Anda di halaman 1dari 22

TUGAS MAKALAH KGD

TENTANG

KASUS STATUS ASTHMATIKUS

DIBUAT OLEH KELOMPOK IV

ADDINUL FITRI NOVITA SARI

AMIRA PRATIWI SURYA FAJRI NUR

FAHRURROZI TIARA ADELINA

PROGRAM STUDY S1. ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)

FORT DE KOCK BUKITTINGGI

2017

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya,
sehingga makalah tugas KGD tentang Kasus Status Asthmatikus dapat terselesaikan.

Maksud dan tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk menyelesaikan tugas KGD dan
juga tugas makalah ini mendapatkan penilaian yang baik. Kami berharap makalah ini dapat
digunakan dengan baik dan dapat diambil manfaatnya dikemudian hari.

Segala kesalahan dan kekurangan dalam penyusunan makalah ini mohon untuk dimaklumi.
Dan untuk perbaikan dan penyempurnaan dimasa yang akan datang, kami mengharapkan
saran dan kritiknya. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Bukittinggi, 27 November 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................... 4
A. Latar Belakang ..................................................................................................................... 4
B. Rumusan Masalah ................................................................................................................ 4
C. Tujuan .................................................................................................................................. 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA .......................................................................................................... 6
A. Definisi ................................................................................................................................. 6
B. Etiologi ................................................................................................................................. 6
C. Patofisiologi ......................................................................................................................... 7
D. Manifestasi Klinis ................................................................................................................ 7
E. Komplikasi ........................................................................................................................... 9
F. Pemeriksaan Penunjang ....................................................................................................... 9
G. Penatalaksanaan Medis ...................................................................................................... 11
BAB III ASKEP TEORI ............................................................................................................... 14
A. Pengkajian .......................................................................................................................... 14
B. Diagnosa Keperawatan ...................................................................................................... 17
C. Diagnosa Prioritas Menurut Prioritas................................................................................. 17
D. Rencana Keperawatan ........................................................................................................ 18
BAB IV PENUTUP ...................................................................................................................... 21
A. Simpulan ............................................................................................................................ 21
B. Saran .................................................................................................................................. 21
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... 22

3
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Status Asmatikus adalah asma yang berat dan peristen yang tidak merespons terapi
konvensional. Serangan dapat berlangsung 24 jam. Infeksi, kecemasan, penggunaan
tranquiliser berlebihan, penyalahgunaan nebulizer, dehidrasi, peningkatan blok adrenergic,
dan iritan nonspesifik dapat menunjang episode ini. Episode akut mungkin dicetuskan oleh
hipersensitivitas terhadap penisilin (Smeltzer dan Bare 2002).
Status Asmatikus merupakan kedaruratan yang dapat berakibat kematian, oleh karena
itu :
1. Apabila terjadi serangan, harus ditanggulangi secara tepat dan di utamakan
terhadap usaha menanggulangi sumbatan saluran pernafasan
2. Keadaan tersebut harus dicegah dengan memperhatikan faktor-faktor yang
merangsang timbulnya serangan (debu, serbuk, makanan tertentu, infeksi saluran
pernafasan, stress emosi, obat-obatan tertentu seperti aspirin dan lain-lain).
Asma adalah penyakit saluran udara yang di tandai oleh peradangan saluran nafas dan
hyper reactivity (meningkat terhadap berbagai pemicu). Hyper reactivitas mengarah kesaluran
napas karena onset akut kejang otot pada otot polos dari tracheobronchial obstruksi pohon,
sehingga mengarah ke lumen menyempit. Selain kejang otot, terdapat pembengkakan mukosa,
yang menyebabkan edema. Terakhir, kalenjar lendir peningkatan jumlah, hipertrofi, dan
mengeluarkan lender tebal.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas, dapat saya ambil rumusan masalahnya sebagai
berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan Status Asmatikus?
2. Bagaimana etiologi dari Status Asmatikus ?
3. Bagaimana patofisiologi dari Status Asmatikus?
4. Bagaimana manifestasi klinis dari Status Asmatikus ?
5. Apa komplikasi dari Status Asmatikus ?

4
6. Bagaimana pemeriksaan penunjang dari Status Asmatikus?
7. Bagaimana penatalaksanaan medis dan asuhan keperawatan dari Status Asmatikus ?

C. Tujuan
Dari pembahasan rumusan masalah diatas dapat diambil tujuannya sebagai berikut;
1. Mengetahui definisi Penyakit Status Asmatikus?
2. Untuk mengetahui etiologi dari Penyakit Status Asmatikus?
3. Untuk mengetahui patofisiologi dan Pathway dari Penyakit Status Asmatikus?
4. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari Penyakit Status Asmatikus?
5. Untuk mengetahui komplikasi dari penyakit Status Asmatikus?
6. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari Penyakit Status Asmatikus?
7. Dapat mengetahui penatalaksanaan dan asuhan keperawatan penyakit Status
Asmatikus?

5
BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Definisi
Asthma adalah suatu gangguan yang komplek dari bronkial yang dikarakteristikan
oleh periode bronkospasme (kontraksi spasme yang lama pada jalan nafas). (Polaski : 1996).
Asthma adalah gangguan pada jalan nafas bronkial yang dikateristikan dengan
bronkospasme yang reversibel. (Joyce M. Black : 1996).
Asthma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversibel dimana trakea dan
bronkhi berespon secara hiperaktif terhadap stimulasi tertentu. (Smelzer Suzanne : 2001).
Status asmatikus adalah asma yang berat dan persisten yang tidak berespons terhadap
terapi konvensional. Serangan dapat berlangsung lebih dari 24 jam. Infeksi, ansietas,
penggunaan tranquiliser berlebihan, penyalahgunaan nebulizer, dehidrasi, peningkatan blok
adrenergic, dan iritan nonspesifik dapat menunjang episode ini. Epidsode akut mungkin
dicetuskan oleh hipersensitivitas terhadap penisilin.
Status asmatikus adalah suatu keadaan darurat medic berupa seranganasam berat
kemudian bertambah berat yang refrakter bila serangan 1 2 jam pemberian obat untuk
serangan asma akut seperti adrenalin subkutan, aminofilin intravena, atau antagonis 2 tidak
ada perbaikan atau malah memburuk.

B. Etiologi
Asma adalah suatu obstruktif jalan nafas yang reversibel yang disebabkan oleh :
1. Kontraksi otot di sekitar bronkus sehingga terjadi penyempitan jalan nafas.
2. Pembengkakan membran bronkus.
3. Terisinya bronkus oleh mukus yang kental.

6
C. Patofisiologi
Karakteristik dasar dari asma ( konstriksi otot polos bronchial, pembengkakan mukosa
bronchial, dan pengentalan sekresi ) mengurangi diameter bronchial dan nyata pada status
asmatikus. Abnormalitas ventilasi perfusi yang mengakibatkan hipoksemia dan respirasi
alkalosis pada awalnya, diikuti oleh respiratori asidosis.
Terhadap penurunan PaO2 dan respirasi alkalosis dengan penurunan PaCO2 dan
peningkatan pH. Dengan meningkatnya keparahan status asmatikus, PaCO2 meningkat dan
pH turun, mencerminkan respirasi asidosis.
Proses perjalanan penyakit asma dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu alergi dan psikologis,
kedua faktor tersebut dapat meningkatkan terjadinya kontraksi otot-otot polos, meningkatnya
sekret abnormal mukus pada bronkiolus dan adanya kontraksi pada trakea serta meningkatnya
produksi mukus jalan nafas, sehingga terjadi penyempitan pada jalan nafas dan penumpukan
udara di terminal oleh berbagai macam sebab maka akan menimbulkan gangguan seperti
gangguan ventilasi (hipoventilasi), distribusi ventilasi yang tidak merata dengan sirkulasi
darah paru, gangguan difusi gas di tingkat alveoli.
Tiga kategori asma alergi (asma ekstrinsik) ditemukan pada klien dewasa yaitu yang
disebabkan alergi tertentu, selain itu terdapat pula adanya riwayat penyakit atopik seperti
eksim, dermatitis (radang kulit), demam tinggi dan klien dengan riwayat asma. Sebaliknya
pada klien dengan asma intrinsik (idiopatik) sering ditemukan adanya faktor-faktor pencetus
yang tidak jelas, faktor yang spesifik seperti flu, latihan fisik, dan emosi (stress) dapat
memacu serangan asma.

D. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinik status asmatikus adalah sama dengan manifestasi yang terdapat
pada asma hebat pernapasan labored, perpanjangan ekshalasi, perbesaran vena leher, mengi.
Namun, lamanya mengi tidak mengindikasikan keparahan serangan. Dengan makin besarnya
obstruksi, mengi dapat hilang, yang sering kali menjadi pertanda bahaya gagal pernapasan.
Mengenal suatu serangan suatu asma akut pada dasarnya sangat mudah. Dengan
pemeriksaan klinis saja diagnosis sudah dapat ditegakkan, yaitu dengan adanya sesak napas
mendadak disertai bising mengi yang terdengar diseluruh lapangan paru. Namun yang sangat

7
penting dalam upaya penganggulangannya adalah menentukan derajat serangan terutama
menentukan apakah asam tersebut termasuk dalam serangan asma yang berat.
Asma akut berat yang mengancam jiwa terutama terjadi pada penderita usia
pertengahan atau lanjut, menderita asma yang lama sekitar 10 tahun, pernah mengalami
serangan asma akut berat sebelumnya dan menggunakan terapi steroid jangka panjang. Asma
akut berat yang potensial mengancam jiwa, mempuyai tanda dan gejala sebagai berikut.
1. Bising mengi dan sesak napas berat sehingga tidak mampu menyelesaikan satu kalimat
dengan sekali napas, atau kesulitan dalam bergerak.
2. Frekuensi napas lebih dari 25 x / menit
3. Denyut nadi lebih dari 110x/menit
4. Arus puncak ekspirasi ( APE ) kurang dari 50 % nilai dugaan atau nilai tertinggi yang
pernah dicapai atau kurang dari 120 lt/menit
5. Penurunan tekanan darah sistolik pada waktu inspirasi. Pulsus paradoksus, lebih dari 10
mmHg.

Menurut Brunner & Suddart. 2002.hal 614.


1. Asma hebat
2. Perpanjangan ekhalansi
3. Pembesaran vena leher
4. Mengi
Menurut Hudak & gallo 1997. hal 566 adalah:
1. Asietas akut
2. Usaha bernapas dengan keras
3. Takikardi
4. Berkeringat
Menurut Corwin 2001. hal 431. adalah:
1. Dipsnea berat
2. Retraksi dada
3. Napas cupin hidung
4. Whizzing
5. Pernapasan dangkal dan cepat

8
E. Komplikasi
1. Pencetus serangan (alergen, emosi/stress, obat-obatan, infeksi).
2. Kontraksi otot polos.
3. Edema (penimbunan cairan yang berlebih didalam jaringan) mukusa.
4. Hipersekresi (sekresi yang berlebih).
5. Penyempitan saluran pernapasan (obstruksi).
6. Hipoventilasi (keadaan nafas yang lambat dan dangkal).
7. Distribusi ventilasi tak merata dengan sirkulasi darah paru
8. Gangguan difusi gas di alveoli
9. Hipoxemia (keadaan kadar oksigen yang menurun dalam darah).
10. Hiperkarpia

F. Pemeriksaan Penunjang
Beberapa pemeriksaan penunjang seperti :
1. Spirometri (pengukuran kapasitas udara paru) :
Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas.
2. Tes provokasi :
Untuk menunjang adanya hiperaktifitas bronkus.
a) Tes provokasi dilakukan bila tidak dilakukan lewat tes spirometri.
b) Tes provokasi bronkial seperti :
c) Tes provokasi histamin (suatu senyawa amin depressor yang didapat
dengan dekarboksilasi histidin), metakolin, alergen, kegiatan jasmani,
hiperventilasi (keadaan nafas yang cepat) dengan udara dingin dan
inhalasi (penghirupan) dengan aqua destilata.
3. Tes kulit : Untuk menunjukkan adanya anti bodi Ig E (kependekan
immunoglobulin, protein penting dalam mekanisme imunologis) yang spesifik
dalam tubuh.
4. Pemeriksaan kadar Ig E total dengan Ig E spesifik dalam serum.
5. Pemeriksaan radiologi umumnya rontgen foto dada normal.
6. Analisa gas darah dilakukan pada asma berat.
7. Pemeriksaan eosinofil total dalam darah.

9
8. Pemeriksaan sputum.
9. Pemeriksaan fungsi paru adalah cara yang paling akurat dalam mengkaji obstruksi
jalan napas akut. Fungsi paru yang rendah mengakibatkan dan menyimpangkan
gas darah ( respirasi asidosis ), mungkin menandakan bahwa pasien menjadi lelah
dan akan membutuhkan ventilasi mekanis, adalah criteria lain yang menandakan
kebutuhan akan perawatan di rumah sakit. Meskipun kebanyakan pasien tidak
membutuhkan ventilasi mekanis, tindakan ini digunakan bila pasien dalam
keadaan gagal napas atau pada mereka yang kelelahan dan yang terlalu letih oleh
upaya bernapas atau mereka yang kondisinya tidak berespons terhadap
pengobatan awal.
10. Pemeriksaan gas darah arteri dilakukan jika pasien tidak mampu melakukan
maneuver fungsi pernapasan karena obstruksi berat atau keletihan, atau bila
pasien tidak berespon terhadap tindakan. Respirasi alkalosis ( CO2 rendah ) adalah
temuan yang paling umum pada pasien asmatik. Peningkatan PCO2 ( ke kadar
normal atau kadar yang menandakan respirasi asidosis ) seringkali merupakan
tanda bahaya serangan gagal napas. Adanya hipoksia berat, PaO2 < 60 mmHg
serta nilai pH darah rendah.
11. Arus puncak ekspirasi APE mudah diperiksa dengan alat yang sederhana,
flowmeter dan merupakan data yang objektif dalam menentukan derajat beratnya
penyakit. Dinyatakan dalam presentase dari nilai dungaan atau nilai tertinggi yang
pernah dicapai. Apabila kedua nilai itu tidak diketahui dilihat nilai mutlak saat
pemeriksaan.
12. Pemeriksaan foto thoraks
Pemeriksaan ini terutama dilakukan untuk melihat hal hal yang ikut
memperburuk atau komplikasi asma akut yang perlu juga mendapat penangan
seperti atelektasis, pneumonia, dan pneumothoraks. Pada serangan asma berat
gambaran radiologis thoraks memperlihatkan suatu hiperlusensi, pelebaran ruang
interkostal dan diagfragma yang meurun. Semua gambaran ini akan hilang seiring
dengan hilangnya serangan asma tersebut.

10
13. Elektrokardiografi
Tanda-tanda abnormalitas sementara dan refersible setelah terjadi perbaikanklinis
adalah gelombang P meninggi ( P pulmonal ), takikardi dengan atau tanpa aritmea
supraventrikuler, tanda tanda hipertrofi ventrikel kanan dan defiasi aksis ke
kanan.

G. Penatalaksanaan Medis
Semua penderita yang dirawat inap di rumah sakit memperlihatkan keadaan obstruktif
jalan napas yang berat. Perhatian khusus harus diberikan dalam perawatan, sedapat mungkin
dirawat oleh dokter dan perawat yang berpengalaman. Pemantauan dilakukan secara tepat
berpedoman secara klinis, uji faal paru ( APE ) untuk dapat menilai respon pengobatan
apakah membaik atau justru memburuk.
Perburukan mungkin saja terjadi oleh karena konstriksi bronkus yang lebih hebat lagi
maupun sebagai akibat terjadinya komplikasiseperti infeksi, pneumothoraks,
pneumomediastinum yang sudah tentu memerlukan pengobatan lainnya. Efek samping obat
yang berbahaya dapat terjadi pada pemberian drips aminofilin. Dokter yang merawat harus
mampu dengan akurat menentukan kapan penderita meski dikirim ke unit perawatan intensif.
Penderita status asmatikus yang dirawat inap di ruangan, setelah dikirim dari UGD
dilakukan penatalaksaanan sebagai berikut.
1. Pemberian terapi oksigen dilanjutkan
Terapi oksigen dilakukan megnatasi dispena, sianosis, danhipoksemia. Oksigen aliran
rendah yang dilembabkan baik dengan masker Venturi atau kateter hidung diberikan.
Aliran oksigen yang diberikan didasarkan pada nilai nilai gas darah. PaO2
dipertahankan antara 65 dan 85 mmHg. Pemberian sedative merupakan kontraindikasi.
Jika tidak terdapat respons terhadap pengobatan berulang, dibutuhkan perawatan di
rumah sakit.
2. Agonis 2
Dilanjutkan dengan pemberian inhalasi nebulasi 1 dosis tiap jam, kemudian dapat
diperjarang pemberiannya setiap 4 jam bila sudah ada perbaikan yang jelas. Sebagian
alternative lain dapat diberikan dalam bentuk inhalasi dengan nebuhaler /volumatic atau
secara injeksi. Bila terjadi perburukan, diberikan drips salbutamol atau terbutalin.

11
3. Aminofilin
Diberikan melalui infuse / drip dengan dosis 0,5 0,9 mg/kg BB / jam. Pemberian per
drip didahului dengan pemberian secara bolus apabila belum diberikan. Dosis drip
aminofilin direndahkan pada penderita dengan penyakit hati, gagal jantung, atau bila
penderita menggunakan simetidin, siprofloksasin atau eritromisin. Dosis tinggi
diberikan pada perokok. Gejala toksik pemberian aminofilin perlu diperhatikan. Bila
terjadi mual, muntah, atau anoreksia dosis harus diturunkan. Bila terjadi konfulsi,
aritmia jantung drip aminofilin segera dihentikan karena terjadi gejala toksik yang
berbahaya.
4. Kortikosteroid
Kortikosteroid dosis tinggi intraveni diberikan setiap 2 8 jam tergantung beratnya
keadaan serta kecepatan respon. Preparat pilihan adalah hidrokortison 200 400 mg
dengan dosis keseluruhan 1 4 gr / 24 jam. Sediaan yang lain dapat juga diberikan
sebagai alternative adalah triamsiolon 40 80 mg, dexamethason / betamethason 5 10
mg. bila tidak tersedia kortikosteroid intravena dapat diberikan kortikosteroid per oral
yaitu predmison atau predmisolon 30 60 mg/ hari.
5. Antikolonergik
Iptropium bromide dapt diberikan baik sendiri maupun dalam kombinasi dengan agonis
2 secara inhalasi nebulisasi terutama penambahan penambahan ini tidak diperlukan
bila pemberian agonis 2 sudah memberikan hasil yang baik.
6. Pengobatan lainnya
a) Hidrasi dan keseimbangan elektrolit
Dehidrasi hendaknya dinilai secara klinis, perlu juga pemeriksaan elektrolit serum,
dan penilaian adanya asidosis metabolic. Ringer laktat dapat diberikan sebagai
terapi awal untuk dehidrasi dan pada keadaan asidosis metabolic diberikan Natrium
Bikarbonat.
b) Mukolitik dan ekpetorans
Walaupun manfaatnya diragukan pada penderita dengan obstruksi jalan berat
ekspektorans seperti obat batuk hitam dan gliseril guaikolat dapat diberikan,
demikian juga mukolitik bromeksin maupun N-asetilsistein.

12
c) Fisioterapi dada
Drainase postural, fibrasi dan perkusi serta teknik fisioterapi lainnya hanya
dilakukan pada penderita hipersekresi mucus sebagai penyebab utama eksaserbasi
akut yang terjadi.
d) Antibiotic
Diberikan kalau jelas ada tanda tanda infeksi seperti demam, sputum purulent
dengan neutrofil leukositosis.
e) Sedasi dan antihistamin
Obat obat sedative merupakan indikasi kontra, kecuali di ruang perawatan
intensif. Sedangkan antihistamin tidak terbukti bermanfaat dalam pengobatan asma
akut berat malahan dapat menyebabkan pengeringan dahak yang mengakibatkan
sumbatan bronkus.

13
BAB III ASKEP TEORI

A. Pengkajian
Pengkajian khusus :
Kaji ABCDE terlebih dahulu pada pasien yang mengalami kegawat daruratan. Pengkajian
lengkap Head to toe hanya dilakukan jika masalah ABC telah tertangani only after.
1. Airway
Tanyakan pada pasien bagaimana keadaannya?
2. Breathing
a. Minta pas5ien untuk bernafas dan batuk
b. Observasi pergerakan dada
c. Observasi kedalaman dan kecepatan nafas
d. Catat pengunaan otot-otot bantu pernafasan
e. Auskultasi
3. Circulation
a. Kaji warna kulit / temperature / capilary reffil
b. Pulse (kecepatan, kekuatan dan irama)

Pengkajian umum
Dapatkan riwayat:
1) Riwayat alergi dalam keluarga, gangguan genetic, riwayat pasien tentang disfungsi
pernafasan sebelumnya; bukti terbaru penularan terhadap infeksi, allergen atau iritan
lain, trauma. Lakukan pengkajian fisik pada dada dan paru.

Observasi pernafasan terhadap:


2) Frekuensi: cepat (takipnea), normal atau lambat

14
3) Kedalaman: kedalaman normal, terlalu dangkal ( hipopnea ), terlalu dalam
(hiperpnea), biasanya diperkirakan dari amplitude torakal dan pegembangan
abdomen.
4) Kemudahan: kurang upaya, sulit (dispnea), ortopnea, dihubungkan dengan retraksi
enterkosta dan atau substrenal (inspirasi tenggelam dari jaringan lunak dalam
hubungannya dengan kartilaginosa dan tulang toraks), pulsus paradoksus (tekanan
darah turun dengan inspirasi dan menigkat karena ekspirasi), pernafasan cuping
hidung dan mengi.
5) Pernafasan sulit: kontinu, intermiten menjadi makin buruk dan menetap, awitan tiba-
tiba pada saat istirahat atau kerja, dihubungkan dengan mengi, menggorok,
dihubungkan dengan nyeri.
6) Irama: variasi dalam frekuesi dan kedalaman pernafasan.

Observasi dalam adanya:


1) Bukti infeksi: peningkatan suhu, pembesaran kelenjar limfe serfikal, membrane
mukosa terinflamasi, dan rabas purulen dari hidung, telinga atau paru- paru (sputum).
2) Mengi (wheezing): ekspirasi atau inspirasi, nada tinggi atau musical, memanjang,
secara lambat progresif atau tiba- tiba, berhubungan dengan pernafasan sulit
3) Sianosis: perhatikan distribusi (perifer, perioral, fasial, batang tubuh sera wajah,
derajat, durasi, berhubungan dengan aktivitas).
4) Nyeri dada: perhatikan lokasi dan situasi; terlokalisir atau menyebar, pernafasan
cepat, dangkal atau menggorok.

15
a. Pola pemeliharaan kesehatan
Gejala Asma dapat membatasi manusia untuk berperilaku hidup normal sehingga
pasien dengan Asma harus mengubah gaya hidupnya sesuai kondisi yang
memungkinkan tidak terjadi serangan Asma
b. Pola nutrisi dan metabolic
Perlu dikaji tentang status nutrisi pasien meliputi, jumlah, frekuensi, dan
kesulitan-kesulitan dalam memenuhi kebutuhnnya. Serta pada pasien sesak,
potensial sekali terjadinya kekurangan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi, hal ini
karena dispnea saat makan, laju metabolism serta ansietas yang dialami pasien.
c. Pola eliminasi
Perlu dikaji tentang kebiasaan BAB dan BAK mencakup warna, bentuk,
konsistensi, frekuensi, jumlah serta kesulitan dalam pola eliminasi.
d. Pola aktifitas dan latihan
Perlu dikaji tentang aktifitas keseharian pasien, seperti olahraga, bekerja, dan
aktifitas lainnya. Aktifitas fisik dapat terjadi faktor pencetus terjadinya Asma.
e. Pola istirahat dan tidur
Perlu dikaji tentang bagaiman tidur dan istirahat pasien meliputi berapa lama
pasien tidur dan istirahat. Serta berapa besar akibat kelelahan yang dialami pasien.
Adanya wheezing dan sesak dapat mempengaruhi pola tidur dan istirahat pasien.
f. Pola persepsi sensori dan kognitif
Kelainan pada pola persepsi dan kognitif akan mempengaruhi konsep diri pasien
dan akhirnya mempengaruhi jumlah stresor yang dialami pasien sehingga
kemungkinan terjadi serangan Asma yang berulang pun akan semakin tinggi.
g. Pola hubungan dengan orang lain
Gejala Asma sangat membatasi pasien untuk menjalankan kehidupannya secara
normal. Pasien perlu menyesuaikan kondisinya berhubungan dengan orang lain.
h. Pola reproduksi dan seksual
Reproduksi seksual merupakan kebutuhan dasar manusia, bila kebutuhan ini tidak
terpenuhi akan terjadi masalah dalam kehidupan pasien. Masalah ini akan menjadi
stresor yang akan meningkatkan kemungkinan terjadinya serangan Asma.

16
i. Pola persepsi diri dan konsep diri
Perlu dikaji tentang pasien terhadap penyakitnya.Persepsi yang salah dapat
menghambat respon kooperatif pada diri pasien. Cara memandang diri yang salah
juga akan menjadi stresor dalam kehidupan pasien.
j. Pola mekanisme dan koping
Stres dan ketegangan emosional merupakan faktor instrinsik pencetus serangan
Asma maka prlu dikaji penyebab terjadinya stress. Frekuensi dan pengaruh
terhadap kehidupan pasien serta cara penanggulangan terhadap stresor.
k. Pola nilai kepercayaan dan spiritual
Kedekatan pasien pada sesuatu yang diyakini di dunia dipercayai dapat
meningkatkan kekuatan jiwa pasien.Keyakinan pasien terhadap Tuhan Yang
Maha Esa serta pendekatan diri pada-Nya merupakan metode penanggulangan
stres yang konstruktif (Perry, 2005 & Asmadi 2008).

B. Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi secret
2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan bronkospasme
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen
4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan utama
atau imunitas
5. Cemas berhubungan dengan kurangnya tingkat pengetahuan
6. Gangguan pola tidur berhubungan dengan batuk yang berlebih
7. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik

C. Diagnosa Prioritas Menurut Prioritas


1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi secret
2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan bronkospasme
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik
5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan batuk yang berlebih

17
6. Cemas berhubungan dengan kurangnya tingkat pengetahuan
7. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan utama
atau imunitas

D. Rencana Keperawatan

No. Perancanaan keperawatan


Dx Tujuan(NOC) Rencana tindakan
keperawatan(NIC)
1. Tujuan : jalan napas menjadi efektif Kaji tanda-tanda vital dan
Kriteria hasil : auskultasi bunyi napas
a. Jalan napas bersih Berikan pasien untuk posisi
b. Sesak berkurang yang nyaman
c. Batuk efektif Pertahankan lingkungan yang
d. Mengeluarkan sekret nyaman
Tingkatkan masukan cairan,
denganmemberi air hangat
Dorong atau bantu latihan napas
dalam dan batuk efektif
Dorong atau berikan perawatan
mulut
Kolaborasi : pemberian obat dan
humidifikasi, seperti nebulizer
2. Tujuan : pola napas kembali efektif Kaji frekuensi kedalaman
Kriteria hasil : pernapasan dan ekspansi dada
a. Pola napas efektif Auskultasi bunyi napas
b. Bunyi napas normal kembali Tinggikan kepala dan bentuk
c. Batuk berkurang mengubah posisi
Kolaborasi pemberian oksigen
3. Tujuan :dapat mempertahankan pertukaran gas Kaji frekuensi, kedalaman
Kriteria hasil : pernapasan
a. Tidak ada dispnea Tinggikan kepala tempat tidur,

18
b. Pernapasan normal bantu pasien untuk memilih
posisi yang nyaman untuk
bernapas
Kaji atau awasi secar rutin kulit
dan warna membran mukosa
Dorong pengeluaran sputum:
penghisapan bila diindikasikan
Auskultasi bunyi napas
Palpasi Fremirus
Evaluasi tingkat toleransi
aktivitas
Kolaborasi : Berikan oksigen
tambahan sesuai indikasi
4 Tujuan : aktivitas normal Kaji tingkat kemampuan
Kriteria hasil : aktivitas
a. Pasien dapat berpartisipasi dalam aktivitas Anjurkan keluarga untuk
b. Pasien dapat memenuhi kebutuhan pasien membantu memenuhi
secara mandiri
kebutuhaan pasien
Tingkatkan aktivitas secara
bertahap sesuai toleransi
Jelaskan pentingnya istirahat
dan aktivitas dalaam proses
penyembuhan
5 Tujuan : pola tidur terpenuhi Kaji pola tidur setiap hari
Kriteria hasil : Beri posisi yang nyaman
a. Pola tidur 6-7 jam per hari Berikan lingkungan yang
b. Tidur tidak terganggu karena batuk nyaman
Anjurkan kepada keluarga dan
pengunjung untuk tidak ramai
Menjelaskan pada pasien
pentingnya keseimbangan

19
istirahat dan tidur untuk
penyembuhan
6 Tujuan : kecemasan pasien berkurang Kaji tingkat kecemasan
Kriteria hasil : Berikan pengetahuan tentang
a. Pasien terlihat tenang penyakit yang diderita
b. Cemas berkurang Berikan dukungan pada pasien
c. Ekspresi wajah tenang untuk mengungkapkan
perasaannya
Ajarkan teknik napas dalam
pada pasien
7 Tujuan :tidak mengalami infeksi noskomial Monitor tanda-tanda vital
Kriteria hasil : Observasi warna, karakter,
a. Tidak ada tanda-tanda infeksi jumlah sputum
b. Mukosa mulut lembab Berikan nutrisi yang adekuat
c. Batuk berkurang Berikan antibiotik sesuai
indikasi

20
BAB IV PENUTUP

A. Simpulan
Status Asmatikus adalah asma yang berat dan peristen yang tidak merespons terapi
konvensional. Serangan dapat berlangsung 24 jam. Infeksi, kecemasan, penggunaan
tranquiliser berlebihan, penyalahgunaan nebulizer, dehidrasi, peningkatan blok adrenergic,
dan iritan nonspesifik dapat menunjang episode ini. Episode akut mungkin dicetuskan oleh
hipersensitivitas terhadap penisilin (Smeltzer dan Bare 2002).
Manifestasi klinik status asmatikus adalah sama dengan manifestasi yang terdapat
pada asma hebat pernapasan labored, perpanjangan ekshalasi, perbesaran vena leher, mengi.
Namun, lamanya mengi tidak mengindikasikan keparahan serangan. Dengan makin besarnya
obstruksi, mengi dapat hilang, yang sering kali menjadi pertanda bahaya gagal pernapasan.

B. Saran
Saat melaksanakan pengkajian pada klien status asmatikus untuk mempertahankan
keluhan yang dirasakan oleh klien, dan yang paling penting adalah terbinanya hubungan
saling percaya antara perawat dengan klien dan keluarga klien. Dan sebelum membuat
perencanaan hendaknya perawat memperhatikan aspek perawatan yaitu bio, psiko, sosio, dan
spiritual.

21
DAFTAR PUSTAKA

Faisal Y, Hadiarto M. 1992. Status asmatikus. Dalam: Pulmonologi Klinik, 189-198. Jakarta:
FKUI
Hadiarto, M.1993.Pedoman diagnosis dan penatalaksanaan asma akut dan status asmatikus.
Naskah lengkap Penyegaran Dokter Ahli Penyakit Paru Alumni FKUI. Jakarta: Bagian
Pulmonologi FKUI
Hadiarto, Mashabi A, Zulkifli M, Farid M.1982.Pedoman diagnosis dan penatalaksanaan status
asmatikus.Jakarta: Bagian Pulmonologi FKUI
Muttaqin, Arif. 2012. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem
Pernafasan. Jakarta : Salemba Medika.

http://dwisetyorinini201093.blogspot.co.id/2013/10/penanganan-kasus-status-
asmatikuspada.html (diakses diakses 27 November 2017)

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/135/jtptunimus-gdl-sitiistian-6715-2babii.pdf. (diakses 27
November 2017)
http://dwidclimbing.blogspot.co.id/2012/07/askep-asmatikus.html (diakses diakses 27 November
2017)

22