Anda di halaman 1dari 10

PENETAPAN HCG DENGAN TEKNIK IMUNOKROMATOGRAFI

Oleh :
Nama : Rizqi Nahriyati
NIM : B1A015088
Rombongan : III
Kelompok : 3
Asisten : Risa Umami

LAPORAN PRAKTIKUM IMUNOBIOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

HCG adalah hormon yang mendukung perkembangan telur dalam ovarium dan
merangsang telur dalam pelepasan telur dalam ovulasi. Hormon HCG tersusun atas
glikoprotein yang dihasilkan oleh protoblast dan bakal plasenta. Pembentukan HCG
maksimal pada 60-90 hari, kemudian turun ke kadar rendah yang menetap selama
kehamilan. Kadar HCG yang terus menerus rendah berkaitan dengan gangguan
perkembangan plasenta atau kehamilan. Kadar HCG memiliki struktur yang sangat
mirip dengan yang bekerja pada reseptor LH sehingga usia korpus luteum
memanjang. HCG mula-mula di produksi oleh sel lapisan luar blastokista. Sel ini
berdiferensiasi menjadi sel tropoblast, sinsitiotropoblast yang berkembang dari
tropoblast, terus menghasilkan HCG yang disekresikan dan dapat dideteksi disekresi
vagina sebelum inplantasi. biasanya HCG dapat dideteksi di darah ibu 8-10 minggu
(Frandson, 1993).
Metode tes kehamilan yang dilakukan adalah metode imunokromatografi dengan
menggunakan sampel berupa air seni (urin). Alat yang digunakan untuk pemeriksaan
merupakan alat yang dijual secara bebas dan dapat dipergunakan kapanpun dan oleh
siapapun. Keuntungan strip uji kehamilan adalah bisa dilakukan sendiri di rumah,
prosedur pengujian yang mudah dilakukan, harga strip yang relatif murah, jenis alat
tes bervariasi, akurasi hasil uji yang tinggi (97 99%), serta dapat mendeteksi
kehamilan lebih dini (Rao et al., 1981).
Penggunaan strip HCG urine test merupakan suatu metode immunoassay untuk
memastikan secara kualitatif adanya Human Chorionic Gonadotropin (HCG)
didalam urine sebagai deteksi dini adanya kehamilan. Human Chorionic
Gonadotropin merupakan sebuah hormon glikopeptida yang dihasilkan oleh plasenta
selama kehamilan. Adanya HCG dan peningkatan konsentrasinya secara cepat
didalam urin ibu membuatnya sebagai penanda untuk memastikan kehamilan
(Prawirohardjo, 1976).

1.2 Tujuan

Tujuan praktikum acara ini adalah untuk mengetahui kadar HCG dengan
menggunakan teknik imunokromatografi.
II. MATERI DAN CARA KERJA

2.1 Materi

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sampel urin
wanita hamil 2-3 minggu.
Alat yang digunakan adalah tempat urine (botol film) dan testrip
(antigen HCG).

2.2 Cara Kerja

1. Urin wanita hamil 2-3 minggu pada botol film disiapkan.


2. Testrip dibuka dan kemudian dicelupkan ke dalam botol film yang berisi
urine dengan tidak melebihi tanda garis pada testrip.
3. Hasil dibaca setelah 5 menit.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Gambar 1. Hasil uji urin menggunakan testrip

Interpretasi:
(+) Hasil negatif ditunjukkan oleh adanya satu buah garis berwarna merah pada zona
kontrol (di atas zona test = tidak hamil).
(-) Hasil positif ditunjukkan oleh adanya dua buah garis berwarna merah pada zona
test dan zona kontrol.
3.2 Pembahasan

Berdasarkan hasil pengamatan kadar HCG pada urin wanita hamil 2-3
minggu dan wanita tidak hamil didapatkan bahwa pada urin wanita hamil diperoleh
kadar HCG dalam jumlah tinggi, dimana ditandai dengan muculnya dua garis merah
pada test trip, sedangkan pada wanita tidak hamil tidak ditemukan kadar HCG
dengan ditandai garis merah yang hanya muncul pada area kontrol. Hal tersebut
sesuai dengan pernyataan Harti et al (2013) bahwa apabila testrip dimasukkan ke
dalam urin maka urin akan meresap secara kapiler sehingga tejadi ikatan antara urine
yang mengandung anti dan anti HCG pada test line (T) dan control line (C)
akibatnya akan timbul garis warna merah pada test line (T) dan control line (C), garis
warna merah ini menunjukkan hasil yang positif. Apabila garis warna merah tidak
tampak pada test line (T) atau hanya terdapat pada control line (C) menunjukkan
hasil test yang negatif karena tidak terjadi reaksi antara monoklonal HCG lengkap
dengan anti dan anti HCG. Garis warna merah yang terjadi pada test line (T)
terjadi pada test line karena pada test line (T) dapat terjadi karena pada test telah
disensitisasi Ag dan konjugat ditambah urine sehingga kromogen berikatan dengan
Ab maka akan terbentuk reaksi garis warna merah. konjugat berisi Ab yang ditempeli
enzim jika kromogen bereaksi dengan enzim peroksidase maka warna tereduksi
sehingga tidak terbentuk warna merah, tetapi apabila warna teroksidasi akan
terbentuk warna merah pada test line (T).
Human Chorionic Gonadotropin (HCG) adalah suatu pesan humoral pertama
dari plasenta pada ibu. Hal ini terdeteksi dalam darah ibu dua hari setelah implantasi
dan dapat merangsang sekresi progesteron oleh korpus luteum. Selain
mempertahankan produksi progesteron, HCG juga memiliki peran dalam kepasifan
miometrium dan toleransi kekebalan lokal. Khusus untuk manusia, HCG adalah
glikoprotein kompleks yang terdiri dari dua subunit glikosilasi yang sangat tinggi.
Subunit identik dengan hormon gonadotropin hipofisis (LH, FSH, TSH),
mengandung dua lokasi glikosilasi N dan dikodekan oleh gen tunggal
(CGA). Sebaliknya, subunit berbeda untuk masing-masing hormon dan
memberikan spesifisitas reseptor dan biologis, walaupun LH dan hCG mengikat
reseptor yang sama (LH/CG-R). Subunit hCG dikodekan oleh sekelompok gen
(CGB) dan mengandung dua lokasi N-glikosilasi dan empat lokasi O-
glikosilasi. Status glikosilasi hCG bervariasi dengan tahap kehamilan, sumber
produksinya dan patologi. HCG terutama disekresikan ke dalam darah ibu, dimana
puncaknya pada 8-10 minggu gestasi (WG), oleh sinsytiotrophoblast (ST), yang
merupakan jaringan endokrin plasenta manusia. Trofoblast ekstravilar invasif (iEVT)
juga mengeluarkan hCG, dan bentuk hCG (hCG-H) hiperglikosidik juga diproduksi
oleh sel koriokarsinoma. Selama trimester pertama hCG-H meningkat pada darah ibu
yang sesuai dengan proses invasi sel trofoblastik dan kemudian menurun. Selain
peran endokrin, hCG memiliki peran autokrin dan parakrin. Ini mempromosikan
pembentukan ST dan angiogenesis melalui LH/CG-R namun tidak berpengaruh pada
invasi trofoblas secara in vitro. Sebaliknya, hCG-H merangsang invasi trofoblas dan
angiogenesis dengan berinteraksi dengan reseptor TGF dalam jalur pensinyalan
LH/CG-R yang independen. HCG sebagian besar digunakan dalam skrining
antenatal dan hCG-H mungkin mewakili tanda serum implantasi dan invasi trofoblas
dini (Fournier, 2016). Menurut Widmann (1989), pada minggu pertama kehamilan,
kadar HCG akan meningkat 2x lipat. Kadar HCG plasma ibu akan mencapai puncak
sekitar 100.000 m IU/ml pada kehamilan sepuluh minggu dan perlahan-lahan
menurun pada trisemester ketiga. Kadar HCG akan semakin rendah menjelang proses
kelahiran.
Teknik imunokromatografi merupakan salah satu metode yang dapat
digunakan untuk mendeteksi kadar HCG dalam serum atau urin. Teknik ini
berprinsip pada migrasi kompleks ag-ab. Keuntungan dari teknik ini yaitu tes dapat
di lakukan dengan cepat, testrip juga dapat digunakan walapun kandungan protein
urin rendah, murah dan tidak memerlukan perlakuan dengan biaya besar seperti
sentrfugasi dan filtrasi. Sedangkan kekurangannya adalah testrip adalah angka
kesalahan yang tinggi, kurang sensitif dibandingkan dengan uji kehamilan lainnya
dan diperlukan kadar HCG minimal untuk dapat memunculkan hasil positif, sehingga
kadar HCG yang kurang tidak akan berekasi, sehingga kemungkinan menimbulkan
hasil uji yang palsu (Kubiczak et al., 2013).
Penetapan HCG dengan teknik imunokromatografi dilakukan dengan
menggunakan testrip yang berisi antibodi monoklonal anti HCG (sebagai zona test)
yang dilekatkan pada lateks berwarna merah sebagai zona kontrol adalah anti HCG
dari IgG mouse (Mansjoer, 1999). Keuntungan strip uji kehamilan adalah bisa
dilakukan sendiri di rumah, prosedur pengujian yang mudah dilakukan, harga strip
yang relatif murah, jenis alat tes bervariasi, akurasi hasil uji yang tinggi (97 99%),
serta dapat mendeteksi kehamilan lebih dini (Rao et al., 1981).
Mekanisme kerja teststrip adalah bila urin mengandung HCG, HCG sebagai
antigen, akan berikatan dengan anti HCG. Gaya kapilaritas membawa senyawa
ikatan HCG dan anti HCG-1 menuju daerah T. Di daerah T (zona tes), anti HCG-2
akan berikatan dengan HCG yang telah berikatan dengan anti HCG-1 namun pada
epitop yang berbeda. Terbentuklah kompleks anti HCG-1, HCG, dan anti HCG-2.
Enzim menjadi aktif dan daerah T berwarna merah. Selanjutnya, sisa anti HCG-1
yang belum berikatan dengan HCG akan menuju daerah C (kontrol) dan berikatan
dengan anti-anti HCG-1. Kompleks ini akan mengaktifkan enzim sehingga daerah T
berwarna merah, sehingga akan terlihat dua strip merah yaitu pada daerah T dan
daerah C dan diintepretasikan sebagai hasil positif hamil (Hanifa, 2005).
Uji imunologik untuk kehamilan dapat dilakukan dengan beberapa metode,
seperti Rapid Latex Slide Test, Tube Test Haemaglutinasi (tipe inhibisi) atau
Immunochromatographic assay. Uji-uji tersebut pada dasarnya menggunakan prinsip
antigen-antibody yaitu anti HCG terhadap kadar HCG (human Chorionic
Gonadotropin), hormon yang dihasilkan oleh plasenta. Uji yang dilakukan
menggunakan serum anti HCG ini bersifat lebih sensitif, lebih akurat, lebih murah,
dan lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan uji kehamilan yang terdahulu,
seperti menggunakan hewan hidup. Selain itu, terdapat metode tradisional untuk
mendeteksi adanya HCG dengan cara menginjeksikan urin wanita hamil muda pada
katak jantan. Efek yang ditimbulkan adalah pengeluaran sperma dalam jumlah
banyak. Injeksi serum wanita hamil pada mencit dapat memicu ovulasi
(Siswosuharjo & Chakrawati, 2010).
Pengumpulan dan penyimpanan urin sebaiknya menggunakan urin pagi hari
karena berisi konsentrasi HCG yang paling tinggi sehingga baik untuk pemeriksaan
sampel urin. Meskipun demikian, urin sewaktu dapat juga digunakan. Urin spesimen
dikumpulkan pada gelas atau penampung plastik yang bersih. Jika spesimen tidak
digunakan segera maka harus disimpan pada suhu 2 - 8 C dan letakkan pada suhu
temperatur sebelum digunakan, tetapi penyimpanan ini tidak boleh lebih dari 48 jam
(Vitthala, 2012). Tingkat sekresi HCG meningkat dengan cepat selama kehamilan
awal untuk menyelamatkan korpus luteum dari kematian. Sekresi puncak HCG
berlangsung sekitar 60 hari setelah periode haid terakhir. Minggu kesepuluh
kehamilan, pengeluaran HCG menurun, sehingga tingkat sekresinya rendah yang
kemudian dipertahankan selama kehamilan. Turunnya HCG terjadi pada saat korpus
luteum tidak lagi diperlukan untuk menghasilkan hormon-hormon steroid karena
plasenta sudah mulai mengeluarkan estrogen dan progesterone dalam jumlah yang
bermakna. Korpus luteum kehamilan mengalami regresi parsial seiring dengan
turunnya sekresi HCG (Saifuddin, 2002).
IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:


1. Hasil uji urin wanita yang positif hamil ditunjukkan dengan 2 garis merah yang
menunjukkan kadar HCG <50 LU/I dan hasil uji urine wanita yang negatif hamil
ditunjukkan dengan 1 garis merah yang menunjukkan kadar HCG kurang dari 50
LU/I.
DAFTAR REFERENSI

Fournier, T. 2016. Human chorionic gonadotropin: Different glycoforms and


biological activity depending on its source of production. Annales
dEndocrinologi. 77(2), pp. 75-81.

Frandson, R.D. 1993. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.

Hanifa, W., & Saifuddin, A.B. 2005. Ilmu Kebidanan Edisi 3.Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Harti, A. S., Estuningsih, & Nurkusumawati, H. 2013. Pemeriksaan HCG (Human


Chorionic Gonadotropin) untuk Deteksi Kehamilan Dini Secara
Immunokromatografi. Jurnal KesMaDaSka. 4(10), pp. 1-4.

Kubiczak, M., Walkowiak, G.P., Nowak-Markwitz, E., & Jankowska, A. 2013.


Human Chorionic Gonadotropin Beta Subunit Genes CGB1 and CGB2 are
Transcriptionally Active in Ovarian Cancer. International Journal of
Moleculer Sciences.14, pp. 12650-12660.
Mansjoer, arif., 2009. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi ke 3. Jakarta: FK UI
press.

Prawirohardjo, S. 1976. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.

Rao, A, Jagannadha S. G. Kotagi, & N. R. Moudgal. 1981. Effect Of Human


Chorionic Gonadotropin On Serum Levels Of Progesterone And Estrogens In
The Pregnant Bonnet Monkev (Macaca Radiata). Journal of Bioscience. 3(1),
pp. 83-88.

Saifuddin. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.

Siswosuharjo, S. & Chakrawati, F. 2010. Panduan Super Lengkap Hamil, Sehat.


Jakarta: Penebar Plus.

Vitthala, S., Jerome Bouaziz, Amanda Tozer, Ariel Zosmer, And Talha AlShawaf.
2012. Tingkat Fsh Serum Pada Program Meluncur Pada Hari Hcg Dan Hasil
Klinis Mereka Di Ivf Icsi Cycles. Jurnal Endokrinologi P. 1-7.