Anda di halaman 1dari 10

BAB I.

PENDAHULUAN

Polystyrene (IUPAC: Poly (1-phenylethane-1 ,2-diyl)), dengan rumus kimia


C6H5CH=CH2 adalah sebuah aromatik polimer yang dibuat dari aromatik monomerstyrene
dan cairan hidrokarbon yang secara komersial diproduksi dari minyak bumi oleh industri
kimia. Polistirena pertama kali diperkenalkan oleh Ostromislensky dari Naugatuck Chemical
Company pada tahun 1925. Pada saat yang hampir bersamaan I.C. Farbenindustrie juga
mengembangkan polistirena yang berhasil dikomersialkan di Eropa. Pengembangan produk
dan proses polistirena juga dikembangkan oleh Dow Chemical Company dan pertama kali
dikomersialkan di Amerika Serikat pada tahun 1944. Polistirena pertama kali dibuat pada
1839 oleh Eduard Simon, seorang apoteker Jerman. Ketika mengisolasi zat tersebut dari resin
alami, dia tidak menyadari apa yang dia telah temukan. Seorang kimiawan organik Jerman
lainnya, Hermann Staudinger, menyadari bahwa penemuan Simon terdiri dari rantai panjang
molekul stirena,yang merupakan sebuah polimer plastik. Produk polistirena yang pertama kali
diproduksi untuk dikomersialkan adalah homopolimer stirena yang juga dikenal sebagai
polistirena kristal. Polistirena kristal ini juga dikenal sebagai General Purpose Polystyrene
(GPP), yang lebih tahan panas daripada produk polimer thermoplastik lainnya. Perkembangan
lebih lanjut dari polistirena ini adalah Expanable Polystyrene (EP). Produk polistirena lain
yang tak kalah pentingnya adalah polistirena dengan modifikasi karet atau High Impact
Polystyrene (HIP). Produk HIP ini bersifat tidak tembus cahaya, lebih keras dan lebih mudah
dalam pembuatannya dibandingkan dengan produk polimer thermoplastik lainnya. Kegunaan
dari HIP ini cukup luas, antara lain untuk isolasi atau bahan pelapis pada kawat/kabel,
peralatan rumah tangga dari plastik, botol, furniture, mainan anak-anak, bagian dari
refrigerasi, radio, televisi, AC, bahan pembuat kontainer, tempat baterai dan sebagainya.
( U.S. Patent, 1983)
Polistirena padat murni adalah sebuah plastik tak berwarna, keras dengan fleksibilitas
yang terbatas yang dapat dibentuk menjadi berbagai macam produk dengan detail yang bagus.
Penambahan karet pada saat polimerisasi dapat meningkatkan fleksibilitas dan ketahanan
kejut. Polistirena jenis ini dikenal dengan nama High Impact Polystyrene (HIPS). Polistirena
murni yang transparan bisa dibuat menjadi beraneka warna melalui proses compounding.
Polistirena banyak dipakai dalam produk-produk elektronik sebagai casing, kabinet dan
komponen-komponen lainya. Peralatan rumah tangga yang terbuat dari polistirena, antara
lain: sapu, sisir, baskom, gantungan baju, ember.

1
Bab II. Reaksi Polimerisasi dan Teknik Polimerisasi

1. Reaksi polimerisasi adisi untuk menghasilkan polystyrene melalui mekanisme


1.1. Radikal
1.2. Kationik
1.3. Anionic

1.1. Radikal
Polistirena dibuat menggunakan bahan baku stirena monomer dengan inisiator
benzoil peroksida melalui proses polimerisasi. Reaktor yang digunakan adalah jenis
reaktor tangki berpengaduk yang dioperasikan secara batch. Adapun fase reaksi
pembentukan polistirena adalah dalam fase cair (liquid). Kondisi operasi dari reaksi di
reaktor pada tekanan 1 atm dan suhu 90 oC.

Langkah pembuatan polistirena terbagi menjadi 3 tahap yaitu:


1. Tahap Inisiasi
Tahap inisiasi terbagi menjadi 2 tahap:
a. Disosiasi
Yaitu pembentukan dua radikal bebas dari
(I~I) menjadi (I*), dengan kd sebagai sebagai
konstanta kecepatan disosiasi.

b. Asosiasi
Yaitu suatu molekul monomer (M) terikat dengan radikal bebas (I*), dengan ka
sebagai konstanta kecepatan asosiasi.

2. Tahap Propagasi
Yaitu penambahan monomer (M) terhahap monomer yang telah diaktifkan dengan
radikal bebas (IM*), dengan kp sebagai konstanta kecepatan propagasi.

2
3. Tahap Terminasi
Yaitu proses penghentian pertumbuhan polimer. Proses ini terjadi ketika dua rantai
yang mengalami perpanjangan misal: dengan derajat polimerisasi x dan y saling
bertemu. Tahap terminasi dapat terjadi melalui dua proses yaitu:
a. Kombinasi

b. Disproporsionasi

3
1.2. Kationik

1.3. Anionik

4
2. Teknik polimerisasi

A. Polimerisasi Bulk
Teknik polimerisasi ini bisa di sebut juga sebagai teknik polimerisasi larutan, hal tersebut
di karenakan dalam teknik polimerisasi bulk menggunakan solvent berupa monomernya
sendiri yaitu stirena atau etil benzena sehingga akan menghasilkan polimer dengan kemurnian
yang tinggi, sehingga tidak ada problem dalam penghilangan pelarut yang tebentuk. Dalam
industri umunya, polimerisasi bulk disebut polimerisasi massa. Sebagian besar polistirena
yang diproduksi sekarang ini menggunakan proses ini. Ada 2 jenis polimerisasi bulk, yaitu :
Polimerisasi bulk batch
Beberapa produsen polistirena masih menggunakan proses ini, dimana proses
ini terdiri dari unit polimerisasi yang didalamnya terdapat tangki polimerisasi
berpengaduk dengan konversi di atas 80%. Larutan polimer kemudian dipompa ke
bagian finishing untuk devolatilisasi ataupun proses polimerisasi akhir dan grinding. (
U.S. Patent, 1983)
Polimerisasi bulk continuous
Proses ini merupakan proses pembuatan polistirena yang paling banyak
digunakan. Ada beberapa jenis desain dimana beberapa diantaranya sudah
mendapatkan lisensi. Secara umum proses ini terdiri dari satu atau lebih reaktor tangki
berpengaduk (CSTR). CSTR ini biasanya diikuti oleh satu atau lebih reaktor yang
didesain untuk menangani larutan yang kental (viskositas tinggi). Reaktor ini didesain
untuk memindahkan panas baik secara Universitas Sumatera Utara II-4 langsung
melalui koil maupun pendingin uap. Dengan menggunakan proses ini, konversi
monomer stirena menjadi polistirena dapat mencapai lebih dari 85% berat.
Polimerisasi diikuti terjadinya devolatilisasi yang terus menerus. Devolatilisasi ini

5
dapat terjadi melalui preheating dan vacuum flash chambers, devoitizing extruders
atau peralatan yang sesuai. Tingkat volatilitas dari 500 ppm stirena atau kurang dapat
tercapai dengan peralatan khusus, meskipun polistirena yang umum dikomersialkan
mempunyai tingkat volatilitas sekitar 2000 ppm stirena. ( U.S. Patent, 1983)
B. Polimerisasi Suspensi
Polimerisasi suspensi adalah sistem batch yang sangat popular untuk tahapan khusus
pembuatan polistirena. Proses ini dapat digunakan untuk memproduksi kristal maupun HIP.
Untuk memperoduksi HIP, stirena dan larutan karet diolah dengan bulk polymerized melalui
fase inverse. Kemudian disuspensikan ke dalam air untuk mendapatkan suspense air dan
minyak dengan menggunakan sabun atau zat pesuspensi. Kemudian butiran suspense ini
dipolimerisasi lagi sampai selesai dengan menggunakan inisiator dan pemanasan bertahap.
Fase air digunakan sebagai heat sink dan media perpindahan panas terhadap jaket yang
dikontrol suhunya.

C. Polimerisasi Emulsi
Polimerisasi emulsi biasanya digunakan pada proses kopolimerisasi stirena dengan
monomer atau polimer lain. Proses ini merupakan metode komersial yang jarang digunakan
untuk memproduksi polistirena kristal atau HIP. Proses ini mempunyai persamaan dengan
proses polimerisasi suspense kecuali bahwa butiran monomer yang digunakan dalam
polimerisasi emulsi ini dalam ukuran mikroskopis. Air digunakan sebagai carrier dengan
agen pengemulsi untuk memberikan partikel yang sangat kecil dan aktalis untuk mempercepat
kecepatan reaksi. (Meyer,1984).

6
Bab III. Struktur dan Sifat Fisis

Properties

3
Kepadatan 1,05 g / cm

Kepadatan EPS 16-640 kg / m 3 [4]

Konstanta dielektrik 2.4-2.7

Listrik konduktivitas (s) 10 -16 S / m

Thermal konduktivitas (k) 0,08 W / (m K)

Young's modulus (E) 3000-3600 MPa

Kekuatan tarik (t) 46-60 MPa

Perpanjangan putus 3-4%

Notch test 2-5 kJ / m 2

Suhu transisi gelas 95 C

Melting point [5] 240 C

Vicat B 90 C [6]

Koefisien ekspansi linear (a) 8 10 -5 / K

Panas spesifik (c) 1,3 kJ / (kg K )

Penyerapan air (ASTM) 0.03-0.1

Penguraian tahun X, masih membusuk

Polistirena dibuat melalui proses polimerisasi. Polimerisasi yang umum adalah dengan free
radical vynil polymerization yang membentuk atactic polystyrene. Polistirena yang terbentuk dari
proses polimerisasi jenis ini mempunyai struktur yang acak dan bentuk fisiknya amorf. Polimerisasi
yang lain adalah metallocene catalysis polymerization yang menghasilkan syndiotactic polystyrene
yang berbentuk kristalin namun mahal. Polistirena jenis ini mempunyai melting point 270oC. (The
University of Southern Mississippi, 2005).

7
(Len-Bermdez & Salazar, 2008)

Polistirena memiliki ketahanan termal dan kimia yang tinggi yaitu pada suhu 360 oC
(Radhi et al., 2011). Ini dilihat dari data TGA yang menunjukkan PS terdegradasi pada suhu
tersebut. Degradasi berlangsung satu tahap artinya langsung terjadi melalui pemutusan rantai
utama polimer menghasilkan molekul yang lebih kecil ( Pramono, Edi dkk. 2012). Data
Differential scanning calorimetry (DSC) menunjukkan PS mempunyai puncak endotermik
yang menggambarkan proses material saat meleleh atau terdegradasi. Suhu terjadinya proses
yang terakhir disebut Ts dan suhu puncak endotermik disebut Tm. Nilai Ts/ oC = 386 dan
Tm/oC = 413 (Mansour, 2012). Dari data DSC juga dapat ditentukan sifat termoplastik seperti
titik leleh, kalor peleburan, persen kristalinitas dan temperatur transisi gelas. Titik lebur
polistirena sekitar 240oC dan suhu transisi gelas sekitar 95oC.

Uji fleksibilitas menunjukkan kekuatan tarik polistirena 4660 MPa, Notch test 25 kJ/m dan
polistirena dapat mengalami perpanjangan sejauh 34% dengan elastisitas yang diukur dengan
modulus young sebesar 3000-3600 Mpa. Densitas polistirena sekitar 1050 kg/m. Konduktivitas
elektrik polistirena termasuk rendah yaitu sebesar 10-16 S/m sehingga ia sangat popoler digunakan
sebagai insulator pada kulkas dan air conditioner.

8
BAB IV. PROCESSING

High Impact Polystyrene


High Impact Polystyrene terbentuk dengan suatu reaksi polimerisasi adisi terhadap molekul
stirena sebagai monomer dengan melibatkan partikel cis 1-4 polibutadiena, melalui suatu
mekanisme yang disebut grafting. Grafting adalah mekanisme dimana rantai polistirena
terikat secara kimia terhadap rangka polibutadiena. Polimer yang dihasilkan berwujud
padatan yang berwarna putih dan bersifat thermoplastik.

BAB V. APLIKASI

Makanan yang beredar tidak terlepas dari penggunaan bungkusan dengan pelbagai
maksud. Selain melindungi kualitas, makanan juga dimaksudkan untuk promosi. Bungkusan
plastik banyak digunakan demi keunggulan dan keuntungannya. Bungkusan plastik tersebut
diperbuat daripada beberapa jenis polimer iaitu Polietilena terephthalate (PET), Polivinil
klorida (PVC), polietilena (PE), Polipropilena (PP), Polistirena (PS), Polikarbonat (PC) dan
melamin. Diantara bungkusan plastik tersebut, salah satu jenis yang cukup popular di
kalangan masyarakat pengeluar maupun pengguna, yaitu Polistirena, terutama Polistirena
foam. Polistirena foam dikenal luas dengan istilah styrofoam yang seringkali digunakan
dengan tidak tepat oleh orang awam kerana sebenarnya styrofoam merupakan nama dagang
yang telah ditentukan oleh syarikat Dow Chemical, oleh pembuatnya Styrofoam dimaksudkan
untuk digunakan sebagai insulator pada bahan pembinaan bangunan, bukan untuk bungkusan
makanan. Bungkusan Polistirena foam dipilih kerana mampu mempertahankan makanan yang
panas / sejuk, tetap selesa dipegang, mempertahankan kesegaran dan keutuhan makanan yang
dibungkus, ringan, dan inert terhadap keasidan makanan. Disebabkan kelebihan tersebut,
bungkusan Polistirena foam digunakan untuk mengemas makanan siap saji, segar, mahupun
yang memerlukan proses lebih lanjut. Banyak restoran siap saji menyuguhkan hidangannya
dengan menggunakan bungkusan ini, begitu juga dengan produk-produk makanan seperti mi
segera, bubur ayam, kopi, dan yogurt.Selain itu, polisterena juga boleh digunakan dalam
bidang lain seperti seni. Ia boleh digunakan untuk membuat arca, model-model, dan dijadikan
latar sesuatu lukisan. Ia dipilih sebagai bahan seni kerana ciri-cirinya yang ringgan, senang
dipotong dan boleh diwarnakan.

BAB VI. DAFTAR PUSTAKA

United States Patent, Patent Number 4.419.488, 1983, Process for Continuous
Production of High Impact Polystyrene, Washington DC
Len-Bermdez & Salazar. 2008. Synthesis and Characterization of The Polystyrene-
Asphaltene Graft Copolymer by FT-IR Spectroscopy. Ciencia, Tecnologa y Futuro -
Vol. 3 Nm. 4

9
Mansour. 2012. Study of Thermal Stabilization for Polystyrene/Carbon
Nanocomposites Via TG/DSC Techniques. J Therm Anal Calorim, DOI
10.1007/s10973-012-2595-9
Pawde & Parabs. 2007. Spectroscopic and Antimicrobial Studies of Polystyrene Films Under
Air Plasma and He{Ne Laser Treatment. PRAMANA Journal of Physics Vol 70, No. 5
Levenspiel, O. 1957. Chemical Reaction Engineering. New York: Mc Graw
Hill Book Co.

10