Anda di halaman 1dari 11

BARISAN MONOTON

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Analisis Real

Dosen Pengampu: Dewi Ambarsari S,Pd , M,Pd

Disusun Oleh:

1. Anis Khoerani (23070160047)


2. Ririn Oviana Wulandari (23070160141)

JURUSAN TADRIS MATEMATIKA

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI (IAIN) SALATIGA

TAHUN AKADEMIK 2017/2018

1
BARISAN MONOTON

A. Pembahasan
Sampai saat ini, kita telah mempunyai bebeapa metode untuk menunjukkan bahwa
barisan = ( ) konvergen :
(i) Kita dapat menggunakan definisi 3.1.4 atau Teorema 3.1.6 secara langsung.
Tetapi ini sering (tetapi tidak selalu) sukar dikerjakan.
(ii) (Kita dapat mendominasi | | dengan perkalian dari suku-suku dalam
barisan ( ) yang diketahui konvergen ke 0, kemudian menggunakan
Teorema 3.1.10.
(iii) Kita dapat mengidentifikasi barisan X diperoleh dari barisan-barisan yang
diketahui konvergennya dari lebar barisannya, kombinasi aljabar, nilai mutlak
atau datar dengan menggunakan Teorema 3.1.9, 3.2.3, 3.2.9, atau 3.2.10.
(iv) Kita dapat ,mengapit X dengan dua barisan yang konvergen ke limit yang
sama menggunakan Teorema 3.2.7.
(v) Kita dapat menggunakan Uji Rasio dari Teorema 3.2.4.

Kecuali (iii), semua metode ini mengharuskan kita terlebih dahulu mengetahui
(atau paling tidak dugaan) nilai limitnya yang benar, dan kemudian membuktikan
bahwa dugaan kita benar.

Terdapat bnayak contoh, yang mana tidak ada calon limit yang mudah dari suatu
barisan, bahkan walaupun dengan analisis dasar diduga barisannya konvergen.
Dalam bagian ini dan dua bagian berikutnya, kita akan membahas hasil-hasil yang
lebih mendlaam dibanding bagian terdahulu yang mana dapat digunakan untuk
memperkenalkan konvergensi suatu barisan bila tidak ada kandidat limit yang
mudah

3.3.1 Definisi. Misalkan = ( ) barisan bilangan real, kita katakan X tak turun
bila memenuhi ketaksamaan:

1 2 + 1

Kita katakan X monoton bila X tak naik atau tak turun.

2
Berikut ini barisan-barisan tak turun

(1,2,3,4, , , ); (1,2,2,3,3,3, );

(, 2 , 3 , , , ) bila > 1

Berikut ini barisan-barisan tak naik

1 1 1 1 1 1
(1, 2 , 3 , , , ), (1, 2 , 23 , , 21 , ),

(, 2 , 3 , , , ), bila 0 < < 1.

Barisan-barisan berikut tak monoton

(+1, 1, +1, , (1)+1 , ), (1, +2, 3, , (1) , )

Barisan-barisan berikut tak monoton, tetapi pada akhirnya monoton

1 1 1
(7,6,2,1,2,3,4, ...), (2,0,1, 2 , 3 , 4 , )

3.3.2 Teorema Konvergensi Monoton. Barisan bilangan real monoton


konvergen jika dan hnya jika barisan ini terbatas.
Lebih dari itu:
(a) Bila = ( ) barisan tak turun yang terbatas, maka lim( ) = sup{ }
(b) Bila = ( ) barisan tak naik yang terbatas, maka ( ) = inf{ }

Bukti:

Dari teorema 3.2.2 diketahui bahwa barisan konvergen pasti terbatas.

Sekarang kita akan buktikan sebaliknya, misalkan X barisan monoton yang


terbatas. Maka X tak turun atau tak naik.

a) Pertama misalkan X barisan tak turun dan terbatas. Dari hipotesis terdapat
, sehingga untuk semua . Menurut prinsip supremum
terdapat = sup{ : . } ; kita akan tunjukkan bahwa = lim( ).

3
Bila > 0 diberikan, maka bukanlah batas atas dari { : };
dari sini terdapat sehingga < . Tetapi karena ( ) tak turun
maka hal ini diikuti
< untuk semua
Akibatnya
| | < untuk semua
Karena > 0 sembarang, jadi ( ) konvergen ke .
b) Bila Y=( ) barisan terbatas tak naik, maka jelaslah bahwa = =
( ) barisan terbatas tak turun. Dari (a) diperoleh
Teorema konvergensi monoton memperkenalkan eksistensi limit dari
barisan monoton terbatas. Hal ini juga memberikan cara perhitungan limit
yang menyajikan kita dapat memperoleh supremum (a), infimum (b).
Sering kali sukar untuk mengevaluasi supremum (atau infimum), tetapi kita
ketahui bahwa hal ini ada, sering pula mungkin mengevaluasi limit ini
denngan metode lain.

Contoh Soal :

1
(a) lim ( ) = 0

Kita dapat menggunakan Teorema 3.2.10; tetapi, kita akan menggunakan Teorema
Konvergen Monoton. Jelaslah bahwa 0 merupakan batas bawah, dari himpunan , dan
tidak sukar untuk menunjukkan bahwa infimumnya 0; dari sini
1
0 = lim ( )

1
Di lain pihak, kita ketahui bahwa = ( ) terbatas dan tidak naik, yang

1
mengakibatkan X konvergen ke bilangan real x. Karena = ( ). Konvergen ke x,

1
menurut teorema konvergensi monoton 3.2.3, . = () konvergen 2 . Karena itu

2 = 0, akibatnya x=0.
1 1 1
(b) Misalkan = 1 + 2 + 3 + + untuk .

4
1
Karena +1 = + +1 > , kita dapat melihat bahwa ( ) suatu barisan naik.

Dengan menggunakan Teorema Konvergensi monoton 3.3.2, pertanyaan apakah barisan


ini konvergensi atau tidak dihasilakn oleh pertanyaan apakah barisan tersebut terbatas
atau tidak. Upaya-upaya untuk menggunakan kalkulasi numerik secara langsung tiba
pada suatu dugaan mengenai kemungkinan terbatasnya barisan ( ) mengarah pada
frustasi yang tidak meyakinkan. Dengan perhitungan komputer akan memberikan nilai
aproksiasi 11,4 untuk n=50.000 dan 12,1 untuk n=100.000. Fakta numerik
ini dapat menyatukan pengamat secara sekilas untuk menyimpulkan bahwa barisan ini
terbatas . akan tetapi pada kenyataannya barisan ini divergen, yang diperlihatkan oleh
1 1 1 1 1
2 = 1 + + ( + ) + + ( 1 + + )
2 3 4 2 +1 2
1 1 1 1 1
> 1 + + ( + ) + + ( + + )
2 4 4 2 2
1 1 1
= 1+ + ++ = 1+
2 2 2 2
Dari sini barisan tak terbatas, oleh karena itu divergen (teorema 3.2.2).
1
(c) Misalkan = ( ) didefenisikan secara induktif oleh 1 = 1, +1 = 4 (2 + 3) untuk
3
1. Kita akan menunjukkan bahwa lim = 2.
5
Kalkulasi langsung menunjukan bahwa y2 = 4. Dari sini kita mempunyai y1 < y2 < 2.

Dengan induksi, kita akan tunjukkan bahwa yn < 2 untuk semua n . Ini benar untuk
n = 1,2. Jika yk < 2 berlaku untuk untuk k N, maka
1 1 3
Yk+1 = 4 (2 + 3) < 4 (4 + 3) = 1 + 4 < 2

Dengan demikin yk+1 < 2. Oleh karena itu yn < 2 untuk semua n .
Sekarang, dengan induksi, kita akan tunjukkan bahwa yn < yn+1 untuk semua n .
Kemudian pernyataan ini tidak dibuktikan untuk n= 1. Anggaplah bahwa yk < yk+1
untuk suatu k N ;
1 1
Yk+1 = 4 (2 + 3) < 4 (2+1 + 3) < +2

Jadi yk < yk+1 mengakibatkan yk+1 < yk+2. Oleh karena itu yn < yn+1 untuk semua n
atas oleh 2. Menurut Teorema Konvergensi Menoton, Y konvergen ke suatu limit yakni
pada kurang dari atau sama dengan 2. Dalam hal ini, tidak mudah untuk mengevaluasi

5
lim (yn) dengan menghitung sup {yn : n }. Tetapi terdapatcara lain untuk
1
mengevaluasi limitnya. Karena yn+1 4 (2 + 3) untuk semua n , maka suku ke n

dari 1-ekor Y1 dan suku ke n dari Y mempunyai relasi aljabar sederhana. Dengan
Teorema 3.1.9, kita mempunyai y = lim Y1 = lim Y yang diikuti dengan Teorema 3.2.3
1 3
diperoleh y = 4 (2 + 3) yang selanjutnya mengakibatkan y = 2

(d) Misalkan Z = (zn) dengan z1 = 1, zn+1 = 2 untuk semua n , kita akan lanjutkan lim
(zn) = 2.

Catatan bahwa z1 =1 dan z2 = 2 ; Dari sini 1 1 2 < 2. Kita klaim bahwa Z


tak turun dan terbatas diatas oleh 2. Untuk membuktikannya kita akan lakukan secara
induksi, yaitu 1 +1 < 2. Untuk semua n . Faktor ini dipenuhi untuk n = 1.
Misalkan hal ini juga dipenuhi untuk n = K, maka 2 2 < 2+1 < 4, yang diikuti oleh
1 < 2 +1 = 2 < +2 = 2+1 < 4 = 2

[Pada langkah terakhir kita menggunakan cntoh 2.2.14 (a)]. Dari sini ketaksamaan
1 < +1 < 2 mengakibatkan 1 +1 < +2 < 2. Karena itu 1 +1 < 2.
Untuk semua n .

Karena Z = (zn) terbatas dan tak turun, menurut teorema konvergensi monoton Z
konvergen ke z = sup {zn}. Akan ditunjukan secara langsung bahwa sup {zn} = 2, jadi z = 2
atau kita dapat menggunakan cara bagian (c). Relasi zn+1 = 2 memberikan relasi antara
suku ke n dari z1 dan suku ke n dari z. Dengan Teorema 3.1.9, kita mempunyai lim Z1 = z =
lim Z. Lebih dari itu, menurut teorema 3.2.3 dan 3.2.10, z harus memenuhi z = 2 . Ini
menghasilkan z = 0,2. Karena 1 2, jadi z = 2.

Perhitungan akar kuadrat.


3.3.4. Contoh.
Misalkan a > 0, kita akan mengkonstruksi barisan (sn) yang konvergen ke .

6
1
Misalkan s1 > 0 sebarang dan didefinisikan sn+1 = 2 ( + ) untuk semua n . Kita akan

tunjukan bahwa (sn) konvergen ke . (proses ini untuk mengitung akar kuadrat yang sudah
dikenal di Mesopotamia sebelum 1500 B.C)
2
Pertama kita tunjukan bahwa +1 untuk semua n 2. Karena 2 2 sn+1, sn+a =0,
2
persamaan ini mempunyai akar real. Dari sini diskriminannya 4+1 4 harus tak
2
negative, yaitu +1 a untuk n 1
Untuk melihat (sn) pada akhirnya tak naik, kita catat bahwa untuk n 2 kita mempunyai :
1 2)
1 (
1 = (+ ) = 0
2 2

Dari sini, sn+1 sn untuk semua n 2. Menurut Teorema konvergensi monoton lim (sn) = s
ada. Lebih dari itu, dari Teorema 3.2.3, s harus memenuhi.
1
= ( + ),
2

Yang mengakibatkan s = atau s2 = a . Jadi s =

Untuk perhitungan, sering penting untuk mengestimasi bagaimana cepatnya ba-risan (sn)
konvergen ke . Dari di atas, kita mempunyai sn untuk semua n 2. Dengan
menggunakan ketaksamaan ini kita dapat menggunakan dengan derajat akurasi yang
diinginkan.

Bilangan Euler

3.3.5 Contoh

1
Misal = (1 + ) untuk . Kita akan menunjukkan bahwa = terbatas atau tak

turun, karenanya E konvergen yang sangat terkenal itu, yang nilainya didekati dengan
2,718281828459045 dan kemudian digunakan sebagai bilangan dasar logaritma natural.

Bilamana kita menggunakan teorema binomial, kita mempunyai

7

1
= (1 + )

1 ( 1) 1 ( 1)( 2) 1
= 1+ . + . 2+ . 3+
1 2! 3!
( 1) 2.1 1
+ .
!

Ini dapat ditulis menjadi

1 1 1 1 1
= 1 + 1 + (1 ) + (1 ) (1 ) +
2! 3! 2
1 1 2 1
+ (1 ) (1 ) (1 )
!

Dengan cara serupa kita mempunyai

1 1 1 1 2
+1 = 1 + 1 + (1 ) + (1 ) (1 )+
2! +1 3! +1 +1
1 1 2 1
+ (1 ) (1 ) (1 )
! +1 +1 +1
1 1 2
+ (1 ) (1 ) (1 )
( + 1)! +1 +1 +1

Perhatiakan bahwa ekspresi untuk menurut n+1 suku, sedangkan untuk +1 menurut n+2
suku. Selain itu masing-masing suku dalam adalah lebih kecil atau sama dengan suku
yang bersesuaian dalam +1 dan +1 mengandung lebih satu suku positif. Oleh karena itu,
kita mempunyai 2 1 2 < < < +1 < , dengan demikian suku-suku dari E
naik.

Untuk menunjukkan bahwa suku-suku dari E terbatas di atas, kita perhatikan bahwa jika =
1,2, . . . , , maka > 1, maka kita mempunyai

1 1 1
2 < < 1 + 1 + + 2 + + 1
2 2 2

Karena dapat dibuktikan bahwa [lihat 1.3.3(b)]

1 1 1 1
+ 2 + + 1 = 1 1 < 1,
2 2 2 2

8
Kita simpulkan bukan2 < 3 untuk semua . Menurut teorema konvergensi
monoton, kita peroleh bahwa barisan E konvergen ke suatu bilangan real antara 2 dan 3. Kita
definisikan bilangan e merupakan limit dari barisan ini.

Dengan penghalusan estimasi kita dapat menemukan bilangan yang dekat sekali ke e, tetapi
kita tidak menghitungnya secara eskak, karena e adalah suatu bilangan irasional. Akan
teteapi mungkin untuk menghitung e sampai beberapa tempat desimal yang diinginkan.
Pembaca boleh menggunakan kalkulator (atau komputer) untuk menghitung dengan
mengambil nilai n yang besar.

9
LATIHAN SOAL

1. Buatlah satu soal Barisan Monoton beserta penyelesaiannya !...


2. Sebutkan apakah termasuk barisan monoton atau tidak :
a. (1,2,3,4, n, .,) ; (a, aa, a3,a4, an,) = Barisan monoton kuat
b. (1, 2,2,3,3,3,3,) ; (1,1,1,1,1, ) = Barisan Monoton naik
c. (2,2,2,2, .,) ; (0,0, -1,-1,-2,-2 , ) = Barisan monoton turun
d. (1,-1,1,-1, .(-1)n+1, ) ; (-1,2,-3,4, , (-1)n, ) = Bukan barisan monoton
3. a. Barisan naik monoton dan terbatas ke atas dengan suprema 1. Oleh karena itu
b. Barisan turun monoton dan terbatas ke bawah dengan infima 2
c. Misalkan (an) adalah barisan dimana a1 =, dan an+1 = untuk semua nN. Maka,
Tunjukan bahwa (an) adalah monoton naik.
Jawab :
Dengan menggunakan induksi matematika, dapat dibuktikan barisan (an) monoton
naik.
Perhatikan bahwa :
+1 = +2

Dengan demikian terbukti bahwa (an)adalah barisan monoton naik

10
DAFTAR PUSTAKA

Bartle Robert G. 1992. Introduction to Real Analysis. Second edition. New York :
John Wiley & Sons. Inc. (Terjemahan)

http://reniangraini21.blogspot.com/2013/12/analisis-riil

11

Anda mungkin juga menyukai