Anda di halaman 1dari 20

INTERNATIONAL STANDARDS ON AUDITING (ISA)

DAN
STANDARD PROFESIONAL AKUNTAN PUBLIK (SPAP)

MAKALAH
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Asurans dan Atestasi

Oleh:
Marcellina Nadia Christy - 155020300111069
Nur Atiyatul Faizah - 155020301111006
Richa Resti Utami - 1550203011110xx

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
TAHUN 2017
1
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................................... 1


1.1. Latar Belakang .......................................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah ..................................................................................................... 1
1.3. Tujuan ........................................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN ..................................................................................................... 5
2.1. Perkembangan Penerapan Standar Profesi Internasional dalam SPAP ..................... 5
2.2. Struktur ISA dalam Standar Audit di SPAP .............................................................. 5
2.3. Standar Pengendalian Mutu dalam SPAP................................................................... 6
BAB III KESIMPULAN ....................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 13

2
3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pelaporan keuangan suatu perusahaan merupakan aspek yang penting dalam proses
bisnis. Informasi-informasi yang disajikan dalam laporan keuangan akan digunakan oleh
para pengguna sebagai dasar untuk mengambil keputusan. Karena laporan keuangan sangat
penting maka salah satu instrumen perusahaan tersebut harus dibuat secara andal dan
menggambarkan kondisi perusahaan yang sebenar-benarnya. Oleh karena itu, diperlukan
suatu lembaga independen dan berkualitas yang berada diluar perusahaan untuk menilai
laporan keuangan perusahaan yang telah dibuat.
Lembaga independen tersebut dikenal sebagai akuntan publik yang biasanya juga
disebut sebagai auditor eksternal. Tugas dari akuntan publik ini ialah memeriksa dan
mengevaluasi (mengaudit) laporan keuangan secara profesional sesuai dengan standar yang
berlaku. Diharapkan hasil dari audit ini dapat meningkatkan kepercayaan para investor dan
krediturakan laporan keuangan perusahaan, karena para investor dan kreditur beranggapan
bahwa laporan keuangan yang telah diaudit memang benar cerminan dari kinerja perusahaan
yang sesungguhnya.
Selama menjalankan penugasan yang diberikan klien, proses pengauditan tentunya
dilakukan berdasarkan standar audit yang berlaku di negara tersebut. Untuk di Indonesia
sendiri standar audit yang berlaku saat ini adalah International Standards on Auditing (ISA).
Standar ini baru mulai berlaku untuk pengauditan atas laporan keuangan tahun 2013.
Sebelumnya, Indonesia menggunakan standar audit yang diadopsi dari United States
Generally Accepted Auditing Standard (U.S. GAAS).

1.2. Rumusan Masalah


1. Bagaimana perkembangan penerapan standar profesi internasional dalam SPAP?
2. Bagaimana struktur ISA dalam Standar Audit di SPAP?
3. Bagaimana Standar Pengendalian Mutu dalam SPAP?

1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui perkembangan penerapan standar profesi internasional dalam
SPAP.

1
2. Untuk mengetahui struktur ISA dalam Standar Audit di SPAP.
3. Untuk mengetahui Standar Pengendalian Mutu dalam SPAP.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Perkembangan Penerapan Standar Profesi Internasional dalam SPAP


Standar Profesional Akuntan Publik (disingkat SPAP) dalam Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 2011 merupakan acuan yang ditetapkan menjadi ukuran mutu yang wajib
dipatuhi oleh Akuntan Publik dalam pemberian jasanya. SPAP dikeluarkan oleh Dewan
Standar Profesional Akuntan Publik Institut Akuntan Publik Indonesia (DSPAP IAPI).
Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) yang berlaku di Indonesia selama ini mengacu
pada standar auditing dari Amerika. SPAP ini membagi standar auditing menjadi tiga bagian
utama yaitu Standar Umum, Standar Pekerjaan Lapangan dan Standar Pelaporan.
Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) yang merupakan pedoman bagi
pekerjaan auditor di Indonesia merupakan hasil pengembangan berkelanjutan yang telah
dimulai sejak tahun 1973. Perubahan pesat yang terjadi di lingkungan bisnis di awal dekade
tahun sembilan puluhan kemudian menuntut profesi akuntan publik untuk meningkatkan
mutu jasa audit atas laporan keuangan historis, jasa atestasi, serta jasa akuntansi dan review.
Disamping itu, tuntutan kebutuhan untuk menjadikan organisasi profesi akuntan publik lebih
mandiri dalam mengelola mutu jasa yang dihasilkan bagi masyarakat juga terus meningkat.
Untuk merespon kebutuhan profesi akuntan publik seiring pertumbuhan ekonomi
dan bisnis di Indonesia serta perubahan-perubahan radikal yang terjadi di lingkungan bisnis,
dalam kurun waktu 1994-1997 Dewan SPAP telah menerbitkan berbagai standar.
Selanjutnya, dalam kurun waktu 1997-2000 Dewan SPAP juga menerbitkan berbagai
interpretasi standar untuk merespon kebutuhan profesi akuntan publik dalam menghadapi
krisis ekonomi dan bisnis yang saat itu dialami oleh Indonesia.
SPAP per 1 Januari 2001 tersebut adalah merupakan kodifikasi SPAP terakhir yang
masih berlaku sampai dengan saat ini, dengan sedikit penambahan berupa interpretasi-
interpretasi yang diterbitkan dari tahun 2001 sampai dengan 2008. Penambahan terakhir
dilakukan pada bulan Pebruari 2008 dengan penerbitan Pernyataan Beragam.
Pada tahun 2004, melalui Konvensi Nasional Akuntan Indonesia telah diputuskan
bahwa Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) akan melakukan adopsi sepenuhnya (full adoption)
International Auditing and Assurance Standards (ISA) yang diterbitkan oleh International

3
Federation of Accountants (IFAC). Kita ketahui bahwa IFAC adalah organisasi akuntan
terbesar di dunia yang berdiri tahun 1977. IFAC melakukan kepeloporan akan perlunya
harmonisasi kerangka dasar (framework) untuk penyusunan standar internasional bagi
profesi akuntan, termasuk ISA dan IFRS.
Dengan menjadi anggota IFAC, maka IAI diwajibkan melakukan usaha terbaik (best
endeavor) untuk melakukan adopsi ISA. Dengan dilakukannya adopsi ISA, maka ISA akan
menggantikan Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) yang sekarang berlaku, yang
sebagian besar isinya diadopsi dari AICPA Professional Standards (AICPA Standards) tahun
1998. IAI yang telah menjadi full members dari International Federation of Accountant
(IFAC), mempunyai kewajiban untuk mematuhi dan memenuhi butir-butir statement of
membership obligation (SMO) yang salah satu diantaranya adalah bahwa semua anggota
IFAC diwajibkan untuk tunduk kepada semua standar dan pernyataan lain yang dikeluarkan
oleh International Auditing and Assurance Standards Board (IAASB).
International Auditing and Assurance Standards Board (IAASB) adalah merupakan
badan yang dibentuk oleh International Federation of Accountants (IFAC) sebagai badan
pembuat standar auditing dan assurance yang salah satunya adalah International Standard on
Auditing (ISA). Untuk memenuhi SMO yang ditetapkan IFAC, Dewan SPAP saat itu telah
merencanakan akan melakukan adopsi ISA mulai tahun 2006. Pokok bahasan ISA sendiri
terdiri atas:
1. Audit of Historical Financial Information
2. Audits and Reviews of Historical Financial Information (Audit dan Review
atas Informasi Keuangan Historis)
3. Assurance Engagements other than Audits or Reviews of Historical Financial
Information (Penugasan selain Audit atau Review)
4. Related Services (Jasa-Jasa Terkait)
5. International Standards on Quality Control (Standar Internasional mengenai
Pengendalian Mutu)
Untuk mewujudkan rencana adopsi tersebut, Dewan SPAP telah membuat dua
program kerja, yaitu proses internal dan eksternal. Proses internal merupakan proses
pengerjaan di dewan SPAP sendiri, diantaranya adalah pekerjaan penerjemahan naskah ISA
yang masih dalam format bahasa Inggris. Selain itu, proses internal lainnya adalah berupa

4
pemetaan/mapping, pengidentifikasian perbedaan antara SPAP dengan ISA, dan
akuntabilitas dari ISA.
Sedangkan yang termasuk program kerja eksternal adalah meliputi studi dan diskusi,
yang difokuskan pada studi dan diskusi mengenai perbedaan-perbedaan yang signifikan
antara SPAP dengan ISA. Dalam melakukan studi dan diskusi ini nantinya akan melibatkan
pihak akademis, pemerhati akuntansi dan auditing, regulator serta para akuntan untuk
memberikan masukan atas pemetaan yang sebelumnya sudah dibuat oleh Dewan SPAP.
Selanjutnya, Dewan SPAP akan mengadakan studi banding dengan melihat penerapan ISA
oleh negara-negara lain.
Institute Akuntan Publik Indonesia (IAPI) memutuskan untuk mengadopsi secara
penuh International Standars on Auditing untuk menggantikan Standard Profesional
Akuntan Publik (SPAP) mulai 1 January 2013. Standar ini menuntuk perubahan cara
berpikir, cara bertindak dan cara bersikap auditor. Secara umum ada 5 hal yang berbeda
secara fundamental dibandingkan standar lama.
1. Penekanan pada Audit Berbasis Resiko
2. Perubahan dari Rules based ke Principle Based
3. Berpaling dari model matematis
4. Menekankan pada Kearifan Profesional (professional judgement)
5. Melibatkan peran Those Charged With Governance (TCWG)

5
2.2. Struktur ISA dan Standar Audit di SPAP
Struktur dan standar SPAP saat ini:

Struktur baru kode etik profesi akuntan publik dan SPAP yang ditetapkan oleh IAPI:

6
Struktur baru SA yang ditetapkan oleh IAPI

Tahap proses Audit


Tahap I : Melakukan Prosedur Penilaian Risiko
Mengidentifikasi Asersi Laporan Keuangan yang Relevan
Asersi laporan keuangan memungkinkan auditor membagi dan mengatasi tantangan audit
dengan cara berfokus pada masing-masing asersi dalam laporan keuangan. Lima kategori asersi
laporan keuangan :
1. Existence or occurrence
Berkaitan dengan kewajiban entitas memang benar-benar ada pada tanggal tertentu dan yang
dicatat benar-benar telah terjadi selama periode tersebut. Menurut asersi ini, manajemen juga
mengasersi bahwa pendapatan dan biaya yang ditunjukkan dalam laporan laba rugi, serta arus
kas yang yang ditunjukkan dalam laporan arus kas, merupakan hasil dari transaksi dan peristiwa
yang telah terjadi selama periode berjalan. Perhatian auditor berkaitan

7
dengan overstatement komponen laporan keuangan sebagai akibat dicantumkannya item-item
yang sebenarnya tidak ada atau transaksi yang tidak pernah terjadi.
2. Completeness
Berkaitan dengan apakah semua transaksi yang harus disajikan dalam laporan keuangan
benar-benar telah dicantumkan. Perhatian auditor berkaitan dengan
kemungkinan understatement komponen laporan keuangan melalui pengabaian item-item yang
benar-benar ada atau masalahcutoff yang mengakibatkan pencatatan transaksi yang tidak tepat
pada periode akuntansi yang salah.
3. Rights and obligations
Berkaitan dengan apakah aktiva telah menjadi hak entitas dan hutang memang telah menjadi
kewajiban entitas pada suatu tanggal tertentu. .
4. Valuation or allocation
Berkaitan dengan apakah komponen aktiva, kewajiban, pendapatan, dan beban telah
dicantumkan dalam laporan keuangan dengan jumlah yang semestinya (sesuai dengan GAAP
dan telah dicatat dan dihitung dengan cermat).
5. Presentation and disclosure
Berkaitan dengan apakah komponen tertentu laporan keuangan telah digolongkan, diuraikan
dan diungkapkan sebagaimana mestinya.

Memahami tentang bisnis dan lingkungan bisnis perusahaan.


Seorang auditor harus memahami :
Lingkup industri, peraturan-peraturan lingkungan, dan faktor eksternal lainnya.
Sifat perusahaan, termasuk kebijakan-kebijakan akuntansi
Tujuan, strategis, dan risiko bisnis terkait yang dinyatakan tidak material.
Manajemen dan hasil kinerja keuangan perusahaan

Membuat keputusan mengenai materialitas.


Meterialitas merupakan konsep penting yang akan menjadi pedoman auditor dalam
menentukan lingkup pekerjaan audit. Konsep materialitas dapat mempengaruhi proses audit,
karena auditor membuatpertimbangan awal mengenai materialitas, sementara auditor membuat
perikatan untuk membuat keputusan penting tentang lingkup audit.
Untuk menemukan pengabaian atau salah saji yang berpotensi mencapai jumlah
yang dapat mempengaruhi para pengguna laporan keuangan. Konsep materialitas ini juga
menjadi pedoman auditor ketika mengevaluasi temuan audit.

Menjalankan prosedur analisis.

8
Prosedur analisis adalah mengevaluasi informasi keuangan yang dijadikan bahan dari
hubungan antara data keuangan dan data non keuangan. Selain itu, prosedur analisis digunakan
untuk mengidentifikasi potensi dari kemungkinan salah saji laporan keuangan.

Mengidentifikasi risiko atas kemungkinan terjadinya salah saji yang material, termasuk
risiko kecurangan.
Untuk mengidentifikasi risiko atas kemungkinan terjadinya salah saji yang material
digunakan komponen risiko audit yang terdiri dari risiko bawaan, risiko pengendalian, dan risiko
deteksi. Selain itu, digunakan juga risiko kecurangan.

Mengembangkan persiapan strategi audit


Dalam tahap ini auditor membuat keputusan sementara tentang komponen atas model
dari risiko audit dan pengembangan strategi awal berdasarkan dari bukti-bukti yang telah
dikumpulkan.

Memahami pengendalian internal


Auditor memahami pengendalian internal untuk :
Mengidentifikasi tipe-tipe dari potensi salah saji
Memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi risiko atas salah saji yang materialitas
Mendesain prosedur, ketepatan waktu, dan proses audit selanjutnya.

Tahap II. Memahami risiko dari salah saji yang material.


Seorang auditor harus mengidentifikasi berbagai risiko salah saji yang material dan
mempertimbangkan:
1. Faktor risiko potensial yang terkait dengan salah saji laporan keuangan, juga pada tingkat
laporan keuangan atau tingkat assersi.
2. Menentukan besarnya risiko yang akan ditimbulkan dari salah saji yang material di dalam
laporan keuangan.
3. Menentukan kemungkinan risiko yang ditimbulkan dari salah saji yang material.
4. Menentukan risiko signifikan bawaan yang timbul.

Tahap III. Merespon risiko yang ditimbulkan


Setelah auditor mengidentifikasi risiko yang mungkin timbul dari hasil salah saji yang
material, auditor harus merespon dan mengatur dengan tepat, dan memberikan alasan yang dapat
dipertanggungjawabkan agar bebas dari salah saji. Respon atas risiko yang ditimbulkan termasuk
keputusan tentang:
Staffing dan Supervisi
Pengujian audit.
Ada 3 tipe prosedur audit:
9
- Risiko prosedur penilaian
- Pengujian pengendalian
- Pengujian substantif

2.3. Standar Pengendalian Mutu dalam SPAP


Standar Pengendalian Mutu (SPM) merupakan suatu sistem pengendalian mutu terdiri dari
kebijakan yang dirancang untuk mencapai tujuan dan prosedur yang diperlukan untuk
menerapkan dan memantau kepatuhan terhadap kebijakan tersebut (SPM 1/IAPI,2013).
SPM ini mengatur tanggung jawab Kantor Akuntan Publik (KAP) atas sistem pengendalian
mutu dalam melaksanakan perikatan asurans (Audit, Reviu, dan Perikatan Asurans Lainnya)
dan perikatan selain asurans. SPM merupakan bagian dari SPAP terbaru tahun 2013, yang
mengatur mengenai kode etik standarnya dinamakan SPM 1. Munculnya SPM 1 ini karena
adanya UU no 5 Tahun 2011 yang menyatakan SPAP adalah acuan yang ditetapkan menjadi
ukuran mutu yang wajib dipatuhi oleh Akuntan Publik dalam pemberian jasanya.
Tujuan Standar Pengendalian Mutu
Tujuan KAP dalam menetapkan dan memelihara sistem pengendalian mutu adalah untuk
memberikan keyakinan memadai bahwa:
(a) KAP dan personelnya mematuhi standar profesi, serta ketentuan hukum dan peraturan
yang berlaku; dan
(b) Laporan yang diterbitkan oleh KAP atau rekan perikatan telah sesuai dengan kondisinya.

Unsur-unsur Sistem Pengendalian Mutu


Setiap KAP harus menetapkan dan memelihara suatu sistem pengendalian mutu yang
mencakup unsur-unsur sebagai berikut:
1. Tanggung jawab kepemimpinan KAP atas mutu
Setiap KAP harus menetapkan kebijakan dan prosedur yang dirancang untuk mendukung
budaya internal yang mengakui pentingnya mutu dalam melaksanakan suatu perikatan.
Selain itu KAP jugs harus menetapkan kebijakan dan prosedur yang mengharuskan pihak
yang menerima tanggung jawab operasional atas sistem pengendalian mutu dari pimpinan
KAP memiliki pengalaman dan kemampuan yang cukup dan tepat, serta wewenang yang
diperlukan untuk melaksanakan tanggung jawab tersebut.

2. Ketentuan etika profesi yang berlaku


Independensi
Setiap KAP harus menetapkan kebijakan dan prosedur yang dirancang untuk memberikan
keyakinan bahwa KAP dan personelnya menjaga independensinya sesuai dengan ketentuan

10
etika profesi yang berlaku. Kebijakan dan prosedur tersebut harus memungkinkan KAP
untuk :
1) Mengomunikasikan ketentuan independensi kepada personel KAP dan kepada pihak
lain yang juga diwajibkan untuk mematuhi ketentuan independensi
2) Mengidentifikasi dan mengevaluasi kondisi dan hubungan yang menciptakan ancaman
terhadap independensi serta melakukan tindakan pencegahan yang tepat.

3. Penerimaan dan keberlanjutan hubungan dengan klien dan perikatan tertentu


KAP harus menetapkan kebijakan dan prosedur dalam penerimaan dan keberlanjutan
hubungan dengan klien dan perikatan tertentu, yang dirancang untuk memberikan keyakinan
memadai bahwa KAP hanya akan menerima atau melanjutkan hubungan dengan klien dan
perikatannya jika:
a) KAP memiliki kompetensi untuk melaksanakan perikatan dan memiliki kemampuan
b) KAP dapat mematuhi ketentuan etika profesi yang berlaku
c) KAP telah mempertimbangkan integritas klien, dan tidak memiliki informasi yang
dapat mengarahkan KAP untuk menyimpulkan tidak memadainya integritas klien
tersebut.

4. Sumber daya manusia


KAP harus menetapkan kebijakan dan prosedur yang dirancang untuk memberikan keyakinan
memadai bahwa KAP memiliki jumlah personel yang cukup dengan kompetensi, kemampuan,
dan komitmen terhadap prinsip etika profesi yang diperlukan untuk melaksanakan perikatan
sesuai dengan standar profesi, serta ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku dan
memungkinkan KAP atau rekan perikatan untuk menerbitkan laporan yang tepat dengan
kondisinya.

Penugasan Tim Perikatan


KAP harus melimpahkan tanggung jawab atas setiap perikatan kepada seorang rekan perikatan.
Namun KAP harus menetapkan kebijakan dan prosedur yang mengatur hal-hal sebagai berikut:
a. Identitas dan peran dari rekan perikatan tersebut dikomunikasikan kepada anggota
manajemen klien dan pihak klien yang bertanggung jawab atas tata kelola

11
b. Rekan perikatan memiliki kompetensi, kemampuan, dan wewenang yang tepat untuk
melaksanakan fungsinya
c. Tanggung jawab sebagai rekan perikatan ditetapkan secara jelas dan dikomunikasikan
kepada rekan perikatan tersebut.
KAP juga harus menetapkan kebijakan dan prosedur untuk menugaskan personel yang tepat
dengan kompetensi yang dibutuhkan, serta memiliki kemampuan untuk melaksanakan perikatan
sesuai dengan standar profesi, serta ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku dan
memungkinkan untuk menerbitkan laporan yang sesuai dengan kondisinya

5. Pelaksanaan Perikatan.
Setiap KAP harus menetapkan kebijakan dan prosedur yang dirancang untuk memberikan
keyakinan memadai bahwa perikatan dilaksanakan sesuai dengan standar profesi, serta ketentuan
hukum dan peraturan yang berlaku, dan menerbitkan laporan yang tepat sesuai dengan
kondisinya. Kebijakan dan prosedur tersebut mencakup:
a) Hal-hal yang relevan untuk mendukung konsistensi atas kualitas pelaksanaan perikatan
b) Tanggung jawab penyeliaan
c) Tanggung jawab penelaahan.

1) Konsultasi
KAP harus menetapkan kebijakan dan prosedur yang dirancang untuk memberikan
keyakinan memadai bahwa :
a. Konsultasi yang tepat telah dilakukan untuk hal-hal yang rumit dan kontroversial
b. Tersedianya sumber daya yang cukup untuk memungkinkan terlaksananya konsultasi
yang tepat
c. Sifat, lingkup, dan kesimpulan yang dihasilkan dari konsultasi tersebut didokumentasikan
dan disepakati oleh kedua belah pihak
d. Diterapkannya kesimpulan yang dihasilkan dari konsultasi tersebut

2) Penelaahan Pengendalian Mutu Perikatan

12
a. Untuk perikatan tertentu, KAP harus menetapkan kebijakan dan prosedur yang
mempersyaratkan penelaahan pengendalian mutu perikatan yang menyediakan suatu
evaluasi yang objektif atas pertimbangan signifikan yang dibuat oleh tim perikatan dan
kesimpulan yang dicapai dalam penyusunan laporan.
b. Setiap KAP menetapkan kebijakan dan prosedur yang menjelaskan sifat, waktu dan
luasnya suatu penelaahan pengendalian mutu
c. Setiap KAP menetapkan kebijakan dan prosedur yang mensyaratkan bahwa penelaahan
pengendalian mutu perikatan mencakup:
a. Pembahasan hal-hal penting mengenai perikatan
b. Penelaahan laporan keuangan atau informasi hal pokok lain dan laporan yang
akan diterbitkan
c. Penelaahan atas dokumen perikatan tertentu yang berkaitan dengan pertimbangan
signifikan yang dibuat tim perikatan dan kesimpulan yang dihasilkan
d. Evaluasi atas kesimpulan yang dibuat dalam memformulasikan laporan dan
pertimbangan

3) Dokumentasi Penelaahan Pengendalian Mutu Perikatan


Setiap KAP harus menetapkan kebijakan dan prosedur pendokumentasian penelaahan
pengendalian mutu perikatan yang mencakup dokumentasi bahwa:
a. Prosedur yang dipersyaratkan dalam kebijakan penelahaan pengendalian mutu KAP telah
dilaksanakan
b. Penelaahan pengendalian mutu perikatan telah selesai dilaksanakan pada tanggal atau
sebelum tanggal laporan;

4) Perbedaan Pendapat
Setiap KAP harus menetapkan kebijakan dan prosedur dalam menghadapi dan
menyelesaikan perbedaan pendapat dalam tim perikatan, antara tim perikatan dengan pihak yang
memberikan konsultasi atau antara rekan perikatan dengan penelaah pengendalian mutu
perikatan.

13
Kebijakan dan prosedur tersebut harus mensyaratkan keputusan yang dihasilkan telah
didokumentasi dan dilaksanakan dan laporan tidak diberi tanggal hingga hal yang menjadi
permasalahan telah terselesaikan.

5) Dokumentasi Perikatan
a. Penyelesaian Pengarsipan Kertas Kerja Final dari Perikatan secara tepat waktu setelah
laporan perikatan diselesaikan
b. Kerahasiaan, Keamanan Penyimpanan, Integritas, Keteraksesan, dan Kepemerolehan
Kembali Dokumentasi Perikatan
c. Pemeliharaan dan Penyimpanan Dokumen Perikatan untuk suatu periode yang sesuai untuk
memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh ketentuan perundang-undangan atau peraturan
yang berlaku

6. Pemantauan
1) Pemantauan Kebijakan dan Prosedur Pengendalian Mutu KAP
Setiap KAP harus menetapkan suatu proses pemantauan untuk memberikan kepercayaan bahwa
kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan sistem pengendalian mutu sudah relevan dan
memadai, serta berjalan dengan efektif. Proses pemantauan tersebut harus:
a) Mencakup pertimbangan dan evaluasi yang berkesinambungan atas sistem pengendalian
mutu KAP
b) Memberikan tanggung jawab atas proses pemantauan hanya kepada rekan atau individu
lain di dalam KAP atau di luar KAP yang memiliki pengalaman dan wewenang yang
cukup dan tepat
c) Mensyaratkan tidak boleh terlibatnya mereka yang melaksanakan perikatan

2) Pengevaluasian, Pengomunikasian, dan Penanganan Defisiensi yang


Teridentifikasi
Setiap KAP harus mengevaluasi dampak dari defisiensi yang ditemukan ketika melakukan proses
pemantauan, dan menentukan apakah defisiensi disebabkan oleh sistem pengendalian mutu KAP
tidak memadai atau defisiensi yang sistemis atau berulang, atau defisiensi signifikan lainnya,
yang segera memerlukan tindakan perbaikan.

14
3) Keluhan dan Dugaan (Allegations)
Setiap KAP harus menetapkan kebijakan dan prosedur yang dirancang untuk memberikan
keyakinan memadai bahwa KAP telah menangani secara tepat hal-hal sebagai berikut:
a) Keluhan dan dugaan mengenai kegagalan KAP dalam mematuhi standar profesi, serta
ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku
b) Dugaan atas ketidakpatuhan terhadap sistem pengendalian mutu KAP.

15
BAB III
KESIMPULAN

Standar Profesional Akuntan Publik (disingkat SPAP) dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun
2011 merupakan acuan yang ditetapkan menjadi ukuran mutu yang wajib dipatuhi oleh Akuntan
Publik dalam pemberian jasanya. Perubahan pesat yang terjadi di lingkungan bisnis di awal
dekade tahun sembilan puluhan kemudian menuntut profesi akuntan publik untuk meningkatkan
mutu jasa audit atas laporan keuangan historis, jasa atestasi, serta jasa akuntansi dan review.
Pada tahun 2004, melalui Konvensi Nasional Akuntan Indonesia telah diputuskan bahwa Ikatan
Akuntan Indonesia (IAI) akan melakukan adopsi sepenuhnya (full adoption) International
Auditing and Assurance Standards (ISA) yang diterbitkan oleh International Federation of
Accountants (IFAC).

16
DAFTAR PUSTAKA

Hayes, Rick., Philip Wallage, & Hans Gortemaker. 2017. Prinsip-Prinsip Pengauditan. Jakarta.
Salemba Empat.
Implementasi ISA di Indonesia. http://www.slideserve.com/chelsey/rudy-suryanto-stie-ww-24-
april-2014. Diakses tanggal 5 Oktober 2017.
Prima, Agustina. Implementasi International Standards On Auditing (ISA) dan Dampaknya
Pada Kualitas Audit. Jurnal Skripsi Fakultas Ekonomi Sanata Dharma.
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). 2009. Standar Profesi Akuntan Publik. Jakarta. Salemba Empat.
Institut Akuntansi Publik Indonesia.2013. Standar Pengendalian Mutu SPM 1: Pengendalian
Mutu bagi Kantor Akuntan Publik yang Melaksanakan Perikatan Asurans (Audit, Reviu,
dan Perikatan Asurans Lainnya) dan Perikatan Selain Asurans. Jakarta. Selemba Empat
(didownlod pada iapi.or.id/)

17