Anda di halaman 1dari 36

Sistem Reproduksi Jantan dan Betina Pada Sapi dan Babi

Agar suatu spesies dapat berkembang, ia harus mampu bereproduksi sendiri.


Memproduksi keturunan membutuhkan sistem reproduksi jantan dan betina yang berfungsi
dengan baik.
Sistem reproduksi jantan dan betina masing-masing terdiri dari beberapa bagian yang
memiliki tujuan spesifik dalam sistem reproduksi. Hormon juga memainkan peran penting
dalam sistem reproduksi. Sebagai contoh, dalam sistem reproduksi jantan, setiap organ dan
hormon bekerja sama untuk menghasilkan sperma dan mentransfernya ke betina.

A. Bagian bagian Sistem Reproduksi Jantan


Bagian dari sistem reproduksi hewan jantan memiliki organ reproduksi khusus.
Organ-organ ini serupa pada semua mamalia jantan, namun terdapat beberapa perbedaan
dalam bentuk dan fungsi. Alat reproduksi ternak jantan terdiri atas gonad jantan yang
disebut testes (terdapat sepasang), saluran reproduksi yang terdiri atas epididymis, vas
deferens yang masing - masing adalah spasang kemudian menyatu pada saluran yang
dinamakan uretra sampai ke ujung penis, dan alat reproduksi bagian luar yang terdiri
atas penis dengan pelindungnya yang disebut praeputiumnya dan kantong skrotum.
Pada organ rerpoduksi jantan juga terdapat kelenjar pelengkap (glandula assesor)
yang berperan sangat penting dalam menentukan kualitas spermatozoa yaitu kelenjar
vesikularis (Glandulae vesicularis), kelenjar prostat dan kelenjar cowpers (Cowpers
gland atau glandulae bulbourethralis) yang semua kelenjar tersebut jumlahnya masing -
masing ada sepasang. Salah satu perbedaan antara organ reproduksi babi dan sapi adalah
posisi testis dan skrotum, dimana pada babi terletak di bagian belakang sedangkan pada
sapi di bagian bawah.
Gambar 1. Sistem Reproduksi Pada Sapi Jantan
Gambar 2. Sistem Reproduksi Pada Babi Jantan
Setiap bagian memiliki fungsi spesifik dalam sistem reproduksi. Jika salah satu bagian
tidak berfungsi dengan benar, hewan mungkin mengalami kesulitan dalam bereproduksi
atau tidak mampu untuk mereproduksi. Berikut ini adalah deskripsi fungsi
dari masing-masing organ reproduksi :
1. Preputium
Preputium merupakan invaginasi kulit yang tertutup pada ujung penis. Ini memiliki
asal embrio sama dengan labia minora pada betina. Hal ini dapat dibagi ke dalam
bagian prepenile, yang merupakan lipatan luar, dan bagian penis, atau lipatan dalam.
Lubang kulit preputium ini dikelilingi oleh rambut preputial panjang.

2. Penis
Menurut tipenya, penis dibagi menjadi dua macam yaitu :
a. Tipe muskulokavernosus yang terdapat pada golongan anjing, kuda, primata dan
sebagainya
b. Tipe fibroelastika terdapat pada sapi, domba, kambing, babi, rusa dan kerbau.
Gambar 3. Tipe Penis Pada Sapi Dan Babi

Penis mempunyai fungsi sebagai alat kopulasi dan jalan keluar air mani pada waktu
ejakulasi. Penis terbungkus oleh tunica fibrosa yang padat dan putih dikenal dengan
nama tunica albugenia. Penis dibagi menjadi tiga bagian yaitu bagian pangkal yang
melekat pada fascia atau ligamenta yang kuat dan disebut Crus Penis, bagian
badan dimana dibagian tengahnya melipat melingkar merupakan huruf S disebut
sigmoid dan bagian ujung penis disebut Glans Penis yang sangat kaya dengan
saraf. Oleh karena itu, bagian ini sangat peka terhadap segala rangsangan, seperti
panas, dingin atau sakit. Agar dapat memanjang dan memendek, penis dilengkapi
dengan 2 macam otot yaitu musculus retraktor penis yang dapat merelaks dan
mengkerut dan corpus covernosum penis yang dapat menegangkan penis. Perlakuan
yang kasar dan suhu yang terlalu panas atau dingin, demikian pula permukaan yang
terlalu kasardari vagina buatan dapat mengakibatkan terganggunya proses ejakulasi,
sehingga air mani yang dihasilkan menjadi sangat kurang. Penis mempunyai
persediaan darah yang besar dan permukaan yang lunak, karena itu penis mudah
sekali terluka dan perdarahan bisa cepat terjadi (Hardjopranjoto, 1995 dan Utomo,
2004).

3. Skrotum dan Spermatic Cord


Skrotum merupakan kantung dua lobus yang membungkus testis, berlokasi di
bagian inguinal yang pada kebanyakan spesies terletak diantara dua paha. Spermatic
cord menghubungkan testis dengan mekanisme yang mendukung kehidupannya.
Baik scrotum dan spermatid cord berkontribusi dalam mendukung testis yang juga
mempunyai fungsi bersama dalam pengaturan suhu testis. Peningkatan suhu di dalam
testis akan cukup dalam menghentikan spermatogenesis. Belum ada kejadian yang
memperlihatkan bahwa suhu rendah menurunkan fertilitas. Peranan skrotum dan
spermatic cord dalam mengatur suhu testis digambarkan dengan testis mendekati
tubuh ketika suhu lingkungan menurun dan sebaliknya testis akan menjauhi tubuh
ketika suhu lingkungan meningkat.
Terdapat dua otot yang yang terlibat dalam pengaturan ini yakni tunica dartos
dan cremaster. Tunica dartos merupakan otot licin yang melapisi skrotum , dan
kremaster merupakan otot licin yang di sekitar spermatic cord, yang keduanya peka
terhadap perubahan suhu. Selama musim dingin, kontraksi otot-otot ini menyebabkan
skrotum mengerut dan spermatic cord memendek, menyebabkan testis mendekati
tubuh. Pada musim panas, kedua otot ini berelaksasi mengakibatkan peregangan dan
spermatic cord memanjang, sehingga testis menjauhi tubuh. Otot ini tidak
mempunyai respon sampai mendekati umur pubertas yang dikarenakan oleh pekanya
terhadap testosteron untuk merespon perubahan suhu lingkungan (Yusuf, 2012).

4. Testis
Testis adalah organ reproduksi primer pada jantan.Testis dikatakan sebagai
organ reproduksi primer karena memproduksi gamet jantan (spermatozoa) dan
hormon kelamin jantan (androgen). Testis berbeda dengan ovarium, dimana testis ini
tidak tetap tinggal di dalam rongga tubuh; testis ini menurun dari asalnya di dalam
rongga tubuh dekat ginjal melalui inguinalis ke dalam skrotum. Penurunan testis
terjadi karena pemendekan gubernaculum, ligamentum yang memanjang dari daerah
inguinalis dan melekat pada ekor epididimis. Ini terjadi karena gubernaculum tidak
bertumbuh secepat dinding tubuh. Testis tertarik mendekati saluran inguinalis ke
dalam skrotum yang dikontrol oleh hormon gonadotropik dan androgen.
Pada beberapa kasus, salah satu atau kedua testis gagal menurun yang
disebabkan oleh cacat didalam perkembangannya. Apabila kedua testis tidak turun,
ternak tersebut diklasifikasikan sebagai bilaterral crytorchid dan ternak menjadi
steril. Jika hanya satu yang menurun, disebut sebagai unilateral cryptochid dan
ternak ini biasanya fertil (subur). Panjang testis ternak sapi serupa dengan babi yang
berkisar antara 10 13 cm, dengan lebar sekitar 5 sampai 6,5 cm dan berat antara
300 400 gram.
Pada semua spesies, testis dibungkus dengan tunica vaginalis, yang
merupakan jaringan dari perpanjangan peritoneum. Bagian luar testis adalah tunica
albuginea testis, membran tipis putih dari jaringan penghubung elastis. Di bawah
tunica albugenia testis, terdapat parenchyma yang merupakan fungsional layer dari
testis. Parenchyma ini berwarna kekuning-kuningan yang terbagi dalam beberapa
segmen. Dalam segmen ini terdapat tubulus seminiferus yang didalamnya terdapat
sel-sel germinal (spermatogonia) dan sel-sel Sertoli. Sel-sel Sertoli ini lebih besar
namun jumlahnya lebih sedikit dibanding dengan spermatogonia. Dengan pengaruh
FSH (follicle stimulating hormone), sel-sel Sertoli memproduksi androgen binding
protein dan inhibin. Tubulus seminiferus merupakan tempat diproduksinya
spermatozoa.
Tubulus seminiferus terhubung dengan beberapa tubulus, rete testis, yang
menguhubungkan 12 sampai 15 duktus kecil, vasa efferentia, yang kemudian masing-
masing terhubung dengan kepala epididimis. Sel-sel Leydig (interstitial) terdapat di
dalam parenchyma testis diantara tubulus seminiferus. LH (luteinizing hormone)
menstimulir sel-sel Leydig untuk memproduksi testosteron dan sejumlah kecil
androgen lain. Testosteron dibutuhkan untuk perkembangan karakteristik kelamin
sekunder dan untuk tingkah laku kawin. Testoteron juga dibutuhkan untuk fungsi
kelenjar asesori, produksi spermatozoa, dan mempertahankan sistem duktus jantan.
Melalui pengaruhnya terhadap ternak jantan, testosteron membantu mempertahankan
kondisi optimum pada spermatogenesis, transportasi spermatozoa, dan deposisi
spermatozoa di dalam saluran reproduksi betina (Yusuf, 2012).

5. Epididimis
Epididimis, saluran eksternal pertama dari testis, yang menyatu secara longitudinal
pada permukaan testis dan terbungkus dalam tunika vaginalis bersama dengan testis.
Caput (kepala) dari epididimis adalah daerah datar di puncak testis, di mana 12
sampai 15 saluran (duktus) kecil, vasa efferentia, menyatu menjadi satu ductus.
Corpus (badan) memanjang sepanjang sumbu longitudinal dari testis dan satu saluran
tunggal yang terhubung sampai pada cauda (ekor). Panjang total saluran berbelit-belit
ini adalah sekitar 34 meter pada sapi dan lebih panjang lagi pada babi hutan dan
kuda. Epididimis memiliki beberapa fungsi yaitu :
Transportasi: epididimis berfungsi untuk mengangkut spermatozoa. Beberapa
faktor berkontribusi terhadap gerakan spermatozoa melalui epididimis. Salah satu
faktor adalah tekanan dari produksi spermatozoa.Spermatozoa diproduksi dalam
tubulus seminiferus, dimana spermatozoa ini dipaksa keluar melalui rete testis
dan vasa efferentia ke epididymis. Lapisan epididimis berisi beberapa sel epitel
bersilia, tetapi peran dari silia ini dalam memfasilitasi pergerakan spermatozoa
dibantu oleh ejaculasi. Selama ejakulasi, kontraksi peristaltik yang melibatkan
lapisan otot polos epididimis dan tekanan negatif sedikit (tindakan mengisap)
dibuat oleh kontraksi peristaltik dari vas deferens dan uretra aktif bergerak
spermatozoa dari epididimis ke dalam vas deferens dan uretra.
Konsentrasi: fungsi kedua dari epididumis adalah konsentrasi spermatozoa.
Spermatozoa masuk ke dalam epididimis dari testis berkonsentrasi relatif sekitar
100 juta spermatozoa/ml. Pada epididimis konsentrasinya meningkat sekitar 4 x
109 (4 miliar) spermatozoa per ml. Konsentrasi terjadi sebagai cairan, yang
menangguhkan spermatozoa di testis, yang diserap oleh sel-sel epitel dari
epididimis. Penyerapan cairan ini terutama di caput dan ujung proksimal dari
korpus.
Penyimpanan: Fungsi ketiga dari epididimis adalah penyimpanan spermatozoa.
Kebanyakan spermatozoa disimpan dalam cauda epididimis dari mana
spermatozoa terkonsentrasi yang dikemas ke dalam epididimis lumen. Epididimis
sapi dewasa mengandung kira-kira 50 sampai 74 milyar spermatozoa. Kapasitas
spesies lainnya belum dilaporkan. Kondisi yang optimal dalam cauda dibutuhkan
untuk kelangsungan hidup spermatozoa selama penyimpanan. pH rendah,
viskositas tinggi, konsentrasi karbon dioksida tinggi, rasio kalium-natrium tinggi,
pengaruh testosteron, dan kemungkinan kombinasi beberapa-faktor lainnya
berkontribusi ke tingkat metabolisme rendah dan memperpanjang daya hidup.
Maturasi: Fungsi keempat epididimis adalah pematangan spermatozoa. Ketika
spermatozoa baru terbentuk masuk ke caput dari vasa efferentia, spermatozoa
tersebut tidak memiliki kemampuan motilitas ataupun kesuburan. Ketika
spermatozoa melewati epididimis spermatozoa memperoleh kemampuan untuk
menjadi motil dan subur. Jika cauda yang diikat di setiap akhir, spermatozoa
paling dekat dengan corpus meningkat kesuburannya hingga 25 hari. Selama
periode yang sama, spermatozoa terdekat vasa deferens berkurang kemampuan
kesuburannya. Oleh karena itu, tampak bahwa kemampuan spermatozoa menjadi
subur di cauda dan kemudian menjadi matang namun akan menurun
kesuburannya apabila tidak dikeluarkan (Yusuf, 2012).

6. Vas Deferens and Urethra


Vas deferens adalah sepasang saluran dari ujung distal cauda masing-masing
epididimis yang ujungnya didukung oleh lipatan peritoneum, melewati sepanjang
korda spermatika, melalui canalis inguinalis ke daerah panggul, dimana kemudian
menyatu dengan uretra. Ujung vas deferens yang membesar dekat uretra adalah
ampulla. Vas deferens memiliki lapisan tebal otot polos di dinding dan tampaknya
memiliki fungsi tunggal trasportasi spermatozoa. Uretra adalah saluran tunggal yang
memanjang dari persimpangan ampulla ke ujung penis. Ini berfungsi sebagai saluran
ekskretoris baik urin mapupun semen. Selama ejakulasi pada sapi, terdapat campuran
lengkap konsentrasi spermatozoa dari vas deferens dan epididimis dengan cairan dari
kelenjar aksesori pada bagian pelvis uretra untuk membentuk semen (Yusuf, 2012).
7. Kelenjar aksesori
Kelenjar aksesori terletak di sepanjang bagian panggul dari uretra. Kelenjar ini terdiri
dari kelenjar vesikuler, kelenjar prostat dan kelenjar bulbourethral, berkontribusi
besar terhadap volume cairan semen. Kelenjar ini mensekresikan solusi buffer,
nutrisi, dan zat lainnya yang diperlukan untuk menjamin motilitas optimal dan
kesuburan spermatozoa.
Kelenjar vesikuler: Kelenjar vesikuler (kadang-kadang disebut seminal vasicles)
adalah sepasang kelenjar lobular yang mudah didentifikasi karena bentuk yang
menonjol. Digambarkan sebagai bentuk sekelompok anggur, dengan panjang
yang sama pada sapi dan babi (13 hingga 15 cm).
Kelenjar prostat: Prostat adalah kelenjar tunggal yang terletak di sekitar dan
sepanjang uretra dibagian posterior saluran ekskretoris dari kelenjar vesikular.
Berkontribusi kecil untuk volume cairan semen di sebagian besar spesies. Namun,
kontribusi dari kelenjar prostat lebih substatial dibandingkan dengan kelenjar
vesikular pada prostat babi. Prostat babi lebih besar daripada sapi.
Kelenjar bulbourethral: Kelenjar bulbourethral (Cowpers) adalah sepasang
kelenjar yang terletak di sepanjang uretra dekat titik luar dari panggul. Ukuran
dan bentuknya seperti kenari pada sapi, tetapi jauh lebih besar pada babi. Pada
sapi, kelenjar ini melekat pada otot bulbospongiosum, berkontribusi sangat
sedikit untuk volume cairan semen. Pada sapi, sekresinya merupakan residu urin
dari uretra sebelum ejakulasi. Sekresi ini dipandang sebagai penggiring dari
preputium sebelum kopulasi. Pada babi, sekresinya menjelaskan bahwa sebagian
dari semen babi yang menggumpal. Selama kawin alami, benjolan putih yang
dibentuk oleh koagulasi dapat mencegah sperma mengalir kembali melalui leher
rahim ke dalam vagina babi betina (Yusuf, 2012).
Tabel 1. Ringkasan organ-organ reproduksi jantan dan fungsi utama dari organ-organ tersebut
B. Bagian bagian Sistem Reproduksi Betina
Organ reproduksi betina tersusun dari ovarium, oviduct, uterus, serviks, vagina (organ
dalam = internal genital organs) dan organ luar (external genitalia); vulva. Organ dalam
didukung oleh ligamentum yang terdiri dari mesovarium yang mendukung ovarium,
mesosalpinx yang mendukung oviduct dan mesometrium yang mendukung uterus. Asal
mula pembentukan ovarium adalah dari bagian kelamin seks sekunder.Untuk pertama
kalinya dapat terlihat di dalam embrio sebagai penebalan sedikit dekat sistem saluran
ginjal.Sistem saluran berasal dari saluran Mullerian, sepasang saluran yang muncul
selama perkembangan embrio awal. Jenis kelamin fetus tergantung pada pewarisan dari
gen-gen, gonadogenesis, serta pembentukan dan pematangan assesori organ reproduksi.
Kedua saluran Wolffian dan Mullerian terdapat pada embrio yang belum berdiferensiasi
secara seksual. Pada betina, saluran Mullerian berkembang ke dalam sistem gonaductal,
dimana saluran Wolffian menjadi atropi. Saluran Mullerian menyatu secara caudal
membentuk uterus, serviks, dan bagian depan vagina. Pada fetus jantan, androgen
testicular berperan dalam persistensi dan pengembangan saluran Wolffian dan saluran
Mullerian menjadi atropi (Yusuf, 2012).

Gambar 4. Sistem Reproduksi Pada Sapi Betina

Gambar 5. Sistem Reproduksi Pada Babi Betina


1. Vulva
Vulva, atau alat kelamin luar, terdiri dari vestibula depan dengan bagian-
bagian terkait dan ruang depan labia.Vestibula adalah bagian dari sistem saluran
betina yang umum bagi sistems reproduksi dan saluran kencing. Panjangnya sekitar
10 sampai 12 cm pada sapi, setengah panjang tersebut pada babi. Bagian luar uretra
terdiri dari labia minora, lipatan dalam atau bibir vulva, dan labia majora, lipatan luar
atau bibir vulva. Labia minora adalah homolog dengan preputium (selubung) pada
jantan dan tidak menonjol. Labia majora, homolog dengan skrotum pada jantan,
merupakan bagian dari sistem betina yang dapat terlihat secara eksternal. Pada sapi
labia majora ditutupi dengan rambut halus hingga klitoris mucosa. Klitoris sekitar 1
cm secara ventral di dalam labia (Yusuf, 2012).

2. Vagina
Vagina adalah berbentuk tabung, berdinding tipis dan cukup elastis. Organ ini
merupakan organ kopulasi pada betina. Lapisan luar, tunika serosa, diikuti oleh
lapisan otot polos yang mengandung serat. Pada kebanyakan spesies, lapisan mukosa
terdiri dari sel skuamosa epitel (kecuali pada sapi). Sel-sel epitel cornify (sel tanpa
inti) di bawah pengaruh estrogen (Yusuf, 2012).

3. Serviks
Meskipun secara teknis serviks merupakan bagian dari uterus, namun
demikian serviks ini akan dibahas sebagai salah satu organ reproduksi tersendiri.
Perbedaan yang mendasar dari uterus adalah bahwa serviks berdinding tebal dan
elastis, bagian anterior yang menuju badan uterus sedangkan ujung posterior
menjorok ke vagina. Kebanyakan spesies, panjang serviks berkisar antara 5 sampai 10
cm dengan diameter luar 2 sampai 5 cm. Serviks terdiri dari saluran yang merupakan
pembukaan ke dalam uterus yang berfungsi untuk mencegah kontaminasi mikroba
terhadap uterus, namun juga dapat berfungsi sebagai reservoir sperma setelah
perkawinan.Semen disimpan ke dalam serviks saat kawin alam pada induk babi.
Serviks pada sapi, memiliki lekukan saling melintang yang dikenal sebagai cincin
melingkar yang membantu menutup uterus dari kontaminan. Tingginya konsentrasi
estrogen menyebabkan saluran serviks bersilia selama estrus (standing heat).
Sinergisme antara tingginya kadar estrogen dan relaksin menyebabkan pelebaran yang
lebih besar sebelum proses kelahiran. Terbukanya saluran ini menjadikan serviks lebih
rentan terhadap invasi organisme. Namun demikian, estrogen menyebabkan sel-sel
epitel serviks mengeluarkan lendir yang memiliki sifat antibakteri, sehingga
melindungi uterus (Yusuf, 2012).

4. Uterus
Uterus memanjang dari persimpangan uterotubal ke serviks. Pada sapi, babi,
dan kuda panjang keseluruhan berkisar 35-60 cm. Pada babi, dan sapi tanduk terus
mencapai 80 sampai 90% dari panjang total, sedangkan pada kuda, tanduk uterus
sekitar 50% dari total panjang. Fungsi uterus umumnya untuk mempertahankan dan
memelihara embrio, atau fetus. Sebelum embrio melekat ke uterus, makanan embrio
berasal dari kuning telur dalam embrio atau dari susu uterus rahim yang disekresikan
oleh kelenjar dalam lapisan mukosa uterus. Setelah melekat pada uterus, embrio
mengambil nutrisi dan buangan produk-produk sisa melalui plasenta. Uterus terdiri
dari tanduk uterus, badan uterus dan leher uterus (serviks). Proporsi relatif masing-
masing uterus, bentuk dan tanduk uterus bervariasi tergantung spesies. Pada babi dan
sapi, memiliki uterus dengan tipe bikornua (uterus bicornis). Tanduk uterus berlipat-
lipat dan mencapai panjang 4 5 kaki, sedangkan badan uterus pendek. Kedua bagian
uterus melakat pada pelvis dan dinding abdominal (Yusuf, 2012).

Gambar 6. Tipe-Tipe Uterus

5. Oviduct (Tuba Falopii)


Terdapat keterkaitan anatomic antara ovarium dan oviduct. Panjang dan
diameter oviduct bervariasi pada setiap mamalia. Oviduct dapat dibagi kedalam empat
bagian fungsional: (1) fimbrae; bentuk saluran abdominal terbuka dekat dengan
ovarium, (2) infundibulum,(3) ampulla, dan (4) isthmus; yang menghubungkan antara
oviduct dengan uterus. Panjang ampulla sekitar setengah dari total panjang oviduct,
menyatu dengan perbatasan isthmus. Isthmus terhubung langsung dengan uterus
(Yusuf, 2012).

Gambar 6. Anatomi Oviduct

6. Ovarium
Ovarium dianggap sebagai organ reproduksi utama betina. Keutamaan organ
ini karena menghasilkan gamet betina (sel telur) dan hormon (estrogen dan
progesteron). Sapi, kuda, dan domba betina adalah monotocous, biasanya melahirkan
satu pada kehamilan setiap period. Oleh karena itu, satu sel telur dihasilkan pada
setiap siklus berahi. Babi merupakan ternak polytocus, menghasilkan 10 sampai 25
sel telur setiap siklus berahi dan melahirkan beberapa anak pada setiap periode
kebuntingan. Ovarium terdiri dari medulla dan cortex korteks pada kulit terluarnya,
medula tersusun dari pembuluh darah, saraf, dan jaringan ikat. Korteks berisi lapisan-
lapisan sel dan jaringan yang terkait dengan ovum dan produksi hormon. Folikel
primer terbentuk selama masa kebuntingan dari induk. Folikel berada dalam keadaan
konstan terhadap pertumbuhan dan pematangan (Yusuf, 2012).
Gambar 7. Diagram dan struktur yang dapat diidentifikasi dalam pembelahan
ovarium

Folikel primer diikuti oleh proliferasi sel-sel granulosa yang mengelilingi sel
telur. Ovum yang dikelilingi oleh dua atau lebih lapisan sel granulosa adalah folikel
sekunder. Pada saat kelahiran, sel-sel folikel mengelilingi oosit primerdi dalam
ovarium membentuk folikel primordial. Bentuk dan ukuran ovarium bervariasi
tergantung spesies dan tahapan dalam siklus berahi. Perkembangan folikel mencapai
kematangannya melalui tingkatan-tingkatan perkembangan; primer, sekunder, tersier
dan de graaf. Pola vascular ovarium berubah tergantung pada status hormonal
sehingga adaptasi suplai darah tergantung pada kebutuhan organ. Aliran darah arterial
ke ovarium bervariasi dalam proporsi aktifitas luteal. Perubahan homodinamik
kelihatannya lebih penting dalam pengaturan fungsi corpus luteum (CL) dan
kelangsungan hidupnya. Kemudian, perubahan aliran darah memulai penurunan
sekresi progesteron, dimana pembatasan aliran darah ovarium menyebabkan regresi
CL secara prematur. Pada sapi, aliran darah ke ovarium tertinggi selama fase luteal
dan menurun pada saat regresi luteal serta mencapai titik terendah sesaat sebelum
ovulasi (Yusuf, 2012).
Gambar 8. Fitur penting fungsional dari folikel Graaf

Tabel 2. Ringkasan organ-organ reproduks ibetina dan fungsi utama dari organ-organ tersebut

Fase-Fase dan Tahapan Pada Ovarium


Ovarium merupakan organ reproduksi primer pada hewan betina yang dapat
menghasilkan sel telur dan hormon. (Hafez and Hafez, 2000). Sel telur (ovum) adalah suatu
sel yang dapat dibuahi dan menjalani perkembangan embrional. Pengadaan ovum, terjadi
didalam ovarium meliputi ovogenesis atau oogenesis, pembentukan folikel dan ovulasi.
Oogenesis adalah perubahan bentuk oogonia menjadi oosit. Pada semua ternak, proses
oogenesis berakhir sebelum atau sesudah partus (Tolihere, 1977).
Sel telur berkembang di dalam ovarium sejalan dengan pertumbuhan folikel yang
membungkusnya. Perkembangan Folikel dari folikel primordial, primer, sekunder dan
akhirnya membentuk folikel dominan dan folikel de Graaf yang siap diovulasikan (Hafez and
Hafez, 2000). Setelah ovulasi terjadi, maka pada bagian ovarium tempat terjadinya ovulasi
akan terbentuk berturut-turut corpus haemoragicum dan corpus luteum (Toelihere, 1985).
Prinsip fase folikel meliputi fase proestrus dan estrus sedang fase luteal meliputi fase
metestrus dan diestrus. Pembagian tersebut didasarkan pada pertumbuhan dan perkembangan
folikel di dalam ovarium untuk persiapan ovulasi sedang fase luteal didasarkan atas
terbentuknya korpus luteum yang akan menghasilkan hormon progesteron sehingga fase ini
dikenal juga sebagai fase progestasional. (Hafez, 1980). Semua kejadian tersebut hanya dapat
terjadi pada hewan betina yang mempunyai siklus reproduksi yang normal. Pada hewan
betina yang mengalami gangguan folikulogenesis, maka tidak akan terbentuk folikel
dominan. Demikian halnya pada hewan betina yang mengalami gangguan ovulasi karena
kurangnya suplai hormon Luteinizing Hormone (LH) tidak akan pernah terbentuk corpus
luteum pada ovariumnya. Keberadaan folikel dominan dan corpus luteum dapat diamati
secara visual, sehingga status reproduksi seekor hewan betina dapat diprediksi secara
langsung (Saili et al., 2016).

Siklus Estrus Pada Sapi dan Babi


Siklus estrus dibagi menjadi empat periode yaitu proestrus, estrus, metestrus dan
diestrus (Marawali et al, 2001). Proestrus adalah fase yang terjadi sebelum estrus ditandai
dengan perkembangan folikel preovulasi (folikel De graaf) dibawah pengaruh Follicle
Stimulating Hormone (FSH) dan terjadi peningkatan hormon estrogen, yang mengakibatkan
bertambahnya pertumbuhan sel-sel dan cilia pada tuba fallopii, sekresi estrogen ke urine
meningkat dan terjadi penurunan konsentrasi progesteron dalam darah. Pada akhir periode
proestrus, hewan betina memperlihatkan perhatiannya pada hewan jantan (Toliehere, 1985b).
Estrus adalah periode setelah proestrus yang ditandai oleh keinginan kelamin dan
penerimaan pejantan oleh betina. Estrus merupakan fase dimana folikel mencapai tingkat
kematangan yang tertinggi dan peningkatan produksi estrogen akan menyebabkan
Luteinizing Hormone surge, yaitu produksi LH dari pituitary anterior sehingga ovum dapat
diovulasikan (Sawo, 2011). Estrus atau birahi merupakan fase reproduksi yakni keinginan
dari makluk hidup untuk kawin, baik pada jantan maupun betina. Pada ternak betina gejala
estrus yang muncul merupakan indikasi bahwa ternak tersebut minta kawin (Parera et al,
2011).
Metestrus adalah periode setelah estrus yang ditandai dengan corpus luteum (CL)
tumbuh cepat dari sel-sel granulosa dan lama metestrus pada sapi sekitar 3-4 hari. Diestrus
adalah periode akhir dan terlama pada siklus estrus, CL menjadi matang dan pengaruh
progesteron pada saluran reproduksi menjadi nyata (Marawali et al, 2001). Pada fase ini
mulai terjadi perkembangan folikel primer dan sekunder dan akhirnya kembali ke proestrus,
pada sapi lama diestrus sekitar 13 hari (Tolihere, 1985 b). Gambaran lebih singkat mengenai
siklus estrus yaitu fase-fase yang sudah dijelaskan diatas disingkat menjadi dua fase. Fase
proestrus dan estrus menjadi fase folikel, karena dalam fase inilah folikel tumbuh dengan
cepat, sedangkan fase metestrus dan diestrus disebut fase luteum, karena dalam fase ini CL
tumbuh dan berkembang (Partodihardjo, 1987).
Sapi
Pengaturan hormonal diawali oleh hormon hipotalamus yaitu GnRH yang
disekresikan oleh hipotalamus akan menstimuli FSH dan LH dilepaskan dari adenohipofise,
selama proestrus terjadi peningkatan, mencapai puncaknya pada fase estrus, dan akhirnya
menurun pada akhir metestrus. Pada periode diestrus akan tetap rendah sampai periode
proestrus.
Hormon-hormon hipofise yang ikut dalam pengaturan siklus estrus
adalah FSH dan LH. FSH dihasilkan oleh adenohipofise akan merangsang perkembangan
folikel pada ovarium yang akhirnya menghasilkan estrogen. FSH ada di dalam darah dan
jumlahnya meningkat pada hari ke-4 sampai hari ke-6, akan terus meningkat dan merangsang
perkembangan folikel sampai terjadinya ovulasi. Hormon lainnya adalah LH yang
menyebabkan ruptur (pecah) folikel dan memulai perkembangan korpus luteum. LH
mencapai puncaknya pada awal estrus dan ovulasi akan terjadi 30 jam kemudian. Konsentrasi
GnRH, FSH, dan LH.
Dua hormon ovarium yang langsung mengatur siklus estrus adalah estrogen dan
progesteron. Estrogen dihasilkan oleh folikel yang sedang tumbuh akbatnya rangsangan FSH.
Perubahan konsentrasi estrogen sesuai dengan perkembangan folikel dan mencapai
puncaknya pada awal estrus. Estrogen menyebabkan libido hewan menjadi kelihatan dan
organ-organ reproduksi mempersiapkan terjadinya konsepsi.
Progsteron dihasilkan oleh sel-sel luteal dari korpus luteum yang mulai berfungsi
pada hari ke-3 sampai ke-4 siklus estrus dan mulai meningkat dalam hal konsentrasi dan
reproduksi sampai pada hari ke-8 siklus. Konsentrasi progesteron akan bertahan sampai hari
ke-16, pada saat korpus luteum mulai mengalami regresi sehingga konsentrasi progesteron
sangat menurun. progesteron akan tetap dipertahankan dan berfungsi apabila terjadi
kebuntingan pada ternak.

Babi
Satu periode siklus estrus pada babi menghasilkan ovum matang dalam jumlah
banyak (12-20) kemudian diovulasikan. Pengaruh FSH berlangsung selama 5-6 hari sampai
folikel menjadi matang, kemudian pengaruh LH menyebabkan terjadinya reptur ovum yang
matang. Ovulasi terjadi 35-40 jam setelah awal estrus dan konsentrasi LH mencapai
puncaknya. Ovum yang pecah akan membentuk korpus luteum. Sel-sel luteal akan
menghasilkan progesteron yang mencapai puncaknya pada pertengahan siklus dan menurun
pada hari ke-15 dan 16 siklus.

Lamanya Estrus Dan Waktu Ovulasi


Sapi
a. Lamanya estrus : 15 jam (6-24)
b. Ovulasi : - 24-32 jam dari awal estrus - 10-12 jam setelah akhir estrus.
Babi
a. Lamanya estrus : 50 jam (12-96)
b. Ovulasi : 36-44 jam dari awal estrus
c. Lonjakan LH sampai terjadinya ovulasi : 40 jam.
Proses Fertilisasi dari Zigot sampai Fetus

Fertilisasi atau pembuahan secara in Vitro melibatkan penetrasi ovum oleh


spermatozoa, aktivitas ovum, pembentukan pronukleus jantan dan betina serta pertautan
kromosommaternal paternal membentuk genom. Tingkat fertilisasi adalah jumlah oosit yang
mempunyai 2 pronukleus (2PN) yaitu jantan dan betina.
Tahapan pertama fertilisasi adalah penetrasi spermatozoon melalui sel-sel kumulus
dan sel-sel korona radiata dengan kepala melekat pada zona pellucida. Terdapat dua enzim
yang berperan dalam proses ini yakni enzim hyaluronidase dan enzim penetrasi korona yang
membantu perjalannanya. Kedua enzim ini berasal dari spermatozoa yang dilepaskan selama
proses kapasitasi dan reaksi akrosom. Pada tahap kedua, spermatozoon penetrasi zona
pellucida dan membran plasma kepala sperma berfusi dengan membran vitelin. Reaksi zona
dimulai dengan hilangnya granula/butiran kortical. Sperma masuk ke dalam sitoplasma oosit
menimbulkan blokade vitelin yang mencegah masuknya sperma lain. Setelah memasuki
sitoplasma, ekor sperma terlepas dari kepala. Mitokondria yang terdapat di dalam ekor
berdegenerasi di dalam sitoplasma yang kemudian sitoplasma menyusut dan polar body
terekstrusi. Baik pronuclei jantan dan betina terbentuk dan yang diakhiri dengan syngamy;
penyatuan pronuclei membentuk sigot yang merupakan akhir dari fertilisasi.
Cleavage (Pembelahan)

Cleavage merupakan proses pembelahan sel tanpa diikuti dengan pertumbuhan.


Setelah fertilisasi, sigot akan membelah berkali-kali tanpa adanya peningkatan di dalam
sitoplasma. Cleavage pertama akan menghasilkan dua sel embrio yang diikuti dengan
cleavage lainnya menjadi 4, 8, 16, 32 sel dan seterusnya. Ketika embrio dari oviduct menuju
uterus, bola embrio 16 sampai 32 sel akan terkandung dalam zona pellucida, dimana struktur
ini disebut sebagai morula yang beberapa hari kemudian membentuk blastosis yakni struktur
rongga yang berisi cairan (blastocoele) yang dikelilingi dengan lapisan sel. Pada ahari ke 6
atau 7 setelah fertilisasi, blastosis siap berimplantasi didalam dinding uterus, hal tersebut
menyebabkan zona pelusida akan melebur dan siap berpenetrasi kedalam dinding
endometrium. Sel-sel tropoblast pada tepi sigot berinvaginasi untuk memperkokoh
kedudukan sigot dalam dinding uterus. Setelah periode cleavage, pembelahan sel akan terus
berlanjut dan diikuti dengan pertumbuhan. Pola perkembangan selama cleavage umumnya
sama untuk semua spesies, dimana periode ini berlangsung dari fertilisasi kira-kira 12 hari
pada sapi, 10 hari pada domba, dan 6 hari pada babi. Untuk perkembangan yang cepat, dapat
dilihat pada ternak yang mempunyai lama kebuntingan yang pendek. Perbandingan dari
ovulasi selama cleavage pada spesies yang berbeda disajikan pada tabel di bawah ini.

Spesies 1 sel (jam) 8 Sel Blastosis Masuk ke uterus


Hari
Sapi 24 3 8 3.5
Kuda 24 3 6 5
Domba 24 2.5 7 3
Babi 14--16 2 6 2
Diferensiasi: Periode embrio yang sesungguhnya adalah pada saat diferensiasi,
dimana periode ini ketika sel-sel dalam proses pembentukan spesifik organ di dalam tubuh
embrio, termasuk didalamnya pembentukan lapisan-lapisan germinal (germ layers), membran
luar embrio (extraembryonic membrane) dan organ. Peristiwa pertama pada permulaan
diferensiasi adalah penampakan lapisan germinal yakni endoderm, mesoderm, dan ectoderm
yang merupakan cikal bakal organ yang akan dibentuk seperti pada tabel berikut.

Lapisam Germinal Organ


Ectoderm 1. Sisitim saraf pusat
2. Organ perasa
3. Kelenjar susu
4. Kelenjar keringat
5. Kulit
6. Rambut
7. Kuku
Mesoderm 1. Sistim sirkulasi
2. Sistim pertulangan
3. Otot
4. Sistim reproduksi (jantan dan betina)
5. Ginjal
6. Saluran urinasi (kencing)
Endoderm 2. Hati
3. Paru-paru
4. Pankreas
5. Kelenjar tiroid
6. Kelenjar lainnya

Penampakan lapisan germinal, pembentukan membran luar embrionik dimulai yakni


amnion dan allanto-chorion serta kantong kuning telur (yolk sac) yang dilihat pada awal
diferensiasi dan akan menghilang menjelang akhir tahap perkembangan ini. Amnion
membentuk trophoderm (lapisan luar yang terbentuk dari penggabungan antara ectoderm dan
mesoderm). Amnion ini berisi cairan yang memungkinkan perlindungan dan perkembangan
embrio. Amnion ini dapat dipalpasi melalui rektum antara 30 sampai 45 hari kebuntingan.
Allanto-chorion; bagian luar dari membran embrionik yang terbentuk dari penyatuan antara
chorion dan allantois melekat pada endometrium selama plasentasi membentuk plasenta,
yang menyebabkan oksigen dan makanan dari darah induk melalui plasenta masuk ke dalam
sirkulasi embrio yang mengakibatkan perkembangan embrio. Hasil buangan termasuk
ammonia dan karbondioksida dari embrio melalui plasenta ke dalam darah induk untuk
eliminasi di dalam sistim induk. Setelah proses diferensiasi ini selesai, maka dilanjutkan
dengan pembentukan dan perkembangan organ, dimana produk dari konseptus ini disebut
fetus. Bagian kebuntingan antara selesainya proses diferensiasi dan kelahiran diistilahkan
dengan periode fetus.

Mekanisme Kerja Hormon dalam Mengatur Fungsi Reproduksi

Secara umum hormon reproduksi dihasilkan oleh tiga bagian utama yakni
Hipotalamus, Hipofisa, dan Gonadotropin. Ketiga bagian inilah yang memegang peranan
penting dalam mensintesis ataupun mensekresikan hormon reproduksi. Hipotalamus
menghasilkan hormon Gn-RH (Gonadotropin Releasing Hormone), dimana Gn-RH berfungsi
untuk merangsang atau menstimulasi hipofisa anterior untuk mensintesis hormon
gonadotropin yakni FSH dan LH, ICSH pada jantan. Setelah hipotalamus menstimulasi
hipofisa anterior, maka hipofisa anterior akan mensintesis dan melepaskan hormon-hormon
gonadotropin yakni FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing Hormone)
pada betina dan ICSH (Interstitial Cell Stimulating Hormone) pada jantan.

Hormon gonadotropin (FSH, LH, dan ICSH) berperan dalam merangsang


perkembangan pada organ reproduksi baik jantan maupun betina. FSH akan menstimulasi
pertumbuhan folikel di dalam ovarium dalam menghasilkan hormon estrogen tepatnya pada
folikel yang terdapat di dalamnya, sedangkan LH akan menstimulasi ovarium dalam
menghasilkan hormon progesteron tepatnya pada corpus luteum. Pada jantan, FSH akan
menstimulasi testis dalam menghasilkan dan mengatur perkembangan sperma serta proses
spermatogenesis tepatnya di dalam tubulus seminiferus. Sedangkan LH akan menstimulasi
testis dalam mensintesis hormon testosteron yang tepatnya berlangsung di dalam sel leydig
atau sel interstitial.

Mekanisme Kerja Hormon Reproduksi pada Hewan Betina

Telah diketahui bahwa hipotalamus merupakan kelenjar sumber hormon reproduksi.


Dimana hipotalamus dalam kerjanya menghasilkan hormon Gn-RH yang kemudian Gn-RH
akan menstimulasi hipofisa anterior dalam mengatur pelepasan hormon FSH dan hormon LH.
Hormon FSH akan menstimulasi pertumbuhan folikel dalam ovarium dan menghasilkan
hormon estrogen, sedangkan hormon LH akan menstimulasi corpus luteum dalam ovarium
untuk menghasilkan hormon progesteron. Apabila terlampau banyak FSH yang dilepaskan
oleh HA (hipofisa anterior) maka kadar estrogen yang dihasilkan oleh folikel akan semakin
meningkat, disinilah peranan enzim inhibin dalam menghambat folikel dalam menghasilkan
hormon estrogen melalui feedback negatif terhadap HA (hipofisa anterior).

Mekanisme Kerja Hormon Reproduksi pada Hewan Jantan

Tidak jauh beda dengan penjelasan di atas, hal yang membedakan adalah pada hewan
jantan yang berperan sebagai alat reproduksi primer adalah testis. Di dalam testis terdiri dari
tubulus seminiferus dan sel leydig. Tubulus seminiferus akan menghasilkan dan mengatur
perkembangan sperma dalam proses spermatogenesis, sedangkan sel leydig berperan dalam
mensintesis hormon testosteron.

Proses spermatogenesis yang terjadi di dalam tubulus seminiferus distimulasi oleh


FSH sedangkan pelepasan hormon testosteron oleh sel leydig distimulasi oleh ICSH. Apabila
terlampau banyak FSH yang dilepaskan oleh HA (hipofisa anterior) maka kadar spermatozoa
yang dihasilkan oleh tubulus seminiferus akan semakin meningkat, disinilah peranan enzim
inhibin dalam menghambat tubulus seminiferus dalam menghasilkan spermatozoa melalui
feedback negatif terhadap HA (hipofisa anterior).

Gametogenesis

Gametogenesis dibagi dalam dua kelompok berdasarkan jenis kelamin yakni


oogenesis dan spermatodenesis. Pembentukan dan pematangan gamet harus dilakukan baik
betina maupun jantan. Oogenesis merupakan pembentukan dan pematangan gamet betina
(ovum). Oogenesis berlangsung di dalam ovarium. Sedangkan spermatogenesis adalah proses
dimana spermatozoa dibentuk. Proses ini terjadi di dalam tubulus seminiferus.
Setelah pembentukan spermatozoa di dalam tubulus seminiferus, spermatozoa dipaksa
masuk ke dalam epididimis sebagai tempat penyimpanan melalui rete testis dan vasa
eferensia. Di dalam epididimis, spermatozoa dimatangkan yang kemudian mampu untuk
berfertilisasi. Pembahasan mendalam terhadap proses pembentukan gamet betina dan
spermatozoa akan dibahas pada bab ini. Oleh karena itu, ruang lingkup materi pembelajaran
ini mencakup :
1. Oogenesis
2. Spermatogenesis

Oogenesis
Oogenesis atau ovigenesis bermula pada periode prenatal. Potensial gamet oogonium
terkait dengan folikel primer pada awal pembentkannya. Oogonia berasal dari perpanjangan
yolk sac yang terbentuk dari bagian belakang embrio. Pada awal pembentukannya, proliferasi
oogonia dengan pembelahan mitosis terjadi dalam parenkim ovarium. Proliferasi ini berhenti
sebelum kelahiran sehingga ovarium mempunyai jumlah potensial ova atau oosit yang tetap
pada saat dilahirkan. Oosit memasu ki profase pada pembelahan miosis pertama selama
peride fetus dan kemudian dorman yang kemudian disebut dictyate oocytes. Selama periode
prenatal dan selanjutnya setelah dilahirkan, telah dilaporkan bahwa terjadi pola siklus dalam
pertumbuhan dan pematanga n oosit, namun demikian, tidak ada oosit yang betul-betul
matang sampai mencapai umur pubertas.
Diperkirakan bahwa kurang dari 1% dari semua oosit yang mencapai kematangan dan
dilepaskan selama ovulasi. Pertumbuhan dan pematangan oosit akan berlanjut secar a
bersiklus setelah pubertas. Selama gelombang pertumbuhan folikel yang terjadi pada setiap
siklus berahi, sekelompok oosit terkait dengan mulainya pertumbuhan dan pematangan
folikel ini. Kebanyakan menjadi atretic (atresia) sedangkan lainnya tetap dorman. Namun
demikian, pada saat regresi luteal, oosit dengan folikel dominan mencapai kematangan dan
dilepaskan melalui ovulasi ke sistim duktusuntuk fertilisasi pada sapi, domba, kambing dan
kuda. Pada babi, 10 sampai 25 oosit dapat mencapai kematangan dan ber ovulasi. Setelah
miosis berhenti, perkembangan, pematangan kembali dengan pertumguhan oosit dan
pembentukan zona pellucid, membran luar seperti gel di sekitar oosit.
Pertumbuhan oosit diikuti dengan pertumbuhan folikel. FSH menstimulir proliferasi
sel-sel granulosa yang mengelilingi oosit, dengan folikel berkembang dari folikel primer
menjadi folikel sekunder. Berlanjutnya stimulasi FSH menghasilkan kelanjutan proliferasi
sel-sel granulosa dan pembentukan antrum. Proliferasi sel -sel teka (thecal cells) diluar
membran dasar terjadi dengan pengaruh LH. Selama perkembangan ini, folikel
diperuntukkan untuk ovulasi, dan menjadi folikel dominan. Ketika folikel dominan dan
folikel antral lainnya mensekresi cukup estrogen, lonjakan preovulatory LH terpicu.
Tingginya level LH mengakibatkan pelepasan oosit ke dalam cairan folikel, yang kemudian
berlanjut dan penyelesaian miosis I. Produk dari pembelahan pertama miosis adalah oosit
sekunder dan polar body pertama yang tersimpan/berlokasi diantara membran vitelin dan zon
a pellucid di dalam ruang perivitelin. Pada pembelahan ini, jumlah kromosom di dalam oosit
berubah dari diploid (2n) menjadi haploid (n). Oosit sekunder mempertahankan semua
sitoplasma dan setengah materi inti (kromosom) dari oosit primer. Kemudian setenga h dari
materi inti tersebut terekstrusi sebagai polar body. Pembelahan miosis pertama ini berakhir
sesaat sebelum ovulasi pada sapi, babi dan domba serta segera setalah ovulasi pada kuda.
Pembelahan miosis kedua dimulai segera setelah pembelahan pertama s elesai dan berhenti
pada metaphase II. Miosis kedua dimulai kembali pada saat proses fertilisasi dan akan
lengkap/selesai dengan interaksi antara oosit dengan spermatozoa. Produk dari pembelahan
miosis kedua adalah sigot dan polar body kedua.
Gambar 1. Tahapan pematangan pada sel-sel germinal selama oogenesis (Bearden and
Fuquay, 1992).

Selama periode fetus, pembelahan mitosis telah selesai dan miosis pertama mulai.
Miosis pertama tertahan setelah kelahiran pada profase I. Pertumbuhan oosit dan
pembentukan zona pellucida diikuti dengan pertumbuhan folikel. Preovulatory lonjakan LH
menginisiasi mulainya miosis. Miosis pertama selesai tetapi meiosis II berhenti pada
metaphase II. Selama fertilisasi, miosis II kembali dan selesai dengan pembentukan
sigot.menginisiasi mulainya miosis. Miosis pertama selesai tetapi meiosis II berhenti pada
metaphase II. Selama fertilisasi, miosis II kembali dan selesai dengan pembentukan sigot .

Spermatogenesis

Spermatogenesis dapat dibagi dalam dua fase yang berbeda yakni spermatositogenesis
dan spermiogenesis. Spermatositogenesis merupakan serangkaian pembelahan dari
spermatogonia sampai membentuk spermatid. Spermatogonia merupakan potensial gamet
yang kecil, bulat, dan lebih banyak sel -sel. Sedangkan spermiogenesis merupakan fase
dimana spermatid bermetamorfosis membentuk spermatozoa. Dalam pembentukannya di
tubulus seminiferus, proses ini akan berlangsung selama 46-49 hari pada domba, 36-40 hari
pada babi dan lebih lama pada sapi (56-63 hari).
Spermatozoa yang telah berkembang, kemudian bermigrasi dari membran dasar
tubulus seminiferus menuju lumen. Terdapat dua jesis sel yang terdapat pada membran dasar
tubulus seminiferus yakni sel-sel sertoli yang lebih besar dan dengan jumlah sedikit dan sel-
sel somatik yang berperan dalam mendukung selama proses spermatositogenesis dan
spermiogenesis.
Selama spermiogenesis, spermatid melekat pada sel-sel Sertoli. Masing-masing
spermatid bermetamorfosis (perubahan dalam morfologi) membentuk spermatozoon. Selama
proses metamorphosis ini, materi inti akan kompak/menyatu pada salah satu bagian sel,
membentuk kepala spermatozoon, sedangkan sel selebihnya memanjang membentuk ekor.
Akrosom yang merupakan pembungkus kepala spermatozoon, akan terbetuk dari badan Golgi
dari spermatid. Sitoplasma dari spermatid terlepas pada pembentukan ekor, droplet
sitoplasmik ini akan membentuk leher spermatozoon. Mitokondria dari spermatid akan
membentuk spiral bagian atas sekitar seperenam dari ekor, membentuk penutup mitokondrial.
Spermatozoa yang baru dibentuk kemudian dilepaskan dari sel sertoli dan dipaksa keluar
melalui lumen tubulus simeniferi ke dalam rete testis. spermatozoa merupak sel unik yang
tidak memiliki sitoplasma dan setelah proses maturasi/pematangan mempunyai kemampuan
motil secara progresif.

Gambar 2. Spermatogensis menunjukkan urutan peristiwa dan waktu yang terlibat dalam
spermatogenesis pada domba (Bearden and Fuquay, 1992).

Proses pada Gambar 1 menunjukkan bahwa spermatogonium (A2) membelah dengan


mitosis, membentuk spermatogonium aktif (A3) spermatogonium dan spermatogonium
dorman (tidak aktif) (A1). Spermatogonium aktif mengalami empat pembelahan mitosis
membentuk 16 spermatosit primer. Masing-masing spermatosit primer akan mengalami dua
kali pembelahan miosis membentuk empat spermatid (sehingga membentuk 64 spermatid
dari spermatogonium A3). Spermatogonium duorman (A1) kemudian akan membelah
menghasilkan spermatogonia (A2) yang dengan pembelahan mitosis akan membentuk
spermatogonia aktif baru (A3) dan spermatogonia dorman baru (A1). Masing-masing
spermatid mengalami metamorfosis untuk membentuk spermatozoon (setiap spermatozoon
membesar membentuk morfologi yang lebih detail).
Gambar 3. Segmen kecil dari tubulus seminiferus aktif menunjukkan tahap perkembangan
yang terjadi selama spermatogenesis. Perhatikan lapisan konsentris dari
spermatogonia, spermatosit, dan spermatid maju dari dinding tubulus seminiferus
ke lumen (Bearden and Fuquay, 1992).

Kontrol Hormon pada Spermatogenesis


Pada sapi dan domba, terdapat 3 sampai 7 lonjakan LH per hari yang juga diikuti oleh
lonjakan testosteron. Peran utama LH dalam peraturan spermatogenesis tampaknya tidak
langsung bahwa hal itu merangsang pelepasan testosteron dari sel Leydig. Testosteron dan
FSH bekerja di dalam sel-sel tubulus seminiferus untuk menstimulir spermatogenesis.
Testosteron diperlukan pada tahap-tahap tertentu dalam spermatositogenesis dan faktor
dominan dalam pengaturan proses ini. Konsentrasi testosteron yang tinggi dalam cairan pada
tubulus seminiferus (100-300 kali lebih tinggi dari plasma peripheral) nampaknya penting
untuk untuk spermatogenesis normal. Konsentrasi tinggi ini dipertahankan melalui
pengikatan testosteron terhadap androgen-binding protein (protein yang mengikat androgen).
androgen-binding protein ini diserap di dalam epididimis yang disekresikan oleh sel-sel
Sertoli dibawah stimulasi FSH. Oleh karena itu, konsentrasi testosteron yang tinggi ini
dipertahankan di dalam rete testis, vasa eferensia, bagian proximal epididimis dan juga pada
tubulus seminiferus. FSH dan LH dilepaskan atas pengaruh GnRH. FSH penting untuk sel-sel
Sertoli termasuk sekresi inhibin, estrogen, dan androgen-binding protein. FSH nampak lebih
dominan dalam mengatur spermiogenesis melalui pengaruh secara langsung melalui sel
germinal dan/atau tidak langsung melalui fungsi dari sel-sel Sertoli. FSH dibutuhkan untu
produksi spermatozoa.
Testosteron merupakan umpan balik negatif pada hipotalamus dan konsentrasi
pituitari anterior. Konsentrasi testosteron yang tinggi akan menghambat pelepasan GnRH,
FSH, dan LH, sedangkan konsentrasi rendah memungkinkan pelepasannya. PGF2 akan
merangsang pelepasan LH dan testosteron. Oleh karena itu, PGF2 mungkin terlibat dalam
pengaturan umpan balik antara hipotalamus, hipofisa anterior, dan testis.

Folikulogenesis
Folikulogenesis merupakan proses kompleks yang diatur oleh faktor parakrin dan
autokrin (Demeestere, 2005) yang terdiri dari perkembangan ukuran folikel, penambahan
jumlah lapisan sel granulosa, perkembangan sel teka interna dan sel teka eksterna,
pembungkusan ovum oleh kumulus oophorus, serta peningkatan cairan rongga folikel (Yusuf,
2012). Beberapa endokrin dan faktor lokal ikut serta dalam proses kompleks pertumbuhan
folikel ovari dan pematangan oosit (Yusuf, 2012).

Tahapan Perkembangan Folikel

Tahap-tahap Perkembangan Folikel Menurut Collado-Fernandez dkk. (2012),


perkembangan folikel dimulai dari folikel primordial, folikel primer, folikel sekunder, dan
folikel tertier (Gambar 4).

Gambar 4. Folikulogenesis dan pertumbuhan oosit pada mamalia (Yusuf, 2012).


Pertumbuhan Folikel

Gambar 5. Histologi pertumbuhan dan perkembangan folikel (Yusuf, 2012).

1. Folikel Primordial
Perkembangan oosit sejak masih fetus yang kemudian berdiferensiasi menjadi folikel
primordial. Sebelum masuk meiosis, terjadi proliferasi folikel primordial yang mana rigi
genital berdiferensiasi menjadi oogonia, untuk selanjutnya menjadi folikel primer. Diakhir
kelahiran, oosit masak dan dewasa, terisi mRNAs, protein, substrat metabolik, dan
organelaorganela. Bahan-bahan tersebut digunakan untuk mendukung fertilisasi, genom,
kariogami dan pemulaan pembelahan divisi zigot sampai dimulai aktivasi embrio genom.

2. Folikel Primer
Oosit primer yaitu pada masa diploten dari profase meiosis I, diselubungi oleh satu
lapisan sel pragranulosa dan membran dasarnya membentuk folikel primordial. Folikel
primordial kemudian akan atresia. Pertumbuhan berikutnya menjadi folikel primer memiliki
ciri lapisannya diisi oleh proliferasi sel granulosa kuboid seperti pada Gambar 5. Oosit primer
(tahap diktioten) mulai membesar, inti oosit akan membesar dan disebut vesikel germinal.
Selapis sel folikel berubah dari pipih menjadi kuboid. Folikel ini disebut folikel primer
unilaminer. Kemudian sel folikel berproliferasi melalui mitosis dan membentuk epitel
berlapis atau lapisan granulosa. Folikel tersebut menjadi folikel primer multilaminer dimana
terdapat pertautan antara sel-sel folikel (Yusuf, 2012). Beberapa saat postnatal, oosit primer
tetap dalam tahap profase dan tidak mengalami pembelahan meiosis I dengan adanya Oosit
Maturation Inhibitor (OMI) yang dikeluarkan oleh sel folikel (Guerin, 2003).
3. Folikel Sekunder
Selama proses perkembangan folikel, sel granulosa kuboid akan terus juga berkembang
dan selanjutnya lapisan teka yang menyuplai darah bebas sebagai sumber nutrisi. Folikel
mengalami fase antral sekunder, preantral, dan antral sebelum mengalami pematangan dan
ovulasi. Bentuk rongga antral ketika folikel mencapai diameter 200-500 mm terisi penuh oleh
cairan folikel, yang menjadi sumber oksigen, molekul buffer, karbohidrat, asam amino, faktor
pertumbuhan, hormon dan molekul lainnya. Selain itu, pembentukan antrum mengarah ke
diferensiasi sel granulosa mural, pada batas bawah membran dan ditandai dengan peran
endokrinnya yang khusus. Oosit Matang. Sel kumulus, berkaitan erat dengan pematangan
oosit. Kompleks kumulus oosit dalam folikel tumbuh oosit mengalami peningkatan volume
100-300 kali lipat yang didukung oleh meningkatnya sel granulosa sekitarnya (Yusuf, 2012).

4. Folikel Tertier dan Folikel de Graaf


Sel-sel lapisan granulosa menepi ke dinding folikel dan membentuk bukit kecil sel-sel
yang mengikat oosit yang disebut kumulus oophorus dan menonjol ke antrum folikuli
(Gambar 5). Sel kumulus ini akan mensekresikan asam hialuronat dalam jumlah banyak dan
diakumulasikan pada bagian intraseluler yang menyebabkan disosiasi kumulus. Oosit tidak
akan berkembang lagi. Sel granulosa yang menyusun lapisan pertama di sekitar oosit yang
berlekatan dengan zona pelusida disebut korona radiata, yang menyertai oosit setelah
meninggalkan ovarium sampai beberapa saat di tuba falopii. Meskipun sel granulosa dan
oosit mengalami degenerasi selama atresia, sel-sel teka interna tetap aktif mensekresikan
steroid seperti androgen ovarium (Junqueira dan Carneiro, 2005).

5. Corpus Luteum (CL)


Pada fase luteal, sel granulosa menghasilkan steroid yaitu P4. Sel granulosa akan
membentuk parenkim besar-besar dan mengandung lutein. Sel teka membentuk stroma
seperti fibroblast. Sel granulosa lutein mengandung pigmen lutein (kuning) atau butir lipoid
(tidak berwarna) yang merupakan campuran fosfatida dan serebrosida, sedangkan sel teka
lutein lebih kecil dan mengandung kolesterol. CL pada kuda, sapi dan karnivora berwarna
kuning karena mengandung lutein (Yusuf, 2012).

Inseminasi Buatan

Inseminasi Buatan (IB) adalah proses memasukkan sperma ke dalam saluran


reproduksi betina dengan tujuan untuk membuat betina jadi bunting tanpa perlu terjadi
perkawinan alami. Konsep dasar dari teknologi ini adalah bahwa seekor pejantan secara
alamiah memproduksi puluhan milyar sel kelamin jantan (spermatozoa) per hari, sedangkan
untuk membuahi satu sel telur (oosit) pada hewan betina diperlukan hanya satu spermatozoa.
Potensi yang dimiliki seekor pejantan sebagai sumber informasi genetik, terutama yang
unggul, dapat dimanfaatkan secara efisien untuk membuahi banyak betina (Hafez, 1993).
Teknik IB yang umum digunakan adalah menggunakan semen beku pada ternak sapi dan
semen cair pada ternak babi.
Menurut Ihsan, (1993) saat yang baik melakukan IB adalah saat sapi betina
menunjukkan tanda-tanda birahi antara lain: alat kelamin yang berwarna merah
membengkak kalau diraba terasa hangat, sapi betina sering mengeluh dan pada alat
kelaminnya terlihat adanya lendir transparan atau jernih, sapi betina yang birahi akan
menaiki atau diam jika dinaiki sapi lain.
Menurut Bandini (2004), Inseminasi Buatan adalah pemasukan atau penyampaian
semen ke dalam saluran kelamin betina dengan menggunakan alat-alat buatan manusia, jadi
bukan secara alam. Dalam praktek prosedur IB tidak hanya meliputi deposisi atau
penyampaian semen ke dalam saluran kelamin betina, tetapi juga tak lain mencakup seleksi
dan pemeliharaan pejantan, penampungan, penilaian, pengenceran, penyimpanan atau
pengangkutan semen, Inseminasi, pencatatan dan juga penentuan hasil inseminasi pada
hewan betina, bimbingan dan penyuluhan pada ternak.
Proses Inseminasi
Vulva sapi bali betina dan babi betina dibersihkan dengan aquades, ujung kateter
dibasahi dengan aquades, kemudian kateter dimasukkan secara perlahan-lahan kedalam alat
kelamin betina yang diputar berlawanan dengan arah jarum jam. Setelah kateter masuk dan
serviks telah terkunci, maka penutup bungkus semen digunting dan dimasukkan kedalam
kateter. Kateter agak diangkat keatas supaya semen dapat mengalir kedalam alat kelamin
betina. Proses inseminasi berlangsung selama satu hingga lima menit.

Tahap-tahap Kebuntingan pada Hewan

Berdasarkan ukuran individu dan perkembangan jaringan serta organ, periode kebuntingan
dibedakan atas tiga bagian yaitu:
1. Periode ovum / blastula
Periode yang dimulai dari fertilisasi sampai terjadinya implantasi. Segera setelah terjadi
fertilisasi, ovum yang dibuahi akan mengalami pembelahan di ampullary - isthnic
junction menjadi morula. Pada sapi, masuknya morula kedalam uterus terjadi pada hari
ke 3-4 setelah fertilisasi, 5-8 pada anjing dan kucing dan 3 pada babi. Pada spesies
politokus, tidak menutup kemungkinan adanya migrasi embrio diantara kornu. Pada
unipara (sapi), jarang terjadi. Setelah hari ke 8, blastosit mengalami pembesaran secara
pesat, misalnya embrio domba pada hari ke 12 panjangnya 1 cm, 3 cm pada hari ke 13
dan 10 cm pada hari ke 14. Pada babi, 33 cm pada hari ke 13. Lama periode ini pada sapi
sampai 12 hari, kuda 12 hari, domba dan kambing 10 hari, babi 6 hari, anjing dan kucing
5 hari. Pada peniode ini, embnio yang defektifakan mati dan diserap oleh uterus.

2. Periode embrio / Organogenesis.


Proses dimulai dari implantasi sampai saat dimulainya pembentukan organ tubuh bagian
dalam. Pada sapi berkisar pada hari ke 12-45, domba pada hari ke 11-34, anjing dan
kucing pada hari ke 6-24, dan kuda 12-50 atau 60 setelah fertilisasi. Selama periode ini
terjadi pembentukan : lamina germinativa, selaput ektraembrionik dan organ-organ
tubuh (Toilehere, 1993).

3. Periode Fetus/ pertumbuhan fetus


Proses dimulai dari terbentuknya alat-alat tubuh bagian dalam, terbentuknya ekstremitas,
sampai lahir. Periode ini dimulai kira-kira hari ke-34 kebuntingan pada domba dan
anjing, hari ke-45 pada sapi dan hari ke-55 pada kuda. Selama periode ini terjadi
perubahan dan defferensiasi organ, jaringan dan sistem tubuh. Sedangkan panjang badan
fetus sesuai dengan tahapan kebuntingan dapat dilihat pada Tabel dibawah ini. Pada fetus
jantan, testis akan mengalami descensus testiculorum melewati canalis inguinalis ke
dalam scrotum. Descensus testiculorum ini akan selesai menjelang pertengahan
kebuntingan pada sapi, sedang pada kuda menjelang akhir kebuntingan (Elis, 2011).
Menurut Hafez (2000) dan beberapa ahli embriologi menjelaskan bahwa periode
kebuntingan dibagi menjadi periode ovum (mulai ovum diovulasikan sampai fertilisasi),
periode embrio (sejak fertilisasi, implantasi sampai terbentuknya alat-lata tubuh bagian
dalam) dan periode fetus (setelah terbentuknya alat-alat tubuh bagian dalam sampai
dilahirkan).
Daftar Pustaka
Bearden HJ, Fuquay JW. 1992. Applied Animal Reproduction. 3rd Ed, Prentice Hall,
Englewood Cliffs, Ney Jersey

Guerin, J.F. 2003. Folliculogenesis and Ovulation. http://www.gfmer.ch/Books/


Reproductive_health/Com.

Elisa, 2011. Faal Kebuntingan. UGM Press, Yogyakarta.

Hardjopranjoto, H.S. 1995. Ilmu Kemajiran Pada Ternak. Airlangga University Press.
Surabaya

Hafez, E. S. E., and Hafez, B. 2000, Fertilization and Cleavage. Reproduction in farm
Animals.7th Ed. USA: Williams & Wilkins.
Marawali, A., M.T. Hine, Burhanuddin, H.L.L. Belli. 2001. Dasar-dasar Ilmu Reproduksi
Ternak. Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Pendidikan Tinggi Badan
Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Timur. Jakarta.
Parera, F. F. D, Souhoka, M, E. Jeffri. Serpara. 2011. Kemampuan Peternak Sapi Bali Di
Kecamatan Teon Nila Serua Dalam Mendeteksi Estrus Dan Menentukan Waktu
Kawin. Universitas Pattimura. Ambon. Agrinimal, Vol. No. 2.

Parera, Hermilinda., dan Hadisutanto, Bambang. 2014, Tingkat Fertilisasi Oosit Sapi
Silangan Simmental Peranakan Ongole Secara In Vitro (In Vitro Fertilization Rate
Of Bovine Simmental Ongole Crossbred Oocytes). J Ilmu Ternak. No. 6:28-31 (1).
Partodihardjo, S. 1987. Ilmu Reproduksi Hewan. Cetakan ke 2. Mutiara Sumber Widya.
Jakarta cit Putra, T. T. 2006. Pengaruh Pemberian Progesteron Intravaginal Silicon
Sponge (Privasis) Terhadap Waktu Timbulnya Birahi Pada Sapi Perah. Fakultas
Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Skripsi. Hal 8.
Philadelpia, Baltimore, New York, London Buenos Aires, Hongkong, Sidney, Tokyo.
Sawo, K. 2011. Upaya Peningkatan Efisiensi Reproduksi Ternak Sapi Bali Betina Di
Kabupaten Nabire (The Effort of Improving the Reproductive Efficiency of Bali Cows
in Nabire Regency. Tesis. Universitas Hasanuddin Makassar.
Toelihere, M. R. 1985b. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Angkasa. Bandung.

Yusuf, Muhammad. 2012, Ilmu Reproduksi Ternak. Buku Ajar. Jurusan Reproduksi Ternak.
Fakultas Peternakan. Universitas Hasanuddin. Makasar.