Anda di halaman 1dari 9

Laporan Pendahuluan

Manajemen Kamar Operasi


Fitri Wulandari, 1306402375
I. Definisi Manajemen Kamar Operasi
Manajemen merupakan suatu proses pengaturan berbagai sumberdaya organisasi untuk
mencapai sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan melalui
fungsi-fungsi tertentu atau suatu pengorganisasian aktivitas kerja beberapa orang,
sehingga kerja bisa terselesaikan secara efektif dan efesien.
Manajemen Kamar Operasi adalah pengkoordinasian aktifitas kerja beberapa orang atau
merupakan bagian integral yang penting dari pelayanan suatu rumah sakit berbentuk
suatu unit yang terorganisir dan sangat terintegrasi, dimana didalamnya tersedia sarana
dan prasarana penunjang untuk melakukan tindakan pembedahan.
Manajemen kamar operasi meliputi bagaimana seorang pemimpin yaitu seorang dokter
bedah, perawat instrumen, anastesi dan asisten dokter lainnya secara bersama-sama
melakukan perencanaan, pengorganisasian dan pengendalian sehingga tercapai suatu
tujuan.
II. Instalasi Kamar Operasi
Merupakan bagian integral yang penting dari pelayanan suatu rumah sakit berbentuk
suatu unit yang terorganisir dan sangat terintegrasi, dimana didalamnya tersedia sarana
dan prasarana penunjang untuk melakukan tindakan pembedahan. Bagian kamar operasi
dalam peraturan kemenkes :
a. Zona 1, Tingkat Resiko Rendah (Normal)
Zona ini terdiri dari area resepsionis (ruang administrasi dan pendaftaran), ruang tunggu
keluarga pasien, janitor dan ruang utilitas kotor. Zone ini mempunyai jumlah partikel debu
per m3 > 3.520.000 partikel dengan diameter 0,5 m
b. Zona 2, Tingkat Resiko Sedang (Normal dengan Pre Filter)
Zona ini terdiri dari ruang istirahat dokter dan perawat, ruang plester, pantri petugas, ruang
tunggu pasien (holding), ruang transfer dan ruang loker (ruang ganti pakaian dokter dan
perawat) merupakan area transisi antara zona 1 dengan zone 2. Zone ini mempunyai jumlah
maksimal partikel debu per m3 3.520.000 partikel dengan dia.

c. Zona 3, Tingkat Resiko Tinggi (Semi Steril dengan Medium Filter)


Zona ini meliputi kompleks ruang operasi, yang terdiri dari ruang persiapan (preparation),
peralatan/instrument steril, ruang induksi, area scrub up, ruang pemulihan (recovery), ruang
linen, ruang pelaporan bedah, ruang penyimpanan perlengkapan bedah, ruang penyimpanan
peralatan anastesi, implant orthopedi dan emergensi serta koridor-koridor di dalam kompleks
ruang operasi.
d. Zona 4, Tingkat Resiko Sangat Tinggi (Steril dengan Pre Filter, Medium Filter, Hepa
Filter)
Zona ini adalah ruang operasi, dengan tekanan udara positif. Zone ini mempunyai jumlah
maksimal partikel debu per m3 adalah 35.200 partikel dengan dia. 0,5 m
e. Area Nuklei Steril
Area ini terletak dibawah area aliran udara kebawah (;laminair air flow) dimana bedah
dilakukan. Area ini mempunyai jumlah maksimal partikel debu per m3 adalah 3.520 partikel
dengan dia. 0,5 m.

Alasan mempunyai sistem zona pada bangunan ruang operasi rumah sakit adalah untuk
meminimalisir risiko penyebaran infeksi (infection control) oleh micro-organisme dari rumah
sakit (area kotor) sampai pada kompleks ruang operasi.
Konsep zona dapat menimbulkan perbedaan solusi sistem air conditioning pada setiap zona,
Ini berarti bahwa staf dan pengunjung datang dari koridor kotor mengikuti ketentuan pakaian
dan ketentuan tingkah laku yang diterapkan pada zona.

III.

Bagian-bagian Kamar Operasi :


a. Kamar bedah
b. Kamar untuk cuci tangan
c. Kamar untuk gudang alat-alat instrument
d. Kamar untuk sterilisasi
e. Kamar untuk ganti pakaian
f. Kamar untuk laboratorium
g. Kamar arsip
h. Kamar recovery
i. Kamar gips
j. Kamar istirahat
k. Kamar mandi atau WC dan spoelhok atau tempat cuci alat
l. Kantor
m. Gudang
n. Kamar tunggu
o. Ruang srerilisasi

IV. Alur Pasien, Petugas dan Peralatan


Alur Sirkulasi kegiatan Ruangan Operasi.
Alur sirkulasi (pergerakan) ruang pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit dijelaskan sebagai
berikut :
a. Pasien
1. Pasien, umumnya dibawa dari ruang rawat inap menuju ruang operasi menggunakan
transfer bed.
2. Perawat ruang rawat inap atau perawat ruang operasi, sesuai jadwal operasi, membawa
pasien ke ruang pendaftaran untuk dicocokkan identitasnya, apakah sudah sesuai dengan
data yang sebelumnya dikirim ke ruang administrasi ruang operasi dan sudah dipelajari
oleh dokter bedah bersangkutan. Pengantar pasien dipersilahkan untuk menunggu di
ruang tunggu pengantar.
3. Dari ruang pendaftaran, pasien dibawa ke ruang transfer, di ruang ini, pasien dipindahkan
dari transfer bed ke transfer bed ruang bedah menuju ruang persiapan.
4. Di ruang persiapan pasien dibersihkan, misalnya dicukur pada bagian rambut yang akan
dioperasi, atau dibersihkan bagian-bagian tubuh lain yang dianggap perlu,
5. Apabila, pada saat pasien selesai dibersihkan ruang operasi masih digunakan untuk
operasi pasien lain, pasien ditempatkan di ruang tunggu pasien yang berada di lingkungan
ruang operasi.
6. Setelah tiba waktunya, pasien dibawa masuk ke ruang induksi (bila ada), yang mana,
pasien diperiksa kembali kondisi tubuhnya, menyangkut tekanan darah, detak jantung,
temperatur tubuh, dan sebagainya.
7. Apabila kondisi tubuh pasien cukup layak untuk dioperasi, pasien selanjutnya masuk ke
ruang bedah, untuk dilakukan operasi pembedahan.
8. Selesai dilakukan pembedahan, pasien yang masih dipengaruhi oleh bius dari zat
anestesi, selanjutnya dibawa ke ruang pemulihan (recovery room). Ruang ini sering juga
dinamakan ruang PACU (Post Anesthesi Care Unit). Bila dianggap perlu, pasien bedah
dapat juga langsung dibawa ke ruang perawatan intensif (ICU).
9. Apabila bayi yang dioperasi, setelah dioperasi bayi tersebut selanjutnya dibawa masuk ke
ruang resusisitasi neonatal (dibeberapa rumah sakit, jarang ruang resisutasi neonatal ini
berada di ruang operasi, biasanya langsung dibawa ke ruang perawatan intensif bayi
(NICU), yang berada di bagian melahirkan (Ginekologi).
10. Apabila pasien bedah kondisinya cukup sadar, pasien dibawa ke ruang rawat inap.
b. Perawat dan Dokter Bedah/Anestesi.
1. Perawat
a. Petugas mengganti baju dan sepatu/sandalnya di ruang loker, yang mana
dokter/paramedis selanjutnya mengenakan baju, penutup kepala dan penutup
hidung/mulut yang sebelumnya sudah disterilkan.
b. Paramedis selanjutnya melakukan kegiatan persiapan perlengkapan operasi, meliputi
penyiapan peralatan bedah, pembersihan ruang bedah, mensterilkan ruang bedah
dengan penyemprotan fogging, menyeka (mengelap) meja bedah, lampu bedah,
mesin anestesi, pendant, dengan cairan atau lap yang sesuai. Memeriksa seluruh
utilitas ruang operasi (tekanan gas medis, vakum, udara tekan medis, kotak kontak
listrik, jam dinding, tempat sampah medis, dan sebagainya).
c. Untuk penyiapan peralatan bedah, dilakukan di ruang peralatan bedah yang letaknya
dekat dengan kamar bedah. Set peralatan bedah diambil dari ruang penyimpanan
steril, dan disiapkan di atas troli bedah,
d. Setelah siap, Dokter bedah akan memeriksa kembali seluruh peralatan bedah yang
diperlukan, dan mengujinya bila diperlukan.
e. Selanjutnya peralatan bedah ini dimasukkan ke kamar bedah. Apabila pengadaan
ruang persiapan peralatan bedah ini karena sesuatu hal tidak dimungkinkan, maka
persiapan peralatan bedah dapat dilakukan di kamar bedah.
2. Dokter.
a. Di ruang Dokter, Dokter beserta stafnya, termasuk dokter anestesi, melakukan
koordinasi tindakan bedah yang akan dilakukan terhadap pasien, termasuk
kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.
b. Selesai melakukan koordinasi, Dokter bedah menuju ruang persiapan peralatan
bedah, memeriksa dan menguji apakah seluruh peralatan sudah sesuai dengan
kebutuhan yang diperlukan untuk pembedahan.
c. Dokter selanjutnya ke ruang induksi, memeriksa kondisi pasien apakah sudah cukup
siap untuk operasi.
d. Dokter anestesi, memeriksa peralatan mesin anestesi apakah sudah berfungsi dengan
baik, termasuk zat anestesi yang akan digunakan.
e. Dokter bedah dan staf yang membantu operasi, sebelum melakukan pembedahan,
mencuci tangan terlebih dahulu di tempat cuci tangan yang disebut dengan Scrub
Up. Tempat cuci tangan ini terdiri dari air biasa, sabun dan zat anti septik (biasa
digunakan betadine). Selanjutnya dokter dan staf yang terlibat pengoperasian
menggunakan sarung tangan yang telah disterilkan.
f. Dokter, staf yang membantu operasi selanjutnya masuk ke ruang operasi untuk
melakukan pembedahan. Sebelum melakukan operasi, Dokter biasanya melakukan
penyesuaian posisi meja operasi dan lampu operasi yang lebih nyaman, demikian
pula dengan posisi troli peralatan operasi.
g. Selesai melakukan operasi, Dokter beserta stafnya kembali mencuci tangan di scrub
up, dan Dokter kembali ke ruang Dokter untuk membuat laporan.
3. Alur Material/bahan.
a. Material/bahan bersih/steril.
Material/bahan bersih untuk kebutuhan kamar bedah diambil dari :
i. ruang penyimpanan bersih/steril, seperti linen, peralatan kebutuhan
bedah, dan sebagainya.
ii. Untuk kebutuhan farmasi (obat-obatan), diambil dari ruang penyimpanan
farmasi, termasuk bahan/material yang sekali pakai. Bila ruang farmasi
tidak tersedia, dapat digunakan ruang persiapan peralatan.
iii. Zat anestesi, umumnya disimpan di ruang penyimpanan anestesi.
b. Material kotor/bekas.
i. Material kotor, terdiri dari :
1. Material kotor/bekas yang digunakan dan sifatnya habis pakai, di
masukkan ke dalam tempat sampah berupa kontainer kotor,
selanjutnya ditutup rapat, dan dibawa ke area kotor untuk
selanjutnya dibawa ke tempat pembuangan yang khusus
digunakan untuk ini.
2. Material kotor/bekas yang masih dapat digunakan kembali,
seperti linen, peralatan kedokteran dan sebagainya dibawa ke
ruang spool hook, setelah dibersihkan dan dikemas dikirim ke
ruang laundri atau CSSD.
V. Persyaratan kamar operasi
a. Letak
Letak kamar operasi berada ditengah-tengah rumah sakit berdekatan dengan unit
gawat darurat, IRD, ICU, dan Unit Radiologi.
b. Bentuk dan ukuran
Bentuk
Kamar operasi tidak bersudut tajam, lantai dinding langit-langit berbentuk
lengkung dan warna tidak mencolok. Lantai dan dinding harus terbuat dari
bahan yang rata, kedap air, mudah dibersihkan dan menampung debu.
Ukuran kamar operasi
Minimal 5,6 m x 5,6 m ( -29, 1 m2)
Khusus atau besar 7,2 m X 7,8 m ( -56 m2)
c. Sistem ventilasi
Ventilasi kamar operasi harus dapat diatur dengan alat control dan
penyaringan udara dengan menggunakan filter, idelnya menggunakan
sentral AC.
Pertukaran dan sirkulasi udara harus berbeda.
d. Suhu dan kelembaban
Suhu ruangan antara 190C 220C
Kelembaban 55%
e. Sistem penerangan
Lampu operasi
Lampu operasi menggunakan lampu khusus sehingga tidak menimbulkan
panas, cahaya terang tidak menyilaukan dan arah sinar mudah diatur
posisinya.
Lampu penerangan, menggunakan lampu pijar putih, mudah dibersihkan.
f. Peralatan
Semua peralatan yang ada didalam kamar operasi harus berada dan mudah
dibersihkan.
Untuk alat elektrik, petunjuk penggunaannya harus menempel pada alat
tersebut agar mudah dibaca.
Sistem pelistrikan dijamin aman dan dilengkapi dengan elektroda untuk
memusatkan arus listrik, mencegah bahaya gas anastesi.

g. Sistem instalasi gas medis


Pipa (outlet) dan connector N2O dan oksigen, dibedakan warnanya dan dijamin
tidak bocor serta dilengkapi dengan sistem pembuanagan atau penghisapan udara
untuk mencegah penimbunan gas anastesi.
Instalasi gas medik dan vakum medik, meliputi :
(a) Gas Oksigen;
(b) Gas Nitrous Oksida;
(c) Gas Carbon dioksida;
(d) Udara tekan medis dan udara tekan instrumen;
(c) Vakum bedah medik dan vakum medik.
Dalam sentral gas medik, Oksigen, Nitrous Oksida, Carbon dioksida, udara tekan
medik dan udara tekan instrumen disalurkan dengan pemipaan ke ruang operasi.
Outlet-outletnya bisa dipasang di dinding, pada langit-langit, atau digantung di langit-
langit (ceiling pendant).

Bilamana terjadi gangguan pada suatu jalur, untuk keamanan ruang-ruang lain, sebuah
lampu indikator pada panel akan menyala dan alarm bel berbunyi, pasokan oksigen dan
nitrous oksida dapat ditutup alirannya dari panel-panel yang berada di koridor-koridor,
Bel dapat dimatikan, tetapi lampu indikator yang memonitor gangguan/ kerusakan yang
terjadi tetap menyala sampai gangguan/kerusakan teratasi.

h. Pintu
Pintu masuk dan keluar pasien harus berbeda
Pintu masuk dan keluar petugas tersendiri.
Setiap pintu menggunakan door closer ( bila memungkinkan )
Setiap pintu diberi kaca pengintai untuk melihat kegiatan kamar tanpa
membuka pintu
i. Pembagian area
Ada batas tegas antara area bebas terbatas, semi ketat dan area ketat.
Ada ruangan persiapan untuk serah terima pasien dari perawat ruangan
kepada perawat kamar operasi.
j. Air bersih
Air bersih harus memenuhi persyaratan:
Tidak berwarna, berbau dan berasa.
Tidak mengandung kuman pathogen.
Tidak mengandung zat kimia.
Tidak mengandung zat beracun
k. Pembersihan Kamar Operasi
Pemeliharan kamar operasi merupakan proses pembersihan ruang berserta alat-
alat standar yang ada dikamar operasi yang dilakukan teratur sesuai jadwal
tujuannya untuk mencegah infeksi silang dari atau kepada pasien serta
mempertahankan sterilitas. Cara pembersihan kamar operasi:
Cara pembersihan rutin atau harian
Pembersihan rutin yaitu pembersihan sebelum dan sesudah penggunaan
kamar operasi agar siap pakai dengan ketentuan sebagai berikut :
o Semua permukaan peralatan yang terdapat didalam kamar operasi
harus dibersihkan dengan menggunakan desinfektan atau dapat
juga menggunakan air sabun.
o Permukaan meja operasi dan matras harus diperiksa dan
dibersihakan
o Ember tempat sampah harus dibersihkan setiap selesai dipakai
kemudian pasang plastik yang baru.
o Semua peralatan yang digunakan untuk pembedahan dibersihkan.
o Noda-noda yang ada pada dinding harus dibersihkan.
o Lantai dibersihkan kemudian dipel dengan menggunakan cairan
desinfektan.
o Lubang angin kaca jendela dan kosen harus dibersihkan
o Alat tenun bekas pasien dikeluarkan dari kamar operasi jika alat
tenun tersebut bekas pasien infeksi maka penanganannya sesuai
dengan prosedur yang berlaku.
o Lampu operasi harus dibersihkan setiap hari pada waktu
membersihakan lampu harus dalam keadaan dingin.
o Alas kaki ( sandal ) khusus kamar operasi harus dibersihkan setiap
hari
Pembersihan mingguan
o Dilakukan secara teratur setiap seminggu sekali.
o Semua peralatan yang ada dalam kamar bedah dikeluarkan dan
diletakkan di koridor atau didepan kamar bedah.
o Peralatan kamar bedah harus dibersihkan atau dicuci dengan
memakai cairan desinfektan atau cairan sabun . perhatian harus
ditunjukan pada bagian peralatan yang dapat menjadi tempat
berakumulasinya sisa organis seperti bagian dari meja operasi
dibawah matras
o Permukaan dinding dicuci dengan menggunakan air mengalir
o Lantai disemprot dengan menggunakan detergen kemudian
permukaan lantai disikat setelah bersih dikeringkan.
o Setelah lantai bersih dan kering peralatan yang sudah dibersihkan
dapat dipindah kembali dan diatur dalam kamar operasi.
Pembersihan sewaktu
Pembersihan sewaktu dilakukan bila kamar operasi digunakan untuk
tindakan pembedahan pada kasus infeksi dengan ketentuan sbb:
o Pembersihan kamar operasi secara menyeluruh meliputi dinding
meja operasi, meja instrument dan semua peralatan yang ada
dikamar operasi.
o Intrumen dan alat bekas pakai harus dipindahkan atau tidak boleh
campur dengan alat yang lain sebelum didesinfektan.
o Pemakaian kamar operasi untuk pasien berikutnya di ijinkan
setelah pembersihan secara menyeluruh dan sterilisasi selesai.
VI. Penanganan Limbah Kamar Operasi
a) Limbah cair dibuang ditempat khusus yang berisi larutan desinfektan yang
selanjutnya mengalir ke tempat pengelolaan limbah cair rumah sakit
b) Limbah padat atau anggota tubuh ditempatkan dalam kantong atau tempat tertutup
yang selanjutnya dibakar atau di kubur dirumah sakit sesuai ketentuan yanag
berlaku atau diserahterimakan kepada keluarga pasien bila memungkinkan.
c) Limbah non infeksi yang kering dan basah ditempatkan pada tempat yang tertutup
serta tidak mudah bertebaran dan selanjutnya dibuang ketempat pembuangan
rumah sakit.
d) Limbah infeksi ditempatkan pada tempat yang tertutup dan tidak mudah bocor
serta diberi label warna merah untuk dimusnahkan.
Referensi :
Berman, A.J., & Snyder, S.J. (2012). Kozier & Erbs Fundamentals of Nursing: Concepts,
Process, and Practice, 9th ed. New Jersey: Pearson Education, Inc.
DeLaune, S.C., & Ladner, P.K. (2011). Fundamentals of Nursing: Standards & Practice, 4th ed.
USA: Delmar Cengage Learning.
Potter, P.A., & Perry, A.G. (2009). Fundamentals of Nursing, 7th ed. Singapore: Elsevier.