Anda di halaman 1dari 9

Demak; Agustus 2017

Kepada :
Yth. Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia
Jalan Merdeka Barat Utara no. 9-13
Jakarta Pusat 10110

Melalui :
Yth. Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara Semarang
Jalan Abdurrahman Saleh no. 89
Semarang

PERIHAL : MEMORI PERMOHONAN PENINJAUAN KEMBALI ( PK )

Dengan Hormat,
Yang bertandatangan dibawah ini :
1. Nama : SAMINTO
Pekerjaan : Wiraswasta
Warga negara : Indonesia
Tempat Tinggal : desa Boloagung rt 01/01, kecamatan Kayen, kabupaten Pati
2. Nama : EDI PURNOMO
Pekerjaan : Perawat
Warga negara : Indonesia
Tempat Tinggal : desa Boloagung rt 07/01, kecamatan Kayen, kabupaten Pati

Berdasarkan Surat Kuasa Khusus tertanggal 27 Juli 2017, telah memberikan Kuasa kepada:
AYOM GURITNO, SH, Advokat, Indonesia, Tanubayan Baru III/25, Bintoro, Demak, Jawa
Tengah, selanjutnya mohon disebut sebagai PEMOHON PENINJAUAN KEMBALI;

Dengan ini PEMOHON PENINJAUAN KEMBALI ( PEMOHON PK ), hendak mengajukan


Upaya Hukum Luarbiasa Permohonan Peninjauan Kembali ( PK ) ke Mahkamah Agung
Republik Indonesia ( MARI ), melalui Pengadilan Tata Usaha Negara Semarang ( PTUN )
Semarang, terhadap :
Nama Jabatan : KEPALA DESA BOLOAGUNG
Tempat Kedudukan : desa Boloagung, Kecamatan Kayen, kabupaten Pati
selanjutnya mohon disebut TERMOHON PENINJAUAN KEMBALI;

Bahwa PEMOHON PENINJAUAN KEMBALI ( PEMOHON PK ) mengajukan Permohonan


Peninjauan Kembali ( PK ), atas Putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya
nomor : 84/B/2017/PT.TUN.SBY tanggal 23 Mei 2017 Jo. Putusan Pengadilan Tata Usaha
Negara Semarang nomor : 40/G/2016/PTUN.SMG tanggal 15 Desember 2016 yang telah
mempunyai Kekuatan Hukum tetap, terkait terbitnya Surat Keputusan Kepala Desa
Boloagung nomor : 141.32/17 tahun 2016 tanggal 28 April 2016 tentang Pengangkatan
saudara ANIK EKOWATI, S.Kep sebagai Sekretaris Desa, desa Boloagung, kecamatan
Kayen, kabupaten Pati;

Bahwa bunyi amar putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya nomor :
84/B/2017/PT.TUN.SBY tanggal 23 Mei 2017, adalah sebagai berikut :
MENGADILI :
Menerima Permohonan Banding dari Pembanding/Tergugat;
Membatalkan Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Semarang nomor :
40/G/2016/ PTUN.SMG tanggal 15 Desember 2016, yang dimohonkan banding;
MENGADILI SENDIRI
Menyatakan Gugatan Para Terbanding/ Para Penggugat tidak diterima;

halaman 1 dari 9
Menghukum para Terbanding/Para Penggugat untuk membayar biaya perkara dalam
peradilan tingkat pertama dan peradilan tingkat banding, khusus dalam peradilan
tingkat banding ditetapkan sebesar Rp. 250.000,- ( duaratus limapuluh ribu rupiah );

Bahwa bunyi amar Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Semarang nomor :
40/G/2016/ PTUN.SMG tanggal 15 Desember 2016, adalah sebagai berikut :
MENGADILI
Mengabulkan Gugatan Para Penggugat;
Menyatakan batal Surat Keputusan Kepala Desa Boloagung nomor : 141.32/17 tahun
2016 tanggal 28 April 2016 tentang Pengangkatan saudara ANIK EKOWATI, S.Kep
sebagai Sekretaris Desa Boloagung, kecamatan Kayen, kabupaten Pati;
Memerintahkan kepada Tergugat untuk mencabut Surat Keputusan Kepala Desa
Boloagung nomor : 141.32/17 tahun 2016 tanggal 28 April 2016 tentang
Pengangkatan saudara ANIK EKOWATI, S.Kep sebagai Sekretaris Desa Boloagung,
kecamatan Kayen, kabupaten Pati;
Menghukum Tergugat dan Tergugat II Intervensi secara tanggung renteng
membayar biaya perkara sebesar Rp. 347.500,- ( tigaratus empatpuluh tujuh ribu
limaratus rupiah );

Bahwa PEMOHON PK mengajukan upaya hukum berdasar pasal 132 Undang-undang


nomor 5 tahun 1986, yang menegaskan bahwa terhadap putusan pengadilan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap dapat diajukan Permohonan Peninjauan Kembali pada
Mahkamah Agung Republik Indonesia;

Bahwa acara pemeriksaan Peninjauan Kembali ini, dilakukan menurut ketentuan


sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 77 ayat (1) Undang-undang nomor : 14 tahun
1985 jo. Undang-undang nomor : 5 tahun 2004 jo. Undang-undang nomor : 3 tahun 2009,
yang berbunyi Dalam pemeriksaan Peninjauan Kembali, perkara yang diputus oleh
pengadilan di lingkungan Peradilan Agama atau pengadilan dilingkungan Peradilan Tata
Usaha Negara digunakan Hukum Acara Peninjauan Kembali yang tercantum dalam pasal 67
sampai pasal 75 ;

Bahwa hukum acara pemeriksaan Peninjauan Kembali untuk sengketa tata usaha
negara sebagaimana dimaksud dalam pasal 27 Undang-undang nomor 14 tahun 1985,
diberlakukan hukum acara pemeriksaan Peninjauan Kembali untuk perkara perdata
sebagaimana diatur dalam pasal 67 sampai pasal 75 Undang-undang nomor 14 tahun 1985.
Menurut pasal 67 Undang-undang nomor 14 tahun 1985, permohonan Peninjauan Kembali
dapat diajukan dengan alasan-alasan sebagai berikut :
1. Apabila putusan didasarkan pada suatu kebohongan atau tipu muslihat pihak lawan yang
diketahui setelah perkaranya diputus atau didasarkan pada bukti-bukti kemudian oleh
hakim pidana dinyatakan palsu;
2. Apabila setelah perkara diputus, ditemukan surat-surat bukti yang bersifat menentukan,
yang pada waktu diperiksa tidak dapat ditemukan;
3. Apabila telah dikabulkan suatu hal yang tidak dituntut atau lebih daripada yang dituntut;
4. Apabila mengenai suatu bagian dari tuntutan belum diputus tanpa dipertimbangkan
sebab-sebabnya;
5. Apabila mengenai pihak-pihak yang sama mengenai suatu soal yang sama, atau dasar
yang sama oleh pengadilan yang sama atau sama tingkatnya telah diberikan putusan
yang bertentangan satu dengan yang lain;
6. Apabila dalam suatu putusan terdapat suatu kekhilafan hakim atau suatu kekeliruan
yang nyata;

Bahwa dalam Permohonan Peninjauan Kembali ini, PEMOHON PK mengajukan alasan


bahwa : Dalam putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya nomor :
84/B/2017/PT.TUN.SBY tanggal 23 Mei 2017, terdapat suatu kekhilafan hakim atau suatu
kekeliruan yang nyata;

halaman 2 dari 9
Bahwa menurut pasal 69 Undang-undang nomor 14 tahun 1985, tenggang waktu
pengajuan permohonan Peninjauan Kembali didasarkan atas alasan sebagaimana dimaksud
pasal 69 adalah 180 hari untuk :
1. Yang disebut pada angka 1, sejak diketahui kebohongan atau tipu muslihat atau sejak
putusan hakim pidana memperoleh kekuatan hukum tetap dan diberitahukan kepada
pihak yang bersangkutan;
2. Yang disebut pada angka 2, sejak ditemukan surat-surat bukti yang hari dan tanggal
ditemukannya harus dinyatakan dibawah sumpah dan disahkan oleh pejabat yang
berwenang;
3. Yang disebutkan pada angka 3, 4 dan 6 sejak putusan mempunyai kekuatan hukum
tetap dan telah diberitahukan kepada pihak yang bersangkutan;
4. Yang disebut pada angka 5, sejak putusan yang terakhir bertentangan itu telah
mempunyai kekuatan hukum tetap dan telah diberitahukan kepada pihak yang
bersangkutan;

Bahwa adapun dasar atau alasan PEMOHON PENINJAUAN KEMBALI ( PEMOHON PK )


dalam mengajukan Permohonan Peninjauan Kembali, selengkapnya sebagai berikut :
1. Bahwa pada tanggal 8 Juli 2017, PEMOHON PK semula TERBANDING/PENGGUGAT telah
menerima pemberitahuan putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya yang
dikirim oleh Pengadilan Tata Usaha Negara Semarang tanggal 6 Juli 2017, sehingga
setidak-tidaknya antara tenggang waktu penerimaan pemberitahuan putusan yang
telah mempunyai kekuatan hukum tetap, dengan Permohonan Peninjauan Kembali ini
belum lewat waktu sebagaimana ditentukan oleh Undang-undang yaitu 180 hari sejak
menerima pemberitahuan putusan sebagaimana dimaksud;
2. Bahwa PEMOHON PK menyampaikan Permohonan Peninjauan Kembali ( PK ) atas
putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya nomor : 84/B/2017/
PT.TUN.SBY tanggal 23 Mei 2017, karena : PEMOHON PK berpendapat dan
merasakan bahwa putusan dalam perkara ini, terdapat suatu kekhilafan hakim atau
suatu kekeliruan yang nyata dilakukan oleh judex facti Pengadilan Tinggi Tata Usaha
Negara Surabaya, yang mana judex facti Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
Surabaya yang pada pokoknya beralasan bahwa di dalam putusan Pengadilan Tata
Usaha Negara Semarang nomor : 40/G/2016/ PTUN.SMG tanggal 15 Desember 2016,
dianggap telah dilakukan pelanggaran hukum dalam mendudukkan Subyek Tergugat
( Kepala Desa Boloagung ) dalam perkara aquo. Dan yang menjadi pokok alasan judex
facti dalam putusannya nomor : 84/B/2017/ PT.TUN.SBY tanggal 23 Mei 2017 adalah
bahwa Kepala Desa in casu bukan sebagai pihak yang bertanggungjawab menerima
tanggung gugat karena Kepala Desa in casu hanya sebagai penerima Kewenangan
Mandat dari Bupati sebagaimana disebutkan dalam pasal 49 ayat (2) Undang-undang
nomor 6 tahun 2014 tentang Desa;
3. Bahwa melalui Permohonan Peninjauan Kembali ( PK ) ke Mahkamah Agung Republik
Indonesia ini, PEMOHON PK memohon agar Mahkamah Agung RI yang memeriksa dan
mengadili perkara di tingkat Peninjauan Kembali agar MENINJAU KEMBALI putusan
Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya nomor : 84/B/2017/ PT.TUN.SBY
tanggal 23 Mei 2017 karena telah terdapat suatu kekhilafan hakim atau suatu
kekeliruan yang nyata;
4. Bahwa kekhilafan hakim atau suatu kekeliruan yang nyata sebagaimana putusan
Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya nomor : 84/B/2017/ PT.TUN.SBY
tanggal 23 Mei 2017, adalah sebagai berikut :
Judex facti di dalam memberikan pertimbangan keputusan in casu, mendasarkan
adanya bunyi pasal 49 ayat (2) Undang-undang nomor 6 tahun 2014 tentang Desa
yaitu (2) Perangkat Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diangkat oleh Kepala
Desa setelah dikonsultasikan dengan Camat atas nama Bupati sehingga kemudian
judex facti memberikan pertimbangan bahwa Kepala Desa (TERMOHON
PK/PEMBANDING/TERGUGAT) hanya sebagai Penerima Kewenangan Mandat dari
Bupati, sehingga Kepala Desa in casu bukan sebagai pihak yang bertanggungjawab

halaman 3 dari 9
menerima tanggung gugat adalah merupakan pertimbangan yang Khilaf dan Keliru,
karena sebagaimana tersebut dalam Undang-undang nomor 6 tahun 2014 tentang Desa
pasal 26 ayat (2) yaitu (2) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), Kepala Desa berwenang:
a) Memimpin penyelenggaraan pemerintahan desa.
b) Mengangkat dan memberhentikan Perangkat Desa.
c) Memegang kekuasaaan pengelolaan keuangan dan aset desa.
d) Menetapkan peraturan desa.
e) Menetapkan anggaran dan pendapatan belanja desa.
f) Membina kehidupan masyarakat desa
g) Membina ketentramana dan ketertiban masyarakat desa
h) Membina dan meningkatkan perekonimian desa serta mengintegrasikannya agar
mencapai skala produktif untuk sebesar-besarnya kemakmuran desa.
i) Mengembangkan sumber pendapatan desa.
j) Mengusulkan dan menerima pelimpahan sebagian kekayaan negara guna
meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
k) Mengembangkan kehidupan sosial budaya masyarakat desa.
l) Memanfaatkan teknologi tepat guna.
m) Mengoordinasikan pembangunan desa secara partisipatif.
n) Mewakili desa di dalam dan di luar pengadilan atau menunjuk kuasa hukum untuk
mewakilinya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
o) Melaksanakan wewenang lain yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Bahwa dengan demikian secara jelas bahwa berdasarkan Undang-undang nomor 6
tahun 2014 tentang Desa, Kepala Desa diberi kewenangan oleh Undang-undang untuk
Mengangkat dan Memberhentikan Perangkat Desa, jadi jelas sekali KEKHILAFAN DAN
KEKELIRUAN JUDEX FACTI PENGADILAN TINGGI TATA USAHA NEGARA SURABAYA,
yang memberikan pertimbangan bahwa Kepala Desa ( TERMOHON PK/PEMBAN-
DING/TERGUGAT) hanya sebagai PENERIMA KEWENANGAN MANDAT dari Bupati
dengan melandasi pada pasal 49 ayat (2) Undang-undang nomor 6 tahun 2014 tentang
Desa, sehingga Kepala Desa sebagai penerima mandat tidak bisa bertindak sebagai
pihak yang bertanggungjawab menerima tanggung gugat;

Selanjutnya dapat dijelaskan sebagai berikut :


4.1 Bahwa menurut KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA arti dari Konsultasi yang
merupakan kata dasar dari dikonsultasikan ( sebagaimana isi pasal 49 ayat (2)
Undang-undang nomor 6 tahun 2014 tentang Desa, yang dijadikan dasar alasan
dalam pertimbangan judex facti Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya
nomor : 84/B/2017/ PT.TUN.SBY tanggal 23 Mei 2017) adalah pertukaran pikiran
untuk mendapatkan kesimpulan (nasihat, saran, dan sebagainya) yang sebaik-
baiknya, dan berkonsultasi artinya bertukar pikiran atau meminta pertimbangan
dalam memutuskan sesuatu;
4.2 Bahwa dengan demikian bunyi pasal 49 ayat (2) Undang-undang nomor 6 tahun
2014 tentang Desa yaitu (2) Perangkat Desa sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diangkat oleh Kepala Desa setelah dikonsultasikan dengan Camat atas nama
Bupati apabila disesuaikan dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia maka
mengandung maksud bahwa Perangkat Desa sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diangkat oleh Kepala Desa setelah dikonsultasikan (bertukar pikiran atau
meminta pertimbangan dalam memutuskan sesuatu, untuk meminta nasihat,
saran) dengan camat atasnama Bupati. Sehingga sifatnya hanya konsultatif
namun semua keputusan merupakan wewenang langsung dari Kepala Desa untuk
memberikan keputusan sesuai dengan kewewenangan Kepala Desa yang
diberikan oleh Undang-undang yaitu sesuai dengan pasal 26 ayat (2) huruf b
Undang-undang nomor 6 tahun 2014 tentang Desa;
4.3 Bahwa kemudian apabila menilik pada isi pasal 49 ayat (2) Undang-undang
nomor 6 tahun 2014 tentang Desa yang menjadi alasan pertimbangan judex facti

halaman 4 dari 9
Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya, bahwa kata atasnama Bupati
adalah mengikuti / ada dibelakang kata Camat, sehingga dengan demikian
maka yang bertindak atasnama bupati adalah camat , bukan Kepala Desa,
sehingga nampak sekali kekhilafan dan kekeliruan dalam pertimbangan judex
facti Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya, yang menyebutkan bahwa
Kepala Desa lah yang bertindak atasnama Bupati, sehingga dalam
pertimbangannya judex facti yang mengandung kekhilafan dan kekeliruan
tersebut, menyatakan bahwa Kepala Desa hanya menerima mandat atau
kewenangan mandat dari Bupati, kemudian disalahartikan bahwa Bupati sebagai
Pemberi mandat adalah pihak yang bertanggungjawab menerima tanggung
gugat, bukan Kepala Desa, sehingga jelas ada Kekhilafan dan Kekeliruan nyata
dari judex facti Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya tersebut dalam in
casu;
4.4 Bahwa sebagaimana Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 sebagaimana telah
dirubah oleh UU No. 9/2004 tentang Peradilan Tata Usaha Negara disebutkan
bahwa yang bisa menjadi Pihak Tergugat, yaitu Badan atau Pejabat Tata Usaha
Negara yang mengeluarkan Keputusan berdasarkan wewenang yang ada padanya atau
yang dilimpahkan kepadanya, sehingga jelas sebagaimana yang menjadi Obyek
Sengketa dalam perkara aquo adalah Surat Keputusan Kepala Desa Boloagung
nomor : 141.32/17 tahun 2016 tanggal 28 April 2016 tentang Pengangkatan
saudara ANIK EKOWATI, S.Kep sebagai Sekretaris Desa, desa Boloagung,
kecamatan Kayen, kabupaten Pati, dan yang menjadi dasar kewenangan Kepala
Desa mengeluarkan Obyek Sengketa adalah kewenangan langsung yang telah
diberikan oleh Undang-undang yaitu Undang-undang nomor 6 tahun 2014
tentang Desa pasal 26 ayat (2) huruf b, bahwa Kepala Desa berwenang
mengangkat dan memberhentikan Perangkat Desa;
4.5 Bahwa sedangkan Obyek Sengketa in casu jelas merupakan sebuah Keputusan
Tata Usaha Negara (KTUN) yang merupakan penetapan tertulis yang dikeluarkan
oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang berisi tindakan hukum tata
usaha negara yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku
yang bersifat konkret, individual, dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi
seseorang atau badan hukum perdata, in casu jelas bahwa Surat Keputusan
Kepala Desa Boloagung nomor : 141.32/17 tahun 2016 tanggal 28 April 2016
tentang Pengangkatan saudara ANIK EKOWATI, S.Kep sebagai Sekretaris Desa,
desa Boloagung, kecamatan Kayen, kabupaten Pati, sudah bersifat FINAL artinya
Keputusan Kepala Desa tersebut sudah tidak memerlukan persetujuan lagi oleh
instansi yang berada di atasnya seperti Camat atau Bupati;
4.6 Bahwa dengan diterbitkannya Obyek Sengketa aquo oleh Kepala Desa Boloagung
incasu TERMOHON PK selaku Pejabat TUN di desa Boloagung kecamatan Kayen
kabupaten Pati dimaksud, maka PEMOHON PK tidak terima lalu mengajukan
gugatan Tata Usaha Negara di Pengadilan Tata Usaha Negara Semarang;
4.7 Bahwa keluarnya Obyek Sengketa sudah sesuai dengan kewenangan yang
diberikan oleh Undang-undang nomor 6 tahun 2014 tentang Desa pasal 26 ayat
(2) huruf b kepada Kepala Desa in casu TERMOHON PK, sehingga bersesuaian
dengan Undang-undang nomor 30 tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan
yakni :
4.7.1 Pasal 52 ayat (1) huruf a yaitu Syarat sahnya keputusan meliputi : a).
Ditetapkan oleh Pejabat yang berwenang, b)
4.7.2 Pasal 8 ayat (2) huruf a yaitu Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan
dalam menggunakan wewenang wajib berdasar : a). Peraturan
perundang-undangan; b).
4.8 Bahwa menurut PRAJUDI ATMOSUDIRJO, kewenangan adalah apa yang disebut
kekuasaan formal, kekuasaan yang berasal dari kekuasaan legislatif (diberi oleh
Undang-Undang) atau dari kekuasaan eksekutif/administratif.
Bahwa Kepala Desa in casu TERMOHON PK memperoleh dan mendapatkan
kewenangan untuk Mengangkat dan Memberhentikan Perangkat Desa adalah

halaman 5 dari 9
kewenangan yang diberi oleh Undang-undang yakni Undang-undang nomor 6
tahun 2014 tentang Desa pasal 26 ayat (2) huruf b;
4.9 Bahwa menurut Indroharto, bahwa wewenang yang diperoleh secara atribusi,
yaitu pemberian wewenang pemerintahan yang baru oleh suatu ketentuan dalam
peraturan perundang-undangan, atau dengan perkataan lain bahwa wewenang
yang diperoleh organ pemerintahan secara atribusi itu bersifat asli yang berasal
dari peraturan perundang-undangan, yaitu dari redaksi pasal-pasal tertentu
dalam peraturan perundang-undangan;
4.10
4.11
4.12 Kj
4.13
5. Bahwa Objek Sengketa tersebut diterbitkan berdasarkan pada proses pelaksanaan
Penerimaan dan Pengisian Perangkat Desa yang CACAT HUKUM dalam pelaksanaannya,
yaitu melanggar Peraturan Daerah nomor ; 2 tahun 2015 tentang Perangkat Desa jo.
Peraturan Bupati Pati nomor : 26 tahun 2015 tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan
Daerah nomor ; 2 tahun 2015 tentang Perangkat Desa, dan perbuatan TERMOHON PK
merupakan perbuatan yang sewenang-wenang dan melampaui kewenangannya, yang
mana TERMOHON PK tidak mendengarkan protes serta keberatan dari para Peserta
Calon Perangkat Desa in casu TERMOHON PK tentang pencalonan ANIK EKOWATI,
S.Kep dahulu Turut Terbanding/ Tergugat II Intervensi yang tidak memenuhi syarat
sebagaimana pasal 10 ayat (3) dan ayat (4) Peraturan Bupati Pati nomor : 26 tahun
2015 tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Daerah nomor ; 2 tahun 2015 tentang
Perangkat Desa, maka keputusan yang dikeluarkan oleh TERMOHON PK menjadi TIDAK
SAH, dan oleh karena tidak sah maka keputusan tersebut harus dianggap batal;
6. Bahwa dalam Pasal 15 Bab V Peraturan Daerah kabupaten Pati nomor : 2 tahun 2015
tentang Perangkat Desa secara jelas menyebutkan bahwa Perangkat Desa diangkat
dari warga desa setempat yang memenuhi persyaratan : huruf (J ) : Tidak mempunyai
hubungan keluarga dengan panitia Pengisian Perangkat Desa, Kepala Desa dan/
Perangkat Desa lainnya sedangkan ANIK EKOWATI, S.Kep dahulu Turut Terbanding/
Tergugat II Intervensi adalah termasuk MEMPUNYAI HUBUNGAN KELUARGA dengan
TERMOHON PK sebagai Kepala Desa, karena ANIK EKOWATI, S.Kep dahulu Turut
Terbanding/ Tergugat II Intervensi adalah adik kandung dari istri TERMOHON PK,
sebagaimana tersebut dalam PERATURAN BUPATI PATI NO 26 TAHUN 2015 pasal 10
ayat (4) yang dimaksud dengan hubungan keluarga, huruf c. Hubungan kesamping Adik
kandung termasuk suami/istrinya, karena ANIK EKOWATI, S.Kep dahulu Turut
Terbanding/ Tergugat II Intervensi adalah Adik Kandung dari istrinya Kepala Desa
selaku TERMOHON PK;
7. Bahwa maksud dari pembuat Peraturan dalam hal ini adalah Peraturan Daerah
kabupaten Pati nomor : 2 tahun 2015 tentang Perangkat Desa pada Pasal 15 Bab V
adalah mengenai Hubungan Kesamping atau biasa disebut dalam KUHPerdata pasal 295
bahwa Kekeluargaan Semenda adalah satu pertalian kekeluargaan karena perkawinan,
yaitu pertalian antara salah seorang dari suami istri dan keluarga sedarah dari pihak
lain;
8. Bahwa di dalam masyarakat, saudara ipar baik kakak ipar maupun adik ipar termasuk
dalam bagian dari keluarga semenda, sehingga jelas bahwa pembuat undang-undang
dalam hal ini Peraturan Daerah kabupaten Pati nomor : 2 tahun 2015 tentang
Perangkat Desa Pasal 15 Bab V mengenai HUBUNGAN KELUARGA adalah orang-orang
yang memiliki hubungan keluarga dengan Panitia Pengisian Perangkat Desa, Kepala
Desa, Perangkat Desa dan / Perangkat Desa lainnya, termasuk dalam in casu adalah
saudara ipar baik kakak ipar maupun adik ipar dari Panitia Pengisian Perangkat Desa,
Kepala Desa, Perangkat Desa dan / Perangkat Desa lainnya;
9. Bahwa dari uraian diatas, jelas bahwa Panitia Pengisian Perangkat Desa Boloagung,
kecamatan Kayen, kabupaten Pati, sudah seharusnya menolak pendaftaran ANIK
EKOWATI, S.Kep dahulu Turut Terbanding/ Tergugat II Intervensi sebagai bakal calon
Sekretaris Desa, karena bertentangan dan melanggar Peraturan Daerah nomor ; 2
tahun 2015 tentang Perangkat Desa jo. Peraturan Bupati Pati nomor : 26 tahun 2015
tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Daerah nomor ; 2 tahun 2015 tentang
Perangkat Desa;
10. Bahwa dengan demikian hakim tingkat pertama sudah memberikan dasar alasan
hukum yang kuat dalam setiap pertimbangan hukumnya artinya bahwa hakim
diperbolehkan menafsirkan hukum dan undang-undang apabila hukum dan undang-

halaman 6 dari 9
undangnya tidak atau belum jelas, melalui cara-cara atau metode penafsiran yang
berlaku dalam ilmu hukum;
11. Bahwa PEMOHON PK sependapat dengan pertimbangan hakim tingkat pertama yang
menyebutkan dalam pertimbangannya menambahkan beberapa lagi pendapat ahli
hukum yang lainnya antara lain :
- Bahwa menurut Bagir Manan rumusan undang-undang yang bersifat umum tidak
pernah menampung secara pasti setiap peristiwa hukum. Hakimlah yang berperan
menghubungkan atau menyambungkan peristiwa hukum yang kongkrit dengan
ketentuan hukum yang abstrak. Sudah menjadi pekeijaan sehari-hari hakim
memberikan penafsiran atau konstruksi suatu ketentuan hukum dengan suatu
peristiwa kongkrit (vide Bagir Manan, Suatu tinjauan Terhadap Kekuasaan
Kehakiman Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004, Mahkamah Agung RI,
Jakarta, 2005, halaman 209);
- Bahwa menurut Sidharta Het recht hinkt achter defeiten aan hukum selalu berjalan
tertatih-tatih di belakang peristiwa konkret, undangundang akan tertinggal oleh
fakta. Jurang ketertinggalan kian lebar seiring dengan berubahnya tatanan sosial
tempat hukum itu hidup di dalam kenyataannya. Disinilah terjadi legal gap antara
hukum di atas kertas (law in the books) dan hukum yang hidup di dalam kenyataan
(law in action; the living law) dan dalam praktik pengadilan kesenjangan yang terjadi
disiasati hakim dengan penemuan hukurn ( rechtsvinding) (vide Mohammac. Yamin
dkk., Sistem Hukum& Perubahan Sosial di Indonesia, UNS Press, Surakarta, 2014,
halaman 237);
- Bahwa menurut Imam Soebechi menegakkan hukum dan keadilan adalah tugas
utama yang mulia bagi hakim dan dalam menjalankan tugas mulia mi hakim
Indonesia dalam memeriksa, memutus perkara hams menggali, mengikuti dan
memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat (Pasal
5 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman). Hakim
Indonesia tidak seperti hakim di negara-negara penganut ajaran legisren atau
begrjffsjurisprudence yang memposisikan hakim sebagai corong undang-undang
atau pelaksana undang-undang (la bouche quiprononce les paroles de laloi ).
Konsekwensi ajaran tersebut adalah hakim pengadilan harus memeriksa dan
memutus perkara, meski peraturan perundang-undangan tidak j elas atau tidak
mengatur, hakim dilarang menolak perkara yang diajukan dengan dalih bahwa
hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan
mengadilinya norma demikian disandarkan pada asas hakim dianggap mengetahui
(lus curia novit) yang dimuat dalam Pasal 10 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009
Tentang Kekuasaan Kehakiman (vide Imam Soebechi, Putusan Hakim Dalam
Pembaharuan Hukum, dalam Majalah Hukum Varia Peradilan, Tahun XXX, No. 347,
Oktober 2014, halaman 5);
- Bahwa penemuan hukum oleh Hakim telah mendapatkan dasar legalitas di dalam
Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman yang
mengatur:
Pasal 5: Hakim dan Hakim konstitusi wajib menggali, mengikuti dan memahami
nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat,
Pasal 10 ayat (1) :Pengadilan dilarang menolak untuk memeriksa, mengadili dan
memutus sesuatu perkara yang dial ukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada
atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya;
12. Bahwa PEMOHON PK sepakat dengan pertimbangan hakim tingkat pertama yang dalam
pertimbangan konkretnya menyebutkan :
- Bahwa Surat Sekretaris Daerah kabupaten Pati atas nama Bupati nomor :
141.1/2487 tertanggal 2 Mei 2016 yang menjelaskan tentang hubungan keluarga
dalam pengisian perangkat desa, yang dalam pertimbangannya secara konkrit
menjelaskan bahwa Majelis Hakim tingkat pertama tidak menemukan ada
terdapatnya perintah dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi in casu
Peraturan Daerah Kabupaten Pati Nomor 2 Tahun 2015 tentang Perangkat Desa dan
Peraturan Bupati Pati Nomor 26 Tahun 2015 tentang Peraturan Pelaksanaan
Peraturan Daerah Kabupaten Pati Nomor 2 Tahun 2015 tentang Perangkat Desa
YANG MEMBERIKAN KEWENANGAN KEPADA SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN PATI
ATAS NAMA BUPATI PATI UNTUK MEMBERIKAN PENJELASAN LEBIH LANJUT
TENTANG PENGATURAN YANG ADA TERDAPAT DI DALAM PERATURAN DAERAH
KABUPATEN PATI NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG PERANGKAT DESA DAN
PERATURAN BUPATI PATI NOMOR 26 TAHUN 2015 TENTANG PERATURAN
PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 2 TAHUN 2015
TENTANG PERANGKAT DESAsebagaimana terkonkretisasi di dalam Surat Sekretaris

halaman 7 dari 9
Daerah Kabupaten Pati atas nama Bupati Pati Nomor 141.1/2487 angga1 2 Mei 2016
hal : Penjelasan Hubungan Keluarga Dalam Pengisian Perangkat Desa dan yang ada
terdapat adalah perintah untuk pengaturan lebih lanjut Peraturan Daerah Kabupaten
Pati Nomor 2 Tahun 2015 tentang Perangkat Desa dalam bentuk Peraturan Bupati
yang telah termanifestasi di dalam Peraturan Bupati Pati Nomor 26 Tahun 2015
tentang Peratuan Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Pati Nomor 2 Tahun
2015 tentang Perangkat Desa;
- Bahwa berdasarkan pertimbangan hakim tingkat pertama tersebut di atas, maka
Surat Sekretaris Daerah Kabupaten Pati atas nama Bupati Pati Nomor: 141.1/2487
tanggal 2 Mei 2016 hal : Penjelasan Hubungan Keluarga Dalam Pengisian Perangkat
Desa tidak diakui keberadaannya dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat
sehingga haruslah dikesampingkan (wegtoetsen) daya berlakunya;
13. Bahwa PEMOHON PK sepakat dengan pertimbangan hakim tingkat pertama karena yang
menjadi Pertimbangan Hakim Tingkat Pertama JELAS SANGAT BERALASAN SEKALI
yang dalam pertimbangan konkretnya menyebutkan :
- Bahwa selain daripada itu bukti T.17 berupa Surat Penyataan Pengunduran Diri atas
nama Suli Mawar ( istri TERMOHON PK ) haruslah dikesampingkan sebab untuk
sahnya pembuktian diperlukan sekurang-kurangnya dua alat bukti, sedangkan
terhadap alat bukti T.17 tidak ada alat bukti lain yang bersesuaian sebab keterangan
saksi Sudarno dan saksi Sudiman yang disampaikan pada persidangan tanggal 1
Desember 2016 termasuk kategori Testimonium De Auditu dan tidak mempunyai
nilai pembuktian, karena berdasarkan Pasal 104 Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara :Keterangan saksi dianggap sebagai alat
bukti apabila keterangan itu berkenaan dengan hal yang dialami, dilihat atau
didengar oleh saksi sendiri, sedangkan saksi Sudamo menerangkan saksi
mengetahui surat pengunduran din atas nama Suli Mawar (vide bukti T. 17) dan
Ketua Panitia Jumadi dan saksi Sudiman menerangkan saksi mengetahui surat
pengunduran din atas nama Suli Mawar (vide bukti T.1 7) dan Bayan Sunarto;
- Bahwa apabila dicermati bukti T.17 bertentangan dengan bukti T.8 yang merupakan
bukti Daftar Hadir acara Uji Kompetensi Komputer tanggal 14 April 2016 dimana di
dalam Nomor urut 44 terdapat tulisan beserta tandatangan atas nama Sulimawar
dengan diisi dalam daftar hadir tersebut sebagai Jabatan/Dinas Instansi PKK. Bahwa
bukti T.8 mempunyai nilai pembuktian karena bersesuaian dengan bukti T.3 berupa
Keputusan Kepala Desa Boloagung Kecamatan Kayen Nomor : 141.1/04 tanggal 17
Maret 2016 tentang Pembentukan Panitia Pengisian Perangkat Desa Desa Boloagung
Kecamatan Kayen Kabupaten Pati pada bagian Memutuskan Menetapkan : Pertama
Membentuk Panitia Pengisian Perangkat Desa (Sekretaris Desa, Kadus Demangan
dan staf keuangan) Desa Boloagung Kecamatan Kayen Kabupaten Pati, dengan
susunan keanggotaan sebagaimana dalam lapiran keputusan mi, berikutnya di dalam
Lampiran Keputusan Kepala Desa Boloagung Nomor 14 1.1/04 tentang Pembentukan
Panitia Pengisian Perangkat Desa Desa Tahun 2016, yaitu pada Nomor Urut 8.
tertulis Nama Suli Mawar, Jabatan Seksi Konsumsi, Unsur dan PKK, sehingga jelas
bahwa bukti dan keterangan saksi dari TERMOHON PK pada saat persidangan pada
tingkat pertama, keduanya sangatlah bertentangan dan bertolak belakang, bahkan
apabila dicermati bahwa bukti T17 dengan T18 yang mana keduanya sama-sama
merupakan surat pengunduran diri, mempunyai kesamaan yang sama persis titik
komanya bahkan baris awal maupun pergantian spasinya betul-betul mirip sekali
dalam cara penulisannya, padahal pengajuan kedua surat pengunduran diri tersebut
dibuat oleh orang yang berbeda, waktu yang berbeda dan tempat yang berbeda
namun hal yang patut dicurigai adalah keduanya memiliki persamaan yang
menunjukkan salah satunya telah mencontoh surat yang terdahulu yaitu surat yang
dibuat oleh saudara Wasito terlebih dahulu dibuat, sedangkan surat pengunduran diri
Suli Mawar patut di duga baru dibuat kemudian pada saat persidangan sekedar
untuk memenuhi syarat bahwa Suli Mawar sudah mengundurkan diri sebagai panitia,
namun nampaknya hakim tingkat pertama lebih jeli sehingga terungkap bahwa
ternyata bukti T.17 mengenai surat pengunduran diri Suli Mawar bertentangan
dengan bukti T.8 berupa Daftar Hadir Acara Uji Kompetensi Komputer tanggal 14
April 2016 dimana di dalam No. 44 Nama Suli Mawar, Jabatan/Dinas Instansi PKK;

Berdasarkan uraian tersebut diatas,PEMOHON PENINJAUAN KEMBALI dengan ini memohon


kepada MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA untuk MENINJAU KEMBALI dan berkenan
memberikan putusan sebagai hukum yang amarnya sebagai berikut :
MENGADILI :
1. Mengabulkan Permohonan Peninjauan Kembali PEMOHON PENINJAUAN KEMBALI;

halaman 8 dari 9
2. Membatalkan Putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya nomor :
84/B/2017/ PT.TUN.SBY tanggal 23 Mei 2017;

MENGADILI KEMBALI :
DALAM POKOK PERKARA :
1. Mengabulkan Gugatan PENGGUGAT untuk seluruhnya;
2. Menyatakan BATAL dan TIDAK SAH Surat Keputusan Kepala Desa Boloagung nomor :
141.32/17 tahun 2016 tanggal 28 April 2016 tentang Pengangkatan saudara ANIK
EKOWATI, S.Kep sebagai Sekretaris Desa, desa Boloagung, kecamatan Kayen,
kabupaten Pati;
3. Mewajibkan kepada TERGUGAT untuk MENCABUT Surat Keputusan Kepala Desa
Boloagung nomor : 141.32/17 tahun 2016 tanggal 28 April 2016 tentang Pengangkatan
saudara ANIK EKOWATI, S.Kep sebagai Sekretaris Desa, desa Boloagung, kecamatan
Kayen, kabupaten Pati;
4. Menghukum TERGUGAT untuk membayar biaya perkara;

Demikian Memori Permohonan Peninjauan Kembali ini disampaikan oleh PEMOHON


PENINJAUAN KEMBALI dengan tulus hati serta komitmen yang tinggi pada hukum,
kebenaran, kepastian hukum serta keadilan di Negara Hukum Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Disertai harapan agar dapat dipertimbangkan oleh Majelis Hakim Agung
Mahkamah Agung Republik Indonesia dalam putusannya.

Hormat Kami,
KUASA HUKUM
PENINJAUAN KEMBALI

AYOM GURITNO, SH
advokat

halaman 9 dari 9

Anda mungkin juga menyukai