Anda di halaman 1dari 11

KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI

MAKALAH
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Pendidikan Budaya Anti Korupsi

oleh,
Arna Rohimatunnajah (20116081)
Azhi Akbar Maulana (20116082)
Bianka Sismorina (20116083)
Dian Latifah (20116085)
Fani Syifa Fadila (20116088)
Gita Nafisa (20116091)
Ismah Munajat (201160
Resta Mahesa (20116104)
Rilo Pambudi (20116
Weni Nurmilah (20116112)
Fitri Fitri Yani Malia (20116

PROGRAM STUDI D-III ANALIS KESEHATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BAKTI TUNAS HUSADA
TASIKMALAYA
2017
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................... 5
A.Latar Belakang ................................................................................................................... 5
B. Rumusan Masalah ......................................................................................................... 5
C. Tujuan............................................................................................................................. 6
BAB II PEMBAHASAN................................................................................................................. 7
A. Sejarah KPK ................................................................................................................... 7
B. Komisi Pemberantasan Korupsi mempunyai tugas : .................................................. 10
C. Wewenang Komisi Pemberantasan Korupsi : ............................................................. 10

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan rasa syukur kami panjatkan kepada Allah SWT. karena atas rahmat,

hidayah, dan inayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah

Pendidikan Budaya Anti Korupsi ini sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan.

Tak lupa pula, shalawat serta salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada

junjungan kita semua, Rasulullah Muhammad SAW. keluarga, dan seluruh sahabatnya.

Adapun makalah Pendidikan Budaya Anti Korupsi ini tentang Komisi


Pemberantasan Korupsi (KPK) yang bertujuan untuk mengetahui sejarah KPK, peran
KPK,serta tugas dan fungsi kedudukan KPK. Dalam pembuatan makalah ini, kami
banyak mendapat rintangan dan hambatan yang dialami. Namun, dengan bantuan
ataupun dukungan moral dan materil baik secara langsung maupun tidak langsung yang
diberikan dalam penyusunan makalah ini hingga selesai, maka penulis mengucapkan
banyak terima kasih kepada :
1. Dede Yuda Wahyu Nurhuda, S.H.,M.H. selaku dosen pembimbing yang

senantiasa memberikan bimbingan dan dorongan dalam penyusunan makalah

ini;

2. Seluruh dosen dan karyawan Prodi D III Analis Kesehatan STIKes BTH, atas

ilmu, bimbingan dan bantuannya hingga kami selesai menyusun makalah ini;

3. Pihak perpustakaan STIKes BTH yang telah membantu penulis mendapatkan

bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan makalah ini;

4. Rekan-rekan di Prodi D III Analis Kesehatan STIKes BTH yang juga telah

banyak membantu kami.

iii
Kami menyadari bahwa makalah ini belum sempurna, baik dari segi materi maupun

penyajiannya. Untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan dalam

penyempurnaan makalah ini. Terakhir, kami berharap semoga makalah ini dapat

memberikan manfaat sehingga dapat memberikan inspirasi dan wawasan terhadap

pembaca, khususnya bagi kami.

Tasikmalaya, November 2017

Penulis

iv
5

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Setelah Negara Indonesia merdeka lebih dari enam puluh tahun yang lalu,
Indonesia telah mengalami berbagai peristiwa penting dalam bidang kenegaraan.
Pergolakan masyarakat di daerah, peralihan pemegang kekuasaan pemerintah, hingga
pergantian hukum dasar negara menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam sejarah
negara ini sejak awal terbentuknya hingga beberapa tahun terakhir. Salah satu
perkembangan yang menonjol dari sudut pandang ketatanegaraan diawali ketika negara
ini mengalami gejolak pasca krisis moneter yang mengakibatkan tersingkirnya
Presiden Soeharto dari tampuk kekuasaan pada 1998. Setelah melewati masa transisi
yang dipimpin oleh Presiden B.J. Habibie selama sekitar dua tahun, tuntutan kebutuhan
akan sistem ketatanegaraanyang lebih baik pun mulai berusaha diwujudkan oleh para
petinggi di negara ini. Tahun 1999 menjadi tonggak yang menyadarkan bangsa
Indonesia bahwa ide penyakralan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 (selanjutnya disebut UUD Negara RI Tahun 1945) tidaklah relevan dalam
kehidupan bernegara. Salah satu lembaga negara bantu yang dibentuk pada era
reformasi di Indonesia adalah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Lembaga ini
dibentuk sebagai salah satu bagian agenda pemberantasan korupsi yang merupakan
salah satu agenda terpenting dalam pembenahan tata pemerintahan di Indonesia.
Dengan demikian, kedudukan lembaga negara bantu dalam sistem ketatanegaraan yang
dianut negara Indonesia masih menarik untuk diperbincangkan. Makalah ini akan
membahas lebih lanjut mengenai kedudukan lembaga negara bantu dalam struktur
ketatanegaraan RI, tidak hanya ditinjau dari UUD Negara RI Tahun 1945, tetapi juga
berdasarkan berbagai pendapat para ahli di bidang hukum tata negara, dengan
menjadikan KPK sebagai contoh lembaga negara bantu yang akan dianalisis
kedudukannya.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah KPK?
6

2. Bagaimana peran KPK?


3. Bagaimana tugas dan fungsi kedudukan KPK?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui sejarah KPK.
2. Untuk mengetahui peran KPK.
3. Untuk mengetahui tugas dan fungsi kedudukan KPK.
7

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah KPK

Komisi Pemberantasan Korupsi, atau disingkat menjadi KPK, adalah komisi di


Indonesia yang dibentuk pada tahun 2003 untuk mengatasi, menanggulangi dan
memberantas korupsi di Indonesia. Komisi ini didirikan berdasarkan kepada Undang-
Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2002 mengenai Komisi Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi. Pada periode 2006-2011 KPK dipimpin bersama oleh 4 orang
wakil ketuanya, yakni Chandra Marta Hamzah, Bibit Samad Rianto, Mochammad
Jasin, dan Hayono Umar, setelah Perpu Plt. KPK ditolak oleh DPR. Pada 25 November
2010, M. Busyro Muqoddas terpilih menjadi ketua KPK setelah melalui proses
pemungutan suara oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Dilanjutkan lagi oleh Abraham
Samad sejak 2011.i[1] Pada tulisan ini akan dibahas mengenai sejarah terbentuknya
KPK, ditinjau dari tiga sudut pandang, yakni sudut pandang historis, yuridis, dan
filosofis.

I. Telaah Historis Lahirnya KPK


1) Orde Lama
a. Kabinet Djuanda
Di masa Orde Lama, tercatat dua kali dibentuk badan pemberantasan korupsi. Yang
pertama, dengan perangkat aturan Undang-Undang Keadaan Bahaya, lembaga ini
disebut Panitia Retooling Aparatur Negara (Paran). Badan ini dipimpin oleh A.H.
Nasution dan dibantu oleh dua orang anggota, yakni Profesor M. Yamin dan Roeslan
Abdulgani. Kepada Paran inilah semua pejabat harus menyampaikan data mengenai
pejabat tersebut dalam bentuk isian formulir yang disediakan. Mudah ditebak, model
perlawanan para pejabat yang korup pada saat itu adalah bereaksi keras dengan dalih
yuridis bahwa dengan doktrin pertanggungjawaban secara langsung kepada Presiden,
formulir itu tidak diserahkan kepada Paran, tapi langsung kepada Presiden. Diimbuhi
dengan kekacauan politik, Paran berakhir dengan ketidakjelasan, deadlock, dan
akhirnya menyerahkan kembali pelaksanaan tugasnya kepada Kabinet Djuanda.
b. Operasi Budhi
Pada 1963, melalui Keputusan Presiden No. 275 Tahun 1963, pemerintah
menunjuk lagi A.H. Nasution, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Koordinator
Pertahanan dan Keamanan/Kasab, dibantu oleh Wiryono Prodjodikusumo dengan
lembaga baru yang lebih dikenal dengan Operasi Budhi. Tugas yang diemban lebih
berat, yakni menyeret pelaku korupsi ke pengadilan dengan sasaran utama perusahaan-
perusahaan negara serta lembaga-lembaga negara lainnya yang dianggap rawan
praktek korupsi dan kolusi.
Sebagaimana terjadi sebelumnya, alasan politis menyebabkan stagnansi, seperti
Direktur Utama Pertamina yang tugas ke luar negeri dan direksi lainnya menolak
karena belum ada surat tugas dari atasan, menjadi penghalang efektivitas lembaga ini.
8

Operasi ini juga berakhir, meski berhasil menyelamatkan keuangan negara kurang
lebih Rp. 11 miliar. Operasi Budhi ini dihentikan dengan pengumuman
pembubarannya oleh Soebandrio kemudian diganti menjadi Komando Tertinggi
Retooling Aparat Revolusi (Kontrar) dengan Presiden Soekarno menjadi ketuanya
serta dibantu oleh Soebandrio dan Letjen Ahmad Yani. Bohari pada tahun 2001
mencatatkan bahwa seiring dengan lahirnya lembaga ini, pemberantasan korupsi pada
masa Orde Lama pun kembali masuk ke jalur lambat, bahkan macet.
2) Orde Baru
Pada masa awal Orde Baru, melalui pidato kenegaraan pada 16 Agustus 1967,
Soeharto secara terus terang mengkritik Orde Lama, yang tidak mampu memberantas
korupsi dalam hubungan dengan demokrasi yang terpusat ke istana. Pidato itu seakan
memberi harapan besar seiring dengan dibentuknya Tim Pemberantasan Korupsi
(TPK), yang diketuai Jaksa Agung. Namun, ternyata ketidakseriusan TPK mulai
dipertanyakan dan berujung pada kebijakan Soeharto untuk menunjuk Komite Empat
beranggotakan tokoh-tokoh tua yang dianggap bersih dan berwibawa, seperti Prof.
Johannes, I.J. Kasimo, Mr. Wilopo, dan A. Tjokroaminoto, dengan tugas utama
membersihkan Departemen Agama, Bulog, CV. Waringin, PT. Mantrust, Telkom,
Pertamina, dan lain-lain.
Empat tokoh bersih ini jadi seolah tidak memiliki kekuatan ketika hasil temuan atas
kasus korupsi di Pertamina, misalnya, sama sekali tidak digubris oleh pemerintah.
Lemahnya posisi komite ini pun menjadi alasan utama. Kemudian, ketika Laksamana
Sudomo diangkat sebagai Pangkopkamtib, dibentuklah Operasi Tertib (Opstib) dengan
tugas antara lain juga memberantas korupsi. Perselisihan pendapat mengenai metode
pemberantasan korupsi yang bottom up atau top down di kalangan pemberantas korupsi
itu sendiri cenderung semakin melemahkan pemberantasan korupsi, sehingga Opstib
pun hilang seiring dengan makin menguatnya kedudukan para koruptor di
pemerintahan era Orde Baru.
3) Era Reformasi
Di era reformasi, usaha pemberantasan korupsi dimulai oleh B.J. Habibie dengan
mengeluarkan UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang
Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme berikut pembentukan berbagai
komisi atau badan baru, seperti Komisi Pengawas Kekayaan Pejabat Negara (KPKPN),
KPPU, atau Lembaga Ombudsman. Presiden berikutnya, Abdurrahman Wahid,
membentuk Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTPK) melalui
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2000. Namun, di tengah semangat menggebu-
gebu untuk memberantas korupsi dari anggota tim ini, melalui suatu judicial review
Mahkamah Agung, TGPTPK akhirnya dibubarkan dengan logika membenturkannya
ke UU Nomor 31 Tahun 1999. Nasib serupa tapi tak sama dialami oleh KPKPN,
dengan dibentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi, tugas KPKPN melebur masuk ke
dalam KPK, sehingga KPKPN sendiri hilang dan menguap. Artinya, KPK-lah lembaga
pemberantasan korupsi terbaru yang masih eksis.ii[2]
9

II. Telaah Yuridis Kelahiran KPK


Sebagaimana diuraikan di atas, bahwa upaya pembentukan badan pemberantasan korupsi telah
dimulai sejak zaman orde lama. Akan tetapi kemunculan KPK dapat dilihat awal kelahirannya
terutama setelah diundangkannya Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi. Pada tanggal 5 April 2000, Presiden RI yang waktu itu dijabat oleh
Abdurrahman Wahid mengeluarkan Peraturan Pemerintah Tahun 2000 Tentang Tim Gabungan
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Tim Gabungan tersebut terdiri dari unsur-unsur
Kepolisian Negara, Kejaksaan, instansi terkait, dan unsur masyarakat. Tim Gabungan mempunyai
tugas dan wewenang mengkoordinasikan penyidikan dan penuntutan terhadap setiap orang yang
diduga keras melakukan tindak pidana korupsi yang sulit pembuktiannya.
Tim Gabungan tersebut merupakan embrio terbentuknya KPK. Tugas dan kewenangan berupa
penyidikan dan penuntutan terhadap perkara korupsi sudah dimiliki oleh Tim Gabungan tersebut,
hanya saja secara kelembagaan masih lemah. Dalam menangani korupsi yang semakin sistematis
dan terstruktur, tentu tidak dapat dilakukan oleh sekedar Tim Gabungan yang tidak didukung
dengan struktur kelembagaan yang kuat. Apalagi koordinasi Tim Gabungan tersebut masih
dilakukan dibawah komando Jaksa Agung, yang diketahui meskipun memiliki kewenangan
penyidikan dan penuntutan ternyata tidak mampu menunjukkan kinerja yang optimal dalam
pemberantasan tindak pidana korupsi.
Pembentukan KPK dimulai dari ketentuan Pasal 43 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang mengamanatkan perlunya dibentuk Komisi
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang independen dengan tugas dan wewenang melakukan
pemberantasan tindak pidana korupsi. Hal tersebut tercantum pada konsiderans Menimbang huruf
c UU Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Korupsi yang kemudian menjadi
dasar penyusunan UU KPK tersebut.
Secara lebih luas, dasar hukum pembentukan KPK antara lain terdiri dari:
1. Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana;
3. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas
dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme;
4. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.
Secara singkat, Komisi Pemberantasan Korupsi lahir berdasarkan Undang-Undang Nomor 30
Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi.
III. Telaah Filosofis Kelahiran KPK
Tindak pidana korupsi di Indonesia sudah meluas dalam masyarakat. Perkembangannya terus
meningkat dari tahun ke tahun, baik dari jumlah kasus yang terjadi dan jumlah kerugian keuangan
negara maupun dari segi kualitas tindak pidana yang dilakukan semakin sistematis serta
lingkupnya yang memasuki seluruh aspek kehidupan masyarakat.
Meningkatnya tindak pidana korupsi yang tidak terkendali akan membawa bencana tidak saja
terhadap kehidupan perekonomian nasional tetapi juga pada kehidupan berbangsa dan bernegara
pada umumnya. Tindak pidana korupsi yang meluas dan sistematis juga merupakan pelanggaran
terhadap hak-hak sosial dan hak-hak ekonomi masyarakat, dan karena itu semua maka tindak
pidana korupsi tidak lagi dapat digolongkan sebagai kejahatan biasa melainkan telah menjadi suatu
kejahatan luar biasa. Begitu pun dalam upaya pemberantasannya tidak lagi dapat dilakukan secara
biasa, tetapi dituntut cara-cara yang luar biasa.
Penegakan hukum untuk memberantas tindak pidana korupsi yang dilakukan secara
konvensional selama ini terbukti mengalami berbagai hambatan. Untuk itu diperlukan metode
penegakan hukum secara luar biasa melalui pembentukan suatu badan khusus yang mempunyai
kewenangan luas, independen serta bebas dari kekuasaan manapun dalam upaya pemberantasan
tindak pidana korupsi, yang pelaksanaannya dilakukan secara optimal, intensif, efektif, profesional
serta berkesinambungan.iii[3]
Pada konsiderans Menimbang huruf a UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK disampaikan
bahwa landasan filosofis pertama pembentukan KPK adalah dalam rangka mewujudkan
masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pemberantasan tindak pidana korupsi yang terjadi sampai
sekarang belum dapat dilaksanakan secara optimal. Oleh karena itu pemberantasan tindak pidana
korupsi perlu ditingkatkan secara profesional, intensif, dan berkesinambungan karena korupsi
10

telah merugikan keuangan negara, perekonomian negara, dan menghambat pembangunan


nasional.
Pada konsiderans Menimbang huruf b UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK disampaikan
bahwa lembaga pemerintah yang menangani perkara tindak pidana korupsi belum berfungsi secara
efektif dan efisien dalam memberantas tindak pidana korupsi.
Dua konsiderans tersebut menunjukkan bahwa sebelum terbentuknya KPK, lembaga penegak
hukum yang ada (Kejaksaan dan Kepolisian Negara) dinilai belum mampu melakukan penanganan
perkara korupsi secara efektif dan efisien. Meskipun gabungan kewenangan dari kedua instansi
tersebut sudah sangat memadai untuk menangani perkara korupsi, namun hal tersebut tidak diikuti
dengan pencapaian kinerja yang optimal dalam pemberantasan korupsi.
Ketidakmampuan Kejaksaan dan Kepolisian Negara tersebut menjadi isu yang sangat tidak
relevan dengan agenda reformasi yang sedang gencar didengungkan, yakni terutama
pemberantasan korupsi. Euforia pembentukan kehidupan bernegara yang baru, yang bersih dari
praktik korupsi, menuntut upaya lebih dalam menangani perkara korupsi. Dengan latar belakang
tersebut dibentuklah lembaga baru, dengan struktur kelembagaan yang jelas dan kewenangan yang
luar biasa, untuk menangani korupsi yang disebut sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary
crime).
A. Peranan KPK
Beberapa hal penting yang perlu diketahui tentang kedudukan, tugas
dan wewenang Komisi Pemberantasan Korupsi adalah :
1. KPK adalah lembaga Negara yang dalam menjalankan tugas dan wewenangnya bersifat
independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan apapun. KPK dibentuk dengan tujuan
meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan tindak pidana
korupsi.
2. Dalam menjalankan tugasnya, KPK berasaskan pada : kepastian hukum, keterbukaan,
akuntabilitas, kepentingan umum dan proporsionalitas.

B. Komisi Pemberantasan Korupsi mempunyai tugas :


1. Koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana
korupsi.
2. Supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi.
3. Melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi.
4. Melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi; dan
5. Melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara.
C. Wewenang Komisi Pemberantasan Korupsi :
1. Mengkoordinasikan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi;
2. Menetapkan sistem pelaporan dalam kegiatan pemberantasan tindak pidana korupsi;
3. Meminta informasi tentang kegiatan pemberantasan tindak pidana korupsi kepada instansi
yang terkait;
4. Melaksanakan dengar pendapat atau pertemuan dengan instansi yang berwenang melakukan
pemberantasan tindak pidana korupsi; dan
5. Meminta laporan instansi terkait mengenai pencegahan tindak pidana korupsi.

Kesimpulan

KPK berkedudukn sebagai lembaga Negara mampu dlam system ketatanegaraan di Indonesia. KPK
memiliki tugas utama yaitu, Memberantas Korupsi di Indonesia, telaah dijalankan dengan menangkap
beberapa pelaku tindak pidana korupsi baik dari kalangan eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Namun
11

kadangkala peraan KPK dalam penegakan hukum pidana menimbulkan pro dan kontra di masyarakat
dan gesekan-gesekan dengan aparat penegak hukum lainnya.

Berdasarkan hal tersebut pembentuk undang-undang yaitu presiden RI dan DPR RI harus memperjelas
mekanisme koordinasi Antara KPK dengan penegak hukum lainnya guna menciptakan penegakan hukum
pidana terhadap tindak pidana korupsi yang berkadilan bagi para pihak dan juga bermanfaat bagi
kesejahteraan rakyat.

Daftar Pustaka

Budiono kusumohamidjojo. 1999. Ketertiban yang adil. Jakarta: penerbit grasindo

Moeljatno.2008. asas-asas hukum pidana. Penerbit rineka cipta

Pramono suko legowo. 2007. Pengantar hukum Indonesia. Fakultas hukum unsoed purwokerto

Ridwan HR. 2003. Hukum administrasi Negara. Penerbit UII press

SF marbun dkk. 2001. Dimensi dimensi pemikiran hukum administrasi Negara. Penerbit UII press

Soerjono soekanto. 2010. Sosiologi suatu pengantar. Penerbit PT raja grafindo persada

Suanto dkk.1997. sejarah nasional dan umum. Penerbit CV aneka ilmu

www.kpk.co.id

Hartati,evi.2005.tindak pidana korupsi. Semarang:sinar grafika

Fahrojih,ikhwan dkk.2005.mengerti dan melawan korupsi.malang:yappika