Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


DISKUSI TENTANG SEJARAH KELAHIRAN NU, RIWAYAT PENDIRI NU
DAN AJARANNYA

Dosen Pengampu: M. Taqijuddin Alawy, ST. MT

Disusun Oleh:
M. Zico Bagas Maulana (21501051036)
Muh. Lathiful Umam Zen (21501051066)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

UNIVERSITAS ISLAM MALANG


MALANG
2017
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil alamin, segala puji bagi Allah SWTl, Tuhan yang Maha Esa. Tida
Tuahan Selain Dia dan nabi Muhammad adalah Utusan-Nya.

Atas limpahan rahmat dan karunia Allah SWT, kami dapat menyelesaikan makalah
Pendidikan Agama Islam ini dengan baik tanpa terhalang oleh apapun.

Terimakasih kami sampaikan kepada Bpk. M. Taqijuddin Alawy, ST. MT. atas bimbingan
beliau dan kiprah beliau dalam dunia mengajar memberikan banyak sekali pengetahuan
yang belum pernah kami dapatkan sebelumnya.

Tidak lupa kami sampaikan terima kasih banyak kepada teman-teman Teknik Sipil atas
dorongan dan motivasi dari mereka kami dapat berkarya dan menyelesaikan makalah ini
dengan baik.

Kami juga memohon maaf kepada pembaca sekalian, apabila ada kata maupun kesalahan
pada makalah ini, maka dengan demikian kami memohon bantuan dan koreksi agar dapat
menyempurnakan makalah ini dengan baik dan menjadi sumber bacaan pengetahuan
yang layak dan bermanfaat. Akhirul kalam, terimakasih.

Pemakalah

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................................i

KATA PENGANTAR ................................................................................................ ii

DAFTAR ISI.............................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ................................................................................................ 1

B. Tujuan ............................................................................................................. 1

C. Rumusan Masalah ........................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN

A. Sejarah Berdirinya NU .................................................................................... 2

B. Biografi Pendiri NU ........................................................................................ 7

C. Prinsip-Prinsip Pokok NU ............................................................................... 7

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN ............................................................................................. 11

DAFTAR ISI

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Nahdlatul Ulama (NU) adalah salah satu organisasi Islam terbesar dengan jumlah anggota
terbanyak di Indonesia, dan merupakan suatu organisasi yang berbasis massa di bawah
kepemimpinan ulama. Keyakinan yang mendalam terhadap pelbagai pemikiran, gagasan,
konsep di segala hal, serta metode-metode yang diusung NU diyakini sebagai kunci utama
NU untuk dapat eksis dan terus bertahan hingga hari ini.

Untuk memahami NU sebagai jam'iyyah diniyah (organisasi keagamaan) secara tepat,


belumlah cukup dengan melihat dari sudut formal sejak ia lahir. Sebab jauh sebelum NU
lahir dalam bentuk jam'iyyah (organisasi), ia terlebih dahulu ada dan berwujud jama'ah
(community) yang terikat kuat oleh aktivitas sosial keagamaan yang mempunyai
karakteristik tersendiri.

Oleh karena itu, perlu untuk membahas lebih jauh mengenai NU dalam perkembangannya
melalui pembahasan sejarah Nahdlatul Ulama sebagai suatu Jamiyah diniyah yang
menampung segenap masyarakat Indonesia dari berbagai kultur maupun budaya, dari
segala aspek kehidupan social dan ekonomi.

B. RUMUSAN MASALAH

- Apa yang melatar belakangi berdirinya NU sebagai Jamiyah?


- Apa tujuan NU didirikan?
- Siapa tokoh-tokoh pendiri NU?
- Apa saja ajaran dasar yang terdapat dalam NU?

C. TUJUAN
- Mengetahui kilas sejarah NU
- Menjelaskan perkembangan NU
- Mengetahui prinsip-prinsip ajaran NU

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. SEJARAH BERDIRINYA NU

Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) yang biasa disebut NU merupakan salah satu
jamiyah keagamaan di Indonesia yang didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 oleh ulama
yang berhaluan Ahlussunah wal Jamaah atas prakarsa K.H Hasyim Asyari. Nahdlatul
Ulama didirikan sebagai wadah untuk mempersatukan diri dan langkah di dalam tugas
memelihara, melestarikan, mengemban, dan mengamalkan ajaran Islam yang mengikuti
salah satu empat mazhab dalam rangka mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi alam
semesta.

Memahami Nahdlatul Ulama (NU) sebagai sebuah organisasi sosial keagamaan, secara
komprehensip dan proporsional, maka tidak dapat mengesampingkan aspek-aspek historis
(aspek sejarah), yaitu peristiwa-peristiwa yang melatarbelakangi dan mendorong lahirnya
Nahdlatul Ulama.

Pada saat kegiatan reformasi mulai berkembang luas, para ulama belum begitu
terorganisasi. Namun mereka sudah saling mempunyai hubungan yang sangat kuat.
Perayaan pesta seperti haul, ulang tahun kematian kyai, secara berkala mengumpulkan
masyarakat sekitar atau pun para mantan murid pesantren mereka yang kini tersebar di
seluruh nusantara. Selain itu. Perkawinan di antara anak-anak para kyai atau para murid
yang baik, sering kali mempererat hubungan ini. Tradisi yang mengharuskan seorang santri
pergi dari satu pesantern ke pesantren yang yang lainnya guna menambah ilmu
pengetahuan agamanya juga ikut andil dalam memperkuat jaringan ini.

Jauh sebelum lahir sebagai organisasi, NU telah ada dalam bentuk komunitas (jamaah)
yang diikat oleh aktivitas sosial keagamaan yang mempunyai karekter Ahlu as-Sunnah Wa
al-Jamaah. Wujudnya sebagai organisasi tidak lain adalah penegasan formal dari
mekanisme informal para ulama sepaham. Arti penting dibentuknya organisasi ini tidak
lepas dari konteks waktu itu, terutama berkaitan dengan upaya menjaga eksistensi jamaah
tradisional berhadapan dengan arus paham pembaharuan Islam, yang ketika itu telah
terlembagakan, antara lain dalam Muhammadiyah.

Masuknya paham pembaharuan ke Indonesia diawali oleh semakin banyaknya umat Islam
Indonesia yang menunaikan ibadah haji ke Tanah suci, sejak dibukanya Terusan Suaez
(1869). Bersamaan dengan itu, di Timur Tengah sedang merebak ajaran pembaharuan dan
purifikasi ajaran Islam, seperti gerakan pembaharuan Muhammad bin Abdul Wahab yang
kemudian dikenal sebagai Gerakan atau Paham Wahabiyah, maupun pemikiran Pan-
Islamisme Jamaluddin al-Afgani yang kemudian dilanjutkan oleh Muhammad Abduh. Tak
pelak, kontak pemikiran intensif antara jamaah haji Indonesia dengan paham pembaharuan
ini berlangsung. Oleh karenanya, ketika kembali ke Tanah Air, para jamaah haji membawa
pemikiran itu untuk memurnikan ajaran Islam dari unsur-unsur yang dianggap dari tradisi
di luar Islam.

Tidak semua kalangan menerima paham pembaharuan itu secara bulat-bulat. Sekelompok
ulama pesantren (yang nota bene juga haji) menilai bahwa penegakan ajaran Islam secara

2
murni tidak selalu berimplikasi perombakan total terhadap tradisi lokal. Tradisi ini bisa saja
diselaraskan dengan ajaran Islam secara luwes. Kalangan yang dikenal sebagai kelompok
tradisionalis ini mengamati upaya purifikasi ajaran Islam itu dengan cemas. Sebab tidak
mustahil jika hal itu dilakukan secara frontal dan radikal akan munggungncang keyakainan
masyarakat. Terlebih lagi, upaya itu ternyata mulai berindikasi pendrobakan taradsisi
keilmuan yang selama ini dianut oleh para ulama pesantren.

Oleh karenanya, pada abad XX, dalam kurun waktu sepuluh tahun, seseorang yang sangat
dinamis yang pernah belajar di Makkah, yakni KH. Abdul Wahab Hasbullah,6
mengorganisir Islam tradisionalis dengan dukungan seorang kyai asal Jombang Jawa
Timur yang sangat disegani, KH. Hasyim Asyari. Sejak bermukim di Makkah, Kyai
Wahab aktif di Sarekat Islam (SI). Sebuah perkumpulan saudagar muslim, yang sejak
semula bertujuan untuk memompa semangat nasionalisme dan menangkal para pencuri
dengan sistem ronda serta memperbaiki posisi pedagang muslim, Arab, dan Jawa, dalam
bersaing mengahadapi keterunan Tionghoa. Kyai Wahab juga berkerja sama dengan tokoh
nasionalis, Soetomo, dalam sebuah kelompok diskusi, Islam Studie Club.

Keterlibatan Kyai Wahab dalam SI tampaknya kurang memberikan kepuasan pada dirimya,
karena dalam perkembangannya SI lebih cenderung mengarah kepada persoalan-persoalan
politik. Sebenarnya Kyai Wahab menginginkan untuk membangun semangat nasionalisme
melalui jalur pendidikan. Sebab dengan demikian langkah yang ditempuh selain
mengobarkan semangat perjuangan juga membangun dan meningkatkan kapasitas
intelektual para pemuda.

Untuk mewujudkan obsesinya tersebut Kyai Wahab ketika bertemu dengan Kyai Mas
Mansur, yang kemudian menjadi tokoh Muhammadiyah, mengajak berunding untuk
mendirikan sebuah lembaga pendidikan guna mendidik dan mengobarkan semangat
nasionalisme para pemuda dalam rangka memperoleh kemerdekaan RI. Ide yang
dicetuskan oleh Kyai Wahab tersebut nampaknya mendapat sambutan hangat dari tokoh-
tokoh masyarakat. Terbukti pada tahun 1916, KH. Wahab mendirikan sebuah madrasah
yang bernama Nahdatu al-Watan (Kebangkitan Tanah Air), dengan gedungnya yang
besar dan bertingkat di Surabayamadrasah ini mempunyai tujuan untuk mendidik para
remaja guna mendapat ilmu pengetahuan agama yang cukup, disamping juga sebagai
markas penggemblengan para pemuda sebagai calon pemimpin muda untuk kegiatan
dakwahyang sering dikenal dengan Jamiyah Nasihin. Kemudian menjelang tahun
1919, sebuah madrasah baru yang sehaluan berdiri lagi di daerah Ampel, Surabaya, dengan
nama Taswiru al-Afkar, yang tujuan utamanya adalah menyediakan tempat bagi anak-anak
untuk mengaji dan belajar, lalu ditujukan menjadi sayap untuk membela kepentingan
kelompok Islam Tradisionalis.

Perdebatan antara kaum tradisionalis dengan kaum reformis menjadi semakin seru pada
tahun dua puluhan.12 Sehingga dalam beberapa diskusi, termasuk di forum Sarekat Islam
(SI), KH. Wahab berhadapan dengan Ahmad Soerkati. Seorang guru besar dari Sudan,
Afrika Timur, pendiri gerakan reformasi al-Irsyad. Demikian pula dengan Ahmad Dahlan,
seorang pendiri Muhammadiyah.

Selanjutnya, pada tahun 1924-an merupakan masa-masa ramainya perdebatan masalah


khilafiyah dalam Islam; mengenai bidah, mengenai ijtihad, mengenai madzhab dan

3
masalah-masalah fiqhiyah lainnya. Berkali-kali telah diadakan munazarah (perdebetan
sehat) untuk menyelesaikan masalah ini. Di Surabaya, munazarah diikuti oleh para ulama
dari berbagai daerah, sebagian di bawah kepimimpinan KH. Abdul Wahab Hasbullah,
sebagian di bawah naungan KH. Mas Mansur, dan sebagian lagi dipimpin oleh Sorkati.
Dalam munazarah ini Kyai Wahab tetap mempertahankan adanya bermazhab, sementara
pihak lain menentangnya dengan gencar, bahkan membidah-bidahkan masalah-masalah
semacam ziarah kubur, sholat tarawih 20 rakaat, pembacaan qunut pada saat sholat shubuh
dan lain sebagainya, selalu dipertahankan oleh Kyai Wahab sementara yang lainnya masih
tetap menentangnya.

Masalah-masalah khilafiyah yang diperdebatkan seperti ini, menurut Kyai Wahab telah
dianggap selesai, dan tidak perlu diperdebatkan lagi, karena masing-masing pihak
mempunyai dasar atau dalil sendiri-sendiri. Dan dalam perdebatan yang diadakan berulang-
ulang kali itu pun, Kyai wahab telah banyak memaparkan dalil-dalil yang kuat dan tidak
dapat dibantah lagi, namun pihak penentang tidak mau menerimanya dengan alasan kalau
dalil yang diutarakan oleh Kyai Wahab adalah alasan yang dibuat-buat. Walaupun belum
berhasil mengajak pihak penentang untuk menerima kebenaran yang telah disampaikannya
itu, akan tetapi Kyai Wahab telah berhasil menunjukkan pada dunia Islam tentang alasan
kebenaran paham yang dianutnyayaitu paham Ahlu as-Sunnah Wa al-Jamaahpaham
Ahlu al-Mazhabi al-Arbaah. Dan beliau hanya mampu ikhtiar, sedangkan hidayah hanya
bisa diberikan oleh Allah SWT.

Walaupun Kyai Abdul Wahab Hasbullah telah mengakhiri perdebatan itu dengan penuh
toleransi, berjiwa besar dan menganggap perdebatan itu telah selesai segala-segalanya.
Namun, kaum pembaharu (reformis) tetap tidak mau mengimbangi sikap terpuji yang
ditunjukkan oleh Kyai Wahab itu, malahan telah berbuat sepihak atau tidak adil. Di antara
buktinya adalah, pada bulan Agustus tahun 1925 diadakan kongres al-Islam ke-4 yang
bermaksud membahas surat undangan yang datangnya dari Raja Ibnu Saud Arab Saudi,
untuk menghadiri pertemuan internasional di Hijaz. Dalam kongres tersebut forum lebih
didominasi oleh kelompok Islam Modern (pembaharu), sehingga tidak dibicarakan secara
jelas hal-hal yang berkaitan dengan Islam Tradisional. Bahkan terjadi perselisihan
mengenai kongres yang mana seharusnya dihadiri hingga akhirnya kongres berakhir tanpa
adanya suatu keputusan yang jelas.

KH. Abdul Wahab Hasbullah sebagai wakil dari kelompok Islam Tradisionalis
menghendaki agar delegasi yang dikirim ke Hijaz meminta jaminan kepada Raja Ibnu
Saud untuk menghormati mazhab-mazhab fiqh dan memperbolehkan melakukan praktek-
praktek peribadatan atau keagamaan secara tradisional. Demikian pula meminta untuk
meniadakan pelarangan melaksanakan tarikat dan ziarah kubur ke makam-makam orang-
orang suci di Makkah dan sekitarnya. Usulan itu sering dilontorkan oleh Kyai Wahab dalam
berbagai pertemuan-pertemuan dengan ulama lain, namun kurang mendapat sambutan,
bahkan kongres yang selalu didominasi oleh kelompok Islam Modern tidak begitu
menghiraukan usulan Kyai Wahab tersebut. Mereka, kelompok Islam Modernis cenderung
mendukung pendapat Raja Ibnu Saud.

Sebelum kongres al-Islam ke-5 di Bandung, telah diadakan suatu rapat antar organisasi-
organisasi pembaharu di Cianjur dan memutuskan untuk mengirim utusan yang terdiri dari
dua orang pembaharu ke Makkahyakni, HOS. Tjokroaminoto (SI) dan Mas Mansur

4
(Muhammadiyah). Satu bulan kemudian, ternyata kongres al-Islam tidak menyambut baik
gagasan KH. Wahab yang menyarankan agar usulan-usulan kaum tradisonalis mengenai
praktek-praktek peribadatan atau keagamaan agar di bawah oleh delegasi Indonesia.
Penolakan yang memang masuk akal itukarena sebagian kaum reformis menyambut baik
pembersihan dalam kebiasaan ibadah agama di Arab Saudi.

Selanjutnya, dikarenakan Kyai Wahab dan kelompok Islam Tradisionalis semakin tidak
mendapat tempat dalam berbagai forum, maka Kyai Wahab mengambil inisiatif untuk
mengadakan pertemuan sendiri. Akhirnya sebelum kongres al-Islam ke-5 dilaksanakan
pada tanggal 6 Januari 1926, Kyai Wahab dan para ulama di Surabaya mengadakan
pertemuan dengan tujuan membahas pengiriman delegasi ke Kongres Islam Internasional
di Hijaz (Makkah). Pertemuan tersebut dilaksanakan di rumah Kyai Wahab, atas undangan
Komite Hijaz. Oleh karenanya, untuk memudahkan tugas ini, pada tanggal 31 Januari 1926
diputuskan beberapa hal yaitu;

Pertama, mengutus KH. Abdul Wahab Hasbullah dan Ahmad Ghanaim Al-Mishri agar
dapat mewakili mereka di hadapan Raja Ibnu Saud dalam Kongres Islam Internasional
tersebut, untuk mencerahkan persoalan-persoalan peribadatan dan keagamaan yang akan
dilaksanakan di Makkah.

Kedua, mendirikan sebuah jamiyah yang dapat menampung aspirasi kelompok Islam
tradisionalis, yaitu Nahdlatul Ulama (NU)artinya; organisasi kembangkitan ulama.

Kedua utusan ini ternyata membawa hasil yang memuaskan, seperti yang telah diharapakan
sejak semulayakni janji-janji yang diberikan oleh penguasa hijaz (Raja Ibnu Saud-Arab
Saudi), sebagaimana berikut:

1. Meskipun penguasa Hijaz dan Nejed (Saudi Arabia sekarang) beraliran Wahabi, tetapi
beliau akan bersikap adil serta melindungi adanya ajaran empat mazhab.

2. Tidak dilarangnya pengajaran Ahlu as-Sunnah Wa al-Jamaah (paham yang berhaluan


empat mazhab) yang biasa berlaku dalam Masjid al-Haram sejak dahulu kala.

3. Tidak akan mengganggu atau melarang orang-orang yang akan berziarah ke makam-
makam yang ada di wilayah Hijaz dan Nejed, terutama makam-makam yang bersejarah.
Misalnya, makam-makam para Nabi, Sahabat, dan lain sebagainya.

Selain rapat Hijaz memutuskan dua hal tersebut di atas, rapat juga menyusun pengurus
besar NU yang terdiri dari dua bagian yaitu, Syuriyah dan Tanfiziyah.20 Pengurus Syuriyah
saat itu adalah:

Rais Akbar : KH. Hasyim Asyari (Tebuireng, Jombang)

Wakil Rais Akbar : KH. Dahlan (Kebondalem, Surabaya)

Katib Awal : KH. Abdul Wahab Hasbullah (Surabaya)

Katib Tsani : KH. Abdul Halim (Cirebon)

Awam : KH. M. Alwi Abdul Aziz (Surabaya)

5
KH. Ridwan (Surabaya)

KH. Said (Surabaya)

KH. Bisyri Syamsuri (Denanyar, Jombang)

KH. Abdullah Ubaid (Surabaya)

KH. Nachrawi (Malang)

KH. Amin (Surabaya)

KH. Masykuri (Lasem)

KH. Nachrawi (Surabaya)

Musytasyar : KH. R. Asnawi (Kudus)

KH. Ridwan (Semarang)

KH. MS. Nawawi (Sidogiri, Pasuruan)

KH. Dhoro Muntaha (Bangkalan, Madura)

Syeikh Ahmad Ghonaim Al-Mishry (Mesir)

KH. R. Hambali (Kudus).

Sedangkan pengurus Tanfiziyah adalah:

Ketua : H. Hasan Gipo (Blora, Surabaya)

Seketaris : Muhammad
Shiddiq (Pemalang)

Bendahara : H. Burhan (Surabaya)

Pembantu : H. Saleh Syamil (Surabaya)

H. Ihsan (Surabaya)

H. Jafar (Surabaya)

H. Utsman (Surabaya)

H. Achzab (Surabaya)

H. Nawawi (Surabaya)

H. Dahlan (Surabaya)

H. Mangun (Surabaya)

6
Latar belakang lahirnya NU tersebut di atas perlu mendapat perhatian, sebab
karakteristik organisasi atau jamiyah ini lebih berakar dari sini. Satu hal yang perlu dicatat
dari proses kelahiran yang pada hakekatnya merupakan reaksi terhadap arus pembaharuan
Islam tersebut bahwa pola perilaku reaktif semacam itu ternyata menjadi inheren dalam
dinamika NU selanjutnya.

B. BIOGRAFI PENDIRI NU
1. K.H. Hasyim Asyari
KH Hasyim Asyari lahir di Demak, Jawa Tengah. Beliau mendapat pendidikan
langsung dari ayah dan kakeknya, Kyai Asyari dan Kyai Utsman. Setelah cukup
besar, beliau juga ikut membantu mengajar. Kyai Hasyim lalu belajar di berbagai
pesantren untuk memperdalam ilmu agama. Di tahun 1892, K.H. Hasyim Asyari
menunaikan ibadah haji dan menimba ilmu di Mekah. Dalam perjalanan pulang ke
tanah air, ia singgah di Johor, Malaysia dan mengajar di sana. Pulang ke Indonesia
tahun 1899, Kyai Hasyim Asyari mendirikan pesantren di Tebuireng yang
menjadi pusat pembaruan bagi pengajaran Islam tradisional. Bagi beliau,
mengajarkan agama berarti memperbaiki manusia. Mendidik para santri dan
menyiapkan mereka untuk terjun ke masyarakat, adalah salah satu tujuan utama
perjuangan Kyai Hasyim Asyari.
2. K.H. Wahab Chasbullah
KH. Abdul Wahab Hasbullah dilahirkan pada tahun 1888 di Jombang, Jawa Timur.
Sejak kecil beliau telah menerima pendidikan Islam di tingkat dasar sampai berusia
13 tahun dari ayahnya sendiri, KH. Hasbullah, pengasuh Pondok Pesantren
Tambak Baras Jombang. Setelah itu beliau meneruskan ke Pesantren Langitan
selama satu tahun, kemudian melanjutkan ke Pesantren Mojosari di Nganjuk, Jawa
Timur. selama empat tahun, selanjutnya beliau memperdalam ilmu agamanya ke
Pesantren Kademangan di Bangkalan, Madura. Yang diasuh oleh KH. Kholil,
kemudian melanjutkan ke Pesantren Tebuireng untuk belajar ilmu alat kepada KH.
Hasyim Asyari, setelah dari Tebuireng kemudian KH. Abdul Wahab Hasbullah
melanjutkan belajar ke Arab Saudi. M.

C. POKOK POKOK AJARAN NU

Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi sosial keagamaan yang berhaluan


Ahlu as-Sunnah Wa al-Jamaah, sebagai wadah pengemban dan mengamalkan ajaran Islam
Ala Ahadi al-Mazhabi al-Arbaah dalam rangka mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi
semesta alam. Dengan kata lain sebagai salah satu ormas tertua, NU merupakan satu-
satunya organisasi masa yang secara keseluruhan bahwa Ahlu as-Sunnah Wa al-Jamaah
sebagai mazhabnya. Sehingga, ketika NU berpegang pada mazhab, berarti mengambil
produk hukum Islam (fiqh) dari empat Imam Mazhab, yaitu mazhab Hanafi, mazhab
Maliki, mazhab Syafii dan mazhab Hambali. Dalam kenyataan NU lebih condong pada
pendapat Imam asy-SyafiI, oleh karenanya NU sering dicap sebagai penganut fanatik
mazhab Syafii. Hal ini dapat dilihat dari cara NU mengambil sebuah rujukan dalam
menyelesaikan kasus-kasus atau permasalahan-permasalahan yang muncul. Alasan yang
sering dilontarkan adalah umat Islam Indonesia manyoritas bermazhab Syafii.

7
Nahdlatul Ulama (NU) sebagai Jamiyah Diniyah Islamiyah yang bertujuan membagun
atau mengembangkan insan dan masyarakat yang bertaqwa kepada Allah SWT senantiasa
berpegang teguh pada kaidah-kaidah keagamaan (ajaran Islam) dan kaidah-kaidah fiqh
lainnya dalam merumuskan pendapat, sikap dan langkah guna memajukan jamiyah
tersebut. Dalam bidang keagamaan dan kemasyarakatan alam pikiran (pokok ajaran)
Nahdlatul Ulama (NU) secara ringkas dapat dibagi menjadi tiga bidang ajaran yaitu;
bidang aqidah, fiqh, dan tasawuf.

Dalam bidang aqidah yang dianut oleh NU sejak didirikan pada 1926 adalah Islam atas
dasar Ahlu as-Sunnah Wa al-Jamaah. Faham ini menjadi landasan utama bagi NU dalam
menentukan segala langkah dan kebijakannya, baik sebagai organisasi keagamaan murni,
maupun sebagai organisasi kemasyarakatan. Hal ini ditegaskan dalam Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga (AD/ART)., bahwa NU mengikuti Ahlu as-Sunnah Wa al-
Jamaah dan menggunakan jalan pendekatan (mazhab). Adapun faham Ahlu as-Sunnah Wa
al-Jamaah yang dianut NU adalah faham yang dipelopori oleh Abu Hasan al-Asyari dan
Imam Abu Mansur al-Maturidi. Keduanya dikenal memiliki keahlian dan keteguhan dalam
mempertahankan itiqad (keimanan) Ahlu as-Sunnah Wa al-Jamaah seperti yang telah
disyaratkan oleh Nabi SAW dan para sahabatnya. Jadi dalam melaksanakan ajaran Islam,
bila dikaitkan dengan masalah-masalah aqidah harus memilih salah satu di antara dua yaitu
al-Asyari dan al-Maturidi.

Sementara dalam bidang fiqh ditegaskan bahwa: Nahdlatul Ulama (NU) sebagai Jamiyah
Diniyah Islamiyah beraqidah Islam menurut faham Ahlu as-Sunnah Wa al-Jamaah dan
mengikuti faham salah satu mazhab empat: Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali. Namun
dalam prakteknya para Kyai adalah penganut kuat dari pada mazhab Syafii.

Jadi dengan demikian NU memegang produk hukum Islam (fiqh) dari salah satu empat
mazhab tersebutartinya bahwa dalam rangka mengamalkan ajaran Islam, NU menganut
dan mengikuti bahkan mengamalkan produk hukum Islam (fiqh) dari salah satu empat
mazhab empat sebagai konsekuensi dari menganut faham Ahlu as-Sunnah Wa al-Jamaah.
Walaupun demikian tidak berarti terus Nahdlatul Ulama tidak lagi menganut ajaran yang
diterapkan Rasulullah SAW. sebab keempat mazhab tersebut dalam mempraktekkan ajaran
Islam juga mengambil landasan dari al-Quran dan as-Sunnah di samping Ijma dan Qiyas
sebagai sumber pokok penetapan hukum Islam.

Adapun alasan kenapa Nahdlatul Ulama dalam bidang hukum Islam (fiqh) lebih
berpedoman kepada salah satu dari empat mazhab; Pertama, al-Quran sebagai dasar
hukum Islam yang pokok atau utama bersifat universal, sehingga hanya Nabi SAW. yang
tahu secara mendetail maksud dan tujuan apa yang terkandung dalam al-Quran. Nabi SAW
sendiri menunjukkan dan menjelaskan makna dan maksud dar al-Quran tersebut melalui
sunnah-sunnah beliauyaitu berupa perkataan, perbuatan, dan taqrir. Kedua, sunnah Nabi
SAW. yang berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrirnya yang hanya diketahui oleh para
sahabat yang hidup bersamaan (semasa) dengan beliau, oleh karena itu perlu untuk
memeriksa, menyelidiki dan selanjutnya berpedoman pada keterangan-leterangan para
sahabat tersebut. Namun sebagian ulama tidak memperbolehkan untuk mengikuti para
sahabat dengan begitu saja. Maka dari itu untuk mendapatkan kepastian dan kemantapan,
maka jalan yang ditempuh adalah merujuk kepada para ulama mujtahidin yang tidak lain
adalah imam madzhab yang empatartinya bahwa dalam mengambil dan menggunakan

8
produk fiqh (hukum Islam) dari ulama mujtahidin harus dikaji, diteliti dan dpertimbangkan
terlebih dahulu sebelum dijadikan pedoman dan landasan bagi Nahdhatul Ulama.

Oleh karena itu, untuk meneliti dan mengkaji suatu produk fiqh (hukum Islam) dalam NU
ada suatu forum pengkajian produk-produk hukum fiqh yang biasa disebut Bahsul Masail
ad-Diniyah (pembahasan masalah-masalah keagamaan). Jadi dalam forum ini berbagai
masalah keagamaan akan digodok dan diputuskan hukumnya, yang selanjutnya keputusan
tesebut akan menjadi pegangan bagi Jamiyah Nahdlatul Ulama.

Faham Nahdlatul Ulama dalam bidang tasawuf. Tasawuf sebenarnya merupakan dari
ibadah yang sulit dipisahkan dan merupakan hal yang penting, terutama yang berkaitan
dengan makna hakiki dari suatu ibadah. Jika fiqh merupakan bagian lahir dari suatu ibadah
yang segala ketentuan pelaksanaannya sudah ditetapkan dalam agama, untuk mendalami
dan memahami bagian dari ibadah, maka jalan yang dapat ditempuh adalah melalui tasawuf
itu sendiri.

Di antara berbagai macam aliran tasawuf yang tumbuh dan berkembang, NU mengikuti
aliran tasawuf yang dipelopori oleh Imam Junaid al-Bagdadi dan Imam al-Gazali. Imam
Junaid al-Bagdadi adalah salah seorang sufi terkenal yang wafat pada tahun 910 M di Irak,
sedangkan Imam al-Gazali adalah seorang ulama besar yang berasal dari Persia.

Untuk kepentingan ini, yaitu membentuk sikap mental dan kesadaran batin yang benar
dalam beribadah bagi warga Nahdlatul Ulama, maka pada tahun 1957 para tokoh NU
membentuk suatu badan Jamiyah at-Tariqah al-Mutabarah badan ini merupakan wadah
bagi warga NU dalam mengikuti ajaran tasawuf tersebut. Dalam perkembangannya pada
tahun 1979 saat muktamar NU di Semarang badan tersebut diganti namanya Jamiyah at-
Tariqah al-Mutabarah an-Nadiyyah. Dengan melihat nama badan tersebut di mana di
dalamnya ada kata nadhiyyin ini menunjukkan identitasnya sebagai badan yang berada
dalam linkungan Nahdhatul Ulama.

Selanjutnya, sejalan dengan derap langkah pembangunan yang sedang dilakukan, maka
Nahdlatul Ulama sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat dan bangsa harus
mempunyai sikap dan pendirian dalam dan turut berpartisipasi dalam pembangunan
tersebut. Sikap dan pendirian Nahdlatul Ulama ini selanjutnya menjadi pedoman dan acuan
warga NU dalam kehidupan beragama, bermasyarakat dan bernegara. Sikap NU dalam
bidang kemasyarakatan diilhami dan didasari oleh sikap dan faham keagamaan yang telah
dianut. Sikap kemasyarakatan NU bercirikan pada sifat: tawasut dan itidal, tasamuh,
tawazun dan amar maruf nahi munkar. Sikap ini harus dimiliki baik oleh aktifis Nahdlatul
Ulama maupun segenap warga dalam berorganisasi dan bermasyarakat:

1. Sikap Tawasut dan Itidal.

Tawasut artinya tengah, sedangkan Itidal artinya tegak. Sikap tawasuth dan itidal
maksudnya adalah sikap tengah yang berintikan kepada prinsip hidup yang menjunjung
tinggi keharusan berlaku adil dan lurus ditengah-tengah kehidupan bersama. Dengan sikap
dasar ini, maka NU akan selalu menjadi kelompok panutan yang bersikap dan bertindak
lurus dan selalu bersikap membangun serta menghindari segala bentuk pendekatan yang
bersifat tatarruf (ekstrim).

9
2. Sikap Tasamuh.

Maksudnya adalah Nahdlatul Ulama bersikap toleran terhadap perbedaan pandangan, baik
dalam masalah keagamaan teruma hal-hal yang bersifat furu atau yang menjadi masalah
khilafiyah maupun dalam masalah yang berhubungan dengan kemasyarakatan dan
kebudayaan.

3. Sikap Tawazun.

Yaitu sikap seimbang dalam berkhidmad. Menyesuaikan berkhidmad kepada Allah SWT,
khidmat sesama manusia serta kepada lingkungan sekitarnya. Menserasikan kepentingan
masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

4. Amar Maruf Nahi Munkar.

Segenap warga Nahdlatul Ulama diharapkan mempunyai kepekaan untuk mendorong


berbuat baik dan bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat, serta mencegah semua hal
yang dapat menjerumuskan dan merendahakan nilai-nilai kehidupan manusia.

Dengan adanya beberapa aspek tersebut di atas, diharapkan agar kehidupan umat Islam
pada umumnya dan warga Nahdlatul Ulama pada khususnya, akan dapat terpelihara secara
baik dan terjalin secara harmonis baik dalam lingkungan organisasi maupun dalam segenap
elemen masyarakat yang ada. Demikian pula perilaku warga Nahdlatul Ulama agar
senantiasa terbentuk atas dasar faham keagamaan dan sikap kemasyarakatan, sebagai
sarana untuk mencapai cita-cita dan tujuan yang baik bagi agama maupun masyarakat.

10
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Lahirnya Nahdlatul Ulama sebagai jamiyah keagamaan yang besar dilatarbelakangi


dengan serentetan proses yang panjang. Peristiwa-peristiwa yang melatar belakangi
lahirnya NU adalah adanya pertentangan pendapat antara Islam Tradisionalis dengan
Islam Modern, semangat nasionalisme, basis social Islam Tradisionalis dan peristiwa-
peristiwa Internasional. Atas prakarsa K.H Hasyim Asyari dan para ulama, maka demi
mewujudkan NU sebagai jamiyah, mereka mengambil tindakan untuk mengadakan
pertemuan dengan pemerintah kerajaan Saudi di Hijaz melalui panitia deleg
asi dari Indonesia yang disebut panitia Hijaz. Hasil dari Mekah tersebut adalah:
melindungi dan bersikap adil kepada warga Indonesia yang berada di Saudi,
menghormati adanya ajaran mazhab bagi pengikut mazhab, tidak melarang ajaran
ahlussunah yang sudah berkembang sejak dahulu kala.

DAFTAR PUSTAKA

Andree Feillard, 1999, NU vis--vis Negara, alih bahasa Lesmana cet. I, Yogyakarta:
LKIS.

A. Gafar Karim, 1995, Metamorfosis: NU dan Politisasi Islam Indonesia, cet, I,


Yogayakarta: Pustaka Pelajar.

M. Yeonus Noor dan Ismail S. Ahmad, KH. Abdul Wahab Hasbullah: Santri Kelana
Sejati, dalam Huwaidy Abdussami dan Ridwan Fakla AS (ed.), 1995,
Biografi 5 Rais Am NU, Cet. I, Yogyakarta: LTN-NU.

Deliar Noer, 1985, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarta: LP3ES.

A. Wahid Zaini, 1994, Dunia Pemikiran Kaum Santri, Yogayakarta: LKPSM.

Janji-janji tersebut selanjutnya termaktup di dalam surat resmi Raja Ibnu Saud, Nomor:
2082, tanggal 24 Dzulhijjah H/13 Juni 1928 M. Ali Asad, ke-NU-an.

Sekretariat Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Hasil-hasil Muktamar XXX


Nahdhatul Ulama (Jakarta: Sek. Jen. PBNU, 1999).

Mohamad Shodik, 2000, Gejolak Santri Kota: Aktivitas Muda NU Merambah Jalan
Lain, cet. I, Yogyakarta: Tiara Wacana.

Mustafa Kamal Pasha dan Ahmad Adaby Darban, 2000, Muhammadiyah sebagai
Gerakan Islam: Dalam Perspektif Historis dan Ideologis, cet. I,
Yogyakarta: LPPI.

11