Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN BIOTEKNOLOGI

INOKULASI DAN ISOLASI ANTHER TANAMAN DADAP PADA MEDIA


MURASHIGE DAN SKOOG (MS)

Oleh :

EVELINE CRISTY RUKU

PENDIDKAN BIOLOGI B 2015

15030204100

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENEGETAHUAN ALAM

JURUSAN BIOLOGI

2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kultur antera atau kultur mikrospora merupakan teknik perbanyakan tanaman yang jauh
lebih efisien dari kultur jaringan meristem pucuk/tunas, kultur suspensi sel, dan kultur
protoplas. Hal ini dapat dicapai karena jumlah mikrospora dalam satu bunga, jauh lebih
banyak jika dibandingkan dengan jumlah sel pada jaringan meristem pucuk/tunas, suspensi
sel, dan protoplas pada penggunaan satu pohon sumber eksplan. Setiap mikro-spora
berpeluang untuk berkembang menjadi individu tanaman lengkap apabila dikultur-kan di
dalam medium yang kaya nutrisi karena sel tersebut memiliki sifat totipotensi. Dengan
demikian pengkajian penggunaan kultur mikrospora bagi perbanyakan bibit unggul tanaman
dadap merah sangat perlu dilakukan.
Penelitian kultur anther pada tanaman dadap merah hingga saait ini berlum pernah
dilaporkan. Apabila kultur anther tanaman dadap berhasil dilakukan dengan baik maka
terdapat dua manfaat yang diperoleh yang pertama diperoleh biit unggul dalam waktu
singkat dan yang kedua diperoleh bibit baru berupa tanaman haploid.
Setiap pohon dadap merah dapat menghasilkan beberapa tangkai bunga, setiap kuncup
bunga memiliki beberapa anther yang mengandung ruang sari. Setiap satu ruang ari
mengandung paling sedikit 1000 butir mikrospora tergantung varietas dan ukuran kepala sari
atau anther.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah pada praktikum ini ialah
Bagaimana pengaruh pemberian konsentrasi ZPT yang berbeda pada media MS
terhadap pertumbuhan anther tanaman dadap ?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dibuat berdasarkan latar belakang, maka dapat
diketahui tujuan dari parktikum ini ialah untuk mengetahui pengaruh pemberian
konsentrasi ZPT yang berbeda pada media MS terhadap pertumbuhan anther tanaman
dadap.

D. Hipotesis
Ha : Ada pengaruh pemberian konsentrasi ZPT yang berbeda pada media MS terhadap
pertumbuhan anther tanaman dadap.
H0 : Tidak ada pengaruh pemberian konsentrasi ZPT yang berbeda pada media MS
terhadap pertumbuhan anther tanaman dadap.
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

1. Tanaman Dadap merah


Dadap merah menyebar secara alami di pantai dan daerah-daerah di belakangnya,
terutama di dekat-dekat muara sungai. Pohon ini tumbuh baik di daerah lembab dan
setengah kering, dengan curah hujan 800 1500 mm pertahun dan 5 6 bulan basah.
Ditanam untuk berbagai keperluan, dadap merah sering dijumpai mulai dari wilayah pesisir
hingga elevasi sekitar 1500m dpl. Meskipun mampu hidup pada pelbagai keadaan tanah,
dadap menyukai tanah-tanah yang dalam, sedikit berpasir dan berdrainase baik. Dadap
merah mampu tumbuh pada tanah-tanah bergaram, tanah yang terendam air secara berkala,
dan tanah kapur berkarang.
Dadap merah merupakan salah satu jenis tanaman yang digunakan untuk usaha
konservasi lahan kering yang nantinya dapat dipakai sebagai tanaman penguat teras. Daun-
daun dadap merah yang muda dapat digunakan sebagai sayuran. Daun ini berkhasiat
memperbanyak air susu ibu, membuat tidur lebih nyenyak, bunganya pun dapat digunakan
sebagai ramuan untuk memperlancar haid. Cairan sari daun yang dicampur dengan madu
diminum untuk mengobati cacingan, sari daun dadap merh yang dicampur minyak jarak
(kasteroli) digunakan untuk menyembuhkan disentri. Daun dadap merah yang dipanaskan
digunakan sebagai tapal untuk meringankan rematik.
2. Kultur Anther
Kultur anther merupakan upaya pembudidayaan tanaman melalui teknik kutur secara in
vitro yang memanfaatkan anther tanaman. Kultur anther menghasilkan tanaman haploid
melalui induksi embryogenesis dari pemeblahan berulang mikrospora/polen tanaman donor
anther yang berasal dari persilangan tetua yang memiliki karakter yang diinginkan.
Kombinasi karakter kedua tetua terjadi pada tanaman haploid, sehingga bila kromosomnya
digandakan atau terjadi penggandaan spontan selama kultur akan diperoleh tanaman haploid
ganda (DH) yang homozigos atau galur murni (Herawati et al, 2008).
Adapun keuntungan yang didapat melalui kultur anther:
a. Tanaman haploid sangat penting bagi pemulia tanaman, yaitu untuk memperpendek
masa pemuliaan tanaman
b. Mudah digunakan untuk mengidentifikasi mutasi resesif Karena hanya ada 1 set
kromosom.
c. Dapat menghasilkan homozygote double haploid (diploid) atau poliploid dengan
diberi colchicin untuk inbreeding dengan hasil hibrida unggul (super).
3. Zat Pengatur Tumbuh
Zat pengatur tumbuh adalah senyawa organik komplek alami yang disintesis oleh
tanaman tingkat tinggi, yang berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
ZPT yang sering digunakan pada kultur jaringan yaitu auksin dan sitokinin. Jika konsentrasi
auksin lebih besar daripada sitokinin maka akar akan tumbuh, dan bila konsentrasi sitokinin
lebih besar daripada auksin maka tunas akan tumbuh. Interaksi dan perimbangan antara zat
pengatur tumbuh yang diberikan dalam media dan yang diproduksi oleh sel secara endogen,
menentukan arah perkembangan suatu kultur.
Sitokinin merupakan nama kelompok hormon tumbuh yang sangat penting sebagai
pemacu pertumbuhan dan morfogenesis dalam kultur jaringan. Bentuk dasar dari sitokinin
adalah adenin (6-amino purin). Adenin merupakan bentuk dasar yang menentukan
terhadap aktivitas sitokinin. Di dalam senyawa sitokinin, panjang rantai dan hadirnya suatu
double bond dalam rantai tersebut, akan meningkatkan aktivitas zat pengatur tumbuh ini
(Fitrianti, 2006). Salah satu sitokinin sintetik yang mempunyai aktivitas tinggi dalam
memacu pembelahan sel dalam kultur jaringan tanaman adalah 6-Benzil Amino Purine
(BAP).
Auksin adalah salah satu hormon tumbuh yang tidak terlepas dari proses pertumbuhan
dan perkembangan suatu tanaman. Pengaruh auksin terhadap perkembangan sel
menunjukkan adanya indikasi bahwa auksin dapat menaikkan tekanan osmotik,
meningkatkan sintesa protein, meningkatkan permeabilitas sel terhadap air, dan melunakkan
dinding sel yang diikuti menurunnya tekanan dinding sel sehingga air dapat masuk ke dalam
sel yang disertai dengan kenaikan volume sel (Hendaryono, 1994).
Asam-2,4-Diklorofenoksiasetat atau dikenal dengan 2,4-D merupakan auksin sintetik
yang sering digunakan dalam kultur jaringan tanaman serta telah digunakan dalam bidang
perikanan sebagai zat perangsang tumbuh pada Gracillaria verrucosa (Djayawati, 1993).
Auksin merupakan salah satu hormone tanaman yang dapat mendukung proses fisiologi
seperti pertumbuhan, pembelahan dan diferensiasi sel serta sintesa protein (Darnell et al.,
1986). Auksin memiliki kemampuan mendorong pembelahan sel dengan cara
mempengaruhi dinding sel. Selain auksin, ZPT 2,4-D memiliki kandungan N sebesar 8,9
mg. ZPT 2,4 D memiliki fungsi merangsang pembelahan dan perbesaran sel. Menurut
Aslamyah, 2002 Auksin mendorong pembelahan sel engan cara mempengaruhi dinding sel.
Adanya induksi auksin dapat mengaktivasi pompa proton yang terletak pada membran
plasma sehingga menyebabkan pH pada bagian dinding sel lebih rendah, yaitu mendekati
pH pada membran plasma sekitar pH 4,5. Aktifnya pompa proton tersebut dapat
memutuskan ikatan hidrogen diantara serat selulosa dinding sel. Putusnya ikatan hidrogen
menyebabkan dinding mudah merenggang sehingga tekanan dinding sel akan menurun dan
dengan demikian terjadilah pelenturan sel. pH rendah ini juga dapat mengaktivasi enzim
tertentu pada dinding sel yang dapat mendegradasi bermacam-macam protein pada dinding
sel yang lunak dan lentur sehingga pemanjangan, pembesaran dan pembelahan sel dapat
terjadi (Aslamyah, 2002)
Keberhasilan kultur in vitro sangat dipengaruhi oleh zat pengatur tumbuh (ZPT). ZPT
digunakan untuk meregenerasikan eksplan sampai menjadi tanaman lengkap. Interaksi
antara ZPT yang digunakan pada media kultur akan menentukan arah perkembangan
eksplan dari kultur tersebut (Wattimena, 1987). Jenis ZPT yang digunakan dalam penelitian
ini adalah NAA dari golongan auksin dan BAP dari golongan sitokinin. NAA dan BAP
merupakan jenis ZPT yang memiliki range (jarak) yang cukup luas dalam memacu
(stimulator) dan penghambat suatu pertumbuhan sehingga range konsentrasi NAA dan BAP
yang digunakan tidak beresiko menghambat pertumbuhan. NAA pada konsentrasi tertentu
berfungsi sebagai inisiasi akar dan pertumbuhan batang tanaman, sedangkan BAP berfungsi
untuk memacu inisiasi tunas (Pierik, 1987).
BAB III

METODE PENELITIAN

Praktikum isolasi dan inokulasi anther tanaman dadap pada media MS dilakukan pada
hari kamis, tanggal 15 Novemvber 2017 di Gedung C9, Laboratorium Bioteknologi. Jenis
penelitian yang digunakan dalam praktikum ini ialah penelitian eksperimen karena terdapat
variabel yaitu variabel manipulasi, variabel kontrol dan variabel respon.

Alat yang digunakan dalam praktikum ini ialah pinset, gagang scapel beserta mata pisau,
kertas saring, aluminium foil steril, 2 botol pembuangan, beaker glass, cawan petri steril, 2
botol steril, tisu wajah, kapas. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini ialah alohol 70 %,
bayclin 5 %, baylin 10 %, akohol 96 %, alkohol 70 %, aquades steril, stok hara medium MS
yaitu NH4OH3, KNO3, CaCl2, 2H2O, KH2PO4, H3BO3, NaMoO4.2H2O, CoCl2.6H2O, KI,
MnSO4.2H2O

A. Variabel Penelitian
1. Variabel manipulasi : Pemberian perlakuan dengan perbedaan perbandingan
pemberian media ( media A yakni 1:2:3, media B 3:2:1 dan media C 2:2:2 ).
2. Variabel kontrol : Jenis anther yaitu tanaman dadap, jumlah anther yaitu 2-3,
tempat penyimpanan, kondisi anther, waktu inokulasi.
3. Variabel respon : Keadaan anther yang diletakkan ditempat penyimpanan
selama 13 hari.

B. Definisi Operasional Variabel


Dalam praktikum ini varibel manipulasi yang digunakan yaitu Pemberian perlakuan
dengan perbedaan perbandingan pemberian media NAA, 2,4-D, dan BAP yakni media A
dengan perbandinagan 1:2:3, media B sebesar 3:2:1 dan media C sebesar 2:2:2. Pemberian
perlakuan dengan perbedaan perbandingan pemberian media termasuk variabel amnipukasi
karena menyebabkan perubahan atau memberi pengaruh terhadap variabel respon. Variabel
kontrol yang digunakan praktikan ialah Jenis anther yaitu tanaman dadap, jumlah anther yaitu
2-3, tempat penyimpanan, kondisi anther, waktu inokulasi. Jenis anther yaitu tanaman dadap,
jumlah anther yaitu 2-3, tempat penyimpanan, kondisi anther, waktu inokulasi termasuk
variabel kontrol karena dibua konstan sebagai acuan perbandingan variabel respon, variabel
ini berfungsi mempengaruhi variabel respon serta memperjelas huungan variabel manipulasi
dengan variabel respon. Variabel respon merupan variabel yang dipengaruhi karena adanya
variabl amnipulasi dan merupakan hasil dari avariabel manipulasi dan variabel kontrol,
vriabel yang muncul dalam praktikum ini ialah Keadaan anther yang diletakkan ditempat
penyimpanan selama 13 hari.

C. Prosedur Pembuatan media


1. Mengisi aquades sebanyak 1 liter kedalam beaker glass
2. Menambahkan stok A, B, G kedalam beaker glass sebanyak 30 ml kemudian,
menambahkan stok C, D, F sebanyak 7,5 ml
3. Larutan dihomogenkan
4. Menambahkan zat organic dan sukrosa sebanyak 30 g/liter kedalam beaker glass,
kemudian ditambahkan aquades hingga volume mencapai 1,5 liter
5. Larutan di bagi menjadi 3, masing-masing sebanyak 500 ml
D. Prosedur inokulasi anther
1. Mempersiapkan alat dan bahan untuk sterilisasi anther tanaman dadap dalam laminar air
flow.
2. Melakukan funginasi pada bunga tanaman dadap
3. Bunga yang sudah difunginasi dicuci dengan air mengalir
4. Setelah itu dibawa menuju meja praktikum untuk melakukan inokulasi
5. Mencuci bunga tanaman dadap dengan aquades steril 2-3 menit pada beakerglass
6. Setelah itu, merendam bunga tanaman dadap dengan alkohol 70 % 5 detik
7. Kemudian, merendam bunga tanaman dadap dengan bayclin 5 % 15 menit
8. Selanjutnya, membilas bunga tanaman dadap dengan aquades steril 2-3 menit
9. Merendam bunga tanaman dadap dengan bayclin 10 % 10 menit
10. Mencuci sebanyak 3 kali bunga tanaman dadap dengan aquades steril 5 menit
11. Setelah itu, memindahkan 1 bunga ke cawan petri dan mengambil anther tanaman
dadap
12. Anther di letakkan pada media sebanyak 2-3 anther setiap botolnya
13. Menutup botol dengan aluminium foil dan memberi label setiap botolnya dengan format
( nama bunga, NIM, dan tanggal inokulasi )
14. Menyimpan botol yang berisi anther tanaman dadap pada tempat yang gelap
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan praktikum inokulasi dan isolasi anther tanaman dadap pada media MS yang
telah dilakukan diperoleh hasil yang disajikan dalam bentuk tabel.

Tabel 1. Pengamatan kultur anther tanaman dadap

Tanggal Tanggal Pengamatan


No ZPT Jenis Eksplan
Inokulasi 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27
1. A Anther Dadap 14-11-17 - - x x x x x x x x x x x
2. B Anther Dadap 14-11-17 - - - - - k k k k k k k k
3. C Anther Dadap 14-11-17 - - x x x x x x x x x x x

Keterangan :

(-) : Belum tumbuh (t) : Tumbuh tunas

(x) : Kontaminasi (a) : Tumbuh akar

(k) : Tumbuh kalus

Dalam praktikum ini praktikan memberikan perlakuan pada anther tanaman dadap yakni
dengan melakukan kultur jaringan pada media yang berbeda untuk mengetahui pengaruh
media terhadap pertumbuhan anther. Media yang digunakan ada 3 jenis media yaitu media A,
B, dan C yang terdiri dari NAA, 2,4-D, BAP dengan perbedaan perbandingan. Media A
memiliki perbandingan 1:2:3, Media B dengan perbandingan 3:2:1 dan Media C dengan
perbandingan 2:2:2. Botol yang berisi media dan anther diletakkan pada tempat yang gelap
hal ini dikarenakan karena sifat anther yang tumbuh didalam ovul serta sifat ZPT yang dapat
tumbuh ditempat yang gelap atau yang tidak terdapat cahaya matahari. Terdapat dua
kelompok zat pengatur tumbuh yang sering digunakan yaitu kelompok auksin seperti
Indoleacetic acid (IAA) dan naphthaleneacetic acid (NAA) sedangkan kelompok sitokinin
misalnya kinetin dan benzylamino purine (BAP). Penggunaan auksin (IAA dan NAA) dan
sitokinin (BAP dan kinetin) pada konsentrasi yang tepat dapat memacu pertumbuhan eksplan,
terutama pembentukan daun, tunas dan ruas.
Hasil yang diperoleh melalui pengamatan kultur anther tanaman dadap pada hari pertama
hingga hari ke tiga belas pada media A dan C bahwa anther tanaman dadap mengalami
kontaminasi. Hal ini dikarenakan oleh bakteri (Duffy,2000). Aktivitas bakteri dapat
meningkat dan merusak pada eksplan tanaman inang saat aktivitas atau metabolisme sel-sel
inang terganggu. Menurut Norman dan Alvarez, 1994 Kondisi tersebut menyebabkan
mikroekoistem bakteri menjadi terganggu, terutama terkait ketersedian asam amino yang
membantu stabilitas hidup dan pertumbuhannya. Hal ini juga disebabkan karena waktu proses
kultur berlangsung lama. Ketika proses kultur berlangsung cepat serta anther ditanam pada
media dan diletakkan pada tempat yang gelap, sel-sel dinding anther akan melakukan absorbsi
hara, vitamin dan hormone yang ada pada media untuk menjaga viabilitas sel-selnya,
sehingga metabolisme dan mikroekosistem bakteri tetap terjaga. Sebaliknya, jika proses
kultur berlangsung lama akan menyebabkan sel-sel ather menjadi kering, maka aktivitas sel
lebih lama pulih maka mengakibatkan mikrosekosistem bakteri terganggu serta berubah
menjadi pathogen yang dapat mengganggu pertumbuhan dari anther (Norman dan Alvarez,
1994 ). Pada media B kultur anther tanaman dadap tidak mengalami kontaminasi tetapi
tumbuh kalus. Hal ini dikarenakan kesesuaian dengn media pertumbuhan, perlakuan yang
diberikan pada eksplan, dan lingkungan tumbuh juga menjadi faktor penting yang harus
diperhatikan, seperti yang juga dinyatakan oleh Sopory dan Munshi (1996). Faktor-faktor
tersebut adalah genotip tanaman donor, fisiologi tanaman donor, umur anther, tahap polen,
praperlakuan anther, medium kultur, dan lingkungan kultur (suhu, kelembaban, cahaya), dan
respons spesifik tanaman diduga berpengaruh sangat besar terhadap keberhasilan kultur
jaringan. Menurut Aswath dan Biswas (1999) respons spesifik ini merupakan faktor paling
kritis dalam kultur jaringan anthurium. Seperti yang dilaporkan juga Hamidah et al. (1997)
bahwa anthurium merupakan tanaman perenial yang tumbuh lambat, baik pada perbanyakan
konvensional maupun kultur jaringan.

Sedangkan hasil yang diperoleh dari anther tanaman dadap yang berada pada media B
yaitu tumbuh kalus bewarna putih. Kalus berwarna putih merupakan jaringan embrionik yang
belum mengandung kloroplas, tetapi memiliki kandungan butir pati yang merupakan
polisakarida simpanan pada tumbuhan. Faktor pencahayaan juga berperan dalam
pembentukan kalus. Perubahan warna yang terjadi pada kalus akibat adanya pigmen dan
dipengaruhi oleh nutrisi dan faktor lingkungan seperti cahaya (Evans, et al., 2003).
Tumbuhnya kalus pada media B Hal ini dikarenakan bahwa terbentuknya kalus sangat
dipengaruhi oleh peran jenis zat pengatur tumbuh. Menurut Zulkarnain, (2009) kondisi
tersebut membuktikan bahwa pertumbuhan dan morfogenesis tanaman secara in vitro
dikendalikan oleh keseimbangan dan interaksi dari ZPT yang ada dalam eksplan baik endogen
maupun eksogen yang diserap dari media. Perlakuan NAA dengan penambahan sedikit BAP
terbentuk kalus, begitupula pada perlakuan dengan interaksi NAA dan BAP. Artinya NAA
lebih berperan dalam pembentukan kalus daripada BAP. NAA (auksin) akan merangsang
pertumbuhan sel-sel eksplan, sehingga auksin akan cenderung membentuk kalus karena
terbentuknya kalus berawal dari pembelahan sel pada daerah meristematik yang tidak
terspesialisasi. Pada awal respon pertumbuhan, auksin akan memicu pemanjangan sel melalui
pelonggaran selulosa dinding sel. Pemanjangan sel ini sebagai respon terhadap NAA, namun
sel tersebut tidak dapat membelah karena tidak ada penambahan BAP.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa Ada
pengaruh pemberian konsentrasi ZPT yang berbeda pada media MS terhadap pertumbuhan
anther tanaman dadap.

B. Saran
Saran untuk pengembangan dari raktikum ini ialah perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
terhadap kultur tanaman dadap dengan media kultur yang berbeda selain MS.
DAFTAR PUSTAKA

Aslamyah, S. 2002. Peranan Hormon Tumbuh Dalam Memacu Pertumbuhan Algae. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Aswath, C. and B. Biswas. Anthurium. In: Parthasarathy, V.A., T.K. Bose and P. Das (Eds.).
Bio. Hort. Crops. Naya Prokash. India. 3:198-213.

Geier, T. 1990. anthurium. In Ammirato, P.V., Evans, D.A., Sharp, W.R. & Bajaj, Y.P.S. (Eds.).
Handbook of Plant Cell Culture, Ornamental Species, McGraw-Hill, New York. 5:228-
252.

Darnell, J., H. Lodish and H. Baltimore. 1986. Molecular Cell Biology. Scientific American
Books, Inc. New York.

Djayawati, S. 1993. Pengaruh Penggunaan Air Kelapa Muda Dan Hidrasil Terhadap Laju
Pertumbuhan Rumput Laut (Gracillaria verucosa). Tesis. Jurusan Budidaya Perairan
Fakultas Perikanan Universitas Muslim Indonesia. Ujung pandang.

Duffy, B. 2000. Survival of the Anthurium Blight Patogen Xanthomonas axonopodis pv.
dieffenbachiae, in Field Crop Residues. European J. Plant Path. 106:291-295.

Dunwell, J.M. 1996. Microspore culture. In Mohan Jain, S., S.K. Sopory and R.E. Veileux
(Eds.). In Vitro Haploid Production in Higher Plants. Kluwer Academic Publishers.
Dordrecht/Boston/London. p. 1:177-245.

Fitrianti, A. 2006. Efektivitas Asam 2,4-Diklorofenoksiasetat (2,4-D) dan Kinetin pada Medium
MS dalam Induksi Kalus Sambiloto dengan Eksplan Potongan Daun. Skripsi. Biologi
FMIPA UNS: Semarang

Hamidah, M., A.G.A. Karim, and P.C. Debergh. 1997. Somatic Embryogenesis and Plant
Regeneration in Anthurium scherzerianum. Plant Cell, Tiss. Org. Cult. 49:23-27.
Hendaryono, D.P.S dan A. Wijayani. 2004. Teknik Kultur Jaringan Pengenalan dan Petunjuk
Perbanyakan Tanaman secara Vegetatif- Modern. Kanisius: Yogyakarta

Herawati, R., Purwoko, B,S., Khumaida, N., Dewi, I.S. 2008. Pembentukan Galur Haploid
Ganda Padi Gogo dengan Sifat-Sifat Tipe Baru melalui Kultur Antera. Bul. Agron. (36) (3)
181 187 (2008)

Norman, D.J. and A.M. Alvarez. 1994. Latent Infections of Iv Vitro Anthurium Caused by
Xanthomonas campestris pv. dieffenbachiae. Plant Cell, Tiss. Org. Cult. 39:55-61.

Pierik, R.L.M. 1987. In Vitro Culture of Higher Plants. Martinus Nijhoff Publisher, Netherland.

Wattimena, G.A. 1987. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Pusat Antar Universitas Bioteknologi
IPB, Bogor

Zulkarnain. 2009. Kultur Jaringan Tanaman. Bumi Aksara: Jakarta 76880. Available:
http://www.halcyon.com/pub/journals/21ps03- vidmar
LAMPIRAN