Anda di halaman 1dari 88

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

MODUL 1
DAFTAR ISI

PENGANTAR....................... 1

STANDAR KOMPETENSI............... 1

KOMPETENSI............... 1

MATERI POKOK............... 3

METODE................ 3

BAHAN DAN ALAT............... 3

PROSES PELATIHAN.............. 3

TAGIHAN/TUGAS............. 5

LEMBAR KEGIATAN................ 5

BAHAN BACAAN.................. 6

BAB I : UNDANG-UNDANG NO 15 TAHUN 2011 TENTANG


PENYELENGGARAAN PEMILU........................................................ 6

BAB II : UNDANG-UNDANG NO 8 TAHUN 2012 TENTANG


PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DPR, DPD, DPRD........................... 13

BAB III : UNDANG-UNDANG NO 2 TAHUN 2011 TENTANG


PERUBAHAN UNDANG-UNDANG NO 2 TAHUN 2008
TENTANG PARTAI
23
POLITIK..............................................................

BAB IV : PERATURAN KAPOLRI NO 9 TAHUN 2011 TENTANG 26


MANAJEMEN OPERASI
PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

KEPOLISIAN..............................................

RANGKUMAN...............
29

LATIHAN............... 30

ii PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Modul KAPITA SELEKTA PERUNDANG-UNDANGAN

1
6 JP (270 menit)

Pengantar

Dalam modul ini membahas materi tentang kapita selekta perundang-


undangan yang berkaitan dengan pemilu.

Tujuan modul ini adalah memberikan pemahaman tentang penerapan


berbagai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pemilu.

Standar kompetensi

Mampu menerapkan peraturan dan perundang-undangan yang


berkaitan dengan pengamanan Pemilu.

Kompetensi

1. Mampu menerapkan Undang-Undang No.15 Tahun 2011 tentang


penyelenggaraan pemilu.

Indikator:
a. Menjelaskan pasal-pasal tertentu Undang-undang No.15 tahun
2011 tentang penyelenggaraan pemilu;
b. Mengidentifikasi pelanggaran tindak pidana pemilu.

2. Mampu menerapkan Undang-undang No.8 tahun 2012 tentang


pemilu anggota DPR.

Indikator:

a. Menjelaskan ketentuan umum tentang Undang-undang No.8


tahun 2012 tentang pemilu anggota DPR pasal 1;

PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 1


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

b. Menjelaskan pelanggaran tindak pidana UU pemilu tahap


pemutakhiran data dan penyusunan daftar Pemilih (pasal 273,
274,292, 293,294 dan pasal 295);
c. Menjelaskan pelanggaran tindak pidana UU pemilu tahap
pendaftaran dan verivikasi peserta pemilu (pasal 296 dan 298);
d. Menjelaskan pelanggaran tindak pidana UU pemilu tahap masa
kampanye pemilu (pasal 275 ,276,277,278,279 ayat 1 dan 2,
280, 297,299,300,301 ayat 1, pasal 303 ayat 1 dan 2, pasal 304
ayat 1 dan 2 dan pasal 305);
e. menjelaskan pelanggaran tindak pidana UU pemilu tahap masa
tenang (pasal 291, 301 ayat 2);
f. menjelaskan pelanggaran tindak pidana UU pemilu tahap
pemungutan dan penghitungan suara (pasal 281,
282,283,284,301 ayat 3, 306, 307,308,309,310 dan 311 );
g. menjelaskan pelanggaran tindak pidana UU pemilu tahap
penetapan hasil pemilu (pasal 285,286,287,288,289 ayat 1 dan
2, 290, 312,313,314,315,316,317,318,319,320 dan 321).

3. Mampu menerapkan Undang-undang No. 12 tahun 2011 tentang


perubahan undang-undang No.2 tahun2008 tentang partai politik

Indikator

a. Menjelaskan pasal-pasal tertentu dalam Undang-undang No.12


tahun 2011 tentang perubahan Undang-undang No.2 tahun 2008
tentang partai Politik;
b. Mengidentifikasi pelanggaran pidana yang berkaitan dengan
partai politik.

4. Mampu menerapkan Peraturan Kapolri No.9 tahun 2011


tentang manajemen operasi Kepolisian

Indikator

a. Menjelaskan Peraturan Kapolri No.9 tahun 2011


tentang manajemen Kepolisian;
b. Menerapkan Peraturan Kapolri No. 9 tahun 2011 tentang
manajemen Kepolisian.

5. Mampu menerapkan pasal-pasal tertentu dalam tindak pidana pemilu

Indikator

Praktek

2 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Materi Pokok

Peraturan-peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan


pemilu.

Metode

1. Ceramah;
2. Diskusi;
3. Tanya jawab

Bahan/REFERENSI dan Alat


1. Bahan/referensi
a. Undang-Undang No.15 Tahun 2011;
b. Undang-Undang No.8 Tahun 2012;
c. Undang-undang No.12 tahun 2011;
d. Peraturan Kapolri No.9 tahun 2011.

2. Alat
a. Whiteboard;
b. Flipchart;
c. Kertas flipchart;
d. Komputer/laptop;
e. LCD dan screen;
f. Alat tulis.

Proses Pelatihan

1. Tahap awal: 15 menit


a. Pelatih/instruktur/fasilitator memperkenalkan diri kepada para
peserta pelatihan;
b. Para peserta pelatihan memperkenalkan diri secara singkat
kepada pelatih/instruktur/fasilitator dan peserta lainnya;

PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 3


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

c. Pelatih/instruktur/fasilitator melakukan pencairan suasana kelas


agar tercipta interaksi antara pelatih/instruktur/fasilitator dan
peserta;
d. Pelatih/instruktur/fasilitator melakukan apersepsi dengan
menanyakan kepada peserta pelatihan tentang materi yang
akan dipelajari.

2. Tahap inti: 200 menit.


a. Pelatih/instruktur/fasilitator Menjelaskan penerapan Undang-
Undang No.15 tahun 2011 tentang penyelenggaraan pemilu
peserta pelatihan memperhatikan, mencatat hal-hal yang
penting, bertanya apabila ada materi yang belum dimengerti
atau dipahami.
Waktu: 30 menit.

b. Pelatih/instruktur/fasilitator menjelaskan penerapan Undang-


Undang No.12 tahun 2012 tentang pemilu anggota DPR
Peserta pelatihan memperhatikan, mencatat hal-hal yang
penting, bertanya apabila ada materi yang belum dimengerti
atau dipahami.
Waktu: 30 menit.

c. Pelatih/instruktur/fasilitator menjelaskan penerapan Undang-


Undang no.12 tahun 2011 tentang perubahan Undang-Undang
No.2 tahun 2008 tentang partai politik Peserta pelatihan
memperhatikan, mencatat hal-hal yang penting, bertanya
apabila ada materi yang belum dimengerti atau dipahami.
Waktu: 30 menit.

d. Pelatih/instruktur/fasilitator menjelaskan penerapan Peraturan


Kapolri No.9 tahun 2011 tentang manajemen operasi
Kepolisian . Peserta pelatihan memperhatikan, mencatat hal-hal
yang penting, bertanya apabila ada materi yang belum
dimengerti atau dipahami.
Waktu: 30 menit.

e. Peserta pelatihan mendiskusikan topik penerapan pasal-pasal


tertentu dalam peraturan perundang-undangan yang berkaitan
dengan pemilu yang telah ditetapkan oleh
pelatih/instruktur/fasilitator.
Waktu: 30 menit

f. Pelatih/instruktur/fasilitator memantau kegiatan diskusi pada


setiap kelompok dan memberikan saran masukan terhadap
proses diskusi;

g. Peserta pelatihan membuat laporan hasil diskusi secara tertulis;


Waktu: 10 menit

4 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

h Pelatih/instruktur/fasilitator meminta setiap kelompok untuk


mempresentasikan hasil diskusi;

i. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi dan


ditanggapi oleh kelompok yang lain;
Waktu: 30 menit

j. Pelatih/instruktur/fasilitator membahas dan menyimpulkan hasil


diskusi kelompok;
Waktu: 10 menit

3. Tahap Akhir: 25 menit.

a. Penguatan Materi.
Pelatih/instruktur/fasilitataor memberikan ulasan dan penguatan
materi secara umum;
Waktu: 15 menit.

b. Learning Point.
Pelatih/instruktur/fasilitator merumuskan learning point/koreksi
dan kesimpulan dari materi pelatihan yang disampaikan kepada
peserta pelatihan.
Waktu: 10 menit.

Tagihan/Tugas

Peserta latihan memberikan laporan Hasil diskusi kelompok kepada


Intruktur /pelatih

Lembar Kegiatan

Peserta latihan dibagi dalam tiga kelompok membahas dan mendikusikan


penerapan beberapa pasal dalam peraturan perundang-undangan yang
berkaitan dengan pemilu

PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 5


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

BAHAN BACAAN

BAB I

UNDANG-UNDANG NO15 TAHUN 2011


TENTANG PENYELENGGARAAN PEMILU

Pasal 3

(1) Wilayah kerja KPU meliputi seluruh wilayah Negara Kesatuan


Republik Indonesia.
(2) KPU menjalankan tugasnya secara berkesinambungan.
(3) Dalam menyelenggarakan Pemilu, KPU bebas dari pengaruh pihak
mana pun berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan wewenangnya.

Pasal 6

(1) Jumlah anggota:


a. KPU sebanyak 7 (tujuh) orang;
b. KPU Provinsi sebanyak 5 (lima) orang; dan
c. KPU Kabupaten/Kota sebanyak 5 (lima) orang.
(2) Keanggotaan KPU, KPU Provinsi, dan KPU Kabupaten/Kota terdiri
atas seorang ketua merangkap anggota dan anggota.
(3) Ketua KPU, KPU Provinsi, dan KPU Kabupaten/Kota dipilih dari dan
oleh anggota.
(4) Setiap anggota KPU, KPU Provinsi, dan KPU Kabupaten/Kota
mempunyai hak suara yang sama.
(5) Komposisi keanggotaan KPU, KPU Provinsi, dan KPU
Kabupaten/Kota memperhatikan keterwakilan perempuan sekurang-
kurangnya 30% (tiga puluh persen).
(6) Masa keanggotaan KPU, KPU Provinsi, dan KPU Kabupaten/Kota 5
(lima) tahun terhitung sejak pengucapan sumpah/janji.
(7) Sebelum berakhirnya masa keanggotaan KPU, KPU Provinsi, dan PU
Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (6), calon anggota
KPU, KPU Provinsi, dan KPU Kabupaten/Kota yang baru harus sudah

6 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

diajukan dengan memperhatikan ketentuan dalam Undang-Undang ini.


Pasal 8
(1) Tugas dan wewenang KPU dalam penyelenggaraan Pemilu anggota
Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah meliputi:
a. merencanakan program dan anggaran serta menetapkan jadwal;
b. menyusun dan menetapkan tata kerja KPU, KPU Provinsi, KPU
Kabupaten/Kota, PPK, PPS, KPPS, PPLN, dan KPPSLN;
c. menyusun dan menetapkan pedoman teknis untuk setiap tahapan
Pemilu setelah terlebih dahulu berkonsultasi dengan DPR dan
Pemerintah;
d. mengoordinasikan, menyelenggarakan, dan mengendalikan
semua tahapan Pemilu;
e. menerima daftar pemilih dari KPU Provinsi;
f. memutakhirkan data pemilih berdasarkan data kependudukan
yang disiapkan dan diserahkan oleh Pemerintah dengan
memperhatikan data Pemilu dan/atau pemilihan gubernur, bupati,
dan walikota terakhir dan menetapkannya sebagai daftar pemilih;
g. menetapkan peserta Pemilu
h. menetapkan dan mengumumkan hasil rekapitulasi penghitungan
suara tingkat nasional berdasarkan hasil rekapitulasi penghitungan
suara di KPU Provinsi untuk Pemilu Anggota Dewan Perwakilan
Rakyat dan hasil rekapitulasi penghitungan suara di setiap KPU
Provinsi untuk Pemilu Anggota Dewan Perwakilan Daerah dengan
membuat berita acara penghitungan suara dan sertifikat hasil
penghitungan suara;
i. membuat berita acara penghitungan suara dan sertifikat
penghitungan suara serta wajib menyerahkannya kepada saksi
peserta Pemilu dan Bawaslu;
j. menerbitkan keputusan KPU untuk mengesahkan hasil Pemilu dan
mengumumkannya;
k. menetapkan dan mengumumkan perolehan jumlah kursi anggota
Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Provinsi, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota
untuk setiap partai politik peserta Pemilu anggota Dewan
Perwakilan Rakyat, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah;
l. mengumumkan calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan
Dewan Perwakilan Daerah terpilih dan membuat berita acaranya;
m. menetapkan standar serta kebutuhan pengadaan dan
pendistribusian perlengkapan;
n. menindaklanjuti dengan segera rekomendasi Bawaslu atas
PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 7
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

temuan dan laporan adanya dugaan pelanggaran Pemilu;


o. mengenakan sanksi administratif dan/atau menonaktifkan
sementara anggota KPU Provinsi, anggota PPLN, anggota
KPPSLN, Sekretaris Jenderal KPU, dan pegawai Sekretariat
Jenderal KPU yang terbukti melakukan tindakan yang
mengakibatkan terganggunya tahapan penyelenggaraan Pemilu
yang sedang berlangsung berdasarkan rekomendasi Bawaslu
dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan;
p. melaksanakan sosialisasi penyelenggaraan Pemilu dan/atau yang
berkaitan dengan tugas dan wewenang KPU kepada masyarakat;
q. menetapkan kantor akuntan publik untuk mengaudit dana
kampanye dan mengumumkan laporan sumbangan dana
kampanye;
r. melakukan evaluasi dan membuat laporan setiap tahapan
penyelenggaraan Pemilu; dan
s. melaksanakan tugas dan wewenang lain sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan.

(2) Tugas dan wewenang KPU dalam penyelenggaraan Pemilu Presiden


dan Wakil Presiden meliputi:

a. merencanakan program dan anggaran serta menetapkan jadwal;


b. menyusun dan menetapkan tata kerja KPU, KPU Provinsi, KPU
Kabupaten/Kota, PPK, PPS, KPPS, PPLN, dan KPPSLN;
c. menyusun dan menetapkan pedoman teknis untuk setiap tahapan
Pemilu setelah terlebih dahulu berkonsultasi dengan DPR dan
Pemerintah;
d. mengoordinasikan, menyelenggarakan, dan mengendalikan
semua tahapan;
e. menerima daftar pemilih dari KPU Provinsi;
f. memutakhirkan data pemilih berdasarkan data kependudukan
yang disiapkan dan diserahkan oleh Pemerintah dengan
memperhatikan data Pemilu dan/atau pemilihan gubernur, bupati,
dan walikota terakhir dan menetapkannya sebagai daftar pemilih;
g. menetapkan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden
yang telah memenuhi persyaratan;
h. menetapkan dan mengumumkan hasil rekapitulasi penghitungan
suara berdasarkan hasil rekapitulasi penghitungan suara di KPU
Provinsi dengan membuat berita acara penghitungan suara dan
sertifikat hasil penghitungan suara;
i. membuat berita acara penghitungan suara serta membuat
sertifikat penghitungan suara dan wajib menyerahkannya kepada

8 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

saksi peserta Pemilu dan Bawaslu;


j. menerbitkan keputusan KPU untuk mengesahkan hasil Pemilu dan
mengumumkannya;
k. mengumumkan pasangan calon presiden dan wakil presiden
terpilih dan membuat berita acaranya;
l. menetapkan standar serta kebutuhan pengadaan dan
pendistribusian perlengkapan;
m. menindaklanjuti dengan segera rekomendasi Bawaslu atas
temuan dan laporan adanya dugaan pelanggaran Pemilu;
n. mengenakan sanksi administratif dan/atau menonaktifkan
sementara anggota KPU Provinsi, anggota PPLN, anggota
KPPSLN, Sekretaris Jenderal KPU, dan pegawai Sekretariat
Jenderal KPU yang terbukti melakukan tindakan yang
mengakibatkan terganggunya tahapan penyelenggaraan Pemilu
berdasarkan rekomendasi Bawaslu dan/atau ketentuan peraturan
perundang-undangan;
o. melaksanakan sosialisasi penyelenggaraan Pemilu dan/atau yang
berkaitan dengan tugas dan wewenang KPU kepada masyarakat;
p. menetapkan kantor akuntan publik untuk mengaudit dana
kampanye dan mengumumkan laporan sumbangan dana
kampanye;
q. melakukan evaluasi dan membuat laporan setiap tahapan
penyelenggaraan Pemilu; dan
r. melaksanakan tugas dan wewenang lain sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan.

(3) Tugas dan wewenang KPU dalam penyelenggaraan pemilihan


gubernur, bupati, dan walikota meliputi:
a. menyusun dan menetapkan pedoman teknis untuk setiap tahapan
pemilihan setelah terlebih dahulu berkonsultasi dengan DPR dan
Pemerintah;
b. mengoordinasikan dan memantau tahapan pemilihan;
c. melakukan evaluasi tahunan penyelenggaraan pemilihan;
d. menerima laporan hasil pemilihan dari KPU Provinsi dan KPU
Kabupaten/Kota;
e. mengenakan sanksi administratif dan/atau menonaktifkan
sementara anggota KPU Provinsi yang terbukti melakukan
tindakan yang mengakibatkan terganggunya tahapan
penyelenggaraan pemilihan berdasarkan rekomendasi Bawaslu
dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
f. melaksanakan tugas dan wewenang lain sesuai dengan ketentuan

PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 9


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

peraturan perundang-undangan.

(4) KPU dalam Pemilu Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan


Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Pemilu
Presiden dan Wakil Presiden, dan pemilihan gubernur, bupati, dan
walikota berkewajiban:
a. melaksanakan semua tahapan penyelenggaraan Pemilu secara
tepat waktu;
b. memperlakukan peserta Pemilu, pasangan calon presiden dan
wakil presiden, dan gubernur dan bupati/walikota secara adil dan
setara;
c. menyampaikan semua informasi penyelenggaraan Pemilu kepada
masyarakat;
d. melaporkan pertanggungjawaban penggunaan anggaran sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
e. mengelola, memelihara, dan merawat arsip/dokumen serta
melaksanakan penyusutannya berdasarkan jadwal retensi arsip
yang disusun oleh KPU dan Arsip Nasional Republik Indonesia
(ANRI);
f. mengelola barang inventaris KPU berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan;
g. menyampaikan laporan periodik mengenai tahapan
penyelenggaraan Pemilu kepada Presiden dan Dewan Perwakilan
Rakyat dengan tembusan kepada Bawaslu;
h. membuat berita acara pada setiap rapat pleno KPU yang
ditandatangani oleh ketua dan anggota KPU;
i. menyampaikan laporan penyelenggaraan Pemilu kepada Presiden
dan Dewan Perwakilan Rakyat dengan tembusan kepada Bawaslu
paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah pengucapan
sumpah/janji pejabat;
j. menyediakan data hasil Pemilu secara nasional;
k. melaksanakan keputusan DKPP; dan
l. melaksanakan kewajiban lain sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Pasal 40

(1) Untuk menyelenggarakan Pemilu di tingkat kecamatan, dibentuk PPK.


(2) PPK berkedudukan di ibu kota kecamatan.
(3) PPK dibentuk oleh KPU Kabupaten/Kota paling lambat 6 (enam) bulan

10 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

sebelum penyelenggaraan Pemilu dan dibubarkan paling lambat 2


(dua) bulan setelah pemungutan suara.
(4) Dalam hal terjadi penghitungan dan pemungutan suara ulang, Pemilu
susulan, dan Pemilu lanjutan, masa kerja PPK diperpanjang dan PPK
dibubarkan paling lambat 2 (dua) bulan setelah pemungutan suara.

Pasal 41

(1) Anggota PPK sebanyak 5 (lima) orang berasal dari tokoh masyarakat
yang memenuhi syarat berdasarkan Undang-Undang ini.
(2) Anggota PPK diangkat dan diberhentikan oleh KPU Kabupaten/Kota.
(3) Komposisi keanggotaan PPK memperhatikan keterwakilan perempuan
sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh persen).
(4) Dalam menjalankan tugasnya, PPK dibantu oleh sekretariat yang
dipimpin oleh sekretaris dari pegawai negeri sipil yang memenuhi
persyaratan.
(5) PPK melalui KPU Kabupaten/Kota mengusulkan 3 (tiga) nama calon
sekretaris PPK kepada bupati/walikota untuk selanjutnya dipilih dan
ditetapkan 1 (satu) nama sebagai sekretaris PPK dengan keputusan
bupati/walikot
Pasal 46

(1) Anggota KPPS sebanyak 7 (tujuh) orang berasal dari anggota


masyarakat di sekitar TPS yang memenuhi syarat berdasarkan
Undang-Undang ini.
(2) Anggota KPPS diangkat dan diberhentikan oleh PPS atas nama ketua
KPU Kabupaten/Kota.
(3) Pengangkatan dan pemberhentian anggota KPPS wajib dilaporkan
kepada KPU Kabupaten/Kota.
(4) Susunan keanggotaan KPPS terdiri atas seorang ketua merangkap
anggota dan anggota.
Pasal 47

Tugas, wewenang, dan kewajiban KPPS meliputi:

a. mengumumkan dan menempelkan daftar pemilih tetap di TPS;


b. menyerahkan daftar pemilih tetap kepada saksi peserta Pemilu
yang hadir dan Pengawas Pemilu Lapangan;
c. melaksanakan pemungutan dan penghitungan suara di TPS;
d. mengumumkan hasil penghitungan suara di TPS;
e. menindaklanjuti dengan segera temuan dan laporan yang
disampaikan oleh saksi, Pengawas Pemilu Lapangan, peserta

PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 11


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Pemilu, dan masyarakat pada hari pemungutan suara;


f. menjaga dan mengamankan keutuhan kotak suara setelah
penghitungan suara dan setelah kotak suara disegel;
g. membuat berita acara pemungutan dan penghitungan suara
serta membuat sertifikat penghitungan suara dan wajib
menyerahkannya kepada saksi peserta Pemilu, Pengawas
Pemilu Lapangan, dan PPK melalui PPS;
h. menyerahkan hasil penghitungan suara kepada PPS dan
Pengawas Pemilu Lapangan;
i. menyerahkan kotak suara tersegel yang berisi surat suara dan
sertifikat hasil penghitungan suara kepada PPK melalui PPS
pada hari yang sama;
j. melaksanakan tugas, wewenang, dan kewajiban lain yang
diberikan oleh KPU, KPU Provinsi, KPU Kabupaten/Kota, PPK,
dan PPS sesuai dengan peraturan perundang-undangan; dan
k. melaksanakan tugas, wewenang, dan kewajiban lain sesuai
ketentuan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

12 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

BAB II

UNDANG-UNDANG NO.8 TAHUN 2012 TENTANG PEMILIHAN


UMUM ANGGOTA DPR, DPD, DPRD

a. Ketentuan umum tentang Undang-undang No.8 tahu 2012 tentang


pemilu anggota DPR
Pasal 1

Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:

1. Pemilihan Umum, selanjutnya disebut Pemilu, adalah sarana


pelaksanaan kedaulatan rakyat yang dilaksanakan secara
langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara
Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
2. Pemilu Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan
Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah Pemilu
untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan
Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi
dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota dalam
Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
3. Dewan Perwakilan Rakyat, selanjutnya disingkat DPR, adalalah
Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
4. Dewan Perwakilan Daerah, selanjutnya disingkat DPD, adalah
Dewan Perwakilan Daerah sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
5. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, selanjutnya disingkat DPRD,
adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi dan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.
6. Komisi Pemilihan Umum, selanjutnya disingkat KPU,
adalahlembaga penyelenggara Pemilu yang bersifat nasional,
tetap, dan mandiri yang bertugas melaksanakan Pemilu.
7. Komisi Pemilihan Umum Provinsi, selanjutnya disingkat KPU
Provinsi, adalah penyelenggara Pemilu yang bertugas
melaksanakan Pemilu di provinsi.
8. Komisi Pemilihan Umum Kabupaten/Kota, selanjutnya disingkat
KPU Kabupaten/Kota, adalah penyelenggara Pemilu yang
bertugas melaksanakan Pemilu di kabupaten/kota.

PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 13


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

9. Panitia Pemilihan Kecamatan, selanjutnya disingkat PPK, adalah


panitia yang dibentuk oleh KPU Kabupaten/Kota untuk
melaksanakan Pemilu di kecamatan atau nama lain.
10. Panitia Pemungutan Suara, selanjutnya disingkat PPS, adalah
panitia yang dibentuk oleh KPU Kabupaten/Kota untuk
melaksanakan Pemilu di desa atau nama lain/kelurahan.
11. Panitia Pemilihan Luar Negeri, selanjutnya disingkat PPLN,
adalahpanitia yang dibentuk oleh KPU untuk melaksanakan
Pemilu di luar negeri.
12. Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara, selanjutnya
Disingkat KPPS yang selanjutnya Di bentuk oleh PPS untuk
Melaksanakan pemungutan suara ditempat pemungutan. .
13. Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara Luar Negeri,
selanjutnya disingkat KPPSLN, adalah kelompok yang dibentuk
oleh PPLN untuk melaksanakan pemungutan suara di tempat
pemungutan suara luar negeri.
14. Petugas Pemutakhiran Data Pemilih, selanjutnya disebut
Pantarlih, adalah petugas yang dibentuk oleh PPS atau PPLN
untuk melakukan pendaftaran dan pemutakhiran data pemilih.
15. Tempat Pemungutan Suara, selanjutnya disingkat TPS, adalah
tempat dilaksanakannya pemungutan suara 2 / 150 Tempat
Pemungutan Suara Luar Negeri, selanjutnya disingkat TPSLN,
adalah tempat dilaksanakannya pemungutan suara di luar negeri.
16. Badan Pengawas Pemilu, selanjutnya disebut Bawaslu, adalah
lembaga penyelenggara Pemilu yang bertugas mengawasi
penyelenggaraan Pemilu di seluruh wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
17. Badan Pengawas Pemilu Provinsi, selanjutnya disebut Bawaslu
Provinsi adalah badan yang dibentuk oleh Bawaslu yang
bertugas mengawasi penyelenggaraan Pemilu di provinsi.
18. Panitia Pengawas Pemilu Kabupaten/Kota, selanjutnya disebut
Panwaslu Kabupaten/Kota, adalah Panitia yang dibentuk oleh
Bawaslu Provinsi yang bertugas mengawasi penyelenggaraan
Pemilu dikabupaten/kota.
19. Panitia Pengawas Pemilu Kecamatan, selanjutnya disebut
Panwaslu Kecamatan, adalah panitia yang dibentuk oleh
Panwaslu Kabupaten/Kota yang bertugas mengawasi
penyelenggaraan Pemilu di kecamatan atau nama lain.
20. Pengawas Pemilu Lapangan adalah petugas yang dibentuk oleh
Panwaslu Kecamatan yang bertugas mengawasi
penyelenggaraan Pemilu di desa atau nama lain/kelurahan.
21. Pengawas Pemilu Luar Negeri adalah petugas yang dibentuk
oleh Bawaslu yang bertugas mengawasi penyelenggaraan
Pemilu di luar negeri.
22. Penduduk adalah Warga Negara Indonesia yang berdomisili di
wilayah Republik Indonesia atau di luar negeri.
23. Warga Negara Indonesia adalah orang-orang bangsa Indonesia
asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-
undang sebagai warga negara.
24. Pemilih adalah Warga Negara Indonesia yang telah genap
14 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

berumur 17 (tujuh belas) tahun atau lebih atau sudah/pernah


kawin.
25. Peserta Pemilu adalah partai politik untuk Pemilu anggota DPR,
DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota dan perseorangan
untuk Pemilu anggota DPD.
26. Partai Politik Peserta Pemilu adalah partai politik yang telah
memenuhi persyaratan sebagai Peserta Pemilu.
27. Perseorangan Peserta Pemilu adalah perseorangan yang telah
memenuhi persyaratan sebagai Peserta Pemilu.
28. Kampanye Pemilu adalah kegiatan Peserta Pemilu untuk
meyakinkan para Pemilih dengan menawarkan visi, misi, dan
program Peserta Pemilu.
29. Masa Tenang adalah masa yang tidak dapat digunakan untuk
melakukan aktivitas kampanye.
30. Bilangan Pembagi Pemilihan bagi Kursi DPR, selanjutnya
disingkat BPP DPR, adalah bilangan yang diperoleh dari
pembagian jumlah suara sah seluruh Partai Politik Peserta
Pemilu yang memenuhi ambangbatas tertentu dari suara sah
secara nasional di satu daerah pemilihan dengan jumlah kursi di
suatudaerah pemilihan untuk menentukan jumlah perolehan kursi
Partai Politik Peserta Pemilu.
31. Bilangan Pembagi Pemilihan bagi Kursi DPRD, selanjutnya
disingkat BPP DPRD, adalah bilangan yang diperoleh dari
pembagian jumlah suara sah dengan jumlah kursi di suatu
daerah pemilihan untukmenentukan jumlah perolehan kursi
Partai Politik Peserta Pemilu dan terpilihnya anggota DPRD
provinsi dan DPRD kabupaten/kota.

b. Tindak Pidana Pemilu tahap pemutakhiran data dan penyusunan


daftar pemilih (pasal 273,274,292,293,294 dan 295)

Pasal 273

Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak


benar mengenai diri sendiri atau diri orang lain tentang suatu hal yang
diperlukan untuk pengisian daftar Pemilih dipidana dengan pidana
kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp
12.000.000,00 (dua belas juta rupiah).

Pasal 274

Setiap anggota PPS atau PPLN yang dengan sengaja tidak


memperbaiki daftar pemilih sementara setelah mendapat masukan
dari masyarakat dan Peserta Pemilu sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 36 ayat (6), Pasal 37 ayat (2), dan Pasal 43 ayat (5) dipidana
dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan dan denda paling
banyak Rp 6.000.000,00 (enam juta rupiah).

Pasal 292

PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 15


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Setiap orang yang dengan sengaja menyebabkan orang lain


kehilangan hak pilihnya dipidana dengan pidana penjara paling lama 2
(dua) tahun dan denda paling banyak Rp24.000.000,00 (dua puluh
empat juta rupiah).

Pasal 293

Setiap orang yang dengan kekerasan, dengan ancaman kekerasan,


atau dengan menggunakan kekuasaan yang ada padanya pada saat
pendaftaran Pemilih menghalangi seseorang untuk terdaftar sebagai
Pemilih dalam Pemilu menurut Undang-Undang ini dipidana dengan
pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak
Rp36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah).

Pasal 294

Setiap anggota KPU, KPU Provinsi, KPU Kabupaten/Kota, PPK, PPS,


dan PPLN yang tidak menindaklanjuti temuan Bawaslu, Bawaslu
Provinsi, Panwaslu Kabupaten/Kota, Panwaslu Kecamatan, Pengawas
Pemilu Lapangan dan Pengawas Pemilu Luar Negeri dalam
melakukan pemutakhiran data Pemilih, penyusunan dan pengumuman
daftar pemilih sementara, perbaikan dan pengumuman daftar pemilih
sementara hasil perbaikan, penetapan dan pengumuman daftar
pemilih tetap, daftar pemilih tambahan, daftar pemilih khusus, dan
rekapitulasi daftar pemilih tetap yang merugikan Warga Negara
Indonesia yang memiliki hak pilih sebagaimana dimaksud dalam Pasal
50 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun
dan denda paling banyak Rp36.000.000,00 (tiga puluh enam juta
rupiah).

Pasal 295

Setiap anggota KPU Kabupaten/Kota yang sengaja tidak memberikan


salinan daftar pemilih tetap kepada Partai Politik Peserta Pemilu
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (5) dipidana dengan
pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak
Rp24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah).

c. Tindak Pidana Pemilu tahap pendaftaran dan ferivikasi (pasal 296 dan
298)

Pasal 296

Setiap anggota KPU, KPU Provinsi, dan KPU Kabupaten/Kota yang


tidak menindaklanjuti temuan Bawaslu,Bawaslu Provinsi, dan
Panwaslu Kabupaten/Kota dalam pelaksanaan verifikasi partai politik
calon Peserta Pemilu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (3)
dan/atau pelaksanaan verifikasi kelengkapan administrasi bakal calon
anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota
16 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 ayat (3) dan dalam Pasal 71


ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun
dan denda paling banyak Rp36.000.000,00 (tiga puluh enam juta
rupiah).

Pasal 298

Setiap orang yang dengan sengaja membuat surat atau dokumen


palsu dengan maksud untuk memakai ataumenyuruh orang memakai,
atau setiap orang yang dengan sengaja memakai surat atau dokumen
palsu untuk menjadi bakal calon anggota DPR, DPD, DPRD provinsi,
DPRD kabupaten/kota atau calon Peserta Pemilu sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 64 dan dalam Pasal 74 dipidana dengan
pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak
Rp72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).

d. Tindak Pidana Pemilu tahap Masa Kampanye Pemilu (pasal


275,276,278,279 ayat 1 dan ayat 2 , 280, 297, 299, 300, 301 ayat
1,303 ayat 1 dan 2, 304 ayat 1 dan ayat 2, pasal 305)

Pasal 275

Setiap orang yang mengacaukan, menghalangi, atau mengganggu


jalannya Kampanye Pemilu dipidana dengan pidana kurungan paling
lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 12.000.000,00 (dua
belas juta rupiah).

Pasal 276

Setiap orang yang dengan sengaja melakukan Kampanye Pemilu di


luar jadwal yang telah ditetapkan oleh KPU,KPU Provinsi, dan KPU
Kabupaten/Kota untuk setiap Peserta Pemilu sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 83 ayat (2), dipidana dengan pidana kurungan paling
lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp.12.000.000,00 (dua
belas juta rupiah).

Pasal 278

Setiap pegawai negeri sipil, anggota Tentara Nasional Indonesia dan


Kepolisian Negara Republik Indonesia, kepala desa, dan perangkat
desa yang melanggar larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
86 ayat (3) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu)
tahun dan denda paling banyak Rp 12.000.000,00 (duabelas juta
rupiah).

Pasal 279

(1) Pelaksana kampanye, peserta kampanye, dan petugas kampanye


yang dengan sengaja mengakibatkanterganggunya pelaksanaan
PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 17
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Kampanye Pemilu di tingkat desa atau nama lain/kelurahan


dipidana denganpidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan
denda paling banyak Rp 12.000.000,00 (dua belas jutarupiah).
(2) Pelaksana kampanye, peserta kampanye, dan petugas kampanye
yang karena kelalaiannya mengakibatkan terganggunya
pelaksanaan Kampanye Pemilu di tingkat desa atau nama
lain/kelurahan dipidana dengan pidana kurungan paling lama 6
(enam) bulan dan denda paling banyak Rp.6.000.000,00 (enam
juta rupiah).

Pasal 280

Peserta Pemilu yang dengan sengaja memberikan keterangan tidak


benar dalam laporan dana KampanyePemilu sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 134 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 135 ayat (1) dan
ayat (2)dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun
dan denda paling banyak Rp 12.000.000,00 (duabelas juta rupiah).

Pasal 297

Setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan curang


untuk menyesatkan seseorang, denganmemaksa, dengan menjanjikan
atau dengan memberikan uang atau materi lainnya untuk
memperolehdukungan bagi pencalonan anggota DPD dalam Pemilu
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 dipidanadengan pidana
dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling
banyak Rp36.000.000,00(tiga puluh enam juta rupiah).

Pasal 299

Setiap pelaksana, peserta, dan petugas Kampanye Pemilu yang


dengan sengaja melanggar larangan pelaksanaan Kampanye Pemilu
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf
c, hurufd, huruf e, huruf f, huruf g, huruf h, atau huruf i dipidana
dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling
banyak Rp24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah).

Pasal 300

Setiap Ketua/Wakil Ketua/ketua muda/hakim agung/hakim konstitusi,


hakim pada semua badan peradilan,Ketua/Wakil Ketua dan anggota
Badan Pemeriksa Keuangan, Gubernur, Deputi Gubernur Senior, dan
deputigubernur Bank Indonesia serta direksi, komisaris, dewan
pengawas, dan karyawan badan usaha miliknegara/badan usaha milik
daerah yang melanggar larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
86 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun
dan denda paling banyak Rp24.000.000,00 (dua puluh empat juta
rupiah).Pasal 301

18 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Pasal 301

(1) Setiap pelaksana Kampanye Pemilu yang dengan sengaja


menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya sebagai
imbalan kepada peserta Kampanye Pemilu secara langsung
ataupun tidak langsung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89
dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan
denda paling banya Rp.24.000.000,00 (dua puluh empat juta
rupiah).

Pasal 303

(1) Setiap orang, kelompok, perusahaan, dan/atau badan usaha


nonpemerintah yang memberikan dana Kampanye Pemilu
melebihi batas yang ditentukan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 131 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara
paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(2) Setiap Peserta Pemilu yang menggunakan kelebihan sumbangan,
tidak melaporkan kelebihan sumbangan kepada KPU, dan/atau
tidak menyerahkan kelebihan sumbangan kepada kas negara
paling lambat 14 (empat belas) hari setelah masa Kampanye
Pemilu berakhir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 131 ayat (4)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan
denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

Pasal 304

(1) Setiap orang, kelompok, perusahaan, dan/atau badan usaha


nonpemerintah yang memberikan dana Kampanye Pemilu
melebihi batas yang ditentukan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 133 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara
paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(2) Setiap Peserta Pemilu yang menggunakan kelebihan sumbangan,
tidak melaporkan kelebihan sumbangan kepada KPU, dan/atau
tidak menyerahkan kelebihan sumbangan kepada kas negara
paling lambat 14 (empat belas) hari setelah masa Kampanye
Pemilu berakhir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 133 ayat (4)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan
denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Pasal 305

Peserta Pemilu yang terbukti menerima sumbangan dana Kampanye


Pemilu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 dipidana dengan
pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak
Rp36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah).
PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 19
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

e. Tindak Pidana Pemilu tahap masa tenang (pasal 291,302 ayat 2)

Pasal 291

Setiap orang yang mengumumkan hasil survei atau jajak pendapat


tentang Pemilu dalam Masa Tenang sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 247 ayat (2), dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1
(satu) tahun dan denda paling banyak Rp 12.000.000,00 (dua belas
juta rupiah).

Pasal 302

(1) Anggota KPU, KPU Provinsi, KPU Kabupaten/ Kota, Sekretaris


Jenderal KPU, pegawai Sekretariat Jenderal KPU, sekretaris KPU
Provinsi, pegawai sekretariat KPU Provinsi, sekretaris
KPUKabupaten/Kota, dan pegawai sekretariat KPU
Kabupaten/Kota yang terbukti dengan sengaja melakukan tindak
pidana Pemilu dalam pelaksanaan Kampanye Pemilu dipidana
dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda
paling banyak Rp.24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah).

(2) Anggota KPU, KPU Provinsi, KPU Kabupaten/Kota, Sekretaris


Jenderal KPU, pegawai Sekretariat Jenderal KPU, sekretaris KPU
Provinsi, pegawai sekretariat KPU Provinsi, sekretaris KPU
Kabupaten/Kota, dan pegawai sekretariat KPU Kabupaten/Kota
yang terbukti karena kelalaiannya melakukan tindak pidana Pemilu
dalam pelaksanaan Kampanye Pemilu dipidana dengan pidana
penjara paling lama 1 (satu) tahun 6 (enam) bulan dan denda
paling banyak Rp.18.000.000,00 (delapan belas juta

f. Tindak Pidana Pemilu tahap pemungutan dan penghitungan suara


(pasal 281, 282, 283, 284, 301 ayat 3, 306, 307, 308, 309,310 dan
311)

Pasal 281

Seorang majikan/atasan yang tidak memberikan kesempatan kepada


seorang pekerja/karyawan untuk memberikan suaranya pada hari
pemungutan suara, kecuali dengan alasan bahwa pekerjaan tersebut
tidak bisa ditinggalkan dipidana dengan pidana kurungan paling lama
1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 12.000.000,00 (dua belas
juta rupiah).

Pasal 282

Setiap anggota KPPS/KPPSLN yang dengan sengaja tidak


20 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

memberikan surat suara pengganti hanya 1 (satu) kali kepada Pemilih


yang menerima surat suara yang rusak dan tidak mencatat surat suara
yang rusak dalam berita acara sebagaimana dimaksud dalam Pasal
156 ayat (2) dan Pasal 164 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan
paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 12.000.000,00
(dua belas juta rupiah).

Pasal 283

Setiap orang yang membantu Pemilih yang dengan sengaja


memberitahukan pilihan Pemilih kepada orang lain sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 157 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan
paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 12.000.000,00
(dua belas juta rupiah).

g. Tindak Pidana Pemilu tahap penetapan hasil pemilu (pasal 285, 286,
287, 288, 289 ayat 1 dan 2, 290, 312, 313, 314, 315, 316, 317, 318,
319, 320 dan 321)

Pasal 285

Setiap anggota KPPS/KPPSLN yang dengan sengaja tidak membuat


dan menandatangani berita acara kegiatan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 155 ayat (3) dan Pasal 163 ayat (3) dan/atau tidak
menandatangani berita acara pemungutan dan penghitungan suara
serta sertifikat hasil penghitungan suara sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 181 ayat (3) dipidana dengan pidana kurungan paling
lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 12.000.000,00 (dua
belas juta rupiah)

Pasal 286

Setiap orang yang karena kelalaiannya menyebabkan rusak atau


hilangnya berita acara pemungutan dan penghitungan suara dan/atau
sertifikat hasil penghitungan suara sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 181 ayat (4) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1
(satu) tahun dan denda paling banyak Rp 12.000.000,00 (dua belas
juta rupiah).

Pasal 287

Anggota KPU, KPU Provinsi, KPU Kabupaten/Kota, PPK, dan PPS


yang karena kelalaiannya mengakibatkan hilang atau berubahnya
berita acara rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara dan/atau
sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara dipidana
dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling
banyak Rp 12.000.000,00 (dua belas juta rupiah).

PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 21


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Pasal 288

Setiap anggota KPPS/KPPSLN yang dengan sengaja tidak


memberikan salinan 1 (satu) eksemplar berita acara pemungutan dan
penghitungan suara, serta sertifikat hasil penghitungan suara kepada
saksi Peserta Pemilu, Pengawas Pemilu Lapangan/Pengawas Pemilu
Luar Negeri, PPS/PPLN, dan PPK melalui PPS sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 182 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan
pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak
Rp 12.000.000,00 (dua belas juta rupiah)

Pasal 289

(1) Setiap Pengawas Pemilu Lapangan yang tidak mengawasi


penyerahan kotak suara tersegel dari PPS kepada PPK dan tidak
melaporkan kepada Panwaslu Kecamatan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 182 ayat (6) dipidana dengan pidana kurungan paling
lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 12.000.000,00
(dua belas juta rupiah).
(2) Setiap Panwaslu Kecamatan yang tidak mengawasi penyerahan
kotak suara tersegel dari PPK kepada KPU Kabupaten/Kota dan
tidak melaporkan kepada Panwaslu Kabupaten/Kota sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 182 ayat (7) dipidana dengan pidana
kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp
12.000.000,00 (dua belas juta rupiah).

22 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

BAB III

UNDANG-UNDANG NO. 2 TAHUN 2011 TENTANG


PERUBAHAN UNDANG UNDANG NO.2 TAHUN 2008
TENTANG PARTAI POLITIK

Pasal 3

(1) Partai Politik harus didaftarkan ke Kementerian untuk menjadi badan


hukum. (2) Untuk menjadi badan hukum sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), Partai Politik harus mempunyai:
a. akta notaris pendirian Partai Politik;
b. nama, lambang, atau tanda gambar yang tidak mempunyai
persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan nama,
lambang, atau tanda gambar yang telah dipakai secara sah oleh
Partai Politik lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan;
c. kepengurusan pada setiap provinsi dan paling sedikit 75% (tujuh
puluh lima perseratus) dari jumlah kabupaten/kota pada provinsi
yang bersangkutan dan paling sedikit 50% (lima puluh perseratus)
dari jumlah kecamatan pada kabupaten/kota yang bersangkutan;
d. kantor tetap pada tingkatan pusat, provinsi, dan kabupaten/kota
sampai tahapan terakhir pemilihan umum; dan
e. rekening atas nama Partai Politik.

Ketentuan Pasal 4 ayat (1) diubah sehingga Pasal 4 berbunyi sebagai


berikut:

Pasal 4

(1) Kementerian menerima pendaftaran dan melakukan penelitian


dan/atau verifikasi kelengkapan dan kebenaran sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3 ayat (2).
(2) Penelitian dan/atau verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan paling lama 45 (empat puluh lima) hari sejak diterimanya
dokumen persyaratan secara lengkap. (3) Pengesahan Partai Politik
menjadi badan hukum dilakukan dengan Keputusan Menteri paling
lama 15 (lima belas) hari sejak berakhirnya proses penelitian dan/atau
verifikasi. (4) Keputusan Menteri mengenai pengesahan Partai Politik
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diumumkan dalam Berita
Negara Republik Indonesia.
PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 23
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Pasal 16

(1) Anggota Partai Politik diberhentikan keanggotaannya dari Partai Politik


apabila:
a. meninggal dunia;
b. mengundurkan diri secara tertulis;
c. menjadi anggota Partai Politik lain; atau
d. melanggar AD dan ART.

(2) Tata cara pemberhentian keanggotaan Partai Politik sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) diatur di dalam AD dan ART.

Pasal 19

(1) Kepengurusan Partai Politik tingkat pusat berkedudukan di ibu kota


negara.
(2) Kepengurusan Partai Politik tingkat provinsi berkedudukan di ibu kota
provinsi.
(3) Kepengurusan Partai Politik tingkat kabupaten/kota berkedudukan di
ibu kota kabupaten/kota.
(3a) Kepengurusan Partai Politik tingkat kecamatan berkedudukan di ibu
kota kecamatan.
(4) Dalam hal kepengurusan Partai Politik dibentuk sampai tingkat
kelurahan/desa atau sebutan lain, kedudukan kepengurusannya
disesuaikan dengan wilayah yang bersangkutan.

Pasal 23

(1) Pergantian kepengurusan Partai Politik di setiap tingkatan dilakukan


sesuai dengan AD dan ART.

(2) Susunan kepengurusan hasil pergantian kepengurusan Partai Politik


tingkat pusat didaftarkan ke Kementerian paling lama 30 (tiga puluh)
hari terhitung sejak terbentuknya kepengurusan yang baru. (3)
Susunan kepengurusan baru Partai Politik sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) ditetapkan dengan Keputusan Menteri paling lama 7
(tujuh) hari terhitung sejak diterimanya persyaratan.
:
Pasal 29

(1) Partai Politik melakukan rekrutmen terhadap warga negara Indonesia


untuk menjadi: a. anggota Partai Politik; b. bakal calon anggota Dewan
Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah; c. bakal
calon kepala daerah dan wakil kepala daerah; dan d. bakal calon
Presiden dan Wakil Presiden. (1a) Rekrutmen sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf b dilaksanakan melalui seleksi kaderisasi secara
demokratis sesuai dengan AD dan ART dengan mempertimbangkan
24 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

paling sedikit 30% (tiga puluh perseratus) keterwakilan perempuan.

(2) Rekrutmen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dan huruf d
dilakukan secara demokratis dan terbuka sesuai dengan AD dan ART
serta peraturan perundang-undangan.
(3) Penetapan atas rekrutmen sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat
(1a), dan ayat (2) dilakukan dengan keputusan pengurus Partai Politik
sesuai dengan AD dan ART.

Pasal 45

Pembubaran Partai Politik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41


diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia oleh Kementerian.

PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 25


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

BAB IV

PERATURAN KAPOLRI NO.9 TAHUN 2011


TENTANG MANAJEMEN OPERASI KEPOLISIAN

Pasal 11

Jenis operasi kepolisian, terdiri dari:


a. Operasi kepolisian terpusat; dan
b. Operasi kepolisian kewilayahan

Pasal 12

(1) Operasi Kepolisian Terpusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal


11 huruf a merupakan operasi kepolisian yang manajemen operasinya
diselenggarakan oleh Mabes Polri.
(2) (2) Operasi Kepolisian Terpusat meliputi operasi yang dilaksanakan oleh:
a. Mabes Polri secara mandiri;
b. Mabes Polri yang melibatkan personel satuan kewilayahan
(Satwil); dan
c. Mabes Polri dan Satwil
(3) Operasi Kepolisian Terpusat sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf b merupakan operasi yang diselenggarakan dan
dikendalikan oleh Mabes Polri dengan melibatkan personel dari Satwil
sebagai anggota Satgas.
(5) Operasi Kepolisian Terpusat sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf c merupakan operasi yang diselenggarakan oleh Mabes
Polri dan Satwil, yang masing-masing melaksanakan fungsi
manajemen dengan bentuk dan waktu operasi ditetapkan oleh
Mabes Polri

Pasal 13

(1) Operasi Kepolisian Kewilayahan sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 11 huruf b dilaksanakan pada tingkat:
a. Polda; dan
b. Polres.

(2) Operasi Kepolisian Kewilayahan merupakan operasi kepolisian yang


manajemen operasinya diselenggarakan oleh Polda dan Polres.
(3) Operasi Kepolisian Kewilayahan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf a, meliputi operasi yang dilaksanakan oleh:
a. Polda secara mandiri;
b. Polda yang diback up Mabes Polri dan/atau melibatkan personel

26 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Polres; dan
c. Polda dan Polres.
(4) Operasi Kepolisian Kewilayahan sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) huruf a merupakan operasi yang diselenggarakan secara mandiri
oleh Polda.
(5) Operasi Kepolisian Kewilayahan sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) huruf b merupakan operasi yang diselenggarakan dan
dikendalikan oleh Polda dengan back up dari Mabes Polri dan/atau
melibatkan personel Polres sebagai anggota Satgas.
6) Operasi Kepolisian Kewilayahan sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) huruf c merupakan operasi kepolisian yang manajemen
operasinya diselenggarakan oleh Polda dan Polres.

Pasal 14

(1) Operasi Kepolisian Kewilayahan sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 13 ayat (1) huruf b meliputi operasi yang dilaksanakan oleh:
a. Polres secara mandiri; dan
b. Polres yang diback up Polda.

(2) Operasi Kepolisian Kewilayahan sebagaimana dimaksud pada ayat


(1) huruf a merupakan operasi yang diselenggarakan secara mandiri
oleh Polres.
(3) Operasi Kepolisian Kewilayahan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf b merupakan operasi yang diselenggarakan dan
dikendalikan oleh Polres dengan back up dari Polda sebagai anggota
Satgas.

Pasal 15

Sifat operasi kepolisian:


a. terbuka; atau
b. tertutup.

Sifat operasi kepolisian:


a. terbuka; atau
b. tertutup.

Pasal 17

(1) Bentuk operasi kepolisian, meliputi:

a. operasi intelijen;
b. operasi pengamanan kegiatan;
c. operasi pemeliharaan keamanan;
d. operasi penegakan hukum;
e. operasi pemulihan keamanan; dan
f. operasi kontinjensi.

(2) Operasi intelejen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a


PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 27
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

diselenggarakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan


tersendiri.
Pasal 23

Fungsi Manajemen Operasi Kepolisian diselenggarakan melalui tahap:

a. perencanaan;
b. pengorganisasian;
c. pelaksanaan; dan
d. pengendalian

Pasal 24

Perencanaan dalam penyelenggaraan operasi kepolisian terpusat yang


dilaksanakan oleh Mabes Polri secara mandiri, dilakukan dengan tahapan
kegiatan sebagai berikut:

a. penyusunan direktif Kapolri tentang rencana penyelenggaraan operasi


kepolisian;
b. penyusunan Kirsus intelijen dibuat oleh Baintelkam Polri;
c. rapat koordinasi dengan fungsi-fungsi yang dilibatkan atau instansi
terkait;
d. penyusunan rencana Teknologi Informasi (TI) dibuat oleh Divisi TI
Polri;
e. penyusunan Renops atau Renops Kontinjensi;
f. penyusunan surat perintah pelaksanaan operasi (Sprinlakops);
g. penyusunan rencana latihan (Renlat) dan penyelenggaraan latihan
praoperasi (Latpraops);
h. penyusunan dan pengiriman PO;
i. penyiapan format dan/atau belangko dan dokumen lain yang
diperlukan;
j. penyusunan hubungan dan tata cara kerja (HTCK) operasi kepolisian;
k. penyiapan tanda pengenal operasi kepolisian, bila diperlukan;
l. penyaluran anggaran kepada yang berhak sesuai ketentuan yang
berlaku;
m. pengecekan akhir dan pembagian dukungan sarana prasarana operasi
kepolisian sesuai kebutuhan; dan
n. penyiapan ruang posko operasi yang berisi piranti lunak, piranti keras
dan panel data dalam bentuk digital.

Pasal 30

(1) Sebutan pejabat operasi kepolisian terpusat yang dilaksanakan oleh


Mabes Polri dan Satwil, untuk membedakannya di belakang nama
jabatan dalam struktur organisasi operasi ditambahkan pusat (pus),
daerah (da), atau Polres (res).

Pasal 34

Perencanaan dalam penyelenggaraan operasi kepolisian


28 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

kewilayahan yang dilaksanakan oleh Polda secara mandiri dengan


tahapan kegiatan sebagai berikut:

a. melaporkan kepada Kapolri tentang rencana penyelenggaraan operasi


kepolisian;
b. penyusunan dan pengiriman direktif Kapolda kepada Kasatwil
dan/atau Kasatker yang akan dilibatkan dalam operasi kepolisian;
c. penyusunan Kirsus intelijen dibuat oleh Ditintelkam Polda;
d. rapat koordinasi dengan fungsi-fungsi yang dilibatkan atau instansi
terkait;
e. penyusunan rencana TI dibuat oleh Bidang TI Polda
f. penyusunan Renops atau Renops kontinjensi;
g. penyusunan Sprinlakops;
h. penyusunan Renlat dan penyelenggaraan Latpraops;
i. penyusunan dan pengiriman PO;
j. penyiapan format dan/atau belangko dan dokumen lain yang
diperlukan;
k. penyusunan HTCK operasi kepolisian;
l. penyiapan tanda pengenal operasi kepolisian, bila diperlukan;
m. penyaluran anggaran kepada yang berhak sesuai ketentuan yang
berlaku;
n. pengecekan akhir dan pembagian dukungan sarana prasarana operasi
kepolisian sesuai kebutuhan; dan
o. penyiapan ruang posko operasi yang berisi piranti lunak, piranti
keras dan panel data dalam bentuk digital.

Pasal 38

Pengorganisasian dalam penyelenggaraan operasi kepolisian kewilayahan


meliputi:

a. Penanggung Jawab Kebijakan Operasi;


b. Wakil Penanggung Jawab Kebijakan Operasi;
c. Karendalops;
d. Kaops;
e. Wakaops;
f. Kasetops;
g. Kapusdataops; dan
h. Kasatgas.

Rangkuman

Peserta latihan dapat diharapkan menerapkan pasal-pasal dalam


pengamanan pemilu

PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 29


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Latihan
1. Jelaskan pasal-pasal tertentu Undang-undang No.15 tahun 2011
tentang penyelenggaraan pemilu (pasal 3, 6, 8, 40, 41, 46, 47) !
2. Identifikasi pelanggaran tindak pidana pemilu !
3. Jelaskan ketentuan umum tentang Undang-undang No.8 tahun 2012
tentang pemilu anggota DPR pasal 1 !
4. Jelaskan pelanggaran tindak pidana UU pemilu tahap pemutakhiran
data dan penyusunan daftar Pemilih (pasal 273, 274, 292, 293, 294
dan pasal 295) !
5. Jelaskan pelanggaran tindak pidana UU pemilu tahap pendaftaran dan
verivikasi peserta pemilu (pasal 296 dan 298) !
6. Jelaskan pelanggaran tindak pidana UU pemilu tahap masa kampanye
pemilu (pasal 275, 276, 277, 278, 279 ayat 1 dan 2, 280, 297, 299,
300, 301 ayat 1, pasal 303 ayat 1 dan 2, pasal 304 ayat 1 dan 2 dan
pasal 305) !
7. Jelaskan pelanggaran tindak pidana UU pemilu tahap masa tenang
(pasal 291, 301 ayat 2) !
8. Jelaskan pelanggaran tindak pidana UU pemilu tahap pemungutan
dan penghitungan suara (pasal 281, 282, 283, 284, 301 ayat 3, 306,
307, 308, 309, 310 dan 311 ) !
9. Jelaskan pelanggaran tindak pidana UU pemilu tahap penetapan hasil
pemilu (pasal 285, 286, 287, 288, 289 ayat 1 dan 2, 290, 312, 313,
314, 315, 316, 317, 318, 319, 320 dan 321) !
10. Jelaskan pasal-pasal tertentu dalam Undang-undang No.12 tahun
2011 tentang perubahan Undang-undang No.2 tahun 200 tentang
partai Politik (pasal 3, 4, 16, 19, 23, 29, 45) !
11. Identifikasi pelanggaran pidana yang berkaitan dengan partai politik.
12. Jelaskan Peraturan Kapolri No.9 tahun 2011 tentang manajemen
Kepolisian ((pasal 11, 12, 13, 14, 15, 17, 23, 24, 30, 34, 38) !

30 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

MODUL 2
DAFTAR ISI

PENGANTAR....................... 1

STANDAR KOMPETENSI............... 1

KOMPETENSI............... 1

MATERI POKOK............... 2

METODE................ 2

BAHAN DAN ALAT............... 2

PROSES PELATIHAN.............. 3

TAGIHAN/TUGAS............. 4

LEMBAR KEGIATAN................ 4

BAHAN BACAAN.................. 5

BAB I : TINJAUAN SOSIOLOGIS MASYARAKAT DAN KONDISI


DAERAH (ASTA GATRA)................................................................... 5

BAB II : TAHAPAN-TAHAPAN PEMILIHAN ANGGOTA LEGISLATIF............ 8

BAB III : TAHAPAN-TAHAPAN PEMILIHAN PRESIDEN DAN WAKIL


PRESIDEN PADA PUTARAN I DAN II............................................... 10

RANGKUMAN.................. 11

LATIHAN................... 11

PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Modul TAHAPAN TAHAPAN PEMILU


2 4 JP (180 MENIT)

Pengantar

Modul ini akan membahas tentang tahapan-tahapan dalam pemilu, baik


pemilu legislatif maupun pemilu presiden dan wakil presiden.

Tujuan modul ini adalah agar peserta pelatihan memahami tentang


tahapan-tahapan dalam pemilu

Standar Kompetensi

Memahami tahapan - tahapan Pemilu

Kompetensi

1. Memahami Tinjauan sosiologis masyarakat dan kondisi daerah (Asta


Gatra)

Indikator :

a. Menjelaskan tinjauan sosiologis bidang ideologi;


b. Menjelaskan tinjauan sosiologis bidang politik;
c. Menjelaskan tinjauan sosiologis bidang ekonomi;
d. Menjelaskan tinjauan sosiologis bidang sosial budaya;
e. Menjelaskan tinjauan sosiologis bidang pertahanan keamanan;
f. Menjelaskan kondisi daerah berdasarkan tinjauan geografis;
g. Menjelaskan kondisi daerah berdasarkan tinjauan demografis;
h. Menjelaskan kondisi daerah berdasarkan tinjauan sumber daya
alam.

PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 1


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

2. Memahami tahapan-tahapan pemilihan anggota legislatif

Indikator :

a. Menjelaskan tahap persiapan;


b. Menjelaskan tahapan penyelenggaraan;
c. Menjelaskan tahapan penyelesaian.

3. Memahami tahapan-tahapan pemilihan presiden dan wakil presiden

Indikator :

a. menjelaskan tahap persiapan;


b. menjelaskan tahapan penyelenggaraan;
c. menjelaskan tahapan penyelesaian.

Materi Pokok

1. Tinjauan sosiologis masyarakat dan kondisi daerah (Asta Gatra);


2. Tahapan-tahapan pemilihan anggota legislatif;
3. Tahapan-tahapan pemilihan presiden dan wakil presiden;

Metode

1. Ceramah;
2. Brain storming (curah pendapat);
3. Diskusi.

Bahan/referensi dan Alat

Sumber Belajar/referensi

a. Undang-undang Nomor :8 Tahun 2012 tentang pemilu legislatif


b. Keputusan Kabareskrim Polri No.Kep/19/V/2013/Bareskrim tentang
Buku pedoman penyidikan tindak pidana pemilu
c. Buku panduan penanganan tindak pidana pemilu calon lesgilatif
tahun 2014

2 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Alat

a. Whiteboard;
b. Papan Flipchart;
c. Kertas Flipchart;
d. Komputer / Laptop;
e. LCD dan Layar;
f. Spidol;
g. Penghapus.

Proses Pelatihan

1. Tahap Awal : 15 menit.


a. Pelatih/instruktur/fasilitator memperkenalkan diri kepada
peserta pelatihan.
b. Para peserta pelatihan memperkenalkan diri secara singkat
kepada pelatih/instruktur/fasilitator.
c. Pelatih/instruktur/fasilitator menyampaikan tujuan pelatihan
kepada peserta pelatihan.
d. Pelatih/ instruktur/ fasilitator melakukan pencairan suasana
kelas agar tercipta interaksi antara pelatih/instruktur/fasilitator
dan peserta pelatihan.
e. Pelatih/instruktur/fasilitator melakukan apersepsi dengan
menanyakan kepada peserta pelatihan tentang materi yang
akan dipelajari.

2. Tahap Inti : 150 menit.


a. Pelatih/instruktur/fasilitator menjelaskan materi tentang
Tinjauan sosiologis masyarakat dan kondisi daerah (Asta
Gatra)
Waktu 40 menit

b. Pelatih menugaskan peserta pelatihan untuk mendiskusikan


materi tentang :
- Kelompok I mendiskusikan tentang Tahapan pemilu
pemilihan anggota legislative
- Kelompok II mendiskusikan tentang Tahapan pemilu
pemilihan presiden dan wakil presiden
- Pelatih memfasilitasi jalannya diskusi
Waktu : 30 menit.

c.
Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi, kemudian
ditanggapi oleh kelompok lain dengan waktu masing-masing
kelompok 10 menit (2 pok @10 menit).
Waktu : 20 menit.
PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 3
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

d. Pelatih/instruktur/fasilitator menjelaskan materi tentang tahapan


pemilu pemilihan legislatif dan pemilihan presiden dan wakil
presiden
Waktu 60 menit

3. Tahap akhir : 15 menit.


a. Cek penguasaan materi :
Pelatih/instruktur/fasilitator mengecek penguasaan materi
pelatihan dengan cara bertanya secara lisan dan acak kepada
peserta pelatihan.
Waktu : 10 menit.

b. Learning point :
Pelatih/instruktur/fasilitator dan peserta merumuskan learning
point dari materi pelatihan.
Waktu : 5 menit.

Tagihan/Tugas

- Peserta pelatihan mengumpulkan hasil diskusi kelompok dan


diserahkan kepada pelatih/instruktur/fasilitator.

Lembar Kegiatan

Materi diskusi tentang :


- Kelompok I mendiskusikan tentang Tahapan pemilu pemilihan
anggota legislative
- Kelompok II mendiskusikan tentang Tahapan pemilu pemilihan
presiden dan wakil presiden

4 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Bahan Bacaan

BAB I

TINJAUAN SOSIOLOGIS MASYARAKAT DAN KONDISI


DAERAH (ASTA GATRA)

Kondisi sosiologis masyarakat dan kondisi daerah bila ditinjau dari


Astagatra dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Tinjauan sosiologis bidang ideology

Adanya kelompok yang berpandangan nasionalisme sempit dan


menjurus kepada gerakan sparatisme, dan lain-lain. Sehingga
masyarakat cenderung ingin mengubah pancasila dengan ideologi
lain, maka lunturnya wawasan kebangsaan dan nasionalisme
tersebut perlu disikapi sebagai sumber potensi kerawanan konflik
yang dapat mengganggu stabilitas nasional.

2. Tinjauan sosiologis bidang politik

Tinjauan sosiologis bidang politik terdiri dari :

a. Adanya pihak yang kecewa / tidak terakomodir aspirasinya


sehingga bentuk partai baru;
b. Meningkatnya upaya kelompok penekan untuk membentuk
pencitraan bagi kepentingan pemilu;
c. Pelaksanaan unjuk rasa cenderung tidak terkendali, kebablasan
dan melanggar hukum;
d. Kebebasan pers cenderung tidak terkendali yang berakibat
terjadi kasus pidana.

3. Tinjauan sosiologis bidang ekonomi

a. Naiknya harga minyak dunia tidak diimbangi oleh tingginya


daya beli masyarakat;
b. Berulangnya kenaikan dan kelangkaan barang rumah tangga;
c. Masih enggannya investor asing menanmkan modalnya di
Indonesia;
d. Nilai tukar dolar terhadap rupiah sangat fluktuatif dan mudah
terkena isu politis;
e. Penambahan jumlah armada transportasi laut dan udara
tanpa memperhatikan keamanan;
PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 5
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

f. Kebijakan penambahan jumlah kendaraan bermotor tidak


diimbangi dengan pembangunan jalan raya;
g. Pembangunan gedung perkantoran /pemukiman yang tidak
memperhatikan analisa mengenai dampak lingkungan.

4. Tinjauan sosiologis bidang sosial budaya;

a. Naiknya harga minyak dunia tidak diimbangi oleh tingginya


daya beli masyarakat;
b. Berulangnya kenaikan dan kelangkaan barang rumah tangga;
c. Masih enggannya investor asing menanamkan modalnya di
Indonesia;
d. Nilai tukar dolar terhadap rupiah sangat fluktuatif dan mudah
terkena isu politis;
e. Penambahan jumlah armada transportasi laut dan udara tanpa
memperhatikan keamanan;
f. Kebijakan penambahan jumlah kendaraan bermotor tidak
diimbangi dengan pembangunan jalan raya;
g. Pembangunan gedung perkantoran /pemukiman yang tidak
memperhatikan analisa mengenai dampak lingkungan.

5. Tinjauan sosiologis bidang pertahanan keamanan

a. Mulai hilangnya semangat gotong royong , terkikisnya asas


musyawarah mufakat;
b. Pemahaman & implementasi tentang ajaran agama yang belum
berkembang secara baik;
c. Penertiban bangunan liar menimbulkan perlawanan dari warga;
d. Banyaknya pendatang dari luar jakarta;
e. Masalah perburuhan masih bergulir
f. Masih tinggi angka kemacetan di wiayah hukum Polda
khususnya daerah perkotaan
g. Tingginya penolakan terhadap rumah tinggal untuk ibadah , dan
lain-lain.

6. Kondisi daerah berdasarkan tinjauan geografis

a. Letak geografi Indonesia berada pada posisi silang di antara dua


benua yaitu Asia dan Australia, diapit dua samudera yaitu
samudera pasifik dan samudera hindia dan berbatasan langsung
dengan 10 (sepuluh) negara
b. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia,
dengan jumlah pulau sebanyak 17.506 pulau, termasuk 92
pulau-pulau kecil terluar
c. Kondisi letak Indonesia yang berada pada kawasan lempeng
indo australia, lempeng eurasia dan lempeng pasifik, merupakan
kerawanan terhadap terjadinya berbagai bencana alam baik
6 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

gempa bumi vulkanik, tektonik maupun tsunami.


d. Iklim indonesia yang merupakan iklim tropis dengan dua musim
yaitu musim kemarau dan musim hujan.

7. Kondisi daerah berdasarkan tinjauan demografis

a. Jumlah penduduk indonesia tahun 2010, tercatat sebanyak +


259.940.857 jiwa terdiri atas 132.240.055 laki-laki dan
127.700.802 perempuan, menempati urutan nomor empat
terbesar didunia.
b. Keragaman budaya, etnis, agama, suku dan ras
c. Jumlah penduduk yang sangat besar, penambahan jumlah
penduduk yang sangat cepat, penyebaran dan kepadatan yang
tidak merata, yang tidak diimbangi dengan penyediaan lapangan
kerja yang memadai, fasilitas pendidikan, kesehatan dan
kebutuhan hidup lainnya.

8. Kondisi daerah berdasarkan tinjauan sumber daya alam

a. Kondisi sumber daya alam indonesia merupakan potensi bagi


pemasukan devisa negara dan peningkatan perekonomian
rakyat.
b. Apabila tidak dikelola dan diamankan dengan baik, juga
merupakan potensi kerawanan

PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 7


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

BAB II

TAHAPAN-TAHAPAN PEMILIHAN ANGGOTA LEGISLATIF

1. Tahap persiapan

a. Susunan tata kerja Komisi Pemilihan Umum ( KPU) provinsi /


kabupaten / kota,dilaksanakan oleh KPU
b. Pendaftaran pemantau dan pemantauan pemilu dilaksanakan
oleh KPU, KPU provinsi dan KPU kabupaten / kota
c. Seleksi anggota KPU provinsi / kabupaten / kota, dilaksanakan
oleh KPU, dan KPU provinsi
d. Pengelolaan data dan informasi ,dilaksanakan oleh KPU
e. Distribusi logistik dan perlengkapan pemungutan suara,
dilaksanakan oleh SETJEN KPU, SET KPU PROVINSI, SET KPU
KABUPATEN/KOTA

2. Tahapan penyelenggaraan

a. Pendaftaran, verifikasi tahap / pengumuman dan pengundian


serta penetapan no.urut parpol peserta pemilu, dilaksanakan
oleh KPU.
b. Pemutakhiran dan penyusunan datar pemilih serta penetapan
Daftar Pemilih Tetap (DPT), dilaksanakan oleh pemerintah
daerah kepada kpu, kpu provinsi dan mendagri, gubernur,
kpu kabupaten/kota serta data wni di luar negeri bupati dan
walikota serta menteri luar negeri.
c. Penyusunan dan penetapan Daftar Pemilih Tetap (DPT) luar
negeri ,dilaksanakan oleh Panitia Pemungutan Luar Negri
(PPLN) dibantu oleh Panita Daftar Pemilih (PANTARLIH)
d. Penataan dan penetapan Daftar Pemilih, dilaksanakan oleh
dilaksanakan oleh KPU pusat, provinsi, kabupaten/kota
e. Pendaftaran calon anggota DPR, DPD dan DPRD, dilaksanakan
oleh KPU, verifikasi administrasi dan faktual kepada KPU
provinsi dan KPU kabupaten/kota
f. Pengumuman DaftarCalon Tetap (DCT) ANGGOTA DPR, DPRD
PROVINSI dan DPRD KABUPATEN/KOTA diumumkan oleh
KPU, DPRD kabupaten/kota KPU provinsi dan KPU
kabupaten/kota sesuai tingkatannya
g. Kampanye: (temu terbatas tatap muka dan pemasangan alat
peraga) dilaksanakan oleh peserta PEMILU.
h. Kampanye: (rapat umum dan iklan di media massa/elektronik
dilaksanakan oleh peserta pemilu .
i. Masa tenang dilaksanakan oleh seluruh peserta pemilu

8 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

j. Pemungutan suara dilaksanakan oleh KPPS


k. Rekapitulasi pemungutan suara dilaksanakan oleh PPS/PPLN,
PPK, KPU KAB/KOTA/PROV
l. Penetapan hasil pemilu secara nasional dan penetapan partai
politik memenuhi ambang batas dilaksanakan oleh KPU
m. Penetapan kursi dan calon terpilih anggota DPR dan DPD
ditetapkan oleh KPU
n. Penetapan perolehan kursi dan calon terpilih, DPRD PROV,
KAB/KOTA ditetapkan oleh KPU provinsi
o. Pengucapan sumpah dan janji anggota DPRD kabupaten/kota
terpilih oleh sekretariat DPRD kabupaten/kota
p. Pengucapan sumpah/janji anggota DPRD PROV terpilih oleh
sekretariat DPRD provinsi
q. Pengucapan sumpah/janji anggota DPR dan DPD oleh
sekretariat jenderal DPR

3. Tahapan penyelesaian.

a. Pengajuan perselisihan hasil pemilu anggota DPR, DPD dan


DPRD kepada mahkamah konstitusi dilaksanakan oleh parpol
peserta pemilu- caleg
b. Penyusunan laporan penyelenggaraan pemilu dilakukan oleh
KPU,KPUprovinsi,KPU kabupaten/ kota
c. Penyusunan laporan keuangan dilaksanakan oleh penyusunan
laporan keuangan

PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 9


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

BAB III

TAHAPAN-TAHAPAN PEMILIHAN PRESIDEN DAN


WAKIL PRESIDEN PADA PUTARAN I DAN II

1. Tahap persiapan
a. Pemutakhiran dan penyusunan daftar pemilih dan penetapan
daftar pemilih dilaksanakan KPU pusat, provinsi, kabupaten /
kota bawaslu masyarakat pemilih
b. Pengumuman dps dan tanggapan masyarakat dilaksanakan oleh
KPU pusat,kota/kabupaten,Bawaslu dan masyarakat pemilih.
c. Perbaikan DPS hasil tanggapan masyarakat oleh PPS
dilaksanakan oleh KPU pusat,kota/kabupaten,Bawaslu dan
masyarakat pemilih
d. Penetapan Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan rekapitulasi oleh
KPU kab / kota, provinsi, dan nasional dilaksanakan KPU pusat,
provinsi dan mendagri, gubernur, kabupaten/kota serta data
WNI di luar negeri bupati dan walikota serta menteri luar negeri.
e. Pendaftaran pasangan capres cawapres dilaksanakan oleh
KPU,Bawaslu, partai politik, tim kampanye/suskes, paslon
caprres/cawapres.
f. Proses verifikasi administrasi persyaratan capres dan cawapres
dilaksanakan oleh KPU,paslon capres/cawapres
g. Verifikasi dukungan partai politik / gabungan partai politik
terhadap paslon capres dan cawapres dilaksanakan oleh
KPU,Bawaslu, partai politik, tim kampanye/suskes, paslon
caprres/cawapres
h. Penetapan nama-nama capres - cawapres dan pengambilan
nomor urut serta penetapan nomor urut dan pengumuman
paslon presiden dan wapres dilaksanakan oleh KPU,Bawaslu,
partai politik, tim kampanye/suskes, paslon caprres/cawapres

2. Tahap penyelenggaraan
a. Kampanye dilaksanakan oleh peserta pemilu 2014 (paslon
capres-cawapres, timses, parpol)
b. Masa tenang dilaksanakan oleh seluruh peserta pemilu 2014
c. Pemungutan dan penghitungan suara dilaksanakan oleh KPPS

3. Tahap penyelesaian
a. Penetapan hasil hitung suara, dilaksanakan KPPS,
b. Pengucapan sumpah janji Presiden dan wakil presiden.

10 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Rangkuman

1. Dalam pelaksanaan pemilu sebaiknya memahami terlebih dahulu


tentang tinjauan sosiologis masyarakat dan kondisi daerah yang
meliputi tinjauan ideologi,politik,ekonomi,sosial budaya, keamanan,
geografis, demografis dan sumber daya alam.
2. Sebagai anggota Polri, dalam melaksanakan pengamanan pemilu
harus memahami setiap tahapan tahapan pemilu legislative dan
pemilu presiden dan wakil presiden;
3. Tahapan-tahapan pemilu meliputi ;
- Tahap persiapan;
- Tahap penyelenggaraan;
- Tahap penyelesaian.

Latihan

1. Jelaskan tentang tinjauan sosiologis masyarakat, dalam rangka


pengamanan pemilu!
2. Jelaskan tinjauan kondisi daerah dalam rangka pengamanan pemilu!
3. Jelaskan pentahapan pelaksanaan pemilu legislative!
4. Jelaskan pentahapan pelaksanaan pemilu pemilihan presiden dan
wakil presiden!.

PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 11


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

MODUL 3
DAFTAR ISI

PENGANTAR....................... 1

STANDAR KOMPETENSI............... 1

KOMPETENSI............... 1

MATERI POKOK............... 2

METODE................ 2

BAHAN DAN ALAT............... 2

PROSES PELATIHAN.............. 3

TAGIHAN/TUGAS............. 4

LEMBAR KEGIATAN................ 4

BAHAN BACAAN.................. 5

BAB I : POTENSI KERAWANAN DAN CARA BERTINDAK PADA


PEMILIHAN LEGISLATIF.................................................................... 5

BAB II : POTENSI KERAWANAN DAN CARA BERTINDAK PADA


PEMILIHAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN............................. 9

RANGKUMAN.................. 13

LATIHAN................... 13

PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

KERAWANAN / GANGGUAN KAMTIBMAS


Modul PADA SETIAP TAHAPAN PEMILU

3
6 JP (270 menit)

Pengantar

Dalam modul ini membahas materi tentang kerawanan / gangguan


kamtibmas pada setiap tahapan pemilu. Tujuan modul ini adalah
memberikan petunjuk tentang kerawanan / gangguan kamtibmas serta
cara bertindak pada setiap tahapan pemilu.

Standar Kompetensi

Mampu mengidentifikasi kerawanan/gangguan kamtibmas dan cara


bertindak pada tahapan pemilu;

Kompetensi

1. Menjelaskan potensi kerawanan dan cara bertindak pada pemilihan


legislatif
Indikator:
a. Menjelaskan potensi kerawanan dan cara bertindak pada tahap
persiapan;
b. Menjelaskan potensi kerawanan dan cara bertindak pada tahap
penyelenggaraan;
c. Menjelaskan potensi kerawanan dan cara bertindak pada tahap
penyelesaian.

2. Menjelaskan potensi kerawanan dan cara bertindak pada pemilihan


Presiden dan wakil presiden
Indikator
a. Menjelaskan potensi kerawanan dan cara bertindak pada tahap
Persiapan;
PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 1
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

b. Menjelaskan potensi kerawanan dan cara bertindak pada tahap


persiapan;
c. Menjelaskan potensi kerawanan dan cara bertindak pada tahap
penyelenggaraan;
d. Menjelaskan potensi kerawanan dan cara bertindak pada tahap
penyelesaian.

Materi Pokok

a. Potensi kerawanan dan cara bertindak pada pemilihan legislatif;


b. Potensi kerawanan dan cara bertindak pada pemilihan Presiden dan
wakil presiden.

Metode

1. Ceramah ;
2. Tanya jawab;

Bahan/REFERENSI dan Alat

1. Bahan/referensi.
a. Undang-undang No.8 tahun 2012 tentang pemilu legislatif;
b. Keputusan Kabareskrim Polri No.Kep/19/V/2013/Bareskrim
tentang Buku pedoman penyidikan tindak pidana pemilu.

2. Alat.
a. Whiteboard;
b. Flipchart;
c. Kertas flipchart;
d. Komputer/laptop;
e. LCD dan screen;
f. Alat tulis;

2 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Proses Pelatihan

1. Tahap awal: 15 menit


a. Pelatih/instruktur/fasilitator memperkenalkan diri kepada para
peserta pelatihan;
b. Para peserta pelatihan memperkenalkan diri secara singkat
kepada pelatih/instruktur/fasilitator dan peserta lainnya;
c. Pelatih/instruktur/fasilitator melakukan pencairan suasana kelas
agar tercipta interaksi antara pelatih/instruktur/fasilitator dan
peserta;
d. Pelatih/instruktur/fasilitator melakukan apersepsi dengan
menanyakan kepada peserta pelatihan tentang materi yang
akan dipelajari.

2. Tahap inti: 130 menit.


a. Pelatih/instruktur/fasilitator menjelaskan materi potensi
kerawanan dan cara bertindak pada pemilihan legislatif ,
peserta pelatihan memperhatikan, mencatat hal-hal yang
penting, bertanya apabila ada materi yang belum dimengerti
atau dipahami.
Waktu: 15 menit.
b. Pelatih/instruktur/fasilitator menjelaskan materi potensi
kerawanan dan cara bertindak pada pemilihan presiden dan
wakil presiden.Peserta pelatihan memperhatikan, mencatat hal-
hal yang penting, bertanya apabila ada materi yang belum
dimengerti atau dipahami.
Waktu: 20 menit.
c. Pelatih/instruktur/fasilitator membagi peserta dalam 3 kelompok
dan menyampaikan topik-topik yang akan didiskusikan:
1) Kelompok satu membahas potensi kerawanan dan cara
bertindak dalam pemilihan anggota legislatif,
Presiden/Wapres pada tahap persiapan;
2) Kelompok satu membahas potensi kerawanan dan cara
bertindak dalam pemilihan anggota legislatif,
Presiden/Wapres pada tahap penyelenggaraan;
3) Kelompok dua membahas potensi kerawanan dan cara
bertindak dalam pemilihan anggota legislatif,
Presiden/Wapres pada tahap penyelesaian.
Waktu: 10 menit.
d. Peserta pelatihan secara berkelompok mendiskusikan topik
yang telah ditetapkan oleh pelatih/instruktur/fasilitator.
Waktu: 30 menit.
e. Pelatih/instruktur/fasilitator memantau kegiatan diskusi pada
setiap kelompok dan memberikan saran masukan terhadap
proses diskusi;
f.
Peserta pelatihan membuat laporan hasil diskusi secara tertulis;
Waktu: 10 menit.
PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 3
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

g. Pelatih/instruktur/fasilitator meminta setiap kelompok untuk


mempresentasikan hasil diskusi;
h. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi dan
ditanggapi oleh kelompok yang lain;
Waktu: 40 menit.
i. Pelatih/instruktur/fasilitator membahas dan menyimpulkan hasil
diskusi kelompok;
Waktu: 5 menit.

3. Tahap Akhir: 25 menit.


a. Penguatan Materi.
Pelatih/instruktur/fasilitataor memberikan ulasan dan penguatan
materi secara umum;
Waktu: 15 menit.
b. Learning Point.
Pelatih/instruktur/fasilitator merumuskan learning point/koreksi
dan kesimpulan dari materi pelatihan yang disampaikan kepada
peserta pelatihan.
Waktu: 10 menit.

Tagihan/Tugas

Peserta latihan memberikan laporan Hasil diskusi kelompok kepada


Instruktur /pelatih

Lembar Kegiatan

Melaksanakan diskusi kelompok dengan materi


1. Potensi kerawanan dan cara bertindak dalam pemilihan anggota
legislatif, Presiden/Wapres pada tahap persiapan;
2. Potensi kerawanan dan cara bertindak dalam pemilihan anggota
legislatif, Presiden/Wapres pada tahap penyelenggaraan;
3. Potensi kerawanan dan cara bertindak dalam pemilihan anggota
legislatif ,Presiden/Wapres pada tahap penyelesaian.

4 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

BAHAN BACAAN

BAB I

POTENSI KERAWANAN DAN CARA BERTINDAK PADA


PEMILIHAN LEGISLATIF

1. Potensi kerawanan dan cara bertindak pada tahap persiapan

Distribusi logistik dan perlengkapan pemungutan suara


dimungkinkan:Bisa terjadi keterlambatan, kekurangan, hilang/rusak,
Perusahaan percetakan tidak tepat waktu, salah alamat pengiriman,
logistik pemilu, rusak, kecelakaan dan kebocoran sehingga surat
suara tersebar sebelum pencoblosan

Cara bertindak

Melakukan pengamanan di percetakan atau diperusahaan yang


menjadi rekanan KPU dan melaksanakan pengawalan
pendistribusian logistik dari percetakan sampai ke tingkat TPS
(percetakan, KPU/KPUD, PPK, PPS dan TPS). Kekuatan
pengamanan/pengawalan disesuaikan dengan situasi kondisi

2. Potensi kerawanan dan cara bertindak pada tahap


Penyelenggaraan

a. Pendaftaran parpol dilanjutkan dengan pelaksanaan verifikasi


tahap/pengumuman dan pengundian serta penetapan no.urut
parpol peserta pemilu

Cara bertindak :
Melakukan pengamanan pada tingkat KPU /KPUD di wilayah
masing-masing dengan disesuaikan kondisi wilayah minimal
setingkat pleton (SST) maksimal setingkat kompi (SSK)

b. Pemutakhiran dan penyusunan datar pemilih serta penetapan


DPT

(Daftar Pemilih Tetap) dimana masih adanya tidak setujunya /


tidak mau menanda tangani berita acara penetapan DPT dengan
alasan masih banyak adanya DPT ganda dan bermasalah
(pengumuman di KPU Pusat atau tempat lain)

PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 5


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Cara bertindak :

Melakukan pengamanan pada tingkat KPU /KPUD di wilayah


masing-masing dengan disesuaikan kondisi wilayah minimal
setingkat pleton (SST) maksimal setingkat kompi (SSK)

c. Pelaksanaan Kampanye secara terbuka maupun tertutup

Kerawanan yang dimungkinkan timbul seperti pengerahan


masa/bentrok masa antar pendukung, kampanye diluar jadwal
yang telah ditentukan, money politik dan pelanggaran lalu lintas.

Cara bertindak :

Melaksanakan pengamanan pada obyek kampanye, pengawalan


rute yang dilalui baik dari titik kumpul sampai ke obyek maupun
sebaliknya pada saat selesai kegiatan kampanye, perkuatan
disesuaikan dengan jumlah masa dengan menyiapkan pasukan
PHH Brimob dan pasukan dalmas Sabhara.

d. Pelaksanaan masa tenang

Kerawanan yang dimungkinkan timbul seperti perkelahian antar


kelompok pendukung pada saat pembersihan tanda-tanda,
gambar baliho, spanduk dan tanda-tanda peraga lainnya .

Cara bertindak :

Kordinasi dengan KPUD untuk melakukan pengawalan dan


penjagaan pada saat pembersihan /penurunan alat peraga dan
menyiapkan pasukan cadangan pasukan Dalmas Sabhara/PHH
Brimob.

e. Pelaksanaan pemungutan suara

Kerawanan yang dimungkinkan timbul seperti money politik,


perkelahian antar pendukung,pengrusakan, sabotase, unjuk rasa,
protes dari pemilih

Cara bertindak :

Melaksanakan pengamanan di TPS-TPS dengan pola aman,


rawan satu dan rawan dua, untuk perkuatan pola pengamanan
disesuaikan masing-masing Polda

Contoh :
- TPS aman : 10 TPS diamankan oleh 1 personel Polri.
- TPS rawan 1 : 5 TPS diamankan oleh 1 personel Polri
- TPS rawan 2 : 1 TPS diamankan oleh 1 personel Polri

6 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Selain Pam TPS dibantu patroli berkendaraan R2/R4 yang


membantu anggota yang Pam di TPS

Contoh :
- 20 TPS selain petugas TPS yang telah ditetapkan dibantu
petugas patroli R2 maupun R4

f. Pelaksanaan rekapitulasi penghitungan suara dari TPS, PPK dan


KPUD.

Pada saat pelaksanaan rekapitulasi dari tingkat TPS sampai


dengan KPUD dimungkinkan timbul kerawanan penolakan hasil
rekapitulasi, pengerahan masa serta penganiayaan terhadap
petugas.

Cara bertindak

Melaksanakan pengamanan dan penjagaan dilokasi-lokasi


pelaksanaan rekapitulasi penghitungan suara :

- Untuk tingkat PPS (Kelurahan) minimal perkuatan personel


setingkat pleton (SST).
- Untuk tingkat PPK (Kecamatan) minimal perkuatan personel
setingkat Kompi (SSK)
- Untuk tingkat KPUD (Kab/Kota) minimal perkuatan personel
setingkat 2 Kompi (1 SSK Dalmas Sabhara dan 1 SSK PHH
Brimob)

g. Pelaksanaan penetapan perolehan kursi DPRD TK II, DPRD TK.I


DPR RI dan DPD di KPUD Propinsi dan KPU Pusat.

Pada saat penetapan perolehan kursi anggota legislatif dan


anggota DPD dimungkinkan timbul kerawanan seperti unjuk rasa
oleh masa caleg yang tidak terpilih, penolakan penetapan
perolehan kursi, pengrusakan, penganiayaan,sabotase dan
pembakaran

Cara bertindak :

Melaksanakan pengawalan terhadap anggota KPU/KPUD dan


melaksanakan penjagaan lokasi yang digunakan untuk kegiatan
penetapan perolehan kursi anggota legislatif serta anggota DPD.

Contoh :
- Pengamanan lokasi penetapan perolehan kursi DPRD TK.I
/TK II yang dilaksanakan oleh KPUD TK.I minimal perkuatan
pasukan 6 SSK (3 SSK pasukan Dalmas Sabhara dan 3 SSK
pasukan PHH Brimob)

PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 7


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

3. Potensi kerawanan dan cara bertindak pada tahap Penyelesaian

Pelaksanaan pelantikan sumpah dan janji anggota Legislatif DPRD


TK I /DPRD TK II, DPR RI dan DPD.

Pada saat pelantikan anggota legislatif dan anggota DPD


dimungkinkan timbul kerawanan seperti unjuk rasa oleh masa caleg
yang tidak terpilih,pengrusakan,penganiayaan,sabotase blokir jalan
dan pembakaran

Cara bertindak :

Melaksanakan pengawalan terhadap anggota legislatif yang terpilih,


anggota DPD dan melaksanakan penjagaan di lokasi pelantikan
pengambilan sumpah dan janji pada lokasi DPRD TK.II, DPRD TK.I
dan DPR RI.

Contoh :

- Pelantikan sumpah dan janji anggota legislatif DPRD TK.II


minimal perkuatan pasukan 5 SSK (3 SSK pasukan Dalmas
Sabhara dan 2 SSK pasukan PHH Brimob)
- Pelantikan sumpah dan janji anggota legislatif DPRD TK.I
minimal perkuatan pasukan 8 SSK (4 SSK pasukan Dalmas
Sabhara dan 4 SSK pasukan PHH Brimob)
- Pelantikan sumpah dan janji anggota legislatif DPRD TK.I
minimal perkuatan pasukan 10 SSK (5 SSK pasukan Dalmas
Sabhara dan 5 SSK pasukan PHH Brimob)

8 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

BAB II

POTENSI KERAWANAN DAN CARA BERTINDAK PADA


PEMILIHAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN

A. Tahap Persiapan

1. Pemutakhiran dan penyusunan daftar pemilih

Pemutakhiran dan penyusunan daftar pemilih Presiden


dilaksanakan kegiatan kegiatan pemutakhiran daftar pemilih
sementara (DPS), penetapan daftar pemilih tetap (DPT)
kerawanan yang mungkin timbul seperti masyarakat pemilih
banyak tidak terdaftar, pemilih ganda/pemilih aktif, nama pemilih
yang ternyata sudah meninggal dunia, pemilih yang usianya
dibawah 17 tahun dan anggota Polri/TNI yang ikut serta sebagai
pemilih.

Cara bertindak

Melaksanakan pengawalan anggota KPUD/KPU dan


pengamanan tempat yang digunakan sebagai kegiatan
penetapan daftar pemilih tetap dalam rangka pemilu Presiden
dan Wakil Presiden.

Contoh

- Untuk tingkat KPUD TK.II minimal perkuatan personel 2 SSK


(1 SSK Dalmas Sabhara dan 1 SSK Pasukan PHH Brimob)
- Untuk tingkat KPUD TK I minimal perkuatan personel 6 SSK
( 3 SSK Dalmas Sabhara dan 3 SSK PHH Brimob)
- Untuk tingkat KPU Pusat minimal perkuatan personel
setingkat 10 Kompi (5 SSK Dalmas Sabhara dan 5 SSK PHH
Brimob)

2. Pendaftaran calon, proses verifikasi, penetapan nama-nama


calon Presiden dan wakil Presiden dari masing-masing Parpol
yang memenuhi syarat maupun dari parpol gabungan.

Dalam kegiatan tersebut diatas dimungkinkan timbul kerawanan


seperti pengerahan massa pendukung/parpol atau gabungan
parpol Black Campaign, penolakan dan intimidasi terhadap
pasangan calon.

PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 9


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Cara bertindak

Melaksanakan pengawalan terhadap pasangan calon


Presiden / Wapres dan anggota KPU dan pengamanan
tempat yang digunakan sebagai kegiatan penetapan calon
Presiden dan Wapres

Contoh
- Pengamanan kegiatan penetapan calon Presiden /Wapres di
lokasi yang sudah ditetapkan oleh KPU minimal diamankan
oleh 10 SSK ( 5 SSK Dalmas Sabhara dan 5 SSK PHH
Brimob) atau disesuaikan perkiraan ancaman.

B. Tahap Penyelenggaraan

1. Pelaksanaan Kampanye secara terbuka maupun tertutup

Kerawanan yang dimungkinkan timbul seperti pengerahan


masa/bentrok masa antar pendukung, kampanye diluar jadwal
yang telah ditentukan, money politik dan pelanggaran lalu lintas.

Cara bertindak :

Melaksanakan pengamanan pada obyek kampanye, pengawalan


rute yang dilalui baik dari titik kumpul sampai ke obyek maupun
sebaliknya pada saat selesai kegiatan kampanye, perkuatan
disesuaikan dengan jumlah masa dengan menyiapkan pasukan
PHH Brimob dan pasukan Dalmas Sabhara.

2. Pelaksanaan masa tenang

Kerawanan yang dimungkinkan timbul seperti perkelahian antar


kelompok pendukung pada saat pembersihan tanda-tanda,
gambar baliho, spanduk dan tanda-tanda peraga lainnya .

Cara bertindak :

Kordinasi dengan KPUD untuk melakukan pengawalan dan


penjagaan pada saat pembersihan /penurunan alat peraga dan
menyiapkan pasukan cadangan pasukan Dalmas Sabhara/PHH
Brimob.

3. Pelaksanaan pemungutan suara

Kerawanan yang dimungkinkan timbul seperti money politik,


perkelahian antar pendukung, pengrusakan, sabotase, unjuk

10 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

rasa, protes dari pemilih

Cara bertindak :

Melaksanakan pengamanan di TPS-TPS dengan pola aman,


rawan satu dan rawan dua, untuk perkuatan pola pengamanan
disesuaikan masing-masing Polda.

Contoh :

- TPS aman : 10 TPS diamankan oleh 1 personel Polri.


- TPS rawan 1 : 5 TPS diamankan oleh 1 personel Polri
- TPS rawan 2 : 1 TPS diamankan oleh 1 personel Polri

Selain Pam TPS dibantu patroli berkendaraan R2/R4 yang


membantu anggota yang Pam di TPS

Contoh :

- 20 TPS selain petugas TPS yang telah ditetapkan dibantu


petugas patroli R2 maupun R4

4. Pelaksanaan rekapitulasi penghitungan suara dari TPS, PPK dan


KPUD.

Pada saat pelaksanaan rekapitulasi dari tingkat TPS sampai


dengan KPUD dimungkinkan timbul kerawanan penolakan hasil
rekapitulasi, pengerahan masa serta penganiayaan terhadap
petugas.

Cara bertindak

Melaksanakan pengamanan dan penjagaan dilokasi-lokasi


pelaksanaan rekapitulasi penghitungan suara :

- Untuk tingkat PPS (Kelurahan) minimal perkuatan personel


setingkat pleton (SST).
- Untuk tingkat PPK (Kecamatan) minimal perkuatan personel
setingkat Kompi (SSK)
- Untuk tingkat KPUD (Kab/Kota) minimal perkuatan personel
setingkat 2 Kompi (1 SSK Dalmas Sabhara dan 1 SSK PHH
Brimob)

5. Penetapan dan pengumuman hasil pemilu Presiden /Wapres


secara nasional.

Pada saat pelaksanaan penetapan dan pengumuman hasil


pemilu Presiden/Wapres secara Nasional oleh KPU
dimungkinkan timbul kerawanan penolakan hasil penetapan,

PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 11


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

pengerahan masa , penganiayaan terhadap petugas,


pengrusakan, pembakaran dan isu sara.

Cara bertindak

Melaksanakan pengawalan terhadap calon Presiden dan Wakil


Presiden terpilih dan melaksanakan penjagaan lokasi yang
digunakan untuk kegiatan penetapan pengumumman hasil
pemilu Presiden/Wapres.

Contoh :

- Pengamanan lokasi penetapan oleh KPU minimal perkuatan


pasukan 10 SSK (5 SSK pasukan Dalmas Sabhara dan 5
SSK pasukan PHH Brimob)

C. Tahap Penyelesaian

Pelantikan dan sumpah / janji presiden dan wapres terpilih dipandu


oleh ketua MA , kerawanan yang mungkin timbul penolakan, unjuk
rasa, sabotase dan penculikan.

Cara bertindak;

Mengingat pelaksanaan pelantikan Presiden/Wapres di gedung DPR


RI menggunakan Protap yang telah dibuat oleh Polda Metro Jaya

12 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Rangkuman

1. Sebagai anggota Polri, dalam melaksanakan pengamanan pemilu


harus memahami potensi kerawanan dan cara bertindak pada
pemilihan legislatif.
2. Sebagai anggota Polri, dalam melaksanakan pengamanan pemilu
harus memahami potensi kerawanan dan cara bertindak pada
pemilihan Presiden dan wakil presiden.

Latihan

a. Jelaskan potensi kerawanan dan cara bertindak pada tahap persiapan!


b. Jelaskan potensi kerawanan dan cara bertindak pada tahap
penyelenggaraan!
c. Jelaskan potensi kerawanan dan cara bertindak pada tahap
penyelesaian!
d. Jelaskan potensi kerawanan dan cara bertindak pada tahap
Persiapan!
e. Jelaskan potensi kerawanan dan cara bertindak pada tahap persiapan!
f. Jelaskan potensi kerawanan dan cara bertindak pada tahap
penyelenggaraan!
g. Jelaskan potensi kerawanan dan cara bertindak pada tahap
penyelesaian!

PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 13


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

MODUL 4
DAFTAR ISI

PENGANTAR....................... 1

STANDAR KOMPETENSI............... 1

KOMPETENSI............... 1

MATERI POKOK............... 2

METODE................ 2

BAHAN DAN ALAT............... 3

PROSES PELATIHAN.............. 3

TAGIHAN/TUGAS............. 5

LEMBAR KEGIATAN................ 5

BAHAN BACAAN.................. 6

BAB I : KEBIJAKAN PENANGGULANGAN TERHADAP POTENSI


GANGGUAN, AMBANG GANGGUAN DAN GANGGUAN
NYATA DALAM PEMILU..................................................................... 6

BAB II : ANALISA SISTEM PENANGGULANGAN GANGGUAN


KAMTIBMAS....................................................................................... 7

BAB III : LANGKAH-LANGKAH TAKTIS PENANGGULANGAN


KAMTIBMAS DI SETIAP FUNGSI KEPOLISIAN
BIDANG OPERASIONAL................................................................... 8

PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

BAB IV : LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS PENANGGULANGAN


KAMTIBMAS.................................................................................... 9

RANGKUMAN...............
10

LATIHAN............... 11

LAMPIRAN

ii PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

PROSEDUR PENGAMANAN PADA TAHAPAN


Modul PEMILU
4
40 JP (1800 MENIT)

Pengantar

Modul ini akan membahas tentang prosedur pengamanan pada tahapan


pemilu.

Tujuan modul ini adalah agar peserta pelatihan mampu melaksanakan


prosedur pengamanan pada tahapan pemilu.

Standar Kompetensi

Mampu melaksanakan prosedur pengamanan pada tahapan pemilu.

Kompetensi

1. Memahami kebijakan penanggulangan terhadap potensi gangguan,


ambang gangguan dan ganngguan nyata dalam pemilu

Indikator :

a. Menjelaskan kebijakan penanggulangan terhadap potensi


gangguan
b. Menjelaskan kebijakan terhadap ambang gangguan
c. Menjelaskan kebijakan terhadap gangguan nyata

2. Memahami analisa sistem penanggulanagan gangguan Kamtibmas

Indikator :

a. Menjelaskan analisa sistem penanggulangan preemtif;


b. Menjelaskan analisa sistem penanggulangan preventif;
c. Menjelaskan analisa sistem penanggulanagan Refresif.
PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 1
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

3. Terampil melaksanakan langkah-langkah taktis penanggulangan


Kamtibmas di setiap fungsi Kepolisian bidang Operasional

Indikator :

a. Menjelaskan langkah taktis fungsi Intel;


b. Menjelaskan langkah taktis fungsi Binmas;
c. Menjelaskan langkah taktis fungsi Sabhara;
d. Menjelaskan langkah taktis fungsi lantas;
e. Menjelaskan langkah taktis fungsi Reskrim;
f. Menjelaskan langkah taktis fungsi Humas;
g. Menjelaskan langkah taktis fungsi Brimob.

4. Terampil melaksanakan langkah-langkah Strategis penanggulangan


Kamtibmas

Indikator :

a. Menjelaskan langkah-langkah preemtif


b. Menjelaskan langkah-langkah preventif
c. Menjelaskan langkah-langkah refresif

Materi Pokok

1. Kebijakan penanggulangan terhadap potensi gangguan, ambang


gangguan dan gangguan nyata dalam pemilu
2. Analisa sistem penanggulangan gangguanKamtibmas
3. Langkah-langkah taktis penanggulangan Kamtibmas di setiap fungsi
Kepolisian bidang Operasional
4. Langkah-langkah Strategis penanggulangan Kamtibmas

Metode

1. Ceramah;
2. Brain storming (curah pendapat);
3. Diskusi.
4. Simulasi

2 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Bahan/referensi dan Alat

Sumber Belajar/referensi

a. Undang-undang Nomor :8 Tahun 2012 tentang pemilu legislatif


b. Keputusan Kabareskrim Polri No.Kep/19/V/2013/Bareskrim tentang
Buku pedoman penyidikan tindak pidana pemilu
c. Buku panduan penanganan tindak pidana pemilu calon lesgilatif
tahun 2014
d. Nota kesepahaman antara KPU dengan Polri Nomor
03/KB/KPU/2013 dan Nomor B/3/I/2013.tentang pengamanan
penyelenggaraan pemilihan umum tahun 2014.
e. Nota kesepakatan bersama Banwaslu RI, Polri dan Kejaksaan RI
Nomor : 01/NKB/BAWASLU/I/2013, Nomor B/02/I/2013 dan Nomor
KEP-005/A/JA/01/2013, Tentang Sentra Penegakan Hukum Terpadu
(GAKKUMDU)

Alat

a. Whiteboard;
b. Papan Flipchart;
c. Kertas Flipchart;
d. Komputer / Laptop;
e. LCD dan Layar;
f. Spidol;
g. Penghapus.
h. Perlengkapan dalmas.
i. Perlengkapan masing-masing fungsi kepolisian.

Proses Pelatihan

1. Tahap Awal : 30 menit.


a.
Pelatih/instruktur/fasilitator memperkenalkan diri kepada
peserta pelatihan.
b. Para peserta pelatihan memperkenalkan diri secara singkat
kepada pelatih/instruktur/fasilitator.
c. Pelatih/instruktur/fasilitator menyampaikan tujuan pelatihan
kepada peserta pelatihan.
d. Pelatih/ instruktur/ fasilitator melakukan pencairan suasana
kelas agar tercipta interaksi antara pelatih/instruktur/fasilitator
dan peserta pelatihan.
e. Pelatih/instruktur/fasilitator melakukan apersepsi dengan
menanyakan kepada peserta pelatihan tentang materi yang
akan dipelajari.
PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 3
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

2. Tahap Inti : 1740 menit.


a. Pelatih/instruktur/fasilitator menjelaskan materi tentang :
Kebijakan penanggulangan terhadap potensi gangguan,
ambang gangguan dan ganngguan nyata dalam pemilu
Analisa sistem penanggulanagan gangguan Kamtibmas
Waktu : 40 menit

b. Pelatih/instruktur/fasilitator menjelaskan materi tentang:


Langkah-langkah taktis penanggulangan Kamtibmas di setiap
fungsi Kepolisian bidang Operasional
Waktu : 40 menit

c. Pelatih menugaskan peserta pelatihan untuk mempraktekkan


dan mensimulasikan masing-masing peran dari fungsi kepolisian
bidang operasional.
Waktu : 360 menit

d. Pelatih/instruktur/fasilitator menjelaskan materi tentang:


Langkah-langkah Strategis penanggulangan Kamtibmas.
Waktu : 40 menit

e. Pelatih menugaskan peserta pelatihan untuk mensimulasikan


scenario yang sudah disiapkan oleh pelatih secara gabubungan
dari masing-masing fungsi kepolisian, dan masing-masing fungsi
memainkan perannya sesuai tugas pokok dan pelatih
memfasilitasi jalannya simulasi, memberikan feed back, dan
menyempurnakan hasil dari simulasi.
Waktu : 1200 menit.

f. Pelatih melakukan pembulatan dan pengayaan terhadap hasil


Simulasi
Waktu : 60 menit

3. Tahap akhir : 30 menit.


a. Cek penguasaan materi :
Pelatih/instruktur/fasilitator mengecek penguasaan materi
pelatihan dengan cara bertanya secara lisan dan acak kepada
peserta pelatihan.
Waktu : 10 menit.

b. Learning point :
Pelatih/instruktur/fasilitator dan peserta merumuskan learning
point dari materi pelatihan.
Waktu : 20 menit.

4 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Tagihan/Tugas

- Peserta pelatihan mengumpulkan hasil diskusi kelompok dan


diserahkan kepada pelatih/instruktur/fasilitator.

Lembar Kegiatan

Skenario terlampir.

PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 5


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Bahan Bacaan

BAB I

KEBIJAKAN PENANGGULANGAN TERHADAP POTENSI


GANGGUAN, AMBANG GANGGUAN DAN GANGGUAN
NYATA DALAM PEMILU

1. Kebijakan penanggulangan terhadap potensi gangguan

a. Rangka kegiatan pendeteksian dini (early warning) dan


penggalangan media massa
b. Menempatkan lo (liasion officer) anggota intelijen di kpu, tim
kampanye dan bawaslu untuk memonitoring, sumber informasi
pimpinan
c. Binmas melakukan sambang penggalangan terhadap tomas,
toga dan toda untuk menciptakan situasi keamanan dan
ketertiban masyarakat

2. Kebijakan terhadap ambang gangguan

a. Penyiapan pasukan sabhara sebagai tim pengamanan secara


cepat dan responsif
b. Pembentukan tim negosiator untuk memotivasi / negosiasi warga
c. Pengaturan dan pengawalan lalu lintas selama penyelenggaraan
pemilu 2014
d. Koordinasi dengan satgas parpol, pamdal sesuai dengan
perkembangan situasi

3. Kebijakan terhadap gangguan nyata

a. Penyiapan pasukan huru-hara dari sat brimob sebagai tim tindak


b. Melakukan penegakan ketertiban lalu lintas
c. Reskrim melakukan penyidikan terhadap tindak pidana yang
terjadi

6 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

BAB II

ANALISA SISTEM PENANGGULANAGAN GANGGUAN


KAMTIBMAS

1. Analisa sistem penanggulangan preemtif

a. Optimalisasi fungsi intelijen dlm setiap tahapan pemilu 2013


b. Menempatkan liaison officer (lo) utk mengetahui permasalahan
maupun informasi yg berkembang di kpu
c. Optimalisasi fungsi binmas untuk memberikan sosialisasi pada
setiap perkembangan tahapan pemilu

2. Analisa sistem penanggulangan preventif

a. Menempatkan pasukan sabhara untuk mencegah police hazard


b. Menempatkan personel lalu lintas utk melakukan pengaturan lalu
lintas
c. Melakukan koordinasi dengan stake holder guna mencari solusi
pemecahan masalah
d. Optimalisasi fungsi binmas agar memberikan sosialisasi
terhadap setiap perkembangan tahapan pemilu

3. Analisa sistem penanggulanagan refresif.

a. Menempatkan fungsi brimob untuk melakukan tindakan yg


terukur sesuai prosedur terhadap kedua pok yg berkonflik
b. Melakukan penegakkan hukum terhadap pengguna jalan pada
tahap kampanye untuk memberi efek jera
c. Pada saat tindak pidana sudah terjadi, maka reskrim melalui
sentra gakkumdu akan mengungkap tindak pidana tersebut
sesuai proses hukum

PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 7


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

BAB III

LANGKAH-LANGKAH TAKTIS PENANGGULANGAN


KAMTIBMAS DI SETIAP FUNGSI KEPOLISIAN BIDANG
OPERASIONAL

1. Langkah taktis fungsi Intel


Mengumpulkan & mengelola informasi dengan berbasiskan IT
(informasi dan teknologi

2. Langkah taktis fungsi Binmas


a. Melakukan sosialisasi dan edukasi bersamasama
penyelenggara pemilu tingkat kewilayahan
b. Mendampingi petugas kpu dalam menginformasikan tahapan
pileg dan pilpres mulai dari tingkat rt, rw dan kelurahan
c. Membuat selebaran-selebaran kamtibmas tentang pileg dan
pilpres tahun 2014

3. Langkah taktis fungsi Sabhara


Menyiapkan pleton dalmas di tiap-tiap polres yang jumlah
personelnya disesuaikan dengan eskalasi ancaman

4. Langkah taktis fungsi lantas


Penentuan rute pergerakan massa peserta pemilu untuk
menciptakan kamseltibcarlantas dalam setiap tahapan pemilu
khususnya pada tahap kampanye terbuka

5. Langkah taktis fungsi Reskrim


Setiap laporan yang diterima oleh gakkumdu harus ada surat resmi
dari bawaslu agar laporan tentang tp pemilu selalu melalui bawaslu

6. Langkah taktis fungsi Humas


Melakukan perimbangan opini dalam setiap media informasi dan
mengikuti segala perkembangan informasi jejaring sosial

7. Langkah taktis fungsi Brimob


Melengkapi pasukan phh brimob dengan borgol untuk
mengantisipasi tindakan anarkis dalam rangka penangkapan
terhadap pelaku tindak pidana yang tertangkap tangan

8 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

BAB IV

LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS PENANGGULANGAN


KAMTIBMAS

1. Langkah-langkah preemtif

a. Pemetaan geografis terhadap daerah rawan bencana;


b. Pemetaan dan pendeteksian kerawanan/potensi konflik yang
mungkin timbul;
c. Pemantauan dan pengkajian perkembangan informasi dan isu-
isu terkini selama penyelenggaraan pemilu;
d. Mengedepankan fungsi binmas untuk secara aktif bekerja sama
dengan stakeholder;
e. Membuat MOU pemilu damai dengan peserta pemilu dan
penyelenggara pemilu serta tokoh masyarakat sampai dengan
tingkat dapil;
f. Penempatan Liaison Officer (LO) Polri di KPU, Panwas, peserta
pemilu dan struktur penting dalam masyarakat;
g. Pemberian pemahaman tentang tahapan pemilu kepada
masyarakat pemilih oleh bhabinkamtibmas serta upaya
penyelesaian konflik secara damai;
h. Mewujudkan sistem keamanan terpadu pada setiap situasi
tahapan pemilu yang melibatkan Polri, TNI, Pemda dan anggota
pengamanan; dan
i. Penempatan satu Bhabinkamtibmas di satu desa / kelurahan.

2. Langkah-langkah preventif

a. Penempatan personel pengamanan pada setiap kegiatan dlm


tahapan pemilu 2014 yg membutuhkan kehadiran anggota polri,
termasuk perangkat yang melekat pada capres/cawapres;
b. Penggelaran pasukan / petugas dalam jumlah skala besar di
masing-masing wilayah dengan sasaran melaksanakan patroli di
daerah-daerah rawan;
c. Melaksanakan pengamanan, penjagaan dan pengawalan
pendistribusian logistik pemilu termasuk pada saat terjadi
bencana alam;
d. Melaksanakan rapat koordinasi secara rutin;
e. Mewujudkan sistem keamanan terpadu pada setiap situasi
tahapan pemilu yang melibatkan polri, tni, pemda, anggota
pengamanan internal / parpol, tomas dan toga;
f. Membentuk crisis centre yang berkedudukan di pemda dengan
beranggotakan unsur pemda, tni, polri, kpu, bawaslu dan parpol
peserta pemilu untuk mengantisipasi terjadinya situasi
PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 9
LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

kontijensi;dan
g. Membentuk tim cyber untuk mengantisipasi konflik yang
bersumber dari social media (internet) yang beranggotakan
humas, unit cyber crime reskrimsus dan intelijen.

3. Langkah-langkah refresif

a. Melaksanakan kegiatan rutin kepolisian yang ditingkatkan


(operasi cipta kondisi) di masing-masing wilayah;
b. Pasukan huru hara (phh) melakukan quick response terpadu
untuk melakukan langkah penegakan hukum apabila terjadi
peningkatan eskalasi;
c. Sentra gakkumdu mengoptimalisasikan giat penyelidikan dan
penyidikan guna penanganan terhadap setiap laporan yang
diterima oleh panwaslu dalam hal tindak pidana pemilu dengan
skala prioritas yang berpengaruh pada hasil pemilu;
d. Penyidik tindak pidana pemilu pro aktif dalam menyelesaikan
setiap perkara tindak pidana pemilu secara profesional dan
proporsional untuk mendapatkan kepastian hukum; dan
e. Bersama-sama stakeholder (tni, satpol pp dan satgas parpol)
melakukan penindakan untuk mendukung upaya menciptakan
situasi kamtibmas yang kondusif.

Rangkuman

Dalam rangka plaksanaan pengamanan pada tahapan pemilu setiap


anggota Polri harus memahami tentang ;

1. Kebijakan penanggulangan terhadap potensi gangguan, ambang


gangguan dan gangguan nyata dalam pemilu
2. Analisa sistem penanggulanagan gangguan Kamtibmas
3. Langkah-langkah taktis penanggulangan Kamtibmas di setiap fungsi
Kepolisian bidang Operasional
4. Langkah-langkah Strategis penanggulangan Kamtibmas

10 PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU


LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Latihan

1. Jelaskan tentang Kebijakan penanggulangan terhadap potensi


gangguan, ambang gangguan dan ganngguan nyata dalam pemilu !

2. Jelaskan tentang Analisa sistem penanggulangan gangguan


kamtibmas !

3. Jelaskan tentang Langkah-langkah taktis penanggulangan


Kamtibmas di setiap fungsi Kepolisian bidang Operasional !

4. Jelaskan tentang langkah-langkah Strategis penanggulangan


Kamtibmas !

PELATIHAN PENGAMANAN PEMILU 11