturan sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam

pelaksanaannya dimana semua masyarakat Indonesia paham tentang

Peraturan Daerah Kota Malang tentang Rumah Kost, selain itu dapat di

terapkan dengan mudah di dalam kehidupan masyarakat Kota Malang.

e. Asas Keterbukaan, dalam hal pembuatan peraturan perundang-undangan

tersebut dilakukan secara terbuka dengan melibatkan beberapa pihak. Asas

keterbukaan ini bertujuan agar terciptanya suatu keadilan yakni dengan

memperhatikan kepentingan masyarakat dan Pemerintah Kota Malang.

Selain itu, dalam pembentukan Rancangan Peraturan Daerah Tentang

Pajak Rumah Kos berpedoman pada Asas materi muatan menurut UU No. 12

Tahun 2011 harus mengandung asas-asas sebagai berikut :

1. Asas Pengayoman, bahwa setiap Materi Muatan Peraturan

Perundang-Undangan harus berfungsi memberikan perlindungan

masyarakat dari semua lapisan masyarakat mulai dari pemilik kos,

25
pengguna kost, warga masyarakat yang memiliki usaha di sekitar kost

agar tidak terjadi penyalahgunaan hasil dari pemungutan pajak kost;

2. Asas Kemanusiaan, bahwa setiap materi Muatan Peraturan

Perundang-Undangan harus mencerminkan perlindungan dan

penghormatan hak asasi manusia serta harjat dan martabat setiap warga

negara dan penduduk Indonesia secara proporsional dalam hal ini di

bentuknya naskah akademik peraturan daerah tentang rumah kost ini

melihat bagaimana peraturan daerah ini mampu memberikan kepastian

hukum bagi masyarakat contohnya dalam meperoleh haknya setelah

membayarkan pajak masyarakat mampu merasakan hasil pajak

pembayaran Pajak kost yang masuk dalam APBD dalam pembangunan

fasilitas kota Malang;

3. Asas Kekeluargaan, bahwa setiap Materi Muatan Peraturan

Perundang-undangan harus mencerminkan musyawarah untuk

mencapai mufakat dalam setiap pengambilan keputusan. Dimana

dalam pembuatan naskah akademik peraturan daerah kota Malang

tentang Pajak Rumah Kost harus di musyawarakan terlebih dahulu

kepada masyarakat untuk mengumpulkan keinginan masyarakat agar

terciptanya suatu peraturan daerah yang sesuai dengan harapan dan

tujuan untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat dan keadilan bagi

seluruh masyarakat;

4. Asas Keadilan, bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-

Undangan harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi

setiap warga negara. Dalam pembuatan Naskah Akademik Peraturan

26
Daerah Kota Malang tentang Pajak Rumah Kost agar memperoleh

keadilan yang sama masyarakat harus membayar kewajibanya dengan

membayar pajak dan kewajiban dari pemerintah daerah harus

memberikan sarana-sarana yang sesuai dengan apa yang telah

diberikan oleh masyarakat.

5. Asas Kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan,

bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-Undangan tidak

boleh memuat hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar

belakang, antara lain agama, suku, ras, golongan, gender atau status

sosial. Di dalam pembuatan Naskah Akademik Peraturan Daerah Kota

Malang tentang Rumah Kost harus ada ketentuan-ketentuan penarikan

pajak agar tidak terjadi perbedaan pemungutan pajak antara kost yang

satu dengan kost yang lain.

6. Asas Ketertiban dan Kepastian Hukum, bahwa setiap Materi

Muatan Peraturan Perundang-Undangan harus dapat mewujudkan

ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan kepastian. Dalam

pembuatan Naskah Akademik Peraturan Daerah Kota Malang Tentang

Rumah Kost harus ada ketertiban dalam pemungutan pajak, ketertiban

dalam pemberian sanksi apabila masyarakat lalai ataupun melanggar

dalam pembayaran pajak;

7. Asas Keseimbangan, Keserasian, dan Keselarasan. Dalam

pembuatan Naskah Akademik Peraturan Daerah Kota Malang Tentang

Rumah Kost dimana diharapkan mampu menyeimbangkan pendapatan

yang diperoleh masyarakat dengan pendapatan pemerintah daerah kota

27
Malang yang bertujuan untuk meningkatkan perekonomian dan

meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta menyeimbangkan

kepentingan masyarakat pendatang (penghuni kost) dengan adanya

aturan yang mengatur tentang kondisi lingkungan rumah kost yang

layak.

C. Kajian terhadap Praktik Penyelenggaraan, kondisi yang ada, serta

permasalahan yang dihadapi masyarakat.

Pada hakikatnya aturan mengenai Pajak tertuang dalam Undang-Undang

No. 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, revisi Peraturan

Daerah Kota Malang Nomor 16 tahun 2010 menjadi Peraturan Daerah Kota

Malang 2 Tahun 2015 tentang Pajak Daerah, revisi Peraturan Daerah Kota Malang

Nomor 11 tahun 2011 menjadi Peraturan Daerah Kota Malang 4 Tahun 2015

tentang Pajak Bumi dan Bangunan, kendatipun isi dari berbagai macam peraturan

perundang-undangan tersebut sudah sesuai dan pengaturan yang sudah jelas

namun penerapannya kurang memenuhi tujuan dari pembentukan Perda tersebut.

Selain itu berbagai macam permasalahan kompleks muncul berkaitan dengan

pengaturan pemungutan pajak Rumah Kos selama kurun waktu berlakunya

peraturan perundang-undangan tentang Pajak, antara lain :

1. Pemilik Kos-kosan yang tidak mengajukan izin sesuai dengan ketentuan

Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 6 tahun 2006, pemilik rumah kos

diharuskan mengajukan izin ke BP2T Kota Malang dengan harapan proses

pemantauan bisa maksimal disamping potensi Pendapatan Asli Daerah

juga besar seperti Rumah Kost di daerah Kertosentono 71 adalah rumah

28
kost khusus perempuan dimana di kost ini terdapat 13 kamar yang mana

kost ini berdiri pada tahun 2000 yang mana perkamarnya dihargai

Rp.500.000,- dan kost ini sampai sekarang tidak memiliki ijin mendirikan

kost-kostan padahal apabila di hitung perbulannya omset kotor yang

diperoleh dari usaha kost ini adalah Rp.5.000.000,-

2. Pendataan Rumah Kos yang masih minim. Hal ini dikarenakan jumlah

wajib pajak yang telah tercatat sampai saat ini masih dianggap kurang ,

padahal pengusaha kos di Kota Malang jumlahnya banyak. Dalam hal ini

DISPENDA dinilai kurang maksimal dalam melakukan pendataan Rumah

Kos di Kota Malang. Contohnya bisa dilihat dari daerah Rumah Kost di

daerah Sigura-gura No.5 yang mengaku masih belum pernah di data oleh

pihak dari DISPENDA.

3. Masyarakat masih bingung mengenai mekanisme pembayaran pajak dan

pengenaan terkait pajak Kos di kota Malang. Contohnya di Kost

Kertosentono 71 masih belum mengetahui tentang mekanisme dan

pengaturan tentang Pajak Rumah Kos.

4. Masyarakat merasa pembayaran pajak ini tidak menguntungkan bagi

pemilik rumah kost sebagai wajib pajak.

Dengan demikian perlu adanya aturan yang lebih spesifik untuk

menanggulangi berbagai permasalahan yang ada, sehingga perlu dilakukan

penyempurnaan, terkait dalam hal :

a. Peran aktif pemerintah kota selaku operator pemungutan pajak daerah

dalam hal penyelenggaraan wajib pajak rumah kos yang bertujuan untuk

29
menunjang perekonomian daerah dengan meningkatkan Pendapatan Asli

Daerah untuk mewujudkan masyarakat yang makmur dan sejahtera.

b. Peran serta masyarakat Kota Malang dalam penyelenggaraan Wajib Pajak

terkait rumah kos belum diatur secara jelas.

D. Kajian terhadap Implikasi dan Dampak Penerapan sistem baru yang

akan diatur dalam Undang-undang atau peraturan daerah terhadap aspek

kehidupan masyarakat dan dampaknya terhadap aspek Badan Keuangan

Negara.

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah tentang Pajak Rumah

Kost diharapkan mampu membantu memberikan sumbangan pemikiran dalam

standar pembayaran pajak rumah kost yang adil serta memberikan kesejahteraan

bagi masyarakat terkait dampak membayar pajak. Maka dari itu tim menyusun

kajian tentang :

1. Mekanisme Sistem Pendataan kepemilik Kost

Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 6 tahun 2006 Tentang

Penyelenggaraan Usaha Pemondokan pasal 11:

a) Dimana setiap pemilik rumah kost yang memiliki kamar minimal lima

atau kost yang minimal dihuni sepuluh orang maka harus memiliki izin

usaha pemondokan dalam bentuk izin tempat usaha atau HO di dinas

perijinan kota Malang

b) Untuk pemilik rumah kost yang memiliki kamar kurang dari lima wajib

membuat laporan tertulis yang diserahkan pada kelurahan setempat.

30
c) Apabila suatu rumah Kost tidak memiliki ijin usaha pemondokan maka

berdasarkan perda tersebut akan dikenakan sanksi berupa penutupan

usaha rumah kost.

d) Berdasarkan data yang diperoleh dari perijinan usaha pemondokan tim

akan mengetahui berapa jumlah kost yang dapat dikenai pajak dan jumlah

kost yang tidak dapat dikenai pajak.

e) Selain itu diharapkan adanya dari pihak DISPENDA untuk mendata pihak

pihak yang belum terdaftar sebagai wajib pajak secara door to door dan

menjelaskan bagaimana sistem mekanisme pendaftaran dan pembayaran

pajak rumah kost.

2.Mekanisme Penetapan biaya Pajak

a) Dengan nama Pajak Rumah Kost dipungut pajak atas Pemilik Rumah Kost

b) Wajib Pajak (WP) adalah orang pribadi atau badan yang memiliki usaha

rumah Kost

c) pengenaan pajak adalah jumlah pembayaran yang seharusnya dibayar

oleh pemilik usaha rumah kost

d) Setiap Wajib Pajak wajib mengisi surat SPTPD (Surat Pemberitahuan

Pajak Daerah) yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan

penghitungan dan/atau pembayaran pajak rumah kost yang mana surat ini

berisikan identitas sesuai KTP, penghasilan kost tiap bulan yang diperoleh,

jumlah kamar kost yang dimiliki, dan fasilitas yang diberikan untuk

pengguna kost, serta surat perijinan usaha pemondokan yang sah. Di buat

di dinas pendapatan daerah

31
e) Surat SPTPD tersebut sebagaimana dimaksud harus di isi dengan

jelas,benar, dan lengkap serta ditandatangani oleh Wajib Pajak.

f) Setelah mengisi surat SPTPD maka dapat ditentukan besar biaya pajak

yang dikenakan setiap pemilik rumah kost selaku wajib pajak yang akan

dicantumkan secara detail jumlah pajak yang harus dibayarkan oleh wajib

pajak dalam Surat Ketetapan Pajak Daerah yang selanjutnya disebut

SKPD adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah

pokok pajak yang terutang.

g) Untuk penetapan pengenaan biaya pajak rumah kost tim menentukan

syarat rumah kost yang dapat dikenai pajak :

1. Kamar minimal 10

2. Yang dihuni minimal sepuluh orang

3. Dengan Penghasilan Kotor Perbulan minimal Rp.3.000.000,-

h) Apabila salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi maka rumah kost

tersebut tidak dikenai pajak rumah kost

i) Dengan penghitungan pengenaan :

Pendapatan kotor rumah Kost X 5


(mininal Rp. 3.000.000,-) 100

3. Mekanisme Pembayaran Pajak

a) Pembayarn Pajak dilarang diborongkan

32
b) Setiap Wajib Pajak, wajib membayar pajak dengan cara dibayar sendiri

oleh Wajib Pajak atau Orang yang memiliki usaha rumah kost paling

lambat akhir bulan

c) Wajib Pajak yang memenuhi kewajibannya diwajibkan melaporkan pajak

yang yang terutang dengan menggunakan SKPD adalah surat yang oleh

Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau

pembayaran pajak rumah kost

d) Dimana Pembayaran dilakukan di dinas Pendapatan Daerah Pembayaran

pajak dilakukan dengan menggunakan SSPD, Dimana SSPD berfungsi

sebagai bukti pembayaran pajak apabila telahdisahkan oleh Bendahara

Penerimaan.

4. Mekanisme Pengenaan saksi pajak

a) Pembayaran setelah lewat waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak

diterbitkan SKPD, dikenakan sanksi administratif berupa bunga sebesar

2% (dua persen) setiap bulan.

5. Keuntungan yang diperoleh dari Pajak Kost

a) Pendapatan Pajak Daerah tahun 2017 : Rp.260.000.000.000,00/ pertahun

Dimana Perkiraan rumah kost yang telah memenuhi syarat untuk di kenai

pajak adalah sekitar 400 rumah kost dengan penghasilan rata rata perbulan

Rp.4.000.000,- dan dikenakan pajak sebesar 5% maka diperoleh hasil

33
pajak sejumlah Rp.200.000,- X 400 rumah kost adalah Rp.80.000.000 x 12

bulan; Rp.960.000.000/pertahun
Maka dari itu apanila 27.08333% pertahun

6. Prestasi yang diberikan

a) Wajib pajak berhak memperoleh PPh atau Pemotongan Pajak

Penghasilan sebesar 25% dari jumlah pajak yang harus dibayarkan

dengan ketentuan wajib pajak harus tepat waktu dalam pembayaran

selama 2 tahun berturut turut.

b) Wajib pajak yang telah membayar tepat waktu selama 1 tahun berhak

memperoleh cash back sebesar Rp.200.000,-

BAB III

EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

TERKAIT PAJAK RUMAH KOST

A. Undang - Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945

No UUD-NRI 1945 Pasal Analisis


1 UUDNRI 1945 Pasal 23 A yaitu, Pajak dan Dalam hal ini ketentuan
pengutan lain yang bersifat pemungutan pajak harus ada
memaksa untuk keperluan sebagai landasan yang dimuat
negara diatur dengan undang- dalam bentuk suatu undang-
undang. undang ataupun perda yang
mengatur tentang mekanisme,
pembayaran, pemungutan,

34
pemberian sanksi, serta hal hal
lain yang menyangkut tentang
pajak, khususnya rumah kos.
Pasal 18 ayat (6) yaitu, Kewenangan untuk
Pemerintahan daerah berhak menetapkan perda akan
menetapkan peraturan daerah dilakukan oleh pemerintah
dan peraturan-peraturan lain. Pemerintahan daerah
sebagaimana wujud dari
otonomi daerah. Perda tersebut
tidak boleh bertentangan
dengan peraturan diatasnya.
Pasal 22D ayat (1) yaitu, DPD dalam hal ini akan
Dewan Perwakilan Daerah mengajukan RUU kepada
dapat mengajukan kepada DPR. Dalam kaitannya dengan
Dewan Perwakilan Rakyat pembuatan perda pajak rumah
rancangan undang-undang kos berarti terkait dengan
yang berkaitan dengan otonomi pengelolaan sumber daya
daerah, hubungan pusat dan ekonomi serta pembangunan
daerah, pembentukan dan daerah Kota Malang,
pemekaran serta penggabungan mengingat banyaknya rumah
daerah, pengelolaan sumber kost yang ada di Kota Malang
daya alam dan sumber daya yang baru sebagian masyarakat
ekonomi lainnya, serta yang membayar pajak rumah kost
berkaitan dengan perimbangan dan/atau tidak membayar pajak
keuangan pusat dan padahal Peraturan Daerah Kota
daerah.***) Malang mengenai Pajak sudah
mengaturnya

B. Undang - Undang

35
No Undang-Undang Pasal Analisis
1 Undang-Undang No. 23 Pasal 286 ayat (1) yaitu, Pajak Dalam hal ini pajak daerah
tahun 2014 tentang daerah dan retribusi daerah khususnya pajak rumah kos
Pemerintahan Daerah ditetapkan dengan Undang- akan diatur oleh Perda dimana
Undang yang pelaksanaan di pemungutan pajak dan
daerah diatur lebih lanjut retribusi tersebut harus sesuai
dengan Peraturan Daerah. dengan keadaan dan
pendapatan dari setiap daerah
Kota Malang
Undang-Undang No. 23 Pasal 1 angka 6 yaitu, Otonomi Dimana tidak semua urusan
tahun 2014 tentang Daerah adalah hak, wewenang, pemerintahan diselenggarakan
Pemerintahan Daerah dan kewajiban daerah otonom oleh pemeritah pusat, namun
untuk mengatur dan mengurus juga adanya hak untuk
sendiri Urusan Pemerintahan mengurus sendiri rumah
dan kepentingan masyarakat tangga suatu daerah (tidak
setempat dalam sistem Negara terkecuali kota Malang).
Kesatuan Republik Indonesia. Terdapat pembagian urusan
pemerintahan yaitu
desentralisasi, dekontralisasi,
dan tugas pembantuan.
Undang-Undang No. 23 Pasal 1 angka 23 yaitu, Pemerintah daerah dalam
tahun 2014 tentang Perangkat Daerah adalah unsur menjalani tugasnya
Pemerintahan Daerah pembantu kepala daerah dan bertanggung jawab langsung
DPRD dalam penyelenggaraan terhadap kepala daerah.
Urusan Tujuannya utuk melaksanakan
Pemerintahan yang menjadi tugas yang diberikan kepala
kewenangan Daerah. daerah mengenai tugas untuk
menjalankan pemerintahan
daerah tersebut.
2 Undang-Undang no 17 Pasal 19 Dalam ayat (1),
tahun 2003 tentang Ayat (1) yaitu, Perangkat daerah dapat
keuangan Negara Dalam rangka penyusunan mengajukan penggunaan
RAPBD, Kepala Satuan Kerja anggaran yang akan digunakan

36
Perangkat Daerah selaku untuk melaksanakan kerjanya,
pengguna anggaran menyusun yang akan dimasukan RAPBD.
rencana kerja dan anggaran Lalu, anggaran yang dibuat
Satuan Kerja Perangkat Daerah oleh perangkat daerah harus
tahun berikutnya. sesuai dengan tujuan dari apa
yang akan dikerjakan dan hasil
yang ditargetkan, karena
semakin tingginya target yang
akan dicapai maka akan
semakin tinggi pula anggaran
yang diperlukan.
3 Undang-Undang No. 28 Pasal 2 ayat (2) yaitu, Jenis Dalam hal ini jenis-jenis pajak
tahun 2009 tentang Pajak kabupaten/kota terdiri yang telah disebutkan
Pajak Daerah dan atas: a.)Pajak Hotel; b.) Pajak disamping merupakan obyek
Retribusi Daerah Restoran; c.) Pajak Hiburan; pajak yang menjadi
d.) Pajak Reklame; e.) Pajak kewenangan kota Malang,
Penerangan Jalan; f.) Pajak maka dari itu kota malang
Mineral Bukan Logam dan harus mempunyai dasar hukum
Batuan; g.) Pajak Parkir; h.) tentang mekanisme dan sistem
Pajak Air Tanah; i.) Pajak pemungutan yang berkaitan
Sarang Burung Walet; j.) Pajak dengan obyek pajak yang
Bumi dan Bangunan Perdesaan diatur oleh uu tersebut yang
dan Perkotaan; dan k.) Bea disesuaikan berdasarkan
Perolehan Hak atas Tanah dan kondisi, ekonomi,sosial dan
Bangunan. budaya di kota Malang

Undang-Undang No. 28 Pasal 1 angka 21, yaitu Dalam pasal ini, memang tidak
tahun 2009 tentang Hotel adalah fasilitas mengatu secara langsung
Pajak Daerah dan penyedia jasa tentang rumah kost, melainkan
Retribusi Daerah penginapan/peristirahatan pengaturannya melalui hotel
termasuk jasa terkait lainnya dibagi lagi menjadi beberapa
dengan jenis jasa penginapan. Dalam
dipungut bayaran, yang hal ini juga termasuk rumah

37
mencakup juga motel, losmen, kost. Dalam hal ini kota
gubuk pariwisata, wisma malang wajib menegakkan
pariwisata, ketentuan pajak rumah kos
pesanggrahan, rumah dimana sebagian besar msih
penginapan dan sejenisnya, ada yang belum membayar dan
serta rumah kos dengan jumlah masih bingung mengenai
kamar lebih dari 10(sepuluh). prosedur pembayaran pajak
kos. Pajak Rumah kost tsb
digunakan untuk
meningkatkan PAD dan
kesejahteraan masyarakat kota
malang

Undang-Undang No. 28 Pasal 279 yaitu, Penyerahan sumber keuangan


tahun 2009 tentang (1) Pemerintah Pusat memiliki Daerah baik berupa pajak
Pajak Daerah dan hubungan keuangan dengan daerah dan
retribusi daerah maupun
Retribusi Daerah Daerah untuk membiayai
berupa dana perimbangan
penyelenggaraan Urusan
merupakan konsekuensi dari
Pemerintahan yang diserahkan
adanya penyerahan Urusan
dan/atau ditugaskan
Pemerintahan kepada Daerah
kepada Daerah.
yang diselenggarakan
(2) Hubungan keuangan dalam
berdasarkan Asas Otonomi.
penyelenggaraan Urusan
Untuk menjalankan Urusan
Pemerintahan yang diserahkan
Pemerintahan yang menjadi
kepada Daerah
kewenangannya, Daerah harus
sebagaimana dimaksud pada
mempunyai sumber keuangan
ayat (1) meliputi:
agar Daerah tersebut mampu
a. pemberian sumber
memberikan pelayanan dan
penerimaan Daerah berupa
kesejahteraan kepada rakyat di
pajak
Daerahnya. Pemberian sumber
daerah dan retribusi daerah;
keuangan kepada Daerah harus
b. pemberian dana bersumber
seimbang dengan beban atau
dari perimbangan keuangan

38
antara Pemerintah Pusat dan Urusan Pemerintahan yang
Daerah; diserahkan kepada Daerah.
c. pemberian dana Keseimbangan sumber
penyelenggaraan otonomi keuangan ini merupakan
jaminan terselenggaranya
khusus untuk Pemerintahan
Urusan Pemerintahan yang
Daerah tertentu yang
diserahkan kepada Daerah.
ditetapkan dalam undang-
Dalam hal ini adalah walikota
undang; dan
Malang
d. pemberian pinjaman
dan/atau hibah, dana darurat,
dan insentif (fiskal).
.

4 Undang-Undang Pasal 1 : Dalam hal ini dijelaskan


Republik Indonesia bahwa setiap uang yang masuk
Perbendaharaan Negara adalah
Nomor 01 Tahun 2004 dan keluar disimpan
pengelolaan dan
Tentang pemerintah dalam kas negara.
pertanggungjawaban keuangan
Perbendaharaan Negara Sedangkan setiap uang yang
negara, termasuk investasi dan
masuk dan keluar disimpan
kekayaan yang dipisahkan,
pemerintah daerah dalam kas
yang ditetapkan dalam APBN
daerah dimana pertanggung
dan APBD.
jawaban atas kas daerah
tersebut terletak pada
bendahara.Agar penerimaan
dan pengeluaran atau
pembendaharaan dari hasil
pajak rumah kos dapat diatur
secara sistematis maka harus
diatur dalam perda tentang
pajak rumah kos.
Pasal 9 : Dalam hal ini jelaskan bahwa
daerah membentuk Kepala
(1) Kepala Satuan Kerja
Satuan Kerja Pengelola
Pengelola Keuangan Daerah
Keuangan Daerah yaitu yang

39
adalah Bendahara Umum merupakan Bendahara Umum
Daerah. Daerah. Bendahara Daerah ini
(2) Kepala Satuan Kerja mempunyai beberapa
Pengelola Keuangan Daerah wewenang dalam rangka
selaku Bendahara Umum pengelolaan keuanagan daerah.
Daerah Dengan demikian perlu diatur
berwenang : bahwa dalam perda tentang
a. menyiapkan kebijakan dan pajak kos juga harus dibentuk
pedoman pelaksanaan APBD; Bendahara daerah yang
b. mengesahkan dokumen bertugas untuk mengelola hasil
pelaksanaan anggaran; pendapatan dari pajak rumah
c. melakukan pengendalian kos.
pelaksanaan APBD;
d. memberikan petunjuk teknis
pelaksanaan sistem penerimaan
dan pengeluaran kas daerah;
e. melaksanakan pemungutan
pajak daerah;
f. memantau pelaksanaan
penerimaan dan pengeluaran
APBD oleh bank dan/atau
lembaga keuangan lainnya
yang telah ditunjuk;
g. mengusahakan dan mengatur
dana yang diperlukan dalam
pelaksanaan APBD;
h. menyimpan uang daerah;
i. melaksanakan penempatan
uang daerah dan mengelola/
menatausahakan investasi;
j. melakukan pembayaran
berdasarkan permintaan

40
pejabat Pengguna Anggaran
atas beban rekening kas umum
daerah;
k. menyiapkan pelaksanaan
pinjaman dan pemberian
jaminan atas nama pemerintah
daerah;
l. melaksanakan pemberian
pinjaman atas nama
pemerintah daerah;
m. melakukan pengelolaan
utang dan piutang daerah;
n. melakukan penagihan
piutang daerah;
o. melaksanakan sistem
akuntansi dan pelaporan
keuangan daerah;
p. menyajikan informasi
keuangan daerah;
q. melaksanakan kebijakan dan
pedoman pengelolaan serta
penghapusan barang milik
daerah.
5 Undang Undang no 12 Pasal 1 angka 8 yaitu, Dalam mengatur pemerintah
tahun 2011 tentang Peraturan Daerah daerahnya sendiri, pemerintah
Pembentukan Peraturan Kabupaten/Kota adalah daerah dapat membuat
Perundang Undangan Peraturan Perundang-undangan peraturan yang hanya berlaku
yang dibentuk oleh DPRD pada wilayahnya. Pengaturan
Kabupaten/Kota dengan ini memang perlu dilakukan
persetujuan bersama agar kesejahteraan masyarakat
Bupati/Walikota. daerah dapat terpenuhi.
Pasal 5 yaitu, Dalam membuat suatu perda,
Dalam membentuk Peraturan maka perlu memperhatikan

41
Perundang-undangan harus pasal 5 ini, tujuannya agar
dilakukan berdasarkan pada perda tesebut tercipta sesuai
asas Pembentukan dengan kebutuhan dan
Peraturan Perundang-undangan mendapatkan hasil yang
yang baik, yang meliputi: berdayaguna dan
a. kejelasan tujuan; berhasilgunaan.
b. kelembagaan atau pejabat
pembentuk yang tepat;
c. kesesuaian antara jenis,
hierarki, dan materi muatan;
d. dapat dilaksanakan;
e. kedayagunaan dan
kehasilgunaan;
f. kejelasan rumusan;
g. keterbukaan.
Pasal 7 ayat (1) yaitu, Dalam membuat peraturan
Jenis dan hierarki Peraturan daerah maka harus
Perundang-undangan terdiri memperhatikan hierarki
atas: perundang undangan yang
a. Undang-Undang Dasar bertujuan agar tidak saling
Negara Republik Indonesia terjadi konflik antara
Tahun 1945; perundang undangan satu
b. Ketetapan Majelis dengan yang lain, apabila
Permusyawaratan Rakyat; suatu perda tersebut sama
c. Undang-Undang/Peraturan dengan peraturan perundang
Pemerintah Pengganti Undang- undangan yang berada di
Undang; atasnya, maka perda tersebut
d. Peraturan Pemerintah; akan dikesampingkan sesuai
e. Peraturan Presiden; dengan urutan hierarki yang
f. Peraturan Daerah Provinsi; ada karena perundang
dan undangan yang ada diatasnya
g. Peraturan Daerah pasti mencakup semuanya,
Kabupaten/Kota selain itu juga bertujuan agar

42
terciptanya kepastian hukum.
6 Undang-Undang Pasal 4 yaitu, Berdasarkan pasal ini , salah
Nomor 25 Tahun 1999 satu sumber pendapatan asli
Sumber Pendapatan Asli
Tentang Perimbangan daerah adalah dari sektor pajak
Daerah sebagaimana dimaksud
Keuangan Antara daerah, dan pajak kos
dalam pasal 3 huruf a terdiri
Pemerintah Pusat Dan merupakan salah satu hasil
dari:
Daerah dari pajak daerah tersebut.
a. hasil pajak Daerah;
Dengan demikian, dengan
b. hasil retribusi Daerah;
adanya perolehan pajak dari
c. hasil perusahaan milik
pajak kos, maka akan
Daerah dan hasil pengelolaan
meningkatkan serta
kekayaan Daerah lainnya yang
mendukung penyelenggaraan
dipisahkan;
otonomi daerah melalui
d. lain-lain Pendapatan Asli
penyediaan sumber sumber
Daerah yang sah.
pembiayaan, dimana yang
mengakibatkan perlunya
adanya peimbangan
pengaturan keuangan antara
pemerintah pusat dan
pemerintah daerah mengenai
sitem keuangan yang di atur
berdasarkan kewenangan,
tugas, dan tanggung jawab
yang jelas antara pemerintah.
.
7 UNDANG-UNDANG Pasal 5 ayat (3) huruf a dan b : Pajak kos merupakan APBD ,
NOMOR 25 TAHUN Pelayanan barang publik dimana pajak kos tersebut juga
2009 sebagaimana dimaksud dapat dimanfaatkan sebagai
TENTANG pada ayat (1) meliputi: sumber dana untuk
PELAYANAN meningkatkan pelayanan
PUBLIK a. pengadaan dm penyaluran publik. Dimana di amanatkan
barang publik yang oleh UndangUndang Dasar
dilakukan oleh instansi Republik Indonesia tahun 1945

43
pemerintah yang bahwa Negara wajib melayani
sebagian atau seluruh dananya setiap warga negara dan
bersumber dari penduduk untuk memenuhi
anggaran pendapatan dan hak dan kebutuhan dasarnya
belanja negara dalam kerangka pelayanan
dan/atau anggaran pendapatan publik.
dan belanja
daerah;
b. pengadaan dan penyaluran
barang publik yang
dilakukan olleh suatu badan
usaha yang modal
pendiriannya sebagian atau
seluruhnya
bersumber dari kekayaan
negara dan/atau
kekayaan daerah yang
dipisahkan; dan

8 Undang-Undang No. 8 Pasal 1 angka 1 yaitu, Dengan adanya undang


tahun 1999 tentang Perlindungan konsumen adalah undang perlindungan
Perlindungan segala upaya yang menjamin konsumen maka para penyewa
Konsumen adanya kepastian hukum kos mendapat perlindungan
untuk memberi kepada hukum. Perlilndungan hukum
konsumen yang dimaksud dalam hal ini
adalah untuk melindungi para
penyewa kos agar terhindar
dari pemilik kos yang
melakukan kecurangan, yakni
mengenai harga , kualitas ,
letak maupun fasilitas yang di
perjanjikan dan kenyataannya.

44
9 UU NOMOR 16 Pasal 1 Menurut pasal ini kota Malang
TAHUN 1950 Daerah-daerah jang meliputi merupakan kota besar yang
TENTANG
kota-kota Surabaja, Malang, berada di jawa dan termasuk
PEMBENTUKAN
Madiun, Kediri, Semarang, daerah otonom dimana dapat
DAERAH KOTA
Pekalongan, Bandung, Bogor, mengurus daerahnya sendiri
BESAR
DALAM Tjirebon, Jogjakarta dan dimana dalam hal konkuren
LINGKUNGAN Surakarta, ditetapkan menjadi yang telah di ubah dalam
PROPINSI DJAWA Kota Besar: Undang Undang no 23
TIMUR/TENGAH/BA Tahun 2014
RAT Surabaja, Malang, Madiun,
DAN DAERAH
Kediri, Semarang, Pekalongan,
ISTIMEWA
Bandung, Bogor,
JOGJAKARTA
Tjirebon, Jogjakarta dan
Surakarta

C. PERATURAN PEMERINTAH

No Peraturan Pemerintah Pasal Analisis


1 PERATURAN Asas Umum Pengelolaan Pengolalaan keuangan daera
PEMERINTAH Keuangan Daerah berdasarkan pasal ini harus d
REPUBLIK Pasal 4 laksanakan dnegan tertib da
INDONESIA (1) Keuangan daerah dikelola efisien, serta ekonomis da
NOMOR 58 TAHUN secara tertib, taat pada efektif yang berarti haru
2005 peraturan perundang-undangan, transparan dan bertanggun
TENTANG efisien, ekonomis, efektif, jawab, pengelolaan keuanga
PENGELOLAAN transparan, dan bertanggung daerah haruslah sesuai denga
KEUANGAN DAERAH jawab dengan kebutuan yang ada di daera
memperhatikan asas keadilan, tersebut dan seefektif mungki
kepatutan, dan manfaat hingga dapat menciptaka
untuk masyarakat. keekonomisan. Pengolaa
(2) Pengelolaan keuangan daerah keuangan daerah dalam hal in
dilaksanakan dalam suatu di wujudkan dengan adany

45
sistem yang terintegrasi yang APBD setiap tahun yang d
diwujudkan dalam APBD tetapkan oleh pemerinta
yang setiap tahun ditetapkan daerah.
dengan peraturan daerah
2 PERATURAN Pasal 2 : Pajak rumah kos sendiri
PEMERINTAH Dalam rangka termasuk dalamAPBD , dimana
REPUBLIK pertanggungjawaban berdasarkan pasal ini maka
INDONESIA pelaksanaan pajak rumah kos tersebut harus
NOMOR 8 TAHUN APBN/APBD, setiap Entitas di susun seuatu laporan
2006 Pelaporan wajib menyusun dan keuangannya serta laporan
TENTANG menyajikan: kinerja dalam rangka
PELAPORAN a. Laporan Keuangan; dan pertanggung jawaban
KEUANGAN DAN b. Laporan Kinerja. pelaksanaan APBD itu sendiri.
KINERJA INSTANSI Sehingga pajak rumah kos yang
PEMERINTAH di dapat bisa di pantau
bagaimana keuangannya dan
bagaimana kinerja nya selama
ini.
3 Peraturan Pemerintah Pasal 2 Berlakunya suatu perda harus
Republik Indonesia Batas wilayah Kotamadya berdasar ketentuan wilyah yang
NOMOR 15 TAHUN Daerah Tingkat II Malang ada dalam pasal tersebut.
1987 diubah dan diperluas dengan
Tentang memasukkan sebagian wilayah
Perubahan Batas Wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II
Kotamadya Daerah Malang yaitu:
Tingkat Ii Malang Dan a. Sebagian wilayah
Kabupaten Daerah Kecamatan Tajinan, yang
Tingkat Ii Malang meliputi:
1) Desa Arjowinangun;
2) Desa Tlogowaru.
b. Sebagian wilayah
Kecamatan Wagir, yang

46
meliputi:
1) Desa Arjosari;
2) Desa Mulyorejo;
3) Desa Sumbersari.
c. Sebagian wilayah
Kecamatan Dau, yang
meliputi:
1) Desa Tlogomas;
2) Desa Merjosari;
3) Desa Karang Besuki.
d. Sebagian wilayah
Kecamatan Karang Ploso,
yang meliputi:
1) Desa Tasikmadu;
2) Desa
Tunggulwulung.
e. Desa Balearjosari wilayah
Kecamatan Singosari.
f. Desa Cemorokandang
wilayah Kecamatan Pakis.
4 Peraturan Pemerintah Pasal 2 Jika di tinjau dari keberadaa
No. 38 Tahun 2007 rumah kos, maka rumah ko
(3) Urusan pemerintahan yang
tentang Pembagian tersebut merupakan urusa
dibagi bersama antar
Urusan Pemerintahan pemerimntah daerah jug
tingkatan dan/atau susunan
Antara Pemerintah, dimana pemerintah berpera
pemerintahan sebagaimana
Pemerintahan Daerah sebagai operator pembanguna
dimaksud pada ayat (1)
Provinsi, Dan yang harus di laksanaka
adalah semua urusan
Pemerintahan Daerah denhgan adil dan member
pemerintahan di luar urusan
Kabupaten/Kota kemanfaatan bagi masyaraka
sebagaimana dimaksud pada
luas. Maka dari pemerintah jug
ayat (2).
harus meninjau da

47
(4) Urusan pemerintahan memperbaiki keberadaan ruma
sebagaimana dimaksud pada kos yang tidak layak huni da
ayat (3) terdiri atas 31 (tiga tidak memenuhi aspe
puluh satu) bidang urusan kesehatan.
pemerintahan meliputi: .

a. pendidikan;
b. kesehatan
c. pekerjaan umum;
d. perumahan;
e. penataan ruang;
f. f.perencanaan
pembangunan;
g. perhubungan;
h. lingkungan hidup;
i. pertanahan;
j. kependudukan dan
catatan sipil;
k. pemberdayaan
perempuan dan
perlindungan anak;
l. keluarga berencana dan
keluarga sejahtera;
m. social, dll.
5 PERATURAN Pasal 39 ayat (1) dan (2): Penghasilan dari pajakko
PEMERINTAH (1) pengendalian internal termasuk dalam uang daera
REPUBLIK terhadap pengelolaan Uang dimana menurut pasla ini haru
INDONESIA Negara/Daerah dilakukan di lakukan pengawasa
NOMOR 39 TAHUN lembaga/gubernur/bupati pengelolaan uang daera
2007 /walikota/kepalakantor/satuan tersebut dan di lakukan ole
TENTANG kerja. pihak yang berwenang dalam
PENGELOLAAN (2) pengawasan fungsional upaya perwujudan pengadalia
UANG terhadap pengelolaan Uang internal.
NEGARA/DAERAH Negara/Daerah dilakukan oleh pengendalian internal.
aparat Pengawasan fungsional
pusat/daerah dan oleh badan
Pemeriksa Keuangan.

48
6 PERATURAN Pasal 17 yaitu, Pemerintah daera
PEMERINTAH berkewajiban menyampaika
REPUBLIK (1) Dalam hal Pemerintah informasi mengenai keuanga
INDONESIA Daerah tidak menyampaikan daerah nya kepada menter
NOMOR 65 TAHUN Informasi Keuangan Daerah keuangan , dalam hal ini uan
2010 sebagaimana dimaksuddalam yang di hasilkan dari pajak uan
TENTANG Pasal 2 hingga batas waktu yang kos termasuk di dalamnya. Jik
PERUBAHAN ATAS ditetapkansebagaimana tidak maka menteri keuanga
PERATURAN dimaksud dalam Pasal 7, akan memberikan sanksi.
PEMERINTAH NOMOR diberikanperingatan tertulis oleh
56 TAHUN 2005 Menteri Keuangan. .
TENTANG SISTEM (2) Peringatan tertulis
INFORMASI sebagaimana dimaksud pada
KEUANGAN DAERAH ayat (1)diterbitkan paling lama
15 (lima belas) hari terhitung
setelah tanggal batas waktu yang
ditetapkan.
(3) Dalam hal Pemerintah
Daerah tidak menyampaikan
Informasi Keuangan Daerah
dalam jangka waktu 30 (tiga
puluh) hari setelah
diterbitkannya peringatan
tertulissebagaimana dimaksud
pada ayat (1), Menteri
Keuanganmenetapkan sanksi
berupa penundaan penyaluran
DanaPerimbangan setelah
berkoordinasi dengan Menteri
Dalam Negeri.
7 PERATURAN Pasal 2 ayat (1) yaitu, Berdasarkan pasal ini , satpol p
PEMERINTAH merupakan pembantu kepal
REPUBLIK (1) Untuk membantu kepala daerah dalam menegakka

49
INDONESIA daerah dalam menegakkan peraturan daerah, maka dalam
NOMOR 6 TAHUN Perdadan penyelenggaraan hal ini satpol pp juga d
2010 2004 ketertiban umum dan perlukan dalam penegaka
TENTANG ketenteraman pembayaran pajak rumah kos
SATUAN POLISI masyarakat, di setiap provinsi Agar seluruh pemilik rumah ko
PAMONG PRAJA dan kabupaten/kota dapat membayar pajak ruma
dibentuk Satpol PP. kos tersebut.
8 Peraturan Pemerintah Pasal 5 Menurut pasal in
No. 27 Tahun 2014 Gurbenur/Bupati/Walikota
(1) Gubernur/Bupati/Walikota
Tentang Pengelolaan adalah pemegang kekuasaa
adalah pemegang
Barang Milik atas Pengelolaan barang mili
kekuasaan pengelolaan
Negara/Daerah daerah yang memiliki berbaga
Barang Milik Daerah.
wewenang dan tanggung jawa
(2) Pemegang kekuasaan seperti menetapkan berbaga
pengelolaan Barang Milik kebijakan dalam pengelolaa
Daerah berwenang dan barang milik daerah denga
bertanggung jawab: dibantu sekertaris daerah dalam
pengelolaan barang, sehingg
a. menetapkan kebijakan
apabila masyarat aka
pengelolaan Barang
melakukan pemanfaatan baran
Milik Daerah;
b. menetapkan milik daerah dalam hal ini tana
Penggunaan, dan/atau bangunan maka haru
Pemanfaatan, atau mendapat izin terlebih dahul
Pemindahtanganan dari Gurbenur/Bupati/Walikota.
Barang Milik Daerah
berupa tanah dan/atau
bangunan;
c. menetapkan kebijakan
pengamanan dan
pemeliharaan Barang
Milik Daerah;
d. menetapkan pejabat
yang mengurus dan

50
menyimpan Barang
Milik Daerah;
e. mengajukan usul
Pemindahtanganan
Barang Milik Daerah
yang memerlukan
persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat
Daerah;
f. menyetujui usul
Pemindahtanganan,
Pemusnahan, dan
Penghapusan Barang
Milik Daerah sesuai
batas kewenangannya;
g. menyetujui usul
Pemanfaatan Barang
Milik Daerah berupa
sebagian tanah dan/atau
bangunan dan selain
tanah dan/atau
bangunan; dan
h. menyetujui usul
Pemanfaatan Barang
Milik Daerah dalam
bentuk Kerja Sama
Penyediaan
Infrastruktur.
(3) Sekretaris Daerah adalah
Pengelola Barang Milik
Daerah.

(4) Pengelola Barang Milik


Daerah berwenang dan

51
bertanggung jawab:

a. meneliti dan
menyetujui rencana
kebutuhan Barang
Milik Daerah;
b. meneliti dan
menyetujui rencana
kebutuhan
pemeliharaan/perawata
n Barang Milik Daerah;
c. mengajukan usul
Pemanfaatan dan
Pemindahtanganan
Barang Milik Daerah
yang memerlukan
persetujuan
Gubernur/Bupati/Walik
ota;
d. mengatur pelaksanaan
Penggunaan,Pemanfaat
an, Pemusnahan, dan
Penghapusan Barang
Milik Daerah;
e. mengatur pelaksanaan
Pemindahtanganan
Barang Milik Daerah
yang telah disetujui
oleh
Gubernur/Bupati/Walik
ota atau Dewan
Perwakilan Rakyat
Daerah; melakukan
koordinasi dalam

52
pelaksanaan
Inventarisasi Barang
Milik Daerah; dan
melakukan pengawasan
dan pengendalian atas
pengelolaan Barang
Milik Daerah.
9 PERATURAN Pasal 5 : Pasal ini menyatakan bahw
PEMERINTAH pembinaan ata
REPUBLIK Pemberian pedoman dan standar penyelenggaraan pemerinta
INDONESIA pelaksanaan urusan pemerintah daerah oleh pemerintah pusa
NOMOR 79 TAHUN sebagaimana dimaksud dalam memiliki pedoman dan standa
2005 pasal 2 ayat (1) huruf b dalam pelaksanaan urusa
TENTANG mencakup aspek perencanaan, pemerintahan yang mencaku
PEDOMAN pelaksanaan, tata laksana, aspek perencanaan
PEMBINAAN DAN pendanaan, kualitas, pelaksanaan, tata laksan
PENGAWASAN penegendalian dan pengawasan. pendanaan, kualitas
PENYELENGGARAAN pengendalian dan pengawasan
PEMERINTAH Mengingat hal tersebut mak
DAERAH dalam pelaksanaan urusa
pemerintah dalam ha
pemungutan pajak rumah ko
harus berpedoman pad
pembinaan dan pengawasa
dalam menjalankan perda paja
rumah kos dengan mencaku
berbagai aspek yang tela
ditentukan diatas.

D. Peraturan Menteri Dalam Negeri

NO PERATURAN PASAL ANALISIS


MENTERI DALAM

53
NEGERI
1 PERATURAN Pasal 324 yaitu, Dalam pasal ini dijelaskan
MENTERI DALAM bahwa Kepala Daerah dapat
NEGERI (1) Kepala daerah dapat menetapkan SKPD untuk
NOMOR 21 TAHUN menetapkan SKPD atau Unit melakukan tugas dan fungsinya
2011 Kerja pada SKPD yang tugas yang bersifat operasional
TENTANG dan fungsinya bersifat dengan menerapkan Pola
PERUBAHAN operasional dalam Pengelolaan Keuangan Badan
KEDUA ATAS menyelenggarakan pelayanan Layanan Umum Daerah yang
PERATURAN umum dengan menerapkan telah diatur sesuai dengan
MENTERI DALAM Pola Pengelolaan Keuangan peraturan perundnag-udnangan
NEGERI NOMOR 13 Badan Layanan Umum Daerah yang berlaku. Pola pengelolaan
TAHUN 2006 sesuai dengan peraturan keuangan badan layanan umum
TENTANG perundang-undangan. ini dapat diterapkan dalam
PEDOMAN mengelola hasil pendapatan
PENGELOLAAN yang diperoleh pemerintah
KEUANGAN daerah dari pendapatan pajak
DAERAH rumah kos.
2 Peraturan Menteri Pasal 4 Pasal ini mengamanatkan
Perencanaan pembangunan
Dalam Negeri No. 54 bahwasanya dalam
daerah dirumuskan secara:
Tahun 2010 Tentang perancanaan pembangunan
a. transparan;
Pelaksanaan Peraturan b. responsif; daerah harus dilakukan oleh
c. efisien;
Pemerintah No. 8 tahun pemerintah daerah secara
d. efektif;
2006 Tentang , Tahapan e. akuntabel; transparan, resposif, efisien,
f. partisipatif;
Tata Cara Penyusunan, efektif, akuntabel, partisipatif,
g. terukur;
Pengendalian, Dan h. berkeadilan; dan terukur, berkeadilan dan
i. berwawasan
Evaluasi Pelaksanaan berwawasan lingkungan. Hal
lingkungan.
Rencana Pembangunan ini bertujuan agar masyarakat
Daerah tidak beranggapan bahwa
pemerintah daerah melakukan
perbuatan diskriminatif dalam
melakukan penyelenggaraan
negara.Pembangunan tersebut

54
juga harus dilakukan secara
responsif, efektif dan efisien
sehingga pemerintah harus
mendengarkan keluhan dari
masyarakat untuk melakukan
arah pembangunan daerahnya
sehingga hasilnya dapat efektif
dan efisien. Akuntabel dan
terukur dimaksudkan agar
pmerintah dapat
memperhitungkan dengan teliti
seluruh aspek dalam
membangun suatu daerah
dnegan menyesuaikan tingkat
kemampuan finansial dari
daerah tersebut. Dan dalam
melakukan pembangunan
daerah maka pemerintah
daerah membutuhkan peran
masyarakat untuk ikut
berpartisipasi dengan
melakukan pembangunan
dengan berwawasan
lingkungan. Peraturan ini
sangat penting untuk
digunakan pemerintah daerah
dalam mengatur pembangunan
rumah kos.

3 Peraturan Menteri Pasal 5 Dalam Penerapan Pola


(1) Persyaratan substantif
Dalam Negeri No. 61 Pengelolaan Keuangan Badan
sebagaimana dimaksud dalam
Tahun 2007 Tentang Layanan Umum Daerah, yang
Pasal 4 terpenuhi apabila tugas
Pedoman Teknis biasa di sebut dengan PPK-
dan fungsi SKPD atau Unit

55
Pengelolaan Keuangan Kerja bersifat operasional BLUD pada Surat Keterangan
Badan Layanan Umum dalam menyelenggarakan Daerah (SKPD) atau Unit
pelayanan umum yang
Daerah Kerja ini harus memenuhi
menghasilkan semi barang/jasa
persyaratan substantif, teknis
publik (quasipublic goods).
dan administratif agar dapat
(2) Pelayanan umum
menyelenggarakan pelayanan
sebagaimana dimaksud pada
umum yang menghasilkan
ayat (1), berhubungan dengan:
a. penyediaan barang barang/jasa public yang
dan/atau jasa layanan mumpuni secara kualitas dan
umum untuk kuantitas. Pelayanaan umum
meningkatkan kualitas ini menyangkut aspek
dan kuantitas pelayanan penyediaan barang dan/atau
masyarakat; jasa, pengelolaan
b. pengelolaan
wilayah/kawasan tertentu untuk
wilayah/kawasan
tujuan meningkatkan ekonomi
tertentu untuk tujuan
masyarakat, serta pengelolaan
meningkatkan
dana khusu dalam
perekonomian
meningkatkan ekonomi
masyarakat atau layanan
dan/atau pelayanan. Maka
umum; dan/atau
SKPD atau Unit Kerja ini
c. pengelolaan dana khusus
diharapkan dapat memberikan
dalam rangka
layanan umum dengan
meningkatkan ekonomi
mengelola suatu
dan/atau pelayanan
wilayah/kawasan menjadi
kepada masyarakat.
lahan produktif untuk
meningkatkan perekonomian
masyarakat salah satunya
dengan melakukan pengelolaan
terhadap kawasan yang banyak
difungsikan sebagai rumah kos
seperti kawasan disekitar
tempat pendidikan.

56
Pasal 6 Pelayanan umum yang
(1) Penyediaan barang dan/atau
merupakan kewenangan dari
jasa layanan umum,
pemerintah daerah diantaranya
sebagaimana dimaksud
adalah layanan pemungutan
dalam Pasal 5 ayat (2)
pajak daerah, layanan
huruf a, diutamakan untuk
pembuatan Kartu Tanda
pelayanan kesehatan.
Penduduk (KTP), layanan
(2) Penyediaan barang dan/atau
pemberian izin mendirikan
jasa layanan umum
bangunan (IMB) dan yang
sebagaimana dimaksud
menjadi focus utama yaitu
pada ayat (1), tidak berlaku
berupa layanan kesehatan bagi
bagi pelayanan umum yang
masyarakat, Hal tersebut telah
hanya merupakan
menjadi kewajiban dari
kewenangan pemerintah
pemerintah daerah untuk
daerah karena
memberikan pelayanan umum
kewajibannya berdasarkan
seperti yang tertera didalam
peraturan perundang-
pasal tersebut. Sehingga
undangan.
(3) Pelayanan umum yang kewenangan dalam melakukan
hanya merupakan kewenangan pemungutan pajak adalah
pemerintah daerah kewenangan yang dimiliki oleh
sebagaimana dimaksud pada pemerintah daerah.
ayat (2), antara lain: layanan
pungutan pajak daerah, layanan
pembuatan Kartu Tanda
Penduduk (KTP), layanan
pemberian izin mendirikan
bangunan (1MB).

4 Peraturan Menteri Pasal 4 Dalam pembuatan Naskah


(1) Perda sebagaimana
Dalam Negerii No. 1 Akademik suatu Peraturan
dimaksud dalam Pasal 3
Tahun 2014 tentang daerah utamanya dalam hal ini
huruf a terdiri atas:
Pembentukan Produk Kota Malang harus mengacu

57
Hukum Daerah a. Perda provinsi; dan pada hierarki perundang-
b. Perda kabupaten/kota.
udangan yang telah ada. Pasal
(2) Perda provinsi
ini menganut asas Lex superior
sebagaimana dimaksud
derogat legi inferior dimana
pada ayat (1) huruf a
Undang-Undang yang lebih
memiliki hierarki lebih
tinggi mengesampingkan
tinggi dari pada Perda
undang-unang yang lebih
kabupaten/kota;
(3) Perda provinsi rendah. Sehingga peraturan
sebagaimana dimaksud yang lebih tinggi harus dapat
pada ayat (1) huruf a mengatur kewenangan yang
memuat materi muatan terdapat dalam materi
untuk mengatur muatannya terkait
kewenangan provinsi kabupaten/kota. Seperti yang
dan/atau dapat mengatur dijelaskan dalam Pasal 4
kewenangan Peraturan Menteri Dalam
kabupaten/kota. Negerii No. 1 Tahun 2014
(4) Perda provinsi
tentang Pembentukan Produk
sebagaimana dimaksud
Hukum daerah.
pada ayat (3) dapat
mengatur kewenangan
kabupaten/kota apabila
terdapat pengaturan yang
materi muatannya terkait
kabupaten/kota.

Pasal 8 Dalam pembuatan Naskah


Produk hukum daerah
Akademik Peraturan Daerah
sebagaimana dimaksud dalam
utamanya Kota Malang maka
Pasal 2 huruf b berbentuk:
Harus ada yang mengatur dan
a. Keputusan Kepala
mengeluarkan penetapan yaitu

58
Daerah; sesuai dengan yang ditegaskan
b. Keputusan DPRD;
dalam pasal 8 maka hal
c. Keputusan Pimpinan
tersebut adalah tugas dari
DPRD; dan
d. Keputusan Badan Kepala Daerah, Keputusan
Kehormatan DPRD yang dimabil DPRD,
Keputusan pimpinan DPRD
serta Keputusan Badan
Kehormatan DPRD. Dalam
memberikan putusannya sesuai
dengan Naskah Akamdemik
yang yang telah diajukan maka
harus berpedoman pada
susunan yang telah ditetapkan
tersebut.

5 Peraturan Menteri Pasal 13 EKPPD yaitu Evaluasi Kinerja


(1) EKPPD Tahunan
Dalam Negerii No. 73 Penyelenggara Pemerintah
sebagaimana dimaksud
Tahun 2009 tentang Daerah adalah suatu
dalam Pasal 12 huruf a,
Tata Cara Pelaksanaan pengukuran kinerja serta
meliputi:
Evaluasi Kinerja prestasi dari penyelenggara
a. pengukuran kinerja
Penyelenggaraan pemerintahan daerah. Hasil
penyelenggaraan
Pemerintah Daerah EKPPD tahunan digunakan
pemerintahan daerah;
b. penentuan peringkat; Pemerintah sebagai dasar
dan untuk melakukan pembinaan,
c. penentuan status
pengawasan, dan kebijakan
kinerja
Pemerintah dalam
penyelenggaraan
penyelenggaraan otonomi, dan
pemerintahan provinsi,
dijadikan sebagai masukan
kabupaten/kota secara
serta pertimbangan dalam
nasional.
penyusunan Rencana
(2) Hasil EKPPD tahunan
Pembangunan Jangka
digunakan Pemerintah
Menengah Daerah.Tim yang
sebagai dasar untuk
mengevaluasi EKPPD adalah
melakukan pembinaan,

59
pengawasan, dan Tim Nasional EPPD.
kebijakan Pemerintah Pelaksanaan EKPPD ini
dalam penyelenggaraan biasanya dilakukan Tahunan
otonomi atau dan Akhir Masa Jabatan Kepala
pembentukan, Daerah. Evaluasi ini sangat
penghapusan/penggabunga penting mengingat suatu
n daerah otonom. Penyelenggara Pemerintah
(3) EKPPD Akhir Masa
Daerah dinyatakan berhasil
Jabatan Kepala Daerah
apabila dalam evaluasi ini
sebagaimana dimaksud
dinyatakan terdapat kemajuan
dalam Pasal 12 huruf b,
dalam berbagai aspek yang ada
rekapitulasi atas prestasi
di daerahnya, sehingga evaluasi
penyelenggaraan
ini juga bermakna sebagai
pemerintahan daerah
rapor bagi penyelenggara
dalam kurun waktu 5
pemerintah daerah utamanya
(lima) tahun atau kurang
kepala daerah.
dari 5 (lima) tahun
meliputi:
a. penilaian kebijakan
umum daerah;
b. pengelolaan keuangan
daerah secara makro;
c. penyelenggaraan urusan
desentralisasi;
d. penyelenggaraan tugas
pembantuan; dan
e. penyelenggaraan tugas
umum pemerintahan.
(4) Hasil EKPPD Akhir Masa
Jabatan Kepala Daerah
digunakan Kepala Daerah
yang terpilih sebagai
masukan dan
mempertimbangkan
penyusunan Rencana

60
Pembangunan Jangka
Menengah Daerah.

E. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur

NO PERATURAN PASAL ANALISIS


DAERAH
1 PERATURAN Pasal 2 huruf a Menurut Peraturan Daerah ini,
DAERAH KOTA Ruang lingkup keuangan Kota Malang telah mengatur
MALANG daerah, meliputi : a. hak bahwasanya adalah hak
NOMOR 10 TAHUN daerah untuk memungut pajak pemerintah daerah untuk
2008 daerah dan retribusi daerah memungut pajak dan retribusi
TENTANG serta melakukan pinjaman; daerah sebagai sumber
PENGELOLAAN keuangan daerah.
KEUANGAN
DAERAH
Pasal 5 : Pasal ini menjelaskan bahwa
(1) Walikota selaku Kepala wewenang untuk memegang
Pemerintahan Daerah kekuasaan terhadap
merupakan pemegang pengelolaan keuangan daerah
kekuasaan adalah milik Walikota selaku
pengelolaan keuangan daerah Kepala Pemerintahan Daerah.
dan mewakili Pemerintah Walikota tersebut memiliki
Daerah dalam kepemilikan kewenangan untuk menetapkan
kekayaan daerah yang kebijakan berkaitan dengan
dipisahkan. APBD dan urusan-urusan lain
terkait pengelolaan keuangan
(2) Pemegang Kekuasaan daerah seperti halnya
Pengelolaan Keuangan Daerah menetapkan pejabat-pejabat
sebagaimana dimaksud pada yang berwenang untuk
ayat (1), mempunyai membantu dalam mengelola
kewenangan : keuangan daerah. Secara garis

61
a. menetapkan kebijakan besar pasal ini mempertegas
tentang pelaksanaan APBD dan bahwasanya peraturan daerah
pengelolaan barang Kota Malang telah mengatur
daerah; secara detail berkenaan dengan
b. menetapkan kuasa pengguna kewenangan walikota Malang
anggaran/pengguna barang untuk mengelola sendiri
serta bendahara keuangan milik daerah
penerima dan/atau otonomnya.
pengeluaran;
c. menetapkan pejabat yang
bertugas melakukan
pemungutan penerimaan
daerah;
d. menetapkan pejabat yang
bertugas melakukan
pengelolaan utang dan piutang
daerah;
e. menetapkan pejabat yang
bertugas melakukan
pengelolaan barang milik
daerah;
f. menetapkan pejabat yang
bertugas melakukan pengujian
atas tagihan dan
memerintahkan pembayaran.
BAB IV

LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS DAN YURIDIS

A. Landasan Filosofis

62
Pembentukan peraturan perundang-undangan yang perlu diperhatikan

harus sesuai dengan nilai kebenaran, keadilan, dan kesusilaan yang ada ditengah

masyarakat. Landasan Filosofis itu sendiri akan bersumber dari pandangan-

pandangan dalam masyarakat yang diyakini sebagai suatu nilai. Nilai merupakan

suatu ide-ide mengenai hal-hal yang benar, baik, atau diinginkan. Norma-norma

moral adalah tolak ukur untuk menentukan betul salahnya sikap dan tindakan

manusia dilihat dari segi baik buruknya sebagai manusia dan bukan sebagai

pelaku peran tertentu dan terbatas. Tentunya semua itu sangat diperlukan dalam

pembentukan peraturan perundang-undangan.

Pemberlakuan suatu Peraturan Daerah dapat ditinjau dari aspek filosofis,

yaitu terkait nilai keadilan. Jika diterapkan pada pajak rumah kost, maka

pemungutan pajak harus adil dan merata, karena dengan dikenakannya pada wajib

pajak maka harus sebanding dengan kemampuannya untuk membayar dan mafaat

yang diterima. sehingga diantaranya saling tidak ada yang dirugikan, dengan

demikian bahwa memang perlu adanya tindak lanjut Pemerintah Daerah Kota

Malang untuk melakukan pengaturan yang lebih lanjut tentang Pajak Rumah

Kost.

Pembentukan peraturan perundang-undangan di Indonesia harus

berlandaskan pandangan filosofis Pancasila sebagai falsafah bangsa Indonesia,

yakni :

1. Nilai Ketuhanan

Masyarakat Indonesia bukan masyarakat tidak beragama (atheis) tetapi

masyarakat yang beragama (monotheis). Orang yang beragama akan mengenal

63
Tuhan dan patuh terhadap perintah-Nya. Ajaran tersebut diturunkan melalui kitab

suci14. Didalam pancasila sila pertama yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha

Esa terkandung nilai ketuhanan. Hormat menghormati antar pemeluk agama dan

penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup.

Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.

Dalam hal ini pengaturan yang ada di dalam Naskah Akademik Perda

Kota Malang Tentang Pajak Rumah Kost didasari oleh unsur-unsur yang ada

disetiap agama dimana didalam ajaran setiap agama mendorong umatnya untuk

membayar pajak sebagai salah satu wujud pemenuhan kebutuhan bersama dan

sikap peduli terhadap sesama. Dalam hal ini pajak dalam agama Islam di

contohkan sebagai salah satu bentuk dari zakat15.

2. Nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Sila kemanusiaan yang adil dan beradab ini harus diterapkan di daam suatu

peraturan perundang-undangan perpajakan. Penerapan sila kedua ini dapat

dilakukan pada saat menyusun peraturan perundang-undangan maupun pada saat

pelaksanaannya. Penyusunan peraturan peundang-undangan harus hati-hati dan

dilakuka secara adil sehingga konsepor UU perpajakan harus berkemanusiaan dan

harus tepo sliro16. Dimana dengan berlandaskan sila kedua ini diharapkan naskah

akademik peraturan daerah kota Malang tentang pajak rumah kost ini mampu

memberikan kepastian hukum yang adil dengan tetap menjaga hak-hak dari setiap

lapisan masyarakat yang memiliki harkat dan martabat.

14
Tunggul Anshari Setia Negara, Pengantar Hukum Pajak, Bayumedia Publishing,
Malang, 2008, hlm. 23.
15
Ibid.,hlm.24.
16
Ibid., hlm. 25-26.

64
3. Nilai Persatuan

Untuk sila ketiga Pancasila yang berbunyi Persatuan Indonesia terdapat

nilai persatuan yang memiliki makna bahwa pajak merupakan alat pemersatu

bangsa yang mengikat dan memberikan hidup kepada bangsa. Pajak berasal dari

rakyat, oleh rakyat, dan dipergunakan untuk kepentingan bersama. Uang pajak

tersebut kemudian dikumpulkan secara bersama-sama oleh akyat untuk

membiayai kepentingan umum merupakan usaha bersama dan dikoordinasikan

oleh pemerintah.

Sila keempat digunakan sebagai dasar pembentukan naskah akademik

peraturan daerah kota malang tentang pemungutan pajak rumah kost yang mana

hasil dari pemungutan pajak rumah kost ini keberadaannya di tujukan untuk

kepentingan masyarakat kota Malang sebagai salah satu bentuk persatuan rakyat

Indonesia yang ingin berpartisipasi dalam membangun fasilitas dan sarana

prasarana di Indonesia.

4. Nilai Kerakyatan

Dalam sila keempat pancasila yang berbunyi Kerakyatan yang dipimpin

oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan yang dimana

nilai yang terkandung dalam sila ini adalah nilai kerakyatan yang berarti

kedaulatan berada ditangan rakyat, setiap rakyat berhak memilih perwakilan

mereka, setiap rakyat memiliki kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama, dan

musyawarah serta gotong royong merupakan nilai yang terkandung dalam sila

keempat yang mana nilai kerakyatan harus mengutamakan kepentingan bersama.

Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. Mengutamakan musyawarah

65
dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan bersama. Keputusan

musyawarah yang diambil harus dapat dipertanggung jawabkan.17

Nilai Kerakyatan digunakan sebagai landasan dalam pembentukan naskah

akademik peraturan daerah kota Malang tentang pemungutan pajak kost didasari

oleh kepentingan rakyat yang diwakili oleh pemerintah daerah sebagai bentuk

perlindungan hukum dan landasan hukum bagi pemerintah untuk menjalankan

tugasnya untuk melakukan pemungutan pajak. Sebab dalam pembentukan naskah

akademik ini harus melihat aspek dari kehidupan masyrakat apa yang dibutuhkan

masyarakat agar tidak tejadi kepentingan politik yang lebih dominan dari pada

kebutuhan dan suara rakyat sebagai bentuk nyata kedaulatan rakyat yang

seimbang.

5. Nilai Keadilan

Terakhir untuk sila kelima pancasila yang berbunyi Keadilan sosial bagi

seluruh rakyat indonesia yang dimana didalamnya terkandung nilai keadilan

yang berarti keadilan dalam kehidupan sosial haruslah meliputi seluruh rakyat

indonesia, persamaan hak dalam berbagai hak yang dilandasi dengan hak dan

kewajiban setiap orang, dan sikap saling menghormati orang lain agar dapat

tercapainya keadilan dalam bentuk perbuat luhur dan saling membantu dan gotong

royong. Bersikap adil. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.

Menghormati hak-hak orang lain.Suka memberi pertolongan kepada orang lain.

Nilai sila ke lima berupa keadilan yang mampu menjamin hak-hak

17
Huang Stevanus, Nilai-nilai yang Terkandung didalam Pancasila,
https://stefangreg2410.wordpress.com/2013/04/24/nilai-nilai-yang-terkandung-didalam-pancasila/
diakses tanggal 29 Maret 2017pukul 21.26 WIB.

66
masyarakat setelah mayarakat menjalankan kewajibannya untuk melakukan

pembayaran pajak rumah kost hal inilah yang diatur oleh naskah akademik

peraturan daerah kota malang tentang pemungutan pajak rumah kost. Dengan

demikian diharapkan timbulnya keseimbangan dan sikap adil antara pemerintah

dan masyarakat.

B. Landasan Sosiologis

Landasan Sosiologis, yaitu bahwa suatu peraturan perundang undangan

harus lah berkaitan dengan kondisi atau kenyataan yang ada dan hidup di dalam

masyarakat. Ini mengandung makna bahwa pembuatan peraturan perundang

undangan haruslah mengacu dan bisa mengayomi kebutuhan hidup masyarakat,

sesuai dengan kesadaran hukum atau keyakinan masyarakat. Oleh maka dari itu,

hukum harus lah dibentuk atau dibuat sesuai dengan hukum yang hidup di dalam

masyarakat.

Landasan sosiologis juga dapat dikatakan merupakan pertimbangan atau

alasan yang menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk untuk memenuhi

kebutuhan masyarakat dalam berbagai aspek. Landasan sosiologis sesungguhnya

menyangkut fakta empiris mengenai perkembangan masalah dan kebutuhan

masyarakat dan negara. Peraturan Perundang-undangan yang diterima oleh

masyarakat secara wajar akan mempunyai daya laku yang efektif dan tidak begitu

banyak memerlukan pengarahan institusional untuk melaksanakannya.

Landasan sosialogis jugamencerminkan kenyataan yang hidup dalam

masyarakat. Dalam satu masyarakat industri, hukumnya (baca: peraturan

67
perundang-undangannya) harus sesuai dengan kenyataan-kenyataan yang ada

dalam masyarakat industri tersebut. Kenyataan itu dapat berupa kebutuhan atau

tuntutan atau masalah-masalah yang dihadapi seperti masalah perburuhan,

hubungan majikan-buruh, dan lain sebagainya.

Terdapat landasan teoritis sebagai dasar sosiologis berlakunya suatu kaidah

hukum, yaitu:

a. Teori Kekuasaan (Machttheorie) secara sosiologis kaidah hukum berlaku karena

paksaan penguasa, terlepas diterima atau tidak diterima oleh masyarakat;

b. Teori Pengakuan, (Annerkenungstheorie). Kaidah hukum berlaku berdasarkan

penerimaan dari masyarakat tempat hukum itu berlaku;

c. Sesuai dengan keyakinan umum. Peraturan ini wajib di patuhi secara

menyeluruh oleh tiap daerah;

d. Kesadaran hukum masyarakat. Kesadaran hukum sangat perlu untuk

masyarakat, karena dapat membantu mereka dan sebagai petunjuk dalam

menghadapi suatu persoalan yang tentunya juga bersangkutan dengan hukum;

e. Tidak menjadi kalimat-kalimat mati belaka. Mempunyai artian bahwa peraturan

yang telah ada hendaknya dalam penerapannya dipatuhi dan ditaati oleh

masayarakat;

f. Harus dipahami oleh masyarakat;

g. Sesuai dengan kenyataan hidup masyarakat.

68
Pemberlakuan suatu Peraturan Daerah ditinjau dari aspek sosiologis adalah

hal yang harus dilakukan terutama jika didasarkan pada penerimaan masyarakat

terhadap penerapan rancangan peraturan daerah tentang pajak rumah kost

dikarenakan Kota Malang yang dikenal dengan kota Pelajar sangat memerlukan

tempat tinggal sementara atau rumah kost. Sehingga banyak sekali para pemilik

rumah yang berada di sekitar tempat pendidikan terutama perguruan tinggi yang

membuka jasa penyewaan rumah kost. Namun hal tersebut yang seharusnya dapat

meningkatkan pendapatan dari Kota Malang nyatanya tidak terwujud dikarenakan

belum adanya peraturan yang mengatur secara jelas perihal pajak yang harus

dikenakan. Apabila di terapkan pajak rumah kost masyarakat kota Malang akan

lebih tertib dalam mendirikan rumah kost yang layak untuk mendapat ijin

pendirian usaha rumah kost. Selain itu dengan adanya Rancangan Peraturan

Daerah Kota Malang masyarakat juga turut andil membantu meningkatkan

pelayanan kepada publik yang juga akan meningkatkan perekonomian di Kota

Malang.

Kota Malang adalah sendiri merupakan sebuah kota di Provinsi Jawa

Timur, Indonesia. Kota ini berada di dataran tinggi yang cukup sejuk, dan

wilayahnya dikelilingi oleh Kabupaten Malang. Kota Malang terletak di bagian

selatan Propinsi Jawa Timur. Kota Malang merupakan sebuah kota yang memiliki

tinggi wilayah di atas rata-rata di Propinsi Jawa Timur. Kota Malang merupakan

daerah dengan curah hujan yang tinggi serta memiliki kelembaban udara yang

tinggi dengan kemiringan lahan yang cukup beragam.

KEADAAN GEOGRAFI

69
Kota Malang yang terletak pada ketinggian antara 440 667 meter diatas

permukaan air laut, merupakan salah satu kota tujuan wisata di Jawa Timur karena

potensi alam dan iklim yang dimiliki. Letaknya yang berada ditengah-tengah

wilayah Kabupaten Malang secara astronomis terletak 112,06 112,07 Bujur

Timur dan 7,06 8,02 Lintang Selatan18, dengan batas wilayah sebagai berikut :

1. Sebelah Utara : Kecamatan Singosari dan Kec. Karangploso Kabupaten

Malang

2. Sebelah Timur : Kecamatan Pakis dan Kecamatan Tumpang Kabupaten

Malang

3. Sebelah Selatan : Kecamatan Tajinan dan Kecamatan Pakisaji Kabupaten

Malang

4. Sebelah Barat : Kecamatan Wagir dan Kecamatan Dau Kabupaten Malang

Serta dikelilingi beberapa gunung, yaitu :

1. Gunung Arjuno di sebelah Utara

2. Gunung Semeru di sebelah Timur

3. Gunung Kawi dan Panderman di sebelah Barat

4. Gunung Kelud di sebelah Selatan

IKLIM

Kondisi iklim Kota Malang selama mulai tahun 2008 tercatat rata-rata

suhu udara berkisar antara 22,7C 25,1C. Sedangkan suhu maksimum

mencapai 32,7C dan suhu minimum 18,4C . Rata kelembaban udara berkisar

79% 86%. Dengan kelembaban maksimum 99% dan minimum mencapai 40%.

18
http://malangkota.go.id/sekilas-malang/geografis/ (diakses tanggal 28 Maret 2017)

70
Seperti umumnya daerah lain di Indonesia, Kota Malang mengikuti perubahan

putaran 2 iklim, musim hujan, dan musim kemarau. Dari hasil pengamatan

Stasiun Klimatologi Karangploso Curah hujan yang relatif tinggi terjadi pada

bulan Pebruari, Nopember, Desember. Sedangkan pada bulan Juni dan September

Curah hujan relatif rendah. Kecepatan angin maksimum terjadi di bulan Mei,

September, dan Juli.

KEADAAN GEOLOGI

Keadaan tanah di wilayah Kota Malang antara lain :

1. Bagian selatan Kota Malang merupakan dataran tinggi yang cukup luas,

sehingga cocok untuk industri

2. Bagian utara Kota Malang termasuk dataran tinggi yang subur, sehingga

cocok untuk pertanian

3. Bagian timur Kota Malang merupakan dataran tinggi dengan keadaan

kurang subur sehingga dapat dimanfaatkan untuk perumahan warga

4. Bagian barat Kota Malang merupakan dataran tinggi yang amat luas

sehingga menjadi daerah pendidikan

JENIS TANAH

Jenis tanah di wilayah Kota Malang ada 4 macam, antara lain :

1. Alluvial kelabu kehitaman dengan luas 6,930,267 Ha.

2. Mediteran coklat dengan luas 1.225.160 Ha.

3. Asosiasi latosol coklat kemerahan grey coklat dengan luas 1.942.160 Ha.

4. Asosiasi andosol coklat dan grey humus dengan luas 1.765,160 Ha

Struktur tanah pada umumnya relatif baik, akan tetapi yang perlu mendapatkan

71
perhatian adalah penggunaan jenis tanah andosol yang memiliki sifat peka erosi.

Jenis tanah andosol ini terdapat di Kecamatan lowokwaru dengan relatif

kemiringan sekitar 15 %.

Gambar Peta Administrasi

Kota Malang

Tabel Jumlah Kecamatan dan Kelurahan Kota Malang

Klojen Bllimbing Kedungkandang Lowokwaru Sukun

72
Klojen Kesatrian Arjowinangun Jatimulyo Bandulan

Rampal Polehan Tlogowaru Lowokwaru Karangbesuki

Celaket

Oro-Oro Purwantoro Mergosono Tulusrejo Pisangcandi

Dowo

Samaan Bunulrejo Bumiayu Mojolangu Mulyorejo

Penanggungan Pandanwangi Wonokoyo Tunjungsekar Sukun

Gadingasri Blimbing Buring Tasikmadu Tanjungrejo

Bareng Purwodadi Kotalama Tunggulwulung Bakalankrajan

Kasin Arjosari Kedungkandang Dinoyo Bandungrejosari

Sukoharjo Balearjosari Cemorokandang Merjosari Ciptomulyo

Kauman Jodipan Lesanpuro Tlogomas Gadang

Kidul dalem Polowijen Madyopuro Sumbersari Kebonsari

Sawojajar Ketawanggede

Sumber: Situs Resmi Pemerintahan Kota Malang 19

19
http://malangkota.go.id/layanan-publik/kependudukan/, diakses tanggal 28 Maret 2017 Pukul
16.30

73
SOSIOLOGIS MASYARAKAT

Data Jumlah Rumah Kost yang Memiliki Ijin Usaha Pemondokan Kategori

Rumah Kost Di Kota Malang Tahun 2016

NO Nama Memiliki Ijin Usaha Prosentase

Kecamatan Pemondokan

1 Klojen 77 14,21%

2 Blimbing 13 1,61%

3 Kedungkandang 8 0,96%

4 Lowokwaru 564 81,34%

5 Sukun 21 1,88%

Jumlah 683 100%

Sumber: Badan Pelayanan Perijinan Terpadu Kota Malang20

Keuangan Daerah Kota Malang

PEMERINTAH KOTA MALANG

LAPORAN REALISASI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA

Periode 01 Juli 2016 - 30 Desember 2016

20
http://bp2t.malangkota.go.id/?page_id=84 Diakses 28 Maret 2017 Pukul 17.50

74
Sumber : Dispenda Kota Malang21

Dimana apabila di hitung dan diperkirakan

Pendapatan Pajak Daerah Kota Malang tahun 2016 :

Rp.144.670.084.148,83/ pertahun
Dimana Perkiraan rumah kost yang telah memenuhi syarat untuk di kenai pajak

adalah sekitar 683 rumah kost dengan penghasilan rata rata perbulan

Rp.3.000.000,- dan dikenakan pajak sebesar 5% maka diperoleh hasil pajak

sejumlah Rp.150.000,- X 683 rumah kost adalah Rp.150.000.000 x 12 bulan;

Rp.1.229.400.000/pertahun.
Maka dari pajak kost tersebut mampu menyumbang sebesar 1,01375%

pertahun terhadap sumber pendapatan daerah. Dalam pendapatan pajak daerah hal

ini akan terus meningkat apabila setiap tahunnya pemilik usaha rumah kost aktif

dalam menyantumkan ijin usaha pemondokan sebagai ijin usaha yang sah yang

diiringi pula dengan semakin bertambahnya pemilik rumah yang menyewakan

rumahnya untuk usaha persewaan rumah kos.


Potensi Permasalahan Pajak Rumah Kost di Kota Malang

Dilihat dari Kondisi serta Jumlah kepemilikan ijin usaha dibidang rumah

kost di Kota Malang yang sangat minim di setiap kelurahannya membuat

pemasukan dari pajak rumah kost sendiri kurang maksimal dari hasil perhitungan

yang telah dilakukan oleh tim kami, dimana hal ini di karenakan masyarakat Kota

Malang yang memiliki usaha rumah kost kurang mengetahui bagaimana tata cara

dan prosedur dalam melakukan pendaftaran ke dins atau badan pelayanan

perijinan terpadu untuk memperoleh ijin usaha rumah kos yang jelas. Masayarakat

21
http://malangkota.go.id/dokumen-daerah/apbd/ Diakses 28 Maret 2017 Pukul 18.00

75
Kota Malang masih bersikap pasif, terutama untuk menyadari betapa pentingnya

suatu perijinan yang dimiliki dalam kepemilikan suatu usaha yang mana akan

berdampak besar pula dalam pengenaan dan pemungutan pajak daerah Kota

Malang.

Apabila melihat dari sisi pembangunan setiap tahunnya Kota Malang

selalu menjadi kota yang mengalamai pertumbuhan pembangunan dari sektor

usaha yang terus meningkat setiap tahunnya. Hal ini dikarenkan faktor Kota

Malang yang di kenal sebagai Kota Pelajar yang setiap tahunnya pelajar dari

berbagai kota dan daerah di Indonesia datang ke Malang untuk menuntut ilmu.

Dimana hal ini sangat mempengaruhi jumlah penduduk di Kota Malang yang

membutuhkan rumah atau tempat tinggal sementara hal inilah yang

mempengaruhi usaha rumah kost di kota malang setiap tahunnya semakin

bertambah. Apabila hal ini tidak di atur di dalam suatu perundang-undangan

daerah yang jelas akan terjadi ketidak seimbangan dan ketidak teraturan dalam

berbagai aspek, baik sosial,budaya, ekonomi, dan dari pemerintahannya sendiri.

Maka dari itu tim kami meneliti dari sudut pandangan sosiologis masyarakat kota

malang apakah kebijakan dalam pembentukan peraturan daerah kota malang

tentang pemungutan pajak kost ini penting da di butuhkan dalam kehidupan

masyarakat atau tidak. Hal ini di lakukan dengan melakukan observasi dan

pembagian kuesioner yang mana data pertanyaannya ada pada lampiran I dan

Lampiran II.

C . LANDASAN YURIDIS

Pajak merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan

76
kesejahteraan rakyat suatu negara. Dengan adanya pajak maka akan meningkatkan

biaya pendapatan negara , yang nantinya akan di gunakan untuk berbagai

pemenuhan kebutuhan untuk rakyat, semisal untuk pembangunan fasilitas, sarana,

prasarana. Maka dari itu dapat di katakana bahwa pajak merupakan hal yang

penting dalam kehidupan roda perekonomian suatu negara, dimana bertujuan

untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

Karena pajak merupakan salah satu faktor penting dalam peningkatan

kesejahteraan rakyat, maka di perlukannya suatu pengaturan mengenai pajak ,

terutama yang kita bahas saat ini adalah mengenai pajak rumah kost. Di kota

Malang sendiri belum ada peraturan daerah mengenai rumah kos. Peraturan itu

sendiri akan di perlukan untuk mengatur para pemilik kos untuk taat membayar

pajak. Selain itu juga untuk menunjang secara konkret mengenai pengaturan

standar perumahan untuk terselenggaranya tujuan negara untuk mensejahterakan

rakyatnya.

Perancangan peraturan daerah mengenai pajak rumah kos di kota malang

ini pun juga di perlukan untuk menjalankan urusan pemerintahan di sektor

pelayanan dasar. Peraturan ini di butuhkan agar terdapat suatu mekanisme

megenai pajak rumah kos yang baik dan benar serta di landaasi dengan sistem

demokrasi yang adil dan jujur. Sehingga dalam penerapannya dapat meningkatkan

penyeimbangan antara pendapatan dari setiap usaha yang di miliki masyarakat

dengan pengelolaan fasilitas dan pergerakan ekonomi yang ada di kota Malang.

Serta dapat menciptakan kehidupan masyarakat kota Malang yang semakin

sejahtera.

77
Pemerintahan daerah dalam menjalankan otonomi daerah memilki tiga

asas yatu desentralisasi, dekontralisasi, dan tugas pembantuan. Dalam

menjalankan tugasnya tersebut, pemerintah daerah juga berhak untuk membuat

peraturan daerah baik provinsi, kabupaten/Kota.

Dalam Bab tiga telah dijelaskan mengenai peraturan peraturan yang

berkaitan dengan rancangan pembentukan peraturan daerah mengenai rumah kos

ini. Sehingga dapat di jadikan landasan atau dasar dalam pembentukan peraturan

daerah di kota Malang mengenai pajak kos, dimana agar adanya kepastian hukum

dalam pembuatan peraturan daerah ini. Sehingga peraturan daerah itu sendiri

dapat di laksanakan dengan baik oleh masyrakat dan juga menjadi adanya

kepastian hukum dalam pemungutan pajak kos di kota Malang.

BAB V
JANGKAUAN DAN ARAH PENGATURAN MATERI MUATAN
PERATURAN DAERAH KOTA MALANG TENTANG RUMAH KOST

Jangkauan dan Arah Pengaturan Peraturan Daerah Kota Malang tentang


Standar Pembangunan Perumahan Rancangan Peraturan Daerah Kota Malang
Tentang Pajak Rumah Kost disusun untuk mewujudkan ketertiban dan
keseimbangan dalam pemungutan pajak kost yang menjadi kewajiban daerah. Hal
tersebut digunakan untuk mengatur suatu peraturan daerah sebagaimana yang
termuat dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,
Pasal 23 A yaitu, Pajak dan pengutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan
negara diatur dengan undang-undang.
Berikut adalah jangkauan dan arah pengaturan materi muatan dari Peraturan
Daerah Kota Malang tentang Rumah Kost, adalah sebagai berikut:

BAB I KETENTUAN UMUM

78
Pasal 1 : Pengertian atau definisi yang berlaku bagi pasal-pasal didalam Raperda
tentang pajak rumah kost.

BAB II NAMA, OBJEK, SUBJEK, DAN WAJIB PAJAK

Pasal 2 : Pasal ini menjelaskan tentang nama pajak rumah kost.

Pasal 3 : Berkenaan dengan obyek dari pemungutan pajak kost dan criteria kost
yang dikenakan pajak maupun kost yang tidak dikenakan pajak.

Pasal 4 : Pasal ini menjelaskan mengenai Subyek wajib pajak yang memiliki
kewajiban membayar pajak rumah kost.

BAB III DASAR PENGENAAN TARIF

Pasal 5 : Berkenaan dengan jumlah pembayaran yang harus dibayarkan oleh


rumah kost.

Pasal 6 : Besar presentase pengenaan pajak rumah kost.

Pasal 7 : Cara atau rumusan penghitungan besaran pokok pajak

BAB IV WILAYAH PEMUNGUTAN

Pasal 8 : Pengertian Wilayah pemungutan pajak.

BAB V MASA PAJAK


Pasal 9 : Masa Pajak disini menjelaskan tentang jangka waktu yang lamanya
ditetapkan 1 (satu) tahun.
BAB VI PENDAFTARAN DAN PENETAPAN PAJAK
Pasal 10 : Pasal ini menjelaskan kewajiban WP dalam mengisi SPTPD.
Pasal 11 : SPTPD tersebut digunakan untuk menghitung dan menetapkan pajak
yang terutang
Pasal 12 : Tata cara penerbitan SKPDKB dan SKPDKBT serta penunjukan
walikota/pejabat yang bewenang untuk mengeluarkan ketetapan
SKPDKB dan SKPDKBT.
BAB VII TATA CARA PEMBAYARAN DAN PENAGIHAN
Pasal 13 : Wajib pajak diwajibkan membayar pajak terutang berdasarkan

79
SKPDKB dan SKPDKBT
Pasal 14 : Jangka waktu pembayaran dan penyetoran pajak yang terutang.
Pasal 15 : Tata cara penagihan pajak.

KETERANGAN

4
5
6

8 BAB VIII Keberatan pajak terdiri dari


KEBERATAN DAN PASAL 16 a SKPDKB;
BANDING b. SKPDKBT;
c. SKPDLB;
d. SKPDN; dan
e. pemotongan atau
pemungutan
9 BAB IX PASAL 17 Wajib Pajak, Walikota dapat
membetulkan SKPDKB,
PEMBETULAN,
SKPDKBT atau STPD, SKPDN
PEMBATALAN atau SKPDLB yang dalam
penerbitannya terdapat
PENGURANGAN
kesalahan tulis dan /atau
KETETAPAN, kesalahan
DAN
PENGHAPUSAN
ATAU
PENGURANGAN
SANKSI
ADMINISTRATIF

80
10 BAB X PASAL18 Pengaturan waktu dan sistem
KEDALUWARSA kadaluarsa pajak rumah kost
PENAGIHAN
PASAL 19 Tidak berakunya piutang pajak
karena kadaluarsa
11 BAB XI PASAL 20 Pengaturan tentang pemberian
PENGHARGAAN penghargaan bagi wajib pajak
ATAS TAAT PAJAK atas ketaatan dalam membayar
pajak
12 BAB XII PASAL 21 Pengenaan besar sanksi jumlah
SANKSI kekurangan pajak yang terutang
ADMINISTRATIF
PASAL 22 Tanggal pembayaran
kekurangan pajak yang terutang
setiap bulannya
PASAL 23 Pengaturan biaya sanksi
keberatan pajak yang di tolak
13 BAB XIII PASAL 24 Ketentuan tentang hal-hal yang
KETENTUAN dapat di pidana
PIDANA
14 BAB XIV PASAL 25 Pengaturan tentang badan yang
PENYIDIKAN
berwenang untuk melakukan
penyidikan
15 BAB XV PASAL 26 Mekanisme, tata cara
KETENTUAN pembayaran, dan ketentuan lain
PERALIHAN mengenai perpajakan
daerah dilaksanakan sesuai
ketentuan peraturan perundang-
undangan di
bidang perpajakan di daerah
16 BAB XVI PASAL 27 Hal-hal yang belum diatur
dalam Peraturan Daerah ini
KETENTUAN
sepanjang mengenai teknis
PENUTUP pelaksanaannya diatur oleh
Walikota.

81
BAB VI

PENUTUP

A. Simpulan
Pemerintah Daerah Kota Malang telah melaksanakan otonomi daerah

sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014

tentang Pemerintahan Daerah dimana pemerintah daerah telah membuat suatu

peraturan daerah tentang pemungutan pajak rumah kos. Pembuatan peraturan

daerah tesebut selanjutnya disesuaikan dengan Undang Undang Nomor 28 Tahun

2009 yang dijadikan pedoman dalam perancangan peraturan daerah tentang pajak

rumah kost agar arah pengaturannya tidak bertentangan dengan pedoman produk

hukum yang telah ada. Dalam pembuatan rancangan peraturan daerah ini, maka

tentu perlu untuk memenuhi asas dari pembentukan peraturan perundang

undangan yang baik seperti asas kejelasan tujuan, asas kelembagaan dan pejabat

pembentuk yang tepat, asas kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi muatan,

dan asas dapat dilaksanakan . Kelima asas ini bertujuan agar suatu rancangan

peraturan perundang undangan dapat dilaksanakan dengan baik pada saat

pengundangannya. Peraturan daerah tersebut akan menjadi dasar dalam mengatur

secara jelas perihal kriteria rumah kost yang dapat dikenakan pajak, proses

pendaftaran, pemungutan, tata cara pembayaran, penagihan hingga pemberian

sanksi.

82
Dengan adanya pemungutan pajak rumah kos ini diharapkan dapat

menambah jumlah pendapatan daerah. Pemungutan pajak ini dinilai memiliki

peran yang penting karena dengan mekanisme pemungutan yang baik akan

mampu memberikan kontribusi yang baik dalam meningkatkan pendapatan

daerah kota malang yang mampu mensejahterakan kehidupan masyarakat dalam

pemenuhan fasilitas, sarana, dan prasarna di kota Malang.

B. Saran

Pembuatan suatu produk hukum diharapkan dapat mengakomodir

kepentingan antara penguasa dalam hal ini pemerintah daerah dan kepentingan

milik masyarakat. Produk Hukum tersebut harus dibuat sesuai dengan realitas

yang terjadi, sehingga dapat dijadikan pedoman dalam menanggulangi

permasalahan yang telah ada. Dengaan mengakomodir kepentingan antara

keduanya maka diharapkan tidak terjadi konflik dikemudian hari berkaitan dengan

adanya pihak yang tidak puas akan peraturan yang telah dibuat. Pembuatan

Peraturan Daerah tentang Pajak Rumah Kos Kota Malang ini seharusnya

didalamnya mengatur secara rinci mengenai subjek, objek, dasar pengenaan tarif,

wilayah pemungutan, masa pajak, pendaftaran, penetapan pajak, tata cara

pembayaran, penagihan, keberatan, banding, serta sanksi terkait pajak rumah kos.

Pembuatan peraturan daerah tersebut juga sebaiknya tidak bertenangan dengan

peratuan yang sudah ada sesuai dengan hirearki peraturan perundang-undangan

yang ada di Indonesia.

83