Anda di halaman 1dari 19

BAB 41

Anestesi pada Pasien Trauma


Morgan GE; 2006

Konsep dasar
1. Pemeriksaan awal pasien trauma terbagi menjadi primary survey, secondary
survey, dan tertiary survey. Primary survey tidak boleh lebih dari 2-5 menit, dan
harus meliputi rangkaian ABCDE : airway, breathing, circulation, disability
neurologis, dan eksposure (lingkungan). Penilaian dan resusitasi harus
berjalan bersamaan. Resusitasi pasien trauma terdiri dari 2 fase yaitu : kontrol
pendarahan, dan terapi definitive untuk traumanya. Setelah primary survey
diikuti dengan secondary dan tertiary survey.
2. 5 kriteria adanya kecurigaan cedera leher : 1)nyeri leher, 2)severe distracting
pain/nyeri yang sangat hebat, 3).adanya defisit neurologist, 4).intoksikasi, 5).
kehilangan kesadaran pada saat kejadian fraktur cervical harus dicurigai bila
ada tanda tersebut. Meskipun telah menggunakan criteria ini, insidensi cedera
leher sebesar 2%. Insidensi cedera leher naik menjadi 10% dengan adanaya
cedera kepala.
3. Hiperekstensi leher dan traksi leher ke sumbu aksial (depan belakang) harus
di hindari bila ada kecurigaan cedera leher. Imobilisasi manual kepala leher
harus dilakukan pada saat pengunaan laringoskop (Manuai In Line Stabilization
atau MILS).
4. Terapi utama dari shock hemoragik adalah resusitasi cairan dan transfusi
darah. IV kateter dengan diameter besar (no 14-16) dan pendek (1,5-2in)
dipakai bila akses ke vena mudah.
5. Infus cepat dengan IV kateter besar dan cairan hangat sangat penting saat
tranfusi pada perdarahan hebat. Selimut hangat dan alat pemanas ruangan
akan menjaga kehangatan suhu tubuh. Hipotermi memperburuk
ketidakseimbangan asam basa , koagulopati, dan disfungsi miokard.
6. Pasien shock hemoragik dengan hipotensi harus diterapi agresif dengan
resusitasi cairan dan tranfusi darah, bukan dengan obat vasopresor, kecuali
bila hipotensinya tidak berespon dengan pemberian cairan, atau mungkin
adanya shock kardiogenik dan henti jantung.
7. Zat penginduksi yang biasa digunakan untuk pasien trauma yaitu ketamin dan
etomidate. Meski setelah resusitasi cairan yang adekuat , dosis induksi
propofol yang dibutuhkan 80-90% lebih rendah pada pasien dengan trauma
mayor. Meskipun obat seperti ketamin dan nitro oxide yang normalnya
menstimulasi secara tidak langsung fungsi jantung, bisa menimbulkan efek
depresi jantung (cardio depressan) pada pasien shok atau sudah mendapat

Punya : dr.Dwi Satriyanto (Anestesi Padjadjaran) Page 1 of 19


stimulasi simpatik maksimal. Hipotensi bisa juga dialami setelah pemberian
etomidate.
8. Monitor invasive (pengukuran Tekanan darah arteri langsung, CVP, mpnitor
tekanan arteri pulmonal) bisa sangat membantu dalam patokan pemberian
cairan, tetapi monitoring invasive ini jangan sampai mengganggu proses
resusitasi. Pengukuran darah serial hematokrit ( hemoglobin) analisa gas
darah, elektrolit serum (K) sangat membantu dalam resusitasi.
9. Setiap pasien trauma dengan perubahan mental harus dipikirkan adanya
cedera kepala. Tingkat kesadaran dinilai dengan GCS.

Anestesi pada Pasien Trauma

Pendahuluan
Trauma adalah penyebab utama kematian pada usia 1-35 tahun di USA.
Hingga 1/3 kasus di seluruh rumah sakit di USA berkaitan langsung dengan
trauma. 50 % kasus trauma berakhir kematian segera, dan 30% lainnya terjdi
beberapa jam setelah kejadian (golden hour). Dikarenakan banyak korban trauma
memerlukan operasi secepatnya, ahli anestesi mempengaruhi tingkat
keselamatan korban. Pada faktanya, ahli anestesi yang memberikan resusitasi
primer, dan memberikan tindakan anestesi sebagai tindakan selanjutnya. Adalah
penting bagi ahli anestesi untuk selalu waspada terhadap pecandu obat,
intoksikasi akut, hepatitis atau HIV. Bab ini menjelaskan kerangka berpikir tentang
penilaian awal pasien trauma dan tindakan anestesi dalam terapi pasien cedera
kepala leher, dada, perut, dan ekstemitas. Di akhir bab ada diskusi kasus tentang
luka bakar.

Penilaian awal/Initial assessment


Pemeriksaan awal pasien trauma terbagi menjadi primary survey,
secondary survey, dan tertiary survey. Primary survey tidak boleh lebih dari 2-5
menit, dan harus meliputi rangkaian ABCDE : airway, breathing, circulation,
disability neurologis, dan eksposure (lingkungan). Apabila ABC terganggu
resusitasi harus segera di lakukan. Pada pasien kritis resusutasi dan penilaian
awal dilakukan bersamaan oleh team trauma. Monitoring dasar ECG, NIBP, Pulse
oxymetry harus segera dipasang sampai pasien mendapat terapi. Prinsip dari CPR
dibahas pada bab 47. Resusitasi pasien trauma terdiri dari 2 fase yaitu : kontrol
pendarahan, dan terapi definitive untuk traumanya. Secondary survey dan tertiary
survey dilakukan setelah primary survey selesai.

Punya : dr.Dwi Satriyanto (Anestesi Padjadjaran) Page 2 of 19


PRIMARY SURVEY
Airway
Membebaskan dan Menjaga jalan nafas selalu menjadi prioritas pertama.
Bila pasien dapat berbicara airway biasanya bagus (clear), namun bila pasien tidak
sadar biasanya membutuhkan bantuan airway dan ventilator. Tanda adanya
obstruksi yaitu Snoring (mengorok), gurgling, stridor, gerakan dada yang
parodoksikal. Adanya benda asing di jalan nafas harus selalu dipikirkan apabila
menghadapi pasien tak sadar. Manjemen airway lanjut (advance) (seperti ETT,
krikotirotomi, trakeostomi) diindikasikan bila terjadi apnea, obstruksi persisten,
cedera kepala berat, trauma maksilofacial, cedera leher dengan hematom, dan
trauma dada berat.
Cedera leher sepertinya tidak pada orang sadar dengan tidak adanya gejala
nyeri leher dan nyeri tekan leher. 5 kriteria adanya kecurigaan cedera leher:
1 .nyeri leher
2. severe distracting pain/ nyeri yang sangat hebat
3. adanya defisit neurologis
4. intoksikasi
5. kehilangan kesadaran pada saat kejadian

fraktur cervical harus dicurigai bila ada minimal salah satu tanda tersebut,
meski tidak ditemukan jejas di atas klavukula. Meskipun telah menggunakan
criteria ini, insidensi cedera leher sebesar 2%. Insidensi cedera leher naik menjadi
10% dengan adanaya cedera kepala. Untuk mencegah hiperekstensi leher,
manuver jaw thrust terpilih untuk membebaskan jalan nafas. Oropharing dan
nasofaring tube bisa menjaga patensi jalan nafas. Dalam Pasien tak sadar dengan
trauma berat selalu dipikirkan adanya aspirasi, jalan nafas harus segera dijaga
menggunakan ETT atau dilakukan trakeostomi.
Hiperekstensi leher dan traksi leher ke sumbu aksial (depan belakang) harus di
hindari bila ada kecurigaan cedera leher. Imobilisasi manual kepala leher harus
dilakukan pada saat pengunaan laringoskop (Manuai In Line Stabilization atau
MILS). Asisten diletakkan di kedua sisi kepala pasien, memegang occiput dan
menjaga jangan sampai kepala bergerak/berotasi. Hasil Penelitian bahwa terjadi
pergerakkan leher , terutama V. C1 dan V.C2 pada saat pemasangan sungkup
oksigen dan tindakan laringoskop meski telah dilakukan stabilisasi leher (contoh :
MILS, axial traction, kantung pasir, forehead tape, soft collar, Philadelphia collar).
Dari semua teknik yang dipakai MILS merupakan teknik yang paling efektif, tetapi
juga membuat tindakan laringoskop menjadi lebih sulit. Karena hal itu ada

Punya : dr.Dwi Satriyanto (Anestesi Padjadjaran) Page 3 of 19


sebagian ahli anestesi lebih memilih intubasi nasal (blind atau fiberoptik) pada
pasien dengan nafas spontan yang dicurigai cedera leher, dan teknik ini juga
meningkatkan resiko aspirasi. Dan penggunaan lainnya dari lightwand, bullard
laryngoskop, Wuscope atau intubating LMA. Keahlian dan pilihan teknik ahli
anestesi sangat menentukan dalam pemilihan teknik yang digunakan, sekaligus
manfaat dan resiko yang diterima pasien. Kebanyakan praktisi sangat akrab
dengan intubasi oral, dan teknik ini sebaiknya dipakai untuk pasien apne dan
pasien yang membutuhkan intubasi segera. Intubasi nasal sebaiknya dihindari
unuk pasien dengan fraktur wajah atau basis kranii. Bila esophageal obturator
airway telah dipasang, maka alat ini tidak boleh di cabut sampai trakea telah
iintubasi, untk mencegah regurgitasi.
Adanya Trauma laring membuat situasi lebih buruk. Luka terbuka bisa
terlihat pendarahan pembuluh darah besar leher, obstruksi hematom atau edeme,
emfisema subkutaneus, dan cedera leher. Trauma laring tertutup kurang terlihat
jelas, gejelanya yaitu krepitasi di leher, hematoma, disfagia, hemoptisis, atau suara
serak. Intubasi sadar (awake intubation) dengan ETT kecil (6 in) dengan
laringoskop atau bronkoskopi fiberoptik dalam anestesi topikal bisa dilakukan bila
laring bisa terlihat jelas. Bila trauma wajah (facial) atau trauma leher menghalangi
tindakan intubasi, maka tindakan trakeostomi dalam anestesi local harus
dipikirkan. Obstruksi akut akibat trauma saluran nafas atas mugkin membutuhkan
tindakan krikotirotomi, perkutaneus atau operasi trakeostomi (lihat diskusi bab 5)

Breathing
Penilaian ventilasi nafas yang terbaik yaitu dengan cara look (dilihat), listen
(didengar), feel (dirasakan). Dilihat apakah ada cianosis, retraksi dinding dada, flail
chest, trauma tembus atau trauma tidak tembus (sucking) dada. Dengarkan
apakah suara nafas ada atau tidak, atau terdengar lemah. Rasakan apakah ada
emfisema subkutan, pergeseran trakea, dan iga yang patah. Klinisi harus selalu
waspada akan tension pneumothorax dab hematotorax, biasanya hal ini terjadi
pada pasien dengan (gagal nafas) respiratory distress. Drainase pleura mungkin
diperlukan sebelum foto torax dilakukan.

Circulation
Adekuatnya atau tidaknya sirkulasi bisa dilihat dari frekuensi nadi, kuat atau
tidaknya nadi, tekanan darah dan perfusi perifer. Tanda tidak adekuatnya sirkulasi
yaitu takikardi, lemah atau tak terabanya arteri perifer, hipotensi, ekstremitas yang
pucat, dingin dan sianosis. Prioritas utama dalam menciptakan sirkulasi adekuat
adalah menghentikan perdarahan, prioritas selanjutnya yaitu mengganti cairan
intravaskular. Henti jantung pada saat di jalan atau segera sesudah sampai di
rumah sakit, karena trauma tembus dada, segera memerlukan emergency room

Punya : dr.Dwi Satriyanto (Anestesi Padjadjaran) Page 4 of 19


thoracotomy (ERT). Resusitasi torakotomi, segera menghentikan perdarahan yang
jelas terlihat, membuka pericardium, menjahit luka di jantung, menutup (cross
clamping) aorta diatas diafragma. Beberapa ahli bedah trauma menggunakan ERT
untuk kasus henti jantung karena trauma tumpul abdomen. Pasien hamil aterm
yang mengalami henti jantung atau shock hanya dapat diresusitasi setelah
bayinya dilahirkan.

Perdarahan (hemorrhage)
Asal perdarahan harus segera dicari dan dihentikan dengan cara balut
tekan. Perdarahan ekstremitas mudah dihentikan dengan cara balut tekan, torniket
bisa menyebabkan reperfusion injury (trauma reperfusi). Perdarahan trauma dada
biasanya berasal dari arteri intercostal dan biasanya berkurang atau berhenti
setelah paru-paru mengembang (setelah dipasang CTT). Perdarahan trauma
abdomen, tergantung tingkat keparahannya, bisa berhenti sendiri, bisa diberikan
resusitasi cairan dan tranfusi darah, bersamaan dengan tindakan operasi. Pakaian
antishok pneumatic (pneumatic antishock garment) bisa mengurangi perdarahan di
perut dan ekstemitas bawah, meningkatkan resistensi vascular, dan meningkatkan
perfusi jantung dan otak. Perdarahan diatas pakaian ini (dada dan kepala)
dikontraindikasikan untuk menggunakan pakaian ini, karena resiko bertambahnya
perdarahan .
Shock merupakan kegagalan sirkulasi yang menyebabkan tidak adekuatnya
perfusi organ dan pemenuhan oksigen jaringan (oksigen delivery). Ada berbagai
macam shock, dan pada pasien trauma biasanya merupakan shok hipovolemik.
Respon fisiologis perdarahan yaitu hipotensi, takikardi, capillary refill buruk,
penurunan tekanan nadi, takipnea, dan delirium (table 41-2). Hematokit serum dan
kadar hemoglobin tidak akurat dalam menentukan banyaknya perdarahan akut.
Stimulasi somatic tepi somatik dan kerusakan hebat jaringan mengurangi cardiac
output dan isi sekuncup (stroke volume) pada pasien dengan shok hipovolemik.
Ketidakstabilan hemodinamik ini membutuhkan tekanan darah arterial invasif.
Pada hipovolemik yang berat, nadi dapat menghilang pada saat inspirasi. Tingkat
hipotensi pada saat operasi berkaitan erat dengan tingkat kematian.

Punya : dr.Dwi Satriyanto (Anestesi Padjadjaran) Page 5 of 19


Table 411. Classification of Shock by Mechanism and Common
Causes.1

Hypovolemic shock
Loss of blood (hemorrhagic shock)
External hemorrhage
Trauma
Gastrointestinal tract bleeding
Internal hemorrhage
Hematoma
Hemothorax or hemoperitoneum
Loss of plasma
Burns
Exfoliative dermatitis
Loss of fluid and electrolytes
External
Vomiting
Diarrhea
Excessive sweating
Hyperosmolar states (diabetic ketoacidosis, hyperosmolar nonketotic coma)
Internal ("third-spacing")
Pancreatitis
Ascites
Bowel obstruction
Cardiogenic shock
Dysrhythmia
Tachyarrhythmia
Bradyarrhythmia
Pump failure (secondary to myocardial infarction or other cardiomyopathy)
Acute valvular dysfunction (especially regurgitant lesions)
Rupture of ventricular septum or free ventricular wall
Obstructive shock
Tension pneumothorax

Punya : dr.Dwi Satriyanto (Anestesi Padjadjaran) Page 6 of 19


Pericardial disease (tamponade, constriction)
Disease of pulmonary vasculature (massive pulmonary emboli, pulmonary
hypertension)
Cardiac tumor (atrial myxoma)
Left atrial mural thrombus
Obstructive valvular disease (aortic or mitral stenosis)
Distributive shock
Septic shock
Anaphylactic shock
Neurogenic shock
Vasodilator drugs
Acute adrenal insufficiency
1
Reproduced, with permission, from Ho MT, Saunders CE: Current Emergency Diagnosis
& Treatment, 4th ed. Appleton & Lange, 1992.

Table 412. Clinical Classification of Shock.1,2

Pathophysiology Clinical Manifestations


Mild (< 20% Decreased peripheral perfusion only Patient complains of feeling cold.
of blood of organs able to withstand Postural hypotension and
volume lost) prolonged ischemia (skin, fat, tachycardia. Cool pale moist skin;
muscle, and bone). Arterial pH collapsed neck veins;
normal. concentrated urine.

Moderate Decreased central perfusion of Thirst. Supine hypotension and


(2040% of organs able to tolerate only brief tachycar-dia (variable). Oliguria
blood volume ischemia (liver, gut, kidneys). and anuria.
lost) Metabolic acidosis present.

Severe (> Decreased perfusion of heart and Agitation, confusion, or


40% of blood brain. Severe metabolic acidosis. obtundation. Supine hypotension
volume lost) Respiratory acidosis possibly and tachycardia invariably
present. present. Rapid, deep respiration.
1
Modified and reprinted, with permission, from Ho MT, Saunders CE: Current Emergency
Diagnosis & Treatment, 4th ed. Appleton & Lange, 1992.
2
These clinical findings are most consistently observed in hemorrhagic shock but apply

Punya : dr.Dwi Satriyanto (Anestesi Padjadjaran) Page 7 of 19


to other types of shock as well.

Terapi utama dari shock hemoragik adalah resusitasi cairan dan transfusi
darah. IV kateter dengan diameter besar (no 14-16) dan pendek (1,5-2in) dipakai
bila akses ke vena mudah. Pasien dengan kemungkinan trauma vena cava atau
hepar sebaiknya akses cairan menggunakan ke dua sistem vena cava, apabila
dibutuhkan penutupan (cross clamping) pembuluh darah dalam tindakan operasi.
Meski CVP bisa menentukan status volume tubuh, tetapi tindakan ini
menghabiskan banyak waktu dan kemungkinan terjadinya komplikasi mengancam
jiwa ( misal, pneumothorax). Akses intra vena perifer biasanya cukup untuk
resusitasi.
Perdarahan hebat mengurangi kompartemen intravaskular. Cairan akan
berpindah dari kompartemen interstitial ke kompartemen intravaskular untuk
mempertahankan hemodinamik tubuh, dan kompartemen interstitialpun akan
bergerak memasuki sel. Metabolisme anaerob akan menyebabkan penurunan
ATP, disfungsi Na-K-ATP dependent, dan menyebabkan edema sel.

Terapi cairan
Pemilihan terapi cairan ditentukan pertama kali oleh ketersediaan cairan itu
sendiri. Meskipun cross-match tranfusi darah (whole blood) sangat ideal, tetapi
waktu untuk cross match sekitar 45-60 menit. Golongan darah spesifik bisa
menyebabkan reaksi antibodi, tetapi merupakan terapi yang baik, dan diberikan
segera setelah tersedia (5-10 menit). Tranfusi golongan darah O-negatif sebaiknya
diberikan kepada pasien perdarahan yang mengancam jiwa dan tidak tercukupi
dengan resusitasi cairan (contoh, exsanguination). Komplikasi dari trnfusi pada
perdarahan hebat dibhas di bab 29.
Cairan kristaloid selalu tersedia dan harganya murah. Resusitasi cairan
membutuhkan jumlah cairan banyak, dikarenakan cairan kristaloid tidak bertahan
lama di kompartemen intravaskular. Injeksi ringer laktat lebih sedikit menyebabkan
asidosis hiperkloremik dari pada NaCl fisiologis, meski kalsium sedikit lebih cocok
untuk tranfusi darah. Cairan dextrose bisa memperhebat kerusakan otak iskemik
dan sebaiknya dihindari bila tidak ditemukan hipoglikemi. Dan cairan ringer laktat
pun sedikit hipotonik dan apabila diberikan dalam jumlah besar bisa memperberat
edema cerebral. Cairan hipertonik seperti NaCl 3% atau 7% efektif untuk resusitasi
cairan dan menyebabkan edema cerebral lebih sedikit dari pada RL dan NaCl
fisiologis pada kasus cedera otak. Dan pemberian kecil cairan NaCl hipertonis,
akan cepat meningkatkan volume plasma, penggunaannya dibatasi jangan sampai
terjadi hipernatremi. Vasodilatasi dan hipotensi sementara sebaiknya di observasi.
Cairan koloid lebih mahal daripada cairan kristaloid, tetapi lebih efektif
dalam meningkatkan volume intravaskular. Kekurangan cairan interstitial karene

Punya : dr.Dwi Satriyanto (Anestesi Padjadjaran) Page 8 of 19


shok hipovolemik, lebih baik diterapi dengan cairan kristaloid, atau kombinasi
cairan kolod dan kristaloid. Albumin terpilih digunakan daripada dextran atau
hetastarch, karena dikhawatirkan terjadi induksi koagulopati.
Apapun cairan yang diberikan sebaiknya dihangatkan terlebih dahulu
sebelum pemberian. Infus cepat dengan IV kateter besar dan cairan hangat
sangat penting saat tranfusi pada perdarahan hebat. Selimut hangat dan alat
pemanas ruangan akan menjaga kehangatan suhu tubuh. Hipotermi memperburuk
ketidakseimbangan asam basa , koagulopati, dan disfungsi miokard. Hal itu juga
menggeser kurva oksigen hemoglobin ke kiri dan menurunkan metabolisme laktat,
sitrat, dan beberapa obat anestesi. jumlah pemberian cairan tergantung pada klinis
pasien, tekanan darah, tekanan nadi, dan denyut jantung (heart rate).
CVP dan output urin menunjukkan adekuatnya perfusi organ.
Tidak adekuatnya perfusi organ akan berpengaruh pada metablisme aerob,
meningkatnya asam laktat dan asidosis metabolik. Natrium bikarbonat akan
berubah menjadi ion bikarbonat dan CO 2, untuk sementara waktu, dapat
memperburuk asidosis intrasel karena membran sel relatif tidak soluble untuk
bikarbonat dibanding CO2. ketidakseimbangan asam basa akan teratasi dengan
resusitasi cairan dan baiknya perfusi organ. Laktat akan dimetabolisme di hati
menjadi bikarbonat dan H+ diekskresikan oleh ginjal.
Pasien shok hemoragik dengan hipotensi harus diterapi agresif dengan
resusitasi cairan dan tranfusi darah, bukan dengan obat vasopresor, kecuali bila
hipotensinya tidak berespon dengan pemberian cairan, atau mungkin adanya
shock kardiogenik dan henti jantung.
Shok yang tidak berespon dengan resusitasi cairan, mungkin bisa
disebabkan perdarahan yang banyak yang melebihi jumlah cairan yang diberikan,
atau adanya shok kardiogenik ( missal, tamponade pericardial, kontusio miokard,
miokard infark), shok neurogenik ( kerusakan batang otak, spinal cord transection),
shok septic (komplikasi lambat), kerusakan paru (pneumothorax dan
hematothorax) dan asidosis dan hipotermi berat.

Disability
Evaluasi untuk mengetahui disabilitas neurology, dengan pemeriksaan
cepat neurologis. Dikarenakan untuk menilai GCS lama, maka digunakan system
AVPU : awake, verbal responsive, pain responsive, dan unresponsive.

Exposure

Punya : dr.Dwi Satriyanto (Anestesi Padjadjaran) Page 9 of 19


Pasien sebaiknya dibuka seluruh pakaiannya, untuk melihat apakah ada
jejas. In-line immobilization sebaiknya dipakai bila pasien dicurigai ada cedera
tulang belakang.

SECONDARY SURVEY
Secondary survey dimulai bila ABC sudah stabil. Di Secondary survey
pasien di nilai dari kepala sampai ujung kaki (head to toe) dan tes lainnya ( foto
Rontgen, tes laboratorium, dan prosedur invasive dianostik) yang dibutuhkan.
Pemeriksaan kepala mencari jejas di scalp, mata, dan telinga. Pemeriksaan
neurologis mencakup GCS dan evaluasi system motorik sensorik dan reflek. Pupil
dilatasi (fixed dilated pupils)tidak selalu menunjukkan kerusakan otak ireversibel.
Dada di inspeksi dan di auskultasi lagi, untuk mencari apakah ada fraktur dan
integritas fungsional (flail chest). Suara nafas yang menurun menunjukkan adanya
pneumothorax yang membuthkan CTT. Suara jantung menghilang, perbedaan
tekanan sistolik dan diastolik yang dekat, teregangnya vena leher kemungkinan
adanya tamponade pericardial, dan harus dilakukan pericardiocentesis. Meski
pada pemeriksaan awal (primary survey) normal, tetap tidak menyingkirkan hal ini.
Pemeriksaan abdomen terdiri dari inspeksi, auskultasi dan palpasi. Ekstremitas di
periksa, apakah ada fraktur, dislokasi dan terabanya nadi perifer. Kateter urin dan
NGT biasanya dipasang pada pasien trauma.
Pemeriksaan laboratorium dasar meliputi pemeriksaan darah rutin
(hematokrit atau hemoglobin), elektrolit, glukosa, ureum dan kreatinin. Analisa gas
darah pun sangat membantu. Foto torax sebaiknya dilakukan pada semua pasien
dengan trauma berat. Untuk menyingkirkan cedera leher, maka ketujuh vertebra di
foto posisi lateral dan posisi swimmers. foto cervical hanya mendeteksi 80-90%
terjadinya faktur, dan dengan CT-Scan alat yang reliable (dapat dipercaya) untuk
menentukan ada atau tidaknya cedera leher. Foto tambahan lainnya yaitu foto
kepala, pelvis dan foto tulang panjang. A focused assessment with sonogaraphy
for trauma (FAST) scan adalah alat yang cepat, portable, pemeriksaan
ultrasonografi untuk mengidentifikasi perdarahan intraperitoneum atau tamponade
pericardial. FAST dipakai untuk memeriksa cairan di 4 daerah yaitu: perihepatic,
perisplenic, pelvis dan pericardium. Tergantung dari trauma dan kondisi
hemodinamik pasien, pemeriksaan lain (seperti, CT-scan dada atau angiografi)
atau tes diagnostik seperti diagnostic Lavage (DPL) bisa dilakukan.

TERTIARY SURVEY
Banyak pusat trauma memakai tertiary survey untuk menghindari cedera
yang terlewat. Antara 2-50% trauma bisa terlewat dengan primary dan secondary
survey, biasanya pada trauma tumpul multiple (seperti, kecelakaan mobil). Tertiary
survey adalah evaluasi pasien yang mengidentifikasi semua cedera yang dialami

Punya : dr.Dwi Satriyanto (Anestesi Padjadjaran) Page 10 of 19


pasien setelah indakan resusitasi dan operasi. Dan biasanya dilakukan 24 jam
setelah kejadian. Evaluasi ini pada pasien lebih sadar, dan tentunya bisa lebih
berkomunikasi, untuk mengetahui mekanisme trauma lebih detail, dan rekam
medik yang lebih detil untuk menentukan faktor komorbidnya.
Tertiary survey berguna untuk menilai kembali trauma yang sudah diketahui
atau trauma yang terlewat pada primary dan secondary survey. Pemeriksaannya
dengan memeriksa kembali dari kepala sampai ujung kaki (head to toe) dan
mereview semua hasil laboratorium dan semua hasil foto. Trauma yang terlewat
biasanya fraktur pelvis, trauma kepala,trauma tulang belakang, trauma abdomen
dan kerusakan saraf perifer.

PERTIMBANGAN ILMU ANESTESI

Pertimbangan umum
Anestesi regional tidak praktis dan tidak pada tempatnya untuk pasien yang
hemodinamiknya tak stabil dengan trauma mengancam jiwa.
Bila pasien sampai ke kamar operasi telah diintubasi, maka posisi ETT
harus diperiksa kembali. Pasien dengan suspek cedera kepala diberikan
hiperventilasi untuk menurunkan tekanan intra kranial. Ventilasi mungkin
berkurang karena adanya pneumothorax, flail chest, sumbatan ETT, atau cedera
paru-paru.
Bila pasien tidak diintubasi maka prinsip manajemen airway seperti di atas
harus dilakukan di kamar operasi. Bila cukup waktu maka hipovolemia sebaiknya
telah dikoreksi meski sebagian ,sebelum dilakukan anestesi umum. Resusitasi
cairan dan tranfusi darah harus diteruskan selama induksi dan tindakan anestesi.
Zat penginduksi yang biasa digunakan untuk pasien trauma yaitu ketamin dan
etomidate. Meski setelah resusitasi cairan yang adekuat , dosis induksi propofol
yang dibutuhkan 80-90% lebih rendah pada pasien dengan trauma mayor.
Meskipun obat seperti ketamin dan nitro oxide yang normalnya menstimulasi
secara tidak langsung fungsi jantung, bisa menimbulkan efek depresi jantung
(cardio depressan) pada pasien shok atau sudah mendapat stimulasi simpatik
maksimal. Hipotensi bisa juga dialami setelah pemberian etomidate.
Tindakan anestesi pada pasien tak stabil yang utama menggunakan muscle
relaxant (neuromuscular blocking agent), dengan anestesi umum dipakai
tergantung respon pasien (MABP >50-0 mmHg) untuk menciptakan sekurang-
kurangnya amnesia pasien. Dosis kecil intermiten ketamin (25mg setiap 15 menit)
biasanya di toleransi dengan baik dan menurunkan insidence of recall, khususnya
bila dipakai dengan zat volatil konsentrasi rendah (< 0,5 minimum alveolar

Punya : dr.Dwi Satriyanto (Anestesi Padjadjaran) Page 11 of 19


concentration). Obat lain yang berguna untuk mencegah recall yaitu midazolam
(img intermiten) dan scopolamine (0,3mg). Banyak para klinisi tidak menggunakan
nitrous oxide, karena ada kemungkinan terjadinya pneumothorax dan juga
membatasi konsentrasi oksigen inspirasi. Obat yang cenderung untuk menurunkan
tekanan darah (contoh, pelepasan histamin pada pemberian atracurarium dan
mivacurarium) sebaiknya dihindari pada pasien dengan shok hipovolemik. Tingkat
konsentrasi alveolar zat anestesi inhalasi meningkat pada kondisi shok disebabkan
kardiak outputnya yang rendah dan meningkatnya ventilasi. Semakin tinggi
tekanan parsial anestesi alveolar (alveolar anesthetic partial pressure) semakin
tunggi pula tekanan parsial arteri (arterial partial pressures) dan semakin tinggi
pula beban miokard. Efek dari obat anestesi akan meningkat sebab di masukkan
ke dalam cairan intravaskular yang lebih kecil dari normal. Kunci untuk manajemen
anestesi yang aman dari pasien shok adalah untuk memberikan dosis lebih kecil,
apapun obatnya.
Monitor invasive (pengukuran Tekanan darah arteri langsung, CVP, mpnitor
tekanan arteri pulmonal) bisa sangat membantu dalam patokan pemberian cairan,
tetapi monitoring invasive ini jangan sampai mengganggu proses resusitasi.
Pengukuran darah serial hematokrit ( hemoglobin) analisa gas darah, elektrolit
serum (K) sangat membantu dalam resusitasi.

Trauma kepala dan tulang belakang


Semua pasien trauma dengan penurunan kesadaran harus selalu diduga adanya
trauma otak. Tingkat kesadaran dinilai dengan GCS.
Cedera yang membutuhkan tindakan bedah segera yaitu epidural
hematoma, acute subdural hematome, trauma tembus otak, fraktur depressed
tengkorak kepala. Trauma lainnya yaitu fraktur basis kranii dan perdarahan
intraserebral. Fraktur basis kranii tandanya yaitu raccoon eye, battle sign, dan
cairan cerebrospinal yang keluar melalui telinga dan hidung. Tanda lain kerusakan
otak yaitu gelisah, kejang, disfungsi nervus kranialis (seperti, pupil nonreaktif).
Trias cushing ( hipertensi, bradikardi, dan gangguan nafas) merupakan tanda yang
tak bisa dipercaya untuk mengetahui adanya herniasi otak. Hipotensi jarang
disebabkan hanya oleh trauma kepala. Pasien yang dicurigai trauma kepala, tidak
diperbolehkan untuk mendapatkan premedikasi obat yang dapat mempengaruhi
status mental pasien (seperti, sedatif, analgesik) atau pemeriksaan neurologis
(misal, dilatasi pupil yang diinduksi obat antokolinergik).
Trauma otak biasanya diikuti dengan peningkatan tekanan intrakranial
karena adanya hematom atau edema. Tekanan tinggi intrakranial dikontrol dengan
restriksi cairan (kecuali bila ada tanda shok hipovolemik), diuretic (misal, dengan
manitol 0,5g/kg),barbiturat dan kondisi hipokapnia (PaCO 2 28-32 mmHg). Intubasi
Endotrakeal sangat dibutuhkan , dan juga menjaga dari resiko aspirasi akibat

Punya : dr.Dwi Satriyanto (Anestesi Padjadjaran) Page 12 of 19


reflek muntah. Hipertensi atau takikardi pada saat intubasi dapat dikurangi dengan
pemberian slidokain atau fentanyl intravena. Intubasi sadar (Awake intubation)
bisa meningkatkan tekanan intrakranial. Pemasangan endotrakeal tube atau
nasogastrik tube pada pasien fraktur basis kranii bisa menyebabkan perforasi
cribriformis plate dan infeksi LCS. Sedikit peninggian kepala akan memningkatkan
drainase vena dan menurunkan tekanan intrakranial. Pengaruh kortikosteroid pada
pasien cedera kepala masih menjadi kontroversi, kebanyakan studi tidak
menunjukkan efek samping maupun manfaat kortikosteroid. Obat anestesi yang
dapat meningkatkan tekanan intrakranial sebaiknya tidak dipergunakan
(contohnya, ketamin). Hiperglikemia sebaiknya dihindari dan diobati dengan insulin
bila terjadi. Hipotermi ringan memberikan manfaat untuk mencegah iskemia-
induced injury pada pasien cedera kepala.
Autoregulasi aliran darah cerebral biasanya terganggu pada daerah yang
cedera, hipertensi arteri bisa memperburuk edema cerebral dan menyebabkan
tekanan tinggi intrakranial. Dan hipotensi arteri akan menyebabkan iskemik
serebral regional. Umumnya tekanan perfusi cerebral/cerebral perfusion pressure
(selisih MABP di otak dengan CVP atau tekanan intrakranial) harus dijaga > 60
mmHg.
Pasien dengan cedera kepala berat lebih rentan terjadinya hipoksemia
arteri dari sirkulasi pintas paru (pulmonary shunting) dan Ventilasi/perfusi
mismatch. Perubahan ini bisa disebabkan aspirasi, atelectasis, perubahan
langsung saraf dan pembuluh darah paru-paru. Tekanan tinggi intrakranial menjadi
faktor predisposisi edema paru karena meningkatnya system saraf simpatis.
Tingkat kerusakan fisiologis pasien dengan trauma tulang belakang, sesuai
dngan tinggi lesinya di medulla spinalis. Penanganan khususu harus dilakukan
untuk mencegah trauma lebih lanjut pada saat transportasi dan intubasi. Lesi di
leher bisa mengenai nervus phrenicus (C3-C5) dan menyebabkan apnea.
Rusaknya fungsi interkosta, membatasi cadangan udara paru (pulmonary
reserve), dan kemampuan untuk batuk. Trauma tinggi dada akan mengganggu
persarafan simpatis jantung (T1-T4), menyebabkan bradikardi. Trauma tinggi
medulla spinalis akut bisa menyebabkan spinal shock, suatu kondisi ditandai
hilangnya fungsi simpatis, baik kapasitas maupun resistensi pembuluh darah yang
berada di bawah lesi, menyebabkan hipotensi, bradikardi, areflexia, atoni
gastrointestinal. Distensi vena di kedua kaki adalah tanda trauma medulla spinalis.
Hipotensi pada pasien ini membutuhkan terapi cairan yang agresif- waspada akan
kemungkinan edema paru setelah keadaan akut telah teratasi. Suksinilkolin aman
pada saat 48 jam setelah trauma, tetapi setelahnya bisa menyebabkan
hiperkalemia yang mengancam jiwa. Dosis tinggi dan pemberian cepat
kortikosteroid dengan metilprednisolon (30mg/kg diteruskan 5,4mg/kg/jam untuk
23 jam) meningkatkan kesembuhan neurologis (neurological outcome) pasien
dengan trauma medulla spinalis. Hiperreflexia otonom terjadi bila lesi di atas V. T5
tetapi bukan menjadi masalah pada menajemen akut.

Punya : dr.Dwi Satriyanto (Anestesi Padjadjaran) Page 13 of 19


Trauma Dada
Trauma dada bisa sangat menggangu fungsi jantung dan paru,
menyebabkan shok kardiogenik atau hipoxia. Pneumothorak sederhana (Simple
Pneumothorak) adalah terkumpulnya udara diantara pleura parietal dan visceral.
Kolapnya paru-paru yang terkena menyebabkan abnormalitas ventilasi/perfusi
berat dan hipoxia. Pada pemeriksaan dinding dada yang sakit ditemukan pada
perkusi hiperresonan, suara nafas menurun atau hilang, dan pada foto torax
terlihat paru-paru kolap. Nitrous oxide akan memperluas pneumotorax dan
dikontraindikasikan pada kondisi tersebut. Penanganannya dengan pemasangan
CTT di ICS 4-5, di depan midaxilary line. Kebocoran udara persisten setelah
pemasangan CTT menunjukkan adanya trauma bronkus mayor.
Pada tension pneumothorak, udara dapat memasuki rongga pleura tetapi
tidak dapat keluar (one-way valve), dan udara berkumpul di paru-paru atau dinding
dada. Udara memasuki rongga dada pada saat inspirasi tetapi tidak dapat keluar
pada saat ekspirasi. Akibatnya, paru-paru sisi sakit akan kolap, mediastinum dan
trakea akan terdorong ke sisi yang sehat. Simple pneumotorax bisa berubah
menjadi tension pneumothorax bila terjadinya ventilasi tekanan positif di paru-paru
(Positive pressure ventilation). Venous return dan ekspansi paru sisi sehat akan
terganggu. Tanda klinis yaitu pada sisi sakit suara nafas akan hilang dan
hiperresonan pada perkusi, trakea akan terdorong ke sisi sehat, dan vena leher
akan teregang. Masukkan IV kateter no 14 ke ICS 2 pada midclavicula line akan
merubah tension menjadi simple pneumotorax. Terapi definitive yaitu pemasangan
CTT.
Fraktur kosta multiple menurunkan fungsi integritas dinding dada ,
menghasilkan keadaan yang disebut flail chest. Hipoksia sering diperburuk dengan
adanya penyakit paru dan hemothorax. Kontusio paru disebabkan gagal nafas
yang lama. Hemotorax dibedakan dengan pneumotorax yaitu pada perkusi paru
akan didapatkan perkusi dull. Hemomediastinum, seperti halnya hematothorax,
bisa disebabkan oleh shok hemoragik. Hemoptisis massif mungkin membutuhkan
isolasi paru sakit dengan Double lumen tube (DLT) untuk mencegah darah masuk
ke paru yang sehat. Penggunaan ETT lumen tunggal dengan bronchial blocker
lebih aman bila sulit dalam penggunaan laringoskop atau penggunaan DLT tidak
berhasil. Trauma bronkus besar juga membutuhkan pemisahan paru sakit dan
paru sehat, ventilasi hanya menggunakan paru sehat. High frequency jet
ventilation bisa menjadi alternatif untuk bantuan ventilasi tekanan jalan nafas
rendah (lower airway pressure) dan meminimalisasi kebocoran udara bronkus bila
terdapat kebocoran bronkus bilateral atau pemisahan paru tidak bisa dilakukan.
Kebocoran udara bronkus yang terkena trauma bisa masuk ke vena pulmonary
yang rusak menyebabkan emboli paru dan sistemik. Sumber kebocoran harus

Punya : dr.Dwi Satriyanto (Anestesi Padjadjaran) Page 14 of 19


segera dicari dan diperbaiki. Kebanyakan ruptur bronkus bejarak 2,5 cm dari
carina.
Tamponade jantung merupakan trauma dada mengnancam jiwa dan harus
dikenali secara dini. Bila tidak tersedia FAST atau Echocardiografi, trias Becks
(distensi vena leher, hipotensi, muffled heart tones), pulsus paradoksus
(penurunan tekanan darah > 10 mmHg pada saat inspirasi), dan kecurigaan pada
penyakit tersebut akan membantu menegakkan diagnosis. Pericardiocentsis
merupakan terapi sementara. Dengan cara menusukkan kateter no 16
(panjangnya sekitar 15cm) dari Xipohocondral junction ke ujung kiri scapula
dengan sudut 45o, dibantu transthoracic echocardiografi atau EKG. Perubahan
gambaran EKG menunjukkan kateter mengenai miokardium. Terapi definitive
pericardial tamponade dengan torakotomi. Menajemen anestesi untuk keadaan ini
harus memaksimalkan inotropik, kronotropik dan preload jantung. Oleh karenanya,
ketamin merupakan obat terpilih. Trauma tembus jantung atau pembuluh darah
besar membutuhkan tindakan operasi segera. Tindakan pada jantung berulang,
menyebabkan episode bradikardi intermiten dan hipotensi berat.
Kontusio miokard biasanya didiagnosa dengan perubahan konsisten EKG,
yang menunjukkan iskemik (ST-segmen elevation), peningkatan enzim
jantung( CK-MB atau kadar troponin) atau perubahan EKG. Pergerakan abnormal
dinding jantung bisa terlihat dengan transthoracic echocardiography. Pasien
cenderung lebih mudah terserang disritmia, seperti heart block dan fibrilasi
ventrikel. Operasi elektif harus ditunda, sampai semua tanda trauma jantung
teratasi.
Trauma lainnya pada dada yaitu transeksi atau diseksi aorta, avulsi
(terobeknya) arteri subclavia kiri, rusaknya katup mitral atau aorta, herniasi
diafragmatika traumatika, ruptur esophagus. Transeksi aorta biasanya terjadi di
distal arteri subklavia kiri, karena trauma deselerasi berat, secara klasik terlihat
pada foto radiografi mediastinmnya lebar dan biasanya diiringi dengan fraktur iga
pertama.
Acute respiratory distress syndrome (ARDS) komplikasi trauma paru lambat
dan biasanya disebabkan : sepsis, trauma langsung dada, aspirasi, cedera kepala,
emboli paru, transfusi berlebihan, dan keracunan oksigen. Pasien trauma sering
terkena resiko seperti siatas. Meski dengan teknologi modern, tingkat kematian
ARDS sekitar 50%. Dalam beberapa kasus ARDS terjadi cepat, pada saat di
kamar operasi. Pneumonia aspirasi, terjadinya sebelum pasien diintubasi,
biasanya terjadi di kamar operasi dan bisa tertukar dengan ARDS. Ventilator
mekanik pada mesin anestesi, tidak bisa mancukupi kebutuhan oksigen pasien
dengan komplian paru yang buruk. Penggunaan ventilator ICU yang memberikan
tekanan udara tinggi mungkin diperlukan.

Punya : dr.Dwi Satriyanto (Anestesi Padjadjaran) Page 15 of 19


Trauma Abdomen
Pasien dengan rauma multiple harus selalu dicurigai trauma abdomen,
sampai terbukti tidak. Sampai 20% pasien dengan trauma abdomen tidak
mengeluh sakit atau menunjukkan tanda rangsang peritoneum (defans muscular,
nyeri tekan, tanda ileus) pada pemeriksaan pertama. Jumlah darah banyak (akut
hemoperitoneum) mungkin terjadi pada trauma abdomen (contoh, trauma hepar
atau trauma limpa) dengan tanda minimal. Trauma abdomen terbagi manjadi
trauma tembus (luka tembak, luka tusuk) dan trauma tidak tembus (deselerasi,
tabrakan, trauma kompresi).
Trauma tembus abdomen biasanya terlihat jelas di perut atau di bagian
bawah dada. Organ yang paling sering terkena yaitu hati. Pasien terbagi menjadi :
1. tak ada denyut nadi 2. hemodinamik tak stabil 3. stabil. Pasien tak ada denyut
nadi dan pasien dengan hemodinamik tak stabil (dengan pemberian resusitasi
cairan sebanyak 1-2 l, tetap tak bisa menaikkan tekanan darah sistolik diantara 80-
90 mmHg) harus segera dilakukan laparotomi. Biasanya akibat sobek pembuluh
darah besar atau cedera organ solid. Pasien stabil dengan tanda peritonitis atau
evicerasi sebaiknya harus segera dilakukan laparotomi. Dan pasien dengan
hemodinamik stabil dengan trauma tembus abdomen dan tidak menunjukkan
tanda peritonitis, harus dievaluasi secara cermat, untuk menghindari laparotomi
yang tak perlu. Tanda penting adanya trauma abdomen yaitu udara bebas di
bawah diafragma pada foto torax, darah dari NGT, hematuria, dan darah dari
rectum. Evaluasi lebih lanjut untuk pasien dengan hemodinamik stabil yaitu
pemeriksaan fisik serial, eksplorasi luka, diagnostik peritoneal lavage (DPL), FAST,
CT abdomen, atau laparoskopi diagnostik. Dengan penggunaan FAST dan CT
Scan, tindakan DPL dapat dikurangi.
Trauma tumpul abdomen penyebab tertinggi kematian dan kesakitan
karena trauma dan merupakan kasus trauma intraabdominal paling banyak.
tersobek atau ruptur lien adalah kejadian yang paling sering. Pada trauma tumpul
abdomen, Hasil FAST positive dan hemodinamik buruk, memerlukan tindakan
operasi segera. Bila FAST negatif atau equivocal pada pasien hemodinamik tak
stabil, khususnya tanpa tanda rangsang peritoneum, maka harus dicari sumber
perdarahan atau sebab lain yang menyebabkan shok nonhemoragik. Pada pasien
trauma tumpul abdomen hemodinamik stabil berdasar hasil FAST. Bila FAST
positif, keputusan untuk melakukan laparoskopi atau laparotomi berdasar hasil CT
abdomen. Bila hasil FAST negatif, pasien diobservasi dengan pemeriksaan serial
dan pemeriksaan FAST.
Hipotensi berat biasanya terjadi setelah pembukaan dinding perut, karena
hilangnya efek tampon terhadap extravasasi darah di perut. Bila cukup waktu,
pesiapan resusitasi cairan dan tranfusi darah dengan alat infus (rapid infusion
device) harus dilakukan sebelum laparotomi. Nitrous oxide tidak dipakai untuk
mencegah semakin teregangnya usus. Pemasangan NGT dapat mengurangi

Punya : dr.Dwi Satriyanto (Anestesi Padjadjaran) Page 16 of 19


regangan usus, tetapi harus dipasang melalui mulut bila pasien tersangka fraktur
cribriformis plate. Tranfusi darah banyak, harus dipersiapkan bila trauma abdomen
dengan trauma vascular, hepatic, lien, trauma ginjal, fraktur pelvis, atau pedarahan
retroperitoneal. Hiperkalemia yang diinduksi tranfusi darah (tranfusion-induced
hyperkalemia), sama berbahayanya dengan exsangunasi dan harus cepat diterapi.
Perdarahan perut masif mungkin membutuhkan penyekatan daeran
perdarahan dan/atau peng-kleman (clamping) aorta abdominal, sampai sumber
perdarahan dapat ditemukan, dan resusitasi sudah bisa mencukupi kehilangan
darah. Peng-kleman (clamping) arteri yang lama bisa menyebabkan trauma
iskemik pada liver, ginjal, usus, sindroma kompartemen pada ekremitas bawah,
dan lebih lanjut bisa menyebabkan gagal ginjal akut dan rhabdomiolisis.
Penggunaan manitol dan diuretik (sebelum clamping aorta) bersamaan dengan
terapi cairan bisa mencegah terjadinya gagal ginjal, tapi hal ini masih kontroversi.
Cepatnya terapi cairan dan tranfusi darah , cepatnya mengontrol perdarahan,
waktu clamping arteri yang pendek ,dapat mengurangi insidensi komplikasi.
Edema usus berkelanjutan (progressive) oleh trauma dan resusitasi cairan
bisa menghalangi penutupan pada saat akhir operasi. Penutupan perut terlalu
ketat, bisa meningkatkan tekanan intraabdomen, menyebabkan kompartemen
sindrom di abdomen akibatnya terjadi iskemik ginjal dan iskemik lien. Meski
dengan penggunaan muscle relaxant yang banyak, seringkali oksigenasi dan
ventilasi sangat buruk. Oliguri dan kerusakan ginjal (renal shutdown) terjadi
setelahnya. Pada kasus ini, maka perut tetap dibiarkan terbuka (menggunakan
penutup steril- dengan plastik cairan intravena) 48-72 jam, sampai edema
berkurang dan penutupan bisa dilakukan.

Trauma Ekstremitas
Trauma ekstremitas bisa mengancam jiwa, karena rusaknya pembuluh
darah dan karena infeksi sekunder. Trauma vascular bisa menyebabkan
perdarahan massif dan membahayakan viabiitas dari ekstremitas. Contohnya,
Fraktur femur kehilangan darah 2-3 labu, dan fraktur pelvis tertutup bisa
menyebabkan kehilangan darah lebih banyak lagi dan menyebabkan shok
hipovolemik. Penanganan yang terlambat atau salah memposisikan pasien bisa
memperparah dislokasi dan kerusakan saraf lebih lanjut. Emboli lemak karena
fraktur pelvis dan tulang panjang bisa menyebabkan insufficiency paru, disritmia,
peteki kulit, perubahan kesadaran 1-3 hari setelah kejadian. Diagnosis
laboratorium emboli paru berdasar pada kenaikan serum lipase, adanya lemak di
urin dan trombositopenia.
Sindroma kompartemen bisa terjadi pada hematom intramuskular luas, luka
remuk (crush injury), fraktur dan luka amputasi. Peniningkatan tekanan fascia
interna dan penurunan tekanan arteri menyebabkan iskemik, hipoksia jaringan,

Punya : dr.Dwi Satriyanto (Anestesi Padjadjaran) Page 17 of 19


dan pembengkakan yang progresif. Seperti yang telah didiskusikan, rhabdomiolisis
dan gagal ginjal bisa terjadi. Trauma karena reperfusi darah bisa memperparah
edema dan trauma. Lengan atas dan tungkai bawah yang paling beresiko untuk
terkena. Diagnosis ditegakkan secara klinik berdasar pengukuran langsung
tekanan kompartemen : diatas 45 mmHg atau 10-30 mmHg dari tekanan darah
diastolik. Fasiotomi segera diperlukan, untuk menyelamatkan ekstremitas.
Dengan teknik operasi modern sudah bisa memperbaiki (reimplanation)
ekstremitas dan jari yang terkena trauma. Bagian tubuh yang telah diamputasi,
dan telah didinginkan, masih bisa disambung kembali (reimplanasi) bahkan
sampai 20 jam setelah amputasi, sedangkan yang tidak didinginkan hanya sampai
6 jam. Bila trauma terisolasi, teknik anestesi regional (blok plexus brachialis atau
interscalene) direkomendasikan untuk meningkatkan laju darah perifer (periferal
blood flow) dengan cara menghambat persarafan simpatis. Pada saat tindakan
anestesi umum, pasien harus selalu hangat, dan keadaan menggigil harus
dicegah untuk memaksimalkan perfusi darah.

Estimation of body surface area in burns.

Punya : dr.Dwi Satriyanto (Anestesi Padjadjaran) Page 18 of 19


Punya : dr.Dwi Satriyanto (Anestesi Padjadjaran) Page 19 of 19