Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

STRUKTUR PERKEMBANGAN HEWAN 2

REGENERASI

Disusun untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Sistem Perkembangan Hewan 2


Yang dibina oleh:

Dr.H.Abdul Gofur,M.Si

Disusun Oleh :

KELOMPOK 5 / OFFERING A

NAMA ANGGOTA / NIM

1. Aprilia Aurely Putri Fauzi (160341606068)


2. Desi Indah Sari (160341606016)
3. Fatimatuzzahro Intan Pertiwi (160341606097)
4. Lailatul Safitri (160341606065)
5. Nur Aini (160341606069)
6. Yayang Setya Wardhani (160341606077)

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

Desember, 2017
A. Judul Praktikum : Regenerasi

B. Tanggal Praktikum : 6 November 2017 27 November 2017

C. Tujuan Praktikum :Mahasiswa memliki pemahaman


yang lebih baik mengenai konsep-konsep perkembangan
pada hewan dewasa, regenerasi, dan proses regenerasi

D. Dasar teori

Regenerasi merupakan proses mengembalikan suatu bagian atau organ tubuh


menjadi bentuk semula setelah mengalami luka. Menurut Surjono (2001) menyebutkan
bahwa pada kelompok ikan regenerasi terjadi sangat terbatas. Siri-sirip ikan dapat
mengalami regenerasi apabila rusak atau dipotong, tetapi ekor ikan (bagian sirip juga) tidak
dapat mengalami regenerasi. Proses regenerasi ekor ikan berlangsung secara bertahap.
Pada hari pertama dan kedua setelah pemotongan ekor ikan tidak langsung tumbuh
melainkan mengalami penyembuhan luka terlebih dahulu. Pada hari ketiga baru muncul
calon ekor dengan warna putih transparan, ini merupakan tahap pertumbuhan. Amy Tenzer
dkk (2000) menyebutkan bahwa perbaikan kerusakan ekor ikan terdiri dari beberapa tahap,
tahap pertama adalah penyembuhan luka melalui penutupan permukaan yang rusak, tahap
kedua adalah pertumbuhan dari bagian ekor yang rusak hingga mencapai ukuran semula,
dan tahap yang ketiga adalah diferensiasi jaringan-jaringan yang baru terbentuk Selain itu
ada juga pakar yang menjelaskan tahap-tahap kembalinya ekor ikan setelah diamputasi
seperti di bawah ini.

Wildan Yatim (1982) menyebutkan bahwa terjadi hal-hal berikut ini pada anggota
badan yang diamputasi.

a) Darah mengalir menutupi permukaan luka, lalu beku, membentuk scab (lapisan) yang
sifatnya melindungi.

b) Epitel kulit menyebar di permukaan luka, di bawah scab. Sel epitel itu bergerak secara
amoeboid. Butuh waktu dua hari agar kulit itu lengkap menutupi luka.
c) Differensiasi sel-sel jaringan luka, sehingga jadi bersifat muda kembali dan pluripotent
untuk membentuk berbagai jenis jaringan baru.

d) Pembentukan blastema, yakni kuncup regenerasi pada permukaan bekas luka. Scab
mungkin sudah lepas pada waktu ini. Blastema berasal dari penimbunan sel-sel
dediferensiasi.

e) Proliferasi sel-sel dediferensiasi secara mitosis. Proliferasi ini serentak dengan proses
dedifferensiasi, dan memuncak pada waktu blastema dalam besarnya yang maksimal, dan
waktu itu tak membesar lagi.

f) Redifferensiasi sel-sel dedifferensiasi, serentak dengan berhentinya proliferasi sel-sel


blastema itu.

E. Alat dan Bahan

ALAT

1. Aquarium
2. Gunting
3. Silet
4. Lup
5. Lap meja
6. Kertas milimeter blok
7. Papan bedah
8. Aerator
9. Jaring ikan

BAHAN

1. Ikan sepat
2. Pakan ikan
3. Air ledeng/ sumur
F. Prosedur

a. Memotong Ekor Ikan

Meletakkan ikan secara hati-hati diatas papan bedah yang telah dialasi kertas
milimeter blok. mengukur panjang awal ekor ikan sebagai data awal

Memotong ekor ikan dengan menggunakan silet yang tajam dengan pola yang
dikehendaki. Setelah pemotongan selesai mengukur dahulu panjang setelah
pemotongan sebagai data panjang setelah pemotongan ekor ikan .

Melakukan pemotongan dengan cepat dan jangan terlalu sampai ke pangkal


ekor.

Melakukan langkah ke 1 dan 2 dengan pola yang berbeda pada 4 ekor ikan lain

Setelah selesai segera mengembalikan ikan ke dalam aquarium dan memelihara


dengan baik dengan memberi makan secukupnya, aquarium diberi aerator untuk
sirkulasi aquarium dan ikan, membersihkan kolam ikan secara berkala .
b. Observasi Saat Regerenasi

Melakukan pengamatan terhadap proses regenerasi dari ekor yang dipotong


setiap minggu. Mencatat semua perkembangan yang berkaitan dengan proses
regenerasi ekor ikan tersebut.

Mengukur pertambahan panjang dari ujung ekor yang baru tumbuh satu
minggu setelah pemotongan, dan setiap minggu berikunya sampai minggu
terakhir pengamatan .

Mencatat semua perkembangan yang terjadi pada jaringan sejauh yang dapat
diamati, misalnya: perkembangan pola warna, pertumbuhan kerangka ekor, dan
sebagainya.

Saat pengamatan pengukuran, melengkapi data dengan gambar dan menuliskan


data yang diperoleh ke tabel pengamatan.
G. Hasil Pengamatan

Minggu Perkembangan Gambar dan keterangan

1 Po = 1,3 cm

P1 = 0,9 cm

Po = 1,4 cm

P1 = 0,9 cm

Po = 1,3 cm

P1 = 0,9 cm

2 P2 = 1,3 cm Potongan A

P2 = 1,2 cm

P2 = 1,3 cm

P2 = 1,4 cm

Sumber: Dokumen pribadi


Potongan B

Sumber: Dokumen pribadi


Potongan C

Sumber: Dokumen pribadi


Potongan D

Sumber: Dokumen pribadi

3 P3 = 1,5 cm Potongan A

P3 = 1,5 cm

P3 = 1,3 cm

P3 = 1,6 cm

Sumber: Dokumen pribadi


Potongan B

Sumber: Dokumen pribadi


Potongan C

Sumber: Dokumen pribadi


Potongan D

Sumber: Dokumen pribadi

H. Analisis Data

a. Potongan ikan B dan D

Pengamatan regenerasi ikan hanya dilakukan selama 2 minggu karena


keterbatasan waktu. Dan pada pengamatan ini, ikan yang ekornya dipotong secara
vertikal, sebelum dipotong ekor memiliki panjang awal 1,3 cm. Setelah
pemotongan, panjang ekor yang tersisa 0,9 cm. Sementara pada ikan yang dipotong
secara miring pada bagian atas, pangan awal ekor 1,3 cm. Setelah pemotongan,
panjang ekor menjadi 0,9 cm. Pada minggu kedua, panjang ikan menjadi 1,3 cm
pada ikan yang dipotong secara vertikal dan 1,6 cm pada ikan yang dipotong miring
pada bagian atas ekor.
b. Potongan ikan A dan C

Pada perlakuan selanjutnya, ekor ikan yang dipotong menyerupai V (ikan A). Panjang awal
ekor adalah 1,4 cm. Setelah ekor ikan dipotong menyerupai V, panjangnya menjadi 0,9 cm.
Setelah satu minggu, panjang ekor ikan kembali diikur. Panjang ekor minggu pertama adalah
1,3 cm. yang berarti terjadi pertambahan 0,4 cm panjang ekor. Karena pengukuran panjang
ekor dilakukan 1x dalam satu minggu maka, pengukuran selanjutnya dilakukan satu minggu
berikutnya. Pada perhitungan berikutnya atau minggu kedua, panjang ekor adalah 1,5 cm.
Dengan kata lain, ekor bertumbuh 0,2 cm dalam satu minggu.

Pada praktikum yang telah dilaksanakan, ekor ikan yang dipotong menyerupai V terbalik
(ikan C). Panjang awal ekor adalah 1,7 cm. Setelah ekor ikan dipotong menyerupai V terbalik,
panjangnya menjadi 1,3 cm. Setelah satu minggu, panjang ekor ikan kembali diikur. Panjang
ekor minggu pertama adalah 1,3 cm. yang berarti tidak terjadi penambahan atau pertumbuhan
panjang ekor. Karena pengukuran panjang ekor dilakukan 1x dalam satu minggu maka,
pengukuran selanjutnya dilakukan satu minggu berikutnya. Pada perhitungan berikutnya atau
minggu kedua, panjang ekor adalah 1,5 cm. Dengan kata lain, ekor bertumbuh 0,2 cm dalam
satu minggu.

I. Pembahasan
a. Potongan ikan B dan D
Regenerasi merupakan suatu proses perbaikan struktur yang hilang atau rusak (Poss
et al., 2003). Pengamatan regenerasi sirip kaudal ikan sepat dilakukan dengan mengamati
proses perubahan pada sirip kaudal setelah dipotong dengan pola yang berbeda-beda. Ekor
ikan dipotong secara vertikal, dipotong secara miring pada bagian atas, dan dipotong
dengan bentuk V.
Pada ikan yang ekornya dipotong secara vertikal, sebelum dipotong ekor memiliki
panjang awal 1,3 cm. Setelah pemotongan, panjang ekor yang tersisa 0,9 cm. Sementara
pada ikan yang dipotong secara miring pada bagian atas, pangan awal ekor 1,3 cm. Setelah
pemotongan, panjang ekor menjadi 0,9 cm.
Pada praktikum, pengamatan regenerasi sirip ikan hanya dilakukan pada hari ke-7,
hari ke-14, hari ke-21 dan hari ke-28 sehingga banyak proses regenerasi yang tidak teramati.
Pada minggu pertama pengamatan, kedua ikan yang dipotong secara vertikal dan miring
mati. Sementara menurut Katogi (2004) pada hari pemotongan sirip (H-0) beberapa ikan
akan mengalami pendarahan pada bagian yang dipotong dari pembuluh darah. Namun pada
praktikum, terjadi atau tidaknya pendarahan pada ikan sepat tidak dapat diamati karena
pengamatan tidak menggunakan mikroskop cahaya. Selain itu, menurut teori di hari
pertama juga terbentuk blastema yaitu sekelompok sel yang belum terdiferensiasi dan
memiliki kemampuan untuk tumbuh dan berdiferensiasi. Blastema terbentuk dari
proliferasi sel-sel mesenkim (Chablais & Jazwinska, 2010). Setelah tahap pembentukan
blastema, dilanjutkan dengan tahap pertumbuhan regeneratif. Dicirikan dengan terjadinya
proses angiogenesis, pembentukan pulau-pulau darah yang mengumpul di ujung jari-jari
dan berkembang menjadi pembuluh darah pada hari ke-7 (Iza, 2010).
Pada kondisi ini, blastema pada bagian yang mengalami regenerasi tersusun atas
mesenkim yang telah matang serta terjadi diferensiasi sel-sel disekitarnya menjadi sel
skleroblas dan sel fibroblas. Selain itu juga terbentuk sel-sel saraf (Poss et al., 2003).
Namun pada praktikum yang dilakukan kelompok kami, proses-proses tersebut tidak dapat
diamati karena pengamatan baru dilakukkan setelah hari ke-7 dengan kondisi ikan mati.
Matinya ikan-ikan tersebut dimungkinkan karena berbagai faktor. Menurut
Kalthoff (1996), faktor-faktor yang memengaruhi petumbuhan dan perkembangan hewan
dapat dibagi menjadi dua, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi gen
dan hormon. Faktor eksternal meliputi air, makanan dan cahaya. Sementara menurut
Sudarwati (1990), regenerasi dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain :

1. Temperatur, dimana peningkatan temperatur sampai titik tertentu maka akan meningkatkan
regenerasi.
2. Makanan, tingkat regenerasi akan cepat jika memperhatikan aspek makanan. Makanan
yang cukup dapat membantu mempercepat proses regenerasi.
3. System saraf, sel-sel yang membentuk regenerasi baru berasal dari sel sekitar luka. Hal ini
dapat dibuktikan dengan radiasi seluruh bagian tubuh terkecuali bagian yang terpotong,
maka terjadilah regenerasi dan faktor yang menentukan macam organ yang diregenerasi.
Karena ikan mati, maka dilakukan pengulangan dengan ikan baru dan dimulai
pengamatan dari awal dan seminggu kemudian ikan mati. Hal tersebut dapat terjadi karena
beberapa faktor yang sudah disebutkan diatas.
Pada pengulangan terakhir, pengamatan regenerasi ikan hanya dilakukan selama 2
minggu karena keterbatasan waktu. Dan pada pengamatan ini, ikan yang ekornya dipotong
secara vertikal, sebelum dipotong ekor memiliki panjang awal 1,3 cm. Setelah pemotongan,
panjang ekor yang tersisa 0,9 cm. Sementara pada ikan yang dipotong secara miring pada
bagian atas, pangan awal ekor 1,3 cm. Setelah pemotongan, panjang ekor menjadi 0,9 cm.
Pada minggu kedua, panjang ikan menjadi 1,3 cm pada ikan yang dipotong secara vertikal
dan 1,6 cm pada ikan yang dipotong miring pada bagian atas ekor.
Hal tersebut tidak sesuai dengan teori dimana seharusnya regenerasi ikan
berlangsung selama kurang lebih 3-4 minggu. Dimungkinka terdapat kesalahan pada
praktikan dimana praktikan kurang teliti dalam mengukur panjang ekor ikan.
b. Ikan A dan C
Regenerasi pada ikan termasuk dalam tipe regenerasi epimorfosis yang khas pada
regenerasi membran. Regenerasi epimorfosis merupakan tipe regenerasi lewat mekanisme
yang melibatkan dediferensiasi struktur dewasa untuk membentuk masa sel yang
terdiferensiasi, yang kemudian direspesifikasi (Sounder, 1982). Proses regenerasi epimorfis,
setelah pemotongan proses untuk sembuh dari luka mulai berlangsung. Dalam waktu satu
jam pertama setelah amputasi, sel epitel mulai berimigrasi sebagai lembar dan mulai
menutupi jaringan mesenchymal. Selama periode ini banyak yang rusak dan sel-sel terluka
menjadi apoptosis dan dihapus dari lokasi amputasi. Setelah itu, lokasi amputasi menjadi
meradang dan proses penyembuhan dimulai (Suresh, et al. 2010).
Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa terdapat pertambahan
panjang pada ekor ikan yang dipotong setelah satu minggu pemeliharaan. Hasil rata-rata
potongan mengalami pertambahan panjang 0,23 cm,. Hal ini dapat disebabkan kurangnya
nutrisi saat pemeliharaan sehingga memperlambat proses penyembuhan pada bekas amputasi.
Faktor lain yang dapat mempengaruhi yaitu kondisi lingkungan tempat pemeliharaan yang
kurang lembab dan sirkulasi udara yang tidak baik. Menurut Kalthoff (1996), faktor-faktor
yang mempengaruhi petumbuhan dan perkembangan hewan dapat dibagi menjadi dua, yaitu
faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi gen dan hormon. Faktor eksternal
meliputi air, makanan dan cahaya.
Berdasarkan pertambahan panjang setelah satu minggu, dapat diketahui bahwa
pertambahan panjang yang cepat terjadi pada potongan sirip abdominal. Pertambahan
panjang yang cepat ini dapat dilihat dari selisih pertambahan panjang pada sirip caudal
dengan sirip pectoral, abdominal maupun anal. Hal ini dapat disebabkan peran atau fungsi
dari sirip caudal yang lebih penting atau lebih dominan pada pergerakan ikan.

J. Kesimpulan
Dari praktikumini dapat disimpulkan bahwa:
1. Regenerasi merupakan suatu proses perbaikan struktur yang hilang atau rusak. Proses
regenerasi dimulai dengan penyembuhan luka, setelah itu akan terlihat jaringan putih
atau disebut dengan blastema. Setelah itu akan mulai regenerasi, dan proliferasi sel-sel
dediferensiasi secara mitosis, dan redifferensiasi sel-sel dedifferensiasi.

2. Proses regenerasi didukung oleh beberapa faktor, yaitu faktor luar dan faktor dalam.
Faktor luar meliputi temperatur lingkungan, intesitas makan, kebersihan lingkungan.
Sedangkan faktor dalam meliputi genetik, sel sel saraf disekitar organ yang luka.

K. Daftar Rujukan
Chablais, F., & Jazwinska, A. 2010. IGF Signaling Between Blastema And Wound Epidermis Is
Required For Fin Regeneration. Development and stem cells, 137: 871-879.

Eddy, S. & Underhill. 1978. How to Know the Freshwater Fishes. Iowa: Wm. C. Brown Co. USA.

Garcia, Carlos Lopez et al., 2002. The Lizard Cerebral Cortex as a Model to Study Neuronal
regeneration. An. Acad. Bras. Cienc. Vol. 74. No. 1. Hal. 85-104.

Iza, N. 2010. Ikan Gatul (poecilia sp.) sebagai Kandidat Hewan Model: Proses Regenerasi Sirip
Kaudal. Skripsi. FMIPA. Malang: Universitas Negeri Malang.

Kalthoff, Klaus. 1996. Analysis of Biological Development. Mc Graw-Hill Mc, New York.

Katogi, R. et al. 2004. Large-Scale Analysis of The Genes in Fin Regeneration and Blastema
Formation in The Medaca, Oryzias latipes. Development, 4259: 226-501.

Poss, K.D. et al. 2003. Mps Defines a Proximal Blastemal Proliverative Compartment Essential
for Zebrafish Fin Regeneration. Developmental, 129: 5141-5149.

Sounder, J. W. 1982. Developmental Biology. Macmillan Publishing Co. New York.

Sudarwati, 1990. Struktur Hewan. Bandung : Jurusan Biologi FMIPA ITB

Suresh, B. Yadav, M. And Desai, I. 2010. Influence of FGF-2 on the Antioxidant Status in Tissues
During Various Stages of Tail Regeneration in the Northern House Gecko, Hemidactylus
flaviviridis. Journal of Cell and Tissue Research Vol. 10(1) 2091-2100.

Surjono, Tien Wiati. 2001. Perkembangan Hewan. Jambi: Universitas Jambi

Tenzer, Ami dkk. 2000. Petunjuk Praktikum Perkembangan Hewan. Malang : Universitas Negeri
Malang

Yatim, Wildan. 1982. Reproduksi dan Emriologi. Bandung : Penerbit Tarsito