Anda di halaman 1dari 46

1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Dr. Suseno Kramadibrata


Departemen Teknik Pertambangan ITB
1. PENDAHULUAN

1
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Kemampuledakan

 Batuan kuat membutuhkan energi peledakan lebih besar


daripada batuan lemah
 Ketidakhadiran bidang lemah akan membutuhkan energi
peledakan lebih besar untuk mendapatkan fragmentasi
yang diinginkan
 Batuan lunak atau plastik cenderung untuk menyerap
energi peledakan membuat peledakan tidak efektif
 Batuan ber-bobot isi tinggi membutuhkan energi
peledakan lebih besar untuk membongkar dan
memindahkannya

2
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Energi Bahan Peledak


Nama Produk Bahan Peledak
PARAMETER Titan Gold 4050 Titan Gold 4070
ANFO
(non gassing) (gassing)

ANFO (Wt%) 100 50 30


Emulsion (Wt%) 0 50 70

Absolute Weight Strength (AWS) (MJ/kg) 3,7 3,3 2,8

Relative Weight Strength (RWS) (%) 100 86,49 75,68

Absolute Bulk Strength (ABS) (J/cc) 3171 4027 3805


Relative Bulk Strength (RBS) (%) 100 127 120
Bobot isi (g/cc) 0,82 1,3 1.15
Kecepatan detonasi (m/s) 3900 4400 5226

Ketahanan air Buruk Baik Sangat baik

3
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

4
Kemampugalian - Kemampuledakan
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Se
am
0
PRODUCTION WORK PROCESS

5
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Klasifikasi Penggalian

Gali bebas dengan BWE Gali bebas dengan Dragline

Gali potong dengan VASM2D


Penggaruan dengan Bulldozer

6
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

7
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Teori Dasar Peledakan

 Pemberaian geomaterial keras dan kompak dilakukan dengan


teknik pemboran dan peledakan. Kegiatan pemboran dan
peledakan yang tidak terencana dengan baik akan menyebabkan
tingginya biaya operasi penambangan dan menimbulkan gangguan
terhadap lingkungan seperti ground vibration, air blast, dan fly rock.
 Kegiatan peledakan dan pemboran dipengaruhi oleh:
 Karakteristik batuan
 Karakteristik bahan peledak
 Rancangan peledakan dan sistem penyalaan
 Hasil peledakan sangat dipengaruhi oleh karakteristik batuan
dibandingkan karakteristik bahan peledak yang digunakan.
 Karakteristik penting yang mempengaruhi kemampuledakan suatu
massa batuan adalah batuan utuh dan massa batuan.
8
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Karakteristik Batuan Utuh

SIFAT FISIK SIFAT MEKANIK

 kuat tekan, statik & dinamik


 bobot isi
 kuat tarik, statik & dinamik
 porositas  modulus Young, statik & dinamik
 absorpsi  nisbah Poisson, statik & dinamik
 void ratio dan  kuat geser
 kandungan air  kecepatan ultrasonik

9
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Kekuatan Batuan Utuh & Massa


Batuan

10
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Karakteristik Fisik & Mekanik Statik


Batuan Utuh
Bobot isi Kuat Tekan Kuat Tarik Modulus
Jenis batuan
(t/m3) (MPa) (MPa) Young (GPa)

Granit 2,5 2,8 70 - 300 8 - 30 35 80

Basalt 2,4 2,9 50 - 300 6 - 30 20 100

Batupasir 2,2 2,7 40 - 150 2 - 15 10 40

Dolerit 2,9 3,1 100 - 300 8 - 30 40 90

Batugamping 2,0 2,8 40 - 130 2 - 12 10 50

Andesit 2,5 2,8 70 - 150 5 - 15 30 60

11
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Kuat Tekan Uniaksial (UCS)

UCS (MPa)
Klasifikasi
Bieniawski, 1973 Tamrock, 1988

Sangat keras 250-700 200 [7]

Keras 100-250 120 200 [6-7]

Keras sedang 50-100 60 120 [4,5-6]

Cukup lunak - 30 60 [3-4,5]

Lunak 25-50 10 30 [2-3]

Sangat lunak 1-25 -10

(Tamrock Surface Drilling and Blasting, 1988), Mohs Hardness [-]

12
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Persamaan Kurva Tegangan


Regangan

 Energi Fraktur UCS = Wf = Fp x l

 Energi Fraktur Spesifik UCS = Wsf = c x p

2
c
 Toughness Indeks (Singh, 1983) = TI = x 100
2E
2
c
 Rock Toughness (Farmer, 1986) = RT=
E

13
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB
F
Kuat Tarik Brazilian
Plat tekan
atas
(UTS)
Contoh
D
Batuan

Plat tekan  UTS << UCS


bawah
 UCS/UTS = Toughness ratio
F
= Brittleness Index (BI)
 BI semakin besar, kinerja
alat gali potong meningkat
beberapa kali lipat

14
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Kuat Tarik Dinamik

 Kuat tarik dinamik batuan << kuat tekan statiknya.


 Kuat tarik dinamik sangat penting untuk diketahui dalam
proses penggalian mekanis dan peledakan.
 Tegangan tarik tangensial harus lebih besar daripada
kuat tarik dinamik agar terjadi rekahan radial
 Bila spalling diinginkan untuk terjadi, kuat tarik dinamik
harus lebih kecil daripada tegangan tarik radial yang
dihasilkan dari pantulan pulsa tegangan tekan awal di
bidang bebas.

15
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Klasifikasi Brittleness Index

Brittleness Index Keterangan

67 Sangat tough & plastik

78 Tough & plastik

8 12 Rata-rata jenis batuan

12 15 Sangat brittle tak plastik

15 20 Sangat brittle

16
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Kecepatan Ultrasonik

 Uji (ISRM 1981) untuk mengukur cepat rambat gelombang


ultrasonik pada contoh batu sebelum uji UCS.
 cepat rambat gelombang primer (VLp)
 cepat rambat gelombang sekunder (VLs).
 Modulus Elastik dinamik dapat dihitung.
 Kemampugalian batuan ditentukan juga oleh karakteristik
dinamiknya, karena perjalanan gelombang akibat benturan mata bor
dan gigi-gigi alat gali terhadap batuan merupakan gerakan dinamik.
 Setiap batuan selalu memiliki rekahan awal (pre-existing cracks).
Tergantung dari proses pematangannya didalam, rekahan awal ini
dapat saja bertambah.
 Menaiknya rekahan awal akan menurunkan kecepatan ultrasonik.

17
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Kecepatan Rambat Gelombang


Ultrasonik
 Kecepatan rambat gelombang tekan
 Kecepatan rambat gelombang geser
 Modulus Young dinamik
 Modulus geser dinamik
 Nisbah Poisson dinamik

18
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Point Load Index (PLI)

 Uji PLI dilakukan untuk mengetahui kekuatan (strength) contoh batu


secara tidak langsung di lapangan
 Bentuk contoh batu: silinder atau tidak beraturan.
 Peralatan yang digunakan mudah dibawa-bawa, tidak begitu besar
dan cukup ringan sehingga dapat dengan cepat diketahui kekuatan
batuan di lapangan, sebelum dilakukan pengujian di laboratorium.
 Contoh yang disarankan untuk pengujian ini berbentuk silinder
dengan diameter = 50 mm (NX = 54 mm).
 Fracture Index dipakai sebagai ukuran karakteristik diskontinuiti dan
didefinisikan sebagai jarak rata-rata fraktur dalam sepanjang bor inti
atau massa batuan

19
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Tipe & Syarat Contoh Batuan Uji PLI


(ISRM, 1985)

P
P W
L > 0,5D P
L
L

D D D
W2

P W1

P P

L > 0,5D 0,3W < D < W 0,3W < D < W

a. Uji Diametrikal b. Uji Aksial W = (W 1+W 2)/2

20
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Point Load Index

0.45
F F D
Is = 2 Is(50) =k 2 k =
D D 50

Is = Point load index, MPa


F = Failure load, N
D = Jarak antara dua konus penekan, mm

c = 23 Is - Untuk diamater contoh 50 mm

Jika Is = 1 MPa, indeks tsb tidak memiliki arti, maka penentuan


kekuatan harus berdasarkan uji UCS

21
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Karakteristik Massa Batuan

 Rock Quality Designation (RQD)


 Bidang diskontinuiti
 Jarak antar bidang diskontinuiti

22
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Bentuk Struktur Umum

(a) Vertical Discontinuity (d) : Dip Out of Face


(b) : Horizontal (e) : Powder/Friable
(c) : Dip Into Face (f) : Totally Massive
23
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Pengaruh Kekar Pada Peledakan

24
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Klasifikasi Jarak Kekar


(Attewell, 1993)
Deskripsi Strukture Bidang Diskontinuiti Jarak - mm
Very wide spaced Very thickly bedded > 2000
Widely spaced Thickly bedded 600 - 2000
Moderately widely spaced Medium bedded 200 - 600
Closely spaced Thinly bedded 60 - 200
Very closely spaced Very thinly bedded 20 - 60
Thickly laminated (sedimentary) 6 - 20
Narrow (metamorphic and igneous) 6 - 20
Foliated, cleaved, flow-banded, etc. metamorphic 6 - 20

Extremely closely spaced < 20


Thinly laminated (sedimentary) <6

Very closely foliated, cleaved flow-banded, etc. <6


( metamorphic and igneous)

25
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

RQD vs.

 Bila inti bor tidak tersedia, RQD dapat dihitung secara


tidak langsung dengan melakukan pengukuran orientasi
dan jarak antar diskontinuiti pada singkapan batuan.
 Persamaan Priest & Hudson (1976):
RQD = 100 e-0.1 (0.1 + 1)
= frekuensi diskontinuiti per meter

26
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Rock Quality Designation - RQD


 RQD = Panjang total inti bor 0.10 m X 100%
Panjang total bor (m)

 Jumlah potongan inti


bor diukur pada inti bor
sepanjang 2 m,
 Potongan akibat
penanganan pemboran
harus diabaikan dari
perhitungan
 Into bor yang lembek
dan tidak baik berbobot
RQD = 0 (Bieniawski,
1989).

27
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Core Drill / Inti Bor

28
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Klasifikasi Metode Penggalian


Menurut UCS

Metoda c (Mpa) Alat

Free digging 1 - 10 Shovel/loader/BWE


Ripping 10 - 25 Ripper
Rock Cutting 10 - 50 Rock cutter
Blasting > 25 Pemboran peledakan

29
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

30
(Franklin dkk, 1971)
Kriteria Indeks Kekuatan Batu
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Klasifikasi Massa Batuan

 Sistem klasifikasi massa batuan sering gunakan > 2 parameter,


tergantung kepentingannya.
 Klasifikasi massa batuan dibuat untuk memenuhi (Bieniawski, 1989):
1. Untuk mengidentifikasi parameter yang paling mempengaruhi
perilaku massa batuan.
2. Untuk membagi massa batuan kepada kelompok grup yang
berperilaku sama, yaitu kelas massa batuan dengan kualitas
berbeda.
3. Untuk melengkapi suatu dasar pengertian karakteristik masing-
masing kelas.
4. Untuk menghubungkan pengalaman atas pengamatan suatu
kondisi massa batuan di satu tempat dengan lainnya.
5. Untuk menghasilkan data kuantitatif untuk desain rekayasa.
6. Untuk melengkapi suatu dasar umum komunikasi.
31
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Rock Mass Rating


(Bieniawski, 1973)
 Sistem Rock Mass Rating (RMR), atau sering juga dikenal sebagai
Geomechanics Classification
 Klasifikasi ini telah dimodifikasi berulang kali begitu informasi baru dari
studi-studi kasus diperoleh dan menjadikannya sesuai dengan
International Standard dan prosedur.
 RMR terdiri dari 5 parameter utama & 1 parameter pengontrol untuk
membagi massa batuan
1. Kuat Tekan Batuan utuh (UCS)
2. RQD
3. Jarak diskontinuiti/kekar
4. Kondisi diskontinuiti/kekar
5. Kondisi air tanah
6. Koreksi dapat dilakukan bila diperlukan untuk Orientasi
diskontinuiti/kekar
32
RMR A
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Klasifikasi Parameter & Pembobotan


Parameter Selang Nilai
1 Untuk kuat tekan rendah
Kuat tekan PLI (MPa) > 10 4 - 10 2-4 1-2
perlu UCS
batuan utuh UCS (MPa) > 250 100 - 250 50 - 100 25 - 50 5-25 1-5 <1

Bobot 15 12 7 4 2 1 0
2 RQD (%) 90 - 100 75 - 90 50 - 75 25 - 50 < 25

Bobot 20 17 13 8 3

3 Jarak diskontinuiti >2m 0.6-2 m 0.2-0.6 m 0.06-0.2 m < 0.06 m

Bobot 20 15 10 8 5

4 sangat kasar, tdk agak kasar. agak kasar. Slicken-sided /tebal


Gouge lunak tebal > 5
menerus, tdk ada pemisahan < 1 pemisahan < gouge < 5 mm, atau
Kondisi diskontinuiti mm, atau pemisahan > 5
pemisahan, dinding mm, dinding 1 mm, dinding pemisahan 1-5 mm,
mm, menerus
batu tdk lapuk agak lapuk sangat lapuk menerus
Bobot 30 25 20 10 0

Air Aliran/10 m
tanah panjang tero- None < 10 10 - 25 25 - 125 > 125
wongan (Lt/min)

5 Tekanan air
kekar/MaksTegang 0 < 0.1 0.1 - 0.2 0.2 - 0.5 > 0.5
an utama
Kondiisi umum Kering Lembab Basah Menetes Mengalir
Bobot 15 10 7 4 0

33
RMR - B
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Peubah bobot orientasi diskontinuiti


Jurus & kemiringan orientasi Sangat mengun- Mengun- Sedang Tidak Sangat tidak
diskontinuiti tungkan tungkan menguntungkan menguntungkan
Terowongan 0 -2 -5 - 10 - 12
Bobot Fondasi 0 -2 -7 - 15 - 25
Lereng 0 -5 - 25 - 50 - 60

RMR - C
Kelas massa batuan menurut bobot total
Bobot 100 - 81 80 - 61 60 - 41 40 - 21 < 20
No. Kelas I II III IV V
Description Batuan Batuan Batuan Batuan buruk Batuan sangat
sangat baik baik sedang buruk

RMR - D
Arti kelas massa batuan
No. Kelas I II III IV V
Stand up time rata-rata 20 th. utk 15 m 1 th. utk 10 m 1 mgg utk 5 10 jam utk 2.5 30 min utk 1 m
span span m span m span span
Kohesi massa batuan (kPa) > 400 300 - 400 200 - 300 100 - 200 < 100
Sudut gesek dalam > 450 350- 450 250- 350 150 - 250 < 150
34
Stepped
rough
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB
I Profil kekasaran
smooth (roughness) & pemeriannya
II
(ISRM, 1981).
Panjang profile dalam
slickensided
III selang 1 - 10 m
Skala vertikal & horizontal
rough Undulating sama
IV

smooth
V

slickensided
VI

rough Planar
VII

smooth
VIII

slickensided
IX
35
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Pengaruh Orientasi Kekar Dalam


Pembuatan Terowongan & Penggalian
(Bieniawski, 1989: Fowell & Johnson, 1991)

1 Pengaruh jurus & kemiringan kekar untuk penerowongan


Jurus tegak lurus sumbu terowongan Jurus paralel Dip 0 - 20o
Galian searah Tdk tergantung
Galian melawan kemiringan sumbu terowongan
kemiringan jurus
kemiringan
45-90o
= 20-450 = 45-900 = 20-450 = 45-900 = 20-450
Sangat
Mengun- Tidak mengun- Sangat tdk Tdk
mengun- Sedang Sedang
tungkan tungkan menguntungkan menguntungkan
tungkan

2 Koreksi orientasi untuk penggalian dengan RMR (Fowell & Johnson, 1991)
Kelas Batuan I II III IV V
Orientasi jurus Sangat mengun- Tidak Sangat tidak
Menguntungkan Sedang
& kemiringan tungkan menguntungkan menguntungkan
Bobot untuk
-12 -10 -5 -2 0
penggalian

36
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Rock Mass Quality - Q System

 Klasifikasi Massa Batuan menurut Q-System dibuat di


Norwegia pada tahun 1974 oleh Barton, Lien dan Lunde,
semuanya dari Norwegian Geotechnical Institute.
 Pembobotan Q-System didasarkan atas penaksiran
numerik kualitas massa batuan dengan menggunakan 6
parameter berikut ini:
 RQD
 Jumlah set kekar
 Kekasaran kekar atau diskontinuiti utama
 Derajat alterasi atau pengisian sepanjang kekar yang paling
lemah
 Aliran air
 Faktor reduksi tegangan

37
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Q System

RQD Jr Jw
Q= x x
Jn Ja SRF

 RQD = Rock quality designation Jn = Jumlah set kekar


 Jr = Angka kekasaran kekar Ja = Angka alterasi kekar
 Jw = Angka reduksi kondisi air SRF = Faktor reduksi tegangan
 Ukuran blok - (RQD/Jn)
 Kuat geser blok utuh - (Jr/Jn)
 Tegangan aktif - (Jw/SRF)

38
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB
Deskripsi & Nilai Q-Sistem (Barton dkk,
1. Rock Quality Designation 1974) RQD (%)

A. Very poor 0 - 25
B. Poor 25 - 50
C. Fair 50 - 75
D. Good 75 - 90
E. Excellent 90 -100

2. Modified Joint Set Number (Kirsten, 1982) Jn


A. Massive, none or few joints 1.0
B. One joint set / fissure set 1.22
C. One joint set / fissure set / plus random 1.5
D. Two joint sets / fissure set 1.83
E. Two joint sets / fissure set / plus random 2.24
(c) No rock wall contact when sheared
F. Three joint sets / fissure set 2.73
H. Zone containing clay minerals thick
G. Three joint sets / fissure set / plus random 3.34 enough to prevent rock wall contact 1.0b
H. Four joint sets / fissure set 4.09 J. Sandy, gravelly/crushed zone thick
J. Multiple joint / fissure set 5.0 enough 1.0b

3. Joint Roughness Number Jr


(a) Rock wall contact and Note :
(b) Rock wall contact before 10 cm shear 1.0 Add 1.0 if the mean spacing of the relevant
A. Discontinuous joint 4.0 joint set is greater than 3 m
B. Rough or irregular, undulating 3.0 2. Jr = 0.5 can be used for planar slickensided
C. Smooth, undulating 2.0 joints the lineations are favorable oriented
D. Slickensided, undulating 1.5
E. Rough or irregular, planar 1.5 .
F. Smooth, planar 1.0
G. Slickensided planar 0.5
3. Descriptions B - G refer to small - scale features & intermediate to prevent rock wall contact scale features in that order. b nominal 39
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB 4. Joint Alteration Number
Ja r
(a) Rock wall contact

A. Tightly healed, hard, nonsoftening, impermeable filling, i.e., quartz or epidote 0.75
B. Unaltered joint walls, surface staining only 1 25-35o
C. Slightly altered joint walls. Non-softening mineral
coatings, sandy particles, clay-free disintegrated rock, etc. 2 25-30o
D. Silty or sandy clay coatings, small clay fraction (non-softening) 3 20-25o
E. Softening or low-friction clay mineral coatings, i.e., kaolinite, mica. Also chlorite, talc, gypsum,
& graphite, etc., & small quantities of swelling clays (discontinuous coatings, 1-2 mm or less in thickness) 4 8-16o

(b) Rock wall contact before 10 cm shear


F. Sandy particles, clay-free disintegrate rock etc. 4 25-30o
G. Strongly over-consolidated, non-softening clay mineral fillings (continuous, < 5 mm in thickness) 6 16-24o
H. Medium or low over-consolidation, softening, clay mineral fillings (continuous,< 5 mm in thickness) 8 12-16o
J. Swelling clay fillings, i.e., monmorilonite (continuous, < 5 mm in thickness). Value of Ja depends on
percentage of swelling clay sized particles, and acces to water, etc.
8 6-12o
(c) No rock wall contact when sheared
K. Zones or bands of disintegrated or crushed rock & clay (see G., H., J., for description of clay condition) 6-8 or 16-24o
8-12
L. Zones or bands of silty or sandy clay, small clay fraction (nonsoftening) 5.0
M. Thick, continuous zones or bands of clay (see G., H., J., for description of clay condition) 10-13 or
13-20 6-24o
Note : Values of fr are intended as an approximate guide to the mineralogcal properties of the alteration products.

40
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

5. Stress Reduction Factor `SRF

(a) Weakness zones intersecting excavation, which may cause loosening of rock mass when tunnel is excavated
A. Multiple occurences of weakness zonescontaining clay or chemically disintegrated rock,
very loose surrounding rock (any depth) 10.0
B. Single-weakness zones containing clay or chemicallydisintegrated rock (depth of excavation < 50 m) 5.0
C. Single-weakness zones containing clay or chemically disintegrated rock (depth > 50 m) 2.5
D. Multiple-shear zones in competent rock (clay-free), loose surrounding rock (any depth) 7.5
E. Single-shear zones in competent rock (clay-free) & (depth of excavation < 50 m) 5.0
F. Single-shear zones in competent rock (clay-free) & (depth of excavation > 50 m) 2.5
G. Loose open joints, heavily jointed or "sugar cube", etc. (any depth) 5.0

(b) Competent rock, rock stress problems c/


1 t/
1
H. Low stress, near surface >200 >13 2.5
J. Medium stress 200-10 13-0.66 1.0
K. High-stress, very tight structure (usually favorableto stability, may be
unfavorable to wall stability 10-5 0.66-0.33 0.5-2.0
L. Mild rock burst (massive rock) < 25 < 0.16 10-20

(c) Squeezing rock; plastic flow of incompetent rock under the influence of high rock pressures
N. Mild squeezing rock pressure 5-10
O. Heavy squeezing rock pressure 10-20

(d) Swelling rock: chemical swelling activity depending on presence of water


P. Mild swelling rock pressure 5-10
R. Heavy swelling rock pressure 10-15
Note :
(i) Reduce these SRF values by 25-50% if the relevant shear zones only influence but do not intersect the excavation
(ii) For strongly anisotropic stress field (if measured ) : when 5 < 1/3 < 10, reduce sc and t to 0.8 c and 0.8 t; when
1/3 > 10, reduce c and t to 0.6 c and 0.6 t (where c = UCS and t = tensile strength (point load), 1 and 3 =
major and minor principal stresses)
41
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

6. Joint Water Reduction Factor


Approx water pressure Jw
(kg/cm2)
A. Dry excavations or minor inflow, i.e., 5 litre/min locally 1.0 <1
B. Medium inflow or pressure occasional outwash of joint fillings 0.66 1.0-2.5
C. Large inflow or high pressure in competent rock with unfilled joints 0.5 2.5-10.0
D. Large inflow or high pressure, considerable outwash of joint fillings 0.33 2.5-10.0
E. Exceptionally high inflow or water pressure at blasting, decaying with time 0.2-0.1 > 10.0
F. Exceptionally high inflow or water pressure continuing w/o noticeable decay0. 1-0.05 > 10.0

Note :
(i) Factors C-F are crude estimates. Increase Jw if drainage measures are installed.
(ii) Special problems caused by ice formation are not considered.
___________________________________________________________________
a After Barton et.al (1974)
b Nominal

42
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Kemampuledakan

 Tidak ada satupun pendekatan teoritis yang tepat untuk merancang


peledakan berdasarkan sifat-sifat suatu massa batuan. Hal ini
dikarenakan bahwa massa batuan sifatnya sangat kompleks dan
sebagai obyek. Sedangkan peledakan adalah suatu proses.
 Sudah banyak contoh bagaimana kemampuledakan diturunkan baik
secara empirik maupun teoritik. Namun keberhasilannya masih
belum dapat dijamin karena mereka menggunakan asumsi bahwa
batuan dianggap elastik, isotropik dan homogen, atau disebut juga
material brittle.
 Beberapa bahkan sudah menggunakan metode fraktur mekanik
untuk mensimulasikan proses pengembangan rekahan.

43
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Fraenkel (1944)

 Persamaan kemampuledakan pertama dikembangkan


oleh Fraenkel dalam tahun 1944.
 Model Fraenkel menggunakan persamaan tunggal yang
melibatkan faktor kemampuledakan massa batuan, S.
 hd2 = [(50)3.3 (Vmax)3.3] / [(S)3.3 Hd0.6]
 dimana;
 Vmax = Burden maksimum
 H = Kedalaman lubang tembak
 h = Tinggi muatan bahan peledak
 d = Diameter lubang tembak
 S = Kemampuledakan massa batuan

44
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Hino (1959)

 Batas atas kekuatan batuan adalah kuat tekan (UCS = c) dan batas
bawahnya adalah kuat tarik (UTS = t).
 Nilai Kb bervariasi dari 10 hingga 500 untuk hampir semua batuan
kuat. Untuk batuan buruk seperti tanah, Kb mendekati angka tak
hingga karen UTS-nya kecil sekali.
 Dan batuan sejenis ini dapat dibongkar langsung tanpa peledakan.
 Koefisien peledakan sebagai berikut,

c
Kb =
t

45
1 # TA3211 Bahan Peledak & Teknik Peledakan SK Departemen Teknik Pertambangan ITB

Borquez (1981)
 Borquez mengusulkan sebuah persamaan untuk menentukan burden
sebagai fungsi dari sifat-sifat batuan utuh, massa batuan dan bahan
peledak.
 B = [Kd/12] [Sp/t]
 K = 1.96 - 0.27 ln(E RQD)
 B = Burden
 K = Faktor kemampuledakan batuan
 d = Diameter
 Sp = Tekanan reaksi stabilitas
 t = Kuat tarik
Pendugaan kualitas Faktor koreksi

Kuat 1.00
Medium 0.90
Lemah 0.80
Sangat lemah 0.70

46