Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN KASUS

Anestesi Spinal Pada Pasien Ulkus Diabetikum

Dokter Pembimbing :
dr. Eva Susana, Sp. An

Disusun Oleh :
Fitra Hadi
Sarah Khairina
Nublah Nur Amalina
Rifqoh Atiqoh

KEPANITERAAN KLINIK STASE ILMU ANESTESI


RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA SUKAPURA
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2017
BAB I
STATUS PASIEN

A. IDENTITAS
Nama pasien : Ny. A
Umur : 60 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Tipar Cakung
Agama : Islam
Tanggal operasi : 08 Desember 2017 pukul 16.00 WIB
No. rekam medik : 2057XX
Ruangan : Abu Dzar I
Diagnosa Preoperatif : Ulkus Pedis Sinistra Digiti 2-5
Jenis Operasi : Amputasi
Jenis Anestesi : Regional anestesi (spinal)

B. ANAMNESIS
Dilakukan pada pasien (autoananmnesis)di ruang preoperasi RSIJ Sukapura pada tanggal
08 Desember 2017

1. Keluhan Utama
Luka pada jari kaki telunjuk hingga kelingking kiri sejak 2 bulan yang lalu.

2. Riwayat Penyakit Sekarang


Os datang dengan keluhan luka pada jari kaki telunjuk hingga kelingking kiri sejak
2 bulan yang lalu. Awalnya luka kecil pada jari kaki pasien, pasien tidak menyadari
penyebab terjadinya luka tersebut. Kemudian lama kelamaan luka tersebut melebar
dan tak kunjung sembuh walau sudah dibersihkan serta menghitam. Jari kaki pasien
tidak dapat digerakkan karena sakit. Demam (+) ,batuk, pilek, mual, dan muntah
disangkal.Gigi goyang dan gigi palsu disangkal.BAB dan BAK tidak ada keluhan.

3. Riwayat Penyakit Dahulu


o Riwayat hipertensi : (-)
o Riwayat diabetes mellitus : (+) tidak terkontrol sejak tahun 17 tahun yang lalu
1
o Riwayat sakit jantung : disangkal
o Riwayat asma : (-)
o Riwayat penyakit hati : disangkal
o Riwayat gangguan pembekuan darah: disangkal

4. Riwayat Penyakit Keluarga


o Riwayat hipertensi : disangkal
o Riwayat diabetes melitus : disangkal
o Riwayat sakit jantung : disangkal
o Riwayat asma : disangkal
o Riwayat penyakit hati : disangkal
o Riwayat gangguan pembekuan darah: disangkal
o Riwayat penyakit serupa : disangkal

5. Riwayat Pengobatan
o Pasien mengaku mengkonsumsi obat metformin, namun tidak teratur kontrol ke
dokter
6. Riwayat Alergi
o Alergi terhadap obat, cuaca, makanan, plester dan debu disangkal.

7. Riwayat Operasi dan Anestesi


o Os tidak mempunyai riwayat operasi sebelumnya

8. Riwayat Psikososial
o Riwayat merokok dan minum alkohol (-)
o Riwayat sering konsumsi kopi (+), teh (+)

9. Riwayat Terakhir Makan dan Minum (Puasa)


o Os dipuasakan sejak jam 07.00

C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
2. Kesadaran : Composmentis
3. Tanda Vital
a. TD : 130/90 mmHg
b. Nadi : 90 x/menit, regular, kuat angkat
2
c. Respirasi : 18 x/menit, reguler
d. Suhu : 36,60C

4. Antropometri
a. Berat Badan : 45 kg
b. Tinggi Badan : 150 cm
c. IMT : 45(1,5)2= 20normoweight

5. Status Generalis
a. Kepala : Normocephal, rambut hitam beruban, tidak rontok
b. Mata :Sklera ikterik -/-, konjungtiva anemis -/-, pupil bulat isokor
diameter 3 mm, refleks cahaya +/+
c. Hidung :Deviasi septum(-),epistaksis (-/-), sekret(-)
d. Mulut : Mukosa bibir lembab, membuka mulut (mallapati 1 terlihat
pilar faring, palatum mole dan uvula)
e. Telinga :Normotia, sekret (-/-), darah (-/-)
f. Leher :Pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-)
g. Thoraks
o Paru
Inspeksi : bentuk dada normochest, pergerakan dinding dada simetris
Palpasi : vokal fremitus paru kanan dan kiri simetris
Perkusi : sonor di kedua lapang paru
Auskultasi : vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)
o Jantung
Inspeksi : Iktus cordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus cordis tidak teraba
Perkusi : Batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : BJ I dan II reguler normal, murmur (-), gallop (-)
h. Abdomen
Inspeksi : Datar
Auskultasi : Bising usus (+),metallic sound (-)
Perkusi : Timpani (+) seluruh lapang perut
Palpasi : Nyeri tekan (-), defansmuskuler (-), hepar dan lien tak
teraba

3
i. Punggung
Skoliosis (-), kifosis(-), lordosis (-), lesi kulit (-)
Nyeri ketok CVA -/-

j. Ekstremitas
o Superior : Akral hangat, RCT< 2 detik, edema (-), sianosis (-)
o Inferior : Akral hangat, RCT< 2 detik, edema (-), sianosis (-)

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Pemeriksaan laboratorium darah rutin tanggal 06 Desember 2017

Hasil Satuan Nilai Rujukan

PEMBEKUAN

Masa Perdarahan 300 Menit 1-3

Masa Pembekuan 430 Menit 2-6

KARBOHIDRAT

Gula darah sewaktu 208 Mg/dl <120

HEMATOLOGI

Hb 8,90 g/dL 13,8-17,0

Leukosit 14.94 10^3/uL 4,5-10,8

Hematokrit 27.7 % 40,0-54,0

Trombosit 564 10^3/uL 185-402


GDS tanggal 8 Desember 2017 jam 09.00: 224 Mg/dl

2. Pemeriksaan EKG
Hasil: dalam batas normal

4
E. RESUME
Perempuan, 60 tahun datang dengan keluhan luka pada jari kaki telunjuk
hingga kelingking kiri sejak 2 bulan yang lalu. Awalnya luka kecil pada jari kaki
pasien, kemudian lama kelamaan luka tersebut melebar dan tak kunjung sembuh
walau sudah dibersihkan serta menghitam. Demam (+). Pasien memiliki riwayat
diabetes mellitus tidak terkontrol. Pemeriksaan fisik tanda vital tekanan darah
130/90 mmHg, nadi 90 x/menit, regular, 18 x/menit dan suhu 36,60C dan status
generalis dalam batas normal. Pemeriksaan penunjang: Pemeriksaan darah rutin
didapatkan hiperglikemia, dan EKG dalam batas normal.

F. DIAGNOSIS
o Diagnosa kerja : Ulkus Pedis Sinistra Digiti 2-5
o Diagnosa anestesi : ASA II, Pasien dengan pasien yang memiliki
kelainan sistemik ringan sampai dengan sedang selain penyakit yang akan
dioperasi, dapat melakukan aktivitas sehari-hari

G. PENATALAKSANAAN
o Operatif :Amputasi
o Rencana tindakan anestesi :Anestesi regional dengan anestesi spinal pada
lumbal 3-4 dengan Bunascan 20 mg dan jarum no 25

H. MULAI TINDAKAN
Operasi dilaksanakan pada tanggal 08 Desember 2017 pukul 16.20. s/d 17.00 WIB.

I. INTRAOPERATIF
o Penatalaksanaan Anestesi
Infus perifer : Tangan kanan terhubung dengan cairan RL 500 ml
menggunakan jarum no 20
Posisi : Terlentang
Jalan nafas : Nasal canul terhubung dengan 02
Ventilasi : Spontan
AnastesiRegional
Teknik : Anestesi Spinal, L3-4, LCS (+), darah (-)
Spinal Needle: No. 25

5
Obat : Bupivacain spinal0,5% 20 mg
Medikasi :
Ketorolac : 30 mg IV bolus
As. Tranexamat: 100 mg

o Monitoring
Tanda-tanda vital tiap 3 menit
SpO2 setiap 3 menit dan perdarahan

o Tanda-tanda Vital Intraoperatif


Jam Tekanan darah Nadi Saturasi
16.20 192/101 mmHg 104 100%
16.23 195/103 mmHg 103 100%

16.26 193/101 mmHg 100 100%

16.29 190/100 mmHg 99 100%

16.32 197/102 mmHg 101 100%

16.35 192/102 mmHg 102 100%

16.38 180/99 mmHg 101 100%

16.41 183/100 mmHg 105 100%

16.44 190/102 mmHg 106 100%

16.47 192/104 mmHg 102 100%

16.50 185/100 mmHg 101 100%

o Penghitungan Cairan
BB: 45 kg
Cairan masuk : RL 500 cc
Kebutuhan cairan maintenance:
10 kg I : 10 x 4 cc/kgBB/jam = 40 cc/jam
10 kg II : 10 x 2 cc/kgBB/jam = 20 cc/jam
Sisanya :25 x 1 cc/kgBB/jam = 25 cc/jam
Total = 85 cc/jam

6
Cairan pengganti puasa
= lama puasa x maintenance
= 9 x 85 cc/jam
= 765 cc/jam
Cairan stress operasi (Operasi sedang)
= 6cc/kgbb/jam
= 270 cc/jam
Lama operasi 30 Menit

J. POSTOPERATIF
o Pasien dipindahkan ke ruang pemulihan
o Observasi aktivitas motorik, pernapasan, dan kesadaran
Bromage Score Masuk Keluar
Gerak penuh dari tungkai - -
Tak mampu ekstensi - -
tungkai
Tak mampu fleksi lutut - 2
Tak mampu fleksi 3 -
pergelangan kaki
Total 3 2

7
K. PROGNOSIS
Ditentukan berdasarkan status fisik pasien pra-anestesi, ASA (American
Associety of Anesthesiologist). Pada pasien ini dikelompokan pada ASA II, yaitu
pasien yang memiliki kelainan sistemik ringan sampai dengan sedang selain penyakit
yang akan dioperasi, dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Alasan dikelompokan
kedalam ASA IIyaitu adanya riwayat hipertensi dan diabetes mellitus.

8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. ANESTESI SPINAL
Definisi
Analgesia spinal ialah pemberian obat anestetik lokal ke dalam ruang subaraknoid.
Anestesia spinal diperoleh dengan cara menyuntikkan anestetik lokal ke dalam ruang
subaraknoid. Teknik ini sedarhana, cukup efektif dan mudah dikerjakan.

Indikasi:
o Bedah ekstremitas bawah
o Bedah panggul
o Bedah obstetri-ginekologi
o Bedah urologi
o Bedah abdomen bawah
o Tindakan sekitar rektum-perineum

Kontra indikasi:
o Absolut :
Pasien menolak
Infeksi pada tempat suntikan
Hipovolemia berat, syok
Koagulapati/ mendapat terapi antikoagulan
Tekanan intrakranial meningkat
Fasilitas resusitasi minim
Kurang pengalaman/ tanpa didampingi konsultan anestesia.
o Relatif :
Infeksi sistemik (sepsis, bakteremia)
Infeksi sekitar tempat suntikan
Kelainan neurologis
Kelainan psikis
Bedah lama
Penyakit jantung

9
Hipovolemia ringan
Nyeri punggung kronis

Persiapan Analgesia spinal


o Informed consent
o Pemeriksaan fisik; tidak dijumpai kelainan tulang punggung dan lain-lainnya.
o Pemeriksaan laboratorium anjuran; Hemoglobin, Hematokrit, Prothrombine time,
Partial thromboplastine time

Peralatan Analgesia spinal


o Peralatan monitor; Tekanan darah, nadi, pulse oximeter dan EKG.
o Peralatan resusitasi/ anestesi umum
o Jarum spinal; ujung tajam (ujung bambu runcing = Quincke-Babcock) atau ujung pensil
(pencil point, whitecare)

Teknik Analgesia spinal


o Monitoring tanda-tanda vital pasien
o Posisikan pasien duduk atau posisi tidur lateral dekubitus.
o Pasien membungkuk maksimal agar prosesus spinosus mudah teraba.
o Tentukan perpotongan garis kedua krista iliaka dengan garis tulang punggung adalah
L4 atau L4-L5.
o Tempat tusukan L2-L3; L3-L4; atau L4-L5.
o Sterilkan tempat tusukan dengan alkohol atau povidone iodine.
o Penyuntikan jarum spinal no.22, 23, atau 25 pada bidang median atau paramedian.
o Mandrin dicabut dan diharapkan likuor menetes keluar.
o Bila likuor tidak keluar tetapi yakin ujung jarum pada posisi benar, maka jarum diputar
90o.
o Setelah likuor menetes, obat dimasukkan pelan-pekan (0,5ml/detik)

Komplikasi Analgesia spinal


o Komplikasi dini
Sirkulasi;
Hipotensiakibat vasodilatasi dan blok simpatis (venous pooling).
Bradikardi akibat aliran balik berkurang atau blok simpatis T1-T4
Trauma pembuluh darah

10
Respirasi
Apnea akibat blok spinal terlalu tinggi, hipotensi berat, dan iskemik medula.
Hipoventilasi
Gastrointestinal
Mual dan muntah
o Komplikasi yang tertunda
Post lumbal puncture headache dengan ciri khas terasa lebih berat pada perubahan
posisi dari tidur ke posisi yang bervariasi dan mulai terasa 24-48 jam pasca pungsi
lumbal.
o Trauma saraf
o Gangguan pendengaran
o Blok spinal tinggi atau spinal total

Tatalaksana Komplikasi
o Hipotensi
Kristaloid 10-15 ml/kgBB dalam 10 mnt.
Bila masih hipotensi : vasopresor. Efedrin intravena 10 mg diulang tiap 3-4 mnt
sampai tercapai TD yang diinginkan.
o Bradikardi
Sulfas atropin intravena 1/8-1/4 mg.
o Post lumbal puncture headache
Posisi berbaring terlentang minimal 24 jam.
Hidrasi adekuat.
Epidural blood patch (5-10 ml)

B. OBAT OBATAN PADA KASUS


o Bupivacain
Penggunaan : anestesia regional
Dosis : spinal 15 20 mg
Eliminasi : hati dan paru

11
Farmakologi
Anestesi local amino amida ini menstabilisasi membrane neuron dengan
menginhibisi perubahan ionic terus menerus yang diperlukan untuk memulai
menghantarkan impuls. Kemajuan anesthesia berhubungan dengan diameter,
mielinisasi dan kecepatan hantaran dari serat saraf yang terkena dengan urutan
kehilangan fungsi sebagai berikut: (1) otonomik, (2) nyeri, (3) suhu, (4) raba, (5)
propriosepsi dan (6) tonus otot skelet. Awitan aksi cepat wajar dan lamanya secara
bermakna lebih panjang daripada dengan anestetik local lain yang lazim digunakan.
Penambahan epinefrin memperbaiki kualitas analgesia tetapi hanya meningkatkan
lama efek konsentrasi bupivakain >0,5% secara marginal. Hipotensi disebabkan
oleh hilangnya tonus simpatik seperti pada anesthesia spinal atau epidural.
Dibandingkan denganamida lain (contohnya lidokain atau mepivakain), suntikan
intravaskuler dari bupivakain lebih banyak berkaitan dengan kardiotoksisitas.
Keadaan ini disebabkan oleh pemulihan yang lebih lambat akibat blockade saluran
natrium yang ditimbulkan bupivakain dan depresi kontraktilitas dan hantaran
jantung yang lebih besar. Pada kadar bupivakain plasma yang tinggi timbul
vasokontriksi uterus dan penurunan aliran darah uterus. Kadar plasma seperti ini
ditemukan pada blok paraservikal tetapi tidak ditemukan pada blok epidural atau
spinal.
Efek puncak : spinal 15 menit
Lama aksi : spinal 200-400 menit (diperpanjang dengan epinefrin)
Reaksi samping :
Kardiovaskular : hipotensi, aritmia, henti jantung
Pulmonar : depresi napas
SSP : kejang, tinitus, pandangan kabur
Alergi : urtikaria, edema angioneurotik, gejala anafilaksis
Epidural/kaudal/spinal : spinal tinggi, hipotensi, retensi urin, kelemahan &
kelumpuhan ekstremitas bawah, kehilangan kontrol sfingter, sakit kepala,
nyeri punggung, kelumpuhan saraf kranial, perlambatan persalinan.

o Ketorolac
Penggunaan: analgesia
Dosis:IV 30-60 mg (0,5-1 mg/kg)lambat dalam 5 menit

12
Eliminasi: hati, ginjal
Farmakologi
Obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) memperlihatkan aktivitas analgesic,
antiinflamasi dan antipiretik.Ketorolac menghambat intesis prostaglandin dan
dapat dianggap suatu analgesic yang bekerja secara perifer. Potensi analgesic
ketorolac 30 mg IM setara dengan 9 mg morfin dengan sedikit rasa mengantuk,
mual dan muntah dan tanpa perubahan fungsi ventilasi yang bermakna. Potensi
analgesic ketorolac 10 atau 20 mg PO setara dengan 650 mg aspirin atau 600
mg asetaminofen dengan 60 mg kodein. Tidak seperti opioid, ketorolac tidak
menurunkan MAC anestetik volatile.Pada dosis klinik tidak terdapat perubahan
yang bermakna pada jantung atau parameter hemodinamik.Ketorolac
menghambat agregasi trombosit dan memperpanjang masa
perdarahan.Penghambatan fungsi trombosit menghilang dalam 24-48 jam
setelah obat dihentikan.Ketorolac tidak mempengaruhi hitung trombosit, waktu
protrombin (PT) atau waktu tromboplastin parsial (PTT).
Awitan aksi: IV < 1 menit
Efek puncak: IV 1-3 jam
Lama aksi: IV 3-7 jam
Reaksi samping utama
Kardiovaskular: vasodilatasi, pucat, angina
Pulmoner: dyspnea, asma
SSP: rasa mengantuk, pusing, sakit kepala, berkeringat, depresi, euphoria
GI: ulserasi, perdarahan, dyspepsia, mual, muntah, diare, nyeri
gastrointestinalis
Dermatologic: pruritus, urtikaria

C. TERAPI CAIRAN
Prinsip dasar terapi cairan adalah cairan yang diberikan harus mendekati jumlah dan
komposisi cairan yang hilang. Terapi cairan perioperatif bertujuanuntuk :
a. Memenuhi kebutuhan cairan, elektrolit dan darah yang hilang selama operasi.
b. Mengatasi syok dan kelainan yang ditimbulkan karena terapi yang diberikan,
misalnya terapi dengan menggunakan diuretic.

13
Pemberian cairan operasi dibagi :
a. Pra operasi
Dapat terjadi defisit cairan karena pemasukan kurang, puasa, muntah,
penghisapan isi lambung, adanya fistula enterokutan, penumpukan cairan pada
ruang ketiga (ruang ekstra sel yang tidak berfungsi), seperti pada ileus obstriktif,
peritonitis.
Defisit cairan ekstra sel yang terjadi dapat diduga dengan berat ringannya
dehidrasi yang terjadi. Dehidrasi ringan (defisit cairan ekstrasel sesuai dengan 4%
dari berat badan), dehidrasi sedang (defisit cairan ekstrasel sesuai dengan 6% dari
berat badan), dan dehidrasi berat (defisit cairan ekstrasel sesuai dengan 8% dari
berat badan).
Kebutuhan cairan untuk dewasa dalam 24 jam adalah 2 ml / kgBB / jam.
Setiap kenaikan suhu 10Celcius kebutuhan cairan bertambah 10-15%. Cairan yang
diberikan bisa berupa cairan elektrolit (ringer laktat, NaCl 0,9%), kalau perlu
diberikan cairan koloid. Kecuali penilaian terhadap keadaan umum dan
kardiovaskuler, tanda rehidrasi telah tercapai ialah dengan adanya produksi urin 0,5-
1 ml/kg BB/ jam.
b. Selama operasi
Pada pemberian cairan selama pembedahan, harus diperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
1) Kekurangan cairan pra bedah
2) Kebutuhan untuk pemeliharaan
3) Bertambahnya insensible loss karena suhu kamar bedah yang tinggi, dan
hiperventilasi.
4) Terjadinya translokasi cairan pada daerah operasi ke dalam ruang ketiga.
5) Terjadinya perdarahan.
Defisit cairan karena puasa, 50% nya diberikan pada jam I, 25% nya pada
jam kedua, dan 25% nya lagi pada jam ketiga. Cairan yang diberikan ringer laktat
dalam dekstrose 5%, atau ringer laktat.
Kebutuhan cairan pada dewasa untuk operasi :
- Ringan= 4 ml/kgBB/jam.
- Sedang= 6 ml / kgBB/jam
- Berat = 8 ml / kgBB/jam.

14
Bila terjadi perdarahan selama operasi, di mana perdarahan kurang dari
10% EBV maka cukup digantikan dengan cairan kristaloid sebanyak 3 kali volume
darah yang hilang. Apabila perdarahan lebih dari 10 % maka dapat
dipertimbangkan pemberian plasma / koloid / dekstran / darah dengan dosis 1-2 kali
darah yang hilang.
b. Setelah operasi
Pemberian cairan pasca operasi ditentukan berdasarkan defisit cairan selama
operasi ditambah kebutuhan sehari-hari pasien.

D. PEMULIHAN
Pasca anestesi dilakukan pemulihan dan perawatan pasca operasi dan anestesi yang
biasanya dilakukan di ruang pulih sadar atau recovery room yaitu ruangan untuk observasi
pasien pasca atau anestesi. Pasien yang dikelola adalahpasien pasca anestasi umum
ataupun anestesi regional. Di ruang pulih sadar dimonitor jalan nafasnya apakah bebas
ataukah tidak, ventilasinya cukup atau tidak, dan sirkulasinya sudah baik ataukah tidak.
Selain obstruksi jalan nafas karena lidah yang jatuh ke belakang atau karena spasme laring,
pasca bedah dini juga dapat terjadi muntah yang dapat menyebabkan aspirasi. Monitor
kesadaran merupakan hal yang penting karena selama pasien belum sadar dapat terjadi
gangguan jalan nafas. Sadar yang berkepanjangan adalah akibat dari pengaruh sisa obat
anestesi, hipotermi, atau hipoksia, dan hiperkarbi. Hipoksia dan hiperkarbi terjadi pada
pasien dengan gangguan jalan nafas dan ventilasi. Menggigil yang terjadi pasca bedah
adalah akibat efek vasodilatasi obat anestesi. Menggigil akan menambah beban jantung
dan sangat berbahaya pada pasiendangan penyakit jantung.
Ruang pulih sadar merupakan batu loncatan sebelum pasien dipindahkan ke
bangsal atau masih memerlukan perawatan intensif di ICU. Dengan demikian pasien pasca
operasi atau anestesi dapat terhindar dari komplikasi yang disebabkan karena operasi atau
pengaruh anestesinya.

15
BAB III

ANALISA KASUS

1. Pada kasus bisa dilakukan teknik anestesi spinal karena berupa pembedahan di perut
bawah,

2. Tidak ada gangguan sistem pernapasan sehingga napas spontan dengan di tambah O2 3
ltr/mnt

3. Pada waktu induksi disertai dengan pemberian klonidin HCL (anti hipertensi) karena
tekanan darah mencapai 166/82 dan ada riwayat hipertensi

16
BAB IV
KESIMPULAN

Pemeriksaan pra anestesi memegang peranan penting pada setiap operasiyang


melibatkan anestesi. Pemeriksaan yang teliti memungkinkan kita mengetahui kondisi
pasien dan memperkirakan masalah yang mungkin timbulsehingga dapat
mengantisipasinya.
Pada laporan ini disajikan kasus penatalaksanaan anestesi umum pada operasi
herniotomi pada penderita laki-laki, usia 73 tahun, status fisik ASA II. Dengan diagnosis
hernia inguinalis lateralis dextra maka digunakan teknik anestesi spinal.
Untuk mencapai hasil maksimal dari anestesi seharusnya permasalahan yang ada
diantisipasi terlebih dahulu sehingga kemungkinan timbulnya komplikasi anestesi dapat
ditekan seminimal mungkin. Dalam kasus ini selama operasi berlangsung tidak ada
hambatan maupun komplikasi yang berarti baik dari segi anestesi maupun dari tindakan
operasinya. Selama di ruang pemulihan juga tidak terjadi hal yang memerlukan
penanganan serius. Secara umum pelaksanaan operasi dan penanganan anestesi
berlangsung dengan baik.

17
BAB V
DAFTAR PUSTAKA

1. Muhinan et al : Anestesiologi. Staf Pengajar Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif.


Jakarta : FKUI, 1989.
2. Latief et al : Petunjuk Praktis Anestesiologi Edisi Kedua. Bagian Anestesiologi dan
Terapi Intensif. Jakarta : FKUI, 2007.
3. Purwadianto, Agus & Sampurna, Budi : Kedaruratan Medik. Binarupa Aksara. Jakarta
: 2000.

18