Anda di halaman 1dari 22

Pengamatan Lapangan dan Penerapan Teknik Pengendalian

oleh Petani
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi
Pengendalian Hama dan Penyakit

Disusun Oleh :

Sabam Limbong (A-024)


Desriani C (A-063)
Yosevinna Lumbantobing (A-081)
Rifaldo Lumbanbatu (A-190)

Kelas: Agroteknologi-E

Program Studi Agroteknologi


Fakultas Pertanian
Universitas Padjadjaran
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah
Teknologi Pengendalian Hama dan Penyakit semester ganjil tahun ajaran 2017/2018 di
Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Kami juga berterimakasih kepada dosen
Teknologi Pengendalian Hama dan Penyakit karena telah memberikan tugas
pengamatan lapangan pada petani komoditas sayuran yaitu tanaman petsai/sawi . Sawi
(Brassica chinensis L.) adalah salah satu komoditas sayuran yang mempunyai nilai
ekonomi tinggi. Namun, dalam budidaya tanaman tersebut tidak sedikit tantangan dan
kendala yang dihadapi, khususnya masalah serangan hama dan penyakit yang dapat
mengagalkan panen.
Kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan-kesalahan dalam makalah ini.
Kami mengharapkan kritik dan saran dari dosen dan teman-teman demi perbaikan
makalah ini kedepannya. Semoga makalah pengamatan lapangan tanaman kubis ini
dapat bermanfaat bagi pembaca. Akhir kata, kami mengucapkan terimakasih.

Jatinangor, 28 November 2017

Kelompok 1

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................................... 2


DAFTAR ISI ..................................................................................................................................... 3
BAB 1 PENDAHULUAN ................................................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang ..................................................................................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah : ............................................................................................................. 5
1.3 Tujuan : ................................................................................................................................ 5
BAB II PEMBAHASAN .......................................................................Error! Bookmark not defined.
BAB III PENUTUP.......................................................................................................................... 21
3.1 Kesimpulan ........................................................................................................................ 21
3.2 Daftar pustaka .................................................................................................................. 22

3
BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Di Indonesia dikenal tiga jenis sawi yaitu: sawi putih atau sawi jabung, sawi hijau
dan sawi huma. Sawi putih ( B. Juncea L. Var. Rugosa Roxb. & Prain ) memiliki batang
pendek, tegap dan daun lebar berwarna hijau tua,tangkai daun panjang dan
bersayap melengkung ke bawah. Sawi hijau, memiliki ciri-ciri batang pendek, daun
berwarna hijau keputih - putihan, serta rasanya agak pahit, sedangkan sawi huma
memiliki ciri batang kecil - panjang dan langsing, daun panjang sempit berwarna
hijau keputih - putihan, serta tangkai daun panjang dan bersayap (Rukmana, 1994).

Sawi putih ( Brassica pekinensia L) termasuk jenis tanaman sayuran daun dan
tergolong ke dalam tanaman semusim ( berumur pendek). Tanaman tumbuh pendek
dengan tinggi sekitar 26 cm-33 cm atau lebih, tergantung dari varietasnya. Tanaman
sawi putih membentuk krop, yaitu kumpulan daun-daun yang membentuk kepala.
Tanaman sawi putih berakar serabut yang tumbuh dan berkembang secara
menyebar ke semua arah di sekitar permukaan tanah, sehingga perakarannya sangat
dangkal pada kedalaman sekitar 5 cm. Tanaman sawi putih tidak memiliki akar
tunggang. Perakaran tanaman sawi putih dapat tumbuh dan berkembang dengan
baik pada tanah yang gembur, subur, mudah meyerap air, dan kedalaman tanah (
solum tanah) cukup dalam.

Tanaman sawi putih memiliki batang sejati pendek dabn bersayap terletak pada
bagian dasar yang berada di dalam tanah. Batang sejati bersifat tidak keras dan
berwarna keputih-putih. Batang sejati memiliki ukuran panjang 1,5 cm, dan
diameternya 3,5 cm. Pada umumnya batang sawi putih bercabang. Daun tanamn
sawi putih berbentuk bulat panjang (lonjong) dan agak lebar, kasar, berkerut-kerut,
berbulu halus sampai kasar ( namun ada yang berdaun halus dan tidak berbulu),
berwarna hijau muda sampai hijau tua. Daun memiliki tangkai daun yang panjang,
berwwarna putih,, agak lebar dan pipih, bersifat lemas dan halus. Pelepah-pelepah

4
tersusun saling membungkus dengan pelepah-pelepah daun yang lebih muda
sehingga membentuk kepala (krop), akan tetapi pada daun-daun tua (paling bawah)
membuka.

Sawi putih (Brassica pekinensia L) memiliki banyak varietas, diantaranya ada


yang berbulu dan tidak berbulu. Varietas yang berbulu memiliki ciri-ciri daun kasar,
berkerut-kerut, berbulu halus sampai kasar, bentuk krop bulat, bulat memanjang,
atau variasi bentuk lainnya yang umumnya kompak atau padat. Misalnya, Varietas
yokohama, superking, Eikun, Deli-3, Okinawa, summer bright, Early Spring,dan lain
sebagainya. Sedangkan varietas yang tidak berbulu memiliki ciri-ciri daun mulus,
berkerut-kerut, tidak berbulu, bentuk krop bulat, bulat memanjang atau variasi
bentuk lainnya yang umumnya kompak atau padat. Misalnya, varietas LUI, SP8-IQ,
jade crown, fine zone, Whire sun, dan lain sebagainya.

1.2 Rumusan Masalah :


1. Bagaimana kondisi agroekosistem tanaman kubis yang telah diamati ?

2. Bagaimana sejarah lahan dari pertanaman kubis yang telah diamati?

3. Bagaimana penerapan pengendalian tanaman kubis yang telah diamati ?

4. Bagaimana penggunaan pestisida yang digunakan petani tersebut ?

5. Apa saja penyakit yang terdapat pada tanaman kubis serta gangguan, siklus,
penyebaran, dan pengendalian masing-masing penyakit?

6. Bagaimana pengetahuan petani tersebut tentang pengendalian terpadu?

1.3 Tujuan :
Dengan melakukan pengamatan lapangan pada pertanaman sawi dapat
mengetahui kondisi agroekosistem tanaman sawi, sejarah lahan dari pertanaman
sawi, penerapan pengendalian tanaman sawi, penggunaan pestisida yang digunakan
petani, pengetahuan petani tersebut tentang pengendalian terpadu , , dan
mengetahui jenis-jenis penyakit, gangguan, daur hidup patogen, pengendalian
penyakit yang terdapat pada tanaman sawi.

5
BAB II

PEMBAHASAN DAN ISI

A. Jenis-jenis penyakit yang ditemukan di tanaman sawi putih:

1. Penyakit Akar gada

Penyakit akar gada (clubroot) yang disebabkan oleh Plasmodiophora brassicae Wor.
merupakan salah satu penyakit tular tanah yang sangat penting pada tanaman kubis-
kubisan (Brassica spp.) di seluruh dunia (Karling 1968; Voorrips 1995). Menurut Karling
(1968), kerugian yang disebabkan oleh P. Brassicae pada tanaman kubis-kubisan di
Inggris, Jerman Amerika Serikat, Asia, dan Afrika Selatan mencapai 50-100%
A. Gejala Serangan

Penyakit ini ditandai dengan gejala serangan yaitu daun memucat dan layu pada siang
hari padahal tidak kekurangan air kemudian terlihat segar kembali pada sore hari
menjelang malam, pada serangan berat jaringan akar akan membusuk dan
membengkak sedangkan daun akan layu dan menguning.

B. Daur hidup

Plasmodiophora brassicae memiliki daur hidup, dimulai dengan perkecambahan satu


zoospora primer dari satu spora rehat haploid di dalam tanah. Zoospora primer ini
mempenetrasi rambut akar dan selanjutnya masuk ke dalam sel inang (Aist dan Williams
1971 dalam Voorrips 1995). Setelah penetrasi rambut akar atau sel epidermis inang oleh
zoospora primer, protoplas yang berinti satu terbawa masuk ke dalam sel inang,
kemudian terjadi pembelahan miosis dan pembentukan plasmodium primer oleh
protoplas. Setelah mencapai ukuran tertentu, bergantung pada ukuran sel epidermis
inang, plasmodium primer membelah menjadi beberapa bagian yang kemudian
berkembang menjadi zoosporangia (Alexopoulos et al. 1996). Setiap zoosporangium
mengandung 4 atau 8 zoospora sekunder yang dapat terlepas melalui lubang atau pori-
pori pada dinding sel inang (Agrios 1997). Naiki et al. (1984) dalam Voorrips (1995)
menyatakan bahwa zoospora sekunder dapat menginfeksi kembali rambut akar, yang
menyebabkan perkembangan aseksual patogen menjadi cepat. Setelah miosis,
terbentuk inti diploid baru, yang kemudian berkembang menjadi spora rehat haploid

6
dan terlepas masuk ke dalam tanah ketika akar yang sakit rusak (Voorrips 1995).
Perkecambahan spora terjadi pada pH 5,507,50 dan tidak berkecambah pada pH 8
(Karling 1968). Kisaran suhu bagi perkembangan patogen adalah 17,80 25o C dengan
suhu minimum 12,20o C dan maksimum 27,20o C (Agrios 1997). Tingkat infeksi juga
ditentukan oleh jumlah spora rehat patogen. Suspensi yang mengandung paling sedikit
106 108 sel spora setiap ml sangat efektif untuk melakukan infeksi. Menurut Djatnika
(1989), 104 sel spora masih mampu menginfeksi tanaman.

C. Penyebaran Penyakit

Penyebaran penyakit akar gada Penyakit akar gada pertama kali diketahui di Indonesia
pada tahun 1950 di daerah Sukabumi, Jawa Barat. Pada musim hujan tahun 1975/1976
penyakit tersebut juga ditemukan di Kebun Percobaan Margahayu, Lembang (Suhardi
dan Suryaningsih 1976). Menurut Djatnika (1984), P. brassicae telah menyebar di
Sumatera Utara, Jawa Tengah, dan terutama di Jawa Barat. Pada tahun 1988 bahkan
sudah ditemukan pada tanaman petsai di Jeneponto, Sulawesi Selatan (Hutagalung et
al. 1989). Saat ini penyakit tersebut telah menyebar ke daerah-daerah penghasil kubis
dan tanaman dari famili Brassicaceae lainnya (Widodo dan Suheri 1995). Patogen dapat
terpencar di alam melalui tanah dengan berbagai cara atau perantara, misalnya
perlengkapan usaha tani, bibit pada saat pemindahan ke lapangan, hasil panen, air
permukaan, angin dan melalui pupuk kandang Patogen juga dapat ditularkan oleh biji
melalui konta-minasi permukaan biji dengan tanah yang terinfeksi. Selain itu sejumlah
tanaman cruciferae liar dan beberapa tanaman inang lain yang rentan terhadap
penyakit akar gada dapat menjadi tempat bertahan hidup patogen pada saat tanaman
budi daya tidak ada (Karling 1968).

D. Pengendalian

Untuk itu diperlukan pengendalian agar penyakit akar gada tidak menyerang tanaman
sawi, yaitu dengan kultur teknis, penggunaan varietas resisten, dan secara kimiawi.

Penggunaan varietas resisten

Pemuliaan tanaman untuk memperoleh varietas yang resisten berjalan lambat (Dobson
et al. 1983). Salah satu penyebabnya adalah di beberapa tempat populasi P. brassicae
mempunyai patotipe atau ras fisiologi yang berbeda. Reyes et al. (1974) melaporkan
terdapat sembilan jenis gulma dari cruciferae yang rentan terhadap ras 6. Di lahan

7
pertanaman kubiskubisan di Jawa Barat ditemukan empat ras P. brassicae (Djatnika
1990c). Menurut Wallenhammar (1996), patogenesitas P. brassicae pada tanaman
caisin cv. Granat dan kultivar-kultivar brassica lainnya menunjukkan variasi pada tanah
yang berbeda. Dalam tanah, populasi P. brassicae umumnya terdiri atas campuran
berbagai patotipe

Kultur Teknis

Pengapuran tanah dapat mengendalikan penyakit jika kepadatan spora rehat rendah ,
namun aplikasinya tidak efektif pada tanah yang terkontaminasi sangat parah (Colhoun
dalam Wallenhammar 18 Jurnal Litbang Pertanian, 25(1), 2006 1996), Melakukan
sanitasi sebelum penanaman, dan mengubah ph tanah untuk menekan perkembangan
patogen .

Kimiawi

Fumigasi tanah dengan metil bromida dapat mematikan P. brassicae, tetapi cara ini tidak
dianjurkan di lapangan karena berbahaya dan mahal. Pengendalian dengan fungisida
tidak selalu menunjukkan hasil yang memuaskan. Pencelupan akar bibit dalam cairan
fungisida yang mengandung pentachloro-nitrobenzene (PCNB) atau derivat
benzimidazole dapat mengurangi intensitas penyakit akar gada dalam beberapa kasus
saja (Reyes et al. 1974), tetapi tidak efektif jika digunakan pada tanah yang mengandung
banyak pupuk kandang (Rowe dan Farley 1979). Hal ini disebabkan fungisida yang
diaplikasikan tidak dapat mencapai tanah yang mengandung patogen karena terhalang
oleh pupuk kandang, atau dengan kata lain sebagian fungisida yang diaplikasikan hanya
menempel pada pupuk kandang. Penggunaan dazomet di beberapa negara dapat
menanggulangi serangan penyakit akar gada

2. Penyakit Busuk Hitam

Disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris pv.campestris . Bakteri ini tergolong


bakteri yang bersel tunggal, berbentuk batang, tidak membentuk spora, dan bersifat
gram negatif. Bakteri berukuran (0,3 - 0,5) x (7 - 2,0) mikron, bergerak aktif dengan
menggunakan flagelum tunggal polar.

8
Penyakit ini disebut juga busuk bakteri atau busuk coklat dan telah tersebar di seluruh
dunia (Pracaya, 1992). Tanaman kubis-kubisan yang akan tumbuh pada kelembaban
yang cukup tinggi (60-69%) dan suhu yang cukup rendah dapat memunculkan berbagai
penyakit, terutama bakteri dan cendawan. Kedua patogen inilah yang merupakan
patogen utama pada kubis (Pracaya, 2001). Penyakit ini memiliki gejala serangan seperti
Infeksi tanaman oleh bakteri ini menyebabkan batang atau massa bunga yang terserang
menjadi busuk berwarna hitam atau coklat sehingga tanaman tidak dapat dipanen.

A. Gejala Serangan

Gejala khas di daun pada penyakit busuk hitam yang dapat membedakannya dengan
penyakit lain adalah bercak kuning berbentuk V. Bercak ini kemudian dapat menyebar
ke seluruh daun dan tanaman. Bakteri dapat pula menyebabkan pembuluh menghitam,
pengangkutan nutrisi terhambat, dan krop hitam. Menurut Pracaya (2001), gejala awal
penyakit busuk hitam berupa bercak mirip huruf V berwarna kuning di bagian tepi ujung
daun yang meluas menuju tulang daun bagian tengah.

B. Daur hidup

Siklus penyakit busuk hitam yaitu Sumber utama bakteri untuk pengembangan busuk
hitam di bidang produksi benih penuh, transplantasi terinfeksi, dan gulma silangan
terinfeksi. Bakteri ini disebarkan dalam panen terutama oleh angin-angin dan percikan
air dan oleh para pekerja, mesin, dan kadang-kadang serangga. X. campestris dapat
bertahan hidup pada permukaan daun selama beberapa hari sampai tersebar ke
hidatoda atau luka di mana infeksi dapat terjadi. Bakteri masuk ke daun melalui hidatoda
saat memancarkan air melalui pori-pori di tepi daun pada malam hari, ditarik kembali ke
dalam jaringan daun pada pagi hari (Soeroto, 1994). Bakteri dapat masuk ke daun dalam
8 sampai 10 jam, dan gejala yang terlihat layu secepat 5-15 jam kemudian. Luka,
termasuk yang dibuat oleh serangga makan pada daun dan cedera mekanik ke akar
selama tanam, juga menyediakan situs masuk. Gerakan bakteri ke tanaman melalui
hidatoda dibatasi dalam varietas tahan; akibatnya, ada situs infeksi yang lebih sedikit
dan / atau bagian yang terkena jauh lebih kecil dalam varietas tahan daripada varietas
rentan.

C. Penyebaran

9
Penyebaran penyakit ini yaitu dengan spora. Pada kondisi yang hangat dan basah
kerugian busuk hitam dapat melampaui 50% karena penyebaran penyakit ini. Hujan dan
kabut tebal atau embun dan suhu hari 75 sampai 95 F yang paling menguntungkan
bagi patogen. Di bawah dingin, kondisi basah infeksi dapat terjadi tanpa gejala
perkembangan. Akibatnya, transplantasi tumbuh pada temperature rendah mungkin
terinfeksi tetapi tanpa gejala. Bakteri tidak menyebar di bawah 50 F atau selama cuaca
kering (Permadi,1993).

D. Pengendalian

Pengendalian pada penyakit busuk buah yaitu dapat dilakukan dengan Menurut
Rukmana (1994), pengendalian dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman yang bukan
jenis kubis-kubisan, sehingga akan memberikan waktu yang cukup bagi serasah dari
tanaman kubis-kubisan untuk melapuk. Lalu menggunakan benih bebas hama dan
penyakit yang dihasilkan di iklim yang kering. Hindari untuk bekerja di lahan saat daun
tanaman basah. Tanamlah varietas kubis yang tahan terhadap busuk hitam.
Penyemprotan bakterisida Kocide 77 WP sangat dianjurkan, terutama untuk budidaya
di musim penghujan. Tanaman dan daun sakit dipendam dalam tanah. Menutup tanah
dengan jerami untuk mengurangi penyakit.

Perlakuan benih dengan cara merendam benih dalam air hangat bersuhu 52C selama
30 menit. Tanaman yang terserang bakteri busuk hitam dicabut dan dimusnahkan.
Dalam pemanenan kubis diikutsertakan dua helai daun hijau untuk melindungi krop.
Pemanenan harus dilakukan dengan hati-hati, agar tidak terjadi luka. Daun-daun yang
terinfeksi dikumpulkan untuk dimusnahkan (Soeroto,1994).

3. Penyakit Busuk Lunak


Penyakit busuk lunak (soft rot) merupakan penyakit yang merugikan pada tanaman
sayuran termasuk kubis, baik di lapangan maupun di dalam penyimpanan dan
pengangkutan sebagai penyakit pascapanen (Djatnika 1993). Penyakit ini disebabkan
oleh bakteri Erwinia carotovora pv carotovora (Jones) Dye. Bakteri berbentuk batang,
berukuran 0,7x1,5 m, tidak membentuk spora atau kapsula. Bakteri menghasilkan
enzim pektinase yang dapat 9 menguraikan pektin (yang berfungsi untuk merekatkan
dinding-dinding sel yang berdampingan), sehingga dengan terurainya pektin tersebut
sel-sel akan terlepas satu sama lain (Semangun 2000).

10
A. Gejala Serangan
Gejala yang umum terdapat pada tanaman kubis adalah mula-mula pada bagian yang
terinfeksi terjadi bercak kebasahan yang kemudian membesar dan mengendap dengan
bentuk yang tidak teratur berwarna coklat tua kehitaman. Jaringan yang membusuk
pada mulanya tidak berbau tetapi dengan adanya serangan bakteri sekunder jaringan
tersebut menjadi berbau khas yang menyolok hidung (Sastrosiswojo et al. 2000).
B. Daur Hidup

Daur hidup Erwinia carotovora pada umumnya iinfeksi terjadi melalui luka atau lentisel.
Infeksi dapat terjadi melalui luka-luka karena gigitan serangga atau karena alat-alat
pertanian. Larva dan Imago lalat buah dapat menularkan bakteri, karena serangga ini
membuat luka dan mengandung bakteri dalam tubuhnya. Di dalam simpanan dan
pengangkutan infeksi terjadi melalui luka karena gesekan, dan sentuhan antara bagian
tanaman yang sehat dengan yang sakit.

C. Penyebaran
Perkembangan penyakit ini disebabkan karena drainase yang buruk, kelembapan yang
tinggi, curah hujan yang tinggi, adanya sisa tanaman yang terinfeksi disekitar daerah
penanaman dan suhu yang rendah. Kondisi pada pasca panen yang bisa menyebabkan
perkembangan penyakit yaitu pada saat adnya luka, luka ini yang memudahkan
tanaman kubis-kubisan mudah terinfeksi

D. Pengendalian
Di Indonesia pengetahuan mengenai penyakit busuk lunak masih sangat terbatas,
sehingga anjuran yang mantap untuk mengendalikan penyakit tersebut belum dapat
diberikan. Untuk sementara Machmud (1984) memberikan anjuran sebagai berikut.
A. Sanitasi. Menjaga kebersihan kebun dari sisa-sisa tanaman sakit sebelum
penanaman.
B. Menanam dengan jarak yang tidak terlalu rapat untuk menghindarkan
kelembaban yang terlalu tinggi, terutama di musim hujan.
C. Pada waktu memelihara tanaman diusahakan untuk sejauh mungkin menghindari
terjadinya luka yang tidak perlu, khususnya pada waktu menyerang.
D. Pengendalian pasca panen dilakukan dengan cara :

11
Mencuci tanaman dengan air yang mengandung chlorin. Untuk mencuci
tanaman dapat juga di pakai boraks 7,5%.
Mengurangi terjadinya luka pada waktu penyimpanan dan pengangkutan.
Menyimpan dalam ruangan yang cukup kering, mempunyai ventilasi yang
cukup, sejuk dan difumigasinya sebelumnya.
4. Penyakit Bercak Daun Alternaria
Bercak daun Alternaria. Penyakit ini merupakan penyakit yang menjadi masalah
khususnya pada petsai, dan menyebar luas hampir di seluruh pertanaman kubis di dunia
(Djatnika 1993). Penyakit bercak daun alternaria ini disebabkan oleh cendawan
Alternaria brassicae atau Alternaria brassicicola. Kedua patogen ini umumnya
menyerang pada daun tua.
A. Gejala serangan
Gejala seranggannya seperti bercak-bercak bulat coklat dan lingkaran konsentris yang
merupakan kumpulan spora, yang akhirnya berubah keabu-abuan pada permukaan
daun bagian bawah, tepi daun berwarna hitam.
B. Daur Hidup
Miselium A. brassicae bercabang-cabang, bening, halus. Konodiofor dalam bentuk
kelompok 2-10 atau lebih dengan konidianya soliter dan kadang-kadang membentuk
rantai. Miselium A. brassicicola bercabang-cabang, bening dan kemudian berubah
menjadi coklat. Konidifor tunggal atau dalam kelompok 2-12 atau lebih dan bersepta.
Konidia relatif lebih pendek dibandingkan dengan konidia A. brassicae (Djatnika 1993).
C. Penyebaran
Penyebaran kedua patogen ini dapat melalui udara atau benih (Semangun 2000).
Miselium A. brassicae bercabang-cabang, bening, halus. Konodiofor dalam bentuk
kelompok 2-10 atau lebih dengan konidianya soliter dan kadang-kadang membentuk
rantai. Miselium A. brassicicola bercabang-cabang, bening dan kemudian berubah
menjadi coklat. Konidifor tunggal atau dalam kelompok 2-12 atau lebih dan bersepta.
Konidia relatif lebih pendek dibandingkan dengan konidia A. brassicae (Djatnika 1993).
D. Pengendalian
Pengendalian dapat dilakukan dengan perlakuan benih yang direndam dengan air
hangat (50 0 C) selama 15 menit, jarak tanam yang tidak terlalu rapat sehingga sirkulasi
udara berjalan dengan baik, pergiliran tanaman dengan tanaman 8 selain kubis-kubisan

12
dan sebagai alternatif terakhir dengan penyemprotan fungisida yang berbahan aktif
benomil

B. Pengamatan Tanaman sawi pada petani

Nama Tanaman : Pechay


Group : 1
Nama Petani : Pak Engkon
Umur : 61 tahun
Pendidikan : SD
Pekerjaan utama : Petani
Pekerjaan istri : Ibu Rumah Tangga
Jumlah : 1
tanggungan
Lokasi lahan : Dusun /Desa : Desa Wangun Harja, Cicalung
Kecamatan, Kabupaten : Lembang, Bandung Barat

1. Kondisi Agroekosistem

a Jenis lahan: sawah /lahan kering Lahan Kering


(ladang)
b Luas lahan (ha/tumbak) 75 tumbak
c Status kepemilikan lahan Tanah Desa
(pemilik/sewa/bagi hasil)
d Kondisi lokasi lahan : Dataran tinggi (>1000 mdpl)
Topografi Tidak datar (berlereng dan
berlembah)
e Kondisi Tanah: Halus
- Tekstur tanah: kasar /sedang / halus
- Jenis tanah : liat-
berlempung/berpasir/remah/..

f Sistem tanam (monokultur/ Tumpangsari


tumpangsari)
g - Jenis Tanaman Utama Kubis Pecay
- Jenis tanaman sekunder Cabai
h Jenis tanaman yang diusahakan Kubis Pechay (45 Hari), Cabai
dalam 1 tahun terakhir dan masa Rawit (5 Bulan), Cabai (5 bulan)
tanam masing-masing jenis tnm

13
i Jenis tanaman/tumbuhan yang
berbatasan dengan lahan yang
diamati : Letuce
Sebelah selatan
Sebelah barat Tomat dan buncis
Sebelah timur Letuce
Sebelah utara Letuce dan brumkol
j Kondisi lingkungan (musim) saat Musim hujan
survey dilakukan

2. Hama dan Penyakit serta Cara Pengendaliannya

A. Untuk diisi oleh mahasiswa


Data Jenis hama yang ditemukan pada pertanaman
No Jenis Intensitas Bagian Gejala
hama kerusakan tanaman kerusakan
(Populasi yang
hama) diserang
1. Ulat Daun berlubang
100% Daun
plutella
2. Ulat Daun berlubang
10% Daun
grayak

Jelaskan Teknik sampling yang digunakan :

Data Jenis penyakit yang ditemukan pada pertanaman


No Jenis Intensitas Bagian Gejala
penyakit penyakit tanaman kerusakan
yang
diserang
1. Akar Daun
100% Semua
gada menguning, layu

14
Jelaskan teknik sampling dan penghitungan Intensitas Penyakit yang digunakan

Data Jenis musuh alami yang ditemukan pada pertanaman


No Jenis musuh Ditemukan Karakteristik musuh alami
alami Pada
Bagian
tanaman
1. Kumbang koksi Daun Ordo : Coleoptera
Panjang tubuh : 1cm
Kaki : kaki pendek
Kepala: Melihat kearah
bawah
Kaki nya terdapat rambut
halus
Sayap : 1 pasang
berbentuk nyaris bundar ,
sayap belakang berwarna
transparan
Makanan : serangga hama
seperti kutu daun
2. Ulat Daun Ukuran : 6mm
Kaki : 8 kaki
Sayap : -
Bagian tubuh : 2 bagian

B. (Untuk ditanyakan kepada petani)

3. Hama dan penyakit yang pernah sangat merugikan tanaman bapak

15
No Jenis hama/penyakit Kapan terjadinya Kerugian yang
diakibatkan
1. Ulat plutella Musim tertentu Gagal Panen, hasil tidak
maksimal
2 Akar gada Sejakawal Gagal panen
pertumbuhan

4. Komponen Pengendalian
No Keterangan Hasil survey
A Benih yang digunakan darimana Membeli dari penjual benih
asalnya
JIka membeli, apakah bersertifikat? Ya
B Apakah sebelum ditanam benih Tidak
diberi perlakuan?
Jika diberi perlakuan, apa
perlakuannya
C Pengolahan tanah b. Langsung mengganti tanaman kubis
a. a Setelah panen, berapa lama tanah menjadi tanaman tomat
dibiarkan bera sebelum diolah?
b. Saat pengolahan tanah, apa yang Dibakar
dilakukan terhadap sisa-sisa
tanaman?
D Apakah Bpk melakukan Ya
pemupukan.
a. Jika Ya, jenis pupuk apa yang Kompos, kotoran hewan, NPK
digunakan?
b. Seberapa banyak jumlah pupuk ..kg/Ha
yang digunakan?
c. Berapa kali melakukan 4 Kali
pemupukan?
E Jarak tanam tanaman yang sekarang 50 cm x 50 cm
sedang dibudidayakan
F Sistem irigasi (tadah hujan/ irigasi Tadah hujan dan irigasi teknis
pedesaan/ irigasi
teknis/lainnya)
G Ketersediaan air dalam setahun: < 6 8 bulan
bulan ; 6-9 bulan ; 9-12 bulan
H Drainase (buruk/sedang/baik) Baik
I Sanitasi Oyos, cabut, herbisida
a. Penanganan gulma : cara dan Ditangani pada saat gulma
kapan dilakukan telah banyak
b. Penanganan sisa tanaman sisa Dibiarkan lalu dibuang ke
tanaman pinggir lahan saat pengolahan
tanah
J Penggunaan perangkap Tidak Ada
a. Apa jenis perangkap yg digunakan?

16
b. Pada umur tanaman kapan dipasang?
c. Jumlah perangkap per luasan lahan?
K Pengendalian biologi, apakah Tidak
digunakan?
L Jika menggunakan pengendalian Tidak Ada
biologi, apa yang digunakan?
M Pestisida nabati, apakah digunakan? Tidak
Jika digunakan, apa jenisnya?
N Apa Bpk menyemprot tanaman Ya
Bpk?
a. Jika Ya, jenis obat apa yang
digunakan?
Insektisida Prevathon, druban
Fungisida Amolin
bakterisida
a. Jika Ya, Seberapa sering melakukan 3 kali
penyemprotan?
b. Jika Ya, apakah nama obatnya selalu Berbeda
sama atau berbeda
c. Apakah obat-obat itu dicampurkan Dicampur sekaligus
sebelum digunakan sekaligus atau
terpisah
d. Bagaimana hasil penyemprotan Bagus

5. Analisis usaha tani (tanaman utama)

a Berapa biaya yang dikeluarkan untuk Rp 6.000.000


bertanam tanaman ini
b Apakah hasilnya untuk dijual atau Ada yang dikonsumsi dan ada yang dijual
dikonsumsi sendiri?
a. Jika dijual, apakah Bapak untung Untung
atau rugi?
b. Seberapa besar untung atau ruginya? Rp 10.000.000
c Apakah Bpk mendapat penyuluhan dari Ya
petugas?
d Apakah Bpk menjadi anggota kelompok Ya
tani?
Darimana sumber dana modal usaha tani Swadaya modal sendiri
Bapak?

17
Bagaimana cara bapak menjual hasil Ada pembeli yang datang
panen

6. Persepsi mengenai cara pengendalian ramah lingkungan


a Pernahkah Bpk mendengar tentang Ya
pengendalian terpadu (PHT)
b Apakah pestisida berbahaya? Ya
c Apakah bpk merasakan bahwa pestisida Ya
yang bapak gunakan semakin lama
semakin kurang efektif?
d Pernahkah bapak mendengar atau tahu a. Ya
tentang pestisida berbahan dari alam
(tumbuhan atau mikroba)?
e Jika pernah mendengar, apakah bapak Tidak
bersedia mencobanya?

Penyakit akar gada adalah penyakit yang kami temukan di lahan yang digunakan oleh Pak
Engkon. Beliau juga sudah resah karena penyakit akar gada ini intensitas serangannya bisa
mencapi 100%.

Penyakit akar gada disebabkan oleh cendawan Plasmadiophora brassicae yang menyerang pada
pangkal akar, akibatnya banyak jaringan mati dan mengeras. Akar berusaha membuat jalur baru
disekitarnya sehingga menggembng seperti gada. Penyakit ini dapat bertahan lama dalam tanah
dan sporanya dapat bertahan lebih dari 10 tahun didalam tanah . Infeksi pada tanaman sawi
terjadi sejak awal pertumbuhan dan makin aktif ketika pembentukan crop (0-50 hst) .

Ketika kondisi tanah kering, patogen membentuk spora istirahat, hebatnya spora itu mampu
bertahan lebih dari 10 tahun. Penyakit ini telah tersebar di Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa
Timur, Jawa Tengah, Bali, Sulawesi Selatan, dan Papua.

A. Gejala serangan

18
Penyakit ini ditandai dengan gejala serangan yaitu daun memucat dan layu pada siang hari
padahal tidak kekurangan air kemudian terlihat segar kembali pada sore hari menjelang malam,
pada serangan berat jaringan akar akan membusuk dan membengkak sedangkan daun akan layu
dan menguning sehingga tidak laku dijual.

B. Penyebab

Akar gada tergolong penyakit tular tanah. Spora Plasmodiophora brassicae tahan daam tanah
sampai bertahun-tahun tanpa inang. Ketika tanah ditanam lagi, kelembapan nya akan
meningkat dan suhu 22-270C, spora kembali aktif. Penyebaran spora dapat melalui air hujan,
angin, pupuk kandang, bibit yang terserang, dan alat-alat pertanian

C. Pengendalian

1. Mekanis

Dilakukan dengan mencabut dan memmusnakan tanaman yang telah diserang

2. Budidaya/ Kultur Teknis

Pengapuran tanah dapat mengendalikan penyakit jika kepadatan spora rehat rendah , namun
aplikasinya tidak efektif pada tanah yang terkontaminasi sangat parah (Colhoun dalam
Wallenhammar 18 Jurnal Litbang Pertanian, 25(1), 2006 1996), Melakukan sanitasi sebelum
penanaman, dan mengubah ph tanah untuk menekan perkembangan patogen dan penggunaan
varietas resisten.

3. Kimiawi

Sebagai alternatif yang lain dilakukan pengendalian secara kimia dengan fungisida berbahan
aktif azokziztrobin dan difenokonazol seperti Amistartop 325 SC.

Rekomendasi dari Kelompok kami tentang pengendalian secara terpadu yaitu dengan

1. Penggunaan biofumigasi yaitu pemanfaatan senyawa volatil yang dihasilkan oleh mahluk
hidup yang bisa mengendalikan hama dan penyakit yang ada di dalam tanah ,

2. Penggunaan tanaman perangkap

Tanaman perangkap juga digunakan dalam pengelolaan penyakit walaupun masih sedikit
dibanding dalam pengelolaan serangga sebagai hama tanaman (Agrios 1997). Tanaman
perangkap yang bukan inangnya sesungguhnya ditanam dengan tujuan membuat patogen

19
tular tanah menjadi lemah potensi infeksinya (Palti 1981). Pada prinsipnya penggunaan
tanaman perangkap dapat meransang perkecambahan spora rehat patogen dalam tanah
dan tanaman perangkap dipanen atau dimusnahkan sebelum siklus hidup patogen
sempurna (Parbery dan Morgan 1980). Dengan demikian dapat megurang populasi dalam
tanah sebelum tanaman utama ditanam.

20
BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Tanaman Pechay, merupakan tanaman kubis-kubisan yang tanamannya tidak
membutuhkan air yang banyak sehingga tidak perlu dilakukan pengairan yang intensif.
Pechay ditanam oleh Bapak Engkon yang berusia 61 tahun di Desa Wangun Harja,
Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Tanaman Pechay pada saat kami
survey sudah berumur (30 hari setelah semai) Tanaman Pechay ditanam di dataran tinggi
dan jenis tanah yang berlempung. Tanaman pechay ditanam dengan menggunakan bibit
pechay (10 hst) bukan dengan benih karena Petani merasa kalau dengan menggunakan
benih pertumbuhan tanaman nya tidak seragam. Tanaman pechay ditanam dengan sistem
tumpang sari. Tumpang sari yang dilakukan dengan tanaman cengek dan cabe keriting .
Alasannya agar untung yang didapat Beliau dapat bertambah dibandingkan hanya dengan
memanfaatkan panen dari tanaman pechay saja.

Rekomendasi yang kelompok kami sarankan yaitu penggunaan biofumigan, dan


tanaman perangkap.

21
3.2 Daftar pustaka

Chua, T.H. & P.A.C. Ooi. 1986. Evaluation of three parasites in the biological control of
diamondback moth in the Cameron Highlands, Malaysia. Dalam Talekar, N.S. &
T.D. Griggs (eds.). Diamondback Moth Management. Proceedings of the First
International Workshop : 173-184. Tainan, Taiwan 11-15 March 1985.
Djatnika, I. 1984. Upaya penanggulangan Plasmodiophora brassicae pada tanaman
kubis-kubisan. Seminar Hama Penyakit Sayuran. Cipanas Mei 1984. h. 30-32.
Harcourt, D.G. 1954. Biology of the diamondback moth, Plutella maculipennis (Curt.)
Lep.: Plutellidae), in Eastearn Ontario. I. Distribution, economic history,
synonymy and general descriptions. Contribution No. 3334. Dept. of Agric.,
Canada. 7 pp.
Hartuti, N. & R.M. Sinaga. 1993. Teknologi pasca panen. Dalam A.H. Permadi & S.
Sastrosiswojo (Penyunting). Kubis. Edisi Pertama: 100-125. Kerjasama Balithort
Lembang dengan Program Nasional PHT, BAPPENAS.
Kalshoven, L.G.E. 1981. Pests of crops in Indonesia. Revisi oleh P.A. van der Laan. PT
Ichtiar Baroe-van Hoeve. Jakarta.
Lim, G.S. & M.R. Yusof. 1992. Cotesia plutellae : Importance, biology and mass rearing.
Dalam Malaysian Agricultural Research and Development Institute. Training
Manual on Integrated Pest Management of Diamondback Moth in Cabbage in
Malaysia. p. 15-23. MARDI, Malaysia.

22