Anda di halaman 1dari 56

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .......................................................................................................................................... i


BAB II TINJAUAN TEORI ..................................................................................................................... 1
I. LAHAN BERTRANSIS/BERKONTUR ............................................................................................ 1
A. PENGERTIAN LAHAN BERTRANSIS/BERKONTUR ................................................................. 1
B. KARAKTERISTIK LAHAN BERTRANSIS ................................................................................... 2
C. KLAFISIKASI KEMIRINGAN TANAH ....................................................................................... 3
D. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN LAHAN BERKONTUR ........................................................... 5
E. PENGOLAHAN LAHAN BERKONTUR UNTUK BANGUNAN ................................................... 7
F. PENCEGAHAN EROSI PADA LAHAN BETRANSIS ................................................................. 21
G. PILIHAN STRUKTUR BANGUNAN DAN FONDASI YANG TEPAT GUNA ............................... 30
H. PENCAPAIAN LAHAN BANGUNAN (PERENCANAAN JALAN) .............................................. 32
I. PERTIMBANGAN MEMBANGUN DI LAHAN BERKONTUR .................................................. 37
II. LAHAN KRITIS ....................................................................................................................... 40
A. DEFINISI LAHAN KRISTIS .................................................................................................... 40
B. KLASIFIKASI LAHAN KRITIS MENURUT TINGKAT KEKRITISAN LAHAN ............................... 40
C. FAKTOR LAHAN KRITIS....................................................................................................... 42
D. PARAMETER PENENTUAN LAHAN KRITIS .......................................................................... 46
E. PENETAPAN LAHAN KRITIS DI KAWASAN HUTAN LINDUNG ............................................. 50
F. TINGKAT KEKRITISAN DI KAWASAN BUDIDAYA UNTUK USAHA PERTANIAN .................... 51
G. PENETAPAN KEKRITISAN LAHAN DI KAWASAN LINDUNG DI LUAR KAWASAN HUTAN .... 52
H. PENANGGULANGAN LAHAN KRITIS ................................................................................... 53
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................................ 55

i
BAB II
TINJAUAN TEORI

I. LAHAN BERTRANSIS/BERKONTUR
A. PENGERTIAN LAHAN BERTRANSIS/BERKONTUR
1. Lahan
Menurut Purwowidodo (1983) lahan mempunyai pengertian: suatu
lingkungan fisik yang mencakup iklim, relief tanah, hidrologi, dan tumbuhan
sampai batas tertentu akan mempengaruhi kemampuan penggunaan lahan.
Lahan juga diartikan sebagai permukaan daratan dengan benda-
benda padat, cair bahkan gas (RafiI, 1985). Definisi lain juga dikemukakan
oleh Arsyad yaitu lahan diartikan sebagai lingkungan fisik yang terdiri atas
iklim, relief, tanah, air dan vegetasi serta benda yang diatasnya sepanjang
ada pengaruhnya terhadap penggunaan lahan, termasuk didalamnya hasil
kegiatan manusia dimasa lalu dan sekarang seperti hasil reklamasi laut,
pembersihan vegetasi dan juga hasil yang merugikan seperti yang
tersalinasi. (FAO dalam Arsyad, 1989)
Selain itu lahan memiliki pengertian yang hampir serupa dengan
sebelumnya bahwa pengertian lahan adalah suatu daerah dipermukaan
bumi dengan sifat-sifat tertentu yang meliputi biosfer, atmosfer, tanah,
lapisan geologi, hidrologi, populasi tanaman dan hewan serta hasil kegiatan
manusia masa lalu dan sekarang, sampai pada tingkat tertentu dengan
sifat-sifat tersebut mempunyai pengaruh yang berarti terhadap fungsi lahan
oleh manusia pada masa sekarang dan masa yang akan datang. (FAO dalam
Sitorus, 2004)

2. Lahan Bertransis
Pengertian tanah bertransis adalah tanah yang memiliki
topografi/ketinggian yang berbeda-beda. Sedangkan lahan bertransis
adalah lahan dengan topografi/ketinggian yang berbeda-beda atau tidak
sama. Lahan bertransis juga dapat diartikan sebagai lahan yang memiliki
kemiringan tertentu.
Menurut Purwowidodo (1983), site bertransis atau tapak dengan
kontur miring merupakan sebuah site yang memiliki garis kontur yang
terdapat pada daerah daerah perbukitan, pegunungan dan daerah lainnya
yang memiliki level kemiringan yang bervariasi.

1
B. KARAKTERISTIK LAHAN BERTRANSIS
a. Daerah yang datar yang cukup luas dapat dikatakan tidak ada.
b. Permukaan datar harus dibuat dengan metode cut and fill seperlunya agar
tidak mengurangi karakter dari tapak tersebut.
c. Dalam melakukan metode fill diperlukan pemadatan tanah yang dapat
diukur berdasarkan perhitungan sigma daya dukung tanah. Pemadatan
dapat dilakukan setiap 30 cm agar bangunan tidak terjadi penurunan
pondasi secara mekanis menggunakan alat pemadat tanah (stamper).
d. Tapak miring memiliki orientasi ke arah luar dan arah bawah sehingga
memiliki potensi peletakan bangunan yang langsung menghadap ke arah
view.
e. Site yang miring mempunyai kualitas landscape yang dinamis sehingga
dapat dibuat permainan atas elemen elemen landscape sehingga
berpengaruh pula pada elemen tampak bangunan yang menuntut
kreativitas positif seperti misalnya dengan membuat permainan garis garis
yang kuat, kombinasi dan komposisi dinamis serta pengolahan sudut denah
yang yang bervariasi.
f. Site cocok untuk bentuk-bentuk bangunan yang dinamis dan sifat bangunan
yang informal.
Site yang miring memberikan view yang menarik seperti pemandangan
alam dan lautan sehingga dapat mempengaruhi suasana dalam ruangan
misalnya dimensi pemandangan alam yang biru dan hijau dapat menjadi
unsur pelengkap dalam suatu ruangan melalui berbagai bukaan seperti
teras ataupun jendela kaca yang merupakan hubungan visual semata.
g. Site yang miring menimbulkan persoalan drainase sehingga diperlukan
pengolahan drainase yang khusus. (Hernandez, 2017)

2
C. KLAFISIKASI KEMIRINGAN TANAH
Kemiringan lereng adalah perbandingan antara tinggi (jarak vertikal) suatu
lahan dengan jarak mendatarnya. Biasanya kemiringan lereng dapat dinyatakan
dalam satuan (%). Kemiringan lereng merupakan ukuran kemiringan lahan
relative terhadap bidang datar yang secara umum dinyatakan dalam persen atau
derajat. Kecuraman lereng, panjang lereng, dan bentuk lereng semuanaya akan
mempengaruhi besarnya erosi dan aliran permukaan. Berikut ini beberapa
klasifikasi kemiringan lereng.

Tabel Kelas Kemiringan Lereng


KEMIRINGAN (%) KLASIFIKASI KELAS
0-3 Datar A
3-8 Lantau Atau Berombak B
8-15 Agak Miring C
15-30 Miring D
30-45 Agak Curam E
45-65 Curam F
>65 Sangat Curam G
Sumber: Arsyad (1989:225)

Tabel Kelas Kemiringan Lereng dan Nilai Skor Kemiringan Lereng


KELAS KEMIRINGAN (%) KLASIFIKASI
I 0-8 Datar
II >8-15 Landai
III >15-25 Agak Curam
IV >25-45 Curam
V >45 Sangat Curam
Sumber: Pedoman Penyusunan Pola Rehabilitasi Lahan dan
Konservasi Lahan, 1986.

Tabel Klasifikasi Kelas Kelerengan, Panjang Lereng, dan Bentuk Lereng

Sumber: Dit. Jen RRL Dept. Kehutanan.

3
Tabel Pembagian Kemiringan Lereng Berdasarkan Klasifikasi USSM dan USLE
KEMIRINGAN KEMIRINGAN KETERANGAN KLASFIKASI KLASFIKASI
LERENG () LERENG (%) USSM (%) USLE (%)
<1 0-2 Datar-Hampir Datar 0-2 1-2
1-3 3-7 Sangat Landai 2-6 2-7
3-6 8-13 Landai 6-13 7-12
6-9 14-20 Agak Curam 13-25 12-18
9-25 21-55 Curam 25-55 18-24
25-65 56-140 Sangat Curam >55 >24
>65 >140 Terjal
Sumber: USSM (United Stated Soil System Management) dan USLE (Universal Soil Loss
Equation)

Adapun tipe-tipe kontur adalah sebagai berikut.

4
D. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN LAHAN BERKONTUR
Berikut ini kelebihan lahan berkontur:
a. Landscape/Pemandangan yang Indah dan Orientasi Bangunan Keluar
Dari beberapa keuntungan yang ada, bahwa lahan berkontur jelas akan
mendapatkan view lebih baik dari pada view di lahan datar, karena view
akan lebih jelas disebabkan permukaan di lahan berkontur akan
mendapatkan ketinggian yang dapat dimanfaatkan menjadi over view.
b. Memiliki Daya Tarik Tersendiri
Dari keuntungan kontur lebih rendah atau lebih tinggi dapat dimanfaatkan
sebagai over view yang mengarahkan pada lingkungan tapak yang lebih
rendah. Dengan lahan berkontur akan menciptakan suasana lingkungan
tapak lebih dinamis apalagi bila ini dapat dibawa kedalam olahan tapak
pada bangunan. Bangunan di lahan berkontur akan lebih gaya baik secara
visual bila direncanakan dan dirancang dengan baik.
c. Adanya Kesan Tiga Dimensi (3D)
Kelebihan lahan berkontur dapat membuat bangunan
tingkat/berlantai banyak terlihat tidak setinggi rumah di lahan yang datar.
Karena sebagian lantai tertutupi oleh lahan yang lebih tinggi atau karena
adanya bassement pada lantai yang dibawah lahan berkontur diatasnya.
Tapi sebaliknya bila rumah berada di lahan berkontur lebih tinggi dari jalan
dan sekitarnya maka rumah akan terlihat tinggi. Lahan berkontur yang
mempunyai perbedaan ketinggian kontur yang signifikan dapat mengurangi
ketinggian dari bangunan bertingkat, karena sebagian lantai akan berada di
permukaan lahan yang lebih rendah.
Bangunan yang dibangun di atas tanah berkontur akan sangat kaya
kreasi ruang, mengingat pemanfaatan lahan di tanah berkontur
menciptakan ruang yang dapat tersembunyi di antara ruang lainnya. Di
atas tanah berkontur akan terlihat hanya dua lantai karena satu lantai
lainnya berfungsi seperti basement atau lantai bawah tanah.
Dari sisi teknis dan sisi non-teknis, secara visual banguanan yang
hanya memiliki satu lantai agak membosankan, datar dan tidak ada bentuk
atau sudut yang bisa diekspose dengan gaya unik dan mengasyikan.
Sementara bangunan dengan tanah yang berkontur dapat dimodifikasi tiap
ruangnya yang disesuaikan dengan kontur tanah. Di samping itu bentuknya
pun akan bertambah gaya.
d. Rancangan Bersifat Dinamis
Kelebihan lahan bertransis terhadap bangunan adalah rancangan bersifat
dinamis. Pada lahan bertransis dapat membuat bangunan split level,
bangunan sistem raam. Kedua jenis rancangan ini menjadikan bangunan
nampak lebih dinamis. Split level memberikan variasi suasana interior yang
unik. Karena, ketinggian lantainya yang berbeda-beda untuk setiap
ruangan, memberikan sekuen perjalanan yang menarik, selain pembeda
antar ruang yang lebih tegas melalui ketinggian.

5
e. Terdapat Banyak Sistem dan Bahan Konstruksi yang Dapat Digunakan dalam
Merancang di Lahan Bertransis
Banyak sistem dan bahan kontruksi yang dapat digunakan untuk
mengatasi tanah berkontur, baik yang alami atau buatan. Yang terpenting
penggunaannya harus tepat dan sesuai dengan kondisi lingkungan dan
kemampuan dari lahan. Bahan-bahan tersebut bisa pondai terassering
buatan dengan batu dan beton atau dengan terassering dari bahan alami
yaitu dari pohon dan rerumputan.
Menggunakan sistem dan bahan alami akan meminimalisasikan biaya
pembanguan. Selain itu dengan menggunakan pilihan bahan yang alami
pada lahan miring, seperti pohon dan rumput dapat membuat lingkungan
menjadi lebih asri dan lahan tersebut dapat menjadi resapan air hujan.
f. Mempermudah Sistem Drainase
Salah satu pengaruh yang baik lahan berkontur adalah dapat dengan
mudah untuk sistem drainase. Dengan lahan yang berkontur, berarti lahan
tersebut mempunyai kemiringan tertentu sehingga dapat digunakan untuk
kemudahan menyalurkan air.

Adapun kelemahan atau kekurangan lahan berkontur/betransis:


a. Menggunakan teknik tertentu dalam mengolah lahan
b. Tidak dapat menggunakan pola cluster
c. Rancangan bangunan harus mengikuti kontur tanah
d. Tidak dapat membangun bangunan bentak lebar
e. Aksesbilitas yang cukup sulit
Selain kekurangan-kekuranga. diatas, terdapat permasalahan-
permasalahan yang timbul di lahan berkontur. Beberapa permasalahan yang
sering kali muncul di lahan berkontur antara lain:
a. Efisiensi urukan.
b. Meminimalkan jam penggunaan alat berat.
c. Air bersih yang sulit.
d. Menyalurkan air buangan yang sembarang.
e. Mengatasi masalah penyelesaian jalan (tanjakan dan turunan).
f. Lahan kontur menjadi mahal biaya pengelolaannya.
g. Kesalahan perencanaan diawal untuk lahan kontur menjadi biaya yang
sangat tinggi, bahkan sering kali diluar dugaan, sehingga menggerus
proyeksi profit dari setiap unit yang dijual. Bila biaya mengelolaan lahan
dibebankan langsung ke harga jual, dapat menyebabkan unit yang
dipasarkan tidak bernilai jual baik.

6
E. PENGOLAHAN LAHAN BERKONTUR UNTUK BANGUNAN
Pengolahan muka tanah pada lahan betransis dapat juga disebut grading.
Grading yaitu pengolahan lahan dengan cara pelandaian sebagian permukaan
tapak untuk memudahkan pekerjaan konstruksi. Grading tanah adalah
meratakan kemiringan tanah tertentu guna memberi kemungkinan desain lantai
bangunan yang bersifat fleksibel(mudah dicapai).
Tujuan dari pengolahan/peragcangan bangunan pada lahan
bertransis/berkontur mencakup banyak hal. Penggunaan grading tanah sangat
mempengaruhi proses perancangan dan desain dari arsitektur tersebut.
Beberapa tujuan grading antara lain adalah:
a. Mengembangkan tapak bangunan yang menarik dan unik, sesuai
dengan bentuk tanah.
b. Memberikan pencapaian yang aman, nyaman dan fungsional sesuai
tapak baik untuk tujuan fungsional maupun pemeliharaan.
c. Membagi aliran air permukaan dan air bawah permukaan menjauhi
bangunan dan perkerasan trotoar untuk menghindari kejenuhan lapisan
dasar yang dapat merusak struktur bangunan atau melemahkan
perkerasan.
d. Mempertahankan bentuk kontur sehingga tidak merubah letak peil tanah
dalam rangka mempertahankan aset alam di atasnya.

Terdapat beberapa penyelesaian terhadap kontur pada tapak. Berikut ini


teknik yang dilakukan dalam grading tanah antara lain:
1. Sistem Cutting
a. Kontur terendah yang terdekat dengan lereng dipilih sebagai
ketinggian site permukaan yang rata.
b. Kemudian kontur dipindah kesisi belakang site yang lebih tinggi.
c. Kontur sisanya menyesuaikan sampai tidak ada garis kontur existing
yang melintang pada site.
Kelebihan sistem ini adalah keseluruhan site dengan level sama dapat
dimanfaatkan sebagai ruang-ruang yang efektif. Sedangkan kekurangannya
adalah tanah sisa penggalian harus dipindahkan ke tempat lain yang
berarti pengeluaran biaya transportasi.

7
Gambar Sistem Cutting
Sumber : Membangun Rumah di Lereng dan Perbukitan, Heinz Frick

2. Sistem Filling
a. Kontur tertinggi dekat dengan lereng dipilih sebagai ketinggian site
permukaan yang rata.
b. Kontur dipindahkan ke bagian bawah site.
c. Kontur sisanya menyesuaikan supaya tidak ada garis kontur existing
yang melintang pada site.
d. Sistem drainase harus direncanakan dengan baik, karena jika sistem ini
tidak bekerja, air akan bergerak menuruni bukit mengalir melawan
pola kontur sehingga mempengaruhi struktur bangunan.
Kelebihan sistem ini adalah terciptanya suatu site yang datar sehingga
dapat dimanfaatkan sebagai ruang-ruang efektif. Sedangkan kekurangannya
adalah pemborosan biaya transortasi karena untuk keperluan urugan
harus mendatangkan tanah dari tempat lain.

Gambar Sistem Filling


Sumber: Membangun Rumah di Lereng dan Perbukitan, Heinz Frick

8
3. Cut and Fill
Cut dan Fill yaitu memindahkan sebagian tanah untuk mengisi tanah
di bagian yang lain. Untuk mengolah perancangan bangunan di atas tanah
miring dapat dilakukan cut and fill (gali dan uruk). Istilah ini mengandung
arti bahwa dilakukan pemotongan atau penggalian dan pengisian atau
pengerukan semata-mata pada keperluan untuk mempermudah
meletakkan lantai-lantai bangunan, agar dapat menciptakan ruangan-
ruangan di kemiringan permukaan tersebut. Jadi, metode cut and fill sama
sekali tidak meratakan total kemiringan tanah, tetapi harus diartikan
mengolah rancangan bangunan atau rancangan potongan dengan sejauh
mungkin memanfaatkan potensi-potensi dan kemungkinan-kemungkinan
khas yang diberikan oleh kemiringan tanah tersebut.
Kelebihan sistem ini adalah adanya keseimbangan kuantitas tanah
pas site yang dieliminasi untuk kebutuhan pengurugan dan penggalian. Hal
ini dikerjakan dengan membuat ketinggian site berada di antara kontur
terendah dan tertinggi.

Gambar Sistem Cut and Fill


Sumber : Membangun Rumah di Lereng dan Perbukitan, Heinz Frick

4. Panggung
Mendirikan bangunan di atas struktur panggung, sehingga
didapatkan suatu bangunan yang datar, tanpa merusak kontur tanah.
Menggunakan sistem bangunan di atas tanah dengan bantuan
penopang agar pemukaan tanah yang asli tidak terganggu.

Gambar Sistem Penopang


Sumber: Membangun Rumah di Lereng dan Perbukitan, Heinz Frick

9
5. Split Level dan Sengkedan/Terasering
Menurut Frick (2006:58-59), berkaitan dengan pembangunan rumah
di lerengan perlu dijelaskan dua istilah yang sering disalahgunakan, yaitu:
a. Split-level berarti rumah yang karena topografi tanah merupakan
lerengan landai, maka memiliki dua lantai yaitu di bagian bawah dan di
bagian atas lerengan, biasanya dengan beda tinggi setengah tingkat
rumah.
b. Rumah sengkedan (terraced house) merupakan rumah yang karena
topografi tanah merupakan lerengan yang agak terjal, maka memiliki
susunan tingkat rumah yang sesuai garis kontur, dengan beda tinggi
selalu satu tingkat rumah.

Gambar Rumah Split-Level atau Rumah Sengkedan


Sumber: Frick (2003:39-40)

10
Sumber: Frick (2003:23)

Terasering atau sengkedan adalah bangunan konservasi tanah dan air


secara mekanis yang dibuat untuk memperpendek panjang lereng dan atau
memperkecil kemiringan lereng dengan jalan penggalian dan pengurugan
tanah melintang lereng. Tujuan pembuatan teras adalah untuk mengurangi
kecepatan aliran permukaan (run off) dan memperbesar peresapan air,
sehingga kehilangan tanah berkurang (Sukartaatmadja, 2004).
Frick (2006:59) mengemukakan bahwa perencanaan rumah
sengkedan dan split-level yang sehat dan baik merupakan hasil
pertimbangan dan penilaian alternative dari segi konstruksi (struktur,
konstruksi, dan bahan bangunan), dan dari segi penggunaan (keamanan,
kesehatan, ekonomi, kebutuhan ruang, dan sebagainya).
Pengolahan lahan bertransis dengan split level dan
sengkedan/terasering yaitu mendirikan bangunan dengan lantai bangunan
mengikuti ketinggian kontur. Frick (2006:61-65) juga memaparkan bahwa
penyesuaian rumah pada topografi tapak merupakan tuntunan penting.
Sesuai kemiringan lerengan gunung dapat dimanfaatkan rumah split-level
atau rumah sengkedan sebagai berikut:
1) Rumah split-level yang berdiri sendiri, berderet, dan sebagainya pada
lerengan <10% (<6). Rumah seperti ini dikerena topografi tanah
merupakan lerengan landai, maka memiliki dua lantai yaitu dibagian
bawah dan di bagian atas lerengan, biasanya dengan beda tinggi
setengah tingkat rumah.

11
12
Gambar Rumah Split-Level di Lerengan <10%
Sumber: Frick (2003:40-43)

2) Rumah sengkedan yang berdiri sendiri, berderet, dan sebagainya pada


lerengan >10% (>6), merupakan rumah yang karena topografi tanah
merupakan lerengan yang agak terjal, meka memiliki susunan tingkat
rumah yang sesuai garis kontur, dengan beda tinggi selalu satu tingkat
rumah.

13
14
15
16
Gambar Rumah Sengkedan di Lerengan 10-20 %
Sumber: Frick (2003:43-47)

3) Rumah sengkedan yang tersusun (terraced houses) pada lerengan


20% ( 11). Pada pembangunan rumah sengkedan yang tersusun
dengan padat penghuni, lingkungan alam sebenarnya diganti
lingkungan buatan. Agar hubungan dengan alam tetap terjamin, maka
setiap keluarga masuk rumahnya dari luar (melalui tangga) seperti
semacam rumah berderet vertikal. Kemudian atap tetangga disebelah
bawah merupakan serambi dan taman bunga/perdu bagi keluarga di
atasnya. Sistem ini menggunakan bantuan retaining wall dan
merupakan sistem yang sedikit banyak mempertahankan bentuk lahan
(landform) alaminya.

17
18
Gambar Rumah Sengkedan di Lerengan >20 %
Sumber: Frick (2003:48-50)

19
6. Sistem Penopang
Sistem ini mengunakan retaining wall atau dinding penahan tanah. Dinding
Pondasi lereng diekspos dan berfungsi sebagai retaining wall (dinding
penahan) di bagian bawah atau atas permukaan. Alternatif ini paling banyak
dilakukan meski agak sulit dalam pelaksanaannya.

Gambar Sistem Retaining Wall


Sumber : Membangun Rumah di Lereng dan Perbukitan, Heinz Frick

20
F. PENCEGAHAN EROSI PADA LAHAN BETRANSIS
1. Dinding Penahan Tanah
a. Pengertian dan Fungsi Dinding Penahan Tanah
Dinding penahan tanah merupakan komponen struktur yang
berfungsi sebagai konstruksi penahan tanah untuk jalan, bangunan dan
lingkungan yang berhubungan tanah berkontur atau tanah yang
memiliki elevasi berbeda. Dinding ini dibangun untuk menahan
pergerakan massa tanah miring di atas struktur atau bangunan yang
dibuat guna mencegah terjadinya erosi. Beberapa faktor yang perlu
diperhatikan dalam rancangan dinding penahan tanah adalah.
a. Faktor kekuatan struktur, besarnya tekanan tanah yang sangat
dipengaruhi oleh kondisi fisik tanah, sudut geser, dan kemiringan
tanah terhadap bentuk struktur dinding penahan.
b. Faktor bentuk dan struktur, yaitu berkaitan dengan keperluan dan
kondisi lingkungan.
c. Faktor penampilan luar, yaitu berkaitan dengan estetika,
kesesuaian dengan lingkungan dan kearifan lokal.
Empat jenis dari sistem dinding penahan tanah tersebut yaitu.
a. Jenis dan sistem dinding gravitasi (gravity walls)
b. Jenis dan sistem dinding kantilever (cantilever walls)
c. Jenis dan sistem dinding pancang (sheet piling walls)
d. Jenis dan sistem dinding jangkar (anchored walls).

Gambar Tipe Dinding Penahan Tanah


Sumber: Hakim, Rustam. 2012

Menurut Frick (2003:8), tugas primer suatu struktur dinding


penahan tanah adalah menampung dan menyalurkan tekanan yang
diakibatkan oleh tanah. Berhubungan dengan konstruksi struktur,
dinding penahan tanah menurut prinsip statisnya dapat dibagi atas:
a) Dinding penahan tanah gaya berat tinggi;
b) Dinidng penahan tanah siku dan kosol;
c) Dinding penahan tanah berjangkar.
Pilihan jenis dan konstruksi dinding penahan tanah tergantung
pada keadaan setempat (terutama berhubungan dengan tempat
perkejaan dan bahaya tanah longsor).

21
b. Dinding Penahan Tanah Gaya Berat Tinggi
Pada dinding penahan tanah gaya berat tinggi, bobot dinding
penahan tanah menyalurkan beban tanah ke pondasinya. Jika dinding
penahan tanah gaya berat tinggi dibuat dari batu kali, perencanaannya
berdasarkan kaidah bahwa lebar landasan seharusnya minimal
setengah dari tingginya. Pada dinding penahan tanah gaya berat tinggi
dari beton, ukuran beton harus dipilih sedemikian rupa sehingga
resultan dari tekanan tanah dan bobot dinding penahan tanah pada
dasar pondasi masih berada di dalam penampang lintang dinding
tersebut.

Sumber: Frick (2003:9)

Supaya efisien dinding penahan tanah gaya berat tinggi dari


beton dapat ditingkatkan, maka pada umumnya gaya penahan tanah
gaya berat tinggi direncanakan dalam keadaan miring untuk
menghemat bahan bangunan beton.

Sumber: Frick (2003:9)

22
Konstruksi dinding penahan tanah gaya berat tinggi dapat juga
dibuat, selain dari batu kali atau beton, dari beronjong (gabion) berupa
keranjang panjang terbuat dari kawat kasa baja yang diisi batu-batu,
dengan elemen prakilang dari beton (elemen sendok beton) atau ban
bekas mobil (yang dua-duanya dapat diisi dengan tanah dan tanaman).

Sumber: Frick (2003:10)

c. Dinding Penahan Tanah Siku dan Kosol


Keuntungan dinding penahan tanah siku dan konsol terletak
pada penggunaan sebagian dari tekanan tanah sebagai bobot dinding.
Pada konstruksi ini timbul momen lentur yang tinggi sehingga
menuntut penggunaan konstruksi beton bertulang.

Sumber: Frick (2003:9)

23
Disamping menghemat bahan bangunan beton, dinding penahan
tanah siku memusatkan saluran beban tanah pada pertengahan dasar
pondasi yang penting pada keadaan tanah yang kurang stabil.
Kelemahan konstruksi dinding penahan tanah siku memerlukan
penggalian tanah yang sangat besar.

Sumber: Frick (2003:9-10)

d. Dinding Penahan Tanah dengan Angkur Tanah


Seperti dinding pengaman dalam tanah galian atau dinding
bendungan (turap), juga dinding penahan tanah dapat distabilkan
dengan menggunakan angkur tanah. Dinding penahan tanah dengan
angkur tanah dapat menghemat bahan bangunan beton bertulang.
Angkur tanah merupakan batang tarik yang tertanam dalam lapisan
tanah yang kuat dan mengikat dinding penahan tanah sehingga tidak
terjadi puntiran. Angkur tanah terdiri dari tiga bagian, yaitu:
a) Kepala dengan pelat landasan yang mengikat dinding penahan
tanah pada batang tarik;
b) Batang tarik yang menyampaikan gaya tari ke badan angkur tanah
yang terletak dalam lapisan tanah yang kuat. Batang tarik terdiri
dari batang baja khusus dan pipa pelindung, yang sekaligus
mengalirkan injeksi mortar ke badan angkur tanah; dan
c) Angkur tanah dengan badan angkur (injeksi mortar yang sudah
mengeras) menyalurkan gaya tarik kepada lapisan tanah yang kuat.

24
Sumber: Frick (2003:9-10)

2. Pencegahan Biologis terhadap Erosi Lerengan


Pengetahuan tentang pencegahan biologis terhadap erosi lerengan
memungkinkan penyediaan dinding penahan tanah atau pekerjaan tanggul
dan tepi perairan dengan cara alamiah. Hal ini penting sekali untuk daerah
yang padat penghuninya. Suatu konstruksi tanggul yang dibuat dari beton
bertulang, selain mahal dan hanya orang mampu yang dapat
membiayainya, juga akan menjadi tua, lemah, dan dikemudian hari mulai
runtuh. Lain halnya dengan pencegahan biologis terhadap erosi lerengan,
yang pada saat digunakan akan tumbuh, kemudian bertambah kuat, dan
makin tua, makin tahan lama. (Frick, 2006: 28)
Menurut Frick (2006: 28), pada prinsipnya, pencegahan erosi secara
biologis dilakukan dengan memanfaatkan bahan bangunan setempat
seperti tanah (tanah liat), batu alam, air, kayu, semak belukar, dan perdu
yang dilengkapi dengan alat bantu teknis menurut kebutuhan (kawat, baja
beton, dan sebagainya).
Sistem tradisional, semacam pagar anyaman tangkai, dikembangkan
menjadi sisipan cangkok perdu, atau berkas tangkai dan cangkok terikat
(fascine). Unsur utama pada pencegahan biologis terhadap erosi lerengan
adalah tumbuhan alam yang mempunyai daya tahan mekanis pada akarnya
dan daya regerasi yang sangat tinggi.
Daya tahan oleh akar sebagai angkur tanah dapat diperhitungkan:
1. Rumput-rumputan 0.5-1.0 N/cm2
2. Semak belukar (misalnya mimosa) 0.3-6.0 N/cm2
3. Perdu (misalnya tembesi) 1.0-7.0 N/cm2
Frick (2006:28) juga memaparkan bahwa perdu dengan akarnya akan
menumbuhkan konstruksi rangka batang dalam ruang yang sangat rumit di
dalam tanah dan kuat. Beberapa jenis perdu (misalnya lamtoro, kersen,
nimba, trembesi) akan menumbuhkan akarnya sampai 6.00 m ke dalam
tanah dan mengikatnya.

25
Semua tumbuhan memiliki sifat-sifat khusus menurut keadaan tanah,
iklim, persediaan air, dan komunitas alam dalam ekosistem setempat. Oleh
karena itu, pilihan jenis tanaman sangat penting jika erosi lerengan hendak
dicegah secara berkesinambungan.
1) Pencegahan Erosi Lerengan Sederhana
Dengan menggunakan cangkok yang mudah bertunas dan
berakar tunjang sebagai pagar anyaman tangkai dalam tanah, sebagai
sisipan cangkok perdu atau berkas tangkai terikat (fascine), erosi
lerengan dapat dicegah sebagai berikut: (Frick, 2006: 29)
Pembangunan sisipan cangkok perdu sebaiknya dilakukan
dengan kerja tangan. Pencegahan erosi lerengan dengan
pembangunan sisipan cangkok perdu yang akan mengikat lerengan
gunung.

Gambar Pencegahan Erosi Lerengan Sederhana


Sumber: Frick (2006:29)

26
2) Pencegahan Erosi dengan Menggunakan Bahan Tambahan
Pencegahan erosi dengan menggunakan bahan tambahan dapat
dilakukan dengan menggunakan pagar palisade (pengembang pagar
anyaman tangkai), dengan bantalan hijau tunggal maupun berganda,
atau dengan beronjong (gabion) yang ditanami.
Kemungkinan lain adalah penggunaan geotekstil. Geotekstil
bukan merupakan lembaran plastic (foil) atau karung plastik,
melainkan semacam jaringan yang dibuat dari bahan polimer atau
tenunan kasar dari tali goni.

Sumber: Frick (2006:30)

27
Kemungkinan lain untuk mencegah erosi ialah penggunaan
jaringan baja tulangan atau concrete lawn block yang diletakkan pada
lerengan dengan kemiringan 2:3. Jaringan baja tulangan dipaku
dengan kaitan baja tulangan ke dalam lerengan, sedangkan concrete
lawn block dipaku dengan cangkok yang mudah bertunas dan berakar.
Kemudian jaringan baja tulangan maupun concrete lawn block diisi
dengan tanah subur sehingga perdu akan bertumbuh dengan baik dan
mengikat lerengan dengan akarnya.

Sumber: Frick (2006:31)

Penggunaan tanaman sebagai dinding penahan tanah


merupakan penyelesaian yang lebih ekologis.

Sumber: Frick (2006:31)

28
3) Pilihan Perdu yang Baik terhadap Erosi Tanah
Perdu yang baik terhadap erosi tanah dan untuk mencegah
kelongsoran dengan akarnya dapat:
a. Ditanam sebagai tiang pagar anyaman tangkai atau palisade;
b. Diletakkan sebagai cangkok pada sisipan perdu, bantalan hijau
atau di antara beronjong (gabion); atau
c. Diikat sebagai berkas tangaki dan cangkok terikat (fascine).
Tentu saja setiap perdu memiliki sifat-sifat khusus menurut
keadaan tanah, iklim, persediaan air, serta komunitas alam dalam
ekosistem setempat. Beberapa contoh perdu yang dapat dimanfaatkan
adalah:
a. Pete cina (Leguminosae leucaena glauca);
b. Janti (Leguminosae sesbania sesban);
c. Yang Lioe (Salicaeae salix tetrasperma atau salix babylonica);
d. Kembang Jepun (Apocynaceae thevetia peruviana);
e. Kersen (Rosaceae prunus cerasus);
f. Nangka (Artocarpus integra), atau
g. Nimba (Meliaceae azadirachta indica) dan lain-lain.

29
G. PILIHAN STRUKTUR BANGUNAN DAN FONDASI YANG TEPAT GUNA
Menurut Frick (2006:59-61), untuk membangun rumah di lerengan
gunung dapat menggabungkan penggolongan rumah secara fenomenologis
dengan organisasi ruang, lingkungan alam (dalam hal ini terutama topografi)
sesuai dengan struktur bangunan yang dipilih. Perbedaan fondasi pada tapak
bangunan datar dan tapak bangunan berlereng diuraikan dalam tabel berikut.

Sumber: Frick (2006:60)

Hubungan antara tanah dan gedung ditentukan oleh cara penyaluran


beban gedung ke tanah dan sebagai pertemuan bangunan dengan topografi
tanah. Menurut cara penggunaan, topografi, dan sebagainya, timbul keadaan
yang berbeda-beda apabila dilihat dari segi struktur maupun pembentukan
rumah.
Dari berbagai struktur bangunan yang telah ada (struktur masif, pelat
dinding sejajar, rangka), dapat diatas mutasinya pada tiga keadaan lereng
gunung yang akan mewujudkan ketergantungan antara gedung dan topografi
setempat.

30
Sumber: Frick (2003:37)

Jika dibayangkan sebuah gedung dapat diangkat secara keseluruhan, lepas


dari tanah, terwujud jejaknya. Fondasi gedung merupakan sepatu gedung yang
menciptakan jejak yang menarik. Dengan demikian fondasi merupakan alat
penyambung antara gedung dan tanah yang dibuat dari bahan yang mampu
menghubungkan kedua unsure tersebut.

Sumber: Frick (2003:37)

Penyelesaian dengan sistem cut and fill seharusnya dihindari sejauh


mungkin. Tidak hanya karena dapat mengakibatkan tanah longsor, melainkan
karena merusak topografi dalam tapak tersebut. Para perencana bertanggung
jawab penuh terhadap pelestarian lingkungan alam. Rumah yang direncanakan
untuk lahan datar tidak diperbolehkan diletakkan pada lerengan! Sistem cut and
fill merupakan perkosaan alam! (Frick, 2006:60)

31
H. PENCAPAIAN LAHAN BANGUNAN (PERENCANAAN JALAN)
Perencanaan jalan pencapaian pada lereng gunung jangan didemensikan
menurut kebutuhan pada masa pembangunan (supaya truk besar dapat naik)
melainkan sesuai kebutuhan penghuni (dapat dicapai dengan mobil sedan dan
sebagainya). Hal ini berarti bahwa pada umumnya jalan tidak perlu lebih lebar
dari pada 3.00-3.50 m dengan kekuatan 3.5 ton. Untuk transportasi bahan
banguanan berat (pasir, krikil, beton, dan sebagainya) dapat dimanfaatkan
peralatan sementara (jika dari atas ke bawah cukup dipasang pipa paralon 400
mm, jika dari bawah ke atas perlu dibangun kereta kabel yang sederhana).

Gambar Pencapaian Lahan Terjal


Sumber: Frick (2006:57)

a. Penentuan Sumbu Jalan (Alinement)


Seleksi awal garis sumbu dugaan jalan dilaksanakan sebelum pekerjaan
kontruksi dimulai agar mendapatkan alur yang baik. Garis sumbu dugaan
jalan terbaik adalah garis yang mengikuti garis kontur atau yang naik-turun
secara merata. Hal ini dapat dilaksanakan dengan jangka yang menetapkan
jarak horizontal yang ingin ditempuh di antara dua garis kontur sebagai
mana terlihat pada gambar berikut.

32
Sumber: Frick (2003:19)

Penentuaan garis sumbu dugaan jalan yang horizontal ditetapkan


berbentuk poligon, garis sumbu kemudian menentukaan sumbu jalan
sebagai suatu rangka antara bagaian jalan yang lurus dan tikungan terkkait.

Sumber: Frick (2003:19)

Pada tikungan (dibawah 100.0 m garis tengah) jalan harus diperlebar


karena kendaraan beroda empat membutuhkan lebih banyak tempat
mengambil tikungan. Pelebaran jalan (v) berhubugan dengan garis-tengah
tikungan (r)
Garis-tengah r(m) >8 >10 >12 >15 >20 >29 >52 >87 >100
Pelebaran v (m) 1.80 1.40 1.20 1.00 0.80 0.60 0.50 0.20 0.00

Sumber: Frick (2003:20)

33
Perlu diperhatikan bahwa pada tikungan balik tajam jalan harus
dikurangi (menjadi separo dari tanjakan jalan biasa). Penentuan potongan
lintang jalan pada umumnya direncanakan sedemikian rupa sehingga
banyaknya tanah yang digali sedapat mungkin dibuat sama dengan
banyaknya tanah yang diperlukan untuk menimbun.

Sumber: Frick (2003:20)

Kelandaian lereng galian dan timbunan biasanya berbeda menurut


keadaan tanah dan setabilitasnya di tempat pembuatan jalan tersebut.
Lereng galian biasanya dapat dipilih lebih curam (mis. 4:5, 1:1, atau 5:1) dari
pada lereng timbunan (mis. 4:5, 2:3, atau 1:2).

b. Kontruksi Jalan dan Selokan Air Hujan


Pembanguanan atau susunan lapisan pada kontruksi badan jalan
dapat dilakukan sebagai berikut.

Sumber: Frick (2003:21)

Setiap jalan harus memiliki kemiringan melintang minimal 3% (jalan


aspal) atau 5% (jalan berbatu) ke salah satu sisi atau dari sumbu jalan
kearah sisi kanan maupun sisi kiri. Lebar jalan dibatasi dengan bahu jalan
yang menghindari kerusakan tepi jalan, dan dengan selokan air hujan (dan
air limbah).

34
Selokan air hujan tersebut di buat di saming bahu jalan di mana
kemiringan melintang menyalurkan air hujan. Di daerah pegunungan
selokan tersebut selalu terletak pada bagaian jalan yang menyinggung
lereng gunung. Selokan dapat dibuat dari tanah saja atau batu.

Sumber: Frick (2003:21)

Selokan air hujan dan air limbah yang paling sederhana di buat
dengan menggali kedalam tanah dengan kemiringan <45o terhadap bahu
jalan dengan kedalaman 30-50 cm.

Sumber: Frick (2003:22)

Apabila kemiringan memanjang pada selokan air hujan/limbah dari


tanah melebihi 4o, maka air akan mengalir dengan kecepatan tinggi dan
merusak palung selokan. Dalam hal ini digunakan kontruksi selokan dengan
bis-belah beton atau tangga selokan yang mengurangi kecepatan aliran air.
Jarak antara anak tangga masing-masing tergantung pada kemiringan dan
kondisi tanah pada palung selokan.
Semakin curam jalan dan semakin lunak tanah, semakin dekat anak
tangga selokan itu dipasang. Agar dicapai pengurangan kemiringan efektif
seperti yang diharapkan, maka jarak antara anak selokan adalah 15.0 m
pada kemiringan jalan 6o, 8.00 m pada kemiringan jalan 7o, 5.00 m pada
kemiringan jalan 8o, dan seterusnya.

35
Sumber: Frick (2003:22)

Tangga selokan terbuat dari 4 buah, batu penghalang yang dipasang


tegak dan ditanam benar-benar dalam lereng dan bagian palung selokan.
Batu lempeng dipasang pada tempat air jatuh dari anak tanggga untuk
menghindari pengikisan. Tanah yang berasal dari lubang tempat batu
tersebut digunakan untuk mengisi/menimbun bagian belakang anak tangga
selokan sehingga dapat menahan lumpur di baliknya.

Sumber: Frick (2003:23)

36
I. PERTIMBANGAN MEMBANGUN DI LAHAN BERKONTUR
Tanah berkontur atau tidak rata sering kita temui di wilayah perbukitan
dan pegunungan. Bagi sebagian orang, kondisi tersebut selain sulit
pengolahaannya, konstruksi strukturnya haruslah super ekstra. Sisi lainnya,
lahan berkontur juga memiliki nilai positif yang dapat menjadi inspirasi
tersendiri. Hunian yang dibangun di atas tanah berkontur akan sangat kaya
kreasi ruang, jika penataannya tepat. Mengingat pemanfaatan lahan di tanah
berkontur menciptakan ruang yang dapat tersembunyi di antara ruang lainnya.
Misalnya rumah tinggal berlantai tiga, akan terlihat hanya satu lantai dari sisi
berbeda. Sedangkan dari sisi samping, akan terlihat hanya dua lantai karena satu
lantai lainnya berfungsi seperti basement atau lantai bawah tanah. Padahal,
basement ini memanfaatkan tanah yang cekung dari permukaan.
Hunian di atas tanah tidak rata juga memiliki keunikan dibandingkan
dengan rumah berlantai satu (tanpa lantai atas), yang berada di atas tanah tidak
berkontur. Rumah berlantai satu memang tidak meletihkan karena tidak ada
tangga yang setiap saat akan mengantarkan tubuh kita dari lantai satu ke lantai
yang lain. Keunikan lain yang tidak di dapat lahan datar adalah
pemandangannya. Pada lahan ini muka bangunan akan dapat terbentuk menjadi
dua sisi. View yang dihasilkan pun jauh lebih menarik.
Untuk menghasilkan desain arsitektur yang baik dari segi konstruksi,
langkah pertama yang harus diketahui adalah kepadatan tanahnya dan
kedalaman kontur tersebut. Hal ini untuk menghindari lantai bangunan yang
tidak rata. Kondisi lahan seperti ini juga akan mempengaruhi banyak aspek mulai
dari pembagian ruang, akses dan jalur sirkulasi, bentuk massa dan atap, struktur
sampai biaya konstruksi pembangunan.
Namun perbedaan ketinggian tanah ini ternyata dapat menjadi nilai
lebih terhadap lokasi bangunan apabila karakteristik topografi tanah menjadi
bagian dari desain bangunannya sehingga menjadi ciri khas hunian. Dalam hal ini
ada beberapa solusi yang dapat diterapkan. Cara paling mudah adalah
meratakan lahan dengan jalan mengeruk tanah yang tinggi dan menimbun
bagian lahan yang rendah (cut and fill). Tahap selanjutnya berlangsung
sebagaimana proses membangun bangunan di lahan yang rata.
Alternatif lain adalah sengaja mengatur ketinggian tanah yang tidak
sama rata di semua bagian lahan. Beberapa bagian dari lahan dapat ditata
menjadi susunan lantai terasering atau split level yang cukup luas sehingga
dapat menampung beberapa ruangan. Desain ini menuntut perhatian ekstra
terhadap hubungan antar lantai dan jalur sirkulasi yang akan mengambil luas
lahan cukup banyak.
Pilihan paling ekstrem adalah membangun rumah panggung yang tidak
mengubah keadaan topografi tanah. Rancangan rumah seperti ini memerlukan
perhitungan konstruksi dan bahan bangunan yang khusus. Apapun solusi
bangunan yang diterapkan, hendaknya ruang-ruang berfungsi sejenis dalam satu

37
bidang lantai dikelompokkan. Contohnya ruang tamu dengan ruang keluarga,
ruang makan dengan pantiy dan kamar tidur yang sejajarkan.
Perhitungkan posisi akses utama dan jalan samping rumah yang paling
mudah dicapai dan langsung dikenali dari arah depan lahan. Desain jalan dan
pintu masuk sebaiknya dibuat menarik. Desain pula alur sirkulasi penghuni
dalam bangunan yang paling efisien, sehingga tidak membingungkan dan tidak
membuat lelah penghuninya. Jika langkah-langkah di atas dapat diterapkan dan
dikembangkan baik. Bangunan di lahan berkontur akan terbentuk menarik.
Untuk lahan berkontur yang akan di bangun, sebaiknya tetap
mempertahankan kondisi eksisting lahan. Hal ini salah satu cara adalah dengan
menyesuaikan desain bangunan dengan kondisi lahan. Penggalian dan
pengurugan memang akan diperlukan, namun hanya sebagian kecil, tidak untuk
meratakan kondisi lahan berkontur secara keseluruhan. Ketinggian pada desain
bangunan akan mengikuti tinggi kontur, sehingga beberapa ruang memiliki
kemungkinan berada pada ketinggian yang berbeda. Perbedaan ketinggian
dalam ruang ini dikoneksikan atau dihubungkan dengan beberapa anak tangga
atau ramp.
Desain bangunan di lahan berkontur memiliki nilai seni atau artistik yang
tinggi jika didesain secara baik. Fungsi ruang publik dan ruang privat dalam
hunian dapat dibatasi melalui perbedaan tinggi ruang, Hal ini biasa disebut
dengan pembatas imajiner, dimana fisik pembatas tidak selalu terlihat, seperti
pembatas menggunakan dinding, namun dapat dilakukan tanpa dinding dengan
perbedaan ketinggian lahan. Beberapa ruang dalam bangunan mendapatkan
view yang berbeda, ini menambah pengalaman pengguna dalam ruang,
pengguna dapat menemukan view baru antar ruang sehingga mengurangi rasa
bosan ketika seharian berada dalam bangunan.
Dalam merancang, acapkali dijumpai site dengan topografi berkontur.
Secara normatif, lahan dengan kelerengan > 25% diperuntukkan sebagai
kawasan penyangga, kelerengan > 40% dinyatakan sebagai kawasan konservasi.
Bila menginginkan lahan dengan karakter tersebut, arsitek secara cerdik dan
bijaksana harus mengikuti kemauan dan kemampuan alamiah dari site tersebut
sehingga dalam pembangunan dan operasionalisasi bangunan/kawasan tidak
memerlukan terlalu banyak energi. Mengolah lahan berkontur dengan split level
secara benar untuk ruang dalam maupun ruang luar dapat menunjukkan tingkat
kepedulian arsitek terhadap masalah lingkungan, pemborosan materi dan
energi, serta kepiawaiannya berarsitektur.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membangun hunian di atas
tanah yang berkontur:
a. Perhatikan kondisi sekeliling lahan, taksir kekuatan tanahnya dengan jalan
memperhatikan pepohonan yang ada dan pertimbangkan pepohonan
tersebut dapat difungsikan tanpa harus ditebang.

38
b. Pilih bagian yang paling landai (agak datar) di dalam tapak karena disitulah
tempat terbaik untuk mendirikan bangunan utama dan ruang utama,
setelah itu baru pilih daerah lain untuk bangunan tambahan lainnya.
c. Jika memungkinkan, bagilah bangunan menjadi beberapa fungsi bagian
bangunan yang berdiri sendiri-sendiri untuk menciptakan suasana resort.
d. Perbanyak bukaan yang menghadap ke arah lembah dan puncak agar
panorama alam tertangkap secara maksimal.
e. Kontur yang terjal dan tak beraturan dapat dimanfaatkan untuk jalur
jogging.
f. Gunakan bahan-bahan alami baik bahan dasar bangunan maupun finishing.
g. Apabila anda mengharapkan singgle building maka panjang dan lebar
bangunan jangan dimaksimalkan, sehingga masih ada area terbuka.
h. Manfaatkan beda ketinggian dengan sistem split level, keuntungan split
level anda akan mendapatkan view yang lebih luas tanpa halangan.
i. Untuk fasilitas publik sebaiknya gunakan ruangan tanpa dinding ataupun
tanpa atap karena anda akan merasa menyatu dengan alam.

Berikut ini tips dari tim Archira untuk anda yang ingin membangun di atas
tanah berkontur:
a. Menyesuaikan bangunan dengan kontur tanah, sebaiknya bangunan yang
akan dibangun mengikuti lekukan tanah yang ada.
b. Cek kepadatan tanah untuk membangun pondasi bangunan.
c. Penggunaan split level akan membuat bangunan lebih menarik.
d. Jika kontur tajam, sebaiknya memanfaatkan ruang pada kontur menjadi
bagian dari bangunan.
e. Menyesuaikan posisi split level untuk mendapatkan view yang terbaik.
f. Memilih material yang kuat secara konstruksi untuk menopang bangunan
g. Menganalisis kondisi iklim sekitar sebelum menentukan desain bangunan
h. Memperhatikan jalur buangan air dan sumber air pada site, untuk menjadi
pertimbangan dalam membuat sistem drainase.
i. Jika menginginkan split level yang landai, sebaiknya menggunakan
sistem cut and fill pada kontur, sehingga bisa disesuaikan dengan desain
bangunan.
j. Mempertimbangkan pula posisi dan bentuk sirkulasi agar tidak menyulitkan
pengguna bangunan.

39
II. LAHAN KRITIS
A. DEFINISI LAHAN KRISTIS
Menurut Poerwowidodo (1990), memandang bahwa: Lahan kritis adalah
suatu keadaan lahan yang terbuka atau tertutupi semak belukar, sebagai akibat
dari solum tanah yang tipis dengan batuan bermunculan dipermukaan tanah
akibat tererosi berat dan produktivitasnya rendah.
Menurut Kuswanto, dalam Hanipah (2005:14) dijelaskan; Lahan kritis
adalah lahan yang telah mengalami atau dalam proses kerusakan fisik, kimia,
atau biologi yang akhirnya dapat membahayakan fungsi hidrologi, gieologi,
produksi pertanian, pemukiman, dan kehidupan sosial ekonomi dari daerah
lingkungan pengaruhnya.
Lahan kritis merupakan lahan yang tidak produktif dengan kondisi yang
tidak memungkinkan untuk dijadikan lahan pertanian tanpa usaha atau input
yang tinggi, yang dicirikan oleh proses pengikisan yang sangat cepat, sehingga
lapisan tanah semakin lama semakin tipis serta lapisan lahan tersebut
mengalami penurunan fungsi hidrologis, giologis, produksi pertanian dan sosial
ekonomi.

B. KLASIFIKASI LAHAN KRITIS MENURUT TINGKAT KEKRITISAN LAHAN


1. Lahan Kritis
Lahan kritis adalah lahan yang tidak produktif yang tidak memungkinkan
untuk dijadikan lahan pertanian tanpa merehabilitasi terlebih dahulu. Ciri
lahan kritis diantaranya adalah:
a. Telah terjadi erosi kuat, sebagian sampai pada gully erosion,
b. Lapisan tanah tererosi habis,
c. Kemiringan lereng lebih besar dari 30%,
d. Tutupan lahan sangat kecil (< 25 %) bahkan gundul,
e. Tingkat kesuburan tanah sangat rendah.

2. Lahan Semi Kritis


Lahan semi kritis adalah lahan yang kurang produktif dan masih digunakan
untuk usaha tam dengan produksi yang rendah. Ciri lahan semi kritis
diantaranya:
a. Telah mengalami erosi permukaan sampai erosi alur,
b. Mempunyai kedalaman efektif yang dangkal < 5 cm),
c. Kemiringan lereng > 10 %,
d. Persentase penutupan lahan 50 - 75 %
e. Kesuburan tanah rendah.

40
3. Lahan Potensial Kritis
Lahan potensial kritis adalah lahan yang masih produktif untuk pertanian
tanaman pangan tetapi apabila pengolahannnya tidak berdasarkan
konservasi tanah yang baik, maka akan cenderung rusak dan menjadi semi
kritis/lahan kritis. Ciri lahan potensial kritis adalah:
a. Pada lahan belum terjadi erosi, namun karena keadaan topografi dan
pengolahan yang kurang tepat maka erosi dapat terjadi bila tidak
dilakukan pencegahan,
b. Tanah mempunyai kedalaman efektif yang cukup dalam (>20 cm),
c. Persentase penutupan lahan masih tinggi (> 70% ),
d. Kesuburan tanah mulai dari rendah sampai tinggi.

41
C. FAKTOR LAHAN KRITIS
1. Kekeringan/ Tandus

Gambar Tanah Kritis Gambar Tanah Kritis


Sumber: majalahsora.com Sumber: majalahsora.com

Pengertian tandus menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)


adalah tidak dapat ditumbuhi tanaman atau tumbuhan karena kekurangan
zat hara; gersang; tidak subur. Faktor eksternal mempengaruhi ketandusan
tanah sebagai berikut :
a. Tanah yang terdiri dari sedikit clay akan kesulitan dalam
mempertahankan nutrisi karena clay memiliki muatan yang akan
berikatan dengan materi organik dan nutrisi.
b. Tidak cukupnya topsoil pada lapisan atas tanah.
c. Kurangnya nutrisi utama di tanah terutama nitrogen, fosfor, dan kalium
(NPK).
d. Kurangnya materi organik yang berasal dari degradasi bahan organik.
e. Tidak tersedianya cukup mineral seperti B, Cl, Co, Cu, Fe, Mn, Mg, Mo, S,
dan Zn.
f. pH tanah di bawah 6.0 (asam) atau di atas 6.8 (alkalis).
g. Terlalu banyak kapur (CaCO3) dan gypsum (CaSO4).
h. Curah hujan yang terlalu sedikit ataupun terlalu banyak.
i. Adanya senyawa antibiotik, tanin, ataupun polifenol yang menghambat
pembentukan materi organik tanah.
j. Tidak tersedianya makhluk hidup tanah semisal cacing dan serangga
yang membantu membuat struktur tanah lebih berongga.
k. Tercemarnya tanah oleh senyawa kontaminan.

42
2. Tergenang Terus Menerus/Rawa

Gambar Tanah Rawa Gambar Tanah Rawa


Sumber: commons.wikimedia.org Sumber: andy.web.id

Rawa adalah wadah air beserta air dan daya air yang terkandung di
dalamnya, tergenang secara terus menerus atau musiman, terbentuk secara
alami dilahan yang relative datar atau ccekung dengan endapan mineral atau
gambut, dan ditumbuhi vegetasi, yang merupakan suatu ekosistem. (PP 73
Tahun 2013 tentang Rawa)
Lahan rawa lahan yang terkena pasang surut atau banjir biasanya tidak
merupakan lahan yang subur, dan jika dibangun rumah di tempat tersebut,
terutama yang dipesisisr, secara ekologis merupaka lahan yang
keanekaragaman hayatinya paling kaya, jika lahan rawa yang berfungsi
sebagai sepon yang mengatur kelebihan air dari darat (banjir) dan kelebihan
air dari laut (pasang purnama dan rob) akan ditimbun tanah untuk
pembangunan, maka pengaturan banjir dan rob serba ekosistem akan rusak.
Sebaiknya pada lahan tersebut digunakan rumah panggung. (Frick, 1998:67)
Menurut Frick (1998:66) secara tradisional di Asia Tenggara
pembangunan di daerah rawa bisa dengan menggunakan rumah panggung.
Rumah panggung (platform houses) biasanya dibangun diats tiang setinggi
60-300 cm, sedangkan rumah tonggak (houses on stilts) biasanyan lebih
tinggi.

43
3. Mengalami Erosi

Gambar Erosi
Sumber: ilmudaninfo.com

Erosi adalah peristiwa terangkutnya tanah atau bagian tanah dari suatu
tempat yang diangkut oleh air atau angina ke tempat lain dengan media
alam. Pada daerah dengan iklim tropis basah agen utama erosi adalah air.
Sedangakan pada daerah yang beriklim tropis kering agen utama erosinya
adalah angin. Secara umum proses erosi oleh air terjadi melalui tiga
kombinasi proses yaitu:
a. Penghancuran struktur tanah menjadi butir-butir primer oleh energi
kinetik hujan yang kemudian diikuti oleh perendaman air yang
tergenang.
b. Pengangkutan butir-butir primer tanah tersebut oleh air melalui
limpasan (runoff), partikel bergerak melalui arah lereng
c. Proses sedimentasi butir-butir tanah yang terangkut, proses ini terjadi
setelah energy aliran permukaan menurun. Partikel yang mempunyai
massa yang lebih berat mengalami sedimentasi lebih awal.

44
4. Kesalahan Design

Gambar Pembangunan Perumahan Bisa Menyebabkan Kerusakan Lahan


Sumber: kompasiana.com

Desain yang tidak ramah lingkungan, bisa menyebabkan kerusakan


lahan dan mengubahnya menjadi lahan kritis. Desain permukiman yang
menutup sebagian besar permukaan tanah akan menyebabkan kerusakan
lahan akibat hilangnya fungsi ruang terbuka hijau menjadi perumahan.
Dengan hilangnya lahan terbuka hijau mengakibatkan hilangnya lahan
resapan air hujan yang menyebabnya berubahnya aliran bawah tanah
menjadi Aliran permukaan. Hilangnya area resapan air hujan mengakibatkan
berkurangnya berkurangnya air tanah dan meningkatkan kondisi air
permukaan. Jika berkurangnya air tanah dan berkurangnya daerah resapan
air hujan sehingga akan semakin berkurangnya tanaman-tanaman tinggi yang
akan menjaga stabilitas lingkungan. Sehingga akan terciptanya lahan kosong
tanpa tanaman yang memiliki tingkat evaporasi yang tinggi. Jika tingkat
evaporasi tinggi maka kondisi kelembaban di udara akan naik maka curah
hujan akan semakin meningkat debit curahannya.

45
D. PARAMETER PENENTUAN LAHAN KRITIS
Sejak tahun 1974 hingga 1994 penentuan lahan kritis ditentukan oleh
parameter penutup vegetasi, tingkat torehan/kerapatan, penggunaan
lahan/vegetasi dan kedalaman tanah. Pada tahun 1998 dilakukan perbaikan
dalam penentuan lahan kritis, dimana sasaran lahan yang dinilai adalah lahan-
lahan dengan fungsi lahan yang ada kaitannya dengan kegiatan reboisasi dan
penghijauan, yaitu fungsi kawasan hutan lindung, fungsi kawasan lindung diluar
kawasan hutan, dan fungsi kawasan budidaya untuk usaha pertanian. Menurut
Ditjen RRL (dalam Nugroho, 2000:74). Dengan demikian penilaian lahan kritis di
setiap tempat harus mengacu pada kriteria yang ditetapkan dan sesuai dengan
fungsi tempat tersebut. Besaran nilai bobot tingkat kekritisan lahan diperoleh
dari hasil perkalian antara bobot dan nilai skor.
Parameter fisik lahan berupa kelas lereng, jenis tanah, geologi, curah
hujan serta karakteristik DAS menentukan peran yang sangat penting. Hal ini
berkaitan erat dengan penentuan kriteria lahan kritis sebagai sasaran utama dari
arahan RTL RLKT. Metode yang dilakukan adalah melakukan tumpang susun
(overlay) secara spatial masing-masing data tersebut untuk kemudian dilakukan
pembobotan (skoring). Adapun parameter yang akan dilakukan pembobotan
adalah sebagai berikut:
1. Tipe Iklim (Curah Hujan)
a. Tipe iklim, dianalisis berdasarkan klasifikasi iklim menurut Schmidt dan
Ferguson. Data hujan bulanan selama 10 tahun terakhir dikelompokkan
dalam bulan kering (curah hujan bulanan <60 mm), bulan lembab (curah
hujan bulanan antara 60-100 mm) dan bulan basah (curah hujan bulanan
> 100 mm). Penentuan tipe iklim didasarkan pada nilai Q yang dihitung
dengan rumus:
Q = (BK/BB) x 100%
Keterangan:
BK = Jumlah bulan kering dalam satu periode analisis (bulan)
BB = Jumlah bulan basah dalam satu periode analisis (bulan)
Selanjutnya penentuan tipe iklim didasarkan pada kriteria Schmidt &
Ferguson.

b. Intensitas Hujan
Intensitas hujan (I) dihitung berdasarkan curah hujan rata-rata dalam
satu tahun dan hari hujannya, sebagai berikut:
I = CH/HH
Keterangan :
CH = Curah hujan rata-rata dalam satu tahun
HH = Hari hujan rata-rata dalam satu tahun

46
Tabel Klasifikasi Intensitas Curah Hujan
Kelas Intensitas Intensitas Curah hujan
Klasifikasi CH
Curah Hujan (mm/hari)
1 < 13,6 Sangat rendah
2 13,6 20,7 Rendah
3 20,7 27,7 Sedang
4 27,7 34,8 Tinggi
5 > 34,8 Sangat Tinggi

2. Kelas Lereng
Bentuk lahan dan ketinggian tempat dianalisis secara deskriptif
berdasarkan Peta Topografi dengan memperhatikan pola dan ketinggian
garis kontur. Kelas lereng diklasifikasikan sesuai dengan kerapatan garis
kontur. Pada bagian yang berbukit/bergunung selain dengan analisis
kerapatan kontur, penetapan kelas lereng juga dilakukan secara sistematis
dengan melihat puncak atau punggung bukit/gunung. Panjang lereng
ditentukan berdasarkan pengamatan di lapangan dengan memprediksi rata-
ratanya pada masing-masing kelas lereng dan lokasinya.
Tabel Klasifikasi Kelas Lereng
Kelas Kondisi Klasifikasi
Lereng Di Peta Di Lapangan Lereng
1 Jarak kontur > 6,25 mm 0%-8% Datar
2 Jarak kontur 3,33 - 6,25 mm 8 % - 15 % Landai
3 Jarak kontur 2,00 - 3,32 mm 15 % - 25 % Agak curam
4 Jarak kontur 1,25 1,99 mm 25 % - 40 % Curam
5 Jarak kontur < 1,25 mm > 40 % Sangat Curam

3. Jenis Tanah
Pengolahan data jenis tanah adalah dengan pendekatan terhadap
kepekaan jenis tanah tertentu terhadap tingkat laju erosi. Tanah memiliki
struktur dan porositas yang mampu menahan laju aliran permukaan
(surface run off) yang berbeda antara jenis tanah satu dengan lainnya.
Semakin kuat jenis tanah menahan laju aliran permukaan maka
kepekaannya semakin rendah, sebaliknya semakin rendah jenis tanah akan
tingkat laju erosi maka kepekaannya semakin tinggi. Berikut adalah
klasifikasi jenis tanah berdasarkan kepekaan terhadap erosi.
Tabel Klasifikasi Kepekaan Jenis Tanah terhadap Erosi
Kelas
Jenis tanah Klasifikasi kepekaan
Tanah
1 Aluvial, glei planosol, hidomorf kelabu,
Tidak peka
laterita air tanah
2 Latosol Aga peka
3 Brown forest soil, noncalsic brown, mediteran Kurang peka
4 Andosol, Laterit, Grumusol, Podsol, Podsolik Peka
5 Regosol,Litosol, Organosol, Renzina Sangat Peka

47
Ketiga parameter fisik lahan tersebut digunakan sebagai dasar
penentuan kriteria lahan kritis, untuk kemudian ditentukan skala prioritas
dalam penanganan program yang akan dilaksanakan. Penentuan kriteria
lahan kritis tersebut disajikan pada diagram alir berikut:
Peta Kelas Lereng (Bobot 20%) Peta Erosi (Bobot 20%)
Kelas Skor Kelas Skor
Datar 5 Ringan 5
Landai 4 Sedang 4
Agak Curam 3 Berat 3
Curam 2 Sangat Berat 2
Sangat Curam 1

Overlay

Peta Liputan Lahan (Bobot 50%) Peta Manajemen (Bobot 10%)


Kelas Skor Kelas Skor
Sangat Baik 5 Baik 5
Baik 4 Sedang 3
Sedang 3 Buruk 1
Buruk 2
Sangat Buruk 1

Peta Tingkat
Kekritisan Lahan

Kawasan Lindung
Tingkat Kawasan Kawasan Budidaya
Di luar Kawasan
Kekritisan Hutan Lindung Pertanian
Hutan
Lahan
Total Skor Total Skor Total Skor
Sangat Kritis 120-180 115-200 110-200
Kritis 181-270 201-275 201-275
Agak Kritis 271-360 276-350 276-350
Potensial Kritis 361-450 351-425 351-425
Tidak Kritis 451-500 426-500 426-500

Gambar Diagram Alur Penentuan Klasifikasi Lahan Kritis

4. Penutupan Lahan
Data penutupan lahan dari hasil penafsiran citra Alos Prism 2.5 m
tersebut, penutupan lahan di bedakan menjadi tiga kelas penutupan lahan
yaitu kelas penutupan I (kawasan lindung), Kelas penutupan II ( kawasan
konservasi), Kelas penutupan II (kawasan budidaya).
Hasil penafsiran tersebut terdiri dari 23 kelas penutupan lahan yang
selanjutnya dikelompokkan menjadi 3 kelompok penutupan lahan,
berdasarkan tingkat penutupan vegetasinya, yaitu:

48
a. Kelompok Penutupan I: terdiri dari jenis penutupan tanah terbuka,
semak/belukar, pertanian, lahan kering bercampur semak. Kegiatan
yang dapat diarahkan pada kelompok ini adalah kegiatan reboisasi dan
penghijauan.
b. Kelompok Penutupan II: terdiri dari jenis penutupan hutan lahan kering
sekunder, hutan rawa sekunder. Kegiatan yang dapat diarahkan pada
kelompok ini adalah kegiatan pengayaan tanaman.
c. Kelompok Penutupan III: terdiri dari jenis penutupan savana, pertanian
lahan kering, sawah, pertambangan dan pemukiman. Kegiatan
diasumsikan tidak dilakukan pada seluruh areal dan dapat dilakukan
melalui kegiatan teknik konservasi tanah.
Data hasil penafsiran citra tersebut dilakukan pengecekan lapangan
untuk mengoreksi beberapa kesalahan penafsiran, sehingga sesuai dengan
kondisi riil dan perubahan terkini di lapangan.

5. Karakteristik DAS
Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan daerah yang dibatasi oleh
punggung bukit yang mampu menerima, menyimpan aliran air, sedimen
serta unsur hara tanah serta mengalirkannya ke satu titik pertemuan aliran
sungai. Ditinjau dari aspek hidrologi, DAS dapat dipandang sebagai suatu
sistem yang mampu mempengaruhi kondisi suatu lahan atau kawasan.
Adapun parameter fisik DAS yang secara signifikan mampengaruhi
karakteristik lahan adalah bentuk DAS, kerapatan aliran, dan kemiringan
DAS (Seyhan, 1977). Ketiga parameter fisik DAS tersebut berpengaruh
terdapat kondisi aliran permukaan dan erosi, yang kemudian berpengaruh
terhadap distribusi aliran dan kualitas air suatu kawasan DAS. Masing-
masing parameter fisik (morfometri) DAS dikelompokkan dan
diklasifikasikan berdasarkan pengaruhnya terhadap aliran permukaan.
Tabel Bentuk DAS yang Mempengaruhi Aliran Permukaan
Bentuk DAS Karakteristik Kode
Melebar Bentuk DAS melintang arah aliran, sungai I
melebar, pengaruh erosi semakin kecil
Bulat/bujur sangkar Panjang dan lebar lebih kurang sama II
Memanjang Bentuk DAS memanjan searah aliran sungai, III
pengaruh erosi semakin besar

Tabel Kerapatan Aliran Sungai yang Mempengaruhi Aliran Permukaan dan Erosi
Kerapatan Karakteristik Kode
Rapat Kerapatan aliran tinggi, ada banyak cabang I
sungai selain sungai utama, pengaruh erosi
semakin kecil
Agak rapat Kerapatan aliran kurang, sungai agak rapat II
dan hanya terdapat satu sungai utama
Jarang Kerapatan aliran sungai jarang, pengaruh III
aliran permukaan dan erosi menjadi besar.

49
Tabel Kemiringan DAS yang Mempengaruhi Aliran Permukaan
Kemiringan Karakteristik DAS Kode
Datar Pengaruh terhadap aliran permukaan kecil I
Sedang Pengaruh terhadap aliran permukaan sedang II
Curam Pengaruh terhadap aliran permukaan besar III

E. PENETAPAN LAHAN KRITIS DI KAWASAN HUTAN LINDUNG


Kawasan hutan lindung pada umunya dapat berupa cagar alam, suaka
margasatwa, taman hutan raya, daerah resapan air, daerah pelestarian plasma
nutfah. Kawasan hutan lindung dianggap sebagai kawasan perlindungan dan
pelestarian sumberdaya tanah, hutan dan air, bukan sebagai daerah produksi.
Parameter penilaian kekritisan lahan Kawasan Hutan Lindung dikonsentrasikan
pada parameter penilaian kekritisan yang berkaitan dengan fungsi perlindungan
pada sumberdaya hutan (vegetasi), tanah dan air, faktor kemiringan lereng,
Tingkat erosi dan manajemen pengelolaan yang dilakukan. Kriteria penetapan
lahan kritis untuk kawasan Hutan Lindung disajikan pada tabel di bawah ini.

Tabel Kriteria Penetapan Lahan Kritis untuk Kawasan Hutan Lindung


N Kriteria (%
Kelas Besaran/Deskripsi Skor Keterangan
o Bobot)
1 Penutupan 1. Sangat baik >80 % 5 Dihitung
Lahan 2. Baik 61-80 % 4 berdasarkan
(50) 3. Sedang 41-60 % 3 prosentase
4. Buruk 21-40 % 2 penutupan
5. Sangat < 20 % 1 tajuk
buruk
2 Lereng (20) 1. Datar <8% 5
2. Landai 8- 15 % 4
3. Agak Curam 16-25 % 3
4. Curam 25-40 % 2
5. Sangat > 40 % 1
curam
3 Erosi (20) 1. Ringan Tanah dalam: Kurang dari 25 % 5
lapisan tanah atas hilang dan atau
erosi alur pada jarak 20-50 m
Tanah dangkal: Kurang dari 25 %
lapisan tanah atas hilang dan atau
erosi alur pada jarak > 50 m

2. Sedang Tanah dalam: 25-75 % lapisan tanah 4


atas hilang dan atau erosi alur pada
jarak 20 m
Tanah dangkal: 25-50 % lapisan
tanah atas hilang dan atau erosi alur
dengan jarak < 20-50 m
3. Berat Tanah dalam: lebih dari 75 % lapisan 3
tanah atas hilang dan atau erosi alur
pada jarak 20-50 m
Tanah dangkal: 25-75 % lapisan
tanah atas hilang

50
4. Sangat Berat Tanah dalam: Semua lapisan tanah 2
atas hilang lebih dari 25 % lapisan
tanah bawah hilang dan atau erosi
alur pada jarak kurang dari 20 m
Tanah dangkal: > 75 % lapisan tanah
atas telah hilang dan sebagian
lapisan tanah bawah tererosi

4 Manajemen 1. Baik Lengkap *) 5 *) Tata


(10) 2. Sedang Tidak lengkap 3 batas ada
3. Buruk Tidak ada 1 -Penyuluhan
dilaksana-
kan

Tabel Tingkat Kekritisan Lahan pada Kawasan Hutan Lindung


No Tingkat Kekritisan Lahan Besaran Nilai
1. Sangat Kritis 120-180
2. Kritis 181-270
3. Agak Kritis 271-360
4. Potensi Kritis 361-450
5. Tidak Kritis 451-500

F. TINGKAT KEKRITISAN DI KAWASAN BUDIDAYA UNTUK USAHA PERTANIAN


Kawasan budidaya untuk pertanian adalah kawasan yang diusahakan agar
berproduksi secera lestari. Pada prinsipnya kawasan ini fungsi utamanya adalah
sebagai daerah produksi. Oleh sebab itu penilaian kekritisan lahan di daerah
produksi dikaitkan dengan fungsi produksi dan pelestarian sumberdaya tanah,
vegetasi, dan air untuk produktivitas. Selain itu faktor lereng, tingkat ersosi,
batu-batuan, dan pengelolaan yang dilakukan dijadikan faktor yang
mempengaruhi tingkat kekritisan lahan.

Tabel Kriteria Lahan Kritis di Kawasan Budidaya untuk Usaha Pertanian


N
Kriteria (% Bobot) Kelas Besaran/Deskripsi Skor Keterangan
o
1. Sangat >80 % 5 Dinilai
1 Produktivitas (30) tinggi 61-80 % 4 berdasarkan
2. Tinggi 41-60 % 3 rasio terhadap
3. Sedang 21-40 % 2 produksi
4. Rendah < 20 % 1 umumoptimal
5. Sangat pada
rendah pengelolaan
tradisional
2 Lereng (20) 1. Datar <8% 5
2. Landa 8- 15 % 4
3. Agak 16-25 % 3
Curam 25-40 % 2
4. Curam > 40 % 1
5. Sangat
curam
3 Erosi (20) 1. Ringan Tanah dalam: Kurang dari 25 % 5
lapisan tanah atas hilang dan atau
erosi alur pada jarak 20-50 m
Tanah dangkal: Kurang dari 25 %

51
lapisan tanah atas hilang dan atau
erosi alur pada jarak > 50 m
2. Sedang Tanah dalam: 25-75 % lapisan 4
tanah atas hilang dan atau erosi
alur pada jarak 20 m
Tanah dangkal: 25-50 % lapisan
tanah atas hilang dan atau erosi
alur dengan jarak < 20-50 m
3. Berat Tanah dalam: lebih dari 75 % 3
lapisan tanah atas hilang dan atau
erosi alur pada jarak 20-50 m
Tanah dangkal: 25-75 % lapisan
tanah atas hilang
4. Sangat Tanah dalam: Semua lapisan tanah 2
Berat atas hilang lebih dari 25 % lapisan
tanah bawah hilang dan atau erosi
alur pada jarak kurang dari 20 m
Tanah dangkal: > 75 % lapisan
tanah atas telah hilang dan
sebagian lapisan tanah bawah
tererosi
4 Batuan (5) 1. Sedikit < 10 % 5
2. Sedang 10-30 % 3
3. Banyak > 30 % 1
5 Manajemen 1. Baik Penerapan teknologi konservasi 5
(30) 2. Sedang tanah lengkap dan sesuai dengan 3
3. Buruk petunjuk teknis 1
Tidak lengkap dan tidak dipelihara
Tidak ada

Tabel Tingkat Kekritisan Lahan Pada Kawasan Budidaya untuk Usaha Pertanian
No Tingkat Kekritisan Lahan Besaran Nilai

1. Sangat Kritis 115-200

2. Kritis 201-275

3. Agak Kritis 276-350

4. Potensi Kritis 351-425

5. Tidak Kritis 426-500

G. PENETAPAN KEKRITISAN LAHAN DI KAWASAN LINDUNG DI LUAR KAWASAN


HUTAN
Kawasan Lindung di luar Kawasan Hutan adalah kawasan yang sudah
ditetapkan sebagai kawasan lindung tetapi kawasan tersebut tidak lagi sebagai
hutan, pada umumnya daerah tersebut sudah diusahakan sebagai daerah
produksi. Namun secara prinsip daerah ini masih tetap berfungsi sebagai daerah
perlindungan/pelestarian sumberdaya tanah, hutan, dan air. Oleh sebab itu
parameter penilaian peniliaian kekritisan lahan di daerah ini harus dikaitkan
dengan fungsi sumberdaya tanah, vegetasi yang permanen, air, kemiringan
lereng, tingkat erosi dan tingkat pengelolaan.

52
Tabel Kriteria Lahan Kritis Kawasan Lindung di Luar Kawasan Hutan
N Kriteria (%
Kelas Besaran/Deskripsi Skor Keterangan
o Bobot)
1 Vegetasi 1. Sangat baik >40 % 5 Dinilai
permanen 2. Baik 31-40 % 4 berdasarkan
(50) 3. Sedang 21-30 % 3 prosentase
4. Buruk 10-20 % 2 penutupan
5. Sangat buruk < 10 % 1 tajuk pohon
2 Lereng (10) 1. Datar <8% 5
2. Landai 8- 15 % 4
3. Agak Curam 16-25 % 3
4. Curam 26-40 % 2
5. Sangat >40 % 1
curam
3 Erosi (10) 1. Ringan Tanah dalam: Kurang dari 25 %
lapisan tanah atas hilang dan atau
erosi alur pada jarak 20-50 m
Tanah dangkal: Kurang dari 25 % 5
lapisan tanah atas hilang dan atau
erosi alur pada jarak > 50 m
2. Sedang Tanah dalam: 25-75 % lapisan tanah
atas hilang dan atau erosi alur pada
jarak 20 m
4
Tanah dangkal: 25-50 % lapisan
tanah atas hilang dan atau erosi alur
dengan jarak < 20-50 m
3. Berat Tanah dalam: lebih dari 75 % lapisan
tanah atas hilang dan atau erosi alur
pada jarak 20-50 m
3
Tanah dangkal: 25-75 % lapisan
tanah atas hilang
4. Sangat Berat Tanah dalam: Semua lapisan tanah
atas hilang lebih dari 25 % lapisan
tanah bawah hilang dan atau erosi 2
alur pada jarak kurang dari 20 m
Tanah dangkal: > 75 % lapisan tanah
atas telah hilang dan sebagian
lapisan tanah bawah tererosi
5 Manajemen 1. Baik Penerapan teknologi konservasi 5
. (10) tanah lengkap sesuai petunjuk teknis
2. Sedang Tidak lengkap atau tidak terpelihara 3
3. Buruk Tidak ada 1

H. PENANGGULANGAN LAHAN KRITIS


Usaha untuk meminimalisasi laju bertambahnya lahan kritis dapat
dilakukan dengan usaha yang bersifat structural (reboisasi, penghijauan, check
dam, terasering, dan sebagainya) dan non structural seperti melibatkan
masyarakat, peningkatan pendapatan, penyuluhan dan sebagainya. (Nugroho,
2000:77).
Pengelolaan lahan kritis dengan menerapkan kaidah pengawetan
(konservasi) pada tanah pada dasarnya bertujuan sebagai berikut, memperbaiki
dan menjaga keadaan tanah agar tanah tahan terhadap pukulan butiran hujan
dan hanyutan aliran air, menutup permukaan tanah agar terhindar dari perusak
atau pukulan butiran hujan dan hanyutan aliran air, memperbesar daya resap
tanah dan mengatur aliran permukaan agar mengalir dengan kekuatan yang
tidak begitu merusak tanah (Rukmana, 1995:17)

53
Pengelolaan lahan kritis pada tingkat petani adalah dengan cara
pembuatan teras dan parit yang mengukuti arah garis kontur kemudian pada
pinggir-pinggir teras ditanami tanaman tahunan yang berfungsi untuk
menguatkan pinggir teras tersebut. Pengembangan metode ini dikaji terap dan
dirintis oleh Care International Indonesia (CII) dan Lembaga Pengembangan
Pertanian Baptis.
Pada tahun 1079 Lembaga Pengembangan Pertanian Baptis (LPPB),
memperkenalkan metode untuk pengelolaan lahan kritis berbukit-bukit.
Pengelolaan lahan kritis berbukit-bukit dilakukan dengan sistem Teras Baptis
atau sering disebut Sloping Agricultural Land Technology (SALT). metode ini
pertama kali dikemukakan di Mindanao Baptist Rural Life Center, di Mindanao,
Filipina. Sistem SALT ini telah berjalan dengan baik dan sampai sekarang
digunakan oleh pemerintah Filipina sebagai cara utama untuk mencegah erosi
tanah. (Rukmana, 1995:18)
Terdapat kesamaan antara metode yang dikembangkan CII dan metode
yang dikenalkan oleh LPPB, keduanya menerapkan sistem teras kontur dengan
enggunakan alat sederhana yang disebut Bingkai A.

Gambar Bingkai A
Sumber: Teknik pengelolaan lahan berbukit dan kritis

54
DAFTAR PUSTAKA

Barus, B. 2012. Karakteristik Tanah/Lahan Kritis dalam Perspektif Penataan Ruang.


Bimbingan Teknis Pengendalian Kerusakan Lahan Kritis. 20-21 November.
Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. 1998. Kriteria Penetapan Lahan
Kritis. Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan, Departemen
Kehutanan: Jakarta.
Frick, H. dan T. H. Mulyani. 2006. Arsitektur Ekologis: Konsep Arsitektur Ekologis di Iklim
Tropis, Penghijauan Kota dan Kota Ekologis, serta Energi Terbarukan. PT Kanisius
Yogyakarta.
Hernandez, T. 2017. Pengertian Site Bertransis atau Tapak dengan Kontur Miring.
http://www.arsigraf.com/2017/03/pengertian-site-bertransis-dan.html. 22
Oktober 2017 (09:58 WITA).
Hernandez, T. 2017. Pengertian/Definisi Terasering atau Sengkedan Menurut Para Ahli
dan Fungsinya. http://www.arsigraf.com/2017/03/pengertian-definisi-terasering-
atau.html. 22 Oktober 2017 (10:01 WITA).
Nugroho, S.P. 2011. Minimalisasi Lahan Kritis Melalui Pengelolaan Sumberdaya Lahan
dan Konservasi Tanah dan Air Secara Terpadu. Jurnal Teknologi Lingkungan 1(1):
73-82
Purnomo, D. 2012. Klasifikasi Kemiringan Lereng.
http://pinterdw.blogspot.co.id/2012/03/klasifikasi-kemiringan-lereng.html. 22
Oktober 2017 (10:50 WITA).
Rukmana, Ir H. Rahmat, et al. 1995.Teknik pengelolaan lahan berbukit dan kritis.
Kanisius. Yogyakarta.

55