Anda di halaman 1dari 4

Efusi Pleura

Definisi

Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terjadi penumpukan cairan melebihi
normal di dalam cavum pleura diantara pleura parietalis dan visceralis dapat
berupa transudat atau cairan eksudat. Pada keadaan normal rongga pleura hanya
mengandung cairan sebanyak 10- 20 m.l. Penyakit-penyakit yang dapat
menimbulkan efusi pleura adalah tuberkulosis, infeksi paru non tuberkulosis,
keganasan, sirosis hati, trauma tembus atau tumpul pada daerah ada, infark paru,
serta gagal jantung kongestif (Halim, 2007).

Etiologi
Di Negara-negara barat, efusi pleura terutama disebabkan oleh gagal jantung
kongestif, sirosis hati, keganasan, dan pneumonia bakteri, sementara di. Negara-
negara yang sedang berkembang, seperti Indonesia, lazim diakibatkan oleh infeksi
tuberculosis (Halim, 2007).
Efusi pleura ganas merupakan salah satu komplikasi yang biasa ditemukan pada
penderita keganasan dan terutama disebabkan oleh kanker paru dan kanker
payudara. Efusi pleura merupakan manifestasi klinik yang dapat dijumpai pada
sekitar 50-60% penderita keganasan pleura primer atau metastatik. Sementara 5%
kasus mesotelioma (keganasan pleura primer) dapat disertai efusi pleura dan
sekitar 50% penderita kanker payudara akhirnya akan mengalami efusi pleura
(PDPI, 2006).

Patofis
Dalam keadaan normal hanya terdapat 10-20 ml cairan dalam rongga
pleura berfungsi untuk melicinkan kedua pleura viseralis dan pleura parietalis yan
g saling bergerak karena pernapasan. Dalam keadaan normal juga selalu terjadi
filtrasi cairan ke dalam rongga pleura melalui kapiler pleura parietalis dan
diabsorpsi oleh kapiler dan saluran limfe pleura viseralis dengan kecepatan yang
seimbang dengan kecepatan pembentukannya. Gangguan yang menyangkut
proses penyerapan dan bertambahnya
kecepatan proses pembentukan cairan pleura akan menimbulkan penimbunan cair
an secara patologik di dalam rongga pleura. Mekanisme yang berhubungan denga
n terjadinya efusi pleura yaitu

1. Kenaikan tekanan hidrostatik dan penurunan tekan onkotik pada


sirkulasikapiler
2. Penurunan tekanan kavum pleura
3. Kenaikan permeabilitas kapiler dan penurunan aliran limfe dari
rongga pleura.
Diagnosis
Diagnosis efusi pleura ganas dengan mudah dan cepat dapat ditegakkan hanya
dengan prosedur diagnosa dan alat bantu diagnostik yang sederhana, misalnya
berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisis, foto toraks dan torakosentesis saja.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia dalam alur diagnosa dan penatalaksanaannya
menuliskan langkah awal yang paling penting untuk diagnosis efusi pleura ganas
adalah memastikan apakah cairan bersifat eksudat dan/atau menemukan tumor
primer di paru atau organ lain. Selain itu disingkirkan juga penyebab lain
misalnya pleuritis akibat infeksi bakteri atau penyakit nonkeganasan lain.
(Syahrudin E dkk, 2001)
Kebanyakan kasus efusi pleura ganas simptomatis meskipun sekitar 15% datang
tanpa gejala, terutama pasien dengan volume cairan kurang dari 500ml. Sesak
napas adalah gejala tersering pada kasus efusi pleura ganas terutama jika volume
cairan sangat banyak. Sesak napas terjadi karena refleks neurogenik paru dan
dinding dada karena penurunan keteregangan (compliance) paru, penurunan
volume paru ipsilateral, pendorongan mediastinum ke arah kontralateral dan
penekanan diafragma ipsilateral. Estenne dkk menyimpulkan bahwa meskipun
terjadi perubahan fungsi paru pada penderita efusi pleura ganas misalnya
perubahan volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1) tetapi perubahan itu saja
belum memadai untuk dapat menjelaskan mekanisme sesak. Mereka membuat
hipotesis lain yaitu sesak napas terjadi karena berkurangnya kemampuan
meregang otot inspirasi akibat terjadi restriksi toraks oleh cairan. Gejala lain
adalah nyeri dada sebagai akibat reaksi inflamasi pada pleura parietal terutama
pada mesotelioma, batuk, batuk darah (pada karsinoma bronkogenik), anoreksia
dan berat badan turun. (Syahruddin E dkk; 2009)
Kelainan jasmani pada pemeriksaan jasmani timbul pada efusi pleura yang
mencapai volume 300 ml. Kelainan tersebut meliputi penurunan suara nafas yang
ditandai dengan perkusi redup, penurunan fremitus raba, pleural friction rub dan
pergeseran batas mediastinum kearah kontralateral efusi. (Rubins J, Colice G;
2001) Foto toraks posteroanterior (PA) dibutuhkan untuk menyokong dugaan
efusi pleura pada pemeriksaan fisik dan jika volume cairan tidak terlalu banyak
dibutuhkan foto toraks lateral untuk menentukan lokasi cairan secara lebih tepat.
USG toraks sangat membantu untuk memastikan cairan dan sekaligus
memberikan penanda (marker) lokasi untuk torakosintesis dan biopsi pleura. Pada
efusi pleura ganas dengan volume cairan sedikit dan tidak terlihat pada foto toraks
dapat dideteksi dengan CT-scan toraks. Magnetic resonance imaging (MRI) tidak
terlalu dibutuhkan kecuali untuk evaluasi keterlibatan dinding dada atau ekstensi
transdiafragmatic pada kasus mesotelioma dan prediksi untuk pembedahan.
Diagnosa pasti efusi pleura ganas adalah dengan penemuan sel ganas pada cairan
pleura (sitologi) atau jaringan pleura (histologi patologi). Jika dengan pencitraan
tidak ditemukan tumor primer intratoraks maka perlu dilakukan bronkoskopi
untuk melihat tanda keganasan (mukosa infiltratif atau tumor primer) pada lumen
bronkus atau penekanan dinding bronkus oleh massa sentral di rongga toraks.
(Syahruddin E dkk; 2009)

Tatalaksana
Penatalaksanaan efusi pleura ganas harus segera dilakukan sebagai terapi paliatif
setelah diagnosis dapat ditegakkan. Tujuan utama penatalaksanaan segera ini
adalah untuk mengatasi keluhan akibat volume cairan dan meningkatkan kualitas
hidup pasien. (Syahruddin E dkk; 2009) Menurut Perhimpuan Dokter Paru
Indonesia, efusi pleura ganas dengan cairan masif yang menimbulkan gejala klinis
sehingga mengganggu kualitas hidup penderita maka dapat dilakukan
torakosintesis berulang atau jika perlu dengan pemasangan water sealed drainage
(WSD). Pada kasus-kasus tertentu harus dilakukan pleurodesis yaitu dengan
memasukkan bahan tertentu ke rongga pleura. Intervensi bedah dilakukan jika
semua usaha telah dilakukan dan gagal. (Syahruddin E dkk; 2009)

Halim, Hadi. 2007. Penyakit-penyakit Pleura. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam, Sudoyo AW, et al. Edisi 4, Jilid II. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen
IPD FKUI; hal. 1056-60.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Kanker paru (kanker paru karsino bukan
sel kecil). Pedoman diagnosis dan penatalaksanaan di Indonesia. Perhimpunan
Dokter Paru Indonesia.;2006

Syahruddin E, Hudoyo A, Arief N. Efusi Pleura Ganas Pada Kanker Paru. J


Respir Indones. 2009. 29 (4): 1-9