Anda di halaman 1dari 41

REFERAT SMF RADIOLOGI

TUMOR TULANG

Pembimbing : dr. Ririn Poerwandira,Sp.Rad


Di susun oleh : Noer Atiqatus Shalihah
16710392

KEPANITERAAN KLINIK FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA

DI RSUD KABUPATEN SIDOARJO

TAHUN 2017

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa atas segala
berkat dan rahmat-Nya, sehingga kami dapat menyeleseaikan penulisan referat
dengan judul Tumor Tulang. Referat ini kami buat sebagai salah satu tugas
kepaniteraan SMF Radiologi RSUD SIDOARJO.

Dengan rasa hormat kami juga menyampaikan banyak terima kasih dari
semua pihak atas bantuannya, terutama kepada :

1. dr. Ririn Sp.Rad, dr. Agustin Sp.Rad, dr.Tuty Sp.Rad dan dr.Iriawati Sp.Rad
yang telah membimbing kami selama kepaniteraan klinik di SMF Radiologi
RSUD Sidoarjo.

2. Tenaga paramedic yang telah membantu kami selama mengikuti kepaniteraan


klinik di SMF Radiologi RSUD Sidoarjo yang tidak dapat saya sebutkan satu
persatu.

3. Teman sejawat saya, kelompok B1 dokter muda kepaniteraan klinik di


RSUD Sidoarjo.

Kami menyadari referat ini masih ada kekurangan dan masih jauh dari
sempurna, sehingga kami mohon kritik dan sarannya. Harapan kami semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi kita bersama. Amin.

Sidoarjo, Juli 2016

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................ii

DAFTAR ISI.....................................................................................................iii

BAB 1 PENDAHULUAN....................................................................1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...........................................................4

2.1 Definisi...............................................................................4

2.2 Patofisiologi.......................................................................4

2.3 Etiologi...............................................................................5

2.4 Klasifikasi..........................................................................5

BAB III KESIMPULAN.......................................................................29

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................30

iii
BAB 1

PENDAHULUAN

Tulang merupakan organ ketiga yang paling sering diserang oleh penyakit
metastasik (penyakit dari suatu organ yang menyebar ke bagian tubuh lainnya).
Kanker yang paling sering menyebar ke tulang adalah kanker payudara,paru-
paru,prostat,tiroid,dan ginjal.

Bila dibandingkan antara karsinoma dan sarkoma, maka jenis kanker yang
lebih sering menyebar ke tulang adalah karsinoma. Tulang pertam yang biasanya
terkena adalah tulang rusuk, tulang panggul dan tulang belakang. Tulang-tulang distal
(ujung tubuh) jarang terkena.

Tumor tulang atau Neoplasma tulang adalah neoplasma yang jarang


ditemukan.Insidensi neoplasma ini kurang dari 0,2 % dari keseluruhan neoplasma.
Insidensi dari beberapa neoplasma tulang bekaitan dengan usia, misalnya
Osteosarkoma yang terjadi kebanyakan pada anak dan dewasa. Lokasi anatomik juga
mempunyai kekhususan, yaitu tersering terjadi pada daerah metafisis panjang, yaitu
femur distal, tibia proksimal dan humerus proksimal.

Pemeriksaan radiologik merupakan pemeriksaan yang penting dalam usaha


menegakkan diagnosis tumor tulang. Diagnosis pasti didasarkan pada hasil
pemeriksaan patologi anatomik. Pada beberapa tumor diagnosis pasti dapat juga
ditegakkan dengan pemeriksaan radiologik, misalnya osteokondroma.

Pada anak-anak, tulang panjang dibagi dalam epifisis, metafisis, dan diafisis.
Antara epifisis dan metafisis terdapat garis/ lempeng epifiser. Pada neonatus banyak

iv
epifisis tulang belum mengalami osifikasi sehingga belum dapat dilihat pada foto
Roentgen.

Tulang terdiri atas 3 komponen yaitu korteks, spongiosa dan periost. Korteks
dan spongiosa dapat dilihat pada foto Roentgen, tetapi periost tidak. Bila karena suatu
proses dalam tulang, misalnya radang atau neoplasma, periost mengalami iritasi atau
terangkat, maka periost akan membentuk tulang di bawahnya yang dikenal sebagai
periosteal.

Gambaran reaksi periosteal bermacam-macam :

Berupa garis-garis yang sejajar dengan korteks, disebut lamelar


Berupa garis-garis yang tegak lurus pada korteks, disebut sunray appearance

Berupa seperti renda, dan sebagainya.

Pada perneriksaan tulang harus diperhatikan :

Besar tulang
Bentuk tulang

Kontur tulang

Densitas tulang, apakah densitas meninggi ataukah merendah

Korteks, apakah utuh atau tidak utuh yaitu : menipis atau destruksi

Spongiosa : adakah bayangan-bayangan radiolusen

Ada/tidaknya reaksi periosteal

Jaringan lunak sekitar tulang : pembengkakan, perkapuran dan penulangan.

Yang penting diperhatikan dalam menilai tumor tulang adalah:

v
Umur penderita
Apakah lesi soliter atau multipel : kebanyakan tumor tulang primer soliter dan
bila multipel kemungkinan metastasis

Bagian mana dari tulang yang terkena : osteosarkoma biasanya di daerah


metafisis dan sarkoma Ewing kebanyakan pada diafisis, dan sebagainya.

Kelainan apa yang terlihat apakah berupa destruksi, reaksi periosteal,


pembentukan tulang baru, dan bagaimana jaringan lunak sekitarnya.

Batas-batas lesi, umumnya tumor jinak berbatas tegas, korteks menipis, dan
tidak ada reaksi periosteal. Sedangkan tumor ganas batasnya tidak tegas,
korteks mengalami destruksi dan ada reaksi periosteal.

Pemeriksaan radiologis yang dapat membantu menegakkan diagnosis tumor tulang :

Foto polos

Dapat melihat lokasi, keadaan matriks tulang,tepi lesi,reaksi periosteal,dan


keadaan jaringan lunak.

Scanning nuklir

Sangan sensitif untuk melihat kondisi tulang secara menyeluruh tapi tidak
spesifik,misalnya tidak dapat melihat metastasis ditempat lain.

CT Scan (Computerized Tomografi Scanning)

Digunakan untuk melakukan pemeriksaan organ dalam tubuh dengan


menggunakan sinar-X yang telah dilengkapi dengan sistem komputer. CT
Scan adalah alat pemindai yang dapat digunakan untuk mendiagnosis dan

vi
memonitor beragam kondisi kesehatan, pemeriksaan yang dapat dikerjakan
antara lain :

- Melakukan diagnosis kelainan otot dan tulang, seperti tumor atau retak
pada tulang.
- Menentukan lokasi tumor, infeksi, atau bekuan darah.

- Mendeteksi dan memonitor kondisi dan penyakit tertentu, seperti


kanker, sakit jantung, nodul pada paru-paru, dan massa pada hati.

- Mencaritahu cedera atau pendarahan internal.

USG (Ultrasonography)

Bermanfaat untuk kasus tumor jaringan lunak tetapi untuk tumor tulang sulit.

MRI (Magnetic Resonance Imaging)

Digunakan untuk melakukan pemeriksaan organ dalam tubuh dengan


menggunakan medan magnet. Mesin MRI dapat menghasilkan gambaran
untuk pemeriksaan jaringan lunak,tulang dan syaraf dengan baik karena dapat
melihat tumor dengan potongan multiplanar,sagital, aksial,dan koronal,serta
baik untuk melihat kelainan pada jaringan lunak.

vii
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Sistem organ dalam tubuh manusia ada beberapa macam, diantaranya adalah
sistem muskuloskeletal. Sistem muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh,
membantu proses pergerakan, serta melindungi organ-organ tubuh yang lunak.
Komponen utama dari sistem muskuloskeletal merupakan jaringan ikat. Sistem ini
terdiri atas tulang, sendi, otot rangka, tendon, ligamen, bursa, dan jaringan-jaringan
khusus yang menghubungkan struktur-struktur tersebut. Ada tiga macam tumor
tulang yaitu yang bersifat lunak, ganas dan yang memiliki lesi di tulang
(berlubangnya struktur karena jaringan akibat cedera atau penyakit). Selain itu ada
yang bersifat primer dan skunder. Pada tumor tulang sekunder misalnya, seseorang
terkena tumor payudara, kemudian menjalar ke tulang dan selanjutnya menggerogoti
tulang tersebut. Kanker tulang ini merupakan kelompok tumor tulang yang ganas.
Dari berbagai macam jaringan yang menyusun sistem ini, bermacam-macam
pula gangguan yang dapat ditimbulkan. Salah satu gangguan itu yaitu Benigna Bone
Tumor and Maligna Bone Tumor. Tumor ini sering terjadi pada anak-anak, karena
sifatnya yang jinak tumor ini tidak berbahaya. Tumor-tumor jaringan lunak
merupakan suatu golongan heterogen kelainan-kelainan yang berasal dari jaringan
asal mesodermal. Dalam jaringan ini termasuk organ gerak, seperti otot-otot dan
tendon, kapsula, sendi dan juga semua struktur lemak dan jaringan ikat penyangga,
yang berada diantara komponen-komponen epitelial dan di sekitar organ-organ.
Sering juga kelainan yang berasal dari struktur mesenkimal, tetapi yang terletak

viii
dalam organ tertentu, dibicarakan dan ditangani sebagai kelainan organ-organ itu dan
tidak dimasukkan dalam golongan tumor jaringan lunak.

2.2 Patofisiologi

Adanya tumor pada tulang menyebabkan jaringan lunak diinvasi oleh sel
tumor. Timbul reaksi dari tulang normal dengan respon osteolitik yaitu proses
destruksi atau penghancuran tulang dan respon osteoblastik atau proses pembentukan
tulang. Terjadi destruksi tulang lokal.. Pada proses osteoblastik, karena adanya sel
tumor maka terjadi penimbunan periosteum tulang yang baru dekat lempat lesi terjadi
sehingga terjadi pertumbuhan tulang yang abortif.

2.3 Etiologi

Penyebab pasti terjadinya tumor tulang tidak diketahui. Akhir-akhir ini, penelitian
menunjukkan bahwa peningkatan suatu zat dalam tubuh yaitu C-Fos dapat
meningkatkan kejadian tumor tulang.
Radiasi sinar radio aktif dosis tinggi
Keturunan
Beberapa kondisi tulang yang ada sebelumnya seperti penyakit paget (akibat
pajanan radiasi ).

2.4 Kalsifikasi

Kalsifikasi neoplasma tulang berdasarkan asal sel.


Primer
a. Tumor yang membentuk tulang (Osteogenik)
Jinak : Osteoid Osteoma
Ganas: Osteosarkoma,Osteoblastoma,Parosteal Osteosarkoma, Osteoma
b. Tumor yang membentuk tulang rawan (Kondrogenik)

ix
Jinak : Kondroblastoma
Ganas : Kondrosarkoma,Kondromiksoid
Fibroma,Enkondroma,Osteokondroma
c. Tumor jaringan ikat (Fibrogenik)
Jinak : Non Ossifying Fibroma
Ganas : Fibrosarkoma
d. Tumor sumsum tulang (Myelogenik)
Ganas : Multiple Myeloma,Sarkoma Ewing,Sarkoma Sel Retikulum
e. Tumor lain-lain
Jinak : Giant cell tumor
Ganas : Adamantinoma,Kordoma
Sekunder/Metastatik
Neoplasma Simulating Lesions
- Simple bone cyst
- Fibrous dysplasia
- Eosinophilic granuloma
- Brown tumor/hyperparathyroidism

Klasifikasi tumor tulang menurut TNM.


T. Tumor induk
TX tumor tidak dapat dicapai
T0 tidak ditemukan tumor primer
T1 tumor terbatas dalam periost
T2 tumor menembus periost
T3 tumor masuk dalam organ atau struktur sekitar tulang
N Kelenjar limf regional
N0 tidak ditemukan tumor di kelenjar limf
N1 tumor di kelenjar limf regional

x
M. Metastasis jauh
M1 tidak ditemukan metastasis jauh
M2 ditemukan metastasis jauh

A. Osteosid Osteoma
Klinis : Didapatkan terutama pada kaum pria muda berumur antara 10-
25 tahun dengan keluhan utama nyeri pada tulang yang bersangkutan.
Nyeri bersifat menetap yang tidak hilang oleh istirahat dan makin
terasa pada malam hari. Nyerinya dapat bersifat ringan sampai hebat,
ciri istimewa nyerinya ialah nyeri dapat hilangkan dengan pengobatan
aspirin.
Lokasi : Dapat mengenai semua tulang, tetapi biasanya pada tulang
panjang seperti Femur dan Tibia. Caput femur merupakan salah satu
tempat yang paling sering didapat.
Radiologi : Tampak sebagai daerah nidus radiolusen yang dikelilingi
oleh pinggir sklerotik. Lesi terletak di bagian tengah dari garis tulang.
Ukuran lesi tidak lebih dari 1-2 cm.
Patologi : Didapat sebagai jaringan yang seluler, banyak
vaskularisasinya. Jika nidus diangkat, terlihat gambaran lingkaran
merah tulang trabekular biasanya kurang dari 1 cm.
Diagnosis Banding : Sclerosing Osteomeilitis, Abses Brodie,
Periostitis, Bone Cyst. Diagnosisbanding yang penting adalah
intracortical osteosarcoma.
Terapi:
Operatif, dengan melakukan eksisi lengkap daripada nidus.
Tulang sklerotik di sekitar nidus tidak perlu dieksisi, karena dengan
eksisi nidus, dengan sendirinya tulang skelerotik tersebut
menghilang.

xi
Gambaran radiologis ditemukan daerah nidus radiolusen dan gambaran
patologis dimana ditemukan lingkaran merah tulang trabekular

B. Osteoblastoma

Klinis : Didapat terutama pada dewasa muda, dengan keluhan nyeri pada
tulang yang bersangkutan tetapi tidak didapat riwayat keluhan nyeri seperti
osteid osteoma.
Lokasi : Dapat mengenai tulang panjang dan pendek dengan predileksi pada
tulang vertebra.

Radiologi : Tampak daerah osteolitik dengan pinggir yang tidak/sedikit


sklerotik. Gambaran mirip dengan abses tulang. Lesi radiolusen ditemukan
matriks tipe radiodensities.Ukuran lesi lebih besar dari 2 cm. foto MRI
menunjukkan lokasi yang eksentris dan ekspansi jaringan kortikal.

xii
Gambaran radiologis ditemukan lesi radiolusen dengan matriks
tiperadiodensities, pada MRI ditemukan ekspansi jaringan kortikal

Patologi : Gambaran histologinya adalah mirip dengan osteid osteoma, tetapi


perangainya lebih agresif, dengan ukuran lebih besar dari 2 cm. Tidak didapat
pada tulang sklerotik. Osteoblas dan osteoklas seperti giant cell berhubungan
dengan osteoid spikula dan disertai dengan sruma fibrous yang menunjukkan
vaskularitas prominen.

Gambaran sel raksasa berhubungan dengan osteoid spikula

Terapi : Eksisi operatif. Bila lesi besar diperlukan bone graft untuk mengisi
bagian tulang-tulang yang dieksisi.

C. Osteosarkoma/Sarkoma Osteogenik

Klinis:

Pria lebih banyak diserang daripada wanita dengan perbandingan 2 : 1

Didapat terutama pada usia muda, berusia 10-20 tahun

Keluhan utama penderita ialah perasaan sakit pada bagian tulang yang
terkena disertai adanya benjolan.

xiii
Didapat pula tanda-tanda keganasan umum seperti anemia, berat badan
menurun

Lokasi : Didapat pada metafisis tulang-tulang panjang terutma pada bagian


distal femur, proksimal tibia dan proksimal humerus.
Radiologi : Didapat 3 macam gambar radiologi yaitu:

- Gambaran osteolitik, dimana proses destruksi merupakan proses utama.

- Gambaran osteoblastik, yang diakibatkan oleh banyak pembentukan tumor


tulang.

- Gambaran campuran antara proses destruksi dan proses pembentukan tumor


tulang.

Gambaran radiologis didapat adanya gambaran osteolitik dan


osteoblatik, pada MRI ditemukan garis destruksi

Patologi : Gambaran histologinya bervariasi. Kriteria untuk diagnosis adalah


didapatnya stroma sarkoma dengan pembentukan osteoid neoplastik dari
tulang disertai gambaran anaplasia yang menyolok. Sel-sel ganas menembus
rongga antara kumpulan osteoid.

xiv
Gambaran patologis ditemukannya stroma sarcoma dan anaplasia.

Terapi : Penderita dengan Osteosarkoma membutuhkan terapi operatif berupa


amputasi. Amputasi dapat dilakukan melalui tulang daerah proksimal tumor
atau melalui sendi (disartikulasi) proksimal dari tumor.

D. Parosteal Osteosarkoma/Juxtakortikal Osteosarkoma

Merupakan neoplasma yang jarang didapat. Didapat pada golongan usia


muda, dan paling sering mengenai bagian posterior distal femur. Kelainan ini
berasal dari sel osteoblast periost dan paling sering tumbuh di sisi tulang.
Neoplasma ini mempunyai perangai yang berbeda jauh dengan osteosrakoma.
Tumbuhnya lambat bila dibanding dengan osteosarkoma dan juga lambat
bermetastase di paru-paru. Terapi adalah eksisi luas, kalau perlu amputasi.
Prognosisnya baik, 5 years Survival Rate-nya lebih dari 50%. Sarcoma ini jarang
menimbulkan nyeri dan patah tulang patologis.

E. Kondroblastoma (Codmans Tumor)

Merupakan tulang jinak yang jarang ditemukan dan sering pada umur 10-25
tahun, beberapa penulis menyatakan lebih sering ditemukan pada laki-laki
daripada wanita dengan perbandingan 2:1. Dan merupakan salah satu dari dua
neoplasma dengan deferensiasi inkomplit tulang lunak, noplasma yang sejenis

xv
adalah chondromiksoid fibroma. Insidensi kurang lebih 10 % dari semua
neoplasma tulang.Tahun 1931 Ladman mengklasifikasikan kondroblastoma
sebagai suatu variasi dari Giant cell tumor.

Pertumbuhan tumor ini sangat lambat. Gejala nyeri merupakan gejala gejala
yang utama khususnya pada sendi. Ada penulis yang menganggap bahwa 50% dari
tumor ini dapat menjadi ganas.

Lokasi : Kondromablastoma jinak berasal dari daerah epifisis dan


berkembang ke arah metafisis. Tumor terutama ditemukan pada tulang
panjang, terutama epifisis tibia proksimal, femur distal dan humerus
proksimal.
Pemeriksaan Radiologis : Pada foto Rontgen plain terlihat rekfaksi yang jelas
pada tulang kanselosa yang dapat melebar di luar dari daerah garis epifisis.
Bentuknya eksentrik dengan korteks yang tipis tetapi penetrasi keluar jarang
terjadi. Batas-batas tumor bersifat ireguler, tidak tegas disertai dengan bintik-
bintik kalsifikasi sebagai gambaran adanya deposisi kalsium. Tidak ada bukti
adanyanya metastasis, dan korteks intak.

xvi
Gambaran radiologis dengan batas tumor yang irreguler, tidak jelas dan
adanya kalsifikasi, gambaran patologis ditemukan sel-sel bulat atau
poligonal dan sel raksasa dengan inti banyak.

Patologi : Gambaran patologi ditandai dengan gejala-gejala karakteristik dari


sel-sel yang banyak dan bersifat tidak berdiferensiasi dengan sel-sel yang
bulat atau poligonal dari sel-sel yang menyerupai kondroblas dengan sel-sel
raksasa inti banyak dari sel osteoklas yang diatur secara sendiri-sendiri atau
kelompok. Hanya ditemukan sedikit jaringan seluler dari jaringan matriks
tulang rawan yang disertai dengan kalsifikasi fokal dan jaringan retikulin.
Pengobatan : Pengobatan yang biasanya dilakukan berupa kuretase diikuti
bone graft

F. Kondrosarkoma

Lokasi : Terutama mengenai tulang ceper seperti pelvis dan skapula, tetapi
dapat juga didapat pada tulang panjang seperti femur dan humerus.
Klinis: Keluhan penderita adalah adanya masa tumor yang menjadi besar
secara perlahan-lahan.

Radiologi : Tampak sebagai lesi osteolitik ditengah metafisis tulang dengan


bercak-bercak kalsifikasi yang berasal dari matriks kartilago disertai proses
destruksi kortek, sehingga tumor dapat dilihat meluas ke jaringan lunak
disekitarnya.

xvii
Gambaran patologis menunjukkan lesi di tengah metafisis dengan bercak
kalsifikasi, gambaran patologis terdapat sel ganas ditengah lamellar.

Patologi : Nampak sel-sel ganas diantara tulang lamellar didalam sumsum


tulang yang membentuk tulang rawan. Gambaran mitosis tidak begitu banyak.
Terapi : Operasi reseksi luas, kalau perlu amputasi. Terapi adjuvan seperti
radioterapi, kemoterapi tidak menolong.

G. Kondromiksoid Fibroma

Kelainan ini jarang ditemukan dan merupakan suatu tumor jinak, terutama
ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda usia kurang dari 40 tahun.. Tidak
terdapat gejala-gejala yang khas pada tumor dan biasanya ditemukan secara
kebetulan saja. Pertumbuhan tumor ini sangat lambat tetapi mempunyai potensi
untuk menjadi ganas.

Lokasi : Lokasi tumor terutama pada daerah metafsis tulang panjang atau
tulang-tulang kecil pada tarsal dan metatarsal. Juga terdapat pada daerah lutut
dan pelvis.
Radiologis : Gambaran radiologik sangat khas berupa daerah radiolusen yang
bulat/oval terletak eksentris pada metafisis dan dapat meluas sampai ke

xviii
diafisis tulang panjang, berbatas tegas dan kadang-kadang dengan pinggiran
sklerotik. Korteks sering menipis akibat ekspansi dari tumor.

Gambaran radiologis dengan daerah radiolusen bulat/oval letak


eksentris, gambaran patologis dengan daerah lobus berbentuk spindle
atau sel stella.

Patologi : Gambaran patologis sangat khas berupa daerah lobulasi yang


berbentuk spindle atau sel-sel stella dengan jaringan miksoid dan kondroid
interseluler yang dipisahkan dari jaringan yang mengandung lebih banyak sel
dengan bentul spindle dengan beberapa sel raksasa multinuklear dengan
bentuk yang berbeda. Mungkin dapat ditemukan sel-sel pleomorf.
Pengobatan : Tumor ini berpotensi menjadi ganas sehingga tidak cukup hanya
dilakukan kuretase saja tetapi diperlukan juga eksisi lokal. pilihan lain yang
pernah dilaporkan serta mengganti Polymethymethacrylate atau implatasi
lemak untuk pengobatan setelah kuretase dan cauterisasi kimia ( phenol),
cryoterapi dengan nitrogen cair.

H. Enkondroma

xix
Merupakan neoplasma jinak yang berasal dari dalam rongga sumsum tulang
yang terdiri dari kartilago hialain matur. Sebagian ahli menganggap tumor itu
sebagai suatu hamartoma. Tumor jinak ini didapat pada dewasa muda dan tidak
mengakibatkan keluhan sakit. Enchondromatosis adalah bentuk multiple daripada
enchondroma disebut juga sebagai Olliers Disease. Bila enchondromatosis
disertai dengan adanya multipel hemangioma dijaringan lunak disebut sebagai
Mafucci Syndrome.

Lokasi : Tumor ini paling sering mengenai tulang-tulang tubuler kecil (acral
skeleton) pada tangan dan kaki, kadang-kadang juga pada tulang yang lebih
besar, seperti femur, hemerus, tibia, fibula, radius dan ulna. Pada tulang
panjang ditemukan pada metafisis dan distal atau proksimal dari diafisis.
Radiologi : Tampak sebagai lesi yang radiolusen pada zona intramedular
dengan kemungkinan adanya bercak-bercak klasifikasi bentuk lingkaran. Hal
ini menunjukkan adanya kartilago hialin yang matur. Tidak ada pembentukan
tulang reaktif baru. Bila ada erosi kortek pada tulang tubuler yang besar.,
menandakan terjadinya degenerasi maligna

Gambaran radiologis dengan lesi yang radiolusen pada zona intramedular,


gambaran patologis terdapat low celluarity, vague lobularity, dan focal calcified.

xx
Patologi : pada specimen biopsy didapatkan 3 karakteristik pada lesi ini antara
lain vague labularity, abundant cartilaginous matrix dengan focal calcified dan
low cellularity.
Terapi : Operatif, dengan melakukan kuret daripada lesi, kemudian rongga
lesi diisi dengan bone graft.

Prognosis : ada kemungkinan terjadi degenerasi maligna terutama bila tumor


didapat pada tulang panjang besar atau di pelvis, sebesar kurang lebih 20-
25%.

I.Osteokondroma/Osteocartilagenous Exostosis

Merupakan neoplasma tulang jinak yang paling sering didapat. Oleh


sebagian ahli dianggap bukan neoplasma, tetapi sebagai suatu hamartoma
(pertumbuhan baru, dimana sel-selnya dapat menjadi dewasa).

Klinis : Terdapat pada usia dewasa muda dengan keluhan adanya benjolan
yang keras dan tidak terasa sakit, tumbuh sangat lambat.
Lokasi : Ditemukan pada bagian metafisis tulang panjang terutama pad
a bagian distal femur, proksimal tibia dan proksimal humerus (35 %),
pelvis dan scapula.

Radiologi : Bentuknya ada dua macam:

1. Bertangkai/pedunculated

2. Mempunyai dasar yang lebar (Sessile)

Gambaran foto plain menunjukkan tulang yang bertangkai diluar


pertumbuhan daerah metafisis. Bentuk lesi yang seragam, kartilago dengan
kalsifikasi. Corteks dan medulla dihubungkan oleh lesi.

xxi
Foto plain menunjukkan daerah metafisis yang bertangkai, kalsifikasi
pada kartilago, pada gambaran patologis ditemukan trabekula yang
matur dengan sel yang seragam.

Patologi : terdapat trabekula matur tulang kortikal dengan sel-sel kartilago


yang seragam. Ketebalan kurang dari 1 cm. Beberapa pulau kecil yang sama
bentuknya.
Terapi : Bila tumor memberikan keluhan karena menekan struktur didekatnya
seperti tendon, saraf, maka dilakukan eksisi.

Prognosis : Baik. Komplikasi degenerasi ganas (menjadi Kondrosarkoma)


lebih kurang 1 %.

J. Kondrosarkoma

Merupakan tumor ganas tulang rawan yang dapat tumbuh spontan


(Kondrosarkoma primer) atau merupakan degenerasi maligna lesi jinak seperti
esteokondroma, enkondroma (kondrosarkoma sekunder). Ditemukan usia antara
30-60 tahun. Neoplasma ini tumbuhnya agak lambat dan hanya memberikan
sedikit keluhan.. Neoplasma ini lambat memberikan metastase.

xxii
Lokasi : Terutama mengenai tulang ceper seperti pelvis dan skapula, tetapi
dapat juga didapat pada tulang panjang seperti femur dan humerus.
Klinis: Keluhan penderita adalah adanya masa tumor yang menjadi besar
secara perlahan-lahan.

Radiologi : Tampak sebagai lesi osteolitik ditengah metafisis tulang dengan


bercak-bercak kalsifikasi yang berasal dari matriks kartilago disertai proses
destruksi kortek, sehingga tumor dapat dilihat meluas ke jaringan lunak
disekitarnya

Gambaran patologis menunjukkan lesi di tengah metafisis dengan bercak


kalsifikasi, gambaran patologis terdapat sel ganas ditengah lamellar.

Patologi : Nampak sel-sel ganas diantara tulang lamellar didalam sumsum


tulang yang membentuk tulang rawan. Gambaran mitosis tidak begitu banyak.
Terapi : Operasi reseksi luas, kalau perlu amputasi. Terapi adjuvan seperti
radioterapi, kemoterapi tidak menolong.

K.Non Ossifying Fibroma/Non Osteogenik Fibroma

xxiii
Merupakan lesi jinak yang oleh sebagian ahli diangap sebagai suatu lesi
reaktif, bukan neoplasma sejati. Lesi ini bersifat self limiting didapat pada anak-
anak dan dewasa muda usia antara 5 sampai 20 tahun. Lesi yang besar mencakup
sebagian dari diameter tulang yang ditunjukkan dengan adanya fraktur patologis.

Lokasi: Biasanya mengenai tulang panjang, terutama tulang-tulang


ekstremitas bawah. Biasanya pada metafisis atau metadiafisis dari tulang
panjang, terutama pada distal femur, distal tibia dan fibula.
Klinis : Tidak mengakibatkan keluhan, ditemukan secara kebetulan.

Radiologis : nampak sebagai daerah osteolitik dengan trabekulasi, sehingga


memberikan gambaran multikuler dengan tepi yang sklerotik. Lesi biasanya
mengenai tulang bagian lateral dan mengekspansi bagian cortical secara
perlahan. Kepentingan klinis daripada lesi ini ialah bahwa lesi mungkin akan
di over diagnosis dan kemudian over treatment. Padahal bila diketahui sifat
lesi ini, maka sebenarnya tidak memerlukan terapi.

Gambaran radiologisdaerah osteolitik dengan trabekulasi, gambaran


patologis terdapat sel spindle yang seragam.

xxiv
Patologi : jaringan dari hasil kuret menunjukkan gambaran area kecil
berwarna kekuningan, pada perbesaran lemah terlihat sel spindle yang
seragam dan beberapa sel-sel raksasa.
Terapi: Pada usia dewasa tumor ini akan menghilang dengan sendirinya.

L.Fibrosarkoma

Jaringan ikat dalam rongga tulang merupakan asal dari tumor ganas ini,
tumor ganas tulang ini membentuk matrik kolagen tetapi tidak membentuk
osteoid ataupun chondroid. Jarang didapat dan merupakan noplasma sel spindle
yang ganas. Kejadian pada wanita dan pria hampir sama. Fibrosarkoma dapat
dihubungkan dengan adanya pagets disease, fibrous dysplasia, giant sel tumor,
osteomielitis kronis. Neoplasma ini juga dapat merupakan neoplasma sekunder,
sebagai akibat radiasi terhadap tumor tulang jinak

Klinik : Didapat pada usia 20-60 tahun dengan keluhan sakit yang sangat pada
benjolan yang membesar dengan lambat. Dapat terjadi fraktur patologis.
Lokasi : Mengenai tulang-tulang panjang, paling banyak pada tulang femur,
tibia dan humerus. Tumor didapat di daerah metafisis yaitu pada lesi di
intramedular dan periosteal.

Radiologi : Tampak sebagai lesi yang radiolusen, sebagai akibat proses


destruksi cortikal tulang , batas tumor tidak jelas.

Patologi : Gambaran histologi tumor terlihat sebagai tumor ganas dengan


adanya anaplasia, mitosis, terdapat tanda herring bone pattern. Sel-sel tumor
menghambat pembentukan kolagensehingga tidak ada permukaan
osteoid/tulang atau tulang rawan. Gambaran mikroskopik adalah sama dengan
fibrosarkoma jaringan lunak.

xxv
Terapi : dapat dilakukan eksisi radikal dan terapi radiasi adjuvant.

M.Multiple Mieloma/Plasma Sel Mieloma/Plasmasitoma

Neoplasma tulang ganas yang sering didapat akibat dari penyebaran


kerusakan osteolitik tulang. Lebih banyak didapat pada kaum pria dengan usia
diatas 40 tahun

Klinis : Tumor mengakibatkan rasa sakit. Pada penderita dapat ditemukan


anemia, hiperkalsemia, suhu badan yang meninggi, berat badan yang menurun
dan perasaan mudah lelah. Di dalam darah ada peninggian kadar
gammaglobulin. Urin mengandung protein spesifik yaitu protein Bence Jones,
yang dapat ditemukan pada lebih kurang 50% mieloma.
Lokasi : Pada orang tua sumsum tulang masih masih didapat tulang vertebra,
pelvis dan tengkorak, dan thoraks maka neoplasma ini paling sering
ditemukan pada tulang-tulang tersebut.

Radiologi : Lesi mengakibatkan gambaran punched out, berupa lesi osteolitik


yang bulat irreguler. Tidak terdapat reaksi periosteal. Erosi dimulai dari
intramedular hingga ke kortek.

Patologi: terdapat plasma sel, lesi osteolitik disebabkan oleh peningkatan


resorbsi osteoklast yang dipengaruhi oleh sitokin sel plasma.

Terapi : Radioterapi dan kemoterapi, atau dilakukan transplantasi sumsum


tulang Pada fraktur patologis yang mengenai tulang ekstremitas dilakukan
fiksasi internal.

Prognosis : Buruk, 5 Years Survival Rate 10%. Penderita pada umumnya


meninggal 2 tahun setelah diagnosis ditegakkan.

xxvi
N.Sarkoma Ewing

Tumor ganas yang jarang didapat. Disebut juga Small Round Blue Cell.
Menyerang golongan usia muda, kebanyakan dibawah usia 20 tahun dengan
prevalensi kurang lebih 80%. Lebih banyak didapat pada kaum pria.

Klinis : Penderita mengeluh sakit dengan diseretai adanya benjolan.


Kemungkinan ada suhu badan yang meninggi, berkeringat berlebih,
lekositosis dan laju endap darah meningkat.
Lokasi : Pada diafsisi tulang-tulang panjang, paling sering pada femur,
humerus, tibia, ulna dan fibula, dapat juga mengenai tulang-tulang tipis.

Radiologi : Tampak proses destruksi tulang dengan batas yang tidak jelas.
Pembentukan tulang reaktif baru oleh periosteum bisa berlapis-lapis yang
memberikan gambaran Onion Skin atau tegak lurus yang nampak sebagai
Sunbrust.

Gambaran radiologist tampak destruksi tulang dengan batas tidak jelas,


gambaran MRI terdapat kerusakan korteks.

xxvii
Patologi: terdapat gambaran highly cellular, neoplasma infiltrat dengan bagian
yang padat, round cell dengan sitoplasma yang jernih round blue cell
tumor, dan adanya ekstensif nekrosis yang ditunjukkan dengan gambaran
occasional Homer-Wright rossetes.

Gambaran patologis dengan noeplasma infiltrate, round blue cell tumor


dan Hommer-Wright rossetess.

Diagnosis Banding : Gambaran klinis dan radiologis sarkoma ewing mirip


dengan osteomeilitis, osteosarkoma dan neuroblastoma metastatik.
Terapi :

Operasi berupa reaksi luas atau amputasi

Kemoterapi

Radioterapi

Prognosis : Buruk. Mortalitas pada tahun-tahun pertama setelah diagnosis


95%. Akhir-akhir ini dengan terapi kombinasai radioterapi, kemoterapi dan
operasi, prognosis menjadi lebih baik.

O.Sarkoma Sel Retikulum

xxviii
Tumor ganas yang gambaran mikroskopisnya mirip sekali dengan
sarkoma Ewing, tetapi mempunyai perangai klinis yang berlainan. Didapat
terutama pada usia dewasa, terutama mengenai tulang-tulang panjang, pelvis dan
iga. Tumbuh lebih lambat daripada sarkoma Ewing, sehingga mengakibatkan rasa
sakit yang lebih sedikit.Secara lokal proses destruksinya lebih banyak, dengan
akibat dapat terjadi fraktur patologis.

Radiologi : Mirip dengan sarkoma Ewing


Patologi : Secara mikroskopis dibedakan dengan sarkoma Ewing pengan
pewarnaan khusus. Sel-sel tumor sarkoma retikulum tidak mengandung
glikogen (P.A.S negatif), sedang sel sarkoma Ewing mengandung glikogen
(P.A.S positif).

Terapi : Radiosensitif. Pemberian kemoterapi juga menolong. Dalam beberapa


keadaan mungkin diperlukan tindakan amputasi.

Prognosis : Baik. Survival Rate mencapai 50% .

P. Giant Cell Tumor/Osteoklastoma

Tulang tumor yang asalnya masih kontroversial, ada yang berpendapat


tumor ini berasal dari jaringan ikat, pendapat lain mengatakan tumor ini asalnya
dari sel osteoklas, tetapi ada juga yang berpendapat asal tumor ini asalnya tidak
diketahui. Bersifat jinak tetapi secara lokal berperangai agresif. Mengenai
golongan umur dewasa muda terutama antara 20-35 tahun. Jarang terjadi pada
anak-anak dan manula.

Lokasi : Didapat pada epifisis tulang panjang yang dapat meluas ke arah
metafisis. Tempat yang paling sering terjadi adalah proksimal tibia, distal
femur dan distal radius. Juga dapat ditemukan di pelvis dan sacrum.

xxix
Klinis: keluhan rasa nyeri yang terus bertambah pada bagian tulang yang
mengalami lesi.

Radiologi : Tampak daerah osteolitik di epifisis dengan batas yang jelas dan
memberikan kesan multilokuler gambaran soap bubble. Terjadi penipisan
kortek

Gambaran radiologis terlihat daerah osteolitik di epifisis dengan adanya


soap bubble, gambaran patologis terdapat sel datia dan mitosis sel tumor.

Patologi : pada sediaan hasil kuretase, Stroma yang vaskuler dengan banyak
sel-sel datia/giant cell. Ditemukan mitosis dengan mudah pada perbesaran 4x
dan 10x. beberapa tempat terdapat sel fibrihistiocit dan xantoma sel.
Terapi : Operasi kuret yang diikuti dengan pengisian bone graft atau bone
cement. Dan beberapa terapi adjuvant dengan phenol, insersi PMMA
(polymethylmetacrylate), cryoterapi setelah curetase.Pada beberapa hal dapat
dilakukan reseksi tumor, eksisi luas yang disertai tindakan rekontruksi.
Kadang-kadang juga memerlukan amputasi.

Q.Adamantinoma

xxx
Adamantinoma merupakan tulang ganas tulang yang jarang ditemukan,
terutama mengenai diafisis tulang tibia (90%) dan sering ditemukan pada umur
20-25 tahun. Tumor ini termasuk dalam tumor low grade dan bermetastasis secara
lambat.Gambaran histologis tumor ini seperti dengan adamantinoma pada rahang
(ameloblastoma dari rahang).

Lokasi: terutama terletak pada diafisis tulang tibia, juga pada tulang rahang
( mandibula).
Klinis : nyeri tumpul pada tulang yang kronik, jaringan lunak disekitarnya
terasa nyeri melingkari tulang yang nyeri.

Radiologis : Gambaran radiologik terlihat gelembung khas berupa defek pada


korteks anterior tibia. Mungkin pula ditemukan penebalan dari tulang
sekitarnya. Lesi radiolusen mengelilingi bagian tulang yang sklerosis, dan
terdapat juga lesi-lesi kecil dengan gambaran yang serupa. Dengan
pemeriksaan CT-scan dapat dilihat adanya penyebaran tumor ke dalam
medula atau penyebaran di luar periosteum.

Gambaran radiologis terlihat lesi radiolusen dengan ge,umbung yang


khas.

Patologi: Pada pemeriksaan histologis ditemukan adanya sel pulau yang


menyerupai epitelial dengan jaringan sel spindle interseluler. Juga terdapat

xxxi
gambaran sel stroma yang fibrous yang terdiri dari sarang-sarang berisi sel
basal dengan gambaran gelap.

Ggambaran patologis ditemukan sel pulau dengan inti sel spindle.

Pengobatan : Pada dasarnya pengobatan adamantinoma berupa eksisi lokal


yang luas dengan mengambil bagian-bagian sekitar tulang yang normal.
Pemeriksaan CT-scan diperlukan sebelum operasi untuk melihat dalamnya
penetrasi tumor. Bila lesi meluas sampai ke permukaan endosteal maka
sebaiknya eksisi dilakukan pada seluruh segmen dan ruang kosong yang
tertinggal diisi dengan bone graft yang bervaskularisasi.

R.Kordoma

Kordoma merupakan tumor ganas yang berasal dari sisa notokordal,


sering ditemukan pada usia dewasa muda dengan prevalensi tertinggi pada usia 50
hingga 70 tahun. Perbandingan kejadian pada laki-laki dan perempuan adalah 2:1

Lokasi: tumor ini berkembang secara progresif pada daerah sakrum dan
koksigis (50%). Kordoma dapat juga ditemukan pada tulang belakang dan
akan memberikan nyeri pada pinggang bawah. Apabila terjadi sakrum,
kordoma dapat menimbulkan obstruksi uretra/rektum dan pada tingkat lanjut

xxxii
dapat timbul gejala-gejala neurologis. Terdapat juga laporan bahwa tumor ini
dapat terjadi pada tulang kepala.
Klinis: gejala kinis tergantung pada tempat terjadinya, kadang terdapat
keluhan nyari boyok, gangguan pada system urogenital, keluhan sakit kepala
jika terjadi pada tulang kepala.

Radiologis : Gambaran radiologik secara plain yang dapat ditemukan adalah


gambaran radiolusen pada daerah sakrum yang menunjukkan adanya lesi
dengan pengrusakan tulang. Terdapat fokal kalsifikasi. Dengan CT-scan dan
MRI dapat dilihat penyebaran dan pembesaran tumor intrapelvik, kalsifikasi
epidural.

Patologi : Tumor ini ditandai dengan pengaturan lobuler dan septum dari
jaringan yang terbentuk dari sel-sel yang banyak mengandung vakuola (sel
fisaliporus) dengan material mukoid interseluler yang menjadi mucus.

Pengobatan : Pengobatan yang dapat dilakukan berupa reseksi lokal. Tumor


biasanya melakukan infiltrasi pada jaringan lunak sekitarnya tapi jarang
mengadakan metastasis. Prognosis kelainan ini baik dan jarang terjadi pada
rekuren. Tetapi harus diperhatikan lokasi anatomi jangan sampai mengganggu
fungsi seksual.

S. Simple Bone Cyst/Solitary Bone Cyst/Unicameral Bone Cyst

Bukan suatu neoplasma. Merupakan kista sejati. Lesi ini dibicarakan


karena secara radiologis memberikan gambaran mirip suatu neoplasma tulang
tetapi merupakan tumor non-neoplakstik. Didapat pada anak-anak dan usia muda,
kebanyakan di bawah usia 15 tahun.

xxxiii
Klinis: Tumbuh lambat dan tidak memberikan rasa sakit kadang pasien
merasa nyeri. Sering mengakibatkan fraktur patologis. Lesi bersifat self
limiting. Sembuh spontan.
Lokasi : Yang paling sering adalah pada proksimal humerus dan proksimal
femur, yaitu pada metafisisnya.

Radiologi: gambaran plain lesi yang litik pada intramedular, lesi tumbuh
lambat, tidak ada kerusakan cortex.

Gambaran radiologis terlihat lesi litik, gambaran patologis ditemukan pagar kista yang ditengahnya berwarna abu-abu.

Patologi: gambaran pagar kista, yang ditengahnya terdapat bagian bagian


dengan jaringan berwarna abu-abu. Jaringan fibrous dengan infltrat inflamasi,
makrofag yang berisi homosiderin dan sel raksasa dari osteoklas.
Terapi: sembuh spontan bila terjadi pada saat usia dimana sudah tidak ada lagi
pertumbuhan badan, tetapi jika terdapat keluhan pada saat masih terdapat
pertumbuhan badan, maka dapat diberi kan terapi berupa operasi kuret dengan
pengisian bone graft atau terapi injeksi dengan kortison.

T.Fibrous Dysplasia

xxxiv
Kelainan ini jarang terjadi dan hanya 4-6% dari seluruh tumor jinak
tulang, terutama ditemukan pada usia kanak-kanak dan dewasa muda ( usia 10
sampai 25 tahun) dan lebih sering pada wanita dengan perbandingan 3 : 1.
Displasia fibrosa monostotik lebih sering ditemukan daripada poliostotik.

Klinis: Gambaran klinis yang dapat ditemukan bervariasi dari rasa nyeri
ringan sampai adanya deformitas dan kecacatan. Bila kelainan terjadi pada
daerah lutut atau daerah panggul maka akan dapat terjadi fraktur
patologis.Lesi poliostotik disertai dengan pigmentasi kulit serta menstruasi
prekoks pada wanita merupakan suatu sindroma yang disebut McCunne-
Albright. Pada anak-anak, kelainan ini dapat menyebabkan anak-anak
terlambat berjalan, jalan pincang atau berjalan seperti bebek (waddling gait).
Pertumbuhan fisik penderita tergangu sehingga penderita menjadi kerdil yang
disebabkan oleh osifikasi dan fusi dari epifisis lebih cepat terjadi. Dilaporkan
juga adanya perubahan ganas dari penyakit displasia fibrosa, tetapi sangat
jarang.
Lokasi : Pada lesi monostotik tempat tersering adalah femur, tibia, iga, tulang
rahang dan lesi poliostotik terutama terjadi pada anggota gerak bawah. Pada
tulang panjang dapat terjadi pada metafisis ataupun diafisis.

Radiologis : Pada foto rontgen tumor terlihat opak, jaringan fibrosa nampak
lebih translusen (gambaran ground glass), korteks tulang menipis dan
eksentrik dan dapat terjadi erosi pada tulang sehingga mudah terjadi fraktur
patologis.

xxxv
Gambaran radiologis terlihat ground glass, korteks menipis, gambaran
patologis ditemukan displasia jaringan ikat fibrosa seperti pusaran.

Patologi : Terjadi displasia jaringan ikat fibrosa yang mengandung trabekula


tulang dengan karakteristik seperti pusaran dari sel spindl, Fokal kalsifikasi
dari tulang mowen ( tulang immature). Gambaran ini disebut Chinese
Character. Pada tulang matur terlihat serat kolagen yang terangkai seperti
selendang yang disebut lamellae.

Mowen bone dan lamellar bone

Diagnosis banding :

1. Kista soliter tulang

xxxvi
2. Kondroma soliter

3. Enkondromatosis multipel

4. Osteogenik sarkoma

Pengobatan : Rasa nyeri dan adanya deformitas merupakan indikasi utama


untuk tindakan bedah. Kuretase dan grafting tulang dilakukan pada lesi di
daerah tulang panjang. Reseksi komplit dilakukan pada lesi yang terlokalisir
misalnya pada daerah tulang iga. Manipulasi dan imobilisasi dilakukan untuk
mencegah fraktur patologis

U.Tulang Tumor Sekunder

Merupakan jenis tumor tulang ganas yang sering didapat. Kemungkinan


tumor tulang merupakan tumor metastatik yang harus selalu difikirkan, pada
penderita yang berusia lanjut. Pada usia dewasa/lanjut jenis keganasan yang
sering bermetastase ke tulang ialah karsinoma payudara, paru-paru, lambung
ginjal, usus, prostat dan tiroid.

Sedang pada anak-anak ialah neuroblastoma. Penderita-penderita yang


meninggal akibat karsinoma, pada pemeriksaan bedah mayat ternyata paling
sedikit seperempatnya menunjukkan tanda-tanda metastase ke tulang. Sel-sel anak
sebar mencapai tulang dengan melalui jalan darah, saluran limfe atau dengan cara
ekstensi langsung. Sumsum tulang merupakan tempat yang subur untuk
pertumbuhan sel-sel anak sebar, dengan demikian tulang vertebra, pelvis, iga dan
bagian proksimal tulang-tulang panjang merupakan tempat yang paling sering
dihinggapi oleh sel-sel anak sebar. Pada penderita dengan kemungkinan
keganasan tulang metastasik, maka harus dilakukan pemeriksaan pada semua
tulang misalnya dengan bone survey atau bone scan. Keluhan penderita yang

xxxvii
paling menonjol ialah rasa sakit. Rasa sakit dapat diakibatkan oleh fraktur
patologis. Dalam beberapa keadaan justru lesi metastatik ditulang yang terlebih
dulu ditemukan dan didiagnosis, dimana hasil pemeriksaan mikroskopik
menunjukkan suatu jenis neoplasma tulang metastatik yang kadang-kadang
jaringan asalnya sulit ditentukan, sehingga harus dicari dengan cermat lokasi
daripada tumor primernya.

Radiologi : Pada umumnya tumor metastatik akan mengakibatkan gambaran


osteolitik, sedang pada metastase Ca prostat nampak gambaran
osteoblatik/osteosklerosis. Kadar Calsium meninggi karena terjadi pelepasan
kalsium ke dalam darah akibat proses resorpsi osteoblastik pada tulang-tulang.
Adanya pembentukan tulang reaktif ditandai oleh kadar fosfatase alkali yang
meningkat. Pada metastase Ca prostat, kadar fosfatase asam meninggi.
Terapi : Terapi bersifat paliatif, karena penderita sudah berada dalam stadium
lanjut. Terapi ditujukan pada jenis karsinoma primernya yang dapat berupa
radioterapi, kemoterapi ataupun hormon terapi. Terapi dari segi bedah adalah
terhadap fraktur patologis yang mungkin memerlukan fiksasi secara eksternal
atau internal, agar supaya penderita dapat diimobilisasi tanpa merasa
kesakitan. Bila perlu dapat dilakukan fiksasi internal terhadap tulang-tulang
ekstremitas sebelum tulang tersebut mengalami fraktur, jadi baru diperkirakan
akan fraktur bila proses pada tulang dibiarkan berjalan terus (impending
fracture).

xxxviii
BAB III

KESIMPULAN

Tumor tulang adalah istilah yang dapat digunakan untuk pertumbuhan tulang
yang tidaak normal, tetapi umumnya lebih digunakan untuk tumor tulang
utama,seperti osteosarkoma,chondrosarkoma,sarkoma Ewing dan sarkoma lainnya.

xxxix
Kanker tulang disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain : radiasi sinar
radio aktif dosis tinggi, keturunan (adapun contoh faktor keturunan/genetika yang
dapat meningkatkan resiko kanker tulang adalah: multiple exostoses, rothmund-
Thomson sindrom, retinoblastoma genetic, Li-Fraumeni sindrom). Selain itu juga
kanker tulang disebabkan oleh beberapa kondisi tulang yang ada
sebelumnya, seperti : penyakit paget (akibat pajanan radiasi ).

Manifestasi klinis yang muncul pada tumor tulang bisa bervariasi tergantung
pada jenis tumor tulangnya, namun yang paling umum adalah nyeri. Akan tetapi
manifestasi lainny juga yang sering muncul, yaitu : persendian yang bengkak dan
inflamasi, patah tulang yang disebabkan karena tulang yang rapuh.

Tumor tulang di bagi menjadi beberapa jenis, antara lain : Multipel myeloma,
Tumor Raksasa, Osteoma, Kondroblastoma, Enkondroma, Sarkoma Osteogenik
(osteosarkoma), Kondrosarkoma, Sarkoma Ewing.

Ada tiga bentuk standar pengobatan kanker tulang, yaitu : pembedahan, terapi
radiasi dan kemoterapi. Adakalanya dibutuhkan kombinasi terapi dari ketiganya.
Pengobatan sangat tergantung pada jenis kankernya, tingkat penyebaran atau
bermetastasis dan faktor kesehatan lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

xl
http:// medicom.blogdetik.com/

http://irmanthea.blogspot.com/p/daftar_mahasiswa_bimbingan_skripsi.html.

Rasad,sjahriar.2005.Radiologi diagnostik edisi dua.Jakarta,UI

File:///c:tumor tulang_kumpulan askeb askeb_download KTI skripsi_asuhan


keperawatn kebidanan

xli