Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Peningkatan kesejahteraan masyarakat yang pada akhirnya akan mengarah

kepada masyarakat adil dan makmur merupakan cita-cita dari bangsa Indonesia

yang harus menjadi beban setiap anak bangsa untuk mencapai hal tersebut.

Pembangunan kesejahteraan rakyat harus senantiasa memperhatikan bahwa setiap

warga negara berhak atas taraf kesejahteraan yang layak serta berkewajiban ikut

serta dalam upaya mewujudkan kemakmuran rakyat.

Krisis ekonomi yang melanda negara Indonesia sejak pertengahan tahun

1997 telah menimbulkan dampak negatif bagi kondisi perekonomian rakyat.

Terjadinya krisis ekonomi ini selain disebabkan oleh memburuknya situasi politik

negara, juga karena meningkatnya hutang luar negeri serta menurunnya nilai tukar

rupiah terhadap mata uang asing. Berbagai dampak yang ditimbulkan oleh adanya

krisis tersebut masih dirasakan sampai saat ini, diantaranya tingkat inflasi yang

tinggi dan meningkatnya jumlah pengangguran dari tahun ke tahun.

Masalah utama yang dihadapi negara berkembang adalah bagaimana

memanfaatkan faktor manusia yang melimpah dan tidak terlatih bagi

pembangunannya sehingga penduduk yang besar bukan menjadi beban dalam

pembangunan, justru menjadi modal pembangunan. Dengan demikian peran

sektor informal sangat penting, terutama kemampuannya menyerap tenaga kerja

dan tidak menuntut tingkat keterampilan yang tinggi. Bahkan sektor informal ini

1
bisa menjadi wadah pengembangan sumberdaya manusia, dimana tenaga kerja

yang tidak terlatih (unskilled) tersebut dapat meningkatkan keterampilannya

dengan memasuki sektor informal terlebih dahulu sebelum masuk ke sektor

formal.

Sektor informal sangat penting artinya dalam proses pembangunan dan

proses modernisasi masyarakat yang sebagian besar masih bersifat tradisional atau

semitradisional. Sebelum bekerja dan berusaha di sektor formal, tenaga kerja dari

sektor tradisional berusaha dan bekerja terlebih dahulu di sektor informal. Setelah

memperoleh pengetahuan, keahlian dan pengalaman di sektor informal,barulah

mereka beralih dan mengalihkan usahanya ke sektor formal yang bersifat modern.

Selain itu, sektor informal penting artinya bagi negara berpenduduk besar, dimana

sektor informal yang bersifat padat karya mampu menyerap tenaga kerja dalam

jumlah besar. Bagi Indonesia, kedua fungsi sektor informal di atas sangat besar

artinya. Selain menghadapi kelebihan penduduk, Indonesia juga menghadapi

masalah dari kondisi masyarakatnya yang masih dipengaruhi oleh unsur-unsur

tradisional. Sektor informal selama ini dianggap menjadi katup pengaman yang

efektif bagi perekonomian masyarakat bawah untuk tetap bertahan dalam

menghadapi kesulitan hidup yang telah membelit mereka dan krisis ekonomi

seperti saat ini.

Salah satu contoh sektor informal yang banyak terdapat di sekitar kita

adalah dapat berbentuk usaha perdagangan seperti pedagang sate, penjual bakso,

asongan, nasi uduk, batagor, pedagang tekwan dan lain sebagainya. Selain itu juga

pada jasa pengangkutan seperti tukang becak, tukang ojek, dan lain-lain; industri

2
kecil dan rumah tangga (cottage industry dan home industry); ataupun bentuk-

bentuk usaha lainnya. Usaha-usaha tersebut sering disebut sektor informal karena

sifatnya yang tidak mempunyai hubungan dengan pemerintah, baik dalam hal

perizinan, perpajakan maupun perlindungan.

Dalam penelitian yang dilakukan (Tona, Erwita, Andi dan Raja, 2014)

pada tahun 2009 Pedagang Kaki Lima (PKL) kota Jambi sebanyak 1516

pedagnag, Tahun 2010 sebanyak 1895 pedagang, tahun 2011 sebanyak 2059

pedagang. Data tersebut mengindikasikan bahwa sektor informal di Jambi

meningkat.

Menurut (Amah, 2016), dari 8 kecamatan di Kota Jambi, di Kecamatan

Pasar Jambi merupakan lokasi paling empuk bagi Pedagang Kaki Lima (PKL).

Berdasarkan data yang ada pada Kantor Pengelola Pasar Kota Jambi, jumlah PKL

di kecamatan Pasar Jambi sebanyak 766 PKL, atau 36,41 persen dari jumlah PKL

yang ada di Kota Jambi. Menurut Kepala Kantor Pengelola Pasar Kota Jambi,

secara keseluruhan jumlah PKL yang terdata pada mereka sebanyak 2014

PKL.Kemudian lokasi lain juga merupakan wilayah yang cukup menarik minat

PKL adalah wilayah Kecamatan Jambi Timur. Di wilayah tersebut terdapat sekitar

717 PKL atau 34,08 persen. Disusul Kecamatan Telanaipura sebanyak 304 PKL

atau 14.45 persen dari jumlah PKL yang ada. Kemudian Kecamatan Kotabaru

dengan 174 PKL, atau 8,27 persen, Kecamatan Jelutung 99 persen atau 4,71

persen dan Kecamatan Jambi Selatan 44 PKL atau 2.09 persen, data tersebut

minim data dari 2 kecamatan yaitu Danau Teluk dan Pelayangan.

3
Pada penelitian ini peneliti lebih fokus di Kecamatan Alam Barajo di sana

banyak terdapat pedagang kaki lima, peneliti lebih menfokuskan ke pedagang

bakso. Berdasarkan pengamatan dan survei peneliti memperoleh data yang

peneliti peroleh bahwa pedagang bakso pada kecamatan Alam Barajo 30 orang.

Bakso mulai buka dari jam 10:00 WIB sampai jam 21:00 WIB, banyak

varian menu yang ditawarkan, antara lain: bakso telor, bakso urat, bakso super,

bakso partai, mie ayam dan lain lain. Sebagian besar penjual bakso berasal dari

Jawa, mereka mengadu nasib di Jambi untuk peruntungan yang lebih baik.

Tujuan dari jualan bakso ini selain mencari tambahan biaya hidup atau

bahkan sebagai sandaran hidup. Bakso merupakan makanan cepat saji yang

banyak digemari konsumen, karena dengan harga rata-rata Rp 12.000, konsumen

sudah dapat menikmati semangkok bakso lengkap dengan bakso/telor mie disiram

dengan kuah panasnya. Karena banyaknya konsumen yang menggemari makanan

ini, maka sebagian besar orang pulau jawa ini banyak yang membuka usaha ini.

Semakin banyaknya pedagang bakso tentu semakin banyak persaingan.

Hal ini dapat mempengaruhi pendapatan pedagang. Ada yang tergolong

berpendapat rendah, sedang, dan tinggi. Banyak faktor yang mempengaruhi

pendapatan para pedagang bakso antara lain jumlah modal, pengalaman usaha dan

lamanya jam kerja. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis merasa tertarik untuk

meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan pedagang bakso. Oleh

karena itu dilakukan penelitian dengan judul Analisis Pendapatan Usaha

Pedagang Bakso di Kecamatan Alam Barajo

4
1.2 Perumusan Masalah

Usaha dibidang informal yang mampu menyerap tenaga kerja dan mampu

bertahan disemua keadaan serta memberikan keuntungan terhadap pelaku usaha

menjadikan usaha bakso sangat diminati pedagang. Hal ini disebabkan proses

produksi tidak rumit serta banyak digemari konsumen. Meskipun usaha bakso

banyak diminati konsumen tidak menjamin pendapatan pedagang selalu sama.

Berdasarkan uraian di atas masalah pokok yang akan diteliti adalah:

1. Bagaimana karakteristik sosial dan ekonomi pedagang bakso di

Kecamatan Alam Barajo?

2. Bagaimana struktur biaya yang dikeluarkan dan penerimaan/total

revenue(bruto) perhari dan perbulan pedagang bakso di Kecamatan Alam

Barajo?

3. Bagaimanakah pendapatan bersih (neto) perbulan pedagang bakso di

Kecamatan Alam Barajo?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui dan menganalisis karakteristik sosial dan ekonomi

pedagang bakso di Kecamatan Alam Barajo.

2. Untuk mengetahui dan menganalisis struktur biaya yang dikeluarkan dan

penerimaan (bruto) pedagang bakso di Kecamatan Alam Barajo.

3. Untuk mengetahui dan menganalisis pendapatan bersih (neto) pedagang

bakso di Kecamatan Alam Barajo.

5
1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna baik bagi akademisi

maupun praktisi dan pihak lain yang berkepentingan. Manfaat yang diharapkan

tersebut antara lain yaitu:

1. Akademis

Diharapkan dapat bermanfaat bagi penelitian berikutnya terutama yang

berkaitan dengan analisis pendapatan pedagang bakso di Kecamatan Alam

Barajo.

2. Praktisi

Dapat dijadikan bahan masukan dan informasi bagi pemerintah untuk

keperluan perumusan kebijakan yang terkait dengan penataan pedagang

kaki lima dan mengetahui karakteristik sosial ekonomi pedagang bakso di

Kecamatan Alam Barajo.

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Konsep Sektor Formal dan Informal

Menurut Safaria, dkk (2003) sektor informal dipandang sebagaikekuatan

yang semakin signifikan bagi perekonomian lokal dan global, sepertiyang

dicantumkan dalam pernyataan visi WIEGO (Woman In InformalEmployment

Globalizing and Organizing) yaitu mayoritas pekerja di dunia kinibekerja di

sektor informal dan proporsinya terus membengkak sebagai dampakdari

globalisasi: mobilitas capital, restrukturisasi produksi barang dan jasa,

danderegulasi pasar tenaga kerja mendorong semakin banyak pekerja ke

sektorinformal.

Effendi (2001) mengemukakan istilah sektor informal sebagai sejumlah

kegiatan ekonomi yang berskala kecil. Alasan berskala kecil karena: (i) umumnya

mereka berasal dari kalangan miskin; (ii) sebagai suatu manifestasi dari situasi

pertumbuhan kesempatan kerja di negara berkembang; (iii) bertujuan untuk

mencari kesempatan kerja dan pendapatan untuk memperoleh keuntungan; (iv)

umumnya mereka berpendidikan sangat rendah; (v) mempunyai keterampilan

rendah, dan (vi) umumnya dilakukan oleh para migran. Dari ciri-ciri tersebut

dapat digambarkan bahwa usaha-usaha di sektor informal berupaya menciptakan

kesempatan kerja dan memperoleh pendapatan untuk dirinya sendiri. Menurut

Sethuramman (2000) konseptualisasi sektor informal yang tersebut di atas

7
walaupun bermanfaat tetapi belum dapat memecahkan masalah definisi. Hal ini

disebabkan masih diperlukannya beberapa definisi untuk menentukan batasan

sektor informal baik dari sudut pandang operasional maupun penelitian.

Effendi (2001), membedakan sektor formal dan informal yang menunjuk

pada suatu sektor ekonomi masing-masing dengan konsistensi dan dinamika

strukturnya sendiri. Sektor formal digunakan dalam pengertian pekerja bergaji

atau harian dalam pekerjaan yang permanen meliputi: (i) sejumlah pekerjaan yang

saling berhubungan yang merupakan bagian dari suatu struktur pekerjaan yang

terjalin dan amat terorganisir; (ii) pekerjaan secara resmi terdaftar dalam statistik

perekonomian; dan (iii) syarat-syarat bekerja dilindungi oleh hukum. Kegiatan-

kegiatan perekonomian yang tidak memenuhi kriteria ini kemudian dimasukkan

dalam istilah sektor informal yaitu suatu istilah yang mencakup pengertian

berbagai kegiatan yang sering kali tercakup dalam istilah umum usaha mandiri.

Berdasarkan definisi kerja tersebut, disepakati pula serangkaian ciri sektor

informal di Indonesia, antara lain:

a. Kegiatan usaha tidak terorganisasi secara baik, karenaunit usaha timbul

tanpa menggunakan fasilitas atau kelembagaan yang tersedia secara

formal;

b. Pada umumnya unit usaha tidak memiliki izin usaha;

c. Pola kegiatan usaha tidak teratur dengan baik, dalam arti lokasi maupun

jam kerja;

d. Pada umumnya kebijakan pemerintah untuk membantu golongan ekonomi

lemah tidak sampai ke sektor ini;

8
e. Unit usaha berganti-ganti dari satu subsektor ke subsektor lain;

f. Teknologi yang digunakan masih tradisional;

g. Modal dan perputaran usaha relatif kecil, sehingga skala operasinya juga

kecil;

h. Dalam menjalankan usaha tidak diperlukan pendidikan formal, sebagian

besar hanya diperoleh dari pengalaman sambil bekerja;

i. Pada umumnya unit usaha termasuk kelompok oneman enterprise, dan

kalau memiliki pekerja, biasanyaberasal dari keluarga sendiri;

j. Sumber dana modal usaha pada umumnya berasaldari tabungan sendiri,

atau dari lembaga keuangan tidak resmi; dan

k. Hasil produksi atau jasa terutama dikonsumsi oleh golongan masyarakat

kota/desa berpenghasilan rendah atau menengah.

2.1.2. Pedagang Kaki Lima (PKL) Bakso

Bakso merupakan produk pangan yang dibuat dari daging yang

dihaluskan, dicampur tepung berkarbohidrat tinggi, dibentuk bulat-bulat sebesar

kelereng atau lebih besar dan dimasak dalam air panas untuk mengkonsumsinya.

Berdasarkan SNI 01-3818-1995, bakso daging didefinisikan sebagai produk

makanan berbentuk bulatan atau lain, yang diperoleh dari campuran daging ternak

(kadar daging tidak kurang dari 50%) dan pati atau serealia dengan atau tanpa.

Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang diizinkan. Bakso dapat dikelompokkan

menurut jenis daging yang digunakan. Bakso yang paling popular di Indonesia

adalah bakso yang terbuat dari daging sapi (Sutomo, 2009).

9
Bahan-bahan dasar bakso adalah daging, bahan pengisi, garam dapur, bumbu

penyedap dan es atau air es. Daging sapi digunakan karena dagingnya lebih

mudah dibentuk menjadi butiran-butiran kenyal karena kandungan dan struktur

proteinnya lebih kenyal dan kuat. Bakso pada mulanya hanya dikenal dan dijual

didaerah pemukiman orang cina dan dijual di restoran-restoran cina. Namun

akhir-akhir ini setelah tahun 1980, bakso mulai berkembang dan mulai popular

dimasyarakat selain dikota besar juga kota kecil, terutama di pelosok dan daerah

wisata. Bakso dapat dijumpai di restoran mewah, hotel berbintang, warung makan

sederhana, pedagang kaki lima, dan pedagang keliling. Konsumen berasal dari

golongan elit sampai golongan berpenghasilan rendah (Yuliadini, 2000).

2.1.3. Sosial Dan Ekonomi

Dalam pembahasannya sosial dan ekonomi sering menjadi objek

pembahasan yang berbeda. Dalam konsep sosiologimanusia sering disebut dengan

makhluk sosial yang artinya manusia tidak dapat hidup wajar tanpa adanya

bantuan dari orang lain, sehingga arti sosial sering diartikan sebagai hal yang

berkanaan dengan masyarakat. Ekonomi barasal dari bahasa Yunani yaitu oikos

yang berarti keluarga atau rumah tangga dan nomos yang berarti peraturan

(Gilarso, 2004)

Sosial ekonomi adalah kedudukan atau posisi seseorang dalam kelompok

masyarakat yang ditentukan oleh jenis aktivitas ekonomi, pendidikan serta

pendapatan (Astrawan, 2014).

10
2.1.4. Biaya

Menurut Mursyidi (2008) menyatakan bahwa pengertian biaya (cost)

sebagai berikut: Sebagai suatu pengorbanan yang dapat mengurangi kas atau harta

lainnya untuk mencapai tujuan, baik yang dapat dibebankan pada saat ini maupun

pada saat yang akan datang.

Pengertian cost menurut Mulyadi (2005) Dalam arti luas, cost adalah

pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dengan satuan uang, yang telah terjadi

maupun kemungkinan akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu.

Menurut Carter dan Usry (2006) menyatakan bahwa Biaya sebagai nilai

tukar, pengeluaran, pengorbanan untuk memperoleh manfaat. Dari definisi di atas,

maka dapat disimpulkan bahwa biaya itu sesuatu yang berkaitan dengan

pengorbanan yang dilakukan untuk memperoleh manfaat yang dihasilkannya.

Biaya merupakan faktor yang sangat penting karena setiap rupiah biaya

yang dikeluarkan akan mengurangi laba usaha. Biaya-biaya yang dianalisis dalam

usaha ini antara lain biaya tetap dan biaya variabel

a. Biaya tetap (fixed cost) yaitu biaya yang penggunaannya tidak habis dalam

satu masa produksi. Besarnya biaya tetap tergantung pada jumlah output

yang diproduksi dan tetap harus dikeluarkan walaupun tidak ada produksi.

Komponen biaya tetap yang dianalisis pada usaha bakso antara lain biaya

sewa tempat, gaji karyawan, listrik, air serta penyusutan peralatan.

b. Biaya variabel (variable cost) yaitu biaya yang besar kecilnya sangat

tergantung kepada biaya skala usaha produksi. Komponen biaya variable

yang dianalisis pada usaha bakso antara lain pembelian bahan baku seperti

11
daging sapi, gandum, tepung tapioka, soda kue, vetsin, garam, cabe, kecap,

saos, daun seledri, bawang goreng, mie kuning, mie putih, daun bawang,

bawang merah, bawang putih dan lain-lain serta biaya bahan bakar seperti

gas.

2.1.5. Teori Pendapatan

Dalam pengertian umum pendapatan adalah hasil pencaharian usaha.

Boediono (1992) mengemukakan bahwa pendapatan adalah hasil dari penjualan

faktor-faktor produksi yang dimilikinya kepada sektor produksi.

Sedangkan menurut Munandar (2006), pengertian pendapatan adalah suatu

pertambahan aset yang mengakibatkan bertambahnya owner equity, tetapibukan

karena pertambahan modal baru dari pemiliknya dan bukan pula merupakan

pertambahan aset yang disebabkan karena bertambahnya liabilities.Pendapatan

sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup perusahaan, semakin besar

pendapatan yang diperoleh maka semakin besar kemapuan perusahaan untuk

membiayai segala pengeluaran dan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan oleh

perusahaan.

Menurut Wild yang diterjemahkan oleh Bachtiar, Y. S. (2005) definisi

pendapatan adalah sebagai berikut: arus masuk atau penghasilan nilai aktiva

suatu perusahaan atau pengurangan kewajiban yang berasal dari aktivitas utama

atau inti perusahaan yang masih berlangsung

Menurut Standar Akuntansi Keuangan (2010), pendapatan mempunyai arti

yaitu penghasilan yang timbul dari aktivitas perusahaan yang dikenal dengan

12
sebutan yang berbeda seperti penjualan, penghasilan jasa (fees), bunga, dividen,

royalti, dan sewa. Definisi tersebut memberikan pengertian yang berbeda dimana

income memberikan pengertian pendapatan yang lebih luas

Menurut Kieso (2011) Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat

ekonomi yang timbul dari aktivitas normal entitas selama suatu periode, jika arus

masuk tersebut mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi

penanaman modal

Menurut Skousen (2010) Pendapatan adalah arus masuk atau penyelesaian

(atau kombinasi keduanya) dari pengiriman atau produksi barang, memberikan

jasa atau melakukan aktivitas lain yang merupakan aktivitas utama atau aktivitas

centra yang sedang berlangsung.

Sedangkan menurut Winardi (2005) pendapatan adalah jumlah uang atau

materi lainnya yang dapat dicapai dari penggunaan faktor-faktor produksi.

Berdasarkan kedua pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pendapatan

merupakan nilai dari seluruh barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu badan

usaha dalam suatu periode tertentu.

Menurut Supartomo dan Rusdiyanto, (2001) pendapatan pada sektor

informal khususnya pendapatan PKL sangat heterogen dan berkaitan erat dengan

jenis barang yang diperdagangkan serta modal yang dimiliki oleh pedagang

tersebut. Dengan demikian berarti bahwa pendapatan seseorang berasal dari

berbagai sumber yang diperoleh melalui pengorbanan sumber-sumber produktif.

Menurut Reksoprayitno (2000) yang dimaksud dengan pendapatan adalah:

1. Hasil pencaharian (usaha dan sebagainya).

13
2. Suatu yang didapatkan (dibuat dan sebagainya yang sedianya belum ada).

Pendapatan adalah suatu yang diterima seseorang sebagai balas jasa dari

penggunaan faktor produksi yang dimiliki oleh rumah tangga produksi, akan

semakin besar pendapatan yang diperoleh pemilik faktor produksi dan juga

sebaliknya.

Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan menurut

Bintari dan Suprihatin (2004):

1. Kesempatan kerja yang tersedia. Dengan semakin tinggi atau semakin

besar kesempatan kerja yang tersedia berarti banyak penghasilan yang bisa

diperoleh dari hasil kerja tersebut.

2. Kecakapan dan keahlian kerja. Dengan bekal kecakapan dan keahlian yang

tinggi akan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas yang pada

akhirnya berpengaruh pula terhadap penghasilan.

3. Kekayaan yang dimiliki. Jumlah kekayaan yang dimiliki seseorang juga

mempengaruhi jumlah penghasilan yang diperoleh. Semakin banyak

kekayaan yang dimiliki berarti semakin besar peluang untuk

mempengaruhi penghasilan.

4. Keuletan kerja. Pengertian keuletan dapat disamakan dengan ketekunan

dan keberanian untuk menghadapi segala macam tantangan. Bila suatu saat

mengalami kegagalan,maka kegagalan tersebut dijadikan sebagai bekal

untuk meniti ke arah kesuksesan dan keberhasilan.

14
5. Banyak sedikitnya modal yang digunakan, Suatu usaha yang besar akan

dapat memberikan peluang yang besar pula terhadap penghasilan yang

akan diperoleh.

Dalam arti ekonomi, pendapatan merupakan balas jasa atas penggunaan

faktor-faktor produksi yang dimiliki oleh sektor rumah tangga dan sektor

perusahaan yang dapat berupa gaji / upah, sewa, bunga serta keuntungan / profit

(Sukirno, 2000).

Menurut Sukirno (2002), pendapatan dapat dihitung melalui tiga cara

yaitu:

1. Cara Pengeluaran. Cara ini pendapatan dihitung dengan menjumlahkan

nilai pengeluaran/perbelanjaan ke atas barang-barang dan jasa.

2. Cara Produksi. Cara ini pendapatan dihitung dengan menjumlahkan nilai

barang dan jasa yang dihasilkan.

3. Cara Pendapatan. Dalam penghitungan ini pendapatan diperoleh dengan

cara menjumlahkan seluruh pendapatan yang diterima.

Secara garis besar pendapatan digolongkan menjadi tiga golongan

(Suparmoko, 2000), yaitu:

1. Gaji dan upah. Imbalan yang diperoleh setelah orang tersebut melakukan

pekerjaan untuk orang lain yang diberikan dalam waktu satu hari, satu

minggu maupun satu bulan.

2. Pendapatan dari usaha sendiri. Merupakan nilai total dari hasil produksi

yang dikurangi dengan biaya-biaya yang dibayar dan usaha ini merupakan

usaha milik sendiri atau keluarga dan tenaga kerja berasal dari anggota

15
keluarga sendiri, nilai sewa kapital milik sendiri dan semua biaya ini

biasanya tidak diperhitungkan.

3. Pendapatan dari usaha lain. Pendapatan yang diperoleh tanpa mencurahkan

tenaga kerja, dan ini biasanya merupakan pendapatan sampingan antara

lain: 1.) Pendapatan dari hasil menyewakan aset yang dimiliki seperti

rumah, 2.) Ternak dan barang lain, 3.) Bunga dari uang, 4.) Sumbangan

dari pihak lain, 5.) Pendapatan dari pensiun, 6.) Dan lain-lain.

Menurut Thoha (2003) pendapatan perseorangan adalah jumlah

pendapatan yang diterima setiap orang dalam masyarakat yang sebelum dikurangi

transfer payment. Transfer payment yaitu pendapatan yang tidak berdasarkan

balas jasa dalam proses produksi dalam tahun yang bersangkutan. Pendapatan

dibedakan menjadi:

1. Pendapatan asli yaitu pendapatan yang diterima oleh setiap orang yang

langsung ikut serta dalam produksi barang.

2. Pendapatan turunan (sekunder) yaitu pendapatan dari golongan penduduk

lainnya yang tidak langsung ikut serta dalam produksi barang seperti

dokter, ahli hukum dan pegawai negeri.

Menurut Ariyani (2006) tingkat pendapatan seseorang dapat digolongkan

dalam 4 golongan yaitu:

1. Golongan yang berpenghasilan rendah (low income group) yaitu

pendapatan rata-rata dari Rp 150.000 perbulan.

2. Golongan berpenghasilan sedang (moderate income group) yaitu

pendapatan rata-rata Rp 150.000 Rp 450.000 perbulan.

16
3. Golongan berpenghasilan menengah (midle income group) yaitu

pendapatan rata-rata yang diterima Rp 450.000 Rp 900.000 perbulan.

4. Golongan yang berpenghasilan tinggi (high income group) yait rata-rata

pendapatan lebih dari Rp 900.000.

Menurut Wild (2003) pendapatan dibedakan menjadi 2, diantaranya:

1. Pendapatan menurut ilmu ekonomi

Pendapatan merupakan nilai maksimum yang dapat dikonsumsi oleh

seseorang dalam suatu periode dengan mengharapkan keadaan yang sama

pada akhir periode seperti keadaan semula. Pengertian tersebut

menitikberatkan pada pola kuantitaif pengeluaran terhadap konsumsi

selama satu periode. Secara garis besar, pendapatan adalah jumlah harta

kekayaan awal periode ditambah keseluruhan hasil yang diperoleh selama

satu periode, bukan hanya yang dikonsumsi.

Defenisi pendapatan menurut ilmu ekonomi menutup kemungkinan

perubahan lebih dari total harta kekayaan, badan usaha awal peeriode dan

menekankan pada jumlah nilai yang statis pada akhir periode.

2. Pendapatan menurut ilmu akuntansi

Defenisi pendapatan antara para akuntan dengan para ahli ekonomi sangat

jauh berbeda, demikian juga sesama para akuntan, yang mendefinisikan

pendapatan berbeda satu sama lainnya. Akan tetapi pada umumnya

definisi ini menekankan kepada masalah yang berkenaan dengan

pendapatan yang dinyatakan dalam satuan uang. Pandangan akuntansi

memiliki keanekaragaman dalam memberikan defenisi pendapatan. Ilmu

17
akuntansi melihat pendapatan sebagai sesuatu yang spesifik dalam

pengertian yang lebih mendalam dan lebih terarah. Konsep ini sebagian

besar mengikuti prinsip prinsip pendapatan, prinsip biaya, prinsip

penandingan dan pernyataan periode akuntansi. Pada dasarnya konsep

pendapatan menurut ilmu akuntansi dapat ditelusuri dari dua sudut

pandang, yaitu:

1. Pandangan yang menekankan pada pertumbuhan atau peningkatan

jumlah aktiva yang timbul sebagai hasil dari kegiatan operasional

perusahaan pendekatan yang memusatkan perhatian kepada arus

masuk atau inflow. Menurut SFAC (Statement of FinancialAccounting

Concepts) No. 6 dalam Kieso (2011) Revenue are inflows or other

enchancements of assets of an entity or settlements of its liabilities (a

combination of both) from delivering of producing goods, rendering

services, or carrying out other activities that constitute the entitys on

going major on central operations.

2. Pandangan yang menekankan kepada penciptaan barang dan jasa oleh

perusahaan serta penyerahan barang dan jasa atau outflow. Dalam

PSAK nomor 23 paragraf 06 Ikatan Akuntan Indonesia (2004)

menyatakan bahwa Pendapatan adalah arus kas masuk bruto dari

manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama

satu periode bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas yang

tidak berasal dari kontribusi penanaman modal.

18
2.2 Penelitian Sebelumnya

Penelitian yang dilakukan oleh Monalisa Sembiring Departemen

Agribisnis Fakultas Ekonomi Dan Manajemen Institut Pertanian Bogor Bogor

2010 yang berjudul Analisis Pendapatan Pedagang Bakso Di Kota Bogor Jawa

Barat. Tujuan penelitian tersebut (1) mengidentifikasi karakteristik pedagang

bakso mangkal dan pedagang bakso keliling di Kota Bogor (2) menganalisis

pendapatan dan efisiensi usaha dari pedagang bakso mangkal dan pedagang bakso

keliling di Kota Bogor. Pendekatan yang digunakan untuk menjawab tujuan

penelitian yaitu menggunakan analisis tabulasi dan deskriptif, analisis keuntungan

dan uji Mann-Whithney. Dari hasil analisis diketahui bahwa pedagang bakso di

Kota Bogor umumnya adalah laki-laki yang berumur 20 sampai 60 tahun, usia

tersebut termasuk kedalam usia produktif untuk bekerja. Pendidikan formalnya,

sebagian besar pedagang bakso sapi mangkal adalah tamatan SMP (53%).

Sedangkan pedagang bakso keliling memiliki pendidikan Sekolah Menengah

Pertama 40%. Rata-rata jumlah tanggungan keluarga pedagang bakso sapi

mangkal berkisar antara 3 sampai 5 orang (54%) yang terdiri dari sepasang suami

isteri dan sejumlah anak. Sedangkan jumlah tanggungan keluarga para pedagang

bakso keliling rata-rata dibawah tiga orang yaitu sebanyak 12 responden (80%).

Pengalaman usaha responden sebagai pedagang bakso sapi mangkal berkisar

antara satu sampai tiga puluh tahun. Sebagian besar responden mempunyai

pengalaman usaha berkisar antara 0-5 tahun yaitu sebanyak 6 responden (40%).

Sedangkan pengalaman usaha responden sebagai pedagang bakso sapi keliling

lebih sedikit disbanding dengan pelaku usaha bakso mangkal. Pengalaman usaha

19
bakso keliling yang telah dijalankannya berkisar dari 1-5 tahun yaitu sebanyak 10

responden (67%). Pedagang bakso sapi mangkal umumnya berasal dari daerah

Jawa Tengah (60%). Sebagian besar pedagang bakso keliling yang ditemui di

Kotamadya Bogor berasal dari daerah sekitar Bogor (60%). Usaha dagang bakso

yang mereka jalankan merupakan pekerjaan pokok karena sulitnya memperoleh

lapangan kerja di daerah perkotaan, walaupun para pedagang bakso tersebut harus

bersaing dengan pedagang bakso sapi dari luar daerah bogor yang sama-sama

berprofesi sebagai pedagang bakso.

Rata-rata pendapatan yang didapatkan pedagang bakso mangkal per bulan

dikelompokkan menjadi tiga skala berdasarkan penerimaannya yakni pedagang

bakso mangkal yang memiliki penerimaan di bawah 25 juta (skala mikro),

penerimaan pedagang bakso mangkal sebesar 25 juta hingga 100 juta (skala kecil)

dan penerimaan di atas 100 juta (skala menengah). Adapun pendapatan yang

didapatkan oleh pedagang skala mikro sebesar Rp 3.440.948, pendapatan skala

kecil Rp 42.780.947 dan skala menengah Rp 74.298.767 dengan R/C Rasio yang

diperoleh sebesar 1,66. Sedangkan rata-rata pendapatan pedagang bakso keliling

sebesar Rp 1.464.322 per bulan dengan R/C rasio 1,23. Perbedaan pendapatan

antara pedagang bakso mangkal dengan pedagang bakso keliling adalah dari

jumlah penerimaan yang didapatkan oleh pelaku usaha bakso. Harga yang

ditawarkan oleh pelaku usaha tersebut juga memiliki perbedaan. Pedagang bakso

mangkal menawarkan harga kepada konsumen mulai dari harga per mangkok Rp

6.000 hingga Rp 12.000 per mangkok. Sedangkan pedagang bakso keliling

menawarkan harga per mangkok lebih murah dibanding dengan pedagang bakso

20
mangkal. Harga yang ditawarkan mulai dari Rp 5.000 per mangkok hingga Rp

8.000. Harga kapasitas yang diproduksi juga berbeda sehingga memiliki

perbedaan jumlah yang terjual dalam satu hari tersebut juga berbeda. Dengan uji

Mann-Whithney terhadap R/C rasio yang didapatkan oleh pedagang bakso

mangkal dibandingkan dengan pedagang bakso keliling menunjukkan tingkat

keuntungan 1.66 bagi pedagang bakso mangkal sedangkal tingkat keuntungan

bagi pedagang bakso keliling sebesar 1.23. dengan uji tersebut menunjukkan

keuntungan usaha kedua kelompok pedagang tersebut berbeda nyata, lebih

menguntungkan pedagang bakso mangkal.

Penelitian yang dilakukan Yuliadini (2000) yang berjudul Analisis

Pendapatan dan Faktor Kewirausahaan Pedagang Bakso Sapi Keliling di Kota

Bogor Jawa Barat. Metode analisis data: Analisis Pendapatan, Analisis Regresi

Linier Berganda. Hasil penelitian: Rata-rata pendapatan pedagang bakso sapi keliling di

Kota Bogor sebesar Rp 5.648.580,79/tahun/pedagang, Faktor-faktor yang mempengaruhi

perilaku kewirausahaan pedagang bakso sapi keliling di Kota Bogor adalah pendidikan,

pengalaman usaha, motivasi dan lokasi usaha berpengaruh secara signifikan terhadap

perilaku kewirausahaan dengan nilai F = 35,24 pada taraf signifikan 0,01.

A. A. Istri Agung Vera Laksmi Dewi N. Djinar Setiawina I G. B. Indrajaya

Magister Ilmu Ekonomi Universitas Udayana 2012 yang berjudul Analisis Pendapatan

Pedagang Canang Di Kabupaten Badung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

pengaruh curahan jam kerja, jumlah pekerja, modal usaha, dan lokasi usaha terhadap

pendapatan pedagang canang secara serempak dan parsial di Kabupaten Badung.

Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linier berganda. Hasil pengujian

menunjukkan variabel Curahan jam kerja, Jumlah tenaga kerja, Modal usaha dan Lokasi

21
usaha secara serempak berpengaruh terhadap pendapatan Pedagang canang di Kabupaten

Badung. Dari keempat variabel yang digunakan Curahan jam kerja, Jumlah tenaga kerja,

Modal usaha dan Lokasi usaha secara parsial menunjukkan adanya pengaruh positif dan

signifikan terhadap pendapatan Pedagang canang di Kabupaten Badung.

2.3 Kerangka Pemikiran

Sektor informal terdiri dari usaha kecil dan dagang kecil. Usaha kecil

adalah suatu unit ekonomi yang melakukan aktivitas dengan tujuan menghasilkan

barang dan jasa untuk dijual atau ditukar dengan barang lain serta ada seseorang

atau yang lebih bertanggung jawab dan punya kewenangan untuk mengelola

usaha tersebut. Sedangkan dagang kecil terbatas pada usaha yang dilakukan pada

lokasi atau tempat yang tidak tetap atau dilakukan pada suatu tempat yang tetap

namun tempat perlengkapan usahanya dipindah-pindahkan. Dalam penelitian ini

pedagang bakso termasuk dalam dagang kecil. Banyak jenis usaha sektor

informal, seperti: Sate padang, pedagang bakso, nasi uduk pecel lele, pedagang

tekwan, pedagang bandrek. Pada penelitian ini peneliti memfokuskan usaha

informal yaitu usaha bakso pada kecamatan Alam Barajo, dalam penelitian ini

meneliti tentang biaya tetap, antara lain biaya dari usaha bakso adalah: sewa

tempat, gaji karyawan, listrik, air serta penyusutan peralatan. Biaya variable:

daging sapi, gandum, tepung tapioka, soda kue, vetsin, garam, cabe, kecap, saos,

daun seledri, bawang goreng, mie kuning, mie putih, daun bawang, bawang

merah, bawang putih dan lain-lain. Karakteistik sosial dan ekonomi: umur, jenis

kelamin, tingkat pendidikan, status perkawinan. Berdasarkan dari uraian tersebut

maka dapat digambarkan alur penelitian ini adalah sebagai berikut:

22
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

Sektor Formal Dan Informal

Sektor Formal Sektor Informal

Pedagang Pedagang Nasi Uduk Pedagang Pedagang


Sate Bakso Pecel Lele Tekwan Bandrek

Struktur Biaya Pedagang Bakso

Karakteristik Sosial Ekonomi Biaya Tetap Biaya Variabel

1. Umur 1. Sewa Tempat 1. Daging Sapi 8. Kecap


2. Jenis Kelamin 2. Gaji Karyawan 2. Gandum 9. Saos
3. Tingkat 3. Listrik 3. Tepung Tapioka 10. Daun Seledri
pendidikan 4. Air 4. Soda Kue 11. Bwng Goreng
4. Status Perkawinan 5. Penyusutan
5. Vetsin 12. Mie kuning
5. Jam Buka Peralatan
6. Garam 13. Mie Putih
6. Asal Daerah
7. Cabe 14. dll

23
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode survei. Survei adalah

suatu tindakan mengukur atau memperkirakan, melakukan pengamatan, di mana

indikator mengenai variabel adalah jawaban-jawaban terhadap pertanyaan yang

diberikan kepada responden baik secara lisan maupun tulisan.

3.2. Jenis Dan Sumber Data

3.2.1. Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini, penulis menggunakan dua

sumber data yaitu:

1. Data primer

Data yang diambil langsung dari pedagang bakso di Kecamatan Alam

Barajo. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi atau

pengamatan yaitu dilakukan dengan meninjau lokasi objek yang diteliti guna

mengetahui keadaan sebenarnya. Selain itu juga dilakukan dengan cara interview

atau wawancara dengan tujuan untuk mendapatkan informasi dan data akurat.

2. Data sekunder
Data sekunder adalah data berkala yang dikumpulkan untuk

menggambarkan tentang perkembangan suatu negara dari waktu ke waktu yang

diperoleh dari instansi terkait yang ada hubungannya dengan penelitian.

3.2.2. Sumber Data

24
Jenis sumber data adalah mengenai dari mana data diperoleh. Apakah data

diperoleh dari sumber langsung (data primer) atau data diperoleh dari sumber

tidak langsung (data sekunder). Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini

merupakan data primer karena data tersebut didapat secara langsung dari

pedagang bakso.

3.3. Lokasi Penelitian dan Metode Penarikan Sampel

1. Lokasi

Penelitian dilakukan terhadap pedagang bakso di Kecamatan Alam Barajo,

Jambi. Pemilihan lokasi dilakukan dengan alasan bahwa usaha bakso di

Kecamatan Alam Barajo mudah ditemui diberbagai tempat sehingga memiliki

prospek yang baik bagi iklim usaha makanan dengan melihat banyaknya para

pelaku usaha yang bergerak dalam usaha ini baik masih dalam usaha kecil,

menengah dan skala besar, sehingga peneliti berkeinginan mengetahui

karakteristik yang dimiliki pedagang bakso di Kecamatan Alam Barajo serta

pendapatan yang dihasilkan oleh pedagang bakso di Kecamatan Alam Barajo

khususnya yang termasuk kriteria Usaha Kecil Menengah.

2. Populasi

Menurut Sugiyono (2000) populasi diartikan sebagai jumlah individu yang

setidaknya mempunyai satu ciri-ciri atau sifat yang sama. Populasi adalah

keseluruhan dimana hasil penelitian akan digeneralisasikan. Populasi dalam

penelitian ini adalah pedagang bakso di Kecamatan Alam Barajo berjumlah 30

pedagang.

25
3. Sampel

Sugiyono (2000) menyatakan bahwa sampel adalah bagian dari jumlah

karateristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Merujuk pada teori Arikunto

(2006) yang menyatakan bahwa bila jumlah populasi diatas seratus maka cukup

diambil 10-20% atau 20-30% sebagai sampel. Tapi jika populasi dibawah angka

seratus, maka sebaiknya populasi tersebut dijadikan sampel. Dalam penelitian ini

peneliti akan mengambil semua populasi sebagai sampel yaitu 30 peedagang.

3.4. Metode Analisis Data

Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode analisis

deskriptif, metode analisis kuantitatif dan analisis struktur biaya.

1. Untuk menjawab rumusan masalah pertama di jawab dengan

menggunakan metode analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan

kondisi sosial ekonomi pedagang bakso di Kecamatan Alam Barajo.

Berikutnya pada penelitian ini dijawab dengan menggunakan analisis

deskriftif kuantitatif dengan menggunakan tabulasi silang.

Tabulasi silang adalah analisis table silang (crosstabs) merupakan salah

satu analisis korelasional yang digunakan untuk melihat hubungan antara

variabel (minimal 2 variabel) kategori nominal atau ordinal.

Dimungkinkan pula adanya penambahan variabel control (C. Trihendradi,

2011)

2. Untuk menjawab rumusan masalah kedua di jawab dengan menggunakan

analisis struktur biaya digunakan untuk menganalisis struktur biaya

26
pedagang bakso di Kecamatan Alam Barajo. Analisis struktur biaya

dilakukan dengan mengelompokkan biaya yang terjadi pada usaha kecil.

Struktur biaya tersebut terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel.

Pada penelitian ini data yang diperoleh akan dianalisis seperti yang akan

diuraikan dibawah ini :

1. Total Cost (Biaya Produksi)

Untuk mengetahui besarnya biaya produksi yang digunakan dalam proses

produksi bakso di Kecamatan Alam Barajo Banjar digunakan rumus:

TC = FC + VC

Dimana:

TC (Total Cost) = Total biaya bakso perhari/Rupiah

FC (Fixed Cost) = Biaya Tetap: Dengan cara menambahkan seluruh

biaya tetap agar diketahui total biaya bakso modal awal. Adapun biaya

tetap sebagai berikut:

1. Sewa Tempat/Rupiah

2. Gaji Karyawan/Rupiah

3. Listrik/Rupiah

4. Air/Rupiah

5. Penyusutan Perlatan

VC (Variable Cost) = Biaya Variabel: Dengan menambahkan seluruh

biaya variable agar diketahui total biaya bakso perhari.

27
Adapun biaya variable adalah sebagai berikut:

1. Daging Sapi 8. Kecap

2. Gandum 9. Saos

3. Tepung Tapioka 10. Daun Seledri

4. Soda Kue 11. Bwng Goreng

5. Vetsin 12. Mie kuning

6. Garam 13. Mie Putih

7. Cabe 14. dll

2. Total Revenue (Tingkat Penerimaan)Bruto/Hari

Untuk mengetahui besarnya tingkat penerimaan digunakan rumus:

TR = PQ

Dimana:
TR (Total Revenue) = Total Penerimaan (Bruto)

P (Price) = Harga bakso per porsi/Rupiah

Q (Quantity) = Jumlah bakso/Mangkok

3. Untuk menjawab rumusan masalah ke tiga dijawab dengan menggunakan

rumus pendapatan, sebagai berikut:

Profit (Pendapatan) Netto/Bulan

Untuk mengetahui besarnya tingkat pendapatan yang diperoleh digunakan

rumus:

= TR-TC

Dimana:
(Profit) = Pendapatan bersih bakso/Rupiah

TR (Total Revenue) = Total Penerimaan kotor bakso/Rupiah

28
TC (Total Cost) = Total Biaya yang dikeluarkan bakso/Rupiah

3.5. Operasional Variabel

1. Pedagang kaki lima bakso atau disingkat PKL adalah istilah untuk

menyebut penjaja dagangan yang melakukan kegiatan komersial diatas

daerah milik jalan (DMJ/trotoar) yang (seharusnya) diperuntukkan untuk

pejalan kaki (pedestrian) (Orang)

2. PKL bakso, orang yang berjualan bakso dikecamatan Alam Barajo, jumlah

sampel yang di teliti (Orang)

3. Biaya, jumlah biaya yang di keluarkan untuk produksi bakso (Rupiah/Juta)

4. Karakteristik sosial dan ekonomi, jumlah orang atau pedagang bakso yang

di teliti (Orang)

5. Biaya total/total cost (TC) yaitu jumlah keseluruh biaya tetap dan biaya

variabel yang dikeluarkan oleh pedagang bakso untuk menghasilkan

sejumlah produk dalam suatu periode tertentu/Rupiah

6. Biaya tetap/fixed cost (FC) adalah biaya minimal yang harus dikeluarkan

oleh pedagang bakso agar dapat memproduksi barang atau jasa. Biaya ini

tidak dipengaruhi oleh banyak sedikitnya produk atau jasa yang dihasilkan,

nilainya tetap dan tidak berubah/Rupiah.

7. Biaya tidak tetap/variable cost (VC) adalah biaya yang besar kecilnya

tergantung dari sedikit atau banyaknya produk dan jasa yang akan

dihasilkan. Semakin besar produk yang ingin dihasilkan, biaya tidak tetap

akan semakin tinggi dan sebaliknya/Rupiah.

29
8. Price/harga (P), Harga adalah suatu nilai tukar yang bisa disamakan

dengan uang atau barang lain untuk manfaat yang diperoleh dari suatu

barang atau jasa bagi seseorang atau kelompok pada waktu tertentu dan

tempat tertentu dalam penelitian ini harga bakso per mangkok/Rupiah.

9. Quantity (Q) dinilai dari segi jumlah banyak nya porsi bakso/mangkok

10. Pendapatan bruto, pendapatan keseluruhan pedagang bakso sebelum

dikurangi biaya-biaya, dll/Rupiah.

11. Pendapatan netto, pendapatan bersih pedagang bakso setelah dikurangi,

biaya, dsb/Rupiah.

30