Anda di halaman 1dari 4

Yeni Andriyani Setiawan

260110150044/ Kelas B 2015

REVIEW JURNAL PRAKTIKUM AMDK

Judul : Analisis Kandungan Bahan Pengawet Formalin Pada Tahu


Yang Diperdagangkan Dipasar Tradisional Kota Kendari
(Pasar Panjang, Pasar Anduonohu, Pasar Basah Dan Pasar
Baruga)
Jurnal : Jurnal Sains dan Teknologi Pangan
Volume & Halaman : Volume 01 Nomor 2 & Halaman 125-130
Tahun : 2016
Penulis : Indah Iftriani, Sri Wahyuni, dan Haidir Amin
Tanggal Review : 7 Desember 2017

PENDAHULUAN

Pada jurnal penelitian ini, penulis akan melakukan uji percobaan untuk
mengetahui ada atau tidaknya kandungan formalin pada sampel tahu yang dijual di
pasar tradisional kota kendari. Sampel yang digunakan pada penelitian ini yaitu
makanan tahu karena tahu merupakan salah satu makanan yang cukup sering
dikonsumsi oleh masyarakat. Tahu sendiri merupakan makanan yang terbuat dari
kacang kedelai yang diolah lalu dipisahkan ampas dan filtratnya lalu diberikan
tambahan asam cuka. Kandungan dari tahu sendiri yaitu banyak mengandung protein
sehingga tahu memiliki manfaat yang baik bagi tubuh. Akan tetapi karena tahu
merupakan makanan yang mudah rusak dan tidak tahan lama, banyak penjual tahu yang
menggunakan pengawet untuk mengawetkan tahu yang akan dijualnya. Pengawet yang
sering digunakan yaitu formalin. Formalin merupakan pengawet yang dilarang
penggunaannya untuk makanan karena biasanya formalin digunakan untuk
mengawetkan mayat. Selain penulis, kasus terkait penggunaan formalin pada tahu juga
telah diteliti yaitu oleh Saptarini dan Aprilianti. Pada penelitian Saptarini, ia meneliti
formalin di pasar purwakarta lalu didapatkan hasil sebanyak 44,44% sampel tahu
mengandung formalin dengan kadar 5,59-12,86 ppm. Sedangkan pada penelitian
Aprilianti, tahu yang dijual di kotamadya kediri sebanyak 15 sampel tahu positif
mengandung formalin dengan kadar 1,5 ppm. Hal ini terbukti bahwa di beberapa
daerah juga banyak penggunaan formalin untuk makanan padahal menurut
International Proggrame on Chemical Safety batas kadar formalin yang dapat diterima
oleh tubuh yaitu sebesar 0,1 ppm. Dari kasus tersebut, penulis menjadi tertarik untuk
melakukan penelitian yang sama yaitu tentang ada atau tidaknya formalin di dalam
makanan tahu.

METODE

Pada penelitian ini, penulis akan menggunakan bahan pangan tahu yang
diperoleh dari pasar tradsional di Kota Kendari (pasar panjang, pasar Andonouhu, pasar
basah dan pasar Baruga).

Metode yang digunakan oleh penulis yaitu analisis kualitatif dan analisis
kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan pereaksi kimia KMnO4 dengan melihat
perubahan warna yang terjadi pada sampel. Sedangkan analisis kuantitatif dilakukan
dengan menggunakan metode NiOSH. Sampel tahu yang digunakan sebanyak 3 gram
kemudian ditambahkan H2O2 25 ml dan NaOH 0,1 N 50 ml selanjutnya dipanaskan
selama 30 menit dan ditambahkan 1 tetes metal jingga lalu dititrasi menggunakan HCl.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada hasil analisis secara kualitatif, sampel yang diuji diambil dari bagian
depan pasar, tengah pasar, dan belakang pasar. Untuk waktu pengambilan juga
divariasi yaitu pagi, siang dan sore hari.

Hasil dari analisis kualitatif yaitu:


Untuk hasil yang positif ditunjukkan jika pada saat sampel tahu diberi KMnO4
terjadi perubahan warna yaitu berubahnya warna pink menjadi pudar. Dan untuk hasil
yang negatif, sampel tidak akan berubah warna pada saat diberikan KMnO4. Dari hasil
penelitian ini sampel tahu yang positif mengandung formalin terdapat pada bagian
tengah pasar Anduonohu dan waktu pengambilan sampelnya pada pagi hari.

Untuk hasil analisis kuantitatif, sampel tahu yang digunakan ditambahkan


dengan H2O2 dan NaOH 0,1 N lalu dipanaskan. Kemudian larutan ditambahkan
dengan metil jingga lalu dititrasi dengan HCl 0,1 N sampai berubah menjadi warna
kekuningan. Dari hasil penelitian ini didapatkan kadar formalin pada sampel tahu di
pasar Anduonohu yaitu 82,5 ppm atau setara dengan 82,5 mg/kg. Hasil kadar formalin
ini sudah melebihi batas aman/toleransi bagi tubuh karena menurut International
Programe on Chemical Safety, bahwa batas toleransi formalin yang dapat diterima oleh
tubuh adalah 0.1 miligram perliter. Dan berdasarkan standar Eropa, kandungan
formalin yang masuk dalam tubuh tidak boleh melebihi 660 ppm (1000 ppm setara 1
mg/liter) (Hastuti, 2010). Menurut Manitoba Federation of Labour (2004) menyatakan
bahwa pengaruh formalin terhadap kesehatan dengan kosentrasi 0,05-1,00 ppm
merupakan ambang batas penerimaan bahan pengawet formalin didalam tubuh,
sedangkan formalin dengan kosentrasi 50,00-100,00 ppm dapat menyebabkan
pembengkakan dan peradangan pada paru-paru dan dapat mengakibatkan kematian.

Penggunaan formalin bagi tubuh sangat tidak baik karena formalin dapat
menimbulkan efek bagi kesehatan dan dampaknya baru terlihat dalam jangka waktu
yang cukup lama.

KESIMPULAN

Berdasarkan dari penelitian ini, hasil analisis kandungan bahan pengawet


formalin yang dilakukan di pasar tradisional di Kota Kendari (pasar panjang, pasar
Andonouhu, pasar basah dan pasar Baruga dapat disimpulkan bahwa tahu yang
mengandung formalin yaitu tahu yang dijual di pasar Anduonohu dengan kadar 82,5
ppm.