Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa.atas segala rahmat dan karunia-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Amerika Serikat sebagai negara
adidaya. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan materi
kuliahSejarah Amerika.

Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bentuk berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis
disini menyampaikan terima kasih kepada:

1. Dr. Suranto M.Pd.yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam pembuatan makalah
ini.

2. Teman-teman yang telah memberikan motivasi, dan telah memberikan masukkan-masukan


dalam pembuatan makalah ini

3. Para penulis yang sumber penulisannya telah kami kutip sebagai bahan rujukan

Penulis berharap makalah ini dapat memberikan manfaat kepada pembaca dan juga
membantu pembaca untuk lebih memahami mengenai materi peran Amerika Serikat sebagai
negara adidaya.Selain itu penulis juga menerima segala kritikan dan saran dari semua pihak demi
kesempurnaan makalah ini.

Jember, 05 Mei 2014

Penulis

DAFTAR ISI
halaman

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1................ Latar Belakang

1.2................ Rumusan Masalah

1.3................ Tujuan

BAB 2. PEMBAHASAN

2.1................ Awal Mula Negara Adidaya

2.2................ Kekuatan Amerika Serikat Sebagai Negara Adidaya

BAB 3. KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Amerika Serikat adalah sebuah republic federal yang terdiri dari 50 negara bagian dan
sebuah distrik federal.Kecuali Alaska (utara Kanada) dan Hawaii (lautan Pasifik), 48
negara bagian lainnya serta distrik federalnya terletak di Amerika Utara. Amerika Serikat
berbatasan dengan Meksiko dan Teluk Meksiko di sebelah selatan, dan denganKanada
di sebelah utara dan barat laut (eksklaveAlaska).Di sebelah barat, negara ini
berbatasan dengan Samudra Pasifik dan di sebelah timur dengan Samudra
Atlantik.Selain itu, Amerika Serikat juga memiliki beberapa daerah di Karibia dan Pasifik,
walaupun wilayah tersebut bukanlah bagian dari Amerika Serikat.
Dengan luas wilayah 9,83 juta km2 dan penduduk sebesar 309 juta jiwa, Amerika Serikat
adalah negara terbesar ke-3 atau ke-4 berdasarkan total luas wilayahnya dan terbesar ke-3
berdasarkan jumlah penduduk. Negara ini merupakan negara multietnis
dan multikultural, yang disebabkan oleh masuknya para imigran dari seluruh dunia.
Ekonomi Amerika Serikat merupakan ekonomi yang terbesar di dunia, dengan produk domestik
bruto (perkiraan 2008) sebesar US$14,4 triliun (seperempat dari PDB dunia
berdasarkan nominal dan seperlima berdasarkan paritas daya beli).

Sejarah perluasan wilayah Amerika Serikat selama kurang lebih dua ratus tahun dan tiga
belas negara koloni sepanjang pantai timur Atlantik menjadi sebuah negara
adidaya(superpower) pada abad ke-20 merupakan sebuah sejarah yang digambarkan oleh
Gardner dkk (1973) sebagai "the most increadible secular story in human history" atau kisah
yang sangat menakjubkan dalam sejarah umat manusia. Negara adidaya adalah negara yang
mengatur hampir segala bidang di dunia seperti ekonomi, kebudayaan, hiburan, bahkan politik.
Zaman ini, kita mengenal Amerika Serikat sebagai negara adidaya setelah mengalahkan Uni
Soviet pada perang dingin yang berlangsung antara tahun 1960-1989. Setelah mengalahkan Uni
Soviet yang sudah bubar, kini Amerika Serikat telah menjadi kekuatan raksasa dunia yang kita
sebut sebagai negara adidaya.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari pembahasan di atas antara lain sebagai berikut.

1. Bagaimana awal mula negara adidaya?

2. Bagaimana kekuatan Amerika Serikat sebagai negara adidaya?

1.3 Tujuan
Tujuan dari rumusan masalah yaitu untuk mengetahui dan memahami awal mula negara
adidaya dan kekuatan Amerika Serikat sebagai negara adidaya.

BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Awal Mula Negara Adidaya

Berakhirnya Perang Dunia II, memunculkan fenomena baru yaitu, negara super power
atau Negara adidaya. Negara tersebut adalah Amerika Serikat dan Uni Soviet. Kedua negara
tersebut berperan sangat penting dalam menjalankan kekuatan dunia dan stabilitas dunia.
Keduanya sama-sama berebut untuk menjadi yang paling unggul di dunia internasional. Mereka
memimpikan dapat berkuasa dan memimpin dunia seperti masa kejayaan Inggris dan Prancis
pada masa imperialis kuno. Namun, kekuasaan yang biasanya dilakukan pada masa imperialis
kuno sekarang sudah tidak mereka lakukan lagi.

Setelah Perang Dunia II berakhir, muncul beberapa peristiwa penting yang


mempengaruhi kehidupan bangsa-bangsa di dunia. Peristiwa-peristiwa itu antara lain yaitu:
Pertama, Amerika Serikat muncul sebagai salah satu negara pemenang perang di pihak Sekutu.
Peran Amerika Serikat sangat besar membantu negara-negara Eropa Barat untuk memperbaiki
kehidupan perekonomiannya setelah Perang Dunia II. Kedua, Uni Soviet juga muncul sebagai
negara besar pemenang perang dan berperan membangun perekonomian negara-negara Eropa
Timur. Ketiga, munculnya negara-negara yang baru merdeka setelah Perang Dunia II di wilayah
Eropa. Perang Dunia II yang berakhir dengan kemenangan di pihak Sekutu tidak terlepas dari
peran Uni Soviet, Uni Soviet membebaska Eropa Timur dari tangan Jerman. Sambil
membebaskan Eropa Timur dari tangan Jerman, Uni Soviet mempergunakan kesempatan itu
untuk meluaskan pengaruhnya, dengan cara mensponsori terjadinya perebutan kekuasaan di
berbagai negara Eropa Timur seperti di Bulgaria, Albania, Hongaria, Polandia, Rumania, dan
Cekoslowakia, sehingga negara-negara tersebut masuk kedalam pengaruh pemerintahan komunis
Uni Soviet.

Uni Soviet mengalami penguatan otoritas yang cukup berarti setelah Perang Dunia II.
Kerjasama diplomatik dengan 52 negara terbentuk pada saat itu. Uni Soviet pun turut serta dalam
Konferensi Paris tahun 1946, untuk membahas nasib negara-negara bekas sekutu Jerman seperti
Italia, Bulgaria, Hungaria, Rumania, dan Finlandia. Amerika Serikat bersama Uni Soviet juga
memprakarsai berdirinya PBB pada tahun 1945 bersama dengan kekuatan anti-Fasis lainnya.

Namun kemesraan hubungan negara-negara yang tergabung dalam koalisi anti-Fasisme


itu tidak bertahan lama dan semulus yang diharapkan. Pada tahun 1946, Stalin yang mengusung
ide Komunisme Internasional (Komintern) menuduh Inggris dan Amerika Serikat melancarkan
kebijakan-kebijakan internasional yang agresif. Tuduhan ini dijawab oleh Perdana Menteri
Inggris dengan menentang kekuatan yang disebutnya Komunis Timur, yang akhirnya
membelah sistem perpolitikan internasional menjadi dua.

Amerika Serikat dan Uni Soviet sebagai negara pemenang perang, muncul menjadi
kekuatan raksasa. Dua negara tersebut memiliki perbedaan ideologi, Amerika Serikat memiliki
ideologi liberal-kapitalis, sedangkan Uni Soviet berideologi sosialis-komunis. Dalam waktu
singkat memang pernah terjadi persahabatan diantara keduanya, namun kemudian muncul
antagonisme diantara mereka. Terjadi konflik, ketegangan, dan kompetisi antara Amerika Serikat
(beserta sekutunya disebut Blok Barat) dan Uni Soviet (beserta sekutunya disebut Blok Timur)
yang terjadi antara tahun 19471991. Persaingan keduanya terjadi diberbagai bidang: koalisi
militer, ideologi, psikologi, dan tilik sandi, militer, industri, dan pengembangan teknologi,
pertahanan, perlombaan nuklir dan persenjataan, dan banyak lagi. Ditakutkan bahwa perang ini
akan berakhir dengan perang nuklir, yang akhirnya tidak terjadi. Istilah "Perang Dingin" sendiri
diperkenalkan pada tahun 1947 oleh Bernard Baruch dan Walter Lippman dari Amerika Serikat
untuk menggambarkan hubungan yang terjadi di antara kedua negara adikuasa tersebut.
kepentingan Blok Barat dan Blok Timur menimbulkan suasana yang tidak representatif.

Ada dua karakter pada periode ini, Pertama, adanya keprihatinan akan ambisi rivalnya
yang menimbulkan pesimisme. Kedua, Amerika Serikat dan Uni Soviet merupakan kekuatan
militer yang sangat kuat dan memiliki kemampuan untuk menghancurkan musuhnya dengan
senjata atom. Sehingga dalam periode ini muncul hal-hal sebagai berikut: Doktrin
Pembendungan Bulan Februari 1946, Stalin memberikan pidato yang berbicara tentang tak
terhindarnya konflik dengan kekuatan kapitalis". Ia mendesak rakyat Soviet untuk tidak
terperdaya dengan berakhirnya perang yang berarti negara bisa santai. Sebaliknya perlu
mengintensifkan usaha memperkuat dan mempertahankan tanah air. Tidak lama setelah
munculnya tulisan George F Kennan, diplomat di Kedubes AS di Uni Soviet, yang memaparkan
tentang kefanatikan Uni Soviet, Presiden Harry S Truman mendeklarasikan apa yang kemudian
disebut Doktrin Truman. Doktrin ini menggarisbawahi strategi pembendungan politik luar negeri
AS sebagai cara untuk menghambat ambisi ekspansionis Uni Soviet. AS juga merekrut sekutu-
sekutunya untuk mewujudkan tujuan itu. Karena menurut teori domino, jika satu negara jatuh
maka akan berjatuhanlah negara-negara tetangga lainnya.
Lingkungan Pengaruh dan Pembentukan Blok Ketidakmampuan sebuah negara adidaya
memelihara lingkungan pengaruh diinterpretasikan sebagai akibat dari program global negara
adidaya yang lain. Misalnya ketika Uni Soviet memasuki Eropa Timur, para pemimpin AS
menilainya sebagai bagian dari usaha Uni Soviet menaklukan dunia. Begitu pula ketika AS
membentuk Pakta ANZUS pada tahun 1951, para pemimpin Uni Soviet menilainya sebagai
bagian dari usaha AS untuk mendominasi dunia. Perebutan lingkungan pengaruh diantara dua
negara adidaya ini melahirkan sebuah pola yang bipolar. AS dan sekutunya merupakan satu
polar, sedangkan di polar (kutub) yang lain muncul Uni Soviet dengan sekutunya.
Amerika Serikat dan sekutunya membentuk Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (North
Atlantic Treaty Organization/NATO) yang berdiri pada tanggal 4 April 1949 di Washington, AS.
Apabila salah satu anggota NATO diserang, maka serangan itu dianggap sebagai serangan
terhadap NATO. Di pihak lain, Uni Soviet dan sekutunya membentuk Pakta Warsawa (Warsawa
Pact) pada tanggal 14 Mei 1955 di Praha-Cekoslowakia atas dasar Pact of Mutual Assistance
and Unified Command.

Di berbagai kawasan pun muncul blok-blok yang memihak salah satu negara adidaya, di
Asia Tenggara dibentuk South East Asia Treaty Organization (SEATO) pada tanggal 8
September 1954 di Manila, Philipina . SEATO ditujukan untuk menahan pengaruh komunis di
Asia Tenggara, khususnya di Vietnam. Sebagai salah satu organisasi yang berdiri di Asia
Tenggara, negara-negara utama di Asia Tenggara malah tidak diikutsertakan di SEATO,
anggota-anggotanya yang utama justru negara-negara Blok Barat yang dipimpin oleh AS. Di
kawasan Timur Tengah juga dibentuk Organisasi Pertahanan Timur Tengah (Middle Eastern
Treaty Organization/METO).

Sedangkan Uni Soviet juga menjalin kerjasama dengan RRC pada tahun 1950 untuk
menghadapi kemungkinan agresi Jepang sebagai negara di bawah kendali AS. Serta
pembentukan Cominform (The Communist Information Bureau) di Beograd, Yugoslavia pada
tahun 1947. Di sisi lain, kegiatan spionase juga turut mewarnai Perang Dingin. KGB (Komitet
Gusudarstvennoy Bezopasnosti), dinas rahasia Uni Soviet, dan CIA (Central Intelligence
Agency), dinas rahasia AS selalu berusaha untuk memperoleh informasi rahasia mengenai segala
hal yang menyangkut negara-negara yang berada di bawah pengaruh kedua belah pihak serta
informasi-informasi sensitif mengenai lawannya sendiri.

Kemudian hubungan Amerika Serikat-Uni Soviet mengalami perubahan drastis dengan


terpilihnya Richard Nixon sebagai Presiden AS. Didampingi penasehat keamanannya, Henry A.
Kissinger, Richard Nixon menempuh pendekatan baru terhadap Uni Soviet pada tahun 1969.
Tidak disangka, ternyata Uni Soviet juga sedang mengambil pendekatan yang sama terhadap AS.
Pendekatan ini lazim disebut dtente (peredaan ketegangan). Sebagai sebuah strategi politik luar
negeri, dtente dijelaskan Kissinger sebagai upaya menciptakan kepentingan tertentu dalam
kerjasama dan perbatasan, sebuah lingkungan dimana kompetitor dapat meregulasi dan
menghambat perbedaan diantara mereka dan akhirnya melangkah dari kompetisi menuju
kerjasama.

Sebagai langkah lebih lanjut, pada 26 Mei 1972 Presiden Richard Nixon dan Leonid
Brezhnev menandatangani Strategic Arms Limitation Treaty I (SALT I) di Moskow. SALT I
berisi kesepakatan untuk membatasi persediaan senjata-senjata nuklir strategis/Defensive
Antiballistic Missile System. SALT I juga berisi kesepakatan untuk membatasi jumlah misil
nuklir yang dimiliki oleh kedua belah pihak, sehingga Uni Soviet hanya diijinkan untuk memiliki
misil maksimal 1600 misil, dan AS hanya diijinkan memiliki 1054 misil.

Setelah 10 tahun dijalankan, tampaknya Uni Soviet tidak kuat lagi untuk menjalani
dtente. Akhirnya pada tahun 1979 Uni Soviet pun menduduki Afghanistan yang sebenarnya
mengundang pasukan Uni Soviet masuk kesana untuk membantu mereka. Aksi semena-mena ini
mengundang reaksi keras dari pihak AS, Presiden AS Jimmy Carter menyatakan, agresi Uni
Soviet di Afghanistan mengkonfrontasi dunia dengan tantangan strategis paling serius sejak
Perang Dingin dimulai. Lalu akhirnya muncullah Doktrin Carter yang menyatakan bahwa AS
berkeinginan untuk menggunakan kekuatan militernya di Teluk Persia.

Setelah Reagan mengambil alih jabatan presiden, ia juga melancarkan Doktrin Reagan
yang mendukung pemberontakan anti-komunis di Afghanistan, Angola, dan Nikaragua. Para
pemberontak ini bahkan diberi istilah halus pejuang kemerdekaan (freedom fighters). Bahkan
AS juga berbicara tentang kemampuan nuklirnya, termasuk ancaman serangan pertama. Tapi
walaupun di periode ini terjadi ketegangan yang memuncak antara AS dan Uni Soviet, ternyata
masih bisa terjadi perjanjian SALT II (Strategic Arms Limitation Treaty II) pada pertengahan
1979 di Vienna.

Pada saat itu Carter dan Brezhnev setuju untuk membatasi kepemilikan peluncur senjata
nuklir maksimal 2400 unit, dan maksimal 1320 unit Multiple Independently Targeted Reentry
Vehicle (MIRV) . Dan juga Perjanjian Pengurangan Senjata-senjata Strategis (Strategic Arms
Reduction Treaty/START) pada tahun 1982 yang berisi kesepakatan untuk memusnahkan senjata
nuklir yang berdaya jarak menengah. Walaupun sudah banyak dilakukan perjanjian-perjanjian
pembatasan dan/atau pengurangan senjata nuklir, namun berdasarkan data pada tahun 1983
ternyata Uni Soviet memiliki keunggulan yang cukup besar dibandingkan dengan Amerika
Serikat.

Pada Maret 1985, Mikhail Gorbachev mulai memimpin Uni Soviet. Perubahan secara
besar-besaran mulai tampak pada masa ini. Gorbachev berbeda dengan penguasa-penguasa Uni
Soviet sebelumnya, pada tahun 1987 ia berkunjung ke AS untuk mendekatkan keduanya ke
dalam sebuah forum dialog. Bahkan pada tahun 1988, Persetujuan Genewa dicapai dan pada 15
Februari 1989 seluruh tentara Uni Soviet telah mundur dari Afghanistan.

Komitmen Gorbachev semakin terlihat saat Uni Soviet tidak menghanyutkan diri dan
mengambil sikap lebih netral dalam Perang Teluk tahun 1990-1991. Bahkan bantuan untuk Kuba
yang telah diberikan selama 30 tahun pun dihentikan pada tahun 1991 oleh Gorbachev. Namun
kebebasan dan keterbukaan yang dicanangkan oleh Gorbachev menimbulkan reaksi keras dari
tokoh-tokoh komunis dalam negeri. Puncaknya terjadi pada Kudeta 19 Agustus 1991 yang
didalangi oleh Marsekal Dimitri Yazow (Menteri Pertahanan), Jenderal Vladamir Kruchkov
(Kepala KGB), dan Boris Pugo (Menteri Dalam Negeri).

Namun ternyata kudeta itu gagal karena mendapat perlawanan dan penolakan dari rakyat
Uni Soviet dibawah pimpinan Boris Yeltsin dan Unit Militer Uni Soviet. Sebagai akibat dari
kudeta itu; Latvia, Lithuania, Estonia, Georgia, Maldova memisahkan diri dari Uni Soviet.
Latvia, Listhuania dan Estonia sendiri berhasil memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet pada
tanggal 6 September 1991. Akhirnya, Gorbachev mengakui bahwa sistem komunis telah gagal di
Uni Soviet.

Pada akhir 1991, negara Uni Soviet yang telah berumur 74 tahun itupun runtuh dan
terpecah-pecah menjadi beberapa negara yang sekarang termasuk dalam persemakmuran Uni
Soviet (Commonwealth of Independent State/CIS). Bubarnya Uni Soviet ini menandai
berakhirnya Perang Dingin dengan kemenangan di pihak Amerika Serikat. Dengan hancurnya
Uni Soviet maka sistem kapitalisme pun berkembang pesat dan Amerika Serikat berdiri sebagai
negara super power satu-satunya.

2.2 Kekuatan Amerika Serikat Sebagai Negara Adidaya

Tidak dapat dipungkiri bahwa Amerika Serikat merupakan negara super power atau
dapat disebut sebagai negara adidaya hingga saat ini.Negara dengan sistem
pemerintahan republik federal ini telah menjadi negara yang memiliki kekuatan
militer, ekonomi, dan memiliki kekuatan politik serta teknologi yang tinggi. PascaPerang
Dunia II dan Perang Dingin, negara yang sering disebut Negeri Paman Sam ini terus maju
menjadi negara yang menguasai perindustrian, bahkan pengaruh negara ini
semakin luas hingga menjadi pusat teknologi dunia setelah pecahnya perang dingin
antara Blok Barat dan Blok Timur. Dan setelah Uni Soviet sebagai Blok Timur
mengalami keruntuhan, Amerika Serikat sebagai Blok Barat secara otomatis atau saat itu juga
menduduki posisi tertinggi yaitu sebagai satu-satunya negara adidaya di dunia.

Dalam sepak terjangnya pasca-Perang Dingin tersebut, Amerika Serikat terus


berinovasi pada bidang teknologi, seperti komputer, internet, senjata nuklir, kapal
terbang, dan perjalanan luar angkasa serta banyak lagi keberhasilankeberhasilan
Amerika Serikat yang dapat disaksikan saat itu. Selain itu, sepak terjang AmerikaSerikat
tidak sampai di situ.Di bidang militer, Amerika Serikat pun mengalami banyak
kemajuan.Bahkan, sejak tahun 1990-an, Amerika Serikat menjadi polisi dunia. Hal ini
dibuktikan dengan selalu ikutnya atau terlibatnya Amerika Serikat dalam berbagai
konflik di negaranegara lain, misalnya Kosovo, Haiti, Somalia, Liberia, dan Perang
Teluk Pertama. Dan dalam perkembangannya, Amerika Serikat juga berhasil
menjatuhkan Taliban di Afganistan. Untuk mengukur kekuatan Amerika Serikat
dewasa ini, penulis mencoba menggambarkan beberapa aspek yang memengaruhi kekuatan
Amerika Serikat diantaranya yaitu: (1) Aspek Ekonomi, (2) Aspek Militer, (3) Aspek Politik, (4)
Aspek Sumber Daya Alam dan Manusia.

a. Aspek Ekonomi

Pasca-Perang Dunia II, tidak dapat dipungkiri bahwa Amerika Serikat berdiri sebagai
pemimpin dunia yang hampir tak dapat tersaingi. Kondisi itu didukung oleh posisi
Eropa yang sedang berada dalam lingkungan pascaperang, kemudian Jepang yang sedang
mengalami kehancuran, dan Inggris yang dapat dikatakan sedang mengalami
kelelahan pascaperang. Sehingga secara otomatis dapat dikatakan bahwa tidak ada
kekuatan lain yang dapat menjalankan peran global pada saat itu. Dan secara otomatis
Amerika Serikat sebagai negara pemenang perang harus mengambil peran, dalam artian
bertanggung jawab dalam menciptakan kondisi prekonomian dunia yang stabil.

Dalam kondisi tersebutlah Amerika Serikat kemudian diuntungkan, dan dapat dengan
mudah mengambil pimpinan dalam menentukan institusi dan peraturan peraturan
baru yang mendasari perekonomian dunia. Dan sistem yang kemudian ditelurkan Amerika
Serikat pada saat itu biasa kita kenal dengan sebutan Bretton Woods System yang diambil
berdasarkan nama kota kecil di Amerika Serikat yang merupakan tempat persetujuan Bratton
Woods itu dibuat. Dan pada tahun 1947 Bratton Woods menjadi
titik awal sejarah kejayaan Amerika Serikat dengan membentuk lembagalembaga
perekonomian dunia pascaperang. Diantaranya yaitu: IMF, Bank Dunia, GATT (yang
sekarang diganti WTO), dan OECD. Yang kemudian dalam kiprahnya, sistem tersebut
berhasil membawa Amerika Serikat pada puncak kejayaannya, karena pada dasarnya
lembagalembaga baru tersebut dapat dikendalikan oleh Amerika Serikat
berdasarkankepentingannya.

Sehingga walaupun beberapa kali sempat mengalami krisis, Amerika Serikat mampu
bangkit dan kembali memimpin prekonomian dunia yang tentunya dengan nilainilai liberal
(sesuai dengan konsep idiologi bangsanya), yang terserap dalam setiap kebijakankebijakan
perekonomian yang dikeluarkannya lewat institusiinstitusi internasional khususnya lembaga
lembaga perekonomian dunia seperti IMF, Bank Dunia, dan WTO (sebagai pionir dalam
mempertahankan eksistensinya sebagai bangsa adidaya yang kuat dan tidak tertandingi). Selain
itu, Amerika Serikat juga merupakan kreditor terbesar dunia yang memberikan
pinjaman atau bantuan kepada negara
negara yang sedang berkembang atau miskin berupa Marshall Pllan, dan Amerika
Serikat juga memberikan bantuan Grants in Aid yaitu bantuan ekonomi dengan
memberikan kewajiban kepada negara yang diberikan bantuan untuk mengembalikan bantuan
ekonomi tersebut berupa dolar atau dengan membeli barangbarang produk
Amerika Serikat. Inilah yang menjadi benteng kekuatan ekonomi Amerika Serikat hingga
saat ini.

b. Aspek Militer

Tidak dapat dipungkiri bahwa pasca perang dingin dan setelah runtuhnya Uni Soviet
sebagai rival terberat Amerika Serikat, Amerika Serikat hingga saat ini masih
memegang posisi sebagai negara dengan kekuatan militer terbesar di dunia. Hal ini
dapat kita buktikan dengan posisi Amerika Serikat yang tetap menjadi pembelanja
militer terbesar, dengan anggaran pertahanan sebesar US$ 711 miliar
(suarapembaruan.com2012). Selain itu, dominasi kekuatan Amerika Serikat dan
sekutunya dalam tatanan uni polar dapat dilihat dari besaran anggaran militernya dalam
beberapa tahun terakhir tadi, dan besaran tersebut berada dikisaran 48 persen dari total anggaran
militer dunia, kalau ditambah aliansi utamanya yaitu Inggris dan Perancis saja, maka angka
tersebut akan menjadi 67 persen dari total anggaran belanja militer dunia.

Lawrence Korb, seorang menteri pertahanan mantan asisten yang sekarang menjadi
rekan senior di Center for American Progress, Washingtonberbasis think tank, mengatakan
Amerika Serikat akan memotong jumlah pasukan darat karena perang di
Irak dan Afghanistan berakhir.Amerika Serikat akan terus menjaga 11 kapal induk,
armada pembom saat ini, armada amfibi, serta pendanaan untuk teknologi pembom
generasi baru dan untuk meningkatkan kapasitas pelayaran di masa depan, yaitu rudal
kapal selam kelas Virginia dan mendesain sebuah prompt-konvensional menyerang
pilihan dari kapal selam, bahkan semua kapal tempur dan induk akan dipersenjatai oleh
kekuatan nuklir yang ampuh (indonesianvoices.blogspot.com 2012).

Wakil Ketua Kepala Staf Gabungan Laksamana James A. Winnefeld Jr menekanka


n kemampuan, fleksibilitas, kemampuan independen merupakan hal mendasar, penerapan
kapal yang di lingkungan anti akses akan sangat berguna di Timur Tengah dan Pasifik, yang
mana kami telah menekankan sebagian besar fokus strategis regional.

Senjata-senjata ini juga penting bagi kehadiran Amerika Serikat di Asia Pasifik dan
Timur Tengah, dimana Amerika Serikat menempatkan penekanan pada bimbingan
strategis baru. Walaupun akhirakhir ini kondisi ekonomi sedang bermasalah tetapi
penempatan pangkalan militer di Timur Tengah maupun Asia Pasifik dianggap tetap penting
sebagai bagian penting bagi keamanan Amerika Serikat di masa depan.

c. Aspek Politik

Pasca berakhirnya perang dingin yang ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet, Amerika
Serikat menjadi satusatunya negara superpower dunia yang tersisa.Hal ini tentu
membuat Amerika Serikat mempunyai peran dominan dalam percaturan politik
Internasional. Berbicara soal politik, Amerika Serikat sejak tahun 1940-an hingga kini
dibentuk oleh dua tradisi politik yaitu realisme politik dan idealisme politik. Tradisi politik
realisme yang berkembang di era perang dingin masih menjadi karakter politik Amerika Serikat.
Tujuan utama politik ini dimaksudkan untuk melakukan politik pembendungan terhadap
eksistensi Uni Soviet yang dinilai membahayakan supremasi
kekuasaan Amerika Serikat di dunia. Sementara itu, tradisi idealisme politik yang
tujuan utamanya, yaitu diarahkan untuk melakukan ekspansi kebebasan atau
demokrasi keseluruh penjuru dunia, dimulai atau berkembang diera pasca perang
dingin (asrudiancenter.wordpress.com 2012).

Dan hingga saat ini penulis menilai bahwa kedua karakteristik politik ini masih
menjadi karakter Amerika
Serikat.Intinya adalah, perpolitikan luar negeri Amerika Serikat berhasil mendominasi dan
mewakili perpolitikan internasional.Hal itu dapat kita lihat dalam kasus politik luar
negeri Amerika Serikat yang selalu menjadi prioritas agenda pembicaraan dalamkonstelasi
politik internasional.Selain itu, dominasi Amerika Serikat di lembagalembaga dunia telah
membuat kekuatan politik luar negeri Amerika Serikat menguat.World Bank, International
Monetary Fund, dan World Trade Organization, lembaga
lembaga ini merupakan wadah dan alat bagi Amerika Serikat dalam
pencapaian kepentingan nasionalnya dengan muda diamini oleh banyak negara di
dunia yang notabene telah menjadi antekantek atau boneka Amerika Serikat dalam
kiprahnya sebagai negara adikuasa/adidaya.

Setelah beberapa aspek di atas yang dapat dijadikan indikator untuk menggambarkan
kekuatan Amerika Serikat, aspek terakhir yang menurut penulis tidak dapat dilupakan untuk
dijadikan indikator penilaian dalam menggambarkan kekuatan Amerika Serikat yaitu sumber
daya alam dan sumber daya manusianya. Hingga saat ini penulis menilai
bahwa tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa Amerika Serikat mengalami
kekurangan dalam hal sumber daya manusia maupun sumber daya alamnya. Pendek
kata, Amerika Serikat memiliki aspek terakhir ini. Dimana ia memliki sumber daya
alam yang melimpah, seperti emas, batu bara, minyak, tanah yang luas dan subur,
kemudian pertanian yang sangat luas serta didukung oleh sumber daya manusia yang
besar dan berkualitas, sehingga mereka mampu mengolah kekayaan alamnya sendiri dan
yang terpenting adalah Amerika Serikat mampu memainkan peran dalam segala
hal dikancah konstelasi internasional, walaupun dalam banyak hal langkahlangkah
yang diambil banyak menuai kritikan dari berbagai kalangan. Namun tidak dapat
dipungkiri bahwa semua hal yang menjadi aspek pendukung Amerika Serikat sebagai negara
adidaya atau adikuasa merupakan cerminan atau representatif dari kualitas sumber daya
manusianya.

BAB 3. KESIMPULAN

Amerika Serikat sebagai negara adidaya-pun telah mengalami over-


stretched (melampaui batas kesanggupannya sendiri) hal itu dapat kita lihat dalam dua perang
yang terjadi pasca persistiwa, sehingga mengakibatkan beberapa negara lebih percaya diri dan
lebih berani
melakukan pendekatan konfrontatif terhadap Amerika Serikat, dan hal ini semakin
memperlihatkan eksistensi Amerika Serikat mulai tergeser sebagai negara adidaya atau
penguasa dunia. Tahun 2010, upaya-upaya Amerika Serikat untuk melepaskan diri dari dua
perang yang diciptakannya sendiri telah menguras sumberdaya dan menggerogoti
kewibawaannya sebagai negara adidaya. Dan tahun 2010 ini menjadi saksi bisu bagaimana
Amerika Serikat dibuat sibuk oleh usaha-usaha yang dilakukannya untuk lepas dari ambisiambisi
kebijakan luar negeri yang dilakukannya dewasa ini. Dan hal ini pun berdampak pada
perkembangan konstelasi politik internasional dimana beberapa negara pesaing Amerika
Serikat salah satunya yaitu Rusia, produk Uni Soviet, yang dalam perkembangannya telah
berhasil memanfaatkan kesibukan Amerika Serikat diantara dua perang yang diciptakannya
di Irak dan Afganistan, dengan keberhasilannya melakukan perluasan pengaruh Rusia di
kawasan batas luar wilayahnya. Selain itu krisis ekonomi yang dialami Amerika Serikat
merupakan faktor internal yang juga turut menjadi penyebab mulai goyahnya posisi atau
eksistensi Amerika Serikat sebagai negara adidaya. Dengan melihat beberapa faktor
eksternal dan internal yang dialami Amerika Serikat sebagai Negara Adidaya, penulis
mencoba melakukan penilaian terhadap posisi Amerika Serikat sebagai negara adidaya dan
bagaimana perkembangan Amerika Serikat sebagai negara adidaya pada masa mendatang.

DAFTAR PUSTAKA

Gray, Wood. 2005. Garis Besar Sejarah Amerika (buku terjemahan oleh Michelle Anugrah)

Hussein, Saddam. 2013. Global & Policy. Pdf. Diakses pada tanggal 04 Mei 2014

Ahalla, Muhammad. http://muhammad-ahalla-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-70099-umum-


Dinamika%20Hubungan%20Internasional.html.Diakses pada tanggal 04 Mei 2014

Dani. 2013. http://danielim7.blogspot.com/negara-negara-yang-pernahmenjadi. html

https://www.facebook.com/permalink.Sejarah Terjadinya Perang Dingin Amerika

Diposting oleh Nailatul Faizah di 00.52