Anda di halaman 1dari 10

Proses Biomining

Biomining adalah proses ekstraksi mineral berharga dari bijihnya ataupun dari sisa tailing
pertambangan dengan menggunakan bantuan mikroorganisme khususnya bakteri. Biomining
ini merupakan teknologi yang efektif sekaligus ramah lingkungan
yang dapat digunakan untuk menambang logam dari bijihnya maupun mengekstrak logam dari
mineral berharga.

Biomining ini merupakan penerapan dari proses bioleaching dan/atau biooksidasi. Keduanya
memberikan pengertian berupa konversi mineral/logam yang berasal dari bijih mineralnya
(ores) menjadi bentuk yang lebih larut dalam air (bioleaching) ataupun dalam wujud residu
berupa padatan (biooksidasi) yang diaplikasikan dalam skala operasi yang lebih besar oleh
industri pertambangan.

Biomining pada Tembaga

Teknologi Biomining untuk memperoleh tembaga menggunakan prinsip dari proses


bioleaching yang mengubah bijih tembaga yang umumnya berbentuk tembaga sulfida tak larut
menjadi bentuk tembaga sulfat yang lebih larut dalam air. Proses ini bertujuan untuk
menciptakan kondisi asam dari senyawa sulfur yang tereduksi sehingga dapat
menghasilkan logam terlarut tembaga yang diinginkan untuk diproses lebih lanjut dalam proses
smelting. Mikroba yang digunakan adalah bakteri Acidithiobacillus ferrooxidans yang secara
alami hidup dan terdapat di dalam bijih mineral hasil tambang dan melalui biomining populasi
bakteri tersebut ditingkatkan dan digunakan dalam reaksi berbasis microbial leaching.
Proses reaksi utama pada bioleaching pada tembaga dimulai ketika terjadi oksidasi spontan dari
sulfida oleh ion Fe (III) yang dihasilkan dari proses oksidasi ion Fe (II) oleh bakteri A.
ferrooxidans. Fe (II) yang dioksidasi oleh bakteri ini terkandung secara alami dalam bijih
tembaga. Reaksi oksidasi spontan CuS dengan ion Fe (III)
berlangsung dalam kondsi anaerob (tidak ada O2) sehingga dihasilkan ion Cu (II) serta ion Fe
(II) pada akhir reaksinya. Efisiensi dari proses leaching ini dapat dilakukan dengan
menggunakan tempat pembuangan seperti kolam besar yang dalam untuk menciptakan kondisi
anoksigenik.

Proses berikutnya adalah tahapan yang disebut Metal Recovery dari Ion Cu (II) yang
terbentuk dari reaksi awal. Potongan besi atau besi rongsok (scrap steel ion) atau (Fe0)
ditambahkan ke dalam kolam pengendapan untuk memperoleh kembali tembaga dari cairan
leaching melalui proses reaksi kimia sehingga dihasilkan mineral tembaga yang lebih murni
(Cu0). Selain itu reaksi ini menghasilkan larutan kaya ion Fe(II) yang selanjutnya akan dipompa
kembali menuju kolam oksidasi yang tidak terlalu dalam untuk selanjutnya dioksidasi kembali
menjadi ion Fe (III) oleh bakteri pengoksidasi besi. Larutan asam yang mengandung ion Fe (III)
ini lalu dipompa kembali kebagian atas pengumpulan untuk selanjutnya ion Fe (III) ini
digunakan mengoksidasi kembali CuS untuk menghasilkan logam tembaga yang lebih larut
dalam air. Kolam leaching yang digunakan dalam proses biomining tembaga ini juga diatur
sedemikian rupa mengalami kenaikan temperatur pada tiap prosesnya yang juga mempengaruhi
jenis populasi mikroba yang berperan untuk mengoksidasi besi (ion Fe (II)). Dimulai dari A.
ferrooxidans yang aktif mengoksidasi dan hidup pada kisaran suhu 30oC, kemudian pada suhu
yang lebih tinggi digantikan oleh Leptospirilum ferrooxidans dan Sulfobacillus, lalu pada suhu
60-80oC proses oksidasi besi dilakukan oleh Arkea (Organisme yang hidup dalam lingkungan
ekstrim dan berbeda dengan bakteri) seperti Sulfolobus.

Proses Biomining ini terbagi menjadi 3 yaitu heap leaching, dump leaching, dan agitated
leaching. Dari ketiga proses biomining tersebut maka yang akan dipakai pada pengolahan
tembaga ini adalah heap leaching dimana prosesnya akan dilanjutkan dengan proses
bioleaching.

Heap leaching adalah suatu proses kimia dimana logam (tembaga) ditiriskan dari beberapa
bentuk mineral dalam batuan menjadi logam terlarut (misalnya dalam asam sulphate). Terdapat
dua jenis ore tembaga yang dapat dilakukan dengan proses heap leaching, yaitu

a. Bijih Cu Oksida
Didapatkan pada bagian atas ore body (permukaan pit)
Awalnya merupakan mineral sulfida, namun karena dengan adanya
udara/oxygen sehingga mineral sulfida tersebut teroxidasi menjadi mineral oxside.
Sangat mudah ditiriskan dengan menggunakan asam sulphate.
b. Bijih Cu Sulfida
Ditemukan pada kedalaman tertentu dari ore body (bagian dalam pit)
Daya larut dalam asam sulphate rendah
Harus menggunakan bantuan / katalis seperti besi dengan udara, bisa juga dengan
menggunakan bantuan bakteri jenis tertentu.
Proses Stacking
Sebelum dilakukan proses leaching ore yang berasal dari aglomerator dilakukan penyusunan.
Terdapat 2 jenis penyusunan atau biasa disebut dengan metode stacking. Antara lain Crest to
crest stacking atau toe to toe stacking. Metode Crest to Crest memiliki lebih banyak keuntungan
dibandingkan dengan metode toe to toe, antara lain memiliki area stacking yang lebih sedikit,
sehingga penggunaannya dapat lebih efisien karena lebih sedikit bagian slope/miring irigasi.
Lembah kecil akan terbentuk diantara kedua crest hanya pada ore sulfida sebagai ventilasi pada
heap aerasi. Sedangkan pada leaching oksida tidak boleh ada gap antara kedua crest.
Proses Kimia dari Leaching
Tembaga di ekstrak dari bijih/ore melalui proses leaching dimana tembaga akan dilarutkan dari
bijih. Proses kimia yang terjadi pada pross ni bergantung pada jenis bijih yang diolah. Mineral
sulfida berada lebih di dalam tanah pada area tambang disbanding oksida. Mineral sulfida yang
umum ditemukan adalah

(1) Chalcocite - Cu2S


(2) Chalcopyrite - CuFeS2

Jenis mineral ini tidak dapat dengan sendirinya terlindih/terlarutkan dalam proses leaching.
Sehingga dibutuhkan ferric sulphate Fe2(SO4)3 dengan jenis yang spesifik dalam proses
leaching. Ferric Sulfat terbentuk dari bekteri yang mengoksidasi besi dari cairan yang diirigasi,
Disini bakteri bekerja sebagai katalis dalam proses leaching sulfida.
Dalam reaksi ini dibutuhkan adanya oksigen dan aliran udara yang melalui proses heap ini. Dan
sangat dibutuhkan heap/tumpukan ini mudah dilalui oleh aliran udara dan larutan. Dan perlu
dicatat bahwa aliran udara tidak bisa masuk jika gundukan/heap dipenuhi oleh larutan, sehingga
kecepatan irigasi harus diatur.
Ada beberapa metode untuk meningkatkan aliran udara ke dalam gundukan/ heap. Hal ini
termasuk dengan menggunakan udara bertekanan dan rest cycle, yaitu ketika proses irigasi
dihentikan maka udara dapat masuk ke dalam heap.
Dalam proses heap leaching ada 3 jeis bakteri yang dapat digunakan :
(1) Thiobacillus Ferrooxidans
(2) Thiobacillus Thiooxidans
(3) Leptospillrum Ferroxidans

Diagram alir pengolahan heap leaching


pemisahan jenis batuan dan pemisahan kadar bijih tembaga

pengecilan ukuran menggunakan alat crusher atau proses agglomerasi

pembuatan heap/ tumpukan yaitu proses stacking

dipasang pipa-pipa untuk mengalirkan larutan sulfat dengan konsentrasi tertentu (misalnya 40
gram/liter) yang kemudian melarutkan tembaga secara perlahan

heap yang baru distacking diirigasi oleh ILS sehingga menghasilkan off flow tembaga dengan kadar
tinggi dan langsung dialirkan ke PLS. Heap yang sudah lama dan telah diirigasi akan diirigasi lagi
oleh RAFF dan dialirkan ke ILS

ILS/ RAFF yang dialirkan ke heap/ tumpukan melalui sistem irigasi untuk me-leaching tembaga dari
bijih. Selanjutnya terkumpul hasil leachingnya pada lapisan drainase dan dialirkan langsung ke pipa
off flow menuju PLS atau ILS, dan dari w-drain akan dikumpulkan ke kolam masing-masing

PLS dicampurkan dengan pengaduk kecepatan tinggi menggunakan solvent organic sehingga terbentuk 2 fase :
fase organic (20%-70% kerosin) dan aqueous (larutan yang kandungan tembaga telah berkurang tetapi masih
bersifat asam 1%-2%) yang disebut sebagai Rafinat/ ILS (Intermediate Leach Solution). * Rafinat: kadar asam
tinggi, kadar tembaga rendah; ILS: kadar asam rendah, tembaga tinggi

fase organic dicampur dengan larutan asam sulfat dengan konsentrasi lebih tinggi (misalnya 190
gram/ liter) dan tembaga kembali ke fase larutan bukan organic dan fase organic dikembalikan ke
proses sebelumnya untuk kembali mengikat tembaga

tembaga yang berkadar tinggi dalam larutan asam sulfat (misalnya 190 gram/ liter berkisar 40-50
gram/ liter) dapat langsung dielektrolisis dengan katoda dari stainlessteel dan timbal dan anoda
larutan kaya tembaga (Proses SX-Solvent extraction dan EW-Electrowinning)

dihasilkan tembaga murni dengan kadar mencapai 99.9% tembaga hasil SX/ EW
Skema tata letak proses pengolahan dan pemurnian

Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :


Bacteria
3FeSO4 + 0.7502(air) Fe2 (SO4)3 + FeO.OH
Bacteria
S + H2O + 1.502 (air) H2SO4
Bijih sulfida akan mudah terlindih/leached dengan adanya ferric sulphate, reaksinya sbb :

Chalcocite : Cu2S + Fe2(SO4)3 CuSO4 + CuS + 2FeSO4


Covellite : CuS + Fe2(SO4)3 CuSO4 + 2FeSO4 + S
Kecepatan leaching dari chalcopyrite sangat rendah, dan sangat tidak ekonomis di dalam proses
leaching. Pada proses ini hanya chalcocite dan covellite lah yang dapat di leaching dengan baik.
Berikut dalah reaksi chalcopyrite pada proses leaching, yang berjalan lambat:
Chalcopyrite:
CuFeS2 + 2Fe2 (SO4)3 CuSO4 + 2S + 5FeSO4Chalcopyrite + ferric sulphate copper
sulphate + sulphur + ferrous sulphate.
Bornite:
Cu5FeS4 + 6Fe2 (SO4)3 5CuSO4 + 4S + 13FeSO4
gambaran singkat proses heap leach tembaga

Solvent Extraction
Dalam proses elektrowinning sangat direkomendasikan untukmelakukan proses bila kadar dari
tembaga pada elektrolit diatas 35 gram/liter. Tujuannya agar kandungan tembaga terjamin
selalu tersedia untuk dapatmelapisi permukaan katoda, selain itu juga agar didapatkan
kehalusan, kepadatan, kemurnian yang tinggi, dan layak jual pada tembaga dikatoda. Maka dari
itulah dilakukan solvent extraction. Karena solvent extraction mampu untuk menyediakannya.
Cara melakukan proses solvent extraction yaitu:
1. Mencampurkan larutan hasil pelindian dengan ekstrak larutan organic khusus tembaga
2. Memisahkan secara gravitasi larutan leaching yang tembaganya sudah dikosongkan
(raffinate) dari tembaga yang menyimpan ekstrak organik.
3. Mengirim kembali raffinate yang memiliki Cu rendah ke prosesleaching.
4. Mengirim tembaga yang menyimpan ekstraktan organik untuk kontak dengan H2SO4 kuat
elektrolit electrowinning (170-200 gram H2SO4/ liter), menyebabkan Cu dari organik dan
menjadi elektrolit.
5. Memisahkan dengan gravitasi ekstraktan organik Cu yang akan dipisahkan dari larutan
elektrolit yang diperkaya Cu++.
6. Selanjutnya ekstraktan organik yang dipisahkan, digabungkan dengan pregnant leach
solution.
7. Mengirim elektrolit yang diperkaya Cu++ ke elektrowinning dimana Cu++ sendiri dalam
elektrodeposit adalah sebagai logam tembaga murni
Electrowinning
Prinsip dasar dari kerja electrowinning Cu sesuai dengan prinsip elektrolisis, dimana anoda
oksidasi (+) dan katoda reduksi (-), konduktor listrik untuk membawa arus, dan elektrolit
sebagai konduktor ion. Menggunakan larutan kaya hasil leaching (CuSO4). Cu dalam elektrolit
disebut elektrowon sebagai logam tembaga murni. Anoda yang dipakai lembaran paduan Pb-
Sn-Ca hasil roll dan katodanya lembaran Stainless Steel polos. Waktu produksinya sekitar 1
minggu pengerjaan dengan kandungan tembaga pada elektrolit umumnya sekitar 45 gram/liter.
Produk electrowinning adalah:

1. Logam tembaga murni di katoda


2. Gas oksigen di anoda
3. Regenerasi asam sulfat dalam larutan.Laju pelapisan umumnya berkisar 0,25 - 0,5 kg
Cu/ jam pada katoda.
Electrowinning berlangsung dengan merendam katoda logam dan anoda inert (tapi konduktif)
di elektrolit CuSO4-H2SO4-H2O untuk dapat menjalankan prosesnya, memberikan potensial
listrik antara anoda dan katoda, pelapisan logam tembaga murni dari elektrolit ke katoda,
kebutuhan energi untuk electrowining 2000 kWh/ ton tembaga dan tahanan listrik 300 A/m2,
serta dilakukan pada temperatur sekitar 65oC. Keberhasilan dari proses electrowinning
ditentukan dengan efisiensi arus diatas 95%.
Reaksi pada katoda:
Cu++ + 2e- Cu0 0 = + 0,34 V (2)
Reaksi pada anoda:
H2O H+ + OH- O2 + 2H+ + 2e- 0 = -1.23 V (3)
Reaksi keseluruhan:
Cu++ + SO4-- + H2O Cu0 + O2 + 2H+ + SO4-- 0 = 0,89 V (4)
Appanna, V., Lemire, J., Hnatiuk, R. 2013. Biomining A Green Technology to Mine Valuable
Metals. Canada : Departement of Chemistry Laurentian University of Sudbury.

Devasia, P. dan Natarajan, K. A. 2004. Bacterial Leaching : Biotechnology in the Mining


Industry. New Delhi : Resonance Press.

Madigan, M.T., Martinko, J.M., Stahl, D.A., Clark, D.P. 2012. Brock Microbiology of
Microorganism. San Fransisco : Pearson Benjamin cummings. Hal : 710

Siddiqui, M.H., Kumar, A., Kesari, K. K., Arif, J.M. 2009. Biomining - A Useful Approach
Toward Metal Extraction. American-Eurasian Journal of Agronomy, 2(2) : 84-88.

Willey, J.M., Sherwood, L.M., Woolverton, C.J. 2008. Prescott, Harley and Klein's
Microbiology 7th Edition. New York : McGraw-Hill Companies. Hal : 1101