Anda di halaman 1dari 3

PEMBAHASAN

Dua reflek pupil yang penting diketahui adalah reflek terhadap sinar dan
reflek melihat dekat (akomodasi). Pemeriksaan reflek pupil terhadap sinar,
pada reflek pupil langsung, yaitu ketika cahaya menyinari mata o.p, maka pupil
pada mata o.p mengecil. Pada reflek pupil tak langsung, yaitu ketika cahaya
menyinari mata o.p, maka pupil pada mata yang tidak terkena cahaya juga ikut
mengecil. Pupil kecil (miosis) dapat terjadi karena cahaya yang terang atau
pengaruh obat parasimpatomimetik, sedangkan pupil lebar (midriasis) dapat
terjadi karena cahaya redup / gelap atau pengaruh obat simpatomimetik (). Pada
percobaan reflek pupil, seperti yang dinyatakan pada teori, reflek secara langsung
atau direct menyebabkan pupil o.p. untuk mengecil diameternya, begitu juga
dengan reflek secara tidak langsung atau indirect, pupil o.p. mengecil
diameternya. Pada percobaan akomodasi mata, kedua-dua belah pupil o.p.
membesar diameternya.

Pemeriksaan ketulian yang dilakukan melalui metode Schwabach


digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya gangguan senseorineural. Hasil
dari tes ini adalah Schwabach normal pada pendengaran normal, memanjang
pada gangguan pendengaran konduktif, dan memendek pada gangguan
sensorineural. dalam kondisi menderita gangguan sensori neural kemampuan
untuk mendengarkan suara melalui konduksi udara berkurang sampai pada
kondisi tidak dapat mendengar sama sekali (Putra & Tirtayasa 2014). Berdasarkan
tes Schwabach yang dilakukan selama praktikum, o.p. maupun pemeriksa sama
sama menunjukan hasil memendek. Hal ini berlawanan dengan teori karena
pemeriksa yang seharusnya memiliki pendengaran normal menunjukan hasil
memendek sama dengan hasil yang didapat dari o. p.

Tuli dapat dikategorikan menjadi 3 kategori, yaitu tuli sensorineural atau


perseptif yang disebabkan oleh rusaknya saraf yang ada di telinga atau
dikarenakan terjadi gangguan di telinga bagian tengah; tuli mekanik atau
konduktif yang disebabkan kaerna rusaknya telinga bagian luar biasanya terjadi
karena mendengah suara yang terlalu berisik; lalu yang terakhir ada tuli campuran
yang merupakan gabungan gangguan dua jenis tuli sebelumnya.

Selain sebagai alat pendengaran, telinga juga berfungsi menjaga


keseimbangan tubuh manusia (Pearce 2009). Keseimbangan adalah proses
pengaturan yang kompleks untuk mempertahankan posisi, penyesuaian tubuh
dalam beraktivitas. Pada percobaan Romberg setelah salah satu kaki di angkat
dengan mata terbuka lalu di tutup hasilnya o.p terjadi sedikit goyangan. Setelah
mata o.p di tutup, pada keadaan tumit dan jari kaki merapat dan tangan di
rentangkan hasilnya ada sedikit goyangan. Selanjutnya, o.p dengan kepala
mengarah ke langit dan mata pertama terbuka lalu tertutup dengan keadaan salah
satu kaki diangkat hasilnya ada sedikit goyangan. Hal ini menunjukan percobaan
Romberg positif karena terdapat sedikit goyangan.7
Pada percobaan Hopping reaction saat o.p dalam keadaan mengangkat
kaki kirinya lalu pemeriksa menggoyangkan ke kanan, kiri, depan, belakang
hasilnya o.p tidak sampai terjatuh tetapi berusaha mempertahankan posisi tubuh.
Hal ini menunjukan hasil tes hopping reaction positif karena tidak sampai terjatuh.
Pada percobaan thrust reaction saat o.p berdiri dengan kedua kaki dirapatkan, lalu
di dorong perlahan oleh pemeriksa. Hasilnya menunjukan o.p. seperti
ingin terjatuh tetapi tetap berusaha mempertahankan tubuhnya. Hal ini
menunjukan hasil tes thrust reaction positif.

Pada percobaan shifting reaction, o.p. seperti melakukan push-up dengan


teman membantu menopang salah satu tangan o.p. Kemudian pemeriksa
mendorong badan ke kanan, kiri, depan, dan belakang. Hasilnya o.p. dapat
mempertahankan posisinya.Hal ini menunjukan hasil test shifting reaction positif
karena dapat menjaga keseimbangan. Pada percobaan past pointing, o.p.
menyentuh hidungnya dengan tangan kiri lalu badan o.p. berputar ke kanan dan
pemeriksa memberhentikan o.p. tiba-tiba lalu menyentuh jari pemeriksa. Hasilnya
o.p. dapat menyentuh jari pemeriksa. Hasil ini menunjukan positif karena o.p
dapat menyentuh jari pemeriksa.

Komponen-komponen pengontrol keseimbangan yakni sistem informasi


sensoris meliputi visual, vestibular, dan somatosensoris (Chandler 2000). Selain
itu, faktor usia dan kelamin juga memberikan kontribusi terhadap kemampuan
keseimbangan. Pada kelempok usia umumnya jenis kelamin laki-laki lebih baik
jika di bandingkan dengan perempuan (Malina & Bouchard 1991).

SIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

Ball JW, Dains JE, Flynn JA, Solomon BS, Stewart RW. 2014. Seidels Guide to
Physical Examination. Missouri (US): Elsevier Inc.
Chandler.2000.Balance and Falls in The Elderly: Issues In Evaluation and
Treatment dalam Guccione, A.A.; Geriatric Physical Therapy. Boston
(US): Mosby.
Dwi Putra I, Tirtayasa K. 2014. Tajam dengar pada pekerja klub malam full
music.E-Jurnal Medika Udayana: 582-592.
Hall JE. 2016. Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology. Philadelphia
(US): Elsevier Inc.
Malina, R. & Bouchard, C. (1991), Growth, Maturation, and Physical Activty,
Human Kinetics Book: Illinois (US): Elsevier Inc.
Patton KT, Thibodeau GA. Anatomy and Physiology. Missouri (US): Elsevier Inc.
Pearce, C Velyn. 2009. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta (ID): PT.
Gramedia Pustaka Utama.