Anda di halaman 1dari 24

SKENARIO V

PELANGI DI MATAMU

Ny. Susi 65 tahun datang ke IGD RS Muhammadiyah Purwokerto dengan


keluhan nyeri dan merah pada mata kanan disertai mual dan muntah sejak 2 hari
yang lalu. Penderita juga mengeluh bila melihat cahaya lampu tampak seperti
pelangi. Keluhan tersebut baru pertama kali dirasakannya. Sebelumnya
penglihatan mata kanan dan kiri sudah berkurang sejak 6 bulan yang lalu. Namun
tidak disertai nyeri dan merah pada matanya. Dia menyadari bahwa penurunan
penglihatan ini terutama memburuk pada cahaya terang.

1
BAB I

KLARIFIKASI ISTILAH

1.1 Cahaya lampu tampak seperti pelangi (Halo)


Merupakan keadaan khas pada glaukoma sudut tertutup akibat edema epitel
kornea. (Vaughan, 2010)

BAB II
IDENTIFIKASI MASALAH

2.1 Mengapa Ny. Susi mengeluhkan mata kanannya merah dan nyeri?
2.2 Mengapa keluhan Ny. Susi disertai mual dan muntah?
2.3 Mengapa jika melihat cahaya lampu seperti melihat pelangi?
2.4 Apakah ada hubungan antara keluhan 6 bulan yang lalu dengan keluhan
sekarang?
2.5 Mengapa keluhan diperparah saat melihat cahaya terang?

2
BAB III

CURAH PENDAPAT

3.1 Mengapa Ny. Susi mengeluhkan mata kanannya merah dan nyeri?
Mata merah dikarenakan adanya pelebaran pembuluh darah. Selain
pelebaran pembuluh darah bisa juga disebabkan karena pecahnya pembuluh
darah. penyumbatan aliran humor akueus dan tekanan intraokular meningkat
dengan cepat, menimbulkan nyeri hebat. (Vaughan, 2010)
3.2 Mengapa keluhan Ny. Susi disertai mual dan muntah?
Gangguan aliran darah di konjungtiva dan badan silier Vasodilatasi
pembuluh darah arteri ciliaris anterior dan arteri konjungtiva Nyeri

3
Pusat muntah terangsang di medula oblongata Saraf otonom parasimpatis
ke saluran cerna (N.Vagus) Mual dan Muntah

TIO meningkat

Menekan lapisan retina

Menekan discus nervi optici

Mempengaruhi saraf optik N V


cabang I

Nyeri tumpul pada obita

Merangsang saraf parasimpatis

Mengeluarkan asetilkolin

Masuk ke ootak

Direspon dan menekan (Vaughan, 2009)


reseptor
3.3 Mengapa jika melihat cahaya lampuuntah
seperti melihat pelangi?

Penyumbatan padaMual
canalis schlemm & trabecula meshwork
- muntah
+
Produksi aquos humor terus menerus

Penumpukan aquos humor di mata

Indeks bias media refrakta berubah

Cahaya yang masuk mata akan dibiaskan secara dispersi

Didispersikan menjadi 7 warna (pelangi) Bentukdispersi lingkaran mengikuti

4
bentuk oculi

Halo/ Lingkaran pelangi


(Martini. 2001)
3.4 Apakah ada hubungan antara keluhan 6 bulan yang lalu dengan
keluhan sekarang?
Pasien mengeluh pada 6 bulan yang lalu yaitu penglihatannya mulai
berkurang namun tidak nyeri dan merah. Salah satu factor yang berperngaruh
adalah factor usia karena Ny. Susi sudah berusia 65 tahun. Pada usia tua maka
terjadi degenerasi pada sel-sel yang ada di mata, begitu pula pada lensa.
Denaturasi protein lensa akan menyebabkan pembesaran lensa kristalina yang
nantinya lensa dan iris akan menempel (sinekia anterior) dan akan
menyebabkan terhambatnya aliran humor aquosus. Humor aquosus akan
dialirkan ke kanalis schlem yang nantinya akan ke pembuluh vena. Ketika
aliran terhambat, maka dapat menyebabnya penyakit glaucoma sudut tertutup
(ilyas, 2004).
3.5 Mengapa keluhan diperparah saat melihat cahaya terang?
Keluhan diperparah saat melihat cahay terang karena mata menjadi
sensitif ditempat terang dan nyaman ditempat lebih gelap oleh karena adanya
kekeruhan pada lensa sehingga cahaya yang masuk susah untuk difokuskan
sehingga penurunan penglihatan memburuk pada cahaya terang. ( Khanski JJ,
2007 )

Cahaya masuk

Difokuskan
oleh lensa
Mekanisme penglihatan mata menurun saat melihat cahaya terang
Lensa keruh

Mata susah
memfokuskan
saat terang

Nyaman melihat gelap


( Khanski JJ, 2007)
Ny susi 65
BAB IV
tahun

ANALISIS MASALAH
Faktor resiko: Kongenital, DD: Glukoma
Keluhan : mual.
obat-obatan, nutrisi, katarak, primer, glukoma
Muntah, halo
kelainan lensa, uvea, trauma, sekunder, glukoma
pelangi,penurunan
trombosis vena, kongenital,
penglihatan
pembedahan glukoma absolut

PF: TIO
meningkat

Menekan ke arah depan


iskemik Menekan lapisan
retina

Endotel kornea rusak


nyeri Apoptosis sel ganglion

Edema kornea (index


hipotalamus bias berubah
Akson di N. II menurun

Sampaikan Atrofi discus N. optici Cahaya dibiaskan


implus saraf secara dispersi
N.V
Pembesaran cawan optik
la
Menjadi 7 warna
Refluks
Lapang pandang 6
menurun
Mual dan
muntah
BAB V

SASARAN BELAJAR

5.1 Jelaskan mengenai definisi, etiologi, epidemiologi, patofisiologi, klasifikasi


dan faktor resiko glaukoma

5.2 Jelaskan penegakkan diagnosis glaukoma beserta komplikasinya

5.3 Jelaskan penatalaksanaan glaukoma

7
BAB VI

BELAJAR MANDIRI

8
BAB VII

BERBAGI INFORMASI

7.1 Jelaskan mengenai definisi, etiologi, epidemiologi, patofisiologi, klasifikasi


dan faktor resiko glaukoma

7.1.1 DEFINISI

Glaukoma adalah suatu neuropati kronik didapat yang ditandai oleh


pencekungan discus opticus dan pengecilan lapang pandang, biasanya disertai
peningkatan TIO. (Vaughan, 2010)

7.1.2 ETIOLOGI

9
Primer Kongenital Sekunder

Rubella Gangguan Sindrom


Glaukoma Primer
Glaukoma kongenital pigmentasi eksfoliasi
sudut sudut
terbuka tertutup pasca
trauma
operasi

gangguan katarak
neurovaskular

DM

kortikosteroid
jangka panjang

(Vaughan, 2010)

7.1.3 EPIDEMIOLOGI

Epidemiologi kasus ini, dari riskesdas tahun 2007 menyatakan DKI


jakarta adalah tempat dengan kasus glaukoma terbanyak di indonesia.

10
Selain itu, pada Juli 2013 Juni 2014, didapatkan data dari perdami
yaitu kasus glaukoma tertinggi kasus baru adalah di RS Yap Yogyakarta.
Kasus glaukoma lama tertinggi terdapat di RSCM jakarta. Pasien baru
paling banyak berada di RS Undaan surabaya. Sedangkan pasien lama
paling banyak terdapat di RSCM Jakarta. (Kemenkes, 2015)

7.1.4 KLASIFIKASI

Klasifikasi glaukoma adalah:

I. Glaukoma Sudut Terbuka :

1. Glaukoma Sudut Terbuka Primer


2. Glaukoma Bertekanan Normal
3. Glaukoma Juvenile
4. Suspek Glaukoma
5. Glaukoma Sudut Terbuka Sekunder

II. Glaukoma Sudut Tertutup

1. Glaukoma Sudut Tertutup Primer


i.Akut
ii.Subakut
iii.Kronik
2. Glaukoma Sudut Tertutup Sekunder dengan Blok Pupil
3. Glaukoma Sudut Tertutup Sekunder Tanpa Blok Pupil
4. Sindroma Iris Plateau

III. Glaukoma kongenital

11
1. Glaukoma primer
2. Glaukoma yang berhubungan dengan kelainan bawaan
3. Glaukoma sekunder pada anak-anak dan bayi

(Vaughan, 2010)

7.1.5 PATOFISIOLOGI

12
Kongenital, obat-obatan,
nutrisi, katarak, kelainan
lensa, uvea, trauma,
trombosis vena, pembedahan

TIO meningkat

iskemik Menekan lapisan Menekan ke arah


retina depan

nyeri Endotel kornea


Apoptosis sel ganglion rusak

hipotalamus
Akson di N. II menurun
Edema kornea (index
bias berubah)
Sampaikan
implus saraf Atrofi discus N. optici
N.V
Pembesaran cawan optik Cahaya dibiaskan
la secara dispersi

Refluks

Lapang pandang Menjadi 7 warna


Mual dan menurun
muntah

13
A. Patofisologi Glukoma Sudut Tertutup

Penurunan penglihatan pada glaukoma terjadi karena adanya apoptosis


sel ganglion retina yang menyebabkan penipisan lapisan serat saraf dan
lapisan inti dalam retina serta berkurangnya akson di nervus optikus.
Diskus optikus menjadi atrofi disertai pembesaran cawan optik.Kerusakan
saraf dapat dipengaruhi oleh peningkatan tekanan intraokuler. Semakin
tinggi tekanan intraokuler semakin besar kerusakan saraf pada bola mata.
Pada bola mata normal tekanan intraokuler memiliki kisaran 10-22 mmHg.
Tekanan intraokuler pada glaukoma sudut tertutup akut dapat mencapai
60-80 mmHg, sehingga dapat menimbulkan kerusakan iskemik akut pada
iris yang disertai dengan edema kornea dan kerusakan nervus optikus.
(Ilyas, 2005) (Kanski, 2007).

B. Patofisologi Glukoma Sudut Terbuka

Bendungan aliran humor


aquosus di trabecular
meshwork

Degenarasi trabecular
weshwork

Pengendapan materi extraksel di


lapisan endotel

Celah trabecular menyempit

Humor aquosus tertahan di cavitas


anterior

TIO meningkat

Glaukoma sudut terbuka primer terdapat kecenderungan familial yang


kuat. Gambaran patologi utama berupa proses degeneratif trabekular

14
meshwork sehingga dapat mengakibatkan penurunan drainase humor
aquos yang menyebabkan peningkatan takanan intraokuler. Pada 99%
penderita glaukoma primer sudut terbuka terdapat hambatan pengeluaran
humor aquos pada sistem trabekulum dan kanalis schlemm.(Ilyas, 2005)
(Kanski, 2007).

7.1.6 Faktor Resiko

Beberapa faktor resiko yang dapat mengarah pada glaukoma adalah :

1. Tekanan darah rendah atau tinggi

2. Fenomena autoimun

3. Degenerasi primer sel ganglion

4. Usia di atas 45 tahun

5. Keluarga mempunyai riwayat glaukoma

6. Miopia atau hipermetropia

7. Pasca bedah dengan hifema atau infeksi

Sedangkan beberapa hal yang memperberat resiko glaukoma adalah :

1. Tekanan bola mata, makin tinggi makin berat

2. Makin tua usia, makin berat

3. Hipertensi, resiko 6 kali lebih sering

4. Kerja las, resiko 4 kali lebih sering

5. Keluarga penderita glaukoma, resiko 4 kali lebih sering

6. Tembakau, resiko 4 kali lebih sering

7. Miopia, resiko 2 kali lebih sering

15
8. Diabetes melitus, resiko 2 kali lebih sering

(Ilyas, 2002)

Faktor anatomis yang menyebabkan sudut sempit adalah :

1. Bulbus okuli yang pendek, biasanya pada mata yang hipermetrop.


Makin berat hipermetropnya makin dangkal bilik mata depannya.
2. Tumbuhnya lensa, menyebabkan bilik mata depan menjadi lebih
dangkal. Pada umur 25 tahun, dalamnya bilik mata depan rata-rata 3,6
mm, sedangkan pada umur 70 tahun 3,15 mm.
3. Kornea yang kecil, dengan sendirinya bilik mata depannya dangkal.
4. Tebalnya iris. Makin tebal iris, makin dangkal bilik mata depan.

(Lang, 2006)

7.2 Jelaskan penegakkan diagnosis glaukoma beserta komplikasinya

1. Anamnesis
- Nyeri dan merah pada mata kanan
- Mual dan muntah sejak 2 hari yang lalu
- Melihat cahaya seperti pelangi
- 6 bulan lalu penglihatan menurun tanpa nyeri dan merah -> tanda
katarak senilis
- Memburuk pada cahaya terang
2. PF

- OD : VOD 1/300, konjungtiva mixed injection, kornea keruh, COA :


dangkal, pupil dilatasi, refleks pupil (-), lensa mata sulit dinilai,
tekanan bola mata 35,8 mmHg.

- OS : VOS 6/60, konjungtiva injection (-), kornea jernih, COA :


kedalaman cukup, pupil bulat sentral, refleks pupil (+), lensa mata
keruh belum merata, tekanan bola mata 17,8 mmHg

Occuli Dextra :

a. VOD 1/300

16
- Interpretasi : penderiata mampu melihat lambaian tangan pada jarak
1 meter yang seharusnya dapat dilihat oleh mata normal pada jarak 300
meter. (kebutaan : V < 3/60)
- WHO Kadar Normal : 6/6 - 6/18

b. Konjungtiva mixed injection

- Interpretasi : abnormal karena terjadi pelebaran pembuluh darah


di cilia &sclera (sering pada penderita glaukoma).
- Kadar Normal : (-)

c. Kornea keruh

- Interpretasi : abnormal karena terjadi kelainan pada kornea mata


dan terdapat pada penderita glaukoma akut.
- Aliran aqeous humor perpindahan cairan intraokuler kekornea
Edema kornea Kornea keruh.
- Kadar Normal : (-) / bening

d. COA :

- Dangkal
Interpretasi : abnormal karena terjadi yang disebabkan iri terdorong
ke depan bilik mata mengakibata COA (camera okuli anterior)
dangkal.
- Kadar Normal : (-)

e. Pupil dilatasi

- Interpretasi : abnormal hal ini terjadi karena sebagai kompensasi


tubuh kita untuk mengatasi respon pupil yang menurun sehingga pupil
berdilatasi untuk menangkap cahaya lebih banyak.
- Kadar Normal : (-)

f. Refleks pupil (-)

- Interpretasi : kebutaan, hal ini terjadi karena pupil melakukan


kompensasi secara terus menerus untuk berdilatasi sehingga
mengakibatakan kerusakan pada pupil.
- Kadar Normal : (+)

g. Lensa mata sulit dinilai

17
- Interpretasi : abnormal karena lensa mata keruh
- Kadar Normal : mudah dinilai

h. Tekanan bola mata : 35,8 mmHg

- Interpretasi : tekanan intraoccular karena terjadi hamabatan pada


aliranhumor aqueous.
- Kadar Normal : 15-20mmHg
Occuli Sinistra :

a. VOS 6/60

- Interpretasi : pasien mampu melihat /membaca pada jarak 6


meter yang seharusnya dapat dibaca oleh mata normal pada jarak 60
meter.
- Kadar Normal : 6/6 - 6/18

b. COA :

lensa mata keruh belum merata


- Interpretasi : abnormal hal ini terjadi bayangan iris pd lensa
terlihat besar & letaknya jauh terhadap pupil berarti lensa belum keruh
seluruhnya atau belum merata (pada penderita katarak immatur).
- Kadar Normal : lensa mata tidak keruh

(Vaughan, 2010)
3. PP
- Genioskop
- Oftalmoskop
- Pemeriksaan lapang pandang
(Vaughan, 2010)
4. Komplikasi
- Sinekia anterior perifer
- Katarak
- Atrofi retina dan saraf optik
- Glaukoma absolut
(Vaughan, 2010)

18
7.3 Jelaskan penatalaksanaan glaukoma

Penatalaksanaan penyakit glaukoma antara lain:

a. Medikamentosa

1. Penekanan pembentukan humor aqueus, antara lain:

- adrenegik bloker topikal seperti timolol maleate 0,25 - 0,50 % 2 kali


sehari, betaxolol 0.25% dan 0.5%, levobunolol 0.25% dan 0.5%,
metipranolol 0.3%, dan carteolol 1%

- Apraklonidin

- Inhibitor karbonik anhidrase seperti asetazolamid (diamox) oral 250


mg 2 kali sehari, diklorofenamid, metazolamid

2. Meningkatkan aliran keluar humor aqueus seperti:

Prostaglandin analog, golongan parasimpatomimetik, contoh:


pilokarpin tetes mata 1 - 4 %, 4-6 kali sehari, karbakol, golongan
epinefrin .

3. Penurunan volume korpus vitreus.

4. Obat-obat miotik, midriatikum, siklopegik

19
(Blanco AA,2002)(Kanski, 2007)(Khaw, 2005)

20
b. Terapi operatif dan laser

1. Iridektomi dan iridotomi perifer

2. Bedah drainase glaukoma dengan trabekulektomi, goniotomi

21
3. Argon Laser Trabeculoplasty (ALT).

(Blanco AA,2002)(Kanski, 2007)(Khaw, 2005)

22
BAB VIII

PENUTUP

8.1 Kesimpulan

Glaukoma adalah penyakit yang menyerang saraf mata (optic nerve)


manusia, hingga terjadi kerusakan struktur dan fungsional saraf yang
bersesuaian. Kerusakan tersebut dapat terjadi secara mendadak atau perlahan
tergantung pada tekanan bola mata penderitanya. Kerusakan yang terjadi akan
menyebabkan gangguan penglihatan. Gejala yang dialami oleh penderita
glaukoma sangat beragam tergantung pada jenis glaukoma yang diderita,
apakah akut atau kronik. Gejala glaukoma akut sangat jelas, karena penderita
akan merasakan sakit kepala, mata sangat pegal, mual dan bahkan muntah.
Penglihatan akan terasa buram dan melihat pelangi di sekitar lampu. Mata
penderita akan terlihat merah.

8.2 Saran

Mahasiswa dapat mengerti dan memehami hasil diskusi serta lebih aktif
menyampaikan pendapat. Mahasisw berdiskusi harus lebih banyak
mencari informasi dan membaca literatur untuk menunjang kelancaran
diskus.

23
DAFTAR PUSTAKA

Blanco AA, Costa VP, Wilson RP. 2002. Handbook of Glaucoma. London:
Martin Dunitz

Ilyas, Sidartha. 2002. Glaukoma. dalam: Ilmu Penyakit Mata, edisi 3. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI

Ilyas , Sidarta. 2004. Ilmu Penyakit Mata Edisi Ketiga. Jakarta : FKUI

Kanski JJ. 2007. Clinical Ophthalmology 3rd Ed. Oxford: Butterworth-


Heinemann

Khaw T, Shah P, Elkington AR. 2005. ABC of Eyes 4th Edition. London: BMJ
Publishing Group

Lang, GK. 2006. Glaucoma In Ophthalmology A Pocket Textbook Atlas 2nd


edition . Germany.

Martini F.H., Welch K. 2001. Fundamentals of Anantomy and Physiology. 5th ed.
New Jersey : Upper Saddle River.

Vaughan D. 2010. Oftalmologi Umum. Edisi 17. Jakarta : EGC

24